MOSHI-MOSHI, MINNA_SAN~!!! ^^

GOMEEN~!! Maaf sebesar-besarnya untuk semua yang sudah menunggu-nunggu kelanjutan fict gaje ini *dilempar sendal reader rame-rame*. Saya habis UTS, sih. Belum lagi tempo hari saya juga masuk rumah sakit 5 hari. Gara-gara DB. Hehehe... *ketawa garing* Emang sialan, tuh, nyamuk. Jadi pengen nyantet nyamuknya!! Untung aja tadi pagi kos saya udah di-fogging. Jadinya, dendam saya sudah terbalaskan. Fufufufu... *evil grin*

Ah, jangan hiraukan 4 kalimat terakhir paragraf di atas. Itu cuma curcol gaje anak kos dodol.

Ini dia couplet yang ditunggu-tunggu. Tenang saja, fict ini belum mau saya tamatkan, kok. *dilempar shuriken dari segala penjuru* Masih ada yang mengganjal soalnya. Ehehe...

Udah keburu bosen belum?

Belum kan?

Belum, dong!! *dihajar massa gara-gara maksa*

Udah, gak usah ba-bi-bu lagi.

Read and review, ya? ^^

Disclaimer:

Pengennya, sih, saya bilang Fullmetal Alchemist itu punya saya. Tapi kalau saya bilang begitu, pasti banyak orang yang lantas pengen mentransmutasi saya jadi kodok...

Fullmetal Alchemist adalah milik si sapi narsis, Hiromu Arakawa. *dilempar botol tinta Arakawa*

Summary:

Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan atau dari mana. Aku hanya tahu, sekarang aku tak bisa mundur lagi

Cerita sebelumnya:

"Kau dengar aku, Kolonel? Segera bersiap ke East City. Ada kekacauan di sana. Selesaikan kekacauan itu. Sekretarisku akan memberitahukanmu detilnya."

Roy terdiam. Dia harus meninggalkan Central?

"Kapan tepatnya saya harus berangkat, Sir?" tanyanya sopan.

"Sore ini. 3 jam lagi. Segeralah bersiap."

Tiga jam lagi? Secepat itu?

Fate Serenade

Thirteenth Couplet

Say It, Dear

She's the puzzle of my heart

It's the way she's always smiling
That makes me think she never cries
I feel I'm losing my defences
To the colour of her eyes

And every little piece of her is right

(Fourth, fifth and sixth couplet of "Puzzle of My Heart" by Westlife)

Roy mempercepat langkahnya melintasi koridor menuju kantornya. Dia merutuk dalam hati, kenapa begini tiba-tiba? Oke, dia tahu adalah kuasa Fuhrer untuk menjaga keamanan Negara, memastikan tak ada yang mengancam keamanan Amestris dan dia juga tahu adalah kewajibannya, sebagai anggota militer untuk mematuhi perintah Fuhrer. Tapi secepat ini?

3 jam? Apa yang bisa kuperbuat dalam 3 jam? Ethel. Bagaimana dengannya? Aku harus bicara dengannya.

BRAKK. Roy membuka pintu dengan tenaga berlebih, membuat semua anak buahnya menoleh serentak ke arah pintu.

"Hawkeye, Havoc, siapkan barang-barang kalian. Kalian ikut denganku ke East City," perintahnya sambil melintas dengan cepat ke kantornya di dalam sana.

Riza berdiri, sedikit kaget, "Inspeksi dadakan, atau kasus, Sir?"

"Kasus. Detilnya akan dikirim ke sini sebentar lagi. Terima dan pelajari, Hawkeye. Falman, telpon sopir. Aku butuh mobil," tambahnya sebelum menutup pintu kantornya.

"Siap, Sir."

BLAM.

"Wow, pasti kasus berat sampai Chief harus langsung turun tangan," komentar Breda, kagum plus sedikit heran dengan mobilitas atasannya itu hari ini.

"Itu karena Edward sedang tak bisa menangani kasus itu. Coba ada dia," tanggap Fuery sambil memutar-mutar pulpennya.

Riza tersenyum tipis. Kalian tak sadar dia ada di sini kan?

Havoc garuk-garuk kepala, mendesah dan menoleh pada Riza.

"Butuh tumpangan pulang?" tawarnya pada kekasihnya itu.

Riza terdiam sejenak, lalu tersenyum, "Sangat butuh sebenarnya."

"Kolonel baik juga, ya," Falman urun suara melihat kemesraan yang tanpa sadar ditunjukkan mereka berdua.

"Hah?"

"Ya. Dia memilihmu, Letnan Dua, bukan aku. Padahal biasanya dia akan memilihku dan Ma'am untuk menemani perjalanannya," Falman mengedikkan kepalanya ke arah Riza, "Dia memikirkan kalian."

Riza tersenyum manis, senyum manis dan tulus yang jarang dia perlihatkan, membuat tak cuma Havoc, tapi juga semua temannya terpukau, "Dia memang baik, kok."


Roy segera mengangkat telepon begitu sampai di kantornya, dan memutar nomor telepon rumah Maes. Dia duduk di kursinya dan mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, tak sabar.

"Ya? Kediaman Hughes di sini."

Suara ramah Gracia menyambutnya. Roy tersenyum.

"Siang, Gracia. Ini aku, Roy."

"Oh, Roy. Ada apa?" nada suaranya menunjukkan keterkejutannya.

"Bisa aku bicara dengan Ethel?" tanya Roy langsung, tanpa ba-bi-bu.

Waktunya mepet. Tak ada lagi waktu untuk berbasa-basi.

"Ed? Dia agak kurang enak badan sebenarnya. Gara-gara tadi malam."

"Aku sangat perlu bicara dengannya. Bisa kau sambungkan aku dengannya?" desaknya.

Ada jeda sejenak sebelum Gracia menjawab, dia terkejut mendengar keterusterangan Roy dan nada terburu-buru yang dari tadi mendominasi suaranya, "Oke. Tunggu sebentar, ya."

Satu menit, dua menit...

Roy benci menunggu. Ayo, Ethel. Jangan berlama-lama. Aku hanya punya sedikit waktu...

"Apa, Brengsek?"

Roy tersenyum mendengarnya. Tampaknya aku memang kena sakit cinta akut. Dia bisa mendengar kekesalannya.

"Aku masih pusing, tahu," tambahnya sebal.

"Itu salahmu sendiri, Ethel. Kau yang minum wiskiku, ingat?" Roy menyeringai, mengingat-ingat detail kejadian malam itu.

Aku ingat itu. Aku ingat lebih dari itu.

"Aku salah ambil, Brengsek. Salahmu juga tak memperingatkanku kalau aku salah ambil!" nada suara gadis itu meninggi dan Roy bersumpah bisa melihat rona merah menghias pipi Ethel dalam kepalanya.

Tanpa sengaja Roy melihat jam dinding di kantornya. Jarum jam mengingatkannya bahwa dia hanya punya sedikit waktu.

Roy menghela nafas panjang, "Aku menelepon bukan untuk bertengkar denganmu, Ethel. Ada yang ingin kubicarakan."

"Kenapa tidak bicara langsung saja?" tanyanya heran, masih dengan kekesalan yang sama.

Jujur itu baik, Roy, ujar Roy pada dirinya sendiri sebelum mengucapkannya. Mengucapkan satu kalimat yang dari tadi berusaha diucapkannya, yang menjadi alasannya menelepon Ed.

"Karena 3 jam lagi aku harus ke East City untuk waktu yang tak ditentukan."

"Jangan bilang kau dimutasikan!" seru Ed refleks.

Bilang kau tidak. Bilang tidak, Mustang!!

Roy tersenyum mendengar nada panik Ed. Aku takkan membiarkan itu terjadi. Aku akan memutasikan fuhrer duluan sebelum dia memutasikanku jika itu berarti dia memisahkanku darimu.

"Tidak, Ethel."

Ethel menarik nafas lega.

"Ada kasus di sana. Fuhrer menyuruhku menanganinya," Roy menikmati percakapan ini, "Sebenarnya, kasus itu bisa kau tangani kalau kau sedang dalam keadaan terbaikmu."

"Jadi ceritanya kau menyalahkanku, begitu?" daripada kesal, nada suara Ed lebih menunjukkan heran.

"Ya, aku menyalahkanmu karena kau membuatku bingung," nada suara Roy melembut dan makin lembut, "Aku tak pernah sebingung ini saat harus meninggalkan Central. Tidak pernah. Dan semua ini karenamu."

Ed tercekat. Apa maksudnya?

"Bisa berhenti ngelindur, Mustang? Aku bahkan baru tahu kalau kau akan pergi!! Aku..."

Ketukan di pintu membuat Roy tak mendengar terusan kata-kata Ed.

"Ya?" ujarnya separuh berteriak.

Suara Riza di balik pintu menjawabnya, "Mobil Anda sudah siap, Sir. Dan Anda tinggal punya waktu 2 jam 45 menit untuk mengejar kereta."

Roy menimbang-nimbang selama sepersekian detik. Dia tak bisa mengatakannya lewat telepon begini. Tidak. Tidak dengan jalur telepon militer yang pasti disadap para petugas operator telepon militer. Dia harus mengatakannya langsung. Langsung di depan gadis itu agar dia bisa melihat ekspresinya, agar dia bisa memeluknya, agar dia bisa...

"Tunggu sebentar, Letnan!"

"Hei, Brengsek! Kau masih di sana?"

"Ethel, dengar. Aku akan ke tempatmu sekarang. Jangan ke mana-mana. Aku akan sampai di sana dalam kurang dari 20 menit."

"Hei-!"

KLIK. Telepon ditutup.


KLIK. Telepon ditutup. Ed terbengong-bengong di tempat. Berusaha menganalisa apa yang sebenarnya terjadi.

Apa maksudnya tadi? Kenapa dia bingung? Aku kan tidak melakukan apa-apa! Wajah Ed tiba-tiba memerah. Teringat apa yang mungkin dilakukannya semalam. Shit! Dia pasti mau membahas apapun yang mungkin terjadi semalam!

Dan kurang dari 20 menit dia bilang? Aku yakin dari sini ke Central HQ perlu setidaknya 30 menit naik mobil! Dan jangan ke mana-mana? Memang aku mau pergi ke mana? Memang aku bisa pergi ke mana?

"Ada apa, Ed?" tanya Gracia yang baru saja kembali dari dapur.

Dia memilih untuk tidak menguping apapun yang mungkin dibicarakan dua orang itu. Dia tahu mereka butuh privasi. Dia merasakan akan terjadi sesuatu hari ini. Meski dia sendiri tak tahu pasti apa tepatnya.

"Si Brengsek itu bilang dia mau datang ke sini dalam kurang dari 20 menit," gerutu Ed.

"Kurang dari dua puluh menit?," tanya Gracia, memastikan pendengarannya, "Bukannya dari sini ke Central HQ butuh setidaknya 30 menit?"

"Entahlah," Ed mengangkat bahunya, "Dia kan memang sinting."


"Anda sinting, ya, Sir?!" seru Jean Havoc sambil terus berdoa dalam hati sambil berpegangan erat pada jok di depannya, "Kita bisa tabrakan kalau Anda tidak menurunkan kecepatan mobil ini!! Saya masih ingin hidup!!"

"Memang siapa yang mau mati?!," Roy membanting setir ke kiri mendadak, membalap mobil lain yang berjalan dengan kecepatan standar, "Riz, tenangkan pacarmu itu! Dia mengganggu konsentrasiku!"

"Kau yang butuh ditenangkan, Roy!! Kita di dalam kota! Kau mau ditilang?!" Riza yang biasanya tenang ikut-ikutan histeris.

"Aku hanya punya sedikit waktu," Roy memusatkan konsentrasinya, sambil menekan pedal gas setelah sesaat menurunkan kecepatan untuk berbelok ke kiri.

"Dan kami masih ingin hidup, Sir!!" seru Havoc lagi.

"Diam saja!! Aku juga tidak ingin mati dulu, tahu!!"


"Haha...," Havoc tertawa terpaksa.

Mereka bertiga kini sudah berdiri di depan kediaman keluarga Hughes. Roy melirik jamnya. Enam belas menit. Tidak buruk. Roy memang jagonya ngebut. Apalagi jika keadaan memang menuntutnya untuk ngebut. Dia takkan tanggung-tanggung.

"Bisa beritahu aku kenapa kita ke sini dan bukannya ke apartemennya atau apartemenmu atau asrama militer?" gumam Jean, yang berdiri mematung saat tahu tempat tujuan mereka, pada Riza yang berdiri tepat di sampingnya dan dari awal sudah bisa menduga ke mana sang atasan membawa mereka pergi dengan kecepatan seorang pembalap profesional.

"Nanti kau juga tahu," jawab Riza dengan suara gumaman yang nyaris seperti bisikan.

Roy menoleh pada dua bawahannya itu.

"Tunggu di sini," perintah Roy sebelum beranjak masuk dan memencet bel.

TINGTONG. TINGTONG.

Ed mendengarnya. Dia mendengarnya dengan amat jelas. Bohong besar kalau dia tak mendengarnya. Tapi kakinya sedang tak bisa menurut. Logikanya memerintahkannya untuk lari, pergi sejauh-jauhnya dari hadapan pria itu. Namun hatinya memaksanya untuk menyeret kakinya, membuka pintu itu dan menemui pria yang membuatnya gelisah tak menentu seperti sekarang.

Damn, Ed! Ayo bergerak!!

Gracia yang melihat Ed berdiri mematung di depan kursinya di ruang tengah mengambil inisiatif untuk membuka pintu. Dia sudah memegang kenop pintu dan membukanya saat Ed akhirnya berdiri, memutuskan untuk pergi diam-diam dan bersembunyi sampai pria itu pergi dari sini.

'Pengecut! Kau tak berani menemuinya.'

Nuraninya berkecamuk seiring langkah kakinya.

Aku bukan pengecut! Aku hanya tak bisa menemuinya sekarang! Tidak setelah apa yang mungkin kulakukan semalam!

'Kau tahu kau melakukannya, Ed! Kau tahu kau menciumnya!'

Aku… ya! Ya!!

Ed benci terus menyangkal. Dia memang pernah berbohong pada orang lain, menipu. Dia takkan berpura-pura jadi orang baik. Dia sadar dia tak suci. Dia sadar dirinya penuh dosa. Tapi dia tak bisa menyangkal nuraninya. Dia tak bisa terus-terusan menipu dirinya sendiri.

Aku menciumnya. Aku jatuh cinta padanya. Tapi bukan berarti aku harus nekat menanggung resikonya!

Dia sudah melewati dapur ketika didengarnya Gracia menyapa Roy.

"Cepat sekali, Roy."

"Aku ngebut. Mana Ethel?" tanyanya seraya masuk dan menoleh kanan kiri, celingukan.

Ed berhenti bergerak saat mendengar suara pria itu. Dia… apa dia juga sama bingungnya denganku? Apa dia juga… ragu? Iya. Pasti iya…

"Di ruang tengah. Sedang membaca. Padahal katanya tadi masih pusing…" ujar Gracia sambil geleng-geleng kepala.

Ed mendengar derap langkah menuju ruang tengah. Dia berhenti, menghela nafas. Kuatkan dirimu, Ed. Kalau dia bisa, kau juga pasti bisa.

Derap langkah itu kini terdengar makin menjauh, menuju ruang tengah.

Roy terpaku di tempat, matanya menyisiri ruangan itu tapi tak ada tanda-tanda gadis yang itu, "Dia tak ada di sini..."

Roy kebingungan. Dan dia tak menyangkal hal itu. Oh, shit. Apa dia pergi? Apa dia menghindariku? Jangan bilang dia menghindariku!!

"Mencari siapa, Brengsek?"

Suara orang yang dicari-carinya terdengar dari belakangnya. Roy berbalik dan melihat Ed melipat tangannya di dada dengan ekspresi yang sama saat tiap bulan harus menyerahkan laporan pada Roy. Roy menghela nafas lega.

"Kukira kau kabur," ucapnya dengan nada meledeknya seperti biasa.

"Dalam mimpimu, Mustang," balas Ed sinis.

"Kalau begitu, silakan kalian bicara berdua. Aku pergi dulu, ya?" pamit Gracia, yang langsung melesat meninggalkan Roy dan Ed.

"Apa yang mau kau bicarakan? Cepat katakan," ujar Ed tanpa basa-basi, walau sebenarnya jantungnya berdebar-debar memukul rusuknya.

Roy tersenyum, menatap mata Ed. Dan rasa itu datang lagi. Ed merasa seolah ditenggelamkan mata onyx itu. Seolah dijatuhkan ke dalam lubang gelap, yang anehnya tidak menakutkan dan malah terasa hangat.

Roy maju mendekati Ed. Selangkah demi selangkah. Langkahnya tidak lambat, tidak juga cepat. Tapi bagi Ed, tiap detiknya terasa amat lama. Waktu bagaikan merayap saat itu. Bukan lagi mengalir seperti biasa. Tapi menetes. Dia tahu dia bisa kabur jika kecepatan jalan Roy seperti itu. Tapi tidak. Dia tidak akan kabur. Bagi Roy sendiri, tiap langkahnya terasa amat berat. Begitu berat karena dia harus mengendalikan diri untuk tidak langsung menghambur dan mencium gadis itu dengan penuh hasrat lagi. Tapi dia tidak mau memelankan langkahnya, apalagi berhenti.

Jarak di antara mereka makin menyempit. Makin menyempit hingga hanya berjarak seuluran tangan Roy. Dan Roy berhenti.

Dan waktu tak lagi menetes. Tapi berhenti.

Karena Ed tak lagi tenggelam dalam mata Roy. Dia tak lagi ditenggelamkan. Dia dihanyutkan. Tatapan mata pria itu begitu lembut. Begitu hangat. Membuat seolah ada bara api yang menghangatkan sekujur tubuhnya.

"Kau tahu, aku tak pernah segugup dan segelisah ini sebelumnya. Aku tak pernah seragu ini sebelumnya. Aku takut waktu aku disuruh maju ke medan perang Ishval dan harus menjadi senjata manusia. Aku takut akan dosa. Dan memang benar, setelahnya aku terus gelisah. Karena beratnya dosa yang kupikul. Beratnya nyawa yang sudah melayang karena tangan ini."

Roy tak tahu dia harus bicara apa. Rasanya lidahnya tak bisa diajak bekerja sama, tak bisa diperintah oleh otaknya. Kali ini, hatinyalah yang mengambil alih kendali lidahnya.

"Tapi kali ini aku lebih takut lagi daripada waktu itu. Kau tahu kenapa?"

Ed menggeleng.

Ugh, ini seperti bukan diriku. Kenapa aku tak bisa membalas ucapannya seperti biasa? Apa karena ekspresi wajahnya? Apa karena tatapan matanya? Atau karena rasa hangat ini?

Roy tersenyum, "Aku sudah bilang kan? Semuanya karenamu, Ethel. Karena kau."

Senyumnya melembut dan makin lembut. Roy mengangkat tangannya, seperti hendak menyentuh wajah Ed. Membuat jantung gadis itu berdebar lebih cepat lagi. Roy menghentikan tangannya setengah sentimeter di sisi wajah sebelah kiri gadis itu.

"Karena aku mencintaimu..."

Terucap sudah. Sudah tak bisa ditarik lagi. Dan Roy memang tak ingin menarik ucapannya yang satu ini. Tak peduli apapun reaksi Ed nantinya.

Waktu tak lagi berhenti kini. Ia membatu. Membekukan logika Ed.

Apa?

Roy diam. Dia menanti. Menanti reaksi Ed.

"Kenapa? Kenapa, Mustang?"

Roy sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kemungkinan reaksi Ed. Tapi dia tak mewaspadai reaksi yang satu ini. Karena dia sama sekali tak memperkirakannya. Roy tak bisa mendeskripsikan ekspresi wajah Ed sekarang. Gadis itu nampak gelisah. Cemas. Ragu. Bingung. Bimbang. Semua jadi satu. Dia tak pernah melihat gadis itu seperti ini.

Gadis itu selalu tampak tangguh. Tegar. Yakin dengan dirinya sendiri. Oke, Roy pernah melihat Ed sedih. Pernah melihatnya murung, bingung, juga melihatnya menangis. Tapi tidak pernah melihatnya seperti ini.

"Kenapa aku? Kenapa kau? Kenapa kita? Kenapa?"

Tangan Roy yang tadi terhenti, kini bergerak lagi. Roy menyentuh pipi Ed lembut dengan telapak tangannya. Menelusuri tulang pipinya dengan begitu hati-hati. Bagaikan menyentuh boneka porselen mahal nan rapuh dari Aerugo.

"Aku tak tahu," Roy menggeleng, "Aku tak tahu bagaimana, kapan, di mana apalagi kenapa. Tahu-tahu, aku sudah jatuh cinta padamu, Ethel. Dan itu semua tak bisa dihentikan. Aku sudah tak bisa mundur lagi."

Ed memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut itu di wajahnya.

Sunyi lagi.

"Ethel?"

"Aku bingung," desahnya.

"Aku sama bingungnya denganmu."

"Tapi kau kelihatan sangat yakin."

"Hanya karena aku hampir berkepala tiga."

"Cih... Katakan saja kau sudah tua."

Roy tersenyum, senang juga kagum. Tadi gadis itu tampak begitu kebingungan. Tapi lihat. Sekarang dia sudah bisa mencelanya lagi.

"Dan kau menyukai pria tua ini kan?" Roy mencoba bercanda.

Ed terdiam. Roy mendadak merasa ada yang salah. Apa aku salah bicara?

Ed tersenyum mengejek, tapi Roy tahu itu bukan ditujukan untuknya. Ed tersenyum mengejek dirinya sendiri.

"Benar. Ironis sekali kan? Padahal kau kan kolonel tua playboy menyebalkan yang pemalas."

Roy juga tersenyum tipis, "Dan kau bocah arogan kurang ajar keras kepala pemberontak yang sulit diatur."

Keduanya tertawa. Menertawakan nasib. Menertawakan cinta mereka.

"Apa kata dunia coba?"

"Dunia takkan mengatakan apa-apa. Dunia takkan menolak. Akan kubungkam kalau mereka berani."

Ed tertawa pelan, "Biasanya aku yang mengucapkan itu, Brengsek."

"Sekali-kali aku ingin mengucapkannya."

Gadis itu tertawa lagi. Begitu cantik. Begitu...

...membuat Roy tak bisa mengendalikan diri lagi.

Dan Roy mendekatkan wajahnya pada Ed, membuat Ed terdiam. Karena sekarang bibir Ed dibungkam oleh bibir Roy.

Bibir itu begitu hangat. Begitu lembut. Ya, memang begini rasanya. Bibirnya, lengannya memelukku...

Roy menciumnya penuh hasrat. Tapi lengan yang memeluknya begitu lembut. Kokoh, kuat tapi lembut.

Kali ini Roy bisa mencium aroma cammomile dari mulut Ed. Apa dia baru saja minum teh cammomile?

Roy melarikan tangan kanannya ke rambut Ed yang terkepang rapi. Roy melepas ikatannya, membiarkan kepangannya terurai dan melarikan jemarinya di sana. Mencoba mengingat tekstur lembut bagai sutra itu. Betapa halus dan ringan rambut itu di antara jemarinya.

Ed meletakkan tangannya di dada Roy. Dia sejujurnya tak tahu harus melakukan apa. Tapi rasanya begitu wajar jika ia melakukan hal ini. Dia bisa merasakan debar jantung pria itu di bawah tangannya. Debar jantung itu sama, kalau tidak lebih cepat dari miliknya.

"Ergh."

Suara tercekat seseorang membuat Ed spontan menarik mundur dirinya. Keduanya menoleh ke arah pintu. Tampak Jean Havoc, dengan mulut separuh terbuka sampai dia tak sadar dia menjatuhkan rokok di mulutnya ke lantai, syok berat dan Riza yang meski sudah bisa menduga alasan kakak angkatnya itu datang ke sini tetap terkejut melihat apa yang terjadi sekarang serta Gracia yang meski agak kaget, ekspresi bersalah lebih mendominasi wajahnya. Setelah ini, mereka akan tahu itu karena Gracia-lah yang membukakan pintu untuk kedua bawahan Roy itu. Tapi itu masih sejam lagi.

"Ehem," Roy berdehem, dengan wajah merona merah muda.

Ed, di sebelahnya, wajahnya malah merah padam.

"Bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk menunggu di luar?" ujarnya berwibawa, Roy sudah bisa mengontrol dirinya lagi.

"Anda terlalu lama, Sir. Kami hanya ingin mengingatkan Anda bahwa kita hanya punya waktu...," Riza melirik jam dinding, "2 jam 10 menit lagi, Sir."

"Oh, oke. Kalau begitu, bisa kalian keluar sebentar?"


"Apa itu tadi?!," ujar Havoc syok, "Bukannya Ethel baru... tunggu, 17 tahun kan? Dan Kolonel? 29 tahun! Itu bisa masuk tindak kejahatan!!"

"Jean, aku juga syok, oke? Tapi aku tidak sehisteris itu."

"Oh, maaf kalau begitu."

Jean baru sekarang memperhatikan ekspresi Riza dan Gracia. Dan mereka...

"Kalian sudah menduganya sebelumnya, ya? Bahwa hubungan mereka bukan sekedar gosip?" selidiknya.

"Well, aku memang sudah menduga. Tapi entah, aku juga kaget memergoki mereka tadi," aku Gracia.

"Ya. Sejak awal. Tapi kau lihat sendiri kan? Aku juga kaget tadi," jelas Riza jujur.

"Pantas tadi kau bilang 'nanti juga kau tahu'," gumam Jean, geleng-geleng kepala.


"Wajahmu merah padam," Roy tersenyum bahagia.

Manis sekali.

"Ini semua gara-gara kau, Brengsek," sergahnya cepat.

"Kau tahu namaku bukan itu, Ethel," Roy masih saja tersenyum.

"Aku tidak bodoh. Tentu saja aku tahu, Mustang," Ed memalingkan wajahnya.

Roy meraih dagu Ed, menolehkan kepalanya lagi ke arahnya.

"Namaku, Ethel," kata Roy penuh penekanan walau tetap lembut.

Wajah Ed yang sudah normal memerah lagi.

"Oh, ayolah. Aku mau pergi jauh selama waktu yang tak kuketahui dan aku masih belum mendengar kau memanggil namaku? Sial benar aku kalau begitu," ujarnya kecewa.

"Dasar Kolonel payah!"

"Sir!"

Dari luar terdengar seruan mengingatkan ajudan sang Kolonel.

"Iya, Letnan!" seru Roy sebal.

"Tuh, kan, kau memang payah," gumam Ed.

"Hei, aku tak sepayah itu, tahu," ujar Roy membela diri.

"Sir!!"

Kali ini suara ajudan sang Kolonel lebih penuh penekanan. Jika mereka bisa melihatnya, pasti mereka sudah melihat sang Letnan menarik pistol kesayangannya dari tempatnya.

"Iya, iya!!" ujar Roy sebal.

"Ethel, dengar. Apapun yang terjadi nanti, walau kau bimbang, atau kebingungan seperti apapun, aku takkan pernah membuatmu lupa bahwa aku mencintaimu," ucap Roy dengan tampang disetel serius, tatapan mata amat lembut, senyum tersungging di bibir setelahnya dan suara tegas namun selembut belaian angin di telinga Ed.

Wajah Ed memerah lagi, "Brengsek."

"Hanya padamu, Ethel," Roy tersenyum, memeluk gadis itu dan mendesah, "Aku akan sangat-sangat-sangat-sangat merindukanmu."

Ed terdiam sejenak, tapi dibalasnya juga pelukan itu.

"Aku juga...," ada jeda sejenak sebelum ed mengatakn lanjutan kalimatnya dengan suara sehalus bisikan, "Roy."

Roy terkesiap. Ed memanggil namanya. Namanya. Bukan pangkatnya, julukannya ataupun marganya. Ethel memanggil namanya.

Dan Roy menciumnya lagi. Kali ini hanya sentuhan ringan di bibir lembut gadis itu. Karena, Roy tahu, jika dia keterusan, dia pasti akan mencium gadis itu seperti atau bahkan lebih dari semalam.

"Aku akan meneleponmu sesering mungkin," ujar Roy, melepas pelukannya.

Dia tersenyum, "Sampai jumpa, Ethel."

"Sampai jumpa, Roy," Ethel tersenyum manis, tulus.

Roy membalas senyum itu dengan senyum yang sebanding sebelum berbalik dan membuka pintu, menampakkan Jean, Riza dan Gracia yang ada di baliknya.

"Ayo, Letnan Satu, Letnan Dua. Aku pamit dulu, Gracia."

"Oh, ya. Hati-hati di jalan, Roy. Semoga pekerjaanmu lancar."

"Aku juga berharap begitu, Gracia," Roy memeluk Gracia ringan, "Sampai nanti."

"Sampai nanti, Roy."

Riza masuk ke ruang tengah, menghampiri dan memeluk Ethel yang tak beranjak dari tempatnya, "Sampai nanti, Ethel. Aku turut berbahagia."

"Sampai nanti, Kak Riza. Memang kau turut berbahagia untuk apa?" tanya Ed retoris.

Riza tersenyum tipis.

Jean menjabat tangan Ed sementara Riza berpamitan pada Gracia, "Sampai nanti, Ethel. Dan selamat sudah berhasil menangkap hati playboy Amestris yang satu itu."

"Kau seharusnya tidak mengucapkan selamat padaku, tapi bersimpati dengan kondisiku, Letnan Dua Havoc. Sampai nanti," ujarnya, membuat Havoc tersenyum seperti Riza, sambil membalas jabatan tangan Havoc.

Roy, Riza dan Havoc berlalu setelah mereka selesai berpamitan dengan Ed dan Gracia sang nyonya rumah.

Saat Roy dan dua anak buahnya itu sudah naik ke mobil dan mobil itu melaju meninggalkan rumah Gracia, Ethel bergumam, membisikkan pada angin yang lewat, pada lapisan atmosfer yang menyelimuti bumi, "Sampai jumpa, Roy..."

Bersambung...

Cerita selanjutnya:

"Kau... bagaimana kau tahu aku ada di sini?" Ethel gemetar saat melihat sosok tinggi besar berkacamata gelap dan rambut hitam yang amat dikenalnya itu.

"Katakan saja itu karena kebaikan hati sang dewa," ujar sosok yang di kedua lengannya melingkar tato aneh berbentuk lingkaran transmutasi yang jarang dilihat Ed.

.

.

"Scar!! Jangan bergerak! Kau sudah terkepung!"

Bagaimana? Apa adegan menyatakannya masih kurang greget? Kurang nggigit? Kalau begitu silakan pasang gigi palsu. *dilempari kunai*

Hehehe, kalau ada keluhan, saran, kritik atau flame, silakan layangkan pada saya dengan mengetik-ijo-ijo di bawah ini *nunjuk-nunjuk ke bawah dengan semangat 45*

Read and review, ya?

Luv,

sherry