.
.
You Know My Mind | Chapter 14
Author : Alyna Beryl
CAST : Kim Jong In [Kai] | Do Kyungsoo | Oh Sehun
Support Cast : Park Chanyeol | Byun Baekhyun
Genre : Romance | Sad | Psycho | Yaoi
Rating : T
Happy Reading *bow*
.
.
.
Sorot mata tajam dan kelam terus mengawasi setiap kerumunan orang yang berjalan seperti serangga lewat kaca jendela ruangannya, begitu kecil dan berjumlah ribuan sibuk dengan dirinya masing-masing dibawah sana. Kepulan asap kecil keluar dari bibir tebal laki-laki dengan poni rambut berwarna hitam yang tertata keatas seakan menegaskan betapa sempurnanya tiap jengkal wajahnya. Puntung rokok yang terjepit diantara jarinya sengaja ia jatuhkan dan menginjaknya kasar dilantai, tangannya terulur meraih kacamata hitam dimeja kerjanya lalu memakainya dengan gaya yang terbilang angkuh. Langkahnya sontak terhenti saat akan keluar dari ruang kerjanya.
"Tuan muda saya sudah mengonfirmasi keberadaannya dan ternyata benar" Laki-laki dengan sikap angkuh itu meraih map kuning yang berada ditangan sekertarisnya lalu muncul sebuah seringai dibibirnya yang terlampau kecil ketika melihat isi map itu.
"Jika Appa mencariku bilang padanya aku sedang sibuk!" Sekertaris itu mengangguk mengerti lalu laki-laki dengan sikap angkuh yang ternyata Jongin itu melangkah keluar dari ruang kerjanya, berjalan cepat keluar gedung perusahaan ayahnya dan bergegas menuju mobilnya.
'Kita lihat saja apa kau merindukanku?' Pikir Jongin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang.
.
.
Jepret…
Kamera ponsel dengan blitz terang itu tak henti-hentinya menangkap gambar. Senyuman hati dari bibir Kyungsoo tercetak kala merasa puas dengan hasil jepretannya, sebuah bangunan indah yang memanjakkan kedua matanya. Setelah tiga minggu ia melewati masa tugasnya, Kyungsoo bisa bernafas lega saat ia diberi kesempatan dua hari libur untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Jepret..
Senyumannya semakin lebar saat memasuki Gallery Vittorio Emanuele II yang terkenal di Milan. Dibangun pada tahun 1867 dengan nama yang berasal dari raja pertama Italia, atap kaca besar yang terlihat indah membuat Kyungsoo tak henti-hetinya berdecak kagum. Pandangan Kyungsoo beralih kearah toko-toko yang menjual berbagai barang bermerk, restaurant hingga bar yang berjajar rapi disini. Ia kembali mengangkat ponselnya untuk kembali mengambil gambar namun objek yang tertangkap kamera ponselnya membuat Kyungsoo terpaku.
Bukan, bukan hantu yang tertangkap kamera ponselnya namun sesuatu yang lain.
Sesuatu yang membuat kejadian satu tahun yang lalu kembali terputar di otaknya. Genggaman pada ponselnya mengerat kala mengingat sorot mata itu, sorot mata yang sama yang juga tertangkap kamera ponselnya. Mungkinkah? Kyungsoo menggelengkan kepalanya keras menepis bayangannya lalu seseorang tiba-tiba memegang bahunya sontak saja Kyungsoo terkejut merasakannya.
"Are you okay?" Kyungsoo tersenyum lalu mengangguk.
"I'm okay, thanks!" Balas Kyungsoo sekenanya, ia menetralkan degup jantungnya lalu orang asing itu-tidak menyadari kalau dirinya juga orang asing-pergi meninggalkannya. Kyungsoo menghembuskan nafas lega kala orang yang memegang bahunya tadi bukanlah orang yang dibayangkannya, entah bagaimana ekspresinya jika itu benar-benar terjadi.
"Apa kau pikir itu aku?" Seluruh tubuh Kyungsoo seolah kehilangan fungsinya ketika suara berat itu menyapa pendengarannya, ia tidak berani membalikkan badannya karena dirinya masih berpikir jika semua ini adalah bayangannya. Jika ini sungguh bayangannya, bagaimana mungkin suara itu terdengar begitu nyata.
"Kenapa kau masih diam disana Do Kyungsoo?" Jongin sengaja menegaskan nama Kyungsoo untuk membuat laki-laki mungil dihadapannya itu berbalik. Tangannya terlipat didepan dada sambil menunggu Kyungsoo membalikkan badannya, dan setelah satu menit penantiannya akhirnya Kyungsoo berbalik walau dengan pergerakan ragu.
"K-kim Jongin?" Tak ada ekspresi apapun yang tergambar di wajahnya, hanya sebuah sorot mata tajam yang terlihat semakin dalam. Kyungsoo pikir Jongin sudah berubah banyak setelah satu tahun acara menghilangnya.
"K-kau sungguh Kim Jongin?" Tanya Kyungsoo masih sedikit ragu dengan apa yang dilihatnya.
"Berhentilah mengatakan itu dan berbicaralah dengan normal Kyungsoo! Apa ada yang salah dengan lidahmu?" Setelah mendengar seruan dingin Jongin, Kyungsoo sekarang benar-benar yakin jika yang berdiri dihadapannya itu adalah Kim Jongin.
"Bagaimana kau bisa ada disini? Bukankah kau tengah menghilang" Jongin membawa Kyungsoo kesebuah kedai kopi didekat pintu utama Gallery, memesan dua kopi dengan jenis yang sama lalu mendorong lirih cangkir kopi untuk Kyungsoo dengan telunjukknya saat dua kopi itu sudah tersedia didepannya.
"Aku bersembunyi disini selama satu tahun Kyungsoo" Kata Jongin sedikit menyruput kopinya.
"Untuk apa kau bersembunyi? Kau juga tidak mengatakannya kepada semua orang termasuk Luhan Hyung!" Seru Kyungsoo tanpa tertarik dengan kopi beraroma lembut yang ada dihadapannya walaupun asap hangat yang mengepul menyapa indra penciumannya begitu menggoda untuk segera dicicipinya.
"Untuk membentuk karakterku mungkin, aku tidak bisa menjelaskan padamu karena semua ini sangat rumit" Tutur Jongin lalu melirik jam tangan yang terlingkar dipergelangan tangannya.
"Tapi tetap saja kau ti—" Ucapan Kyungsoo terpotong.
"Cukup obrolan kita pagi ini, aku harus pergi!" Dan semoga sukses dengan tugas satu bulanmu. Terus Jongin dalam hatinya lalu ia pergi begitu saja dari hadapan Kyungsoo sedangkan si mungil menatap kepergian Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah satu tahun lamanya dia tidak melihat batang hidung Jongin dan tiba-tiba saja laki-laki tan itu muncul dihadapannya dengan sesi tanya jawab yang begitu singkat, cukup terkejut memang tapi ia juga tak menyangkal jika dirinya senang melihat keadaan Jongin yang lebih dari sekedar baik-baik saja.
Ibu jarinya menekan phone lock lalu ia memandang foto Jongin yang tadi tertangkap kamera ponselnya. Muncul dihadapannya setelah satu tahun menghilang tak hayal membuat Kyungsoo juga merasa takut. Terakhir menemui Jongin dikamarnya adalah janjinya untuk melupakan Jongin ketika sudah keluar dari rumah itu dan terbiasa dengan Jongin yang menghilang selama satu tahun walau ada rasa khawatir yang terus menghinggapinya. Jujur saja Kyungsoo takut kembali masuk kedalam kehidupan kelam Jongin walau rasa rindu dan debaran aneh perlahan muncul didalam hatinya saat mengingat wajah dengan sorot mata tajam itu.
Hingga satu harapan tiba-tiba muncul dibenaknya. Mungkin jika ia diberi satu kesempatan lagi untuk merubah Jongin, ia ingin menumbuhkan sebuah senyuman manis dibibir laki-laki itu agar dirinya semakin yakin dengan apa yang dirasakan hatinya
.
.
You Know My Mind
.
.
Sehun menatap foto Kyungsoo di ponselnya dengan gusar, beberapa menit yang lalu sekertarisnya memberitahunya bahwa Kyungsoo beberapa hari yang lalu bertemu dengan seorang pria di Milan dan mereka seperti tengah terlibat perbincangan serius walau cuma sebentar. Sejak Kyungsoo ditugaskan satu bulan di Milan, Sehun tidak bisa berhenti khawatir dengan keadaan sahabatnya sekaligus orang yang di cintainya itu disana. Ia akhirnya mengutus seseorang ke Milan untuk melaporkan apapun yang terjadi dengan Kyungsoo lewat sekertarisnya.
Jika Kyungsoo bertemu dengan seorang pria di Milan, sebenarnya ia tidak begitu mempermasalahkan hal itu karena justru akan bagus Kyungsoo mendapatkan seorang teman tapi saat dirinya melihat siapa pria yang dimaksud sekertarisnya lewat foto yang diberikan padanya, Sehun tidak bisa jika ia tidak terkejut bahkan dahinya sampai berkeringat dingin melihatnya. Ia melihat foto Kyungsoo dengan Kim Jongin yang berdiri dihadapannya. Hal itu membuat jantungnya tiba-tiba berdebar merasa takut jika Jongin akan melakukan sesuatu kepada Kyungsoo, ia tidak bisa membiarkan kejadian satu tahun yang lalu terulang kembali. Kim Jongin adalah monster dan Kim Jongin sangat berbahaya.
.
.
Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia merasa laki-laki dengan paras cantik yang ada disampingnya itu ingin mengatakan sesuatu karena sudah berulang kali tertangkap sudut matanya tengah melirik kearahnya.
"Katakan saja, aku tau kau ingin mengatakan sesuatu!" Seru Chanyeol hingga membuat Baekhyun sedikit terkejut karena tertangkap basah mencuri pandang kearah Chanyeol lalu Baekhyun pun membuka suaranya.
"Kyungsoo menghubungiku Yeol" Chanyeol kembali menatap kedepan setelah sejenak menatap Baekhyun.
"Jika Kyungsoo menghubungimu kenapa raut wajahmu nampak aneh, apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sudah dua bulan ini menjadi tunangannya.
"Aku tidak tau apa aku harus memberitahumu atau tidak" Ragu Baekhyun.
"Tak apa, katakan saja Baek!" Yakin Chanyeol.
"Kyungsoo bilang bahwa dia bertemu dengan Kim Jongin" Mendengar itu sontak Chanyeol menepikan mobilnya lalu memandang Baekhyun dengan ekspresi terkejut. Baekhyun memahami arti dari ekspresi kekasihnya itu.
"Kyungsoo juga bilang kalau mereka mengobrol sedikit" Lanjut Baekhyun dan Chanyeol masih setia dengan keterkejutannya.
"Apalagi yang Kyungsoo bilang Baek?!" Tanya Chanyeol sambil mengguncang bahu Baekhyun pelan.
"Dia hanya bilang Jongin baik-baik saja saat aku menanyakan keadaanya" Ini yang Chanyeol takutkan, menghilang dan tiba-tiba muncul dengan sosok berbeda. Menjadi baik untuk menjerat korbannya dan kembali mengulang kejadian dimasa lalu. Chanyeol bukan tiba-tiba sok tau tapi mendengar itu firasatnya berubah tidak enak.
"Tenang saja Yeol, mereka hanya kebetulan bertemu dan sedikit mengobrol, lagipula Kyungsoo bilang kalau Jongin langsung pergi begitu saja" Chanyeol pikir mereka tidak kebetulan bertemu tapi Jongin sengaja menemui Kyungsoo dan menganggap pertemuan mereka adalah sebuah kebetulan. Satu hal yang masih tersisa dari sifat buruk Jongin dimasa lalu yaitu kemampuan memanipulasinya yang dengan mudah membuat Kyungsoo sahabatnya mempercayainya.
.
.
You Know My Mind
.
.
Gagang payung berwarna biru tua tergenggam erat di tangan mungil Kyungsoo, baru satu menit yang lalu ia keluar dari rumah sakit untuk bergegas pulang namun hujan deras sudah menyambutnya. Ia bersyukur karena pakaiannya membuat dirinya tidak terlalu kedinginan karena untung saja sebelum berangkat tadi dia memutuskan memakai sweater yang membuat kulitnya terbakar karena tadi cuacanya begitu panas. Jarak rumah sakit dengan apartementnya tidak terlalu jauh jadi Kyungsoo memutuskan setiap hari berjalan kaki.
Tangan kecilnya mengadah diluar payung untuk merasakan setiap tetas air hujan yang membuat Kyungsoo mendesis karena terasa dingin saat bertemu dengan kulitnya, tak mau tetesan itu turun melewati tangannya dan menyelinap masuk kedalam pakaian hangatnya Kyungsoo pun akhirnya kembali menarik tangannya berlindung dibawah payung. Lamunannya buyar ketika seseorang menyenggol bahunya dengan keras lalu pandangannya teralih kepada lampu pejalan kaki yang sudah berwarna hijau. Ia bergegas menyebrang namun langkahnya melambat saat angin tiba-tiba berhembus kencang kearahnya hingga bajunya basah karena terkena air hujan yang terbawa angin. Kyungsoo memekik pelan ketika genggaman pada payungnya terlepas hingga payung birunya terbang menjauhinya kebelakang, ia berdecak lalu berbalik untuk mengambil payungnya yang tergeletak ditengah jalan tanpa menyadari jika lampu pejalan kaki sudah menyala merah.
Tin Tinnnnnn…
.
Tidak ingin tau apa yang akan terjadi padanya, Kyungsoo lebih memilih menutup matanya pasrah. Satu menit berlalu, Kyungsoo tidak merasakan sesuatu yang keras menabrak tubuhnya. Kyungsoo hanya merasakan air hujan mengguyurnya namun anehnya ia merasa begitu hangat. Tunggu, hangat? Seketika Kyungsoo membuka matanya dan mendongak. Matanya membulat ketika melihat Kim Jongin dengan wajah yang kelewat datar tengah memeluknya.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Jongin melepas pelukannya lalu bertanya dibawah derasnya hujan.
"Aku mengambil payungku" Kyungsoo mengusap wajahnya karena air hujan membuat pandangannya buram.
"Kau membahayakan nyawamu hanya untuk mengambil payung biru yang jelek itu?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan sebal, itu payung yang diberikan Appanya dan Jongin dengan enteng mengejek payungnya. Ck, menyebalkan.
"Payung itu sanga—" Belum juga Kyungsoo mengakhiri kalimatnya, Jongin lebih dulu memotong ucapannya.
"Benda itu sangat berharga, arra! Sekarang masuklah ke mobilku kau sudah basah kuyup!" Jongin menangkup puncak kepala Kyungsoo dengan telapak tangannya dan menggiring laki-laki mungil itu memasuki mobilnya.
"Bajumu basah!" Lirih Kyungsoo kepada Jongin dan hanya dibalas gumaman oleh Jongin, tentu saja bajunya basah karena Jongin tidak membawa payungnya.
Jika kalian ingin tau bagaimana Jongin bisa tiba-tiba saja muncul dihadapan Kyungsoo, jawabannya adalah karena Jongin sudah mengawasi Kyungsoo disebuah café tak jauh dari persimpangan. Acara-mari-mengawasi-Kyungsoo sudah berlangsung selama dua hari sejak ia tiba-tiba saja merindukan sosok mungil itu.
"Dimana kita?" Tanya Kyungsoo saat Jongin membawanya memasuki sebuah area parkir apartement namun ia yakin bukan apartementnya.
"Apartementku, cepat turun!" Kyungsoo bergegas turun mendengar seruan Jongin.
Jongin memasukkan beberapa digit angka lalu pintu yang menutup ruangan kedap suara itu pun terbuka. Apartement Jongin terlihat sangat bersih, desain futuristic dengan aroma maskulin yang begitu mewah dan Kyungsoo menyukainya.
"Itu akan menghangatkanmu" Kyungsoo melirik pakaian yang diberikan Jongin padanya, sweater putih besar dan celana abu-abu yang sialnya juga besar. Bagus tubuhnya akan semakin tenggelam memakai pakaian itu, walaupun begitu Kyungsoo tetap menerimanya dan mengganti pakaiannya di kamar mandi milik Jongin.
"Kenapa bahuku kecil sekali" Jongin menoleh kearah Kyungsoo yang baru keluar dari kamar mandi, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum kecil melihat Kyungsoo yang sibuk membenarkan lengan pakaiannya yang begitu lebar dengan gerutu yang keluar dari bibir kissablenya.
"Kim Jongin kenapa kau belum mengganti pakaianmu? Wajahmu terlihat pucat" Kyungsoo berjalan cepat menghampiri Jongin yang sekarang sibuk mengaduk cokelat hangat didapur.
"Minumlah kau juga terlihat pucat!" Jongin memberikan minuman itu kepada Kyungsoo lalu mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja makan setelah menekan beberapa angka disana.
"Bawakan aku makanan sekarang!" Jongin mematikan sambungan telfonnya lalu mengutak atik sebentar ponselnya sebelum sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Jongin, ganti pakaia—" Ucapan Kyungsoo terpotong saat Jongin berjalan menjauhinya dengan seruan menyebalkan menurut Kyungsoo.
"Ganti pakaian, arra!" Tapi entah kenapa Kyungsoo tersenyum dibuatnya.
.
.
"Apa kau tidak kedinginan berdiri disitu?" Seru Jongin saat melihat Kyungsoo berdiri dibalkon ruang tamunya.
"Tidak, ini menyegarkan" Sahut Kyungsoo. Perlahan Jongin mendekati Kyungsoo dan terlihat si mungil tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kau menghubungi Appamu?" Tanya Jongin membuat pergerakan Kyungsoo terhenti.
"Tidak, aku hanya penasaran kenapa Sehun menelfonku hingga dua puluh ka—" Sekarang bukan Jongin yang memotong ucapannya tapi Kyungsoo yang seketika membungkam mulutnya sendiri menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Ia melirik wajah Jongin perlahan namun ia tidak melihat reaksi apapun yang ditampakkan laki-laki yang berdiri disampingnya.
"Mungkin dia menghawatirkanmu" Tanpa sadar senyuman manis terkembang dibibir Kyungsoo mendengar ucapan Jongin. Lalu yang disampingnya beralih menatap wajah Kyungsoo dengan raut heran.
"Pasti karena kau salah makan tadi hingga kau tersenyum aneh seperti itu" Ejek Jongin namun senyuman hati itu masih tetap setia terpasang di wajah Kyungsoo.
"Sudah larut malam akan kuantar kau pulang!" Kyungsoo menahan pergelangan tangan Jongin saat laki-laki itu akan berbalik meninggalkannya.
"Bolehkah aku menginap malam ini?" Kyungsoo tidak tau kenapa ide itu terlintas begitu saja diotaknya, tapi ia hanya ingin melihat wajah Jongin sedikit lebih lama. Dan entah kenapa pemikiran bahwa ia tidak bisa melihat wajah Jongin keesokan harinya membuatnya sedikit takut.
"Tidak bisa, aku tidak mempunyai kamar kosong" Tolak Jongin mentah-mentah namun Kyungsoo tidak menyerah.
"Aku bisa tidur disofa Jongin!" Jongin menggeleng menolaknya.
"Hujan masih sangat deras Kyungsoo, aku tidak bisa membiarkanmu tidur disofa" Jawab Jongin lembut dan membuat Kyungsoo sedikit terpaku dengan ucapan lembut Jongin.
"Kalau begitu kita tidur bersama. Diranjangmu!" Ucap Kyungsoo hingga membuat kedua alis Jongin bertautan bingung.
.
.
TBC
Mungkin FF ini akan segera tamat gaes~ Mungkin juga next chapternya Kaisoo momentnya bakal aku buat panjang *ragu* ditunggu aja ya!
Review juseyo~
