Visi itu muncul. Menghancurkan pemandangan ingin dibarakan lewat tatapan membakarnya. Visi itu benar memberikan pandangan bikin hatinya tak bisa berkata apa-apa. Lidahnya kelu. Tenggorokan tak mampu menopang saliva bertengger di ujung. Napasnya tak teratur.

Pemandangan di depannya adalah sebuah kenangan. Kenangan terindah bersama orang itu. Orang dikiranya jahat di mata, tetapi sebenarnya salah persepsi dalam pikirannya. Kenangan itu berubah hangat, di mana dirinya dipeluk dan dielus.

Ternyata kepintarannya bukan dari lahir, tetapi karena kecekatannya dalam menghadapi sebuah masalah. Masalah dipikirkan lewat logika bukan dengan emosi. Kepintarannya didapatkan dari orang itu bukan dari kandungan walau banyak mitos menjabarkan dengar lagu klasik bisa mencerdaskan janin dalam kandungan.

Orang itu, tak bersalah karena keegoisan meninggalkannya. Tak bisa dilindunginya. Apakah dirinya bisa meminta maaf pada orang itu sebelum ada akhir dari segalanya, meminta jawaban pada malaikat yang menjemputnya?

Sungguh tidak adil di dunia ini, dunia semu. Meratapi penyesalan tak kunjung selesai. Di awal sama saja. Di akhir, lebih lagi. Dirinya telah salah tanggap. Tidak baik menggunakan emosi hingga mengakibatkan orang itu menjauh darinya dan menganggap dirinya adalah seorang pengkhianat. Sungguh, dia tidak berniat begitu.

Visi itu menghilang setelah lelaki menggendong dirinya menjauh ambang pintu menuju halaman. Dirinya menggeleng dan menjelajahi setiap sudut ruangan. Orang itu menghilang. Orang itu tidak berdiri lagi di sana. Berdiri dengan seringai sinis dan mengerikan melihat wanita itu berteriak mengumpatnya.

Giginya bergemeletuk. Dieratkan pelukan itu, menjadikan sandaran akibat dirinya tidak bisa menahan amarah. Visinya menunjukkan akan ada lagi korban berjatuhan gara-gara dendam orang itu. Orang disayangi Kakaknya dan orang tidak disukai adiknya, entah karena apa.

Dirinya hanya bisa berpikir bijak, mengulang-ulang untuk apa orang itu melakukan hal sebegitu kejamnya demi memuaskan diri. Apa orang itu tidak tahu bahwa semua ini akan dipertanggung jawabkan?

Biarlah.

Hanya saja, perasaannya benar-benar sangat tidak enak.

.

.

SUNSHINE

.

.

DISCLAIMER: NARUTO © KISHIMOTO MASASHI

WARNING: OOC, AU, miss typo, dekskripsi sederhana. fanfic bergenre drama, tragedy, suspense, crime dan romance. Rating M karena bahasa kasar, suka menyinggung. No Gore and No Lemon. Dan, genre-nya juga bisa bertambah tergantung berjalannya alur cerita. Sekuel dari STARLIGHT

.oOo.

PART XIV

Ucapan ini belum didengar olehnya, belum meminta maaf padanya. Dia sangat salah, serba salah dan penuh penyesalan. Apakah setelah menutup mata, akankah dia memaafkan? Ingin sekali, dipeluk tubuh mungil itu sejak dilahirkan ke dunia ini, sebelum dibencinya karena ulah Orang itu.

.

.

[Tokyo, Jepang]

Keributan bermunculan di gedung Kepolisian. Gedung itu berubah gelisah karena mendapat berita tentang pembunuhan dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab tanpa sebuah kejelasan sangat misterius. Mereka menimbang-nimbang mencari apa terjadi lewat telepon di seberangnya.

"Benarkah? Bisakah ceritakan sesuai kronologis sebelum terjadi? Apa?! Temuan mayat?!" teriak Zabuza mendengar suara seberang dengan tegasnya ini benar-benar mencengangkan. "Kamu belum menemukan apa terjadi di sana? Kenapa bisa?" Zabuza dibuat pusing di seberang teleponnya.

"..."

"Tunggu! Kami akan datang ke sana. Tunggulah kami!"

Zabuza menutup sambungan teleponnya menghentangkan keras ke tubuh lewat gagangnya. Rahangnya mengeras. Semua tatapannya was-was, meminta jawaban apa diterimanya tadi pagi. Mereka melihat arti tatapan Zabuza lewat Haku yang terdiam. Mereka tahu, pembunuh ini mungkin ada dendamnya lagi pada keluarga Uchiha.

"Aku merasa ini ada yang aneh, Zabuza."

Semua tatapan menangkap tubuh tinggi dengan pakaian dikenakan, setelan hitam dengan dasi hijau. Mata, bulu mata dan alis mata semuanya sama-sama tebal. Ah, mereka lupa bahwa orang di depannya adalah partner Haruno Sakura—sebelum menikah, Wakil Inspektur, Rock Lee.

"Maksudmu?"

"Apa kalian mendengar berita kematian dilakukan Uchiha Sasuke setelah menghilang beberapa tahun belakangan ini?" tanyanya kepada mereka, jajaran kelompok interogasi dalam penyelidikan pembunuhan. Lee menghembuskan napas, tenang. "Uchiha Sasuke tidak sengaja membunuh isteri dari seorang sahabat Haruno Sasori. Paman kesayangan Uchiha Hikari. Apa kalian tahu bahwa Uchiha Sasuke salah sasaran dalam menembak targetnya?"

"Eh?!"

"Jangan-jangan?"

"Itu tidak mungkin!"

Semua pasang mata terkaget-kaget dan berbisik kepada lainnya, mempertanyakan apa masalah itu termasuk dalam hubungan di malam ini, pembunuhan dikarenakan balas dendam berkepanjangan. Mereka benar-benar tak menyangka semua ini ada hubungannya, hubungan terhubung.

"Yep!" Lee mengangguk, memasukkan kedua tangan di saku celananya. "Empat tahun lalu, sebelum Uchiha Iori lahir, Uchiha Sasuke di ujung Negara sana telah salah target. Target menembaknya bukan dari orang seharusnya dibunuh, tetapi rakyat kecil tidak tahu apa-apa. Tembakan itu tertuju ke jantungnya mengakibatkan pendarahan hebat." Lee menatap mereka serius, masih dengan gaya santai. "Rumah Sakit terlambat menolong hingga korban tidak selamat kemudian meninggal dunia. Suami dari korban baru mengetahui semua itu setelah bertahun-tahun merawat sahabatnya yang koma."

"Lalu, kenapa orang itu melakukannya sampai sejauh ini?"

Lee lagi-lagi menghela napas. "Yamanaka Sai atau Uchiha Sai adalah saudara sangat disayangi Uchiha Sasuke. Demi membalaskan dendam setelah mendengar berita kematian isterinya, orang itu membawa Said an keluarganya mengunjungi villa di Okinawa daripada di tempat lain telah tersedia." Lee memijit keningnya yang berkerut, memandang jauh informasi baru didapatnya dari Orochimaru, direksi bagian penyelidikan soal masa lalu. "Karena apa? Karena bisa melancarkan pembunuhan sudah direncanakannya. Orang itu sudah terobsesi ingin menyakiti Uchiha Sasuke lewat isteri disayangi Uchiha/ Yamanaka Sai secara verbal."

"APA?!"

"Jadi, intinya kenapa seperti itu."

Zabuza maju mendekati Lee yang menatapnya santai. "Kamu pasti tahu siapa dia, bukan?"

"Coba cari atau siapa pun di antara kalian pernah bicara dengannya belakangan ini. Lewat dari gelagatnya dia betul-betul terobsesi, seolah-olah penderitaan adalah makanan sehari-harinya."

"Apakah dia?"

Tsunade menampakkan batang hidungnya setelah mendengar penjelasan alasan orang itu membunuh dua orang tidak bersalah. Lee sangat mengerti arti pandangan ditujukan kepadanya, mengangguk pelan. Tsunade limbung. Untung ada rekan lain menopang tubuhnya sebelum membentur dinding dan lantai.

"Astaga ..."

Lee melirik sekilas Zabuza dan Haku, meminta prosedur untuk ke tempat itu dan juga menyuruh Kepolisan di kota tersebut segera membantu sebelum terjadi lebih mengenaskan lagi. Takutnya jiwa Macan betina keluar dari tidurnya setelah lama tak pernah keluar.

"Kita ke Okinawa! Sekarang juga!"

"BAIK, PAK!"

.

.

.

.

Gadis berusia 10 tahun memeluk lutut di atas ranjang, membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Tubuhnya lemas seketika. Dengung telinga dan penglihatan beradu, memprotes. Menyuruh memberikan kebenaran atas jawaban kepada orang ingin diincarnya. Namun, kedua kakinya tidak bisa berjalan semestinya. Entah takut, padahal niatnya tak pernah sekali pun ada ketakutan di matanya.

Yang ada adalah gundah dan berupa takdir seperti merantai dirinya.

Tubuhnya tiba-tiba menggigil. Dia tak merasakan sosok bayangan di sudut kamar tengah menatapnya sendu. Pilu bercampur tangis tanpa ada suara.

Dua malaikat berjejeran di sisinya dengan sabit di genggamannya. Jubah hitam meracuni ruangan kelam ini berubah kelam. Sunggingan terbentuk bibir mereka, siap melahap korban berikutnya. Gorden tak sanggup untuk membuka apa lagi angin semakin kencang menghancurkan, memporak porandakan agar bisa bergetar.

Tetap saja tidak bisa menghalau bencana. Senyuman sinis dan keji terus menghias, siap memberikan korban pada Maha Kuasa.

Gadis mungil itu dirantai sebuah rantai besi tidak bisa dilihat lewat mata telanjang, mengaitkan dan meraintainya seperti penjahat ada di penjara kamar ditempatinya kini. Di kepalanya siap dipenggal kapan saja lewat sabit pemilik Dewa-Dewi Kematian.

Apakah ini sudah termasuk ajalnya?

Sosok bayangan itu Cuma bisa tersenyum sedih, tak bisa membantu karena dirinya bukan lagi bagian dunia ini. Sosok bayangan hanyalah sebatas makhluk sering sekali menakuti makhluk masih hidup dan bernyawa. Sosok bayangan sudah tak punya tubuh. Tidak tahu caranya bernapas seperti apa. Jantungnya sudah direbut paksa. Ditusuk-tusuk.

Jadi, apa dilakukannya sekarang?

Cuma berdiri diam di sini menantikan sesuatu dirasakan gadis duduk memeluk lutut di ranjang sana. Entah mengapa, sosok bayangan ini sedang menunggu apa ingin ditunggu lalu membawanya ke tempat di mana sosok melahirkan sedang menunggunya juga.

Firasat apa ini?

.

.

Sementara itu di tempat lain, bocah mungil berukuran kecil berusia tiga tahun berjalan mendekati pintu besar di depannya. Pintu ini belum terbuka sedari tadi. Bocah itu hanya bisa berdiri diam tanpa mengetuk. Karena yang dia tahu, sosok di dalam kamar belum menampakkan sewaktu sarapan tadi.

Dijinjitkan kedua kakinya, mencapai kenop pintu kemudian memutarnya pelan-pelan takut mengacaukan segala apa dipikirkannya, meski di dalam pikirannya belum ada kata-kata siap dikatakan. Keinginan membawanya ke tempat ini, selain merindukan.

Memang susah buat ukuran sekecil dia, mesti menjinjitkan kaki agar sampai lalu melepaskan cepat sebelum terjatuh setelah pintu terbuka. Ruangan kamar ini sangatlah gelap, seperti tidak ada kehidupan. Akan tetapi, kini berubah aneh karena ada suara layar segi empat menayangkan TV Show tidak tahu apa judulnya.

Langkah kaki mungilnya menginjak tanah berkarpet. Tempat ini belum disinari matahari, lantas apalagi. Bau pengap karena belum tersentuh udara. Mungkin dikarenakan hujan di luar beserta petir mengguncang Bumi.

Di sana, sosok makhluk tengah dibicarakan lewat lamunan dan pikirannya sedang berdiam diri. Menekuk sebelah lututnya, menopang sebelah tangan, sebelah lagi kakinya diluruskan di lantai berkarpet. Matanya focus ke depan, di mana tayangan itu menampilkan acara tak diketahuinya.

Sekilas, bocah itu terperangah melihat tatapan itu begitu kosong. Tidak dihiraukan juga kehadirannya padahal pintu itu berderit pelan. Apa lagi benda menayangkan gambar tak diketahuinya tidak menimbulkan suara bising. Lalu, kenapa orang dikasihinya tidak mengacuhkannya meski bocah ini ada di sampingnya?

"Paman," katanya menyentuh pundak itu. "Paman," katanya lagi mengguncang pelan pundak Pamannya. "Paman, kenapa?"

Sosok itu membisu.

Bocah itu duduk di samping disebut Paman itu. Menonton apa ingin dilihatnya lantas pikirannya berputar pada proyeksi gambar dan perasaannya tidak enak, makanya diceritakan apa terjadi di akal sehatnya sebelum terjun landas di tanah dan menghilang di telan bersamaan angin.

"Paman, apa Paman tahu alau Ioli mimpi olang celalu dicintai Ioli malah tinggalin Ioli begitu aja." Mata itu berubah sedih, mengingat mimpi diterima tadi malam. "Olang itu meminta maap cama Ioli kalna udah cakitin Ioli. Ioli tidak tahu cebabnya kalna apa. Ioli cekalang ngelti Ioli celalu maapkan olang itu." Iori memeluk lututnya. "Ioli cepelti melacakan kehilangan," katanya cadel tetapi penuh kesedihan.

Mata itu mengerjap, memutar kepalanya melihat Iori berubah sedih. Diangkat sebelah tangannya siap menjangkau tubuh itu, memeluknya. Ditekan pipinya di kepala bocah sangat mirip perpaduannya dengan saudara dan saudara iparnya.

"Ioli takut alau olang itu pelgi. Ioli belum cempat minta maap. Ioli mau minta maap." Cairan tidak diminta untuk datang, jatuh membasahi pipi gembilnya. "Ioli takut, Paman Itachi. Hiks." Iori memeluk tubuh itu dengan kedua tangan mungilnya. "Ioli takut kehilangan."

Cairan terus ditahannya akhirnya jatuh juga. Tanpa suara. Cuma isakan tangis Iori menggema di segala ruangan disebut kamar ini. Itachi memeluk erat anak dan keponakan kesayangannya. Hatinya terasa seperti dikena godam palu transparan. Siap menghentak apa pun ada di organ-organ tubuhnya. Lantas, apa ingin diselamatkannya?

Ruangan ini pun serba hening, hanya suara televise menemani.

.

.

Di tempat lain, kungkungan rantai tak kasat mata melepaskan belenggunya. Gadis mungil itu seperti bebas beraktifitas. Kakinya diturunkan dari ranjang ke lantai dingin. Tubuhnya ringan menikmati hari, tetapi hatinya berpikir lain. Entah mengapa, akhir segalanya terjadi pada hari ini. Saat ini juga.

Pintu berderit terbuka menampakkan sosok tersenyum ke arahnya dengan pasang wajah dibuat-buat, menurut pendapat gadis mungil itu. Wajah itu tersenyum sumringah mencerahkan hati, berbeda dengan wajah kosong dimiliki gadis mungil itu tidak suka pada orang di depannya. Seperti ada niatan ingin memberikan niatan buruk.

"Kenapa tidak keluar, Sayang?"

Benar-benar memuakkan. Betapa rendahnya sosok di depannya dengan senyuman paling menjengkelkan pernah dilihatnya. Ingin sekali dicabik-cabik bibir itu agar tidak tersenyum lagi seperti sedia kala, seperti diperlihatkannya terdahulu. Senyuman hangat sebelum kepergian orang disayanginya bertahun-tahun lalu.

"Loh, kenapa wajahmu pucat, Hikari?" tanyanya lagi, penuh kekhawatiran. "Ada apa?"

"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Hikari balik—siapa gadis mungil tadi.

"Maksudmu apa, Sayang?"

"Kenapa kamu melakukannya?!" geramnya jengkel. Sosok itu berpikir apa dilakukan olehnya kepada gadis ini sehingga dirinya dibentak sampai segitunya, mengangkat bahu. "Kamu tahu, Cuma mengelak saja! Betapa merendahkannya kamu di mataku ini, Paman!"

Hampir sosok itu menyentuh Hikari berniat menenangkannya, tetapi Hikari menghindari dengan cara mundur. "Paman tidak tahu kamu bilang apa. Paman tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Coba katakan sejelas-jelasnya."

"Paman membunuh mereka! Paman membunuh Bibi Ino dan Misa, sahabatku!" teriaknya geram.

Mata itu melotot. Namun hanya sepersekian detik berubah menjadi datar dan biasa saja. Senyum tersungging di bibirnya, tersenyum menggoda. "Aduuh, Sayang, Paman tidak tahu apa maksudmu. Paman membunuh siapa dan mana buktinya," elaknya tanpa rasa bersalah.

"Aku melihat dengan mataku sendiri! Paman menusuk jantung Bibi Ino dengan sebilah pisau dapur waktu Bibi Ino membukakan pintu untuk Paman! Mendorongnya keras sampai tusukan itu menyebabkan darah mengucur keluar!" teriaknya frustasi, tak kenal takut. "Paman juga membunuh Misa karena melihat semuanya!" Kening sosok itu berkerut, Hikari menyeringai sinis. "Aku melihatnya, Paman! Lewat mataku sendiri setelah Misa berhambur masuk demi menyelamatkan Ibunya, sedangkan aku bersembunyi di balik pintu!" jeritnya menggelegar bersamaan petir muncul di balik jendela tertutup gorden.

Sosok itu terdiam. Napas Hikari terengah-engah. Sosok itu membisu. Hikari memasang wajah datar dan tak kenal takut, karena dia sudah terbiasa mengalaminya. Masa-masa kelam setelah ditinggalkan, dihina tak memiliki Ayah, kehidupan sangat miskin walau pun banyak orang prihatin pada keadaannya. Tetapi, dia bersyukur memiliki Ibu selalu menjaganya juga adik-adik yang menyayanginya.

Adik-adiknya?

Oh, iya. Hikari belum sempat meminta maaf pada mereka. Mereka yang tidak tahu apa-apa atas keegoisan selama ini karena dihasut oleh sosok di depannya sedang merunduk, poni tipis menutupi wajahnya sementara bibirnya tak mengatakan apa-apa. Pikirannya melantur ke mana-mana.

Dia kangen adik-adiknya dan ingin memeluknya.

Memeluk dan meminta maaf, sembari menunggu dimaafkan. Kemudian, bermain-main di hamparan pasir putih di pantai sana. Berkejar-kejaran bersama kedua orang tua melihat mereka tersenyum sumringah.

"Begitu, ya."

Hikari tersentak mendengar suara itu setelah kebisuan menghampiri keduanya, memutar kepala sedikit. Bibir sosok itu tersenyum misterius, terkikik geli. Tanpa disadarinya, sosok itu mengangkat wajah dan memasang wajah mengerikan pernah dilihatnya. Seperti Joker dan Pelahap Maut pernah ditontonnya, sosok itu bukan lagi sosok hangat sering menemaninya tidur.

"Kamu sangatlah bodoh, Nak."

Di manik mata coklatnya menampakkan wajah Hikari yang membeku seketika. Petir menggelegar menampilkan cahaya kekuningan dari balik gorden.

Dua bayangan saling bertaut tak bisa terpisahkan. Mereka seperti kembar siam. Bayangan itu menghilang bersamaan petir itu menjadikannya bisu.

.

.

PRAAANG!

Suara kencang di ruang keluarga mengagetkan wanita berambut biru panjang tengah memakan makanan di dapur bersama orang-orang tengah melahap makanannya. Wanita itu berpamitan sebentar untuk melihat apa terjadi, keluar dari ruang makan.

Wanita itu setengah berlari, matanya terbelalak lebar dan menutup mulutnya melihat pigura memberikan keluarga bahagia sebelum suami meninggalkannya. Pigura itu pecah, kaca-kaca berhamburan keluar. Bingkainya pun sama patahnya karena terlempar begitu saja dari langit. Wanita itu mendekati untuk membersihkan sebelum pelayan-pelayan rumahnya menawarkan untuk membantunya.

Wajahnya terkesiap kaget melihat benda di depannya—bukan karena kaca itu pecah dan berhamburan di mana-mana apa lagi bingkainya patah—tetapi, karena gambar di depannya tersobek. Ini gambar milik anaknya, anak telah pergi setelah tiga orang pergi sebelumnya. Anaknya beserta menantu dan cucu belum dimaafkan karena takut tak diterima.

Gambar itu sobek. Bukan karena sesuatu, atau terkena sebilah benda tajam. Karena itu kenyataan, gambar itu sobek. Bocah tengah menggenggam tangan kedua orang tuanya, tersenyum sumringah, seperti dilepaskan oleh jurang. Jurang itu adalah sobeknya dan hancurnya foto itu menyisakan anak dan menantunya masih berhubungan erat.

Artinya, foto terbagi jadi dua. Dengan di tengah, bocah kecil berusia lima tahun berdiri sendiri.

Firasat wanita itu sungguh tidak enak, entah karena apa. Mungkinkah ini terakhir kalinya wanita itu melihat orang-orang disayanginya dilihat sebelum ajal menjemputnya atau mereka yang pergi meninggalkannya.

"Hikari ..."

Cuma nama itu yang keluar dari mulutnya tanpa seizinnya. Nama itu memberikan sebuah peringatan mengerikan.

"Hikari ..."

.

.

Petir menghancurkan relung hati bocah mungil mengeratkan pelukannya. Dia menangis di pelukan sang Paman. Lelaki dewasa itu juga menangis tanpa suara. Iori lebih menyayat hati, karena dia terus memanggil nama kakak perempuan belum dilihat dan dirasakan pelukan juga kehangatannya. Dia merindukan sosok itu tengah memarahinya akibat kenakalannya.

"Kakak!" jeritnya bersamaan petir menggelegar dan derasnya hujan.

Hati ini juga sama menyedihkannya untuk dirasakan. Langit pun pada menangis. Tak bisa tersenyum sedia kala.

.

.

"Aku melihatnya tergeletak di sana, terlentang dengan banyaknya bau amis terasa tidak enak di indera penciumanku." Sakura terlalu focus pada pembicaraan dalam interogasi sembari menunggu teman-temannya didatangkan dari Tokyo dan Okinawa setempat. "Bersama Misa, darahnya ada di dada sebelah kiri, tepat di jantung." Tangan Sai gemetaran. "Mereka terbujur kaku di tempat, tidak bernyawa. Aku panggil tidak menyahut. Mereka seperti ditelan oleh kegelapan. Aku frustasi dan menjerit, ingin ikut masuk ke dalam kegelapan."

Sakura memikirkan kronologis dijawab oleh Sai sebagai saksi terutama Sasuke masih belum menjelaskan semuanya secara gamblang. Kejadian ini benar-benar menguras otaknya. Kepala Sakura berdenyut-denyut. Untung saja, Sasuke merangkul bahunya bersedia menenangkannya apabila Sakura pingsan atau marah-marah.

"Untung ada Sasuke, menghentikan aksi gilaku terkenal suka main hakim sendiri. Sasuke memelukku, berteriak memanggil semua orang untuk menelepon ambulans dan Polisi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya meratapi dan melihat pemandangan itu sampai dikemas dan dibawa ke mobil jenazah. Astaga, pikiranku kacau pada waktu itu!"

Sakura belum merespon, Sakura belum mencerna. Yang dia pikirkan adalah siapa pelaku itu, pelaku berniat melakukan rencana liciknya. Dia saja tidak mengerti. Andaikan semua diselesaikan dengan baik.

"Aku tidak tahu kenapa bisa terjadi setelah pembunuhan ada di depan mata. Aku—"

Sakura tidak lagi mendengar karena ada sosok transparan mirip dengannya tersenyum ke arahnya. Sakura tahu itu siapa. Itu anaknya, Hikari. Uchiha Hikari. Tersenyum kepadanya tanpa ada beban sering kali muncul di pundaknya. Sosok itu mengangkat tangannya ke sebelah kiri, di mana banyaknya letak kamar pernah disinggahi.

Sosok itu menyuruh Sakura pergi ke sana, sebelum terlambat. Bahkan senyuman tadi lebar, sekarang berubah sendu penuh kesedihan. Jantung Sakura mencelos kemudian beranjak dari ruang keluarga. Semua orang tersentak kaget pada perbuatan Sakura tiba-tiba bangkit pergi. Sasuke mengejarnya.

Langkah kaki Sakura menuju kamar entah kenapa ke anak pertamanya, Hikari. Pintu dibanting terbuka berkat tendangan kaki kanan belum digunakannya selama ini. Pemandangan di depannya membuatnya tercekat dan susah bernapas. Punggung itu seperti dikenalnya. Lalu, di balik punggung ada Hikari tersenyum kecil ke arahnya.

Punggung itu berbalik arah, menatap Sakura. Sakura yakin pada orang ini adalah pelakunya. Namun, itu berubah karena melihat sebuah benda tajam menusuk jantung anak perempuan semata wayangnya.

"KAMUU!"

Sakura meraih pistol disembunyikan apabila keperluan mendesak. Ditodongkan ke target. Ditembakkan suara nyaring itu sehingga mengguncang ruangan dan mengejutkan orang-orang berlarian ke arahnya. Asap letusan muncul di ujung pistol. Tubuh itu terjatuh setelah menembakkan tepat di dada, entah jantung atau paru-paru atau mungkin hati.

Bersamaan meluruhnya perlahan tubuh mungil sembari menggenggam sebilah pisau tajam menghunus jantungnya. Darah mengucur deras membasahi lantai. Sebelum gadis mungil itu menghantam tanah, Sakura mengejarnya dan memeluknya sekuat tenaga.

"Hikari! Bertahanlah, Sayang!"

Orang-orang berkumpul di ambang pintu. Ada yang menjerit melihat seonggok mayat terbujur kaku dengan punggung terlihat. Ada yang kaget melihat Sakura memeluk tubuh mungil Hikari dengan tancapan pisau mengenai jantung.

"Hikari!" Kali ini Sasuke yang berteriak. "Sayang, bertahanlah!"

"A—ayah ... I—bu ..." Cairan merah segar keluar dari mulut. Bau amis menghunus penginderaan sampai ke organ melihat di depan mata mereka sendiri. Hikari muntah darah akibat jantung jeblok. "Ma—maaf."

"Sayang, jangan bicara dulu. Kita ke Rumah Sakit sesegera mungkin."

Hikari menggeleng, tersenyum tipis. "Ti—tidak, Bu. Aku mau di sini sa—ja." Ditatap Sasuke penuh kesedihan dan ungkapan hati tidak bisa dia lontarkan sebelum ini. "A—Ayah, jangan marahi Iori. Iori tidak salah a—apa-apa." Napasnya terputus-putus. "Hikari yang salah karena menyalahkan Iori tidak langsung. Dia ti—tidak tahu apa-apa. Maafkan dia, Yah."

Tangan bersimbah darah digenggamnya erat, Sasuke menangis. "Iya, Sayang. Ayah sudah memaafkan Iori begitu juga kamu."

Tatapan Hikari menatap Sakura, nanar. "Maafkan Hikari, Ib—Ibu. Hikari salah su—sudah menyalahkan Iori. Maaf—"

Jari lentik Sakura menutup mulut Hikari dalam hal berbicara. "Jangan, Sayang. Ibu sudah memaafkan Hikari. Memaafkan Hikari."

Fokus pandangannya bukan lagi kepada kedua orang tuanya melainkan dua orang disayanginya sedang menatapnya sambil mengulurkan tangan. Mereka adalah Uchiha Fugaku dan Yamanaka Misa. Senyum lebar Hikari terpampang. Matahari sudah muncul, memberhentikan hujan walau masih rintik-rintik. Sepertinya matahari kali ini mengantar kepergiannya. Kini, dia bisa bebas sekarang.

"Hikari minta maaf padamu, Adikku Sayang. Iori. Youta." Hikari, berbicara begitu lancarnya. "Maafkan Kakakmu ini bukan sebagai Kakak yang baik. Kakak lebih mengutamakan ego Kakak sendiri tanpa mendengar perasaan kalian berdua. Maafkan Kakak lebih merasakan pahitnya kehidupan tanpa merasakan kebahagiaan kalian berikan sejak Kakak bersedih. Maaf." Mata seperti mata sang Ayah, menutup dan menampilkan sebuah senyuman kecil mengisi tidur panjang. "Setelah ini, maukah kalian memaafkan Kakak egois ini?" tanyanya lalu suaranya pun berubah hening.

"Hikari?" Sakura mengguncang tubuh Hikari, menyadarkannya. "Bangun, Sayang. Bangun!" teriaknya sambil menangis memilukan. "HIKARIII!"

Genggaman tangan gadis itu tak berjiwa. Itu dirasakan oleh Sasuke. Dipeluk tubuh anak disayanginya, anak perempuan semata wayangnya. Sekarang, anaknya sudah pergi meninggalkannya. Sasuke menangis tanpa suara memeluk kepala anaknya menampilkan senyuman cantik baru dilihatnya kali pertama setelah kepulangannya.

Semua orang melihatnya menangis. Sudah dua orang pergi, satu orang telah meninggalkannya. Semua ini apakah takdir yang mengatur?

Tidak ada yang tahu.

Di belakang punggung orang-orang itu, bocah kecil berusia empat tahun menjawab pertanyaan Kakaknya walau terdengar sangat jauh. Tetesan air mata baru dikeluarkan selama hidup di dunia, empat tahun belakangan kecuali meminta sesuatu ke Ibunya.

"Youta sudah memaafkan Kak Hikari."

Duka kembali menyelimuti dan terima kasih untuk semuanya, Sayangku.

Terima kasih dan selamat tinggal, Uchiha Hikari.

Semoga kamu tenang di sana.

[To be continued ...]

.oOo.

A/N: Jujur, saya mewek mendengar lagu ost Shark berjudul Poison Love. Akhirnya mengetik cerita menyedihkan di alurkan di chapter 14. Sungguh mengiris hati. Saya saja bersedih walau tangisan tadi malam mengingat Hikari meninggal dunia.

Yup! Say goodbye to Hikari, guys. Hikari sudah tidak ada lagi di fic ini, di chapter ini. Kalau kangen kenakalan Hikari, silakan baca STARLIGHT. Karena next chapter, Hikari menghilang walau segelintir masuk di dalam. Soal pembunuh, silakan menunggu chapter 15 karena itu menentukan segalanya. Jika kalian sudah mengetahui siapa setelah baca ini, membaca chapter awal karena pasti mengira siapa yang menjemput Sai dan keluarga di bandara.

Sesuai apa disepakati, fic ini akan dituntaskan setelah itu baru LONG Distance. Mungkin sekitaran 2-3 bulan jika update selesai saat itu juga. Mengerti 'kan, maksud saya. Heu heu ... #KetawaSetan

Terima kasih sudah membaca ya. Silakan menikmati galaunya atau cari pelampiasan. Kalau mau menikmati, silakan dengar lagu mellow yang saya cantumkan di atas. Senang bisa meng-update :P

Sign,

Zecka Fujioka

Date: 02 December 2014