Falling For My Husband
Chapter 13
[WARNING]
Typo everywhere
HUNHAN
BOYXBOY, MPREG, AGEGAP
DLDR – Just go away kalau ga suka
.
.
.
DOUBLE UPDATED! CHECK THE PREVIOUS CHAPTER :)
Sehun
"Ya, aku yakin."
Napasnya tercekat saat aku dengan lembut bernafas di telinganya, saat aku membiarkan bibir bawahku membelai sisi lehernya. Pria mungil didepanku bergetar, seperti mangsa yang tidak terlindungi; dia mengantisipasi seranganku, dan dengan sentuhanku.
Ahn Daniel.
Namanya saja membawa rasa pahit di lidahku. Dia memikat Gaeun sekali dan aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal yang sama dengan Luhan.
Dua minggu.
Butuh segalanya dalam diriku untuk tidak menghubunginya karena aku berusaha meyakinkan diriku bahwa Luhan masih muda, dan dirinya perlu meyakinkan diri sebelum kembali pada Minho. Aku juga selalu mengingatkan diriku bahwa perasaannya akan berubah; dia akan datang kepadaku. Tetapi ternyata aku salah? Aku terlalu lama melepaskannya. "Sudah berapa laki-laki kau melakukannya, Luhan?" Aku memberikan tatapan yang begitu tajam, dan Luhan terlihat begitu gugup ketika aku melontarkan pertanyaan tersebut.
"Beritahu aku, Sehun. sudah berapa orang yang kau miliki setelah diriku? Maka kau akan mendapat jawaban yang kau minta dariku."
Aku mendengus. "Apa yang kau lihat kemarin adalah satu-satunya." Bukannya aku tidak tertarik tentang seks, masalahnya adalah dengan siapa aku harus melakukannya. Si rambut merah adalah hal yang aku lalui, untuk meyakinkan diri bahwa diriku tidak menginginkan Luhan.
Ketika segala sesuatunya mulai memanas, aku bersyukur bahwa aku masih memiliki kontrol dalam diriku, akan tetapi semua itu hilang setelah aku menatap Luhan.
Sampai saat itu, aku yakin bahwa Luhan tidak menyukaiku, tetapi ketika dia datang berkunjung ke rumahku, meskipun alasannya masuk akal, untuk beberapa alasan, firasatku mengatakan bahwa ada yang lebih dari itu, bahwa Luhan sebenarnya berbohong tentang alasan sebenarnya mengapa dia datang menemuiku malam itu.
Ketika aku mebiarkannya pergi dan membiarkan Luhan menjalani hidupnya seperti apa yang dirinya rencanakan,... aku menyerah ketika dia datang dan menawarkan dirinya padaku. Dan sekarang aku tahu itu tidak akan sama lagi.
Mungkin Luhan enggan, tetapi aku tahu tubuhnya menginginkanku. Masalahku sekarang adalah bagaimana mengatasi situasi ini tanpa mengkhawatirkannya.
Namun demikian, aku tidak akan meninggalkan gedung kantor ini tanpa hasil yang sukses.
Jadi, di sinilah kita berdua, saling menatap. Mata rusanya terlihat menyalak. "Jangan bilang kau tidak melakukannya selain malam itu. Aku tidak akan mempercayaimu!" Luhan menuduhku. Keinginannya untuk melawanku sangat mengagumkan, tetapi orang bijak harus tahu hal yang paling penting ketika mereka bertengkar, dan itu adalah kenali lawanmu. Jangan pernah melawan orang yang tidak bisa kau kalahkan.
Pada titik ini, aku bersedia mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan Luhan. Apa saja, selama itu tidak jatuh cinta.
Tapi terlepas dari hal ini, aku bersedia bernegosiasi. Setelah Gaeun, aku tidak mau merusak mantra hubungan enam mingguku. Tapi waktu berubah dan aku perlu menyusun strategi jika aku ingin memiliki kesempatan dengan Luhan. Jika tidak aku bisa saja dipermainkan oleh triknya karena aku tahu aku akan kalah.
Seandainya ini terjadi pada orang lain, aku dapat dengan mudah berpikir bahwa dirinya telah mengatur untuk menjebakku, tetapi ini adalah Luhan.. "Oh, itu memang benar. Percaya padaku,Tapi kau..." Aku menggelengkan kepalaku. "Kau pria muda yang pintar." Jari telunjukku menelusuri tubuhnya, dengan perlahan dan berulang kali saat mata kami saling bertatap satu sama lain. "Kau membuatku menginginkanmu, Luhan."
"Percayalah padaku, aku tidak seperti yang kau kira." Luhan menjilat bibirnya, bergetar. Dan aku dapat melihat putingnya mengeras. "kita saling membantu. Apa yang kau hadapi sekarang adalah masalahmu sendiri jika kau tidak bisa melakukannya dengan yang lain. Dan bukan masalahku." Jelas Luhan.
Feisty, wasn't he? Aku melihat seorang pria sejati muncul di tengah-tengah tembok yang selalu ia bangun, dan aku menginginkannya.
Benar, Luhan benar. Ini adalah masalahku, tetapi sekarang aku membawa masalah ini ke permukaan, sehingga menjadikannya masalah kita berdua. "Kau menipuku. Itu masalahku!" Aku terdengar menyalak.
Luhan terkesiap, tampak tersinggung. "Diriku? Apa yang sudah aku lakukan sekarang?" Dia menatap mataku. "Semua karena seks? Dan kau menyalahkan semuanya padaku? Jika aku ingat dengan benar, kau adalah orang yang terus mencariku setelah kita melakukannya pertama kali."
Betapa benar dirinya, tetapi aku tidak akan memberinya kepuasan. aku memberinya tatapan tajam, sebelum aku menjawabnya. "Kau membujukku dengan lubang perawanmu. Sekarang setiap aku ingin melakukannya dengan orang lain, aku tidak bisa karena aku hanya menginginkan milikmu, Luhan."
Mulut merah muda mungilnya terbuka, menggelengkan kepalanya sebelum berkata, "Kau gila!"
Luhan melepaskan diri dari pelukanku dan mulai berjalan pergi. "Kau kekanak-kanakan."
Aku menarik lengannya dan menekannya ke benda terdekat, yaitu jendela. "Kau sudah cukup berlari, gemetar ketakutan seperti orang kecil yang ketakutan. Seharusnya kau tahu lebih baik daripada menawarkan tubuhmu kepada laki-laki manapun, membiarkan dia merasakan surga dan dengan mudah pergi dan berpura-pura seolah-olah tidak ada yang terjadi." Ibu jariku menarik kemejanya ke bawah dan membuka kancing pertamanya.
Luhan kesal sementara aku terus menyentuh putingnya yang kenyal. "Tubuh sialan ini yang hanya bisa aku pikirkan." Ketika Luhan berusaha mencoba untuk melepaskan diri, aku terus menekannya.
Luhan berusaha menjauh, dan aku secara tidak sengaja melepas beberapa kancing bajunya, membuat mereka jatuh satu demi satu, dan membuat tubuh mulus Luhan terlihat. "Kau tidak perlu berbohong padaku," Aku bergumam, memperhatikan pipinya yang memerah, "Jadilah milikku dan aku akan menjadi milikmu."
Matanya terejut bertanya-tanya apakah dia salah dengar. "Selama enam minggu?"
"Selama yang kita berdua inginkan." Aku tahu Ini melangkah keluar dari zona nyamanku, tetapi aku ingin mengambil risiko karena Luhan membuatku gila.
"Hanya kau dan aku?" Tanya Luhan dengan hati-hati.
Ini pasti lelucon yang tidak menyenangkan.
"Kau bisa bertaruh, hanya kau dan aku! Jika itu yang biasa kau lakukan sekarang, lebih baik dirimu bersiap karena aku tidak berbagi, tidak sekarang, tidak akan pernah!" Aku menggeram.
"Aku juga tidak akan membagimu. Aku hanya ingin memastikan." Luhan dengan lembut menangkup pipiku, mengejutkanku. Sentuhannya mengirim getaran yang dalam ke selangkanganku. "Aku juga merindukanmu, Sehun."
Sesuatu tentang bagaimana Luhan mengucapkan kata-kata itu... hanya meninggalkan rasa sakit yang mendalam di dalam dadaku. Aku tidak terbiasa dengan kata-kata tersebut. Satu-satunya yang diizinkan adalah aku membutuhkanmu dan aku menginginkanmu. Tapi untuk beberapa alasan, aku menahan untuk tidak mengkoreksi perkataan Luhan.
Aku terlalu terganggu dengan reaksiku terhadap kata-katanya yang aku tidak sadar bahwa Luhan melepaskan celananya. Punggungnya menekan pada kaca dibelakangnya dan mengaitkan kakinya di pinggulku. Luhan menggigit bibir bawahnya yang mungil saat dia buru-buru membuka kancing celanaku, berusaha melepas semuanya saat tangannya dengan rakus menangkup penisku. Aku mendesahkan namanya, "Luhan."
"Kondom?"
Fuck. Aku tidak memilikinya sekarang. Bagaimana mungkin aku lupa membawa satu? Oh ya, karena aku tidak suka bercinta dengan siapa pun setelah insiden itu dua malam yang lalu. "Aku tidak membawanya."
"Shit. Ok. Aku bersih dan aku baru saja mulai minum pil, tetapi itu tidak akan efektif sampai minggu depan." Luhan menatapku dengan tajam. "Apakah kau aman?"
Tentu saja. Terakhir kali aku tidak menggunakan perlindun adalah dengan Gaeun, setelahnya, ini adalah pertama kalinya aku mempertimbangkannya. "Ya, tapi mungkin kita harus menunggu sampai malam nanti." Apakah aku gila? Mungkin, tetapi pikiran tentang seks tanpa pelindung itu menakutkan. Hal ini dengan Luhan menjadi terlalu rumit. Tidak ada dalam catatanku. Apa lagi yang berikutnya?
Luhan tampak kaget dengan saranku. "Fuck." Dia mendesah saat dia mengarahkan penisku ke dalam lubangnya dan perlahan menekannya. "Kau, Sehun." Sebuah desahan kasar keluar dari mulutnya saat dirinya membawa keluar masuk batang kemaluanku. "Aku suka bagianmu ini. Sangat tebal. Aku menyukai saat penismu berusaha masuk dan membuka lebar lubangku."
Christ!. Dirty talk! Rasanya sungguh menakjubkan saat batang kemaluanku dimainkan olehnya. Tetapi melihat wajahnya yang puas, adalah pemandangan yang indah untuk dilihat. Aku bisa melihatnya sampai mati. "Shit, baby boy." Aku menahan tubuhnya sampai akhirnya ini adalah giliranku, karena Luhan belum tahu seberapa baik aku bisa memberikan penetrasi hingga lubangnya akan menganga karena penisku.
Gue nulis apa si Ya Tuhan
