Author: Rio Hikari

Disclaimer: Eyeshield 21 adalah properti milik Inagaki Riichiro dan Yusuke Murata

Rating: K sampai M…chapter ntar2…

Pairing: HiruSena

Summary: Kalau kau menemukan sesuatu, jangan membawa pulang barang yang bukan milikmu…

Sambungan balasan review!

YohNa-nyu-: Terima kasih banyak! Sama-sama, saya juga masih belajar disini...Ini salah satu cara untuk mengungkapkan kalau saya suka ES21, saya harap fans berkenan menerima...Ya, moga2 cepet lulus mabrur (penerapannya baik)..:D

Ruicchi Arisawa: Iya, saya sadar betul banyak mistypo. tidak bersahabat ma jaringan internet akhir2 ini...upload lama, mau ngedit susah. Berikutnya, kualitas cerita akan saya perbaiki terus...*ow, chap lalu dah diperbaiki typonya...*

'girl:Iya, maaf terlalu lama saya update ini. Prioritas saya kuliah dulu...hehe..Buku itu ada di GM, silakan baca sinopsisnya. Tapi benar ya, saran saya tolong diperhatikan, karena isinya cukup berat.. Saya usahakan update terus.

Ai-chan: Iya, akhirnya update...Dan kamu ganti nama lagi..:D NASA, mungkin beberapa bagian penting saya masukkan, karena ada interaksi pembangunan karakter yang penting disana..Monta emang lucu, sayang yang ngefans ma dy sedikit...XD..Untuk Canyon Hills, terakhir saya lihat ada di touchdown piranho, tapi situs itu keburu tutup karena bandwith terlalu besar. (banyak art dan dojin karangan lainnya juga.) Situs Canyon sendiri dah lama tutup(sekalian info, yang Kobato Nene tutup tanggal 24 Okt 09 lalu.)...Hm, kalau JuuSena memang saya tulis di draft, jadi pasti ada. Untuk TogaSena sepertinya susah masuk, soalnya direncanakan dia sama yang lain...Saya usahakan cepat ya...

NakamaLuna:Ah, maaf membuat menunggu lama...Doujinnya saya buat, karena saya kurang bisa membuat dalam bentuk tulisan..Adegan nanggung? Itu yang manakah? ;)...Hm, saya ga ingin buru-buru. Belum erat ikatannya...Bando masih lama, AkaSena mungkin ada. Karena dia main peran penting juga di sini...Oke!*lambai2 juga*

SoraNoRaikou:Iya, menggila rasanya. Semester tiga psikologi di sini memang sibuk-sibuknya, karena di semester depan sudah masuk penjurusan profesi (berarti nilai harus bagus untuk bisa ambil kuliah profesi yang sama)..Ga, ga pake dia. Cameo begitu manjang-manjangin tulisan..Kadar romance memang turun, soalnya ngejar plot..Oh, pasti saingan, hehee...okei!

diz PEO: Hm...saya memang pernah nulis soal itu di beberapa fic Naruto dengan rating M dan saya rasa,saya tidak saya cantumkan penjelasannya. Karena saya hanya mereview 3-4 cerita, saya punya skema kasar anda menulis yang mana...Seandainya anda berkenan membaca fic ini dengan teliti, pada chapter2 lalu, di author's note ada kejelasan kenapa saya mual pada fic dengan adegan lemon yang sudah saya tulis...Mari saya jelaskan, sebenarnya saya kesana untuk cari referensi lemon karena fandom itu memang paling banyak berkembang. Sejak awal masuk , saya terbiasa membaca lemon hanya dalam bahasa inggris. Tapi tidak dalam bahasa Indonesia, sewaktu membaca, saya merasa kesannya lebih lepas (karena bahasa ibu lebih mudah diimajinasikan)...Saya jujur bicara kalau saya mual, karena memang tidak terbiasa. Khususnya dengan lemon, saya hanya bisa menerima itu dalam bentuk doujinshi atau manga, spesifiknya lagi, saya mual dengan hentai,yuri,ecchi (yang asli,manga, maupun animasi) dan yaoi anime dan aslinya...Saya tidak marah, justru berterima kasih karena sudah mengingatkan. Seharusnya saya mengklarifikasi soal itu dengan jelas...Perihal penulisan adegan lemon, saya tidak mau sembarangan dengan kemampuan saya sekarang. Hasilnya pasti buruk.(Ini alasannya saya mencari referensi disana) Apa yang saya incar, khususnya dalam jalan cerita disini, adalah pesan pada pembaca, bahwa hubungan tersebut bukan sekedar birahi. Saya ingin, sekalipun itu sejenis, ada ikatan batin berbalas yang kadang menyamarkan logika, dan rasa menghargai ikatan itu yang ingin saya tekankan. Hal ini (dalam bentuk tulisan) baru sekali saya dapatkan, yaitu ketika membaca sastra berjudul Lelaki Terindah untuk referensi... Ah, anda junior saya toh, ya tidak apa-apa. Sama-sama belajar menulis ini kok...

Shieva: Trims untuk semua tambahan referensinya dari OVA..Script mana ?! Blon bikin sketsa nih!! Collab jgan lupa...

Hazuki: Trims dah ikut menilai cerita dan membantu mencarikan inspirasi (walau itu di tempat bekam). Collabnya ditunggu..maaf numpang ke kostan terus ya..hehehe..:D

Nana-chan: Oh, itu ya. Bukan apa-apa. Tidak ada hubungannya dengan cerita ini, jadi saya juga tidak ambil hati. Trims dukungannya.

Baka-mania: Hm..begitukah? Area broca dong...iya, gapapa, saya ga serius kok...:D Trims banyak ya...

Chey: Ah, yang nulis pangeran 4 orang itu!! Wah..bahasamu formal sekali...jadi canggung saya...haha...Oh, ya ya, memang ada beberapa orang yang mengatakan begitu perihal tanda baca dan kurang lebih sama persis seperti itu alasannya. K'Reiforizza yang bilang begitu di White Screen (fic lain)...Tapi, sebenarnya saya tidak berniat untuk membuat fic yang terlampau serius, hm tujuannya mungkin begini...serius-santai?..Karena, saya menemukan bahwa pembaca saya ternyata ada juga orang luar yang mempelajari , jadi saya buat formal. Tapi bagi pembaca dari negara asli, saya ingin mereka nyaman, tidak melihat ini seperti buku skripsi...Terima kasih saran dan dukungannya, saya akan terus perbaiki lagi...:D

Ai: um...masih berkembang..^^;

Selamat membaca!

XI

Nasa Aliens

Part 2

"Oke, dengarkan aku, kuso gaki!" Hiruma santai duduk bersandar pada kursinya. Dengan patuh para anggota tekun mendengarkan. Melihat semuanya siap, ia memulai, "Lawan kita kali ini tak seperti yang biasa. Dan mereka tak bisa dianggap remeh."

Sena menelan ludah. Dari yang didengarnya, Aliens terkenal dengan lemparan QB dan defense line mereka. Tapi, Hiruma tak peduli dengan hal itu, ia menemukan celah untuk kemenangan mereka.

Ya, keahliannya. Taktik dan strategi.

"Dan untuk hal itu, kita membutuhkan....ini." Ujarnya menunjukkan kotak kardus kecil berbentuk persegi panjang warna hijau cerah dengan tulisan merah di atasnya, ia membagi-bagikan satu bungkus untuk tiap anggota. (1)

" PRETZ ?" serempak semuanya berkomentar bingung melihat makanan ringan yang sangat mereka kenal. Kemenangan mereka terletak pada makanan? Mungkin begitu pikiran para anggota tim.

Kapten mereka hanya menyeringai melihat reaksi bingung yang sudah diprediksinya. "Ini ultra offensive defensive!" ujarnya.

Sena yang bingung tanpa sadar mulai mengemil batangan-batangan kue kering berbumbu keju tadi. Enak...

"Apa hubungannya dengan PRETZ?" Monta kini ikut bicara.

"Itu juga termasuk dalam taktik. Dalam sebulan ini, akan kujejalkan tentang semua defense pada kalian."

"Karena lawan kita adalah tim kuat yang datang dari tempat asal American Football. Pasti takkan bisa menang dengan cara yang sama selama ini." Kurita menjelaskan.

"Titik kelemahan tim itu ada pada pelatih mereka. Ia bodoh hanya menyuruh Phanter jadi pemungut bola." Senior pirang itu membuka laptopnya dan memasangkan pada proyektor.

"Phanter?" Sena menggumam tanya yang hanya dijawab seringai dari Hiruma. Ia tak tahu sebentar lagi ia akan menemukan rival lainnya dalam dunia Amefuto.

-x-x-x-

"Tak kusangka ada hal seperti itu ya? " Monta menyilangkan tangan di belakang kepalanya. "Bayangkan, makanan! Makanan lho! Kita bisa menang dari Aliens dengan itu!" Ujarnya semangat mengingat isi rapat ketika istirahat siang.

"Yah, kau tahu Hiruma-san, ia tak bisa ditebak." Sena mengangkat bahu. Ia juga agak kaget dengan cara mereka menggunakan kudapan itu dalam strategi. Tapi, karena terbiasa, ia percaya saja dan mengikuti arah permainan.

Apa yang membuatnya lebih terkejut adalah ketika ia melihat video rekaman pertandingan Aliens. Bukan para pemainnya, tapi siapa yang disebut Phanter oleh Hiruma. Pemuda jangkung berkulit hitam yang memiliki cara lari begitu ringan, begitu indah mengalir bagai air. 'Pria dengan kaki tanpa berat' itu sebutan untuk Patrick Spancer, sang Phanter hitam. //Tapi sungguh aku ingin membuktikannya di pertandingan....Kuharap ia bisa ikut bermain...// ia berdoa dalam hati.

Tapi, mengingat soal Aliens dan video, ia teringat juga dengan Hiruma. Tentu saja, terakhir kalinya mereka bicara pribadi adalah tepat ketika selesai pembuatan iklan Devil Bats. Dan itu bukan suatu yang membuatnya nyaman...

//Mungkinkah hal yang kudengar itu benar?//

"Sena?"

"Hm?"

"Kau kenapa sih? Dari kemarin lebih pendiam." Monta menyipit memerhatikan sahabatnya, apa dia sakit?

"Bukan apa-apa. Ayo cepat, nanti terlambat latihan sore." Ujarnya tersenyum sebelum berlari pergi. Dibelakangnya, Monta justru terdiam memikirkan kenapa pemuda itu memaksakan tersenyum padahal pikirannya seolah penuh dilema.

Tak ada yang tahu mengapa, tapi ada satu orang yang kemungkinan besar jadi penyebabnya. Mari memutar jam pasir kembali hingga waktu ketika Sena, Monta, dan Kotarou berpisah jalan di senja lalu....

(((1x21)))

"Dah, Sena! Aku ke arah sini ya! Persediaan pisangku habis, harus beli dulu ke toserba!" Monta melambai riang padanya.( Kotarou sudah berpisah dengan keduanya di persimpangan jalan sebelumnya.) Sena tersenyum dan balas melambai pada kawannya yang berbalik riang bersenandung tentang buah favoritnya itu.

Senja hari itu terlampau terang, tak cocok rasanya jika jarum sudah menunjukkan pukul enam. Sena mengelering langit keemasan sembari melangkah ringan dalam perjalanan pulangnya. Di tengah perjalanannya, ia rasanya punya ide untuk mengunjungi Musashi. Mungkin karena percakapannya tadi dengan Monta dan Kotarou, ada baiknya mengucapkan salam dan mungkin berbincang sedikit tentang perkembangan tim.

Tersenyum pada dirinya sendiri, ia mengangguk dan berbelok ke arah berlawanan dari rumahnya. Tak sulit untuk menemukan perusahaan pengembang Takekura, karena letaknya dekat dengan ujung jalan dimana tempat mereka memarkir mobil-mobil besar dan sarana lainnya. Perlahan mendekat, sungguh kebetulan seniornya sedang duduk mengobrol dengan rekan kerjanya. Sepertinya keduanya sehabis melakukan pembangunan proyek dilihat dari kain handuk dan sarung tangan yang masih terpakai.

"Konbanwa." Sapanya ramah. Kedua orang tadi berbalik padanya ketika mendengar sapaan yang ditujukkan pada mereka.

"Ah, Sena-kun ya?" Musashi tersenyum kecil. Jarang sekali juniornya dari tim bertandang sendirian, dia senang ada yang mengunjunginya. "Duduklah. Masih ada tempat kok. Maaf kalau penampilanku berantakan ya, kau tahu pekerjaanku."

"Tidak apa-apa, justru aku yang tak sopan berkunjung tanpa memberitahu dulu...Terima kasih." ucapnya sebelum mengambil tempat di seberang keduanya.

"Oh, siapa anak ini, Gen? Juniormu?" Pria berambut cokelat di sebelah Musahi bertanya penasaran. Musashi mengangguk mengiyakan. "Ho..bagus sekali ada teman Gen yang berkunjung selain Ryokan! Biar kuambilkan teh dan camilan dulu. Tak apa makan diluar begini ya?"

"Ah! Tak usah, maaf aku merepotkan. Yah, aku juga tak membawa apa-apa kemari...maksudku..." Sena menunduk malu menjelaskannya.

"Ahaha...anak yang manis. Jarang sekali ada pemuda sopan seperti ini sekarang, aku justru merasa harus memberimu hadiah." Candanya senang. "Tunggu camilannya ya, kalian mengobrol saja dulu." ujar pria itu sebelum masuk ke dalam gedung.

"Tidak apa-apa. Kau tidak merepotkan kami kok." Musashi menenangkan RB dihadapannya yang beraut wajah bersalah.

"Oh...te-terima kasih." angguknya dalam.

"Ya, ya. Nah, Sena-kun, kira-kira ada apa kau kemari ? Ah, ya. Aku hutang permintaan maaf karena meninggalkan klub tanpa memberikan penjelasan sendiri pada anggotaku." Kicker itu teringat.

"Oh, bukan apa-apa. Kurita-san dan Hiruma-san sudah menjelaskannya pada kami."

"Aa, begitukah? Kurasa itu bagus....Hm, bagaimana dengan keadaan kalian? Kuharap kalian tak terbebani mendapat penggantiku itu orang seperti Hiruma." Musashi berkata tenang dengan nada diplomatik. Sena yang mendengarnya merasa agak canggung karena seolah bicara dengan orang terhormat. Seniornya ini memang punya kharisma yag berbeda sehingga orang mau tak mau merendah padanya.

"Um...baik. Hiruma-san memang lebih keras dan...uh, sangat berbeda dalam cara ia melatih kami. Tapi perkembangannya sungguh baik. Kami bahkan bisa mendapatkan kesempatan bertanding dengan Nasa Aliens dari AS !" ujarnya semangat. Kicker Deimon itu tersenyum bangga, benar pilihannya untuk menyerahkan kelangsungan Devil Bats di tangan Hiruma. Tapi ada hal lain yang membuatnya khawatir...

"Hm…kau anak kelas satu pertama yang bergabung di tim. Bagaimana hubunganmu dengan senior disana? Kuharap kau tak canggung karena pada awalnya kau junior sendirian." Ia memulai. Ini sungguh bisa memakan waktu, tapi kalau tiba-tiba bisa kacau juga...

"Ah, ya. Aku kenal dengan Mamori-neechan dan Hiruma-san lebih dulu, jadi aku cukup bisa mengikuti semuanya." Jawabnya jujur.

//Aku benci basa-basi…// "Sejak kapan kau kenal Hiruma? Yang kudengar dari Kurita, kau lebih dulu mengenalnya dibandingkan yang lain. Bahkan sebelum dia pindah ke Deimon."

"Er..yah…dia, katakanlah..kenalanku…" Sena menggeliat pelan. Ia tak pandai berbohong. Teman? Dibilang benar juga tidak...dibilang salah juga..mungkin tidak..

"Hoo…kau tahu, awalnya aku merasa aneh dengan dia. Maksudku, kau lihat perawakannya, telinga runcing, mata tajam, dan taring...membuatku teringat dengan cerita-cerita tentang iblis..."

GLEK!

"…yah..memang begitu sih.." //Uwah...perasaannya tajam...mirip Shin-san...// Sena menelan ludah dengan cemas.

" Haha....yah, mana mungkin ada iblis yang terbebas begitu toh? Kudengar mereka hanya muncul dan berada di dunia jika ada manusia yang melakukan perjanjian dengannya. Ayah Kurita yang kepala kuil itu sering cerita padaku..."

//Gyaaaaa!!!.. itu yang disebut indera keenam...?// " Oh..haha..begitu? sepertinya menyeramkan…" Sena mencoba bersikap wajar. Tapi panik sekecil apapun tak luput dari seniornya yang kini berpura-pura tak tahu untuk memberinya peringatan.

"Ya..konon mereka mengadakan perjanjian pun hanya untuk diri mereka sendiri..." Kicker itu mengelus-elus dagunya seolah berpikir keras. "Yang dapat dipanggil hanyalah yang tersegel di dunia...mungkin sebabnya karena mereka melakukan sesuatu yang membuat para dewa marah. Dan maksudnya demi mereka sendiri...itu berarti justru yang melakukan kontrak yang diperalat." tambahnya lagi.

Sena terdiam mendengarkan. Hal ini baru didengarnya sekarang...."Eh? Mengapa begitu?"

//Hm…kelihatannya sudah bisa…// " Iblis…menggunakan manusia yang melakukan perjanjian dengan mereka untuk mendapatkan kebebasan mereka kembali..."

//.....Eh?....// "…Ke-kenapa harus manusia yang melakukan perjanjian itu?" Perasaannya tak enak.

"Karena suatu kondisi khusus yang konon hanya para dewa yang tahu…Dan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka." tambahnya.

"….Oh…wow…begitukah?" Ia setengah bertanya, penasaran dengan kelanjutannya.

"Ya, bahkan sang iblis sendiri tak tahu apa itu. Hanya kabar burung dari mereka yang terbebas karena manusia, lalu disampaikan pada lainnya yang juga ingin mendapatkan hal yang sama yang terdengar oleh mereka yang disegel...tapi…."

"Tapi?"

"Tapi yang sudah pasti adalah, hal itu bukan sesuatu yang bisa diusik bahkan oleh dewa sekalipun...Itu suatu keistimewaan yang hanya ada pada diri manusia..."

"Diri manusia....A-apa itu sebenarnya?" tanyanya pelan. Adrenalinnya tegang menunggu jawaban dari seniornya.

"Itulah...yang justru tak diketahui..." //Namun begitu...sekalipun mereka memperalat, hanya sedikit manusia yang bisa melepaskan mereka...//

"Oh…begitu…" Ia menenangkan dirinya. Padahal sedikit lagi…

"Ah tapi ! Itu tidak mungkin kan? Jaman modern seperti ini mana ada hal begitu ya? Hahaha...jangan dipikirkan ya?" Senior itu tertawa keras.

//Sayangnya, itu nyata terjadi padaku…// " Haha…benar juga ya? Cerita dari ayah Kurita-san seram juga…" Ia balas tertawa hampa.

"Ya, di kuil sering tertulis kisah seperti itu untuk mengajarkan kebajikan pada manusia toh? Kupikir ada makna dalam cerita itu..tapi sampai sekarang aku masih belum paham...yah, tapi itu cerita. Lebih rumit memikirkan permasalahan hidup di dunia ya?"

"Er..kurasa begitu. Karena lebih dekat dengan kenyataan, segalanya terasa lebih rumit." Jawabnya jujur.

Musashi mengangguk, "Ya,ya. Kau benar….karena kalau cerita itu nyata, maka pada malam bulan purnama, iblis akan berusaha mencari cara untuk kebebasan mereka. Jika berhasil, ketika fajar tiba, ia takkan berada di dunia manusia lagi. Namun jika gagal..mereka akan terkurung kembali…" jelasnya sembari mendongak melihat bola perak yang bersinar lembut di angkasa hitam.

//Ah...rasanya aku pernah dengar sesuatu tentang itu....//"Purnama…ya?" Sena berbisik ketika menatap selimut malam berbintang dan sang rembulan...

Terngiang pelan tak terjamah suatu memori tentang itu…

(((1x21)))

Latihan sore itu benar-benar menguras tenaga. Strategi utama yang dipakai oleh Hiruma memang bukan suatu yang mengejutkan, tapi juga beresiko. Blitz, suatu trik dimana QB dijatuhkan lebih dahulu sebelum ia berhasil melemparkan bola.

Dan bila dilihat dari ukuran tubuh rata-rata pemain utama Deimon yang memang memiliki darah Asia, tetap jauh jika dibandingkan para anggota Aliens. (Mungkin hanya Kurita dan Ha-Ha Kyoudai yang sedikitnya sama besar...). Sena dan Monta yang bertubuh mungil (berbeda dengan Komusubi yang memang dasarnya line, ia lebih kuat), kepayahan ketika berulang kali melakukan percobaan blitz pada dummy latihan.

Sena sendiri pikirannya masih terisi dengan debat dirinya dan informasi yang kemarin ia dapat. Sebenarnya, tidak salah juga kalau Hiruma memanfaatkan dia, karena dia juga melakukan hal yang sama toh? Semuanya ekivalen, atau seperti bahasa biologi, simbiosis mutualisme.

Memang jika dilihat dari niatnya, ia lebih jelas mengatakan apa yang ia inginkan. Sedangkan Hiruma? Sulit sekali menebak apa kemauannya. Apa yang ia incar, karena rasanya ia bisa memiliki segalanya dengan mudah. Tapi ia juga tak terlihat menginginkan sesuatu secara spesifik...

//Makin kupikirkan, justru makin rumit. Yah, kubuat sederhana saja. Jika ia ingin bebas dari segelnya akan kubantu, karena ia juga membantuku mengabulkan keinginanku....emh, tunggu dulu. Apa baik kalau membebaskan iblis ya?...Tapi kata Musashi-san, itu artinya mereka kembali ke tempat asalnya...//

Dia tak tahu perihal dimana para iblis tinggal, konon di dunia kegelapan dimana bertolak belakang dari tempat bercahaya para dewa. Pada musim-musim tertentu, pihak dari dunia kegelapan dan cahaya akan bertemu di tengah jembatan penghubung diantara dua sungai, membahas keseimbangan dunia mereka agar terjaga.

Sedangkan dunia manusia dikatakan tempat netral, karena iblis dari kegelapan tak bisa menuju dunia cahaya, begitupun sebaliknya. Itupun harus seijin dewa tertinggi. Jadi, jika berhubungan dengan kasus mengenai tempat hukuman maupun kaburnya penghuni dari kedua pihak, pastilah mereka dikirim ke dunia manusia.(2) Dan tanpa persetujuan sang dewa juga, mereka takkan bisa kembali. Yang kabur, dirinya akan hancur begitu menghirup udara disana dan yang dihukum akan terombang-ambing dalam ketakpastian.

//Tapi itu kan cerita....// Ya memang, namun dengan adanya bukti nyata yang begitu dekat dengannya. Rasanya ia bisa percaya hal itu.

"...kan Sena?" Ia sayup-sayup mendengar Monta bicara.

"Eh? Maaf, tadi aku melamun. Ada apa?" Ia bertanya pelan. Monta hanya memberinya pandangan simpati sebelum melanjutkan,

"Kubilang, akan lebih baik jika memperbanyak waktu latihan. Itu bisa melatih intuisi kita nanti. Ya,kan?" Ia mengulangi lagi. Sena mengangguk pelan sembari memikirkan hambatannya,

"Tapi Monta, dari rumah kita, perlu kereta untuk sampai kesini. Dan kurasa jadwalnya takkan mudah..."

"Hum..iya sih...Jauh juga ya..." Sahabatnya berpikir keras.

"Bagaimana kalau menginap di rumahku?." Kurita yang saat itu sama-sama berada dalam ruang ganti dan mendengar percakapan mereka ikut bicara.

"Eh? Rumah?"

Senior itu mengangguk, "Biasanya aku dan Komusubi mulai latihan jam dua pagi. Tapi karena rumah Komusubi jauh dari sekolah juga, makannya sebagai alternatif, ia menginap di rumahku. Coba saja hari ini, toh besok tak ada latihan. Kalian bisa mengukur jarak tempuhnya melihat situasi kondisi dulu." jelasnya riang.

Di pikiran kedua orang yang mendengarnya ada dua hal yang terbesit. Pertama, bahwa latihan jam dua dini hari itu sangat memaksakan diri dan yang kedua, jika Kurita-san tubuhnya sebesar itu, rumahnya sebesar apa?

"Oh..be-begitu?"

"Ya, um...dibilang rumah juga bukan sih..Tapi itu kuil, rumahku itu di kuil tengah kota."

Oke, itu sangat menjelaskan....

-x-x-x-

Sena menetapkan dalam hati, bahwa kuil adalah salah satu tempat favoritnya saat ini. Mengapa? Karena dengan kekkai berlapis yang dipasang di sekitarnya, tak memungkinkan roh jahat manapun untuk masuk, begitu cerita Kurita ketika mereka berjalan kesana. Itu artinya, tak mungkin ada kontak dengan hal-hal mistik seperti itu, apalagi iblis.

Pemuda itu senyum-senyum sendiri ketika berendam di ofuro kayu di dalam kuil. Ini berarti sehari penuh tanpa Hiruma ! .Karena besok ia libur dan tetap ikut menginap. Hiruma takkan mungkin menyelinap masuk ke kamarnya, berkunjung ke rumah dengan alasan ingin memberikan data dan membantunya belajar, dan apapun itu yang selalu disertai tindakan...um..menyentuhnya..

Ia membenamkan separuh wajahnya yang tersipu, berusaha untuk menenangkan dengan air. Memang benar sejak konfrontasinya yang terakhir, ia dan seniornya itu jarang sekali bertemu. Selain karena kesibukan di sekolah, ia juga selalu menghindar. Tapi, apa yang terjadi sebelum kejadian itu, lain lagi ceritanya...

//Tapi kenapa ya? Dia kelihatan senang sekali melakukannya?// Sena menatap langit-langit kayu cokelat tua yang mengeluarkan aroma relaksasi karena uap air. //Hum...tapi sepertinya ia memang punya sifat seperti itu...iblis mesum.. // Entah mengapa pikirannya justru membuatnya tambah merona.

Buru-buru ia keluar dari ofuro dan memakai kembali kemeja putih dan celana seragamnya (karena datang tanpa persiapan, jadi terpaksa pakai seragam dulu untuk malam itu. Mau pinjam pun, pakaian Kurita maupun Komusubi sudah pasti kebesaran. Tapi ia dan Monta ditawari pakaian pendeta kuil untuk tidur, namun sementara, seragam saja cukup.)

Sebagai yang terakhir keluar dari ofuro, ia tak tahu kegiatan apa yang dilakukan rekan timnya yang lain. Ia terkejut juga ketika Kurita yang berpapasan dengannya di lorong, mengajaknya ke ruang makan utnuk bergabung dengan yang lainnya. Tiba disana, Monta melambai semangat padanya,

"Uwo! Lihat ini, Sena! Sushi!" Monta menunjuk tumpukan tempat kayu yang berisi banyak makanan.

"Ehehe..ini sisa sesaji. Dari kecil aku sering dapat makanan begini, kalau banyak ,daripada basi, biasanya kuhabiskan sendiri." Kurita tersenyum riang sembari meletakkan gelas-gelas teh.

Sementara dua orang lainnya yang baru pertama kali berkunjung ke sana berbagi pikiran yang sama, //Pantas saja bisa tumbuh jadi sebesar itu...//

"Um...tapi biarpun begitu, ini terlalu banyak untuk empat orang." Sena memberi alasan.

"Yah, sisanya untuk pagi hari saja..mungkin bisa kita bawa ke sekolah? Tapi memang takkan segar sih..." Kurita mengusulkan.

"Boleh juga..." Monta mengangguk. Dan dengan persetujuan itu, mereka mulai menyantap sajian dengan sembari duduk mengelilingi di meja pendek.

"Anou, Kurita-senpai, kenapa kau tak cerita soal Musashi pada kami sih? Kemarin, sampai harus Sena yang menjelaskan..." Monta menunjuk RB Deimon di sampingnya dengan sumpit.

"Eh?! Se-Sena-kun memberitahumu?" Kurita menatap Sena lalu Monta untuk memastikan.

"Ya...kuceritakan garis besarnya. Um..maaf.." Sena menunduk pelan.

"Ah...ti-tidak apa-apa sih...hanya saja..um..mohon biarkan ia dan privasinya ini hanya sedikit yang tahu, kadang kala seseorang ingin berusaha dengan kemampuan mereka sendiri demi sesuatu yang menurut mereka berharga. Itu yang dilakukan Musashi untuk ayahnya dan perusahaan mereka. Kuharap kalian menghormati keputusannya..." Jelasnya tenang. Monta terdiam patuh sebelum mengangguk paham, Komusubi yang sepertinya sudah bisa menangkap soal apa, juga berteriak khas menyetujui.

Di tengah damainya makan malam, ada saja kejutan yang datang hari itu. Dari luar halaman kuil, terdengar kasak-kusuk seperti seorang yang berada di semak-semak, sebelum akhirnya suara seorang pemuda berteriak...

"Yeah! I found it!"

//He? Orang asing?// Keempat orang yang berada di dalam kuil saling berpandangan, sebelum buru-buru bangkit dan melihat ke luar. Siapa yang mereka temukan disana sungguh suatu kejutan besar...

"Oh! Itu Nasa Aliens!!" Monta yang pertama kali mengenali mereka.

//Ah, ada Phanter juga...// Sena menangkap satu-satunya pemuda berkulit hitam diantara para anggota tim.

Keempatnya bisa melihat reaksi yang sama yang ditunjukkan tim Aliens pada mereka, walau mungkin berbeda bahasa. Sempat kedua pihak terdiam bingung untuk berkomunikasi, sebelum beberapa anggota tim dari Nasa melongok ke dalam ruang tempat mereka sedang makan.

"Sushi?"

"Oh, hey look! There're sushi here!" Anggota lainnya menunjuk pada tumpukan tempat kayu yang masih penuh berisi makanan.

Lagi, keempat anggota Deimon berpandangan dengan satu pikiran.

//Kalau hanya berempat...tidak akan habis kan?//

-x-x-x-

Malam itu jadi pesta makan besar (dengan Kurita sebagai tuan rumah). Sedikit-sedikit mereka paham mengapa tim Aliens bisa sampai di kuil. Salah satu anggota mereka, Watt, yang menjelaskan. Rupanya ia tertarik dengan kebudayaan Jepang, walau pemahamannya seringkali salah kaprah.

Di sisi lain ruangan, Komusubi, Kurita, dan para anggota Nasa Aliens yang bertubuh besar-besar. Mengobrol dengan lancar memakai bahasa pria kuat. Sepertinya di seluruh dunia, bahasa itu sama...dan praktis sekali.

Monta memulai lomba makan dan main kartu dengan sisa anggota lainnya, ini berarti tinggal Sena yang sendirian masih belum begitu larut dalam acara makan besar dan berusaha mengendalikan diri. Sepertinya bukan hanya ia saja yang berpikir begitu, karena tak lama, Watt dan Phanter ikut duduk di sampingnya.

"So…who's the best runner? Shin or Eyeshield?" tanyanya.

Sena, yang bahasa Inggrinya merupakan salah satu subjek pelajaran yang paling lemah, mengangkat alis bingung. "Eh?"

"I..want to join NFL, so I've to be the best player, whatever it takes."

Dari nada suaranya, Sena hanya bisa menduga bahwa ia punya keinginan kuat untuk masuk tim pro."Uh...um.." Tapi, tetap saja ia butuh seorang penerjemah!

Syukurlah, tampaknya ada yang mendengar doanya, karena Watt yang sejak tadi sibuk melahap sushi, menoleh melihat keduanya."Oh, sampai lupa. Biar aku yang menjelaskan." Ujarnya dengan bahasa Jepang fasih. Sena mengangguk berterima kasih padanya.

"If I join the pro, I can earn $500.000 for each game." Ujarnya.

"Begini, nenek Phanter sangat miskin…jadi ia ingin mencari uang dari tiap pertandingan di tim pro untuk membantu kehidupan mereka." Jelas Watt.

//Oh...jadi maksudnya begitu. Dia ingin mencari uang dari game...// "Tapi…kami juga tak boleh kalah, hingga Musashi-san kembali bermain lagi. " jelasnya menerawang.

"Um..,basically he said that they can't lose because they're waiting for a friend. " Phanter yang mendengar penjelasan Watt menunduk paham dan melengkungkan senyum tipis. //Friends, huh?// Pikirnya sembari tak sadar menyentuh bandananya.

Itu, adalah alasan utama mengapa tim Nasa Aliens bisa sampai di kuil. Pelatih mereka yang tak suka pada Phanter, karena ia orang berkulit gelap, menggunakan bandannya untuk mengelap sepatu dan melemparnya keluar dari jendela bis. Tentu saja pemuda itu tak tinggal diam, ia nyaris menghajar pelatihnya, kalau tak ditahan oleh rekan timnya sendiri, Homer. Sedikit nasihat agar ia berkepala dingin cukup membuatnya sadar, tapi tetap saja, ia ingin mencari bandana yang dibuat oleh neneknya khusus untuknya.

Malam hari ketika sudah masuk jadwal tidur seluruh tim, ia mencuri celah untuk keluar dari tempat mereka menginap, dan pergi mencari bandananya. Betapa terkejutnya ia ketika ada seseorang yang berkelakar mengenai bandananya yang pasti mudah ditemukan karena bau keringatnya, orang itu QB Aliens, Homer. Dan dibelakangnya, entah sejak kapan, rekan-rekannya turut membantunya untuk mencari bandananya. Mereka memberikan kata-kata semangat dan usaha keras agar ia tak putus asa, sungguh ia bersyukur memiliki sahabat-sahabat terbaik dalam tim.

Phanter mengangguk pelan dan mengambil gelas di depannya (yang entah berisi apa.) "I think...I can understand your feelings. Here, let's toast for our dreams." Sena balas tersenyum dan mengambil gelas disampingnya. Sayang sekali, ia tak melihat kalau Homer yang setengah sadar menuangkan sesuatu di gelas itu.

"Kanpai!"

"Cheer!"

GLUK!

GHUK! UHUK!

//Uwaa! kan sake?!// Pikir Sena yang kaget karena meneguk langsung segelas, dan merasakan panas pahit alkohol tradisional itu di tenggorokannya. //Ugh...kepalaku....// Ia melirik sayu, di sudut matanya menangkap kalau semuanya juga sudah tak sadar.

Para line Nasa dan Komusubi mulai menari liar dan mematah-matahkan sumpit sambil berteriak semangat. Monta memeluk patung Buddha sembari mengeluarkan ungkapkan cinta untuk Mamori. Di sampingnya, Phanter juga tampaknya kaget tak mengira kalau gelasnya berisi alkohol. Hanya Watt dan Kurita yang kelihatannya masih memiliki sadar penuh. Sena tiba-tiba merasa malu melihat dirinya mulai mabuk.

"Ugh...tidak boleh main-main." Ia berdiri sempoyongan dan menuju beranda untuk memakai sepatunya. "Latihan…aku harus lari…" ucapnya meracau sebelum berlari keluar.

"Owwie? You wan'ta train now? Dat 'oud be cool…owkay, let's do some runnin'!" Racau Phanter yang melihat Sena berlari. Sebelum ikut melompat keluar dan menyusulnya. Keduanya tak mendengar teriakan Kurita dan Watt yang mencegah mereka pergi, tapi berikutnya teriakan itu berganti sasaran pada para pemuda mabuk yang mulai menghancurkan isi ruangan.

(((1x21)))

Hiruma Youichi sedang tidak senang di akhir minggu itu. Pertama, karena kemarin ia mendengar kalau Sena akan menginap di kuil...ya kuil sialan dengan kekkai. Ini berarti ia tak bisa makan masakan rumah dengan gratis. Kedua, ia tak bisa menjahilinya hingga pemuda itu mengeluarkan wajah cemberut dengan pipi merah. Tapi yang paling membuatnya marah adalah yang ketiga, semalam ia sama sekali tak bisa menghubungi Sena dan anggota timnya yang menginap di kuil Kurita. Bahkan Kurita yang tuan rumah itu sendiri!

Ia akhirnya menyerah, dan dengan kesal langsung pergi tidur malam itu. Pagi hari, mood-nya masih benar-benar buruk. Ia benci jika tak tahu sesuatu, itu artinya ia harus mencari info secepat mungkin, dan itu sebabnya ia memiliki buku catatan hitam yang berisi segala info.

Tapi, sekarang....Hiruma mengunyah kasar permen karetnya dan menekan tombol ponselnya. //Sebaiknya mereka ada di sana atau akan kusiksa Senin -bisanya mereka main ketika pertandingan penting semakin dekat.// pikirnya ketika menunggu telepon diangkat.

KLEK!

//Oh, yang mengangkat.//

"Moshi-moshi?" suara Kurita terdengar dari ujung sambungan.

"Gendut...Kalian kuhubungi, tapi tak satupun ada yang memberi respon. Kalian tak main-main kan?" Suaranya tenang tapi terdengar sangat kejam.

" Hii! Te-tentu saja tidak..aha-ha..ma-mana mungkin kan? Ha.."Sayang sekali, usaha mengelabui Hiruma gagal karena teriakan ayahnya dari ruang makan di sebelahnya.

"RYOKAN! Kesini kau! Berani-beraninya anak SMA minum sake! Hei, kau! Jangan lari!"

GPLAK!

"GYAAAAA!!"

PLAK!

"ADUH!!"

"OUCH!"

BRUK!

Hiruma mengangkat alis mendengar pukulan dan teriakan di belakang suara Kurita, entah mengapa, ia senang karena anggotanya sudah dihukum oleh ayah Kurita. Hm..tapi masih harus ditambah lagi nanti...

"Ho...tidak main-main eh? Lalu apa maksudnya suara di belakangmu itu?" Masih terdengar suara pukulan dan teriakan diseberang line sana.

"A..hahaha…itu..er…begini, kami makan-makan dengan para anggota Aliens, lalu mereka penasaran dengan sake...yah, jadinya begini." Dengan suara takut, Kurita akhirnya berkata jujur.

//Nasa Aliens?Ho..menarik. Yah, setidaknya jamuan dari si gendut menberikan kesan baik dari kami.// "Mana kuso chibi? Aku ingin bicara." Walaupun kesan baik, tapi tetap jangan sampai kartu as mereka bertindak diluar batas seperti anggota lainnya.

"Uh..er…Sena-kun ya?...um...Dia..aku tidak tahu."

"HAH?!" Dia merasa suaranya terdengar seperti Haha Kyoudai.

"Uh..um…Sena-kun, tampaknya mabuk juga. Tapi yang kulihat kemarin, ia tiba-tiba lari keluar kuil. Katanya harus terus latihan atau apalah..."

//Bahkan ketika mabuk, kuso chibi itu masih punya kesadaran kewajibannya..Keke..ada bahan ancaman baru....// Hiruma mengangguk sendiri. "Dan kau tidak tahu ia dimana. Begitu ya…" ia menganalisis sendiri, namun kalimat berikutnya dari Kurita yang akan membuat harinya 'sedikit' lebih berwarna.

"Ya…tapi kurasa ia membawa ponselnya, coba saja kau hubungi."

Ini pertama kalinya Hiruma menuruti saran seseorang.

-x-x-x-

Sena berjanji, bahwa seumur hidupnya, ia takkan pernah minum sake atau alkohol lagi. Rasa pahit, panas membakar, dan sakit kepala yang luar biasa setelahnya bukanlah hal yang ingin ia dapatkan dengan sengaja. Ia tak paham mengapa orang mau bermabuk-mabukan kalau itu menyakitkan pada akhirnya.

Dan hal terakhir yang benar-benar membuatnya kapok adalah ketika ia sadar dari mabuknya, dirinya yang sekarang sudah berada terkait di kerah bajunya di atas ranting pohon dimana di bawahnya adalah kandang singa.

//Haha....ini tidak lucu...Hiks....// Sena meratapi nasibnya sembari memandangi kerumunan hewan buas yang melihatnya dengan tatapan siap menerkam andaikan ia terjatuh. //Gyaa!Aku masih ingin hidup!// Ia tak sadar mengangkat kakinya ketika salah satu hewan itu mendekat.

"Aku takkan pernah minum alkohol lagi..." bisiknya parau. Ngomong-ngomong tentang mabuk, seingatnya ia bersama Phanter kemarin. //Oh! Benar juga! Siapa tahu ia bisa membantuku.// Sena dengan panik mencari-cari pemuda itu di sekitarnya.

"Oh! Itu dia..." Sena menemukan sepasang kaki berwarna hitam legam yang mengangkang ke udara, sementara sisa tubuhnya terbenam di...tempat sampah? Ternyata dia sama mabuknya dengan Sena, tapi keadaannya lebih baik daripada terkait di atas kandang singa dan bersiap untuk jadi sarapan pagi hewan karnivora itu.

"Psst....Phanter-kun! Phanter-kun! Tolong aku!" Bisiknya keras. Ketika tak mendengar respon, Sena mencoba lagi. "Phanter-kun!"

"....."

"....."

"Zzz....grk...zz..."

//Oh..bagus sekali. Dia masih tidur...// Sang syumu rasanya ingin menangis sekarang. Akhirnya mau tak mau ia harus memikirkan cara sendiri untuk keluar dari sana, //Ugh...sial. Tenang, Sena...ayo pikir bagaimana sebaiknya ya? Um...Kalau memanjat, itu tidak mungkin karena ranting ini ujungya kecil...Pasti patah lebih dulu...// Pikirnya ketika mengadah melihat tempat ia terkait. Aneh juga kenapa ia bisa sampai disana, tapi rantingnya tak patah. Hoh..ini mungkin salah satu keanehan-keanehan yang terjadi ketika mabuk...

//Seandainya patah...aku akan jatuh di tengah kawanan singa...lalu..secepat mungkin aku berlari....tapi pagarnya tinggi...jadi....// Ia masih menyusun stratergi kabur-dari-kandang-singa ketika ponselnya berdering.

TRILILIIRD!

//Oh, ya! Kan ada ponsel! Aku bisa telepon petugas...tapi nomor kebun binatang ini berapa? Oh, tapi ada layanan telepon, lalu aku minta petugas untuk kemari. Dan akupun selamat! Yay!// Soraknya dalam hati pada siapapun yang menelepon dan mengingatkannya bahwa ia membawa ponsel di saku kemeja. Ah, soal penelepon..sebaiknya ia angkat sekarang, karena sudah empat kali nada dering.

"Mo..moshi-moshi ?" sapanya pelan, takut menarik perhatian singa-singa di bawahnya.

"KUSO CHIBI ! Kau ada dimana sekarang?!"

//GYAA! Kenapa disaat seperti ini..malah...//"A..Hi-Hiruma-san...uh..um..aku.."

"KAU-A-DA-DI-MA-NA?!" Suara di seberang telepon menekan kata-katanya.

"Hii! Di..ke-kebun binatang...kurasa.." Tentu saja, memangnya dimana lagi ada kandang singa dan hewan lainnya berada di tengah kota. Orang sekaya apapun halamannya takkan terlihat seperti area wisata.

Sena menggenggam erat ponselnya ketika singa-singa dibawahnya mengaum.

"Kekeke...Ho...Kebun binatang ya? Biar kutebak, kau berada di situasi genting yang berhubungan dengan suara auman tadi ?" Hiruma terdengar senang sekali.

//Itu sudah pasti kan?!// Sena rasanya tiba-tiba ingin pergi ke toilet.

"Hei, kuso chibi..." Tak lama, QB yang meneleponnya bicara lagi. Aneh..suaranya terdengar menggema seperti....

//Apa perasaanku saja?// "Y-ya ?"

"Aku bisa menolongmu..."

"Bukan menolong namanya kalau kau meminta imbalan, Hiruma-san..." Sena menghela lelah. Ia sudah dapat menebak kearah mana pembicaraannya.

"Kekeke...kau tahu rupanya. Tapi, aku takkan meminta nyawamu lagi, tenang saja..."

" Ha..ha.." Sena tertawa kering. Tenang katanya....yang benar saja...

" Aku hanya ingin..." Gema suara itu terdengar makin jelas...seolah Hiruma berada dekat di sekitarnya...

Matanya membesar ketika melihat ada seseorang di luar pagar tempat ia tergantung di atas ranting pohon. //Ap-kenapa dia...// Sena masih menatap tak percaya, ketika bola mata tosca yang berada tepat di seberangnya, memandang lurus ke arahnya.

"...kau tinggal semalam bersamaku." Suara pemiliknya lantang terdengar jelas sekarang.

KLAP!

Ponsel yang ditutup terdengar seperti palu pengadilan bagi Sena.

(((1x21)))

Awalnya, Sena berpikir bahwa tawaran Hiruma itu sama artinya dengan keluar kandang singa, masuk ke mulut buaya. Tapi, sepertinya tak begitu buruk daripada apa yang ia temukan ketika mereka mengantarkan Phanter kembali ke kuil agar bisa pulang bersama rekan timnya.

Suara pukulan dan rintihan dari dalam kuil karena ayah Kurita sedang menghukum para pemuda yang berani mabuk di dalam kuil terdengar cukup mengerikan. Apalagi ketika mendengar bahwa mereka harus semedi di bawah air terjun. Ah...ia rasa takkan ada bedanya, tinggal semalam bersama Hiruma maupun kembali ke kuil tetap saja membuat akhir minggunya jauh dari kata tenang.

Bahkan Phanter yang mendengar suara itu dari halaman luar, memutuskan untuk kembali lebih dulu ke hotel tempat mereka menginap. Ia akan menghadapi protes teman-temannya nanti yang mungkin menganggapnya pengkhianat karena pulang lebih dulu ke hotel dan tak terkena hukuman dari amarah pendeta.

Hanya sedikit pertanyaan sebagai bahan percakapan kedua anggota Deimon dalam perjalanan menuju apartemen Hiruma, yakni bagaimana seniornya bisa menemukannya bahkan sebelum ia sendiri tahu. Dengan ringan iblis itu menjawab bahwa ia melacak dari sinyal GPS dan setelah jawaban itu, percakapan pun berakhir.

Selang sekitar lima belas menit sejak mereka meninggalkan kuil, keduanya hanya diam menikmati udara pagi yang belum tercemar menyusuri sepanjang jalan yang Sena-sendiri-tak-tahu-sekarang-ia-berada-di-mana.

"Kita kesana dulu." ujar Hiruma akhirnya.

Sena melihat ke arah mana ia menunjuk, rupanya toserba 24 jam. "Baiklah.." Ia mengangguk patuh.

KLING! KLING!

"Irrashaimase!" Suara ramah pegawai yang menyambut mereka terdengar begitu pintu terbuka.

"Hn.." Hiruma hanya menggerutu dan langsung masuk mencari barang. Membiarkan Sena yang melakukan sopan santun bermasyarakat alias membalas salam dengan senyum ramah.

"Hiruma-san, jangan bersikap begitu !" Ia menegur ketika berhasil mengejar langkah Hiruma.

"Apa peduliku? Itu tugas mereka." Iblis itu mengangkat bahu dan mulai memasukkan barang belanjaan ke dalam keranjang. Tentu saja yang pertama masuk kesana adalah permen karet tanpa gula.

Sena memutar bola matanya, memang tak mungkin mengajarkan seniornya cara berinteraksi yang benar. Tapi kali berikutnya, ia mengangkat alis ketika disodorkan keranjang belanja yang hanya berisi permen karet dan kopi kaleng. "Belanjanya hanya itu saja?" tebaknya.

"Bukan."

"Ha? Lalu?"

"Kau yang belanja. Buatkan aku sarapan,makan siang, dan makan malam karena kau menumpang di rumahku hari ini." ujarnya santai.

//Kau yang memaksaku supaya tinggal disana kan?!// Pikir Sena kesal. Jadi tugasnya itu koki pribadi ya? Seenaknya saja... "Tapi aku tak bawa uang." ia teringat.

Seniornya mengangkat sebelah alis dengan heran,"Untuk apa? Aku yang bayar kan? Kau juga ambil kebutuhanmu untuk menginap. Satukan saja belanjanya." Hiruma menjawab ringan sebelum memilih-milih camilan. Kacang pedas atau kue beras rumput laut?

Sena terdiam mendengarnya. Dia agak kaget bercampur senang dan hormat. "O..oh, baiklah. Terima kasih." jawabnya pelan. Ia mengangkat keranjang belanja mereka ketika Hiruma bergerak lagi mencari makanan lain."Uh..um...anou, kau ingin makan apa?"

"...hm...apa saja. Yang enak." Ujarnya sembari memasukkan satu sachet besar rumput laut kering.

Petunjuk yang abstrak dan umum, tapi syumu itu mengangguk paham sebelum mulai mencari-cari menu apa yang cocok untuk tiga kali makan. Tatapannya pada isi keranjang membuatnya sadar sesuatu. "Hiruma-san, kau suka rumput laut?"

"...Dan?"

"Um...bagaimana kalau makan siangnya sushi gulung? Isinya asparagus, mayonaise, ikan kering, beberapa bumbu lain, dan luarnya digulung nori." usulnya.

"....Boleh saja. Lalu apa makan paginya? Sekarang saja aku lapar." ujar QB itu sembari menambah beberapa bungkus keripik kentang ke dalam keranjang.

"Eh...sup miso saja..kurasa itu takkan makan waktu untuk dimasak...lalu..." Sena menjelaskan sembari keduanya mencari bahan makanan lain.

Aneh sekali, pagi itu mereka bisa mengobrol begitu santai. Hiruma jauh dari sikapnya yang kasar (walaupun masih ada) dan Sena lebih berani untuk bicara bebas. Mungkin ada hubungannya dengan lembut sinar matahari dan kicau burung yang memiliki efek untuk menenangkan suasana.

-x-x-x-

Sang komandan neraka tampaknya tak mau tempat tinggalnya dengan mudah diketahui orang lain, karena barusetelah melewati jalan-jalan tikus yang membingungkan (Sena tak yakin ia bisa pulang maupun pergi ke apartemen itu sendirian), mereka akhirnya sampai di gedung yang menjulang tinggi dengan desain modern.

Sesuai dugaan, apartemen miliknya sangatlah besar dan mewah. Sofa empuk berwarna cokelat muda berpadu dengan karpet hitam dibawahnya, meja kayu dengan kaca di tengahnya dan ukiran di kaki meja yang bergaya art deco melengkapi kombinasi di antara sofa dan kursi utama. Televisi flat 21"inch sengaja dipasang melekat ke tembok, memberikan kesan minimalis. Oh, yang menarik, ada kursi kacang berwarna merah tua di sudut ruang baca.

Intinya, dilihat secara umum apartemen itu lengkap dan cocok dengan sifat pemiliknya. (Ruangan-ruangan utama memiliki cat bernuansa gelap dan kombinasi futuristik minimalis dengan dominasi bahan kayu). Namun, ada satu ruang yang tampaknya jarang sekali disentuh oleh Hiruma. Sena tahu karena ruang itu bersih tak tersentuh, walau tak ada debu. Hanya tempat sampah yang menujukkan tanda bahwa ruang itu pernah dimasuki.

Ya, dapur.

Hiruma tampaknya tak suka berurusan denganhal mengolah makanan, karena yang ia temukan di dalam buffet kayu adalah banyaknya makanan kaleng dan camilan.

//Dia benar-benar bergantung pada makananku untuk menu utama...// Bola mata cokelat memandang datar isi lemari pendingin yang berisi sisa fastfood dan minuman kaleng sebelum mulai memasukkan barang belanja tadi pagi.

Untung saja dia sudang mengantisipasi hal itu dengan membeli banyak-banyak bahan makanan mentah. Tak ada yang baik jika kau selalu mengkonsumsi makanan siap saji maupun kalengan, itu buruk untuk kesehatan.

Tak lama, suara seniornya memanggil, "Kuso chibi, kalau kau sudah selesai. Cepat mandi sana. Badanmu bau sake." Hiruma meletakkan beberapa potong pakaian dan handuk untuknya di konter dapur. Sena mengangkat kepalanya dari dalam lemari pendingin dan mengangguk paham, ia sendiri merasa badannya lengket kotor.

"Terima kasih...um, dimana letak kamar mandinya?" tanyanya sembari masih memasukkan bahan makanan.

"Ruang baca, masuk ke lorong, pintu yang ada di sisi kiri. Taruh pakaianmu yang

kotor di keranjang, biar nanti petugas laundry yang membereskan. " jelasnya bosan.

TRULULUULUD!

Kedua pemuda itu menoleh ke arah suara telepon yang berdering lembut. Hiruma

mengerutkan dahi ketika mendengarnya.

"Kalau mencariku, aku ada di ruang tengah." Katanya singkat sebelum berbalik

untuk menjawab panggilan telepon tadi.

"Oh...ba-baiklah." Selesai menata barang belanja, buru-buru ia pergi ke tempat

yang ditunjukkan seniornya. Seharusnya ia tak terkejut...tapi tidak setiap hari kau bisa masuk ke apartemen mewah dengan kamar mandi super lengkap. Hiruma bahkan punya jacuzzi yang menghadap televisi kecil !

//Gila...bagaimana caranya bisa mendapatkan ini semua? Kalaupun pakai buku hitam itu...ancaman apa yang ia pakai?// Pikirnya sembari menanggalkan seragamnya dan melilitkan handuk kecil di pinggang. //Yah...mumpung aku disini...dinikmati saja!// Senyumnya pada diri sendiri sebelum berlari mendekati bathtub dan mencoba macam-macam alat mandi disana.

Di sisi lain ruangan, seniornya memandang tajam pada pantulan dirinya sendiri di kaca. Suara kecil di seberang telepon mungkin menjadi mengapa ia menyeringai lebar...

"Sudah kutemukan."

-x-x-x-

//Segarnya!!// Pemuda mungil itu memejamkan erat matanya dengan senang ketika mengeringkan rambutnya dengan handuk. Berendam di air hangat dengan efek pijatan dan sabun aroma terapi, benar-benar bisa membuatmu rileks dalam sekejap. Sena mengambil pakaian yang tadi diberikan Hiruma padanya, tentu saja ada pakaian dalam, tapi....matanya membesar melihat apa yang ada di tangannya. Kemeja putih tanpa lengan sepanjang pinggul dan kupnat di belakangnya...serta.. //Sho...short pants?! Tunggu dulu...ini kan pakaian...wanita ?!// Yah, tapi ia tak punya waktu untuk berteriak protes tanpa memakai apa-apa. Setidaknya ia harus berpakaian tertutup dulu, bayangkan apa jadinya kalau Hiruma mendapatinya menolak memakai pakaian tadi dan hanya memilih selembar handuk.

Pipi mungil bersemu kemerahan ketika pikiran itu terlintas. Ia menggelengkan kepalanya keras sebelum dengan perasaan malu, buru-buru memakai pakaian yang sudah disediakan. Nanti ia akan meminta yang lebih...wajar.

Keluar dari kamar mandi, ia menuju ke ruang tengah, tempat dimana tadi seniornya berkata bahwa ia akan menunggu disana. Ruang tengah hanya berbeda satu lorong dengan kamar mandi utama yang dipakai Sena, tempat yang jejak kehidupannya paling berasa jelas karena seringnya Hiruma menghabiskan waktu disana. Atau dengan kata lain, cukup berantakan karena susunan bantal sofa yang tak beraturan, majalah, kertas, serta video rekaman berserakan tak pada tempatnya. Sena mengerutkan dahi melihat pemandangan di depannya, ia tak suka tempat berantakan, masa bodoh dengan siapa pemiliknya. //Nanti akan kurapikan...//

"Kau sudah selesai ?" Suara tenor seniornya membuatnya menoleh, pemuda pirang itu baru saja membuka kaleng cola dingin di tangannya. Ia mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai tipis ketika melihat Sena, "Hoo...Benar dugaanku. Kau cocok memakai itu. Heh, ada untungnya juga tempat ini ditinggali orang lain sewaktu aku tidak ada." Ia berkomentar sembari menyeruput soda tanpa melepaskan pandangannya pada sang syumu.

Tentu saja objek yang dilihatnya berubah merah padam...um, merah tomat tepatnya. "Kau sengaja kan? Berikan aku pakaian yang normal saja kenapa sih? Atau setidaknya aku bisa pinjam punyamu...Dan jangan menatapku seperti itu." Sena mengatakannya dalam satu napas dengan perasaan kesal.

"Tidak." jawab lawan bicaranya otomatis.

"Apa? Kena-"

"Kau boleh pilih, pakai pakaian yang kutemukan dan sudah capek-capek kucari itu. Atau memakai punyaku yang terlalu besar, yang aku yakin kemejaku saja bisa sekaligus jadi celana untukmu." Iblis itu dengan santai menjelaskan alasannya.

//Dia pasti sudah merencanakan ini semua...// Sena memejamkan matanya dengan kesal. Kedua pilihan tadi pada akhirnya sama saja, sebenarnya ia lebih memilih memakai seragamnya lagi saja, tapi berhubung sudah dua hari dua malam dipakai terus menerus dan sekarang sudah masuk ke dalam keranjang cuci....

"Terserahlah!" bentaknya mengalah. Ia tak perlu melihat seniornya yang kini menyeringai tipis kemenangan.

" Nah...sarapanku bagaimana?" tanya Hiruma pendek tanpa merasa berdosa.

//Agh! Dia ini benar-benar....//

"Iya...iya..kubuatkan..." Sena dengan langkah kesal pergi menuju dapur, ia tak mendengar Hiruma yang bersiul pelan sewaktu melihat sosoknya dari belakang.

"Phew...tubuh yang indah...dia benar-benar cocok dengan kaki emas itu." Komentarnya tak sadar sebelum melangkah ringan menyusul pemuda tadi.

-x-x-x-

"...."

TEK!

"...."

TEK!

"Hiruma-san."

TEK!

"Hm?"

"Bisakah kau hentikan itu?"

"Apa?"

DRAK!

"Berhenti menatapku seperti itu!" Sena menaruh keras pisau yang ia gunakan pada talenan dan berbalik pada senior yang sedang duduk tenang dengan tangan diatas meja membentuk jembatan, dagu yang ditaruh diantara jalinan jemarinya menandakan ia serius. Bola mata hijau menatap lurus pada pemuda yang berada di depannya yang melanjutkan lagi, " Aku...merasa tak nyaman...jadi...tolonglah.."

Alis runcing terangkat sebelah ketika mendengar tambahan tadi, ia tersenyum tipis."Ah...begitu? Yah...bagaimanapun juga, dalam wujudku sekarang maupun usiaku yang asli, aku tetaplah termasuk kategori remaja..." ia beralasan. Mendengar ini, Sena memutar bola matanya dengan sebal.

Tapi, Hiruma belum selesai, "...sebagai pemuda yang sehat, bukan salahku kalau aku merasa ingin terus melihatmu yang sedang memasak dan memakai celemek."

"APANYA YANG SEHAT?!"

"Hormonku."

"Grrh...." Pemuda mungil itu menggeram kesal sebelum mengambil pisaunya lagi dan melampiaskan emosinya pada ayam mentah yang jadi bahan makanan hari itu.

TEK! TEK! TEK! TEK! DAK!

SREK!

TEK! TEK! TEK! TEK!

"Heh...ternyata bukan hanya larimu, tapi memasakpun bisa dengan kecepatan cahaya...hebat sekali." Iblis dibelakangnya berdecak kagum tanpa tahu alasan sebenarnya Sena memasak seperti itu.

PRUK! PRUK!

TREK!

" Fyuh..." Sena menghela pelan ketika memasukkan bahan terakhir. //Sekarang tinggal menunggu sampai semuanya matang.// pikirnya ketika mencicipi kuah miso. Sudah pas...

"Aku tak mengerti kalian." Hiruma bicara lagi.

"Hah?" Sena berbalik dan menatap bingung.

"Kalian,manusia...sedetik tadi kau marah padaku, detik berikutnya kau tersenyum. Kalian cepat sekali berubah-ubah." Jari telunjuk ramping pemuda pirang itu menunjuk Sena ketika ia bicara.

Pemuda satunya hanya mengangkat bahu. "Wajar saja kan? Manusia memiliki emosi..." Jawabnya sembari mengaduk sup lagi dan mengecek ikan bakar.

"Emosi...kadang kulihat kalian rela bekerja keras demi sesuatu, seperti impianmu untuk Christmas Bowl...apa itu juga sama?" Iblis itu menatap kosong gelas berisi teh didepannya.

Sena menggeleng tanpa berbalik menghadap seniornya, "Bukan, itu hasrat."

"Hm...hasrat...lalu, jika kalian begitu bersedia melakukan apa saja demi apa yang kalian percaya itu benar ?"

"Kurasa...kesetiaan." Ada apa dengan pertanyaan-pertanyaan ini?

"Dan....jika kalian begitu menerima seseorang tanpa memandang posisi,harta,maupun perawakannya...bersedia untuk memahami mereka dan menunggu agar mereka melakukan hal yang sama dengan sabar...itu apa?" Ujarnya pelan.

Kali ini Sena terdiam. Deskripsi sejelas itu tapi Hiruma tak tahu? Rasanya banyak tertulis di buku maupun literatur-literatur lainnya. Dahinya berkerut berpikir sembari mematikan api kompor dan mulai mengambil masakan yang sudah matang untuk ditata.

Tak sabar mendengar jawabannya, ia mendengar seniornya menekan, " Kuso chibi..."

TEK! TEP!

//Oke, sarapannya sudah siap...// Ia melepas celemek, lalu mengambil kursi yang tepat berada di seberang Hiruma. "Um...a-aku tak tahu dengan jelas...karena belum pernah merasa seperti itu sebelumnya. Ta-tapi, orang sering bilang kalau itu yang disebut...cinta." jawabnya ragu.

"Begitu? "

"Uh...kurasa begitu. Er...Hiruma-san pernah mengalaminya? Maksudku, karena sejak tadi kau mendeskripsikan dengan detail..."

"Yang benar saja, itu mana mungkin. Aku tahu ketika mencari bahan untuk buku catatanku." seniornya itu mengambil sumpit dan mulai mencomot daging ikan.

"Eh?"

" Yah, itu lebih baik, dari yang kulihat, hal-hal itu selalu berakhir menyedihkan." Ujarnya lagi.

"Begitukah?" Sena mengerutkan alis. Ia teringat percakapannya yang lalu dengan Musashi,

"Itu suatu keistimewaan yang hanya ada pada diri manusia... "

"A-anou...Hiruma-san?" Ia memulai.

"Hmf?" Tanggap seniornya, masih dengan mulut penuh makanan.

"A...um...begini, aku dengar kalau...sebenarnya, iblis yang dikurung...berusaha untuk bebas dan kembali ke dunianya…Uh…i-itu benar ?" tanyanya takut-takut.

Lawan bicara di seberangnya terdiam dan menurunkan sumpit kayu dari mulutnya. "Siapa yang memberitahumu soal itu? "

" Ah..." Sena menggigit bibir bawahnya ragu. Tak mungkin memberitahu kan?

Tapi Hiruma tak repot memaksanya bicara, karena berikutnya ia berkata, "Oh...dia ya..."

"Eh?! Ka-kau tahu siapa?" Kini RB itu justru terkejut.

"Kuso Jiji...Musashi kan?" Tebaknya santai. Ia tahu betul kalau mengingat kemana saja Sena selama seminggu belakangan ini. Dan kalau kembali lagi waktu pertama kali ia dan Musashi bertemu, rasanya tak aneh kalau kicker itu ikut campur urusannya. //Dia juga bilang akan membantuku....apa ini salah satunya ?//

"Um..." Sena mengangguk pelan. " Kau..tidak akan berbuat hal buruk padanya kan?" tanyanya cemas. Hiruma terdiam sejenak sebelum menjawab,

"....Sekalipun aku mau, aku tak bisa." ujarnya lalu melanjutkan makan.

"Eh?"

"Dia....kasusnya berbeda."

//Berbeda ?// "Oh..begitu."

"Lalu, ia bilang apa lagi ?"

"Aa...yah, sebenarnya Musashi-san menceritakan hal yang didengarnya dari ayah Kurita-san...emh, kalau kau sebenarnya membutuhkan manusia untuk membantumu bebas. Dan manusia itu...yang melepaskanmu ke dunia..." jelasnya pelan sembari mencuri pandang pada seniornya. Dilihatnya Hiruma menyipitkan matanya kesal.

//Tch...Dia itu tahu seberapa banyak ? Itu kan hal khusus yang hanya diketahui olehku dan kakek tua sialan..Dan kuso tokage juga sepertinya..// lamunnya sebal. "Yah...kalau itu benar. Lalu kau mau apa ?"

" A..um..ka-kalau ada hal yang bisa kubantu..."

"Ha?"

"Ma-maksudku ! Hiruma-san sudah mengabulkan keinginan terbesarku..dan kurasa...sekalipun selama ini kau berkata akan memperalatku, menurutku...kau sama sekali tak melakukan itu. Jadi..."

//Kekeke...Astaga..polos...polos sekali anak ini....// Hiruma tertawa dalam hati. Tapi pemuda mungil itu bisa jadi kesempatan terakhirnya, entah ia harus menunggu berapa lama lagi untuk seorang berdarah murni yang bisa melepaskan segelnya.

"Um..Hi-Hiruma..san?" Bola mata karamel menatap gerak-geriknya seksama.

HAP!

Satu suapan terakhir sebelum seniornya meneguk teh dan menyudahi sarapan. Ia masih belum menanggapi tawaran Sena.

DRITT!

Hanya decit kursi dan langkah pendek serta dentingan keramik di bak cuci di belakangnya yang mengisi jeda keheningan seusai percakapan tadi. Sena sendiri mengunyah pelan sarapannya, tapi perutnya tak enak karena cemas menunggu tanggapan kata-katanya tadi. //Ah..apa aku salah bicara?//

"...Kuso chibi..."

"Hm?" Gumamnya ketika menelan makanannya. Ia menunggu kelanjutan kalimat tadi.

Hiruma berbalik dari bak cuci, berjalan ke arahnya sebelum meletakkan tangan di atas meja di sisi kiri tangannya yang memegang kini memegang mangkuk sup. Ia menatapnya lurus, "Kau memegang kata-katamu itu kan?"

Sena memutar bola matanya ragu. Atas, bawah kiri, sisi kanan, sebelum ragu megadah dan menjawab. " I-iya..."

Bola mata tosca sejenak masih lurus menatap ke dalam matanya sebelum jari ramping pemiliknya terangkat pelan ke wajahnya.

Running back Deimon itu memejamkan kuat matanya, karena biasanya setelah ini Hiruma akan...

SET!

//Eh?.//

Sena membuka matanya cepat, tadi hanya ada sentuhan jari di wajahnya. Bukan apa yang ia perkirakan akan terjadi...

"Ada nasi yang menempel di pipimu." Pemuda mungil itu melihat seniornya menjilat nasi di ujung ibu jari dengan cuek.

"Te-terima kasih..." Pipinya bersemu merah ketika mengucapkan itu. Bisa-bisanya ia berpikir kalau seniornya akan menciumnya matanya membesar ketika sadar, //Tu-tunggu dulu...bukannya itu berarti aku mulai terbiasa ?!//

"Hm....kau aneh..."

Sena buru-buru fokus kembali. "Ap-apa?"

" Manusia lain yang melepaskanku...belum pernah ada satupun dari mereka yang menawarkan untuk membantuku bebas dari belenggu yang mengikatku di dunia kalian." ujarnya memandang kosong jemarinya yang tadi.

Syumu dihadapannya menaruh mangkuk sup perlahan di atas meja, ada perasaan aneh ketika mendengar fakta tadi."A...begitukah?" gumamnya.

"...ada satu orang...tapi..." Iblis itu terdiam lagi, memainkan jarinya tak sadar ketika ia sibuk berpikir.

"....Kuso chibi." panggilnya pelan.

" Ya ? " Sena menoleh. "Hiruma....san...?" tanyanya berbisik ketika seniornya lagi-lagi hanya diam dan menatap lurus padanya.

Tak tahu siapa yang memulai maupun memberi stimuli, tapi kelopak mata keduanya pelan mengatup. Saling mendekat tanpa berada dibawah tekanan dan paksaan namun ada perasaan ragu.

Lembut...kali itu lembut...dengan tempo pelan...bahkan salah satu tangan ramping membelai sayang leher jenjang pemuda yang lebih mungil. Rasanya berbeda tak seperti yang sebelumnya, kali itu benar-benar terasa...murni.

Tak teralalu lama, tak juga terlalu pendek. Satu kata mungkin yang bisa melukiskan keseluruhan gesture tadi.

Sempurna.

Dan ketika kelopak terbuka, hijau tosca dan karamel keemasan beradu beberapa saat, kebingungan akan situasi dengan jelas terpantul di dalamnya. Diantara mereka, pemuda pirang yang lebih dahulu mengalihkan pandangannya, menegakkan badan, lalu memberi jarak diantara keduanya.

"Cepat selesaikan sarapanmu, lalu pergi ke ruang baca. Otakmu perlu kujejali lagi pelajaran tentang football sebelum meghadapi Aliens nanti." ujarnya tenang dengan memunggungi Sena ketika berada di dekat panel dapur sebelum akhirnya dengan langkah cepat, quarterback pirang itu segera meninggalkan dapur dan menuju ruang baca.

TAP! TEP!

Hiruma Youichi baru kali ini tak mengerti kenapa tubuhnya seolah bergerak sendiri. Andai ada seseorang bersamanya, pasti mereka bisa mendengar ia menggumam dengan nada setengah kesal setengahnya lagi mungkin...cemas. Dan gumaman itu dengan jelas terdengar seperti..."Apa yang kulakukan tadi ?"

Sementara di sisi ruangan lainnya, Kobayakawa Sena menggenggam sumpitnya tak nyaman. Pipi mungilnya bersemu manis dan ia menggigit cemas bibir bawahnya.

THUD!

Suara tumpul ketika ia merebahkan kepalanya di atas meja makan dan menghadap ke salah satu sisi,menatap lamun pada pola berulang kertas dinding. Kali ini tak seperti biasanya, ada perasaan sesak yang membuatnya sulit bernapas dan lambungnya terasa geli hingga rasanya sulit untuk menelan makanan lagi.

Tapi ia tahu persis bahwa dirinya sehat sekalipun semalaman berada diluar ruangan dan perasaan tadi bukanlah sesuatu yang tidak menyenangkan. Walau aneh, namun ada rasa hangat...apa itu berarti ia senang?

"Aku kenapa sih?...." bisiknya pada ruang bisu.

TBC...

Miryeon obshi baro

Nohreul sontaekhaeseo

Keurae nan neorago...

(3)

(((1x21)))

A/N:

(1) Kebetulan tante saya dan keluarganya yang di Jepang ngasih oleh-oleh PRETZ..Enak juga, mirip2 rasa biskuit AIM yang jagung bakar itu...Cuma terlalu sedikit!!! Ga kenyang!! XD

(2) Pernah baca Wish dari Clamp? Nah..itu referensinya…

(3) It's You – Super Junior

Chapter terpanjang yang saya tulis *dan bikin deg2an sendiri*. Delay karena tugas observasi, bolak balik mati lampu, sekring putus, dan jaringan net bermusuhan dengan saya... MAAF YA!! T^T

Komentar dan reviewnya ditunggu…:D

H.R