©Anggara Dobby

An Hun-Han Fanfiction;

NOT PERFECT

Oh Sehun—Lu Han

.

Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR; Don't Like Don't Read; Tidak suka, tidak usah membaca. Easy, right?;)


Seoul Hospital, 18:05 PM.

Hampir dua jam sudah berlalu dengan begitu lamban, Chanyeol masih membungkam bibirnya rapat-rapat, tangannya terkepal erat hingga urat-urat tercetak jelas disana. Dia terduduk didepan ruang ICU dengan pandangan mata kosong, Seolah-olah lewat pandangan matanya nyawanya juga ikut mengawang disana. sangat kosong. Masih terlihat jelas dimatanya saat Baekhyun terbaring diatas ranjang roda dan didorong oleh beberapa perawat. Tubuhnya penuh luka dan darah. Decitan roda yang memekakan seolah-olah mengejek Chanyeol.

'Baekhyun sekarat karnamu, bodoh! Baekhyun-mu!'

Goresan-goresan dikulitnya karna kelalaian Chanyeol yang tidak menjaganya dengan baik. Darah yang membanjiri tubuh Baekhyun karna kebodohannya yang membiarkan pemuda yang disayanginya itu ikut dalam perkelahian. Kesakitan yang mendera tubuh Baekhyun adalah kesalahannya yang tidak memperkirakan kecelakaan ini terjadi.

Dan sekarang Chanyeol tidak tahu bagaimana keadaan Baekhyun didalam sana. Dokter hanya mengatakan jika kondisi tubuh Baekhyun tidak memungkinkan akan pulih dalam waktu cepat. Chanyeol tidak bisa berfikir jernih, dia hanya bisa berharap Baekhyun-nya segera sadar.

"Aku akan membunuh satu per-satu bajingan-bajingan itu!" Chanyeol menggeram, dia berdiri dari duduknya tetapi segera ditahan oleh Sehun.

"Duduklah." Sehun menyentuh bahu Chanyeol, menyuruhnya duduk kembali. "Masih banyak waktu untuk membalaskan perbuatan mereka. Tetapi saat ini Baekhyun sedang kritis, kau mau meninggalkannya begitu saja?"

Chanyeol mencengkeram rambutnya, gusar. "Ini semua salahku! Aku tidak bisa diam saja. Baekhyun sedang kritis didalam sana, dan apa yang harus aku lakukan?!" tercetak jelas sekali jika pemuda tinggi itu benar-benar gelisah dan panik.

Kai dan Chen masih terdiam dan duduk agak berjauhan dengan Chanyeol. seperti tidak berniat sekali menenangkan temannya itu. mereka melihat beberapa perawat mendorong ranjang roda didepan mereka. Itu adalah roda yang ketiga—dan semuanya yang terbaring diatasnya adalah siswa dari sekolahnya. Mereka tewas, yang masih ada harapan hanyalah Baekhyun. Kai berharap Baekhyun baik-baik saja. Karna tawuran ini banyak yang mati sia-sia, membuat Kai bertanya-tanya dalam hati; mengapa perkelahian berujung maut ini menjadi hobby-nya? Sebenarnya apa yang ingin dia capai dihidupnya? Kenapa kesehariannya selalu bersangkutan dengan hal-hal yang buruk?

"Aku baru merasa menyesal sekarang." gumamnya.

Chen hanya meliriknya sekilas, lalu kembali terdiam seraya memandang lantai putih dibawah kakinya. Luka didahinya dibiarkan terbuka begitu saja, Baekhyun lebih mengalami kesakitan dari pada dirinya.

Sementara itu Sehun masih terlihat gusar diatas bangkunya. Dia sangat mengkhawatirkan Luhan. bagaimana keadaan kekasihnya itu? jujur saja, melihat Junhoe keluar dari gerbang sekolahnya membuat Sehun tidak bisa tenang. Apa yang di lakukan bocah itu disana? jika dia sampai menyentuh Luhan sedikit, Sehun tidak akan membiarkannya hidup.

"Sehun-ah!"

Sehun segera menoleh dengan cepat mendengar suara yang familiar ditelinganya itu. dia segera berdiri saat melihat sosok yang sedang memenuhi pikirannya datang, berlari kearahnya dengan wajah panik sekaligus khawatir. Luhan datang disaat Sehun memikirkannya.

"Sehun," Luhan sudah berdiri dihadapannya. Dia masih memakai seragam sekolah dengan lengkap.

Sehun segera menangkup wajah manis itu dengan kedua tangannya, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan khawatir. Hidung Luhan memerah, dan matanya terlihat sembab. Sehun yakin dia habis menangis, pemikiran itu membuatnya bertambah gusar. Apa yang sudah terjadi pada Luhan-nya?

Luhan mengangguk, dan dengan segera dia memeluk tubuh tinggi Sehun. Sehun mendekap tubuh mungil itu dengan erat, mengusap kepala Luhan dengan penuh sayang.

"Sehun, kau baik-baik saja?."

Sehun tersenyum mendengar bisikan penuh kekhawatiran itu. dadanya menghangat, tidak ada yang lebih membahagiakan selain dikhawatirkan oleh orang yang kau sayangi.

"Jangan khawatirkan aku." ujar Sehun. "Melihatmu baik-baik saja, sudah cukup membuatku bernafas lega."

Luhan melepaskan pelukannya, dan saat itu pula Sehun melihat mata rusa itu sudah basah. Dia menangis.

"Hey, kau kenapa?" Sehun segera mengelus pipi Luhan dan memandangnya penuh tanya.

"Kyungsoo menghilang, Sehun."

Dan Kai segera menoleh kearah Luhan dengan cepat. Bibirnya masih bungkam, tetapi pandangannya sangat terbaca jika Ia terkejut dan penuh keingintahuan.

Luhan bergerak panik, "Sudah hampir dua jam aku mencarinya disekitar sekolah, tetapi aku tidak menemukannya. Paman Kim bilang, Kyungsoo juga tidak ada dirumah. Aku tidak tahu dia ada dimana, aku benar-benar panik." Pemuda manis itu mengusap kasar airmatanya yang sudah mengalir menuju pipinya. "Sehun, kau mau membantuku 'kan?"

"Jangan meminta padaku, aku pasti akan membantumu tanpa kau minta." Sehun menghapus jejak airmata itu, "Aku tidak suka melihatmu menangis."

"Aku akan mencarinya, kau tunggulah disini." ujar Sehun. Luhan mengangguk patuh.

Kai tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Aku yang akan mencarinya." Wajahnya tampak mengeras, dan pemuda itu segera berjalan tergesa-gesa tanpa menoleh kearah siapapun.

"Lihat, bala bantuanmu banyak disini, Luhan." sahut Chen dengan senyuman miring. "Aku ikut denganmu, Sehun."

Sehun mengangguk pada Chen. Dia beralih pada sosok manis Luhan yang masih memandangnya. Sehun sangat menyukai wajah itu, dia ingin sekali kembali mengecupi wajah itu tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menghujani wajah manis Luhan dengan kecupan.

"Duduklah disini, jangan kemana-mana. Dan jangan mengganggu Chanyeol, dia sedang tidak ingin diganggu. Kau akan mendapat masalah jika membuatnya marah." Bisik Sehun, memperingati Luhan seperti seorang Kakak yang mendikte adik kecilnya. Dia sangat tahu kebiasaan buruk Luhan, anak itu mana bisa diam dalam waktu yang cukup lama. Luhan pasti akan mengganggu seseorang didekatnya, dan Chanyeol bukanlah objek yang tepat untuk diganggu.

Luhan tersenyum kekanakan. "Jika aku mendapat masalah, kau pasti akan membantuku untuk menyelesaikannya."

Sehun mendengus malas. "Kau ini!"

Luhan terkekeh kecil. "Aku akan memberimu hadiah jika kau menemukan Kyungsoo secepatnya."

"Aku harap itu hadiah yang bagus." Sehun tersenyum miring untuk yang terakhir kalinya, sebelum dirinya benar-benar beranjak dari sana. Meninggalkan Luhan dan Chanyeol.

Luhan melirik kecil kearah Chanyeol. pemuda itu masih memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong dan dingin. Luhan menghela nafasnya halus. "Dia sepertinya lebih menyeramkan dari Sehun." gumamnya.


"Kau tahu dimana kau akan mencari si burung hantu itu?" tanya Sehun pada Kai yang masih fokus menyetir mobil. Dia biarkan temannya itu yang turun tangan untuk masalah ini. Kai mungkin lebih berhak dari dirinya, karna Sehun sudah bisa menangkap titik-titik rasa suka Kai kepada Kyungsoo. dia pasti khawatir sekali saat mendengar perkataan Luhan tadi.

Melihat keterdiaman Kai, Sehun segera mengutarakan pendapatnya. "Aku melihat Junhoe keluar dari sekolah kita saat perkelahian selesai. Aku yakin anak itu membawa Kyungsoo."

"Untuk apa dia membawa Kyungsoo?" tanya Chen. "Tidak mungkin untuk…boneka perayaan ulangtahun sekolah mereka 'kan?"

Kai mengerem mendadak, membuat tubuh Sehun dan Chen menjorok kedepan. Sehun terdengar mengumpat dari kursi belakang.

Kai mencengkeram erat kemudi mobilnya dengan geram. "Apakah tujuan kita saat ini basecamp si keparat Hanbin?"

"Aku yakin Kyungsoo disana." ujar Chen. Dia hanya ikut-ikut saja dalam pencarian ini, karna Ia merasa bosan didalam Rumah Sakit. Lagipula Kyungsoo adalah teman sebangkunya —yang selalu memberikan contekan dengan sangat terpaksa kepadanya— maka dari itu Chen juga harus menemukannya. Agar nilai-nilai tugasnya terselamatkan.

Kai segera menjalankan mesin mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tahu ini bukan urusannya sama sekali. Memangnya siapa Kyungsoo? dia hanyalah siswa baru yang sering membuatnya meradang marah—tetapi dengan anehnya saat ini, dirinya dibuat panik hanya karna Kyungsoo menghilang. Lucu sekali, Kai bahkan tidak sampai kepikiran untuk menolong si mata bulat menyebalkan itu. Kai merasa aneh dengan dirinya sendiri. Untuk beberapa waktu terakhir, baru kali ini lagi Kai merasa sangat khawatir, geram, sekaligus panik dalam waktu bersamaan.

Seharusnya dia biarkan saja Sehun yang mencari Kyungsoo sendirian. Dan dirinya duduk bersantai dan menemani Chanyeol yang sedang terpuruk. Tetapi kenyataannya, Kai merasa ini suatu keharusan dirinya untuk menyelamatkan Kyungsoo.


Luhan hanya bisa berdiam diri di ambang pintu ruang rawat, memandangi Chanyeol yang menggenggam tangan seseorang yang terbaring diatas ranjang rawat dengan berbagai alat kedokteran menempeli tubuhnya. Chanyeol mengecup tangan pemuda itu seraya tertunduk lesu. Tampak sangat sedih sekali. Luhan agak iba melihatnya. beberapa menit yang lalu seorang dokter memperbolehkan mereka untuk melihat keadaan Baekhyun setelah mengatakan beberapa kalimat yang membuat bahu Chanyeol melemas.

Untuk beberapa hari kedepan, Baekhyun belum bisa sadarkan diri. luka-luka ditubuhnya cukup parah, membuat kondisi tubuhnya melemah drastis. Dia kehilangan banyak darah. Baekhyun mengalami patah tulang pada bagian kaki kanannya, mengakibatkan tulang pada kakinya mengalami kerusakan. Dokter mengira-ngira jika kaki Baekhyun telah terpukul dengan benda keras, bisa kayu balok, bisa juga sebuah batu besar. untungnya Chanyeol membawanya ke Rumah Sakit dengan cepat, jika tidak, mungkin Baekhyun dan kaki kanannya tidak bisa diselamatkan.

Luhan bisa melihat setitik harapan diwajah Chanyeol. Dia terlihat senang melihat Baekhyun bisa bertahan, walau raut wajahnya lebih didominan oleh keputus-asaan.

Luhan berjalan ragu-ragu menghampiri Chanyeol. Dia melihat pemuda mungil yang terbaring diatas ranjang rawat dengan banyak perban ditubuhnya—terutama pada bagian kaki kanannya, yang tertutupi oleh selimut biru pucat khas Rumah Sakit. Luhan meringis kecil, tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berada diposisi Baekhyun saat ini. Inilah mengapa Luhan sangat membenci kekerasan, karna dampaknya akan sangat mengerikan seperti ini.

Luhan mendudukan dirinya diseberang Chanyeol, tepatnya di sisi kanan Baekhyun. Keheningan seperti ini membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi mau bagaimana lagi, Sehun menyuruhnya agar tetap disini dan menunggunya kembali.

"Maafkan aku, Baek." suara berat Chanyeol satu-satunya pemecah keheningan. "Aku tidak ada disampingmu saat kau merasa ketakutan."

Chanyeol memandangi wajah pucat Baekhyun dengan sedih. "Jangan hukum aku seperti ini. sadarlah…aku membutuhkanmu." Airmatanya kembali mengalir, tetapi Chanyeol membiarkannya begitu saja. Walau ada Luhan didepannya sekalian. Chanyeol hanya ingin melampiaskan perasaan yang sebenarnya dengan cara manusiawi, bukan dengan kemarahan yang menggebu-gebu.

"Kau sangat menyayanginya ya?" Luhan membuka suara.

"Dia teman baikku." Chanyeol menjawab dingin, tanpa menoleh kearah Luhan.

"Tidak, kau menyayanginya bukan sebagai teman baikmu. Tetapi kau memang benar-benar menyayanginya sebagai seseorang yang berarti bagimu." ucap Luhan dengan keyakinannya.

Chanyeol mendongakan wajahnya, menatap wajah Luhan dengan pandangan bertanya.

Luhan tersenyum kecil, "Cara memandangmu, dan cara kau menggenggam tangannya. Sangat kentara jika kau benar-benar menyayanginya."

"Apa sangat terlihat?"

"Tentu saja." Luhan mengangguk-anggukan kepalanya.

Chanyeol tersenyum miris. "Aku memang mencintainya, tetapi aku tidak pernah mengatakan hal itu padanya. Aku tahu Baekhyun menungguku untuk menjadikannya sebagai kekasihku, tetapi aku terus membiarkannya menunggu tanpa ada kepastian dariku." Ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Chanyeol, tanpa menyadari siapa yang sedang diajak bicara olehnya. Chanyeol tidak pernah mengatakan hal ini pada teman-temannya, tetapi entah kenapa, Luhan sepertinya orang yang sangat pas untuk mendengarkan perasaannya yang sebenarnya.

"Kenapa kau melakukan itu padanya?" tanya Luhan.

"Aku tidak pantas untuk Baekhyun. Aku terlalu buruk. Tetapi aku tidak bisa membiarkannya bersama orang lain."

"Kau egois." ucap Luhan dengan spontan. "Juga bodoh," lanjutnya dengan berani.

Chanyeol memandangnya tajam. Berani sekali anak ini mengatainya bodoh dengan begitu tanpa dosanya. Chanyeol jadi menyesal telah bercerita pada Luhan jika pada akhirnya dia akan dikatai bodoh seperti ini. Sialan sekali.

"Kau tahu Baekhyun menunggumu, tetapi kau tetap membiarkannya menunggu. Kau mencintainya, tetapi kau tidak mau mengatakannya. Menyebalkan sekali." Komentar Luhan memandang Chanyeol dengan sebal. lihat, emosi kekanakannya mulai muncul lagi. Jika sudah seperti ini, maka Luhan akan terus mengoceh dan menyulut emosi seseorang.

"Kau—"

"Kau membuat Baekhyun menderita karnamu. Jika kau merasa dirimu tidak pantas dan terlalu buruk, maka perbaikilah dirimu! Buatlah dirimu pantas untuk Baekhyun. Sikap egoismu itu pasti membuat Baekhyun merasa jenuh."

Chanyeol mengatupkan bibirnya yang hendak menyembur Luhan dengan kemarahannya. Rasa kesalnya tiba-tiba hilang begitu saja. Perkataan Luhan barusan membuatnya terdiam.

"Chanyeol, bayangkan jika Baekhyun meninggalkanmu tetapi kau tidak sempat mengutarakan perasaanmu yang sebenarnya. apa yang akan kau lakukan?"

Chanyeol semakin terdiam, tidak bisa berkata apapun. mengapa semua perkataan Luhan membuatnya merasa ditampar dengan sebuah kesadaran? Kesadaran jika selama ini dirinya memang sangat bodoh dan berfikiran pendek. Dia hanya sibuk memperburuk diri sendiri, tanpa mau memandang kearah Baekhyun yang selalu menunggunya, mengharapkannya mengatakan kalimat 'Aku menyayangimu.' Keluar dari bibirnya.

Perkataan Luhan tidak salah, dia sepenuhnya benar.

Selama ini Chanyeol tidak pernah benar-benar memberikan Baekhyun sebuah afeksi. Mereka memang berciuman, berpelukan—bahkan sampai bercinta, tetapi tidak pernah ada kata 'cinta' terucap dari bibir Chanyeol. hanya Baekhyun yang selalu mengatakan kata-kata sayang. Chanyeol merasa dirinya sangat brengsek dan kurang-ajar.

"Kau menyadarkanku. Sekarang aku tahu mengapa Sehun sampai bisa tergila-gila padamu." Chanyeol mengembangkan senyumnya.

Wajah Luhan memerah tipis. "Sehun tidak sampai seperti itu padaku."

"Tapi kenyataannya, kau berhasil membuat sesosok monster mengerikan berubah menjadi manusia biasa."

"Sehun-ku bukan monster!" protes Luhan.

Chanyeol tertawa, kali ini wajahnya terlihat lebih cerah dari beberapa saat yang lalu. "Woah, kau bahkan memanggilnya 'Sehun-ku'. Luhan, apa kau sangat mencintai monster itu?"

"Sudah kukatakan Sehun bukan monster!"

Chanyeol semakin tergelak. Ini menyenangkan sekali, mengejek Luhan seolah-olah kembali membuatnya bersemangat. Chanyeol yakin, jika Baekhyun sadar maka pemuda mungil itu juga akan mengejek Luhan habis-habisan. Baekhyun itu sangat senang saat mendengar Sehun memiliki hubungan dengan Luhan.

"Chanyeol, berhentilah tertawa atau aku akan menendangmu." Ancam Luhan.

"Seperti kau bisa saja menendangku." Chanyeol tersenyum remeh kearah Luhan.

"Jangan pernah remehkan aku!" Luhan menunjuk wajah Chanyeol.

"Ya, ya. Aku tidak akan meremehkan kekasih Oh Sehun. kau adalah orang terhebat yang pernah kutemui, karna telah berhasil menaklukan sosok monster yang—"

"Chanyeol!"

"Hahahaha, baiklah-baiklah. Aku akan berhenti menggodamu." Ucap Chanyeol disela-sela gelak tawanya. "Omong-omong, terimakasih banyak Luhan. kau sudah membuatku tertawa, dan sudah menyadarkanku. Aku akan mengutarakan perasanku pada si manis ini, jika dia sudah bangun nanti." Chanyeol mengais helai poni Baekhyun dengan senyuman simpul. Berharap agar pemuda itu segera sadar dan kembali menemaninya.

Luhan mengangguk dengan senyuman. "Ya, sama-sama. Kau harus berbahagia dengan Baekhyun-mu."


Bau minuman beralkohol dan asap yang menyengat memenuhi sebuah ruang luas yang lebih pantas disebut gudang tersebut. Suara tawa bar-bar pemuda yang sedang berkumpul disana terdengar mengejek dan mencemooh. Ruang yang dipenuhi coretan-coretan kotor tersebut bisa dibilang sebuah basecamp atau markas kumpulan pemuda yang tengah bersenang-senang disana. disudut ruangan bisa dilihat banyak kardus-kardus kosong dan balok-balok kayu yang tercecer tak beraturan, juga ada beberapa tong besar yang dalamnya mengeluarkan sebuah api dan asap. Di tengah ruangan, terdapat beberapa sofa lusuh dan meja panjang yang diatasnya terlihat banyak botol dan kaleng minuman serta makanan ringan yang sebagian sudah tumpah ruah. Bahkan disana terdapat kertas alumunium foil dan bubuk putih;Heroin.

Ada dua belas pemuda disana, dan dua diantara mereka tengah melempari beberapa benda kearah seorang pemuda malang yang terikat pada tiang besar didalam ruangan tersebut. Sebagian dari mereka mentertawakan pemuda malang itu.

"Sekolahmu mengira mereka sudah menang hari ini, tetapi sebenarnya kamilah yang menang disini. Anak-anak pengecut itu tidak tahu jika kami sudah mendapatkan apa yang kami mau." Hanbin menuangkan sekaleng soda berwarna merah kekepala Kyungsoo—pemuda yang terikat pada tiang. Pemuda yang lainnya kembali tertawa, dan melontarkan kalimat-kalimat merendahkan.

Kyungsoo hanya bisa menunduk dalam-dalam, tubuhnya agak menggigil. Entah sudah berapa kali dia disiram dengan beberapa botol minuman dalam dua jam ini. Kyungsoo tidak kuasa untuk melawan, seluruh tubuhnya terikat dengan tali yang sangat kuat. Dia sudah lelah untuk berteriak dan meminta dilepaskan. Seluruh tenaganya seperti dikuras habis, Hanbin dan teman-temannya berniat untuk membunuhnya secara perlahan. Kyungsoo sudah mendapat banyak siksaan yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Yang hanya bisa dia lakukan adalah menangis, dan berharap ada seseorang yang menolongnya walau sangat kecil kemungkinannya.

"Oh Sehun dan pecundang-pecundang lainnya tidak akan menolongmu, Kyungsoo. Mereka terlalu takut untuk datang kesini."

Kyungsoo tidak mengenali itu suara siapa, tetapi setelah perkataan pemuda itu, suara-suara cemoohan disertai gelak tawa lain kembali memenuhi ruangan. Bibir Kyungsoo bergetar, dia terlalu takut. Airmatanya pun sudah bercampur baur dengan peluh dan darah. Seluruh tubuhnya terasa kebas. Kyungsoo merasa, mungkin inilah akhir hidupnya. Dia sudah putus asa untuk bisa bertahan.

"Kita rayakan kemenangan kita malam ini, teman-teman!"

"Yeah!"

"Mati kau, anak OX 86 sialan!"

Hanbin mengarahkan pecahan botol kekepala Kyungsoo, hendak memukulnya. Tetapi sebuah tangan menahan pergelangan tangannya dengan gesit. Hanbin menggeram kesal, namun kekesalannya harus Ia telan bulat-bulat saat melihat siapa yang menahan pergelangan tangannya.

"Jinan?"

"Cukup, Hanbin." Pemuda mungil bernama Jinhwan itu menghempaskan tangan Hanbin cukup kasar. Membuat beberapa pasang mata diruangan itu memandangi mereka dalam diam. "Kau mau membunuh orang yang tidak bersalah?"

"Ayolah, sayang. dia sudah membunuh Chanwoo. Bukankah kau juga marah dan ingin balas dendam?" balas Hanbin. Memandang mata kekasihnya dengan lekat-lekat.

"Ya, aku memang marah. Tetapi bukan dia yang membunuh Chanwoo. Jika kau ingin balas dendam, lampiaskan saja ke Oh Sehun dan teman-temannya. Aku tidak suka saat kau mulai menghabisi orang yang jelas-jelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua ini."

"Tetapi dia juga murid 86!" sahut Bobby, seraya menunjuk kearah Kyungsoo.

"Diam kau, Jiwon." Desis Jinhwan. Dan pemuda bermata sipit itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Sayang, aku—"

"Aku tidak butuh penjelasan. Aku hanya ingin kau membebaskan dia! Kau tidak lihat? Dia hampir mati karnamu!" Jinhwan tetap bersikeras dengan keinginannya. Sebenarnya dia sudah muak sejak dua jam yang lalu dengan sikap Hanbin yang seenaknya. Kyungsoo jelas tidak bersalah, dan tidak tahu apa-apa. tetapi kekasih brengseknya itu dan teman-temannya dengan membabi-buta menghabisi Kyungsoo. tidak bisakah mereka berfikir lebih panjang sebelum menghabisi nyawa seseorang?

"Aku tidak bisa membebaskannya." tolak Hanbin.

Jinhwan mendengus keras-keras. "Baik. Lakukan semaumu, aku akan pergi." Pemuda bertubuh kecil itu meraih tas ranselnya, dan segera beranjak pergi meninggalkan teman-temannya yang masih memandanginya dalam diam.

Hanbin segera menghadang jalan Jinhwan. "Kau mau kemana?"

"Kau tuli? Aku mau pergi!"

"Aku tidak mengizinkanmu pergi, Jinan."

"Aku tidak butuh izinmu, brengsek." Jinhwan menendang tulang kering Hanbin dengan keras, membuat pemuda itu merintih kesakitan. Jinhwan tidak mempedulikannya, dan segera pergi dari sana.

Pemuda mungil itu menekuk wajahnya sepanjang jalan. Dia sebenarnya sudah muak dengan semua ini. Dia ingin berhenti, dan mengeluarkan diri dari kelompok Hanbin. Menjadi siswa biasa-biasa saja yang kehidupan damainya tidak pernah terusik oleh apapun. dia ingin hidup normal, tapi sayangnya Tuhan belum memberikannya izin—masuk ke Ares High School, masuk kedalam kelompok gangster Hanbin dan teman-temannya, lalu sampai memiliki hubungan dengan pemimpin kelompok itu. hidupnya sudah hancur sejak masuk kedalam Ares High School. Sekolah ini bahkan jauh lebih buruk dari OX 86 High School.

Jika bukan karna orang yang disayanginya;Hanbin; Jinhwan mungkin sudah pindah ke sekolah yang jauh lebih baik. Namun, dia sudah terikat oleh janjinya sendiri. Jinhwan ingin mengubah karakter Hanbin menjadi jauh lebih baik.

Bruk!

"Tsk, sialan." Jinhwan mengumpat saat bahu kecilnya tertabrak seseorang.

"Dasar orang buta." Terdengar desisan cemoohan dari seseorang didepannya. Jinhwan yang memang sedang dalam mode kesal, semakin meluap-luap amarahnya mendengar cemoohan orang tersebut. Pemuda itu mendongak, hendak membalas perkataan orang itu—tetapi sayangnya, puluhan kata yang sudah disusunnya di dalam otak lenyap seketika saat melihat siapa yang berada tepat didepannya.

"Oh Sehun?"


"KIM HANBIN!"

Kai berteriak keras setelah mendobrak pintu basecamp milik Hanbin dan teman-temannya. Kala itu Junhoe dan Mino yang hendak menyerang Kyungsoo mendadak membeku melihat kedatangan orang yang tidak disangka-sangka. Amarah Kai bergulung berkali-kali lipat melihat Kyungsoo terikat disebuah tiang dengan keadaan yang mengenaskan. Pemuda bermata bulat itu yang semula menunduk dalam, mendongakan kepalanya perlahan—memandang tepat kearahnya. Kai merasa luka ditubuhnya seperti disiram oleh air keras. Sakit dan menyesakan sekali. Melihat keadaan Kyungsoo membuat dirinya seolah-olah merasakan kesakitannya juga.

"Wow, tidak diduga. Selamat datang, Kai." Hanbin berseru seraya bertepuk tangan. Menyulut emosi Kai yang semakin menjadi-jadi. Si keparat itu! lihat saja, beberapa menit lagi tubuhnya akan masuk kedalam kubur. Kai bersumpah akan hal itu.

"Ah, Sehun, Chen. Selamat datang juga untuk kalian."

Sehun tidak menanggapi ucapan selamat datang Hanbin yang sejujurnya sangat-amat tidak tulus. Netra tajamnya tak sengaja melihat foto Luhan yang tertempel didinding dengan beberapa anak panah mungil sudah menancap disekitar foto tersebut. Diatasnya ditulis besar-besar 'Next Target'. Foto tersebut berdampingan dengan foto dirinya dan teman-temannya yang lain. Sehun yakin, anak AHS sudah merencanakan untuk mencelakai Luhan. hanya melihat foto Luhan sudah dipenuhi anak panah saja membuatnya panas. Tanpa sadar, Sehun mengepalkan tangannya. Mereka tidak akan bisa menyentuh Luhan seujung jaripun.

"Apa kalian datang ingin menyelamatkan anak malang ini?" Seungyoon mendekati Kyungsoo, mengelus kepala pemuda kecil itu dengan seringaian meremehkan. Mata Kai menyalang tajam melihatnya.

"Mereka sudah berganti profesi menjadi superhero." Sahut Bobby, mengundang gelak tawa teman-temannya yang lain.

Kai menggeram bagai binatang buas. "Brengsek," umpatnya. Secepat cahaya, Kai sudah berada ditengah-tengah ruangan. Mulai menghajar wajah-wajah menyebalkan milik Hanbin dan teman-temannya. Mereka terlibat perkelahian serius. Chen dan Sehun ikut dalam perkelahian tidak adil tersebut. Mereka kalah jumlah, bukankah itu tidak adil? Tetapi jumlah bukanlah sesuatu yang penting untuk dipikirkan saat ini. Mereka bertiga harus menghentikan pesta perayaan Ares malam ini sebelum dimulai. Akan sangat berbahaya jika anak Ares lainnya mulai berdatangan, Mereka bertiga akan tewas ditempat ini karna diramai-ramaikan oleh sekumpulan anak Ares.

Sementara itu, Kyungsoo hanya bisa memandangi perkelahian didepannya dengan bibir terkatup rapat-rapat. Kai, Sehun dan Chen datang—entah untuk menyelamatkannya atau tidak. Tetapi rasanya Kyungsoo merasa lega karna ada tiga orang itu disini. Entah kenapa saat Kai memandangnya tadi, membuat harapan Kyungsoo kembali muncul. Ada perasaan senang terselip dihatinya, walau dia tidak tahu pasti apa tujuan tiga orang itu datang ke tempat ini.

Kyungsoo meringis melihat beberapa kali punggung Kai terkena pukulan kayu balok. Sehebat-hebatnya dia dalam bertengkar, pasti suatu-waktu ada kejadian dimana Kai harus menjadi pihak yang diserang. Seperti saat ini. Pukulan bertubi-tubi mengenai tubuh Kai, dia diramai-ramaikan. Tetapi pemuda berkulit tan itu sangat keras kepala, dia bangkit lagi dan lagi saat dirinya hampir terhuyung jatuh. Kyungsoo melihat dua perkelahian hebat dalam sehari ini. Dia tidak pernah membayangkah hal ini sebelumnya. Terjebak diantara pemuda-pemuda asing yang saling mencelakai satu sama lain. Ini bukan dunia Kyungsoo.

"Kau yang membawanya kesini?" Kai mencengkeram erat kerah baju Junhoe, mendorongnya keras ke dinding hingga pemuda itu meringis. "Kau juga yang mencelakakan Baekhyun?"

Junhoe masih sempat menyeringai ditengah-tengah keadaan mendesaknya. "Ya. Dua boneka, Kim. Dua boneka. Kau ingat?"

Kai semakin terbakar amarah. Bukan salahnya jika dia membenci seluruh anak Ares High School, mereka memang menyebalkan dan selalu menyulut emosi. Dari awal mereka bertemu, yang terdahulu menyundut api permusuhan adalah anak Ares. Konfrontasi mereka selama ini juga karna anak Ares yang memulainya. Musuh terbesar OX 86. Entah sampai kapan permusuhan ini akan berlanjut. Yang pasti kedua belah pihak tidak ada yang sudi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Hal itu sama saja menjatuhkan harga diri sendiri didepan lawan.

Kai menghantam wajah Junhoe dengan bogem mentahnya, hingga hidung pemuda itu langsung mengeluarkan aliran darah. Pukulan Kai yang sedang emosi adalah pukulan yang sangat berbahaya. Tulang hidung seseorang bisa saja patah akibat satu pukulan darinya.

"Aku tidak akan membiarkan kalian merayakan ulang-tahun sekolah kalian malam ini." Kai menggeram beringas. Dia menendang perut Seungyoon yang hendak menyerangnya, merampas kayu balok ditangan pemuda itu—dan dia gunakan untuk memukuli lawan-lawannya secara membabi buta.

Sementara itu, Sehun berhadapan dengan dua musuh besarnya. Bobby dan Mino. Sebenarnya Sehun ingin sekali menghabisi si keparat Hanbin, tetapi Kai terlebih dahulu mengklaim Hanbin sebagai lawan tunggalnya saat ini. Kai sepertinya memang benar-benar berhasrat untuk menjebloskan Hanbin kedalam peti mati.

"Yang lain akan segera datang kesini beberapa menit lagi. Kau akan habis malam ini, Oh Sehun." desis Mino.

"Berdoalah pada Tuhan lebih giat lagi, agar harapan mustahilmu itu terkabul." Balas Sehun dengan pandangan menghina. Tidak semudah itu mereka bisa menghabisi dirinya malam ini. Dia adalah Oh Sehun, terlahir sebagai pemenang. Bukan pecundang.

"Jangan banyak omong kau sialan!" Bobby menggerung kesal. Pemuda itu berlari kearahnya dengan pecahan botol ditangannya. Dia mengayunkan botol tajam itu kearah Sehun. tetapi dengan gesit, Sehun menangkap botol itu dan menggenggamnya erat. Dia bisa merasakan telapak tangannya tergores dan agak sedikit basah. Mungkin itu darah, tetapi Sehun tidak mau mengindahkannya.

Sehun mengacungkan botol itu didepan wajah Bobby. Dia hendak menggoreskan benda tajam itu kewajah pemuda didepannya. Tetapi, detik selanjutnya tubuh Sehun sudah terjerembab ke lantai akibat dorongan keras dari seseorang. Saat Sehun ingin bangkit, pukulan-pukulan serta tendangan menimpa tubuhnya berkali-kali. Membuat tubuhnya tidak bisa berdiri dan melawan.

Brengsek. Sehun sangat membenci keroyokan. Sikap yang sangat pecundang sekali. Tipikal anak-anak Ares, mereka tidak pernah mau diajak berkelahi satu lawan satu.

Jinhwan meremas-remas tangannya sendiri, panik sekaligus khawatir. Dia berdiri diambang pintu, melihat langsung kekasih dan teman-temannya berkelahi dengan Sehun, Chen dan Kai. Entah perbuatannya ini benar atau salah—karna Jinhwan sendirilah yang mengantar Sehun dan teman-temannya untuk datang kesini. Jinhwan hanya ingin Kyungsoo dibebaskan, dan biarlah Sehun saja yang menghadapi Hanbin. Sebelumnya, dia sempat berpesan pada Sehun;

"Aku akan mengantar kalian ke basecampku. Tapi dengan satu syarat, kumohon jangan bunuh Hanbin. Aku sangat menyayanginya."

Saat itu, Sehun hanya mengendikan bahunya acuh. "Aku memenuhi permintaanmu, tetapi sepertinya Kai tidak akan mau memenuhinya." Seraya melirik Kai yang aura tubuhnya sudah sangat berbahaya.

Sekarang, Jinhwan hanya bisa berharap agar Kai tidak menghabisi Hanbin. Dia agak heran, mengapa Sehun yang dikenal sangat keji itu memenuhi permintaannya dengan mudah? Mungkin saja, Sehun tahu bagaimana rasanya seseorang yang disayanginya terbunuh. Jinhwan sangat berterima kasih pada Sehun untuk yang satu ini. Ternyata dia masih mempunyai secuil kebaikan.

Darrr!

Perkelahian hebat itu terhenti sejenak saat suara tembakan terdengar. Mereka terkejut, sial! Ada polisikah?

Tetapi bukan segerombol polisi yang berdatangan, melainkan beberapa orang berpakaian serba hitam yang datang. Mereka bersenjata api dan semua senapan itu diarahkan kearah anak-anak Ares. Tak ayal, melihat itu anak-anak Ares membelalakan mata mereka. Ada apa ini sebenarnya? siapa mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan.

Satu per-satu, senapan itu mulai mengeluarkan pelurunya. Membuat suara ledakan terdengar nyaring. Anak-anak Ares kalang kabut, mereka melarikan diri tanpa mempedulikan Sehun dan yang lainnya—hell, mereka hanya bersenjata kayu dan pecahan botol. Tentu saja kalah dengan senapan yang pelurunya pastinya sangat mematikan itu. pria-pria berbaju hitam itu mengejar anak-anak Ares tanpa sepatah katapun, mereka hanya menembaki dan mengejar. Layaknya segerombol polisi yang mengejar kumpulan bandit yang berulah dijalan.

Chen membantu Sehun untuk berdiri. Keadaan pemuda berwajah datar itu cukup memprihatinkan. Wajahnya mulai dihiasi dengan lebam-lebam kebiruan dan darah yang keluar dari sudut bibirnya.

"Siapa mereka? Kenapa hanya anak Ares yang diserang?" tanya Chen, penuh keheranan.

Sehun mengelap sudut bibirnya yang berdarah. "Entahlah. Tapi siapapun mereka, aku harap mereka bisa menghabisi pengecut-pengecut itu."

Kai berjalan tergesa-gesa kearah Kyungsoo. pemuda mungil itu sudah pucat pasi dan matanya sudah sangat sayu, sudah berapa lama dia bertahan dalam keadaan seperti ini? Kai segera membukakan seluruh tali yang mengikat tubuh Kyungsoo. Hanbin dan teman-temannya memang sudah tidak waras, mereka tidak bisa membedakan yang mana murid 'asli' OX 86, yang mana murid 'biasa' OX 86.

Saat Kai sudah selesai membukakan seluruh ikatan yang mengikat tubuh Kyungsoo. tubuh kecil itu langsung terkulai kedalam dekapannya. Kyungsoo langsung menumpukan seluruh berat tubuhnya pada Kai. Dia sudah tidak bisa bertahan lagi. Tubuhnya terlalu lemas dan sakit.

"Bertahanlah sedikit lagi, aku akan segera membawamu ke Rumah Sakit." Ujar Kai, pelan. Dia mendekap tubuh kecil Kyungsoo dengan erat. Merasakan betapa dinginnya kulit Kyungsoo yang menyentuh kulitnya. Kai belum pernah merasa sekhawatir ini dalam hidupnya. Keadaan Kyungsoo mampu menggoyahkan kebekuan hatinya. Ini memang menggelikan sekali, tetapi perasaan Kai tidak bisa dibohongi. Dia memang sangat mengkhawatirkan Kyungsoo.

"Kyungsoo?" Kai berusaha melihat wajah Kyungsoo, karna sedari tadi pemuda mungil itu tidak mengatakan apa-apa, maupun bergerak. Kai takut anak itu pingsan, atau yang lebih parah sudah tew—tsk! Kai tidak mau membayangkannya.

"J—jongin, aku—"

Kai bernafas lega mendengar suara Kyungsoo. walau terdengar parau, tetapi setidaknya dia masih dalam keadaan sadar. "Diam! Simpan dulu perkataanmu, Kyungsoo. yang harus kau lakukan hanyalah tutup matamu, dan istirahatlah dibahuku." ujar Kai. Kyungsoo tidak menjawabnya, tetapi kepalanya Ia biarkan tertumpu dibahu kokoh Kai.

"Sehun, kau yang menyetir!" Kai melempar kunci mobilnya kearah Sehun, yang langsung ditangkap oleh pemuda itu.

Sehun hanya bisa tersenyum samar melihat kekhawatiran yang tercetak jelas diwajah Kai. Rupanya anak itu sudah mulai mengesampingkan rasa gengsinya itu sekarang. Sehun berjalan paling belakang untuk menuju mobil mereka. Tiba-tiba Ia melihat ada seseorang yang berjalan tergesa-gesa setelah bertemu pandang dengannya. Orang itu berada didepan mobilnya. Dia memakai baju hitam-hitam, dan Sehun yakin dia adalah salah satu komplotan pria bersenjata tadi.

Dengan cepat, Sehun mengejarnya dan menangkap pergelangan tangannya. Lelaki itu memberontak, tetapi Sehun menariknya dengan kasar hingga tubuh lelaki itu berada dalam kukungannya.

"Siapa kau?" tanya Sehun, nyaris bergumam.

Sehun membuka masker hitam yang digunakan oleh seseorang itu dengan paksa. Sehingga tampaklah wajah seorang pemuda yang akhir-akhir ini menarik kecurigaan Sehun. mereka saling berpandangan. Sehun dengan tatapan terkejutnya, dan pemuda itu dengan tatapan paniknya.

"Zhang Yixing..." gumam Sehun.


"Istirahatlah.."

Luhan mengelus surai hitam legam milik Kyungsoo dengan lembut, disertai senyuman sendu. Wajah sepupu mungilnya itu banyak sekali luka yang sudah membiru, bahkan ada beberapa goresan disekitar pipinya—yang kini telah dibalut perban. Luhan tidak tega melihatnya. dia nyaris menangis, tetapi melihat Sehun ada disampingnya, membuat Luhan mengurungkan niatnya. Dia tidak mau terlihat cengeng didepan Sehun, pasti anak itu akan mengejeknya habis-habisan.

Untungnya, Kyungsoo mengalami luka yang tidak terlalu parah seperti Baekhyun. Kyungsoo hanya perlu beristirahat semalam di Rumah Sakit dengan kain kasa menutupi beberapa bagian kulit tubuhnya. Luhan merasa lega melihat Kyungsoo masih bisa membuka matanya dan menjawab setiap pertanyaannya. Walaupun begitu, ada sebersit rasa dendam dalam hati Luhan—dia ingin membalas perlakuan anak-anak brengsek yang sudah mencelakai Kyungsoo.

"Besok Paman dan Bibi Do akan kembali ke Seoul, aku sudah menghubunginya tadi. kau tenanglah, oke?" Luhan berucap sangat lembut dan penuh perhatian. Dia sangat menyayangi Kyungsoo, asal kalian mau tahu saja.

"Hyung," Kyungsoo menggenggam tangan Luhan erat-erat, sorot matanya masih memancarkan ketakutan. Luhan tahu, setelah ini Kyungsoo pasti akan mengalami traumatic pada perkelahian. Sial, Luhan benar-benar merasa murka pada berandal-berandal busuk yang sudah mencelakai Kyungsoo.

"Kai ada diruang sebelah, dia menemani Baekhyun. Nanti anak itu pasti akan kesini." Jawab Luhan, seolah-olah mengerti pandangan Kyungsoo. dalam hati Luhan tertawa. Kyungsoo pasti akan bersikap baik pada Kai setelah insiden ini.

"Aku tidak mencari Kai, hyung!" elak Kyungsoo.

"Ssstt, aku dan Sehun akan menemanimu disini. Kau tidurlah, Kyungie." Luhan tersenyum manis dan mengecup dahi Kyungsoo sekilas. Membuat Sehun yang berada diujung ruangan mendelikan matanya.

"Sudah selesai menina-bobokan anakmu?" tanya Sehun, setengah menyindir. Luhan mengambil posisi duduk disebelahnya. Wajah cantik kekasihnya itu nampak suram. Bibir mungilnya terkatup rapat-rapat seperti enggan untuk menjawab sindiran Sehun, biasanya Luhan akan meladeninya dan mereka akan berakhir dengan perdebatan kecil. Bahkan matanya tidak mau memandang kearah Sehun sama sekali. Hal ini, membuat Sehun menghela nafasnya cukup berlebihan.

"Sudahlah, Lu. Kyungsoo baik-baik saja." Sehun menghempaskan punggungnya pada kepala sofa. Tubuhnya terasa lebih baik sekarang. hari ini memang cukup melelahkan untuknya. Terkutuklah Hanbin dan teman-temannya yang selalu menyulut api pertengkaran! Sehun tidak bisa untuk mengabaikan mereka. Baginya, jika Hanbin menyalakan api maka Sehun dengan senang hati akan menyiramnya dengan minyak tanah agar api itu bertambah besar.

"Sehun," Luhan menolehkan kepalanya kearah Sehun. Memandang kekasihnya itu yang tengah terpejam. Sehun hanya membalasnya dengan sebuah gumaman singkat. Luhan merengut lucu. "Kau sudah menghabisi berandal-berandal itu?"

"Belum."

Dahi Luhan mengernyit, "Kenapa?"

"Mereka dikejar oleh orang-orang yang tidak kukenal. Jadi aku kehilangan jejak mereka."

"Kau lelah, ya?" tanya Luhan. Sehun membuka matanya, dan mengangguk dengan raut wajah lelah berlebihan. Dia ingin Luhan memperhatikannya, omong-omong. Ayolah, Sehun sangat membutuhkan Luhan-nya saat ini untuk mengembalikan staminanya.

Luhan mengulurkan tangannya ke wajah Sehun dengan ragu-ragu. Mengusap beberapa luka yang ada diwajah rupawan itu dengan hati-hati. "Kapan aku bisa melihat wajahmu yang bersih dari luka-luka?"

"Aaakh! Sayang, jangan disentuh!" Sehun tiba-tiba berteriak saat tangan Luhan menyentuh salah satu lukanya dibagian sudut bibir.

Luhan mendatarkan ekspresinya, kepalan tangannya segera mendarat dibahu tegap Sehun. "Jangan berlebihan! Walau kupukul wajahmu sekalian, aku yakin kau tidak akan berteriak seperti itu."

Sehun mendecakan lidahnya, jengkel. Dia kira Luhan akan panik dan khawatir, ternyata yang dia dapatkan adalah sebuah pukulan. Lucu sekali, Luhan sudah mengenalnya terlalu dalam.

"Kau tidak berniat mengobati luka-luka ini?" tanya Sehun menunjuk wajahnya sendiri. "Aku sangat suka cara pengobatanmu," lanjutnya dengan senyuman miring. Sehun teringat saat Luhan mengecup sudut bibirnya yang terluka saat di UKS seminggu yang lalu. Luhan dan sikap malu-malunya itu manis sekali, Sehun sangat suka menggodanya.

"Luka itu 'kan kau yang buat sendiri. Obati saja sana sendiri! Suruh siapa kau senang sekali mencelakakan dirimu." Walau wajahnya dibuat seketus mungkin, tetapi Sehun masih bisa melihat semburat kemerahan samar dipipi Luhan. Dia yakin seratus persen Luhan masih teringat kejadian di UKS waktu itu.

"Jadi kau tidak mau mengobatiku?"

"Tentu saja aku akan mengobatimu! Memangnya siapa lagi yang akan mengobatimu?" dengus Luhan. Sehun tertawa mendengarnya. Pemuda bersurai kelam itu menempatkan kepalanya diatas paha Luhan dengan senyuman terukir diwajahnya. Beruntung sekali dia memiliki Luhan. pemuda manis itu bukanlah tipe kekasih yang terlalu manja dan sedikit-sedikit selalu merengek. Jujur saja, Sehun risih dengan orang yang seperti itu. Luhan-nya adalah sosok yang selalu membuat situasi menjadi menyenangkan. Dia memang memiliki wajah manis diatas rata-rata, tetapi bukan berarti Luhan adalah seseorang yang sangat pendiam dan selalu mengalah. Ayolah, Luhan bahkan sangat berani dengannya. Dia selalu memarahinya layaknya seorang Ibu—atau istri?— di lain sisi, dia sangat memperhatikannya dan menyayanginya. Luhan itu kekasih yang sangat sempurna. Sehun sungguh menyayanginya.

"Sehun, jangan memandangku terus!" Luhan menutup mata Sehun dengan satu tangannya. Dia selalu gugup sendiri saat Sehun sudah memandanginya dengan senyum mempesonanya itu.

"Tsk, Luhan! aku sedang memandangi kekasihku, kenapa kau menghalanginya?" Sehun menyentuh tangan Luhan, tetapi tidak berniat melepas tangan itu dari matanya.

"Kekasihmu itu tidak mau kau pandangi."

"Oh, benarkah? Aku tidak yakin. Kekasihku itu sangat senang saat aku memandang mata cantiknya. Jangan berbohong padaku, Luhan. aku sangat mengenal kekasihku, asal kau tahu. Jangan jadi perusak hubunganku dengannya."

Luhan tanpa sadar mengerucutkan bibir mungilnya. "Sehun, aku ini kekasihmu!" dia mengangkat tangannya dari mata Sehun.

Sehun terkekeh melihat wajah merajuk Luhan. sial, kenapa anak ini tidak pernah berkurang kadar manisnya? Ini pertama kalinya Sehun melihat Luhan merajuk didepannya dengan wajah menggemaskan seperti itu.

"Bukan, kau bukan kekasihku." Sehun menggelengkan kepalanya, membuat Luhan merasakan geli pada pahanya karna kepala Sehun bergoyang-goyang disekitar sana. "Kekasihku itu namanya Lu. dia manis, dan cantik. Tidak sepertimu, Luhan. Kau 'kan galak sekali."

"Siapa yang kau bilang galak?" Luhan mendelikan matanya, tajam.

Sehun tertawa geli. Dia merasa tubuhnya memiliki stamina lagi setelah berdebat dengan Luhan. Sehun mengulurkan tangannya kearah dagu kecil Luhan, menggoyangkannya kekanan dan kekiri tanpa tujuan.

"Aku sudah menyelamatkan Kyungsoo, lalu mana hadiahku?"

Luhan berkedip dua kali, "A-ah, aku baru ingat tentang itu." gumamnya. Matanya melirik kesana-kemari, berfikir cepat apa yang harus Ia berikan pada Sehun sebagai hadiahnya. Sehun yang melihat raut lucu Luhan hanya mengulum senyumnya. Rasanya Sehun enggan untuk mengalihkan pandangannya sedikitpun.

"Aku menunggu, sayang."

Tiba-tiba Luhan menempelkan dua jarinya diatas bibirnya sendiri, setelah itu dua jari mungil itu mendarat diatas bibir Sehun cukup lama.

"Aku mencintaimu." Ucap Luhan, nyaris berbisik. Wajahnya merona dengan senyuman kecil malu-malunya.

Sehun terdiam, tanpa berkedip sedikitpun. Mengapa Luhan selalu berhasil membuatnya bungkam dibibir tetapi ramai didalam rongga dada? Tidak ada yang spesial dari perbuatan Luhan. hanya perlakuan sederhana nan polos yang sialnya terlalu manis untuk dijelaskan. Sehun tak kuasa untuk menahan senyum lebarnya. Astaga, kenapa rasanya menyenangkan sekali mendengar pengakuan Luhan?

"Aku lebih mencintaimu," balas Sehun seraya mengecupi jemari kecil Luhan yang berada digenggaman tangannya. "Terimakasih hadiahnya, sayang."


"Malam ini aku akan menginap disini, menemanimu."

Sehun membuka almamater sekolah yang masih melekat ditubuhnya, menaruhnya asal. Pemuda itu melonggarkan dasi hitamnya dan menggulung lengan seragamnya hingga ke siku. Luhan hanya memandangnya dengan pandangan dua arti, iri dan kagum. Mengapa Sehun selalu jauh lebih tampan darinya? Padahal Luhan selama ini diam-diam berusaha mengalahkan ketampanan Sehun. tetapi tetap saja usahanya sia-sia.

Luhan ikut membuka almamater sekolahnya. Dia memang belum pulang kerumah sejak insiden hilangnya Kyungsoo sore tadi, jadi wajar saja jika perawat dan dokter disini memandangnya aneh karna dirinya mengenakan seragam kebanggaan OX 86 High School. Junmyeon memang benar, masyarakat disini selalu memandang pelajar OX dengan pandangan menghakimi. Luhan memaklumi itu, dia tahu sendiri bagaimana karakter 'teman-teman' sekolahnya.

"Lalu kau mau tidur dimana?" tanya Luhan. ruang rawat ini hanya memiliki satu sofa panjang, tidak mungkin mereka tidur berdua diatasnya 'kan?

"Tentu saja disampingmu." Jawab Sehun dengan enteng. "Atau diatasmu? Terdengar bagus." Lanjutnya, tanpa raut berdosa sama sekali.

"Kau mau kutendang?" desis Luhan tanpa menoleh sedikitpun kearah Sehun. dia sedang fokus memotong buah apel ditangannya. Hari ini dia belum makan, jadi jangan salahkan perutnya yang merengek minta diisi.

Luhan hendak memasukan potongan apel merah itu kedalam mulutnya, tetapi Sehun dengan cepat menggigit apelnya lebih dulu dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan wajahnya. Luhan menahan nafasnya dengan refleks.

Sehun tersenyum miring disela-sela kunyahannya. Dia memandang Luhan dengan sorot pandang penuh keinginan. Apa dia belum mencium si mungil itu hari ini? Pantas saja Sehun merasa ada pekerjaan yang belum dituntaskan saat ini.

Sementara itu, Luhan menunduk seraya menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya saat sedang gugup. Sudah Ia katakan beberapa kali jika dirinya selalu gugup ketika Sehun memandangnya dengan jarak yang dekatnya bukan main. Luhan tidak bisa berkutik jika sudah seperti ini. Entah kenapa kelemahan terbesarnya adalah pandangan mata Sehun dan senyumnya. Itu mematikan sekali.

"Kau menggigit bibirmu," Suara rendah Sehun membuat wajah Luhan memanas. Ditambah tangan Sehun yang sudah berada dibibir bawahnya, mengusapnya dengan lembut. "Aku juga ingin." Sehun berbisik.

Selanjutnya dagu runcing Luhan sudah diangkat oleh Sehun, dan bibirnya diklaim saat itu juga. Sehun memberinya sebuah hisapan lembut pada bagian bawah bibirnya, Luhan mendongakan kepalanya diiringi lenguhan tertahan. Dia bahkan tidak ragu-ragu lagi untuk mengalungkan tangannya dileher pemuda bersurai hitam legam yang sudah menjabat sebagai kekasihnya itu. Sensasinya tidak berubah, Luhan masih merasakan jantungnya memompa darah lebih cepat ketika bibir mereka bersatu padu, menghasilkan getaran-getaran aneh yang membuat tubuhnya menggigil nikmat.

Sehun mulai mengeksploitasi bibir Luhan dengan tidak sabaran dan terkesan bar-bar. Manis, lembut dan memabukan—Sehun tidak ingin berhenti untuk menghabisi bibir kekasih cantiknya itu. Dia seperti merasakan tetesan madu dari sana.

Sehun mendorong Luhan untuk berbaring disofa, tanpa melepaskan pagutan mereka. Dia nyaris menindih Luhan, kalau saja tangan kanannya tidak Ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya. sementara tangan kirinya mulai bergerilya kemana-mana. Membuka satu-persatu kancing seragam Luhan dengan cekatan. Sehun memang tidak suka dipanggil mesum, tetapi perbuatan kurang-ajar ini selalu saja terjadi jika dirinya sudah berdekatan dengan Luhan. sex appeal Luhan memang berbahaya sekali, jadi jangan salahkan Sehun yang mulai ereksi hanya karna kulit mereka bersentuhan. Memangnya siapa yang bisa tahan jika dihadapkan dengan makhluk sesempurna Luhan?

"Lu, aku ingin." Sehun berbisik setelah melepas pagutan mereka. Matanya mulai menggelap dengan deru nafas memberat. Cepat sekali dirinya terangsang.

Wajah Luhan sudah sepenuhnya memerah. Dia mengerti apa yang diinginkan Sehun saat ini. "Ta-tapi, ini di rumah sakit. Lagipula ada Kyungsoo disini."

"Aku sudah mengunci ruangan ini, dan soal Kyungsoo, dia tidak akan terbangun. Dia membutuhkan istirahat yang lama."

Luhan kembali menggigit bibir bawahnya, tanpa sadar. Mengakibatkan Sehun memandang intens pada bibir mungil memerah itu cukup lama. Sial, bisakah Luhan berhenti mempermainkan libidonya? Otak Sehun sudah nyaris tidak bisa berfikir jernih saat ini.

Tiba-tiba Luhan menarik dasi hitam Sehun, hingga hidung mereka sukses bersentuhan. Mata rusa cantiknya balas memandang Sehun dengan mata menajam. "Kau sudah merencanakan ini, ya?" tanyanya pelan, namun sakartis.

Sehun menyeringai, "Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan saat kita ada diruang yang sama?" jemari kokohnya menyusuri leher Luhan dengan gerakan lambat. Membuat pemuda manis itu melonggarkan genggaman tangannya pada dasi hitam Sehun.

"B-berhenti, Sehun. Jangan disini." Luhan berusaha melepaskan diri dari kukungan tubuh Sehun.

"Jadi kau mau jika bukan disini?"

"Bukan begi—Ahh.." desahan Luhan meluncur begitu saja kala Sehun menjilati lehernya dengan sensual. Ditambah tangan Sehun yang bergerak nakal di dua titik sensitifnya dibagian dada. Luhan tidak menyadari, sejak kapan seluruh kancing seragamnya sudah terbuka?

Kaki Luhan bergerak gelisah saat merasakan lidah Sehun menjilati permukaan dadanya. Nafasnya mulai tak beraturan seiring suhu tubuhnya yang memanas. "Sehun," bibirnya terus menggumamkan nama Sehun berkali-kali, berusaha memperingati kekasihnya agar tidak melampaui batas.

Lidah Sehun menyusuri kulit susu Luhan, membuat gerakan mengatas—dari dada, leher dan berakhir didagu mungil Luhan. Sehun bisa merasakan kedua tangan Luhan berada ditengkuknya. Lihat, siapa yang beberapa menit lalu menolak tetapi sekarang seolah-olah meminta lebih?

Sehun kembali memagut bibir Luhan yang dibalas oleh pemuda manis itu dengan terbata-bata. Dia masih belum bisa menyeimbangi permainan Sehun. lidah mereka saling membelit satu sama lain, menggelitik dengan suara decakan yang semakin menyulut gairah. Sehun yang paling dominan di ciuman panas ini—Ah, dia memang dominan disegala hal.

Sehun menggeram rendah saat bagian bawah mereka tidak sengaja bersentuhan. Mengakibatkan bagian sana seperti tersengat arus listrik, kejantanan Sehun dengan cepat semakin mengeras. Dia juga bisa merasakan jika Luhan mulai terangsang dan terbawa permainan ini. Kenyataan itu membuatnya menyeringai dalam hati. Baru kemarin malam mereka melakukan seks untuk pertama kalinya, tetapi saat ini Sehun menginginkannya lagi. Otaknya selalu teringat kejadian malam itu, dan berakhir tubuhnya yang memanas sendiri. Bayangan Luhan mendesah keras dibawah tubuhnya dengan peluh membanjiri wajah manisnya, membuat Sehun tidak kuasa untuk menahan kejantanannya agar tidak ereksi.

"Kau bisa merasakannya 'kan?"

Wajah Luhan memerah matang, Sehun membawa tangannya kearah selangkangan pemuda itu. Luhan dapat merasakan kejantanan Sehun yang sudah mengeras. Luhan semakin tak berkutik jika sudah seperti ini. Secepat itukah Sehun terangsang?

Luhan memejamkan matanya, menyembunyikan bola mata cantiknya, ketika tangan Sehun membelai perut kencangnya dengan sensual. Pemuda itu memainkan pusarnya dan berlabuh disekitar selangkangannya. Luhan menahan nafasnya, dalam hati berteriak-teriak agar Sehun tidak membuka zipper celana kainnya. Tetapi bibir mungilnya tidak bisa diajak berkompromi, yang keluar dari sana hanyalah suara desahan mendayu-dayu yang semakin membakar gairah Sehun.

"Uhh, Sehun.."

Tangan Sehun hampir saja melepas celana kain Luhan kalau saja suara dering ponsel yang nyaring tidak berbunyi dengan kurang-ajarnya.

"Persetan." Sehun mengumpat, memilih mengabaikan ponselnya yang terus saja berbunyi.

"Terima saja." Luhan berujar putus-putus, seraya menepis tangan Sehun yang berusaha melepas kain dibagian bawah tubuhnya. "Siapa tahu penting."

Sehun mendecakan lidahnya, jengkel. Dia meraih ponselnya yang tergeletak dimeja nakas. Ia paling tidak suka jika ada sesuatu yang mengganggu kegiatan menyenangkannya. Lihat saja, Sehun akan memaki-maki orang yang menghubunginya disaat seperti ini.

"Junmyeon hyung?" gumam Sehun membaca nama kontak yang tertera dilayar ponselnya. Dahinya mengerut dalam. Wow, ada apa ini? Mengapa tiba-tiba Junmyeon menghubunginya?

"Ya?" sahut Sehun, setelah menyentuh opsi terima pada ponselnya. Mata tajamnya masih memandang kearah Luhan yang berada dibawahnya. Pemuda manis itu sedang berusaha mengaitkan kembali kancing-kancing seragamnya, hal itu membuat Sehun menatapnya tak suka.

Sehun mencegah tangan Luhan untuk tidak memakai kembali seragamnya. Membuat pemuda bermata rusa itu mencebikan bibirnya, kesal.

"Datanglah ke rumah, Ayah ingin bertemu denganmu."

Suara dingin Junmyeon diseberang sana menghentikan pergerakan tangan Sehun yang sedang menghalang-halangi Luhan.

"Ayah?" ulang Sehun.

"Hm." Junmyeon hanya membalasnya dengan gumaman singkat, lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

'Ayah sedang ada di Seoul?' batin Sehun, bertanya.

"Ada apa?" tanya Luhan.

"Ayahku ada dirumah, dia ingin bertemu denganku."

"Lalu tunggu apalagi?" Luhan memasang wajah datarnya. "Pulanglah!"

"Bagaimana dengan—"

"Tsk, Sehun."

Sehun menjauhkan tubuhnya dari Luhan dengan wajah bersungut-sungut. Jika bukan karna Ayahnya, Sehun tidak akan sudi meninggalkan Luhan yang sedang dalam keadaan siap dimangsa itu. pemuda bersurai hitam kelam itu meraih almamaternya dan menyampirkannya diatas bahu malas-malasan. Rasanya tidak rela sekali meninggalkan Luhan sendirian menjaga Kyungsoo semalaman. Sial, bagaimana dengan keadaan kejantanannya yang sedang ereksi ini?

"Maaf, aku tidak bisa menemanimu, Lu." Sehun mengusap surai coklat madu Luhan dengan sayang.

Luhan mengangguk dengan senyum manisnya, "Tidak apa-apa."

"Jika kau butuh bantuan, panggil saja Kai atau Chen. Mereka ada diruang rawat Baekhyun."

"Aku akan minta bantuan Chanyeol. dia bilang, aku adalah temannya sekarang." ujar Luhan dengan riang. Sehun memandangnya dengan sorot tidak percaya. Chanyeol berteman dengan Luhan? terdengar mustahil sekali. Pemuda bermarga Park itu adalah orang yang sangat sulit diajak bicara ataupun bergaul. Mana mungkin dia mau bicara pada Luhan—yang notabene anak lugu dengan kadar keingin-tahuan yang tinggi.

Sehun memilih untuk tidak menanyakannya saat ini. "Ya, terserahmu saja." Sahutnya tak peduli. Sejujurnya dia tidak suka Luhan didekati orang lain walau itu temannya sendiri. Dia sangat posessif.

"Aku pergi dulu."

Sehun menarik dagu Luhan, dan mengecup bibir ranumnya sebentar. Luhan hanya mengangguk dengan tawa kecil.

"Drama macam apa ini." Luhan bergumam geli. Baginya, saat ini Sehun terlalu berlebihan. Dia seperti seorang suami yang hendak pergi jauh meninggalkan istrinya.

Sehun sudah hampir keluar dari ruangan, tetapi beberapa detik kemudian kembali masuk kedalam dan menghampiri Luhan yang masih berdiri didekat pintu. Luhan memandangnya dengan terheran-heran.

"Sial, bisakah aku tetap disini saja?" Sehun mengumpat seraya menarik pinggang ramping Luhan kedalam tubuhnya. Pemuda berkulit pucat itu segera meraup habis bibir kekasihnya yang masih tertutup rapat. Mengecap dua belah benda kenyal berwarna delima kesukaannya itu dengan haus dan terburu-buru. Luhan bahkan sampai harus memegang bahu Sehun untuk dijadikan pegangan agar tubuhnya tidak jatuh tiba-tiba.

"Sehun, kau harus pergi. Astaga." Desah Luhan selepas perlakuan tak senonoh kekasihnya.

Sehun hanya tertawa kecil, memperlihatkan gigi taringnya yang mengintip sedikit. "Baiklah, baby." Pemuda itu untuk yang terakhir kalinya, mengecup sekilas pipi Luhan dan kemudian berjalan keluar ruangan. Benar-benar sudah keluar.

Luhan memutar bola matanya malas mendengar panggilan menggelikan dari Sehun. selanjutnya Luhan hanya bisa tertawa dengan pipi yang merona lucu. Sikap Sehun benar-benar sudah berubah kepadanya, kenyataan itu membuat Luhan tak henti-hentinya melebarkan senyum. Dia menyayangi Sehun.

Sehun-nya.


Tobecontinued—


a/n :

Hai.

Long time no see. Udah sebulan ya? Hehehe /nyengir canggung/

Readers-nim, sebenernya gue mau publish FF ini dari tiga minggu yang lalu—atau sebulan yang lalu?, tapi ada beberapa problem yang bikin gue lelet banget-banget-bangeeeeeeeet buat update. gue ngerasa bersalah banget sama kalian:" serius. tangan gue udah gatel mau update, tapi dunia tidak mengizinkan bocah malang ini /vickyprasetyo mode on/

Pengennya sih ya, gue minta salah satu diantara kalian buat jadi assisten(?) gue. Nanti gue yg buat FF tapi org lain yang ngepublish diakun ini. Jadi biar ff jalan terus. Tapi gak ada yg bener deket sama gue, jadi ya…lupakan sajalah.

maaf kalo chapter ini penulisannya ancur, nambah jelek. Gue lagi kehilangan diksi akhir-akhir ini yassalam. Maklumin aja ya, jangan kecewa duh:" typo juga semakin banyak layaknya jerawat-jerawat(?)

(dan ada member IKON+BinHwan couple diatas. Yoyoyo, gue lagi suka mereka hehe. Ada yang suka Ikon disini?)

daann yosh, thanks buat yang udah review. Gue mah gak cape-cape buat terus bilang terimakasih karna udah diapresiasi sama kalian. Buat para followers dan favers juga. Kalian kece, muah :* dan yang sering ngingetin difb layaknya alarm harian =_= apalagi ada yang sampe minta buat jadi pacar gue (buat Guest yang ini, kalo mau jadi pacar gue—sok atuh hayu, aku siap lahir batin(?) )

P. S : Kali ini gue bener-bener minta maaf:'

SEE YOU SOON, GUYS :D