Title:TuanTampanDanNonaPemalu
Rating:T
Characters/Pairings:Sasuke-Hinata
Genre:Romance/Friendship
Warnings:AU.AgakOOC.Selamatmembacaceritainisebagaimanasayamenulisnya.Ceritainihanyadiperuntukkanuntukhiburansemata,danditulisketikamenjelangtengahmalam,dengansiauthoryangsudahngantuk.Jadimaafkalauadatypodll.
Summary: "Benar,lho.Sitemeituorangnyaposesif,tapijanganharapdiamaumengakuinya.Akuyakin,takpedulisiangataumalam,diaakankerumahmu,mengetukpintudanmeyakinkanmukalaudialahyangterbaik,bukansiKakashiini." AU
Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.
…
Chapter 14
.
"Beneran, lho, kau tidak akan nakal," tukas Naruto mewanti-wanti.
Gaara hanya menatap ayahnya, jengkel. Bocah itu kemudian memutar mata. "Iya, Pa, aku tidak akan merepotkan Tante Hinata," balasnya.
"Janji?"
"Tadi malam kan aku sudah janji. Uh, Papa nyebelin!"
Sabtu itu Naruto harus lembur. Laki-laki itu tadinya hendak membawa anak angkatnya ke penitipan anak, namun Gaara malah meminta ayahnya supaya membawanya ke rumah Hinata. Tidak ingin merepotkan temannya, Naruto menolak. Sayangnya, si anak bersikeras dengan keinginannya. Dia sama keras kepalanya dengan Naruto. Menyerah, ayah muda itu menghubungi Hinata, yang dengan senang hati mengiyakan permintaan Gaara.
Naruto mengusap kepala Gaara, sayang. "Papa tidak akan seharian," ujarnya.
Gaara mengangguk.
"Ibuku juga senang Gaara main ke sini," kata Hinata lembut. Dia menerima tas berisi pakaian dan topi Gaara dari Naruto. "Maklum, sudah lama tidak ada anak kecil di rumah," imbuhnya.
Naruto nyengir, setengah tidak enak. "Syukur kalau anakku tidak merepotkan."
"Kalau aku punya mama, Papa tidak akan repot," balas Gaara cuek.
Naruto gelagapan. Pria itu melotot, membuat mata biru langitnya tampak lebih besar dan menakutkan. Sayangnya, Gaara sama sekali tidak takut. Bocah itu balas mendelik.
Hinata tertawa. "Anakmu minta mama! Wah wah."
"Kaya seorang mama bisa datang dari langit saja!" gerutu Naruto. "Nanti Papa menjemputmu, secepatnya," janjinya. Rasa takjub dan kejengkelannya pada ucapan anaknya segera menguap.
Gaara manggut-manggut. Tangannya sudah meraih Hinata, menandakan dia menyukai gadis itu.
Tak lama setelah Naruto pergi, Sasuke menelpon. Semenjak insiden dompet Hinata dengan Kakashi, dokter muda itu jadi makin posesif terhadap kekasihnya. Frekuensinya menelpon atau bertemu Hinata meningkat drastis. Hinata tak keberatan, toh karena itu dia bisa sering bertemu Sasuke.
"Ya, Gaara di sini," ujar Hinata seraya mengerling Gaara yang rambutnya kini disisir oleh ibunya. "Naruto menitipkannya."
Terdengar dengusan dari seberang. "Dulu dia selalu menitipkannya di rumah, lho." Ada nada geli dalam suara Sasuke. "Aku segera ke sana setelah shift-ku berakhir."
Walau tahu Sasuke tak akan bisa melihatnya, Hinata menyunggingkan seuntai senyum. "Aku tunggu."
"Sekalian kita kencan," tukas Sasuke.
"Lho, kau tidak capek?" tanya Hinata, ingat bahwa Sasuke sudah semalaman tidak tidur. Bukannya pulang ke rumahnya setelah dinas dari rumah sakit, pria itu malah mengajaknya kencan.
"Demi kamu, apa sih yang tidak?" balas Sasuke serius.
Hinata memerah. Sasuke memang berubah. Seolah takut sekali kehilangan kekasihnya, adik Presdirnya itu jadi kerap menelpon, kencan tiap ada waktu dan gemar melontarkan kata-kata semanis madu. Naruto bahkan sampai bengong ketika dia mendengar rayuan sahabatnya itu pada Hinata tempo hari.
Hinata sudah menyiapkan sarapan untuk Sasuke ketika pria itu tiba. Gaara menyambutnya antusias. "Om, kita mau jalan-jalan ke mana?"
Sasuke menaikkan alis. "Siapa yang 'kita'?"tanyanya mengetes.
"Om, aku dan Tante Hinata, dong!" decak Gaara.
"Aku tidak mengajakmu, Nak," tandas sang dokter kalem.
Gaara memicingkan mata. "Pokoknya aku ikut!" Rupanya dia mendengar dari Hanabi bahwa jika Sasuke mampir, biasanya dua sejoli itu akan keluar.
"Tidak boleh!"
"Kalau gitu, Om pergi saja sendiri!" ancamnya.
Perseteruan kecil itu membuat Hinata geleng-geleng. "Ya, Gaara, kita keluar setelah Om Sasuke sarapan," ujarnya menenangkan.
Gaara memasang wajah puas, semampu yang bisa dilakukan anak lima tahun, sebelum menghambur minta digendong Hinata.
Sasuke ingin tersenyum. Belum pernah dia melihat anak sahabatnya itu bermanja-manja pada wanita lain selain Hinata. Bak lem dengan perangko, Gaara lengket dengan gadisnya. Dan sebenarnya, melihat pemandangan anak kecil dan kekasihnya itu membuat Sasuke lumer. Jika anak kecil saja menyukai Hinata, apalagi dia yang pria dewasa.
…
Sabtu itu Sasuke memang tidak bisa menikmati kencannya sepenuhnya. Bukannya bisa berduaan dengan gadis yang dikasihinya, dia malah harus menggendong dan mengawasi seorang anak kecil berambut merah, berumur lima tahun dan galak. Tapi karena Hinata terlihat senang, dokter itu tidak mengeluh.
Trio itu bersama Gaara di arena bermain untuk anak-anak. Sementara Sasuke menjunjung Gaara supaya bisa memasukkan bola basket mini ke ring, Hinata berpikir bahwa sebenarnya Sasuke jauh lebih lembut daripada yang ditunjukkan sikap tak acuhnya. Ketika bermain bersama anak Naruto, ekspresi wajah tampannya berubah kalem. Ketika Gaara berhasil memasukkan bola, Sasuke nyengir lebar dan ber-highfive dengan bocah itu.
Puas bermain, mereka ke stand minuman dekat studio foto. Mall yang mereka kunjungi memang menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap.
Tak dinyana mereka bertemu Naruto.
"Papa?" sambut Gaara.
Tak hanya si anak, kedua sahabat laki-laki berpembawaan ceria itu juga terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke dengan kening berkerut.
"Rapatnya sudah selesai?" kata Hinata.
Naruto tersenyum. "Yup, rapat dan kerjaan kantor sudah selesai," jawabnya. "Aku mampir ke sini untuk membeli tinta dan makanan kecil, untuk dibawa ke rumahmu." Naruto menunjuk tas kresek yang dijinjingnya. Dia menunduk ketika Gaara memeluk lututnya.
Si anak kembali pada Hinata ketika gadis itu mengangsurkan susu yang baru dibeli. Gaara gemar menempel pada ayah angkatnya ketika hanya ada mereka berdua saja. Namun belakangan dia tidak kesulitan untuk mengekor orang lain –seperti Iruka, Sasuke dan Hinata- layaknya spaniel setia. Naruto senang melihat anaknya tidak takut pada orang selain keluarga, walau sebenarnya ada sedikit rasa sedih dalam hati menyadari bahwa anaknya perlahan mulai melepaskan jari-jari kecil yang dulunya selalu melekat pada tangan Naruto.
"Kebetulan sekali ketemu di sini," sambung Naruto, nyengir.
Sasuke hanya mendengus. Ketika ada setitik susu yang meluncur dari sedotan Gaara dan menempel di pipinya, otomatis Sasuke mengeluarkan sapu tangan dan mengusap susu itu, tidak ingin Gaara tampak kotor belepotan bekas susu.
Orang-orang yang lewat memelankan jalan dan asyik memandang pria ganteng itu. "Wah, ayah yang baik," komentar mereka cukup keras. Sebagian dari pengunjung mall itu terpesona pada wajah Sasuke, dan setengahnya lagi tersentuh melihat tindakannya.
"Betul. Anaknya imut, pula."
"Maklum, ayahnya tampan begitu. Ibunya cantik pula. Tak heran anaknya bagus."
"Ih, lucunya."
"Aku mau diusap Om itu."
"Hush!"
Naruto terkikik, membuat Sasuke melotot.
Rupanya Gaara tidak terima. Dengan suara anak-anaknya yang lantang, dia berujar, "Kami memang jalan-jalan. Ini memang mamaku, tapi dia bukan papaku!" Dia menunjuk Sasuke dan Hinata. "Papaku yang ini." Bocah itu menarik tangan Naruto.
Bukannya jadi berpikir jernih, mereka yang kebetulan mendengar malah berpikiran sebaliknya. Bukannya menyimpan opini dalam hati, mereka malah menyuarakannya.
"Oh, laki-laki berambut hitam itu bukan papanya."
"Iya, ternyata yang pria pirang ini."
"Tapi kok bertiga….berempat dengan anaknya?"
"Ah, jangan-jangan perselingkuhan si nyonya dan pria pucat ini ketahuan si suami!"
"Oh no!"
Tiba-tiba saja para orang yang dibicarakan itu menyadari betapa janggal keberadaan mereka. Seorang wanita yang dikira adalah ibu si anak yang posisinya dekat dengan pria yang bukan suaminya. Apalagi pria-yang-bukan-suaminya itu tampak ingin membunuh dan berwajah menyeramkan. Bahkan si pria pirang yang dinyatakan sebagai papa si anak langsung pucat seperti kertas. Jelas sekali yang ada di otak para pengunjung itu adalah : cheating, perselingkuhan dan betrayal. Yang semua kata itu artinya nyaris sama dalam konteks negatif. Mungkin si suami memergoki istrinya berselingkuh, karena itu dia bertampang pucat pasi, sedangkan si pria tampan marah karena tindakan perselingkuhannya ketahuan. Pasti si wanita itu berwajah merah padam karena kepergok suaminya.
Opera sabun yang jadi kenyataan! Jerit para pengunjung itu dalam hati.
…
Jika tadinya Sasuke berpikir ancaman terbesar dalam hubungannya dengan Hinata terletak pada seorang pria berambut perak yang dianggapnya menyebalkan, maka sekarang Sasuke berpikir seribu kali.
Ancaman terbesarnya ternyata adalah seorang bocah berumur lima tahun.
Seolah mengerti sepenuhnya dengan apa yang terjadi tapi memilih untuk cuek, dengan tenang Gaara bertanya cukup pelan namun keras untuk sampai ke telinga Sasuke, Naruto dan Hinata, "Kapan Tante jadi mamaku?"
…
TBC
A/N:Bulan-bulankemarin,mulaipuasa,sayasakit-sakitan.Sakitbeneransih.Chapterterakhirkemarindanduaceritasetelahnyasayakerjakansaatsayadalamrecovery.Benar-benarpowerlessdanlemas,menulisadalahhalsekiandalambenaksaya.Terimakasihkarenateman-temanmasihbacaceritaini.Maafkalausayatidakbisabalassemuareview,tapiyangpasti,sayasangatsenangdanjadibersemangatnulislagi.Good(mid)night!
