Sorry I Love You
"Aku ucapkan selamat ne, istrimu sedang hamil"
Donghae tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan dokter
"Apa dokter? Hyukjae hamil?" tanya Leeteuk
"Ne, usia kehamilannya sudah enam minggu"
Mendengar kabar baik itu Leeteuk dan Yejin merasa sangat senang,
"Hae kau dengar itu, Hyukjae hamil" ucap Leeteuk memeluk Donghae.
Dokter itu tersenyum ikut bahagia bersama mereka, "Pasien sudah sadar, kalian boleh menemuinya"
"Ne, terimakasih dokter"
"Ne, permisi" ucap dokter lalu melangkah pergi
"Ayo Hae, kita temui Hyukjae" Leeteuk menarik tangan Donghae membawanya masuk, Yejin ikut bersama mereka.
Jungyeon jatuh lemas, Jihyun segera menopang tubuh istrinya itu, "Yeobo, kau baik-baik saja?"
"Tidak..wanita itu tidak mungkin hamil" Jungyeon menggeleng tak percaya, ia begitu shock
"Sudahlah yeobo, tenangkan dirimu, kita harus bisa menerimanya" ujar Jihyun melihat istrinya yang tampak begitu terpukul
"Wanita itu sedang mengandung anak dari menantu kita, bagaimana aku bisa tenang? bagaimana nasib putri kita nanti?!"
Jihyun memeluk Jungyeon, "Ini semua adalah keinginan putri kita, kita doakan saja semoga rumah tangga Leeteuk baik-baik saja" ucapnya sedih
"Tidak...aku tidak akan pernah bisa menerima semua ini" isak Jungyeon.
.
.
"Hyuk-ah, selamat ne" Leeteuk memeluk Hyukjae "Kau akan menjadi seorang ibu"
"Apa yang kau katakan Teuk?" Hyukjae mengernyit bingung, suaranya terdengar lemas
Leeteuk melepas pelukannya, menatap Hyukjae dan tampak begitu bahagia, "Dokter bilang kau hamil Hyuk"
"Aku hamil?" Hyukjae terkejut
Leeteuk mengangguk, "Ne, kau hamil Hyuk, aku sangat bahagia" Leeteuk kembali memeluk Hyukjae.
Yejin tersenyum melihat kedua menantunya itu.
"Hyukjae, selamat ne, ibu juga sangat bahagia, sebentar lagi ibu memiliki cucu" " ucapnya memeluk Hyukjae
"Iya..bu" sahut Hyukjae pelan
"Hae, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau tidak merasa senang?" tanya Leeteuk
"Aku.. senang.." Donghae mencoba tersenyum
"Oh iya, dimana ayah dan ibu?" tanya Leeteuk menyadari ayah dan ibunya tidak berada disana
"Sepertinya mereka masih diluar"
"Aku akan memanggil mereka" ucap Leeteuk melangkah keluar dari ruangan itu, ia mengernyit tak mendapati ayah dan ibunya diluar "Kenapa ayah dan ibu tidak ada?"
Leeteuk mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor ponsel ayahnya,
"Iya, Teuk?" ucap Jihyun menjawab telepon
"Ayah dan ibu dimana?" tanya Leeteuk
"Maaf kami harus segera pulang Teuk, ibumu sedang tidak enak badan"
"Apa ibu sakit?" tanya Leeteuk cemas
"Tidak apa-apa Teuk, hanya tidak enak badan, sampaikan salam ayah untuk Hyukjae ne?"
"Baiklah ayah, nanti akan kutelepon lagi"
"Ne"
Leeteuk menutup teleponnya usai berbicara dengan ayahnya, "Ibu pasti tidak suka mendengar kabar kehamilan Hyukjae, semoga ibu baik-baik saja" ucapnya sedih.
.
.
"Hati-hati Hyuk.." Donghae yang memapah Hyukjae membantunya berbaring ditempat tidur
"Hyukjae harus makan sebelum minum obat dan vitamin, aku akan menyiapkannya dulu" ucap Leeteuk
"Ne"
Leeteuk melangkah keluar dari kamar dan segera pergi kedapur untuk menemui bibi Han. Donghae memperhatikan Hyukjae yang hanya diam, "Kau tidak apa-apa Hyuk? Apa ada yang sakit?" tanyanya
"Aku baik-baik saja Hae"
"Kau harus menjaga dirimu dan juga kandunganmu ne, dokter bilang kau harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu banyak berpikir"
Hyukjae hanya diam, air matanya menetes.
"Kenapa kau menangis Hyuk?"
"Maafkan aku Hae.."
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Keadaanku sekarang hanya menambah bebanmu"
"Jangan berkata seperti itu Hyuk, kau tidak melakukan kesalahan, dan keadaanmu sekarang bukanlah beban untukku"
"Kau sungguh tidak apa-apa Hae?"
"Ne" Donghae memeluk Hyukjae, "Kau jangan menangis lagi"
"Apa buburnya sudah siap bi?" Leeteuk bertanya pada bibi Han
"Sudah nyonya" bibi Han mengambil nampan berisi bubur dan air hangat yang sudah ia siapkan
"Sini, biar aku saja yang membawanya kekamar Hyukjae, bi"
"Baik nyonya" bibi Han memberikan nampan ditangannya pada Leeteuk, Leeteuk mengambil dan segera membawanya kekamar Hyukjae
"Ayo makan dulu Hyuk.." langkah Leeteuk terhenti didepan pintu saat melihat Donghae tengah memeluk Hyukjae
Mendengar suara Leeteuk, Donghae segera melepas pelukannya. "Teuk, kau sudah datang"
"Ne..." Leeteuk mencoba tersenyum dan melangkah mendekat, ia duduk didekat Hyukjae, "Hyuk..makan buburnya dulu ne"
"Ne.."
"Aku kekamar dulu.." ucap Donghae dan melangkah keluar dari kamar itu, Leeteuk hanya diam melihatnya, ia lalu segera menyuapi Hyukjae
"Kau harus makan yang banyak Hyuk..supaya kau dan kandunganmu sehat"
"Ne.."
Leeteuk memperhatikan wajah Hyukjae yang tampak sedih, "Aku minta maaf atas sikap ibuku padamu Hyuk, ibuku sudah bersikap keterlaluan" ujarnya yang juga sedih
"Tidak apa-apa Teuk, aku memaklumi sikap bibi"
"Aku harap kau tidak membenci ibuku.."
"Tidak Teuk..aku sama sekali tidak membenci bibi, bibi sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri"
"Terimakasih Hyuk.." Leeteuk tersenyum, "Aku harap suatu saat nanti sikap ibu berubah dan menerimamu"
"Ne.." sahut Hyukjae balas tersenyum.
Donghae melangkah masuk kekamarnya dan duduk termenung disofa. Apa yang terjadi hari ini membuatnya bingung harus bersikap bangaimana, ia tidak tahu apakah ia harus senang atau sebaliknya dengan kehamilan Hyukjae, yang ia tahu ia harus bertanggungjawab sebagai ayah dari calon bayinya.
.
.
Leeteuk melangkah kedapur dan menaruh nampan yang ia bawa kewestafel. Ia membersihkan mangkok dan gelas makan Hyukjae, pikirannya teringat dengan Donghae yang memeluk Hyukjae dikamar tadi.
"Nyonya?"
"Ne?" suara bibi Han mengalihkan perhatian Leeteuk
"Kenapa nyonya yang membersihkannya? Biar aku saja"
"Tidak apa-apa bi, ini sudah selesai"
Bibi Han merasa tidak enak karena Leeteuk mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tugasnya.
"Apa nyonya Hyukjae baik-baik saja nyonya?" tanya bibi Han kemudian
"Ne, Hyukjae baik-baik saja bi, sekarang Hyukjae sedang hamil"
"Nyonya Hyukjae benar-benar hamil?" bibi Han sangat senang mendengarnya, "Ini benar-benar kabar baik, aku ikut senang nyonya"
"Ne, terimakasih bi" sahut Leeteuk tersenyum.
.
.
Keesokan paginya..
Leeteuk menelepon Sungmin dan memberi kabar tentang kehamilan Hyukjae.
"Apa? Hyukjae hamil?"
"Ne"
Sungmin begitu terkejut mendengar kabar itu
"Aku sangat senang, akhirnya Donghae akan menjadi seorang ayah" ujar Leeteuk tersenyum,
Sungmin yang hanya diam membuat Leeteuk mengernyit, "Kenapa kau diam saja? Apa kau masih mendengarku?"
"Ah ne..aku mendengarmu, selamat ne..aku ikut senang" sahut Sungmin memberi ucapan selamat, meski sebenarnya ia cemas memikirkan rumah tangga sahabatnya itu.
.
.
"Ada apa Hae? sejak tadi aku perhatikan kau banyak melamun" ujar Yesung
"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu"
"Kau memikirkan apa? apa ada masalah? kau bertengkar dengan Leeteuk lagi?"
"Tidak, ini soal Hyukjae.."
"Hyukjae? ada apa dengannya?"
"Hyukjae hamil" jawab Donghae
"Hyukjae hamil?" Yesung antusias mendengarnya
"Ne.."
"Wah, selamat Hae, kau akan menjadi seorang ayah, aku sangat senang mendengar kabar ini"
"Terimakasih" sahut Donghae tak bersemangat
Yesung mengernyit, "Kenapa kau tidak bersemangat seperti it? Kau tidak merasa senang?"
"Aku bingung harus bagaimana sekarang"
"Bingung kenapa Hae?"
"Aku merasa bersalah pada Hyukjae, malam itu aku sedang mabuk dan tidak sadar melakukannya"
"Apa? Kau mabuk?"
"Ne.."
"Bagaimana bisa?"
"Saat itu pikiranku sedang sangat kacau dan aku minum sampai mabuk"
"Tapi menurutku kau sama sekali tidak melakukan kesalahan Hae, bukankah Hyukjae sudah berstatus sebagai istrimu, dia hamil adalah hal yang wajar"
"Ne itu benar, tapi kau tahu aku sangat mencintai Leeteuk dan tidak bisa mencintai wanita lain lagi, itu yang membuatku merasa bersalah pada Hyukjae"
"Kenapa kau merasa bersalah?" tanya Yesung
"Hyukjae sedang mengandung anakku, berada diposisinya sekarang adalah hal yang tidak adil untuknya"
"Aku memahaminya Hae..dan hal yang harus kau lakukan sekarang adalah belajar untuk menerima Hyukjae sebagai istrimu, kau harus belajar untuk mencintainya" ucap Yesung memberi saran.
Donghae hanya diam memikirkan apa yang Yesung katakan.
.
.
"Bagaimana kondisimu Hyuk? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Yejin yang datang berkunjung untuk melihat Hyukjae.
"Aku baik bu" sahut Hyukjae
"Syukurlah kalau begitu" Yejin tersenyum tenang mendengarnya, "Kau harus menjaga dirimu dan kandunganmu dengan baik ne?"
"Iya bu"
"Dimana Donghae? Apa dia tidak dirumah?"
"Donghae sedang keluar bu" ujar Leeteuk
"Seharusnya sekarang dia lebih banyak meluangkan waktunya dirumah, bukankah istrinya sedang hamil" komentar Yejin
"Tidak apa-apa ibu, ada Leeteuk yang menemaniku" ucap Hyukjae
"Benar, ibu tidak perlu cemas, aku akan menjaga Hyukjae dengan baik" ujar Leeteuk tersenyum
"Ne..ibu senang mendengarnya, kalian memang harus saling menjaga"
"Iya bu.."
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin ibu berikan" Yejin mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam tasnya
"Apa itu bu?" tanya Leeteuk
"Ini kalung" jawab Yejin membuka kotak perhiasan ditangannya
"Kalungnya sangat bagus bu"
"Ne.." Yejin tersenyum, "Dulu saat ibu mengandung Donghae, mertua ibu memberikan kalung ini pada ibu, ibu selalu menjaganya dengan baik, sejak dulu ibu sudah berencana untuk memberikan kalung ini saat menantu ibu hamil, sekarang Hyukjae sedang hamil, jadi ibu ingin memberikan kalung ini untuk Hyukjae"
Leeteuk terdiam mendengarnya.
"Ibu ingin kau memakai kalung ini Hyuk.." ujar Yejin pada Hyukjae
Hyukjae menoleh memperhatikan Leeteuk yang terlihat sedih,
"Tidak usah bu, aku akan memakainya nanti saja" tolak Hyukjae halus, ia merasa tidak enak dan berpikir seharusnya Leeteuk yang mengenakan kalung itu
"Tapi ibu ingin memakaikannya langsung padamu, kau tidak boleh menolak" sahut Yejin lalu memasangkan kalung itu dileher Hyukjae, "Kalung ini terlihat sangat indah dilehermu" komentar Yejin
"Terimakasih bu" sahut Hyukjae pelan
"Aku kedapur dulu bu, aku ingin lihat apa bibi Han sudah selesai menyiapkan makan siang" ujar Leeteuk
"Baiklah Teuk"
Leeteuk yang tak dapat menyembunyikan kesedihannya segera keluar dari kamar Hyukjae dan pergi kekamarnya, ia menangis disana.
.
.
Bibi Han mengetuk pintu kamar Leeteuk, "Nyonya, makan siangnya sudah siap" ujarnya
Leeteuk menyeka air matanya mendengar suara bibi Han, "Apa Donghae sudah kembali bi?" tanyanya
"Sudah nyonya, tuan Donghae baru saja kembali, mereka menunggu nyonya diruang makan"
"Katakan pada mereka untuk makan duluan saja bi, aku ingin istirahat sebentar"
"Apa nyonya baik-baik saja?"
"Ne, aku baik-baik saja bi, aku akan makan nanti saja"
"Baiklah nyonya" sahut bibi Han lalu melangkah pergi dan kembali keruang makan
"Leeteuk mana bi?" tanya Donghae
"Nyonya bilang ingin istirahat tuan, dia meminta tuan dan nyonya untuk makan duluan saja" ujar bibi Han
"Aku akan melihat Leeteuk dulu" Hyukjae mencemaskan Leeteuk
"Tidak usah Hyuk, kau dan ibu makanlah duluan ne, biar aku yang melihatnya" ucap Donghae beranjak dari meja makan
"Ne.."
Sesampainya dikamar, Donghae membuka pintu dan melangkah masuk, ia melangkah menghampiri Leeteuk yang tengah berbaring dan duduk didekatnya,
"Kau baik-baik saja Teuk?" tanyanya
Leeteuk membuka matanya mendengar suara Donghae,
"Apa kau merasa sakit?" tanya Donghae cemas
"Aku baik-baik saja Hae, hanya sedikit tidak enak badan" jawab Leeteuk
"Kau tidak enak badan? kita ke dokter saja ne?"
"Tidak perlu Hae, aku hanya butuh istirahat, kau makanlah dulu, aku tidak apa-apa"
"Kau sungguh tidak apa-apa?"
"Ne.." Leeteuk tersenyum tak ingin Donghae cemas.
"Tapi kau juga harus makan, aku akan bawakan makanan kesini ne?"
"Aku akan makan nanti saja Hae, aku ingin tidur sebentar"
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti setelah bangun kau harus makan ne?"
"Ne.."
"Kau istirahatlah" Donghae mengecup kening istrinya itu sebelum melangkah keluar dari kamar.
TBC
