.
CONFESSION (고백)
.
.
CHAPTER 14
.
Canada
Seorang pemuda bermata panda tengah sibuk celingukan kesana kemari mencari sosok tinggi berambut pirang yang harus dijemputnya. Sudah sejak setengah jam yang lalu, pemuda tinggi yang sudah menjadi kekasihnya selama enam tahun lebih itu belum menampakkan batang hidungnya. Entah salahnya yang datang lebih awal atau memang pesawatnya yang terlambat. Oh, jangan salahkan dia... Tao memang sudah sangat merindukan Kris. Hampir sepuluh bulan Kris baru kembali ke Kanada. Sungguh, itu sangat menyiksanya.
Tak lama kemudian, Kris, pemuda yang sudah ditunggunya sedari tadi tengah berjalan ke arahnya dengan gaya coolnya. Ia mengenakan kacamata hitamnya, dandanan ala model hollywood dan tangannya menyeret koper yang tidak terlalu besar. Oh, ingin sekali Tao langsung berhambur memeluk pemuda itu. Sayang sekali, ia memiliki rasa gengsi yang besar. Ia hanya melipat kedua tangannya dan menatap datar sosok di depannya. Memasang wajah sangar yang membuat siapapun bergidik. Kris hanya tersenyum kecil. Dia sudah hafal sekali dengan tabiat Tao. Sedetik setelahnya, ia memeluk pemuda panda itu. Menyalurkan kerinduan selama beberapa bulan ini.
"Astaga ge! Lama sekali sih? Aku sampai lumutan menunggumu di sini..." Tao menghentak−hentak lantai bandara dengan brutal. Kris terkekeh dan mengusap rambut hitamnya sayang.
"Kenapa kau menyalahkanku, Tao? Kau marahi saja pilotnya... Lagi pula siapa suruh kau datang tiga puluh lima menit lebih awal." Bibir kucing Tao mengerucut lucu. Mengundang siapapun untuk mengecupnya. Asal kalian berani saja menghadapi naga super galak ini. "Maaf baby... Gege harus menunggu Chanyeol yang masih di toilet. Aku rasa dia mengalami jet lag karena sudah lama tidak menaiki pesawat." Mulut Tao langsung menganga. Dia tak tahu kalau Kris bersama Chanyeol.
"Jadi Chanyeol di sini?" Kris mengangguk. "Kenapa tidak bilang kalau Chanyeol akan kesini sekarang? Aku kira kalian akan menunggunya sampai lulus kuliah."
"Tidak bisa Tao. Dia dibutuhkan sekarang... kami tidak bisa menundanya. Itu kemauan abeoji." Tao hanya bisa menghela nafas. "Gege takkan membawa Chanyeol langsung ke rumah gege. Hari ini, biar gege dan Chanyeol menginap di hotel dulu. Sementara itu, kau bersiaplah di rumah. Kau dan Baekhyun harus pindah ke rumah besarmu karena Chanyeol akan tinggal di rumah gege. Dan, jangan sampai Baekhyun curiga. Bilang saja pada Baekhyun kalau ibumu yang menyuruh kalian pindah. Kita tak bisa memberitahunya begitu saja, dia pasti akan kaget. Lagipula dia bilang sendiri kalau dia belum bisa bertemu dengan semua orang di masa lalunya." Tao mengangguk−angguk mengerti. "Hhh, tapi aku rasa mereka akan bertemu sebentar lagi..."
Beberapa menit kemudian, Chanyeol datang dari arah belakang Kris. Ia melambai ke arah Kris dan Tao lalu mendapat balasan antusias dari Tao. Yeah, Tao sedang berpura−pura seolah tidak tahu apapun selama ini. Chanyeol melepas kacamatanya dan menatap Tao dari atas hingga ke bawah. Membuat Tao risih dan sebal.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kenapa kulitmu semakin eksotis saja?" Tao memutar bola matanya malas. Chanyeol memang suka sekali menggodanya. Hanya saja, ia merasa nada bicara Chanyeol yang sekarang lebih bersahabat. Entah mengapa, Tao seolah bisa merasakan perubahan Chanyeol juga. Chanyeol menepuk pundak Tao dan tertawa lebar. "Aku hanya bercanda, kakak ipar." Tao hampir saja memukulnya, namun Chanyeol dengan sigap bersembunyi di balik punggung Kris. Tak menyadari kalau tingkah kekanakkannya dilihat beberapa orang di bandara itu. Kini, mereka pun melangkah menuju tempat parkir mobil Tao.
"Chanyeol−ah, nanti kita menginap di hotel dulu. Rumah hyung masih berantakan. Aku rasa kau tak akan nyaman berada di sana. Biar Tao membersihkannya dulu bersama maid bayaran. Baru besok kita akan kembali ke rumah, hyung." Tanpa curiga sedikit pun, Chanyeol mengiyakan ajakan kakaknya. Lagipula ia memang tak menyukai tempat yang berantakan. Maklum, ia benar−benar telah berubah hingga akar−akarnya. Selain merubah sikap, ia juga mengubah pola hidupnya. Dari wine menjadi air putih, dan steak−steak daging menjadi sayuran. Yeah, bisa dikatakan... Chanyeol mulai menerapkan pola makan sehat. Dalam perjalanan pun mereka habiskan dalam canda tawa, saling mengejek, serta pertanyaan−pertanyaan bodoh dari Tao yang akan dijawab tak kalah bodohnya oleh Chanyeol. Suasana hangat perlahan mulai terasa.
Confession © ChanBaek
Baekhyun baru saja akan melayani pelanggan restaurant Huang, namun gerakannya terhenti oleh teriakan Tao yang memanggilnya dari arah pintu masuk. Baekhyun pun meminta salah satu pegawai untuk menggantikannya dan bergegas menemui adiknya.
"Ada apa, Taozi?" Baekhyun bertanya penasaran. Pasalnya tadi Tao bilang akan menjemput Kris di bandara, namun ia datang sendirian ke restaurant. Lalu, Kris kemana? "Eh, kemana Kris hyung?" Tao terlihat menggerakkan bola matanya dengan gelisah. Ia ragu, apa ia harus mengatakan tentang kepindahan mereka siang ini juga? Tapi, kalau mereka tidak segera berkemas, Chanyeol akan datang dan mungkin Baekhyun belum siap untuk bertemu dengannya. Mereka berdua, baik Kris maupun Tao hanya tidak ingin Baekhyun terpuruk lagi. Ia seperti punya rasa trauma sendiri pada masa lalunya.
"Kita pulang, Baibai ge." Baekhyun mengerutkan dahinya bingung. Belum sempat ia protes, Tao sudah menyeretnya ke dalam mobilnya setelah sebelumnya berteriak pada Guixian kalau mereka akan pergi sebentar. Setelah mereka memasuki mobil Tao, pemuda bermata panda itu mulai angkat bicara. Berusaha untuk tidak terlihat gugup. "Baibai ge, mama meminta kita pulang ke rumah besar. Err...maksudku mulai sekarang kita akan tinggal di sana lagi. Mama bilang dia sangat merindukanmu." ucap Tao asal. Kerutan di dahi Baekhyun semakin jelas.
"Tadi mama meneleponku dan tidak berbicara apapun, Tao." Tao menghembuskan nafasnya perlahan.
"Mungkin mama lupa."
"Lalu dimana Kris hyung?"
"Kris ge langsung pergi ke kantornya. Dia terlihat sangat sibuk." Baekhyun masih mengamati Tao yang tengah menyetir. Ia merasa kalau adiknya seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan dia tahu benar kalau Kris bukan orang yang gila kerja. Dia pasti akan menemuinya walau pun hanya sebentar. Melihat Baekhyun yang seperti mencurigainya, Tao langsung menambahkan, "Nanti malam Kris ge akan berkunjung ke rumah dan menjelaskannya. Aku tidak sedang berbohong, oke? Berhenti menatapku seperti itu!" Tao pura−pura cemberut kesal. Baekhyun akhirnya terkikik dan memutuskan untuk mempercayai Tao saja. Mereka pun terdiam.
Baekhyun masih sibuk mengamati suasana Kanada di siang hari. Ia mengedarkan pandangannya ke lautan luas saat mereka tengah melewati jembatan besar. Perasaan nyaman tiba−tiba saja menyelimutinya. Hatinya seperti tengah menemukan sesuatu yang hilang selama ini. Jantungnya berdebar dengan sangat kuat. Ia memejamkan matanya saat kehangatan mulai menyapanya. Dan disaat ia mencoba membayangkan hal yang menyenangkan, justru Chanyeollah yang muncul pertama kali. Ia tiba−tiba saja seolah berada di sebuah pandang dandelion dengan suasana yang sangat nyaman dan sejuk. Ia mengedarkan pandangan, menikmati segala suguhan alam yang sangat indah itu. Kemudian, ia melihat seorang pemuda tinggi tengah menatapnya di kejauhan. Ia seperti melihat Chanyeol tengah tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya, memintanya untuk mendekat. Saat ia akan menangkap uluran tangan Chanyeol, tiba−tiba suara mesin mobil yang mati langsung menyadarkannya. Ia mengusap matanya dan melihat sekelilingnya. Dia sudah sampai di rumah Kris.
"Aku tertidur, Tao?" Tao yang tengah melepas seatbeltnya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Kau juga terlihat sangat nyenyak sekali ge. Kau pasti lelah, ayo masuk... aku akan membuatkan jus untukmu." Baekhyun tersenyum dan mengikuti langkah kaki Tao memasuki rumah mereka.
'Hhhh, hanya mimpi...'
.
"Apa kau sudah menghubungi Kris hyung?" Baekhyun bertanya saat mereka tengah memasukkan semua barang ke dalam bagasi. Tao yang tengah bermain dengan smartphonenya terlihat berpikir, kemudian mengangguk kecil. "Kau yakin?" Tao mengangguk lagi. "Apa Kris hyung tidak apa−apa ditinggal sendirian di rumah ini? Lalu siapa yang akan merawat rumah ini kalau Kris hyung sedang tidak ada? Lalu jam makan siangnya? Dia kan selalu pulang untuk makan siang." Tao terkekeh pelan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia membuka pintu mobilnya dan memasukinya. Kemudian disusul Baekhyun yang memasang wajah masam sedari tadi.
"Kris gege akan menyewa maid, Baixian ge... kenapa kau khawatir sekali sih?" Tao menstarter mobilnya, sedangkan Baekhyun justru cemberut mendengarnya.
"Yeah... bagaimana pun juga kan Kris hyung itu kakakku Huang Zitao. Dia yang sudah memperhatikanku selama ini. Ugh... kau ini kenapa santai sekali sih. Dia kan calon suamimu, Taozi jelek!" Baekhyun menggeram pelan dan membuat Tao semakin tergelak. Baekhyun jadi terlihat seperti adik yang over protektif. Tao menepuk−nepuk pundak Baekhyun.
"Dia akan baik−baik saja, Huang Baixian." balasnya lembut. Akhirnya Baekhyun memilih mengalah dan diam di tempatnya. "Gege..." Baekhyun menoleh. "Ayo taruhan! Kalau kau bisa memainkan flappy birdmu dengan baik dan mendapat skor lebih tinggi dari skorku, aku akan melakukan apapun untukmu. Dan jika kau tidak bisa mengalahkanku, kau harus menuruti satu permintaanku. Bagaimana?" Baekhyun mengerutkan dahinya kemudian mengangguk tak yakin.
"Baiklah! Siapa takut!" Tao tersenyum dan mengulurkan smartphonenya. Tak lama setelahnya, hanya terdengar suara heboh Baekhyun yang sibuk menggerutu dan bersorak di dalam mobil itu. Ia masih berusaha mengalahkan skor Tao. Beberapa menit kemudian, Baekhyun mengumpat dengan keras dan hampir membanting smartphone Tao saat burungnya terjatuh. Ia gagal. Melihat itu, Tao bersorak dalam hati. Ia memang sengaja melakukan itu karena ia tahu Baekhyun tak ahli dalam permainan itu.
"Kau kalah kan?" Baekhyun mendengus.
"Hn, lalu apa permintaanmu?"
"Kau akan tahu nanti..."
Confession © ChanBaek
Pagi ini, Baekhyun sudah manyun dengan bibir yang maju beberapa senti ke depan. Semenjak memasuki gerbang kampusnya, semua mata memandangnya bingung. Ada juga yang menertawakan penampilannya yang mengerikan itu. Baekhyun hanya bisa menunduk untuk menghindari tatapan−tatapan heran itu. Bagaimana tidak heran, jika biasanya Baekhyun berpenampilan manis sekarang justru berubah tiga ratus enam puluh derajat dari biasanya. Ia mengenakan pakaian yang kelewat rapi. Memasukkan ujung bajunya ke dalam celananya dan celananya pun bukan jeans seperti biasanya, melainkan celana kain berwarna abu−abu. Ia memakai kemeja yang dikancing hingga kerahnya dan ia memakai sweater berwarna biru. Tak lupa kacamata besar dan jadul bertengger di hidungnya dengan rambut ungu yang disisir sangat sangat rapi. Jika ada yang bertanya, ia hanya akan tersenyum kikuk dan segera berlalu.
Sepanjang koridor, ia meruntuki kebodohannya yang mau saja menuruti permintaan konyol Tao untuk berubah seperti ini. Benar−benar culun dan ia merasa sangat tidak nyaman. Dia juga meruntuki kelasnya yang berbeda dengan Tao, membuatnya harus menahan malu karena berjalan sendirian di koridor dengan beberapa buku besar yang menempel di dadanya. Ia hanya berjalan menunduk hingga sampai di kelasnya.
"Oh God! Baixian, ada apa dengan penampilanmu?" Seorang pemuda berwajah Asia memekik −dengan bahasa inggris, saat melihat penampilan buruk Baekhyun. Baekhyun sendiri hanya mengabaikan teriakan menggelegar pemuda itu dan berjalan menuju kursinya. Ia sempat tersenyum kecil pada teman−temannya yang terlihat cengo melihatnya. "Astaga, astaga! Apa yang terjadi dengan wajah cantikmu?" Baekhyun memutar bola matanya malas. Temannya ini selalu berlebihan.
"Diamlah Yuta! Aku sedang bad mood." Yuta, pemuda berdarah Jepang−Korea itu terkekeh pelan.
"Okay, okay. Tapi kenapa dengan penampilanmu hari ini?" Yuta menatapnya dari bawah ke atas lalu tertawa lagi. Membuat Baekhyun semakin cemberut. Walau pun malas, ia tetap menceritakan semuanya pada pemuda yang sudah menjadi teman akrabnya selama tiga tahun ini. Tentang ia yang kalah taruhan dan terpaksa menuruti permintaan adiknya yang konyol itu. Yeah, walaupun hanya sehari ia pasti malu. Dan entah kenapa ia jadi teringat perkataan terakhir adiknya tadi. 'Kau akan membutuhkannya ge. Kau pasti akan berterima kasih padaku setelah kita pulang nanti.' Dan Baekhyun pun bertambah bingung. Berterima kasih? Untuk permintaan bodohnya ini? Oh ayolah, Baekhyun bukan orang idiot yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, percakapan Baekhyun dan temannya terhenti karena sang dosen telah memasuki kelasnya. Semua pun kembali pada tempatnya masing−masing. Baekhyun lebih memilih melihat pemandangan luar untuk merilekskan dirinya sebentar sebelum bergelut dengan mata kuliah yang bisa membuatnya botak kapan saja. Calculus. Sang guru berdehem membuat perhatian sekelas terarah pada wanita paruh baya yang bertubuh tambun itu, tak terkecuali seorang Huang Baixian.
Tak lama, masuklah seorang pemuda berwajah Asia dengan penampilan memukau. Rambut lurus berwarna merah tua sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Kacamata berbingkai hitam yang melekat di tulang hidungnya menambah kesan tampan dan manis dalam satu waktu. Baekhyun tertegun dengan badan yang bergetar pelan. Jantungnya berpacu dengan ritme cepat dan berat. Tak dipungkiri kalau perasaan hangat perlahan menyelimutinya. Sekarang dia tahu, apa maksud perkataan Tao tadi pagi.
"—Baixian! Baixian Huang!" Baekhyun tersentak saat suara sang dosen memanggilnya dengan keras. Ia baru sadar kalau ia terlalu lama bergelut dengan pemikirannya. Ia mengedarkan pandangannya ke depan dan akhirnya matanya bersiborok dengan mata phoniex Chanyeol, membuatnya langsung tertunduk. Ia dapat merasakan matanya semakin memanas dan ingin melepaskan liquidnya. Dia sangat merindukan sosok itu. Setelah ia merasa bisa mengontrol detak jantungnya, ia kembali menatap ke depan.
"A−Ada apa Mrs?" Baekhyun bertanya dalam bahasa inggris, masih dengan nada yang gugup.
"Karena kau satu−satunya murid yang bisa berbahasa korea dengan lancar, maka kau akan menjadi pemandu Mr. Park untuk beberapa minggu ini. Kau bisa kan?" Baekhyun menelan ludahnya dengan kasar. Memandu Chanyeol? Berarti dia akan bersama Chanyeol untuk beberapa minggu ini? Ia menatap ke arah Chanyeol dengan ragu. Pemuda tinggi itu masih menatapnya datar, sama dengan tatapan saat ia dan Chanyeol dulu bermusuhan. Tatapan yang entah mengapa membuat dadanya berdenyut sakit. Apa Chanyeol mengenalinya? Tapi dilihat dari sikapnya, seperti Chanyeol tak tahu siapa dirinya. Atau Chanyeol memang telah melupakannya? Entahlah.
"B−Baiklah, Mrs."
"Baik, silahkan duduk Mr. Park... Hm, kau bisa duduk di samping Mr. Huang mulai sekarang. Dia yang akan menjadi pemandumu. Ku harap kau nyaman bersamanya." Chanyeol mengangguk dan mulai melangkah mendekati Baekhyun. Seiring langkah berat Chanyeol, semakin cepat pula detakan jantung Baekhyun. Saat pemuda itu telah duduk disampingnya, ia merasakan kenyamanan yang pernah hilang sebelumnya. Ia merasa... lengkap. Tak terasa, Baekhyun menunggingkan senyuman manis tanpa ada yang menyadarinya.
Confession © ChanBaek
Baekhyun kini tengah berjalan beriringan dengan Chanyeol. Keheningan pun menjadi teman mereka berdua. Baekhyun masih memilih diam dengan wajah yang menunduk, sedangkan Chanyeol masih kukuh dengan tatapan dinginnya. Jam kuliah mereka telah selesai dan mengharuskan siswanya untuk mengistirahatkan diri mereka masing−masing. Namun lain dengan Baekhyun, karena ia harus menjadi pemandu Chanyeol. Di Universitas ini, sesuatu yang disebut pemandu, bukan hanya menolong dalam hal pelajaran atau mengenalkan tentang sekolah ini. Melainkan menjadi seorang guide tour yang akan mengenalkan Kanada bagi mahasiswa baru itu. Biasanya itu dilakukan selama sebulan. Jadi, mau tak mau Baekhyun harus bersama dengan Chanyeol setiap saat. Ia sudah menghubungi Tao untuk pulang tanpanya, karena ia memiliki tanggung jawab untuk menjadi guide Chanyeol mulai hari ini juga.
"Chan−Chanyeol−sshi, K−Kau ingin kemana dulu?" Baekhyun bertanya dengan nada yang sangat lirih. Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun barang sebentar, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Terserah kau saja dan berhenti memanggilku Chanyeol−sshi! Kau membuat telingaku gatal!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal. Chanyeol benar−benar tidak berubah, dia masih sangat menyebalkan. Memperlakukan orang lain dengan seenaknya, berbicara dingin padanya, dan dia bahkan tak menatap lawan bicaranya. Rasanya Baekhyun ingin membenturkan kepalanya ke tembok saja. Ia pun berjalan mendahului Chanyeol dengan langkah yang sedikit dihentak−hentakkan. Tanpa disadarinya, Chanyeol tersenyum lembut dibelakang.
.
Perpustakaan kota
Baekhyun mengitari beberapa rak buku di bagian belakang gedung perpustakaan ini. Mencari beberapa buku tebal yang pernah dipelajarinya dulu sebelum ia masuk ke Universitas itu. Mencari beberapa referensi yang mungkin akan dibutuhkan Chanyeol. Ia pun sempat melirik ke arah Chanyeol yang berada beberapa meter di sebelahnya, tampak sibuk mengusapkan jemarinya pada sisi−sisi buku sembari menggerakkan bibirnya perlahan, membaca judul buku yang terletak dibagian samping. Tak terasa, Baekhyun mengulum senyum manis. Chanyeol memang berubah, ia terlihat sangat baik sekarang. Tapi, ia masih merasa ada yang mengganjal di otaknya. Apakah Chanyeol sudah meninggalkan dunia malamnya? Jujur, diantara semua kelakuan buruk Chanyeol, Baekhyun paling tidak bisa melihatnya mabuk dan meniduri orang lain. Itu sangat sangat menyakitkan ketimbang waktu Chanyeol menghina dan membullynya.
"Baixian! Kau sudah mendapatkannya?" Chanyeol tiba−tiba saja sudah berada tepat di hadapannya. Membuat Baekhyun tertegun dan menatap Chanyeol tepat di matanya. Melihat tak ada pergerakan dari Baekhyun, pemuda tinggi itu melambaikan tangannya di depan wajah pemuda yang lebih kecil, namun Baekhyun tetap kukuh. Tanpa berkedip dan bahkan ia menahan nafas sedari tadi. Berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Chanyeol membuat kerja jantungnya bertambah. Apalagi ia dapat menghidup aroma Chanyeol yang entah mengapa terasa menenangkan. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan kanannya ke arah pipi Chanyeol, merasakan betapa kenyalnya bagian itu. Chanyeol tampak lebih sehat dan segar. Ia mengusapnya perlahan, masih dengan jarak wajah yang hanya beberapa jengkal saja. Chanyeol berdehem, membuat Baekhyun tersadar. Ia segera menarik tangannya dan memutar badannya membelakangi Chanyeol.
Dadanya mulai bergemuruh dengan alunan yang berat dan menenangkan. Kehangatan mulai menyelimuti hatinya saat merasakan kulitnya telah bersentuhan dengan kulit pipi Chanyeol. Perlahan pipinya mulai memanas dan dijalari oleh rona merah samar. Ia berjalan cepat ke arah meja perpustakaan dan meletakkan semua buku besar itu diatasnya. Melihat Chanyeol yang menyusulnya dari arah belakang, Baekhyun segera menelungkupkan wajahnya diantara lengannya yang terlipat. Malu sekali ketahuan menyentuh orang yang baru dikenalnya –menurut Baekhyun, Chanyeol masih belum mengenalinya.
"Baixian..." Chanyeol menyentuh pundak Baekhyun, membuat Baekhyun sedikit tersentak namun ia tak mengubah posisinya sama sekali.
"A−Aku sudah mengambil semua buku yang k−kau butuhkan, Chanyeol. A−Aku mengantuk, ingin tidur sebentar." Chanyeol menyerngit heran. Namun ia abaikan saja sikap aneh teman sefakultasnya ini dan mulai membuka−buka isi buku itu. Ia tampak serius sehingga tak menyadari kalau Baekhyun sudah memiringkan kepalanya. Yeah, Baekhyun kini tengah memandangnya dari sela diantara lengannya. Menatap wajah serius Chanyeol yang entah mengapa terlihat semakin tampan sekarang. Surai merah yang cocok untuknya. Tampan dan berkharisma.
*A/N : Di sini model rambut Chanyeol kaya di Mama tapi waktu udah gak keriting, tapi warna rambutnya sama di era Overdose
Confession © ChanBaek
Chanyeol dan Baekhyun kini tengah menikmati se−cup kopi panas yang baru dibeli oleh Baekhyun –atas permintaan atau mungkin paksaan dari Chanyeol pastinya. Entah mengapa, Chanyeol jadi terkesan membullynya lagi. Ditambah dukungan dengan perbedaan penampilan mereka. Baekhyun yang cupu dengan Chanyeol yang super tampan. Seperti majikan dan pembantunya saja. Dan entah kenapa juga Baekhyun mau melakukannya. Terlihat seperti... ia tak mau kehilangan moment kebersamaan mereka. Yeah, mungkin saja. Mereka baru saja pulang dari perpustakaan kota untuk meminjam beberapa buku yang mungkin akan dibutuhkan Chanyeol di Kanada. Sistem pembelajaran yang sedikit berbeda mengharuskan Chanyeol untuk menyesuaikan dirinya di sini.
Saat ini keheningan menemani mereka. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang membuka suara. Mereka sibuk menikmati kopi mereka dan merasakan dinginnya angin sore di Kanada. Kedua pasang obsidian dua pemuda itu menatap lurus kearah depan. Dimana ada lautan luas yang hampir menelan sang raja siang. Warna jingga dan merah menjadi perpaduan di langit. Kicauan burung yang kembali ke sarang juga menjadi nyanyian tersendiri bagi keduanya. Terdengar suara seruputan kopi di sebelahnya dan Baekhyun menatap sang pelaku.
"Kau merasa dingin, Baixian?"
"Eh?" Chanyeol balas menatapnya, masih dengan pandangan datar. Tak ada kesan apapun dalam pandangan itu. Hanya pandangan kosong yang terlihat menyedihkan. Baekhyun menelan ludahnya susah payah dan mengeratkan jaketnya. "Ini bukan musim dingin, jadi takkan sedingin ketika salju turun. Aku sudah merasa hangat walau hanya selembar jaket." Ia berusaha tersenyum, menampilkan eyesmile cantik yang menjadi ciri khasnya. Chanyeol masih terdiam, tak menanggapi. Pemuda jangkung itu memilih menatap langit yang mulai berubah warna menjadi biru gelap, tanda akan mengarungi malam.
"Tapi jaket dan mantel tebal takkan berguna jika yang terasa dingin adalah hatimu." Baekhyun tertegun, ia masih menatap Chanyeol. Kepulan uap dari mulut Chanyeol menandakan kalau ia mulai kedinginan. "Hatiku bahkan sudah sangat dingin hingga rasanya seperti membeku. Tak ada lagi kehangatan di dalamnya." Chanyeol masih menatap lurus. Ia mengangkat bahunya hingga lehernya berkerut ke dalam. Ia terlihat sangat kedinginan sekarang. Entah mengapa Baekhyun sedikit khawatir melihatnya. Seingatnya, kesehatan Chanyeol itu sangat baik. Yeah, kecuali jika dia depresi lagi. "Dingin..." gumamnya pelan. Baekhyun dengan ragu mulai merapatkan duduknya dengan Chanyeol. Dengan perlahan ia mengangkat sebelah tangannya dan menempelkannya di dahi Chanyeol. Sontak matanya langsung membulat.
"Chanyeol, kau demam. Bagaimana bisa? Ta−Tadi kau tampak baik−baik saja." Baekhyun yang panik langsung berdiri di depan Chanyeol, mengusap kedua telapak tangannya. Berusaha membuat aliran panas dari telapak yang bergesekan lalu menempelkannya di kedua pipi Chanyeol. "Kau pasti kelelahan. Sebaiknya aku mengantarmu pulang." Baekhyun berusaha mengangkat bahu Chanyeol, namun pemiliknya masih bersikukuh di tempatnya.
"Aku hanya kelelahan, Baixian."
"Tidak... Tidak... kau harus istirahat. Dimana rumahmu, aku akan mengantarkanmu." Chanyeol tersenyum dan menggeleng pelan.
"Aku tinggal di hotel sekitar sini." jawabnya lirih. Sepertinya kondisi Chanyeol memburuk. Pemuda tinggi itu dapat merasakan tubuhnya merasakan dingin yang berlebih. Kepalanya pening dan semua terasa berputar. Ia memang sudah menduga kalau ia kelelahan. Kemarin ia bersikukuh untuk ikut Kris ke kantornya padahal ia baru saja datang. Ia pulang menjelang pagi dan sudah harus menjadi mahasiswa baru saat jam menunjukkan angka delapan. Sekarang ia merasakan akibatnya. Badannya terasa lemas. Ia juga lapar.
"Berikan alamatmu!" Chanyeol menarik kerah Baekhyun dan berbisik tepat di samping telinga Baekhyun. Baekhyun memang sempat gugup dan wajahnya pun memerah, namun apa yang didengarnya membuat ia cepat melupakan kegugupan itu. Chanyeol tengah membisikkan alamat hotelnya. Segera saja ia berlari meninggalkan Chanyeol untuk mencari taksi. Setelah berhasil mendapatkan taksi, ia pun memapah Chanyeol untuk masuk ke dalam taksi dan meninggalkan dua cup kopi mereka yang masih setengah, di sana.
.
Entah dorongan darimana, Baekhyun merawat Chanyeol. Ia bisa saja menelepon Kris dan memintanya untuk membawa Chanyeol ke rumah sakit. Namun ia tahu kalau Kris sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Tao mungkin masih berada di restaurantnya. Lagipula ia juga tak berniat meninggalkan Chanyeol dalam keadaan ini. Mungkin dengan merawatnya sendiri, Chanyeol akan lekas sembuh. Beberapa kali ia mengganti kompres Chanyeol atau terkadang dia akan mengusap peluh yang keluar dari dahi, pelipis maupun leher Chanyeol. Dengan telaten ia terus melakukannya dalam beberapa menit terakhir ini. Tanpa lelah dan mengabaikan rasa kantuknya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia menghubungi Tao dan mengatakan pada Tao kalau ia akan menginap di rumah temannya.
"Kenapa kau masih saja mengabaikan kesehatanmu, hum?" Baekhyun bermonolog sendiri ketika Chanyeol tertidur dengan pulas. "Seharusnya kau menjadi Chanyeol yang kuat dan bisa melindungi kekasihmu kelak." Baekhyun tersenyum kecut setelahnya. Ia ingat, Chanyeol tengah mencintai seseorang. Atau mungkin mereka sudah menjadi sepasang kekasih sekarang? Entahlah. Ia terlalu takut untuk memikirkannya.
"B−Ba—hhh..." Chanyeol melenguh dan membuka matanya perlahan, membuat Baekhyun langsung bungkam. Semoga Chanyeol tak mendengarnya. "H—ha..us..." Baekhyun yang mendengar suara lirih Chanyeol langsung meraih gelas di atas nakas dan mengulurkan air putih itu untuk Chanyeol. Ia membantu Chanyeol mengangkat tubuhnya, meneguk air putih di gelasnya, kemudian membaringkannya lagi. "D−Dingin sekali..." Samar−samar Baekhyun dapat mendengar suara Chanyeol yang kedinginan. Ia pun menari selimut Chanyeol hingga menutupi lehernya. Ia mengusap surai Chanyeol perlahan. Panasnya belum turun sama sekali. Chanyeol juga terlihat sangat kedinginan. Baekhyun menghela nafas. Ia harus melakukan sesuatu atau Chanyeol takkan bisa tidur malam ini.
"Chanyeol−ah, bolehkah aku memelukmu?" Chanyeol hanya mengangguk lemah, terlalu malas membuka suara karena kerongkongannya terasa panas dan kering. Baekhyun pun bergegas menaiki ranjang Chanyeol dengan gerakan pelan. Ia merapatkan tubuhnya kearah Chanyeol dan mulai menarik selimutnya. Ia meletakkan kepala Chanyeol ke dalam dekapannya dan melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol. Tak lama, ia dapat merasakan nafas Chanyeol yang berhembus tenang. Sepertinya ia sudah bisa tertidur nyenyak sekarang. Ia tersenyum sebelum akhirnya ikut menutup matanya.
'Selamat malam, Chanyeol...'
.
"Ugh~" Chanyeol sedikit menggeliat sebelum merasakan tubuhnya terhimpit sesuatu. Ia membuka matanya perlahan dan mendongak menatap wajah damai yang mendekapnya. Sedikit demi sedikit ia mulai ingat kalau kemarin ia demam mendadak dan Baekhyun membawanya ke hotel. Ia tersenyum lembut. Tangannya dengan perlahan bergerak untuk menyingkirkan lengan Baekhyun. Ia kemudian menaikkan tubuhnya hingga menjadi lebih tinggi dari tubuh kecil Baekhyun, lalu memasukkan pemuda mungil itu ke dalam dekapan hangatnya. Ia yang memeluknya kali kini, lebih erat dari dekapan Baekhyun sebelumnya. Baekhyun sedikit menggeliat sebelum akhirnya menyamankan posisinya dalam pelukan Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lega. Ia melepaskan kacamata jadul Baekhyun dan meletakkannya diatas kepalanya. Jemarinya menyingkirkan surai Baekhyun lalu memberikan kecupan kecil di pelipis pemuda itu. Tangannya lagi−lagi bergerak untuk mengusap pipi Baekhyun, menyentuh ujung hidungnya, sebelum akhirnya berhenti pada belahan bibirnya. Chanyeol menghela nafas, merapatkan dekapannya dan mencium puncak kepala Baekhyun.
"Ciuman di koridor dulu adalah awal mulainya permusuhan kita yang paling sengit, Baek." Chanyeol menghela nafas kembali. Ia ingat sekali waktu ia mencium Baekhyun secara paksa karena saat itu ada Kyungsoo di sana. Ia ingin persahabatan Baekhyun hancur dan ia sangat menginginkan sosok kecil itu sendirian. Ia dulu sangat berharap kalau Baekhyun semakin menderita. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari kalau ia keterlaluan, dan puncak permasalahan itu berujung pada kenyataan kalau Yejin dan Baekhyun adalah saudara kembar. Membuat hati Chanyeol semakin merasakan sakit waktu itu. Namun, melihat keadaan Baekhyun yang sekarang tampak lebih baik, ia sungguh lega. Chanyeol sudah berniat untuk memiliki Baekhyun sekarang. Tak ada keraguan lagi di hatinya. Ia akan memulai semuanya dari awal. Kalau pun Baekhyun menolaknya, ia akan tetap berusaha. Itulah janjinya. Ia terkekeh tanpa suara lalu mengecup pipi Baekhyun.
"I got you! Sudah aku bilang aku pasti menemukanmu, Park Baekhyun..."
.
"To be continued—"
.
Special Thanks For ::
[ oktaviarita'rosita ][ fuawaliyaah ][ DaeKim ][ Huangzi ][ fufuXOXO ][ realkkeh ][ baek'yeonra ][ ferina'refina ][ rizqibilla ][ ajib4ff ][ chanB ][ ItsChoiDesy ][ sayakanoicinoe ][ ayuluhannie ][ yesbyunbaekhee12 ][ rivern222 ][ gdtop ][ Meriska-Lim ][ nuranibyun ][ baby baekkie ][ Jonah Kim ][ miraiocha ][ vitCB9 ][ YeWon3407 ][ Bacon ExoStan ][ rizki'zelinskaya ][ indaaaaaahhh ][ rianyoktaviani ][ shantyy9411 ][ 10100Virus ][ Yo Yong ][ ChanBaekLuv ][ gracecekcok ][ XOXO KimCloud ][ rima'ristina ][ RLR14 ][ TrinCloudSparkyu ][ exindira ][ TeukTeukTeukie ][ Luhaan Gege ][ KyungMiie ][ GrenGren ][ ][ chankaish ][ Nevada Adhara ][ parkbyun0627 ][ Yeollbaekk ][ Jung Eunhee ][ Yuyuchan EXO ][ jungmarry ][ byuniebaek88 ][ HyunRa ][ Sulvss ][ soshialisasi ][ sydmooo ][ Yulie Choi ][ chanbaekshipper ][ ryanryu ][ parklili ][ Ddobi88 ][ niShiners ][ Baekhyun92 ][ chanbaekshipper2 ][ Bchan ][ Dkaixoyd ][ thia ][ Tabifangirl ][ LuBaekShipper ][ Guest ][ Minny Kpopers Fujoshi ][ pacaresmiPCY ][ byunbyunfeni ][ Dhita ][ rexs ][ lyra ][ ahra ][ unknown ][ Chanbaeklove ][ piyopoyo ][ panda'mier ][ riza'nafa'9 ][ BaekHan ][ nur991fah ][ 92jjinbts ][ prafexxx ][ cindy ][ BlueKim ][ NindyBaekYeol ][ inggit ][ stefhanny ][ EXO Love EXO ][ alysasparkyuelfshawol ][ Kheyzha ][ chby92 ][ prkbyun ][ Dororong ][ afnia2495 ][ Pcy ][ Guest ][ Kira yagami ][ aiyanijaya ][ xoxowolf ][ chenma ][ Rizkytapr29 ][ Guest 2 ][ yehet ][ KyeoKyeopta ][ SyJessi22 ][ G'No ][ zeva ][ exojr ][ HeppyERpy ][ lanarava6223 ][ audrey lovina ][ ywhkim411 ]
