Please re-read the last chapter before you start this chapter.
.
.
.
.
.
Aku melihatnya disana, ketika jam istirahat ke 2, di kafetaria sekolah.
Dia tinggi, dengan kulit sedikit pucat, dan rambut raven berantakan. Terlihat berbahaya dengan tatapannya yang menusuk.
Wajahku memerah karena memperhatikan sosoknya terlalu lama.
"Nine!" Teriak seorang pria dimeja disebrang mejaku. Dia menoleh. Tak tersenyum, tak berekspresi. Aku berpura pura fokus pada makananku. Matanya terlalu tajam, seakan bisa melelehkanku dari jarak beberapa ratus meter. Apalagi saat ini ia sedang berjalan mendekat.
"Ambil tomatku, Aku tidak suka." Kata si pria sambil setengah tertawa. "Makanlah yang banyak, calon jenderal!" ia menepuk nepuk punggung Nine.
"Hn,. Arigatou." Jawab Nine, ia mengambil dua buah tomat yang ada di piring di nampan.
Rasanya aku pernah mengalami kejadian ini.
Sementara aku mengingat ingat, Nine berjalan kearahku. Menaruh nampannya dimejaku, aku terdiam, terpaku. "Ada apa? Kenapa memandangku seperti itu?" Tanyanya dengan alis bertaut.
"Huh?" Aku mengedipkan mataku beberapa kali.
"Ada yang salah?" Nine duduk, masih sambil memandangiku.
"Uh.. Um.." Aku membuka suaraku gugup. "A-aku hanya tak bisa membayangkan, pria setegas dan sedingin dirimu ternyata.. suka makan tomat. Kupikir kau makan beling." senyumku terlepas, aku tak dapat menahannya lebih lama lagi. Wajahku juga pasti sudah memerah.
Nine tersenyum juga ketika melihat senyumku.
Ia menendang pelan sepatu boots yang kukenakan, "Dulu kupikir kau makan buku." tangannya menarik tanganku yang baru mau mulai menyuapkan nasi kedalam mulutku, menggiring sendokku menuju kemulutnya.
Pipiku terasa panas ketika ia makan dari sendok ditanganku, membuatku terlihat seperti sedang menyuapinya. "Hm.." ia mengunyah, "Enak."
Onyxnya berkilat, menatapku.
Sasuke, Nine. Uchiha. Ia punya banyak nama, panggilannya selalu berbeda disemua tempat. Tapi aku akan selalu mengenalinya. Lagipula, ia memang sangat mudah dikenali.
Kadang aku merasa ciut jika sedang berhadapan dengannya. Ia terlalu kuat, cerdas, pemberani, dan.. Dan sulit untuk mengimbanginya, sungguh.
Sudah beberapa bulan berlalu, sejak penyerangan Amerika itu. Kini semuanya sudah mulai terasa normal, seperti dahulu. Gedung sekolah sudah diperbaiki, keamanan sudah ditingkatkan, dan warga sudah kembali pada kehidupan mereka yang biasa.
Tak banyak yang berubah, kecuali jika perubahan yang kau maksud adalah tentang posisi duduk Nine saat makan siang.
Um.. Dan seragam baruku, mungkin.
"Kau sudah menemukan rompi yang sesuai dengan ukuranmu?" Sasuke menyodorkan sepotong kecil tomatnya padaku dengan garpu, aku harus memudurkan kepalaku sedikit karena ia menyodorkannya terlalu dekat.
"Belum." jawabku, "Kurasa aku akan baik baik saja.. Tanpa rompi anti peluru."
"Hn. Dan membuatku khawatir setengah mati lagi karena menghilang begitu saja ditengah penyerangan? No way." Ia bicara sambil mengunyah tomat dimulutnya.
"Tapi buktinya aku selamat."
"Selamat, dengan banyak luka."
"Kau juga memakai rompi, dan tetap terluka 'kan?"
"Jangan membantah seniormu, Eleven." Sasuke menodongkan garpunya padaku.
Aku berhenti mendebatnya, lalu kembali pada makananku.
Sasuke mengacak rambutnya, membuat penampilannya makin tak beraturan. Aku juga tak mengerti mengapa ia tetap terlihat begitu keren dan modis dengan rambut berantakan dan jeans robek seperti itu, aneh sekali.
"Ya, kau sebaiknya tidak membantah seniormu, El." Aka muncul tiba tiba, dengan suara dibuat buat, meledek kami. Ia kemudian duduk disebelahku.
"Aku tidak membantahnya, aku hanya mencoba mengatakan kalau aku akan baik baik saja tanpa rompi hitam berat itu.." Aka hanya mengangguk angguk saja mendengar pembelaanku. Kedua tatto taring di pipinya terlihat turun naik dimataku.
"Kau tidak tahu kapan musuh akan menyerangmu. Kau harus selalu siaga, El." Sasuke berkoar.
"Yup, itu benar." Aka menjentikan jarinya, "Kau harus selalu siaga."
Aku menghela nafas, pasrah. Kedua pria ini memang tak pernah membelaku, mereka bersekongkol. Mereka bersekongkol untuk memojokanku.
.
.
.
World Without You
.
.
.
"Dia benar benar kelas 3?"
"Kyaa! Wajahnya tampan! Rasanya aku tersedot masuk kedalam tatapannya!"
"Apa dia sudah punya kekasih?"
"Keren sekali! Aku juga ingin menjadi penjaga!"
Kalimat kalimat itu berhasil terdengar olehku ketika aku memasuki ruang latihan. Sedikit berbisik, dan nyaring. Suara khas gadis gadis penari.
Aku mengedarkan pandanganku, mencoba mencari orang yang digunjingkan sekumpulan gadis cantik itu.
"Nine." Panggilku.
Satu satunya siswa kelas 3 yang berdiri di arena punching bag berbalik, merasa namanya dipanggil.
Sasuke sangat populer, tentu saja. Karena dada bidangnya, gayanya yang sedikit misterius dan cara bicaranya yang singkat dan kadang ketus. Wajah tampannya juga tak dapat dipandang enteng, ia mendapat banyak penggemar dengan modal utamanya itu.
Kulirik gadis gadis penari yang sedang berkumpul dikursi istirahat sedikit. Mereka menatap Sasuke dan aku bergantian, dengan ekspresi kaget dan bertanya tanya. Aku tersenyum.
Aku tersenyum karena wajah sekelompok gadis itu sungguh lucu, dan aku tak bisa menertawakan itu didepan mereka. Mungkin mereka bingung mengapa gadis biasa dengan eajah yang biasa saja seperti diriku ini bisa mendapat perhatian seorang Sasuke.
Mungkin juga mereka bingung mengapa gadis bertubuh lemah dan berkulit pucat seperti aku bisa mengenakan seragam penjaga. Senyumku makin lebar, tanpa bisa kukendalikan. Dan Sasuke mungkin salah menilainya, mungkin ia pikir aku tersenyum padanya.
Ia berjalan menghampiriku. Kaosnya terlihat basah karena keringat, dan ekspresinya tak bisa ditebak.
"Sudah siap untuk berlatih?" tanyanya. Aku mengangguk, "Hmm.." jawabku.
Kami berjalan menuju ke ring, sebuah arena bertarung. Aku meletakan tas dan jaketku di loker, kemudian menyisir cepat helaian rambutku dengan jari dan mengikatnya tinggi. Hawa panas ruang latihan langsung menyeruak mengenai kulit leherku.
Sasuke masuk kedalam ring, "Jangan mendendangku sungguhan, ok?"
"Ya ya, jika aku ingat.." Aku tertawa.
Kami berlatih hingga siswa siswa yang berkumpul di ruang latihan mulai kembali kekelas mereka satu persatu. Kini ruang latihan terlihat lebih lengang.
Wack!
"Ups.." ucapku spontan ketika melihat Sasuke meringis pelan karena pukulanku diperutnya.
Aku mendekatinya, "A-apa.. Itu sakit?" kusentuh daerah perutnya, ia menepis tanganku.
Terkejut, aku menatap wajah penuh peluhnya khawatir. Onyxnya perlahan menjadi kemerahan. "Hei, Eleven.." ia berkata sambil terengah engah, "Bisakah kau.. Bawa.. Aku ketempatku?"
"Te-tentu saja! Tentu saja!" Aku melingkarkan tangannya dibahuku, mencoba membantunya berjalan.
Sasuke menolaknya, ia berjalan duluan didepanku, menolak bantuanku. "Tidak perlu." jawabnya singkat.
Ia terus berjalan, dan aku merasa sangat bersalah. Aku juga baru ingat kalau beberapa hari yang lalu ia baru saja sembuh dari cidera peluru listrik. Setiap berpapasan dengan orang yang mengenalnya, ia hanya mendengus sebagai jawaban dari salam mereka.
Sasuke terpincang, kurasa ia menahan rasa sakitnya terlalu keras hingga tenaganya hampir habis. Rasanya tanganku sudah bergetar hebat. Akan lebih baik kika ia memarahiku dan menceramahiku panjang lebar daripada diam tanpa kata seperti sekarang. Aku benar benar menyesal. Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak memaksanya melatihku hari ini, seharusnya aku lebih mandiri ketika test tembak menembak sehingga ia tak perlu mengalami cidera sejak awal. Seharusnya lebih menghargainya, dia, yang selalu ada untukku.
Kami masuk kedalam lift, dan seperti sebelumnya, Sasuke tak mau melihatku. Aku hanya dapat memandangi punggungnya saja.
"Sa.. Sasuke.."
Ia menengok sedikit, seakan memberi tanda kalau ia mendengarkan, walaupun tidak menjawab.
Aku menarik nafas panjang, "Ma- maaf.." bibirku bergetar, mataku panas.
Hatiku menciut.
Ia telah menyelamatkanku berkali kali, ia telah mengajariku banyak hal. Tapi aku hanya menjadi beban yang terus menerus memberatkannya, tak membantu apapun sama sekali.
Aku ceroboh, aku keras kepala, dan lemah.
Aku..
Sebuah tangan menarikku, membawa tubuhku bersentuhan dengan tubuh Sasuke yang hangat.
Aku begitu terkejut hingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia kemudian menghembuskan nafasnya di tengkukku, "Hinata.." bisiknya.
Jantungku berdegup sangat cepat. Jemari Sasuke terasa dipucuk kepalaku.
Aku membalas pelukannya, aku melingkarkan tanganku dilehernya. "Maaf.. Aku memang tidak berguna.. Maaf.."
Sebuah senyum terasa ditengkukku, "Kupikir.. Sendirian adalah cara yang paling baik untuk meredakan perubahanku.." ia mengeratkan pelukannya padaku.
Sebenarnya aku masih tidak mengerti akan ucapannya, namun aku tidak peduli.
Mengetahui kalau ia ternyata tidak marah padaku sudah membuat seluruh beban dipundakku terangkat.
Ting!
Pintu lift terbuka, menampakan sebuah lorong dengan pintu bernomor 16 diujungnya.
Sasuke tetap pada posisinya, memelukku erat. Aku hanya bisa melirik lorong didepanku bingung. "Um.. Sasuke?" panggilku pelan.
"Hn."
"Ng.. Pi-pintu liftnya.."
"Diamlah," Potong Sasuke, "Kau sedang dihukum karena sudah merepotkanku."
Dihukum?
Dihukum.. Dengan.. Sebuah pelukan?
"Sasu.."
"Kau juga harus merawatku hingga cideraku sembuh total."
"A-apa?"
"Dan memasak makan malam untukku."
"Hei.. Tu-tunggu.."
"Aku juga tidak memberimu ijin untuk bertugas dimalam hari, terlalu berbahaya."
"Tunggu dulu.."
"Dan jangan pernah berpikir untuk minta diajari oleh pria lain selain aku."
"Sasuke!" Aku mendorong pelan dadanya, membuatnya mengendorkan sedikit pelukannya.
Ia menatapku intens, pipiku memanas.
"Pi-pintunya.." ujarku, mengelak.
Setelah mengatakannya, aku langsung bergerak keluar dari pelukan Sasuke, dan berjalan keluar dari lift. Sasuke mengikutiku dibelakang.
Jalannya tak lagi pincang, tapi ia masih memegangi daerah samping perutnya.
Sekali lagi, perasaan bersalah menggerogotiku. Aku memperlambat langkahku, berjalan berdampingan bersamanya. "Kenapa.." suaraku terdengar mencicit.
Sasuke menengok. Aku melanjutkan kata kataku, "Kenapa kau menolak bantuanku?"
Alis Sasuke bertaut, "Aku tidak menolaknya."
Lengannya tiba tiba saja memberatkan bahuku. "Wah!" Aku kehilangan keseimnanganku sesaat. Sasuke tertawa setelah melihat wajah panikku.
"Uhh.. Kau meledekku ya?"
Sambil membuka pintu condominium nya, Nine tersenyum padaku. "Menurutmu?"
Otakku berpikir keras hingga keningku memanas, tapi aku tetap tidak mengerti. Aku tak mengerti apa yang ada dibalik tatapan onyx nya, aku tak mengerti teka teki dibalik ucapannya. Ia, Nine, Sasuke, ia lebih rumit daripada sebuah permainan catur.
Dan aku tidak keberatan.
Sama sekali tidak.
Kenyataan bahwa aku tak bisa bersama dia selamanyalah..
Yang terkadang,
membuat hatiku hancur perlahan.
.
.
.
.
.
"A love where no one gets hurt doesn't exist."
- Hirunaka no Ryuusei, Yamamori Mika
.
.
.
.
.
World Without You
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©Pipoooy12
Warnings: Please prepare for the heartbreaks.
OOC, AU, typo
RnR?
Enjoy!
.
.
.
Pantai selatan Jeju terlihat ramai.
Abu bekas kebakaran melintang disepanjang garis pantai.
Pantai Jeju ramai bukan karena ada perayaan atau festival, namun karena jumlah orang yang terluka akibat pemusnahan mayat hidup tadi siang banyak sekali. Untungnya, tak ada korban tewas. Semua orang selamat.
Yoon Ju terlihat sibuk memeriksa dan mengobati para pria yang terluka, bersama dengan beberapa dokter lainnya. So Ra juga demikian. Para wanita dan anak anak sudah diperbolehkan untuk kembali berkumpul bersama keluarganya, sekaligus membantu para dokter yang jumlahnya hanya sedikit.
"Nine.." Shika berjalan menghampiri Sasuke yang sedang sibuk mengobati lukanya sendiri. "Aku dapat kabar baik dari Tobi, katanya para tawanan Jepang berada disalah satu pulau dekat sini, mereka semua dalam keadaan baik karena bantuan masyarakat sekitar."
Sasuke menoleh sebentar, mendengarkan.
Setelah selesai dengan perbannya, ia berbalik menghadap Shika. "Bagus. Kirimkan pesan pada Angkatan laut agar mereka mengirimkan kapal penyelamat secepat mungkin."
Shika menyipitkan matanya, menatap Sasuke tajam.
"Kau baik baik saja?" tanya Shika to the point. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya itu sejak mereka meninggalkan pangkalan Angkatan udara. "Kau bisa ceritakan semuanya padaku, aku takkan berkomentar." ia mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka.
"Bukan masalah besar." jawab Sasuke singkat, dingin.
Khawatir.
Sebuah senyum meledek tercipta diwajah Shika yang lelah, "Masalah apa yang lebih besar daripada seorang ilmuan gila yang menciptakan mayat hidup dan menyerang civilians, hah?"
Sasuke duduk disebuah bongkahan batu besar, menunduk, mengusap tengkuknya gugup.
Shika ikut duduk, membelakangi Sasuke.
"Kau terkena gigitan mayat hidup?" tanya Shika sembarangan.
"Hm?" jawab Sasuke, "Tidak."
Keheningan perlahan mengisi ruang diantara mereka, otak mereka yang penuh dengan berbagai macam pikiran membuat mereka tak bisa berkata banyak.
"Apa.." Suara Sasuke terdengar sayup, bergumam.
Shika memasang kupingnya, siap mendengarkan. Dalam hatinya ia tahu itulah gunanya teman sejati, sebagai pendengar setia.
"Apa yang harus aku katakan padanya?"
Sasuke mengurut keningnya sendiri, "Kau tahu.. Aku.. Dia.. Dialah datu satunya yang tersisa untukku, dan.. Dan aku harus melepaskannya."
"Melepaskannya.. Agar ia tak berakhir sama seperti ibuku, meninggal demi menyelamatkan anaknya.."
Setetes air mata jatuh dari ujung dagu Sasuke, "Melepaskannya agar ia bisa memiliki umur yang lebih panjang dari pada aku.. Melepaskannya, membiarkan ia hidup dengan tenang.."
Angin laut berhembus, memainkan helaian rambut hitam Sasuke yang berantakan itu, memainkan daun daun pohon kelapa yang tinggi, memainkan air laut yang suara deburannya menenangkan hati.
Sama seperti kenyataan yang selalu memainkan hati dan perasaan semua orang.
Shika menatap langit malam yang cerah itu sendu, ia turut berduka atas keputusan yang diambil oleh temannya tersebut. Ia turut bersuka atas kenyataan yang harus dihadapi seorang Uchiha yang duduk dibelakangnya sekarang.
.
.
.
Ketika semua orang sibuk, Hinata memperhatikan dari atas jet yang sedang berada didekat kemah para tentara.
Hembusan angin laut mengenai rambutnya yang ternyata, sudah kembali normal. Berwarna indigo sepunggung. Wajahnya tenang, memandangi langit malam yang indah. Ia tak ingin bergerak. Ia terlalu lelah untuk bergerak.
Ia tak pernah menyangka kalau ternyata satu hari dapat terasa begitu panjang dan berat. Ia tak pernah menyangka Sasuke akan benar benar datang untuk menyelamatkannya.
"Hinata?" Panggil seseorang dari arah belakang.
Seorang pria berambut raven yang sedati tadi muncul dipikiran Hinata naik, ada perban yang mengelilingi kepalanya dan menutupi sebagian kecil wajahnya. Mata hitamnya berbinar ketika melihat Hinata menoleh. Ia kemudian mengambil posisi duduk menghadap gadis itu, dengan membawa perban, antiseptik dan salep untuk luka luka Hinata. "Kenapa kau menolak bantuan dari Shika?" tanya pria itu.
Hinata tertawa kecil, "Aku menerimanya Sasuke." jawabnya, "Lihatlah, rambutku sudah kembali seperti semula. Jemari dan kupingku juga." ia menunjukkan jemari jemari tangannya pada pria yang dipanggilnya Sasuke tersebut.
"Cih." Sasuke terlihat sebal, "Bukan bantuan itu yang kumaksud, nona keras kepala." tangannya membentuk sebuah kepalan, lalu menjitak dahi Hinata pelan.
"Kemarilah." Sasuke menepuk nepuk pahanya, meminta Hinata menempatkan kakinya didalam pangkuan Sasuke. "Um.. Kau yakin?" tanya Hinata ragu.
Ia meluruskan kakinya dipangkuan Sasuke. "Aku bisa minta bantuan Yoon Ju, jika kau tidak.."
"Aku bisa." Saauke memotong kata kata Hinata, moodnya tiba tiba berubah menjadi buruk setelah mendengar nama Yoon Ju. Ia membersihkan luka luka di kaki Hinata pelan dan lembut.
Sebenarnya ia tak pernah mengobati seseorang sebelumnya, tapi jika dia tidak melakukannya, pria berambut biru langit yang suka sekali tersenyum itu akan menyentuh Hinatanya. Mana bisa dibiarkan? Walaupun Sasuke tidak pernah memaksa Hinata untuk tidak bicara pada pria manapun selain dirinya, tapi Sasuke tahu pasti apa yang ada dipikiran Si Biru Muda itu jika Sasuke membiarkan Hinata datang padanya.
"Sasuke.."
"Hn?"
"Kenapa kau ada disini?"
"Karena.." Sasuke berpikir sejenak, "Karena kakimu harus diobati, kurasa."
Hinata menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bukan itu.. Ma-maksudku, kenapa kau bisa sampai ke pulau ini?"
"Hm.." Sasuke terlihat sedikit canggung.
Ia tak pandai mengekspresikan perasaannya. Selama ini ia selalu fokus pada teknik bertarung, menembak, dan menjaga gerbang. Ia tak pernah belajar untuk mengatakan apa yang dirasakannya, menyatakan apa yang hatinya inginkan. Selama ini ia menutup dirinya pada semua orang, dan kini jantungnya berdegup dengan sangat cepat.
Hanya karena ia harus menjawab pertanyaan singkat dari Hinata.
"Karena.." Pupil hitamnya menghindari tatapan Hinata. Apa yang harus dia katakan? Apa alasan yang harus dia berikan? Bagaimana nadanya? Bagaimana ia harus mengucapkannya?
"Aku.. Ingin.."
Ia mengacak rambutnya, "Aku mencarimu. Aku meminta bantuan dari teman ayahku, agar aku bisa pergi sendiri untuk menemukanmu. Aku sangat takut, Kalau.. Kalau kau meninggalkanku.." kata kata Sasuke makin berantakan, sehingga ia berhenti sejenak. Kemudian ia menarik nafas,
"Aku menyukaimu.."
"Tidak," Ucap Sasuke kemudian, "Aku.. Mencintaimu, Hinata."
"A-apa?" Hinata yang tadinya terlihat tenang dan sedikit mengantuk kini terlihat sangat merah dan terkejut mendengar kata kata Sasuke.
Pandangan Sasuke melembut, "Aku mencintaimu." ia mengulangi kata katanya, "Ya. Itulah alasanku mencarimu sampai sejauh ini. Karena aku mencintaimu Hinata, aku mencin.."
"Tu-tunggu dulu.." Hinata menahan ucapan Sasuke, tangannya menutupi mulut pria itu.
"Ini.. Ini hanya lelucon bukan? Kau.. Kau.." Tanpa sadar, Hinata menarik kakinya tiba tiba. Membuat rasa sakit menyerangnya seketika itu juga.
"Ow, ow.." keluhnya.
"Jangan bergerak tiba tiba.." Sasuke memandang pupil lavender Hinata lekat, membuat gadis itu memerah. Tangannya meluruskan kaki Hinata pelan, "Sakit?"
"Ti.." Hinata mencoba bicara, tapi ternyata tidak berhasil. Gagapnya kambuh.
Wajahnya terasa begitu panas, walaupun udara malam ini tidak panas. Akhirnya ia hanya menggeleng saja.
Sasuke tersenyum tipis, tangannya membubuhkan salep pada luka bakar Hinata lembut. "Hinata.. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi.." pandangannya tertuju pada luka Hinata.
"Kenapa aku?" Hinata memandangi Sasuke malu malu, lalu ketika Sasuke melihatnya, ia berpura pura menatap ke langit.
"Kenapa apa?" Sasuke mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kenapa aku? Aku.. Hanya gadis kecil yang lemah dan penakut. Wajahku tidak cantik, dan.. Dan.. Tubuhku juga tidak.."
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku begitu menyukaimu, nona." Sasuke tertawa mendengar kata kata Hinata yang panik dan sangat gugup itu, "Aku tak pernah menyukai orang lain selain dirimu." Ia selesai dengan perbannya.
Kini mereka duduk menghadap ke pantai bersama, menatap langit malam yang berbintang.
"Kau suka bintang?" tanya Hinata tiba tiba, seperti mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
"Kau suka?" tanya Sasuke balik.
"Umm.. Aku.. Suka pada warna langit saat malam tiba.." jawab Hinata dengan suara yang sangat kecil, "Dan matamu.. Persis seperti itu."
Sasuke menengok, spontan.
Bahkan mayat hidup yang menarik kakinya tak dapat membuatnya sekaget ini.
Wajahnya merona, wajahnya merona karena seorang gadis pemberani bernama Hyuuga Hinata.
Sejak kecil, ia selalu suka pada kegiatan memandangi Hinata dari jauh. Ketika ayahnya, Fugaku, bermain catur bersama Hiashi, ia akan duduk didekat ayahnya, memandangi Hinata yang asyik membaca buku. Ia tak pernah melihat gadis lain selain Hinata.
Baginya, Hinata adalah bintang, disiang hari. Ia mungkin tak terlihat, tapi ia selalu ada disana. Dihatinya. Hinata punya tempat yang khusus dihati Sasuke.
Di sekolah, Sasuke sengaja mengubah shift siangnya menjadi shift malam agar ia bisa melihat Hinata di siang hari. Walau akhirnya ia mengikuti shift siang dan malam karena Hinata ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan ketimbang berkeliaran disekeliling sekolah.
Ia menyukai Hinata.
Mengenal Hinata sama seperti melihat bintang jatuh disiang hari.
Mimpi yang menjadi kenyataan.
Keajaiban.
Dulu, dan sekarang. Dan mungkin selamanya akan seperti itu.
Meski ia tahu ini bukan pertanda yang baik.
Hinata menenggelamkan wajahnya dalam dekapan lututnya. "Aku ini sangat lemah, Sasuke.. Aku menangis hanya karena mereka menodongkan senjata mereka padaku." ia menghela nafas, "Kau pantas mendapat gadis yang lebih pemberani.. Sasuke.. Seperti, Karin, atau.."
"Kau tak pernah menjadi gadis yang penakut." Jawab Sasuke. "Dimataku, kau adalah gadis yang paling pemberani, Hinata. Bintang yang paling terang."
Malam semakin larut, kerumunan orang yang tadinya memenuhi pantai sudah mulai senggang. "Aku ketakutan, Sasuke." Hinata menelan ludah, mengigit bibir bawahnya.
"Aku gemetar dan panik. Aku menangis."
Sasuke memperhatikan dalam diam. Mensejajarkan kepalanya dengan kepala Hinata yang tertunduk. "Semua orang boleh menangis Hinata.. Menangis takkan membuatmu berdosa.."
"Aku.. Hampir terbunuh.."
"Tapi kau masih bisa sampai kesini, dan menyelamatkan nyawa ratusan orang lainnya bukan?" ia mengelus helaian rambut Hinata yang terasa dingin dan sedikit basah. "Kau sangat hebat."
"Aku sempat bunuh diri, kau tahu.." Hinata menoleh kesamping, kearah Sasuke.
Ia mencari 1001 alasan mengapa Sasuke layak mendapat gadis yang lebih baik, dan ia gagal.
Lavendernya lalu terkunci oleh Onyx Sasuke.
Rona merah muncul lagi dipipi Sasuke, "Kenapa?" ia memainkan helaian rambut Hinata, menghirup kembali wangi lavender gadis itu. "Apa kau tak mau lagi melihat wajahku?"tanyanya ketika Hinata mencoba melihat kearah lain.
"Tidak! Bukan.. Bukan begitu.. Aku hanya.." Panas menjalar diwajah Hinata.
"A-aku.."
"Aku mencintaimu."
"He-hentikan itu.. Sasuke.."
"Aku mencintaimu."
"Ugh.. Sa-Sasuke,"
"Aku mencintaimu."
Hinata gerah, rasanya seperti ada bara api diwajahnya. "Cukup! A-aku sudah.. Aku sudah mendengarnya.."
"Dan maaf.."
"Huh..?"
"Maaf .."
"Aku tak bisa berada disisimu selamanya.."
Entah mengapa, untuk pertama kalinya, Hinata merasakan perih yang melebihi perihnya sebuah luka bakar.
Dihatinya.
.
.
.
F
I
N
.
.
.
Big thanks to:
Eternal Dream Chowz, for Sasuke's "midnight eyes" quote.
Si Bebek Kuning, for giving me PM and always read this fiction even when it's under construction.
And for all of you that followed this fiction.
Thank you, very, very much.
And sorry,
For the heart breaks.
