Disclaimer : YuGiOh!! Milik Om Kazuki Takahashi.

Warning : chapter yang benar-benar amat sangat garing!!!, minor humor, beberapa kata kotor yang tidak tersennsor karena suatu alasan, beberapa character yang agak OOC, Gaje dan Language

-------Chapter 14-------

The Chance To Change

'.....'

'di....dimana aku?'

'apakah aku su...sudah mati?'

'mengapa tubuhku terasa sakit sekali?'

'apa yang telah terjadi?'

Secara perlahan-lahan kedua mata merah yang hampir semerah darah kini mulai terbuka perlahan-lahan. Rasa pening dan sakit yang terasa di kepala dan tubuhnya mulai membuat Yami tak bisa bergerak secara leluasa. Ia hanya bisa membuka matanya dengan lemas sambil melihat sekelilingnya.

"di...dimana aku? Apa aku sudah mati?"

"hah!! dasar tolol!! Kau belum mati brengsek!!" Yami langsung terbelalak saat ia menoleh ke arah sumber suara itu. di sebelah ranjangnya sudah terdapat Bakura yang duduk di sebuah kursi sambil melipat kedua tangannya dan menatap Yami dengan tatapan yang sangat kurang ramah. Seketika itu Yami hanya bisa berwajah horor.

"Ya Tu...tuhan....a...aku pasti di neraka sekarang!! Bahkan kini Tuhan mengirimkan iblis berwujud Bakura untuk menyiksaku!! Holy Shit!! Hidupku sungguh hancur!!"

DDUUUUAAAAAAKKKKK!!!!!!

"OOOOUUUCCCHHH!!!!"

Sebuah gulungan koran langsung dipukulkan oleh Bakura ke kepala Yami. Seketika itu juga Yami langsung merintih kesakitan.

"dasar bodoh!! Sudah kubilang kau belum mati keparat!!! Ini bukan neraka!!! ini kamar kosmu sendiri!! Dan aku bukan iblis!!! *Beep!!*" geram Bakura sewot. Yami mulai mengelus-elus kepalanya yang sakit.

"ouch!! kau tak perlu memukulku seperti itu tahu!! Kepalaku sakit sekali brengsek!!" gerutu Yami. Tak lama kemudian Bakura mulai bertanya pada Yami.

"hah!! semalam apa yang terjadi denganmu sampai kau jadi seperti ini hah??" Yami mulai mengernyutkan dahinya.

"semalam? Me...memangnya a..apa yang terjadi??" Yami mulai bingung.

"jadi kau tidak ingat??" sahut Bakura seraya mengernyutkan dahinya.

"ingat apa? A...aku tidak mengerti...." melihat ekspresi bingung yang tergambar di wajah kawannya itu membuat Bakura menghela nafasnya.

"kemarin malam aku sudah menemukanmu di depan pintu kamarmu. Kau terlihat pingsan. Tubuhmu kaku semua"

"Apa?!!" Yami mulai terbelalak mendengar hal itu. dalam sekejap ia mulai ingat kejadian yang terjadi malam itu saat ia di bar. Bakura kembali melipat tangannya, menunggu respon lanjutan dari Yami.

"tu...tunggu dulu!! Aku mulai ingat apa yang terjadi waktu itu. saat itu aku di bar lalu aku bertemu Keith...."

"Keith? Maksudmu Bandit Keith mantan pasangan seksmu dulu? Yang wajahnya mirip bendera amerika itu?" Yami mulai sweatdrop dan mulai mengangguk.

"iya, saat itu ia mencoba mengambil keuntungan dari tubuhku secara paksa dan lalu ia menyuntikkan vaksin ke dalam tubuhku agar tubuhku lumpuh total untuk sementara. Lalu setelah itu ada yang melempar kepala Keith dengan.....dengan apa ya? Oh iya!! Dengan tong sampah!!" Bakura hanya bisa berekspresi aneh mendengar penjelasan Yami.

"melempar dengan tong sampah?? Kau bercanda kan? Mana ada orang yang memukul kepala orang lain dengan......dengan tong sampah?? Bullshit!!" Bakura sungguh tak percaya dengan hal itu.

"aku serius Bakura!! Ia menolongku dan menghantam kepala Keith dengan tong sampah!!" Yami mulai bersikeras. Bakura hanya bisa menggaruk kepala tanda bingung.

"dari bermacam-macam senjata kenapa ia memilih.....tong sampah? Dia terlalu tolol atau sarap sih?? Kenapa tidak sekalian saja dia melempar dengan sarung?? Cih!! Dunia semakin bertambah gila!! Hah!! sekarang muncul pahlawan baru. Mari kita sambut 'sampahman'!!!" Yami mulai sweatdrop mendengar perkataan Bakura.

"uhh.....sepertinya memang dia yang membawaku sampai ke depan kamarku. Apa kau yakin kau tidak tahu siapa orang yang menolongku Bakura? Saat itu aku tak bisa melihat dengan jelas karena vaksin yang di berikan Keith membuat seluruh fungsi tubuhku terganggu" Bakura hanya bisa menghela nafas mendengar hal itu.

"sudah kubilang, malam itu tiba-tiba aku menemukanmu sudah tergeletak pingsan di depan pintu brengsek!! Tentu saja aku tidak tahu siapa orang aneh yang menolongmu waktu itu!! sebaiknya kau ingat-ingat saja ciri-ciri orang yang menolongmu malam itu. aku yakin sepertinya orang yang menolongmu kemarin adalah salah satu dari penghuni kos ini karena ia membawamu kemari" mendengar itu Yami mulai berfikir keras. Analisa yang dikatakan oleh Bakura ada benarnya juga.

"kau benar Bakura.....aku yakin sepertinya orang yang menolongku waktu itu adalah salah satu dari penghuni kos ini. tapi siapa? Apa mungkin Seto?"

"hah!! jika yang menolongmu adalah sepupumu sendiri, aku ragu akan hal itu" Yami mulai mengernyutkan dahinya mendengar pernyataan Bakura.

"kenapa?"

"karena aku yakin ia pasti akan membawamu kemari dengan limo atau helikopter dan ia tak perlu susah-susah memukul kepala Keith dengan tong sampah. Hah!! aku yakin Kaiba tak akan melakukan hal sekonyol itu. bayangkan saja sepupumu dengan tong sampah?? Hah!! lucu sekali....." Yami mulai menganggukkan kepalanya tanda sepakat dengan Bakura. Sepupunya itu tak akan mau melempar orang dengan tong sampah. Bahkan mungkin menyentuh tong sampah saja Kaiba sudah jijik apalagi melemparnya? Dan juga Jika memang sepupunya itu menjadi pahlawan, ia pasti lebih suka disebut sebagai 'Kaibaman' daripada di sebut 'Sampahman'

"jika bukan Seto lalu siapa? Apa Marik dan Malik?" mendengar itu Bakura kembali menyangkal.

"tidak mungkin jika salah satu dari duo mesum itu yang menolongmu karena saat kau ke bar waktu itu, Marik dan Malik sedang berhubungan seks di atas atap selama 8 jam nonstop bersama dengan nyamuk-nyamuk yang menggigiti tubuh telanjang mereka. sekarang mereka berdua pergi ke rumah sakit karena takut terkena demam berdarah" Yami mulai sweatdrop mendengar hal itu. akhirnya keheningan seketika itu terjadi karena Bakura dan Yami sama-sama berfikir keras.

"jika bukan mereka lalu siapa?" Yami terus berfikir. Tiba-tiba Bakura mulai berekspresi aneh.

"jangan-jangan yang menolongmu si keparat banci itu!!" Yami mulai melotot.

"banci? Maksudmu Pe...Pegasus??" Yami mulai berwajah horor mendengar hal itu. tak lama kemudian Yami dan Bakura mulai tertawa secara bersamaan.

"hahaha!!! Tidak mungkin!!" sahut Bakura dan Yami secara serempak.

"karena jika si lebay itu yang menolongku, aku yakin ia tak akan kuat melempar tong sampah ke kepala Keith. Hah!! mengangkat barbel yang beratnya satu setengah kilo saja tidak kuat apalagi tong sampah beserta isinya?? Bullshit!! Palingan tong sampah yang melempar Pegasus, bukan Pegasus yang melempar tong sampah. Hah!! parah....dasar Binaragawan Banci!!!" Yami mulai tertawa terpingkal-pingkal.

"hah!! dan aku yakin, jika memang si sarap itu yang menolongmu, ia pasti tidak akan mengantarmu sampai ke depan kamarmu melainkan kau pasti akan dibawa ke kamarnya dan memanfaatkan tubuhmu yang sudah kaku itu" Yami mulai pucat mendengar pernyataan Bakura.

"ya kau benar. Aku lega bukan dia yang menolongku. Jika ia yang menolongku, aku yakin aku pasti akan kembali dengan keadaan tidak lengkap"

"jadi sekarang yang tersisa adalah Ryou dan......si culun itu" Yami mulai terdiam mendengar perkataan Bakura. Ia kembali teringat dengan Yugi. Rasa bersalah kembali menyelimutinya.

"sepertinya sangat tidak mungkin jika Ryou yang menyelamatkanku waktu itu karena ia sangat marah padaku semenjak aku hampir mengambil keuntungan dari tubuh Yugi...." Yami mulai menunduk. Bakura mulai menatap Yami dengan serius.

"jadi apa kau yakin yang menolongmu adalah si culun? orang yang hampir kau ambil keperjakaannya huh?? Apa kau yakin dia masih mau menolongmu setelah apa yang baru saja kau perbuat padanya?" mendengar hal itu, Yami mulai tertunduk. Memang sangat tidak mungkin jika Yugi yang menyelamatkannya setelah apa yang Yami perbuat padanya tapi walaupun begitu Yami mencoba mengingat perkataan yang terucap dari figur misterius yang menolongnya waktu itu.

'kau sungguh merepotkan.....'

tiga kata itu sungguh terasa cocok jika Yugi yang mengucapkannya. Walaupun pada waktu itu Yami tak dapat melihat dan mendengar dengan jelas suara dan sosok orang yang menyelamatkannya waktu itu, tapi ia yakin bahwa Yugilah yang menolongnya. Ia bisa merasakan saat tubuhnya di dekap dengan erat dan dibopong dengan hati-hati. Tubuh kecil milik figur itu seakan menyimpan sebuah kekuatan tersendiri untuk membantu orang lain. Tubuh kecil itu terus menyangga tubuh Yami dan terus membawa Yami sampai tiba di wisma sennen dengan selamat. Tubuh kecil yang seakan penuh dengan kelembutan dan memiliki sebuah tekad baja di dalamnya. Dan Yami yakin hanya Yugilah yang memiliki tubuh kuat itu bersamaan dengan tekad baja itu.

"memang kemungkinan jika yang menolongku adalah Yugi sungguh sangat mustahil Bakura. Aku yakin setelah apa yang kuperbuat padanya, ia pasti akan marah dan dendam padaku. Mungkin saja jika saat itu ia melihatku hampir diperkosa oleh Keith, ia pasti akan mentertawakanku.....ia pasti akan mengejekku atas semua tindakan buruk yang kulakukan selama ini" Bakura hanya diam mendengar hal itu. ia tahu bahwa Yami masih belum menyelesaikan perkataannya.

"tapi walaupun begitu, dalam hatiku aku percaya......" Bakura mulai mengernyutkan dahinya.

"percaya?" Yami mulai tersenyum. Ia lalu mulai menyentuh dadanya.

"ya Bakura. Aku percaya. Aku percaya bahwa yang menyelamatkanku waktu itu adalah......Yugi"

-------Universitas Domino-------

"hei kalian berdua kemarin kenapa? Kok tidak masuk kuliah?" Anzu mulai menatap Yugi dan Jou dengan tatapan curiga. Jou mulai terlihat gugup begitu juga dengan Yugi. Honda juga mulai curiga terhadap dua kawan baiknya itu.

"uuhh.....kemarin kami tidak masuk karena....umm....uhh" Jou mulai bingung untuk memilih alasan. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sesungguhnya pada teman-temannya. hal itu akan terlalu memalukan untuk Jou. Tidak masuk kuliah hanya karena bokong sakit setelah berhubungan intim dengan Seto Kaiba selama 9 jam berturut-turut? Wajah Jou bisa langsung leleh sangking malunya jika hal itu sampai terbongkar.

"kebetulan kami berdua sama-sama tidak enak badan Anzu, makanya kami berdua tidak masuk kuliah kemarin" ujar Yugi berbohong. Ia juga tak mungkin mengatakan pada Anzu dan Honda jika saat itu ia tidak masuk karena percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Yami terhadapnya. Ia tak ingin membuat kawan-kawannya menjadi khawatir. Jou seketika itu langsung menghela nafasnya tanda lega. Ia sungguh berhutang budi pada Yugi untuk ini. tapi walaupun begitu tetap saja Anzu dan Honda semakin curiga dan tidak langsung percaya begitu saja pada pernyataan Yugi.

"tidak enak badan? Memangnya kau sakit apa Jou? Sampai jalanmu dari tadi terlihat pincang?" Jou langsung terbelalak dan memerah seketika mendengar pertanyaan yang dilayangkan Honda padanya. Bahkan Yugi langsung kesedak saat meminum minumannya. Anzu semakin bingung melihat tingkah kedua kawannya itu.

"uhh....i..itu a..aku habis terpeleset di toilet saat di wisma sennen, i...iya kan Yug?" Jou langsung menoleh kearah Yugi. Yugi mulai menggaruk-garuk kepalanya dan mulai tertawa kecil.

"i...iya, yang dikatakan Jou itu benar. Ia ha...habis terpeleset di toilet dan bo...bokong Jou terbentur wastafel. Jadi mu...mungkin agak terjadi sedikit benjolan. Hehehe....." semua mulai sweatdrop mendengar hal itu. Yugi benar-benar tidak suka berbohong tapi ia juga tak ingin membuat Jou malu. Anzu dan Honda masih tak percaya dengan hal itu tapi, mereka memutuskan untuk tidak menanyai Jou lebih lanjut.

"jika memang Jou terpeleset lalu bagaimana denganmu Yugi? Kau sakit apa?" Anzu kembali mengintrogasi Yugi. Yugi mulai bingung.

"uhh....ke...kemarin aku....umm....sakit kepala!!! Ya!! Aku sakit kepala!! Hahahaha!!" Anzu dan Honda mulai sweatdrop mendengar hal itu. ada yang aneh dengan Yugi. Tak lama kemudian mereka berempat kembali memakan bekal makan siang mereka sampai pada akhirnya Anzu mulai curiga melihat Yugi yang terlihat menahan sakit saat menggerakkan bahunya.

"ada apa dengan bahumu Yugi?" semua langsung menoleh kearah Yugi. Yugi mulai terkejut dengan pertanyaaan Anzu. Jou langsung terbatuk-batuk mendengar hal itu.

"bahuku? Tidak ada yang salah dengan bahuku. Kenapa kau bertanya tentang hal itu Anzu??" Yugi pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Anzu.

"jangan berbohong Yugi. Dari tadi aku melihat seperti menahan sakit saat kau menggerakkan bahumu yang sebelah kiri" ucap Anzu serius. Yugi mulai pucat mendengar hal itu.

"uhh....i...itu..." Jou mulai bingung harus mengatakan apa. Ia ingin membantu Yugi tapi ia tidak tahu harus bicara apa untuk menutupi kebenaran yang sebenarnya. Dengan tidak sabaran Anzu mulai berdiri dan langsung menarik jaket Yugi. Yugi mulai terbelalak shock dengan hal itu.

"a..apa yang kau lakukan Anzu?!!" Yugi mencoba menahan jaketnya. Anzu tetap ngotot untuk membuka jaket Yugi. Jou mulai membantu Yugi untuk menahan Anzu. Honda malah bingung sendiri.

"pasti ada sesuatu kan Yugi!!? Kau jangan sembunyikan hal itu dari kami!! Kita semua teman Yugi. Jika ada masalah, jangan pernah sembunyikan hal itu dari kami!!" geram Anzu keras kepala. Yugi mulai mengerang kesakitan.

"hentikan Anzu!! Kau menyakiti Yugi!!" Jou mencoba menahan tangan Anzu. Tapi ternyata Anzu lebih kuat dari yang Jou kira dan akhirnya jaket Yugi berhasil ditarik olehnya. Dalam sekejap Anzu dan Honda mulai terbelalak melihat bekas gigitan yang ada di bahu Yugi. Sementara Yugi hanya bisa pucat dan Jou hanya bisa memasang ekspresi horor.

"ba...bahumu kenapa Yug?" Honda hanya bisa mengernyutkan dahi melihat bahu Yugi.

"umm....ba...bahuku....uhh..." Yugi benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Anzu mulai mengambil kesimpulan lain.

"jangan-jangan....." Honda mulai mengernyutkan dahinya pada Anzu.

"jangan-jangan apa Anzu?"

"Yugi digigit oleh......" Anzu semakin memicingkan matanya. Yugi semakin gugup dan pucat sedangkan Jou hanya bisa tergagap-gagap seperti ikan di darat.

"digigit oleh siapa??" Honda semakin penasaran. Yugi hanya bisa harap-harap cemas. Jangan sampai Anzu tahu jika yang menggigit bahunya adalah Yami. Tak lama kemudian Anzu mulai berbinar-binar. Yugi, Jou dan Honda mulai sweatdrop melihat hal itu.

"uuhh...A..Anzu? apa kau tidak apa-apa??" tanya Yugi khawatir. Tak lama kemudian Anzu mulai tertawa terbahak-bahak.

"hahahaha!!! aku tahu!!! Yugi pasti digigit oleh......oleh Vampire!!!" dalam sekejap Yugi langsung sweatdrop, Honda langsung memasang ekspresi aneh dan yang terparah adalah Jou langsung ambruk dari kursinya.

"Vam....pire??" Honda benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Anzu. Di jaman modern seperti ini, kawannya itu masih saja percaya dengan yang namanya Vampire?

"iya!! Ngaku saja Yugi!!! Aku yakin pasti kau digigit oleh Vampire!!! Yes!! Ini adalah bukti kejayaan TWILIGHT!!!!" semua langsung sweatdrop mendengar perkataan Anzu.

"ah, aku pikir sepertinya kau terlalu terobsesi dengan twilight Anzu....." keluh Honda.

"kau tidak mengerti apa-apa tentang paradigma perfilman dunia Honda!!! Ini adalah sebuah karya seni yang patut untuk diapresiasikan dengan sebuah obsesi!!! Kyaaa!!! Yugi teman kita akan bernasib sama seperti Bella di twilight!!! Aawww so sweet!!!" Anzu semakin ngelantur dengan tidak jelas. Yugi, Jou dan Honda hanya bisa sweatdrop dengan hal itu.

"waktu itu pemilik kos dikira terminator, sekarang dia mengira Twilight itu nyata. Besok apalagi yang akan dianggap nyata oleh Anzu?" keluh Jou.

"aku tahu film apalagi yang akan dianggap nyata olehnya" Yugi dan Jou langsung menatap Honda.

"apa itu?" Honda hanya bisa menjawab dengan santai.

"film.....2012"

-------Wisma Sennen-------

Sepulang dari kampus, Yugi hanya bisa berjalan perlahan-lahan memasuki wisma dengan perasaan was-was. Ia sangat takut jika Yami kembali berulah karena Jou dan Kaiba saat ini sedang pergi kerumah sakit untuk mengobati sakit bokong Jou. Ryou juga belum kembali ke tempat kos sampai malam nanti. Lagi-lagi Yugi harus sendirian dalam menghadapi Yami. Ia hanya berharap Yami tak akan berani berbuat macam-macam lagi dengannya.

Tak lama kemudian Yugi mulai tiba di lorong dan saat hanya tinggal beberapa jengkal lagi ia tiba di depan kamarnya, sebuah interupsi datang menghampirinya.

"YUGI!!!" Yugi langsung menoleh ke sumber suara yang sangat familiar itu dan di sana sudah terdapat Yami berteriak memanggil namanya dari jendela kamarnya. Seketika itu juga, Yugi mulai pucat dan mulai mundur beberapa langkah.

"ma...mau apa kau?!!" Yami yang masih berada di dalam kamarnya mulai mencoba meyakinkan Yugi dari jendela.

"aku ingin berbicara padamu Yugi!! Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi padamu. Aku hanya ingin bicara saja denganmu!! Tunggu di situ!!" dengan cepat Yami mulai berlari menuju pintu dan mencoba untuk menendang dan ternyata.

DDDDUUUAAAAKKK!!!!

"AAAARRRGGGGHHHHH!!!!" Yami langsung mengerang kesakitan. Dalam sekejap kakinya langsung mengalami keram dan rasa sakit yang sangat menyakitkan. Ia tak menyadari ada perubahan dalam pintu kamarnya.

"BAKUURRRAAAAAAAA!!!!!!" Teriakan Yami yang dipenuhi dengan amarah itu langsung membuat Bakura yang sedang berada dalam toilet langsung terkejut dan kembali terpeleset seperti biasanya.

GGUUBBRRAAAAKKK!!!!

"SHIT!!! BRENGSEK!!!! TAK PERLU BERTERIAK SEPERTI ITU KEPARAT!!! TELINGAKU TIDAK TULI, AKU BISA MENDENGARMU!!! *BEEP* YOU DAMMIT!!!" geram Bakura sambil keluar dari toilet dalam keadaan berantakan. Yami hanya bisa menggeram dengan hal itu.

"kau apakan pintu kamarku hah?!! kau membuat kakiku hampir patah keparat!!!" mendengar hal itu Bakura hanya tersenyum sinis dan melipat kedua tangannya.

"hah!! patah? Bagaimana rasanya? Apakah sakit? Itu pelajaran untukmu agar kau tidak merusak pintu kamarmu lagi!! Aku sudah lelah memperbaiki pintu kamar jelekmu itu terus-terusan!!! Jadi aku mengganti pintu dengan besi!!"

"APA?!!! BE...BESI?!! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI BRENGSEK!!!? KALAU KAU BILANG DARI TADI, TENTU AKU TAK AKAN MENENDANG PINTU KAMAR!!!" Yami benar-benar emosi. Berkat ulah Bakura, kakinya menjadi bengkak.

"hah!! salah sendiri tidak lihat-lihat dulu. Makanya pakai matamu itu brengsek!!! Jangan hanya kau gunakan sebagai pajangan!!" ejek Bakura. Yami semakin geram dengan hal itu. akhirnya ia memutuskan untuk tidak mempedulikan Bakura dan segera mengintip keluar dari jendela. Yami mulai terbelalak saat melihat Yugi berjalan meninggalkan kamarnya.

"TUNGGU!!! JANGAN PERGI YUGI!!! SHIT!!! JANGAN HALANGI AKU PINTU BESI BERKARAT!!!!!"

BBBRRRRUUUUUAAAAAAKKKKKKK!!!!!!!!

"HOOOOIIIII!!!! HO....HOLY SHIT!!!" Bakura hampir terkena serangan jantung saat Yami berhasil menjebol pintu besi dengan kekuatannya. Dengan cepat Yami langsung berlari keluar dan mengejar Yugi. Bakura hanya bisa terbelalak dengan wajah horor melihat pintu besinya kembali di hancurkan oleh Yami. Pintu besi yang dihantam dengan sangat keras itu juga menimbulkan sebuah efek dentuman yang sangat keras pula. Yugi yang masih berjarak beberapa jengkal dari kamar Yami juga ikut terkejut dan melotot mendengar dentuman itu. bahkan saat ini Pegasus yang sedang menjemur kolor dan beberapa pakaian dalam di atas atap juga ikut-ikutan kaget dan menyebabkan semua pakaiannya terbang di hempas angin.

"oh tidaaaakkk!!!! Kolor kesayanganku!!!! NO!!! DON'T GO MY PINKY KOLOR!!!!!! NOOOOO!!!!! AKU TAK BISA HIDUP TANPAMU KOLOR!!!! COME BACK!!! AAAAAKH!! HUHUHUHUHUUU!!!!!!" Pegasus mulai menangis seunggukan di atas atap wismanya sendiri dan beberapa orang yang kebetulan lewat hanya bisa berekspresi aneh saat melihat Pegasus dan mengira Pegasus adalah orang gila yang tidak waras.

"tunggu Yugi!!" Yami mulai berjalan menghampiri Yugi yang saat ini terlihat membuka kunci kamarnya.

"mau apa kau?!! Belum puas kau menyiksaku hah?!!" Yami semakin merasa bersalah mendengar perkataan dingin Yugi.

"aku hanya ingin bicara padamu Yugi. Aku janji tidak akan berbuat hal rendah seperti itu lagi padamu" Yugi mulai menatap Yami dengan pandangan curiga.

"kau pikir aku percaya begitu saja dengan ucapanmu begitu? bagaimana jika ini juga salah satu trickmu untuk menjebakku lagi?" sahut Yugi dingin.

"aku janji Yugi....aku tak akan menjebakmu atau menyakitimu lagi. Aku hanya i...ingin berbicara padamu. A..aku...." Yami mulai menunduk. Yugi mulai mengernyutkan dahinya melihat itu. ia tetap diam menunggu Yami menyelesaikan perkataannya.

"a...aku ingin minta maaf padamu Yugi....." Yugi agak terkejut melihat raut wajah Yami yang seakan penuh dengan penyesalan itu. Yami benar-benar tulus ingin meminta maaf pada Yugi. Yugi mulai terdiam dan tak merespon sedikitpun perkataan Yami.

"ku...kumohon Yugi a...aku hanya ingin minta maaf padamu...." raut wajah Yami semakin terlihat putus asa. Akhirnya Yugi hanya bisa mengeluh melihat hal itu.

"huh, kau sungguh merepotkan......." Yami langsung terbelalak mendengar hal itu. kata-kata itu benar-benar sama dengan yang diucapkan figur misterius yang menyelamatkannya waktu itu. tidak salah lagi, orang yang menyelamatkannya waktu itu memang benar-benar Yugi. Tak lama kemudian Yugi mulai berjalan perlahan-lahan menuju ke ruang depan.

"kenapa kau diam saja di situ? Katanya ingin berbicara padaku?" perkataan Yugi membuyarkan lamunan Yami. Dengan cepat ia langsung berjalan di samping Yugi.

"ah, ma....maaf" Yugi tak mempedulikan perkataan Yami dan terus berjalan menuju taman depan. Ia tak menyadari bahwa dari tadi Yami terus tersenyum melihatnya. Tak lama kemudian Yugi dan Yami tiba di depan taman wisma sennen. Yami mulai duduk di sebuah bangku taman sedangkan Yugi duduk di bangku ayunan di sebelahnya. Keheningan mulai terjadi sejenak karena Yami masih bingung harus berkata apa. Yugi juga tetap diam dan mulai berayun dengan ayunannya. Tak lama kemudian Yugi mulai tersenyum sambil menatap langit yang mulai beranjak sore.

"suasana di luar sini begitu tenang ya.....aku yakin hanya dengan memandangi langit seperti ini, sebenarnya kita bisa menemukan beribu-ribu makna kehidupan yang tak terbatas yang tak pernah kita ketahui sebelumnya....." perkataan lembut Yugi membuat Yami terpaku dan tercengang. Ia tak pernah menyadari bahwa Yugi mempunyai sebuah sisi sedalam ini. ia tidak tahu harus merespon Yugi dengan kata-kata apa karena ia sendiri juga masih terpanah dengan kepribadian lain Yugi yang baru ia lihat ini.

"ah, ya....mu...mungkin saja" ucap Yami singkat. Ia masih terus memandangi Yugi dengan perasaan takjub. Yugi saat ini terus berayun dengan senyum lembut di bibirnya. Yugi terlihat sangat manis jika dalam keadaan seperti itu. Yami tak menyadari bahwa jantungnya berdebar-debar saat melihat Yugi. keheningan kembali terjadi sebelum pada akhirnya Yami mulai memecah keheningan itu.

"uhh...Yu...Yugi a..aku ingin minta maaf padamu atas semua kelakuan burukku selama ini padamu. Aku memang seorang bajingan brengsek yang suka berbuat seenaknya saja tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Aku memang seorang pengecut...."

"ya, kau benar. Kau memang bajingan memuakkan, pengecut, tidak terlalu waras dan sangat menyusahkan....." Yami mulai sweatdrop mendengar perkataan Yugi. Ia mulai menundukkan kepalanya tanda bersalah. Tak lama kemudian Yugi mulai menatap Yami dan tersenyum dengan lembut.

"tapi aku sudah memaafkanmu akan hal itu. bahkan sebelum kau meminta maaf padaku pun, aku sudah memaafkanmu Yami...." mendengar hal itu Yami langsung terkejut dan terbelalak melihat Yugi. Bagaimana bisa ada orang pemaaf sebaik ini? Yami tak menyangka bahwa sebenarnya Yugi adalah orang yang pemaaf dan sangat baik.

"kenapa kau bisa memaafkanku semudah ini Yugi? Kenapa? Padahal aku sudah banyak menyusahkanmu dan aku sudah sering menyakitimu berkali-kali...." mendengar itu Yugi mulai kembali berayun dan tersenyum.

"semua orang yang bersalah patut untuk di maafkan. Menurutku jika kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, maka kita sama saja buruknya dengan orang yang berbuat kesalahan itu sendiri" Yami hanya bisa terpanah mendengar hal itu. yang dikatakan oleh Yugi ada benarnya juga. Perkataan Yugi sungguh sangat bijak. Yami hanya bisa kagum dengan hal itu.

"jadi i...itu artinya aku sudah termaafkan?"

"ya. Kau sudah kumaafkan. Aku harap kau tak mengulangi kesalahanmu itu lagi" mendengar itu Yami mulai tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak akan menganggumu lagi Yugi" Yugi mulai tersenyum mendengar hal itu.

"baguslah. Dengan begitu aku bisa tidur dengan nyenyak dan aku bisa belajar dengan tenang mulai sekarang dan aku yakin wisma ini pasti akan dipenuhi penghuni-penghuni baru lainnya" dengan itu Yugi mulai turun dari ayunannya dan mulai berjalan perlahan-lahan meninggalkan Yami sampai pada akhirnya Yami mulai menahan lengan Yugi.

"tunggu Yugi" Yugi mulai terkejut dan langsung menoleh ke arah Yami. Perasaan takut mulai menyelimuti hatinya. Walaupun Yami tak akan melakukan hal itu padanya lagi tapi tetap saja rasa trauma masih membekas di hati Yugi. Yami yang melihat Yugi gemetar dengan cepat mulai melepas cengkraman tangannya.

"maaf Yugi, aku hanya ingin berterima kasih padamu" Yugi mulai mengernyutkan dahinya.

"terima kasih? Terima kasih untuk apa?"

"karena telah menyelamatkanku malam itu. saat Keith hampir mengambil keuntungan dariku, kau melempar kepala Keith dengan tong sampah dan menolongku kan Yugi?" Yami mulai menatap Yugi dalam-dalam. Yugi hanya terdiam dengan hal itu sebelum akhirnya ia mulai membuka suara.

"bagaimana kau bisa tahu jika orang yang menolongmu itu adalah.....aku?" Yami mulai mendekap dirinya sendiri dan mulai menatap Yugi dengan lembut.

"aku bisa merasakannya Yugi. Dekapanmu yang hangat itu sungguh sangat familiar di tubuhku...." Yami mulai tersenyum dengan lembut. wajah Yugi langsung memerah melihat hal itu. ia langsung membuang muka dan mulai cemberut.

"kau jangan salah paham Yami. Aku menolongmu waktu itu karena kebetulan saja aku lewat situ sehabis kembali dari rumah Jou. Lagipula saat itu aku juga tidak tahu kalau orang yang hampir diperkosa itu adalah kau" Yami mulai mendekat kearah Yugi.

"walaupun begitu Yugi, aku tetap ingin berterima kasih padamu. Jika tidak ada kau saat itu, aku pasti akan menjadi semakin hancur. Aku berhutang budi padamu" Yugi hanya bisa menghela nafasnya dan mulai berbalik membelakangi Yami.

"hal itu tak usah kau pikirkan" Yugi mulai berjalan perlahan-lahan menjauhi Yami sebelum pada akhirnya Yami kembali mengatakan sesuatu.

"aku ingin......berubah Yugi" seketika itu juga Yugi langsung menghentikan langkahnya.

"berubah?"

"ya, semenjak aku hampir mencelakaimu waktu itu, aku sadar Yugi......Aku menyadari akan semua kesalahan yang telah kuperbuat. Begitu banyak orang-orang yang kusakiti hanya karena kelakuanku yang seenaknya saja. Kau benar Yugi.....jalan hidup yang kupilih ini salah. Aku hanya melarikan diri dari masalah. Aku semakin menghancurkan hidupku. aku tak ingin menjalani kehidupan rusak seperti ini lagi. Aku ingin berubah Yugi......" Yami mulai terlihat menunduk dan memeluk dirinya sendiri. Yugi tetap diam dan tak menunjukkan respon apapun. Yami mulai melanjutkan perkataannya.

"setidaknya dengan aku berubah, aku bisa menebus semua kesalahan dan kekacauan yang telah kuperbuat selama ini. Dengan aku berubah, aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dan yang terpenting adalah......aku bisa mendapatkan kepercayaanmu lagi Yugi......A...aku tidak ingin menjadi orang yang sangat kau benci.....aku tidak mau" Yugi benar-benar terkejut mendengar hal itu. ia benar-benar bingung harus mengatakan apa. Yami mulai sedih melihat Yugi yang masih tetap diam dan tidak merespon apapun.

"mungkin semua perbuatan dan kelakuanku sungguh tak dapat di tolerir lagi.....mungkin aku sudah tak berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah. Jika memang seperti itu, aku akan ikhlas menerima kehancuranku karena mungkin itulah hukuman yang diberikan Tuhan padaku......sekali lagi maafkan semua kesalahanku Yugi. Aku tidak akan pernah menganggumu lagi......aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sepertimu Yugi karena dirimu, aku bisa menyadari semua kesalahanku. Terima kasih Yugi......" dengan itu Yami mulai berjalan pergi berlawanan arah dengan Yugi sebelum pada akhirnya lengannya mulai ditahan dengan lembut. Yami mulai terkejut saat ternyata Yugi yang menahannya untuk pergi.

"Yu...Yugi?" Yugi mulai tersenyum lembut pada Yami.

"tak ada kata terlambat untuk berubah Yami......aku percaya kau pasti bisa berubah. Aku akan membantumu kalau kau mau...." Yami seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Setelah semua perlakuan buruk yang ia lakukan terhadap kembarannya itu, Yugi ternyata masih mau percaya padanya. Dengan cepat Yami langsung mendekap dan memeluk Yugi dengan sangat erat. Yugi langsung terkejut dan terbelalak dengan hal itu.

"Ya...Yami?"

"terima kasih Yugi!! Terima kasih karena kau masih mau percaya padaku......aku janji aku pasti akan berubah Yugi....aku tak ingin mengecewakanmu lagi. Akan kujaga kepercayaanmu padaku sampai akhir. Terima kasih....." perkataan Yami begitu tulus sekali. Yugi bisa merasakan hal itu. walau mungkin Yugi masih belum sepenuhnya percaya pada Yami tapi ia tahu bahwa saat ini Yami bisa di percaya. Ia yakin rasa percaya ini akan tumbuh dengan sendirinya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum pada akhirnya Yugi bisa sepenuhnya percaya pada Yami. Secara perlahan-lahan Yugi mulai membalas dekapan kembarannya itu.

"sama-sama Yami" Yami semakin mempererat dekapannya pada Yugi. Ia mulai menenggelamkan wajahnya pada rambut Yugi. Ia hanya ingin masa-masa ini berlangsung selamanya. Tubuh kecil Yugi begitu cocok jika disandingkan dengannya. Yugi begitu sempurna. Yami yakin Yugi pasti bisa mengajarinya akan harapan yang telah di tinggalkan oleh ibunya. Sebuah harapan untuk merasakan sebuah cinta. Sebuah rasa cinta yang sesungguhnya dan bukan hanya sekedar nafsu.

'aku sudah menemukannya ibu......aku sudah menemukan........Aibouku' Yami mulai tersenyum memikirkan hal itu. ia yakin Yugi adalah Aibounya. Aibou yang selama ini ia cari-cari dan ia tak akan pernah melepaskannya.

"uhh.....Yami?"

"iya Yugi....." Yami masih terus memeluk Yugi dengan sangat erat dan masih menenggelamkan wajahnya di rambut Yugi.

"umm....bi...bisakah kau berhenti memelukku? A...aku tak bisa bernafas...." mendengar itu, Yami langsung sweatdrop dan mulai melepas dekapannya dari Yugi.

"uhh...ma...maafkan aku Yugi, a...aku terlalu senang. Maaf!!" wajah Yami mulai memerah karena malu. Ia tak bermaksud memeluk Yugi seerat itu. Yugi mulai menyentuh dadanya dan mulai mengatur nafasnya.

"sudahlah tak apa. Tak usah terlalu dipikirkan...." keluh Yugi.

"uhh....ja..jadi sekarang sebaiknya a..apa yang harus kurubah terlebih dahulu Yugi?" Yami mulai menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di belakang. Wajahnya masih merah karena malu. Setelah Yugi berhasil mengatur nafasnya, ia mulai mengatakan sesuatu.

"um....bagaimana jika yang dirubah terlebih dahulu adalah......"

"WAJAHMU YAMI!!!!"

"Huh?" Yami dan Yugi seketika itu langsung menoleh kearah sumber suara itu dan ternyata kejutan mulai datang.

DDDUUUAAAAKKK!!!!

"AAAAARRRGGGHHH!!!" Dengan gerakan cepat seseorang mulai muncul dan langsung melayangkan tinju tepat di wajah Yami. Dan seketika itu juga Yami langsung terpental ke lantai.

"OUCH!!" Yami mulai memegangi pipinya yang mulai memar. Ia langsung terkejut saat seseorang yang meninju adalah Ryou.

"BERANINYA KAU!!! KEMARIN KAU SUDAH HAMPIR MENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI TUBUH YUGI KUN!!! SEKARANG KAU BAHKAN MAU MENCOBA MELAKUKAN HAL ITU LAGI!!! BAHKAN DI DEPAN TAMAN SEPERTI INI?? BRENGSEK KAU!!!" Ryou benar-benar mulai emosi dan hampir memukul wajah Yami lagi sampai pada akhirnya Yugi langsung menghadang Ryou.

"Tu...tunggu Ryou kun!! Kau salah paham!! Yami tidak mencoba melakukan hal itu padaku. Dia hanya ingin minta maaf!!" mendengar itu Ryou mulai mengernyutkan dahinya.

"mi....minta maaf?"

"ya, Yami sudah menyadari semua kesalahannya Ryou kun. Ia ingin berubah" Ryou mulai terkejut mendengar hal itu. Yami perlahan-lahan mulai mencoba berdiri sambil memegangi pipinya.

"yang dikatakan Yugi itu benar Ryou. Aku sudah menyesali semua perlakuan burukku. Aku hanya ingin minta maaf padanya" ujar Yami. Seketika itu Ryou langsung terbelalak dan mulai membungkuk untuk meminta maaf.

"oh maaf!! Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. ma...maafkan aku Yami kun!! Aku benar-benar salah paham!! Aku pikir kau akan menyakiti Yugi lagi, sekali lagi maafkan aku!!" Ryou mulai meminta maaf berulang kali. Yami hanya bisa menghela nafas dengan hal itu.

"ah, tidak apa Ryou. Aku memang pantas mendapat pukulan ini. maafkan aku juga atas semua perlakuan buruk yang pernah kulakukan padamu"

"ah, baiklah kalau begitu. Aku lega semuanya bisa menjadi lebih baik. Aku akan masuk duluan Yugi kun. Jangan lupa bantu projectku ya nanti!" ujar Ryou pada Yugi seraya berjalan masuk menuju wisma. Yugi hanya menganggukkan kepalanya.

"pasti akan kubantu projectmu Ryou kun!!" sahut Yugi. setelah Ryou masuk ke dalam wisma, Yugi mulai menatap kearah Yami.

"pipimu sudah tidak apa-apa Yami?" Yugi mulai khawatir. Yami masih mencoba mengusap pipinya.

"masih agak sakit sih, tapi sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir Yugi" Yami mulai tersenyum untuk meyakinkan Yugi jika ia baik-baik saja.

'padahal jika kau mencium pipiku, pasti pipiku akan cepat sembuh Yugi......' pikir Yami.

"untunglah jika begitu. Baiklah mulai besok, aku akan membantumu untuk berubah Yami tapi ingat berubah bukanlah hal yang mudah. Semua itu butuh proses. Kau tak akan bisa berubah langsung seratus persen. Jadi kau harus terus bersabar dan berusaha. Aku yakin kau pasti bisa Yami. Selamat berjuang ya!!" Yugi mulai mengedipkan sebelah matanya pada Yami seraya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya kearah Yami. Setelah itu Yugi berlari meninggalkan Yami yang masih dalam keadaan mematung dengan warna merah di wajahnya. Tak lama kemudian Bakura mulai muncul dan mulai berjalan menghampiri Yami.

"HEI YAMI!! KEMANA SAJA KAU HAH?!! CEPAT SEGERA PERBAIKI PINTU KAMARMU KEPARAT!!! KAU JANGAN DIAM SAJA DISITU SEPERTI ORANG GILA!!! CEPAT SEGERA PERBAI......HOLY MOTHERFUCKER!!! YAMI!!! APA YANG TERJADI DENGANMU BRENGSEK?!!!" Bakura langsung melotot saat kini Yami terlihat memerah dengan banjir mimisan di hidung dan mulutnya. Dengan gaya robot, Yami mulai menoleh ke arah Bakura sambil tersenyum dengan aneh.

"Yu...Yugi imut sekali Bakura......" dengan itu darah di mulut dan hidung Yami semakin mengucur dengan deras. Bakura hanya bisa menepuk dahinya melihat itu.

"SHIT!!! KAU BENAR-BENAR MENYUSAHKAN YAMI!!! LAMA-LAMA AKAN KUBUANG KAU KE TEMPAT SAMPAH!!! DASAR SARAAAPPP!!! AAARRRGGHH!!! MENJAUH DARIKU!!! DARAH MIMISANMU MUNCRAT DI PAKAIANKU BAKA!!! FUCK!!!"

To Be Continued......

Akhirnya Yami mulai menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk berubah. Yugi memutuskan untuk membantu Yami berubah. Lalu perubahan apa yang harus dilakukan oleh Yami? Akankah dia berhasil? Akankah kekacauan akan kembali muncul di wisma sennen? saksikan di chapter berikutnya.

Author : terima kasih untuk semua yang telah mereview!! Mohon maaf jika chapter kali ini lagi-lagi garing karena cerita ini sudah memasuki plot jadi humornya tidak terlalu prioritas. Mudah-mudahan chapter ini tidak terlalu mengecewakan anda ^__^

To Sora Tsubameki : terima kasih atas reviewnya Sora san!! Sampahman adalah Yugi. Yugi nggak gendong Yami kok, cuman di bopong aja. Hehehe....Gomen di chapter ini requestnya masih belum terkabul. Request sora san ada di chapter depan dengan bentuk flashback. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi dengan Jou yang mengidap penyakit bokong dan Malik yang terancam demam berdarah XP. Mudah-mudahan chapter ini tidak terlalu mengecewakan anda Sora san. Arigato!! ^__^

To Ryuu no Kami : halo Ryuu kun!! ^^ selamat datang di fic gaje saya!! Terima kasih buat reviewnya ya!! Yup!! Sampahman adalah Yugi. Untuk adegan lemon, mungkin masih lama tapi pasti ada. Ditunggu ya!! Mudah-mudahan chapter ini masih bisa memuaskan anda. Arigato ne!! ^__^

To Shara Serenia : terima kasih buat reviewnya Shara san!! ^^ gomen!! Saya tidak jadi membuat Yami meraep Yugi di chapter sebelumnya!! T_T Tapi lemon pasti ada. Tapi tidak dalam waktu dekat. Harap bersabar shara san!! ^__^ semoga chapter ini masih bisa menghibur anda. Arigato!! ^^

To Vi chaN91312 : makasih atas reviewnya Vi Chan!!! ^__^ yang nyelametin Yami adalah Yugi. Semoga chapter ini bisa menghibur anda!! Arigato ne!! Jangan lupa review lagi ya!! Saya tunggu!! ^_^

To Dika The Winged Kuriboh : makasih atas reviewnya kurii chan!!! Yup!! Sampahman adalah Yugi!! Hehehe.....mudah-mudahan chapter ini bisa memuaskan kurii chan!! Arigato dan ganbatte ne kurii chan!! ^__^

To Sprinkle Fairyland : makasih atas reviewnya Nerwen chan!! Hahaha!! Sampahmannya emang si Yugi!! Udah jangan tampar saya ya!! ^_^ hehe!! Yay!!! hidup puzzleshipping!!! ^___^ Btw, Yugi ngerape si Yami? Hehehe....akan saya pertimbangkan. Muahahahaha!!! (tawa sadis)

Yami : (merinding ngelihat author) dasar sarap....

Author : hehehe!! semoga chapter ini bisa memuaskan anda. Arigato ne!! ^__^

To Aihara Zala : makasih atas reviewnya Aihara san!! ^_^ hehe, si sampahman memang Yugi. Kenapa namanya harus sampahman? Umm.....entahlah, buat kepentingan hiburan saja mungkin. Hehehe!! ^^ Mudah-mudahan chapter ini bisa memuaskan anda. Arigato ne!! ^__^

To Esti is Mello : makasih atas review dan dukungannya esti san!! ^__^ mudah-mudahan chapter ini masih bisa memuaskan anda. Arigato ne!! ^_^

To my bestfriend BM,Lisa,yamino kamichama dan semua pereview lain : ARIGATO!!! YOU'RE THE BEST!!! ^__^ (Langsung dilempar sampah karena lebay)

Yugi : jangan lupa untuk kembali review!! Saran, kritik membangun, pertanyaan semua diterima kecuali flame!!!

Yami : lebih cepat lebih baik....

Author : see you all in the next chapter!! ^__^