Memory 04:

Hal yang dia paling benci bagi Satoru adalah bunyi ledakan. Dia memang agak trauma dengan ledakan, di mana yang paling parah adalah ledakan meriam. Untuk itulah, Satoru berusaha tenang dan sering ajak orang lain bicara, termasuk Asuna dan Kazuto.

"Apa kalian yakin itu bunyi ledakan?" Tanya Satoru.

"Memangnya kenapa Satoru-san?" Tanya Asuna.

"Terdengar…seperti jebakan. Lebih baik kita waspadai dan sering bicara walau bisik-bisik. Kita tidak mengetahui musuh seperti apa," kata Satoru pelan.

Saat itulah, Kazuto sedikit heran dengan reaksi kakaknya.

"Nii-san takut dengan ledakan iya?" Tanya Kazuto curiga.

"Tidak! Aku tidak takut! Aku Cuma…baiklah, aku akui aku takut ledakan, apalagi meriam. Hanya saja, aku curiga Kazuto. Bisa saja perangkap," kata Satoru.

"Ya ampun. Kau takut dengan bunyi ledakan? Bagaimana dengan balon?" Tanya Asuna geleng-geleng kepala.

"Itu lain soal Asuna. Aku Cuma…Cuma—" tiba-tiba muncul seorang eksekutor dan pemberontak.

Mereka mengenakan seragam yang sama persis dengan seragam prancis walaupun dominan hitam dan merah. Meski begitu, mereka dibayar oleh para Templar. Lalu, mereka kedatangan tamu.

"Wah, wah Kazuto-kun, Asuna-kun. Sudah lama tidak bertemu, bocah ingusan!" kata Sudou yang tiba-tiba muncul di depan.

"Suara itu—Sudou?!" geram Kazuto.

"Sudou?! Akan kubunuh kau!" geram Asuna sambil menghunuskan pedang ke arahnya. Namun, Satoru menenangkan mereka.

"Bunuh?! Gak salah nich? Kalian lah yang harus aku bunuh. Kagami-sama, biarkan aku ambil alih dari sini," kata Sudou membungkukkan badan.

Muncul seorang pria tua yang berjubah hitam sambil membawa pedang dan buku codex Templar. Pedang itu dialiri listrik sehingga bisa membunuh siapa saja yang mengganggunya.

"Halo, para Assassin. Namaku adalah Yozo Kagami. Aku disini untuk menghentikan ambisi kalian, dan mengambil manuscript serta box nya. Jika kalian ingin selamat, katakan di mana kedua benda itu berada dan nyawa kalian akan selamat. Jika tidak—"

"Tentu saja tidak! Lagipula, kedua benda tersebut tidak berada di aku." Kata Kazuto tersenyum.

"Apa maksudmu, huh?! Kau dasar bocah sialan! Beraninya kau—" saat itulah, Kazuto menyergap Sudou dan Asuna menusuk Sudou dengan hidden blade miliknya. Saat itulah, Kazuto menusuk leher Sudou hingga tewas.

"Sebaiknya kau mati saja di neraka, Sudou!" geram Kazuto dan dia tewas secara mengenaskan.

Sadar Sudou mati ditangan mereka, Kagami memerintahkan para pemberontak untuk menghabisi mereka.

"Habisi mereka semua!" perintah Kagami dan dia berlari ke arah selatan.

Kagami berlari menuju ke Catacomb Paris, dan gua tersebut sangat gelap. Sama persis ketika Satoru mengambil manuscript dan box di sana bersama Nikolas Sarkozy dan teman-temannya. Saat itulah, dia dikhianati oleh para member Templar.

Satoru terus berlari dan dia melihat Kagami berlari tanpa ada lampu penerang. Meski begitu, dia memakai senter dan terus berlari mengejar Kagami. Saat itulah, ada obat penenang di lehernya, dan Satoru tidak sadarkan diri. Dia berusaha sadar, tetapi tidak bisa karena dibius oleh orang tidak dikenal. Saat itulah, Satoru dibawa oleh orang tidak dikenal.

Next