Title : Perfectly Imbalanced (Indonesian)
Author : Supergelie
Main pairing : ChanBaek / BaekYeol
THIS STORY BELONGS TO SUPERGELIE
AND I JUST TRANSLATE IT INTO INDONESIAN
PLEASE DO NOT REUPLOAD THIS STORY!
A/N : NO EDIT, TYPO TERDAPAT DI MANA-MANA.
.
.
.
.
PERFECTLY IMBALANCED
.
.
.
.
Chapter 14 : No Sunshine and City Lights
.
.
.
.
Perjalan mobil itu lebig dipenuhi oleh Chanyeol yang berusaha untuk tetap terjaga, Yuan yang meniru bunyi kereta api dan pesawat, terkadang bahkan menjulurkan tangannya keluar jendela hingga Baekhyun harus berkali-kali mengingatkannya untuk tidak melakukan itu karena itu berbahaya tapi anak itu sangat keras kepala dan bagian terburuk dari semuanya adalah dirinya yang mengutak-atik channel di radio mobil itu untuk menemukan channel bagus untuk didengarkan, tapi tidak ada channel selain sebuah channel untuk orang tua dimana mereka memainkan lagu-lagu dan instrumental jadul dan syukurlah mereka sudah sampai karena jika dia harus mendengarkan lagu jadul itu satu jam lagi, dia akan memotong kepalanya sendiri dan membuangnya keluar jendela untuk menakuti mobil manapun yang lewat. Itu pasti akan sangat menghibur.
Chanyeol perlahan memarkirkan mobilnya di luar resort bersama dengan yang lainnya. Mereka mendesah. Akhirnya.
"Baiklah, ini…" Chanyeol memeriksa jamnya "Pukul 12:34 siang. Kita akan makan siang dulu kemudian check in ke hotel. Apa itu terdengar baik?"
Baekhyun dan Yuan mengangguk. Yuan keluar dari mobil lebih dulu, kemudian Chanyeol setelah mematikan mesin dan Baekhyun belum juga keluar karena sabuk pengaman sialannya itu tidak bisa dibuka. "Baekhyun, ayo." Panggil Chanyeol.
"Chanyeol, sabuk pengamannya."
Chanyeol menunduk untuk mensejajarkan dirinya dengan jendela untuk melihat apa yang Baekhyun sedang lakukan. "Apa?"
"Sabuk pengamannya tidak bisa dibuka."
Chanyeol berlari ke sisinya segera untuk membantu apapun masalahnya. Baekhyun sudah terus saja menarik dan mendorong sabuk pengaman itu dengan kasar hingga bahkan dia tahu dia terlihat bodoh. Chanyeol menangkap tangannya hingga dia menarik miliknya. "Ada apa dengan benda ini…" dia bergumam dengan erangan saat dia mencoba menarik tiap sisi dari sabuk pengaman itu sedangkan Baekhyun menempel pada kursinya seperti sebuah lem karena Chanyeol hanya berjarak satu sentimeter darinya. Kedekatan itu membuat nafasnya berat. Dia bahkan tidak bisa bergerak.
Chanyeol semakin maju, rambutnya menyapu pelan di antara bibir Baekhyun dan hidungnya. Dia mencium bau shampoo merek ivory, Baekhyun menyadarinya. Dia suka aroma Chanyeol. Dia membuang muka. Satu erangan keras terakhir dan akhirnya terdengar bunyi klik. Chanyeol mendesah kembali berdiri tegak. "Sudah." Dia bernafas. "Aku harus memperbaiki benda ini."
Baekhyun berdeham dan menyingkirkan sabuk pengaman itu dari dadanya. "Terima kasih."
Saat dia turun dari mobil, dia melihat Yuan memanjat patung manusia salju besar di seberang mereka, salah satu patung sembarangan diletakkan di parkiran. Dia secara insting berteriak. "Yuan! Itu berbahaya!" Bahkan tanpa menutup pintu mobilnya, dia berlari ke arah patung itu. "Yuan!"
Yuan meliriknya tapi dia mengabaikannya. Dia tetap memanjat.
Baekhyun berbalik pada Chanyeol untuk meminta bantuan. "Chanyeol!"
Chanyeol berbalik sesudah mengamankan mobilnya. "Biarkan dia, dia masih anak-anak."
"Tapi nanti dia jatuh!"
"Tenanglah." Chanyeol bersenandung. "Dia tidak akan jatuh."
Baekhyun terhenyak saat Yuan hampir terpeleset. "Itu dia! Yuan, turun kau! SEKARANG!"
"Baek—"
"CHANYEOL TURUNKAN DIA! APA KAU AKAN MENUNGGUNYA UNTUK JATUH DULU BARU KAU AKAN MENURUNKANNYA?!"
Chanyeol meringis mendengar teriakan keras Baekhyun. "Baiklah, baiklah." Dia berjalan ke arah kaki patung itu. "Yuan, ayo bocah." Dia mengangkat lengannya. "Itu berbahaya. Ayo. Melompatlah. Aku akan menangkapmu."
Yuan cemberut dan ragu sebentar tapi melihat ekspresi khawatir di wajah Baekhyun, dia tidak punya pilihan lain. Dia menjatuhkan dirinya dan mendarat di pelukan Chanyeol dengan bunyi keras hingga dia merasa seperti telah menyenggol sesuatu. Itu mungkin tidak ada. "Anak baik." Gumam Chanyeol dan batuk. "Ayo, minta maaf pada Baekhyun hyung." Bisiknya pada anak itu.
"Apa? Kenapa?"
"Karena kau membuatnya khawatir."
Chanyeol berbalik ke samping hingga Yuan berhadapan dengan Baekhyun yang hanya berdiri dengan tangan dilipat.
"Baekhyun hyung, aku minta maaf."
Baekhyun menolak untuk beberapa saat sampai matanya melihat baik Yuan maupun Chanyeol sedang melihatnya, dengan Chanyeol yang menggendong anak kecil di pelukannya seperti ayah sungguhan dan Yuan yang menempel padanya. Dia ingat bagaimana dia dulu sering memeluk ibunya sangat erat saat dia masih anak-anak. Dia tidak akan pernah melepaskannya.
Dia terkekeh dan mengulurkan tangannya ke kepala Yuan. Dia mengacak rambutnya. "Jangan ceroboh lain kali, okay?" Yuan mengangguk dan tersenyum lebar.
"Aww, lihatlah, ada orang tua gay. Lucu sekali." Ucap seseorang yang melintas.
Tunggu sebentar.
Apa yang baru saja dia katakan?
"Baekhyun, tenanglah." Bisik Chanyeol.
Baekhyun mengepalkan tinjunya.
Orang tua gay.
Orang tua gay.
Tidak dapat dipercaya.
Sungguh tidak dapat dipercaya.
"Biarkan saja."
Yuan cemberut. "Aku lapar."
Baekhyun menghirup udara dalam, menutup matanya untuk meredakan amarah. "Okay." Ucapnya, membuka mata. "Aku baik-baik saja." Dia terus mengulang kalimat itu di kepalanya seperti mantra.
"Kau baik-baik saja." Tambah Chanyeol. "Dan kami lapar, ayolah."
.
.
.
.
.
"Just fins." Dengan banyak glitter berkelap-kelip dan percikan air membeku dan gambar seorang putri duyung yang tersenyum dan fakta yang jelas bahwa dia akan dimasak. "Just fins." Ulang Baekhyun, memutar dua kata itu di mulutnya, mencoba mendapatkan penjelasan yang adil kenapa restoran itu disebut 'Just fins' saat jelas-jelas mereka juga menjual kepiting, udang dan makhluk-makhluk lain yang bisa dimakan kecuali sirip ikan.
Selain itu, kenapa restoran safood ada di resort ski?
"Jelas-jelas mereka hanya memaksudkan nama itu pada si putri duyung."
Aneh.
Chanyeol meraih tangannya. "Ayo pergi."
Kau tau apa yang lebih aneh? Lebih banyak putri duyung.
Baekhyun rasanya ingin menceramahi siapapun yang mendekorasi tempat itu dengan keong laut, ikan yang menari dan putri duyung dengan dada besar. Dia bahkan tidak yakin apakah laki-laki yang bukan straight boleh tinggal untuk semenit atau bahkan menapakkan kaki di tempat ini. Tapi ini adalah liburan singkat. Dan liburan singkat artinya sedikit bersenang-senang. Jadi dia akan melupakan niatnya untuk mengkritik atau bahkan berhenti mengomentari pada hampir semua hal yang ia lihat.
Mereka mengambil tempat duduk di tengah (setelah Chanyeol menyelipkan beberapa bills tentu saja, karena ada banyak orang di sana). Baekhyun tersedak ludahnya sendiri saat dia membuka buku menunya.
Jelas sekali tidak ada yang memperingatkannya bahwa resort ski itu eksklusif untuk orang kaya. Begitu juga restorannya.
Harga makanan di sana lebih tinggi dibanding harga diri dan tinggi badannya dikali sepuluh dan diangkat hingga ke bilangan tak terhingga.
"Um, Chanyeol." Baekhyun menggaok. Dia melihat pelayan itu mendengarkan maka dia bersandar lebih dekat ke meja untuk berbisik. "Bukankah harganya terlalu mahal di sini?"
"Benarkah?" tanya Chanyeol.
"Benarkah?" tambah Yuan.
Baekhyun memutar bola matanya dan bersandar kembali ke kursinya. "Lupakan." Perhatiannya kembali ke menu. Tidak ada satupun makanan itu yang familiar terhadapnya maka dia memutuskan untuk memilih makanan paling murah. Untungnya, ada banyak makanan murah juga.
Ini tidak akan begitu sulit.
Dia mengangguk. "Menunya tidak terlalu buruk." Dia mengangguk lagi, kulitnya mulai terasa dingin. "Tidak buruk." Dia mencoba untuk mengabaikan tapi akhirnya bisik-bisik itu sampai di telinganya. Dia membanting menu itu ke meja mengejutkan Chanyeol dan Yuan. "Kenapa mereka menatapi kita?"
Chanyeol menoleh ke sekitarnya dan menyadari bahwa ya, orang-orang, para tamu, semua orang sedang menatapi mereka seolah-olah mereka itu adalah hewan di kebun binatang.
"Mungkin mereka merasa Yuan lucu."
Baekhyun berbalik pada Yuan yang tersenyum lebar padanya.
"Jangan mengalihkannya." Dia berbalik kembali pada Chanyeol. "Kita harus makan di tempat lain."
"Apa? Tapi kita sudah di sini."
"Di sini aneh."
"Tapi aku ingin makan cumi-cumi…dan udang….dan kepiting…" gumam Yuan sambil menundukkan kepalanya.
Chanyeol mengangguki perkataan Yuan pada Baekhyun mencoba untuk menguatkan pernyataannya. Pada dasarnya saat ini Baekhyun tidak bisa melakukan apa pun. Dia adalah orang asing yang menganggap ini buruk. Dia bahkan tidak diundang dalam perjalanan ini, namun Baekheelah yang diundang, dan siapa yang membayar? Park Chanyeol.
Apakah dia berhak di sini?
Tidak.
Bisakah dia memilih tempat mereka makan?
Tidak.
Bisakah dia protes?
Tentu saja tidak.
Jadi pada akhirnya, Chanyeol memesan makanan untuknya sementara Yuan memesan hampir semua yang ada di menu. Dia mengingatkan anak itu bahwa makan banyak itu tidak baik tapi Yuan membela diri dengan 'itu tidak masalah kalau kau bisa membayarnya' maka Baekhyun memutuskan untuk diam. Lagipula dia sudah memperingatkannya.
Makanan mereka sampai 30 menit kemudian— dimana mereka menghabiskan hampir semua waktu menunggu mereka untuk memainkan gelas dan memecahkannya dan menggantinya dan memecahkannya lagi. Baekhyun bahkan tidak heran saat dia melihat pelayan di seberang menatapi mereka—atau lebih tepat gelas-gelasnya, mana tau kau tahu.
Lima menit kemudian semakin banyak makanan disajikan untuk mereka. Dan tiga menit kemudian, meja kecil mereka penuh. Baekhyun tidak bisa lagi melihat akhir dari barisan piring di sana dengan sebegitu banyak makanan yang disajikan. Oh baiklah, itu sebenarnya lebih baik daripada tidak melihat makanan sama sekali.
Dia tidak suka makanan asing sejak dulu lagipula maka dia mengambil makanan yang paling dia kenal—ayam!
Chanyeol mendesah. "Oh ayolah, jangan bilang kau hanya akan makan ayamnya?"
Baekhyun berhenti sejenak saat hendak menempatkan ayam di piringnya. "Lalu kenapa kau memesan ayam?"
Chanyeol mengedikkan bahu. "Demi memesan ayam?"
Baekhyun mengerutkan alis. "Aku tidak mengerti." Dia melihat sebagian besar piring ditaruh di depan Yuan dan dia pun mengalihkan perhatiannya pada anak itu. "Yuan, apa kau yakin bisa menghabiskan semua itu?" Yuan mengangguk. "Benar-benar yakin?" Yuan mendelik dan mengangguk. "Nanti kau sakit perut."
"Biarkah dia, Baekhyun." Chanyeol menginterupsi. Baekhyun sadar yang dia lakukan sejak tadi adalah membiarkan Yuan melakukan apa yang ia mau dan itu mulai membuatnya jengkel. Dia adalah hyungnya, dia seharusnya khawatir pada anak itu. "Dia sedang dalam masa pertumbuhan, biarkan dia makan apa yang ia mau." Sambung Chanyeol sambil mengambil sesendok makanan dari piringnya.
Jumlah makanan mereka itu aneh dan tidak masuk akal.
Chanyeol punya 7 piring, Yuan punya 10 piring sedangkan Baekhyun hanya punya tiga piring.
Baekhyun menghirup udara dalam untuk menahan rasa jengkelnya. "Okay baiklah, tidak usah dengarkan aku." Dia diam selama mereka makan, hanya dengan ayam di dekatnya. Dia menuangkan air untuk Yuan karena dia sebenarnya mendengarkannya saat dia bilang softdrink buruk untuk anak-anak, maka dia memberinya air.
Chanyeol memperhatikan Baekhyun kagum. Dia memperhatikan bagaimana bibirnya akan cemberut jika nasinya jatuh dari sumpitnya, bagaimana ekspresinya akan melembut khawatir kapanpun Yuan terbatuk membutuhkan air dan bagaimana wajahnya mencerah tersenyum kapanpun dia menyeka sisa makanan di wajah Yuan. Dia punya feeling bahwa Baekhyun adalah seorang babysitter berpengalaman, jika itu membuatnya terdengar lebih baik, atau sederhananya, Baekhyun sudah pernah menjaga seorang anak sebelumnya.
Sebelumnya.
Sebelum semua ini tejadi.
Pikirannya terinterupsi saat dia merasa ponselnya bergetar. Dia mengambil ponselnya untuk membaca pesan dari ibunya. Dia berdeham. Baekhyun menoleh. "Baekhyun, kurasa kau perlu berganti pakaian sebelum kita pergi ke hotel. Ibuku baru saja mengirimkan pesan dan bilang dia akan memesan kamar dengan nama Park Chanyeol dan Park Baekhee. Huh. Itu terdengar bagus."
Baekhyun menatapnya kosong.
"Aku mengerti tatapanmu itu." Ucap Chanyeol. "Park Baekhee terdengar tidak masuk akal?" dia meniru gaya bicara Baekhyun.
Baekhyun masih menatapnya.
"Kau jelek?"
Masiiiih menatap.
"Bagaimana mungkin aku bisa berganti pakaian terburu-buru begini?"
Baekhyun mendelik tajam. Akhirnya!
"Kau bisa gunakan toilet mereka." Ucap Chanyeol.
"Apa kau ini bodoh?" tanyanya pedas. "Aku masuk seperti ini. Aku tidak bisa keluar dengan pakaian wanita!"
Mereka diam sejenak.
Terdengar suara burung gagak.
Dan akhirnya solusi Chanyeol.
"Ini adalah ide terburuk yang pernah ada." Gumam Baekhyun pelan sambil mencoba untuk menggantung handuk dan jaket di setiap jendela mobil Chanyeol. Idenya adalah dia harus berganti pakaian di dalam mobil untuk menghindari tatapan curiga dari orang-orang. Huh. Seperti ide yang ini tidak mencurigakan saja.
"Apa kau punya saran lain?" tanya Chanyeol dari luar, memperhatikan Yuan bermain dengan batu.
"Diam sajalah." Baekhyun masuk ke dalam setelah lima belas menit mencoba dan gagal dan kemudian menutup pintunya. "DAN JANGAN MENGINTIP!"
Chanyeol mendengus.
Baekhyun meraih kotak yang penuh dengan dress dan wig dan kotak makeup dan barang-barang wanita lainnya. Dia mendesah. Jika dia sedang menulis essay untuk pendaftaran kuliah sekarang, dia akan menjadi pilihan pertama dari setiap universitas jika dia menulis insiden ini sebagai rintangan terbesar yang pernah dia alami dalam hidupnya. Harga dirinya sebagai laki-laki sedang diinjak-injak oleh CEO idiot berkepala keriting garis miring Park Chanyeol.
Well, setidaknya dia bersenang-senang.
Untuk sekarang mungkin.
Dia melepaskan pakaiannya, menyiapkan bra dengan beberapa busa dan memakainya. Dia harus menahan diri untuk tidak tertawa keras karena itu berarti dia menghina dirinya sendiri. Dia heran kenapa bahunya terlihat sangat feminim. Semua orang punya bahu lebar, kenapa bahunya mungil sekali?
Dia menggeledah kotak itu untuk menemukan pakaian. Dia memilih gaun hitam berkancing depan yang dipilih Luhan untuknya dan memakainya sampai dari bawah sampai ke pinggang. Dia berbaring di jok mobil, kaki terlipat dengan posisi yang aneh karena dia tidak muat di mobil sempit itu, dan dia mencoba melepaskan celananya. Kepalanya terantuk.
"Aw!"
Chanyeol berbalik dan terkekeh.
Terdengar bunyi gedebuk lagi. "Sialan!"
Dan dia terkekeh lagi.
Chanyeol berbalik pada Yuan yang sedang berlari ke penjaja es krim. "Yuan jangan! Kembali ke sini!"
Dia tidak mengidap…. ganguan obsesif-kompulsif dilihat dari bagaimana rumahnya yang terlihat seperti sampah itu.
Hanya saja dia tidak suka dengan makanan jalanan. Pernah sekali dia makan es krim jalanan dan kemudian dia didiagnosa keracunan makanan. Ibunya menghukumnya selama sebulan. Dia berlari ke Yuan dan menarik tangannya. "Ayo."
"Aku mau makan es krim!"
"Kita akan beli es krim di sana." Chanyeol menunjuk sebuah toko.
"Baiklah." Yuan mengikuti Chanyeol.
Saat mereka kembali ke mobil, Chanyeol melihat Baekhyun menendang pintu mobilnya terbuka dan menapakkan kaki telanjangnya di tanah. Sisi Baekhyun yang ini, dengan rambut panjang jatuh ke dadanya, wajah merah dan gaun yang anggun, adalah pemandangan terbaik yang akan dia ingat. Ada sesuatu tentang Baekhyun yang terlihat tenang seperti itu. Dia terbuka tapi masih menjaga jarak.
"Kau terlihat bagus." Ucap Chanyeol saat dia berhenti di depannya.
"Kenapa ini sangat melelahkan?" Baekhyun menghela nafas. "Kenapa aku harus melewati semua rintangan ini hanya untuk berganti pakaian?" Chanyeol menyeringai. Dia melihat sepasang sepatu pansus di pangkuan Baekhyun. Baekhyun gelisah. "Apa yang kau lakukan?"
"Menjadi pria sejati." Chanyeol meraih kaki Baekhyun, menggenggamnya di telapak tangan dengan lenbut dan memakaikan sepatu itu di kakinya dengan sempurna. Baekhyun memperhatikannya sambil menggigit bibir malu saat Chanyeol melakukan hal yang sama pada kakinya yang lain. "Kau terlihat lebih baik."
Baekhyun mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, di mana dia malah melihat Yuan yang tersenyum lebar padanya. Dia merasakan sebuah tangan mengelus rambutnya maka dia memutar wajahnya kembali pada Chanyeol dan berakhir bertemu dengan wajah Chanyeol yang hanya berjarak satu inci. Chanyeol sedang menyingkirkan helaian rambt di wajahnya. Wajah Chanyeol hanya berjarak satu inci dari wajahnya. Dia bisa merasakan nafas hangat Chanyeol di pipinya sehingga meyebabkan warna merah muda di pipinya berubah menjadi merah. Dia tidak punya alasan. Dia sedang memerah. Dia memerah karena Chanyeol.
Chanyeol berdiri tegak dengan senyum bangga setelah bermain dengan helaian rambutnya. "Imut sekali." Dan kemudian berjalan pergi.
Baekhyun menatap kakinya dimana itu mengingatkannya tentang Chanyeol yang berlutut dan memakaian sepatunya, maka dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa dirinya akan segera meledak karena malu.
"Ayo pergi Baekhyun!"
Dia tersadar saat dia mendengar suara Chanyeol. Dia melihat handuk dan jaket sudah disingkirkan dan mobilnya terlihat normal kembali. Dia segera bergi duduk di jok depan, terus menerus membertulkan roknya karena terus tersingkap saat dia duduk. Di sini lain, Chanyeol sangat takjub bagaimana rok itu bisa tersingkap sangat tinggi. Saat Yuan menutup pintu di belakang, Chanyeol mulai melaju menuju hotel.
.
.
.
.
.
Mereka sampai di hotel pukul 2 siang. Baekhyun menyibukkan dirinya menjaga tas meeka sambil menggendong Yuan karena anak itu tiba-tiba sakit perut setelah memakan hampir semua yang dia pesan di restoran tadi tanpa henti. Chanyeol sedang memeriksa pesanan mereka. Baekhyun melupakan penderitaannya, mengabaikan laki-laki yang menatapi kakinya yang terbuka dimana dia bahkan tidak bisa menutupinya karena dia sedang menggendong Yuan.
"Baiklah, aku sudah dapat kartu kamar kita." Ucap Chanyeol sambil berjalan kembali ke arah mereka.
"Oh syukurlah." Gumam Baekhyun.
Chanyeol mengangkat tas mereka dan mulai berjalan ke elevator. Baekhyun dan Yuan mengikuti di belakangnya.
"Hyung~ perutku benar-benar sakit…" gumam Yuan, menekan tangannya lebih keras ke perutnya.
Baekhyun mendesah, mengalihkan perhatiannya dari nomor lantai kepada Yuan. "Apa yang kukatakan padamu tentang makan terlalu banyak? Dan kemudian ada seseorang yang terus membelamu."
"Aku mendengarmu." Chanyeol mendelik tajam.
"Kau memang harus mendengarnya." Balas Baekhyun. Dia menatap angka di elevator. Ruangan mereka ada di lantai 15. Ini masih di lantai 8. "Berapa lantai yang hotel ini punya?" itu aneh saat tidak ada orang yang datang dari setiap lantai maka mereka naik dengan cukup cepat.
"20." Chanyeol merespon.
Baekhyun terhenyak. "Banyak orang datang kemari untuk bermain ski?"
"Banyak orang kaya datang kemari untuk bermain ski."
Baekhyun mulai memperkirakan dengan logika. Dia cukup yakin tidak ada orang yang datang ke sini di pertengahan tahun. Siapa yang bermain ski saat musim panas? Itu artinya hotel ini hanya buka selama musim dingin. Itu artinya ada banyak orang kaya di sini saat ini. Yang membawa kita pada kesimpulan : dia tidak bisa bebas di tempat ini.
Semua orang mengenal Chanyeol.
Semua orang mengenal tunangan Chanyeol.
Hebat.
Sekarang aku bahkan tidak bisa menjelajah tempat ini tanpa ditatap oleh orang-orang.
Elevator berhenti dengan bunyi ting dan pintu terbuka di lantai tempat kamar mereka berada. Baekhyun mendesah dan memperbaiki posisi Yuan yang sepertinya sudah tertidur di gendongannya. Dia seperti malaikat cantik saat tertidur.
"KITA SAMPAI!"
Baekhyun menendang tulang kering Chanyeol dan berjalan masuk lebih dulu. "Diamlah. Yuan sedang tidur." Dia bahkan tidak berbalik saat dia mendengar bunyi gedebuk keras.
"Kau kejam…"
.
.
.
.
.
Jujur saja, ruangan itu besar. Baekhyun merasa seperti baru saja berjalan ke dalam sebuah mansion. Semuanya sudah ditata saat mereka masuk; lampu, pemanas, beranda yang terbuka dan dapur kecil lengkap dengan bahan dan peralatan masak, hampir seperti unit condo hanya saja ini terletak di resort ski. Selain itu, di sini sangatlah dingin.
Sangat sangat dingin.
Baekhyun berjalan ke kamar tidur sementara Chanyeol meletakkan tas mereka di lemari geser kecil. Baekhyun menahan berat bada Yuan dengan satu tangan sementara tangannya yang lain meraih dan menarik selimut dan menunduk untuk meletakkan Yuan dengan hati-hati di tempat tidur. Dia mendesah berat, akhirnya kehilangan beban di lengannya. Dia hampir saja mati rasa setelah hampir satu jam menggendong Yuan kemana-mana.
Dia menarik selimut ke dada Yuan dan membetulkan bantalnya. Saat dia kembali berdiri, dia merinding saat merasakan udara semakin dingin. Dia menggosokkan tangannya ke lengan untuk mendapatkan kehangatan sambil berjalan untuk menemukan pemanas.
Ayolah pemanas, terbanglah.
Dengan sayap mutiara berwarna silver.
Di bernyanyi dalam hati. Dia akhirnya menemukan pemanas elektrik di dekat laci yang menghadap pada tempat tidur. Dia dibuat gelisah di sekitar kabel-kabel itu karena dia sudah sangat kedinginan.
"Baek—"
Baekhyun tersentak. "Aw!"
"Oh, aku minta maaf, apa aku mengejutkanmu? Apa kau terluka?"
Baekhyun menghisap ibu jarinya. "Thak apha, hanga memar."
"Memar?" Chanyeol memiringkan kepalanya sedikit. Dia menunduk di samping Baekhyun untuk menyalakan pemanasnya. "Kukira kau cukup pintar. Bagaimana bisa kau lupa membeli mantel wanita?"
Baekhyun menarik keluar ibu jari dari mulutnya dengan bunyi pop. "Itu bukan salahku. Luhan membuatku marah. Aku ingin segera pulang." Dia menghadapkan telapak tangannya dengan pemanas untuk membuatnya tetap hangat. Chanyeol hanya menatapnya, takjub dengan Baekhyun yang terlihat cantik dengan helaian rambut itu menutupi alisnya, rona merah di pipinya, eyeliner, dan cahaya oranye yang memantul dari pemanas itu ke wajahnya—cantik. Tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan bagaimana dia ketagihan untuk menatapi Baekhyun (tapi dia tidak akan penah menunjukkannya karena Baekhyun akan memukulnya dan meludahi wajahnya).
Chanyeol mengalihkan pandangan. Dia melihat Yuan yang sedang tidur di tempat tidur. "Benar-benar tukang tidur."
"Hm?" Baekhyun berbalik padanya. Saat dia melihat Chanyeol menoleh ke belakang, dia sedikit memutar tubuhnya ke samping untuk melihat. Dia tersenyum. "Baguslah dia tidur. Sejak tadi dia terus mengeluh sakit perut dan itu salahmu."
Chanyeol pura-pura memberinya tatapan sakit hati. "Bagaimana bisa itu salahku?"
"Karena aku sudah bilang padanya untuk tidak makan semuanya sekaligus dan kau hanya bilang 'biarkan dia, dia sedang dalam masa pertumbuhan, biarkan dia mengalami sakitnya sakit perut.'" Ejek Baekhyun dengan kekehan kecil.
"Oh, kau mengejekku." Chanyeol bersandar lebih dekat dengan seringaian.
"Ya, aku baru saja melakukannya. Apa yang akan kau lakukan?" Baekhyun bersandar lebih dekat, tidak mau mundur dari perkelahian pura-pura yang Chanyeol mulai dengan pernyataan yang menantang. Kening mereka hampir bersentuhan sekarang, tapi mata mereka tentu saja tidak beralih dari satu sama lain walaupun jarak mereka sangat dekat; yang satu menantang, yang lainnya mau memainkan permainan itu.
Permainan Chanyeol adalah permainan yang berbeda. Dia menyeringai setakjub yang ia bisa, dan akhirnya menutup jarak di antara mereka dan mencium Baekhyun di pipinya, lalu segera berlari setelahnya, dia hampir terpeleset di karpet saat ia berlari menuju pintu. Baekhyun terdiam, membeku dan kaget, wajah memerah sampai dia menyadari apa yang sudah terjadi.
Dia terhenyak.
"PARK CHANYEOOOOOOOOOOOOL!"
Dia mengikuti Chanyeol keluar kamar, tawa si raksasa itu masih terngiang di telinganya, dan dia tidak peduli jika dia terlihat seperti hewan buas yang sedang memburu mangsanya. Dia akan memberikan hukuman yang pantas untuk Chanyeol. Untung saja lorong hotel itu tidak dipenuhi orang-orang.
Dia berbelok ke kanan saat Chanyeol berbelok ke sana, dan saat kesabarannya akhirnya habis, dia berhenti, melepaskan sepatu pansusnya, dan melemparnya sekeras yang ia bisa ke arah Chanyeol. Untungnya sepatu itu memukul kepala Chanyeol karena tinggi badannya membuat dia menjadi taget yang mudah untuk barang terbang.
"Kena kau, sialan!" Baekhyun segera berlari dan melompat ke punggung Chanyeol, menyebabkan mereka berdua jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk keras dan erangan kesakitan. Itu tidak disengaja. Dia tidak mengira mereka akan jatuh. "Aww… sial." Baekhyun berguling ke samping. "Sakit."
"Salahmu, kau yang melompat ke punggungku!" balas Chanyeol, melipat perutnya dengan posisi yang aneh karena rasa sakitnya saat jatuh.
"Ini salahmu! Kau menciumku!" Baekhyun mencoba untuk membela diri, tapi suaranya terdengar terlalu lemah sehingga itu tidak efektif.
Chanyeol akhirnya membaringkan tubuhnya dan memutar kepalanya menghadap Baekhyun yang sedang terengah-engah dan berkeringat. "Kau menyukainya kan?"
Baekhyun memutar matanya, dia bahkan tidak may menatapnya . "Psh yang benar saja. Bagaimana aku bisa menyukai itu—mmf!" dia berteriak (agak) saat tangan besar Chanyeol menutup mulutnya, mencegahnya berbicara. Kemudian Chanyeol bersandar lebih dekat, lengannya di lantai untuk menahan berat badannya dan menatap Baekhyun dengan seringaian berbahaya.
Dia mencium kening Baekhyun.
Baekhyun benar-benar membeku, matanya melebar kaget, dia tanpa sadar mencium aroma Chanyeol karena dekatnya tubuh mereka. Saat Chanyeol mundur dan menarik tangannya, Baekhyun tidak bisa menahan malu lagi dan segera menutup wajahnya dengan telapak tangan. Chanyeol tersenyum girang.
"Lihat? Kau menyukainya." Bisik Chanyeol dengan nafas hangat dengan jarak yang terlalu dekat.
"Pergi kau mesum." Gumam Baekhyun.
Chanyeol bangkit duduk menghela nafas berat. "Ayo Baekhyun, berhentilah menutupi wajahmu."
Tidak ada jawaban.
"Baekhyun, Baekhee—"
Masih tidak ada.
"B, Queen B, Princess Baekhee—"
"Menjijikkan."
"Akhirnya! Ayo, berhentilah menyembunyikan wajahmu." Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan mencoba menariknya. "Jika kau tidak mau berhenti menutup wajahmu, aku akan menciummu lagi." Kurang dari satu menit, Baekhyun sudah duduk di depan Chanyeol dengan tangan di samping badan (bibirnya tanpa sadar cemberut, menunjukkan seberapa malunya dia). Chanyeol menatapnya sayang. "Kau sangat imut."
"Ugh! Tinggalkan aku sendiri." Baekhyun berdiri dan menghentakkan kaki berjalan kembali ke kamar mereka, wajahnya merah dan panas, dan jantungnya berdetak kencang.
Baekhyun membenci ini.
Dia tidak seharunya merasa seperti ini.
Tidak.
.
.
.
.
.
Mereka makan malam di dalam kamar dengan Baekhyun yang terus memperhatikan apa saja yang Yuan masukkan ke mulutnya dan Chanyeol yang terus mengambil foto, cahayanya membuat gangguan yang menjengkelkan.
"Kenapa." Baekhyun meletakkan sendoknya. "Apa kau sedang mengambil foto kita yang sedang makan?"
"Ibu memberikan kamera ini untuk tujuan itu." Chanyeol mengedikkan bahu.
"Ibumu aneh." Putus Baekhyun. "Dan kenapa kau tidak makan? Sini biar aku yang mengambil foto."
Baekhyun turun dari tempat tidur dan mengambil kamera itu dari Chanyeol. Chanyeol duduk di sebelah Yuan, mengambil sepotong daging untuk dirinya sendiri dan mengunyah dengan berisik, memberikan Baekhyun waktu untuk membuat sesi pengambilan foto itu terlihat menyenangkan. Chanyeol terlihat bodoh.
"Aku bisa menghapusnya kau tau." Ucap Chanyeol masih mengunyah.
"Itu artinya kau kalah." Baekhyun menjulurkan lidahnya.
Chanyeol mengedikkan bahu dan membiarkannya. Baekhyun terus fokus pada wajah Chanyeol, dengan sempurna mengambil foto dari senyum lebarnya , kedutan kecil yang dia lakukan saat dia tertawa dan dengan sepenuh hati, pada dasarnya seluruh keberadaannya, sisi Park Chanyeol yang ini adalah yang terbaik dari semua. Dia menyukai itu. Itu mengingatkannya pada saat mereka pertama kali bertemu. Chanyeol memakai tuxedo dan dia memakai gaun merah muda dan wig panjang, dan kemudian tiba-tiba mereka bertemu di lorong. Siapa yang menduga?
Siapa yang menduga mereka bisa berteman seperti ini?
Siapa yang menduga dia bisa melihat sisi dirinya yang ini?
Siapa yang menduga bahwa seseorang yang kebetulan kau tabrak di lorong saat mencoba melarikan diri dari orang yang mengejarmu akan mengambil peran penting dalam hidupmu?
Kemudian sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
Bagaimana jika semua ini akan menghilang besok?
Dia menurunkan kamera itu. Chanyeol menyadarinya setelah beberapa detik. "Baekhyun?" laki-laki berambut cokelat itu terlihat bingung, hanya menatap entah kemana. "Apa kau baik-baik saja?"
Baekhyun megambil satu langkah mundur. "Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh udara segar. Aku akan berjalan-jalan."
"Baekhyun, tunggu!" Chanyeol memanggil, namun hanya mendapatkan pintu yang dibanting sebagai jawaban. Dia berbalik pada Yuan yang sama terkejutnya dengan dia. "Aku akan mengikutinya. Kau tetaplah di sini, okay?" Yuan mengangguk. Chanyeol turun dari tempat tidur dan mengambil sepatunya. "Aku akan mengunci pintunya. Jangan bolehkan siapapun masuk." Dia mengambil kartu kamarnya.
"Baiklah hyung."
Chanyeol segera berlari keluar untuk mengejar Baekhyun. Untungnya dia melihat si rambut cokelat itu sedang berbelok ke kiri menuju elevator. "Baekhyun!"
Saat dia tiba, pintu elevator sudah tertutup jadi dia harus naik elevator yang di sebelahnya. Dia menakan dengan tidak sabar dan terus mengulang 'ayolah, ayolah, cepat' di kepalanya seperti mantra.
Saat dia akhirnya sampai di lantai dasar, dia segera berlari saat pintu elevator terbuka, dia melihat Baekhyun di luar pintu geser otomatis hotel itu. Dia berlari untuk menyusul, dalam hati mengutuk saat beberapa pelayan hotel dengan koper-koper terus menghalangi jalannya.
Untungnya Baekhyun tidak terburu-buru.
Baekhyun berhenti, berbalik, dan kemudian kembali menghadap ke depan untuk berjalan, mengabaikan Chanyeol. "Apa yang kau lakukan?"
Chanyeol menjaga jarak di belakangnya tapi tidak terlalu jauh. "Berjalan."
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu."
Baekhyun mendengus. "Jika kau bilang begitu."
"Kau mau pergi kemana?"
"Kenapa aku harus bilang padamu?"
"Ada masalah?"
"Aku hanya ingin berjalan."
"Baiklah."
Mereka diam beberapa saat dengan Baekhyun yang memeluk lengannya untuk kehangatan dan Chanyeol mengikutinya dari belakang, hoodienya menutupi setengah wajahnya dan tangannya dimasukkan ke dalam saku.
Baekhyun tidak akan peduli. Jika Chanyeol ingin berjalan maka baiklah. Tapi ada perbedaan yang besar antara berjalan dan mengikuti. Tujuan Baekhyun berjalan satu-satunya adalah agar dia bisa berpikir baik-baik tentang perasaannya, keanehan yang tiba-tiba terbangun dalam dirinya dan membuat jantungnya bergedebuk kencang. Tapi bunyi derap sepatu Chanyeol yang terus terdengar itu akhirnya membuat kesabarannya habis.
"Apa." Chanyeol berbalik untuk menghadap Chanyeol. "—yang—"
"—SALAH DENGANMU?!"
Baekhyun sedikit melompat saat seorang wanita tiba-tiba melintas di antara dia dan Chanyeol, berbicara atu lebih tepatnya berteriak pada seseorang. Kemudian seorang laki-laki melintas, meraih lengan wanita itu dan mereka berhenti. Chanyeol juga terlihat bingung.
"Dengarkan aku!"
"Tidak ada yang mau mendengar omong kosongmu!"
"Ini bukan omong kosong! Aku mengatakan sebuah fakta! Fakta!"
"Sialan kau!"
Baekhyun berdeham. "Um, maaf kurasa kau harus—"
"JANGAN IKUT CAMPUR WANITA TIDAK BERGUNA!" teriak wanita itu padanya.
Baekhyun terhenyak. "Wow, itu agak membuatku tersinggung."
Chanyeol maju ke depan. "Um, apa yang dia ingin katakan adalah kau mungkin harus menyelesaikan masalah apapun itu dengan tenang. Orang-orang menatapmu."
"SIAPA YANG PEDULI!"
Baekhyun membentak wanita itu. "Kau adalah wanita tapi mulutmu besar sekali. Di mana sopan santunmu?"
Wanita itu menatapnya dari kepala ke kaki. "Mungkin aku memang tidak punya sopan santun tapi setidaknya penampilanku lebih baik daripada kau. Bagaimana bisa kau memakai gaun itu? Apa kau akan pergi ke pemakaman?" Dia melipat lengannya.
Baekhyun terhenyak dengan tatapan tajam, siap untuk menerjang wanita itu saat Chanyeol menengahi mereka. "Baiklah, dia bukan musuhmu." Chanyeol menunjuk laki-laki yang ia teriaki tadi.
Dia mendesah. "Aku tidak ingin berbicara denganmu." Kemudian dia berbalik dan berkalan pergi.
"Hara, tunggu!"
Baekhyun meletakkan tangannya di dada laki-laki itu untuk menghentikannya. "Mungkin kau tidak seharusnya mengejar dia." Dan itu adalah pilihan yang benar karena menurut penelitian, wanita biasanya gagal membuat keputusan yang benar saat mereka sedang marah.
Tidak ada sumber untuk hal ini karena ini adalah pendapatnya. Dia seharusnya menjadi pengacara jadi biarkan saja dia.
Dia berbicara dengan Chanyeol lewat kontak mata.
"Apa? Aku? Mengikutinya? Kenapa?"
Baekhyun mengancamnya dengan delikan tajam.
"Baiklah baiklah." Chanyeol segera pergi untuk mengejar Hara.
Setelah Chanyeol pergi, Baekhyun menarik tangannya kembali dan melihat laki-laki itu; dia diam-diam terisak, kepalanya ditundukkan seperti anak kecil. "Oh ayolah, bukankah kau ini seorang laki-laki?" laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun, matanya hampir meneteskan air mata. "Okay kau bukan laki-laki." Baekhyun mendesah. "Ayo." Dia menarik laki-laki itu dengannya.
.
.
.
.
.
"BERHENTILAH MENGIKUTIKU! UGH!"
Chanyeol menyeringai. "Kau tau, teriakanmu tidak berefek padaku. Aku mengenal seseorang yang bisa berteriak lebih keras dan aku mendengarnya berteriak hampir setiap hari."
Hara berhenti dan menatapnya, mencoba untuk menemukan penjelasan di balik senyum manis Chanyeol saat dia berbicara tentang seseorang. Kemudian dia menyadari sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk berteriak pada orang asing. Dia mendengus. "Kalau begitu kurasa kau beruntung."
.
.
.
.
.
"Ini." Baekhyun menyodorkan soda pada laki-laki itu—yang namanya adalah Junhyung, dia mengetahuinya saat dia mengambil dompet untuk membayar dan Baekhyun melihat kartu namanya—sebelum duduk di sebelahnya di sebuah bangku. Mereka membuka soda mereka dengan bunyi pop dan minum.
"Kenapa kau melakukan ini?"
Baekhyun memicingkan mata untuk melihat Junhyung sambil masih minum dari kalengnya.
"Maksudku, kita hanyalah orang asing yang kebetulan bertemu karena polusi suara. Ini bukan masalah besar kan?"
Baekhyun bersandar maju setelah dia selesai minum. "Aku yakin orang asing random yang bertemu di jalan bisa saja menjadi bagian penting dalam hidupmu. Kau tidak akan pernah tau yang mana. Semua orang penting. Semua orang adalah bagian dari kita."
Seperti Chanyeol.
Junhyung tersenyum padanya. "Kau adalah gadis yang manis."
Baekhyun berdeham. "Tentang itu.."
"Hm?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Lupakan. Jadi kenapa kalian berkelahi?"
"Aku tidak yakin apakah aku bisa mengatakan ini pada orang asing tapi," Junhyung mendesah. "Seperti yang kau katakan, semua orang adalah bagian dari kita. Mungkin ada alasan kenapa kita bertemu." Baekhyun mengangguk. "Perkelahian kami sebenernya agak bodoh. Dia mengetahui bahwa aku bukan seorang dokter jadi dia marah padaku."
Baekhyun mengerutkan alis. "Berapa lama dia mengira kau adalah seorang dokter?"
"Sekitar 4 bulan." Baekhyun tersedak.
"Bagaiama bisa dia mengira kau adalah dokter?"
"Itu salahku." Junhyung menggaruk lehernya. "Aku ingin membuatnya terkesan pada pertemuan pertama kami—sepupuku mengaturkan kencan buta untuk kami—dan karena biasanya kencan buta tidak akan berhasil dan aku kira aku tidak akan bertemu dengannya lagi, aku bilang aku adalah seorang dokter demi membuat seorang wanita terkesan. Tapi kemudian kami mulai sering berpapasan satu sama lain dan aku terjebak dalam status dokter itu. Aku tidak tau bagaimana memberitahu dia yang sebenarnya sampai hari ini terjadi."
"Wow." Baekhyun menghela nafas. "Itu terdengar rumit."
Heh. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kerumitan hidupku, tentu saja.
"Aku benar-benar ingin dia memafkanku. Maksudku, aku sangat mencintainya, aku tidak tau harus bagaimana jika dia meninggalkanku."
"Aku mengerti." Baekhyun mengangguk. "Hanya ada satu orang di dunia ini yang akan kau cintai lebih dari hobimu atau band favoritemu atau apapun itu. Dan itu jauh lebih berarti saat kau tau orang itu pantas mendapatkan cintamu."
"Itu benar. Wow, kau berbicara dari hati. Apa kau pernah mengalami hal yang sama?"
Baekhyun tidak mau terbata-bata demi menyangkal jadi sebagai gantinya dia melakukan pose telinga kelinci dengan jarinya dan berkata. "Tak mengutip."
"Okay, aku tidak tau ada kutipan seperti itu."
Baekhyun meraih tangan Junhyung dan berdiri. "Ayo, kau harus menyelesaikan ini segera."
.
.
.
.
.
"Pacarmu pasti sangat beruntung memiliki orang sepertimu." Ucap Hara, kesulitan untuk memegang es krim yang Chanyeol belikan untuknya. Itu adalah pernyataan yang jujur. Dia adalah seorang wanita. Dia mengenal wanita. Dan neneknya selalu mengingatkannya bahwa jika dia ingin menikahi seseorang, nikahilah seseorang yang akan selalu lebih mencintainya karena etika perempuan cukup tidak bisa ditebak. Lebih baik nikahi seseoang yang berusaha keras mengerti pikiran mereka.
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Itu jelas, dia itu brengsek." Jawab Hara. "Bukan brengsek dalam artian menghina, tapi dia itu jenis wanita brengsek yang sangat kuat. Laki-laki terkadang merasa tidak aman dengan wanita jenis itu jadi hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Sudah berapa lama kalian bersama?
"Sudah cukup lama." Jawab Chanyeol dengan kedikan bahu.
"Bagaimana kau bertemu dengannya?"
Chanyeol tersenyum. "Aku sedang ada rapat bisnis dan dia…berada di hotel yang sama untuk menghadiri sebuah pesta. Kemudian dia mendapat masalah jadi dia berlari sementara aku sedang berjalan di lorong, dia menabrakku."
"Hanya seperti itu?"
"Dia tidak mau tertangkap jadi dia menarikku bersamanya ke dalam gudang untuk bersembunyi. Dan ternyata kamu tinggal di lingkungan yang sama."
Hara terhenyak. "Kebetulan sekali!"
"Aku tau." Chanyeol terkekeh. "Ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan kisah cintaku? Bagaimana dengan kalian berdua?"
Hara memutar matanya. "Baiklah." Dia menghela nafas dan menghabiskan es krimnya. Dia membuang sampahnya ke keranjang sampah sebelum memulai. "Temanku yang juga temannya mengatur sebuah kencan buta untuk kami. Jadi ya, kami bertemu seperti itu. Itu sangat lucu karena saat itu ada banyak pasangan yang makan di restoran yang sama. Dan ada beberapa laki-laki yang bernama Junhyung di sana jadi terjadi beberapa kesalahpahaman. Beberapa pasangan berkelahi karena aku menanyakan setiap meja."
"Kenapa kau menanyakan setiap meja?"
"Karena aku tidak tau bagaimana rupa Junhyung! Jadi aku pergi ke sebuah meja dan bertanya, 'apa kau Junhyung' dan kemudian karena nama mereka mirip atu terdengar sama, laki-laki itu bilang 'iya' kemudian aku yang mengira laki-laki itu benar-benar Junhyung berkata, 'ini aku! Pasangan kencan butamu!' kemudian pacarnya marah dan berteriak, 'KENCAN BUTA?!' dan boom pertengkaran pasangan." Hara tersenyum lebar, gusinya terlihat mengingat lucunya peristiwa itu. "Memalukan tapi itu sangat lucu."
"Kurasa kau banyak bersenang-senang." Chanyeol mengangguk. Udara mulai semakin dingin dan dia mulai khawatir tentang Baekhyun—yang sedang bersama orang asing—jadi dia berhenti berjalan. "Kita harus kembali jadi kalian berdua bisa bicara. Ini hampir larut." Plus, mereka meninggalkan seorang anak kecil sendirian di kamar mereka.
Berbicara tentang ketidakbertanggungjawaban.
"Baiklah."
Itu cukup cepat. Hara berjalan lebih dulu. Mereka sudah dekat dengan parkiran di dekat pintu masuk dimana mereka parkir tadi untuk makan siang sehingga Chanyeol tertinggal di belakang karena dia sibuk menatapi mobil-mobil yang menampilkan model mereka yang mengagumkan. Dia sangat suka mobil, mobil balap, mobil kota, atau apapun kau menyebutnya, tapi dia tidak suka mengoleksi mobil.
Saat dia tidak bisa melihat sosok Hara lagi, dia segera berjalan cepat untuk menyusul. Di antara batas parkiran dan toko swalayan yang menghadap mereka adalah sebuah tangga yang terhubung ke resort itu—dimana mereka berpapasan tadi. Di sanalah dia menemukan Hara yang sedang berdiri dan menatap pada sesuatu. Saat dia sampai, dia melihat Baekhyun dan Junhyung berjalan ke arahnya, mungkin memikirkan hal yang sama dengan yang mereka rencanakan tadi. Chanyeol merasa lega, bukan hanya karena Baekhyun baik-baik saja tapi juga karena dia terlihat baik; dia tersenyum, kebalikan total dari kerutan yang dia tampilkan tadi saat dia memutuskan dia ingin menghirup udara segar dan berjalan-jalan.
Baekhyun berdiri di sebelah Hara. "Bicaralah dengannya. Dia mencintaimu dan dia sangat menyesal sudah berbohong padamu."
Hara menyeringai dan bersandar lebih dekat untuk berbisik. "Aku tau itu dan aku mencintainya, aku benar-benar mencintainya. Aku marah hanya agar dia tidak melakukan itu lagi. Aku tidak peduli siapa dia sebenarnya. Aku tidak peduli apakah dia seorang dokter atau bukan. Aku mencintainya. Hanya itu saja yang penting."
Mungkin dia hanya butuh istirahat.
Alis Chanyeol berkerut bingung.
Istirahat dari apa?
Dia merasakan sebuah tangan mencubit tangannya dan dia berbalik untuk melihat Baekhyun yang sudah berjalan. Dia berbalik dan mengikuti Baekhyun, meninggalkan Hara dan Junhyung di tangga agar mereka bisa berbicara dengan privat. Mereka berjalan ke dalam toko swalayan, berterima kasih pada tuhan atas kehangatan yang mereka dapatkan.
Mereka masuk bersama namun tidak menempel bersama-sama.
Yang satu mencoba menemukan cara untuk menghampiri yang lainnya tanpa membuatnya marah sementara yang satu lagi sedang mencoba membawa pikirannya untuk berpikir dalam-dalam.
Baekhyun heran dengan jawaban Hara padanya tadi. Dia tidak marah tapi dia rela terlihat buruk demi kekasihnya dan dia bahkan tidak peduli dengan status Junhyung di hidupnya. Itu adalah cinta yang lebih penting. Kemudian dia bertanya-tanya bahwa mungkin jika orang-orang di keluarganya melihat kehidupan seperti itu, dia tidak akan berada di sini, memperdebatkan apakah dia mengidap penyakit hati kronis atau hanya mulai tertantang secara emosi.
Saat mereka mendengar ketukan di kaca, mereka berdua berbalik dan melihat Hara dan Junhyung dengan bahagia mengaitkan lengan mereka bersama dan mengatakan kata-kata terima kasih. Chanyeol dan Baekhyun balas tersenyum pada mereka dan membiarkan mereka pergi, memperhatikan saat mereka melanjutkan kisah cinta mereka.
Kapan itu akan menjadi kisah cinta mereka?
.
.
.
.
.
Saat mereka kembali ke kamar, mereka menyadari lampu sudah dimatikan dan hanya cahaya dari lampu tidur yang tersisa. Yuan tidur nyenyak di balik selimut di tengah tempat tidur. Baekhyun menguap dan meregangkan lengannya, kelelahan akhirnya mulai ia rasakan. Untungnya pemanas ruangan menyelamatkan hidupnya jadi dia pasti bisa mendapatkan tidur malam yang nyenyak. Dia berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian—pakaian normal—kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaian.
Saat dia melihat bayangannya di kaca, dia hanya menatap dan bertanya-tanya lagi. Baekhee. Orang itulah yang sedang dia lihat di kaca, bukan dirinya. Semakin lama dia menatap, semakin goyah pulalah dirinya yang sebenarnya. Itu bukan aku, itu bukan aku.
Dia tidak menginginkan ini.
Dia tidak menginginkan semua ini.
Semua ini untuk Baekhee dan bukan untuk dirinya.
Tidak.
Dia menggelengkan kepala. Dia melepaskan wignya dan memperbaiki rambutnya ke bentuk semula dan mencuci wajahnya, mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Saat dia mengangkat kepalanya kembali, dia melihat bayangan dirinya di kaca.
Dia memakai piyama dan keluar dari kamar mandi dengan tenang. Dia meletakkan pakaian kotornya di laci dekat kamar mandi dan berjalan ke tempat tidur dimana dia melihat Chanyeol sudah mengambil tempat untuk dirinya di sebelah kiri di dekat Yuan, tubuh dibalikkan membelakangi Baekhyun. Baekhyun mesuk perlahan ke balik selimut agar tidak membangunkan Yuan.
Banyak hal terjadi hari ini.
Dia agak menanti besok.
Tapi pada waktu yang bersamaan, dia takut menghadapi hari esok.
Besok artinya hari lain bersama Chanyeol, hari lain jantungnya akan berdetak kencang dalam kebingungan, hari lain untuk melihat kedutan mata Chanyeol yang bodoh saat dia tersenyum. Dia benci momen-momen seperti ini, saat dia mulai mengetahui detail tentang seseorang. Itu membuatnya berpikir bahwa dia memperhatikan mereka karena dia ingin mengingat semua yang ada selama waktu tersisa dia bersama dengan seseorang itu.
Dan dia tidak akan pergi.
Kurasa.
"Baekhyun?"
Baekhyun menegang, suara berat Chanyeol membuatnya merinding. Selalu ada hal spesial tentang suara Chanyeol dan itu membuatnya gila karena dia takut dia akan ketagihan dengan suara rendah yang menggetarkan tenggorokannya. Dia mengetahui detailnya lagi.
"Apa kau sudah tidur?"
Baekhyun menunggu beberapa saat. "…tidak. Kenapa?"
Ada jeda sejenak, hanya sebentar tapi terasa cukup lama. Chanyeol sedang berpikir tentang sesuatu, bahkan ragu, dan itu membuat Baekhyun gugup dengan setiap detik yang berlalu. Mereka bahkan tidak bisa melihat satu sama lain jadi agak sulit untuk menentukan kemana arah percakapan ini.
"Aku hanya…" Chanyeol memulai.
Baekhyun semakin gelisah. Chanyeol terdengar seperti dia punya sesuatu yang penting untuk dikatakan tapi dia takut.
Takut pada apa?
"…ingin mengingatkanmu tentang rencanan perjalanan kita besok—" Sebuah bantal melayang dan memukul kepalannya. Dia duduk dan berbalik ke arah Baekhyun. "Apa?"
"Diam. Aku mau tidur."
Brengsek!
Baekhyun memeluk selimutnya dan menutup mata, merasa bersemangat tapi takut pada hari esok.
TBC
Huh huh ini translate kilat dan saya gak baca ulang karena panjangnya masya allah jadi kalo ada typos yang maaf atuh neng wkwk buat yang mau bantu translate, bukannya aku gak mau nerima bantuan kalian, tapi kalo emang nita bantu dan punya waktu luang cukup banyak dan tenanga super #plak ya pasti boleh lah bantuin. Tapi, kabarin lewat line, jangan di komen, saya susah mau komunikasi di ffn. Makasih! Line back_yeolk
Dan kayaknya ada istilah yang agak kurang biasa di sini yaitu OCD alias kalo di indonesia disebut ganguan obsesif-kompulsif. Ini tuh semacam keadaan dimana seseorang sangat perfeksionis terhadap yang namanya kebersihan, lebay gitu deh. Dia kalo salaman sama orang harus pakai sarung tangan dll. Terus nama restoran mereka makan siang itu just fins. Fin itu artinya sirip. Jadi Baekhyun heran nama restonya Cuma sirip tapi semua dijual, gitu lho ngerti lah ya. Dan waktu Chanyeol cium pipi Baekhyun, masya allah akjhsdalshdlisah
