Previous
LEPAS!"
Luhan bahkan sudah tak sanggup lagi beteriak-.. Namun Sehun terus memaksanya berteriak. Membuat air mata sialan itu kembali jatuh karena begitu sakit hati dengan semua yang dilakukan Sehun malam ini.
Seolah tak menghiraukan kemarahan Luhan-.. Sehun terus memaksa membantu Luhan memakai celana dan kemejanya. Sedikit merasa kesakitan karena Luhan terus memukulinya sampai akhirnya dia berhasil memakaikan seluruh pakaian di tubuh Luhan.
Keduanya kembali bertatapan malam ini. tatapan yang bertolak belakang tentu saja-.. Jika Luhan menatap Sehun penuh kebencian-.. Maka Sehun menatap Luhan putus asa. Dia seolah ingin memberitahu Luhan bahwa apapun yang telah dia lakukan malam ini hanya untuk mencuri sedikit perhatian Luhan untuknya.
Sehun tahu dia sudah diluar batas. Tapi apa dia memiliki pilihan lain?-...Jawabannya tidak-..Bagaimana bisa dia memiliki pilihan lain jika Luhan terus menghindar dan tak ingin bertemu dengannya. Membuat dadanya begitu sesak setiap kali menyadari ketidak hadiran Luhan di sekitarnya terlalu lama. "MaafLuhan-...Maafkan aku. Aku-..."
PLAK...!
Menurut Sehun tamparan kedua Luhan untuknya sama sekali tak setimpal. Dia bahkan lebih memilih Luhan untuk membunuhnya atau melakukan hal keji apapun selain menampar dirinya. Hatinya bahkan merasa begitu sakit saat tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Luhan.
"Luhan aku-..."
"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!" katanya berteriak marah dan tak lama berlari meninggalkan Sehun yang seketika terduduk lemas di tempat tidur yang belum lama ia gunakan untuk membuat Luhan membecinya.
Bibirnya tersenyum lirih saat mendengar kalimat yang ia takutkan sedari awal pertemuannya dengan Luhan. Membuatnya mengusak kasar wajahnya menyadari satu hal-... Jika kau menerima kata benci dari Luhan Itu artinya kau adalah orang asing untuk Luhan. Dan saat Luhan mengatakan benci pada Sehun. Maka mulai malam ini-... Sehun hanyalah orang asing untuk Luhan –tak ada lagi teman kecil. Yang ada hanya dua teman kecil yang berubah menjadi dua orang asing-.
.
.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 Present new story :
My Forever Crush
Main Pair : Sehun & Luhan
Support pair : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Other Pair : Song Joong Ki as Oh Joong Ki : Sehun's Dad
Miranda Kerr as Oh Miranda : Sehun's Mom
Kang Gary as Xi Gary : Luhan's Dad
Song Jihyo as Xi Jihyo : Luhan's Mom
Genre : Romance, Friendship
Rate : T & M
.
.
.
.
.
.
.
"JANE TAMBAH LAGI!"
Pemilik kafe pun terpaksa harus kembali melayani satu pria yang jelas tak bisa minum. Bagaimana bisa dia mengatakan tambah lagi jika hanya dengan dua gelas alkohol membuatnya nyaris tak sadarkan diri seperti saat ini.
Membuat si pemilik kafe mendengus kesal sebelum menghampiri remaja yang dikenal sangat keras bahkan terlalu keras pada dirinya sendiri. "Sebenarnya ada apa denganmu? Kau sudah minum terlalu banyak dan akan mati jika aku menambah alkoholnya lagi."
"AKU BILANG TAM-hix- TAMBAH!"
"Araseo! Jangan berteriak dan membuat keributan."
Wanita yang kerap kali dipanggil Jane itu hanya bisa mengalah mengingat Luhan selalu melakukan hal tak terduga. Dia bahkan tak mau terlibat dalam masaah apapun yang sedang dihadapinya mengetahui temperamen Luhan bisa sangat mengerikan jika dia sedang dalam masalah.
"CEPAT!"
"Tidak usah berteriak! Ini minumanmu. Mabuklah sampai kau mati!" Katanya menggeram marah dan menyerahkan minuman beralkohol yang sudah dipesan Luhan secara menggila. Awalnya dia khawatir Luhan akan pingsan atau paling buruk keracunan mengingat sebelum hari ini, Jane sama sekali tak pernah melihat Luhan minum apalagi sampai mabuk seperti ini. Namun saat si remaja yang biasanya hanya memesan ice coffe itu mulai berteriak-... Dia kesal dan berniat membiarkan Luhan melakukan apapun yang dia mau dengan minumannya.
"Gomawo Jane..."
"Kau harusnya memanggilku noona!"
"Araseo noona. Gomawo." Katanya memgangkat gelas minumannya dan mengerling Jane. "Kau cantik." Gumamnya kembali meracau tak jelas dan hendak meminum minumannya sebelum
Glup!
Dia menenggak entah gelas ke berapa malam ini. Sedikit menggelengkan keras kepalanya agar kesadarannya tidak hilang sebelum menyerah pada rasa pusing dan mual yang mulai ia rasakan.
"Lihat kau benar-benar mabuk Luhan! Ish menyusahkan!"
Jane melihat Luhan terkapar di atas meja. Awalnya dia ingin memanggil petugas keamanan untuk mengantar Luhan pulang. Namun saat dia mengangkat tangannya untuk memerintahkan penjaga yang sedang bertugas-... Seseorang datang berjalan menghampiri Luhan dan meminta Jane untuk tidak memanggil kemananan.
"Biar aku saja Jane."
"Kau yakin bisa menghadapi dia?"
"Dia hanya soal kecil untukku."
"Baiklah. Segera bawa dia pergi dari sini."
"Oke."
Jane pun tanpa ragu meninggalkan Luhan yang sudah hampir tak sadarkan diri. Sedikit mengerling pada pemuda tampan lainnya sebelum melayani pelanggannya yang lain.
Pemuda tampan yang mengajukan diri akan mengurus Luhan adalah pemuda yang sama yang selalu membuat Luhan marah dan selalu emosi. Entah berteriak atau benar-benar memukul-.. Keduanya sudah sering melakukan hal itu.
Dia bahkan harusnya membiarkan Luhan mabuk dan meninggalkannya begitu saja. Tapi entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi da lebih memilih menemani Luhan daripada harus berpura-pura tidak tahu kalau rivalnya sedang mabuk berat seperti sekarang.
"Kau mabuk?"
Luhan merasa seseorang tengah mengusap lembut tengkuknya. Membuatnya sedikit menggeliat menghindar karena tangan yang entah milik siapa itu kini mengusap asal rambutnya. "Belum lama ini aku melihat Taecyeon tak sadarkan diri. Sekarang aku melihat leadernya yang terkapar di meja yang sama dengan Taecyeon. Sebenarnya ada apa denganmu dan seluruh tim mu?"
Pendengaran Luhan terasa gamang untuk sesaat. Dia seperti mendengar suara lalu suara itu menghilang dan tak lama kembali lagi terdengar. Membuatnya sedikit penasaran dan memutuskan untuk mengangkat wajahnya dengan mata yang masih terpejam erat.
"Kau si-hix-siapa?"
Luhan mengerjapkan matanya berulang. Pandangannya belum fokus sampai dia mengusap kasar matanya. Kembali mengerjapkan mata hingga bayangan pria di depannya menjadi fokus dan menampilkan sosok seseorang yang ia kenal menjadi begitu jelas di matanya. Luhan kembali mengerjapkan matanya. Kali ini berulang dan memastikan dirinya tak salah lihat. Sampai akhirnya dia merasa lelah mengerjapkan matanya, barulah dan begitu bertanya mengapa si pria yang begitu ia benci berada di depannya.
"L?"
Pria tampan itu mengeluarkan kekehan kecil mendengar Luhan memanggilnya. Sedikit meminum minuman Luhan sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan "hmm...Ini aku."
Luhan kembali menyandarkan kepalanya di atas mejanya, dia tdak mau ambil pusing dengan keberadaan Myungsoo membuat membuat Myungsoo -pria yang tak mengedipkan matanya sedari awal kedatangan Luhan- kembali terkekeh menebak Luhan sedang menahan mual dan rasa sakit di kepalanya.
"Kemana aku harus mengantarmu pulang? Ke tempat Sehun atau Taecyeon?"
"Diam!"
Luhan bergumam membalas di tengah ketidaksadarannya. Entah mengapa mendengar nama Sehun disebutkan membuat salah satu pemicu kemarahannya seketika tak terkendali malam ini. Dia sedang menahan sakit di kepalanya dan terimakasih untuk Sehun yang sudah menambah rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Dan saat nama Sehun disebutkan, maka rasa sakit di kepala dan bagian bawahnya seakan bertambah kuat membuat Luhan marah karena tak bisa menahan sakitnya.
"Lalu katakan padaku, kemana aku harus mengantarmu?"
"Hanya pergi dan jangan ganggu aku!"
"Jika aku pergi, para petugas itu akan menyeretmu keluar entah kemana, dan aku akan merasa bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Omong kosong!"
"Aku serius. Katakan kemana aku harus membawamu pergi?"
"Luhan?"
Myungsoo juga tidak mau ambil pusing dengan sikap Luhan. Membuat kedua bahunya terangkat dan mulai minum dengan mata yang tak berkedip menatap Luhan.
"Haaahhh... Baiklah! Kita akan berada disini sepanjang malam." Katanya tertawa bodoh dan mulai menghabiskan seluruh minumannya sampai suara Luhan memanggilnya. "Harusnya aku meninggalkan dirimu saja. Bodoh sekali kenapa aku disini." Katanya bergumam kecil dengan mata yang entah mengapa tak bisa berkedip melihat Luhan. Kembali mengusak asal tengkuk Luhan untuk memastikan satu hal-…dia tidak tergila-gila pada seorang pria-… terlebih pria itu sedang mabuk dan merupakan rivalnya di malam hari.
Myungsoo sangat mengetahui kalau Luhan bisa menjadi cantik dan tampan di waktu bersamaan. Tapi Luhan tidak pernah menunjukkan sisi cantiknya jika berada di arena balap. Berbeda seperti malam ini-..Rivalnya jelas terluka dan sedang berada dalam masalah. Tapi entah kenapa justru itu yang membuatnya terlihat sangat mempesona bahkan disaat dirinya sedang tak sadarkan diri seperti saat ini.
Mata Myungsoo benar-benar tak mau bekerjasama dengan pikirannya. Jika pikirannya mengatakan berhenti menatap, maka yang diberi perintah tak mau berkedip seolah menghianati pikirannya. Membuat Myungsoo tak memiliki pilihan lain selain terus memandang Luhan sampai Luhan menggeliat dan memanggil namanya.
"Myungsoo-ya..."
"Huh?"
"Kim Myungsoo!"
"Whoaaa.. Aku benar-benar dibuat berdebar saat kau memanggil nama kecilku." Katanya bergumam pelan dengan tangan yang memegangi dadanya. Memastikan kalau debaran jantungnya normal walau harus berakhir mendesah frustasi menyadari debarannya berbeda dari sebelumnya. Dia bahkan bertanya-tanya sejak kapan Luhan mulai suka memanggil dirinya dengan nama kecilnya.
"Myungsoo.."
Myungsoo mulai kembali pada kesadarannya. Sedikit memukul pelan wajahnya sebelum menjawab panggilan Luhan. "Ada apa?"
"Boleh aku meminjam pundakmu?"
"Eh?"
Myungsoo benar-benar dibuat mati langkah dengan seluruh ucapan, panggilan dan kini permintaan Luhan. Dia bahkan mengutuk keras kemampuan Luhan yang terlalu ahli membuat hatinya berdebar menggila seperti ini. Terkadang dia berdebar karena terlalu marah pada pria di sampingnya dan terkadang dia akan berdebar tanpa alasan persis seperti malam ini.
"Untuk apa?" Katanya bertanya dengan nada yang dibuat terdengar sebiasa mungkin.
"Hanya ingin-... Aku butuh bersandar."
"Lupakan jika kau keberatan."
Luhan mulai membenarkan posisi tidurnya di meja. Semakin menenggelamkan wajahnya sebelum merasa tubuhnya ditarik dan kini ia berada di pundak Myungsoo yang membalikan tubuhnya ke arah berlawanan.
"Pinjam bahuku sebanyak yang kau inginkan." Katanya melirik ke belakang memastikan bahwa Luhan bersandar di pundaknya. Dia bahkan merasa akan gila dalam posisi ini. Tapi saat Luhan mulai mencari posisi nyaman di pundaknya-... Myungsoo juga mulai membiasakan dirinya.
"Gomawo." Katanya berterimakasih dan mulai menikmati sandaran di bahu Myungsoo. Myungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak berani lagi melirik ke belakang untuk melihat Luhan dan mulai membiarkan Luhan meminjam bahunya.
"Kau berhutang padaku Lu..."
"Aku tahu."
"Kau harus membayarnya."
"Aku mengerti."
"Dan jangan lupakan-..."
Hkssss
Permintaan Myungsoo seolah tersangkut begitu saja di kerongkongannya sendiri. Awalnya dia berniat untuk membuat Luhan berteriak seperti biasanya. Namun yang terjadi adalah kebalikan yang dia harapkan-... Luhan menangis…Dan saat ini adalah kali pertamanya untuk Myungsoo melihat sosok angkuh yang biasa menggambarkan dirinya dengan sifat arogan, tidak terkalahkan berubah menjadi sosok rapuh yang sedang menangis di bahunya. Membuat sedikit perasaan iba menyergap ke batin Myungsoo namun tak berniat untuk mengasihani rivalnya.
"Kau baik?"
Hkssss
Luhan tak menjawab. Yang dia lakukan hanya meminjam bahu Myungsoo dan terisak sebanyak yang ia mau saat ini. Dia tidak tahan mengingat apa yang terjadi padanya dua jam lalu. Mengingat bagaimana sosok Sehun berubah begitu menyeramkan untuknya. Dia bahkan masih mengingat tangan Sehun yang menggerayangi kasar tubuhnya dan memaksa dirinya menikmati pelecehan yang diberikan teman kecilnya. Membuat perasaan terluka, marah dan terhina menjadi satu dan begitu sesak untuk Luhan tahan lebih lama lagi.
Bahu Myungsoo terasa sangat asing untuknya. Biasanya dia akan memakai bahu Chanyeol disaat seperti ini atau dirinya akan meminjam pundak Kai untuk beristirahat atau berada di dekapan Sehun saat pikirannya kacau. Namun yang terjadi malam ini adalah hal yang tak pernah Luhan bayangkan. Meminjam pundak dari seseorang yang sangat membencinya lalu berkeluh kesah di depannya adalah bentuk nyata bahwa seorang Xi Luhan benar kehilangan pegangan hidupnya, dan apa yang terjadi malam ini hanya menggambarkan sebagian kecil dari kehilangan yang Luhan rasakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Luhan juga tidak tahu dia ada dimana. Yang dia tahu hanya kepalanya begitu sakit dengan bagian bawah yang setiap kali digerakkan ke arah tertentu terasa begitu menyiksa dirinya.
Niat awal dia hanya ingin terus memejamkan matanya. Entah sampai kapan-…yang jelas dia hanya ingin memejamkan matanya sampai dia lelah, sampai dia menyerah pada rasa takutnya. Tapi yang terjadi adalah matahari bersinar terlalu terik ke wajahnya. Seolah memaksa Luhan untuk membuka matanya dan ya-…Luhan memang terpaksa membuka matanya saat ini.
"nghh.."
Ringisan pertama yang ia keluarkan adalah rasa sakit dan mual di kepala dan perutnya. Lalu dia mencoba bersandar di tepi ranjang. Sedikit mengerjapkan matanya berulang sampai menyadari kalau tempatnya berbaring jelas bukan kamarnya di rumah Kakek Kim, dirumahnya bersama Sehun, atau bahkan di basecamp nya. Membuatnya sedikit penasaran dengan melihat ke kanan da ke kiri. Berusaha menebak namun gagal karena tempat ini benar-benar asing untuknya.
"sial. Kenapa mual sekali."
Di sela kebingungannya. Luhan terus memijat kepala dan perutnya bersamaan. Masih berusaha mengingat apa yang terjadi sampai
Cklek…!
Luhan secara refleks menoleh saat seseorang membuka pintu kamarnya dan di saat yang sama pula matanya membulat melihat siapa yang berjalan masuk dengan nampan berisi makanan di kedua tangannya.
"L?"
"Jangan tanya kenapa aku disini. Harusnya kau bertanya kenapa kau disini. Ini basecamp ku."
Luhan mengingatnya-…mengingat semua yang terjadi malam tadi. Malam disaat dia berniat melupakan apa yang dilakukan Sehun dengan mabuk dan tak sadarkan diri menjadi malam yang memalukan dimana dirinya menangis di depan orang asing yang jelas adalah musuhnya. Membuat rasa mual seketika ia rasakan dan rasanya Luhan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya saat mengingat apa yang terjadi malanm tadi.
"Dan kenapa kau membawaku ke basecamp sialan ini?"
"Apa yang kau sebut sialan?"
Luhan membuat kesalahan lagi, sifat arogannya kembali menguasai bahkan di pagi hari seperti ini. Harusnya dia berterimakasih pada Myungsoo karena telah menolongnya. Bukan menghina tempat yang sudah seperti kerajaan untuk Myungsoo dan timnya. Luhan juga memiliki basecamp nya dan dia tidak akan segan memukul atau bahkan membuat seseorang yang berani menghina "kerajaannya" terkapar di rumah sakit.
Dan saat menyadari kesalahannya berbicara-..Luhan diam. Terlampau diam membuat Myungsoo tahu kalau pria yang malam tadi menunjukkan sisi lainnya telah menyadari kesalahannya berbicara "Taehyung membuatkan sup ini. Makanlah sebelum pergi." katanya memberitahu Luhan dan berniat meninggalkan Luhan di kamarnya sampai
"Myungsoo-ya."
Langkah kaki Myungsoo terhenti saat entah sudah ke berapa kalinya Luhan memanggil nama kecilnya. Membuat seluruh tubuhnya merespon dengan cara yang aneh sampai suara Luhan kembali terdengar "Malam tadi aku-…"
"Jangan khawatir. Aku tidak mendengar apapun malam tadi. Aku juga tidak bertemu denganmu. Jadi aku tidak akan memberitahu pada siapapun. Hanya habiskan sup mu lalu kenakan pakaian yang aku siapkan. Itu pakaian Jungkook. Aku rasa kalian memiliki ukuran tubuh yang sama. Oke?" katanya menoleh mengerling Luhan sebelum meninggalkan kamarnya mengingat debaran jantungnya mulai berulah bahkan di pagi hari seperti ini.
Luhan sendiri hanya tersenyum mendengar jawaban Myungsoo. Sedikit bertanya-tanya kemana Myungsoo yang begitu membencinya. Dia bahkan mengira Myungsoo akan membiarkan dirinya dibawa petugas keamanan. Bukan membawa musuh kedalam kerajaannya.
Luhan mengambil cepat sup yang dibuatkan Taehyung, menyuap dalam satu sendokan kecil dan rasanya?-…rasanya sangat mengerikan. Tapi Luhan terus memakannya. Bukan karena dia lapar atau karena Taehyung yang membuatkannya, tapi rasa sup yang sedang ia makan sama mengerikannya dengan sup yang selalu dibuatkan Sehun untuknya. "Sehun…." Membuat rasa benci dan rindu itu menjadi satu hingga berakhir dengan isakan kecil yang Luhan keluarkan saat memakan sup mengerikan yang diberikan untuknya.
.
.
Cklek…!
Luhan keluar dari kamar Myungsoo dengan mata yang terus mengagumi dekorasi basecamp rivalnya. Dia bahkan tidak menyangka bahwa Myungsoo dan timnya bahkan mengoleksi rangka kasar yang akan siap dirakit menjadi mobil baru. Membuatnya sedikit tersenyum sebelum menuruni tangga perlahan dan menemukan foto keluarga besar BTR dengan beberapa mobil mereka sebagai background latar dengan tulisan Beat The Road's Family menghiasi pajangan foto tersebut.
Luhan dan NFS juga memiliki foto keluarga yang dipajang seperti BTR. Membuatnya terus tersenyum sampai suara seseorang memekik melihat keberadaannya.
"Omo! Bukankah kau Luhan? Leader NFS?"
"y-ya Aku Luhan." katanya salah tingkah menjawab pertanyaan remaja yang ia tebak memiliki usia sama dengan Mark di timnya "Dan kau adalah?"
"Namaku Lee dong hyuk. Tapi kau bisa memanggilku Haechan. Aku maknae di BTR."
"ah begitukah… Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Itu karena aku melarang mereka untuk turun. Tidak sepertimu-…Aku lebih mementingkan keselamatan mereka daripada harus menggantikan salah satu dari kami berempat."
Luhan menoleh saat melihat Myungsoo berjalan mendekatinya. Sedikit tersinggung dengan pernyataan Myungsoo yang sepertinya menyindir bagaimana cara dia memperlakukan Mark dan lainnya "Apa maksudmu?"
"Jika kau memiliki Taeyong, Jaehyun, Mark dan Ten-… Maka aku memiliki Yuta, Taeil, Haechan dan Johnny. Mereka berdelapan memiliki usia yang sama seperti kita. Tapi bedanya tak ada satupun di luar sana yang mengetahui siapa adik-adikku. Belum waktunya mereka menunjukkan diri."
"Pikirmu aku akan mengurung adik-adikku? Mereka akan memberontak jika aku terus memaksa mereka untuk tidak melakukan apapun. Dan kau tahu apa yang paling buruk dari seseorang yang memberontak?-… Mereka akah kehilangan arah dan disaat itu kau gagal menjadi seorang kakak." Katanya menyindir balik Myungsoo yang terlihat tersedak air liurnya sendiri saat ini.
"Dan kau membuat peluang Hayden dan Jaeson mendekati adik-adikmu lebih bebas."
"Aku tidak akan membiarkan kedua sindikat itu mendekati tim ku."
"cih! Benarkah? Kau bahkan tak bisa mengurus dirimu sendiri!."
"KAU!-.."
"Hyung! Woohyun hyung memanggilmu."
Terdengar suara dengan aksen berbeda memanggil Myungsoo. Luhan pun terpaksa menoleh dan kali ini menebak bahwa pria yang memiliki tinggi hampir sama dengan Jaehyun tidak besar di Korea mengingat aksennya yang begitu berbeda.
"Oke."
Myungsoo pun meninggalkan Luhan begitu saja. Membuat Haechan yang sedang membuat reparasi pada mobilnya sedikit mengusap kasar tengkuknya "Myungsoo hyung memang keras tapi sesungguhnya dia sangat menyayangi kami-..Oia hyung katakan pada Taeyong kalau lusa nanti aku akan datang ke acara pembukaan turnament bebas. Kami akan datang bersama."
"Taeyong? Kau berteman dengannya?"
"hmm.. tak hanya Taeyong. Aku juga berteman dekat dengan Mark, Jaehyun dan Ten."
"Kalian berteman?"
"Ya. Kami satu sekolah dan cukup dekat."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Apa yang bisa hyung?-ah-….hanya karena kau dan Myungsoo hyung saling membenci bukan berarti aku tidak boleh berteman dengan tim mu kan hyung? Jangan samakan kami dengan kalian." Katanya memprotes dengan tangan yang kesulitan menyatukan alat membuat Luhan sedikit merasa tertohok dengan jawaban Haechan sebelum tertawa kecil dan mengambil alat di tangan Haechan lalu mulai menyatukannya di posisi yang benar "Jika kau tidak benar meletakkan posisi alat, mobilmu akan mengalami kebocoran serius. Dan aku senang kau memiliki hubungan baik dengan adik-adikku. Gomawo Haechanie…" Katanya mengembalikan alat yang dipegang Heechan sebelum berjalan meninggalkan Heechan dan berniat pergi dari basecamp rivalnya.
"Mereka merubah pengaturannya. Kita tidak boleh memakai mobil keluaran 2016. Ketentuan dari mereka hanya menggunakan mobil keluaran 2000 dengan kondisi yang masih memenuhi syarat."
"Kalau begitu lakukan!"
"Hyung! Kita sudah menjual seluruh mobil lama kita. Kekalahan kita sebelumnya telah banyak menimbulkan kerugian. Percuma saja seperti ini. kita tidak akan bisa tampil di turnament bebas."
Kekalahan sebelumnya yang dimaksud oleh Woohyun adalah kekalahan BTR saat berhadapan dengan NFS beberapa waktu lalu, membuat Luhan sedikit merasa tidak enak hati karena menyebabkan masalah baru untuk Myungsoo dan tim nya.
"Satu-satunya cara hanya menyewa di tempat paman Kim. Tapi dia selalu memberikan harga tinggi pada kita. Ish! Aku benar-benar kesal!"
Luhan memberanikan diri untuk memasuki ruangan dimana Myungsoo dan lainnya berada. Tak sengaja membuat suara hingga Myungsoo dan lain menoleh ke arahnya "Kau sudah mau pulang?"
Luhan hanya mengangguk sekilas menjawab pertanyaan Myungsoo. Awalnya dia ingin memberikan solusi tapi saat semua tim Myungsoo menatap tak suka padanya, dia tidak memiliki pilihan lain selain bergegas pergi dari basecamp Myungsoo.
"Mobilmu ada di luar. Berhati-hatilah."
"Oke." Katanya mulai berjalan pergi sebelum kakinya berhenti melangkah dan memberanikan diri untuk bicara pada Myungsoo dan teman-temannya. "Kalian bisa memakai mobilku. Taecyeon dan aku memiliki beberapa mobil keluaran tahun 1997 dan 2000. Kami suka memodifikasinya. Jadi gunakanlah jika itu membantu."
"Tidak perlu."
"Bolehkah?"
Luhan mengabaikan jawaban Myungsoo dan melihat ke arah Woohyun yang bertanya. Kembali mengangguk cepat membuat senyum jelas terlihat di wajah Woohyun, Jungkook dan V namun tidak sama sekali terlihat di wajah Myungsoo "Tentu saja. Senin nanti aku akan membawanya ke kampus. Aku akan memberikan kuncinya dan kalian bisa-…"
"AKU BILANG TIDAK PERLU!"
Semuanya terdiam saat Myungsoo tiba-tiba berteriak, membuat raut wajah takut terlihat pada ketiga yang lain dengan Luhan yang merasa semakin tidak enak hati dibuatnya "Pergilah. Jangan mengurus urusan timku."
"hyung.."
"DIAM! DAN KAU-….CEPAT PERGI!"
Luhan selalu tidak bisa bersabar jika ada seseorang yang berteriak. Membuat seringai terlihat di wajahnya dan kali ini dia tidak bisa merendahkan diri lagi "Aku tidak mengurusi masalah tim mu. Aku hanya mencoba membantu? Kau tahu kenapa? Karena aku dan timku tidak turun di turnament bebas. Jadi jika sampai kalian batal turun. Basecamp kita adalah taruhannya-..Aku tidak mau kehilangan basecampku begitu juga dengan tim kalian. Jadi jangan menolaknya, aku melakukan ini untuk timku."
"Dan kenapa basecamp kita menjadi taruhan?"
"Jika point kalian tidak mencukupi kalian akan dituntut membayar, dan jika itu terjadi sudah dipastikan tim ku yang akan menjadi target selanjutnya. Jadi jangan berpura-pura kau tidak mengetahuinya. Aku pergi dan kau Namu-… Aku akan memberikan kuncinya senin nanti. Semoga beruntung."
Myungsoo bahkan kembali dibuat tidak bisa bicara dengan ucapan Luhan. membuatnya sedikit tertawa marah menyadari bahwa tak heran mereka memanggil Luhan dengan playmaker karena dirinya memang seorang player yang tidak hanya memikirkan kondisi saat tampil di lapangan namun juga memikirkan kondisi sebelum dan sesudah mereka tampil dilapangan.
"Bagaimana? Terima atau tidak?"
Myungsoo melihat Woohyun yang terlihat berharap. Kembali melihat teman-temannya sebelum terpaksa mengangguk
"Terima saja. Kita akan mencari cara lain untuk berterimakasih padanya nanti."
"Oke."
Woohyun bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena sang leader tak menolak bantuan dari rival mereka. Membuat dirinya sedikit bersorak sebelum melihat ke pasangan kekasih di depannya "Aku yang turun kenapa kau yang senang?"
Taehyung bertanya pada Woohyun yang masih bersenandung senang saat ini "Jika Luhan benar meminjamkan mobilnya. Kita bisa mengambil kesempatan modifikasi macam apa yang biasa mereka gunakan untuk turun di lapangan."
"cih licik sekali!"
"Aku hanya ingin tahu-…Dan jangan lupa. Daftarkan namamu di turnament. Mereka masih memakai namaku." Katanya memberitahu Taehyun dan tak lama meninggalkan kedua temannya yang kembali sibuk dengan dunia mereka sendiri.
.
.
.
.
.
Usai sudah dua hari libur untuk Luhan saat ini. setelah beristirahat dan tak beranjak dari kamarnya kini ia memaksakan bangun dan segera bersiap untuk kembali memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa.
Dia bisa saja membolos jika ia tidak ingin mengikuti pelajaran. Namun yang akan terjadi hanya makian marah kakek Kim sepanjang hari dan Sehun yang akan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Luhan mungkin masih sangat marah dan kecewa pada teman kecilnya. Tapi Luhan tidak akan sampai hati membuat Sehun merasa bersalah dan lebih buruknya mulai menyalahkan dirinya untuk hal memalukan yang terlah ia lakukan jumat lalu.
Dan keputusannya untuk mulai bersiap, semata-mata hanya ingin menunjukkan pada Sehun kalau dia baik-baik saja. Dia baik-…walau tubuhnya masih merasa sakit serta pikirannya masih merasa terhina. Tapi setidaknya dengan kedatangannya mengikuti mata pelajaran tidak akan sampai membuat Sehun merasa terlalu bersalah.
"Kakek…"
Yang disapa sedang menyesap teh hangat yang disajikan. Sedikit mengangkat wajahnya sebelum tersenyum melihat cucunya sudah mulai hidup normal seperti pelajar pada umunya "Kau sudah siap berangkat?"
Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban, tersenyum dipaksakan dengan tangan yang menarik kursi meja makan "Aku ada ujian hari ini." katanya memberitahu dengan mulut yang kini mengunyah roti strawberry kesukannya.
"Kau pasti bisa."
Lagi-lagi Luhan hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang kakek, kembali berdiri dari kursinya sebelum berpamitan membungkuk pada sang kakek "Kalau begitu aku pergi dulu, sampai nanti kek."
"Tidak menghabiskan sarapanmu?"
"Aku sudah kenyang. Aku pergi."
Kakek Kim hanya memperhatikan punggung Luhan yang semakin menjauh. Sedikit merasa khawatir pada Luhan yang nyaris tak pernah tersenyum apalagi tertawa selama mereka tinggal bersama. Membuat tatapan sendu yang begitu panas membasahi kacamata tuanya.
Tangannya yang sudah mulai gemetar perlahan mengambil ponsel yang berada di sampingnya. Matanya kemudian fokus mencari kontak seseorang sebelum menuliskan pesan singkat namun memiliki arti menuntut didalamnya.
Kapan kau kembali? Apa kau benar-benar tidak peduli lagi pada putramu? Putramu sakit-…dia membutuhkan papa dan mamanya.
Sebaris kalimat yang ditujukan untuk Garry telah dikirim oleh Kakek Kim. Berharap setelah ini Garry ataupun Jihyo menyempatkan diri untuk pulang. Dia tahu Lana sedang menjalani terapi pengobatannya, tapi jika dia terus membiarkan Luhan menunggu tanpa alasan-… Bukan hanya Lana yang akan kesakitan tapi Luhan akan lebih merasa sakit dan hancur di dalam.
Kakek Kim sedikit mengusap lembut wajah Luhan yang menghiasi walpaper ponselnya. Dia mengingat dengan jelas bahwa beberapa hari lalu Luhan memaksa agar walpaper ponsel kakek Kim adalah foto yang mereka ambil bersama. Luhan mengatakan tampan namun menurut kakek terlihat manis. Sampai akhirnya terjadi perdebatan tak penting dengan Luhan sebagai pemenang karena sang kakek mengalah tentu saja.
Senyum di wajah kakek terus terlihat dan dengan tangan yang terus mengusap wajah Luhan sedikit menghela dalam nafasnya berharap segera melihat Luhan tertawa karena dia ingin. Bukan tertawa karena dia harus. "Semoga kau selalu berbahagia nak."
.
.
.
.
.
.
Dan disinilah Luhan, sudah duduk di kursinya menunggu pelajaran yang membosankan –tidak- dia sengaja datang terlebih dulu untuk menghindari Sehun yang akan menatapnya saat ia masuk kedalam ruang kelas. Dia yakin tidak bisa menghindari tatapan teman kecilnya dan yang paling buruk Sehun akan memaksanya membicarakan apa yang sudah terlewati hari itu.
"Kau sudah datang Lu?"
"hmm… Apa kau bawa yang aku minta?"
Taecyeon yang merogoh sakunya. Mengeluarkan benda kecil dalam sakunya sebelum memberikan kepada Luhan "Kami membawa dua mobil keluaran tahun 2000. Milikku dan Kyungsoo."
"Gomawo." Katanya menerima dua kunci tersebut sebelum menyimpannya di dalam tas. "Kenapa kalian tidak duduk?"
Luhan sedikit bertanya saat Baekhyun menarik kursi di depannya diikuti Taecyeon berdiri di belakang Baekhyun "Hey…aku ingin tanya sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Apa kita tidak akan turun di turnament bebas?"
Luhan bahkan ingin membekap mulut Baekhyun saat sahabatnya bertanya tanpa berpikir, membuat dirinya harus menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada salah satu dari teman kecilnya yang mendengar "Apa kau tidak bisa bertanya nanti?"
"Tidak… Aku marah padamu asal kau tahu, ini kesempatanku untuk mendapatkan poin."
"Kau bisa meraih poin tinggi di turnament tahunan nanti."
"Tetap saja! Hayden dan Jaeson tidak ada disana. Ini kesempatan bagus."
"Jadi kau mau bilang jika dua orang itu datang, kau takut?"
"Aku hanya takut mereka memaksaku bergabung."
"Dengar Byun Baekhyun. Selama aku masih menjadi leader kalian. Selama itu pula status kalian akan tetap bebas tanpa terikat pada apapun. Kau dengar?"
Baekhyun tertawa kecil sebelum mengangguk berusaha mempercayai leadernya "Baiklah. Lagipula mereka berdua tidak akan mencari masalah denganmu."
"Bagus jika kau tahu. Sekarang cepat duduk di tempatmu."
"Oke."
Baekhyun berdiri dari kursi di depan Luhan bersamaan dengan kedatangan Chanyeol. Membuat Luhan sedikit salah tingkah saat Chanyeol menatapnya lalu begitu saja duduk di kursinya.
Sebenarnya Luhan selalu bertanya-tanya, mengapa belakangan ini ketiga teman kecilnya tidak datang bersamaan. Selalu ada jarak waktu untuk ketiganya sampai di kelas mereka. Bukankah mereka tinggal serumah, lalu apa yang menjadi alasan untuk ketiganya datang di waktu berbeda.
Dan saat pikirannya bertanya, dia melihat Kai memasuki kelas. Mata mereka bertemu, tapi seperti Chanyeol. Kai langsung mengabaikan tatapannya dan kemudian berlari menghampiri Chanyeol dengan wajah pucat. Keduanya kini saling berbisik, membicarakan sesuatu yang serius dan terlihat panik.
Hal kedua yang membuat Luhan bertanya adalah ketidakhadiran Sehun yang belum juga kunjung datang. Membuat matanya sesekali menoleh ke arah pintu masuk lalu kembali pada dua teman kecilnya dan berakhir dengan melihat dosen mereka memasuki kelas.
"Perasaanku saja atau sesuatu telah terjadi."
Dan bersamaan dengan gumaman Luhan, maka ketidakhadiran Sehun benar terjadi. Sepanjang pelajaran yang ia ikuti, matanya hanya fokus ke pintu masuk ruang kelasnya, berharap Sehun akan datang terengah dan mengatakan bahwa dia terjebak kemacetan seperti biasa. Bukan seperti hari ini-… Sehun tidak datang dan kedua temannya terlihat cemas. Membuat perasaan buruk seketika ia rasakan namun tak tahu harus bertanya pada siapa.
Matanya terus memandang punggung Kai dan Chanyeol. Berniat untuk memberanikan diri bertanya setelah pelajaran selesai. Namun yang terjadi adalah keduanya bergegas pergi saat dosen baru menutup pelajaran. Dan seolah tak memiliki kesempatan, Luhan hanya membiarkannya, berharap kalau besok ketiga temannya akan datang tanpa wajah cemas yang jelas terlihat di wajah mereka.
"Kenapa mereka terburu-buru pergi Lu?"
Luhan ingin menjerit marah saat Kyungsoo bertanya padanya. Bagaimana dia tahu apa yang terjadi, bukankah Kyungsoo tahu kalau mereka semua sudah tak berbicara hampir dua bulan lamanya. Lalu apa yang dia harapkan? Jawaban yang tepat seolah dia mengetahui semuanya? –shit- dirinya tidak mengetahui apapun. Yang dia tahu sesuatu telah terjadi dan dia hanya berharap semua baik dan tak ada hal buruk yang terjadi.
.
"Mereka kemana?"
Ini sudah memasuki hari kelima dan selama lima hari itu pula, Sehun masih tak kunjung datang ke kelas mereka. Satu-satunya tempat Luhan bisa melihat Sehun hanya di kampusnya. Tapi jika sudah seperti ini dia bisa apa?-.. Dia benar-benar bingung mencari dimana ketiga temannya berada. Hari pertama dan kedua Kai dan Chanyeol masih mengikuti kelas. Namun memasuki hari ketiga sampai kelima-..Keduanya juga menghilang tak ada kabar seperti Sehun. Membuat dirinya benar-benar cemas namun tak tahu harus bertanya pada siapa.
.
.
.
.
.
.
Malam harinya…
Terlihat Luhan sedang mencari sesuatu di lemari pakaiannya. Tangannya dengan lihai memilah pakaian yang ingin ia kenakan sampai akhirnya menemukan jaket yang ia butuhkan. Memakai cepatnya, lalu mengambil topi hadiah dari Sehun dan terakhir mengambil ponselnya sebelum berlari menuju kamar kakek Kim
Malam ini Luhan memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Sehun, Kai dan Chanyeol. Dan satu-satunya tempat yang bisa ia datangi hanyalah rumah yang dulu ia tempati. Luhan tidak peduli jika nantinya Sehun, Kai atau Chanyeol berteiak padanya, atau lebih buruknya mereka akan mengusir dirinya –yeah- dia tidak peduli. Dia hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan mencari tahu bukan berdiam diri.
Cklek…
"Kakek aku akan keluar sebentar-..kakek?-…Paman ada apa?"
Luhan sedikit dibuat bingung melihat kaki Paman Lee berada di kamar kakeknya. Membuatnya perasaan cemas seketika ia rasakan saat melihat kakeknya terbaring lemah dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat "Tuan besar baik-baik saja Luhan. Beliau hanya mengeluhkan rasa sakit kepala yang hebat tadi sore. Dan sekarang sudah beristirahat."
"Apa benar kakek baik-baik saja? Aku akan memanggil dokter." Katanya bergegas pergi sebelum suara kakek kim melarangnya untuk pergi.
"Pengurus Lee bilang tidak perlu, berarti tidak perlu anak nakal! Lagipula dokter pribadi kakek baru saja pergi, jadi untuk apa kau memanggil dokter?"
"Kakek…"
Luhan berlari mendekati tempat tidur kakeknya. "Kakek kenapa? Apa yang sakit?" katanya bertanya begitu cemas dengan tangan yang menggenggam jemari kakeknya yang terasa sangat dingin.
Kakek kim sendiri hanya tersenyum kecil melihat Luhan begitu mengkhawatirkan dirinya. Membuat perasaan bersalah entah mengapa sangat mengganggunya mengingat banyak hal yang terjadi pada Luhan namun tak ada satu pun yang menyadari kalau Luhan hanyalah remaja biasa ingin diperhatikan dan bisa sangat menyayangi orang-orang yang berada di sampingnya.
Tangan kakek kim membalas genggaman Luhan, kepalanya memang masih berdenyut sakit. tapi saat Luhan menggenggamnya dan mengkhawtirkan dirinya-…entah mengapa dia merasa sehat dalam sekejap "Kakek baik Lu. Dokter pribadi kakek sudah memberikan resep obat."
"Benarkah? Lalu dimana obat kakek?"
"Pengurus Lee akan segera membelinya."
"Tidak boleh sekarang! Paman mana resepnya? Aku akan ke toko obat untuk membelinya."
Paman Lee menyerahkan secari kertas kecil berisi obat rutinan kakek Kim pada Luhan. Dan seolah tak ingin membuang banyak waktu Luhan pun segera berjalan untuk membeli obat kakeknya "Luhan…"
"Aku hanya pergi sebentar. Paman-….Jaga kakek sampai aku kembali!" katanya berpesan sebelum
Blam…!
Luhan benar-benar tergesa pergi meninggalkan kamar kakeknya. Membuat sang kakek merasa begitu bahagia hingga rasanya tak ingin menyerahkan Luhan pada siapapun-…termasuk pada kedua orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa semua obatnya sudah sesuai?"
"Ya. Kami sudah menyiapkan semua yang ditulis di resep yang anda berikan."
"Baiklah terimakasih."
Luhan segera mengambil bungkusan obat yang ia beli untuk kakek Kim. Berniat segera pulang dan membuka pintu toko obat itu sebelum
Guk…Guk..
"Omo!"
Luhan hampir berteriak saat langkahnya dihadang seekor anjing putih yang kini menggonggong padanya. Membuat kedua mata yang tertutup itu kembali membuka sebelum menatap marah pada anjing yang kini tak hanya menggonggong namun juga menggigit celananya. Luhan hampir berteriak pada anjing kecil di depannya. Sebelum matanya membulat dengan nafas tersengal menyadari anjing yang berada di depannya adalah
"Vivi?"
"VIVI!"
Suara berbeda diteriakan oleh seseorang yang suaranya sangat familiar untuk Luhan. Dan dalam keadaan setengah berlari pria itu berhenti tak jauh dari tempat Luhan berada dengan wajah yang sama pucat dan tak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini
"Chanyeol?"
Sebenarnya Luhan agak bingung mengapa Vivi bersama Chanyeol. Karena yang dia tahu selain dirinya dan Sehun sendiri. Si pemilik anjing tidak akan membiarkan Vivi bersama Kai atau Chanyeol mengingat keduanya selalu memarahi anjing kecil tak berdosa seperti Vivi.
Luhan dan Chanyeol masih menatap dalam diam. Suara keduanya seolah tersangkut di kerongkongan masing-masing. Dan melihat Chanyeol yang terlihat kelelahan membuat pertanyaan baru semakin menumpuk di benak Luhan sampai
Guk…Guk..
Luhan sedikit terkesiap saat Vivi kembali menggonggong di depannya. Membuatnya berjongkok dan tak lama menggendong anjing kecil yang hampir dua bulan tak ia temui
"Vivi-ya..Kau merindukan aku ya?" katanya mencium wajah Vivi yang jelas menggonggong kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Luhan "Aku juga merindukanmu sayang." Katanya semakin memeluk Vivi sebelum suara Chanyeol menginterupsi percakapannya dengan anjing Sehun.
"Pantas saja dia berlari kesini. Dia masih sangat mengenalimu." Katanya memberitahu Luhan dan mulai mengambil Vivi yang kini menggonggong marah karena dipisahkan oleh Luhan.
Guk…Guk!
"Jangan menatapku seperti itu! Kau sedang sakit dan harus segera minum obat." Katanya mengusak gemas si anjing putih sebelum kembali menatap Luhan "Kau sakit?" Chanyeol kembali bertanya saat melihat Luhan membawa bungkusan obat yang tidak bisa dibilang sedikit.
"Bukan aku. Kakek Kim." Katanya membalas dengan suara yang jelas bergetar menjawab pertanyaan pria paling sabar di antara mereka berempat.
"ah-… sampaikan salamku pada kakek Kim. Katakan padanya untuk minum obat dan segera sembuh."
"hmm aku akan mengatakannya."
Keadaan canggung kembali terasa diantara mereka. Membuat Chanyeol tak memiliki pilihan lain selain menyudahi percakapan paling menyakitkan yang pernah terjadi pada mereka berdua "Kalau begitu aku pulang dulu. Kenakan jaketmu yang benar. Hari sangat dingin." Katanya memberitahu asal pada Luhan dan mulai meninggalkan Luhan yang masih diam tak menjawab.
Luhan sendiri mengutuk suaranya yang entah kenapa tidak mau keluar dan tertahan di kerongkongannya. Ini adalah kesempatannya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada ketiga temannya. Tapi jangankan bertanya untuk memanggil nama Chanyeol pun dia tidak bisa. Membuatnya mengusak kasar wajahnya sebelum
"CHANYEOL!"
Langkah kaki Chanyeol terhenti saat Luhan berteriak memanggil namanya. Membuatnya mau tak mau menoleh dan merasa sangat tergores melihat wajah pria cantiknya begitu terluka. Kataknlah dia masih sangat marah pada sikap dan ucapan Luhan. Tapi dia tahu siapa Luhan. Luhan tidak akan berbuat masalah jika tidak ada yang membuatnya marah. Membuat rasa marah dan kesal yang dua minggu ini memuncak di hati Chanyeol menguap entah kemana saat melihat Luhannya kesakitan
"Ada apa?"
Chanyeol menjawab panggilan Luhan dengan nada sebiasa mungkin. Tidak marah dan tidak terlihat cemas. Dia hanya berusaha untuk menjadi tenang saat melihat Luhan yang begitu putus asa dan terlihat kebingungan.
"Aku ingin bicara denganmu. Bolehkah?"
Chanyeol hanya mengusak sayang kepala Vivi saat mendengar permintaan Luhan. Membuat lesung pipinya terlihat jelas karena tersenyum sebelum kembali menatap Luhan "Tentu saja."
.
.
.
.
"Vivi sedang sakit?"
Keduanya kini tengah berada di kafe yang menyediakan penitipan hewan peliharaan di dalamnya. Membuat baik kedua mata Luhan maupun Chanyeol terus menatap Vivi yang terlihat kelelahan dan hanya duduk di pojokan tempat penitipannya.
"Dia demam. Aku baru pulang dari rumah sakit dan sedang membeli obatnya sebelum dia menghambur mengejar bau khasmu."
"Demam?"
"hmm.. sudah tiga hari dia ditinggalkan sendiri. Janggu dan Monggu baik-baik saja. Tapi Vivi-… Dia sepertinya merindukan Momma dan Poppa nya." Gumamnya terkekeh dengan menyesap kopi hangat yang ia pesan.
"Lalu kenapa bukan Sehun yang membawanya ke rumah sakit?"
Gerakan tangan Chanyeol menyesap kopinya sedikit terhenti. Dia melupakan fakta bahwa Luhan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di rumah mereka. Membuat seringaian kecil jelas terlihat di wajah Chanyeol yang tampak terluka saat ini "Sehun sudah tidak peduli pada Vivinya."
"huh?"
"Kai juga sudah meninggalkan Janggu dan Monggu bersamaku."
Tangan Luhan sedikit mengepal erat saat ini. Entah omong kosong macam apa yang diucapkan Chanyeol, tapi yang jelas sulit untuk mempercayai kenyataan yang dikatakan Chanyeol mengingat Sehun dan Kai sudah menganggap anjing peliharaan mereka seperti darah daging mereka sendiri.
"Apa maksudmu yeol?"
"Semenjak kau angkat kaki dari rumah. Tak ada satupun dari Sehun dan Kai yang kembali. Mereka tidak mau pulang sebelum kau kembali. Dan yang terjadi adalah mereka meninggalkan anak-anak mereka sementara aku?-… Aku tidak sampai hati meninggalkan ketiga anjing tak berdosa itu."
Warna muka Luhan sudah berubah memucat. Kenyataan bahwa dia menyebabkan masalah yang serius pada hubungan ketiga temannya seolah menampar keras pipinya pada kenyataan menyakitkan tentang betapa seriusnya kehancuran yang telah ia buat "Sudah berapa lama kau tinggal sendiri."
"Terhitung dua bulan semenjak kau angkat kaki dari rumah."
Luhan hanya bisa menundukkan kepalanya saat ini. semua kenyataan ini jelas menyakitkan untuk ketiga teman kecilnya. Dia bahkan tidak mempedulikan perasaan ketiganya dengan sibuk marah dan membenci tanpa mau mendengarkan "Maafkan aku."
"Apa aku menyalahkanmu? Aku sudah terbiasa Lu. Jangan meminta maaf."
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan? Jika tidak aku harus segera pulang-… Vivi harus meminum obatnya."
Kali ini mata Luhan terpejam erat. Dia tahu Chanyeol masih marah padanya, terbukti dari kenyataan bahwa Chanyeol tak ingin berlama-lama dengannya. "Aku rasa tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan. Kalau begitu aku pergi dulu hmm."
Luhan menahan tangan Chanyeol saat temannya hampir meninggalkan kursi, membuat Chanyeol kembali menyalahkan dirinya sendiri karena jelas telah membuat Luhan menangis "Kemana kalian pergi tiga hari ini? Kenapa kalian tidak datang kuliah? Kemana kau, Sehun dan Kai pergi yeol?"
Chanyeol tahu pertanyaan ini akan Luhan tanyakan. Membuatnya kembali duduk dengan tangan yang membalas genggaman Luhan. Dia bahkan menghela nafasnya karena merasa bersalah tidak memberitahu Luhan dari awal.
"Aku dan Kai baru pulang dari Sydney." Katanya memberitahu Luhan yang terlihat semakin terkejut saat ini
"Sydney?"
"hmm.. Nenek Oh mengalami serangan jantung jumat malam. Kami baru pulang menjenguknya."
Tes…!
Air mata Luhan turun semakin menjadi. Kali ini bukan hanya rasa bersalah namun ketakutan yang ia rasakan. Bagaimana bisa untuk keadaan gawat seperti ini dirinya tidak diberitahu. Dia bahkan berniat memaki Sehun atau Kai atau Chanyeol kalau tak mengingat dirinyalah yang membuat jarak dari ketiga temannya.
Chanyeol yang paling merasa bersalah saat ini. Dia tahu harusnya tidak mendengarkan permintaan Sehun dan Kai yang mengatakan untuk tidak memberitahu Luhan. harusnya dia tetap menjadi Chanyeol yang memprioritaskan Luhan di atas segalanya. Harusnya dia tahu Luhan memiliki hak atas kabar mengenai orang terdekatnya, dan harusnya dia tahu Luhan akan semakin terluka jika semua ini disembunyikan darinya.
Seperti saat ini, Luhannya menangis tapi dia tidak berteriak. Luhan yang biasa akan sangat marah jika tidak diberitahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Membuat Chanyeol hanya bisa menenangkan Luhan yang kini menangis hebat di atas meja. Mengusap lembut tengkuknya berharap si pria cantik tak lagi menangis.
"Nenek Oh sudah melewati masa kritisnya Lu. Dokter sudah memasang ring pada jantungnya."
Hkssss….
"Lu…."
"Lalu bagaimana dengan Sehun?"
"Sehun baik-baik saja, kami baru bertemu dengannya kemarin malam. Dia baik Luhan. Hanya saja dia kelelahan. Dia kelelahan mengurus nenek seorang diri. Mommy dan Daddy tidak bisa dihubungi, dan penjaga nenek terpaksa menghubungi Sehun jumat malam. Dia segera pergi setelah mendengar kabar tentang nenek."
Hati Luhan semakin berdenyut sakit saat ini. Bagaimana bisa dia minum sampai mabuk sementara Sehun harus ketakutan seorang diri hari itu. Dia bahkan tidak bisa dimaafkan mengingat sikap apa yang dia katakan pada Sehun malam itu. Perasaannya begitu sesak tidak bisa membayangkan sakit seperti apa yang Sehun rasakan. Membuat seketika rasa marahnya meluap digantikan dengan rasa bersalah yang tak bisa diungkapkan seperti apa banyaknya.
"Jangan menangis Lu…"
"Hkssss…Maaf yeol…Maafkan aku."
Chanyeol menghapus cepat air matanya. Dari kecil dia paling tidak bisa melihat Luhan menangis menyesal seperti ini. Dia lebih memilih Luhan menjadi Luhan seperti beberapa hari lalu. Arogan dan tak terkalahkan-…Setidaknya itu membuatnya terlihat kuat, tidak seperti saat ini yang membuat dirinya begitu rapuh dan bahkan bisa hancur jika kau menyakiti hatinya sekali lagi.
Hkssss….
"Baiklah kau boleh menangis. Tapi berjanji padaku setelah ini kau akan baik-baik saja hmm."
Luhan tidak merespon apapun yang dikatakan Chanyeol, yang dia tahu dia membutuhkan ketiga temannya saat ini. Dia menangis karena terlalu merindukan ketiga temannya dan terimakasih untuk sifat arogannya yang terlampau jauh memisahkan mereka berempat.
Sehunna…hkss
.
.
.
.
.
.
.
Sydney….
"Tuan muda. Ada yang mencari anda."
Yang disapa hanya menoleh sekilas menatap penjaganya sebelum kembali menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya. Dia sangat kelelahan, terlihat dari wajahnya yang memucat dengan kantung mata yang mulai terlihat di sekitar matanya.
Remaja sembilan belas tahun itu pun hanya menghela dalam nafasnya. Dia hanya ingin suasana tenang tanpa gangguan. Sudah hampir lima hari dirinya tidak tidur dengan benar, selama lima hari itu pula dia harus menghadapi wartawan yang entah mengapa terus datang mencarinya bahkan saat dirinya berada di rumah sakit.
"Aku sudah bilang jangan biarkan mereka menemuiku. Aku tidak mau nenek terganggu."
"Bukan wartawan yang mencari anda."
"Aku tidak peduli siapapun yang mencariku. Hanya suruh dia pergi dan datang saat nenek sudah lebih baik."
"Tapi sepertinya dia datang dari jauh dan terlihat kelelahan. Apakah anda benar-benar tidak ingin menemuinya."
Mendengar kalimat datang dari jauh dan kelelahan membuat Sehun berbaik hati untuk menoleh sedikit menatap penjaganya dengan wajah bertanya-tanya "Siapa?"
"Dia sepertinya memiliki usia yang sama dengan anda tuan muda."
"Kai dan Chanyeol?"
"Bukan tuan muda. Saya mengenal tuan muda Kim dan Park. Tapi selama dua bulan bekerja untuk anda. Saya baru melihat teman anda yang saat ini menunggu diluar."
Merasa penjelasan penjaganya terlalu berbelit membuat kepala Sehun semakin sakit. Karena alasan itupula dia mulai berdiri dari kursi ruang tunggu dan mulai memakai jaketnya "Aku akan menemuinya. Jaga nenek untukku. Jika nenek bangun katakan padanya aku sedang keluar sebentar."
"Baik tuan muda."
Sehun pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang tunggu ICU. Sehun bahkan berniat mengucapkan terimakasih pada siapapun yang menunggunya diluar kenapa?-... Karena setelah hampir tujuh hari berada di rumah sakit seorang diri akhirnya dia bisa mencuri kesempatan untuk sedikit mencari angin segar setelah bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya.
Sehun bisa merasakan udara dingin bahkan disaat dirinya masih berada di dalam gedung. Sedikit meniup kedua tangannya sebelum kembali memasukkan tangannya ke dalam saku. "Apakah dia yang ingin bertemu denganku?"
Sehun melihat seseorang yang tengah berjongkok dengan tangan yang menyembunyikan wajahnya. Bisa dilihat kalimat dia datang dari jauh adalah karena tas ransel cukup besar yang berada di samping pemuda itu. Membuat Sehun terus melangkah sampai
Deg…!
"Tidak mungkin."
Semakin Sehun berjalan mendekat semakin jelas pula sosok yang kini berjongkok tak jauh darinya. Dia tahu tas ransel yang digunakan pria itu. Dia juga tahu sneakers, jaket bahkan topi merah yang dikenakan oleh seseorang yang masih berjongkok itu adalah milik pria mungilnya. Tapi apa benar itu pria yang sama yang belum lama ini ia sakiti?-…Bagaimana mungkin?
"Lu-..Luhan?"
Pemuda itu pun mengangkat wajahnya saat suara yang begitu ia kenal memanggil namanya. Sedikit mengerjapkan matanya berulang dan berusaha berdiri dengan bersangga di dinding sampai sesuatu dalam dirinya begitu panas membuat air matanya jatuh begitu saja "Sehun –hkss- Sehunna?"
Kalimatnya terbata karena semua yang ia tahan sedari tadi sudah tak bisa ia sembunyikan. Lega, cemas, bahagia, kesal, marah dan begitu merindukan semuanya benar-benar tak bisa Luhan tahan sendirian lagi. Dia menempuh perjalanan delapan jam di pesawat dengan pikiran yang sangat menyiksa. Dia takut dia terlambat tak bisa melihat nenek Sehun, dia takut Sehun kelelahan karena menjaga neneknya seorang diri, dia takut Sehun ketakutan dan paling buruk dia takut Sehun akan jatuh sakit karena menjaga neneknya seorang diri.
"Maaf. Maaf aku datang terlambat."
Sehun benar-benar tidak mempercayai apa yang dia lihat malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, dan apa yang Luhan lakukan di waktu sepagi ini? Bukankah itu artinya dia mengambil penerbangan di malam hari?-…seorang diri?
"Aku sudah mencari tiket pesawat agar lebih cepat sampai kemari. Tapi semua habis, dan aku baru mendapatkan tiket pukul sembilan malam. Aku-...hksss-.. Aku mencoba untuk lebih cepat tapi-.."
Grep…!
Luhan tidak berharap mendapat pelukan dari Sehun secepat ini. Harusnya Sehun memakinya lebih dulu, bukan berlari dan kini memeluknya erat. Membuat perasaan begitu bersalah semakin menjadi dirasakan Luhan saat ini "Sehuuunnn hksss sehunnaa. Maafkan aku."
Luhan mencengkram erat pundak Sehunnya. Sedikit mencakar menumpahkan semua ketakutan dan rasa sesak yang sudah mengganggunya hampir sepuluh jam lamanya. Sehun sendiri hanya membiarkan Luhan meracau sesukanya. Dia tidak peduli jika pada akhirnya Luhan akan berteriak marah atau lebih buruknya kembali membenci dirinya. Yang jelas untuk malam ini dia hanya akan memeluk Luhan dan berterimakasih karena setidaknya Luhan datang dan masih peduli padanya.
"Aku benar-benar minta maaf Sehun –hkss- maaf-…Maafkan aku."
"sssst…Berhenti meminta maaf Luhan. Kau sudah datang sejauh ini kenapa terus meminta maaf?" katanya melepas pelukan Luhan dan mulai menghapus air mata Luhan yang terus membasahi pipinya "Kenapa matamu bengkak sekali? Apa kau menangis selama dalam perjalanan?" Sehun mencoba menggoda Luhan namun yang terjadi suara isakan malah terdengar semakin memilukan dari pria mungilnya.
"Ne- nenek…."
"Nenek kenapa? Nenek baik-baik saja Lu. Hanya berpindah tempat tidur dari kamar ke ruang ICU."
"Sehun…"
"araseo.. Nenek sudah stabil. Jika dalam tiga hari kondisinya sudah benar-benar baik, nenek akan diperbolehkan pulang." Katanya mengambil tas ransel Luhan lalu mulai menyangga tas Luhan di pundaknya. "Kita cari hotel untukmu, kau benar-benar terlihat kacau Lu."
Luhan sedikit meronta saat Sehun merengkuh pinggangnya. Membuat Sehun sedikit salah tingkah mengira Luhan sudah menjadi lebih baik padanya "Tapi aku ingin melihat nenek. Aku-…"
"Kau tidak boleh melihat nenek dalam kondisi seperti ini. nenek akan menangis dan itu tidak baik untuknya. Kita temui nenek besok pagi ya?"
"Tapi…"
"Besok kau akan bertemu nenek."
Sehun kembali merengkuh pinggang Luhan. membawa Luhan ke dekapannya dan berniat untuk bertanggung jawab atas kondisi Luhan yang sangat berantakan malam ini.
.
.
.
.
.
Cklek…!
Luhan terlihat baru selesai membersihkan tubuhnya. Dengan rambut basahnya dan hanya menggunakan bathrobe dia sedikit mencari keberadaan Sehun yang sepertinya sedang sibuk mencari pakaian di dalam tas ranselnya.
"Sehun?"
"Kau sudah selesai? Duduk disini. Aku akan mengeringkan rambutmu."
Luhan menggeleng menjawab permintaan Sehun "Aku bisa mengeringkannya sendiri."
Sehun pun tak mau kalah mengingat kebiasaan Luhan yang selalu tertidur dengan rambutnya yang basah dan setelahnya dia hanya akan sakit karena tubuhnya pasti menggigil karena kebiasaan buruknya. "Hanya sebentar." Katanya menarik Luhan duduk di kursi rias. Mengambil pengering rambut lalu berdiri di belakang Luhan.
"Sehun tidak perlu." Katanya mendongak dan mulai meronta saat Sehun sudah terlalu fokus mengeringkan rambutnya.
"Sebentar lagi selesai."
Jemari Sehun menggenggam beberapa helai rambut Luhan. mengarahkan pengering rambut disana lalu beralih ke bagian lain. Dia terus mengeringkan rambut Luhan dengan begitu fokus sampai akhirnya rambut Luhan sudah mulai mengering "Selesai." Katanya mematikan pengering rambut lalu berjalan ke mendekati tempat tidur sebelum kembali menghampiri Luhan "Sepertinya kau hanya membawa beberapa kaos yang tipis. Malam ini gunakan kaos merahmu. Besok aku akan membelikan piyama hangat."
Luhan menerima pakaiannya dari tangan Sehun, sedikit mengangguk sebelum kembali berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. "Aku sudah selesai."
Sehun yang sedang menyiapkan selimut untuk Luhan hanya tersenyum sekilas. Membuat gerakan agar Luhan datang ke tempat tidur. Dan kali ini Luhan mendengarkan apa yang Sehun katakan "Apa aku akan tidur disini?"
"Tentu saja. Cepat naik."
Luhan tak memiliki alasan untuk menolak tawaran Sehun yang sangat menggoda. Membuat kakinya melangkah perlahan sebelum berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan Sehun untuknya "Tidurlah. Besok pagi kita akan bertemu dengan nenek." Katanya menaikkan selimut untuk Luhan dan mulai mengusap lembut surai pria cantiknya yang walau sudah lebih baik masih terlihat sangat kelelahan.
Dan saat kedua mata Luhan mulai terpejam, Sehun berdiri dari tepi ranjang. Berniat untuk merebahkan tubuhnya di sofa sebelum langkahnya terhenti karena Luhan menahan lengannya "Kau belum tidur hmm?"
"Aku sudah. Tapi kau pergi."
"Aku tidak pergi."
"Lalu kau mau kemana?"
"Aku hanya akan berbaring di sofa. Aku tidak akan meninggalkanmu Lu-..tidak kali ini." katanya bergumam pelan pada kalimat terakhir. Mengingat awal semua kerenggangan hubungannya dengan Luhan adalah karena dia pergi begitu saja saat Luhan benar-benar berada di tempat asing seorang diri.
"Kenapa harus berbaring di sofa?"
"huh?"
"Tempat tidur ini cukup besar. Kau bisa tidur di sampingku."
"Aku apa?"
Sehun mengulang pernyataan Luhan. berharap tidak salah mendengar karena terlalu berharap Luhan akan berbaik hati padanya "Tidurlah disampingku." Luhan menggeser tubuhnya ke kanan. Memberi ruang untuk Sehun. Sehun awalnya ragu, namun saat Luhan menepuk ruang yang kosong itu membuatnya tak bisa menyembunyikan senyumnya dan hanya berbaring disamping Luhan.
Keduanya hanya diam di tempat mereka masing-masing, keduanya juga masih berusaha menetralkan debaran jantung mereka yang mulai menggila. Berusaha untuk mengalihkannya dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
"Terimakasih sudah datang malam ini Lu."
Luhan yang sudah tertidur hanya menggigit kencang bibirnya. ingin dia berbalik dan memeluk pria yang sudah membuatnya benar-benar menggila dengan sikap dan ucapannya. Namun yang terjadi hanya suara dengkuran halus Sehun yang begitu terdengar kelelahan dan sangat dalam. Luhan diam-diam membalikan tubuhnya dan menatap punggung Sehun yang terlihat menanggung semua hal berat seorang diri.
Lagi-…air matanya terjatuh. Namun kali ini dia menghapusnya cepat. Dia tidak ingin menganggu Sehun lagi. Dia tahu Sehun kelelahan dan berharap tak menambah beban teman kecilnya lagi. Tujuannya datang kemari adalah untuk menemani Sehun, bukan membuat kekacauan atau membuat Sehun cemas dan karena tujuan itu pula dia berniat tidak akan membuat Sehun kelelahan lagi "Selamat malam Sehun. Tidurlah."
Luhan membuat gerakan mengusap punggung Sehun yang membelakanginya. Berniat untuk memastikan Sehun istirahat dengan cukup walau berakhir ikut memejamkan mata menyusul Sehun mendapatkan mimpi indahnya.
Dan malam itu keduanya tidur sangat tenang dan terlihat nyaman. Mencoba berdamai dengan masalah dan rasa marah yang keduanya rasakan. Deru nafas mereka bersahutan dengan indahnya. Dan tanpa sadar keduanya kini telah saling memeluk di tengah-tengah tidur mereka. Terlampau erat hingga hanya mimpi indah yang mereka dapatkan setelah berbulan-bulan lamanya.
.
.
.
.
.
tobecontinued…
.
Yehet! Apdet lagi….Jarang-jarang kan MFC sama Entangled deketan. Merdeka emang kalo ada tanggal merah… Kalo ga ada tanggal merah ya gigit jari semingu sekali. Ini mah nyenengin kamu akunya… :D
.
Ayo tebak udeh mendingan apa belum itu mahluk arogan dua? Kkk..next chap mulai berbau manis manis nyelekit yak. Ah-..kalian tau pasti gimana gaya gue nulis. Freestyle. Yang penting apdet ontime. :D
.
Betwe yang minta MyungHan moment akhirnya gue kasih kan tuh. Musuh jadi cinte gitu. Tapi cintenya stak di tempat *ykwim lah :v. MyungHan di nextchap masih ada satu dua part. Apa banyak gue gayakin. Tapi HH bakal lebih banyak. Ini gara2 lagi kumat aja tuh dua makanya jarang moment *gacurhatgue!
.
Okey last but not least…Happy reading n review
.
Seeyousoon :* happy idul adha bagi yang merayakan :*
