.

.

.

Accident

.

Chapter 14 : Aku rindu.

.

KTH + JJK

.

T+

.

Romance, Drama, Humor

.

Written by Stepstephiie ©2018

.

.

PRESENT

.

"Ahjussi kau yang benar saja!"

Dipagi hari yang masih dibilang- sangat pagi, sudah terdengar keributan didalam mansion milik keluarga Kim, lebih tepatnya didalam kamar milik laki-laki berstatus duda dengan dua orang anak, Kim Taehyung.

"Jeon Jungkook kecilkan suaramu, ini masih pagi."

"Justru karena ini masih terlalu pagi kau sudah menyulut emosiku!" Taehyung mendengus kesal, menatap jengah ke arah Jungkook yang tengah terduduk diatas ranjangnya dan menatapnya dengan penuh emosi.

"Aku tidak punya pilihan lain, aku harus pergi sekarang Jungkook." Kali ini giliran Jungkook yang mendengus kesal.

"Seharusnya kau katakan masalah ini dari semalam!" Taehyung memejamkan matanya sejenak, mencoba mencari stock sabar yang dia miliki agar tidak ikut tersulut emosi menghadapi Jungkook.

Menghadapi Jungkook yang tengah emosi dengan emosi juga malah akan menimbulkan kebakaran nanti. Jadi sebagai seseorang yang jauh lebih dewasa, Taehyung menapas napasnya sejenak dan menghempuskan napasnya perlahan bersama emosinya.

"Aku baru mendapat informasi ini tengah malam tadi Jungkook, dan sekarang aku benar-benar harus pergi kesana." Ucap Taehyung selembut mungkin.

"Kau lebih memilih pekerjaanmu daripada aku yang sedang sakit ini?" Aduh! Pertanyaan macam apa ini.

Taehyung memijit tipis keningnya, mendengar teriakkan Jungkook dipagi hari itu benar-benar bukan sesuatu yang baik.

"Jika aku tidak bekerja bagaimana aku akan menghidupimu nanti, bagaimana aku bisa menuruti semua kemauanmu, dan bagaimana aku bisa membelikanmu mobil yang kau inginkan. Hhm?" Dan ucapan yang dilontarkan Taehyung begitu tepat sasaran membuat Jungkook terdiam seketika.

"Tapi kau pergi lama sekali." Cicit Jungkook setengah merengek.

"Ya Tuhan, Jungkook. Aku hanya pergi ke jepang selama seminggu." Ucap Taehyung frustasi.

"Seminggu itu lama Ahjussi, bagaimana jika aku merindukanmu? Kau bisa memberikanku solusi atas masalahku itu, huh?"

Sekali lagi, dipagi hari pukul- lima lewat tiga puluh menit, Taehyung menahan napasnya sejenak dan menghembuskannya perlahan.

Meninggalkan kegiataannya yang memasukkan beberapa lembar pakaian kedalam tas yang akan dibawanya dan berjalan menghampiri Jungkook, mendudukkan tubuhnya disisi ranjang tepat disamping Jungkook yang menatapnya memelas.

"Hanya seminggu. Hanya seminggu, kau harus menahan rasa rindumu dan setelahnya aku milikmu sepanjang waktu. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, meminta apapun yang kau inginkan. Aku milikmu, aku berjanji Jungkook."

Jungkook tidak menjawab, melainkan menghamburkan tubuhnya kedalam dekapan Taehyung dan memeluknya dengan sangat erat.

Taehyung tersenyum tipis, membalas dekapan itu dengan lembut. Tangan kirinya merambat naik keatas kepala Jungkook dan membelai surai legam itu perlahan-lahan.

"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak merindukkanmu, Ahjussi." Cicit Jungkook pelan dalam dekapan Taehyung.

Taehyung terkekeh, "Tidak apa-apa, aku menyukainya."

"Pulanglah secepat yang kau bisa," Taehyung mengangguk, "Akan ku usahakan."

"Jangan lupa menghubungiku," Taehyung mengangguk kembali, "Jika aku memiliki waktu luang."

Jungkook melepaskan pelukannya dan menatap Taehyung tajam, menimbulkan kerutan kecil dikening Taehyung yang tidak mengerti dengan tatapan yang diberikan Jungkook.

"Jangan coba-coba untuk selingkuh dibelakangku." Ancam Jungkook membuat Taehyung tergelak dengan suara tawanya yang berat.

"Selingkuh? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu," Ucap Taehyung tenang.

"Aku bahkan masih tidak percaya bahwa kau akan menjadi calon istriku nanti." Sambung Taehyung terkekeh geli saat melihat mata Jungkook yang sudah besar semakin membesar menatapnya.

Sungguh, Jungkook yang merengut kesal itu benar-benar menggemaskan dimata Taehyung.

"Ish, dasar Ahjussi tua menyebalkan!" Ucap Jungkook setengah berteriak, wajahnya semakin merengut kesal saat Taehyung tertawa dengan gamblang tepat di depan wajahnya.

Masih dengan wajah kesalnya karena melihat Taehyung yang mengejeknya, Jungkook mengambil bantal dibelakang tubuhnya dan melemparnya tepat mengenai wajah Taehyung.

Sekarang posisi berbalik, dimana Jungkook yang tertawa penuh ejekkan dan Taehyung yang merengut kesal karena terkena lemparan bantal dari bocah itu.

"Yak! Jeon Jungkook." Jungkook menjulurkan lidahnya meledek Taehyung tanpa memperdulikan amarah laki-laki itu.

"Jangan teriak-teriak kau sudah tua, mudah terkena serangan jantung nanti." Sudut mata Taehyung mendelik tajam ke arah Jungkook yang sedang menampilkan cengiran polosnya.

Taehyung mendecah kesal dan mengalihkan pandangannya dari Jungkook. Sedangkan Jungkook mencibir dalam diam melihat tingkah Taehyung yang terlihat seperti anak-anak dimatanya, mudah merajuk.

'Dasar tua, bahas seperti itu saja sudah marah,'Pikir Jungkook.

"Sini kurapikan rambutmu," Jungkook memegang kedua sisi pipi Taehyung dan mengarah wajah laki-laki itu agar menatapnya.

Tangan Jungkook merambat naik merapikan rambut Taehyung yang sedikit berantakan karena lemparan bantalnya.

Sedangkan Taehyung menatap Jungkook dalam diam, memperhatikan bagaimana pemuda manis itu merapikan rambutnya dengan terlatih seolah sudah sering melakukannya.

Jungkook yang merasa diperhatikan menghentikan kegiatannya dan membalas tatapan tersebut.

"Kau bisa jatuh cinta jika melihatku seperti itu Ahjussi."

"Masalah memangnya jika aku mencintaimu?"

"Tentu saja tidak. Itu lebih baik, jadi aku tidak perlu harus memaksamu untuk menikahiku." Kekeh Jungkook membuat Taehyung tersenyum melihatnya.

"Jangan tebar pesona dengan senyum itu disana," Dengus Jungkook tiba-tiba, "Rekan bisnisku tidak ada yang wanita Jungkook."

Jungkook mencibir, "Kau itu sudah menyimpang sekarang Ahjussi, jadi laki-laki disanalah yang aku khawatirkan." Dan Taehyung tertawa melihat bagaimana bocah itu mencebikkan bibirnya kesal, manis sekali.

"Tidak ada yang semanis dirimu. kau yang termanis dari yang termanis, Sayang~"

Dan pipi Jungkook total memerah begitu mendengarnya. Tangannya mendorong dada Taehyung agar segera menyingkir dari hadapannya.

"Cepatlah pergi, kau akan terlambat nanti." Taehyung tersenyum tipis melihat bagaimana seorang Jeon Jungkook yang barbar bisa merona dengan begitu menggemaskannya.

Dan Taehyung tidak kuasa untuk tidak menambahkan lagi rona kemerahan dipipi Jungkook saat dirinya mendaratkan bibirnya tepat dikening Jungkook yang masih terbalut oleh perban.

"Jaga dirimu baik-baik Jungkook. Tunggu aku seminggu lagi dan,"

"Aku juga pasti akan merindukanmu."

.

.

.

Jungkook mengguling-gulingkan tubuhnya diatas ranjang milik Taehyung dengan tangannya yang memeluk bantal dengan erat. Sesekali kekehan kecil keluar dari bibir tipis di sertai rona kemerahan yang menghiasi kedua pipinya.

Ayolah! Jungkook terlihat seperti remaja kasmaran sekarang. Dia bahkan melupakan bahwa Taehyung pergi dengan menitipkan kedua anaknya yang masih kecil padanya.

"Mommy~"

Jungkook terlonjak kaget dan langsung mendudukkan tubuhnya merasa terkejut akan kehadiran sosok yang berdiri didepan pintu sembari mengusap kedua matanya yang terlihat masih mengantuk.

"Taejung, Kau sudah bangun?" Anak yang dipanggil Taejung itu mengangguk.

"Mommy, Taejung lapar~" Dan sepertinya inilah awal dari permulaan hidup Jungkook yang baru.

.

.

.

"Mommy Kookie Hyung, apa masih lama?" Tanya Mason, tangan kanannya menahan wajahnya dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja makan dengan bosan.

"Diam." Singkat Jungkook.

Mason menghembuskan napasnya malas, "Ini sudah lewat lima belas menit hanya untuk kau memecahkan satu butir telur, mom."

Jungkook mendelik tajam ke arah Mason yang langsung membuat gerakan menutup mulutnya.

"Bagaimana caranya aku memecahkan telur tanpa harus menghancurkan kuning telurnya." Bisik Jungkook pelan.

Jungkook menjentikkan jarinya seolah mendapat sebuah ide, "Ah, kenapa aku bodoh sekali, untuk apa ada naver jika dia tidak bisa membantuku mengatasi masalah ini."

Dan Mason benar-benar membenturkan keningnya ke atas meja makan saat melihat calon mommy barunya itu mengeluarkan ponselnya dan melakukan apa yang dia katakan tadi.

Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam lebih didalam dapur Jungkook akhirnya selesai. Meletakan roti bakar yang berwarna hampir hitam dan telur yang hampir berwarna serupa dihadapan kedua anaknya itu.

Mason sedikit meringis, sedangkan Taejung hanya terdiam menatap sarapan mereka pagi hari ini membuat Jungkook mendengus melihat ekspresi kedua bocah itu.

"Aku tidak yakin ini akan enak, ah tidak- tapi memang pasti tidak enak. Jadi lebih baik ini dibuang saja." Jungkook berniat mengambil kembali sarapan yang dibuatnya sebelum tangannya lebih dulu ditepis oleh kedua anaknya itu.

"Ini buatan mommy khusus untukku, bagaimana mungkin aku membiarkan mommy membuangnya begitu saja." Taejung berucap dengan sedikit merengut kesal.

"Taejung itu tidak layak makan." Jungkook mendesis.

"Ini makanan pertama yang dibuat oleh mommy selama hidupnya dan itu hanya untuk kita, bukankah kita harusnya merasa bangga Taejung?" Tanpa memperdulikan ucapan Jungkook, Mason bertanya kepada Taejung yang menganggukkan kepalanya dengan semangat menyetujui ucapan Hyungnya.

Kaki kecil Taejung mencoba untuk turun dari kursinya dan melangkah mendekati Jungkook yang duduk didepannya.

Tangannya yang kecil mengambil kedua tangan Jungkook dan mengusap keduanya dengan sapu tangan yang dia punya.

"Tangan mommy terluka," Cicitnya sedih.

Kali ini giliran Mason yang melakukan hal yang sama, menghampiri Jungkook.

"Tenang saja Taejung, Hyung punya plester." Mason mengeluarkan beberapa lembar plester- yang sudah dia guntingi saat Jungkook memasak tadi- dari balik saku celananya.

"Mommy terluka karena membuat sarapan untuk kami," ucap Mason yang mulai memasangkan plester di lengan Jungkook yang sepertinya terkena cipratan minyak panas tadi.

"Jadi, bagaimana mungkin kami membuat mommy terluka lagi dengan menolak makanan yang yang sudah susah payah mommy buatkan hingga terluka seperti ini." Sambung Mason.

"Tapi Mason itu benar-benar tidak layak untuk dimakan. Jika aku jadi kaupun aku tidak akan sudi memakannya."

"memang tidak layak, tapi ketulusan mommy dalam membuatnya sangat layak untuk kami rasakan." Mason mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook dengan senyum polosnya.

"Apapun yang mommy buat untuk kami, akan kami terima dengan senang hati. Benarkan Taejung?" Taejung mengangguk antusias.

"Mommy yang terbaik." Dan Jungkook tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak memeluk dua bocah yang ada dihadapannya.

Jungkook tidak pernah perduli dengan tanggapan orang tentang seberapa beruntungnya dia. Tapi kali ini Jungkook menyetujui perkataan itu, karena Jungkook menyadari betapa beruntung dia bisa bertemu dengan dua anak kecil yang berada dalam dekapannya.

Jungkook bahagia.

Sangat bahagia,

Terlihat jelas, bukan?

.

.

.

T.B.C

Ini full romance kan?

Sesekali biarin Jungkook lunak sehari hehehe. Tapi ya balik lagi, si ngeselin Jungkook akan terus ada, karena mungkin itu udah jadi sifatnya kali ya.

Yang nanya, umur Jungkook berapa? Terus ko Jungkook songong banget? Terus kenapa ga dijelasin lebih lengkap soal kecelakaan waktu itu.

Di tahan ya pertanyaannya, semua akan dijawab satu-satu dalam setiap chapter yang akan datang. FF ini memang bergerak lambat jadi cukup nikmati saja selagi bisa. heheh