Last chapter preview

"Itu hadiah untuk anak baik yang sudah bekerja dengan keras." Ucap Baekhyun. sambil mengusap kepala Chanyeol sayang.

sejurus kemudian suara nafas teratur kembali terdengar dari hidung lelaki yang tengah berbaring itu. Rupanya Ia sedang mengigau tadi, mungkin karena pengaruh alkohol membuatnya berhalusinasi.

Bagaimana dengan Chanyeol?


.

.

Fate XIII

.

.

Seorang lelaki berpostur jangkung berjalan menaiki anak tangga di sebuah bangunan yang menyimpan banyak buku. Salah satu tanganya menenteng satu kantung plastik berukuran sedang yang berisi beberapa sandwich dan susu kemasan. Makanan – makanan itu Ia beli bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk diberikan kepada seseorang yang sudah menunggunya di ruang utama gedung itu. Hanya dalam beberapa menit lelaki itu sudah sampai di tempat tujuanya. Bukan kata sapaan yang Ia peroleh saat dirinya telah bertemu dengan orang yang ingin ia jumpai, tetapi malah suara hembusan nafas teratur yang keluar dari lubang hidung mungilnya. Seorang lelaki bersurai hitam terlihat tertidur di atas bukunya yang terbuka, wajah manisnya terlihat damai ketika Ia sedang mengarungi alam mimpinya. Melihat betapa tenangnya lelaki di hadapanya itu tertidur, lelaki yang awalnya tengah berdiri itu kini perlahan menurunkan tubuhnya untuk berlutut di samping lelaki yang memiliki postur lebih mungil darinya, Ia berusaha mensejajarkan wajahnya agar bisa mengamati wajah lelaki yang sedang tertidur itu lebih jelas. Tiba – tiba ingatanya kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu.

Flashback

"aaahh.. rupanya ini si anak Baik.. hehehe. . kau sangat hebat tadi... heee"

Ketika Ia berusaha melepaskan lengan Baekhyun dari lehernya, suatu hal yang tak ia duga terjadi. Ia terkejut saat merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya. Detik itu juga tubuhnya bagaikan terkena sengatan listrik, otaknya seakan berhenti bekerja, mengakibatkan seluruh tubuhnya mematung di tempat. Tak ada gerakan apapun kecuali lengan Baekhyun yang perlahan terlepas dari lehernya bersamaan dengan benda kenyal yang diketahui sebagai bibir Baekhyun. Bibir plumnya terasa tertarik saat proses pelepasan itu terjadi, membutnya seolah merasakan jutaan kupu - kupu menari - nari di perut dan dadanya.

"Itu hadiah untuk anak baik yang sudah bekerja dengan keras." Ucap Baekhyun. sambil mengusap kepalanya sayang.

sejurus kemudian suara nafas teratur kembali terdengar dari hidung lelaki yang tengah berbaring itu. Tetapi berbeda denganya, Ia masih mematung di posisinya dengan manik mata yang membola seakan ingin keluar dari tempatnya. Membutuhkan waktu hingga puluhan detik sampai Ia mendapatkan kembali kesadaranya, Ia berdeham untuk mengembalikan fungsi otaknya. Seolah tidak terjadi apa – apa, Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Baekhyun hingga batas dadanya. Setelah memastikan semua jendela terkunci, Ia langkahkan kakinya menuju pintu dan menguncinya dari luar. Tak lupa Ia mengembalikan kunci yang dipinjamnya itu kepada petugas yang berjaga. Ketika di dalam perjalanan pulang, pikiranya masih berputar pada kejadian yang baru saja Ia alami di kamar Baekhyun. Beberapa kali Ia mengelus dadanya sendiri untuk menenangkan kerja organ yang ada di dalamnya.

Flashbask end

Beberapa hari setelah kejadian itu Ia tidak bisa bertemu dengan Baekhyun karena jadwalnya yang sangat padat, dan pertemuan pertama mereka setelah kejadian itu adalah saat ini. Entah setan apa yang tengah merasukinya, karena kini tanganya terulur hendak menyentuh wajah damai lelaki yang tengah tertidur itu. Ibu jarinya perlahan menyentuh permukaan kulit benda berwarna pink nan kenyal milik Baekhyun. Tidak tahu apa yang sedang difikirkan, wajahnya kini tengah bergerak perlahan, mengikis jarak di antara keduanya. Tetapi gerakan itu terhenti karena sepasang emerald yang awalnya terpejam kini tengah terbuka lebar. Satu detik, dua detik, tiga detik, tidak ada gerakan apapun hingga sebuah suara pekikan terdengar dari lelaki yang tengah berlutut.

"aw! Kenapa kau memukul kepalaku?!" pekik Chanyeol sambil mengusak kepalanya berusaha menghilangkan sakit yang tengah ia rasakan.

"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan tadi?" ucap Baekhyun yang kini sudah duduk dengan tegap.

"A-aku tidak melakukan apapun!" ucapnya membela diri.

"Bohong! Jelas – jelas kau mau menci-! Emmm emmmhh!" perkataan Baekhyun tertahan karena sekarang mulutnya tengah dibekap oleh telapak tangan lebar milik Chanyeol.

"ssstttt! Diamlah! Kita sedang di dalam perpustakaan!" ucap Chanyeol berbisik

Baekhyun melepaskan telapak tangan Chanyeol kasar. "kau yang memulainya!" ucap Baekhyun dengan cara yang sama seperti yang Chanyeol lakukan.

"Sudah.. tidak usah dibahas lagi." Ucap Chanyeol yang sekarang tengah mendudukan tubuhnya di hadapan Baekhyun. "ini kubawakan makanan untukmu, kau pasti lapar kan?" Chanyeol mengeluarkan makanan yang ia bawa ke atas meja.

"Kenapa kau lama sekali? Aku sampai tertidur." gerutu Baekhyun sambil meraih sebuah sandwich untuk ia santap.

"Maafkan aku, tadi dosenku memberikan quiz dadakan di akhir perlajaran" ucap Chanyeol sambil menusukan sedotan ke salah satu susu botol rasa strawberry dan meletakkanya di hadapan Baekhyun.

"Jadi bagaimana? Kapan rencananya kau berangkat ke Daegu?" tanya Chanyeol sambil membuka sebungkus sandwich.

"Rencananya weekend ini, aku berangkat Jumat siang."

"Baiklah nanti aku akan memberitahu Paman."

"Kau yakin ingin ikut denganku ke sana?" Tanya Baekhyun setelah menyesap susu strawberrynya.

"Hum." Jawab Chanyeol dengan mulut yang terisi makanan.

"Tapi awas ya, aku tidak mau terjadi kericuhan karena seorang putera mahkota ketahuan berkeliaran di tempat umum." Tukas Baekhyun.

"ahahaha.. tanang saja.. Anggap saja ini sebagai kunjungan dinas" celetuk Chanyeol

Baekhyun ikut tertawa mendengar ucapan Chanyeol. " Baiklah.. kalau begitu kita bertemu di stasiun Seoul hari Jumat jam dua siang."

"Oke! Ini habiskan semuanya" Chanyeol menyodorkan semua makanan ke hadapan Baekhyun

"Kau pikir aku babi?" celetuk Baekhyun tidak terima

"ahahaha.. iya, babi cantik!" celetuk Chanyeol yang mendapatkan lemparan botol susu kosong.

Keduanya asyik berbicang sambil menyantap makanan itu bersama.


-The Cursed Destiny-


Telihat seorang lelaki mengenakan hoody oversize berwarna putih dengan celana jeans biru dan sneaker berwarna hitam tengah beridri di depan pintu masuk stasiun Seoul. Kepalanya mengangguk angguk mengikuti irama musik yang tengah didengarkanya melalui headset. Karena asyik dengan aktivitasnya, ia sampai tidak menyadari kehadiran seorang lelaki di sampingnya. Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam, mulai dari topi hingga ke sneakernya.

"Baekhyun!" Panggil lelaki itu sambil menepuk pundak lelaki yang tengah asyik mendengarkan musik

"Hey, Chanyeol. Kau sudah datang?" tanyanya sambil melepas headsetnya

"Kau asyik sekali sih, sampai tidak menyadari kehadiranku" gerutu lelaki jangkung itu

"ahahaha.. maafkan aku. Apa itu yang kau bawa?" tanya Baekhyun menunjuk bungkusan berbentuk kotak di tangan kanan Chanyeol

"Ah.. ini daging. Untuk nenekmu.." ucapnya sambil mengangkat bugkusan itu.

"Harusnya kau tidak usah repot – repot Yeol" ucap Baekhyun merasa tidak enak

"Sebagai teman yang baik aku harus membawakan oleh – oleh untuk keluargamu." Ucap Chanyeol memberi alasan.

" Terimakasih.." Baekhyun tersenyum mendengar ucapan Chanyeol.

Saat keduanya mengobrol, tiba – tiba atensi Baekhyun berpindah pada kumis palsu yang Chanyeol gunakan "Sebentar kumis palsumu hampir terlepas." Tangan Baekhyun terulur ke atas untuk mengeratkan kembali lem pada kumis itu. Chanyeol refleks sedikit menundukan kepalaya agar Baekhyun tidak kesulitan. Keduanya tidak sadar jika aksi mereka barusan menarik perhatian beberapa orang yang melintas.

"Sudah." Ucap Baekhyun setelah selesai membetulkan kumis Chanyeol

"Sejujurnya ini terasa sangat tidak nyaman." Gerutu Chanyeol

"Bersabarlah.. Kau bisa melepasnya di dalam kereta nanti. Ayo! Kita bisa kemalaman jika tidak segera berangkat" ucap Baekhyun sambil berjalan memasuki stasiun dan diikuti oleh Chanyeol.

Keduanya kini tengah berjalan di dalam gerbong kereta mencari nomor tempat duduk yang sesuai dengan tiket mereka. Kereta yang mereka naiki adalah kereta dengan bangku penumpang yang menghadap ke satu arah, seprti pada bangku bus.

"Aku di dekat jendela" Ucap Chanyeol mencuri tempat duduk di dekat jendela.

"iisshh.. dasar bocah!" gerutu Baekhyun melihat tingkah kekanakan Chanyeol.

Keduanya kini sudah duduk dengan nyaman di dalam kereta yang sedang melaju dengan kecepatan konstan. Baekhyun terlihat tengah sibuk dengan handphonya, ia membalas beberapa pesan yang berasal dari rekan kerjanya. Baekhyun memang sengaja mengambil cuti kerja minggu ini untuk perjalananya ke Daegu. Lain dengan Baekhyun, Chanyeol terlihat bersandar sambil memejamkan matanya, rupanya Ia sudah tertidur pulas tak lama setelah kereta melaju. Benar saja, semalaman Ia tidak tidur untuk menyelesaikan pekerjaanya selama tiga hari kedepan karena alasan kepergianya ini. Selain itu, tadi pagi hingga tengah hari tadi Chanyeol harus mengikuti rapat di dua perusahaan sekaligus. Jadi tidak salah jika sekarang Ia tertidur sangat pulas.

Saat Baekhyun masih berfokus pada handphonya, tiba – tiba ia merasakan beban di bahu kirinya, refleks Ia alihkan atensinya untuk mengeceknya. Ternyata itu adalah kepala Chanyeol yang terjatuh di bahu Baekhyun.

"kantung matanya lebar" gumam Baekhyun saat mendapati kantung mata kelelahan di wajah maskulin itu. Karena merasa iba, Ia biarkan saja Chanyeol bersandar di bahunya

"Dia sangat sempurna.. selain muda dan tampan otaknya juga cemerlang. Kudengar dia masih menempuh pendidikan di SNU dengan prestasi yang gemilang" Ucap seorang wanita paruh baya sambil menunjuk ke arah layar persegi di dalam gerbong. Televisi mini itu rupanya tengah menampilkan siaran berita tentang prestasi putera mahkota yang berhasil meningkatkan nilai saham perusahaan milik kerajaan sejak Ia resmi menjabat.

"kau benar.. rasanya sangat bangga memiliki putera mahkota sepertinya."

Baekhyun rupanya mendengar obrolan dua orang wanita paruh baya yang duduk tak jauh darinya. Ia hanya bisa menahan tawanya karena orang yang tengah mereka bicarakan itu sekarang sedang tertidur di bahunya sambil mendengkur dengan mulut yang sedikit terbuka. Sosok itu sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang muncul di layar televisi. Sejujurnya Baekhyun merasa sedikit spesial karena dapat mengetahui sisi lain dari seorang putera mahkota.

Sejurus kemudian otak jahilnya tiba – tiba muncul, ia membuka kamera handphonya dan mengambil gambar Chanyeol dengan pose langka itu. "sayang jika tidak diabadikan" ucapnya sambil menyimpan kembali handphonya ke dalam ransel.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam kini keduanya baru saja turun dari bus yang mengantar mereka dari stasiun ke desa tempat nenek Baekhyun tinggal. Mereka harus berjalan kurang lebih satu kilometer lagi untuk sampai di rumah nenek Baekhyun.

"Jauh juga ya rumah nenekmu." Ucap Chanyeol segera setelah turun dari bus

"itu karena kami tinggal di desa." Jawab Baekhyun sambil merapihkan pakaianya " jam berapa sekarang?"

"jam lima." Jawab Chanyeol sambil meregangkan otot – otot tubuhnya yang terasa pegal.

"Syukurlah, tidak kemalaman kita." Ucap Baekhyun mulai berjalan menyusuri jalanan yang belum diaspal.

Mereka berdua mulai berjalan menyusuri jalanan pedesaan itu. Deretan pegunungan terlihat menjulang di cakrawala, langit sore yang berwarna jingga semakin menambah kesan damai desa yang masih asri itu. Dalam perjalanan, beberapa penduduk desa menyapa Baekhyun ramah, mereka adalah orang – orang yang selalu berinteraksi dengan Baekhyun sebelum ia berangkat berkuliah di Seoul.

"Baekhyun! Kau pulang Nak?!" Sapa seorang wanita paruh baya yang sedang merapihkan toko buahnya yang sebentar lagi akan tutup.

"Bibi!" Baekhyun berjalan menghampiri wanita yang menyapanya "Iya, aku mengunjungi nenek." Jawab Baekhyun sambil menjabat tangan wanita itu.

"Bagaimana sekolahmu nak?" tanya wanita itu masih memegangi tangan Baekhyun

"Lancar bibi." Jawab Baekhyun dengan senyum manisnya

"waaah... kau semakin manis saja Baekhyun." Ucap wanita tadi sambil mencubit pipi Baekyun.

"isshh..Bibi mulai lagi" ucap Baekhyun pura – pura merajuk

"ahahaha.." wanita itu tertawa renyah " itu siapa nak?" Tanya wanita itu saat netranya melihat sosok lain yang berdiri tak jauh dari Bakehyun.

"Ah- itu teman kuliahku bi, namanya Chanyeol." Ucap Baekhyun. Chanyeol yang merasa dibicarakan lantas berjalan mendekat untuk memberikan salam pada wanita tadi.

"Kau sangat tampan nak Chanyeol." Ucap wanita itu

"ah.. terima kasih bibi.." jawab Chanyeol sambil membungkukan tubuhnya.

"Bibi kami harus segera pergi sekarang, nenek sudah menunggu di rumah." Baekhyun meminta izin pada wanita itu.

"Ahh.. iya iya,. Salam untuk nenekmu ya!" ucap wanita itu pada Baekhyun dan Chanyeol yang sudah berjalan menjauh.

"Baik Bibi!" ucap Bakehyun sambil melambaikan tangan pada wanita tadi

"Kau cukup populer ya.." celetuk Chanyeol.

"hahaha.. itu karena mereka sudah kuanggap seperti keluarga sendiri." Ucap Baekhyun dengan senyum lebarnya.

"tapi kadang aku tidak suka dengan kebiasaan mereka yang memperlakukanku seperti anak perempuan." Gerutu Baekhyun

"Kenapa?" tanya Chanyeol bingung

"ya.. mereka sering memanggilku cantik lah, manis lah.. tidak pernah mereka memanggilku tampan. Seperti padamu tadi." Baekhyun mengomel sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

"AHAHAHA.." Chanyeol terbahak mendengar pernuturan Baekhyun "Tapi, aku setuju dengan mereka."

"Cih!" Baekhyun mendecih sambil membolakan matanya pada Chanyeol

"sebenarnya Ini bermula dari ibuku yang menginginkan anak perempuan dulu saat mengandungku, bahkan dia menjahit beberapa pakaian bayi perempuan untuk menyambut kelahiranku." Baekhyun mulai bercerita

"Benarkah?" Tanya Chanyeol tidak percaya "lalu bagaimana setelah dia mengetahui bahwa bayinya laki – laki bukan perempuan?"

"Memang ibuku tidak pernah menunjukan rasa menyesal melahirkan anak laki – laki, tetapi dia menjadi suka mendandaniku seperti anak perempuan. Bahkan ia membiarkan aku bermain di luar rumah dengan menggunakan rok. Sejak saat itu para tetangga sering memanggiku cantik atau manis"

"waah.. pasti kau sangat lucu saat balita."celetuk Chanyeol membayangkan Baekhyun kecil berlarian menggunakan rok

"hum. Saat aku melihat lagi foto – foto masa kecilku, aku pasti akan setuju dengan pendapat orang – orang." jawab Baekhyun menyetujui pendapat Chanyeol.

Karena asyik mengobrol, tak terasa kini langkah keduanya telah sampai di depan sebuah rumah bergaya tradisional dengan halaman yang cukup luas. Baekhyun mengajak Chanyeol melangkah memasuki halaman rumah itu. Saat Baekhyun hendak mengetuk pintu rumah itu, tiba – tiba saja pintu itu terbuka. Nampak seorang wanita tua berambut putih muncul dari dalam rumah. Baekhyun yang melihat sosok itu langsung menghambur memberi pelukan padanya.

"Nenek~" rengek Baekhyun sambil berlutut memeluk tubuh wanita tua itu.

"Baekhyun cucu nenek.." ucap wanita tua itu dengan suara seraknya. Ia mengelus punggung Baekhyun sayang "kapan kau sampai nak?"

"Baru saja nek.." ucap Baekhyun sambil memandang wajah neneknya.

Wanita tua itu meberikan kecupan singkat di bibir Baekhyun "cucu nenek semakin manis saja~ apa kau melakukan dengan baik di Seoul?" tanya wanita tua itu sambil mengelus kepala Baekhyun sayang.

"hum." Baekhyun mengangguk anggukan kepalanya lucu " Aku bahkan membawa temanku kemari nek" ucap Baekhyun sambil menunjuk ke arah Chanyeol yang sedang berdiri di halaman rumah.

Chanyeol berjalan mendekat "Halo nek.. perkenalkan saya Park Chanyeol, teman kuliah Baekhyun di Seoul." ucap lelaki jangkung itu setelah membungkuk memberikan hormat

Wanita tua itu hanya tersenyum sambil mebalas sapaan Chanyeol. " Ayo masuk – masuk, kalian pasti sangat lelah. Aku sudah memasak untuk kalian" Wanita tua itu mengajak Chanyeol dan Baekhyun untuk memasuki rumah.

Ketiganya berjalan memasuki rumah dengan suara Baekhyun yang sibuk berceloteh menanyakan berbagai hal kepada neneknya.


Ketiganya kini tengah bersantap malam di atas meja persegi dan duduk di atas lantai yang terbuat dari tatami (lantai yang terbuat dari jerami).

"Maafkan jika rumahnya sangat sederhana" ucap wanita tua itu kepada Chanyeol. Ia merasa tidak enak karena pemuda itu harus merundukan tubuhnya setiap kali melawati pintu yang tingginya lebih rendah darinya.

"Ah, tidak nek.. Aku justru menyukai suasana seperti ini." Ucap Chanyeol tidak enak hati.

"Nenek tahu tidak Chanyeol itu sebenarnya seorang Putera Mah- Aaarrg! Sakit!" Ucapan Baekhyun terhenti karena lututnya yang berada di bawah meja mendapat tendangan dari Chanyeol.

Wanita tua itu hanya menampakan wajah bingung melihat dua orang lelaki saling membolakan mata dan berbisik tidak jelas.

"AHAHAHA.. iya Nek aku putera dari kedua orangtuaku." Jawab Chanyeol mengambil atensi wanita tua itu. Chanyeol tidak ingin nenek Baekhyun menjadi canggung padanya jika mengentahui identitas dirinya.

"Kalian sangat akrab ya.." celetuk wanita tua itu sambil memandang wajah Baekhyun dan Chanyeol bergantian. Kedua lelaki berbeda postur itu hanya menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.

"setelah makan mandilah, nenek sudah menyiapkan air hangat. Ohya Baekhyun, kau dan Chanyeol tidur di kamar tamu saja ya, kamarmu sedang direnovasi. Nanti gunakan kasur lipat yang ada di dalam lemari." Jelas wanita tua itu pada cucunya.

"siap nek~" ucap Bakehyun sambil mengacungkan ibu jarinya.

ketiga orang itu kembali menikmati makan malam mereka dengan nikmat.

Di dalam sebuah ruangan persegi Baekhyun terlihat tengah sibuk mengeluarkan kasur lipat dan menatanya di lantai. Ia letakan kedua kasur itu dengan jarak yang cukup jauh, ia tidak mau kejadian yang pernah dialaminya saat di kamar Chanyeol dulu terulang lagi. Tulang - tulangnya bisa remuk jika ditimpa tubuh Chanyeol yang sangat berat. Setelah kedua kasur itu dirasa sudah tertata dengan rapih, Baekhyun bersiap untuk mandi. Saat ia hendak membuka pintu, tiba – tiba tubuh jangkung Chanyeol menyembul masuk hampir menabraknya.

"Kau sudah selesai?" tanya Baekhyun

"Hum. Airnya hangat, sangat nyaman." Ucap Chanyeol sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Baekhyun hanya merespon dengan memberikan senyuman.

"kasurnya sudah kutata, terserah kau mau pilih yang mana." Ucap Baekhyun sambil menunjuk kasur yang tergelar di atas lantai

"kenapa jaraknya jauh sekali?" tanya Chanyeol bingung

"sudah terima saja... demi kebaikan bersama." Ucap Baekhyun sambil melangkah keluar menuju kamar mandi. Dia meninggalkan Chanyeol dengan kening yang berkerut.

"Apa dia pikir aku akan menciumnya saat ia tertidur?" tanya Chanyeol pada dirinya sendiri.

Suasana malam di pedesaan sangat berbeda dengan suasana malam di kota. Bukan suara bising yang terdengar tetapi suara serangga malam yang bersenandung merdu sebagai musik alami penghantar tidur. Namun selain suara serangga, rupanya suara dari dua orang lelaki masih terdengar lirih.

"Besok aku akan mengunjungi makam kedua orangtuaku. Kau mau ikut atau tinggal di rumah bersama nenek?" tanya Baekhyun kepada Chanyeol.

Keduanya kini tengah bersiap untuk tidur, mereka tengah berbaring si atas kasurnya masing – masing sambil memandang ke langit – langit kamar. Lampu kamarpun sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang menembus melalui jendela yang memberikan sedikit penerangan di ruangan persegi itu.

"Apakah jauh?" tanya Chanyeol sambil menghadapkan tubuhnya kepada Baekhyun.

"lumayan.." ucap Baekhyun masih memandang langit – langit. " tapi jika kau ikut, kau akan kuajak melihat kebun bunga di greenhouse milik nenek." Ucap Baekhyun yang kini sudah menghadap ke arah Chanyeol. Mereka saling berhadapan sambil mengobrolkan rencana yang akan mereka kerjalan esok hari.

"kelihatanya menyenangkan." Ucap Chanyeol dengan suara rendahnya.

"Hum. Nanti setelah mengambil beberapa bunga dari kebun, kita akan menaiki bus satu kali, kemudian berjalan melewati bukit dan sungai. Makam ayah dan ibuku ada di atas bukit. Dijamin kau akan menyukai pemandangan dari atas sana." Cerita Baekhyun menjelaskan rute perjalanan yang akan mereka lalui.

Walaupun kondisi kamar yang gelap, Chanyeol masih dapat melihat senyuman di wajah sayu Baekhyun. Ia berfikir betapa jahatnya Ia jika membiarkan Baekhyun berpergian sendiri tanpa teman bicara.

"Baiklah, aku ikut." Ucap Chanyeol dan mendapatkan senyuman lebar dari Bakehyun.

"Tidurlah, besok kita harus berangkat pagi." Perintah Baekhyun.

"Hum.. selamat malam" Ucap Chanyeol menutup percakapan mereka.

Mendekati ujung malam, terlihat seorang lelaki meringkung berusaha membolakan tubuhnya. Bahunya sedikit bergetar karena tidak tahan dengan suhu dingin yang terasa menusuk kulitnya. Karena tidak kunjung mendapatkan sumber kehangatan yang ia cari – cari di dalam selimutnya, lelaki yang masih setia memejamkan matanya itu terbangun dari tidurnya. Ia merangkak mendekati gunungan tubuh lain yang tengah meringkuk membelakanginya. Ia menyamankan tubuh mungilnya, meringkuk di samping gunungan bernyawa tadi. nafas teraturnya kembali terdengar sedetik setelah tubuhnya mendapatkan sumber panas yang dibutuhkanya.


6 a.m.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui satu – satunya jendela dari sebuah ruangan persegi. Cahaya itu rupanya menerpa wajah seorang lelaki berwajah manis yang masih tertidur pulas. Semakin lama silauan cahaya itu membuat lelaki mungil tadi merasa terganggu dalam tidurnya. Ia gerakan kepalanya berusaha menghindari terpaan cahaya keemasan itu, tetapi wajahnya justru terpentuk suatu benda yang mengeluarkan aroma yang tak asing bagi indera penciumanya, aroma kopi yang lembut dan menenangkan. Bukanya terbangun, lelaki itu justru merasa semakin nyaman meringkuk di sana, dapat dilihat dari seulas senyum yang muncul di wajah manisnya. Beberapa detik berlalu otaknya mulai menerjemahkan semua hal yang ia rasakan. Kelopak matanya perlahan mulai terbuka, mengerjap lucu berusaha menghilangkan kabut yang menyelubungi penglihatanya. Semua inderanya mulai bekerja dengan baik sekarang, telinganya mampu menangkap suara hembusan nafas teratur dan degupan jantung dari benda yang berjarak satu inci darinya itu. Dengan cepat otaknya mengambil kesimpulan dari peristiwa yang sedang dialaminya itu.

"YAK! KENAPA KAU DI KASURKU!" pekik lelaki itu terbangun dengan rambut berantakan.

Karena tiba – tiba telinganya mendengar suara memekakan, lelaki yang masih berbaring itu membuka kelopak matanya paksa. Dengan cepat ia menyesuaikan dengan lingkungan yang baru saja diterima oleh indera penglihatanya.

"Kanapa kau suka sekali berteriak.. ini masih pagi." Ucap lelaki bertubuh jangkung itu dengan kening berkerut dan suara paraunya.

"KENAPA KAU ADA DI KASURKU?!" tanyanya lagi pada lelaki jangkung yang sepertinya masih belum mau bangun itu.

Merasa tidak melakukan hal apapun, lelaki yang dituduh sebagai tersangka itu mengangkat kepalanya untuk memastikan praduka lelaki yang tengah memasang wajah lucu kepadanya. Ia melihat posisi kasur yang sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya.

"Aku tidak berada di kasurmu.. Kau yang berada di kasurku.." ucapnya malas dengan mata yang kembali terpejam.

Mendengar ucapan itu, lelaki berwajah manis itu memalingkan tubuhnya memastikan posisi kasurnya yang nyatanya berada di seberang posisinya saat ini.

"Ke-kenapa aku bisa ada di kasurmu?" tanyanya gagap karena tuduhanya tidak terbukti

"entahlah... yang tahu hanya dirimu.." ucap lelaki jangkung itu sambil menarik selimutnya ke atas, ia masih belum mau bangun dari tidurnya.

Lelaki yang tengah duduk dengan rambut bangun tidurnya itu terlihat berfikir berusaha mengingat kejadian semalam. Potongan gambar kejadian semalam perlahan muncul di otaknya, dari kejadian bagaimana tubuhnya bergetar karena suhu dingin yang menusuk kulitnya hingga gambar kejadian tubuh mungilnya meringkuk nyaman di punggung lelaki jangkung yang kini terlihat mulai tertidur lagi. Semburat merah perlahan muncul di sekitar pipinya, betapa malunya ia melanggar aturan yang telah ditetapkanya sendiri.

"Channi... maafkan aku.. maaf karena sudah berteriak padamu." Ucap lelaki mungil itu sambil memandang wajah lelaki jangkung yang masih terbaring di dalam selimut.

"huumm.." jawabnya malas sambil mengintip ekspresi wajah Baekhyun dari sudut matanya.

Melihat wajah cemberut lelaki yang tengah terduduk di hadapanya itu membuat otak jahilnya muncul.

"Ayo tidur lagi!" Ucap lelaki jangkung itu sambil merengkuh tubuh lelaki mungil itu ke dalam dekapanya, memeluknya kuat seperti guling.

"YAAAKK..CHANYEOL! APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak lelaki mungil itu meronta dalam pelukan lelaki yang jauh lebih besar darinya itu.

"ssttt diamlah! Lima menit saja" ucap Chanyeol menahan rontaan tubuh mungil yang berada dalam dekapanya itu "Aku masih kedinginan"

Perlahan Chanyeol merasakan tubuh Baekhyun mulai tenang dalam pelukanya, seulas senyum perlahan muncul di wajah maskulinya.

"Semalam suhunya sangat dingin." Gumam Bakhyun di depan dada bidang Chanyeol. Ia berusaha menyampaikan alasanya berpindah tidur tadi malam.

"Hum.." gumam Chanyeol sambil mengusakan ujung hidungnya di surai hitam Baekhyun. Aroma sampo yang digunakan oleh lelaki mungil itu rupanya telah menjadi favoritnya.

Keduanya masih bertahan dalam posisi itu untuk beberapa menit. Chanyeol terlihat memejamkan matanya, merasa nyaman dengan posisinya sekarang. Sedangkan Baekhyun hanya mengerjap lucu di dalam dekapan tanpa jarak itu.

"Yeolli?"

"Hum?"

"Kenapa jantungmu berdetak lebih capat? Apa kau sakit?" tanya Bakehyun polos

"entahlah.. jantungku selalu berdetak seperti itu akhir – akhir ini." Jawab Chanyeol sambil memperarat dekapanya pada tubuh mungil Baekhyun.

Lima menit telah berlalu, tetapi keduanya masih bertahan dalam posisi itu. Hingga suara ketukan di pintu mengambil atensi keduanya. Dengan tergesa keduanya bangkit dari posisi tidur dan duduk bersebelahan dengan rambut yang masih berantakan.

"Baekhyun, katanya kau akan mengunjungi makam ayah dan ibumu?" Tanya seorang wanita tua sambil membuka pintu geser ruangan persegi yang dihuni oleh dua orang lelaki berbeda postur itu.

"Harusnya kasurnya di jadikan satu saja agar lebih luas." Ucap wanita tua itu setelah melihat dua orang lelaki yang tengah menempati satu kasur single bersama.

"ahahaha.. iya nek" ucap keduanya kompak sambil menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.

"segeralah bersiap jika kau jadi ke makam ayah dan ibumu." Ucap wanita tua itu lagi mengingatkan.

"Iya!" jawab Baekhyun segera bangkit dari duduknya "Ayo Chanyeol! Kau mandilah dulu, aku akan merapihkan kamar ini." Pinta Baekhyun pada Chanyeol dan tentu saja segera dituruti.

Wanita tua itu tersenyum simpul melihat interaksi antara dua lelaki itu, kemudian kembali pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Setelah selesai bersiap dan sarapan Baekhyun dan Chanyeol kini sudah berada di depan rumah untuk berangkat ke tempat pemakaman kedua orang tuanya.

"Nanti setelah dari pemakaman mampirlah dulu berbelanja, kita akan memasak daging pemberian Chanyeol untuk makan malam, tidak enak jika tidak dimakan bersama – sama." Wanita tua itu berpesan pada Baekhyun di halaman rumahnya.

"Siaap neek!" jawab Baekhyun girang. Hari ini moodnya sangat bagus karena Ia akan mengunjungi makam kedua orang tuanya bersama seseorang, biasanya ia akan berangkat sendirian karena kondisi neneknya yang sudah sangat tua.

Wanita tua itu tersenyum mendengar celotehan girang cucunya. " hati - hati di jalan.. jaga temanmu dengan baik."

"hum. Kalo begitu kami berangkat!"

Setelah mengucapkan salam perpisahan, keduanya berjalan berdampingan keluar dari halaman rumah nenek Baekhyun. Tujuan pertama mereka adalah greenhouse milik nenek Baekhyun. Membutuhkan waktu lima belas menit berjalan kaki untuk mencapai tempat tersebut. Selama di perjalanan, Baekhyun kembali mendapatkan sapaan dari para tetangga yang dijumpainya. Chanyeol juga tak pernah lepas dari pertanyaan yang dilontarkan para tetangga kepada Baekhyun. Untung saja tidak ada yang mengetahui identitasnya di sana, sehingga ia tak perlu repot – repot menyamar untuk menyembunyikan statusnya sebagai putera mahkota. Itu juga yang menjadi salah satu alasan Chanyeol merasa nyaman berada di desa tempat tinggal Baekhyun.

Tak sampai lima belas menit, keduanya telah tiba di depan sebuah bangunan yang cukup tinggi yang terbuat dari kaca. Baekhyun yang terlebih dahulu membuka kunci pintu bangunan itu dan mempersilahkan Chanyeol masuk.

"selamat datang di kebun bunga milik keluarga Byun!" celetuk Baekhyun girang

"Waaahh.. aku belum pernah melihat yang seperti ini." Ucap Chanyeol terperangah melihat pemandangan di depan matanya yang dipenuhi dengan hamparan memanjang bunga berwarna kuning.

"Bagaimna? Indah bukan!" Tanya Baekhyun yang tengah berdiri di belakang tubuh Chanyeol yang menyusuri pematang di antara barisan kuning itu.

"iya, semuanya mekar dengan sempurna." Ucapnya sambil memegang salah satu kelopak bunga yang paling dekat denganya.

"tentu saja, di dalam greenhouse kau bisa menghasilkan bunga-bunga terbaik." Jelas Baekhyun sambil menyerahkan sebuah gunting bunga kepada Chanyeol. "Ambilah secukupnya, kita akan memberikanya untuk kedua orang tuaku dan sedikit untuk nenek untuk dipasang di vas bunganya."

Chanyeol mengambil gunting yang Baekhyun berikan padanya."Apa nama bunga ini?"

" yang ini Chrysantheum" tunjuk Baekhyun pada barisan bunga yang ada di sebelah kananya," dan yang ini Daffodil" kali ini Bakhyun menunjuk barisan bunga yang ada di sebelah kirinya. Chanyeol hanya mengangguk – angguk paham.

Chanyeol memotong salah satu bunga Crysant di ujung tangkai bunganya, lalu menunjukanya pada Baekhyun.

"yaah.. bukan seperti itu cara memotongnya." Keluh Baekhyun setelah melihat hasil pekerjaan Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol sudah tahu cara memotong yang benar, Ia sengaja melakukan hal itu karena ia berencana menyelipkan bunga itu di atas telinga Baekhyun.

"diamlah sebentar" ucap lelaki jangkung itu sambil menyematkan sebuah bunga di cuping Baekhyun. Setelah bunga itu tersemat dengan pas, Ia bergegas mengeluarkan handphonya dan mengambil gambar Baekhyun.

Baekhyun rupanya juga mengikuti perbuatan Chanyeol, Ia memetik satu bunga crysant dan menyelipkanya di atas cuping lebar Chanyeol. Keduanya asyik berfoto ria diiringi dengan suara tawa yang menghangatkan hati siapapun yang mendengarnya. Sekitar lima belas menit berada di dalam greenhouse akhirnya keduanya mendapatkan buket bunga yang mereka butuhkan. Baekhyun mengikat bunga – bunga itu menjadi dua ikatan dan membungkus bagian pangkal tangkai dengan plastik yang berisi air, itu bertujuan untuk menjaga kesegaran bunga. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat pemakaman kedua orang tua Baekhyun.

Seperti yang Baekhyun ceritakan tadi malam, mereka berdua harus menaiki bus satu kali dan berjalan melalui sungai dan bukit untuk sampai di lokasi tujuan. Perjalanan itu tidak terlalu melelahkan karena netra mereka disuguhkan dengan pemandangan desa yang masih asri.

"Makam kedua orang tuaku ada di ujung tangga ini" ucap Baekhyun mulai melangkah menaiki tangga di sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Chanyeol berjalan tepat di belakang Baekhyun, berjaga – jaga jika lelaki mungil itu terpeleset saat melangkah. Sekitar 20 anak tangga mereka lalui akhirnya keduanya sampai di depan sebuah gundukan batu yang di depanya terdapat foto hitam putih yang menampakan seorang laki – laki dan wanita yang saling merangkul sambil tersenyum ke arah kamera. Wajah wanita di dalam foto itu tampak sangat mirip dengan wajah Baekhyun.

"Ayah, Ibu, Baekhyun datang menjenguk kalian." Ucap Baekhyun sambil meletakkan salah satu buket bunga di depat foto tadi.

"Baekhyun sekarang sudah berkuliah di Seoul Ibu, Ayah.. terimakasih, berkat doa kalian aku bisa bersekolah di sana." Ucap Baekhyun dengan senyum manisnya

Chanyeol berdiri tiga langkah di belakang Baekhyun, ia memperhatikan Baekhyun yang tengah berdoa di depan makam kedua orangtuanya itu. Hatinya menghangat melihat ekspresi lelaki mungil itu melembut di hadapan makam kedua orangtuanya. Beberapa menit kemudian, Baekhyun bangkit dari posisi berlututnya. Kemudian Chanyeol melangkah maju untuk memberikan salam kepada kedua orang tua Baekhyun.

"Halo Paman, Bibi.. perkenalkan saya Chanyeol teman Baekhyun di Seoul." Chanyeol membungkuk memberikan hormat kemudian ia berlutut untuk mengirimkan doa kepada keduanya. Baekhyun tersenyum manis melihat sopan santun Chanyeol kepada kedua orangtunya.

Setelah selesai mengirimkan doa sekarang keduanya tengah duduk di si atas bukit sambil memakan bekal makan siang yang telah disiapkan oleh neneknya tadi pagi.

"Pemandangan dari atas sini benar – benar indah.. aku bisa melihat seluruh desa dari sini." Ucap Chanyeol sambil mengambil gambar pemandangan yang menghampar di depan matanya.

"sudah kubilang 'kan, kau pasti menyukainya." Celetuk Baekhyun sambil menikmati bekal makan siangnya. "kau makanlah juga." Tawar Baekhyun pada Chanyeol yang masih asyik mengambil gambar dengan handphonya.

"suapi aku, tanganku sibuk." Celetuk Chanyeol tanpa berfikir panjang.

Tanpa diduga rupanya Baekhyun tak sungkan menyodorkan telur gulung ke dalam mulut Chanyeol yang sudah membuka lebar.

"Bagaimana? enak?" tanya Baekhyun

"Hum enak, masakan nenekmu memang juara." Ucap Chanyeol dengan mulut terisi makanan.

"Kalo telur ini aku yang membuatnya tadi pagi."

"wah, kau jago memasak juga ternyata." Ucap Chanyeol sambil membolakan matanya pada Baekhyun.

"Nenek yang mengajariku.." ucap Baekhyun sambil mengelap sisa saus di ujung bibir Chanyeol dengan ibu jarinya tanpa sungkan.

"kau sangat mirip dengan ibumu" ucap Canyeol sambil memandangi wajah Baekhyun.

"iya, hampir semua orang yang pernah melihat ibuku berkata demikian. Nenek bilang bahkan kami memiliki senyum yang sama." Cerita Baekhyun sambil mengambil kimchi dengan sumpitnya dan menyodorkanya ke mulut Chanyeol. Baekhyun terlihat seperti seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya dengan telaten. Dan kenyataan bahwa mereka tidak sengaja hanya membawa satu buah sumpit membuat kegiatan suap menyuap itu menjadi keharusan.

Setelah semua isi kotak bekal yang mereka bawa bersih dari sisa makanan, mereka bersiap melanjutkan perjalanan mereka.

"ayo, kita harus ke pasar dulu untuk membeli beberapa sayuran" ucap Baekhyun sambil meraih buket bunga berwarna kuning yang sengaja mereka petik untuk dipajang di rumah nenek nanti.

"Sini biar aku yang bawa bunganya." Ucap Chanyeol mengambil buket bunga dari tangan Baekhyun.


Di sebuah pasar tradisional yang dipenuhi oleh orang bertransaksi, Chanyeol dengan sabar mengekori Baekhyun yang tengah asyik memilih sayuran yang akan dibelinya. Ia tidak begitu tahu dengan jenis sayuran yang cocok untuk dimakan sebagai pendamping daging, sehingga ia hanya membuntuti Baekhyun menyelesaikan tugasnya. Ketika Baekhyun baru saja menerima kantung belanjanya, sebuah suara cukup keras terdengar di antara para pengunjung pasar.

"Bukankah itu putera mahkota?!"

"Benar! Itu putera mahkota!"

"waaahh aku ingin berfoto denganya!"

Tiba – tiba kericuhan terjadi di dalam pasar, orang – orang mulai mengalihkan atensinya kepada lelaki jangkung yang kini terlihat memucat di posisinya.

"AYO LARI!" Pekik Baekhyun sambil menarik pergelangan tangan Chanyeol. Mereka berlari keluar dari kerumunan oarang – orang yang menyadari kehadiran seorang putera mahkota di antara mereka. Keduanya berlari kencang, mencari tempat yang terhindar dari kejaran orang - orang yang ingin bertemu dengan Chanyeol itu. Dan akhirnya mereka berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang.

"HAH..HAH.. ITU TADI BENAR – BENAR MENYERAMKAN!" pekik Baekhyun sambil membungkuk barusaha mengatur nafasnya yang tersengal.

"Aku pikir tidak ada orang yang mengenaliku di sini." Ucap Chanyeol yang tengah melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan Baekhyun.

"Saat di pasar kau tidak akan tahu dari mana saja mereka berasal. Bisa saja salah satu dari mereka itu orang kota yang tiap hari menonon berita tentangmu." Baekhyun berusaha menerka alasan yang mungkin menjadi penyebab terjadinya kericuhan tadi.

"bisa jadi." Jawab Chanyeol setuju

"Ayo kita segera pulang, aku sudah lapar karena berlari barusan." Gerutu Baekhyun sambil mengelus perutnya sendiri.

Keduanya berjalan santai menuju rumah nenek Baekhyun yang sudah tak jauh lagi dari posisi mereka saat ini. Tepat saat matahari tergelincir di peraduanya, mereka telah sampai di rumah. Baekhyun langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam yang akan mereka santap, sedangkan Chanyeol tengah duduk di ruang tengah membantu nenek Baekhyun merangkai bunga di dalam vas.

"Kau tahu, setiap bunga memiliki arti yang berbeda - beda" ucap seorang wanita tua yang tengah mengatur letak bunga di dalam sebuah vas bunga.

"Aku hanya mengetahui beberapa saja nek" jawab lelaki jangkung yang tengah duduk di samping wanita tua itu.

"Apa kau tahu apa arti dari bunga ini Chanyeol?" tanya wanita tua itu kepada Chanyeol yang tengah memotong tangkai bunga-bunga berwarna kuning itu.

"tidak.. apa artinya nek?" tanya Chanyeol penasaran.

"Bunga ini, namanya Chrysant. Bunga ini memiliki arti kesetiaan dan cinta." Ucap wanita tua itu sembari mengambil sebatang bunga Crysant dan meletakanya ke dalam vas. "Sedangkan bunga ini, namanya Daffodil, dia memiliki arti terlahir kembali atau reinkarnasi." Lanjut wanita tua itu yang kini menyelipkan setangkai bunga daffodil ke dalam vas. Chanyeol terlihat mendengarkan penjelasan wanita tua itu dengan penuh perhatian.

Tiba – tiba wanita tua itu mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Chanyeol. Tangan keriputnya perlahan bergerak ke atas hendak menyentuh sisi wajah Chanyeol. Chanyeol yang peka dengan gerakan itu, refleks medekatkan wajahnya agar wanita tua di hadapanya itu tidak kesulitan meraihnya. Wanita tua itu tersenyum simpul melihat sopan santun lelaki jangkung bernama Chanyeol itu.

"Aku bersyukur ternyata kau orang yang sangat baik dan sopan." Ucap wanita tua itu sambil memandangi manik mata Chanyeol " Aku bisa tenang sekarang meninggalkan Baekhyun bersamamu." Lanjut wanita tua itu

"maksud nenek apa?" tanya Chanyeol dengan wajah bingungnya

"Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatmu di depan pintu kemarin sore. Kau adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup Baekhyun. Walaupun tubuhku sudah semakin tua, tetapi penglihatanku masih sangat bagus, aku bisa melihat warna emerald di manik matamu." Jelas wanita tua itu sambil mengelus lembut sisi wajah Chanyeol.

"ne-nenek mengetahui tentang kutukan itu?" tanya Chanyeol terkejut sambil membolakan matanya. Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum simpul.

"neneku dulu pernah menyampaikan sebuah cerita tentang leluhur kalian. Seharusnya aku menyampaikan pesan ini kepada kedua orangtua Baekhyun, tapi sayang umur mereka tak panjang. Sejak saat itu aku bertekat untuk membesarkan Baekhyun dengan sebaik – baiknya agar kelak Ia siap menjemput takdirnya." Cerita wanita tua itu kepada Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Park Chanyeol, itu nama margamu kan? Aku serahkan Baekhyun kepadamu sepenuhnya. Tolong jaga harta paling berharga di keluarga kami." Ucap wanita tua itu sambil menangkup tangan Chanyeol di antara kedua tangan keriputnya.

" Dia memang sedikit ceroboh dan terlihat tegar di luar, tetapi sebenarnya hatinya sangat murni dan rapuh. Ia tidak bisa membiarkan orang lain menderita." Lanjut wanita tua itu dengan mata yang berkaca – kaca.

" Mungkin aku bukan orang yang tepat untuk Baekhyun, tetapi aku akan berusaha menjaganya dengan sebaik - baiknya. Bahkan jika itu harus mengorbankan nyawaku sendiri." Ucap Chanyeol mantap sambil menatap manik mata abu -abu milik wanita tua itu. Telapak tangan lebarnya membalas tangkupan tangan keriput wanita tua di hadapanya.

"Terima Kasih.." ucap wanita tua itu dengan seyum tulusnya.

"Tapi kadang sifat ceroboh dan keras kepalanya sering membuatku pusing dan kelabakan" gerutu Chanyeol berusaha mencairkan suasana.

"ahahaha.. dia memang seperti itu. Dia tidak akan berfikir dua kali untuk menolong, bahkan jika itu mengancam nyawanya sendiri." Ucap wanita itu sambil tertawa lepas mendengar penuturan Chanyeol.

"Iya.. nenek benar" jawab Chanyeol menyetujui pendapat wanita tua itu.

"ohya, dan jika dia sudah merasa nyaman dengan seseorang maka ia akan sangat cerewet kepadanya, kau harus bersabar." Tambah wanita tua itu.

"Ahahaha.. iya iya, dia sangat cerewet. Tapi dia juga sangat lucu." Timpal Chanyeol ketika membayangkan Baekhyun yang sedang marah – marah padanya.

"Chanyeollaa~ bisakah kau ke dapur sebentar?" Terdengar suara Baekhyun berteriak dari arah dapur

"IYAAA AKU KESANA" Jawab Chanyeol setelah mendengar suara Baekhyun. "Nek, aku ke dapur dulu ya?" Chanyeol meminta izin meninggalkan wanita tua itu, dan hanya dibalas dengan anggukan kecil.

"ada apa?" tanya Chanyeol segera setelah dirinya sampai di dapur.

"ini, tolong angkatkan meja ini ke depan." Pinta Baekhyun sambil melepas celemek yang baru saja ia pakai. " Aku akan membawa sisanya." tambah Baekhyun.

Chanyeol dengan sigap mengangkat meja persegi yang dipenuhi dengan makanan yang akan mereka santap sebagai makan malam. Sebenarnya meja itu cukup berat hingga Baekhyun tidak mampu mengangkatnya sendiri, tetapi karena tubuh Chanyeol yang besar meja itu bukan menjadi masalah baginya. Ia berjalan dengan hati – hati menuju ruang tengah di mana nenek Baekhyun berada. Ia letakan meja itu perlahan tepat di tengah - tengah ruangan. Baekhyun yang berjalan di belakang Chanyeol meletakkan beberapa piring yang berisi sayuran segar di atas meja itu.

Ketiganya sekarang sudah duduk dengan nyaman sambil menyantap menu makan malam spesial mereka.

"Waaah.. pasti daging ini sangat mahal. Uang sakumu tidak habis untuk membeli ini nak?" tanya wanita tua itu kepada Chanyeol.

"ahaha.. tidak nek.." jawab Chanyeol sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"tentu saja uang sakunya tidak akan habis, bahkan ia masih bisa membeli satu truk daging yang sama hanya dengan uang sakunya selama satu hari." guman Baekhyun dalam benaknya.

"Ini makanlah yang banyak." Wanita tua itu meletakkan daging yang sudah matang ke atas mangkuk nasi Chanyeol. " kau juga" kini giliran Baekhyun yang mendapatkanya.

"Nenek curang.. Masa kau memberikan daging lebih banyak untuk Chanyeol. Aku kan cucumu nek..." gerutu Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Bukanya menanggapi Baekhyun, wanita tua itu justru tengah menyuapi Chanyeol dengan daging yang dibungkus dengan daun selada. Chanyeol dengan senang hati menerima suapan itu.

"Ahhh anak pintar... makanlah yang banyak." Ucap wanita tua itu setelah suapanya diterima Chanyeol dengan lahap.

"Sejak kapan kalian menjadi sedekat ini?" tanya Baekhyun sinis.

Kedua orang yang sedang Baekhyun bicarakan hanya saling berpandangan sambil menahan tawa. Tidak tega melihat wajah Baekhyun yang cemberut karena merasa diabaikan, Chanyeol membungkuskan sejumlah daging ke dalam daun selada dan mengrahkanya ke depan mulut Baekhyun.

"Aaa! Buka mulutmu" pinta Chanyeol masih dengan mulut yang dipenuhi makanan.

Awalnya Baekhyun hanya diam, tapi akhirnya ia membuka mulutnya dan menerima suapan besar dari Chanyeol. Ia mengunyahnya dengan wajah yang masih tertekuk dan itu justru terlihat sangat lucu. Wanita tua yang melihat interaksi dua orang itu semakin lebar tersenyum, Ia benar – benar merasa bersyukur karena Chanyeol adalah orang yang tepat untuk menjaga cucunya.

Ketiga orang itu bersantap malam diiringi dengan celotehan Baekhyun yang mendominasi. Banyak hal yang mereka bicarakan di atas meja malam itu hingga tanpa terasa semua menu makanan yang disiapkan habis tanpa sisa.


1 a.m.

Chanyeol masih terjaga di atas kasurnya, matanya masih terbuka lebar menatap bulan yang bersinar terang dari kaca jendela kamar yang ia tempati. Tidak ada yang sedang ia pikirkan, seluruh inderanya tengah ia fokuskan pada suara – suara alam yang tidak dapat ia temukan di Seoul. Ia tengah menikmati malam terakhir di desa yang menurutnya memiliki pemandangan yang sangat cantik. Hingga atensinya tiba – tiba teralihkan pada suara lenguhan dari lelaki yang tidur tak jauh darinya. Suara itu terdengar seperti rintihan sekor anak anjing yang terlantar di pinggir jalan. Chanyeol segera bangkit dari tidurnya agar mendapatkan gambaran keadaan Baekhyun dengan lebih jelas. Lelaki itu rupanya tengah meringkuk dengan pundak yang sedikit bergetar. Pikiran Chanyeol langsung kembali pada kejadian kemarin malam, saat Baekhyun berpindah ke kasurnya karena merasa kedinginan. Chanyeol dengan hati – hati menyeret kasurnya dan mensejajarkanya dengan kasur Baekhyun. Ia baringkan tubuh jangkungnya tepat di sebelah tubuh Baekhyun. Perlahan ia membuka selimut Baekhyun untuk menarik tubuh bergetar itu mendekat padanya. Ia selipkan salah satu lenganya di bawah kepala Baekhyun untuk digunakan sebagai bantal. Sedangkan ia menggunakan bantal Baekhyun untuk bantalan kepalanya. Setelah beberapa menit, lenguhan yang sempat terdengar tadi kini menghilang, yang tedengar hanya suara deru nafas teratur dari lelaki mungil yang bergerak nyaman di dalam pelukan Chanyeol. Baekhyun benar – benar terlihat seperti anak anjing yang tertidur dalam dekapan induknya.

"Sepertinya aku tidak bisa tidur malam ini." Gumam Chanyeol merasakan detak jantungnya yang sedang maraton.

"eunnngghh" lenguh Baekhyun karena terganggu dengan suara berat Chanyeol

"sshh..sshh..sshh.." Chanyeol medesis berusaha menenangkan Baekhyun agar tidak terbangun sambil mengelus surai hitamnya lembut. Tanpa ia sadari, rasa hangat dan nyaman yang ia terima mampu menghantarkanya ke alam mimpi.

Tak terasa sinar mentari mulai menelusup masuk melalui jendela kamar rumah Baekhyun. Chanyeol mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan jumlah cahaya yang tiba – tiba mengenai indera penglihatanya itu. Ia bersyukur Ia sempat tertidur tadi malam, walaupun hanya selama dua jam tapi itu cukup untuk memulihkan tenaganya. Ia rasakan lenganya mati rasa karena ditindih oleh kepala Baekhyun semalaman. Perlahan ia tarik lenganya dan menggantikanya dengan bantal. Ia gerakkan tubuhnya ke bawah untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun yang masih terlelap tidur. Pikiranya kembali pada perbicanganya dengan Nenek Baekhyun di ruang tengah semalam. Ia menyadari bahwa Baekhyun adalah seseorang yang sangat berharga bagi orang – orang disekitarnya, termasuk dirinya. Bagaimana tingkahnya yang selalu dapat membuat orang lain tertawa merupakan anugerah yang patut disyukuri. Kau tidak akan pernah tahu sebesar apa beban yang ditanggung olehnya karena sifat cerianya itu. Ia selalu mendahulukan orang lain di atas kepentinganya, dan bagaimana senyum manis itu selalu muncul di wajahnya, bahkan saat ia sedang menahan rasa sakit.

Jemari Chanyeol bergerak dengan sangat hati – hati menyingkirkan helaian hitam yang menutupi kening lelaki mungil yang masih tertidur dengan damai itu.

"Aku berjanji akan menjagamu Byun Baekhyun." Ucap Chanyeol sangat lirih. Detik selanjutnya ia mengangkat kepalanya untuk memberikan kecupan ringan di kening Baekhyun. Entahlah, tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya saat melakukan hal itu.

Manik emerald Chanyeol bergerak halus mengamati wajah damai Baekhyun, netranya bergerak dari kelopak mata Baekhyun yang terpejam, ke hidung, kemudian berhenti di bibir. Ingatanya kembali ke kejadilan tempo hari lagi, mendadak ia ingin merasakan kembali bongkahan kenyal itu di bibirnya. Saat ia mulai bergerak mendekatkan bibirnya ke bibir Baekhyun, kelopak mata Baekhyun perlahan mulai terbuka. Chanyeol kembali meletakan kepalanya di posisi semula.

"Apa aku berpindah tidur lagi?" tanya Baekhyun dengan suara paraunya setelah kesadaranya sudah berhasil diperoleh.

"tidak.." jawab Chanyeol

"Lalu kenapa kau ada di sampingku?" Tanya Baekhyun sambil mengucek matanya lucu

"jangan dikucek." Celetuk Chanyeol sambil menahan tangan Baekhyun agar tidak melanjutkan aksinya.

"Tapi ini gatal yeol" gerutu Baekhyun kembali mengucek matanya. Chanyeol kini hanya membiarkan Baekhyun bertindak sesuka hatinya.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku" tanya Baekhyun lagi sambil menguap sangat lebar.

"Apa?" tanya Chanyeol lagi. Ia tidak fokus dengan pertanyaan Baekhyun karena asyik memandangi tingkah lucu lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya itu.

"Kenapa kau bisa tidur bersamaku?"

"Aaah.. semalam kau merintih dan menggigil karena kedinginan. Jadi aku tidur di sampingmu." Chanyeol menjelaskan alasanya.

"sepertinya aku sudah terbiasa dengan suhu Seoul yang hangat, jadi aku tidak tahan dengan suhu di sini." Jawab Baekhyun mencoba menebak alasan tubuhnya menggigil di malam hari.

"Baek" panggil Chanyeol

"hum?" Baekhyun kembali menatap manik mata Chanyeol

"Kenapa waktu itu kau meciumku?" tanya Chanyeol to the point

"Huh? Kapan?"

"Saat kau mabuk setelah pesta perayaan kemenangan tim basket."

"Ah.. jadi itu bukan mimpi?" celetuk Baekhyun ketika ingatnya kembali memutar kejadian tempo hari "mung-kin itu karena pengaruh alkohol, jadi tingkahku melantur." Jawab Baekhyun sedikit canggung.

"Tapi pasti ada alasan dibalik tindakanmu itu" Chanyeol terus memburu Baekhyun dengan pertanyaan – pertanyaanya.

"aaa.. mung-kin karena nenek sering melakukan hal itu kepadaku, jadi aku tertular kebiasaanya" Baekhyun mencoba mengutarakan alasan yang dapat diterima oleh Chanyeol.

Chanyeol terdiam, Ia sepertinya setuju dengan alasan yang diutaraka oleh lelaki yang kini tengah menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Ayo bangun kita harus bersiap – siap, kita akan pulang ke Seoul pagi ini." Ucap Baekhyun saat bangkit dari posisi tidurnya. Ia meregangkan otot – otot tubuhnya yang terasa kaku.

"Aku akan mandi duluan, kau bereskan kasur – kasur ini ya." Ucap Baekhyun sebelum melenggang keluar dari kamar itu.

Baekhyun berjalan menuju kamar mandi dengan pipi yang memerah, jemarinya bergerak menyentuh bibir tipisnya sendiri.

"jadi waktu itu aku benar-benar menciumnya?" tanya Baekhyun pada dirinya sendiri masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.

"itu ciuman pertamaku dengan orang asing." Gumam Baekhyun sebelum memasuki kamar mandi.


Baekhyun dan Chanyeol sekarang sudah berada di depan rumah. Selain membawa barang – barang pribadi, mereka juga harus membawa dua bungkusan berukuran sedang yang berisi oleh – oleh yang sudah disiapkan oleh nenek Baekhyun.

"ini apa isinya nek?" tanya Baekhyun penasaran

"nanti kau akan tahu jika sudah membukanya di Seoul. Jangan lupa salah satunya milik Chanyeol." Ucap wanita tua itu,

"iya neeek.." ucap Baekhyun memberi penekanan pada jawabanya." jangan – jangan sekarang posisiku sebagai cucu nenek sudah tergantikan oleh Chanyeol? " Baekhyun menggerutu lucu.

"ahahaha.. tentu saja tidak sayang.." ucap wanita tua itu sambil mengelus kepala Baekhyun sayang. Baekhyun hanya tersenyum manis menerima perlakuan itu.

"Jaga kesehatanmu, jangan ceroboh. Mintalah bantuan Chanyeol jika kau ada masalah. Mengerti?" Pinta wanita tua itu kepada cucu kesayanganya.

"Aku bukan anak kecil lagi nek.." jawab Baekhyun dengan senyum manisnya

"Tapi kau masih seorang anak yang manis bagi nenek sayang." Ucap wanita tua itu kemudian memberikan kecupan di bibir dan kening Baekhyun, sama seperti saat mereka berjumpa tiga hari yang lalu. Tetapi kecupan kali ini terasa lebih dalam dari biasanya, seperti sebuah kecupan perpisahan.

"Kemarilah Nak" panggil wanita tua itu pada Chanyeol yang sedari tadi mengamati interaksi antara nenek dan cucu itu. Chanyeol melangkah mendekati wanita tua itu dan memeluk tubuh rentanya dengan penuh kehati – hatian.

"Nenek titipkan Baekhyun padamu" bisik wanita tua itu di depan telinga Chanyeol saat keduanya sedang berpelukan. Chanyeol hanya merespon dengan menganggukan kepalanya.

Ketika pelukan itu terlepas, Chanyeol dapat melihat manik mata wanita tua itu berkaca – kaca.

"Sudah, berangkatlah.. nanti kalian bisa tertinggal kereta." Ucap wanita tua itu berusaha mengganti suasana haru yang sempat terbentuk.

"Selamat tinggal Nek! Aku akan berkunjung lagi saat liburan musim dingin!" teriak Baekhyun sambil berjalan keluar dari halaman rumah neneknya. Ia melambai dengan penuh semangat.

Saat kedua lelaki berbeda tinggi itu hilang dari pandangan, wanita tua itu mendudukan tubuhnya di teras rumahnya.

"Saat itu mungkin nenek sudah tidak bisa melihatmu lagi nak.." gumam wanita tua itu yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri

" Semoga Tuhan selalu memberkatimu" genangan air mata yang sedari tadi sudah memenuhi pelupuk matanya itu, kini terjatuh tanpa hambatan.


7 hari setelah kembalinya Baekhyun ke Seoul

"halo bibi? Maaf, tadi aku masih ada di dalam kelas jadi tidak bisa mengangkat panggilan darimu." Ucap seorang laki – laki yang baru saja keluar dari ruang kelasnya. Ia sedang berjalan menuju ke ruang kelas selanjutnya.

"Tidak papa Baek, bibi hanya ingin mengabarkan padamu kalau nenek sudah meninggal dunia."

Langkah Baekhyun tiba – tiba terhenti setelah mendengar ucapan seorang wanita di ujung sambungan teleponya.

"Apa maksud bibi? Nenek siapa?" tanyanya dengan suara yang terdengar bergetar.

"Nenekmu Baekhyun, tadi pagi orang - orang menemukanya tergeletak di dapur." Wanita itu menjelaskan kronologi kejadianya.

Handphon yang semula berada di dalam genggaman itu, sekarang sudah terjatuh terpental di lantai bersamaan dengan butiran bening yang diketahui sebagai air mata.

.

.

-TBC-


Next chanpter preview

"Demi Tuhan, tolong bertahanlah Baekhyun." Rintih Chanyeol dengan suara bergetar sambil merengkuh tubuh polos Baekhyun yang semakin mendingin.


Kira – kira apa yang terjadi dengan Baekhyun?😱

Jangan lupa nantikan kelanjutan kisahnya di chapter berikutnya ~

Ohya, jangan lupa tinggalkan review kalian ya..😍

Pay..pay.. ily🙆