Summer in Seoul ©Ilana Tan
Saduran dari karya Ilana Tan yang saya gubah nama tokoh menjadi pairing kesukaan saya.
..
..
MinYoon
Park Jimin x Min Yoongi BTS
.
Kim Seokjin BTS
Kim Taehyung BTS
Zhoumi SJM
Park Chanyeol EXO
Byun Baekhyun EXO
Ps, GS untuk Min Yoongi, Kim Seokjin dan Byun Baekhyun.
..
..
.
Empat Belas
.
Sejak hari itu, Suga mengalami hari-hari biasa. Walaupun juru bicara Park Jimin sudah meluruskan gosip itu, tentu saja tidak semua pihak menerimanya sebagai kenyataan. Masih saja ada penggemar Park Jimin yang mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan dan menyebarkannya di internet. Suga juga tidak bisa berjalan-jalan sendirian di tempat umum lagi. Sekarang banyak orang yang mengenalinya, terlebih lagi remaja-remaja penggemar Park Jimin.
Ada yang bersikap sopan, hanya tersenyum ketika mengenalinya. Tapi ada juga yang kasar, menuduhnya memperalat dan menghancurkan nama baik Park Jimin, bahkan ada yang menuduhnya memanfaatkan kecelakaan kakaknya sendiri demi mendapatkan Park Jimin.
Suga menyadari bahwa yang mengalami masa-masa sulit tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga Park Jimin. Laki-laki itu harus menghadapi mimpi buruknya sekali lagi. Orang-orang kembali membicarakan kecelakaan empat tahun lalu yang melibatkan dirinya dan yang mengakibatkan salah seorang penggemarnya meninggal dunia.
Sejak mereka kembali dari pantai itu, Suga sama sekali belum berbicara dengan Park Jimin. Sudah seminggu lebih. Berkali-kali Suga ingin meneleponnya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Ia merasa sebaiknya tidak menghubungi laki-laki itu untuk sementara ini, seperti yang mereka sepakati. Tapi bagaimana ini? Hatinya tidak tenang.
"Miss Min."
Suga tersentak dan menoleh. Mister Kim sudah berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang.
"Ya, Mister Kim?" Ia bergegas bangkit dari kursinya.
"Apa yang sedang kaupikirkan, Miss Min? Aku sudah memanggilmu ratusan kali," kata Mister Kim. "Wajahmu juga pucat seperti bulan."
Suga menunduk. "Aku minta maaf."
"Karena Park Jimin?"
Suga mengangkat wajahnya dengan kaget. "Oh, Mister Kim, itu—"
Mister Kim mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan kata-kata Suga. "Miss Min, aku tidak percaya pada gosip-gosip yang beredar. Aku percaya padamu. Do you understand that?"
Suga terdiam.
Mister Kim berjalan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursinya yang besar. "Tapi kau memang menyukainya, kan?"
Pertanyaan Mister Kim yang langsung dan tiba-tiba itu membuat Suga tidak bisa berkata apa-apa.
"Kau ingin bertemu dengannya?"
Suga masih diam.
Ternyata Mister Kim mengartikan sikap diamnya sebagai jawaban "ya". "Kenapa kau tidak menghubunginya?"
Suga tersenyum dan menggeleng.
Mister Kim menyandarkan kepala ke kursi. "Benar juga," katanya. "Dia pasti sedang banyak urusan sekarang ini. Kalau semuanya sudah diselesaikan, aku yakin dia pasti akan menghubungimu."
Suga hanya mengangguk sedikit, lalu keluar dari studio Mister Kim. Ia berjalan ke ruang penerimaan tamu yang saat itu sedang kosong. Ia duduk di sofa dan memandang ke luar jendela kaca yang besar.
Banyak mobil yang berlalu-lalang, tapi Suga tidak benar-benar memerhatikannya. Ia menatap ponsel yang ada dalam genggamannya.
Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku? ... Agar aku bisa langsung berlari menemuimu.
Benarkah? Tidak, ia tidak akan mencobanya.
Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berbunyi. Ia menatap layar ponsel dan jantungnya langsung berdebar dua kali lebih cepat. Park Jimin.
Suga menempelkan ponselnya ke telinga. "Ya?" Kenapa suaranya terdengar serak?
"Bagaimana kabarmu?" Mata Suga terasa panas begitu mendengar suara Park Jimin. "Baik-baik saja?" suara Park Jimin terdengar lagi. Suaranya terdengar ceria, ringan, dan santai.
"Mm," jawab Suga sambil mengerjapkan mata untuk menghalau air mata. "Bagaimana denganmu?"
"Ingin bertemu denganmu."
Suga tidak berkata apa-apa.
Park Jimin mendesah panjang. "Bagaimana ini? Sudah lama aku tidak melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali. Sepertinya semua yang kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik. Sekarang setelah mendengar suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain." Hening sejenak. "Aku jadi semakin ingin melihatmu."
Tanpa sadar Suga tersenyum, namun pandangannya mulai kabur.
"Apa aku boleh berpikir seperti itu?"
Suga mengerjapkan mata, tapi kali ini air matanya tidak bisa dihentikan.
"Bisa membantuku?" tanya Park Jimin lagi. "Katakan 'Park Jimin, fighting!‟ sekali saja."
Suga tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya. "Park Jimin, fighting!" katanya.
Ia mendengar Park Jimin mendesah puas. "Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu. Aku akan bertahan. Dan kau sendiri, Suga, fighting!"
Suga menutup ponsel dengan perlahan. Ya, bertahanlah, Suga.
..
..
..
"Kau mau ke Bern?"
Suga memandang Kim Seokjin sambil tertawa kecil. "Kenapa terkejut begitu?"
Mereka berdua sedang mengobrol di kafe langganan ketika Suga memberitahu Seokjin ia akan pulang ke Bern tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih terkejut daripada yang disangkanya.
Seokjin mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah. "Kau sedang melarikan diri?" tuduhnya.
Suga menggeleng. "Tidak. Melarikan diri dari apa?"
"Dari Park Jimin," jawab temannya langsung.
"Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?"
"Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Bern?"
Suga ikut bersandar di kursi. "Hanya ingin berganti suasana. Aku ingin menenangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak sebelum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah."
Seokjin menatap Suga dengan kening berkerut. "Kenapa marah?"
"Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembicaraan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula," jelas Suga.
"Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Park Jimin atas kecelakaan kakakmu itu, kan?" tanya Seokjin hati-hati.
"Tidak," jawab Suga. Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, "Tidak."
"Lalu kenapa kau tidak menemuinya?"
"Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya, bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan ibuku."
Mereka berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian Seokjin bertanya, "Berapa lama kau akan tinggal di Bern?"
Suga mengangkat bahu. "Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah. Yang pasti, aku akan kembali."
"Kau sudah memberitahu Park Jimin soal ini?"
Suga menggeleng. "Apakah perlu?"
"Kurasa itu pertanyaan bodoh."
Suga memiringkan kepala. "Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya."
"Jangan memintaku melakukannya," kata Seokjin begitu melihat tatapan Suga. "Kau harus mengatakannya sendiri."
..
..
..
Jimin memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil di depan kamera. Hari ini ia akan tampil dalam acara bincang-bincang yang cukup populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak apa-apa. Ia sudah siap. Melalui cermin, ia melihat Zhoumi menghampiri dari belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Jimin mengangguk mengerti.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Begitu membaca tulisan yang muncul di layar ponsel, ia tersenyum. Sudah seminggu terakhir ini ia tidak menghubungi gadis itu. Kenapa Suga tiba-tiba meneleponnya?
"Halo?" katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.
"Ini aku." Terdengar suara Suga di ujung sana.
Jimin tersenyum. "Aku tahu."
Suga hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, "Sedang apa?"
"Sebentar lagi on air," sahut Jimin sambil melihat ke sekeliling. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu."
"Begitu?" kata Jimin senang. "Di mana kau sekarang?"
"Di bandara."
Jimin mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. "Di mana?"
"Di bandara."
Ia tidak salah dengar. "Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?"
"Aku akan pergi ke Bern. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu."
Tunggu... Bern? Bern, Swiss?
Sepertinya Jimin tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya, karena Suga menjawab, "Ya, aku akan pergi ke Swiss. Sudah cukup lama aku ingin bertemu orang tuaku."
"Berapa lama kau akan di sana?" tanya Jimin. Tangannya mendadak terasa lemas.
"Sekitar seminggu," jawab Suga cepat. "Hanya untuk liburan."
"Begitu."
"Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu."
Jimin masih dalam keadaan setengah sadar. "Mm... Kau juga," gumamnya.
Walaupun Suga sudah memutuskan hubungan, Jimin masih memegangi ponsel di telinganya.
Gadis itu akan pergi. Jimin mendadak merasa tidak bertenaga. Walaupun ia bisa memahami kenapa Suga ingin pergi ke Bern, kenapa Suga merasa perlu menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi. Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya. Suga pasti sudah masuk ke pesawat. Itulah sebabnya kenapa gadis itu tidak memberitahunya lebih awal. Suga tahu Jimin pasti akan mencegahnya kalau memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Jimin cemas. Bagaimana kalau Suga tidak kembali? Tidak bertemu Suga beberapa waktu ini saja sudah membuat JImin agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.
"Jimin, ayo, sudah saatnya."
Jimin menoleh ke manajernya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Park Jimin, fighting!
..
..
TBC
..
..
