Title : Tangled
Cast : Kai, Sehun, Others
Warning : This is REMAKE! Banyak typo, dan bahasa susah dimengerti/?
GS, buat keperluan dan kenyambungan/? cerita :3
Disclaimer : Original story is belong to TANGLED By EMMA CHASE
Yang ku punya hanya nama cast/? XD
.
.
.
Here it is Chapter 14
.
.
.
Setelah Jessi pergi, aku mengambil tasku dan berjalan keluar pintu. Untuk bertemu dengan skywriter. Aku masih harus memikirkan cara membuat Sehun berada di atap gedung. Omong-omong tentang Sehun...
Ingin mampir kantornya dalam perjalanan keluar? Melihat bagaimana dia dan Suster yang baik hati itu bergaul?
Pintunya terbuka. Aku mengukuhkan tanganku di ambang pintu dan melongok masuk. Bisakah kalian melihat dia melalui balon-balon itu? Duduk di belakang mejanya, dengan tangan bersedekap di atas meja, senyuman menempel di wajahnya saat dia mengangguk dengan patuh pada apa yang dikatakan Suster Lee.
"Ladies. Bagaimana kabar kalian sore ini?"
Sehun menoleh kearahku. Dan suaranya tegang. "Jongin. Di situ kau rupanya. Aku baru saja berpikir tentangmu..." dari cara dia mencengkeram kedua tangannya, sepertinya ia sedang berpikir untuk mencekikku, "sementara pada saat itu Suster Lee bercerita padaku tentang kisah menarik tentang rumah kaca. Dan bagaimana kita yang tinggal di dalamnya tidak boleh melemparkan batu."
Dia masih tersenyum. Tapi matanya mengucapkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Ini sedikit menyeramkan. Kalian tahu film Texas Chainsaw Massacreketika si orang tua tersenyum sebelum ia menggorok leher gadis itu? Ya, mirip semacam itu.
Suster Lee memandang ke langit-langit. "Kita semua tidak sempurna di mata Tuhan. Sehun, bolehkah aku memakai kamar kecilmu, sayang? Panggilan alam."
"Tentu saja, Suster." Mereka berdiri, dan Sehun membukakan pintu ke kamar kecil di sebelah ruangan.
Dan segera setelah pintunya tertutup, Sehun yang Tersenyum langsung menghilang. Sehun yang Marah mengambil alih. Dia berjalan dengan bergegas ke arahku. Dan balon-balon pun lari menyelamatkan diri.
"Aku akan mengajukan pertanyaan ini cuma sekali, dan kalau kau bohong padaku, aku bersumpah akan membiarkan Jessi meracunimu."
"Oke."
"Apa dia seorang suster sungguhan? Atau seorang aktris yang kau sewa?"
Aku tertawa. Aku bahkan tidak memikirkan soal ini. "Tidak, dia asli."
Sehun tidak puas. "Ya Tuhan, Jongin! Seorang suster? Seorang biarawati? Ini trik yang rendah. Bahkan untuk orang sepertimu."
"Kupikir saat ini secara teknis dia adalah Suster Kepala."
Aku membungkuk lebih dekat kearah Sehun karena...well, hanya karena aku bisa...dan bau lotionnya menerpaku. Keras. Aku menahan diri untuk tidak menempelkan hidungku pada kulitnya dan mengendus seperti pecandu kokain.
"Apakah ada cara yang tidak kau lakukan agar orang menuruti kemauanmu?"
Tidak. Maaf. Tidak satu pun. Aku tidak keberatan melakukan cara kotor. Sebenarnya, aku lebih suka dengan cara itu.
"Di saat genting...Aku harus memanggil senjata –bantuan yang lebih besar."
"Kau ingin melihat senjata? Begitu? Baik, aku akan kutunjukkan senjata padamu! Aku tidak bisa percaya —"
Ya Tuhan, dia sungguh cantik. Maksudku, lihat dia. Dia seperti gunung berapi yang akan meletus, garang dan berapi-api dan mempesona. Jika dia tidak menemukan cara untuk membuat dirinya terlihat jelek, aku akan menghabiskan banyak waktuku untuk membuatnya marah. Yang mungkin bukan suatu hal yang buruk pada akhirnya. Seks saat marah itu mengagumkan.
Aku memotong omelan Sehun. "Meskipun pembicaraan ini sangat menggairahkan dan percayalah, ini sudah sangat menggairahkan— Aku ada pertemuan yang harus kulakukan."
Sebelum aku pergi, aku menunjuk ke arah leher telanjangnya. "Hei, kenapa kau tidak memakai kalungmu?" (kalung pemberian dari Jongin bersama dengan bunga-bunga dan balon-balonnya)
Dia melipat tangannya, dan tersenyum dengan bangga. "Aku menyumbangkannya kepada Suster Lee. Untuk orang yang kurang beruntung."
Dia memainkan dengan baik, benar kan? Aku juga bisa bermain.
"Itu sangat murah hati. Tentu saja, aku harus menggantinya untukmu. Dengan sesuatu yang...lebih besar. Kau harus menunggu kiriman lain besok."
Senyumnya berubah menjadi pahit. Dan dia memukul balonnya menyingkir. Lalu dia membanting pintu tepat di depan wajahku. Aku menunggu dua detik sebelum memanggil kedalam, "Oke. Sampai nanti, Sehun. Pembicaraan yang bagus."
Dari dalam, aku mendengar suara Suster Lee, "Apakah Jongin baru saja pergi? Dia memang anak yang manis. Dan setia juga, ketika ia menetapkan hatinya untuk suatu tugas. Biarkan aku memberitahumu waktu dia menyiangi kebun biara. Ceritanya panjang, tapi kita punya waktu sepanjang sore. Ada perkelahian di ruang makan siang, kau tahu..."
.
Lalu lintas sangat menyebalkan. Dari kedua arah. Tapi aku berhasil mencapai kata sepakat dengan skywriter itu. Dia berganti pakaian ketika aku pergi. Sekarang aku hanya punya sedikit waktu untuk sampai ke kantor Sehun dan membawanya ke atap gedung. Jika dia tidak mau ikut denganku secara sukarela, aku akan mengangkat dan membopongnya. Meskipun aku merasa jauh lebih baik jika aku memakai pelindung selangkangan. Sehun pasti akan menendang.
Aku berlari melalui lobi dan memencet tombol lift. Tapi apa yang kulihat ketika pintu terbuka membuatku berhenti mendadak. Itu adalah Si Menyebalkan, dengan Sulli di sampingnya. Dan di tangan kecil sempurna keponakanku terdapat tali. Belasan. Tali yang terikat pada balon. Balon Sehun.
"Oh, brengsek!"
"Well, itu cara yang bagus untuk menyambut kakakmu yang penyayang dan putrinya."
Apa aku sudah mengatakan itu dengan keras? Tidak masalah. Persetan persetan parah. sangat parah. Terkutuk apa yang diperbuat Yuri di kantor Sehun, kecuali kakakku mampu meninggalkan lebih banyak kerusakan.
"Hai, Paman Jongin!"
Aku tersenyum. "Hai, sayang." Lalu aku mengerutkan dahi. "Apa yang sedang kau lakukan, Noona?"
Matanya melebar dengan polosnya. Seolah dia terkejut. "Aku? Aku datang menemui suamiku untuk makan siang. Apa itu kejahatan?"
Ketika aku masih SMP, seorang anak bernama Taekyeon memukulku tanpa peringatan saat aku sedang berjalan keluar dari kelas trigonometri. Aku sudah berkencan dengan pacarnya. Pacarnya punya tangan yang berbakat. Kemudian, hari berikutnya, Yuri mengunjungi Taekyeon dan membuat dia kencing di celananya. Dalam arti yang sebenarnya. Jadi, menurut Aturan Si Menyebalkan, dia bisa berbuat sesukanya kepadaku, tapi tidak ada orang lain yang diizinkan berbuat hal yang sama. Sekarang kalian mengerti kenapa aku khawatir?
"Kau pergi mengunjungi Sehun, bukan?"
Sulli menjawab untuknya, "Iya, Paman Jongin! Dia hebat. Sehun memberiku balon ini dan kalkulator! Lihat?" Dia menahannya di atas kepalanya seperti itu adalah piala Stanley Cup, dan aku tidak bisa menahan senyum.
"Itu hebat, Sulli."
Lalu aku melotot pada Yuri lagi.
Dia tidak peduli. "Kau bilang kalau kau ingin agar Sulli bertemu dengan Sehun."
Jika kalian mengumpulkan dua hamster bunting di dalam satu kandang, kalian tahu apa yang akan mereka lakukan? Memakan satu sama lain. Hormon wanita sama seperti hulu ledak tanpa detonator. Tidak mungkin untuk mengetahui kapan akan meledak.
"Ya, aku ingin Sulli bertemu dengan Sehun. Tapi aku tidak ingin kau bertemu Sehun sampai aku selesai membereskan kekacauan."
Sulli mengeluarkan sahabatku, Stoples Omongan Jorok dari ranselnya dan menyodorkannya keatas. Aku memasukkan dua dolar. Dia menempelkan wajahnya di mulut stoples dan mendongak memandangku dengan kening berkerut. "Um...Paman Jongin? Omongan jorok dendanya tidak lagi satu dollar. Dendanya sepuluh dollar."
"Sepuluh dollar? Sejak kapan?"
Sulli menjawab dengan antusias. "Itu ide Sehun. Dia mengatakan makonomisedang buruk."
Apa artinya makonomi?
"Dia menyebutnya in...in..."
"Inflasi." Yuri meneruskan sambil tersenyum.
"Ya, itu."
Inflasi. Bagus. Terima kasih, Sehun.
Aku mengangkat alis kearah Sulli. "Apa kau menerima kartu kredit?"
Dia tertawa cekikikan. Aku membayar dendaku secara tunai. "Bagaimana kalau kau menghitung denda yang selanjutnya di kalkulatormu, sayang?" Dia akan membutuhkannya. Aku punya perasaan diskusi kecil ini akan menghabiskan biaya ratusan dollar.
"Apa yang kau bilang pada Sehun?" Tanyaku pada Yuri.
Dia mengangkat bahu. "Kami mengobrol, satu wanita dengan wanita yang lain. Aku tertarik pada naluri bisnisnya. Itu berjalan lancar. Kau benar-benar tidak perlu tahu detilnya."
"Kenapa kau tidak membiarkan aku memutuskan apa yang aku perlu tahu. Mengingat bahwa kau tidak seharusnya mengoceh dengannya sama sekali, fuck!"
Tap-tap-tap –masuk ke kalkulator.
"Begitu tidak tahu terima kasih? Aku hanya berusaha membantu."
"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku punya rencana sendiri."
Yuri bertolak pinggang. "Benar. Master plan-mu itu melibatkan apa, tepatnya? Mengganggu Sehun sampai dia setuju untuk kencan denganmu? Kau juga akan mengejeknya di taman bermain? Menarik kepang rambutnya? Harus kuakui, Suster Lee adalah suatu sentuhan yang menarik. Aku tidak percaya Sehun tidak bertekuk lutut, memohon padamu untuk menerimanya kembali setelah itu. Sangat romantis, Jongin."
Rahangku terkatup. "Itu. Berhasil."
Dia mengangkat alis. "Itu bukan apa yang Sehun katakan."
Dan ini dia. Perhatikan baik-baik. Si Menyebalkan Menunjukkan taringnya. Dan kalian pikir aku terlalu berlebihan.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Tentang aku? Apa yang dia katakan?"
Dia melambaikan tangannya ke udara. "Oh, soal ini dan itulah."
Kalian tahu bagaimana anak-anak kecil suka menggoda anjing mereka dengan menunjukkan tulang lalu menjauhkannya sebelum anjing itu dapat menggigit? Kakakku mirip seperti salah satu anak-anak itu.
"Fuck, Yuri."
Tap-tap-tap.
"Aku menyukai Sehun, omong-omong," katanya. "She really doesn't even care of your fucking nonsense, does she?"
Tap-tap-tap.
"How do you know she really doesn't fucking care?!"
Tap-tap-tap.
"What the fuck did you told her, Yuri?"
Tap-tap-tap.
"What the fucking nonsense did you told her, Yuri?!"
Tap-tap-tap.
Dia tertawa. "Ya Tuhan, Bisakah kau sedikit rileks. Aku belum pernah melihat kau begini tegang...selama well, belum pernah. Sekarang setelah kau tidak lagi mengenaskan dan sedih, sebenarnya ini cukup menyenangkan."
Statusku dengan Sehun saat ini seperti istana dari kartu. Aku sudah berhasil membangun sendiri beberapa lantai, tapi jika ada satu getaran kecil maka semuanya akan hancur berantakan.
"Shit! Kalau kau mengacaukan ini untukku, aku akan—"
Tap-tap-tap.
"Kau tahu stres menyebabkan rambut beruban terlalu dini. Kalau kau terus begini, kau akan terlihat seperti ayah sebelum berumur tiga puluh."
"Aku senang kau menganggap ini begitu lucu. Tapi aku tidak. Kita bicara tentang kehidupan terkutukku di sini."
Ini menyadarkannya. Kepalanya miring ke samping. Menilaiku. Dan kemudian suaranya tidak lagi meledek. Sekarang lembut, tulus.
"Aku bangga padamu, kau tahu. Kau tetap bertahan. Melanjutkan usahamu sampai selesai. Kau...sudah dewasa." Dia tersenyum lembut. "Tak pernah terpikirkan kalau aku akan melihatnya." Dan kemudian dia memelukku. "Semuanya akan baik-baik saja, Jongin. Aku janji."
Ketika aku berumur delapan tahun, kakekku terkena serangan jantung. Setelah orangtuaku berangkat ke rumah sakit, Yuri berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ternyata tidak.
"Apa Sehun memberitahumu?"
Dia menggeleng. "Tidak secara spesifik."
"Jadi bagaimana kau tahu?"
Dia mengangkat bahu lagi. "Ini karena hormon estrogen. Memberi kami indera keenam. Kalau kau punya vagina, kau pasti juga tahu." (Maksudnya karena perempuan punya feeling yang peka)
Sulli mengangkat tangannya dengan bangga. "Aku juga punya!"
Yuri melotot. Aku menyeringai. "Ya, benar sayang. Dan suatu hari nanti, itu akan membantumu menguasai dunia."
"Temanku Yoo Masoon punya penis. Dia bilang penisnya lebih baik daripada vaginaku."
"Yoo Masoon itu idiot. Vagina mengalahkan penis setiap saat. Mereka seperti batu Kryptonite. Penis tidak berdaya melawan mereka."
Kakakku panik. "Oh tidak, astaga." Memegangi telinga Sulli, mengakhiri diskusi kami. Hahaha, dia yang mulai kan?
"O-okay. Sudah cukup percakapan yang menyenangkan ini. Walaupun aku yakin guru TK Sulli akan senang mendengar semua ini. Sesaat sebelum dia melaporkanku ke Lembaga Perlindungan Anak."
Aku mengangkat tanganku. "Aku hanya mencoba mengatakan apa adanya. Semakin cepat Sulli menyadari kekuasaan yang ia miliki, maka akan semakin baik untuknya."
Aku memeriksa arlojiku. Aku harus menuju ke lantai atas. Aku menatap Sulli. "Berapa dendanya, sayang?"
"Delapan puluh dolar."
Aduh. Aku harus mulai menagih klienku lebih banyak. Atau merancang sejenis rencana pembayaran. Ketika uangnya jatuh ke dalam stoples, Yuri menggandeng tangannya.
"Ayo Sulli, mari kita pergi ke toko American Girl dan menghabiskan uang Paman Jongin."
"Oke!"
Mereka berjalan melintasi lobi tapi berhenti di pintu ganda. Sulli membisikkan sesuatu ke Yuri dan menyerahkan balonnya. Lalu ia berlari kembali ke arahku. Aku mengangkat dan memeluknya dengan erat saat lengan kecilnya memegang bahuku dan meremas.
"Aku menyayangimu, Paman Jongin."
Kalian pernah minum brendi? Biasanya aku lebih suka wiski. Tapi segelas brandy menghangatkan seluruh tubuhmu, dari dalam. Dan itulah yang kurasakan sekarang.
"Aku juga menyayangimu, Sulli."
Dia menarik diri. "Guess what?!"
"Hm..what?"
"Sehun bertanya kalau aku sudah besar aku ingin jadi apa."
Aku mengangguk. "Dan kau bilang padanya kau ingin jadi seorang putri?"
Dahinya berkerut dengan manisnya, dan dia menggeleng. "Aku tidak ingin lagi jadi seorang putri."
"Well, itu melegakan. Lalu kau ingin jadi apa?"
Ia tersenyum lebar. "Seorang bankir."
"Pilihan yang fantastis. Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
Jemarinya bermain dengan kerah bajuku saat dia berkata, "Uhm, Sehun seorang bankir immestasi, dan paman bilang paman akan bangga kalau aku jadi seperti dia. Jadi itulah cita-citaku."
Setelah kata-katanya meresap ke dalam pikiranku, aku bertanya dengan serius, "Sulli? apa kau memberitahu Sehun bahwa paman ingin kau menjadi seperti dia kalau kau sudah besar nanti?"
Kalian lihat senyumnya? Itu bukan senyum seorang anak umur empat tahun. Ladies and gentlemen, itu adalah senyum seorang jenius.
"Ya."
Aku memejamkan mata. Dan tertawa. Aku tak percaya aku tidak memikirkan hal ini. Sulli adalah senjata yang sempurna.
"Sayang," kataku, "Kau memberi bantuan yang sangat besar pada Paman Jongin. Apa pun yang kau mau untuk hadiah Natal? Sebut saja dan itu akan jadi milikmu. Anything you want."
Matanya melebar membayangkan berbagai kemungkinan. Dia melirik kakakku dan kemudian berbisik penuh rahasia, "Bisakah aku punya kuda poni?"
Oh, girl. Aku memikirkannya hanya sedetik.
"Tentu saja."
Dia memelukku lebih kencang dan memekik.
"Tapi...jangan bilang ibumu sampai kudanya dikirim, oke?"
Aku mungkin harus masuk program perlindungan saksi setelah yang satu ini. Sulli mencium pipiku, dan aku menurunkannya ke lantai. Dia melompat-lompat kembali ke Yuri, dan aku melambai ketika mereka berjalan keluar pintu.
.
Aku berjalan ke kantor Sehun seperti tentara menyerbu pantai Normandia. Dia di meja kerjanya sedang menulis dengan cepat di buku tulis kuning.
"Aku kembali. Apa kau merindukanku?"
Dia tidak mendongak. "Sangat."
Sarkasme adalah pertahanan diri yang paling tua. Aku mengikuti permainannya.
"Kutahu aku pelan-pelan mulai meluluhkanmu. Apa yang membuatku berhasil mencapai tujuan? Suster Lee?"
Sehun mendorong mundur dari mejanya dan menyilangkan kakinya. Dia mengenakan sepatu baru. Aku tidak memperhatikan sebelumnya. Sepatu hitam jenis Mary Janes dengan tumit tinggi dan tali di sekitar pergelangan kakinya. Astaga. Itu adalah perpaduan sempurna antara nakal dan indah. Rasa manis dan seks. Kejantananku yang malang dan terlantar mengeliat tak terkendali saat aku membayangkan segala hal fantastis dan semi-ilegal yang bisa kulakukan padanya dengan sepatu itu. Aku tidak pernah punya fetish, tapi aku berpikir untuk memulainya sekarang.
Suara Sehun menyeretku menjauh dari pikiran jorokku. "Tidak. Sebenarnya itu karena kunjungan dari kakakmu. Kehalusan bukan sifat dalam keluargamu, bukan?"
Uh oh. Ini yang kutakutkan.
"Yuri punya masalah psikologis yang mendalam. Dia tidak stabil. Kau tidak seharusnya mendengar apa katanya. Tak seorang pun di keluargaku yang mendengarkannya."
"Dia terlihat benar-benar berpikir jernih saat ada di sini."
Aku mengangkat bahu. "Penyakit mental merupakan hal yang rumit."
Matanya menyipitkan dengan khawatir. "Kau tidak serius, kan?"
Sial. Tidak boleh bohong.
"Secara teknis, dia belum pernah di diagnosa. Tapi ide-idenya tentang keadilan dan balas dendam benar-benar gila. Bayangkanlah Jessi...dengan pengalaman satu dekade lebih banyak untuk menyempurnakan tekniknya."
Wajah Sehun berubah kendur oleh pemahaman itu. "Oh. Dia membawakanku kopi," kata Sehun. "Haruskah aku meminumnya?"
Kami berdua mengamati dengan curiga cangkir Starbucks di mejanya. Saat aku berumur tiga belas tahun, aku melelang pakaian dalam Yuri di ruang ganti anak laki-laki. Ketika Yuri tahu lewat selentingan dari teman perempuannya, ia bersikap tenang, tak pernah membiarkan orang tahu bahwa dia sebenarnya tahu. Dan kemudian Yuri membubuhi Pebbles Coco-ku dengan obat pencahar rasa coklat. Aku tidak meninggalkan kamar mandi selama tiga hari. Sekarang, aku menyadari Yuri tidak menaruh dendam semacam itu terhadap Sehun, tapi masih saja...
"Aku tidak mau."
Sehun mengangguk dengan kaku dan menggeser cangkir menjauh darinya.
"Apa pendapatmu tentang Sulli? Aku sangat ingin ada disini saat kau bertemu dengannya."
Senyumnya hangat dan tulus. "Kurasa dia menakjubkan."
"Aku yakin kau akan senang mendengar dia memakai kalkulatormu padaku saat aku bertemu dengan mereka di lantai bawah."
Senyumnya melebar. "Itu bagus."
Aku menggeleng, dan Sehun berkata, "Aku mengerti sekarang, kenapa Yuri menggunakan Stoples Omongan Jorok, karena kau sepertinya menghabiskan begitu banyak waktu bersama Sulli."
"Apa maksudmu?"
Sehun mengangkat bahu. "Sulli bicara sepertimu. Tidak setiap hari kau mendengar seorang anak umur empat tahun mengatakan 'Prince Charming adalah orang brengsek yang hanya bisa memegang punggung Cinderella'."
Itu baru keponakanku.
"Memaki bagus untuk jiwa."
Sehun menahan tawanya. Dan dia terlihat begitu menggoda, aku tidak bisa menahan diri untuk membungkuk di atas kursinya, memerangkap Sehun dengan lenganku. Obrolan ringan sudah selesai. Saatnya kembali ke bisnis.
"Ikutlah jalan-jalan denganku." Suaraku rendah. Persuasif.
"Tidak mau."
Ternyata sama sekali tidak efektif.
"Ayolah, Sehun, hanya butuh waktu satu menit. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Sehun mendengus. "Apa yang akan kau lakukan? Menyewa rombongan sirkus melakukan pertunjukan di lobi? Menyelenggarakan parade dengan taburan kertas untuk menghormatiku?"
Aku tertawa. "Yang benar saja. Aku tidak akan melakukannya."
Sehun menaikkan satu alis dengan ragu. "Oke, kau benar. Aku akan melakukan itu. Tapi tidak hari ini."
Dia mendorongku mundur dan berdiri. Aku membiarkannya.
"Kau tidak takut, kan?" Tanyaku. "Kau takut tidak akan mampu mengendalikan diri kalau kau sendirian denganku?"
Untuk orang-orang seperti Sehun dan aku, tantangan adalah mirip seperti seorang pelacur di sebuah konvensi pecandu seks. Hampir tidak mungkin pelacur itu akan ditolak.
"Kalau maksudmu aku takut aku akan membunuhmu karena tidak ada saksi mata yang memberi kesaksian melawanku, maka jawabannya ya. Meskipun harus kuakui, hukuman dua puluh tahun sampai seumur hidup sepertinya pengorbanan yang pantas untuk saat itu."
Apakah menurut kalian dia menikmati percakapan intim ini sama seperti diriku? Seharusnya begitu. Dia sangat bagus dalam urusan ini.
Sehun berjalan berputar, memposisikan mejanya di antara kami. "Dengar, Jongin, aku punya klien baru. Aku sudah bilang padamu. Kau tahu itu. Aku tidak sanggup menerima...gangguan yang dapat mengalihkan perhatianku sekarang."
Aku menganggap itu sebagai pujian. "Aku mengalihkan perhatianmu?"
Sehun mendengus gusar. "Bukan itu maksudku." Lalu wajahnya berubah. Dan dia memohon, "Kau harus menghentikan ini—" melambai tangannya di udara "—misi yang sedang kau jalankan. Relakanlah. Kumohon."
Ketika Sunwoo berumur sebelas tahun, ia berlari menabrak pohon selagi permainan bola sentuh di halaman belakang rumahnya dan dahinya robek terbuka. Selama hidupku, aku tak akan pernah lupa suara dia memohon, memohon pada ibunya agar tidak membawanya ke rumah sakit. Karena Sunwoo tahu ia membutuhkan jahitan. Dan jahitan itu menyebalkan. Di usia berapa pun. Tapi ibunya tidak menyerah. Dia tetap membawanya. Karena meskipun Sunwoo takut meskipun itu bukan yang Sunwoo inginkan, ibunya tahu pasti apa yang Sunwoo butuhkan. Kalian mengerti ke mana arah pembicaraan ini?
"Keputusan ada di tanganmu, Sehun. Aku sudah bilang itu padamu sejak awal. Kau ingin aku menyingkir, yang harus kau lakukan adalah kencan denganku pada hari Sabtu."
Dia menggigit bibirnya. Dan menunduk menatap meja. "Oke."
A-apa?Bisa kau ulangi lagi?
"Maaf? Bisa kau ulangi?"
Matanya menatapku. Tampak ragu-ragu tapi pasrah. Seperti seseorang yang menunggu dalam antrian naik rollercoaster. Bertekad untuk naik tapi tidak yakin apa yang akan mereka hadapi. "Aku bilang ya. Aku akan makan malam denganmu hari Sabtu."
Sudah resmi. Kuatkan dirimu. Neraka sebenarnya telah membeku.
"Setelah bicara dengan kakakmu, aku menyadari beberapa hal..."
Kau mencintaiku? Kau membutuhkanku? Kau tidak bisa hidup tanpaku?
"...Kupikir kau memerlukan suatu penutupan, Jongin."
Oh tidak. Bukan penutupan. Apa pun asal jangan penutupan. Penutupanadalah kata yang diciptakan oleh wanita sehingga mereka bisa lebih menganalisis sesuatu dan membicarakan itu sepuasnya. Lalu, setelah didoakan dan dikubur, penutupan memberi mereka alasan untuk menggali keparat malang itu dan membicarakannya lebih banyak lagi. Pria tidak melakukan itu. Tidak pernah. Sudah berakhir. Gambar berubah hitam. Tamat. Itu saja penutupan terkutuk yang kami butuhkan.
"Penutupan?"
Sehun berjalan ke arahku. "Kurasa segala sesuatu diantara kita berawal dan berakhir begitu cepat, kau tak punya waktu untuk menyesuaikan diri. Mungkin kalau kita meluangkan waktu...kalau kita bicara jauh dari kantor...kau akan mengerti bahwa setelah segala hal yang terjadi, yang terbaik yang bisa kita harapkan hanyalah berteman."
Aku cukup yakin maksud Sehun bukan friends with benefits –hubungan dengan status teman yang hanya untuk keuntungan seks- . Dan itu jelas tidak cocok untukku. Seorang pria tidak bisa berteman dengan wanita yang secara aktif dia mempunyai ketertarikan padanya. Tidak juga. Karena pada titik tertentu nafsu akan mengambil alih pikirannya. Nafsu akan berjalan seperti dia dan bicara seperti dia, tapi seperti salah satu orang tolol malang yang terinfeksi makhluk pengisap berwajah aneh di film Alien, pria itu bukan dirinya lagi. Dan sejak saat itu, setiap langkah, setiap gerak tubuhnya akan diarahkan untuk mencapai tujuan dari nafsunya. Yang pasti tidak akan ada hubungannya dengan persahabatan. Memang aku punya teman, Moonkyu, Sunwoo, Chanyeol. Aku tidak ingin bercinta dengan salah satu dari mereka.
"Teman?"
Sehun tidak memperhatikan ekspresi jijikku dengan ide itu. Atau dia memang tidak peduli.
"Ya. Kita harus berkenalan kembali sebagai rekan kerja. Setara. Bukan kencan. lebih mirip seperti pertemuan bisnis di antara para kolega."
Pengingkaran adalah sesuatu yang sangat kuat. Tapi pada saat ini aku akan mengambil apa yang bisa kuperoleh. "Jadi, maksudmu kau akan pergi berkencan denganku pada hari Sabtu? Itu intinya, kan?"
Dia ragu-ragu. Lalu mengangguk. "Ya."
"Sempurna. Jangan katakan apa pun lagi. Aku akan menjemputmu jam tujuh."
"Tidak."
"Tidak?"
"Tidak. Aku yang akan menemuimu."
Menarik. Aku berbicara dengan pelan, "Dengar, Sehun, kutahu kau belum banyak berkencan, mengingat si tolol yang kau sebut pacar itu sudah mengajakmu bertunangan sebelum kau meninggalkan bra trainingmu. Namun dalam kasus ini, si pria—yaitu aku—yang seharusnya menjemputmu—si wanita. Ini adalah hukum yang tidak tertulis."
Lihat bagaimana bibirnya ditekan jadi satu? Bagaimana bahunya menegang? Oh yeah, dia siap bertarung.
"Aku baru saja bilang ini bukan kencan."
Aku mengangkat bahu. "Itu tergantung interprestasi."
"Katakan saja secara hipotetis itu adalah kencan. Ini akan menjadi kencan pertama. Dan aku tidak akan pernah mengijinkan seorang pria yang tidak kukenal datang ke apartemen menjemputku untuk kencan pertama."
Aku mengusap rambutku. "Itu tidak masuk akal. Kau kenal aku. Kita berdua pernah melakukan posisi enam sembilan. Menurutku kau cukup baik mengenalku."
"Dengar, ini adalah persyaratanku. Kalau kau tidak bisa menerimanya, kita bisa saja melupakan semua—"
"Tunggu, tunggu. Jangan gegabah. Aku menurut. Kau bisa menemuiku di apartemen. Jam tujuh. Tepat."
"Oke."
"Tapi aku punya beberapa persyaratan sendiri."
Dia bereaksi dengan marah terhadap ucapanku. "Aku tidak akan berhubungan seks denganmu!"
Aku memaksakan diri agar terlihat kaget. "Aku terluka. Sungguh. Siapa bilang ada hubungannya dengan seks? Aku tidak akan pernah mewajibkan seks sebagai bagian dari kesepakatan kita." Lalu aku tersenyum. "Ini opsional. Berpakaian juga termasuk."
Sehun memutar matanya. "Hanya itu?"
"Tidak."
"Apa lagi yang kau mau?"
Oh, sayang. Jika saja dia tahu. Meskipun mungkin lebih baik dia tidak tahu. Aku tidak ingin menakut-nakutinya.
"Aku ingin kencan empat jam. Paling sedikit. Tanpa terganggu. Aku ingin percakapan, makan malam—makanan pembuka, hidangan utama, hidangan penutup. anggur, dansa..."
Dia mengangkat tangannya. "Tidak ada dansa."
"Satu dansa. Itu tidak bisa ditawar."
Dia menatap langit-langit, mempertimbangkan pilihannya. "Baik. Satu kali dansa." Dia menunjukkan jarinya padaku. "Tapi jika tanganmu mendekati pantatku, aku keluar dari sana."
Sekarang giliranku memikirkannya lagi. "Well... oke. Tapi kalau kau mengingkari salah satu ketentuanku, aku berhak meminta pengulangan."
Dia menunggu sesaat. Matanya menyipit penuh curiga. "Dan kau tidak akan menggangguku sepenuhnya sampai hari Sabtu? Tidak ada pendeta muncul untuk menyapa halo? Tidak ada patung-patung es mencair di depan pintuku?"
Aku menyeringai. "Itu akan seperti kita tidak pernah bertemu. Seperti aku bahkan tidak bekerja di sini."
Kemungkinannya karena aku tidak akan berada di sini. Aku akan menjadi cowok yang super sibuk.
Sehun mengangguk. "Oke."
Aku mengulurkan tanganku. Sehun menjabatnya dan berkata, " Sepakat."
Aku membalik tangannya dengan lembut dan mencium punggung tangannya seperti saat malam pertama kami bertemu. "Ini kencan."
Apakah kalian pernah berjalan ke ruangan untuk mengambil sesuatu, tapi begitu sampai di sana, kalian tak tahu untuk apa datang kesana? Bagus. Kalau begitu kalian mengerti kenapa aku berbalik dan mulai berjalan keluar dari ruangan.
Sampai suara Sehun menghentikanku. "Jongin?"
Aku berpaling ke arahnya. "Ya?"
Wajahnya tertunduk. "Aku tidak...Aku tidak suka menyakiti orang lain. Jadi...jangan berharap terlalu banyak tentang hari Sabtu."
Sebelum aku bisa membuka mulut, pergerakan dari luar jendela menarik perhatianku. Dan aku tidak bisa percaya aku nyaris melupakan ini. Tanpa bicara, aku berjalan mendekat dan memegang tangan Sehun. Aku membawanya ke jendela dan berdiri di belakangnya, meletakkan tanganku di bahunya. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya. Nafasku membuatnya bergidik. Dengan cara yang nikmat.
"Sudah terlambat."
Aku ingin ini menjadi sederhana. Sesuatu yang akan diukir di pohon atau lukisan semprot di dinding jika kita masih remaja. Tapi aku membutuhkan sesuatu yang jelas. Sebuah pernyataan. Mengatakan kepada Sehun dan setiap wanita lain di luar sana bahwa aku, Kim Jongin, aku sudah keluar lapangan pertandingan.
Sehun terkesiap ketika dia melihatnya. Di atas langit sana, dalam huruf putih besar, untuk dilihat orang di seluruh kota...
.
.
KIM JONGIN
OH SEHUN
FOREVER
.
.
(AN : alay ya xD tapi aslinya emng begitu, di novelnya malah di gambar pake tulisan asap loh/?)
Selalu keluar sebagai pemenang. Sudahkah kukatakan ini pada kalian? Belum pernah? Baik, aku beritahu kalian sekarang. Aku tidak peduli jika kalian seorang pengusaha, penyanyi, atau pembawa acara televisi papan atas, buat mereka menginginkan lebih. Jangan pernah melakukan lebih dari yang seharusnya. Kalian selalu bisa kembali nanti untuk penutupan, tapi begitu mereka bosan denganmu, itu tidak bisa ditarik lagi.
Aku mencium ujung kepalanya. "Sampai ketemu hari Sabtu, Sehun."
Dan dia masih menatap keluar jendela saat aku berjalan keluar.
.
Jangan khawatir, pertunjukan belum selesai. Aku masih punya beberapa trik tersembunyi yang siap dipakai, dan aku selalu menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Kalian pasti tidak akan mau ketinggalan yang satu ini.
Aku langsung menuju ke meja Krystal. "Aku ingin kau menghubungi toko bunga lewat telepon. Dan Sehunring. Juga membuat janji temu untukku malam ini, dengan desainer interior yang kita bicarakan kemarin."
Dia mengangkat telepon dan menghubungi. "Aku sedang melakukannya."
Ya, kubilang desainer interior. Kalian tidak tahu buat apa, kan? Ini grand final. Langkah Kemenanganku. Kalian akan lihat nanti. Saat malam Minggu.
.
Lihat pria gagah nan tampan memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan lengan tergulung setengah? Orang yang menata piring porselen di atas meja? Itulah aku. Kim Jongin. Well, tidak lagi. Bukan diriku yang dulu. Ini adalah diriku yang baru dan ditingkatkan. Bisakah kalian tebak apa kepanjangannya? Setengah wanita di kota ini akan memberikan payudara kirinya untuk menjadi diriku sekarang. Aku sudah bertekuk lutut. Terobsesi. Jatuh cinta. Tapi hanya ada satu wanita yang mampu memposisikan aku di sini.
Sekarang aku hanya perlu menunjukkan padanya bahwa aku akan tetap tinggal. Aku belum melihatnya selama dua hari. Dua hari yang panjang dan menyiksa. Tidak separah seperti kejadian tujuh hari itu, tapi nyaris. Omong-omong, lihatlah ke sekeliling ruangan. Bagaimana menurut kalian? Apa ada yang kurang?
Bunga-bunga segar menutupi seisi ruangan. Aster putih. Dulu kupikir melihat bunga aster akan mengingatkan Sehun tentang Luhan, tapi aku sekarang tidak khawatir soal itu. Aster putih adalah bunga favorit Sehun, jadi bunga itu hanya cocok di sini. Suara Bocelli mengalun lembut pada sound system. Lilin menerangi ruangan. Ratusan lilin di dalam dinding kaca. Kalian tidak bisa melewatkan lilin. Lilin membuat semua orang terlihat lebih baik. Lilin membuat segalanya berbau lebih enak.
Tok-tok-tok.
Itu pasti Sehun. Tepat waktu. aku mengamati ruangan sekali lagi. Ini dia. Pertandingan Super Bowl-ku. Pertandingan final. Dan semuanya sudah siap. Aku siap. Sangat siap. aku menghembuskan napas panjang. Dan membuka pintu. Dan kemudian aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa berpikir. Bagaimana dengan bernapas? Itu bukan salah satu pilihan.
Rambut hitam Sehun disanggul tinggi di atas kepalanya. Sulur elegan menyentuh lehernya, membelai titik di mana aku pernah menghabiskan waktu selama berjam-jam mengigitnya belum lama ini. Gaunnya berwarna merah tua mengkilap, mungkin dari bahan satin. Gaun Sehun tergantung oleh tali halus yang melintasi bahunya dan turun ke bawah punggungnya. Ujung gaun bagian bawah berhenti di atas lutut, memamerkan kaki mulusnya inci demi inci. Dan sepatunya...Sehun memakai sepatu dengan hak yang sangat tinggi, dihubungkan oleh tali hitam rumit yang diikat di bagian belakang pergelangan kakinya.
Ketika aku sudah mampu mengucapkan kata-kata, suaraku serak. "Adakah cara agar kita bisa menegosiasi ulang persyaratan dilarang memegang pantat? Karena aku harus memberitahumu, kau memakai gaun itu? Ini akan sulit."
Dan itu bukan satu-satunya kesulitanku, jika kalian mengerti maksudku.
Dia tersenyum dan menggeleng. "Semua ketentuan masih berlaku."
Aku mundur saat Sehun berjalan masuk, melihatku melalui sudut matanya. Perhatikan wajahnya lebih cermat. Lihat bagaimana matanya berubah menjadi gelap? Bagaimana ia menjilati bibir tanpa menyadarinya? Seperti singa betina yang baru saja melihat seekor rusa di rerumputan yang tinggi. Sehun suka dengan apa yang dilihatnya. Dia ingin memujiku. Dia ingin mengucapkannya, tapi dia tidak mau. Ini adalah Sehun yang sedang kita bicarakan di sini. Sehun pasca kekacauan akibat ucapan penghinaan yang kusesali. Meskipun sudah terjadi kemajuan untukku, dia masih defensif. Sulit percaya. Waspada. Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Matanya menjelaskan segalanya padaku apa yang tidak mau dia katakan.
Aku membawa Sehun ke ruang tamu, dan dia menggigit bibirnya saat bertanya, "Jadi, kita mau kemana?"
Kemudian dia berhenti mendadak ketika melihat lilin. Bunga-bunga. Dan meja sempurna yang ditata untuk dua orang.
Kukatakan dengan lembut, "Kita sudah ada di sini."
Dia memandang ke sekeliling ruangan. "Wow. Ini...sangat cantik, Jongin."
Aku mengangkat bahu. "Ruangan ini bagus. Kau yang cantik."
Dia tersipu. Dan ini menakjubkan. Aku ingin menciumnya. Sangat ingin.
Kalian pernah kehausan? Benar-benar kehausan? Seperti di siang musim panas dengan suhu tiga puluh tujuh derajat celcius hingga kalian tak punya cukup ludah di mulut bahkan untuk menelan? Kini bayangkan seseorang menaruh segelas air es di depanmu. Dan kalian dapat melihatnya, dan bayangkan betapa sempurna air es itu rasanya namun kalian tidak bisa menyentuhnya. Dan pasti tidak bisa meminumnya. Keadaan itu mirip seperti yang sedang kualami sekarang.
Aku mengalihkan pandanganku menjauh dari wajah Sehun dan menyerahkan segelas anggur merah. Lalu aku meneguk anggurku sendiri.
"Apa yang terjadi dengan jarimu?" Dia menunjuk pada plester luka yang menutupi empat dari sepuluh jariku.
"Gara-gara jamur. Bajingan kecil seperti spon itu tidak menghargaiku saat diiris."
Dia terlihat kaget. "Kau memasak?"
Aku berencana membawa Sehun ke restoran. Yang terbaik di kota ini. Tapi Sehun segalanya tentang kualitas, ingat? Dan kupikir dia akan lebih menghargai usahaku dibanding segala masakan koki gourmet yang bisa mereka sajikan.
Aku tersenyum. "Aku punya banyak bakat. Kau hanya pernah melihat segelintir."
Aku minta bantuan Moonkyu sebenarnya, dia bilang dia punya teman koki jadi aku memintanya mengirimkan padaku bagaimana tutorial memasak
Sehun dan aku duduk di sofa. "Jadi...bagaimana kabar di kantor?"
Dia meneguk anggur dan mengusap kerutan yang sebenarnya tidak ada di pakaiannya. "Bagus. Keadaan berjalan baik. Kau tahu...tenang."
"Dengan kata lain, kau bosan setengah mati tanpaku."
"Tidak. Hariku berjalan...produktif. Aku sudah menyelesaikan banyak hal."
Aku mencibir. "Kau merindukanku."
Dia mendengus. "Aku tidak bilang begitu."
Dia tidak perlu mengatakannya. "Ayolah, Sehun, aku sudah bersumpah untuk jujur di sini. Cukup adil kalau kau melakukan hal yang sama." Aku membungkuk. "Tatap mataku dan katakan kau tidak memikirkan tentang aku sama sekali dalam beberapa hari terakhir."
"Aku—"
Buzzzzz...buzzzzz...buzzzzz.
Makan malam sudah siap. Sehun meneguk lagi anggur dari gelasnya.
"Kau harus mengeluarkannya, Jongin. Jangan sampai nanti gosong."
Dan Sehun diselamatkan oleh bel. Untuk sementara.
.
Ayam Marsala yang kubuat terlihat unik...sekarang setelah keluar dari oven dan ada di atas piring kami. Kuakui, sebenarnya ini sangat menakutkan. Alis Sehun berkerut saat ia mendorong gumpalan berwarna cokelat seperti dia sedang membedah katak di kelas biologi.
"Apa kau mencampur tepung dengan air sebelum memasukkan adonannya?"
Air? Moonkyu tidak mengatakan apa pun tentang air. Kurang ajar. "Kau tahu, Jongin, beberapa masakan terbaik dalam sejarah kuliner terlihat menjijikkan. Penyajian tidak diperhitungkan terlalu banyak. Semuanya tentang rasa."
"Benarkah?"
Dia mengambil garpu, dan mengambil napas dalam-dalam. "Tidak. Aku hanya berusaha membuatmu merasa lebih baik."
Aku menatap piring. "Terima kasih atas usahanya."
Sebelum Sehun menggigitnya, Aku mengulurkan tangan ke seberang meja dan menahan tangannya. "Tunggu. Aku yang coba lebih dulu."
Dengan begitu, jika makanan ini membuatku jatuh pingsan seperti makan ikan buntal, setidaknya salah satu dari kita masih sadar untuk memanggil 911. Ditambah, kalau aku dirawat di rumah sakit, kurasa ada peluang besar Sehun akan kasihan dan mau bercinta denganku. Dan jangan berpikir sedetik pun aku akan menolaknya. Dalam sekejap aku akan menerimanya. Aku mencoba tidak bernapas melalui hidung ketika menggigitnya.
Sehun menatapku. Saat aku mengunyah.
Kemudian aku pelan-pelan mulai tersenyum. "Lumayan."
Dia tampak lega. Bahkan mungkin sedikit bangga. Dia menggeser garpu ke bibirnya. Kemudian mengangguk. "Benar-benar enak. Aku kagum."
"Ya. Aku sering mendengarnya."
Sepanjang makan, percakapan kami mengalir dengan ringan. Nyaman. Aku menjaga topik pembicaraan tetap aman. Kami bicara tentang kliennya baru, hubungan Moonkyu dan Jessi yang sedang berkembang, dan tingkah konyol tanpa akhir para politikus yang terjadi di Seoul.
Untuk hidangan penutup, aku menyajikan stroberi dan krim. Stroberi adalah favorit Sehun. Aku mengetahuinya dari Lost Weekend kami. Awalnya, aku memilih untuk membuat kue stroberi. Tapi kalian tidak ingin tahu bagaimana hasil akhirnya. Kurasa bahkan Moonkyu pun tidak mau memakannya. Ketika Martha mengatakan aduk terus, dia tidak main-main. Sementara kami menikmati sajian terakhir, aku menyinggung hadiah untuk Sulli pada Natal mendatang.
Sehun tertawa. Tidak percaya. "Kau tidak sungguh-sungguh mau membelikan Sulli kuda poni, kan?"
"Tentu saja aku sungguh-sungguh. Dia seorang gadis kecil. Setiap gadis kecil harus punya kuda poni."
Sehun meneguk anggurnya. Kami sudah menghabiskan setengah botol kedua.
"Dan aku akan membeli salah satu kereta kuda seperti yang ada di Central Park. Dengan begitu kudanya bisa mengantar dia ke sekolah."
"Ini Seoul, Jongin. Dimana mereka akan memeliharanya?"
"Mereka punya kondominium lima kamar. Dua kamar yang dipenuhi dengan sampah tak berguna milik Yuri. Kurasa mereka bisa membersihkan satu kamar dan membuatkan ruangan untuk kuda poni."
Dia menatapku dengan ekspresi datar. "Ruangan untuk kuda poni?"
"Ya. Kenapa tidak?"
"Bagaimana caranya mereka membawa masuk ke lantai mereka?"
"Lift barang. Semua bangunan tua memilikinya."
Dia duduk menyandar di kursinya. "Well, kau sudah memikirkan segalanya, bukan?"
Aku meneguk minumku. "Aku selalu melakukannya."
"Sudahkah kau memikirkan tentang metode apa yang akan kakakmu pakai untuk membunuhmu?"
"Aku yakin dia akan mengejutkanku. Maukah kau membelaku ketika dia mencobanya?"
Sehun menyentuh gelas anggurnya dan melirik ke arahku dibalik bulu mata panjangnya. "Tidak mau, Pony Boy. Yuri lebih besar daripada aku. Kau sendirian."
Aku meletakkan tanganku di jantungku. "Aku hancur."
Dia tak percaya. "Kau akan bisa melupakannya."
Tawa kami memudar menjadi senyuman rileks. Dan aku puas hanya untuk memperhatikan Sehun sejenak. Dia juga menatapku. Kemudian dia berdeham dan berpaling. "Ini CD yang bagus."
Dia membicarakan musik yang sudah bermain sebagai pengiring selama beberapa jam terakhir.
"Aku tidak bisa menerima semua pujian. Teman-teman membantuku membakarnya."
Seperti sudah direncanakan, lagu "I Touch Myself" oleh Divinyls mengalir dari speaker.
"Chanyeol yang memilihkan lagu ini."
Sehun tertawa, dan aku berdiri dan menekan tombol pemutar CD, mengganti lagunya.
"Dan karena kemungkinan besar aku hanya punya waktu hidup beberapa minggu—" Aku mengulurkan tangan kearah Sehun "— dapatkah aku berdansa denganmu?"
Sebuah lagu baru mengisi ruangan, "Then" oleh Brad Paisley. Aku sebenarnya tidak suka musik country, tapi Brad cukup keren. Dia seorang pria sejati, bahkan untuk seorang penyanyi.
Sehun meraih tanganku dan berdiri. Lengannya melingkari leherku. Dan tanganku memegang pinggangnya, aku berusaha untuk tidak meremas. Dengan lembut, kita mulai bergoyang. Aku menelan ludah saat matanya yang bulat dan gelap menatapku tanpa frustrasi, marah atau sakit hati. Matanya sepenuhnya hangat, seperti cokelat cair. Dan lututku menjadi lemas. Tanganku bergerak keatas menelusuri tulang punggungnya sampai ke belakang kepalanya. Sehun menyandarkan pipinya dan meletakkan kepalanya di dadaku. Dan aku menarik tubuh Sehun kearahku semakin dekat, semakin erat. Aku ingin memberitahu kalian seperti apa rasanya. Dapat memeluknya lagi. Bisa melingkarkan lenganku di tubuhnya, akhirnya, dan tubuh Sehun menekan tubuhku. Aku ingin mengatakannya, tapi aku tidak bisa. Karena tidak ada kata yang penggambarnya bahkan mampu mendekati apa yang kurasakan saat ini. Aku menghirup aroma bunga manis dari rambutnya. Kalau racun dalam kamar gas berbau seperti Sehun maka setiap terpidana mati akan meninggal dengan senyum di wajahnya.
Sehun tidak mengangkat kepalanya saat ia berbisik, "Jongin?"
"Mmmm?"
"Aku ingin kau tahu...Aku memaafkanmu...atas apa yang kau ucapkan waktu itu di kantormu. Aku percaya padamu, bahwa kau tidak bermaksud begitu."
"Terima kasih."
"Dan, kalau diingat lagi, aku sadar tidak membantu memperbaiki situasinya. Aku seharusnya mengatakan sesuatu, memberimu...kepastian tentang bagaimana perasaanku...sebelum aku pergi bicara dengan Luhan. Aku minta maaf kalau aku tidak melakukannya."
"Aku menghargainya."
Dan kemudian suaranya berubah, menjadi lebih rendah. Sedih.
"Tapi itu tidak mengubah apa pun."
Ibu jariku menyapu bolak-balik melintasi kulit telanjang lehernya. "Tentu saja tidak. Itu mengubah segalanya."
Dia mengangkat kepalanya. "Aku tidak bisa melakukan ini denganmu, Jongin."
"Ya, kau bisa melakukannya."
Sehun menatap dadaku saat mencoba menjelaskan. "Aku punya tujuan. Aku telah bekerja keras untuk tujuan itu, berkorban demi tujuan itu."
"Dan aku ingin melihat kau mencapai tujuanmu, Sehun. Aku ingin membantu mewujudkan impianmu jadi kenyataan. Setiap tujuan."
Sehun mendongak. Dan matanya memohon sekarang, memohon pengertian. Memohon belas kasihan.
"Ketika Luhan putus denganku, aku sangat sedih. Sungguh menyakitkan. Tapi aku mampu untuk terus maju. Aku tidak berhenti. Sedangkan denganmu...keadaannya berbeda. Ini...lebih dalam. Dan aku tidak terlalu bangga untuk mengakui bahwa jika tidak berhasil, aku takkan mampu memulihkan diri dan melanjutkan hidupku. Kau bisa...Kau bisa menghancurkanku, Jongin."
"Tapi aku tidak akan melakukannya." Aku mengelus pipinya. Dan Sehun menyandarkan pipinya ke tanganku. "Aku tahu seperti apa rasanya menganggap bahwa aku telah kehilanganmu, Sehun. Dan aku tak pernah ingin merasakan seperti itu lagi. Aku pria yang tahu apa yang diinginkannya, ingat? Dan aku menginginkanmu."
Sehun menggeleng perlahan. "Kau menginginkanku malam ini. Tapi bagaimana—"
"Aku ingin kau malam ini, dan aku akan menginginkanmu besok dan hari berikutnya. Dan sepuluh ribu hari setelah itu. Bukankah kau sudah membaca tulisan yang ada di langit?"
"Kau mungkin akan berubah pikiran."
"Aku mungkin bisa disambar petir. Atau mungkin dimakan ikan hiu. Dan keduanya jauh lebih mungkin terjadi padaku dibandingkan hari ketika aku tidak lagi menginginkanmu. Percayalah."
Dan kurasa itu masalahnya, bukan?
Sehun memandangku selama beberapa saat, lalu pandangannya jatuh ke lantai. Lagunya berakhir. Dan dia mulai menarik diri. "Maafkan aku, Jongin. Aku...tidak bisa."
Aku mencoba untuk bertahan. Seperti seorang pria yang tenggelam mencengkeram pelampungnya.
"Sehun..."
"Aku harus pergi."
Tidak tidak tidak tidak kehilangan Sehun.
"Jangan lakukan ini."
Matanya mengeras seperti lava cair saat mendingin menjadi batu hitam. "Waktumu sudah hampir habis. Malam ini indah. Tapi..."
Ini tidak mungkin terjadi. Ini seperti pertandingan football saat receiver tim kalian gagal menangkap bola padahal masih tertinggal tiga poin dengan sisa waktu hanya dua puluh detik. Sehun berbalik menghadap pintu. Tapi aku meraih lengannya dan memaksa Sehun untuk menatapku. Suaraku terdengar putus asa. Karena memang begitu.
"Tahan dulu. Kau tidak bisa pergi sekarang. Ada satu hal lagi yang harus kutunjukkan padamu. Beri aku sepuluh menit lagi. Kumohon, Sehun."
Lihatlah wajahnya. Sekarang. Sehun ingin tetap berada disini. Tidak. Sehun ingin aku meyakinkannyauntuk tetap disini. Memberi dia alasan untuk percaya padaku lagi. Dan jika ini tidak berhasil, tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa berhasil.
"Oke, Jongin. Sepuluh menit lagi."
Aku menghembuskan napas panjang. "Terima kasih."
Aku melepaskan lengannya, meraih syal sutra hitam dari kursi dan mengangkatnya. "Kau tidak boleh melepas syal ini sampai aku memberitahumu, oke?"
Wajahnya diliputi rasa curiga. "Apa ini semacam seks yang aneh?"
Aku terkekeh. "Tidak. Tapi aku suka cara pikirmu."
Dia memutar matanya ke langit-langit tepat sebelum aku menutupinya dengan syal, dan dunia yang dia kenal berubah menjadi gelap.
.
.
.
TBC
.
.
.
Makasih untuk yang selalu ngasi semangat dan review di chap2 sebelumnya. Terimakasih juga sider yg memutuskan utk ngasi review. Jujur sebenarnya sedih kadang liat review gitu ga nyampe sepuluh kadang. Kesal aja gitu, mungkin ff ini gak terlalu diminati. Author juga cape ngeremake nya, taulah bahasanya sulit, udh diedit juga masi ada aja yg ga ngerti. Ini author yg payah apa reader yg oon/? Heheh mian.
Makasih banyak ya yg udah selalu ngikutin ff ini dari awal, yg suka dan yg selalu menantikan ff ini. Kkkk author sampe hafal unamenya, author emng ga bls review tp author baca review berulang2 biar semangat. Beberapa chap belakangan author selalu cpt update kan? Emang rencana mau selesaikan ini sebelum puasa, dan itu buat kalian yg selalu nungguin, yg selalu buat hati author berbunga2 baca reviewnya eaaaa kkkk xD
