Not a FairyTale

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chap 14: Merry Go Round

.

.

.

Note(s): based of tsuioku Merry Go Round by onelifecrew / sedikit OOC / Shizuo's POV / Words taken from tsuioku merry go round indonesian translation by me / ENJOY~! :D

.

.

.

Merry go round,

Di dunia mimipi yang berputar,

Aku mengejar sosokmu yang telah meninggalkanmu

Dan akan kusambut pagi ini.

Aku berlari.

Sesekali mataku melihat ke arah arloji yang kupakai di tangan kananku. Sial, aku sudah telat dua jam.

Aku sudah membuatnya marah. Aku sudah terlanjur mengkhianatinya.

Ini satu-satunya kesempatan untuk bisa mendapatkan maaf darinya dan menjelaskan semua yang terjadi.

Ah, Aku melihat sosoknya.

Ia berdiri di depan taman bermain, menundukkan wajahnya. Aku menghembuskan nafas lega yang berubah menjadi uap putih karena udara yang dingin.

Aku tersenyum, siap untuk memanggil namanya dan memeluknya.

Ku berlari lebih cepat, menaikkan kecepatan dari hentakkan kakiku untuk sampai ke hadapannya.

Tes

Ia mengangkat wajahnya saat menyadari kehadiranku.

Dan yang kulihat di wajahnya adalah,

Air mata yang bergulir dengan perlahan.

"Aku tak mau melihat wajahmu lagi, Shizu-chan."

"Aku tak mau melihat wajahmu lagi."

Ucapmu dengan pahit, seiring dengan air mata yang mengalir.

Di setiap saat kau hampir terhayut dengan berbagai masalah; aku menyadari bahwa kau menahan air matamu.

Aku membaringkan tubuhku di sofa yang empuk. Hari ini melelahkan.

Tidak, tepatnya, hari ini.. menyedihkan.

Bayang-bayang wajah Izaya yang menangis terus masuk ke dalam otakku.

Aku tertawa hampa. Lalu kenapa? Kami berpisah bukan berarti dunia berakhir, bukan?

Aku menatap langit-langit kamarku yang kusam. Pikiranku yang tak terisi apapun selain bayang-bayang Izaya hanya membuatku semakin mengingatnya saja.

Aku beranjak dari sofaku dan mengambil kamera yang terletak di atas meja. Aku melihat isi foto-foto dari kamera digital itu, agar bisa melupakan bayang-bayang Izaya.

Tapi, semua itu tak berhasil.

Aku melihat isi dari foto yang ada di dalam kamera itu. Izaya, Izaya, Izaya. Semuanya berisi foto Izaya. Fotonya ketika dia tersenyum, marah, atau fotonya yang kuambil diam-diam. Foto dari kencan pertama kami, foto saat aku bermain ke rumahnya, foto kami berdua—

Semuanya seperti buku cerita yang berisi kenangan-kenangan kami.

Dan yang terakhir aku ingat dari semua kenanganku bersama Izaya adalah—

Wajahnya yang sedang menangis, untuk pertama kalinya, di hadapanku.

Mengapa kau menangis?

Mengapa dulu kau selalu menahan air matamu?

Semua orang memujimu, mengatakan bahwa kau adalah orang yang kuat dan tegar.

Kau tak pernah menyadarinya, tapi di beberapa hal,

Kau mulai kehilangan sosok dirimu yang sebenarnya.

"Heh, kau tidak sekuat yang orang-orang pikir." Gumamku. Aku berdiri dan berjalan masuk menuju kamarku. Mungkin tidur bisa membuatmu hilang dari otakku.

Aku menutup pintu kamarku dan menyalakan lampu agar bisa melihat sekelilingku dengan baik. Aah, ternyata sama saja.

Semua foto-fotomu, Izaya, dan juga foto kita berdua, terpampang di hampir seluruh tembok kamarku. Ya, aku mencetaknya dan nempelkannya di kamarku agar aku selalu ingat akan dirimu.

Sebenarnya, siapa yang bodoh?

Aku, yang membuatmu menangis,

Atau kamu,

Yang pergi meninggalkanku?

Matahari yang seharusnya selalu ada di sampingmu,

Telah pudar dan kehilangan cahayanya.

Menghapus semua kebohongan dan kebenaran dari masa lalu.

Merry Go Round, di dunia mimpi yang berputar,

Aku mengingat sosokmu dengan pilu.

Hatiku menjadi lebih sakit karenanya.

Kau tahu aku hidup jauh darimu; dan walaupun aku mengetahuinya lebih baik,

Hatiku hanya akan tetap berputar untukmu,

Hampir sama dengan sebuah Merry Go Round.

Aku tak akan pernah bisa berpaling.

Aku hanya akan tetap berdiri di tempat yang sama, aku hanya akan tetap berputar di suatu pusat yang sama.

Kau begitu jauh.

Apa itu yang membuatmu meninggalkanku?

Karena aku tidak bisa..

Berputar bersamamu?

Dan walaupun kata-kata manis dari masa lalu itu menyakiti hatiku,

"Aku tetap ingin bertemu denganmu".

Aku tidak memohon akan hal itu sekarang,

Tapi aku akan mencoba untuk menghindarinya.

"Izaya..."

Aku menggumam tanpa sadar. Tidak, mungkin, secara sadar, aku memang menggumamkan namanya.

"Izaya.."

Bodoh, untuk apa aku berbicara sendiri?

Lalu, kenapa wajahku rasanya basah sekali?

Udaranya dingin, tak mungkin aku berkeringat.

Ah, orang-orang di taman memandangku dengan tatapan aneh.

Memangnya kenapa?

Aku hanya memandangi sebuah kursi taman dan memotretnya.

Tapi..

'Shizu-chan, Shizu-chan, duduk disini!'

'Shizu-chan baka! Kau ambil foto apaan, hah?'

'Shii-zuuuu-chaaan!'

"Ah... aku.. menangis, ya?"

Aku menyesal telah mengatakannya—tapi aku tak mau mengetahui apapun.

Aku selalu mencari sebuah emosi yang terpendam dalam di sosokmu; sebuah rahasia yang kau miliki.

Aku memotret bangku taman yang kosong itu.

Dulu, saat aku dan Izaya duduk disana, cuacanya cerah.

Mataharinya bersinar.

Kami mengambil foto berdua di atas bangku ini. Kami tersenyum.

Namun kini, bangku ini kosong.

Warnanya pun kusam.

Dan.. dingin.

Tak ada sosokmu di atasnya.

Merry Go Round, di dunia mimpi yang berputar,

Siluetmu yang masih tertinggal mengejar sang matahari pagi.

Masih tersisa.

Sosok bayanganmu yang telah pergi,

Masih tersisa.

Hey,

Aku masih memiliki cukup waktu,

Untuk bisa berputar lagi bersamamu, bukan?

Sekali lagi, suatu hari, aku akan menemukan sebuah tempat yang dilihat dengan penuh rasa cinta.

Maka dari itu, aku hanya ingin menemukan cara untuk mengembalikan kita bersama hanya karena sebuah kebetulan.

Sekali lagi, aku berlari.

Seperti mengejar sosoknya, seperti hari itu.

Apa yang aku lakukan?

Apa yang seharusnya aku lakukan?

Apa yang ingin aku lakukan?

Semua jawabannya hanya satu,

"Aku ingin berputar bersamamu, Izaya!"

Merry Go Round – berputar di dunia mimpi

Merry Go Round – berputar di dunia mimpi

Merry Go Round – Aku masih memanggil namamu.

Uap putih dari nafasku yang tercampur udara dingin takkan menghalangi pandanganku.

Aku akan terus berlari.

Aku pasti akan menemukanmu,

Aku pasti akan mengikat kembali benang merah ini,

Sekali lagi—

Matahari yang seharusnya selalu ada di sampingmu,

Telah pudar dan kehilangan cahayanya.

Menghapus semua kebohongan dan kebenaran dari masa lalu.

Aku hampir sampai, di depan taman bermain tempat aku berjanji menemuinya waktu itu.

Lampu-lampu yang terletak di pinggir jalan mulai menyinar langkahku di malam gelap.

Aku akan menemukan sosokmu,

Walaupun itu semua hanya berbentuk sisa dari bayanganmu saja.

Aku akan menemukanmu.

Merry Go Round, di dunia mimpi yang berputar,

Siluetmu yang masih tertinggal mengejar sang matahari pagi.

Matahari yang seharusnya selalu berada di sisimu.

Aku mempercepat langkah kakiku,

Seperti jam pasir yang mengulang kejadian di masa lalu.

Aku tersenyum, melihat sosok yang menghembuskan nafas putih bagaikan awan.

Kau mengangkat wajahmu, dan kau tersenyum.

"Selamat datang kembali, Shizu-chan."

Seperti mengulang Merry Go Round,

Berputar di dunia penuh mimpi.

"Aku pulang, Izaya."