The Devils Beside Me

Chapter 14 : Don't You Understand?

.

.

Summary : Ichigo menghela nafas. Pilihan ini sangat berat baginya. Dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi Rukia, namun dia juga puya kewajiban pda kerajaan dan kakeknya. "Baiklah... Tapi kalau sampai aku merasakan perubahan reiatsunya sedikit saja, aku akan langsung pergi mencarinya!"

.

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : AU, Typo, rada OOC juga.. hmm.. apa lagi ya..? don't like don't read lah.. hehehe


Sebenarnya Rukia ragu akan langkah yang sedang diambilnya tapi saat ini hanya itulah yang ada di pikirannya. Kegalauan terpancar dari mata violetnya, nafasnya putus-putus, namun dia tetap mempercepat larinya menyusuri halaman belakang istana, menuju satu bangunan yang berdiri megah di pinggir halaman yang luas itu. Kediaman Byakuya.

Mata violetnya membulat ketika menangkap sosok yang dicarinya melintas diantara jendela di dalam mansion. Dipercepat ayunan kakinya, 'Aku harus mencapainya sebelum dia keluar mansion!' Pikir Rukia.

Dan benar saja, tepat saat Byakuya berjalan keluar pintu mansionnya, gadis itu menghadangnya, menghalangi kaki Byakuya melangkah lebih jauh lagi.

"…" Byakuya nampak terkejut, alisnya terangkat sesaat. Namun pangeran itu bisa segera mengendalikan sikapnya. "Mau apa?" Ujarnya datar.

"Aku tidak akan membiarkan ini..." Kata Rukia terengah, sambil tetap berusaha berdiri tegak menatap mata kelabu di hadapannya.

"Maksudmu?"

"Aku tidak akan membiarkan pertarungan terakhir itu terjadi!" Tanpa disadarinya, suara Rukia meninggi. Teriakannya membuat beberapa pengawal dan pelayan menoleh ke arah mereka, tapi segera menyibukkan diri dengan aktivitasnya karena Byakuya memancarkan tatapan sedingin es.

"Aku tidak akan membiarkan kalian bertarung." Nada bicara Rukia telah kembali normal, tapi kalimat yang dilontarkannya terdengar tegas dan kaku.

Byakuya memandang mata violet di hadapannya, dia bisa melihat keteguhan pada diri gadis itu. Keteguhan yang tak biasa. Lalu dialihkannya pandangan ke tangan Rukia yang sedari tadi terkepal. Kentara sekali bahwa Rukia membulatkan seluruh tekad untuk mencarinya ke sini.

"Kenapa tidak kau katakan itu pada kedua bocah itu?" Byakuya buka suara.

"Dari awal... Dari awal mereka memang tidak berniat bertarung denganmu..." Sahut Rukia.

"Kau harap aku percaya?" Tanya Byakuya dengan nada skeptis.

Rukia yang mulai bisa mengendalikan diri melepas kepalan tangannya, kemudia menyilangkan kedua lengannya di dada. "Kalau mereka memang ingin membunuhmu, bukankah lebih logis jika mereka menyerap kekuatannku daripada membiarkanku bebas?"

Byakuya tampak agak terkejut dengan jawaban yang tidak diduganya akan keluar dari mulut Rukia. "Mungkin itu lebih karena mereka kalah darimu?" Dia mengelak dengan cerdas.

Kali ini Rukia yang kehilangan kata-kata. Dugaan Byakuya tepat mengenai sasaran. Rukia meremas lengannya sendiri, berusaha mencari padanan yang tepat untuk mengugkapkan pikiran dan hatinya. "Lalu menurutmu untuk apa mereka membawaku ke sini?" Gadis violet itu menyerah pada otaknya. Berusaha meyakini intuisinya untuk mencari tau apa yang ada dalam pikiran sang pangeran alih-alih mencekokinya dengan berbagai pembenaran atas tingkah kedua supupunya.

"Menyuruhmu membunuhku? Tapi aku rasa itu tidak akan berhasil." Ada suatu kilatan dalam mata Byakuya yang membuat Rukia tidak nyaman.

"Yang jelas bukan itu." Sahut Rukia cepat. Dia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut sementara waktu yang mereka punya tidak tersisa banyak. "Mereka mengharapkan kau kembali menjadi dirimu, Byakuya..."

"Ini memang aku." Pangkas Byakuya dingin. "Aku tidak pernah merasa tidak menjadi diriku."

"Byakuya yang bersekongkol dengan penghianat, menyakiti kakeknya dan menciptakan peperangan di negaranya sendiri bukanlah kakak yang dikenal oleh Ichigo dan Renji."

"Mereka bilang begitu padamu?" Byakuya menatap Rukia dengan pandangan mengejek.

"Mereka tidak bilang..." Sahut Rukia tenang. "Tapi aku melihatnya dari mata mereka." Rukia membiarkan keheningan merambati teras mansion itu sebelum akhirnya dia melanjutkan ucapannya dengan hati-hati, "Dan aku juga melihatnya di matamu. Kau tidak nyaman menjadi yang bukan dirimu."

"Kau..." Ekspresi Byakuya mengeras, "Lancang sekali kau bicara. Kau bahkan tidak tau apa-apa!"

"Masih ada waktu, Byakuya." Rukia menarik nafas panjang, "Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya."

Byakuya terdiam sejenak, lalu memalingkan wajahnya, "Tidak." Ucapnya dalam nada yang aneh. "Semua sudah terlanjur. Semua harus diselesaikan sekarang juga."

"Tidak!" Rukia mencegkram lengan Byakuya yang hendak meninggalkan teras mansion, "Kau harus menghentikan ini sekarang! Sebelum terlambat! Sebelum kau menyesalinya lebih dalam!"

"Berhentilah bersikap seakan kau paling tau perasaanku!" Kata-kata dingin Byakuya seolah menghujam Rukia tepat di jantungnya.

Rukia hanya diam gemetar saat Byakuya menarik lengannya dengan kasar, membuat cengkraman Rukia terlepas. Tanpa menoleh, pangeran itu berjalan meninggalkan gadis yang berkaca-kaca di belakangnya.

"Berhenti..." Ucap Rukia bergetar. Dia menyeka air mata yang hampir meluncur dari pelupuknya. "Berhentilah bersikap seolah orag lain tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan, Byakuya!" Teriakan Rukia rupanya mampu membuat sang pangeran menghentikan langkahnya, tapi dia tetap tidak bergeming di tempatnya berdiri. Tidak menoleh, atau pun sekedar melirik gadis itu.

Sementara di belakangnya, Rukia mati-matian berusaha menahan gejolak perasaannya. Dia memeluk lengan atasnya, mencengkramnya kuat-kuat, seolah dengan begitu dia bisa meredam detak jantungnya yang abnormal.

"Berhentilah bersikap seakan kau yang paling mengerti..." Suara Rukia bergetar. "Berhenti bersikap seakan tidak ada yang memahami perasaanmu... Berhentilah bersikap kalau hanya kau yang pernah merasakan rasa sakit itu!"

"Kau tidak mengerti..." Ujar Byakuya pelan, tapi kata-katanya masih bisa didengar oleh Rukia.

"Mungkin aku memang tidak sepenuhnya mengerti!" Rukia kehilangan kendali dirinya, "Tapi aku juga pernah merasakan itu! Aku juga pernah terpuruk di dalamnya! Makanya ak tidak mau ada yang menderita seperti itu lagi. Tidak kau! Tidak juga Ichigo atau pun Renji!" Teriaknya. "Aku tidak mau kalian merasakan penyesalan lebih dalam lagi!"

Byakuya hanya menoleh sekilas, sebelum akhirnnya dia melangkah pergi, meninggalkan Rukia yang terhuyung dan jatuh terduduk di lantai.

"Kenapa dia tidak mau mengerti?" Bisiknya lirih.

"Ini terlalu jauh..." Byakuya bicara dalam bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri, sambil terus berjalan menjauhi mansionnya. "Sudah terlanjur begini, selesaikan saja sekalian."

Sementara itu, Rukia dan Byakuya tidak menyadari ada yang memperhatikan mereka sejak tadi...

"Kelinci kecil..." Sosok yang terlindung keteduhan pepohonan itu tersenyum lebar, "Rupanya kau yang datang sendiri..." Katanya sebelum berbalik dan meninggalkan tempat persembunyiannya.


"Nona!" Sebuah suara mengejutkan Rukia yang masih terduduk di posisinya semula, di lantai teras mansion Byakuya. Air matanya memang sudah mengering, tapi dia enggan beranjak, berbagai pikiran dan emosi masih berkecamuk dalam dirinya. Dia tidak peduli setan-setan yyang lewat memandangnya dengan tatapan heran. Bahkan saat mendengar panggilan sesorang, dia hanya menengadah sekilas untuk melihat siapa yang memanggilnya. Enam orang pengawal menghampirinya tergesa-gesa, kemudian langsung berlutut begitu tiba di depannya.

"Nona, Ichigo-sama memerintahkan kami untuk menjemput anda." Kata salah satu dari mereka.

'Ah iya. Aku kabur begitu saja tadi. Ichigo pasti bingung karena tidak bisa menemukanku.' Pikir Rukia. "Iya. Baiklah." Kata Rukia seraya tersenyum dan bangun dari duduknya.

"Lewat sini, nona." Keenam pengawal itu memandu Rukia berjalan menyusuri taman dan jalan setapak.


"Midget itu dimana sih?" Kesal Ichigo sambil mengetuk-ngetukkan sendok di piringnya yang kosong. Dirinya dan Renji sudah selesai sarapan, tapi mereka masih duduk di meja makan, menunggu kemunculan Rukia.

"Mungkin dia masih tidur?" Tanya Renji seraya mendorong cangkirnya ke tengah meja, matanya masih terpaku pada koridor yang menghubungkan ruang makan dan kamar tamu. "Sebaiknya kusuruh pelayan membangunkan dia..."

"Kau ingat saat Unohana-san memanggil kita utuk sarapan? Katanya waktu itu Rukia sudah bangun." Ichigo masih mengetuk-ngetukan sendoknya dengan gelisah. "Sebaiknya aku cek ke kamarnya..."

"Aku ikut!" Renji cepat-cepat berdiri menyusul Ichigo yang sudah melangkah terburu-buru.

"Cepatlah Renji!" Seru Ichigo tidak sabaran. Kecemasan terdengar jelas dalam suaranya.

di epan kamar Rukia...

TOK... TOK... Ichigo mengetuk pintu Rukia dengan kasar karena tidak mendapat jawaban dari dalam.

"Ah sudahlah, langsung masuk saja!" Ichigo sudah membuka pintu kamar bahkan sebelum mendapat persetujuan kakaknya.

"Hei!" Seru Renji, "Tidak sopan tau!"

"Aku tidak peduli!" Ichigo menghambur masuk ke kamar Rukia yang lengang. "Rukia?" Panggilnya, tapi tidak ada suara lembut yang menjawab.

"Rukia?" Renji membuka selimut tebal yang menutupi tempat tidur, berharap sebuah kepala akan menyembul dan mengatakan 'Kejutan!'. Tapi ternyata dia tidak menemukan apa pun di sana.

"Ini pakaiannya kan?" Ichigo mengangkat kimono hitam dan haori bermotif bulan sabit yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu mendekatkan ke wajahnya. "Ini yang dia pakai kemarin..."

"Darimana kau tau?" Tanya Renji heran.

"Bau badannya masih menempel..." Sahut Ichigo kalem.

"Hah?" Renji berjengit, kemudian seketika dia tersenyum nakal. "Bagaimana sih bau tubuh Rukia?" Katanya sambil menjambret kimono dan haori di tangan adiknya.

"Hm... Seperti atmosfir yang beku... Bau musim dingin yang menyegarkan..." Kata Renji sambil mengendus-endus kimono itu.

"Jangan kurang ajar ya!" Hardik Ichigo sambil merebut kembali kimono itu dari tangan Renji.

Renji berdecak kesal. Tapi ekspresinya berubah geli ketika melihat wajah adiknya memerah sambil memeluk kimono dan haori itu. "Hei! Kau yang melakukannya duluan!"

"Cepat cari lagi!" Ichigo berbalik, berjalan menuju lemari, untuk mengamankan pakaian dan aroma Rukia dari hidung Renji.

'Oi Rukia?" Renji tiarap di lantai seraya menyingkap seprei, mengintip ke kolong tempat tidur.

"Bodoh!" Ichigo menendang bokong Renji saking kesalnya. "Apa yang kau lakukan?"

"Kau yang tolol!" Renji bersungut sambil mengusap bokongnya, "Aku mencari Rukia! Memangnya apa lagi?"

"Mana mungkin ada di sana kan, baka!" Sembur Ichigo.

"Siapa tau kan... Tidak ada salahnya mencoba!" Renji membela diri.

"Babon bodoh..." Umpat Ichigo sambil membuka lemari dan meletakkan pakaian Rukia di dalamnya. "Eh?" Serunya agak keras.

"Apa?" Omel Renji, "Dia ada di dalam lemari?"

"Bukan! Pakaian gantinya hilang!" Kata Ichigo dengan linglung.

"Ya jelas saja! Kau tidak mengharapkan dia berkeliaran di Las Noches tanpa busana kan?"

Blush! Wajah Ichigo langsung panas mendengar celotehan Renji. "Mak-maksudku bukan begitu!" Dia lalu merjalan ke kamar mandi dan membuka pintunya. Bau sabun masih samar-samar terasa di ruangan itu. "Kalau pakaian gantinya hilang, berarti dia sudah mandi dan ganti baju lalu pergi ke suatu tempat kan?"

Renji mengangkat bahu, "Mungkin... Apa sebaiknya kita tidak tanya Unohana-san saja? Tadi kau bilang dia yang mengatakan Rukia sudah bangun, berarti dia sempat melihat Rukia kan?"

"Iya benar juga!" Seru Ichigo seraya menghambur berlari keluar.

"Jeruk bodoh!" Maki Renji, "Tunggu!"


Sementara itu di luar istana, Rukia memandang sekitarnya dengan perasaan aneh. Dia sudah berjalan cukup jauh dari istana, dan sekarang dia tidak tau berada di mana. Di hadapannya ada sebuah menara tinggi seperti menara pengawas, dan di sebelah menara itu, terdapat bagunan kecil tak terawat yang diduganya adalah gudang. Sekitar beberapa meter dari sana, ia melihat bangunan panjang menyerupai istal.

"Silakan masuk, Nona." Pengawal itu menyadarkan Rukia dari lamunannya.

"Kau yakin di sini?" Tanya Rukia.

"Tentu Nona."

"Apa Ichigo-sama tidak sedang berada di ruang makan dengan Renji-sama?" Tanya Rukia penuh selidik.

"Kata Ichigo-sama beliau ingin berbicara dengan anda..."

Rukia ragu atas penjelasan pengawal itu. Dia merasa di saat-saat seperti ini tidak mungkin Ichigo akan menyembunyikan sesuatu dari sepupunya dan memilih berbicara berdua saja dengan Rukia.

"Silakan Nona..." Desak pengawal itu. Mau tak mau Rukia masuk ke dalam menara pengawas. Dan benar saja, begitu dia menginjakkan kakinya di dalam...

BLAM! Pintu menara ditutup oleh para pengawal itu.

"Mau apa kalian sebenarnya?" Rukia memandang tajam para pengawal di sekitarnya.

"Ada yang ingin bertemu dengan anda, Nona."

"Siapa?" Nada dingin meluncur dari mulut Rukia. Sejak berjalan ke luar istana tadi dia sudah punya firasat buruk, tapi diabaikannya karena menganggap itu adalah perasaan tidak enak yang timbul karena perdebatan dengan Byakuya. "Yang jelas bukan Ichigo kan?"

"Tentu bukan..." Sebuah suara dan reiatsu yang familiar menghampiri Rukia.

"Kau..." Ucap Rukia datar, tidak ada ekspresi maupun peningkatan intonasi dalam suaranya.

"Tidak terkejut heh?" Sosok jangkung itu tersenyum.


"Unohana-san!" Panggil Ichigo ketika didapatinya kepala pelayan itu sedang memberikan instruksi kepada pelayan di depan ruang rapat kerajaan.

Unohana Retsu menoleh dan memandang heran pada dua pangeran yang menghampirinya sambil berlari. "Ada apa pangeran?"

"Apa kau lihat Rukia?" Sambar Ichigo.

"Ya... Tadi pagi saya bertemu Rukia-sama di depan kamar kalian." Unohana Retsu kelihatannya belum bisa menangkap arah pembicaraan ini. Namun dari mimik khawatir Ichigo yang terpancar jelas di wajahnya, wanita itu tau ini pembicaraan yang amat penting. Karenanya dia mememberikan aba-aba pada seluruh bawahannya untuk meninggalkan tempat itu.

"Lalu kemana dia?"

"Saya tidak tau. Dia pergi begitu saja." Unohana masih memandang pangeran di depannya dengan mata heran.

"Tidak bilang mau kemana?" Cecar Ichigo lagi.

"Seingat saya... Tidak." Kepala pelayan itu menggeleng anggun. Dan sebelum Ichigo menghujaninya dengan pertanyaan lagi, dia balik bertanya, "Ada apa, Ichigo-sama?"

"Rukia tidak datang ke ruang makan hingga kami selesai sarapan." Sembur Ichigo yang mulai panik, dia mengacak acak rambut dengan tangan kanannya sementara tangan kiri berkacak pinggang. "Dia tidak ada di kamarnya juga. Pakaian gantinya tidak ada..."

"Hanya ada pakaian kotornya di tempat tidur. Dan wanginya seperti..." Renji baru mau menyampaikan informasi tidak penting saat satu jitakan mengenai kepalanya. "Aw! Apa-apaan kau Ichigo?"

"Jadi kau tidak tau dia kemana?" Ichigo mengabaikan protes Renji atas jitakan yang dia layangkan ke kepala kakaknya itu, masih berusaha mencencar Unohana dengan wajah kau-yakin-dia-tidak-bersembunyi-di-kantong-mu-?.

"Ya." Sahut Unohana.

"Kalau begitu aku sendiri yang akan mencarinya!" Ichigo berbalik tepat saat seseorang memanggil namanya.

"Ichigo-sama! Renji-sama!"

Ichigo menoleh untuk melihat siapa yang telah berani-beraninya menghentikan langkahnya. Dan betapa terkejutnya dia melihat setan-setan yang berdiri di sana. Ichigo melirik Renji, ternyata sepupunya itu tidak kalah kaget dengan dirinya. Di hadapan mereka kini berdiri para anggota dewan istana.

"Mari masuk, tentunya anda sudah tau bahwa ada yang harus kita bicarakan hari ini." Kata salah satu dari mereka dengan nada tidak menyenangkan.

"Renji..." Ichigo menepuk bahu Renji, "Tolong 'bereskan' mereka sebentar. Aku harus mencarinya."

Renji hanya bisa menangguk melihat keteguhan hati Ichigo. "Cepat temukan dia dan kembali ke sini. Kau tau kan apa yang akan terjadi setelah ini?"

"Ya." Sahut Ichigo mantap. Dia tersenyum pada Renji sebelum melangkah pergi, tapi lagi-lagi sebuah sosok tegap menghadang jalannya.

"Anda mau kemana, Ichigo-sama?"

"Ginrei Kuchiki-sama?" Ichigo terbelalak melihat Ginrei Kuchiki yang entah dari mana datangnya kini sudah berdiri di hadapannya.

"Sebaiknya anda masuk ke dalam, rapat akan segera dimulai." Ucapnya tenang.

"Tapi..." Ichigo bingung mencari alasan. Kalau dia kabur begitu saja, bukan mustahil ketua dewan istana yang terlalu bertanggung jawab itu akan mengejarnya sampai ujung dunia, dan itu akan sangat merepotkan. "Aku harus menemui seseorang." Ujarnya perlahan.

"Itu bisa ditunda setelah pembicaraan ini selesai." Tegas Ginrei Kuchiki.

"Tidak bisa. Aku mohon, Kuchiki-sama... Aku harus menemukannya sekarang, sebelum terjadi hal-hal buruk padanya!" Ichigo menggeram frustasi.

"Aku akan memerintahkan pengawal mencarikannya untukmu." Ginrei Kuchiki melambaikan tangannya sekilas, dan beberapa orang pengawal mendekat.

Ichigo mengacak rambutnya dengan kasar, dia bingung hendak berkata apa. Menyuruh pengawal mencari Rukia Kuchiki di hadapan Kuchiki yang asli? Tidak mungkin. Memerintahkan mereka mencari Rukia Kurosaki? Tidak ada bangsawan bermarga 'Kurosaki' di sini.

Ichigo melayangkan pandangan pada Renji. Sepupunya itu menepuk punggungnya perlahan.

"Seperti yang sudah kukatakan, pembicaraan ini tidak akan lama. Karena kita tidak punya pilihan" Kata Renji menenangkan.

"Tapi Rukia..." Bisik Ichigo nelangsa.

"Dia pasti baik-baik saja, mungkin dia sedang jalan-jalan di sekitar sini. Rukia itu gadis yang kuat dan cerdas." Renji tersenyum.

"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau sampai sesuatu terjadi padanya, Renji." Kata Ichigo tajam, "Aku akan mencarinya. Sekarang juga. Persetan dengan semua pembicaraan ini! Toh ini cuma basa-basi!"

"Ichigo!" Desis Renji, berusaha memperingatkan saudaranya.

"Jadi rapatnya mau dimulai atau langsung ke acara utama?" Suara dingin Byakuya mengiringi langkahnya yang tenang, mendekat ke arah Ichigo dan Renji.

"Tenanglah Ichigo..." Bujuk Renji. "Unohana-san!" Panggilnya pada kepala pelayan yang masih berdiri di depan pintu.

Unohana mendekat, "Ada yang bisa saya bantu, Renji-sama?"

"Tolong cari Rukia." Kata Renji tegas.

"Aku sendiri yang akan mencarinya!" Ichigo masih bersikeras.

"Anda dibutuhkan di sini, Ichigo-sama." Tiba-tiba Ginrei buka suara. "Sebaiknya anda masuk ke dalam sekarang." Ginrei memandang Byakuya dan para anggota dewan yang satu per satu mulai masuk ke dalam ruangan.

"Kuchiki-sama benar, Ichigo. Masih ada urusan yang harus kita selesaikan di sini." Dia mulai gusar dengan kelakuan Ichigo dan pandangan mendesak dari semua anggota dewan. "Unohana-san sudah mencari Rukia. Dan aku berani jamin dia akan baik-baik saja."

Ichigo menghela nafas. Pilihan ini sangat berat baginya. Dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi Rukia, namun dia juga puya kewajiban pda kerajaan dan kakeknya. "Baiklah... Tapi kalau sampai aku merasakan perubahan reiatsunya sedikit saja, aku akan langsung pergi mencarinya!"

.

.

TBC

.

.

Gomen apdetnya lama banget... *dilempar golok*

Ah tanpa banyak curcol *takut dilemparin lagi* mari langsung bales ripiu...

Makasih buat semua yang udah meripiu, memfave, dan membaca tanpa meninggalkan jejak..

Arigato! *bungkuk2 ampe kejedot*

BlackHaori : wah setelah sekian lama, akhirnya kau nongol juga.. hahaha *tawa nista*

Sebenernya Ichi ma renji ga niat rebutan.. tapi... baca ndiri deh.. *ditendang ampe ujung neraka*

Makasih... *hug* chap 14 updated nih! Mind to RnR?

Yanz Namiyukimi-chan : Chap 14 updated! Min to RnR? *puppy eyes no jutsu*

icHiki Aoi : makasih aoi ^^

masih bingungkah +_+a hehehe..

mudah2an sekarang bisa lebih sering update (?) amin deh..

chap 14 updated nih.. ^_^

Aika Ray Kuroba : umm.. sabar dulu ya.. apakah di chap ini feel ichirukinya kerasa? Gomen kalo enggak –plak-

Chapter ini lagi masa krisis, mungkin chapter depan juga ga bisa mesra-mesraan dulu.. hehe *dicekek Ichigo* tapi saya akan usahain biar mereka ga deket2an tapi tetap ada chemistrynya.. hwaaaa… (rukia : nie author gaje kenapa lagi sih?)

Chap 14 updated.. RnR please..? ^^

Aisa the Knight Apprentice : hahhh byakun jangan tinggalkan aku!

Kan minggu depan kita merit (?) *nangis2 ngesot*

Apa yang terjadi? Mungkin ratenya diganti? GUBRAKK –pingsan-ga kuat-

Hitsugaya (entah nongol darimana) : yah karena uthornya pingsan, jadi ente Cuma mau bilang kalo chap 14 udah apdet nih! RnR..? *nodongin hyourimaru*

Wi3nter : apakah feel ichirukinya kerasa walaupun mereka jauh2an, winter-san? Nggak ya? *pundung ke dalem sumur*

Okeh! Chap depan akan saya perbaiki! *tiba2 semangat membara gara2 dibakar masa*

Arigato.. ^^

Kurosaki Mitsuki : oke deh, mitsu aja deh.. hehe –gaje-plak-

Byakun itu baek kok.. baek banget malah.. saya jadi makin sukaaa...

Ichi : dasar gaje! Minggat sana ke ujung dunia! *tendang*

Makasih banyak mitsu.. Mind to mampir lagi..? –plak-

Jee-ya Zettyra : makasih jee-ya.. ^^

Beneeeeeeeeerrrrrrrrrr Ichigo Cuma buat Rukia seoraaaaaaaaanggggggg…! *teriak2 gaje*

Chap 14 updated! Mind to RnR..?

NaruSaku LuffyNami IchiRuki : makasih.. *loncat2 kegirangan*

Okok! Saya akan berusaha! (background api menyala-nyala)

Chap 14 updated! RnR again..? *ditimpuk guru bahasa inggris gara2 ngomong ngaco*