TUAN MUDA

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto x Hinata, slight Kiba x Hinata

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Family

Warning: OOC, Typo(s), Bold (Flashback) dan semua kesalahan yang tidak pernah disengaja.

Don't Like Don't Read

.

Nia Present

.

Dedaunan hijau mulai berubah coklat, dan rontok dari rantingnya. Rerumputan menguning layu karena pengaruh suhu yang semakin dekat dengan beku. Hari itu, bagi kebanyakan orang adalah hari terakhir dimusim gugur. Sebentar lagi, musim salju akan tiba. Ini adalah musim salju ke-2 untuk gadis Hyuuga itu di Jepang, ya, dia sudah setahun lebih di negara ini. Gadis itu kini sedang duduk di dekat jendela sebuah cafe, di depannya ada sebuah mochacino, minuman yang cukup bisa membuatnya hangat.

Hinata terdiam, ketika tahu ruangan ICU dimana Naruto dirawat telah kosong. Dia telat, dia telat beberapa menit. Kakinya mendadak lemas, dan akhirnya tubuhnya terduduk begitu saja menghadap pintu ruangan ICU. Cairan bening itu pun turun begitu saja membasahi pipinya. Hinata kesal dan sedih, karena Naruto meninggalkannya begitu saja.

"Kenapa? Hiks.. Kenapa Naruto-kun tidak menungguku? Kenapa?"

"...nata? Hinata?"

Hinata menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, gadis itu tersenyum, "maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu," ucap Hinata lalu meraih mug mochacino yang dipesannya.

"Tidak apa, aku mengerti kok," ucap Kiba lalu duduk di kursi yang berada di depan Hinata. "Kau menunggu lama?"

"Tidak," jawab Hinata pelan. Mata lavender itu menatap minuman didalam mug nya, dia tidak bisa melupakan Naruto. Naruto yang meninggalkannya setahun yang lalu, tepat sebulan sebelum drama Cinderella dan juga tepat 5 bulan sebelum musim gugur berakhir, dan berganti menjadi musim dingin. Kini, gadis itu telah menjadi sisiwi kelas 3 SMA Konoha.

"Mau pergi sekarang?" Tanya Kiba lembut. Kiba hanya mendapat sebuah anggukan dari gadis cantik yang selalu dikaguminya itu, ya walaupun Kiba belum bisa mendapatkan hati sang gadis. Padahal, sang saingan sudah tidak ada. Namikaze Naruto sudah setahun meninggalkan mereka.

.

.

"Anko-sensei, bagaimana dengan drama kita? Naruto'kan tidak ada?" tanya seorang murid pada sang Guru.

Anko terlihat sedang berpikir, namun matanya melihat Shikamaru yang mengangkat tangannya. "Ya, Shikamaru ada apa?"

"Aku saja yang jadi pasangan Hinata-chan di pementasan nanti," ucap Shikamaru seraya melirik Hinata yang menunduk sedih. Ya, gadis itu selalu terlihat sedih semenjak Naruto tidak ada.

"Ah, ya boleh, kau kan penulis naskah, jadi pasti kau hapal," balas Anko merasa lega, karena satu masalah telah terselesaikan.

.

.

"Aku kangen Naruto..."

Sai melirik Ino yang sedang merajuk disampingnya, bukan hanya Ino yang kangen, dia juga sama. Ah, kapten timnya itu benar-benar menyebalkan, membuat semua temannya harus melalui hari-hari sepi tanpa keceriaan. "Hei, Shika, tidak apa kita mengajak Kiba?"

"Memangnya kenapa? Dia teman setim kita, lagipula hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan," ucap Shika sambil memasukan tangannya ke saku jaketnya. Hawa dingin mulai terasa, ah musim salju akan segera tiba.

"Menyenangkan apa maksudmu?" Tanya Sai tidak mengerti.

"Nanti kita akan tahu," jawab Shikamaru singkat. "Ah, tuh mereka," kata Shikamaru ketiika melihat Kiba dan Hinata tiba. Shikamaru mengeluarkan kunci mobilnya, "ayo semuanya masuk."

.

.

Di sebuah Hotel berbintang, di ballrom hotel tersebut sudah ramai dengan beberpa orang. Ada Neji dan Hanabi serta kurenai, beberapa teman campus Gaara dan keluarga Namikaze. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul di tempat mewah itu, malam ini putera pertama pasangan Minato dan Kushina akan mengadakan acara pertunangan dengna sang kekasih, Shion.

"Mana teman-teman Naruto? Mereka belum kelihatan, kau mengundang mereka'kan?" Tanya Sakura yang mengenakan dress pink itu pada sahabatnya.

"Mungkin sebentar lagi," jawab Gaara sambil memperhatikan pintu ballroom.

.

.

"Apa kau tegang, Naruto?" Tanya Gaara pada sang adik yang malam itu mengenakan tuxedo biru navy.

Pemuda bermata biru itu nyengir, "tidak, biasa saja."

"Kau baik-baik saja?" Tanya Gaara lagi.

Naruto mengangguk, "aku baik, semua ini demi ayah dan ibu. Jadi, aku akan bertunangan dengan Hinata-chan," ucap Naruto masih dengan cengiran khasnya.

"Kau baik-baik saja, Gaara?" Tanya Kyuubi tiba-tiba ketika melihat sang adik terdiam.

Gaara mengangguk, "ya, selalu baik, Kyuu-nii."

Kyuubi menepuk bahu Gaara, "ayo, acara akan segera dimulai. Teman-teman otouto pun sudah datang," ajak Kyuubi seraya menyeret Gaara ke tengah ballroom.

Shino meneguk jus yang diambilnya dari meja pesta, "jadi ini hal menyenangkan yang kau maksud Shikamaru?"

"...mungkin," balas Shikamaru melirik ruangan besar ini. Ini hanya pesta keluarga, tapi diadakan di tempat mewah ini. Padahal, bisa diadakan di kediaman Namikaze yang sama mewah dan besarnya. Ya, mungkin mereka ingin suasana baru. Ah, kenapa juga Shikamaru harus repot-repot memikirkan hal ini. Merepotkan.

Jiraiya, sang kakek yang bertugass sebagai MC memulai acara. Semua acara berjalan lancar, sampai pada acara saling memakaikan cincinpun berjalan lancar. Kyuubi yang mengenakan tuxedo merah maroon itu terlihat semakin keren dan tampan, Shion dengan dress indahnya yang sebatas lutut berwarna pink tua terlihat sangat cantik. Mereka berdua begitu mempesona dan serasi.

"Baiklah, sekarang waktunya kita berpes-"

Kreeet... Pintu ballroom terbuka, hal itu membuat Jiraiya menghentikan kalimatnya. Shikamaru yang selama acara memperhatikan pintu ballroom akhirnya tersenyum. Kakashi memasuki ruangan itu, ah bukan Kakashi yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan pemuda yang berjalan dibelakang Kakashi. Pemuda yang sudah setahun lebih ini meninggalkan mereka.

"Na-naruto-kun..." Ucap Hinata tak percaya, pemuda itu kini berada didepannya. Pemuda yang selalu dirindukannya. Pemuda yang selalu mengisi hatinya. Pemuda yang selalu dicintainya.

Naruto menghentikan langkahnya, pemuda itu terdiam, merasa dia mengganggu acaranya, pemuda bermata biru itu menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal. "Ng... Maaf, aku meng- ugh." Sebuah pelukan dadakan menghentikan ucapannya, Kyuubi mendekapnya erat lalu disusul oleh jitakan sayang dari Gaara. "Aku merindukan kalian, aniki, Gaara-nii."

.

.

Naruto menghembuskan nafasnya, pemuda tampan itu menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia gugup, ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan sang Tunangan. Naruto berjalan mendekati Hinata yang masih memperhatikannya tak percaya, mata gadis yang kini rambutnya terlihat lebih berbeda ( bayangkan rambut Hinata saat di the Last Movie ) dari setahun lalu itu berkaca.

"Hinata-chan, maaf aku tidak per—"

Pluk! Hinata memeluk Naruto tiba-tiba, gadis itu meluapkan semua kerinduannya. Meluapkan semua rasa takut yang dia rasakan selama setahun lebih ini karena mengetahui sang Tunangan sedang berusaha berjuang untuk melawan penyakitnya di luar negeri.

"Syukurlah... Syukurlah... hiks.. hiks.." Ucap Hinata disela isak tangisnya, dia tidak ingin menangis sebenarnya, tetapi matanya berkata lain.

Naruto tersenyum, tangan pemuda tampan itu membelai rambut indigo Hinata dengan lembut. "Aku sudah di sini, tidak usah menangis Hinata-chan," ucap Naruto pelan dan lembut.

Semua yang ada di ballroom itu tersenyum melihat moment romantis Naruto dan Hinata, Ino sampai menitikan air mata karena terharu. "Shika, kau sialan," ucap Ino kesal namun senang.

"Maksudmu?"

"Kau merahasiakan ini dari kami," ucap Ino lagi lalu melap air matanya.

Shikamaru melihat tangan depan dada, "aku baru bisa berkomunikasi dengannya seminggu ini. Dia bilang akan pulang ketika Kyu-san bertunangan, selebihnya aku sama seperti kalian, tidak mendapat akses untuk berkomunikasi dengan Naruto selama dia melakukan pengobatan di Spanyol sana," jelas Shikamaru mengingat Naruto yang mendadak dibawa keluar negeri sehari setelah insiden jatuh dari tangga, dan tidak ada akses apapun dari Naruto untuk orang terdekatnya di Jepang. Bukan hanya teman-teman Naruto, Kyuubi dan Gaara pun tidak mendapat sama sekali, dilarang keras oleh Jiraiya dan Tsunade, Bahkan untuk tahu kabar Naruto pun tidak ada. Namun, Shikamaru beruntung karena seminggu yang lalu, Naruto malah menghubunginya.

"Kakek tidak bicara kalau Naruto sudah boleh pulang," ucap Gaara pada kakeknya yang kini sedang menikmati makanannya.

"Salahkan nenekmu saja, Gaara."

Gaara melirik pemuda yang kini terlihat berbeda dengan rambut plontosnya ( bayangkan Naruto yang di the Last ), Naruto terlihat lebih segar dan sedikit kurus. "Apa, Naruto 100% sembuh?" Tanya Gaara hati-hati.

Jiraiya menghentikan tangannya yang sedang memegang garpu, laki-laki berambut perak itu berniat menusuk salad. "Tanyakan hal itu pada Nenekmu saja," ucap Jiraiya tenang. "Sudahlah, sekarang kau jangan terlalu memikirkan masalah itu, Gaara," lanjut Jiraiya.

Gaara mengangguk, saat ini dia tidak mau memikirkan soal penyakit sang adik. Kenapa? Karena adik yang sudah pergi setahun ini sudah kembali. Mereka akan makan ber-3 lagi, kumpul ber-3 lagi dan bercanda seperti biasanya.

.

.

Naruto memperhatikan gadis yang duduk disampingnya, sementara dirinya berdiri. Kini mereka memisahkan diri dari pesta pertunangan Kyuubi dan Shion. Pasangan yang sudah lama tak bertemu ini kini sedang berada di Taman air mancur hotel. Rambut Hinata kelihatannya dipotong, terlihat sedikit berbeda dari setahun yang lalu.

"Hinata-chan semakin cantik ya," puji Naruto tanpa sadar dan mata birunya masih tertuju pada gadis yang duduk disampingnya. Naruto tersenyum ketika Hinata menoleh ke arahnya, ah gadis di depannya masih belum menghilangkan kebiasaannya, bersemu. Naruto duduk disisi Hinata, kini matanya teralih pada air mancur yang tak jauh dari mereka. "Bagaimana hubunganmu dengan Kiba? Kudengar, kalian semakin dekat."

"I-itu..."

"Tidak apa, kau memang pantas mendapatkan pasangan yang selalu ada untukmu, menghiburmu dan menjagamu."

"Ti-tidak, Naruto.. Kami—"

"Kalaupun aku ditakdirkan untuk mati muda, aku rela kok kalian menjalin hubungan khus—"

Plak!

Panas, perih, hal itulah yang dirasakan pipi kanan Naruto saat ini. Beberapa detik yang lalu, pemuda berambut plontos itu ditampar oleh Hinata. Naruto sedikit kaget, karena gadis seperti Hinata berani melakukan hal itu padanya.

"Stop! Berhenti bicara seperti itu Naruto-kun, berhenti," ucap Hinata tanpa terbata dan wajah menunduk. Kedua tangannya meremas dress yang dipakainya. "Aku mohon, naruto-kun sehat. Na-naruto-kun sehat. Naruto-kun tidak akan mati."

Hati pemuda pirang itu mencelos, bukan karena gadis didepannya yang menunduk, tetapi karena cincin tunangan yang masih melingkar dijari manis tangan kiri Hinata, dan karena gadis didepannya menitikan air mata. Ini... untuk pertama kalinya dia melihat langsung Hinata menangis, gegara dirinya. Naruto tanpa ragu, meraih tubuh mungil sang gadis. Dipeluknya erat, sangat erat. Oh Tuhan, apa yang sudah dia lakukan, gadis yang kini berada dalam pelukannya begitu sempurna. Baik, setia dan sangat perhatian. Apa yang telah dia lakukan? Kenapa hatinya sakit melihat gadis dipelukannya terisak seperti saat ini, kenapa?

"Naruto, aku.. aku mohon, Naruto-kun jang-"

Mata Hinata melebar, dia mendapatkan sentuhan hangat dibibirnya secara tiba-tiba. Ini ciuman pertamanya, Naruto tengah menciumnya dengan lembut dan menenangkan. Mata lavender itu akhirnya terpejam, menerima semua sentuhan lembut dibibirnya.

"Aishiteru, Hinata-chan," bisik Naruto yang kembali mencium bibir Hinata yang terassa manis itu. Terlambat memang baginya mengatakan kalimat itu, tapi saat ini Naruto benar-benar tidak peduli dengan penyakitnya. Saat ini, yang dia pedulikan adalah perasaan tak ingin menyia-nyiakan gadis sesempurna Hinata, tidak mau kehilangan gadis itu dan di dadanya selalu ada desiran hangat ketika dia mengingat Hinata atau berdekatan dengan gadis itu. Ya, Naruto mulai mencintainya, menyayanginya dan akan selalu merindukannya. Naruto yakin akan hal itu.

"Aishiteru mo, Naruto-kun."

.

To Be Continue

.

.

RnR

Maaf, fict nya mulai gaje. Dikarenakan file saya ke-remove. Sepertinya sebentar lagi fict ini akan the end. Oh ya, Bagi yang bingung, maafkan saya.

Terima kasih yang selalu RnR. Maaf tidak bisa balas satu-satu review an nya.

Arigato