Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;
Recommended song for this chapter:
- KNB ED Teikou Arc. – You
- Vocaloid [GoM Ver.] – Just Be Friends
- Maroon 5 – The Man Who Never Lied
- Little Mix – Turn Your Face
- YUI – Namidairo
- Linkin Park – Numb
- The Script – Six Degrees of Separation
- Nickelback – Too Bad
- I Miss You – [Uncontrollably Fond OST.] Hyolyn (Sistar)
- SNSD – Divine (Japan Ver.)
- 才.能.シ.ュ.レ.ッ.ダ.ー
You'll get it right away.
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
.
.
.
"Kurokocchiii!~~~"
BRUK
"Ki-Kise-kun… Sesak.."
"Oi, kau jangan memeluk Tetsu terlalu erat. Dia tidak bisa bernapas, bodoh!" Aomine memukul belakang kepala pemuda berambut cerah itu dan menimbulkan protes bagi sang korbannya.
"Jahatnya, Aominecchi! Hidoi-ssu!~" rengeknya dan mencoba mencari perlindungan dengan Kuroko sebagai tameng.
"Tolong jangan jadikan aku perisai lagi, Kise-kun." sahut Kuroko sedikit dongkol walau nadanya datar.
"Kalian berisik sekali. Sudahi saja bercandanya-nanodayo." Midorima menghela napas sambil menaikkan kacamatanya dengan jari lentiknya.
"Ah, Midorimacchi nggak asyik-ssu!" cibir Kise sambil cemberut.
"Aku lapar, kapan kita sampai di minimarket? Mau jajan cemilan~.." Murasakibara merengut, bibirnya maju beberapa mili.
"Sabar, Atsushi. Kita akan segera sampai dan kau bisa beli semaumu." ujar Akashi yang berjalan di sampingnya.
Momoi hanya berjalan santai di belakang bersamamu—melihat pemandangan seperti ini sudah biasa bagi kalian berdua.
"(Name)-chan, besok jadi tidak, ke rumahku? Aku mau menunjukkan beberapa koleksi boneka dan buku padamu. Mungkin saja kau suka!" ujar Momoi padamu dan kau menyetujui akan ajakannya dnegan anggukan riang.
"Baiklah, aku akan datang sepulang sekolah." balasmu sambil tersenyum padanya.
Sesaat kemudian, kalian sampai di minimarket dan membeli apa yang diperlukan oleh kalian semua sebelum membayarnya di meja kasir.
Mereka berjalan sambil bercanda dan tertawa riang. Sore hari yang melelahkan terasa menyenangkan dengan sepotong es krim di masing-masing tangan saat mereka bertukar canda dan cerita pada sesama. Walau latihan klub memebuat mereka capek, tapi mreka merasa sangat gembira karena bisa berengkrama.
Di perempatan jalan, semuanya berpisah menuju jalan rumah masing-masing.
Setelah perpisahan di perempatan, tersisa dirimu dan Kuroko saja yang rumahnya searah.
"Kau sudah terbiasa akan kegiatan klub?" tanya Kuroko.
Kau mengangguk. "Ya, begitulah. Setidaknya aku membantu Satsuki-chan dalam perannya. Dia kelihatan sangat tegas dan juga hebat menghadapi kalian semua."
"Lalu, apakah kau suka dengan kami semua? Kuharap kau terbiasa akan latihan keras seperti ini." Kuroko sedikit khawatir akan saat tahu sang gadis mendaftarkan dirinya untuk membantu pekerjaan Momoi yang seorang diri hanya perempuan disana sebagai manajer utama.
"Aku suka kalian semua! Tetsuya-kun baik dan selalu membantuku setiap saat, Ryouta-kun selalu ceria dan membuatku tertawa kalau bercanda, Shin-kun yang pintar dan membantu kita kalau minta diajarkan olehnya—" ujarmu sambil bermain dengan langkah-langkah kecil yang kau buat, membuatmu sedikit berjalan di depan Kuroko—yang berjalan di belakangmu sebelum melanjutkannya lagi.
"—Lalu Daiki-kun juga hebat dalam bermain basket, Atsushi-kun selalu bisa diandalkan, dan Seijuurou-kun selalu jadi pemimpin yang baik untuk timnya. Oh iya, Satsuki-chan juga sangat baik dan ramah orangnya." jelasmu satu persatu dengan jari sambil tak bisa menyembunyikan senyuman darinya.
Langkah lincah tersebut cukup terdengar sambil kau berjalan di depan sang pemuda yang cukup observatif akan keadaan sekililing—itu sudah lumrah dan biasa untuk ia lakukan.
"Rasanya, aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama dengan kalian semua tanpa beban maupun batas waktu. Aku senang sekali!"
Kuroko menyeletuk pelan. "Begitukah? Baguslah kalau kau senang, (Name)-san."
Kau berkata, "Dan nanti, kita bersama akan mewujudkan keinginan kita semua untuk menang di turnamen~"
Pemuda bersurai langit tersebut terdiam sejenak dengan biasa dan menyahutkan pertanyaan.
"Lalu, apa keinginanmu?" tanya Kuroko dengan sedikit penasaran.
Pertanyaannya membuatmu mendadak berhenti berjalan. Raut wajahmu tak bisa pemuda berambut cerah itu lihat—karena kau memunggunginya.
Wajahmu mendongak perlahan ke langit senja. Terasa hangat dan tenang.
"Keinginanku… Aku tidak tahu."
Angin berhembus pelan menerpa kalian berdua.
Beberapa saat kemudian—suatu pikiran terbesit di pikiran sang gadis bermata jernih tersebut. Bibirnya terucap suatu kalimat.
"Aku sudah memutuskannya, Tetsuya-kun."
Kuroko memperhatikanmu yang berbalik menghadapnya—disinari oleh lembayung senja yang menerpa dari belakang dengan diiringi senyuman simpul.
"Aku sudah memutuskannya! Aku akan membuat kenangan terindah di masa SMP-ku bersama dengan kalian semua!" ujarmu sambil berbalik dengan senyum mengembang—di saat itu juga, senja matahari juga menerangi senyum cerah yang ada di wajah manismu.
"Sampai lulus SMP, masuk SMA dan seterusnya, kita akan terus membuat kenangan itu bersama-sama!"
Angin berdesir pelan dengan menyenangkan.
Mendengar keputusanmu itu, Kuroko tersenyum tipis dan mengangguk padamu.
"Iya, (Name)-san. Bersama dengan yang lainnya." ujarnya dan disambut oleh senyuman polosmu yang berada di depannya.
Kedua tanganmu mengepal dan diangkat ke udara setinggi yang kau bisa. "Baiklah. Ayo buat kenangan terindah di SMP ini!" celetukmu polos—melemparkan senyuman yang manis dan imut.
Bersama mereka…
Menantikan esok hari yang lebih berwarna dalam hidup mereka.
Bersama-sama—
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tapi hidup tak selamanya indah seperti yang diharapkan.
Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A.Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: T
Genre: Mystery/Romance
.
.
.
Cuaca itu begitu terik.
Latihan masih berjalan dan membuat kebanyakan siswa yang mengikuti latihan rutin pastinya capek dan lelah. Tak terkecuali dirimu yang membantu klub basket yang tengah dalam persiapan turnamen daerah dalam waktu dekat. Setidaknya kau bisa berguna untuk membantu Momoi dan Akashi agar meringankan pekerjaan mereka sebagai asisten manajer.
Pada suatu siang menjelang sore, kau diminta untuk mencuci handuk-handuk cadangan yang telah kotor dan harus segera dicuci secepatnya. Langkah kakimu menuntunmu menuju ke wastafel besar di samping gymnasium, dengan kedua tanganmu yang membawa seember penuh handuk bau dan kotor karena keringat para pemain yang memakainya. Biar pun begitu tetap harus kau lakukan.
"Panasnya… Aku bisa gosong kalau begini…"
Akhirnya kau sampai di wastafel besar di luar halaman, kau pun meletakkan semuanya dalam posisi nyaman agar kau bisa mencuci handuk-handuk tersebut. Sambil membuka keran airnya, kau pun juga mengambil satu-persatu handuk dan mulai mencucinya dengan sabun cuci. Tanganmu mencoba mempercepat gerakan agar bisa menyingkat waktu untuk membilas, mencuci, dan membersihkan kotoran di handuk-handuk kecil yang dipakai tersebut. Saat hendak menggapai sabun di samping, kau tak sengaja menyenggolnya dan berusaha untuk menangkap sabun cuci cair tersebut agar tidak jatuh ke tanah.
"!" Kau tertegun saat sebuah tangan telah menangkap terlebih dahulu sehingga benda tersebut tak jatuh. Kepalamu mendongak sebelum mengetahui bahwa Akashi lah yang membantumu.
"Untung saja… Kau tak apa?" tanyanya menoleh ke arahmu yang berdiri tegak lagi.
Kau mengangguk kecil. "Ya… Te-Terima kasih, Seijuurou-kun."
"Lain kali hati-hati. Kadang kala kau terlalu terburu-buru." ujarnya kemudian melihat sejenak ember isi handuk kotor.
Akashi menoleh padamu. "Aku akan membantumu."
Mendengar itu, aku pun terperanjat panik dan mencoba menghentikannya. "Ap—Apa? Ti-Tidak usah! Kau 'kan masih latihan dengan yang lainnya. Pasti kau lelah, aku tak mau merepotkanmu—"
Pemuda bermata rubi tersebut hanya menggeleng kecil. Tanpa kata mendekat dan berdiri di sampingmu, sebelum mulai mengambil handuk yang kotor dan mulai mencucinya.
"Kalau berdua, jadi cepat selesai, 'kan?" ia menoleh dan memberikan senyum tipis, membuatmu yang pada akhirnya menurut dan kembali mengerjakan pekerjaan mencucinya.
Keheningan melanda di antara kalian berdua, kau bahkan tak tahu mau bicara apa pada sang pemain gelandang pertama tersebut.
"Bagaimana dengan klubnya? Kau sudah terbiasa?" sahutnya memecahkan suasana canggungmu.
Kau sedikit terperanjat seraya berkata, "Uhm.. S-Sudah.. aku sudah mulai bisa mengerjakan semuanya berkat kau dan Satsuki-chan."
Tangannya masih menggesek kain dan mencucinya. "Syukurlah kalau begitu. Kuharap kau tidak kerepotan menjaga teman-temanku dan para senpai."
"Tidak sama sekali. Mereka cukup asyik kok, dan walau sampai bertengkar, pastinya bisa berbaikan lagi. Itu sudah wajar untuk dimaklumi. Dan aku tahu kalau nanti kita harus kerja keras dalam meraih kemenangan di turnamen." ucapmu sambil memeras kain yang bersih dan diletakkan ke ember yang khusus untuk kain bersih saja.
Akashi menyetujuinya dengan tawa kecil yang singkat. "Yah, begitulah. Kami akan berusaha keras untuk itu."
Pemuda itu berhenti setelai memberhentikan tangannya yang tengah mencuci. "Sekalian juga, aku ingin mengatakan ini padamu."
Angin berhembus pelan walau terik matahari masih bersinar di atas langit.
Kau menolehkan pandangan padanya sambil menghentikan tanganmu yang mencuci, menatap kedua mata rubinya yang terlihat cocok dengan rambut merah miliknya.
Akashi menyunggingkan senyuman tipis sambil menghadapmu.
"Terima kasih untuk semuanya, (Name)."
Kau tertegun sejenak akan perkataannya. Seakan itu adalah sebuah mantra yang membuatmu berpikir—
Bahwa dia memang benar-benar mengucapkan rasa terima kasihnya padamu.
Atas nama tim dan semua anggota.
Juga dirinya.
Hening melanda dalam beberapa waktu, membuat angin berdesir pelan dengan menyenangkan dan membuat tubuh merasakan keringanan yang tiada tara. Seperti ingin terbang dan sangat bahagia.
Senyum lembut menghiasi wajahmu saat angin dengan pelan menerpa dalam diam, memberikan sejuk walau teriknya siang masih terasa.
Tanpa terucap kata pun—kalian saling berpandangan dengan tenang.
Bahwa kalian saling menghormati satu sama lain sebagai teman dan juga bagian dari klub tim basket.
.
.
.
.
.
.
Kau tengah berada di luar tempat latihan sambil mencoba memikirkan banyak hal.
Apakah nanti kalian semua akan makan es krim dan pulang bersama seperti kemarin? Apakah nanti akan ada latihan tambahan? Ataukah mungkin belajar dan main ke rumah salah satu dari mereka untuk membunuh waktu?
"Oi, melamun saja?"
Kau mendongak padanya, mengerjap heran.
"Daiki-kun tidak latihan?" tanyamu sambil memperhatikannya duduk di sebelahmu.
"Tengah kosong. Akashi dan Satsuki pergi menemui pelatih dan kami sudah selesai latihan rutin."
Kau mengangguk mengerti dan hanya melirik bola basket.
Aomine mendesah gusar dan bosan. "Ahh~~~ Aku bosan sekali… "
Kau sedikit menelengkan kepala. "Tapi kan kau bisa main bersama mereka. Ada Tetsuya-kun dan Ryouta-kun. Yang lainnya juga."
"Bah. Mereka asyik sendiri, sedang tengah latihan oper untuk Kise. Aku tak ada teman bermain." Bibirnya mengerucut sembari membuatmu ingin tertawa.
"Jadi ceritanya mau aku temani?" tanyamu iseng, membuatnya makin mendecih pelan.
"Ya…. Kalau mau." gumamnya kecil. Kau tertawa kecil.
"Baiklah."
Mata biru safir tersebut melebar sambil menoleh cepat. "Benar?"
Kau mengangguk kecil.
"Tapi kau bisa 'kan, main basket?" tatapnya selidik.
"Jangan remehkan kekuatan dari (First Name) (Last Name), aku sudah diajarkan oleh Satsuki-chan!" ujarku sambil membanggakan diri sendiri.
Pemuda itu berdiri dan memberikan tangannya.
Kau mendongak melihat wajahnya.
"Ayo kita bermain bersama, (Name)!"
Aomine tersenyum lebar, membuatmu tertegun sejenak sebelum mengangguk mantap dengan senyuman riang.
"Iya!"
Dia membantumu berdiri sambil berpegangan tangan padanya dan kembali ke dalam gymnasium, sementara dia memantulkan bola basket yang sedari tadi dipegang.
.
.
.
.
.
.
"Shuuzou-senpai mundur dari jabatan?"
"Ya, dan yang menggantikannya adalah Akashi."
Penyataan itu membuatmu heran akan kenyataan yang terjadi. Sosok sadis tapi hangat—kapten tim Teikou—Nijimura Shuuzou—sekarang telah resmi menjadi anggota cadangan.
Dikarenakan oleh suatu alasan, dia mengundurkan diri dari jabatannya dan meminta pelatih agar Akashi menggantikannya sebagai kapten tim berikutnya.
Kau hampir tak percaya sebelum Midorima memberitahumu akan pengumuman yang mendadak itu. Beberapa hari tidak masuk sekolah karena ijin keluarga, dan sekarang kau mendengar kabar seperti ini.
"Ini tidak mungkin, tapi Shuuzou-senpai ada dimana sekarang?"
"Dia sedang ujian dan ulangan harian untuk mengejar ketertinggalan nilainya." ucapnya singkat.
Kau menunduk pelan dan memikirkan alasannya.
Mungkin betul, apalagi dia kan kakak tingkat atas kalian. Pastinya sekarang tengah sibuk akan ujian semester dan kenaikan kelas—apalagi sebentar lagi mau kelulusan.
Memikirkannya membuatmu menjadi bernostalgia saat mantan kapten itu sendiri yang merekrutmu untuk menjadi asisten manajer klub basket.
.
.
.
Flashback
"EEEHHHHH?! A-Aku?"
Kau hanya bisa terkejut dan terbelalak lebar saat pernyataan tersebut mengalir keluar dari mulut Nijimura.
Dia mengangguk kecil. "Ya. Aku telah menimbang-nimbang dan memperhatikan semua aspek, kau bisa dipercaya dalam hal ini. Kau bisa membantu Momoi, kasihan dia jadi kewalahan. Apalagi kan dia pasti juga capek."
"S-Shuuzou-senpai, kau bercanda ya? Mana mungkin aku bisa menyaingi Satsuki-chan? Dia bahkan lebih pintar dariku soal basket dan strategi…" Kau bahkan tak terlalu tahu teknik basket karena masih sangat muda.
Nijimura mengangguk kecil. "Kau bisa. Pasti. Aku takkan memilih sembarangan orang untuk klub. Maka dari itu—aku yakin padamu, (Name)."
Kau menunduk pelan sembari mencoba mencerna semuanya. Apakah benar dia mau membiarkan seseorang sepertimu masuk ke dalam klub basket yang terkenal dan menjadi asisten Momoi, sang manajer cantik? Bagaimana kalau nanti kau mengacau? Bagaimana kalau nanti ada apa-apa yang tidak terduga? Bagaimana kalau—
Kalau nanti kau yang membuat sesuatu yang fatal?
Saat kau berpikir begitu, tangan kanannya mengelus puncak kepalamu dengan lembut dan pelan. Sentuhannya bagaikan seorang kakak mengelus seorang adik yang akan menangis saat itu juga.
"Berjuanglah, (Name). Lakukan yang kau bisa."
Kata-kata tersebut bagaikan sebuah mantra sihir yang membuatmu yakin dan takkan mengecewakan permintaan sang kakak kelas yang sangat kau hormati.
Maka pada hari itu juga, kau mendaftarkan diri untuk menjadi asisten manajer agar bisa membantu Momoi.
Demi memenuhi seorang permintaan Nijimura Shuuzou.
Flashback end
.
.
.
Setelah kejadian turunnya Nijimura dari posisi kapten hingga perselisihan antara Murasakibara dan Akashi, latihan jadi tak menentu dan makin tidak kondusif. Kadang santai, dan kadang juga langsung latihan keras. Haizaki keluar dari tim. Aomine mulai jarang muncul dan saat ditanya hanya alasan bolos saja. Murasakibara makin malas juga akan latihan walaupun hadir. Kise sibuk akan pekerjaan modelnya walau sesekali ikut latihan. Hanya Midorima dan Kuroko yang masih ikut latihan secara rutin bersama dengan yang lainnya. Tapi ada yang disadari oleh banyak orang.
Akashi telah berubah.
Kapten telah berubah.
Tim telah berubah.
Bahkan saat di diputuskan, sang pelatih yang baru memutuskan bahwa kalau mereka tidak apa bolos latihan asal memenangkan turnamen. Semuanya jadi bergantung pada turnamen dan kemenangan. Alhasil banyak yang tidak menjalani latihan dengan kondusif dan efektif seperti dulu, karena bertumpu pada kemenangan berturut-turut dari tim basket mereka yang hanya berisikan anggota Generasi Keajaiban.
Dari balik ini semua, kau bisa melihat bahwa manik Kuroko mulai pudar akan semangatnya dalam bermain basket. Sungguh, rasanya kau dan Momoi merasa tak berguna dan hanya bisa diam saja seperti patung ketika mengetahui hal ini.
Kau tahu ini tidak benar, dan kau ingin sekali membicarakan serta mencari solusi.
Kau harus melakukan sesuatu.
Maka suatu sore hari setelah latihan selesai, kau menghampiri Akashi yang baru saja selesai latihan. Kau memintanya untuk menemuimu setelah ini.
"Sebaiknya kau langsung bicara saja, (Name). Aku sedang malas menebak maupun bercanda." Akashi menatap dingin seperti biasa.
"Itu tak perlu, karena aku mau bicara langsung akan ini padamu. Kenapa kau berubah belakangan ini? Apakah karena suatu hal atau siapa? Kenapa kau jadi seperti ini, Seijuurou-kun?" tanyamu padanya langsung blak-blakan.
Mata heterokrom tersebut menatapmu dengan lekat—seperti mencari keraguan dan ketakutan—tapi tak menemukannya karena kau sangat bingung dan yakin bahwa Akashi pasti berubah karena sesuatu.
"Aku tidak berubah. Sama sekali tidak."
"Tidak mungkin... Kau bahkan jadi sangat berbeda. Katakan, siapa yang membuatmu begini?"
"Tim yang merubahku menjadi begini, bukan aku. Aku hanya berubah sesuai dengan keinginan tim—dan kau tidak bisa membantah akan faktanya."
Kau tertegun sejenak, mulai merasakan perasaan tak enak ketika dia berbicara. Ini sangat aneh.
"Asal kau tahu, kau bahkan tak tahu posisimu saat berbicara denganku, jadi biar aku ulang lagi perkenalannya."
Akashi menatap dingin dan penuh aura intimidasi seakan menegaskan bahwa perkataannya ini benar dan absolut.
"Aku adalah Akashi Seijuurou yang akan membuatmu tahu posisimu dimana, (First Name) (Last Name)."
DEG
Kau terbelalak—mematung seperti patung dan tak bisa bicara lagi.
Ada yang aneh disini.
"Sei-Seijuurou-kun, kau bicara apa? Aku tidak mengerti—"
"—karena hanya orang yang rendahan sepertimulah yang takkan bisa mengerti perkataanku, (Name)." kata-kata tersebut menusuk sangat dalam.
Kau makin terhenyak akan semua yang dia ucapkan.
Atmosfer di sekeliling kalian mendadak menjadi suram seketika.
"Seijuurou-kun, kenapa kau bicara seperti ini? Ini bukan seperti dirimu—" tapi perkataanmu di sela lagi olehnya.
"Memang inilah diriku. Diriku yang lainnya. Aku berubah bukan karena diriku sendiri. Tapi karena tim yang berubah—dan aku pun berubah seperti yang diinginkan." selanya padamu.
Mata heterokrom tersebut menusuk kalbu. Warna kuning emas itu sekilas berkilat.
DEG
Tidak… Tidak mungkin…
Ini pasti bohong, kan?
"Tidak! Ini bukanlah dirimu! Kau itu Akashi Seijuurou! Yang aku kenal baik, tenang, dan penyabar—bukan seperti yang kulihat ini! Angkuh, sadis,.. dan… mengerikan." akumu padanya, mulai mencicit pelan di ujung kalimatmu.
Tapi masih bisa ia dengar.
Matanya menatap dingin ke arahmu yang semakin berkeringat dingin.
"'Seijuurou-kun' yang kau kenal sudah mati. Aku bukanlah dia yang kau kenal lemah itu, (Name)."
DEG
Kau terdiam akan pernyataannya. Tidak mungkin…
"..." Iris berbeda warna tersebut hanya bisa menatap beberapa detik dalam keheningan—seakan memberitahumu bahwa cukup sampai disini pembicaraan kalian berdua.
Tanpa tedeng aling-aling, ia berbalik dari hadapanmu sebelum berjalan menunggalkanmu yang masih terpaku akan ucapannya.
Hanya ada satu pertanyaan dibenakmu saat ini.
"Kenapa dia berubah?"
Terngiang pertanyaan dalam hati ketika kau menatap punggung lebar pemuda berambut merah darah yang pergi, berjalan menjauh dari tempatmu berdiri.
Kau masih tak mengerti, kenapa bisa Akashi berubah sifatnya.
Dan sekarang, dia menjadi sosok yang sangat jauh darimu.
Sangat.
Sangat jauh darimu.
Dia sudah berubah—menjadi angkuh, sadis—bahkan lebih sadis daripada Nijimura—juga tak beri ampun jika kesalahan sekecil apapun itu dilakukan dan membuatnya tak senang.
Kemana Akashi Seijuurou yang kau kenal baik dulu?
Kau tahu akan sifatnya—yang berperilaku baik, yang bersikap sopan, tenang dan sabar, yang mempunyai senyum tulus dan membagikannya pada orang lain—
—serta dia jugalah yang selalu meminjamkan bahunya padamu dengan sukarela jika kau dalam kesusahan.
Kau tak menyangka bahwa dampak perubahan sifatnya adalah karena kondisi tim yang juga tanpa kau sadari—
Berubah secara keseluruhan alias total.
Kenapa bisa begini?
"Aku adalah Akashi Seijuurou yang akan membuatmu tahu posisimu dimana, (Name)."
…
"'Seijuurou-kun' yang kau kenal sudah mati. Aku bukanlah 'dia' yang kau kenal lemah itu, (Name)."
Kau teringat akan perkataannya yang membuatmu merasakan kebaikannya kala itu.
"Terima kasih untuk semuanya, (Name)."
Memikirkannya saja itu sudah cukup membuat relung hatimu sesak.
Pedih.
Perih.
Sedih.
Sakit.
Tak menyangka kalau ia akan berkata seperti itu padamu.
Tak menyangka kalau ia akan berubah se-drastis itu.
Tak menyangka kalau ia akan membuatmu merasakan sakit yang amat sangat—
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—Hingga kau juga tak menyadari, bahwa sebulir air mata meluncur mulus dari matamu—tak bisa dibendung lagi, karena menahannya sekuat tenaga untuk tak menangis di hadapannya.
.
.
.
Bel berdentang keras. Seluruh siswa-siswi berlari keluar dari kelas menuju koridor untuk turun ke bawah dan segera pulang, sementara yang mendapatkan jadwal piket terpaksa harus tinggal dan mengerjakan gilirannya.
Sialnya, hanya kau dan Kuroko yang hadir untuk piket pada hari itu. Jadi tinggal kalian berdua saja dalam keheningan dan suara sapu juga gesekan penghapus papan tulis dengan papan tulis hitam.
Kau menyapu tanpa suara, begitu pun dengan Kuroko yang membersihkan papan tulis.
Sejenak, kau berhenti menyapu. "Hei, Tetsuya-kun, ada hal yang ingin aku tanyakan."
Pemuda berambut langit tersebut menoleh dan melihatmu yang masih memunggunginya. "Ada apa? Katakan saja."
Pegangan di sapu perlahan menguat dan kau berbalik, seperti berwajah putus asa. "Kita semua... akan selalu bersama kan..?"
DEG
Kuroko tak menyangka pertanyaan itu akan meluncur mulus dari bibir mungilmu yang meminta penjelasan dan kepastian akan keadaan yang sebenarnya.
"Kita akan selalu menjadi tim bersama—dengan yang lainnya, bukan?!"
Kuroko terdiam sejenak.
"Kita semua… selalu akan bersama-sama, bukan?" Momoi mendongak padanya, masih memegang lengan baju pemuda bersebut ketika berkata begitu.
"Be-Bersama dengan semuanya, kita… akan bersama-sama terus dan bermain basket dengan bahagia, iya 'kan, Tetsu-kun?"
Perkataan Momoi di kala itu terngiang keras dan kencang di dalam pikiran sang pemain bayangan tersebut—ketika gadis di depannya juga menanyakan hal yang sama.
Kuroko memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya dan menatap gadis itu, akhirnya menjawab—
"Ya. Bersama, dengan yang lainnya."
—dan memberi jawaban yang sama pula.
.
.
.
Kepalamu serasa kosong. Hampir setiap detik kau melamun sambil berjalan—bahkan tak ayal hampir menabrak orang yang berada didepanmu. Rencanamu untuk bertemu dengan Momoi untuk menemaninya belanja serasa hanya terisi akan lamunan depresimu itu.
Kenapa semuanya mulai berpisah ke arah masing-masing? Apakah karena keegoisan dan kekanak-kanakkan mereka sendirikah? Ataukah karena memang sudah tidak bisa mempertahankan klub dengan baik? Banyak sekali yang ingin kau ungkapkan dan tanyakan pada mereka satu-persatu. Namun, seakan waktu tak mengijinkan—sampai sekarang kau tak dapatkan apapun.
Sambil memikirkannya—atau malah melamunkannya— kau masih memegang baju yang masih ada hangernya dan kemudian terperanjat ketika seseorang menepuk pundakmu dengan pelan.
"(Name)-chan!"
Kau tak mendengarkan panggilan dan sahutan kesal juga bernada gemas dari Momoi—sang manajer klub basket sekaligus teman sekelasmu. Kalian sedang berbelanja di suatu pusat berbelanjaan di tengah kota pada hari libur.
"Uwahh! Astaga, kau membuatku kaget, Satsuki-chan." Kau meninju pelan lengannya yang ia balas kekehan centil dan ceria.
"Hihihihi… Habisnya aku daritadi memanggilmu, tapi kau tak menyahut." balasnya dan kemudian memperlihatkan baju berwarna krem kemerahan yang cocok untuknya.
"Bagaimana dengan ini, (Name)-chan?" tanyanya ketika meminta pendapatmu seraya menempatkan baju itu didepannya.
Kau menatapnya sejenak a la pakar model dan mengangguk. "Ya, cukup manis. Feminim sekali untukmu."
Momoi tersenyum dan mengambilnya sebelum memilih beberapa baju dan membayarnya di kasir.
Kalian berjalan berkelilng lagi dan melihat-lihat sebentar sekaligus mau langsung pulang.
Saat itu, kau melihat beberapa boneka binatang yang terbuat dari kaca berwarna pelangi. Kau terkesima dan mengajak Momoi untuk mampir ke dalam toko. Perhatianmu tertuju pada sebuah boneka berbentuk beruang dengan warna pelangi yang sangat indah juga lucu.
Melihat itu pun, kau jadi teringat akan teman-temanmu yang terpisah.
Kalau aku berikan ini pada mereka sebagai kado, mungkin ini bisa menjadi tanda persahabatan kami dan berbaikan lagi; pikirmu polos dan membeli enam buah boneka kaca mini untuk gantungan kunci tersebut.
Momoi yang memperhatikanmu tersenyum malah berceletuk, "Sepertinya kau senang sekali, (Name)-chan. Ada apa?"
Kau melemparkan senyum lagi padanya kali ini. "Oh, ini.. Aku membelinya untuk semuanya. Aku ingin mereka semua berbaikan lagi, dan kita bisa bersama-sama—tidak berpisah seperti ini."
Mendengar itu, pandangan gadis bermata jelita itu melembut dan hanya bisa diam.
"Semuanya… telah terpisah dari jalur sendiri. Yang tadinya bersama—sekarang menjadi terpecah belah." ujarmu pada Momoi yang berjalan disamping dan memperhatikanmu—sebelum tertegun sejenak dan menunduk sedikit, dengan senyum miris ke arah tanah saat mereka beralan keluar dari pusat perbelanjaan ke pinggir jalan raya.
"Iya, kau benar.." Pandangannya menengadah pada langit sore yang mulai menjingga tersebut. Manik merah muda yang selaras dengan bunga sakura itu pun hanya bisa menelusuri pemandangan perkotaan Tokyo, yang selalu ramai dengan lalu-lalang di sekitar mereka berdua.
"Kadang aku merindukan latihan yang melelahkan dan membosankan itu." akumu seraya membayangkan ketika kalian semua masih kelas satu dan masih belum saling kenal—baru dilatih, masih polos, naif dan labil. Layaknya kebanyakan remaja di fase pendewasaan yang masih awal yang dikenal secara umum sebagai pubertas.
Mulai dari Kuroko yang suka hobi hilang, Kise yang ceriwis, Midorima yang tegas, Aomine yang jahil, Murasakibara yang kekanakkan, dan Akashi yang selalu memperhatikan anggota timnya—juga Momoi yang ceria beserta Nijimura dan kakak kelas lainnya yang baik.
Bersama dengan mereka semua, banyak sekali kenangan yang tercipta—dan semuanya ada dan terekam jelas—di dalam ingatanmu.
Ironis—ketika tim itu berada dipuncaknya dan berjaya, mereka malah berbelok ke jalannya masing-masing.
Semuanya berpencar—dan memutuskan untuk tidak bersama lagi.
Karena individualitas yang terlalu dipegang oleh masing-masing, kekuatan yang kian memuncak, bahkan hingga ego yang tinggi.
What an ironi
Kau menunduk perlahan seraya membayangkan semuanya yang mulai tak perduli akan keadaan saat ini. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk mencetak skor dan memasangnya sebagai taruhan.
Permainan macam apa itu? Memuakkan.
Kau mendongak ke depanmu dan berhenti—tapi tidak dengan Momoi. Dia berjalan lurus tanpa melihat ke arah lampu lalu lintas—lampu hijau untuk pejalan kaki berubah menjadi merah.
Di depannya beberapa meter sudah ada mobil yang meluncur dengan deras dan sepertinya mengebut—dan akan menabrak Momoi yang terkaget melihat ada sebuah kendaraan menuju dirinya.
Manikmu melebar sepersekian detik kemudian.
"Satsuki-chan, awas!"
"Kyaa!"
CCCKKKKKKIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT
BBBRRRRRUUUUAAAAAAAAAKKKKK
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Third POV)
Momoi terlempar jauh ke trotoar seberang dan berguling. Gadis berambut merah jambu itu mengerang kesakitan ketika ia mencoba untuk bangkit.
"Akh… S-Sakit…"
Untung dirinya hanya sedikit lecet dan luka ringan di telapak tangan juga lututnya. Momoi mencoba untuk mendudukkan dirinya dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan.
Pandangannya berkunang-kunang, dan ia mencoba untuk melihat dengan jelas, sebelum akhirnya melihat—
Seorang gadis sebaya dengannya terkapar di tengah-tengah aspal jalan raya dengan posisi tengkurap dan tak sadarkan diri. Kepalanya terdapat darah yang mengalir. Dan sebuah mobil rusak di depannya, mengeluarkan asap dari mesinnya setelah menghantam sebuah tiang listrik dekat trotoar, hingga tiang itu sedikit bengkok. Tas yang di bawa gadis itu juga sedikit berhamburan. Di sampingnya, enam boneka kaca berbentuk beruang berwarna pelangi itu pecah dan hancur berantakan kemana-mana—bersamaan dengan kotak plastik yang membungkusnya menjadi serpihan kecil dan rusak parah.
Dalam sekejap, iris sakura itu membulat sempurna.
"(Name)-chan!"
.
.
.
.
.
"Apa? (Name)-san kecelakaan!?"
[(Name)-chan mengalami kecelakaan karena menyelamatkanku, dan sekarang kami ada di rumah sakit. Aku tidak bisa mengontak siapapun karena mereka tidak mengangkat ponselnya—Cepat kesini! Kumohon, Tetsu-kun!]
"Baiklah, aku segera kesana. Tunggu dan jaga dia." Kuroko memutuskan sambungan ponselnya dan segera bergegas pergi meluncur dari rumahnya dan berlari secepat mungkin yang ia bisa. Di dalam pikirannya hanya ada satu tujuan; yaitu rumah sakit.
(Name)-san…bertahanlah!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Momoi-san!" Kuroko berlari secepat yang ia bisa saat melihat bahwa Momoi berdiri dari duduknya, berbalik ke arah dimana pemuda itu berada dan menuju ke arahnya.
"Tetsu-kun!" panggilnya.
Kuroko sedikit terengah-engah, dan menuju ke ruang tunggu UGD yang dimana gadis berparas cantik tersebut berada.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya setelah terengah-engah, membuat Momoi menunduk sedikit.
"Keadaannya tak sadarkan diri, tapi—"
"Tapi apa? Katakan, Momoi-san." tanya Kuroko khawatir dan penasaran.
Momoi membalas dengan suara parau. "Aku tak tahu apa dia bisa selamat atau tidak. Aku… Aku takut sekali, Tetsu-kun…" isak tangisnya mulai pecah. Kuroko berusaha untuk menenangkan gadis berambut merah jambu tersebut.
"Ha-Harusnya.. Aku tidak mengajaknya… Kalau begini jadinya.. A-Aku tidak akan… hiks…" isaknya sambil memeluk Kuroko dengan perasaan bersalah.
Kuroko yang mendengarnya hanya bisa berusaha menenangkan dirinya dan gadis di hadapannya. Mereka berdua berharap semoga saja nyawa sahabat mereka itu tertolong secepat mungkin.
"(Name)-san ada di dalam sekarang?" tanyanya pelan sambil mengelus punggung gadis itu.
Momoi mengangguk kecil. "I-Iya.. Dokter dan perawat sudah masuk, aku ingin menunggunya di sini, Tetsu-kun."
Kuroko mengangguk. "Baiklah. Kutemani ya."
Selama beberapa puluh menit, mereka menunggu dengan perasaan gelisah dan was-was. Sampai suara pintu dibuka memecahkan keheningan. Seorang dokter keluar dari ruangan dan membuat kedua muda-mudi tersebut menghambur ke arahnya.
"Dokter, bagaimana keadaannya?!" tanya Momoi pada pria paruh baya berjubah putih tersebut.
Dokter itu mengatakan dengan kalem. "Kondisinya tidak parah—jadi jangan khawatir, tapi pasien butuh istirahat dan waktu untuk sadar. Kami akan menaruhnya di ruang ICU dan tolong hubungi anggota keluarganya secepat mungkin." Setelah itu, dokter berambut ubanan itu berlalu pergi.
Momoi dan Kuroko mengiringi ketika para perawat menggiring ranjang pasien yang di tiduri sang gadis yang masih tak sadarkan diri—tak bisa membuka mata ataupun bergerak. Bercak darah di perban yang melekat pada beberapa bagian tubuh yang luka—juga perban putih yang menutupi bagian kepala yang terkena obat merah dan menutupi darah agar tak mengalir lagi. Keadaannya sungguh memprihatinkan.
Bahkan mereka juga tidak boleh masuk ke dalam ruang pasien dan terpaksa menunggu di luar.
Momoi hanya bisa memandangi sahabatnya yang bernapas dengan alat bantu infus serta selang pernafasan dan masih tak sadarkan diri. "(Name)-chan... Maafkan aku... Kalau aku tahu akan jadi begini, kau harusnya tidak kuajak pergi." ucapnya lirih.
"Momoi-san, jangan merasa bersalah."
Momoi menoleh ke arah kirinya, melihat Kuroko yang tersenyum tipis. "Jangan buat dia makin sedih. Demi menyelamatkanmu, dia harus seperti ini karena tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Dan kita juga tahu kalau (Name)-san adalah orang yang kuat. Dia akan sadar secepatnya, aku yakin."
Gadis itu terdiam sesaat dan menunduk. "Benar..."
'(Name)-chan, terima kasih... Aku benar-benar diselamatkan olehmu. Jadi, jangan menyerah dan cepatlah sadar! Tetsu-kun dan aku menunggumu—tidak, tapi semua orang menunggumu!' Dia menatap lewat kaca yang menghalangi.
"Aku ada satu permintaan, Momoi-san."
Momoi menoleh ke arahnya lagi.
Kuroko berujar sembari menatapnya, "Tolong jangan katakan apapun pada Aomine-kun dan yang lainnya tentang hal ini."
Mata bermanik merah jambu itu sedikit melebar.
"Tetsu-kun, tapi—"
Kuroko melemparkan tatapan dengan raut wajah yang tak biasa ia gunakan.
"Kumohon... Demi (Name)-san.." ucapnya melas, membuat Momoi terpaksa bungkam akan semua ini.
Tak boleh ada yang tahu tentang ini, karena akan berdampak pada semua yang ada.
Apalagi pada tim mereka.
"Baiklah."
~~~Skip time~~~
.
.
.
Sore itu, Kuroko secepatnya berlari ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Momoi—bahwa sahabat mereka yang tak sadarkan diri—telah sadar dan siuman setelah dua puluh dua jam berlalu.
Persetan dengan latihan hari ini, dia harus tahu keadaannya!
Dan untuk pertama kalinya, seorang Kuroko Tetsuya tidak datang ke tempat latihan basket.
Sekarang dia berlari kecil dan masuk ke bangunan besar tersebut sebelum masuk dan menuju lantai 2 di unit rawat ICU.
"Momoi-san!"
Panggilan itu berhasil didengar oleh Momoi yang masih berseragam sekolah, hendak menutup pintu ruangan tersebut, "A-Ah.. Tetsu-kun…"
"Dia sudah sadar?"
Momoi mengangguk ragu. "T-Ta-Tapi—"
Sebelum ucapannya selesai, Kuroko melewatinya dan menuju ke dalam ruangan tersebut.
Terdapat seorang gadis yang terbaring lemah, memakai baju pasien dan dengan—
Masih ada perban disekitar kepalanya?
Itu tak penting, yang penting sekarang keadaannya; pikir Kuroko dan menuju ke ranjang pembaringan tersebut.
"(Name)-san, kau tidak-apa-apa 'kan!? Bagaimana dengan lukamu?"
Kedua mata gadis itu perlahan mengerjap beberapa kali, sambil memandangi pemuda berambut biru muda yang terlihat khawatir padanya. Mulut mungilnya terbuka sebelum mengucapkan kata—
"Siapa kau?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh?
Kuroko membelalakkan mata dan kemudian terpaku.
Di depannya—gadis yang berbaring lemah di atas ranjang perawatan dan dengan perban mengelilingi kepalanya, yang ia kenal dengan baik, yang selalu tersenyum dengan ceria, yang selalu mendukung mereka—
Menanyakan siapa Kuroko?
Momoi menoleh dengan raut pasrah juga sedih pada Kuroko. Ia tak main-main.
"Tetsu-kun…" Kemudian ia menggeleng kecil pada pemuda berambut biru muda tersebut.
Mata bulatnya perlahan melebar.
Tidak… Tidak mungkin kalau dia…
"Kalian berdua ini.. Siapa ya?" tanyanya lemah dengan nada tanya polos tiada tara—seperti melihat orang asing di kamarnya.
"Kalian temannya (Name)-chan?"
Kuroko dan Momoi berbalik dan melihat seorang gadis yang berambut coklat karamel memasukki ruangan.
"Ah, Riko-Oneechan.."
Oneechan?
Pikir Kuroko ketika berbalik pada gadis yang tadi bertanya padanya—sekarang tersenyum lemah. Perempuan yang dipanggil dengan sebutan itu tersenyum lembut dan menuju ke arah gadis tersebut.
"Tidurlah, kau sudah minum obat 'kan?" tanyanya gadis yang berbaring itu.
Gadis itu mengangguk kecil. "Iya.. Temani aku disini, kak."
"Kau harus istirahat sampai pulih keadaanmu, (Name)-chan. Istirahatlah." bujuknya dan gadis itu mengangguk menurut padanya sebelum akhirnya berbaring dan menutup mata—untuk beristirahat sejenak.
Riko tersenyum kecil memandangnya dan kemudian berbalik pada Kuroko dan Momoi. "Bisa kita bicara sebentar di luar?"
Kuroko dan Momoi tertegun, melihat satu sama lain dan mengangguk padanya.
Riko menjelaskan semuanya pada mereka berdua ketika sudah keluar dari ruangan.
Kuroko menghela napas lega bersama dengan Momoi. "Jadi begitu ya…"
Momoi hampir terisak, merasa lega. "Syukurlah…"
Riko mengangguk sambil menghela napas. "Kata dokter, suatu keajaiban dia masih bisa hidup."
"Lalu, bagaimana dengan lukanya?" tanya Kuroko pada perempuan yang bernama lengkap Aida Riko tersebut.
"Lukanya tidak berat—hanya luka ringan saja. Tapi…"
Kuroko mengernyitkan dahi. Momoi bertanya, "Tapi apa, Aida-san?"
Riko terdiam sesaat sebelum berkata, "Kepalanya mengalami benturan yang cukup hebat, dan menyebabkan amnesia."
DEG
"Amnesia…?" Kuroko terbelalak kaget. Begitu juga dengan Momoi.
"Amnesianya tidak parah—tapi kata dokter.. Dia telah kehilangan ingatannya saat SMP. Sekolahnya, teman-temannya, dan segala hal yang berkaitan dengan masa SMP-nya."
DEG
Kuroko tidak percaya akan semua ini. Pantas saja—saat dia bertanya siapa mereka, dia tidak mengenal mereka sama sekali.
"Sayangnya, dia harus segera di bawa ke Amerika untuk menjalani perawatan intensif—aku tak tahu sampai kapan—tapi yang pasti, dia akan meninggalkan Jepang sampai dia tamat SMP."
Pemuda itu tertegun dalam diam.
Amerika itu jauh sekali. Sampai kapan ini akan berakhir—Kuroko hampir tak menyadari bahwa kedua tangannya mengepal perlahan dengan erat.
Momoi menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi mulut, mulai terisak pelan. "Ini… Se-semua salahku.. Kalau saja aku tidak mengajaknya, pasti (Name)-chan…"
Kuroko mencoba menenangkan gadis di sampingnya, mengelus punggung Momoi pelan. "Momoi-san, sudahlah…"
Riko menghela napas. "Kalian Kuroko Tetsuya dan Momoi Satsuki, bukan?"
Kuroko mengangguk saat mendongak ke Riko sambil tetap menenangkan Momoi.
"Aku dengar banyak cerita tentang kalian—dari (Name)-chan dan rumor. Teman sekelas, klub basket Teikou, Generasi Keajaiban, dan yang lainnya. Tolong, saat ini… bisakah kalian jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Riko dengan nada serius.
Momoi mencoba berhenti terisak dan menoleh ke arah Kuroko. "Tetsu-kun… Lebih baik kita ceritakan.. Percuma merahasiakannya."
Kuroko mengangguk kecil pada Momoi dan menyanggupinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi begitulah… semuanya mulai berpisah ke jalur masing-masing—sudah terpencar-pencar. Tim ini terlalu kuat. (Name)-san, aku, dan Momoi-san mencoba untuk mencegah, tapi…" Kuroko menunduk kembali bersama dengan Momoi yang sedih ketika menceritakan semuanya pada Riko. Saat ini mereka tengah berada di sebuah café dekat rumah sakit yang nyaman untuk tempat yang membutuhkan cukup privasi.
Riko mengangguk mengerti sambil menghela napas, mendengarkan cerita mereka dengan penuh minat dan keseriusan.
"Aku mengerti, (Name)-chan dari dulu memang begitu. Dia selalu peduli akan orang lain—tak peduli orang itu siapa, pasti dia akan lakukan apa saja untuk membantu. Tapi sepertinya, ini mulai keterlaluan. Dia bahkan tidak bisa mengurus diri sendiri." Tangannya memainkan sendok yang berada di dalam cangkir teh lemon miliknya.
Momoi menghela napas, "Maafkan aku, Riko-san.. Aku benar-benar minta maaf. Gara-gara aku, (Name)-chan.."
Riko tersenyum maklum, mencoba menenangkannya. "Tak apa, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang, yang penting kita sudah bersyukur kalau dia masih hidup. Terima kasih sudah mau menunggu dan membantunya."
Momoi mengangguk kecil sebelum ponselnya berbunyi.
"Maaf, aku permisi sebentar." Perempuan berambut merah jambu itu berdiri dan berjalan pergi untuk menjawab panggilan ponselnya.
Setelah memastikan gadis itu pergi, Kuroko berujar padanya. "Aida-san, bisa tolong jaga satu rahasia lagi? Aku tidak ingin Momoi-san mengetahuinya karena nanti dia yang akan kesusahan."
Riko yang telah meneguk tehnya dari cangkir pun mengangguk, meletakkan kembali cangkir tehnya. "Apa itu?"
Kuroko mengumpulkan segenap keberaniannya untuk memberitahukan kebenarannya. Setelah satu helaan napas, ia berucap, "Itu—"
.
.
.
.
.
.
Kuroko tertegun sejenak dan melihat kalau Ogiwara mematung di tengah lapangan setelah melihat skor tersebut.
111 – 11.
Sekejap saja, ia mendadak gelap mata.
Sungguh mengerikan baginya.
"Ogiwara-kun—" sahutan itu membuat pemuda tersebut tersadar tapi tak sepenuhnya, dan menoleh perlahan pada Kuroko sambil dengan muka syok dan terpukul.
Kaget.
Terkejut.
Terhenyak.
"Ku..roko.." Ogiwara tak kuasa menahannya, bulir ar mata mulai berjatuhan.
Kuroko tak bisa melihatnya lagi, ketika melihat sahabatnya berada di sana dan dia sendiri sudah kalah dan terpuruk akan angka mengerikan tersebut.
Kuroko terhenyak akan pemandangan yang ia saksikan.
Ia bergumam lirih, "..Akashi-kun…"
Dan jatuhlah sudah beberapa bulir air mata yang tergenang di mata yang berair itu.
.
.
.
.
Bagaimana bisa kau setega itu?
Apa lagi?
Apa lagi cara yang harus ia lakukan sekarang?
Setelah ini, apa lagi yang bisa ia lakukan selain meratapi nasibnya.
"Apa artinya kemenangan ini?!" jerit Kuroko dalam hati—tak ada yang bisa ia pikirkan selain menangis tanpa henti dan membayangkan semuanya hancur lebur.
Padahal sudah bersama-sama, tapi sekarang sudah terbalik keadaannya.
Mereka semua sudah hancur terberai.
Harapan untuk selalu bersama, satu keluarga dan satu tim, tapi kenapa…
Kenapa bisa begini?!
Rasanya sudah tidak ada harapan lagi baginya.
Pertama, timnya hancur lebur. Kedua, orang yang ia sayangi mengalami musibah. Dan sekarang yang ketiga, Ogiwara—sahabatnya sendiri mengalami kegagalan.
Kedua tangannya mengepal keras, hingga buku-buku jari jemarinya memutih karena mulai merasa depresi akan keadaan yang tak bisa ia kontrol sama sekali.
Orang-orang tersayangnya satu-persatu mulai tersakiti dan menderita.
LALU AKU HARUS APA?!
Pertanyaan dan teriakan itu mengiang terus di kepala Kuroko, dia bahkan tak tahu apa lagi cara yang bisa dilakukan.
Semua ini karena basket… kalau saja aku tidak bermain basket, pasti semuanya…
Ketika depresi dan pemikiran rasa bersalah semuanya dilimpahkan pada yang bersangkutan, mulailah kebenciannya pada sesuatu yang menyebabkan semuanya mulai.
"Kalau saja.. aku tidak bermain… pasti Ogiwara-kun… (Name)-san… tidak menderita…"
Tidak.
Dia mulai ingat sesuatu.
Ia dongakkan kepala sembari berpikir lagi.
Kalau saja… dia bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan semuanya… ya, setidaknya dia berbicara pada Akashi—
"Itu dia!" serunya sambil berdiri dari kursinya.
Dia harus berbicara dan menanyakan jaminannya.
Kuroko harus tahu melakukan sesuatu untukmu dan semuanya!
.
.
.
.
.
"Selamat datang, semuanya. Ternyata kalian masih mau berkumpul di sini walau kita sudah lulus."
Akashi menyambut keempat pemuda mantan rekannya yang telah lulus di upacara kelulusan seperti dirinya pada hari itu. Mereka berkumpul di gedung gymnasium setelah upacara kelulusan mereka.
"Itu karena kau yang mengajak kami untuk datang kesini, Aka-chin.." ujar Murasakibara.
"Lebih baik kau katakan saja, nanodayo. Aku juga mau pergi habis ini." Midorima membetulkan kacamatanya.
Aomine menguap sambil menggaruk belakang kepalanya. "Benar katanya, habis ini aku mau tidur di rumah setelah mengantar Satsuki."
Kise menoleh ke segala arah sambil bertanya, "Tunggu, apakah tidak masalah menunggu Kurokocchi? Dia datang, bukan?"
"Tidak. Dia memang tidak datang, tapi pasti lambat laun dia akan mengetahuinya, mengetahui tentang hal ini, dan kalian juga pasti langsung tahu apa itu." ujar Akashi seraya memandang keempat pemuda yang lebih tinggi darinya tersebut.
"Aku tahu kalian akan berkumpul di sini, karena ini sudah seperti markas kita… jadi aku langsung saja mengatakannya pada kalian semua. Aku mempunyai tawaran yang menjanjikan—yang takkan bisa kalian tolak."
Mulutnya terbuka, mengatakan kata-kata yang ia lihat di masa depan—
"Kita akan masuk ke sekolah yang berbeda, dan akan saling bertanding di saat turnamen tiba."
"Kita akan bertemu kembali, dan saling mengalahkan satu sama lain—untuk membuktikan siapa yang paling terkuat. Dan yang menang, pantas bersanding dengan (Name). Tanpa terkecuali."
Sambil menjelaskannya, pemuda berambut merah darah tersebut mengatakannya lagi.
"Saat bertemu dengan (Name) suatu saat nanti, kalian harus bersikap seolah baru mengenalnya. Kalian berikan kesan pertama yang cocok dan membuatnya mengingat kalian. Dia yang terkena amnesia, bisa kalian manfaatkan untuk memenangkannya yang tak mengenal kalian sama sekali. Yah, anggap saja bonus poin ganda dalam meraih hatinya. Bagaimana? Aku takkan menerima penolakan karena aku selalu benar."
Semuanya diam sambil berpikir akan taruhan dan janji yang diajukan oleh sang mantan kapten.
"Baiklah, aku terima." ujar Aomine dengan seringai kecil.
"Aku juga. Aku ingin mendapatkan hatinya yang sangat tidak peka itu." Kise memandang serius.
"Hee… Sepertinya menyenangkan. Aku akan merebut hatinya yang manis itu." Murasakibara menyeletuk sambil memikirkannya.
Akashi memandang Midorima yang masih diam saja. "Bagaimana denganmu, Shintarou? Aku tahu kau juga menyukainya. Aku selalu benar."
"Tapi tidak begini juga…" pikir Midorima sambil diam dalam hati. Dia risih akan pandangannya yang seperti meminta jawaban yang sangat jelas.
"…Aku tak mau tanggung jawab kalau nanti jadi kacau. Kau yang mengajakku." jawabnya, membuat Akashi tersenyum mendengar keputusan mereka semua.
"Aku akan anggap jawabanmu itu sebagai 'iya'. Baguslah. Kita akan laksanakan ini mulai dari sekarang. Di saat nanti dia kembali,"
Mata tersebut berkilat sekilas dengan cahaya yang menyusup mencerminkan netra dan iris emasnya.
"Kita lihat saja kedepannya, siapa pemenang yang sesungguhnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To you, from bygone days
…
To follow Akashi's order and wherever he leads us.
To accept Kise with every single of his shortage.
To respect Kuroko's decision no matter how hurt it would be.
To cheer Murasakibara at any match.
To support Midorima whenever he is in the court.
To trust Aomine whatever he do.
To love Momoi who being respected by The Generation of Miracles.
…
~Quotes sources by a Tumblr blog – Appreciation for Kiseki No Sedai Team~
.
.
.
Even though you have to fall for so many thousands times, keep stand up and never give up—because it's not too late for start it all over again. Because if we keep in faith of our believes—a miracle can appear, and can make it to be divine once and forever…
.
.
.
TuBerColosis
(pojok review, monggo dilalap pake sambal~ :3 :D :) #laperToTheMAX
Hola minna!~ sori karena lama apdet, saya baru bisa karena WB yang bermasalah dan juga masalah RL yang menumpuk kayak gunung wkwkwk. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya! Saya sebentar lagi mau UTS dan bakalan sibuk banget untuk pameran KWH, kalian tahu? Nama sosisnya Swaddling Anaconda lol XD ngakak asli pas diusulin tapi kami pakai saja wkwkwk Jadi nanti kalau lama update itu karena mau UAS dan bisanya update-nya pas di liburan kuliah. Do'akan saya biar bisa mendapatkan IPK dan nilai yang baik jadi bisa update About Them dan Tsukichi No Neiro huhuhu TwT
Monggo ditunggu kritik saran juga tanggapannya ya~ XD Dan pasti nanti semua service bakal kebagian satu-satu kok jadi jangan kuatir ya :3 #sokImut Kali ini saya akan bacakan reviewnya dengan chara yang lagi ke festival hanabi karena gak mau ngajak saya qwq OK! Saya bacakan ya!
GreenPsycho-san: Hehehe.. ^^" maaf ya habisnya si Kise main nyosor aja wkwkwkw XD Cieeee Midorima lovers nich yeee XD lol iya berasa anak ama bapak wkwk Aww makacih ya QWQ saya terhura sekali akan pujiannya. Semoga saya bisa update lebih kilat lagi ^^ Salam kenal juga, Cho-chan~ thanks for the review~
yagiicha-san: iya, ini udah dilanjut kok. Sudah tahap masa lalu yang terbuka #eaaa XD iya! Ganbarimasu! OwO)/ makasih buat reviewnya~
Meyzumii Kagami-chan: hai juga beb~ makacih ya udah mau nongol di review XD wo brarti gw udah buat elu jadi penasaran banget ya lol makasih untuk pengkoreksiannya. Sangat membantu ^^ anjer pake wasiat segala lol XD ngakak asli wkwkwk ya iyalah anjer, dikata Silver yang mendadak botak dan mulai menjadi reggae/? lol IYA YA SUBHANALLAH WKWK RASANYA NIJIHAI MULAI MEMBUAT AKSI YANG BISA BUAT KITA BERHARAP MEREKA BALIKAN LAGI HAHAHA/? Naahhh udah tau kan dia ngapain di fic ini, makanya pantengin terus lol #plakk iya lol unyu bagaikan siput gunggung yang kecil dan curut wkwkwk #ngmongapaansich oke baibai~ XD
Lavender251 – san: iya ini udah di next kok. Silakan menunggu chapter selanjutnya ya ^^makasih udah mau review~
Oke, sampai disini saja curhatan dan balasan review saya. Keep the writing spirit, be creative, be supportive in any good way, and I'll see you guys on the next chapter. Bye, flowers!~ #lambaigaje
~Preview~
...
"(Name)-chan, bukan seperti itu—" "Lalu apa dasar dari semua alasan ini?!"
.
"Bagaimana caranya kau dan Taiga-kun melindungiku?" "Dengan mengalahkan Akashi-kun."
.
"Kau..." "Semoga kalian menang, (Name)."
.
"Aku sudah tahu."
.
"Orang yang melawanku, akan aku buat dia menderita lebih berat daripada yang ia bayangkan."
.
"Orang itu… Aku pernah melihatnya."
See you at next chapter, guys! Happy Graduation and Test Exam~ XD :) :3 QWQ
Best regards,
D.N.A . Girlz
