Lucy POV
"Apa yang nii-san lakukan disini?!" tanyaku tidak percaya, ini terlalu kebetulan!
"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu bersama sekumpulan anak terkutut? Jangan bilang jika kamu bersekongkol dengan mereka!"
"….."
Mulutku langsung terkunci setelah mendengar Laxus-nii bertanya seperti itu, kalau bilang bohong apa dia akan percaya? Jika aku berkata sejujurnya Laxus-nii akan marah besar. Kulihat tatapan Gray pun seketika berubah, sudah jelas setelah mengetahui rahasia ini dia akan mencurigaiku sepenuhnya. Bisa saja ia berpikir kalau aku ini disuruh untuk memata-matai dan mencari tau kelemahan mereka, dan lebih parah lagi Gray bisa saja berpikir jika aku ini pengkhianat!
"Jangan menatap lagi seperti itu, kumohon percayalah pada Lucy-chan!" bela Mavis yang membuat Gray menghela nafas sesaat
"Cih, kau beruntung karena kami berdua yang mengetahui rahasia ini, jika saja Jellal mendengarnya maka dia tidak akan segan-segan untuk memenggal kepalamu!" ucap Gray tidak main-main, sorot matanya ikut menambah keseriusan dari ucapan tersebut
Memenggal kepala, bukankah terlalu berlebihan? Tidak seharusnya aku merahasiakan ini semua, cepat atau lambat Laxus-nii pasti akan memburu mereka. Satu kata yang cukup untuk menggambarkan pemikirkanku sekarang adalah "bingung" Apa yang harus kulakukan? Melawan, berdiam diri seperti biasa? Tiba-tiba saja Gray mendorongku ke belakang, sebanyak apapun Mavis membela Gray pasti tetap membenciku.
"Minggirlah, kamu hanya menghalangi jalan! Aku akan melawan Laxus, Mavis kamu membantu dalam pemulihan!"
"Ba-baik!"
Mereka berdua pun bersiap dalam posisi masing-masing, Gray langsung berlari sambil mengaktifkan sihirnya, menyerang Laxus-nii secara bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan untuk menyerang. Terjadi ledakan kecil di sekitar, membuat pandanganku kabur untuk sesaat, dan secara tidak terduga muncul sekumpulan petir yang menyapu bersih debu-debu di sekeliling. Laxus-nii terlihat sangat marah, langsung menyerang secara agresif tanpa pandang bulu.
"Barrier!" sihir tersebut mampu melindungi seseorang dari serangan sefatal apapun, tetapi hanya dapat bertahan paling lama delapan detik, dan Gray memang selamat dari serangan itu hanya saja serangan kedua mengenainya secara langsung
"Gray!" teriakku memanggil namanya, dia terlihat sekarat!
"Jangan kesini, dasar pengkhianat!"
"…"
"Tenang saja, aku akan meyembuhkan lukamu" ucap Mavis berlari ke arah Gray, mempersiapkan diri untuk menggunakan sihir heal
"Tidak semudah itu, bocah!"
Sekali lagi tanpa ampun Laxus-nii menjitak leher Mavis keras, membuatnya pingsan seketika tanpa ada kesempatan untuk menyembuhkan luka Gray. Apa kami telah kalah? Bukan kami tetapi mereka…aku tidak lebih dari sekedar anggota sementara yang kemudian berkhianat. Bagaimana ya reaksi Jellal ketika mendengar hal ini? Apa benar seperti perkataan Gray dia akan memenggal kepalaku?
"Jangan putus asa terlebih dahulu!" terdengar teriakan dari arah yang tidak terlalu jauh, bukankah dia Natsu? Ya samar-samar aku mendengar seseorang menyebut namanya tadi
"Jellal tidak akan pernah melakukan hal sadis seperti itu! Justru sebaliknya, dia akan datang untuk menyelamatkanmu!"
"Nat…su…" darimana dia tau akan hal itu? Pengelihatan masa depan, tebakan?
"Meskipun kami kalah, masih ada kamu dan juga Jellal, kalian adalah partner yang hebat!"
Semua perkataan Natsu barusan sukses membuatku bingung, kami belum berteman juga berkenalan, dia seakan berkata sudah mengetahui hal itu dari lama sekali. Laxus-nii datang menghampiriku, setelah mengalahkan semua anggota yang ada mungkin tujuan selanjutnya adalah membawaku pulang ke rumah, tetapi apa memang aku harus pulang?
"Ayo pulang, sudah tidak ada alasan bagi kita untuk berada di sini"
"Tapi…"
"Erza-sama, aku sudah menyelesaikan misi, apa boleh aku pulang bersama adikku?" tanya Laxus-nii tanpa mempedulikan perlawananku barusan
"Tentu, biar aku saja yang mengurus bocah-bocah ini"
"Terima kasih Erza-sama" ucap Laxus-nii sambil membungkuk penuh hormat
Tanganku terasa beku, tanpa melakukan perlawanan atau memberontak aku pasrah saja dibawa pulang oleh Laxus-nii. Apa benar jika Jellal akan datang menyelamatkan kami semua, atau mungkin itu hanyalah kebohongan belaka karena sebenarnya dia sudah dikalahkan oleh Erza?
SLASSHHH!
Percikan darah tersebut mengenai bajuku, berceceran di mana-mana yang juga menimbulkan kepulan asap di sekitar. Terdengar seperti suara tebasan pedang, saat asapnya perlahan-lahan pudar aku melihat Jellal dengan tangan dan pedang berlumuran darah menebas dada Laxus-nii hingga terluka parah. Seketika mataku terbelalak melihatnya, sejak kapan dia datang dan melancarkan serangan?
"Jangan rebut Lucy dariku!" teriak Jellal penuh amarah, membuat Laxus-nii mundur beberapa langkah sambil memasang posisi siap bertarung
"Lightning dragon roar!"
Hanya dengan menggunakan pedang di tangan kanan Jellal menangkis serangan tersebut hingga terhenti, di-dia benar-benar hebat! Belum pernah aku mendengar ada seseorang yang bisa menghindar dari serangan Laxus-nii.
"Seperti yang diharapkan dari Jellal, meskipun terluka parah kamu tetap memberikan perlawanan yang baik"
"Aku mengakui telah kalah dari Erza, tetapi aku tidak akan kalah darimu Laxus"
"Jangan sombong dulu bocah! Bagaimana kalau kita beradu pukulan?"
Kalau kulihat sepertinya Jellal menerima tantangan tersebut, kedua pedangnya lenyap begitu saja, memasang kuda-kuda dan bersiap untuk beradu pukulan. Secara bersamaan mereka berdua melancarkan pukulan, menimbulkan angin di sekitar karena kekuatan yang sangat besar. Pertarungan itu hanya terjadi selama lima detik dengan hasil tangan kanan Jellal mengalir darah banyak sedangkan Laxus-nii terlihat baik-baik saja.
"Kau hebat juga bocah" ucap Laxus-nii memperlihatkan tangan kanannya yang bengkak, asumsiku adalah tulangnya remuk karena pukulan Jellal barusan
"Tanganku juga berdarah, apa pertarungan ini akan kita lanjutkan?"
"Selama musuh belum dikalahkan tidak alasan untuk mengkahiri pertarungan"
Dengan tangan kiri Laxus-nii kembali melancarkan pukulan seperti tadi, hanya saja diselumuti petir berwarna kuning sehingga memperkuat serangannya. Jellal berhasil menghindar dengan memaut jarak sekitar satu centimeter, tetapi kilatan petir tersebut sukses mengenai telinga kanannya dan nyaris terpotong!
"Sedikit lagi saja maka telingamu akan terpotong, gerak refleks yang bagus Jellal atau mungkin si tuli?" sindir Laxus-nii yang menurutku agak keterlaluan
"Telinga kiriku masih berfungsi, jadi aku tidak tuli Laxus"
"Terserah kamu saja, dan juga jangan terlalu banyak saat bertarung"
Usai mengucapkan hal barusan Laxus-nii melancarkan serangan tiba-tiba, memukul dada Jellal keras hingga terpental ke belakang. Lukanya sekarang benar-benar parah, tidak mungkin dia bisa menang!
"Kamu sudah kalah, Jellal"
"….."
"Masih sadar rupanya" lanjut nii-san dengan memukul wajah Jellal berulang-ulang kali tanpa mengurangi kekuatannya, kalau begini terus nyawa Jellal bisa terancam!
Maka dari itu aku langsung mengambil tindakan, menyerang Laxus-nii dari belakang dengan menggunakan dua pedang steno. Benar saja ia menyadari seranganku dan menahannya tanpa senjata apapun, melihat ada celah tanpa segan-segan aku langsung menusuk perutnya dalam dengan pedang di tangan kiri, tetapi itu saja tidak cukup jadi kutusuk perutnya berulang-ulang kali hingga merasa lelah.
"Lucy, kenapa kamu melaku..kan…nya?"
"Gomenne Laxus-nii, gomen…" ucapku meminta maaf sambil menangis, berhenti menyerang dan menundukkan kepala tanda menyesal
"Anak bodoh…" kupikir Laxus-nii akan membentakku keras, justru dia malah mmengelis kepalaku pelan
"Kamu benar-benar menyayangi Jellal, ya…ma-maafkan kakak yang selalu sibuk, selama ini aku gagal sebagai seorang kakak, melindungi adik sendiripun tidak bisa…."
"Laxus-nii salah, kamu adalah kakak terbaik yang pernah kupunyai! A-aku adalah adik yang buruk, bukannya mendukung kakak aku malah membunuhmu…hiks…hiks…"
"Syukurlah kamu semakin kuat, kakak senang Lu..cy…dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa merebut Lucy dari sisimu, Je…lal…"
"…" mendengarnya Jellal hanya terdiam bahkan memalingkan muka dariku dan Laxus-nii
"Jagalah dia untukku, jangan sampai kamu melukai…nya…"
Dan setelah semua ini, Laxus-nii menghembuskan nafas terakhir, mengeluarkan kata-kata perpisahan sebelum pergi dari dunia ini. Tangisanku semakin menjadi-jadi, bagaimana bisa aku membunuh kakakku sendiri? Aku, aku bukan pembunuh! Jellal bangkit berdiri dan menarik tanganku lembut, seakan berkata "ayo pergi dari sini"
"Laxus meninggal ya…" ucap Erza saat Jellal melewatinya
"Ya, dia sudah meninggal"
"Jellal memang hebat, bisa membunuh anggota paling kuat dalam pemerintahan"
"Membunuh apa? Lucy-lah yang membunuh kakaknya sendiri" ujar Jellal dingin tanpa rasa berkabung sedikitpun
"Tetapi kalau bukan karena tebasanmu Lucy belum tentu bisa membunuh kakaknya sendiri, Laxus meninggal karena kehabisan darah"
"Sebelum bertarung denganku atau anggota lainnya Laxus terkena bom racun dan efeknya baru terasa sekarang. Ada juga luka bakar di sekitar dada dan tangan kanan, kalau bukan karena racun dia tidak akan mati semudah itu"
"Pengamatan yang bagus Jellal, setelah ini apa yang akan kamu lakukan?"
"Itu bukan urusanmu, Erza…"
Percakapan mereka berdua tadi semakin memperkuat bahwa akulah yang membunuh Laxus-nii, kenyataan memang kejam dan tidak bisa dilawan. Sekarang tujuan kami adalah kembali dan memulihkan luka masing-masing. Setelah ini apa yang harus kulakukan, menjalani kehidupan normal atau mungkin menjadi seorang pembunuh?
Bersambung….
Next chapter : Keputusan yang Sulit
