Cerita milik saya, BTS milik agensi and A.R.M.Y.
Main cast:
Park Jimin (18th)
Kim Taehyung (18th)
Jeon Jungkook (17th)
Cast:
All of member BTS
Kwon Ji Young (GD) a.k.a Jimin's daddy
Jeon In Sung (OC) a.k.a Jungkook'daddy
Park Ji Won (OC) a.k.a Jimin's mommy
Beberapa cast pendukung
Kembali lagi readers... mian,,, lama banget updatenya,,,,
Oh iya, ada banyak cast tambahan baru yang tidak di sebutkan ya,,?
Tolong di maklumi..
Dan juga itu cast nya Cuma pinjam nama doang kok...
Nggak apa apa kan.?
Typo bertebaran, dan bahasa kurang baku,,
HAPPY READING AND ENJOY,,,
Jusseoo...!
.
.
.
Pria itu berniat menengok istrinya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur,, tepat setelah setelah menyelesaikan beberapa tugas kantor di ruang kerjanya. Namun betapa dia dibuat terkejut kala mendapati Ji Won yang sudah terduduk di lantai.
"Sayang...!", dengan segera dia meraih tubuh sang istri dan membawanya berdiri. Gurat cemas seketika muncul saat juga dia melihat wajah wanitanya itu begitu pucat.
"Ada apa Humh,,?", tanyanya meminta penjelasan. Wanita itu sempat menggeleng namun wajahnya menampakkan kekalutan,
"Aku sedikit tidak enak badan,, kurasa,,", jawab Ji Won dengan suara parau.
"Baiklah,, jika begitu kau harus istirahat sekarang,, aku akan menghubungi dokter,,", ujarnya sembari membawa sang istri ke kamar.
"Tidak usah,, aku hanya butuh istirahat,, aku pasti sangat lelah hari ini...", dalih Ji Won yang sempat memijat pelipisnya pelan. In Sung coba memahami,, meski dia benar-benar khawatir dan penasaran dengan apa yang membuat sang istri sampai terduduk di lantai juga wajahnya yang pucat.
Sementara si istri sudah tidur,, In Sung kembali ke dapur untuk mematikan kompor yang masih hidup saat dia tinggalkan membawa Ji Won ke kamar,, lalu dia menemukan ponsel istrinya yang jatuh di lantai...
, , , ,
Namja itu langsung keluar dari mobil begitu saja tanpa sepatah kata pun. Baiklah, Yoongi akan berpura-pura Jimin sudah mengucapkan terima kasih padanya karena telah mengantarkan dia pulang dalam keadaan masih bernyawa. Sempat melemparkan senyum manis pada Jimin, dan tebak saja,, itu di acuhkan oleh si penerima,, Jimin melamun. Yoongi lalu langsung saja menginjak pedal gas karena mesin mobil itu tidak dia matikan,, meninggalkan Jimin yang masih termangu di tempat. Tidak heran dengan sikap Jimin yang menjadi semakin dingin saat Yoongi mengamatinya dari spion.
Namja itu menyadari lenyapnya mobil Yoongi, dan menarik napas sebentar, kemudian beranjak dari sana. Tapi berhenti, saat baru sampai di ambang pagar,, dia mendapati kendaraan itu,, yang dikenalinya. Perasaan enggan tiba-tiba merambah di hati Jimin, , membuat dia memalingkan badan, dan berjalan ke arah lain hingga sampai di dekat pohon yang letaknya di siku pagar. Ia menyandarkan diri baik-baik di sana sambil kedua tangannya meraih pengait ransel yang masih bertengger di punggungnya. Air mukanya meneduh,, sesekali dia juga memainkan sepatunya membentur tanah seperti tengah menunggu waktu. Mata sayu itu terus mengikuti kemana gerak tali sepatunya pergi,, dan tak ada hal berarti yang dilakukannya sekarang. Dingin memang,, beruntung Jimin mengenakan sweater cukup tebal.
,
,
Min Yoongi, pria itu kembali menepikan mobilnya. Meski memang sejak beranjak dari mengantar Jimin dia tidak lepas dari ponselnya itu,, namun sepertinya ada hal yang serius sehingga dia harus menyampikan kegiatan menyetirnya sebentar,,lagipula juga berbahaya mengemudia sambil menelpon,, dan mungkin sudah menjadi kebiasaan Yoongi tidak mematikan mesin mobil,,
"...yeobsseo,,!..Daegu,,!? Dia ada di Daegu sekarang,,?. .. . Ah baiklah,, gomawo DaeHun ah,,,",
Pria itu tampak meremang sebentar...
". . . Daegu. . . jadi dia masih sering ke Daegu . . .. ah, mungkin lain kali,, kondisi Ji Young hyung sedang tidak stabil,,, baiklah,,,",gumamnya bermonolog serius,, ia kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya.
,
,
Terlepas dari itu, kini Taehyung sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Jimin, tak lupa juga bingkisan Jimin yang setia dia pegang mendekat ke dadanya. Lihat saja, bahkan senyum itu enggan meninggalkan wajah Taehyung. Ia sempat merapikan jaketnya padahal tidak berantakan, hanya lebih menutup supaya lebih hangat,, karena benar-benar dingin menembus kemeja tipis yang dia kenakan di dalamnya. Taehyung ingin mengantarkan bingkisan itu sejak pulang sekolah tadi,, tapi dia berpikir malam lebih baik,, siapa tahu Jimin sudah di rumah,, ada yang ingin disampaikan pula, sesuatu yang penting yang memang harus di segerakan saat hatinya sedang yakin seperti ini. Namun dia agak heran kenapa ponsel namja itu tidak aktif sejak tadi, Taehyung bahkan sudah menghubunginya berkali-kali, tetap saja operator yang menjawab.
Setelah menekan sekali tombol yang tepat di samping pintu itu, dan yang membuka ternyata adalah ayah Jimin. Taehyung dengan segera dan tanpa ragu menmbungkuk sapa pada pria yang lebih tua darinya itu.
Pria itu agak terperangah dan seperti baru ingat sesuatu,
"Oh,?! Kim Taehyung. . ."
Taehyung semakin senang kala pria itu masih ingat dia. Langsung saja, pikirnya...
"Ah, iya om,, ini,, milik Jimin,, tertinggal di laci mejanya,,"
Pria itu sempat melihat yang diberikan sebentar,, lalu menerimanya.
"Dia pasti terburu-buru sampai melupakan barangnya,,", ujar pria itu tersenyum maklum,, diikuti Taehyung yang menjadi agak canggung, entahlah.
"Eh,, ayo masuk dulu Tae,, tante sedang membuat sup rumput laut di dalam.. anak-anak belum pulang,, jadi sedikit sepi di rumah,,"
"Oh,, Jimin belum pulang ya Om,,?"
"Belum,, ayahnya pasti ingin waktu lebih lama dengan Jimin,,", kata pria itu hangat,,
Taehyung hanya manggut-manggut mengerti,
"Taehyung ingin sekali Om,,, sayangnya setelah ini,, Taehyung di ajak pergi dengan ayah,,, tapi lain kali kalau om menawari lagi,, Taehyung tidak akan menolaknya,,",, tolak Taehyung yang sebenarnya juga keberatan, tapi mau bagaimana lagi dia sudah berjanji dengan sang ayah.
"Oke lah,, lain kali benar-benar tidak boleh menolak,,,", kata pria itu sembari menepuk pundak Taehyung.
"Pasti Om,,, kalau begitu Taehyung pamit,,, salam untuk tante,,", pamitnya seraya membungkuk.
"Hati-hati,,, oh ya,, terima kasih buat ininya,,", tunjuknya pada bingkisan itu. Pemuda itu tersenyum dan berlalu.
. . .
Jimin teringat ponselnya,, dan mengundangnya untuk mengambil benda itu dari saku. Saat diaktifkan kembali karena tadi sempat mati, dan ternyata ada banyak panggilan masuk tak terjawab,, paling banyak dari orang yang sama,, Jimin me-log-out itu dan beralih pada chat yang masuk,,
'Kenapa tidak di jawab,,? Kau baik-baik saja kan disana,,?' semua isi chat itu pun sama saja. Jimin menarik napas yang mulai terasa menyesakkan, begitu dalam sembari mendongak menghadap langit,, mengamati beberapa bintang hingga dia temukan yang paling terang,,, indah,,pikirnya. Ia putuskan untuk menonaktifkan benda itu lagi. Lalu terdengar suara mesin motor yang semakin dekat,, juga sorot lampu yang jatuh di jalan dapat dia amati. Perlahan Jimin semakin merapatkan posisinya menyembunyikan diri. . . seperti mati kata,, juga tidak ada niatan untuk dirinya bertemu pemuda itu sekarang,, Jimin sendiri tidak paham kenapa sekarang jadi begini.
Dan berlalu sudah tepat di depan matanya,, aneh,, Jimin tahu betul itu rasa sakit,, di suatu tempat dihatinya... Mata itu tanpa henti mengamati laju motor yang baru melintas dengan kecepatan sedang,, sampai itu benar-benar menjauh dan hanya meninggalkan jejak ban yang bahkan tidak tampak di atas aspal... namun aroma parfume yang tidak berubah,, terlampau mengusik pikiran namja itu sekarang,, ia segera menepisnya telak dan memutuskan untuk segera masuk ke rumah,, karena sungguh dingin semakin memeluk dia. . . .
"Eoh,,? Kau sudah pulang, Nak,,?", Jimin langsung disambut oleh papinya. Ia seketika memberi senyum,, meski saat itu benar-benar tak ada alasan yang menarik untuk menampilkan senyum,, tapi dia tidak akan menampakkan kekalutan hatinya sekarang pada siapa pun, termasuk ayahnya bahkan ibunya. . . Juga tangannya yang terluka segera dia sembunyikan ke dalam saku sweater...
",,Umh,, mami sudah tidur Pi,,,?"
Pria itu mendekat,,
"Iya,, pertemuan client di Ilsan hari ini pasti membuat Mamimu lelah,, Papi pikir untuk tidak memperbolehkan dia ke kantor besok dan istirahat di rumah saja,,"
"Aaa, begitu Pi,,", Jimin jadi agak khawatir juga mendengar itu,, tapi sekali lagi, saat ini dia hanya peduli tentang dirinya,, begitu yang dia rasakan,, dan karena itu pula, Jimin ingin segera ke kamar lalu sendiri,,
"Ya,, kau segera ke kamar saja,, pasti juga lelah. ."sembari mengusap bahu Jimin.
"Papi sendiri juga langsung tidur. .pasti lelah juga,,"
Dan dibalas anggukkan... Jimin langsung berlalu,, sementara ayahnya tampak berjalan perlahan ke arah jendela. . . tepat di anak tangga Jimin berhenti,,, dia ingat sesuatu. . . akh,, entahlah,, kepalanya kembali berdenyut,, Jimin beranjak lagi,, meninggalkan pria itu yang tampak gusar melihat ke luar jendela...
Terlihat pria itu mengeluarkan ponselnya yang menyala,, ia melihat sekilas pada panggilan masuk itu hingga kemudian segera menggeser tombol hijaunya,,
"...eoh,, Bagaimana,,?,, Jungkook di Daegu,,!?, , ,?"
. . .
Tepat di depan pintu kamar itu,, dia juga sempat menoleh ke pintu kamar Jungkook,, namun tidak lama, dia putuskan untuk segera masuk ke biliknya. Yang di dapati di kamar itu pertama kali,, boneka besar yang selalu menyita perhatiannya setiap pertama kali membuka pintu,,, sekarang Jimin merengut frustasi. . Sungguh kacau,, di kamar itu hanya dirinya,, sekarang dia bebas mengekspresikan wajah kusut itu bahkan kalau pun dia ingin menunjukkan kekacuan jiwanya tanpa khawatir ada komentar dari orang lain.
Jimin melepas tas yang masih di gendongnya,, dan melempar itu ke arah 'Dorry', boneka Doraemon besar dari Taehyung... namja itu mengusap wajahnya kasar dengan tangannya yang masih terluka,,,dia tidak akan merasakan kesakitan apapun yang menjalari fisiknya,, jika perih di hatinya terlalu mendominasi kala itu. . . Hingga dia terperosok perlahan dan kini terduduk lemah menyandar pintu... Jimin menangis. . .meremas rambutnya,, menahan suara apapun yang mungkin akan keluar dari mulutnya yang bergetar. . .
Ia lalu berjalan ke arah 'Dorry', matanya begitu layu menatap boneka seukuran dirinya itu namun tajam dan sejurus,, dan saat tepat berdiri di depannya, Jimin menjatuhkan tubuhnya ke boneka itu, seraya memeluknya erat. . . membiarkan batinnya berteriak,, dan menangis,, meskipun bisa,, Jimin tidak pernah ingin dunia tahu meski dirinya sedang hancur. . . dan untuk sebuah pengakuan sekali pun,
'Kenapa,,? Saat aku sadar bahwa ini cinta. . . saat ini juga rasanya sulit sekali. . .dan kenapa ini harus cinta. . .'
Incheon Airport. . . . 11.30 KST. . .
Taehyung masih menyibukkan diri dengan ponselnya, hanya untuk memeriksa apakah ada balasan dari orang yang sejak tadi dia coba untuk di hubungi. Namun nihil, sekali lagi, itu membuatnya cemas,, semakin murung. Sesaat sorot matanya yang hampa jatuh, lalu kemudian meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Sementara pikirannya teringat sang ayah yang beberapa menit yang lalu pamit untuk membeli kopi,, matanya mengedarkan pandangan ke hampir satu per satu orang yang berlalu lalang di bandara itu. Membuatnya sesekali bergeming lirih. Di sisi lain Taehyung sedang gusar karena Jimin sulit dihubungi,, tapi juga malam itu dia sangat senang, karena akan bertemu dengan seseorang,, yang telah sekian lama dia nantikan kehadirannya,, meski sempat tahu bahwa dia berbeda dengan yang lain,, bahwa orang itu juga sangat berbeda dari yang dia bayangkan selama ini. Sempat membenci dan tidak menerima,, namun layaknya kemarau setahun yang terhapus oleh hujan sehari, buah dari penantiannya yang terlalu panjang itu menepis seketika rasa bencinya,, hanya dengan mendengar suara orang itu lewat telepon,, juga gambarnya di album lama. Kesal memang,, saat dia tidak tahu siapa ibunya selama hampir seumur hidup dia bernapas, memori tentang sosok itu pun dia tidak punya,, dan baru tahu ketika mulai beranjak dewasa. Pemuda berusia delapan belas tahun itu mencoba paham dengan alasan sang ayah menyembunyikan itu darinya. Karena andai waktu dapat berputar kembali,, Taehyung mungkin akan menjadi anak yang berbeda, dan mungkin mengurung diri,, saat tahu bahwa ibunya adalah laki-laki.
Dia berusaha meredam dingin dengan meremas jaket tebal yang sesungguhnya sudah benar-benar memeluk dia erat,, tapi suhu terlampau minus, apalagi jam hampir menunjuk tengah malam. Dengan usaha lain dia mempertemukan kedua telapak tangannya lalu menggosok itu berkali-kali,, agar timbul rasa hangat, kemudian menempelkannya ke wajah. Kebanyakan orang tentu familiar dengan cara itu untuk mencipta rasa hangat meski sedikit,, namun dia sendiri tahu dari Jimin.. Akh,, sekarang kegusaran Taehyung semakin bertambah saja. . . sementara kegiatannya, dan dia juga sempat melamun,, ayahnya kembali dengan dua cup,, coklat panas. . .?
"Ayah tidak menemukan kedai kopi,,"
"Coklat panas lebih baik,,", sambut Taehyung pada minuman itu...
". . ."
Setengah menit berlalu, dan Taehyung hampir menghabiskan coklat panasnya. Lalu dia meletakkan itu,, memilin gelasnya sebentar,, seperti dia ingin mengatakan sesuatu,, tapi mulutnya kaku.
"Waeyo,,?", sang ayah menyadari diamnya Taehyung.
"Apa. . . ibu akan tinggal. . .?", tanyanya penuh ragu. Pria itu langsung menoleh,, dan menangkap raut apa yang terpancar di wajah putranya...
". . bagaimana kalau kau tanya langsung dengannya,,",
"Aku ingin. . . . tapi sebelumnya aku tidak pernah bicara langsung dengan dia. . ."
Ayahnya tersenyum hangat sembari menepuk bahu Taehyung,
",,kau akan bisa bicara dengannya saat sudah bertemu nanti,,, karena ada banyak hal yang harus kalian bicarakan. . .", Taehyung memandang ayahnya penuh tanya,,
Kemudian sorot mata pria itu tertuju ke arah lain, seketika. . . Taehyung sontak mengikutinya, terlebih ekspresi ayahnya yang berbeda,, tampak bahagia,,
"Itu dia. . . ibumu,,"
Taehyung melihat sosok itu. Yang berjalan ke arah mereka, mengenakan mantel abu-abu,, tersenyum hangat,, juga menatap dia rindu. . . . Sendu mulai menyayat hati Taehyung. . . Pria itu, , , Tampan,, memiliki mata yang indah,, rambut coklatnya sedikit panjang dan terbelah di tengah,, pria yang manis dan tegas. Sempat merasa seperti berkaca,, tapi pria itu memiliki aura lebih lembut,, dan saat itu juga,, Taehyung tidak tahu harus apa,, tubuhnya agak lemas,, tapi dia ingin tetap berdiri,, dan menyambut sosok yang dinantikannya selama ini...
Malam itu berlalu cukup panjang di kediaman Kim. Sedikit penyambutan kecil dari ayah Taehyung untuk pasangan hidupnya yang baru kembali setelah sekian tahun berada jauh dengan mereka karena suatu kendala. Sekarang utuh. Binar-binar di mata Taehyung nampak jelas, kala dia selalu menatap pada pria yang adalah ibunya itu. Juga entah kenapa, dia lebih diam dari biasanya,, hanya ingin menatap orang itu lebih lama. Makarel, cola, sushi, juga kepiting asam, menjadi menuh makan tengah malam itu. Tadinya mereka berencana pergi ke luar untuk makan,, tapi tempat makan mana yang buka tengah malam begini,, mungkin bar. Oh, tidak,, itu acara keluarga. Sekarang Taehyung akan mengabaikan semua anggapan tentang keluarganya,, terlebih raut bahagia sang ayah,, seperti baru pertama dia melihat itu. Pasti sangat sedih berpisah dengan orang yang dicintai. Singkat dalam kalbu yang membelenggu hatinya,, dia teringat Jimin. . . Taehyung kembali melahap makanannya,, dan pria itu melihat dia penuh, sembari mengusap rambutnya. . .
"Eumh,, malam ini,, aku akan tidur di kamarmu,, boleh,,?", tanya pria itu. Taehyung yang baru saja menyantap daging kepitingnya,, mendongak dengan wajah imut,
Dia melihat pria itu,, lalu ayahnya. . . berikutnya Taehyung mengangguk. Sama sekali tidak keberatan,, juga tidak menampakkan kesenangan,, Taehyung masih bingung. Namun menurutnya ada banyak hal yang ingin dia bicarakan,, entah bisa atau tidak dia membuka suaranya nanti saat bersama pria itu.
". . . ."
,
,
,
Pukul 01.13 . . .
,
,
Hampir tiga jam berlalu,, tapi dia tidak merasakan kantuk sama sekali,, otaknya masih bekerja untuk mencerna suatu hal yang sulit di terima logika. Terlalu hening di kamar itu,,, hingga detik jam yang berganti di wekernya, menjadi bunyi yang mendominasi. Jimin terbaring di kasurnya dalam posisi sembarang,, masih dengan pakaian yang sama,, karena dia menjadi sangat malas untuk berganti. Setiap detik yang berlalu masih di liputi kekalutan,, setiap pergantian jarum jam masih dia lewati dengan perasaan bimbang. . membawa pikiran itu melayang,, hingga bertemu pada ingatan yang tertulis di buku itu. Jimin juga tidak tahu kenapa mengingatnya . . pikirannya coba membandingkan apakah itu sama dengannya atau tidak,,, apakah dirinya juga seperti itu. . . dan Kim Taehyung,,, apa dia sama dengan Kim Namjoon. . . yang bersedia menunggu belasan tahun untuk Kim Seokjin siap lalu mengungkap semua padanya. . . Tujuh belas tahun. . . itu sangat lama,,, dia dan Taehyung,, saling mengenal sejak mereka berusia lima tahun,,, sekarang,, sudah tiga belas tahun terlewati. . . siapkah Jimin untuk mengakui. . .? Dia bukannya orang yang tidak peka dengan tatapan mata sahabatnya itu selama ini, semua perlakuan Taehyung, perhatian, dan kasih sayang. Setiap malam yang di laluinya dengan gelisah ketika tidak mendapat kabar darinya,, setiap kekacauan yang menyita seluruh perhatiannya kala mereka bertengkar., dan tidak ada rekayasa sama sekali,, itu murni juga tulus dari hatinya. . . hanya saja. . hari ini semuanya menjadi semakin sulit untuk mengaku. . . .
'Ceklek,,!'
Suara pintu terbuka,, tentu saja. Jimin tergerak untuk segera menutup matanya,, seolah dia benar-benar tengah terlelap. Ia tidak tidur dan dapat mendengar langkah kaki bersamaan dengan hembusan napas kasar pemuda itu yang semakin membuang jarak,, Jungkook. Jimin yang dalam posisi miring membelakangi pemuda itu yang duduk di sisinya. Terlalu penasaran dengan keadaan pemuda itu,, karena samar-samar ia mencium bau alkohol,, tiba-tiba. . .
'GREBB..!'
Jungkook kini sudah berbaring dan memeluknya dari belakang. Jimin yang terperangah sontak membuka matanya,,, namun Jungkook terlalu cepat menyusup ke lehernya,, membuat bibir yang sedikit membuka itu sempat bersentuhan dengan daun telinga Jimin, menimbulkan rasa geli saat hembusan udara timbul dari sana. . .
Namja itu belum melakukan respon apa-apa,, karena dia tidak mengerti.. pelukan Jungkook semakin erat saja, juga apa yang membuat mulutnya bungkam,, ia yang hendak mengelak,, tapi Jungkook mengucapkan sesuatu. . . dan meski lirih,, itu tepat di telinganya..
"Jebal. . mianhae,, hyung. . biarkan seperti ini lebih lama..."
"Apa..dia mabuk,,?", batin Jimin menduga-duga. Sekarang dia mencemaskan sesuatu.. entahlah,, kini Jimin tidak melakukan pergerakan apapun,, terlebih setelah Jungkook mengatakan itu.
Mata Jungkook yang meneduh,, memandang begitu kosong dan jauh. Badannya terasa remuk dan lelah karena kegiatan tak berarti yang kembali dia lakukan hari ini,, hanya untuk sekedar mengalihkan perhatiannya yang kapan saja bisa mejadi brutal,, Kenapa,,?,,
Malam ini, Jungkook ingin merasakan tidur yang nyaman,, dan sekalinya dalam hidup dia benar-benar merasa tidur,, adalah ketika Jimin di sisinya. Dan benar saja,, kelopak matanya perlahan menjadi berat,, juga kantuk seketika menyeruak. . .dan dia. . .terlelap...
Taehyung berbaring dengan posisi telentang. Tidak seperti pemuda seusia dia pada umumnya yang biasanya menggunakan ranjang dengan ukuran kecil, bahkan hanya cukup untuk tubuhnya saja, Taehyung lebih senang dengan King Size,, dimana dia yang banyak tingkah saat tidur,, tidak ada kemungkinan untuk jatuh ke lantai,, juga yang paling penting,, ketika Jimin menginap di rumahnya. Sementara pria yang mirip dirinya itu berbaring di sisinya,, mengamati kamar itu,, tiap sudut. Kebanyakan potret Taehyung saat kecil,, yang sendiri,, maupun bersama Jimin. Pria itu ingin tahu lebih banyak tentang hubungan anaknya dengan Jimin,, selama ini hanya segelintir dia mendengar dari suaminya,,, tapi dia pun belum tahu bagaimana untuk memulai, rasanya masih canggung. . .
"Taehyung,, kau merindukanku,,?"
"Eo. ."
". . ."
". . Ibu. ."
"Ne,,"
"Apa tidak apa aku memanggilmu seperti itu. ."
"Kau memanggilku begitu selama ini... gwaenchanha,, aku memang ibumu,,. Ingin bertanya suatu hal,,?"
Taehyung mengangguk pelan,, dan butuh beberapa saat dia untuk menyiapkan kalimat yang akan disampaikan.
". . kau akan berpikir aku anak yang kurang ajar. . tapi. . . hampir seumur hidupku, aku selalu bertanya,, kenapa kau pergi. . ."
Pria itu menolah, juga bibirnya mengatup,, menelan ludahnya agak kasar. Taehyung pun merasa ada sesuatu yang memanas di bagian tertentu di wajahnya..
"Aku juga bukan orang tua yang baik,, aku. . . akan katakan,, kau berhak tahu, anakku. . . Eumh, , , bagaimana,, kalau kita bertukar cerita. . ."
"Ne,,?!"
Pria itu memandang cukup jauh,, sejauh bingkai foto yang menampakkan Taehyung kecil di sudut sana,, sedang tersenyum manis khas senyum kotaknya. Perlahan,, dan dia merasa sesuatu menarik ulur hatinya
. . .
"Aku ini pria jahat yang meninggalkanmu juga. . . ayahmu,, aku minta maaf,, harus bagaimana untuk menebus kesalahan itu,, sungguh ingin kulakukan. . . Berada jauh disana,, juga membuatku selalu penasaran bagaimana perkembanganmu... Aku meninggalkanmu saat itu,, kau masih sangat kecil,, dan sekarang tinggimu lebih dariku. . berapa banyak waktu yang terlewati..rasanya lama sekali... Eumh. . bagaimana jika kau bercerita tentang yang kau jalani selama ini,, agar aku bisa menyimpulkan bahwa aku benar-benar menyesal. . ."
Pemuda itu sama sekali tidak bergeming. . . dia sempat memalingkan wajahnya, karena takut air mata akan jatuh. Sungguh, Taehyung tidak pernah menangis sejak usianya tujuh tahun,, hari ini,, dia tidak pun mau,, meski benar-benar perih,, juga rindu. . .
. . . .
"Aku. . . .selalu bertanya,, dimana ibu,, seperti apa dia,, dan kenapa dia tidak disini. Aku selalu menangis saat bertanya hal itu pada ayah,, dan tanggapan ayah selalu sama,, dia akan tersenyum lalu mengusap rambutku,, atau dia akan berbicara hal lain. Aku pasti sangat bodoh,, dan dengan mudah terkecoh begitu saja. Lalu ku pikir-pikir,, sepertinya ayah memang tidak ingin membicarakannya... lagipula aku kasihan dengan pria itu,, semakin hari dia terlihat semakin tua. . . Baiklah,, kupikir cukup,, aku tidak mau tahu,, hidupku bahagia hanya dengan ayah. Aku juga punya banyak teman. . . akh tidak cuma satu... hidupku terlalu menyenangkan dan penuh kegilaan. Aku tertawa setiap hari dan tidak pernah menangis,, Aku tampan, nakal, juga populer,, dan aku ini ketua genk saat SMP,, di SMA. . . aku masih tampan,,, bahkan paling tampan di sekolah. . . Aku tidak pernah peduli dengan nilaiku,,, dan aku selalu tidur saat jam pelajaran,,, atau pergi ke gudang,, untuk tidur juga... Lalu Jimin akan memarahiku habis-habisan. . . lalu ayah, karena Jimin melaporkanku pada ayah. . . . setiap hari ayah masak untukku,, rasa masakannya terlalu aneh,, tapi lama-lama aku juga terbiasa,,, saking seringnya aku makan masakan ayah, saat aku makan di rumah Jimin, seperti menbandingkan dua makanan dari kelas yang berbeda,, padahal jenis yang di masak sama... Aku sering menginap di rumah Jimin,, apalagi setiap libur sekolah,, Jimin juga sering menginap disini,, tapi tidak boleh sering,, karena aku tidak mau anak itu sakit perut gara-gara masakan ayah. . . . Ibunya Jimin sangat baik,, kadang aku iri. Aku memanggil ibu Jimin Tante Mami,, dia memperlakukanku dengan sangat baik,, melihatnya membuatku selalu membayangkan bagaimana sosok ibuku,, apa seperti dia,,? Seperti ibu Jimin ? Kalau iya,, aku ingin bertemu,, Jimin mirip sekali dengan ibunya,, tapi dia lebih cerewet,, tidak ada hari tanpa omelan darinya. . . .", katanya panjang lebar, namun memberi jeda sebentar untuk meremang ke awang-awang.
",,Jimin pasti sangat peduli padamu,,"sambung pria itu, ia lalu meraih bahu putranya untuk mendekat,, dan mengusap rambutnya sayang.
Taehyung tersenyum tipis mengingat sahabatnya yang paling berharga itu... Pasalnya akhir-akhir ini,, jangankan di omeli,, Jimin sedikit sulit dihubungi. Taehyung tidak ingin berpikir bahwa Jimin tidak peduli lagi dengannya,, mungkin namja yang selalu memiliki reputasi dan nilai baik di sekolah itu sudah mulai sibuk menyiapkan ujian sekolah. Lagipula sepanjang mengenal Jimin,, Taehyung paham, kalau saat-saat seperti ini Jimin menutup pintu untuk bermain dengannya. Entahlah, Taehyung tidak paham seberapa penting nilai intelektual bagi Jimin.
"Lalu,,?",
Taehyung yang sempat termangu,, lalu menyambung ceritanya.
". . . .Eumh. . . aku menghabiskan hampir separuh hariku untuk main game,, bahkan aku juga sering lupa makan,, tapi hidupku benar-benar menyenangkan,,, sungguh... tapi. . . di saat yang sulit meski ayah. . . dan Jimin. . .ada untuk menghiburku... . aku. . . .juga ingin bertemu denganmu. . . hari itu usiaku lima belas tahun,,, ya, tepat sekali,, lima belas tahun... ayah memberi tahu semuanya,,, molla,, aku sedikit kacau waktu itu,,, tapi sungguh aku ingin bertemu,, aku penasaran dan tidak peduli,,, lagi-lagi jawaban yang tidak menyenangkan, ayah bilang aku harus menunggu,,, baiklah,, aku menunggu,, aku terbiasa menunggu,, lagipula aku bukan orang yang kesepian,,, ada ayah,,, Jimin. . . dan bayang-bayangmu,,,. . . Saat, pertama kali,, aku medengar suaramu,,, waktu itu aku benar-benar bingung harus bilang apa,, aku hanya ingin kau hadir. . . Terima kasih,, sudah datang,, ibu. . .", ujarnya dengan suara berat dan hampir menangis. Meski begitu, seolah semua yang mengganjal di hatinya luluh seketika. Saat matanya bertemu dengan mata pria itu, saat itu juga dia tahu betapa berharga dirinya untuk dua orang pria yang memutuskan hidup berpasangan.
Pria itu pun juga menatap Taehyung lekat. Dari rambutnya,, juga garis-garis wajahnya yang tegas,, mirip dengan pria yang di nikahinya. Pasti ada penyesalan sampai dia tidak bisa mengamati setiap perubahan putra semata wayangnya itu,, dari yang terakhir dia lihat,, Taehyung waktu itu belum pandai bicara, sampai sekarang dia bisa menceritakan kisah hidupnya,, namun waktu selalu berjalan ke depan. Baekhyun tidak akan menoleh ke belakang,, dan hanya akan melihat ke depan untuk kehidupan Taehyung selanjutnya. Memang seperti semua waktu yang dihabiskan olehnya tidak ada yang penting,, tapi Taehyung tidak bisa bohong bahwa dia memang bahagia selama ini, meski tak ada sosok ibu dalam hidupnya. Dan rindu juga bahagia selalu menaungi hari-harinya.
"Kau,, mirip sekali dengan ayahmu,,", kata pria itu sembari menyibakkan rambut Taehyung. Alhasil Taehyung agak mengernyit,,
"Aniya..! Aku lebih keren dari ayah,,", jawabnya percaya diri.
"Kau tidak tahu saja,, ayahmu saat muda,,"
"Memangnya seperti apa,,?", dengan mata membulat yang lucu, karena penasaran, Taehyung kini mengubah posisinya menjadi miring.
",,seperti. . . aktor,, Won Bin. . ."
"Jinjja..!", dengan wajah tak percaya, Taehyung membandingkan ayahnya dengan Won Bin. Lalu sesaat kemudian dia menggeleng keras. Pria itu terkikik kecil membaca ekspresi Taehyung.
. . . . Hening berlalu,, membiarkan keduanya sebentar untuk larut pada hal masing-masing. . . .
". . .ibu. . .", agak keberatan dan sangat lirih Taehyung mengutarakannya.
"Ne,,"
Taehyung menjuruskan manikanya pada pria itu, dalam... sangat dalam dan lekat...
". . . sekarang giliranmu,,, katakan semua alasanmu,, tidak berada disini bersama kami selama ini. . . . apapun itu,, aku akan menerima,, aku sudah menerima,, aku tidak akan kecewa,, hanya beritahu saja,, agar semuanya jelas, karena aku merasa sudah dewasa sekarang dan berhak tahu,,", katanya terdengar agak tertatih,, bahkan Taehyung tidak lagi dalam posisi tadi, menghadap pria itu.
Pria itu menghela napasnya sebentar. Sorot matanya tertuju pada langit-langit kamar yang tampak putih juga bersih dengan lampu di tengahnya. Cahaya lampu itu sungguh terang,, membawanya pada ingatan ketika di panggung teater. . .
,
,
,
Malam berlalu seperti biasanya tidak memperlambat atau pun mempercepat, tapi ini benar sudah pagi. Dan Taehyung rasa ia tidak melalui malam sama sekali. Masih mengantuk,,, juga kepalanya ngilu. Begitu kasar lenguhan pemuda itu saat berusaha bangkit dari ranjang sementara matanya mengerjap beradaptasi dengan sapaan surya lewat jendela kamarnya yang terbuka. Pukul 06.00,, oh untuk dia itu terlalu pagi,, Taehyung tidak pernah bangun sepagi itu. Tangan besarnya mengacak surai coklatnya dengan kasar,, alih-alih supaya kantuknya hilang. Benar-benar dalam mood yang buruk,, terlebih dengan apa dia dengar semalam, begitu mengacaukan pikirnya. Sempat berharap semalam hanya bagian dari bunga tidurnya,,,
Ia sungguh malas melakukan apapun sekarang,, namun ini hari pertama ujian tertulis,,
'Drrt...drrttt...',, ponselnya,, dimana,, dengan asal, dia menyibakkan seluruh yang ada di atas ranjangnya untuk menemukan benda persegi panjang itu...
Pesan masuk,
From: Bunny,
'Gomawo,, kau sudah mengantar barangku,, Oh iya,, apa minggu lalu kau bilang mau meminjam buku Kimia ku,,?'
Baru saja dirinya yang suntuk itu tidak memiliki gairah hidup sama sekali,, sekarang wajahnya yang bahkan belum terbasuh air pun sudah menjadi sumringah di ikuti oleh eyesmlie nya yang membentuk sabit. Kehadiran Jimin,, meski hanya dalam bentuk tulisan jari,, selalu bisa mengacaukan Taehyung,, dia pun tidak menyia-nyiakan itu,,
To: Bunny,
'Iya, benar. Aku akan mampir untuk mengambilnya,,'
Dan dia menggigit sudut ponselnya menunggu balasan,,
From: Bunny,
'Tidak perlu. Biar nanti ku bawa ke sekolah saja,,'
,, sempat merengut membaca pesan balasan itu,, tapi kemudian dia tersenyum lagi.
To: Bunny,
'Okey,, ˄͜˄ '
,
,
Taehyung yang baru masuk kelasnya langsung memusatkan perhatian pada namja yang tengah sibuk membaca buku tebal itu. Sedikit membuat Taehyung menggeleng karena ukuran bukunya,, agak ngilu membayangkan apa isi buku setebal itu. Dia yang hendak menyapa, meski ada sedikit rasa canggung entah dari mana,, kemudian benar-benar urung karena ternyata telinga Jimin tersumbat earphone. Taehyung memutar bola matanya jengah,, jika sudah seperti itu,, bahkan ketika ada gunung meletus di belakang sekolah pun Jimin tidak akan mendengarnya. Juga sepertinya namja itu tidak menyadari kehadirannya. Taehyung pun memutuskan untuk segera ke bangkunya saja,,
"Wass'up bro,, tumben,,", sapa Kang Eun, teman sekelasnya yang sok kenal sok akrab itu. Dan Taehyung hanya membalas senyum,, itu pun pandangannya masih menuju Jimin yang sama sekali tidak menggubris.
Sekarang dia agak tercelos mendapati tumpukkan buku di atas mejanya,, dengan judul 'Chemistry' itu,, astaga iya,, dari Jimin. Lagi-lagi Taehyung ingin berucap spontan, seperti kebiasaannya,, tapi tertahan, mengingat kegiatan Jimin. Sekarang yang dilakukannya hanya duduk pasrah,, tak bersemangat sembari meletakkan tasnya sembarangan,, juga memandangi Jimin yang di ujung sana.
Tak bosan, mata itu tidak ingin berpaling. Jemarinya terus mengetuk meja pelan,, tak ayal seperti pergantian jarum jam tempo ketukannya. Lama-lama Taehyung jadi kesal juga,, tidak biasa diabaikan oleh teman sejak kecilnya itu,, ia pun berdiri dan beranjak menuju Jimin berada.
,
"Eoh,,?!", namja itu agak terperanjat pasalnya Taehyung yang dia tidak tahu sejak kapan datangnya mencabut earphone miliknya begitu saja.
"Lagunya Taeyang,, pantas,,",gumam Taehyung manggut-manggut juga yang tubuhnya sedikit condong memposisikan diri supaya earphone itu sampai ke telinganya. Sementara Jimin yang masih shock, belum dapat berkata apa-apa saat melihat wajah Taehyung tempat di sampingnya. Taehyung yang juga sadar balas meliriknya, dan pandangan mereka bertemu,
"Yaa,,! Apa maksudmu hah,,!", sungut Jimin mengambil alih earphonenya dengan kasar. Taehyung hampir memekik merasakan lubang telinganya seperti di tarik.
"Aaakkhhh,, kau kan bisa melepasnya sedikit pelan,, Astaga,,!",ujarnya tak percaya dengan perlakuan Jimin,,
"Lagian seenaknya saja,,!", Jimin berpaling muka.
Sementara Taehyung mengerucutkan bibirnya dan keduanya sama-sama diam, seperti sedang bergelut dalam pikiran masing-masing. Sekarang seperti ada dinding yang membatasi mereka,,
Taehyung yang sudah dalam posisi berdiri tegak,, memandang Jimin lagi yang dibawahnya saat namja itu tengah menatap keluar jendela, keduanya jelas merasa ada rasa canggung disana. Taehyung ingin memperlakukan lebih sahabat kecilnya itu,, namun sekarang tangan besarnya mengacak surai lembut itu seenaknya,, membuat mata Jimin membulat sempurna. Seperti ada yang jatuh. Rasanya. . . ketika detak jantungnya berhenti kurang dari satu detik,, dan dibawah sana Jimin meremas tangannya erat. Ia ingin bersikap sewajarnya,, tapi ada yang menahan,,
Nyaman,, tidak dipungkiri, biarkan bertahan lebih lama. . .hanya saja,
"Kau ini kenapa sih,,?", berpura-pura mengelak,, Jimin dapat bersikap lebih normal sekarang.
"Terima kasih bukunya,,", ujar si senyum kotak.
"Ne,, jadi kau harus mendapat nilai baik di pelajaran Kimia,,karena sudah ku pinjamkan buku,,", tunjuk Jimin dengan jari tinynya. Taehyung meraih jari itu,, lalu mengangguk imut dan tersenyum. Perasaan macam apa yang kini menyeruak di hati keduanya,, rasanya memang menyenangkan jika setiap hari berlalu seperti itu,, seperti yang mereka jalani selama ini.
Lalu detik berikutnya mata pemuda itu hampir meloncat keluar saat menangkap telapak tangan kanan Jimin terbalut kasa. Tanpa seizin pemilik,, Taehyung yang terlampau kaget meraih tangan itu,,
"KENAPA INI,,!", tanyanya tapi berteriak. Membuat penguhi kelas itu memandangnya,, Jimin jadi bingung. Namja itu yang sekaligus kaget oleh perlakuan tiba-tiba Taehyung juga suara kerasnya. Ia mendengus,, menarik tangannya kembali.
"Terluka lah,,! Kau tidak bisa lihat apa,, Masih bertanya lagi,,", kata Jimin ketus dengan raut masam yang dia sembunyikan. Pemuda yang masih khawatir itu sampai mengikuti kemana arah tangan Jimin bergerak,, setelahnya dia memandang Jimin tidak percaya,,
"Yaakk aku tahu,,! Tapi bagaimana bisa terluka,,!", tidak sekuat tadi, namun sekarang nadanya memaksa,, dan dahi yang mengerut itu benar-benar cemas.
". . semalam aku meringkus perampok bank,,", sahut Jimin enteng.
"YAAKK,,,! PARK JIMIN,,,!", Taehyung hilang kendali, Jimin hampir kehilangan pendengarannya pula,, juga penghuni kelas itu semakin antusias melihat apa yang terjadi di meja paling depan itu.
".. astaga. . .mulutmu itu,,! Aku terkena pisau saat mengupas apel tadi pagi Kim Taehyuuungg,,",,jelas Jimin dengan intonasi ditekankan. Namun Taehyung terus menelisik luka itu,, di lihat memang masih segar, baiklah dia percaya.
"Benarkah itu,,?!"
"Kenapa pula itu tidak benar,,",
Taehyung melenguh,,
"Ceroboh,,",ucapnya sembari mencubit dagu Jimin,, namja itu tidak meresponnya.
"Kau,!,,, Jangan terlalu sering menelponku,, atau mengirim chat sebanyak itu,, berisik,,! Malah kalau bisa jangan menghubungiku selama ujian ini,, kau mengganggu konsentrasi belajarku,,"tegas Jimin pada Taehyung yang masih memanyunkan bibirnya. Jimin lagi-lagi menoleh ke arah jendela,, dan buku tebalnya terbengkalai. Tapi kemudian entah apa maksud Taehyung, dia yang kini menyeringai, menjatuhkan kepalany tepat dia atas bahu Jimin, tentu membuat wajah mereka sejajar,, dengan manja Taehyung memandang Jimin yang perlahan menoleh was-was padanya,,
"Kau pasti terbayang wajah tampanku ini,, makanya tidak konsen,,", bisiknya seduktif full percaya diri. Jimin mendecih,, dan dengan bukunya yang kembali terjamah ia mendorong wajah Taehyung menjauh.
"Aaakhhh,,!"pekik Taehyung manja, pemuda itu mengusap dahinya yang bersentuhan dengan benda tebal itu,, tapi masih memandang Jimin gemas. Karena dia sadar Jimin agak aneh,, dan itu malah membuatnya imut.
"Lagipula kau membuatku cemas,, kemarin tidak banyak bicara,, lalu sulit dihubungi,, bagaimana kau kira perasaanku hoh,,?!", ucapnya sangat lugu.
"Ya,, jangan berlebihan. Kau bukan ibuku,, bukan ayahku,, kakakku atau pamanku. ."
"Aku temanmu,,!", potong Taehyung. Bibir Jimin langsung mengatup. Teman. Jimin sedikit merasa ada yang salah dengan ucapannya.. Sekarang diam lagi.
". . . "
",,,huuuufffttt... ku kira aku terlambat,", serobot Ten Chittaphon yang datang tiba-tiba entah dari arah mana dan sangat tergesa-gesa,, dia pun langsung duduk di bangkunya dengan lelah,, yaitu di samping Jimin. Senyum sumringah dan bergairah,,karena kenyataan bahwa dia tidak datang terlambat. Jimin sempat melirik pemuda Thailand itu,, sementara Taehyung melihatnya bosan. Ten tiba-tiba tercekat,,
",,hey,, kalian sudah dengar kabar itu,,?", ucapnya tiba-tiba.
"Berita apa,,?", sahut Jimin tapi tidak terdengar tertarik, dia bahkan mulai membuka bukunya lagi,, sementara Taehyung sedikit tertarik,,pasalnya wajah Ten serius sekali,,
"Berita kau jadian dengan Seul bi,,? Haish,, aku yakin itu HOAX,,", tambah Taehyung seenaknya,
"YAK,,!", Ten tercelos dengan itu,, tampak tidak terima, pasalnya,, Seul bi,, siswi kelas sebelah yang di sukainya sejak kelas satu itu belum tergapai sampai sekarang. Tapi dia tahu itu hanya guyonan Kim Taehyung,, sementara memang berita yang akan dia sampaikan serius. Jimin malah terkikik lirih,,, Taehyung ikut tersenyum mendapati bahu sahabatnya itu naik turun.
"Kepala sekolah,, Kim Namjoon songsaenim dan Seokjin sensei,, tidak akan lagi di sekolah ini."
"Ne,,?!", Taehyung dan Jimin bersamaan.
",, entah itu di pecat,, di keluarkan,, atau digantikan,, yang pasti mereka berdua sama-sama move dari sekolah ini,,", jelas Ten serinci yang dia tahu.
Air muka Jimin tampak berubah,,sementara Taehyung, mencoba menebak sesuatu,,
"Kalian pikir apa coba sebabnya,,,?",, tiga detik berlalu, dan tidak ada yang menanggapi pertanyaan itu. Ten menjawabnya sendiri,,
"Mereka ternyata pasangan gay. Astaga. . . kemarin muridnya,,sekarang gurunya,, aku penasaran siapa pasangan gay di sekolah ini,,?", begitu monolog Chittaphon sambil bergeleng-geleng kepala. Dan entah apa yang membuat Taehyung dan Jimin kini saling menatap satu sama lain.
'KRIIII...iiiinnggg,,,!'
Bel masuk. Semua murid pun bergegas menuju bangkunya masing-masing dan mulai mempersiapkan alat perang mereka menghadapi ujian tertulis. Tak terkecuali Taehyung yang kembali ke bangkunya dengan tatapan kosong,, sampai membuat dia nyaris menabrak Kang Eun,, Jimin melihat itu sebentar,, kemudian berpaling dan tertegun. Lalu Ten menyadarkan dia karena ada pengawas ujian yang masuk,, kembali fokus, Jimin. Ia segera mengeluarkan alat tulisnya.
,
,
,
TBC...
Gaje,,?!
Jeongmal Mianhae,,
Tidak bermaksud merugikan siapa pun.
And, ini pure dari otak saya.
Silakan tinggalkan comment, kritik, pesan, saran juga boleh.
Terima kasih banget udah Mampir,,
Eh,, typonya harap di maklumi
Neomu Gomawoyo,,,^_^
Chapter selanjutnya mungkin agak lama,,
Sampai Jumpa di Ch. Berikutnya ya,,?
Bye,,! Bye,,!
Annyeong,,!
Reviewnya di tunggu loh viewers,,,,,
Hehe..
