'Aku sedang stress, aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkannya. Jadi jangan cari aku!'
Chanyeol menghela nafasnya pelan membaca penggalan pesan itu. Ini telah lewat satu minggu nyatanya Baekhyun masih saja betah bersama dengan suasana hati yang berganti seperti bunglon merayap pada warna daun.
Chanyeol tak ingin mengatakan bagaimana Baekhyun terlihat berbeda. Maksudnya Baekhyun masih menyebalkan, tapi tidak semenyebalkan dengan berdiam diri sepanjang hari.
Chanyeol juga tak ingin menyalahi atau berpikir semua itu dikarenakan oleh... kehamilannya.
Chanyeol berubah urung untuk pulang alih-alih mengendarai mobil kembali sembari mata memperhatikan sinyal dari ponsel milik Baekhyun.
Baekhyun berada di pusat kota, tempat karaoke dan Chanyeol tak menaruh heran mengapa tempat itu menjadi pilihan. Langkah kakinya menapak pelan menuju satu bilik dan tanpa permisi membuka pintu.
Baekhyun benar berada disana. Tangan menggenggam mikrofon untuk menjajah pita suaranya. Lengkingan mamantul dalam ruangan, nada sumbang bergema dan ingin sekali Chanyeol merampas benda itu lalu membekap mulut Baekhyun kuat-kuat.
"Yak! Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun terkejut menatap Chanyeol di ambang pintu. "Kau tidak membaca pesanku ya?" Lalu merengut dengan bibir mengerucut.
"Lalu apa? Kau akan berteriak-teriak disini sepanjang malam?" Mata Chanyeol berputar sekali. "Ayo pulang."
"Tidak mau!" Baekhyun menolak dengan lengkingan di depan mikrofon. "Kau pulang saja, aku akan menyusul nanti." Lalu kembali melanjutkan nyanyian acak kabulnya.
Chanyeol menghela nafas lagi dan mengindahi apa yang Baekhyun katakan. Pintu ia tutup lantas menempatkan dirinya duduk di samping lelaki mungil itu dan nyaris terpekik melihat minuman keleng di atas meja.
"Baekhyun mengapa kau minum soda? Kau lupa jika sedang hamil?"
Baekhyun pura-pura tak mendengar, sipitnya melirik kepada Chanyeol bergantian dengan kaleng minuman bersoda yang ia pesan di atas meja.
Decakan Chanyeol terdengar lagi. Lebih keras dan Baekhyun tau Chanyeol akan memarahinya. Gerutuan terdengar di udara dan Baekhyun masih tak berniat menimpali ujaran itu.
"Bukankah Ibu sudah bilang apa-apa saja yang tidak boleh kau konsumsi saat hamil? Kau mau anak kita dalam bahaya?" Chanyeol mengomel. "Jangan bertingkah ceroboh!"
"Aku memang ceroboh! Lalu apa? Aku memang sudah seperti itu!" Baekhyun berteriak keras. Lengkingannya mengangetkan Chanyeol, lebih mengangetkan lagi bagaimana sipit itu tiba-tiba berkaca-kaca disana.
"Baek-"
Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, memalingkan wajahnya dari Chanyeol dan mati-matian menahan isakan yang nyaris meledak dalam dirinya.
"A-aku tidak menyesal memiliki dia." Baekhyun berkata dengan getaran pada suaranya. Kepalanya ia gelengkan beberapa kali sedang tangan menangkup wajahnya dengan gusar. "Aku takut dia yang menyesal memiliki aku."
"Baekhyun apa yang kau katakan?" Chanyeol benar tak mengerti apa yang Baekhyun suarakan. Ia beringsut lebih dekat dan terkesiap mendapati bagaimana bergetarnya pundak sempit itu.
Kesal dalam diri Chanyeol menghilang digantikan panik disertai bingung akan perubahan diri Baekhyun di depannya. Baekhyun tiba-tiba saja menangis dan ia mulai mengeracau mengatakan patah kalimat yang lagi tak Chanyeol pahami.
"Karena aku ceroboh dan juga payah. Bagaimana jika menyakitinya? Bahkan sebelum dia lahir dan aku menyiksanya disini!" Telunjuknya menekan perutnya sendiri. "Di-dia lalu membenciku dan menyesal memiliki aku sebagai orangtuanya."
Perubahan sifat akibat hormonal kehamilan merupakan hal lumrah terjadi. Baekhyun tengah mengalaminya kini, tanpa Chanyeol ketahui seminggu berlalu Baekhyun menumpuk beban pikiran itu seorang diri.
Tentang kehamilannya yang terlalu cepat, umurnya yang masih terlalu muda; merasa tak matang, tak siap dan berakhir dengan semua pikiran-pikiran buruk menghampiri.
Baekhyun memendamnya dalam hati, semakin lama dan taunya semua itu berubah menjadi semakin buruk dan Chanyeol menjadi satu-satunya yang menumpuk sesal atas apa yang terjadi.
Chanyeol luput memikirkan tentang Baekhyun yang mungkin saja tak siap dengan kehamilannya. Mereka memutuskan untuk menikah muda, dimata orang ketiga mereka masihlah anak-anak dan Baekhyun malah melihat dirinya sendiri sebagai pihak yang membuat segalanya menjadi lebih buruk.
Chanyeol tertegun, hanya dengan melihat bagaimana aliran bening itu membasahi pipi Baekhyun dan semua beban yang Baekhyun pikul dalam pikirannya ikut mengaliri lelaki Park itu dalam sekejab. Chanyeol cepat-cepat membawa Baekhyun dalam pelukan, melingkari lengannya erat sedang isakan Baekhyun tak jua teredam di atas dadanya.
"Maafkan aku..." Chanyeol berbisik. "Maaf tak menyadari jika kau menanggung semua ini seorang diri."
Chanyeol memaki dirinya sendiri. Seminggu berlalu dengan diamnya Baekhyun mengisi hari namun si tinggi itu tak benar menganggap hal itu sebagai sesuatu yang besar. Baekhyun stress, beban pikiran paranoidnya merenggut sisi rasional dan ironisnya Chanyeol tak pernah menyadari hal itu.
Nyatanya lagi Chanyeol adalah satu-satunya yang menyambut baik kehamilan Baekhyun tanpa tau bagaimana dengan si mungil itu.
Baekhyun tidak siap. Memiliki bayi dan menjadi orangtua sedang seisi dunia tau bagaimana payahnya ia mengurus dirinya sendiri.
"Aku tak mau menyakitinya." Baekhyun terisak menggenggam lebih erat kain yang Chanyeol kenakan. "Bagaimana jika aku memakan sesuatu dan itu malah menyakitinya di dalam? Lalu saat dia lahir aku malah menjatuhkannya, mematahkan tulangnya-"
"Hei-hei..." Chanyeol menegur cepat. "Ketakutanmu sama sekali tidak beralasan-"
"Kau melihatnya sendiri bagaimana buruknya aku!" Baekhyun memotong. "Aku bahkan tak bisa mengurus diriku sendiri lalu bagaimana bisa aku menjadi orangtua?!"
"Kau bahkan belum mencobanya."
"Dan aku tak ingin mencobanya!"
Chanyeol terdiam seperkian detik. Ada denyutan kecil menyapa rongga hati Chanyeol, bukan bagaimana ia menangkap kesimpulan jika Baekhyun yang tak sepenuhnya mengharapkan kehamilannya; mengharapkan bayi mereka yang akan lahir kurang 8 bulan lagi namun lebih kepada Baekhyun yang tengah menyesali dirinya sendiri. Melihat ia sebagai orang terpayah dan memaki dirinya pula.
"Dia akan sedih mendengarmu berbicara seperti ini Baek." Chanyeol menutur. Namun pelan suara itu malah mengenai sudut hati Baekhyun yang lain.
Lelaki mungil itu semakin terpuruk dalam kesedihan yang lain dan lagi mencaci dirinya sendiri.
"A-apa yang harus kulakukan... aku hanya tak ingin menyakitinya." Baekhyun terisak dalam. Pundaknya bergetar lebih kuat dan Chanyeol semakin erat membawanya dalam pelukan.
"Kau tau, kau hanya bisa melakukan satu hal," disana Chanyeol berbisik.
Baekhyun tak menjawab tapi Chanyeol tau si mungil itu mendengarkan dan menanti lanjutan ucapannya.
"Menghadapinya..." Chanyeol melanjutkan. "Disini," tangannya turun pada perut Baekhyun. "Dia sudah hidup, dia tengah berkembang. Beberapa bulan lagi dia akan lahir dan kita akan menjadi orangtua."
"Dan aku akan menjadi orangtua paling buruk yang pernah ada." Baekhyun menyela dalam gumanan.
"Kau bahkan belum mencobanya, ah... kita." Jemari Chanyeol menari di atas perut rata itu lalu mengusapnya dengan lembut. "Kita akan mencoba dan menjalaninya bersama, kau memiliki aku dan aku memilikimu... kita pasti bisa melakukannya dengan baik."
Baekhyun terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja Chanyeol katakan. Ada susupan hangat menjalar dalam hatinya tiba-tiba- mengenyahkan seluruh hal buruk yang mengisi di dalam sana. Baekhyun tertegun seorang diri, meresapi betul dan tak sadar ketika tangannya ikut menapak di atas tangan Chanyeol dan mengikuti gerakan tangan suaminya itu mengusap perutnya sendiri.
Chanyeol melirik Baekhyun sesaat dan menarik senyum melihat isakan si mungil itu menghilang sepenuhnya.
"Kau mungkin memang payah dan juga ceroboh Baekhyun. Tapi aku tau kau takkan menyakiti buah hati kita, bahkan hanya dalam pikiranmu aku tau kau tidak." Suara Chanyeol seperti kapas, lembutnya mengisi relung hati sampai ke seluruh sudut rongga itu.
"Untuk itu, ayo buktikan jika si payah Byun ini akan menjadi Papa paling menakjubkan sedunia. Hm?"
Baekhyun merasakan darahnya berdesir. Papa... ia akan menjadi Papa untuk seseorang dalam perutnya. Si mungil itu mendongak menatap Chanyeol dan bibirnya bergetar lagi disana.
"Chanyeol..." ia merengek dan sedetik kemudian pecah dalam tangis.
Bukannya panik, Chanyeol malah tertawa. Tubuh Baekhyun ia angkat ringan di atas pahanya lalu menepuk-nepuk lembut punggung sempit itu.
"Jangan menangis, kau adalah calon Papa. Tidak malu pada bayi kita menangis seperti ini?"
"Aku menangis juga karena kau Park Abnormal Chanyeol!" Baekhyun meraung.
Chanyeol berdecak kala kata abnormal itu lagi Baekhyun serukan. "Aku tidak Abnormal Baek, kau harus berhenti memanggilku seperti itu." Ia protes dalam putaran mata. Pikirnya, apa Baekhyun tak bosan mengatainya terus-terusan tanpa alasan seperti itu?
"Kau memang abnormal, paling abnormal sedunia-"
"Dan aku suamimu." Potong Chanyeol cepat. Baekhyun kontan terdiam dan wajahnya ikut menghangat karena penuturan itu.
"Ya, kau adalah suami paling abnormal sedunia." Matanya bergerak acak menghindari Chanyeol.
"Tapi kau suka 'kan?" Chanyeol menyeletuk kembali.
Baekhyun mengatupkan rahang. Wajahnya seperti terbakar dan Chanyeol malah membuat semuanya semakin buruk dengan memaksa mata mereka beradu disana.
Chanyeol meraih dagu Baekhyun kemudian, memaksanya mendongak diikuti dengan usapan pada pipi Baekhyun yang mulai mengering oleh sisa air mata.
"Kau tak ingin mengatakannya?" Retina teduh Chanyeol bergerak pelan meneliti bulat kecoklatan manik Baekhyun.
"Me-mengatakan apa?" Baekhyun tergagap bertanya balik.
"Hm... bilang kau menyukaiku misal?" Chanyeol ikut memerah dengan pertanyaan sendiri.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik-
"HUWAAAA DASAR PARK ABNORMAL CHANYEOL! KAU MEMBUATKU MALU!" Lengkingan Baekhyun menggelegar kembali. Wajahnya ia sembunyikan pada ceruk leher Chanyeol dan mengeracau disana. "Aku benci padamu!"
Chanyeol tertawa kembali sedang tangan menahan Baekhyun yang berubah kalap di atas pahanya. "Ugh, Baekhyun jangan bergerak-gerak seperti ini, pahamu menyenggol penisku."
"MESUM!" Baekhyun lagi berteriak. Kepalan tangannya meninju Chanyeol, brutal namun konyolnya malah tidak terasa sakit sama sekali.
Chanyeol tertawa semakin keras dan Baekhyun pun semakin tak berperasaan menghujani tubuh tinggi itu dalam pukulan.
"Hei hei hentikan." Chanyeol mengerang kesakitan merasakan pukulan Baekhyun yang semakin tak main-main sakitnya.
"Berhenti atau kucium?" Chanyeol mengancam.
"Ih aku mau dicium!" Baekhyun malah kesenangan.
Chanyeol tak terkejut dan malah menyengir. Kedua tangannya menahan pundak Baekhyun agar tetap diam lalu menangkup satu pipi penuh itu dengan talapak tangannya. Kontak mata beradu lagi, sesaat sebelum Chanyeol memutusnya dalam pangutan.
Seluruh rengekan Baekhyun melebur hilang, dibatasi oleh lunak Chanyeol yang menekan bibirnya dengan lembut.
"Jika kau memiliki sesuatu yang membebani pikiranmu, hanya katakan padaku dan kita akan mencari jalan keluarnya bersama," Desau hangat nafas Chanyeol mengenai bibir Baekhyun. "Berjanjilah hm?"
"Tidak hanya aku, tapi kau juga." Baekhyun menuntut.
"Ya, aku juga." Si tinggi menimpal cepat.
"Termasuk siapa-siapa saja yang mengajak berfoto dan meminta kontakmu, kau harus mengatakannya padaku."
Chanyeol mengerjab, dua detik kemudian kembali tertawa.
"Aku tidak memintamu tertawa!" Baekhyun mencubit pinggang Chanyeol kesal. Si pemilik paha yang tengah Baekhyun duduki mengaduh pelan namun tak menghentikan niatannya untuk menjemput bibir Baekhyun lagi dalam ciuman.
Baekhyun cemberut tapi tak menolak juga bagaimana lunak bervolume itu menyapu bibirnya. Menyesap bergantian atas dan bawah sebelum dipangut lagi dalam kecapan. Suara kecipak terdengar halus dengan liur tipis menjembatani kedua bibir itu kala terpisah.
"Bagaimana menurutmu 1 ronde di bilik karaoke?"
"3 ronde! Maka jawabanku adalah oke."
