Words count: 2319 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 13

-13rd Luck-

Kaito menepati janjinya untuk mengajak Shinichi nenjenguk Aoko akhir pekan itu. Dan ia bersyukur ia mengajak Shinichi, melihat Hakuba duduk di samping ranjang Aoko, dengan telaten mengupaskan sebutir apel untuknya. Tanpa sadar ia melangkah ke belakang Shinichi, berusaha menghindari pria berdarah Inggris itu.

"Ah, Kaito!" Aoko-lah yang pertama menyadari kedatangan mereka.

"Halo, Aoko," Kaito melemparkan senyuman ke arahnya seraya menyikut Shinichi dari belakang sebagai tanda untuk menyuruhnya masuk duluan.

Sang detektif menggerutu, tapi tetap melakukan permintaan Kaito.

"Kudo, Kuroba," sapa Hakuba diiringi sebuah anggukan kepala.

"Halo, Hakuba, dan Nyoya Hakuba," balasnya ramah. Ia menyerahkan parsel buah-buahan yang dibawanya pada sang suami.

"Tolong panggil Aoko saja!"

"Kalian harusnya tidak perlu repot-repot."

"Kau pasti Kudo Shinichi-san, bukan? Kurasa kita belum berkenalan secara langsung. Aku Hakubu Aoko," Shinichi belum sempat menanggapi kedua pernyataan itu sebelum Aoko kembali berbicara, "Aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu Saguru-kun dan Kaito selama ini."

Calon ibu muda itu mengakhiri perkenalannya dengan membungkukkan badan- atau setidaknya berusaha membungkukkan badan, karena cukup sulit melakukannya dalam keadaan duduk dan perut membuncit. Shinichi membalas gestur itu dengan sopan.

"Senang bertemu dengan anda, Aoko-san. Dan tidak perlu berterima kasih, aku tidak banyak membantu, sejujurnya."

"Aoko benar, Kudo. Terima kasih... Dan," Hakuba menggeser duduknya untuk menghadap Kaito, "kurasa aku harus minta maaf padamu, Kuroba. Maaf atas perkataanku sebelumnya, tapi menurutku saat itu keputusan itulah yang terbaik untuk Aoko. Dan terima kasih... sudah mau memenuhi permintaan egoisku."

"Jangan salah, Hakuba. Aku datang untuk Aoko, bukan untukmu. Jangan harap aku akan minta maaf telah meninjumu."

Shinichi menatap keduanya dengan senyuman yang menunjukkan bahwa ia terhibur, sementara Aoko hanya menghela napas panjang.

"Hentikan, kalian berdua. Aku pusing mendengar kalian," protes Aoko. Keduanya langsung terdiam, bagai seorang anak kecil yang baru dimarahi ibunya. Shinichi tidak bisa tidak terkekeh melihat kejadian itu.

Aoko dengan mudahnya mengalihkan topik pembicaraan mereka, memberikan mereka kesempatan untuk mengobrol mengenai topik-topik netral. Aoko juga selalu berusaha selalu melibatkan Shinichi -menanyakan pendapatnya, menanyakan pengalamannya- untuk memastikan ia tidak merasa terasingkan.

Tak sekali-dua kali pembicaraan mereka mendadak berbelok ke arah diskusi kasus-kasus yang belum terpecahkan di divisi Shinichi maupun Hakuba, dan setiap kali hal itu terjadi Kaito harus memperingatkan kedua detektif itu untuk berhenti membicarakan peristiwa pembunuhan di depan seorang wanita hamil.

o.O.O.o.o.O.O.o

Hakuba cilik lahir di awal bulan Februari. Meskipun ia dilahirkan seminggu lebih awal dari dugaan para dokter, bayi mungil itu lahir dengan sehat. Ia mewarisi rambut pirang Hakuba dan mata lebar Aoko. Kaito sangat yakin ia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik nantinya.

Hakuba terlihat sangat bangga ketika menggendong putriya, dan senyuman tak pernah lepas dari wajah Aoko. Melihat mereka Kaito seakan bisa melihat plakat besar bertuliskan 'Keluarga Bahagia' di atas mereka. Keluarga kecil mereka telah sempurna, dan ia sadar tidak ada tempat sedikitpun baginya di dalam bingkai itu.

"Selamat, Aoko, Hakuba, kalian telah resmi menjadi orang tua sekarang," ucap Kaito pada pasangan yang tengah berbagia itu. Ia baru menjenguk Aoko sore harinya, ketika shift paginya berakhir, yang menjadi alasan yang bagus karena ia tidak perlu bertemu orang tua Aoko maupun Hakuba karena mereka telah pulang siang harinya.

Aoko membalas senyumnya seraya mengangguk, Hakuba bahkan tidak menampakkan muka masam yang biasa dipasangnya setiap kali bertemu Kaito.

"Terima kasih," jawabnya singkat, matanya masih lekat menatap gadisnya yang tengah menangis di gendongannya.

"Kalian sudah memutuskan nama untuknya?"

"Ya! Namanya Akane!" Aoko menjawabnya dengan riang.

"Ah, nama yang bagus..."

Senyuman Aoko melebar mendengar pujian Kaito. "Hai, Akane-chan, salam kenal," sapanya seraya menggoyangkan jarinya di depan sang bayi, membiarkannya menggenggam telunjuknya dengan jemari mungilnya.

"Dia tampaknya cukup menyukaimu," ujar Hakuba ketika gadis kecil itu perlahan berhenti menangis.

"Oh, cemburu, Hakuba?" godanya, ia lalu terkekeh pelan melihat muka Hakuba yang ditekuk. "Menurutku dia jadi tenang karena ia merasa aman berada di gendongan ayahnya."

Hakuba kembali menampakkan muka bangganya mendengar hal itu. Kaito tidak akan pernah menyangka bahwa menjadi seorang ayah bisa mengubah seseorang seperti ini. Lalu ia pun jadi berpikir, apakah ayahnya juga terlihat sebahagia ini ketika ia lahir dulu?

Sebelum terseret ke dalam arus nostalgia, Kaito buru-buru berusaha mencari topik pembicaraan lain. "Aoko, sampai kapan kau dirawat disini?"

"Hm? Dokter bilang mereka ingin melihat keadaanku dan Akane-chan selama kurang lebih seminggu ke depan," jawabnya seraya menerima Akane dari Hakuba. Tatapannya hangat dan keibuan.

"Tapi jika tidak ada masalah, mereka bisa pulang sebelum itu," timpal Hakuba. Kaito mengangguk mengerti, dalam hati bertanya-tanya apakah ia akan diijinkan bertandang ke rumah mereka atau tidak.

"Ne, Kaito—"

Ucapan Aoko terpotong oleh seseorang yang membuka pintu kamar rawat itu dengan cukup keras. Seorang wanita berparas anggun, dengan rambut hitam panjangnya yang terurai ditambah sehelai baju onepiece ivory dan cardigan coklat, melenggang masuk.

Kaito mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan apakah wanita ini benar wanita yang dulu dikenalnya atau bukan. Sapaan dari Aoko dan Hakuba hanya membuktikan dugaannya.

"Selamat sore. Selamat atas kelahiran bayi kalian," ujarnya.

"Akako-chan! Terima kasih!"

"Sore, Akako-san. Terima kasih."

Hakuba bergeser dari tempatnya untuk memberi ruang bagi Akako untuk mendekati Aoko sekaligus mengintip bayi kecil di gendongan istrinya. Ia memuji gadis kecil itu -yang membuat senyuman Aoko makin melebar- lalu dengan ragu-ragu, menggendong bayi mungil itu.

"K-kecil sekali."

"Um. Tapi dokter bilang ukurannya termasuk normal."

"Kurasa bayi yang baru lahir memang sekecil itu," tambah Hakuba.

"Akako-chan sudah cocok lho jadi seorang ibu. Masih belum berencana punya anak juga?" goda Aoko. Akako hanya membalasnya dengan tawa 'ohoho' khasnya.

Saat Akako mengembalikan Akane ke gendongan Aoko, saat itulah matanya dan Kaito beradu pandang.

"Ara, Kuroba-kun?"

"Yo, Akako. Lama tidak bertemu~"

Sang penyihir itu mengangguk kecil, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Sudah lama sekali memang."

Akako tampak mengamatinya dari atas ke bawah, lalu entah kenapa ia mengangguk puas pada dirinya sendiri. "Aku senang kau terlihat sehat, Kuroba-kun. Jauh lebih baik daripada ketika di penjara, eh?"

Tubuh Kaito menegang. Apa itu artinya Akako tahu bagaimana keadaannya di penjara? Dari mana dia tahu? Tidak, mungkin ia hanya terlalu paranoid. Bukan sesuatu yang aneh bila seseorang menganggap hidup di penjara akan memperburuk keadaannya 'kan? Ia berusaha berpikir logis dan menekan kecurigaannya. Namun disisi lain, Kaito tidak bisa mengabaikan bahwa selama ini sang penyihir itu bisa mengetahui hal-hal yang mustahil diketahui orang.

"Yep, di penjara sama sekali tidak enak. Karena itu aku tidak berniat kembali kesana lagi," jawabnya ringan, poker facenya telah kembali terpasang.

"Hanya orang bodoh yang mau dipenjara untuk kedua kalinya," cibir Hakuba. Kaito mengabaikan Hakuba untuk mengobrol dengan Akako, yang menyebabkan Hakuba merengut dan Aoko terkekeh.

Tak seberapa lama kemudian seorang suster datang untuk membawa Akane-chan ke ruang bayi, sementara keempat orang dewasa itu melanjutkan obrolan ringan mereka.

"Sampai sekarang Saguru-kun masih tetap populer lho. Setiap kami keluar rasanya ada saja yang memelototi kami," cerita Aoko.

"Aku tidak paham apa yang menarik dari lelaki macam dia," timpal Kaito sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mendramatisir pernyataannya.

"Aku lebih tidak paham kenapa kau dulu cukup populer, Kaito. Padahal Kaito laki-laki mesum yang kerjanya mengerjai orang terus!"

"Tsk tsk, Aoko, bukan salahku kalau orang-orang menyadari seberapa besar karismaku bukan? Lagipula aku punya wajah yang tampan," Kaito nyengir, tangan kanannya memunculkan sebatang mawar entah dari mana.

"Apa kau butuh pinjaman kaca, Kuroba? Jelas-jelas wajahmu itu biasa aja."

"Hoo? Kau tidak mengakui ketampanku, Hakuba? Aku—"

"Kalian para pria tidak bisakah berhenti mengatakan hal-hal bodoh? Jika berbicara tentang popularitas, tentu saja aku yang paling populer," potong Akako.

"Ah benar, benar. Akako-chan dulu populer sekali. Bahkan Saguru-kun juga mengagumi Akako-chan~"

"A-Aoko—" semburat merah tampak muncul di wajah Hakuba. Entah ia malu karena Aoko mengatakan hal itu pada Akako, atau karena ia malu karena Aoko tau soal hal itu.

"Ohoho, tentu saja. Semua lelaki pasti mengagumiku," ujar Akako bangga.

"Maa, Akako memang terlihat manis. Kalau saja tingkahmu tidak menyebalkan mungkin aku akan mengagumimu juga."

"S-siapa yang kau bilang menyebalkan?! Tidak sopan!"

Keempatnya terus mengobrol, membicarakan masa lalu maupun berita-berita terbaru. Sesekali mereka tertawa, melempar olokan ke satu sama lain, dan kadang juga melempar makian karena menjadi korban keisengan Kaito dan trik-trik sulapnya.

Dari percakapan itu pula Kaito mengetahui perkembangan kehidupan teman-teman lamanya itu. Aoko dan Akako menyelesaikan studi mereka di Universitas Keio, meskipun mengambil jurusan yang berbeda, dan Akako bahkan telah menyelesaikan S2-nya. Hakuba mendapatkan promosi dan dipindah ke Kepolision Pusat Tokyo setahun yang lalu, dan setelah itulah ia memberanikan diri melamar Aoko. Oh, dan ternyata Akako telah menikah dengan seorang pengusaha muda kaya raya, yang sama sekali tidak mengejutkan bagi Kaito.

Kaito bersyukur mereka tidak mengungkit-ungkit tentang KID, ataupun tentang keluarganya, karena meskipun ia sudah menerima semua itu, membicarakannya masih tetap membuat dadanya sesak. Dan ia sangat, sangat bersyukur orang-orang ini masih mau menerimanya, menariknya kembali ke dalam kehidupan mereka.

"Ah tapi kalau diingat-ingat obsesi Hakuba pada Holmes lebih parah dari Shinichi ya."

"Eh? Benarkah begitu, Kaito?"

"Hal bodoh apa yang kau katakan, Kuroba?

"Bukankah dulu Hakuba suka sekali cosplay menjadi Holmes? Apa kau masih mengenakan dandanan yang sama ketika menangani kasus?"

"Itu bukan cosplay! Itu gaya berpakaian yang ladzim di Inggris!"

"Oh ya? Gaya berpakaian yang ladzim pada abad berapa?"

Kaito masih nyengir lebar, sementara Hakuba sudah tampak seperti ingin menelannya. Ketengangan di antara keduanya itu pecah ketika seorang suster mengumumkan bahwa waktu jenguk telah habis. Kaito dan Akako pun beranjak untuk berpamitan pada kedua orang lainnya. Dan setelah berjanji bahwa ya, mereka akan menjenguk Akane-chan lagi setelah Aoko dan bayinya diperbolehkan pulang, keduanya meninggalkan rumah sakit.

"Akako, perlu kuantar pulang?"

"Tidak perlu, jemputanku sudah menunggu," jawabnya.

Kaito mengangguk mengerti. Kedua orang itupun melanjutkan perjalanan mereka menyusuri koridor rumah sakit dalam diam.

Benar kata Akako, begitu ia keluar ia melihat sebuah sedan tampak sudah menunggunya –Kaito tahu karena ketika melihat sosok Akako, chauffeur yang berdiri di samping mobil itu segera membungkuk hormat.

"Benar-benar seperti nyonya besar eh, Akako?" godanya.

"Ohoho, tentu saja," Akako malah tertawa bangga. Ia melambaikan tangannya sekilas ke arah Kaito dan berjalan menuju mobil itu. Kaito sudah hampir berbalik pergi ketika ia mendengar namanya dipanggil.

"Kuroba-kun."

"Ya, Akako?"

"Kau sudah terbebas dari kesalahanmu maupun masa lalumu. Bukankah sudah saatnya kau membebaskan hatimu juga, Kuroba-kun?"

"Huh? Apa—"

"Aku yakin— ah, bukan, aku TAHU semuanya akan baik-baik saja, tidak ada lagi yang perlu kaukhawatirkan. Kau hanya perlu jujur pada dirimu sendiri."

Kaito berdiri disana, termangu. Ia berusaha mencerna perkataan Akako, berusaha mengerti apa maksud sang penyihir itu. Tapi sebelum ia mampu bertanya apa-apa, mobil sedan yang ditumpangi wanita itu telah melaju pergi.

Butuh berbulan-bulan baginya untuk memahami arti perkataan Akako.

o.O.O.o.o.O.O.o

"Paris?"

Keduanya tengah bersantai dengan secangkir kopi di tangan mereka, ketika Kaito memutuskan itulah saat yang tepat untuk memberi tahu Shinichi.

"Ya. Aku sudah bilang aku ingin kembali mengejar mimpiku sebagai pesulap bukan?"

Shinichi mengangguk, lalu menyesap kopi dari cangkirnya yang sempat terhenti di depan wajahnya ketika Kaito mendadak bilang ia akan pergi ke Paris. "Tapi kenapa Paris?"

"Eh… Alasannya cukup bodoh sebenarnya," Kaito mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung, "Ayah dan Ibu pertama kali bertemu di Paris dulu, dan yah, kurasa aku jadi ingin melihat tempat itu? Aku juga ingin menambahkan memoriku sendiri disana. Dan aku ingin tempat berharga itu menjadi titik startku untuk mengejar mimpiku…"

Shinichi menatapnya lama. Setelah berbulan-bulan tinggal bersam a Kaito, bisa dibilang ini adalah pertama kalinya ia melihat Kaito tersenyum tulus dan tanpa dibayangi kesedihan ketika membicarakan kedua orang tuanya yang telah tiada, dan rasanya ia ingin mengabadikan senyum itu.

"Apa itu artinya kau ingin melanjutkan karirmu sebagai KID di Paris?"

"Jangan bodoh, Shin," Kaito mendengus, "KID adalah identitas Ayah, bukan milikku, dan aku tidak ingin meminjam identitas itu lagi. Dan bukankah sudah kubilang aku tidak ingin kembali ke penjara lagi? Atau kau sudah jadi pikun sekarang, Shinichi?"

Mengabaikan ejekan Kaito, Shinichi kembali berkata, "Jadi kau benar-benar ingin memulai debutmu sebagai pesulap, huh?"

Itu bukan pertanyaan, lebih kepada sebuah kesimpulan. Dan meskipun keduanya tahu hal itu, Shinichi tetap mengutarakannya, dan Kaito tetap mengangguk untuk menjawabnya.

"Kapan kau akan berangkat?"

"Dua minggu lagi."

Shinichi memelototinya, dan Kaito hanya tertawa. "Kau sudah merencanakannya sejak lama tanpa memberitahuku."

"Maaf, maaf. Selama ini aku belum yakin aku benar-benar bisa pergi, dan baru kemarin aku selesai mengurus semua yang dibutuhkan. Kau harus bangga karena kau yang pertama kuberitahu, Shin."

"Kau belum memberitahu Aoko-san? Kurasa kau harus bersiap-siap dimarahi."

Kaito meringis, "Ya, kurasa aku harus menyiapkan diri menghadapi Aoko."

Keduanya menyesap kopi mereka dalam diam sambil mendengarkan gemericik hujan yang masih turun dengan derasnya. Setidaknya sampai Shinichi memutuskan untuk kembali memberondong Shinichi dengan pertanyaan.

"Apa kau punya kenalan di Paris?"

"Ada seorang pesulap terkenal yang dulu bekerja sama dengan Ayah, dia bersedia membantuku selama aku di Paris."

Shinichi mengangguk, tampak lega karena Kaito tidak terlalu bodoh untuk pergi ke negeri orang dengan tanpa kerabat.

"Apa kau yakin punya cukup uang untuk hidup disana?"

"Hei, kau meremehkanku, Shin?" tanyanya dengan pura-pura tersinggung, tapi melihat Shinichi tidak termakan oleh aktingnya, ia terkekeh pelan. "Tidak apa, aku sudah menabung gajiku selama ini. Terima kasih padamu karena aku bisa tinggal disini secara cuma-cuma dan menyimpan sebagian besar gajiku!"

Shinichi mendengus, "Aku juga tinggal disini secara cuma-cuma. Ayah yang membayar semua tagihannya," ujarnya santai.

"Oh, benar juga," Kaito tertawa mendengar hal itu. Entah kenapa Shinichi terdengar seakan tidak ingin membuatnya merasa tidak enak. "Lagipula masih ada sedikit sisa warisan dari Ayah, dan disanapun aku akan bekerja. Kau tidak perlu khawatir, Shin."

Shinichi mengangguk mengerti. "Baguslah kalau begitu."

"Ah tapi aku pasti merindukanmu nanti. Apa kau juga akan merindukanku, Shin?" goda sang pesulap itu, sebuah cengiran lebar sudah kembali muncul di wajahnya.

Shinichi memutar matanya atas tingkah kekanakan Kaito, "Jangan terlalu berharap."

o.O.O.o.o.O.O.o

Kaito mulai menyiapkan semua keperluannya setelah itu. Shinichi juga membantunya mengemasi beberapa barang yang dimilikinya, dan dengan sedikit bujukan dari Kaito, mengantarnya ke tempat kediaman Hakuba dan Aoko untuk berpamitan. Kemarahan Aoko tidak separah dugaannya, bahkan ia sempat memberikan tatapan penuh protes padanya—padahal ia kira pria pirang itu akan bahagia mendengar ia pergi jauh dari keluarganya. Kaito tidak tahu dimana Akako tinggal, ia hanya mengabari wanita itu lewat telepon. Semuanya berjalan lancar, dan ia tinggal menunggu hari keberangkatannya.

Atau setidaknya semua berjalan lancar, sampai ia menemukan Shinichi terkapar di ruang tamu rumah mereka seminggu sebelum hari keberangkatannya.

.

to be continued

.


Uhm, hai. Terima kasih buat semua yang sudah baca Imprisoned sampai sejauh ini~ Buat yg bilang chapternya kurang panjang, iya map saya emang ga bisa nulis yg panjang panjang XDD Btw, Yuzurie-san ngetranslate fic ini ke english~ Do support it too if you can ^w^)

Oh ya rencananya tinggal 2 chapter lagi sebelum fic ini tamat ohoho (/'o')/ Dan kemungkinan bakal ada oneshot sekuelnya coughkalosayagamalescough. Anyway anyway, terima kasih bagi yang sudah menyempatkan baca, dan review/fave/follow selama ini! Seperti biasa ditunggu kritik dan saran dan curhatan dan apapun itu lewat review~ See ya!