a/n: Assalamu'alaykum [Peace be to you], alhamdulillah [Thanks to Allah], akhirnya setelah sekian lama vea hiatus di fic senandung cinta ini, vea pun kembali! Yey, banzai~! Apa kalian sudah sangat lama menantikannya? Hehe, maaf ya, maklum WB (writer's block alias nge-blank) berat, jadinya ya beginilah.. Vea usahakan untuk update secepatnya tapi, apalah yang bisa dikata jika WB melanda. Sebelumnya, makasih yang udah setia mau menantikan kelanjutan ini, yang udah baca, review, alert bahkan favorite :D
Duh, ini chapter tersulit yang pernah vea tulis rasanya, gomen, vea suka bingung kalau nyeritain orang kencan tu kayak gimana, soalnya vea belum pernah ngerasain kencan secara langsung #Duagh! Malah curcol# Vea udah usahain se so sweet mungkin, tapi ya, cuma segini yang vea bisa, mudah-mudahan kalian mengerti T_T
NN : Terima kasih, nanti numpang review lagi ya, hehe^^ Oke, ini kelanjutannya. Maaf lama sekali ya^^a
Siron : Ah, itu mah ngga boleh dikasih tahu dulu, nanti jadi spoiler :D Nantikan saja ya, tunggu kelanjutannya^^
MCV : Hoho, kita lihat saja nanti ya^^ Maaf juga telat update, makasih banyak ya, dinantikan reviewnya^^
Shihui : Semoga yang ini terkesan lebih panjang ya^^a
Margaret'z : Inginnya sih umum, makanya pakai panggilan Tuhan, tapi baru ku sadari di chapter 5 ada bagian ibadah umat Islamnya, kenapa aku seteledor ini! #jedot-jedotin kepala ke tembok# Hehe, habisnya, kalau Islam, vea berharap Karinnya tu pakai jilbab, tapi karena terlanjur ya sudahlah, Karin dan Kazune di sini Islam, tapi Islamnya belum secara kaffah. ^^a
Arisa : Yup, ini udah update, gomen lama, haha, nantikan saja ya kelanjutannya^^a
~Senandung Cinta~
.
.
Kamichama Karin ; Kamichama Karin chu © Koge Donbo
~Senandung Cinta~ © Invea
.
.
Chapter 14 : Kencan [?]
.
.
Setelah merasa darah yang keluar dari mulutku berhenti, aku kemudian bergegas mengelap mulutku. Membasuh wajahku. Ku tatap mukaku di cermin. Putih pucat. Aku hendak seharian di tempat itu jika tak ingat bahwa ada Karin di kamarku. Dengan bergegas, aku hendak menuju kamar. Namun, di tengah jalan, Kazusa dan Himeka menahanku.
"Ka―Kalian!"
"Maaf, nii-chan, kami ingin memberi hadiah untukmu," seru Kazusa. Himeka mengikuti perkataan Kazusa dengan anggukan kepalanya. Aku menghela nafas dan berkata setengah berbisik,"Hadiah apa?"
"Tada!" Himeka kemudian mengeluarkan dua lembar kupon sebuah rumah makan.
"Kupon?" Aku mengernyitkan dahi. Untuk apa mereka memberiku dua lembar kupon sebuah restaurant?
"Duh, Kazune-chan ini bagaimana sih! Ajak Karin-chan makan besok dengan kupon ini!" seru Himeka. Aku lantas membungkam mulut besarnya dengan tanganku.
"Jangan keras-keras bodoh! Kau ingat ada Karin di rumahku?" Aku pun kemudian melepaskan tanganku dari Himeka. Aku takut menyakitinya. Sementara adik bungsuku itu hanya terkekeh-kekeh seraya meminta maaf.
"Nah, sana, berjuanglah," seru Kazusa kemudian seraya mendorong punggungku untuk bergegas ke kamar.
.
.
"Ma―maaf, lama," sahutku seraya memasuki kamar. Karin hanya tersenyum lembut.
"Tidak kok,"
"Oh ya, Karin, umh, apa besok kau luang?" tanyaku sedikit ragu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal―berusaha mengalihkan perhatian.
"Tidak. Kenapa gitu?"
"Umh," Aku memainkan kupon makan yang diberikan Himeka di belakang punggungku. Ku tarik nafas perlahan―berusaha untuk menenangkan pikiranku. Menyemangati bahwa mengajaknya makan adalah hal yang mudah, ya, sangat mudah. "Kau mau ma―makan siang dengan―denganku be―besok?" tanyaku sedikit gugup.
"Humh, besok ya? Oke, jam berapa?"
"Jam 12 di taman kota bagaimana?"
"Oke,"
Aku kemudian memandang wajah gadis itu. Mata green emerald nya kini menatap dengan sorotan yang lembut―sangat lembut. Senyuman yang terlukis di wajahnya kini terlihat begitu manis. Rambut cokelatnya pun terlihat selembut sutera, berkilau keemasan. Oke, mungkin aku sedikit berlebihan. Tapi―
―Karin memang terlihat jauh lebih cantik dan bercahaya sekarang. Tak ada kata-kata apapun yang sanggup melukiskan kecantikannya sekarang.
Aku menatapnya lembut dan ia pun membalas tatapanku dengan hangat. Ah, rasanya aku semakin tak sabar menunggu hari esok. Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu dengannya?
.
.
Aku menatap arloji yang ku sematkan di pergelangan tanganku. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di sini, di depan sebuah tugu kota yang terletak di taman kota. Tidak! Tidak! Karin sama sekali tidak terlambat. Justru akulah yang sengaja datang 1 jam lebih cepat, ya wajarlah kalau Karin belum datang.
Aku kemudian menyandarkan punggungku ke tugu tersebut. Desahan nafasku terasa berat dan cepat. Aku hanya berharap aku akan baik-baik saja, setidaknya sampai hari ini berakhir. Aku tidak ingin mencemaskan Karin lagi. Gadis itu sudah terlalu banyak menderita. Aku tidak mau menambah beban hidupnya.
Ku tatap langit biru di atas sana. Sinar mentari sedikit menyilaukan mata biru safirku. Syukurlah hari ini cerah. Akan berbahaya jika mendung, nanti rencanaku menghabiskan waktu dengan Karin akan buyar.
"Dor!" seru seseorang yang sudah tak asing lagi untukku. Gadis itu mengagetkanku dari samping. Aku terlonjak sedikit kaget. Pandangan mataku pun langsung secara refleks teralih menatapnya. Gadis itu hanya terkekeh.
"Kau mengagetkanku, Karin!" seruku. Dia masih tertawa. Aku berpura-pura sedikit kesal.
"Hihihi, sory deh, habisnya kau ini menatap langitnya seperti sedang melamun saja," sahutnya kemudian. Aku kemudian memasukkan tangan kananku ke dalam saku celanaku. Ku tatap dirinya. Seperti biasa, ia terlihat manis dan cukup modis juga. Rambut bagian depannya ia ikat ke belakang. Sementara itu, sisanya ia biarkan terurai. Kawaii desu!
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajakku seraya mulai berjalan ke arah rumah makan. Karin kemudian mengikutiku dari belakang. Ia lalu berusaha menyetarakan langkah kakinya denganku.
"Ka―Kazune, pelan-pelan dong jalannya!" keluh Karin padaku. Aku hanya menatapnya heran. Rasanya aku sudah berjalan cukup pelan. Akhirnya akupun mengalah dan berusaha mensejajarkan langkah kakiku dengan kaki mungilnya. Tak lama kemudian, kami pun tiba di sebuah rumah makan yang sesuai dengan kupon tersebut. Rumah makannya terlihat sangat mewah. Karin terlihat sedikit ragu untuk memasukinya.
"A―apa kau tidak salah Kazune? I―ini kan rumah makan termewah di Tokyo! Kau tahu, bahkan Jin pun belum pernah mengajakku makan di tempat ini!" serunya. Aku hanya tersenyum menatapnya.
"Tentu saja aku tidak salah. Ayo kita masuk sebelum perut kita berbunyi meminta jatah makanannya," Aku kemudian memasuki pintu masuk restaurant. Seorang maid kemudian menyambutku dan lantas menunjukkan tempat duduk kami. Karin mengikutiku dengan sedikit canggung.
"Ka―Kazune! Apa kau tidak salah? I―Ini kan mahal sekali! Kau yakin sanggup membayarnya? Dengar, aku tahu kalau keluargamu adalah keluarga kaya tapi jika menghamburkan uang seper―" Aku lantas memotong perkataannya dengan menempelkan telunjuk tangan kananku di bibir mungilnya.
"Ini benar, Karin. Kau boleh memesan apapun yang kau suka. Aku mendapatkan kupon untuk makan gratis di tempat ini. Jadi, kau tidak perlu sungkan ataupun khawatir," sahutku menenangkannya. Tak ku duga, dia bisa secerewet ini.
Akhirnya kami pun memesan beberapa hidangan utama dan memakannya bersama. Ia terlihat begitu menikmatinya. Terkadang ku dengar celutukan-celutukannya yang merasa sedikit asing dengan makanan di hadapannya.
"Ah, Kazune! Ini apa?" tanyanya sembari menatap heran semangkuk sup di hadapannya.
"Oh, itu soupe a l' oignon," Aku langsung menyantapnya. Lidahku sudah tidak terlalu asing dengan makanan-makanan di luar Jepang. Jangankan makanan Eropa, makanan dari Indonesia pun, dari Sabang sampai Merauke, sudah ku cicipi semua. Karena itu, aku sudah terbiasa dengan mayonaise, keju, roti, sambel, lalap, ikan asin. Haha, meskipun aku sering sakit-sakitan, bukan berarti aku tidak mengenal makanan di seluruh dunia.
"Aih!" Aku langsung menatap gadis di hadapanku. Ia mengernyitkan dahinya. Sepertinya lidahnya masih belum terbiasa dengan makanan seperti ini. Ingin rasanya aku tertawa melihat wajahnya yang kini tampak begitu menggemaskan. Pingin deh nyubit pipinya yang lucu itu!
"Kenapa Karin? Kau belum terbiasa ya dengan rasanya?" tanyaku. Ia kemudian menganggukan kepalanya.
"Kau tahu ini terbuat dari apa?" tanyaku kemudian. Ia menggeleng pelan. "Memangnya ini terbuat dari bahan apa saja?" tanyanya penasaran. Aku kemudian tersenyum dan menaruh sendokku karena sup tersebut sudah ku habiskan.
"Ini merupakan sup bawang. Di dalamnya terdapat es krim bawang yang terbuat dari bawang merah, susu dan krim. Kemudian di sajikan dengan irisan bawang bombay dan cottage cheese," Ia kemudian menatapku penuh takjub.
"Waw, kau memang pintar dalam segala bidang ya,"
"Ah, tidak juga. Walau begitu, fisikku lemah, hehe,"
"Tidak! Itu tidak benar! Kazune itu pemuda yang kuat! Aku tahu itu! Setidaknya, kau akan selalu menjadi laki-laki yang kuat di mataku," ujar dengan tatapan yang lembut―tatapan lembut yang berbeda dari biasanya. Kristal bening terlihat sedikit berkilau di pandangan matanya.
"Terima kasih,"
"Tuan, Nona, ini hidangan penutupnya, Mouse au chocolate,"
"Ah, terima kasih,"
"Wah, es krim!" seru Karin senang. Matanya berbinar. Dengan penuh semangat, ia kemudian memakan mousse cokelat tersebut. Aku tersenyum memandangnya. Dia terlihat begitu manis. Ah, sudah berapa kali ku katakan hal itu?
.
.
"Karin, karena masih jam 2, bagaimana kalau kita pergi ke taman dulu," ajakku kemudian. Ia menatapku sedikit heran.
"Memangnya ada apa di taman?" tanyanya. Aku hanya tersenyum misterius.
"Kau lihat saja nanti,"
.
.
"Kakak, ayo oper bolanya ke arahku!" seru seorang anak kecil dengan kaus berwarna hijau dan berhiaskan gambar katak. Aku kemudian menendang bola sepak yang berada di kakiku dan mengopernya ke anak tersebut. Setelah itu, aku pun terdiam, membasuh peluh yang mengalir di pelipisku. Ku tatap Karin yang tengah menyaksikanku bermain dari atas ayunan. Ia tersenyum ke arahku.
"Ayo, Kazune, kalahkan mereka!" serunya kemudian. Aku tersenyum lembut ke arahnya. Ku acungkan ibu jari tangan kananku. Aku pun kemudian kembali bergabung dengan anak-anak kecil yang tengah bermain bola sepak. Menyenangkan sekali rasanya. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini.
"Oper bolanya sini!" seruku kepada anak kecil yang mengenakan kaus berwarna merah. Dia kemudian mengoper bolanya ke arahku. Aku kemudian berlari ke arah gawang. Kemudian, aku pun menendang bola, melakukan shoot dan―
―Gol! Bolanya tidak dapat ditangkap kiper lawan. Aku dan beberapa anak kecil timku kemudian berlonjak senang. Seorang anak berkaus merah tadi kemudian mengambil bola dan menghampiriku.
"Kakak, kapan-kapan kita main lagi ya," serunya diiringi dengan anggukan teman-temannya. Aku mengangguk seraya mengacak-acak rambut anak tersebut. "Tentu, kapan-kapan kita main lagi,"
"Kalau begitu, kami pulang dulu ya, kak! Dadah!" seru mereka. Aku tersenyum memandangnya dan melambaikan tanganku. "Sampai jumpa lagi! Hati-hati, ya!"
Setelah mereka tak terlihat lagi dalam pandanganku―karena jarak mereka semakin jauh tentunya. Aku pun lantas menghampiri Karin yang sedari tadi menungguku di atas sebuah ayunan. Ia sedikit menggoyangkan ayunan tersebut. Aku kemudian berdiri di hadapannya.
"Maaf, membuatmu menunggu sendiri cukup lama," ujarku. Ia hanya tersenyum menatapku lembut.
"Tidak kok. Pertandingan yang seru. Aku tak menyangka kau bisa dengan mudah akrab dengan anak kecil," pujinya kemudian. Aku hanya tersenyum sedikit malu.
"Apa yang ku lakukan tadi kekanak-kanakan?" tanyaku. Ia menatapku. Sesaat iris bola mata kami bertemu pandang―saling menyelami hati masing-masing.
"Tidak. Kau justru membuat mereka senang. Kau―" Ia menjeda kalimatnya. Mungkin mencari kata-kata yang tepat untuk kelanjutannya. "―calon ayah yang baik," lanjutnya.
Aku kemudian tersenyum lembut. "Dan kau calon ibu yang baik pula,"
Karin tersentak. Ku lihat semburat merah tipis menghiasi wajah putihnya. Ia kemudian menunduk malu. Matanya menatap sepatunya yang ia gesek-gesekkan―entah apa maksudnya melakukan hal tersebut.
"Nah, tuan putri, karena sudah pukul 4 sore, bagaimana kalau kita pergi ke pantai sekarang?" ajakku kemudian. Ia langsung menengadahkan kepalanya.
"Pantai?"
"Yup,"
"Aku mau!" serunya.
"Kalau begitu, ayo!" Aku menghulurkan tanganku. Yah, I know mana mungkin dia menerima uluran tanganku. Tapi, tak ada salahnya bukan bersikap sedikit romantis?
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaanku! Ia menyambut uluran tanganku. Tangannya menggenggam erat tanganku sepanjang perjalanan. Tuhan, ini bukan mimpi kan?
.
.
Akhirnya kami tiba di pantai. Pasir membentang kecokelatan menjadi pijakan yang cukup nyaman. Laut biru terlihat menyemburkan ombaknya dengan damai―tidak terlalu keras, namun juga tak terlalu lembut. Langit sore perlahan mulai terlukis―menambah keindahan dari Maha Karya Sang Pencipta jagat raya. Nyiur hijau terlihat melambai mengajak kami untuk bersenang-senang.
Aku kemudian melepaskan sepatu dan kaus kakiku. Lalu melipat bagian bawah celanaku agar tak terlalu basah nantinya. Setelah itu, aku berlari menerjang ombak. Berdiri dengan tegak seraya membuka kedua tanganku lebar-lebar―mengajaknya menikmati pantai ini.
"Ayo, Karin! Kemarilah!" seruku. Ia terlihat sedikit ragu, namun pandangan matanya berbinar menatap pantulan langit dari air laut.
"Tak apa-apa?" tanyanya.
"Tentu. Karin, kita kan hanya bermain di pantai. Tingginya saja di bawah lutut. Kau tak kan tenggelam," seruku. Dia pun mengangguk dan lantas melepaskan sepatu sandalnya. Setelah itu, ia kemudian menghampiriku. Ku raih tangannya yang halus selembut kain sutera. Dia hanya tersenyum dengan semburat merah tipis terhias di wajahnya.
Splash! Ku lemparkan tetesan air ke tubuhnya. Ia hanya menjerit kecil kemudian membalasnya. Aku hanya berlari menghindar. Perang air pun terjadi menghiasi suasana di antara kami. Rasanya sangat menyenangkan.
"Kya!" Aku kemudian menatap ke belakang. Karin kelihatannya tersandung batu karang. Ia kemudian terjatuh dan menindih badanku. Rambut kami berdua kini sedikit basah dihiasi tetesan air laut. Ku tatap wajahnya yang kini berjarak kurang dari 10 cm di hadapan wajahku. Wajahnya merah. Dapat ku rasakan detakan jantungnya kini terasa cepat. Rambutnya kini terlihat berkilau dari pantulan sinar mentari yang hendak terbenam. Gemuruh ombak mengisi kesunyian di antara kami. Aku tak dapat menahan diriku lagi. Tanganku kemudian bergerak lembut meraih kepalanya bagian belakang. Ku arahkan kepalanya untuk berada di atas dadaku yang bidang. Dan untuk pertama kalinya, aku mendekap gadis ini. Gadis yang sangat ku cintai. Ku dekap ia dengan lembut penuh kehangatan. Mataku kemudian menatap langit senja. Ini terasa begitu indah, sangat indah. Aku merasa sangat bahagia. Terima kasih, Tuhan, karena sudah memberiku kesempatan.
Sesaat kami terdiam. Hanyut dalam kehangatan. Ku lihat ke langit, perlahan mulai berwarna sedikit hitam, pertanda sebentar lagi akan malam.
"Karin, sebentar lagi malam. Kau mau pulang jam berapa?" tanyaku padanya. Akan sangat mengkhawatirkan jika seorang gadis pulang malam. Aku tidak mau seseorang menodainya atau bertindak jahat padanya.
"Ah, i―iya, maaf!" Ia kemudian bangkit. Diikuti denganku. Kami kemudian duduk berdua di atas pasir. Menatap mentari yang terbenam. Ku rasakan bahuku menahan beban. Akupun menatap ke arah bahuku. Kepala Karin ada di situ. Ku tatap wajahnya. Ia tengah tertidur. Cukup pulas juga. Aku tak tega untuk membangunkannya. Ia pasti sangat kelelahan. Aku pun lantas menggendongnya dan membawanya pulang ke rumahnya.
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
