POWER OF LOVE
Disclaimer : Naruto
Masashi Kishimoto
Rate : M (18+)
Pairing : SasuNaru,xxxNaru,NejiGaara,ShikaKiba dll
Warning : Yaoi, boys love, boyxboy,OOC , typo , Mpreg (?),Lemon,OC

Yang gak suka ceritanya maupun antiyaoi dimohon untuk tidak membaca ini

ω●

Chapter 14

"Kaachan…kaachan…"

Menma terus menerus mengguncang seseorang dibalik selimut orange. Matahari bergerak naik begitu juga dengan jarum jam. Ini hampir setengah delapan. Menma bersiap akan berangkat tapi kotak bekalnya tak ada di atas meja makan. Kemarin malam, Menma meminta kaasannya untuk memasak sushi. Ia sudah berjanji untuk membagikan sushi buatan Naruto di sekolah.

Menma kira Naruto sudah berangkat duluan. Beruntung Neji memberitau Menma,Naruto masih tidur. Wajah kecewa Menma sedikit memudar. Setidaknya masih ada harapan Naruto akan membuat sushi.

Sekitar lima belas menit berlalu. Naruto masih bersembunyi di dalam selimut. Menma duduk di atas badan Naruto,menurunkan sedikit selimut yang sejak tadi tak kunjung dilepaskan sang Uzumaki.

Wajah manis Naruto tertampang jelas. Menma suka memandang wajah Naruto. Yang menurutnya Cantik. Ada rasa bangga,saat menunjukkan foto Naruto pada teman-temannya. Pendapat mereka tak berbeda jauh dengannya. Mereka terlihat iri karena Menma memilik kaasan yang cantik tanpa menyadari jika Naruto adalah seorang pemuda. Menma mengecup singkat bibir Naruto.

"Nghh…Suke..lima menit lagi"erang Naruto.

Menma mengerjapkan matanya bingung. Suke? Siapa Suke yang dipanggil kaasannya? Apa Sasuke tousannya?

Menma mulai jail dan kembali mencium bibir Naruto. "Suke…nghh hentikan" Naruto membuka mata. Sepasang sapphire menatapnya penuh minat. Hampir saja ia terjungkal ke belakang karena kaget melihat Menma di atas badannya.

"Menma sedang apa disini?"

"Membangunkan kaachan. Kaachan berjanji akan membuatkanku sushi"

Wajah Naruto memucat. Matanya bergerak gelisah melihat jam dinding di atas pintu. Jam tujuh lewat lima belas menit. Syukurlah ia belum terlambat. Masih ada waktu. Naruto meminta Menma menunggu diluar selagi ia masih merapikan tempat tidur.

Neji membawa sebuah roti tawar ke atas piring dan mengolesinya dengan selai coklat. Gigi-gigi putihnya mengunyah pelan. Inilah sarapan pagi untuk Neji jika Naruto tak sempat memasak atau terlambat bangun. Setiap ingin membangunkan Naruto, ia tak tega. Apalagi hari ini wajah Naruto sedikit pucat. Jadi Neji membiarkan Naruto tidur lebih lama.

"Neji nii,gomen aku kesiangan"

Neji menghabiskan sarapannya tepat Naruto datang. "Tidak apa-apa Naru. Kau kelihatan lelah. Kau tak perlu memasak hari ini."

"Tidak Neji nii,Menma merengek ingin bekal sushi. Aku akan membuatkannya untuk Neji nii juga"

Naruto mengambil beberapa bahan dari dalam kulkas. Membuat sushi tidaklah susah dan memakan banyak waktu. Gulungan sushi dipotong pelan agar bentuknya tetap utuh. 3 kotak makan sudah siap. Kotak makan kecil berwana orange milik Menma,lalu warna putih milik Neji dan warna kuning milik Naruto.

Tinggal 1 kotak makan yang belum siap. Naruto ragu. Apa Sasuke masuk hari ini? Sudah tiga hari Sasuke tak mengabarinya,walau hanya dengan pesan singkat. Rasa cemas,khawatir,rindu bercampur menjadi satu.

Naruto memasukkan beberapa sushi ke dalam kotak biru. Jika Sasuke tidak masuk,ia akan berikan ini pada Kiba. Ia kan suka makan.

Naruto menyerahkan bekal milik Neji dan Menma. Senyuman lebar menghiasi wajah putih Menma. Sekarang ia tak sabar menunjukkan ini pada teman-teman di sekolah.

"Menma tunggulah di mobil" ucap Neji.

"Siap Neji ojichan. Nee…kaachan tidak mencium Menma"

Naruto tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan mencium Menma sebelum berangkat sekolah. Naruto merendahkan tubuhnya sejajar dengan Menma. Lalu mengecup keningnya. "Hati-hati Menma"

"Kaachan juga hati-hati" Menma mencium bibir Naruto dan berlari keluar.

"Anakmu semakin jail Naru"

"Dan Neji nii pasti yang mengajarinya"

Neji hanya tertawa. Tapi tak bertahan lama. Wajah Neji kembali muram. Hal itu tak luput dari mata sapphire Naruto. Neji masih memikirkan Gaara. Apa Naruto harus mengatakannya? Tidak! Neji pasti akan semakin sedih. Naruto tak bisa melihat Neji bertambah apa yang harus ia lakukana

"Kau yakin tidak ikut Naru?" suara Neji membuyarkan lamunan Naruto

"Tidak Neji nii,aku akan berangkat sendiri"

"Baiklah….jangan sampai terlambat"

"Oke Neji nii"

Neji mengacak lembut surai blonde Naruto. "Kami pergi"

"Hati-hati Neji nii"

Naruto berjalan kembali ke dapur dan mencuci piring kotor. Sesekali mulutnya bersenandung merdu untuk menghilangkan suasana sepi. Senandung Naruto tiba-tiba berhenti. Tangannya mengusap tengkuk dengan bercak merah yang hampir memudar. Bayangan kejadian beberapa hari yang lalu melintas begitu saja. Kyuubi melakukan hal yang tak pernah Naruto duga. Kyuubi yang ia kira baik dan sopan hingga membuat Naruto ingin berteman dekat dengannya pudar dalam waktu yang sebentar. Naruto takut hanya sekedar untuk bertemu Kyuubi. dalam Beberapa hari ini Kyuubi memang tak pernah terlihat ,tetap saja Naruto khawatir apalagi Sasuke tidak ada.

Naruto membuang jauh kejadian itu dan bergegas ke sekolah. Mata Naruto bergerak melihat kotak bekal Sasuke. Naruto berharap Sasuke datang hari ini.

.

Kaki ramping Naruto berjalan menapaki jalan. Naruto mengeratkan mantelnya. Semakin hari cuaca semakin dingin. Tanpa sadar Naruto sudah sampai di halte bis. Naruto melirik arlogi di tangan kanannya. Lima belas menit lagi kelas dimulai. Dia akan terlambat jika menunggu bis. Lalu harus bagaimana sekarang?

TIN…TIN

Jantung Naruto hampir copot mendengar suara klakson mobil sedan hitam yang entah sejak kapan terparkir di depannya. Kaca mobil perlahan bergerak turun. Menampilkan seorang pria tampan yang sudah lama tidak dilihat Naruto .

"Butuh tumpangan Tuan putri?"

"Sai!" seru Naruto.

"Masuklah,aku tau kau terlambat"

"Tapi…"

Tidak ingin mendengar penolakan, Sai menarik Naruto masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.

Naruto menggerakan sedikit kepalanya untuk melihat seseorang yang duduk di kursi kemudi. Setelah kejadian di rumah sakit waktu itu Naruto tak pernah lagi melihat Sai. Berhembus kabar jika Sai mengundurkan diri dan melanjutkan perusahaan ayahnya. Awalnya Naruto tidak percaya karena Sai tak memberitaunya tentang hal itu tapi setelah mendengarnya dari Shikamaru ,Naruto percaya. Dan benar saja Sai saat ini ia tidak lagi berpakaian layaknya seorang guru tapi seperti seorang direktur.

Setelan jas hitam yang membungkus tubuhnya,membuat tubuh Sai yang proposional semakin terlihat. Tak lupa rambut Sai yang disisir rapi dari biasanya. Sai terlihat sangat tampan dan dewasa. Mata kelam Sai mengingatkannya pada Sasuke.

"Apa kau begitu kagum dengan wajah tampanku Naru chan?"

"Ah.,Tidak …."Naruto memalingkan wajahnya menahan malu karena ketahuan melihat Sai.

Sai tersenyum jail. "Benarkah ? Hm.. Tunggu sebentar"

Sai melihat Naruto dari atas ke bawah. Naruto sedikit risih dipandang seperti itu. "Ada apa?"

"Perasaanku saja atau kau terlihat lebih gemuk Naru chan"

Naruto menggembungkan pipinya kesal. "Aku tidak gemuk Sai" Ia tak suka dibilang gemuk. Akhir-akhir ini Naruto memang banyak makan tapi tak ada yang berubah. Pakaiannya saja masih muat. Darimana ia terlihat gemuk?

Sai tak bisa menahan tawanya. Naruto begitu menggemaskan. Pipi kenyalnya yang memerah membuat Naruto semakin manis,menurutnya."oke,oke tuan putri. kau tidak gemuk"

"Berhenti memanggilku seperti itu,Sai..itu memalukan"

"Tapi cocok denganmu Naru chan"

Naruto tak membalas Sai. Naruto ingat ada sesuatu yang harus ia katakan pada Sai. "Sai…Arigatou sudah menjelaskan tentang Menma pada Sasuke. Aku tidak tau harus bagaimana jika kau tidak mengatakannya mungkin saja…" Sai tau kemana arah pembicaraan Naruto. Setelah kejadian itu,Sai pergi jauh untuk menenangkan pikirannya. Ia tak menyangka akan bertemu Naruto secepat ini.

"Kau tak perlu berterima kasih Naruto,aku senang jika kau bahagia" Sai menatap lurus ke depan tapi Naruto bisa melihat ekspresi teduh di wajah Sai. Terkadang Sai begitu menyebalkan karena selalu menggoda dirinya tapi Naruto tak memungkiri Sai juga orang yang sangat baik.

"Sebagai ucapan terima kasih bagaimana jika aku traktir ramen? "

"Bukan ide yang buruk,jam pulang sekolah aku akan menjemputmu"

Mobil Sai berhenti melaju. Mereka sudah sampai di sekolah. Naruto melepas sabuk pengamannya. Naruto keluar dari mobil dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Terbesit pikiran untuk memberikan bekal Sasuke untuk Sai. Naruto berbalik dan mengetuk pintu kaca mobil Sai yang sudah ditutup oleh sang pemilik.

"Ada apa Naru chan?"

"Ini untukmu Sai" Naruto menyerahkan kotak bekal biru yang Sai ketahui kotak bekal milik Sasuke. Sai memandang Naruto. "Untukku? Bukannya itu untuk Sasuke?"

Naru menghela nafas panjang. "Sasuke tidak datang ke sekolah beberapa hari dan hari ini juga sepertinya begitu. Dari pada terbuang lebih baik untukmu saja Sai."

Suara bel terdengar nyaring hingga diluar sekolah. Naruto segera memberikan kotak bekal itu."Ahh aku sudah terlambat . Sampai nanti ,Sai" Naruto berlari ke dalam sekolah.

Sai menatap kotak bekal tersebut. Bau masakan Naruto menusuk indra penciumannya. Sudah lama ia tidak makan masakan Naruto. Manik Onyx Sai menyendu. "Bukankah ini sedikit menyakitkan?"

Naruto berlari sepanjang lorong kelas. Proses belajar mengajar sudah dimulai. Naruto tak memiliki jadwal mengajar pagi ini hanya saja pekerjaannya menumpuk. Masih banyak yang ia harus priksa.

Naruto melangkahkan kakinya menaiki tangga. Ia tak mengurangi kecepatan langkahnya hingga kakinya tergelincir. Tubuh Naruto jatuh ke belakang. Beruntung seseorang menahan tubuhnya di bawah. Naruto tak ingin lagi masuk rumah sakit karena jatuh terguling di tangga sekolah.

"Apa yang kau lakukan Naruto?"

Naruto menoleh ke belakang. Raut terkejut begitu terlihat jelas di wajahnya. Orang yang menolongnya adalah….. Gaara?

"Gaara arigatou…"

Gaara tak membalas ucapan Naruto dan berlalu pergi. Naruto terpaku di tempat. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Gaara menolongnya? Padahal masih Naruto ingat,secara tegas Gaara mengatakan membencinya. Seharusnya Gaara akan membiarkannya jatuh terguling di tangga tapi justru Gaara melakukan hal sebaliknya. Bolehkan Naruto berharap jika Gaara tak sungguh-sungguh membencinya.

Sebuah tangan menepuk keras pundak Naruto."Oi Naruto"

"Kiba kau mengejutkanku!" protes Naruto.

Kiba terkekeh. "Makanya jangan melamun Naruto. Oh,ya Gaara bicara apa padamu? Tadi aku lihat dia disini."

Naruto mengalihkan pandangannya gelisah. "Kami tidak bicara apa-apa. Hanya kebetulan berpapasan Kiba"

Mata Kiba menyipit dan memperhatikan Naruto secara seksama. Entah sampai kapan sahabatnya ini tak berterus terang. Kiba mengira Naruto akan segera menceritakan apa yang terjadi. Namun sampai sekarang Naruto juga masih belum mengatakan apa pun. Selama tiga hari ia terus memperhatikan tingkah Naruto dan Gaara. Gaara memang sebelumnya terus menghindari mereka tapi Kiba masih bisa bicara dengan Gaara walau hanya sebatas menyangkut nilai murid mereka sedangkan Naruto…Gaara bungkam seribu bahasa. Ia yakin ada masalah diantara mereka.

Naruto yang merasa tidak nyaman memutuskan untuk pergi ke ruang guru. "Maaf Kiba , aku harus pergi ke-"

"Naruto aku ingin bicara denganmu,ini soal kau dan Gaara." Naruto menegang. Ia tak tau harus bicara apa. Mungkin ini saatnya ia harus menceritakan semua pada Kiba.

Naruto dan Kiba memutuskan duduk di taman belakang sekolah. Suasana sekolah begitu sepi. Seperti hanya ada mereka berdua di sana. Naruto menarik nafas dalam dan perlahan menceritakan apa yang terjadi. Beberapa kali ekspresi kaget ditampilkan Kiba. Tapi Kiba tetap diam. Ia mendengarkan cerita Naruto sampai selesai.

Kiba bisa menerka dari nada bicara Naruto yang begitu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Itu hal yang wajar. Jika kejadian itu menimpa Kiba,mungkin ia akan menyalahkan dirinya sama seperti Naruto. Yang terpenting dipikirkan Kiba adalah mencari titik terang masalah Gaara dengan Naruto dan tentang Gaara yang akan menikah bukan dengan Neji tapi pria lain!

Kiba tampak berfikir. Gaara berubah sejak dari rumah sakit saat Naruto dirawat. Tak ada yang aneh tapi… Tunggu dulu ia ingat sesuatu.

"Apa ini ada hubungannya dengan pria itu?"

"Pria?" tanya Naruto bingung.

"Aku sempat melihat Gaara bicara dengan seorang pria saat di rumah sakit tapi aku tak mendengar pembicaraan mereka. Pria itu berambut merah bata dan terlihat masih muda. Kau mengenalnya Naruto?"

"Tidak..Apa jangan-jangan dia calon suami Gaara?"

"Hmmm,aku juga tidak tau tapi Gaara terlihat tak ingin berurusan dengan pria itu"

"Ini semua salahku jika saja aku tidak.."

BLETAK

Kiba menjitak keras kepala Naruto. Naruto pun meringis kesakitan. "Sakit Kiba…"

"Ini tidak sepenuhnya salahmu Naruto dan seharusnya kau bilang dari awal masalah ini."

"Maaf,Kiba aku hanya tak ingin membuatmu khawatir"

"Pantas saja Sasuke memanggilmu dobe,Naruto"

Kiba tertawa keras. "Aku tidak dobe Kiba!" Naruto menggembungkan pipinya sebal. Tapi dalam lubuk hatinya Naruto sedikit merasa lega. Ia sangat beruntung ia memiliki sahabat seperti Kiba.

"Arigatou Kiba…"

Kiba tersenyum." Daripada kau memikirkan hal itu lebih baik kau kerjakan tugasmu Naruto..aku lihat salah satu muridmu menaruh beberapa lembar kerja di mejamu pagi ini"

"EHHH! Kalau begitu aku pergi dulu Kiba"

Naruto berlari meninggalkan Kiba. Dan Kiba tertawa puas berhasil menjahili Naruto. Ya ,walau pekerjaannya sama menumpuknya dengan Naruto. Kiba mulai beranjak dari tempat duduk sebelum suara asing terdengar.

"Maaf,bisakah aku bicara padamu?"

Seorang pria berdiri di hadapannya. Matanya membulat setelah melihat surai merah bata yang dimiliki pria itu.

"Kau…"

.

Naruto memandang ponsel orange miliknya yang terkapar di atas meja. Tak ada tanda-tanda akan ada panggilan atau sekedar pesan. Naruto bersandar disudut ruangan dengan rasa bosan.

Suasana disana terbilang ramai. Pelayan bergantian datang ke meja pengunjung mengantarkan ramen panas yang mengepulkan asap. Jangan lupa dengan aroma yang menggugah selera. Sekarang Naruto duduk bersila di sudut ruangan kedai ramen. Semula Sai ingin menjemputnya tapi mendadak ia ada urusan jadi meminta Naruto datang duluan.

Naruto tak masalah harus menunggu. Hanya saja jika sendirian seperti ini ia ingat Sasuke. Ia berharap Sasuke mengabarinya hari ini. Tapi sepertinya tidak. Naruto merebahkan setengah badannya di atas meja. Ia rindu Sasuke.

"Maaf menunggu lama Tuan putri"

"Sai berhenti memanggilku begitu"

"Naru chan,kau tidak melepaskan syalmu?"

Wajah Naruto memucat. Ia memang terus memakai syal. Tanda-tanda Kyuubi masih belum hilang,Naruto tak ingin ada orang yang melihatnya.

"Ah,tidak Sai. Aku merasa sedikit kedinginan"

Sebelah alis Sai terangkat. Ia sependapat jika udara sedang dingin tapi di dalam ada penghangat dan hampir tidak terasa lagi hama dingin diluar. Untuk saat ini Sai tak ingin berfikir macam-macam. Naruto mungkin saja memang kedinginan. Atau…karena Sasuke?

"Kau belum pesan ?"

Naruto menggeleng pelan. Sai memanggil pelayan dan memesan dua mangkok ramen untuk mereka berdua. Pandangan Sai kembali teralih ke Naruto. Dari masuk kedai ini,Naruto terus saja melirik ponsel miliknya dan setelah itu menghela nafas panjang. "Naru chan ada apa dengan ponselmu?"

"Tidak ada apa-apa Sai."

"Katakan saja Naru chan. Kau bisa cerita apapun padaku"

"Sasuke tidak pernah menghubungiku sejak tiga hari yang lalu. Aku hanya khawatir padanya. Apa kau tau sesuatu tentang Sasuke ,Sai?"

"Yang aku dengar,Sasuke sedang berusaha menyelamatkan perusahaannya."

"Apa maksudmu Sai?" Naruto tidak mengerti maksud Sai.

"Entah apa yang terjadi,hampir semua pemegang saham di perusahaan Sasuke menarik saham mereka dan itu membuat harga saham Sasuke turun drastis. Jika ini terus berlanjut kemungkinan terburuknya,perusahaan Sasuke akan bangkrut"

"Bangkrut..?! Bagaimana mungkin?"gumam Naruto. Naruto masih meloading apa yang dikatakan Sai. Apa ini alasan Sasuke tidak sempat menghubunginya? Raut sedih tergambar perlahan di wajah Naruto. Sasuke pernah mengatakan jika perusahaannya adalah peninggalan dari orang tua Sasuke. Naruto bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasuke.

Sai meletakkan sebuah map merah di atas meja dan menyodorkannya pada Naruto. "Berikan ini pada Sasuke dan jangan beritau jika aku yang memberikannya. Aku yakin dia akan merobek berkas ini jika tau itu dariku"

Naruto membuka map tersebut. "Sai,ini.." Naruto tidak terlalu mengerti tentang berkas di dalam map itu tapi yang jela berkas itu berisi nama-nama pemegang saham. Tak tanggung-tanggung ada 100 nama tercetak di berkas itu.

"Aku mengalihkan beberapa pemilik saham perusahaanku untuk pindah ke perusahaan Sasuke. Mereka telah setuju jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sasuke hanya tinggal mentandatangani berkas itu. Hanya ini yang bisa kulakukan."

"Tidak Sai,ini lebih dari cukup. Apa kau sudah lama mempersiapkan ini semua? Aku yakin ini hal yang tak mudah"

"Kau tak perlu memikirkan itu,Naru chan. Itu hal mudah untukku.. Ah,pesanan kita datang"

"Arigatou Sai…"

Sai hanya tersenyum. Bibirnya kelu untuk bicara. Tak seharusnya Sai menolong Sasuke. Ia menyiapkan berkas itu tadi pagi setelah bertemu Naruto. Ia tak menyukai raut sedih Naruto.

Asap mengepul dari mangkok ramen. Aromanya benar-benar menggugah selera. Naruto membuka pembungkus sumpit lalu siap menyantap ramen miso kesukaannya. Suara seruputan mie ramen keluar dari mulutnya. Enak seperti biasanya tapi entah kenapa ia sedikit mual. Naruto cuek dan tetap memakan ramennya sampai habis. Sampai pada akhirnya ia benar-benar sangat mual.

"Hueekkkkk…"

Disinilah Naruto sekarang. Di dalam toilet kedai. Sai memijat tengkuk Naruto yang tak berhenti mengeluarkan isi perutnya. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Seberapa banyak ramen yang dimakannya ,Naruto tak pernah mual apalagi muntah. Satu mangkok ramen pun belum habis dilahapnya.

"Lebih baik kita ke rumah sakit Naru chan"

"Tidak perlu Sai,aku baik-baik sa- Hueeekkkk"

Dilihat darimana pun Naruto dalam keadaan tidak baik. Wajahnya memucat karena lemas. Akhirnya Sai mengantar Naruto pulang. Ia ingin membawa Naruto ke dokter tapi Naruto menolak.

"Kau yakin Naru chan tidak ku antar ke dokter?" ucap Sai sambil menurunkan kaca mobilnya.

"Tidak Sai,aku sudah merasa lebih baik."

"Ini aku kembalikan. Masakanmu masih enak seperti biasanya" Sai menyerahkan kotak bekal yang diberikan Naruto tadi pagi.

"Arigatou Sai untuk semuanya"

"Hm, Aku pergi dulu"

"Hm,Hati-hati Sai" Naruto melambaikan tangan ke arah mobil Sai sampai mobil Sai tak terlihat lagi.

"Tadaima…" ucap Naruto,membuka pintu.

"Okaeri,Naru..ouchh pelan-pelan Gaara"balas Neji. Naruto menatap heran seseorang disamping Neji. Gaara?

"Oi Naruto ,kau diantar siapa tadi?" Kiba yang tiba-tiba muncul dari belakang merangkul leher Naruto.

"Belanjaanmu banyak sekali ,Kiba"

"Jangan mengalihkan pembicaraan Naruto. Jadi siapa yang mengantarmu tadi? Jangan bilang kau berselingkuh dibelakang Sasuke"

"Aku tidak mungkin selingkuh. Sai yang mengantarku"

"Sai? Aku kira dia sudah hilang ditelan bumi."

"Kaachan…lihat Menma bawa apa…ramennn. Kaachan mau?" Menma memperliatkan kantong belanja yang berisi lima ramen instan. Sebenarnya Naruto ingin makan ramen tapi ia masih ingat kejadian tadi.

"Tidak…untukmu saja Menma" Naruto kembali mengarahkan pandangannya pada Neji dan Gaara. Gaara terlihat memasang plester luka di sudut bibir Neji. Naruto baru menyadari wajah Neji babak belur. "Kenapa Neji nii terluka?"

Belum sempat Neji menjawab,Kiba kembali berceloteh."Begini Naruto,biar aku ceritakan untukmu"

Flashback

Naruto berlari kesetanan. Kiba tertawa jahat telah berhasil menjahili sahabatnya itu. Kiba mulai beranjak dari tempat duduk. Ia juga memiliki banyak perkerjaan yang harus ia segera selesaikan.

"Bisa aku bicara denganmu sebentar?

Suara asing menghentikan Kiba. Seorang pria dengan wajah baby face berdiri di hadapannya. Matanya membulat setelah melihat surai merah bata yang dimiliki pria itu.

"Kau…"

Pria di depannya ini sama percis dengan pria yang ia lihat bersama Gaara dikoridor rumah sakit. Untuk apa pria ini ada di sekolah?

"Perkenalkan aku Sasori..,calon suami Gaara. Kau sahabat Gaara,bukan?"

Ternyata benar dugaan Kiba,pria bernama Sasori ini calon suami Gaara. Wajah Sasori terlihat baby face dan tanpa dosa. Tetapi Kiba bisa melihat orang seperti apa Sasori. Pandangannya saja seperti memandang rendah dirinya. Kiba yakin pria di depannya ini orang yang sangat licik hingga membuat hubungan Gaara dan Neji berantakan.

"Hm,begitulah"jawab Kiba cuek.

"Apa kau melihat Gaara?Aku sudah mencarinya tapi dia tidak ada"

"Aku tidak tau..Maaf, aku harus pergi" Baru saja Kiba berbalik,Neji menghampirinya. Kiba ingin menepuk jidatnya, bisa terjadi perang dunia jika Neji bertemu dengan Sasori.

"Kiba..kau kemana saja aku men-"

"Ah,kau pasti Hyuuga Neji. Kenalkan aku calon suami Gaara,Sasori"

Neji sama sekali tak terkejut. Wajahnya terlihat tenang. Ia sudah mengetahui jika Gaara akan menikah tapi ia masih belum mengetahui dengan siapa. Beberapa hari yang lalu kakak Gaara menelponnya memberitau apa yang sebenarnya terjadi. Temari,kakak Gaara tak kuat melihat Gaara yang murung dan tak ceria. Walau ia dan Gaara hanya berkomunikasi lewat telepon tapi Temari mengetahui segala hal tentang Gaara. Temari merasa perlu menceritakan ini pada Neji dengan resiko menlanggar janjinya pada Gaara.

Temari menceritakan segalanya termasuk keputusan Gaara memutuskan hubungan mereka. Ternyata Sasori mengancam Gaara akan menghancurkan perusahan yang baru saja dirintis Kankuro jika masih berhubungan dengan Neji dan sahabat-sahabatnya. Tak hanya itu Sasori tak segan-segan mengancam akan melukai Neji jika Gaara tidak sejutu untuk menikah dengannya. Betapa licik orang bernama Sasori itu. Tapi Neji tak bisa memungkiri perasaan senang,Gaara begitu peduli padanya.

Kankuro tidak tau soal ini. Jika ia tau ,mungkin Kankuro akan mengamuk karena Sasori berani mempermainkan adiknya. Tapi Gaara tak memberitau Kankuro,ia tidak mau Kankuro mengulang semua kerja kerasnya dari awal. Ia tau seberapa sulit Kankuro mencapai tingkat seperti sekarang. Dan faktanya Sasori adalah mantan kekasih Gaara saat di Suna. Sasori sering berbuat kasar pada Gaara dan suka bermain dengan wanita-wanita. Gaara tidak tahan dan memilih pindah ke Konoha ,mencari kehidupan yang baru. Jalan Gaara tak semudah yang dipikirkan. Sasori terus mengganggunya. Namun setahun belakangan Sasori tak pernah muncul lagi. Neji marah pada Gaara. Tak sekalipun ia menceritakan tentang Sasori. Ia berharap bertemu dengan orang bernama Sasori dan meninju wajahnya. Tak akan ia biarkan Sasori bertindak sesuka hatinya lagi kekasihnya.

BUGHH

Bogeman keras menghantam pipi kanan Sasori hingga ia tersungkur di rerumputan taman. Kiba sempat terkejut,Neji memukul Sasori tapi Kiba tak ada niatan untuk menolong Sasori. Ia rasa itu pantas untuknya.

"Jauhi Gaara!Jika tidak…"

Sasori mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tak lama seringai mengejek ia tujukan pada Neji. Sasori tertawa keras " Jika tidak apa? Kau kira bisa menghentikanku. Biarku beritau padamu. Apa yang aku mau akan aku dapatkan dengan cara apapun!"

"Brengsekk…"

Neji kembali mencoba memukul Sasori tapi tendangan Sasori lebih cepat. Neji memegangi perutnya. Tendangan Sasori sangat kuat hingga Neji merasa ingin muntah.

"NEJII"

Kiba berjalan mendekati Neji. Ia bisa berdiam diri melihat Neji yang kesakitan. Tapi rentangan tangan Neji menghentikan langkah Kiba. "Aku tak apa-apa Kiba. Kiba,bisakah kau panggilkan Gaara?"

"Baiklah. Berhati-hatilah,Neji"

Neji ingin sekali Gaara melihat bagaimana dia berani melawan Sasori. Ia tidak ingin Gaara ketakutan hanya karena orang seperti Sasori.

Neji kembali menyerang Sasori dan begitu sebaliknya dengan Sasori. Wajah tampan mereka penuh lebam dan bekas darah. Dilihat darimana pun mereka sama-sama babak belur tapi sebenarnya Neji kalah telak. Setiap pukulan atau tendangan Sasori sangat bertenaga hingga Neji tak sanggup untuk membalas. Sasori kembali memukul Neji. Neji terlempar jatuh. Ia tak kuat lagi,seluruh badannya sakit. Sasori berjalan menuju Neji. Neji mencoba bangkit dengan sisa tenaga tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Ia sudah mencapai batasnya. Sasori tak bisa ia anggap remeh.

"Berhenti Sasori…" Gaara berlari di depan Sasori. Tangannya direntangkan bagai penghalang untuk Sasori. Sasori berdecak kesal,Gaara datang dan malah melindungi Neji.

"Pergi dari sini Sasori…"

"Kau mengusirku, Gaara?"

Gaara tak menjawab,ia duduk disamping Neji dan membantunya bangun. "Neji,kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja,Gaara. Kau tidak perlu khawatir"

"Baiklah kalau itu maumu Gaara,jangan salahkan aku jika hal buruk akan terjadi"ucap Sasori berjalan pergi.

Tubuh Gaara bergetar. Ia tak ingin terjadi apapun pada orang lain disekitarnya terlebih lagi Neji. Gaara berencana akan menyusul Sasori,namun Neji menghentikannya.

"Kau tak perlu takut Gaara,aku ada disampingmu" senyuman menghiasi wajah lebam Neji. Air mata yang ditahan Gaara akhirnya meluap keluar. Neji memeluk erat dirinya dan dibalas tak kalah eratnya oleh Gaara.

"Hiks…gomen.."

"Kau tidak bersalah Gaara" Neji mengelus lembut surai merah Gaara. Ia akan melindungi Gaara apapun yang terjadi. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya.

Flashback off

"Jadi Gaara sebenarnya menjauhi kita karena Sasori. Dan yang terpenting Gaara tidak membencimu Naruto. Iya kan Gaara?"

Gaara bangkit dan berdiri di depan Naruto."Gomen Naruto…aku mengatakan hal kasar padamu. Seharusnya aku tidak-"

Naruto menggeleng lalu tersenyum. "Tidak Gaara,kau tak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf,aku tidak bisa membantumu. Padahal aku sahabatmu tapi aku…" Naruto menundukan kepalanya.

"Naruto…."Gaara memeluk Naruto hangat. Tak ada perasaan gusar dihatinya lagi. Ia selalu khawatir sahabat-sahabatnya akan membenci dirinya, dan semua itu tak terbukti. Gaara tak bisa mengungkapkan seberapa bahagia dirinya saat ini.

"Kaachan,Menma juga mau dipeluk" Menma menarik-narik ujung kemeja Naruto. Menma iri kaachannya memeluk Gaara,ia juga mau.

Mereka semua tertawa melihat tingkah Menma yang sangat manja. Naruto menggendong Menma dalam dekapannya. Dan Menma memeluk leher Naruto. Menma sangat suka bau kaachannya.

TOK TOK

"Mungkin itu Shikamaru ,aku memintanya datang tapi kenapa harus mengetuk pintu.."ucap Kiba.

"Biar aku yang buka" Gaara berjalan ke arah pintu. Tak lama kemudian suara teriakan Gaara membuat semua panik. Mereka bergegas menuju pintu. Bukan Shikamaru yang datang melainkan Sasori.

"LEPASKAN AKU…"

Tangan putih Sasori melingkar erat di leher Gaara. Gaara terus memberontak tapi Sasori tetap tak melonggarkan sedikitpun cengkramannya.

"Lepaskan Gaara,Sasori"tegas Neji.

"Baiklah" Sasori mendorong Gaara ke arah Neji. Sesaat Neji melihat seringai licik di wajahnya. Neji yakin ada sesuatu yang direncanakan Sasori.

"Jika aku tidak bisa memilikimu,maka yang lain juga tidak Gaara" Sasori mengeluarkan dan mengarahkan moncong pistol tepat ke arah Gaara.

"GAARA"

DOR

Suara tembakan sangat keras terdengar. Gaara yang sejak tadi menutup mata ,membuka matanya. Bisa ia rasakan ada tubuh lain yang memeluknya. Gaara berbalik untuk melihat siapa orang yang memeluk dirinya. Gaara membeku.

"Kau baik-baik saja Gaara…uhukk" Darah kerluar dari mulut Neji bersamaan dengan itu Neji jatuh tersungkur. Tangan Neji tak lagi memeluknya. Semua yang ada disana bisa melihat dada Neji yang terus mengeluarkan darah. Lantai marmer putih bersih berubah warna menjadi merah.

"Ne..ji …."gumam Gaara terbata-bata. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya.

"Itulah akibat karena kau berani menentangku,Gaara"

Gaara menendang tangan kanan Sasori. Pistol yang dipegang Sasori terlempar ke sudut tembok. Dengan cepat Gaara mengambil dan menodongkannya pada Sasori. Tangan Gaara bergetar. Wajahnya memerah dengan air mata yang masih mengalir.

"Kau ingin menembakku Gaara? Tembaklah "

DOR

Gaara tak main-main. Ia menembak tangan kanan Sasori. Sasori mengerang kesakitan. Ia terlalu percaya diri Gaara tak akan menembaknya.

Sasori merasakan kedua tangannya ditarik ke belakang. Ia berbalik dan melihat beberapa polisi di sekitar dirinya. Sasori berdecak kesal. "Cih…Lepaskan aku…" Sasori ditarik paksa oleh salah satu polisi dan digiring masuk ke dalam mobil.

"Maaf aku terlambat" ucap Shikamaru muncul dari balik pintu. Dialah yang memanggil polisi. Shikamaru baru saja ingin datang dan melihat Sasori berada di depan apartemen Naruto dengan pistol di kantong jaketnya. Langsung saja Shikamaru menelpon kantor polisi. Tapi dia sedikit terlambat. Neji sudah terkapar.

Gaara membuang pistol Sasori dan mendekati Neji. Tangisannya semakin keras.

"Kita bawa Neji ke rumah sakit"ujar Shikamaru.

Mereka membawa Neji ke rumah sakit. Wajah Neji sangat pucat,karena darah yang terus keluar tanpa henti dari tubuhnya. Neji pun dibawa ke ruang UGD. Waktu satu detik yang berjalan terasa sangat lama bagi mereka. Sampai akhirnya pintu putih UGD terbuka.

"Bagaimana keadaan Neji,Tsunade san?"tanya Gaara.

"Pelurunya masuk terlalu dalam ,jadi kami akan melakukan operasi setelah ia sadar. "

"Kenapa tidak operasi Neji sekarang? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana jika.."

"Gaara…tenanglah" Kiba menepuk bahu sahabatnya itu. Ia tau seberapa kalut perasaan Gaara. Jika itu terjadi pada Shikamaru mungkin ia tak bisa setenang Gaara saat ini

"Kami tidak bisa melakukan operasi sekarang karena kondisinya yang lemah. Itu akan sangat beresiko. Jadi biarkan dia beristirahat" jelas Tsunade beranjak pergi.

Gaara masuk ke dalam ruangan Neji dan duduk di samping ranjang. Tangan hangatnya menggenggam tangan dingin Neji. Tangan Neji tak pernah sedingin ini. Gaara tak bisa melakukan apapun…Ia merasa semua ini adalah salahnya. Jika saja dia tetap menuruti Sasori ,Neji tak akan terluka.

"Kiba menginaplah dirumah Naruto. Aku dan Gaara akan menjaga Neji"ujar Shikamaru.

"Baiklah..Naruto ayo kita pulang"

"Aku ingin tetap disini,Kiba"

"Biarkan Shikamaru dan Gaara menjaga Neji. Apa kau tidak kasihan pada Menma yang sendiri di apartemen"

Apa yang dikatakan Kiba ada benarnya juga. Ia juga harus mengurus Menma. Naruto menurut dan pulang bersama Kiba. Beberapa kali Naruto berbalik melihat ruangan Neji. Naruto berharap tak akan terjadi apa-apa dengan Neji.

(•̀ㅂ •́)و

"Naruto sensei..Naruto sensei..NARUTO SENSEI"

Semua murid Naruto berteriak keras. Bagaimana lagi, Naruto benar-benar asyik dengan lamunannya sampai bel istirahat yang bergema di seluruh gedung sekolah tak ia dengar.

"Heh,Ada apa?" tanya Naruto menatap bingung semua muridnya.

"Waktunya istirahat sensei" jawab mereka serempak. Naruto melirik arlogi miliknya. Benar saja waktu istirahat sudah lewat lima menit yang lalu.

"Ah,gomen…Kalian bisa istirahat"

Semua murid berhamburan keluar kelas. Naruto merapikan barang-barangnya dan beranjak pergi. Sepanjang koridor beberapa murid perempuan berteriak kegirangan ,Naruto tidak tau kenapa. Ia mencoba melihat ke balik jendela.

Seorang pria dengan setelan jas hitam berjalan di tengah lapangan sekolah. Naruto yang melihatnya juga ingin menjerit tapi hanya dalam hati,mau ditaruh dimana wajahnya jika ia berteriak kegirangan layaknya fansgirl di depan murid-murid.

"Sasuke datang hari ini!" Naruto bergegas menuruni tangga untuk menghampiri Sasuke tapi Naruto ingat sesuatu. Map yang diberikan Sai. Ia harus memberikannya pada Sasuke tanpa sepengetahuannya. Naruto kembali menaiki tangga menuju ruangan Sasuke.

Naruto meletakkan map itu di atas tumpukkan map yang lain. Warna map Sai sangat mencolok dari yang lain,Naruto yakin Sasuke akan langsung melihatnya. Naruto menghela nafas panjang. "Aku harap..kau bisa membantu Sasuke"ucap Naruto kepada map kuning Sai. Mungkin kelihatannya ia seperti orang gila bicara pada map tapi ia berharap besar,isi map itu bisa menolong Sasuke. Naruto melirik kembali map itu sebelum pintu ruangan Sasuke tertutup.

Tak lama setelah kepergian Naruto, pintu ruangan Sasuke kembali terbuka. Langkah kaki mendekat ke meja Sasuke. Map kuning yang baru saja diletakkan Naruto terangkat sangat tinggi.

"Membantu heh?Ku rasa tidak" ucap orang itu dengan seringai lebar.

Naruto menelusuri sepanjang koridor kelas. Sasuke tak ada dimana pun. Naruto berinisyatif pergi ke atap. Tapi sebuah tangan menariknya ke belakang tangga.

" Ahh…lepaskan aku" Naruto memberontak tanpa melihat siapa orang yang telah menariknya.

"Begitukah sambutan untuk kekasihmu ini,dobe?"

"Suke…kau membuatku takut"

"Aku merindukanmu dobe.."

"Aku juga merindukanmu Suke"

Mereka saling berpelukan. Merasakan kehangatan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Sasuke berkata jujur jika ia sangat merindukan Naruto.

"Kau sudah makan siang?"

"Belum,Suke. Aku tidak sempat membuat bekal"

"Ikut aku"

"Kita mau kemana Suke?"

Sasuke menyeret Naruto tanpa peduli para murid yang melihat mereka dengan tatapan penasaran. Sasuke mendorong Naruto masuk ke mobil dan membawanya ke sebuah apartemen. Yang Naruto tau,itu adalah apartemen Sasuke. Naruto tak mengerti kenapa Sasuke membawanya ke sana.

Sasuke membuka pintu. Naruto terperangah melihat apa yang ada di dalam. Apartemen Sasuke sungguh berantakan. Pakaian tergeletak di lantai dan di sofa. Kertas-kertas putih yang ia yakini pekerjaan Sasuke,berhamburan di setiap ruangan. Sasuke kembali menarik dirinya dan menghempaskannya di ranjang King size.

Sasuke merangkak naik ke atas Naruto. Sesaat mata mereka bertemu. Naruto bisa melihat raut sedih di mata Sasuke. Mata Sasuke yang hitam kelam tak menunjukkan perasaan apapun,sekarang tidak ada lagi. Hanya kesedihan.

Sasuke memeluk tubuh Naruto. Menghirup bau sang kekasih yang selalu membuatnya tenang. Semakin lama semakin erat hingga membuat Naruto tak bisa bernafas.

"Suke…"

"Biarkan seperti ini sebentar lagi,Naruto"

Naruto menuruti keinginan Sasuke. Tangannya mengelus pelan surai raven Sasuke. Bau mint khas Sasuke menyeruak memenuhi indra penciumannya. Entah berapa lama ia tak pernah mencium aroma itu. "Suke …apa yang terjadi?"

"Tidak ada…hanya merindukanmu dobe"

"Apa ini karena perusahaanmu?"

Pelukan Sasuke merenggang. Sasuke tak terkejut Naruto sudah mengetahuinya. Media cetak maupun media online sudah menyebar luaskan masalah perusahaannya yang diambang kebangkrutan.

"Kau sudah tau tentang perusahaanku,dobe?" Sasuke tertawa." Bukankah miris melihat sesuatu yang diwarisi oleh orang yang kau sayangi, hancur berkeping-keping. Peninggalan terakhir kaasan yang sangat kau cintai, peninggalan yang selalu membuatmu merasa kaasan ada bersamamu,dihancurkan. Menurutmu apa kaasan kecewa padaku Naru?

"Sasuke..kaasanmu tidak akan-"

"Kaasan pasti kecewa bahkan membenciku. Impian kaasan yang selalu ingin perusahaan kami menjadi perusahaan terbaik diseluruh jepang. Aku menghancurkannya..menghancurkan impian kaasan. Aku merindukannya,Naruto. Aku merindukan kaasan"

Naruto mencium bibir Sasuke. Ia tak ingin mendengar lagi Sasuke menyalahkan dirinya sendiri. Naruto tau ini semua bukan salah Sasuke melainkan orang lain yang berniat menjatuhkannya.

Naruto melepaskan ciumannya. Tatapan Sasuke lebih tenang dari yang tadi. "Suke kaasanmu tak mungkin kecewa atau membencimu,apapun yang terjadi pada perusahaanmu saat ini,kaasanmu akan selalu mendukungmu. Aku yakin impian sebenarnya kaasanmu adalah melihatmu bahagia,Suke"

"Aku merasa sedang melihat kaasan disini,dobe"

"Eh? Dimana?" Bulu kuduk Naruto langsung berdiri. Ia memperhatikan setiap sudut kamar Sasuke. Naruto paling tidak tahan mendengar hal-hal mistis.

"Dasar dobe."

Sasuke menyentuh kepala Naruto dan memperpendek jarak mereka. "Di dalam dirimu,Naruto"

"Di dalam diriku? Apa maksudmu Su- …"

Tubuh Sasuke tiba-tiba saja jatuh menimpa tubuh Naruto. Mata Sasuke terpejam hanya hembusan nafas yang terdengar. Naruto mengguncang tubuh Sasuke. Tapi sama sekali tak ada respon. "Suke…Sasuke…"

Naruto memutuskan menelpon Tsunade. Tsunade datang tak lama setelah Naruto menelpon. Ia memeriksa seluruh tubuh Sasuke.

"Dia hanya kelelahan,biarkan dia beristirahat. Aku akan menulis resep obat."

"Tsunade san ,bagaimana dengan Neji nii?"

"Dia masih belum sadar. Aku lebih mengkhawatirkan temanmu berambut merah ,dia tak pernah beranjak dari pemuda berambut panjang itu. Temanmu yang bertato segitiga sampai menyeretnya ke kantin karena tak pernah mau makan"jelas Tsunade tetap fokus pada kertas resep yang sedang ia tulis.

Berambut merah dan bertato segitiga,Naruto yakin yang dimaksud Tsunade adalah Gaara dan Kiba. Gaara pasti sangat mencemaskan Neji.

"Aku harus kembali ke rumah sakit. Ingat paksa Sasuke meminum obat itu,dia sangat keras kepala" Tsunade memberikan secarik kertas. "Arigatou Tsunade san"

Naruto sedikit terkejut saat Tsunade melihatnya secara intens. Apa ada yang salah dengannya? "Jika ada waktu datanglah ke rumah sakit"

"Apa ada yang aneh denganku ,Tsunade san?"

"Aku akan memeriksamu saat dirumah sakit" Tsunade berbalik dan meninggalkan Naruto dengan raut kebingungan. Naruto merasa dirinya baik-baik saja. Ia tidak sakit. Hanya saja rasa mual muncul setiap dia memakan sesuatu yang berlemak.

Naruto melirik jam dinding di kamar Sasuke,sudah lewat jam makan siang. Sepertinya Naruto harus akan memasak,semoga saja ada bahan makanan yang lain kecuali tomat di kulkas Sasuke.

Dan benar saja setelah membuka kulkas Sasuke tak ada satu pun bahan makanan kecuali tomat. Terpaksa Naruto membeli bahan makanan di depan apartemen Sasuke. Mata Naruto berkaca-kaca melihat isi dompetnya yang menipis. Harga bahan makanan disana sangat mahal.

Naruto memotong kecil-kecil tomat Sasuke dan memasukkannya ke dalam panci berisi kare. Naruto bermaksud membuat kare tomat untuk Sasuke. Ia harap Sasuke akan membaik.

Naruto mengaduk-ngaduk kare buatnya. Aromanya sungguh enak. Naruto mencicipi sedikit. Rasa mual datang lagi dan Naruto segera berlari menuju kamar mandi. Bukan hanya kare yang keluar tapi semua isi perutnya. Ada apa dengannya? Mungkin ia harus mengikuti saran Tsunade untuk menemuinya.

Naruto kembali memasak. Jika seperti ini ,ia tak bisa makan apapun. Naruto tersentak sesaat. Sepasang tangan melingkar manis dipinggangnya. "Suke..kenapa kau bangun? Kau harus beristirahat."

"Aku lapar dobe. Lagipula siapa yang tidak bangun dengan bau masakanmu"

"Setelah makan ,kau harus beristirahat Suke"

"Aku akan mematuhi semua perintahmu dobe tapi dengan syarat kau juga harus mematuhi perintahku,dobe"

"Suke apa yangkau lakukan?" Sasuke menurunkan celana dan celana dalam Naruto. Tangan Sasuke bergerak masuk ke dalam kemeja Naruto lalu mencubit dua tonjolan yang mulai mengeras.

"ahhh~ …Suke"

Hanya mendengar suara Naruto ,bagian selatan Sasuke sudah setengah menegang. Sasuke memasukkan tiga jari sekaligus ke dalam lubang Naruto. Naruto mengerang kesakitan. Lubang Naruto yang sudah lama tak pernah tersentuh dipaksa melebar oleh tiga jari Sasuke. Semakin lama,Naruto merasakan nikmat dari jari-jari itu,apalagi saat ketiga jari itu bergantian menyentuh titik sensitifnya.

"Sebegitu laparkah lubangmu hingga menghisap jariku seperti ini Naru~"

"Suke…masukan"

"Apa yang perlu aku masukan Naruto? Kau ingin aku memasukan vibrator ke dalam lubangmu?"

"Vib..rator? Apa itu?"

"Kau ingin tau? Beruntunglah aku membawanya hari ini" Sasuke mengeluarkan benda lonjong pink dari sakunya. Ukurannya tidak terlalu besar dan ada kabel yang terhubung dengan tombol.

Sasuke mengeluarkan ketiga jarinya dan memasukan vibrator itu ke dalam lubang Naruto. Awalnya Sasuke menset dengan getaran kecil,merasa Naruto sudah terbiasa Sasuke memasukkan benda itu semakin dalam hingga mencapai titik sensitif Naruto. Tak lupa Sasuke menaikkan level getaran menjadi sangat cepat.

"AHHH~ ahhhh~ Suke…keluarkan Ahhhh~" Naruto tak bisa menghentikan desahannya. Rasanya sangat nikmat ketika benda kecil itu bergetar keras menyentuh titik sensitifnya.

"Bagaimana rasanya sayang?" bisik Sasuke.

"Suke…aku ahhh~ tidak kuat lagi…"

"Kau belum boleh keluar dobe" Merasa Naruto mencapai batasnya,Sasuke mencabut vibrator dan membuangnya ke lantai masih dalam keadaan bergetar. Milik Sasuke melesat masuk. Otot-otot lubang Naruto menjepit kuat miliknya. Sungguh memberikan rasa nikmat yang tak bisa dikatan Sasuke.

"Kau sangat sempit Naru"

"Suke..ahhh~ faster AHHHH~"

Sasuke terus memaju mundurkan pinggulnya. Mencari rasa nikmat di dalam lubang hangat Naruto. Namun rasa pening menghampirinya. Tubuhnya masih lemah.

"Akhhh.."Sasuke memegangi kepalanya.

"Suke…kau baik-baik saja? Lebih baik kau istirahat,Suke"

"Kita belum selesai dobe,jangn harap aku akan menghentikan ini. Kita pindah ke sofa"

Sasuke tak melepaskan miliknya di dalam lubang Naruto. Ia paling tidak suka kegiatannya diganggu ataupun berhenti ditengah jalan. "Berbaringlah dobe"

"Tidak Suke,kau saja yang berbaring. Biar aku yang..." Wajah Naruto memerah. Sasuke tak perlu bertanya untuk tau maksud ucapan Naruto. Sasuke menyeringai senang, ada untungnya dia sakit di saat-saat seperti ini. Sasuke berbaring di sofa ,sedangkan Naruto duduk di atas Sasuke. Pelan-pelan Naruto menggerakan tubuhnya ke atas ke bawah.

Dari bawah Sasuke bisa melihat bulir keringat yang mengalir menuruni dagu hingga ke dada Naruto. Wajah memerah menampilkan kesan seksi dan Sasuke bisa melihat jelas lubang Naruto yang menyedot miliknya.

"Kau sangat seksi dobe"

"Ja..jangan melihatku Suke..AHHH~" Sasuke mencoba membantu Naruto. Tangannya memegang erat pinggang Naruto dan menaik turunkannya dengan cepat. Desahan lolos dari mulut mereka berdua. Pada puncaknya,Sasuke menyenburkan benihnya di dalam lubang Naruto sedangkan milik Naruto mengotori dada Sasuke. Sasuke sudah terbiasa tidak menggunakan pengaman saat bercinta. Ada rasa bangga saat ia menanamkan benih miliknya di tubuh Naruto.

Ting tong

Bel apartemen Sasuke berbunyi. Sasuke menggendong Naruto ke dalam kamar,ia tak ingin siapapun dibalik pintu itu melihat keadaan kekasihnya yang sungguh mengundang. Jika Naruto tidak sedang tertidur,Sasuke pasti kembali menggerakan miliknya di dalam lubang hangat itu lagi.

Sasuke membuka pintu. "Mendoukusai,ini berkas-bekasmu Sasuke." Shikamaru to the point. Ia menyerahkan berkas-berkas di kantor Sasuke. Sebelum membawa Naruto tadi,Sasuke meminta Shikamaru mengantar semua berkas ke apartemen. Dia malas berada di dalam sekolah saat ini.

"Hn,hanya ini?"

"Iya,aku sudah mengurus sebagiannya. Jadi kau bisa lebih banyak beristirahat. Apa Naruto bersamamu?"

"Hn,Dia ada di kamar"

"Sebaiknya kau memasang alat peredam suara Sasuke. Suara desahan kalian terdengar sampai keluar. Hoam…Aku pergi dulu"

"Hn"

Sasuke meletakkan berkas-berkas itu di meja dekat ranjangnya. Lalu Sasuke duduk di tepi ranjang sambil menghisap rokoknya. Beberapa hari ini ia terlalu stress hingga kebiasaan yang sangat jarang ia lakukan,kembali dilakukannya. Naruto mengerjapkan matanya. Indera penciumannya mencium bau yang menyengat.

"Ngghh~" Merasa Naruto akan bangun, Sasuke mematikan rokoknya.

"Suke siapa yang datang?"

"Shikamaru,mengantar berkas diruanganku."

Naruto melihat berkas-berkas itu. Perasaan gelisah menghampirinya saat tidak melihat map kuning pemberian Sai. "Hanya itu, Sasuke?"

"Hn,hanya itu. Ada apa?"

"Ah,Tidak Suke"

Bagaimana mungkin berkas itu tidak ada? Naruto yakin Shikamaru tak mungkin meninggalkan map itu. Naruto hanya bisa berharap berkas itu terjatuh di ruangan Sasuke. Bagaimana pun caranya Naruto harus menemukan map itu! Hanya map kuning itu yang mampu membantu Sasuke.

Keesokan harinya, Naruto datang sangat pagi. Tak ada seorang pun di sekolah. Naruto memeriksa seluruh ruangan Sasuke. Naruto sudah mengecek ke segala tempat hingga tempat-tempat yang tidak mungkin map itu berada. Map itu tetap tidak ada.

"Dimana map itu?"

Engsel pintu berbunyi menandakan pintu dibuka. Naruto berbalik. Sosok di depannya sekarang membuat Naruto ketakutan. Memory seminggu yang lalu kembali muncul. "Kyuu..bi"

"Kau mencari apa Naruto? Atau jangan-jangan kau sedang mencari ini" Kyuubi memperlihatkan map kuning yang tersembunyi di belakangnya. Naruto tak mengerti bagaimana bisa map itu ada bersama Kyuubi. Tapi yang terpenting map itu tidak hilang.

"Kyuubi tolong berikan itu padaku"

"Ambillah" Naruto mengulurkan tangan mengambil map itu. Tapi Kyuubi bukannya memberikan map itu pada Naruto malah menyalakan pematik api dan membakarnya. Kyuubi melempar map yang sebagian sudah terbakar ke lantai. Naruto berusaha mematikan api tapi ia terlambat map itu sudah terbakar habis.

Raut wajah sedih tak bisa Naruto sembunyikan. Harapan satu-satunya untuk membantu Sasuke musnah begitu saja.

"Kyuubi kenapa kau membakarnya?"

"Karena aku tidak suka siapapun merusak rencanaku"

"Rencana? Apa maksud-" Mata Naruto membulat saat menyadari sesuatu. "Kyuubi kau.."

"Seperti yang kau duga,akulah yang melakukan merencanakan kehancuran Uchiha Sasuke"

"Kenapa…kenapa kau melakukan semua ini,Kyuubi? Apa salah Sasuke?"

"Kau ingin tau kesalahan Sasuke? Dia dengan berani mengklaim dirimu sebagai miliknya. Kau adalah milikku,Naru chan"

Kyuubi bisa melihat tubuh Naruto bergetar hebat. Kyuubi berjalan mendekati Naruto. Kyuubi bergerak maju dan Naruto mundur. "Jangan mendekat Kyuubi"

"Tenanglah Naruto…aku hanya ingin memberimu penawaran, aku akan menghentikan rencanaku ,dengan syarat…" Kyuubi mempertipis jarak dirinya dan Naruto. "Kau hanya perlu membuka kakimu lebar-lebar untukku Naruto"bisik Kyuubi.

Naruto terdorong ke belakang mendengar ucapan Kyuubi ."Aku tak akan pernah melakukan itu!" tegas Naruto.

"Baiklah…tapi jika kau berubah pikiran datanglah ke tempat ini jam tujuh malam. Aku menunggumu,Naru chan" Kyuubi memberikan secarik kertas dan pergi. Kertas itu berisikan alamat sebuah hotel berbintang lima. Naruto membuang kertas itu ke tempat sampah. Ia tak akan pernah menghianati Sasuke.

"Dobe kenapa kau ada sini?" Sasuke tiba-tiba saja muncul dari belakang dan mencium pipi tembem Naruto.

"Aku….. hanya ingin membersihkan ruanganmu Suke"ucap Naruto gelagapan.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Sejauh mata memandang ruangannya sudah dalam keadaan bersih. "Ruanganku sudah bersih,dobe."

"Ah,Iya,Suke..Kau benar. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku..Jaa ne Suke"

Naruto keluar dari ruangan Sasuke. Syukurlah Sasuke tak curiga. Tapi tunggu? Naruto mengambil sesuatu dari tasnya. Benar saja ia lupa memberikan bekal untuk Sasuke.

Naruto berbalik kembali menuju ruangan Sasuke. "Suke bekalmu ter-.."

"APA?! Bagaimana mungkin mereka akan menyitanya besok aniki? Pihak bank memutuskan menyita perusahaan kita sebulan lagi"

"Tidak ada yang bisa kita lakukan otouto, ini sudah keputusan mereka"

Sasuke membanting ponselnya ke tembok hingga hancur berkeping keping. Sasuke meremas rambutnya frustasi. Kepalanya tersandar pada jendela dengan rambut raven yang menutupi sebagian wajahnya. "Kaasann…."lirih Sasuke.

Naruto bisa melihat cairan bening yang turun membasahi dagu Sasuke. Sasuke menangis? Naruto tak kuasa meihat Sasuke serapuh ini. Jika saja map pemberian Sai sampai pada Sasuke. Ini tak mungkin terjadi.

Sepanjang hari Naruto tidak bisa fokus dengan apa yang dilakukannya. Ia terus berfikir bagaimana cara menolong Sasuke. Tak banyak waktu yang dimilikinya. Apa Naruto harus menerima tawaran Kyuubi? Tidak! Ia tak akan pernah mengkhianti Sasuke…. Walau untuk kebahagiaannya?

Hari semakin sore,Naruto duduk seorang diri di ruang guru. Sekolah sudah sangat sepi. Dan Naruto tak ingin beranjak dari sana. Naruto terus berfikir dan tak ada satu pun cara yang ditemukannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Naruto meremas surai pirang miliknya. Perusahaan Sasuke akan disita besok pagi,jika ia menerima tawaran Kyuubi…..

Drttt

Naruto menerima sebuah email. Pengirimnya tak mencantumkan apapun. Naruto tak ingin membuka email itu tapi nalurinya berkata sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia tak membuka email itu.

Sebuah video terplay secara otomatis. Seorang pria dengan kemeja putih panjang duduk di sebuah kursi dengan beberapa bekas pukulan di tubuhnya. Kaki dan tangannya terikat. Naruto tak bisa melihat jelas siapa orang itu,wajahnya tertutup rambut. Seorang pria lain dengan tubuh besar menarik ke belakang rambut pria itu dan…

"Saii!"

"Brengsek , Siapa kalian?"

BUGHH

"AKHHH"

Pria dengan badan besar itu memukul wajah Sai. Mulut Sai mengeluarkan darah segar. Naruto tak sanggup melihatnya. Sebuah email kembali didapatkan email.

'waktumu tersisa tiga puluh menit lagi,Naru chan'

Tak perlu berfikir lama,bagi Naruto untuk tau siapa yang sang pengirim email. Ini ulah Kyuubi? Naruto tak pernah menyangka orang disekitar akan melakukan hal sekeji itu. Naruto pergi ke ruangan Sasuke. Tangannya sibuk memilah kertas di dalam tempat sampah. Syukurlah ia menemukan kertas pemberian Kyuubi. Naruto bergegas menelusuri jalan kota. Sambil berlari,mata Naruto bergerak ke kanan dan ke kiri mencari hotel yang dimaksudkan Kyuubi.

Hotel bergaya eropa menjulang tinggi. Alamat hotel itu sama dengan alamat yang diberikan Kyuubi. Baru akan memasuki hotel,seorang pria rapi menghampirinya dan meminta Naruto mengikutinya. Naruto tak tau siapa pria itu tapi Naruto mendengar pria itu menyebut nama Kyuubi. Sepertinya pria itu,orang suruhan Kyuubi. Mereka berhenti di kamar 1001. Kamar itu berada di lantai paling atas. Sang pria mengetuk pintu kamar. Naruto sangat ketakutan sekarang. Apa yang sebenarnya diinginkan Kyuubi? Bagaimana keadaan Sai?

"Akhirnya kau datang juga Naru chan"

Naruto terdiam. Kenangan awal saat bertemu Kyuubi terlintas,ia mengira Kyuubi sosok yang sangat baik. Naruto ingin berteman dengannya. Apalagi Naruto merasa pernah mengenal Kyuubi. Setiap melihatnya terbesit perasaan rindu. Tapi… semua itu sirnah mengetahui wujud asli Kyuubi. Jika saja ia punya keberanian,Naruto akan menghajar Kyuubi.

"Ada apa? Masuklah"

Naruto melangkahkan kakinya masuk. Kamar yang sangat luas dengan jendela yang menunjukkan suasana kota dimalam hari yang indah. Bukan saatnya untuk Naruto kagum dengan kamar hotel itu. Ia harus membebaskan Sai.

"Lepaskan Sai…Kyuubi" ucap Naruto.

"Tentu aku akan melepaskannya. Hanya jika kau mau menuruti perintahku. Jika tidak…"

Televisi besar di ruang tamu,menyala. Naruto tak bisa memalingkan pandangannya dari sana. Televisi itu menampilkan Sai yang dipukuli oleh orang-orang suruhan Kyuubi. Sai mengerang kesakitan. "SAII! " Naruto tak bisa membendung air matanya. Sai ,yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya dipukuli dengan cara tidak manusiawi.

Kyuubi tersenyum miring. Tubuh besarnya ia sandarkan pada sofa empuk berwarna merah marun di depan televisi. Kyuubi puas melihat Sai yang sudah diambang batasnya. Ia tak pernah main-main dengan orang yang berani mengusik rencananya.

"Jadi kita bisa memulainya sekarang, Naru chan?"

.

Naruto ingin muntah,setiap kali milik Kyuubi menyentuh pangkal tenggorokannya. . Apalagi dengan seenak jidatnya Kyuubi menurun naikan kepala Naruto demi mendapatkan kenikmatan yang lebih. "Ah~ terus Naru…"

"HMM.."

Cairan putih milik Kyuubi menyembur di dalam mulut Naruto. Naruto tak sudi untuk menelannya. Tapi apa daya Kyuubi menekan kepala Naruto,membuatnya harus menelan semua cairan menjijikan itu.

"Uhukkk..uhukk..Akhhh.."

Kyuubi menarik tangan Naruto hingga Naruto tidur terngkurap dipanggkuannya. Kyuubi menanggalkan celana berserta dalamannya kemudian memasukkan sesuatu ke dalam lubang Naruto. Naruto tak mengetahui apa yang dimasukkan Kyuubi namun tubuhnya mulai memanas. Bulir-bulir keringat mengucur dari tubuh Naruto. Naruto yakin ruangan ini sangat dingin…bagaimanamu ia merasakan panas? Ada yang aneh dengan tubuhnya.

"Apa yang terjadi denganmu Naru~?" bisik Kyuubi dengan suara sensual. Naruto malah merasa sensasi aneh. Ia terangsang hanya mendengar bisikan Kyuubi. Apa yang dimasukkan Kyuubi ke dalam tubuhnya?

"Ahhh~…panas…ahhh~"

"Aku tak mengira obat itu akan beraksi dengan cepat. Sudah waktunya kita bersenang-senang Naru~"

Kyuubi melesatkan miliknya tanpa memberikan pelumas pada lubang Naruto. "AKHHHH~ Sakittt hiks…keluarkan" Naruto merasakan kesakitan yang amat sangat tapi bersamaan ia juga merasakan nikmat. Naruto meruntuki tubuhnya yang menerima sentuhan Kyuubi.

"Bukankah kau merasa kenikmatan Naru chan"

"AHH~ berhenti..aku…" Naruto sampai puncaknya. Cairan Naruto mengotori sofa. Nafasnya tak beraturan. Pengaruh obat yang diberikan belum hilang juga. Naruto makin merasa panas dan sangat teransang. Tubuhnya ingin terus disentuh tapi tidak! Naruto tak akan terlena dengan sentuhan Kyuubi. Pikirannya terus memberontak.

"Apa senikmat itu Naru sampai kau keluar lebih dulu?"

"Le..paskan aku Ahhh~" Hanya karena Kyuubi memegangi pinggangnya,milik Naruto kembali menegang.

Kyuubi melepaskan miliknya dari lubang Naruto. "Baiklah,kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan Naru chan"

Kyuubi bangkit dari sofa dan melangkah ke bar. Segelas wine diminumnya secara perlahan. Ia tersenyum puas melihat Naruto yang bergerak tak nyaman sambil memeluk tubuhnya. Obat perangsang yang diberikan Kyuubi bukanlah obat perangsang biasa. Obat itu memiliki dosis yang tinggi. Bisa dipastikan sekali menelan obat itu,sang penerima akan kesakitan jika tidak dipuaskan.

Penampilan Naruto sudah sangat berantakan. Air liur mengalir menuruni dagunya. Wajah memerah dan keringat dingin yang terus keluar. Naruto tak kuat lagi. Ia sangat kesakitan. Darah mengalir naik memenuhi kepalanya yang semakin pening. Tidak! Ia tak akan menyerah…sekarang yang ada di pikiran Nauto hanyalah wajah Sasuke tadi pagi. Sasuke yang menangis….

"Memohonlah Naru,maka kau akan menolong Sasuke dan temanmu itu"

Mata Naruto terasa perih. Entah sudah berapa kali ia menangis. Naruto membuka mulutnya..Ia sungguh tak punya pilihan lain "Aku mohon..Kyuubi"

Kyuubi tertawa keras. Kaki jenjangnya melangkah mendekati Naruto dan melemparnya ke atas ranjang king size. "Buka semua pakaianmu Naruto"

Tangan Naruto bergetar saat melucuti satu persatu pakaiannya. Dan Kyuubi merebahkan dirinya di samping Naruto. Naruto tak mengenakan apapun sekarang,semua pakaiannya berserakan di lantai. Suara berat Kyuubi meminta Naruto duduk di atas tubuhnya. "Kau tau apa yang harus kau lakukan Naru chan"

Naruto perlahan memasukan milik Kyuubi ke dalam dirinya. Sangat menyakitkan. Bukan hanya tubuhnya tapi hatinya terasa ditusuk. Tubuh yang sudah menjadi milik Sasuke, disentuh oleh orang lain. Naruto merasa jijik pada dirinya. Naruto tak bisa lagi menatap Sasuke, ia sudah mengkhiantinya. Mengkhianati Sasuke yang mencintainya. Tapi…ini demi kebahagian Sasuke. Naruto akan melakukan apapun. Walau pada akhirnya Sasuke akan membenci dirinya.

Naruto menaik turunkan tubuhnya. Bibir ranumnya tertutup rapat. Ia tak ingin desahan ataupun nama Kyuubi keluar dari mulutnya.

"Kenapa kau menutup rapat bibirmu Naru chan? Desahkanlah namaku hmm..Atau jika tidak …aku tak yakin bisa mengembalikan temanmu dalam keadaan hidup"

Layar televisi kembali menyala. Sai sudah terluka parah. Naruto tak kuasa melihat itu. Manik sapphire disembunyikan dibalik kelopak mata. Suara tembakan membuat Naruto kembali membuka matanya. Orang yang memukul Sai tadi membawa pistol. Suara tembakan kembali terdengar,orang itu menembak ke atas sebagai bukti jika itu adalah pistol sungguhan. Moncong pintol kemudian berpindah ke kepala Sai. Jari orang itu kapanpun siap menarik pelatuk pistol tersebut.

Naruto mempercepat gerakannya. Bibirnya terus mendesahkan nama Kyuubi. "Ahh~ Kyuubi… ahhh~ fasterrr" Kyuubi tersenyum puas. Ia menarik tangan Naruto,membuat tubuh Naruto mengarah padanya. Gigi putih Kyuubi menggigit pundak Naruto sampai berdarah. Naruto menahan rasa sakitnya dan terus mendesah. Tak ada rasa nikmat dari kegiatan ini,hanya rasa sakit yang Naruto rasakan.

Semakin lama Naruto merasa milik Kyuubi semakin membesar. Naruto segera mengeluarkan milik Kyuubi. Tapi tangan Kyuubi menahannya. Kyuubi menaik turunkan tubuh Naruto dengan sangat cepat. Naruto gelagapan. Ia tidak ingin Kyuubi keluar di dalam tubuhnya. Naruto memberontak. Ia mencoba memukul Kyuubi. Tangan kiri Kyuubi mengekang kedua tangannya. "Aku mohon jangan di dalam"

"Kenapa Naruto? Bukankah menyenangkan jika kau mengandung anakku ?"

"Aku mohonn,Kyuubi"

"Ahhh~ Aku keluar Naru"

"TIDAKKK!"

Naruto bisa merasakan sesuatu yang basah merembes keluar dari lubangnya. Kyuubi memegang dagu Naruto dan mencium bibirnya. "Kau milikku ,Naruto"

Naruto mendorong kuat tubuh Kyuubi. Ia memaksakan diri bangkit dari ranjang. Bibir merah Naruto pun mengerang kesakitan. Tubuhnya seakan remuk. "Aku sudah melakukan apa yang kau mau… kembalikan perusahaan Sasuke dan juga Sai"

"Hmm…Baiklah" Kyuubi mengambil ponsel miliknya dan menelpon seseorang.

"Kembalikan perusahaan Uchiha seperti semula..dan bawa pria itu ke rumah sakit"

"Baik,Kyuubi sama."

"Aku sudah menepati janjiku. Bukankah sebuah ucapan terima kasih pantas untukku?"

BRAKK

Naruto membanting pintu kamar Kyuubi setelah mengenakan pakaiannya. "Kau adalah milikku,hanya milikku Naruchan"

Dimalam yang dingin Naruto berlari. Udara dingin menusuk kulit tannya. Kemeja yang digunakan terlalu tipis hanya untuk menghangatkan tubuh kecilnya. Naruto menangis sepanjang jalan menuju apartemen. Ia ingin segera membersihkan diri dari bekas sentuhan Kyuubi. Ia sungguh jijik pada dirinya. Apa ini berarti ia mengkhianti Sasuke? Ia membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya.

Naruto melesat menuju kamar mandi. Tanpa melepas pakaiannya ,Naruto berdiri dibawah guyuran air shower. Tangannya sibuk menggosok setiap tubuhnya,hingga memerah. "Belum bersihh …kenapa belum bersih"

Seberapa keras Naruto menggosok tubuhnya tak akan pernah bersih. Perlahan Naruto merosot jatuh terduduk. Ia memeluk kakinya dan menangis. Setelah ini masihkah Naruto sanggup bertemu Sasuke…?

Drrtt

Naruto mengambil ponselnya. "Sasuke?"

Naruto mengusap keras wajahnya yang penuh air mata. "Dobe,kau masih belum tidur?"

"Hm,Iya Suke. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu dobe. Kau tau,wajahmu selalu terbayang di dalam pikiranku"

Naruto tertawa geli. "Kau tidak cocok menggombal ,Suke"

"Aku berkata jujur aku akan menemuimu. Aku mencintaimu,Naruto"

"A..ku-"

"Ssst Aku tau dobe. Tidurlah.."

Sambungan telepon terputus. Air mata mengalir kembali dari manik sapphirenya. "Go..men Sasuke"

(•̀ㅂ •́)و

Suara burung berkicau sangat keras. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah ventilasi. Jam dinding di kamar Naruto sudah menunjukkan jam tujuh pagi dan ia masih belum bisa memejamkan matanya. Beruntung hari ini hari Minggu. Seluruh badanya terasa sakit terlebih lagi hatinya. Naruto bangkit dari ranjang dan membasuh wajah. Ia terlihat seperti orang sakit. Wajahnya sangat pucat. Naruto berencana menjemput Menma hari ini di rumah Kiba. Kiba pasti akan mengomel karena ia tak member kabar apapun. Tapi sebelum itu ia harus memeriksa sesuatu….

Naruto dengan ragu membuka pintu putih yang setengah terbuka. Seorang perawat tengah mengganti perban sang pasien. Pasien itu mengaduh saat sang perawat mengolesi obat luka di bagian tubuhnya yang membiru. Naruto tak berniat mengganggu. Ia berdiri diambang pintu dengan wajah tertunduk.

"Naru chan?" panggil Sai.

Naruto tersenyum dan menghampiri Sai. "Bagaimana keadaanmu Sai?"

"Aku jauh lebih baik. Kenapa kau ada disini?"

Naruto tersenyum kembali. "Neji nii juga dirawat disini. Aku dengar kau sedang sakit jadi aku datang menjenguk"

Sai menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Naruto. Naruto memang tersenyum seperti biasa tapi pancaran mata Naruto, menampilkan raut kesedihan bahkan terlihat kosong. "Kau sakit Naruto?"

"Aku sehat Sai"

Wajah Naruto sangat pucat. Bibir merahnya saja memutih seperti orang sakit, apa yang terjadi dengannya? Baru tiga hari yang lalu ia bertemu Naruto dan Naruto dalam kondisi yang menurut Sai tidak baik.

"Kau yakin Naru chan ,wajahmu pu-"

"Ini untukmu Sai" Naruto memberikan sepiring apel yang telah terkupas dengan rapi. Sai tak menyadari Naruto sedang mengupas buah apel yang ia bawa sejak tadi.

"Arigatou Naru chan" Sai mengambil satu potong buah apel dan memakannya. Rasa sakit menjalar dari sudut bibirnya. Ia belum bisa makan seperti biasa.

"Sai bibirmu! Aku akan panggilkan perawat"

"Tidak perlu Naru chan"

Naruto mengambil tisu di atas meja lalu mengusap darah Sai. Ada perasaan senang Naruto begitu perhatian padanya. Tapi Sai sadar,Naruto bukanlah miliknya."Biar aku sendiri Naru chan"

Sai mengusap perlahan lukanya. Sai tak pernah menyangka,ia akan dipukuli seperti ini. Saat akan pulang tiba-tiba saja sebuah mobil menambak mobilnya dari samping. Sai keluar dari mobil untuk meminta penjelasan. Dari arah belakang,kepalanya dipukul oleh benda keras. Setelah itu ia terbangun di sebuah gedung tua dan dipukuli oleh dua orang berbadan besar. Sai meminta orang kepercayaannya untk menyelidiki kasus ini. Bagaimana pun ia harus menemukan dalang dibalik ini semua.

"Gomen Sai..hiks.."gumam Naruto. Betapa terkejutnya Sai melihat Naruto menangis. Sai bertanya apa yang terjadi,Naruto hanya diam. Sai merasa ada yang disembunyikan oleh Naruto.

Naruto berjalan lemas menuju ruang rawat Neji. Ia baru ingat belum makan apapun sejak kemarin malam. Perutnya terasa nyeri. Tapi Naruto tak ada niat untuk makan. Kejadian kemarin menjadi beban pikiran. Naruto memeluk dirinya. Sentuhan Kyuubi seperti menghantuinya. Tangan-tangan Kyuubi meraba setiap inci tubuhnya.

"Akhhh" Rasa sakit menyerang kepala Naruto.

"Kau akan menjadi milikku selamanya,Naru HAHAHA!"

"Berhenti…sakit…!"

"Kau tak akan bisa lari dariku"

"Pergiii…pergi dariku"

"Kaachan…"

"PERGIIII!"

"NARUTO…"

Kiba menjitak kepala Naruto. "Kau kenapa membentak Menma seperti itu?"

"Men..ma?"

Naruto melihat Menma di gendongan Kiba. Suara isakan samar terdengar. Naruto tak bermaksud membentak Menma. "Gomen..Menma kaasan tidak bermaksud membentakmu"

Menma tetap terisak. Ia terlalu syok,Menma takut untuk melihat Naruto. Naruto mengelus rambut hitam Menma. Sangat halus. "Maafkan kaasan Menma…" Menma memberanikan diri melihat Naruto. Wajah kaasannya begitu pucat dengan mata sendu. Kaasannya sakit?

"Kaa..chan" Menma menggapai Naruto. Kiba yang tau maksud Menma, melepaskan dekapannya.

"Kaachan sakit?"

Naruto menggeleng. "Tidak..Menma sudah makan?"

"Sudah,Kiba ojichan membuat sushi untuk Menma tapi berantakan. Tidak serapi buatan kaachan"

"Oi Menma, kau ingat kau memakan habis semuanya"

Menma terkekeh. "Sushi buatan Kiba ojichan sama enaknya dengan buatan kaachan..makanya Menma habisin"

Kiba tak bisa menyembunyikan raut bangganya. Walau berantakan setidaknya masakannya enak. "Masakanku sudah pasti enak"

"Kalau kaachan sudah makan?"

"Belum..Kaasan tidak nafsu makan"

"Naruto wajahmu sangat pucat,makanlah.. aku akan mengantarmu ke kantin"

"Aku ingin melihat Neji nii,Kiba"

"Neji masih belum sadar, setelah makan kau bisa mengunjunginya. Jika Neji melihatmu seperti ini,dia pasti memarahimu"

"Kau benar,Kiba" Naruto tersenyum. Ia mengingat Neji yang akan memarahinya jika tidak makan tepat waktu. Ia sangat merindukan Neji.

"Ayo,kita ke kantin"

Kiba menarik tangan Naruto. Naruto sesekali tertawa melihat tingkah Kiba yang lucu setiap Menma mengatakan masakannya yang tidak enak. Sedikit demi sedikit Naruto bisa menenangkan pikirannya.

Naruto berhenti melangkah. Matanya membulat ke depan. "Naruto kenapa kau berhenti?"

Kiba mengikuti arah pandang Naruto. Seorang pria dengan surai jingga yang sebulan lalu ia kenal melangkah mendekati mereka. "Kyuubi ,kau sedang apa disini?"

"Aku ingin menjenguk Neji"

"Maaf Kyuubi tapi Neji masih belum sadar.."

"Sayang sekali.." Manik ruby dan sapphire bertemu. Kyuubi menampilkan seringai yang begitu jelas dilihat Naruto. Tubuh Naruto bergetar. Entah untuk apalagi seringai itu.. "Ah..siapa anak manis ini?"

Kyuubi menunduk untuk melihat Menma. Saat Kyuubi mencoba menyentuh Menma,Naruto dengan gesit menarik Menma ke belakang tubuhnya. Kiba sedikit terkejut dengan tingkah Naruto. Namun ia mencoba berfikir positif jika Naruto tak ingin Kyuubi tau indentitas Menma yang sebenarnya.

"Ayo,Kiba kita pergi…" Naruto menarik tangan Kiba.

"AH..iya..sampai jumpa Kyuubi"

"Naruto apa tingkahmu tak berlebihan pada Kyuubi?"

"Aku hanya takut Kiba"

"Iya iya aku tau..tenanglah semua akan baik-baik saja"

Ia takut Kyuubi melakukan sesuatu pada Menma. Kyuubi bukanlah orang baik-baik. Naruto bertekad melindungi Menma dari Kyuubi.

Merasa genggaman kaasannya mengerat,Menma menatap kaasannya. "Kaasan…" gumamnya.

"Kau bisa pergi dariku sekarang Naruto ,tapi tidak nanti"

Setelah makan di kantin mereka pergi ke ruang rawat Neji. Gaara duduk di sebuah kursi dekat Neji. Tangan putihnya menggenggam erat tangan Neji seakan tak ingin melepaskannya sedetikpun.

"Gaara kau harus makan." Ucap Kiba.

"Aku tak ingin"jawab Gaara singkat.

"Oi Gaara ,jangan membuatku menyuapimu dengan paksa seperti kemarin"

"Terserahmu"

Pelipis Kiba berkedut marah. "Gyaahhh kau lihat Naruto,sahabatmu ini sangat keras kepala"

Pandangan Gaara terlihat sendu. Matanya terus terarah pada Neji. Tak ada yang berubah dari penampilan Gaara hanya saja wajahnya terlihat lelah.

"Ini semua salahku…Jika saja aku yang tertembak,Neji tak akan…"

PLAKK

Suara tampara mengejutkan Naruto. Ia tak menyangka Kiba akan menampar Gaara. Semarah apapun Kiba,ia tak pernah sampai melukai sahabatnya.

"Gaara kau sangat bodoh..apa kau tak menghargai Neji? Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu tapi kau malah menghinanya"

"Aku tak menghinanya!"sergah Gaara.

"Kau menghinanya.. kau seperti mengatakan Neji orang bodoh yang menyelamatkan orang yang ingin dirinya yang tertembak. Seharusnya kau sadar apa yang kau ucapkan Gaara. "

Gaara mengepalkan tangannya kuat. Air mata yang selama beberapa ia tahan akhirnya keluar. "Lalu aku harus bagaimana?! Neji dia belum sadar! Neji…hiks..AHHH hiks.. Aku mohon bangun Neji..aku mohon hiks..aku sangat mencintaimu"

.

Naruto tak bisa melupakan kejadian barusan. Naruto mengerti perasaan Gaara sama halnya juga dengan Kiba. Kiba hampir saja ikut menangis. Tapi ia menahannya. Tujuan Kiba hanya ingin membuat Gaara mengeluarkan emosinya. Kiba tak tahan melihat Gaara yang terdiam tanpa ekspresi. Syukurlah mereka bisa menenangkan Gaara. Naruto ingin lebih lama bersama kedua sahabatnya tapi perutnya terasa kram. Ia tak ingin membuat sahabatnya khawatir dengan mengerang sakit di depan mereka.

Menma yang sedari tadi menggandeng tangan Naruto, sedikit cemas dengan kaasannya itu. Tangan Naruto sangat dingin.

Naruto menyandarkan tubuhnya pada tembok. Perutnya sangat sakit. "Kaachan.." Menma memeluk kaasaanya khawatir. Perlahan tubuh Naruto merosot jatuh. Menma semakin panik. Mata bulatnya melihat ke segala arah.. tapi tak ada seorang pun disana. "Tolong kaachannn hiks..hiks.."

"Menma..jangan menangis akhh…" Naruto memegangi perutnya. Nafasnya berhembus tak teratur. Kenapa bisa sesakit ini?

"Kaachan…hiks..hiks" Menma menangis semakin keras. Suara Menma membuat seseorang dibalik pintu putih didepan mereka berdecak kesal. "Ada apa ini?"

Menma menatap orang itu berkaca-kaca. "Tolong kaachann…"

Akhirnya Naruto dibawa ke salah satu ruangan. Tsunade yang tadi bekerja diruangannya,mendengar suara tangisan. Ia bermaksud untuk memarahi siapapun yang berani mengganggunya tapi niat itu hilang melihat Naruto yang terkulai lemas bersama seorang anak.

"Kaachan.."lirih Menma. Jari-jari kecilnya memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah Naruto.

Tsunade meneliti setiap gerakan Menma. Ini bukan pertama kalinya ia bertemu Menma hanya saja panggilan Menma untuk Naruto memberikan kesimpulan bagi Tsunade sendiri.

"Dia baik-baik saja..hanya kelelahan"

"Tapi perut kaachan sakit.."

"Kau tidak percaya padaku?"

"Gomen ne~ obaachan….tapi menurut Menma ,obaachan berbohong"

Tsunade menghela nafas. "Inilah kenapa aku tidak suka anak cerdas"

Naruto mengerjap matanya. Ruangan putih menjadi sesuatu yang ia lihat pertama kali. "Kaachan sudah sadar?"

Naruto menoleh ke samping. Menma dengan cengiran lebarnya duduk di tepi ranjang. Tidah hanya itu Menma juga menatap Naruto dengan mata berbinar-binar.

"Kenapa kau melihat kaasan seperti itu?"

"Kaachan arigatou ne~ akhirnya Menma punya adik" Menma memeluk Naruto. Naruto semakin tidak mengerti. Adik?

Pintu kamar terbuka. Tsunade dengan setelah dokternya menghampiri Naruto dan Menma. "Tsunade san apa maksud Menma dengan adik?"

"Kau sedang hamil,bocah"

Naruto yang terlalu syok terbangun. Perutnya kembali terasa sakit. "hamil?...akhhh sakit…"

"Kaachan pelan-pelan,kasihan adik Menma.." Menma mengelus perut rata Naruto. "Tenang,aniki disini menjaga ototouchan,imotouchan" Menma tidak tau adiknya itu laki-laki atau perempuan jadi ia memanggil mereka dengan dua nama.

Naruto menatap lembut Menma. Menma sangat menginginkan seorang adik. Satu hal yang tak pernah ia tau. Seharusnya ia tau banyak tentang anaknya itu. Ternyata ia belum menjadi orang tua yang baik.

"Berbaringlah bocah.. Keadaanmu sedang lemah"

"Berapa bulan?"tanya Naruto singkat. Tsunade tak perlu pikir panjang untuk tau maksud Naruto.

"Satu bulan"

"Menma akan memberitau Sasuke touchan"

"JANGAN…" sergah Naruto

"Kenapa Kaachan?"

"Biar kaasan yang memberitau Sasuke ya…"

Menma mengangguk. "Yang penting Menma punya adik sekarang"

"Bocah…jaga makananmu dan jangan banyak pikiran. Aku akan memberimu resep obat. Hei bocah ambilkan aku kertas dan pulpen diruanganku"

"Namaku Menma obaasan." Menma menggembungkan pipinya. Ia tak suka Tsunade memanggilnya bocah apalagi sebentar lagi ia akan menjadi aniki. Bukankah ia sudah menjadi dewasa. "Aniki pergi dulu otoutochan,imotouchan. Nanti aniki kembali lagi" Menma turun dari ranjang dan pergi ke ruangan Tsunade.

"Tsunade san… apa Tsunade san tidak merasa aku ini aneh? Maksudku aku pria dan aku bisa hamil."

"Seharusnya kau bersyukur memiliki keistimewa ini. Kau tau berapa banyak pasangan gay sepertimu yang mengeluh padaku karena mereka tak akan pernah memiliki anak. Sampai pada akhirnya aku harus meneliti cara agar mereka bisa hamil. Kau beruntung bocah"

"Tapi Tsunade san bagaimana orang lain akan melihatku?"

"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah kau sudah pernah hamil sebelumnya."

"Aku..hilang ingatan. Itu yang Neji nii katakan"

Tsunade sempat tertegun dengan jawaban Naruto. "Begini bocah,jika kau memikirkan pandangan orang lain,bukankah lebih baik kau menggugurkan kandunganmu? Dan mereka akan memandangmu normal"

"TIDAK…itu tidak mungkin..apalagi Suke menginginkannya"

"Jadi berhentilah mengeluh bocah..lebih baik jaga kondisimu."

"Arigatou Tsunade san"

"Hm..sebaiknya kau cepat memberitau gaki soal ini"

Setelah menerima resep obat dari Tsunade. Naruto pamit pulang. Ia tak perlu dirawat hanya Naruto harus menjaga pola makannya. Tsunade mangatakan jika kandungan Naruto sangat sensitif. Ia akan menolak makan yang tidak ia sukai dengan cara memberikan rasa mual bahkan muntah pada Naruto. Salah satunya ramen. Padahal ia sangat suka ramen,tapi tidak dengan Sasuke. Mungkin bayi di dalam kandungannya ini akan sangat mirip dengan Sasuke.

"Ne..ne kaachan..apa ototouchan,imotouchan suka ramen?"tanya Menma sambil membawa satu tas penuh bahan makanan. Naruto bisa membawa belanjan itu,tapi Menma tidak ingin ia mengangkatnya. Ia khawatir adiknya akan kelelahan. Naruto merasa Menma sangat protektif padahal adiknya masih belum lahir.

"Sepertinya tidak Menma.."

"Kalau kare bagaimana?"

"Mungkin dia suka"

"Kalau begitu Menma ingin kare hari ini"

"Baiklah…"

Mereka akhirnya sampai di apartemen. Tak jauh dari sana ,Naruto melihat seorang pria dengan setelan jas bersandar pada sedan hitam. "Dobe..kau darimana? Kenapa ponselmu tidak aktif?"

"Aku dari rumah sakit menjenguk Neji nii. Maaf Suke aku lupa membawa ponsel."

Sasuke mengacak rambut Naruto. "Ah…kau memang dobe"

"Sasuke touchan,ayo makan bersama. Kaachan mau masak kare"

"Baiklah..kebetulan tousan juga sedang lapar"

Mereka bertiga masuk ke dalam apartemen. Naruto mulai memasak sedangkan Sasuke membaca koran bersama Menma. Naruto menambahkan sangat banyak tomat ke dalam kare buatannya. Entah kenapa ia sangat ingin makan tomat.

"Seperti biasa,masakanmu sangat enak dobe"ucap Sasuke memeluk pinggang Naruto.

"Suke lepaskan ..ada Menma"

"Dia sedang di kamar. Dobe…Perusahaan kembali normal."

"I..itu bagus Sasuke"

"Walau aku tidak mengerti kenapa pemegang saham dan bank berubah pikiran."

"Ini semua karena kerja kerasmu,Suke"

"Dan doamu dobe."

CUP

Sasuke mencium kening Naruto. Ada sesuatu yang ingin meledak di dalam perut Naruto..hanya karena Sasuke mencium keningnya ia merasa sangat senang. Apakah ini karena bayi di dalam perutnya? Sepertinya dia sangat suka dimanja Sasuke.

Tangan Sasuke bergerak ke dalam kaos orange Naruto. Tangan dingin itu meraba perut datar Naruto. Tiba-tiba saja tubuh Naruto melengkung keluar. Beribu kupu-kupu memenuhi perutnya. Ia terangsang hanya. Dan itu semua hanya karena Sasuke menyentuh perutnya.

"Suke ahhh~ jangan menyentuh perutku"

"Kau terangsang dobe? Kau sangat sensitif"

"Nghh~ Suke ahhh~ berhenti"

Cairan saliva menuruni dagu Naruto. Sasuke tak berhenti mengelus perutnya. "Ingin bermain Naru~?" Sasuke menyeringai senang.

"Su..suke cepat nghhh~ masukkan"

"Masukkan apa dobe?" goda Sasuke

"AHHH~ Masukkan milikmu Suke..cepaatt..Aku tidak kuat lagi.."

Sasuke merasa sangat senang. Dengan cepat Sasuke memasuki lubang berdenyut Naruto dan tepat menusuk sweetspot. Naruto semakin melenguh nikmat,tetesan saliva semakin deras keluar dari bibirnya. "Ahhh~ Suke…AHHH disana"

"Kecilkan suaramu Naruto,apa kau mau Menma melihat kita?"

Naruto menggeleng keras. Ia tak ingin Menma melihat kondisinya yang digagahi oleh Sasuke.

"Suke..aku "

"Kita keluar bersama sayang"

Cairan Naruto mengotori meja dapur. Naruto merasa tenaganya dikuras habis."Aku mencintaimu Naruto"

"Aku juga mencintaimu Sasuke"

Mereka menyatukan bibir mereka masing-masing. Mereka tak ingin melepaskan dengan cepat rasa hangat ini. Naruto sangat mencintai Sasuke dan juga dengan bayi mereka.

"Sasuke touchan dan kaachan sedang apa?" Sasuke dan Naruto meregangkan jarak mereka. Menma berdiri di belakang dan menatap heran. Syukurlah mereka sudah selesai dengan kegiatan panas mereka.

"Tousan sedang membantu kaachanmu memasak. Ayo kita main"

"Ayoo…Sasuke touchan" Sasuke menggandeng Menma dan membawanya pergi. Kata-kata terakhir Sasuke membuat Naruto memerah. "Kita lanjutkan lagi nanti,istriku"

Wajah Naruto berubah murung. Ia memeluk tubuhnya. Naruto merasa bersalah telah memberikan tubuh kotornya pada Sasuke. Kejadian kemarin kembali berputar-putar di dalam pikirannya.

"Gomen Sasuke" gumam Naruto bersamaa dengan keluarnya cairan bening dari manik sapphire Naruto.

(•̀ㅂ •́)و

"Kenapa Kaachan lama sekali?"

Menma duduk di salah satu bangku taman. Kakinya bergoyang naik turun. Menma sangat bosan. Ia sedang menunggu Naruto menjemputnya. Kaasannya berjanji mengajaknya makan siang bersama Sasuke. Tapi kenapa sangat lama?

"Ternyata benar,kau sangat mirip denganku"

Menma melihat ke asal suara itu. Seorang pria tinggi dengan surai hitam pendeknya berdiri menghalangi matahari. "Eh,Ojichan siapa?"

"Menma sudah pulang?"tanya Naruto pada guru Menma.

"Iya.. semua murid sudah pulang sejak tadi"

"Arigatou sensei"

Naruto berlari cepat dan menghapiri Sasuke yang berdiri di depan gerbang. "Bagaimana?"tanya Sasuke

"Semua murid sudah pulang sejak tadi. Dimana Menma?" Naruto yakin Menma tak mungkin pulang ke apartemen mereka. Mereka sudah sepakat akan makan siang bersama kemarin. Menma tak mungkin lupa. Tapi dimana Menma? Naruto menyesal tidak memberikan ponsel pada Menma.

"Tenanglah. Kita akan mencarinya" Sasuke merangkul bahu Naruto. Akhirnya mereka sepakat berpencar mencari Menma disekitar sekolah dan taman. Mereka terus meneriakan nama Menma tapi masih belum ada hasil.

"Aku tousanmu"ucap pria itu.

"Otouchan…? Ojichan sungguh touchan Menma? " Menma bangkit dari duduk dan melihat secara seksama orang di depannya itu. Wajah mereka begitu mirip. Mata Menma berbinar-binar. Jadi ia punya otousan seperti yang teman-temannya.

"Tentu saja,Menma..jadi mulai sekarang panggil aku otousan"

"Menma sangat senang bisa bertemu otouchan" Menma memeluk pria itu. Raut bahagia terlukis jelas di wajah Menma. "tapi…siapa nama touchan?"

"Menma kau dimana?" Naruto berlari ke sana kemari. Ia sangat khawatir. Firasat Naruto mengatakan Menma dalam bahaya. Ia takut Kyuubi muncul dan melakukan hal buruk pada Menma sama seperti Sasuke dan Sai.

"Namaku…"

"MENMAAAA"

"…Uchiha Obito"

(•̀ㅂ •́)و

TAMAT

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

Maaf menunggu lam. Chapter ini panjang SEKALI. Aku sedikit mempercepat ceritanya karena semakin lama cerita ini… maka semakin membingungkan HAHAHA..Terima kasih sudah membaca. HATI-HATI TYPO BERTEBARAN

See you…