o0o

On The Sky Presented

Angst & tragedy fict for this chapter

EXO, Leeteuk, Taemin, Hyoyeon-Sooyoung is HERE!

This is OOC, typo(s), NOT REAL, and for dominant genre always I mention at startup

o0o

.

.

.

.

.

The story is begin

.

.

.

.

.

MIRROR

Chapter 14

.

.

.

.

.

o0o

Last time in last chap : Kris' house ( Wednesday, December 11th—09.00 PM)

Now : Somewhere in Seoul (Saturday, December 21th—08.00 PM)

o0o

.

.

.

.

.

.

.

Suasana kota Seoul menjelang natal begitu semarak. Hampir semua toko menghias tokonya dengan pernak-pernik natal yang indah dan lucu. Tak lupa diskon harga menggiurkan yang menarik perhatian banyak orang. Walau cuaca sangat dingin hingga rasanya seperti berada di kutub, orang-orang tetap terlihat senang menyambut natal serta tahun baru yang diperkirakan akan dirayakan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Tapi, tidak bagi namja yang sering dijuluki Flower Boy ini, Xi Luhan atau Luhan. Sungguh menyedihkan baginya, sebab disaat orang-orang bersenang-senang, dia malah berjalan tak tentu arah disepanjang trotoar pusat kota. Tak jarang dia melewati tempat yang sama berulang kali. Dan dia hanya berhenti sebentar untuk mengisi perut atau ke toilet umum. Setelah itu, dia akan kembali berjalan seperti orang yang tengah merana.

Yaahh…tapi memang dia sedang merana.

Dia berjalan seperti robot : kaku, kedua tangan dijejalkan dalam-dalam ke saku jaket, ekspresi datar, dan tatapan lurus ke depan tanpa melihat sesuatu yang khusus. Beberapa gadis muda (bahkan beberapa ahjumma) yang sempat berpapasan dengannya, berbisik-bisik sambil cekikikan. Memuji-muji keimutan dan ketampanan Luhan, namun menertawai kondisinya yang menyedihkan.

Entah untuk yang ke berapa kali dalam sehari dia kembali ke titik awal dia memulai 'pengembaraan'nya : taman kota. Taman ini cukup ramai oleh anak-anak dan keluarga muda yang sedang menari di atas es atau sekedar bermain salju. Melihat itu, Luhan jadi teringat Sehun. Sehun yang senang menari, Sehun yang senang bermain salju, Sehun yang mahir meluncur di atas es dengan gerakan putaran yang rumit namun indah…. Ahh Sehun, where are you?

Luhan menghembuskan napas. Pikirannya kosong.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Mau bermain?" Tiba-tiba, terdengar suara lembut namun tinggi yang berasal dari sampingnya. Luhan menggeleng pelan, masih menatap ke arah taman. " Tidak, terima kasih. Aku lelah."

" Mmm… Kalau begitu, apa kau mau segelas buble tea hangat?"

Luhan terpekur…

.

Buble tea hangat.

.

Buble tea hangat?

.

Buble tea hangat!

.

.

Oh Sehun!

Demi Tuhan! Orang di sampingnya adalah Oh Sehun! Namjachingu yang sangat dia cintai dan rindukan. Namjachingu yang telah lama menghilang. Namjachingu yang selalu membuatnya khawatir. Oh Sehun, akhirnya kau kembali!

Perlahan, wajah Luhan memanas. Matanya berbinar, senyumnya merekah, jantungnya berdegup cepat dan perutnya seperti terisi oleh ribuan kupu-kupu. Kedua tangan yang ia masukan ke saku mulai gemetar dan berkeringat. Rasanya seperti ingin terbang hingga langit ke-7 dan menari-nari disana.

" Aku yang traktir," katanya lagi. Kini, Luhan benar-benar yakin bahwa dia adalah Oh Sehun.

Namun, ketika dia menoleh dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya, dia justru terkejut bukan main hingga nyaris pingsan. Ya Tuhan… Bukan dia yang Luhan harapkan. Bahkan, memikirkannya saja tidak pernah. Tapi kenapa malah dia yang muncul?

Bukannya Oh Sehun?

.

.

.

" Apa kabar?" sapanya, masih dengan suara yang lembut. Kedua dimple indahnya muncul ke permukaan tatkala dia tersenyum. Tatapannya tampak berbinar seperti terkena pantulan sinar mentari walau tersembunyi di balik kacamata minusnya. Namja ini tak memiliki cacat fisik sedikitpun. Seorang namja yang sempurna.

Namun Luhan malah diam saking terkejutnya. Dia mencoba untuk mencerna semuanya. Cuaca dingin membuat kerja otaknya melambat, ditambah lagi dengan kerinduannya pada Sehun sehingga pikirannya menjadi tidak fokus. Tapi dia yakin bahwa orang yang ada di depannya adalah dia.

Luhan ingat betul rahang kokohnya, mata berkabutnya, dan dimple manis yang memesona. Keseluruhan tentangnya yang berhasil Luhan lupakan dengan sangat baik. Tapi sekarang, tanpa aba-aba, tanpa rasa malu, berani-beraninya dia muncul di hadapannya.

Disaat yang Luhan butuhkan adalah Sehun?!

Rasa sakit yang teramat sangat mulai menggerogoti dada Luhan. Luhan meremas saku jaketnya kuat, berusaha menelan bulat-bulat semua perasaan ini. Namun wajahnya berkata lain, sebab matanya mulai memanas dan berair. Luhan membenci dirinya yang terkadang sulit mengontrol perasaannya. Luhan sangat membenci dirinya yang sekarang terlihat rapuh di depan namja yang seharusnya dia benci namun tidak bisa. Luhan benci, benci, benci…

.

" Hei, uljima," katanya seraya menangkup kedua pipi Luhan lembut dan menghapus air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. " Sssh… Uljima. Jebal uljima. Aku tidak kuat jika harus melihatmu menangis," katanya, agak berbisik.

Luhan gemetar, napasnya mulai tersengal dan air matanya malah mengalir deras. Salah mengartikannya sebagai rasa rindu yang teramat sangat, namja itu malah menarik Luhan ke dalam dekapannya dan memeluk Luhan erat. Ia memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Luhan yang sangat ia rindukan. Tidak menyangka bahwa dirinya masih mencintai Luhan, merindukannya, hingga rasanya paru-parunya menjadi sesak.

" Saranghae," bisiknya lembut di telinga Luhan. " Saranghae Xi Luhan. Wo ai ni."

Luhan terkulai lemas dalam pelukannya. Air matanya makin deras mengalir. Dia tak kuasa memberontak karena kewalahan mengatasi berbagai macam perasaan yang menyergapnya bersamaan. Satu yang Luhan tahu : dia tidak menginginkan namja ini. Demi apapun, dia sungguh-sungguh tidak menginginkan namja ini lagi. Dirinya hanya menginginkan Sehun.

Selalu Sehun. Tidak ada yang lain.

.

.

.

Luhan memejamkan mata tatkala dekapan namja ini semakin erat. Kedua tangan yang entah sejak kapan sudah berada di luar, mengepal kuat di sisi tubuhnya. Kening Luhan berkerut, matanya makin terpejam erat. Ia bertahan dalam kondisi itu selama beberapa saat. Berkonsentrasi penuh pada suatu hal. Di benaknya, menari-nari wajah Sehun yang tengah tertawa, tersenyum, kesal, menangis… Sudut bibir Luhan terangkat sedikit ketika bayangan Sehun terus mengisi benaknya.

Luhan membayangkan Sehun dengan begitu jelasnya hingga dia dapat merasakannya, melihatnya, menyentuhnya, dan mencium aroma tubuhnya. Semua itu berada di benaknya yang seakan-akan ada di depan dirinya sendiri. Tapi Luhan belum merasa cukup. Dia menginginkan lebih.

.

Ia berbisik ke dalam kehampaan tanpa suara, bibirnya bergerak dengan cepat, dengan hening, tanpa berhenti. Memanggil-manggil namanya, memanggil-manggil dirinya padanya.

Meskipun ia tiada guna.

.

Meskipun ia sia-sia saja.

.

Meskipun ia sudah jauh terlambat.

.

.

.

Setetes air mata kembali mengalir, jatuh bersamaan dengan salju pertama di bulan Desember.[]

o0o

Continue

o0o

.

.

.

.

.

.

.

" Kau lihat, Oh Sehun?" bisiknya pada sebuah boneka 'manusia' dalam pelukannya. Bibir kissable-nya membentuk senyum kecil, mata besarnya berkilat jahat menyaksikan adegan romantis sekaligus menyakitkan di bawah sana. " Namjachingu-mu menduakanmu demi dino tak berguna itu."

Dia tertawa, sedangkan boneka 'manusia' yang mirip sekali dengan Sehun itu hanya diam, 'menatap' tepat pada adegan romantis sekaligus menyakitkan baginya di bawah sana.

" Sayang sekali, Sehun." Dia menggeleng. " Padahal kau sudah sangat sempurna menurutku. Walau tidak sesempurna Jongin-ku." Ia terkekeh geli. Tangannya perlahan mendekati leher boneka, lalu mencekiknya brutal. Bibirnya menyeringai senang.

" Inilah yang disebut keadilan, Sehun," katanya, " inilah dikaiosini, keadilan. Sinonim dari ekdikisis, balas dendam." Dia menggeram pelan. Rahangnya mengeras dan matanya menyipit, dadanya naik turun tak beraturan. Namun, sejurus kemudian, wajahnya melembut walau tidak bisa dibilang lembut dalam arti sesungguhnya. Ini seperti kelembutan yang diselimuti kegelapan. Dia memiringkan kepala, menatap boneka dengan sebelah alis terangkat, berkata, " Kau tidak mengerti sejarah Yunani kuno, ya?" tanyanya geli, " well, aku lupa siapa kau, Oh Sehun. Kau jelas produk dunia modern dan masih 19 tahun." Dia menggeleng sambil menahan tawa. " Yeah… Aku memang sedikit lebih tua darimu. Bahkan dari buyutnya buyutmu." Dia tak bisa menahan tawanya. " Tapi maaf, masalah umur sangat sensitif buatku. Jadi, bagaimana jika kita bahas topik lain? Misalnya membahas fakta bahwa aku memuja keduanya?"

Dia memain-mainkan alis, tapi hanya untuk mendesah dan memutar bola mata karena tidak ada tanggapan. Menatap boneka di tangannya dengan tatapan jenuh. Diam-diam, dia menyalahkan dirinya sendiri karena mengubah Sehun menjadi boneka. Tapi biarlah.

" Aku memuja keduanya, Sehunnie," katanya, kembali ke topik awal. Tatapannya menajam dan berubah bengis saat dia menambah kekuatan cekikannya seolah yang ada di tangannya adalah anak ayam yang ingin dia patahkan lehernya. " Aku memuja dikaiosini dan ekdikisis. Karena keadilan itu adalah balas dendam, dan balas dendam adalah keadilan." Sudut bibirnya terangkat sedikit. " Aku ingat semua perlakuan tak menyenangkan yang kuterima dari klan-ku—" tangannya mencekik boneka makin keras "—segala macam hinaan dan siksaan di kehidupan pertamaku. Aku hancur, Sehunnie," desisnya, parau. " Hancur lebur seperti bubur. Mereka telah menutup matahari dengan tangan kotor mereka, meniupku begitu saja seolah aku ini debu." Tangannya mencekik leher boneka makin keras hingga jahitannya sobek dan dakron di dalamnya menyembul keluar, berwarna merah darah.

Detik selanjutnya, wajahnya kembali melembut. Namun, sekali lagi, ini bukan lembut dalam arti yang sebenarnya.

" Tapi aku bangkit," bisiknya, " bangkit dari kehancuran. Bangkit untuk membalas dendam dan memperoleh keadilan." Tatapannya menerawang seolah dia melihat dengan jelas kejadian itu di depan matanya. Dia terlihat sibuk dengan dunianya hingga hampir melupakan 'Sehun'nya. Dan ketika dia kembali menatap boneka, dia tersenyum, melepas cekikannya pada leher boneka dan malah membelai pipi boneka penuh sayang.

" Aku bertemu Jung-Eun," gumamnya, " dan aku jatuh cinta padanya."

Hening…

.

.

.

Sesaat kemudian, wajahnya kembali mengeras dan berubah menakutkan. " Tapi Soon-ei mengambilnya," geramnya, " mengambilnya begitu saja tanpa mempedulikan perasaanku. Dia egois, hina, menjijikan, bajingan!" Kalimat terakhir dia ucapkan sambil berteriak, meninggi satu oktaf ditiap kata. Tidak takut akan ada yang mendengar karena toh, tidak akan ada yang bisa mendengar.

.

.

" Kau tahu Sehun?" lanjutnya, " mengapa aku seperti ini?"

Boneka itu diam.

" Karena cinta," katanya serak. " Aku mencintai Jung-Eun, namun Soon-ei mengambilnya. Dan di kehidupan yang sekarang, namjachingu-mu, Xi Luhan, kembali mengambilnya!" jeritnya. " Kim Jong Dae, bodoh! Kau dengar?! Kim Jong Dae! Orang yang menjadi mantan pacarmu, orang yang disebut-sebut dalam tidurnya, orang yang tengah memeluk pacarmu sekarang. Dia, Kim Jong Dae! Dia Jung Eun-ku!"

Dia benar-benar murka. Nyaris melempar boneka itu jika saja dia tidak ingat bahwa belum saatnya dia membuangnya. Dia berusaha tenang, berusaha untuk tidak gegabah atau semua permainan kecil sadisnya ini kacau balau.

Saat dia sudah merasa tenang sepenuhnya, dia kembali menatap boneka itu, kembali melanjutkan ceritanya.

" Aku memaafkan pacarmu karena telah mengambil Dae-ku. Sebab aku tahu mereka saling mencintai," katanya, " aku bukan orang egois seperti kekasihmu itu." Dia tertawa mengejek. " Tapi aku mencintai orang lain, yang di kehidupan pertamaku juga sempat aku cintai."

Tatapannya menerawang jauh. " Tatsuya…" Ketika dia menyebut nama Tatsuya, tatapannya berubah sendu dan dia tersenyum lembut (dalam arti yang sebenarnya). Tapi, semua itu menghilang dengan cepat seolah tidak pernah ada. " Di kehidupan ini, dia adalah Kim Jong In."

Dia menatap boneka dengan tatapan menantang, kemudian dia tertawa keras-keras. " Kaget yah, ternyata Kai sahabatmu ikut terlibat dalam semua ini…?" Dia tertawa lagi hingga setetes air mata jatuh dan dia dengan cepat menghapusnya. Dia menggeleng-geleng, masih tertawa walau tidak sekeras tadi. " Dancing machine itu adalah pemicunya. Tidak, tunggu. Kalau dipikir-pikir lagi, si pengacara itulah pemicunya, dan Flower Boy itu—" meludah "—adalah bahan bakarnya." Menarik napas. " Kau lihat Sehun, bagaimana semua ini berhubungan? Kau, aku, Kai, Luhan, Chen—" lagi-lagi dia menggeleng "—sulit dipercaya."

Dia menatap ke bawah, ke arah Luhan yang kini tengah menunduk selagi namja itu, Chen, berbicara pada Luhan dengan kedua tangan menangkup pipi Luhan.

" Aku tidak rela," bisiknya, " dia sudah mengambil Chen, Jung Eun-ku. Dan kini dia memilikimu, Sehun, tapi masih saja ingin Jongin-ku." Tangannya mengepal hingga urat biru di tangannya terlihat jelas. Kemudian, dia menatap boneka lagi dengan tatapan sulit diartikan.

.

.

.

" Kini, aku mengembalikan Chen padanya," katanya, mulai menyeringai. " Kita mulai permainan ini, Sehunnie."[]

o0o

MIRROR

o0o

.

.

.

.

.

.

.

.

.

In the same day

Seoul Memorial Hospital Park—Four hours ago

.

.

.

.

.

.

Diam-diam, Lay mencuri pandang ke arah Suho yang kini tengah 'menendang-nendang' bola ke tembok sebelum memantul dan kembali padanya. Lay mendesah dan menggeleng, frustasi akan aksi mogok bicara Suho sejak lebih dari empat minggu terakhir. Lay bingung, benar-benar bingung karena Suho. Bahkan, dia sempat menyangka bahwa Suho itu adalah remaja labil kalau saja dia tidak ingat umur Suho.

.

" Ya, Joonmyunnie," panggil Lay dari tempatnya 'duduk'.

" Ya, Joonmyunie!"

DUAGH!

NGIUNG, NGIUNG, NGIUNG, NGIUNG…!

Lay tersentak kaget ketika Suho menendang bola terlalu keras hingga membentur dinding, memantul, lalu menembus dirinya dan melesat sampai menabrak sebuah Miata yang tengah tengah terparkir manis. Dan detik selanjutnya : alarmnya berbunyi nyaring.

Mulut Lay menganga sempurna, matanya melotot ngeri ketika security datang bersamaan dengan si empunya mobil. Tak jauh darinya, Suho pun juga tampak terkejut hingga membentuk ekspresi : O_O

Dalam hati, Lay menyumpah-nyumpah karena ulah Suho. Tapi dia juga bersyukur karena mereka arwah, jadi tidak akan ada yang bisa melihat mereka kecuali makhluk sesama mereka atau cenayang. Lay menyaksikkan ketika si empunya mobil marah-marah pada security, mematikan alarm mobil, kemudian kembali marah-marah sebelum pergi sambil bersungut-sungut.

Lay mendelik ke arah Suho yang tengah menatapnya innocent.

" Apa sih?" katanya.

" Malah nanya lagi. Lihat ulah bodohmu! Kalau kita manusia, kita sudah mampus tahu nggak?"

" Salahmu juga tahu!" Suho yang tidak terima mulai melancarkan omelannya. " Kalau kau tidak berteriak-teriak seperti tadi, aku pasti tidak akan kesal!"

" MWO?!" Lay melotot, langsung berdiri dari 'duduk'nya. " Ya, Joonmyunnie, dengar ya! Aku ini berteriak karena kau tidak mau nengok dipanggil-panggil terus! Kau kan punya telinga!"

Suho berkacak pinggang, kepalanya sedikit terangkat dan bibirnya mengerucut 2 senti. Dia menatap Lay dengan tatapan menantang. " O ya?! Begitu ya? Jadi seorang Zang Yi Xing, yang mengaku sebagai penjagaku, menyalahkanku karena aku membuat keributan kecil?! Asal kau tahu ya, aku ini kesal karena aku bingung harus melakukan apa hingga rasanya ingin menghilang saja!"

Mereka saling menatap.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Yah… kurasa kita sudah sampai pada inti permasalahan," cetus Lay, memecah kebisuan. Ia menghela napas panjang, menatap Suho kembali, menunggu. Namun, Suho hanya diam ditempat, membalas tatapan Lay tanpa ekspresi. Lay kembali menghela napas panjang, merasa bahwa dia harus memulainya duluan dan Suho akan mengikuti.

.

.

" Kau sudah memutuskan, Kim Joon Myun?" tanya Lay, menatap tajam Suho.

" Memutuskan apa?" Suho balik bertanya dengan ekspresi datar. Lay sendiri bingung, haruskah dia merasa kesal atau tetap tenang. Tapi dia memilih opsi kedua karena dia mendadak menyadari bahwa suasana hati Suho sedang tidak baik. Lagi-lagi, Lay menghela napas, mengingatkan diri untuk sabar menghadapi "induk ayam" yang tengah murka ini.

.

" Memutuskan untuk—kembali."

Suho terdiam sejenak karena dia sempat bingung apa yang dimaksud dengan "kembali". Dan begitu dia menyadari apa maksudnya, Suho tidak yakin harus mengatakan apa. Dia hanya mematung ditempat, ekspresinya bingung.

Lay seolah tahu apa yang tengah mengganggu pikiran Suho. Dia pun mendekati Suho, dan setelah berdiri di sampingnya, Lay tersenyum manis. Tangannya meraih tangan Suho dan menggenggamnya erat. Dan detik selanjutnya, mereka menghilang.[]

o0o

Continue

o0o

.

.

.

.

.

" Menejermu memang sangat menyayangimu," ucap Lay setelah mendengarkan keluh kesah Suho. Lay menatap langit yang bersih dengan tatapan sendu. " Dia menganggapmu bukan hanya sebagai bos. Tapi sebagai sahabat dan adik."

Suho mendesah. " Dia sudah seperti keluarga bagiku," Suho menatap langit, " keluarga kedua, lebih tepatnya."

Mereka sama-sama diam setelahnya, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sama-sama merasakan sesuatu yang mengganjal di hati maupun pikiran, tapi tidak ada satupun yang mengungkapkan lebih jauh.

.

.

.

" Aku turut berduka atas apa yang menimpa sahabatmu," kata Lay, menatap Suho dengan simpati. " Dia masih sangat muda bukan?"

Suho mendesah, kemudian mengangguk pelan. Pikirannya tertuju pada adik semata wayang Kris, Chanyeol. Dulu, saat umur Chanyeol masih berusia 12, Suho cukup sering main dengannya. Dia anak yang ceria & terbuka, seolah-olah hidup ini hanya untuk merasakan kebahagian. Suho iri dengan Chanyeol, sebab dia merasa hidup Chanyeol ditakdirkan hanya untuk bermain dan bersenang-senang.

" Santai sedikit, hyung," katanya, " masih muda jangan dibawa terlalu serius." Kemudian dia tertawa karena Kris menjitak kepalanya.

" Apa kau sudah menemuinya?" Lay membuyarkan lamunan Suho.

Suho menoleh. " Huh? Menemui siapa?"

" Tentu saja sahabatmu," kata Lay, " kau bisa mengunjunginya sekali-kali."

Mendengar itu Suho mendengus. " Dengan kondisi seperti ini?" Dia menatap Lay. " Pikirkan lagi."

" Menjenguknya dari jauh," jelas Lay dengan sabar. " Kurasa sudah waktunya kau mengurus masalahmu, Suho. Tidak baik jika kau 'pergi' dengan meninggalkan setumpuk masalah di belakangmu. Tidak jika kau menyayangi mereka."

" Ah, Lay," Suho mengacak-acak rambutnya sekilas. " Kenapa jika kau bicara selalu benar dan tepat sasaran? Apa sih rahasianya?"

Lay hanya tersenyum simpul. Lalu dia bangkit dan membersihkan celana jinsnya dari rumput-rumput kecil yang menempel. Suho mendongak, menatapnya bingung. Tapi pada akhirnya Suho mengikutinya ketika Lay mengulurkan tangan dan berkata, " Hanya menyadarkanmu apa yang semestinya kau lakukan. Kajja, aku akan menemanimu."

Ah, benar, Lay akan menemaninya. Dan selalu akan berada di sisinya setiap dirinya membutuhkannya. Karena Lay adalah penjaganya.

.

Penjaga dan jarum kompasnya.[]

To Be Continue

.

.

.

Halo semua!

Eumm…Etto….. Nggak tahu nih mau ngomong apa. Yang ada di pikiran saya saat ini sih, semoga readers pada ngerti pas Kyungsoo nyeritain sekilas tentang masa lalunya. Yahhh…kalo nggak ngerti sih, silahkan bertanya. Rapopo kok, nduk… :D

Dan… Ni chapter udah dipanjangin. Iya sih dipanjangin, cuma dipanjangin 1500-an kata (/_-)(T_T). Huhuhuhu… Mian, ne. Bukannya lagi males atau lagi nggak ada ide. Cuma yah…chapter yang ini emang kodratnya udah sepanjang ini. #PLAK!PLAK!

Akhir kata, TERIMA KASIH BANYAK untuk readers : siders,reviewers,followers,favoriters(heh?) ff ini :D. Yang tetep nunggu dengan setia and memberi dukungan. Yang rela-relain baca dari chapter 1-sekarang (kalo ada yang baru baca). Makasiiiihhhh…hiks! (~_~) Dan khususnya untuk GreifannyGS eonni yg di chap kemaren udah review panjaaaaaanggggg...banget dan ngasih banyak masukan yang bermanfaat. Thank you so much!

See you next chap!