LuMin/XiuHan

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang(Flashback) mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Khusus untuk Zitao, ceritannya dia ngomong pake bahasa Mandarin. Ceritanya dia gak(Belum) bisa bahasa Korea. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma di setiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.

Bocah gembul berambut coklat berusia sepuluh tahun sedang duduk sambil memakan ice cream bersama ayahnya di bangku taman sepulang sekolah. Jika biasanya Minseok nama anak itu, selalu berceloteh tentang harinya di sekolah pada sang ayah, maka lain dengan hari ini, sudah dua hari Minseok takut berbicara pada ayahnya, bahkan sekarang ia duduk agak jauh dari posisi sang ayah meski berulang kali ayahnya mencoba mendekat namun Minseok menggeser menjauh. Kenapa? Karena Minseok mendengar Youngwoon membentak Jungsoo beberapa hari lalu.

Ketika itu keduanya sedang dalam emosi yang tinggi mendebatkan tentang keinginan anak mereka. Minseok, ia di datangi oleh seorang staff agency salah satu perusahaan hiburan yang saat ini namanya tengah berkembang. Jungsoo bercerita kalau Minseok terlihat senang saat staff tersebut memuji Minseok dan menawarkan untuk dijadikan seorang peserta trainee. Jungsoo tentu saja senang, mengingat dia begitu mendukung anaknya untuk menjadi bintang, bukannya Youngwoon tidak mendukung, namun semenjak kepergian sepupunya – Kim Sooyeon ia menjadi memiliki ketakutan terhadap dunia yang serupa.

Selain itu, Jungsoo dulu juga seorang peserta trainee yang gagal. Bukan, bukan ia takut kalau Minseoknya akan gagal namun ini adalah ketakutan seorang ayah, meski nasib seseorang berbeda-beda, namun sejak ia melihat jasad Sooyeon ketika keponakannya itu di bawa pulang ia menjadi trauma, tidak lagi mau berhubungan dengan dunia hiburan atau sejenisnya. Meski dengan tegas Jungsoo mengatakan kalau "Ada Jaehyo yang menjaganya." Kata isterinya waktu itu, dan justru karena Jaehyo lah ia menjadi takut.

Jaehyo adalah kekasih Sooyeon, bahkan menjaga kekasihnya sendiri ia tidak bisa apalagi menjaga anaknya, bukannya tidak percaya, tapi ini adalah ketakutan seorang ayah terhadap puteri kecilnya, itu saja. Belum lagi Minseok masih terlalu kecil, mereka di Guri dan entertainment agency ada di Seoul, jika harus ikut pindah ke Seoul tidak mungkin juga, usahanya di bangun di Guri dan sekarang sedang berkembang pesat, bukannya tidak mau mengalah pada sang anak namun, jika ia menghempaskan usaha yang jelas sudah berkembang untuk menjamin kehidupan, kenapa mereka harus pindah untuk sesuatu yang belum tentu. Debut Minseok juga sesuatu yang tidak dapat di pastikan kan?.

Youngwoon dilanda galau, pasalnya bukan hanya si gembulnya yang mendiamkannya tapi juga isterinya. Rumah yang biasanya ramai bahkan rusuh kini berubah seperti di kutub, dingin. Tapi dia tidak tahu apa yang harus di putuskannya, mengizinkan kah atau kukuh melarang. Dan juga, kenapa isterinya begitu mendukung bukankah dia juga melihat bagaimana mengenaskannya kematian Sooyeon. "Takdir seseorang itu berbeda-beda, jangan samakan Sooyeon dan Minseok mereka berbeda."

Memang, ia membenarkan perkataan isterinya namun, ia takut. Anak mereka hanya Minseok, dan ia tidak berniat menambah anak lagi karena dokter mengatakan kandungan Jungsoo lemah, pasalnya hamil anak pertama mereka dia sudah berusia tiga puluh tahunan dan itu menambah satu ketakutan tersendiri.

"Ketakutanmu tidak berdasar, kau berbicara seakan-akan Minseok akan pergi dan mengalami nasib yang sama seperti Sooyeon."

"Menurutmu demikian, ini yang dirasakan Jongwoon hyung ketika Qian mendukung Sooyeon, lalu apa yang terjadi?"

Keduanya terdiam, Jungsoo seperti di tampar dan Youngwon merasa bersalah telah membentak isterinya. "Ada Hyo yang menjaganya."

"Aku takut, Sooyeon Sooyeon Sooyeon."

Youngwon menghela nafas, menggeser lagi duduknya untuk mendekati sang anak, untungnya Minseok sudah berada di pojok tangan-tangan bangku sehingga tidak bisa lagi menjauh. "Minnie-ah." Panggilnya lirih, mengetuk-ngetuk pelan punggung tangannya dengan ibu jari, tapi malah di tarik. Setengah hatinya sakit melihat Minseok terus menolaknya dan setengah lagi sakit karena Jungsoo melakukan hal yang sama. Dia menghela nafas lagi, turun dari kursi dan berjongkok di hadapan sang anak.

"Kenapa kau tidak menjawab appa?" gerakan menjilati ice cream-nya berhenti lalu menunduk, pasti anak itu akan menangis. Dan benar saja, mulai terdengar isakan. "Kenapa menangis hmm, katakan pada appa, apakah di sekolah ada yang nakal?" meski ia tahu siapa yang membuatnya menangis tapi Youngwoon hanya berbasa-basi, ingin berbicara banyak masalahnya.

Benarkan, ini pasti gara-gara dirinya, Minseok menggeleng, masih menyembunyikan wajahnya dan masih mengisak. "Kalau tidak ada yang nakal, kenapa menangis? Ingin sesuatu?"

"Appa?"

"Mwo?"

"Appa yang nakal, appa membentak eomma. Minnie takut."

Oh, setelah di remas kemudian kini di bakar adalah penggambaran hati Youngwoon. Anaknya takut? Anaknya menangis dan itu karena takut padanya. "Ani, appa tidak bermaksud membentak eomma, sungguh."

"Tapi eomma menangis, kalau Minnie yang nakal kenapa appa memarahi eomma."

"Appa tidak memarahi eomma sayang. Sungguh, dengarkan. Appa hanya takut." Meraih tubuh gembul anaknya kemudian di pangku, Minseok ini sangat suka di pangku dan di peluk. Menimang sebentar lalu kembali berkata. "Appa hanya takut kalau terjadi sesuatu dengan Minnie dan eomma- menggantung kalimatnya, Youngwoon tidak bisa melanjutkan merasa kalaupun ia berkata Minseok tidak akan paham dia masih kecil belum mengerti ketakutannya dan akibatnya. "Intinya, appa tidak bermaksud membentak eomma, appa tidak mungkin melakukannya sayang. Appa mohon jangan diamkan appa lagi, ne. Katakan apa yang harus appa lakukan agar kau tidak takut dan marah lagi?"

"Molla, rasanya ingin marah terus sama appa, mendadak tidak suka appa."

Ya tuhan, pantas saja banyak orang suka berbohong, karena kejujuran sangat menyakitkan. "Wae? Karena appa tidak mengizinkanmu menjadi trainee?" mengangguk, Youngwoon menghela nafas lagi, "Mau memaafkan appa kalau appa izinkan kau pergi?"

Inheritors

Damchoo

LuMin/XiuHan GS

Izin dari kepala keluarga akhirnya turun, meski dengan berat hati tapi Youngwoon mencoba membuang semua pikiran buruknya, hari ini ia datang ke Seoul dan sedang duduk di ruang CEO berhadapan dengan Jaehyo, ia masih marah tentang keponakannya, kekasih lelaki itu mati dengan mengenaskan namun perusahaan seakan angkat tangan. Meskipun Jaehyo tidak angkat tangan, pertanggung jawaban lelaki itu patut di hadiahi jempol tapi tetap saja, pada akhirnya kasus Sooyeon tertutupi bahkan terlupakan begitu saja.

"Aku titip anakku." Itu kata Youngwoon, singkat, padat, jelas dan, tegas. "Ne ahjussi."

"Dengar Jaehyo, aku masih belum bisa memaafkanmu atas kasus Sooyeon namun saat ini hanya kau yang aku kenali di dunia yang begitu anakku inginkan jadi, jika sesuatu terjadi pada puteriku kau adalah orang pertama yang akan aku musnahkan." Youngwoon bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Buk. Minseok jatuh karena menabrak seseorang, seorang gadis bertubuh ramping dan berambut panjang, ada sebuah tulisan tanda nama yang menempel di perutnya, Im Yoon-ah. "Maaf aku tidak hati-hati aku teburu-

"Kim Minseok?" belum selesai Minseok berkata anak bernama Im Yoon-ah itu sudah menyela, sambil menyebut namanya pula. "Ne"

"Ah jadi benar kau yang namanya Minseok, aku dengar ada trainee baru yang masuk dan rupanya kau?"

"Ne Kim Minseok imnida."

"Mari aku antar ke kamarmu, ngomong-ngomong kita roommate lho, namaku Im Yoon-ah tapi panggil saja Yoona eonni aku lebih tua darimu kau baru sepuluh tahun kan."

"Ne." teman pertama Minseok dia perusahaan, seorang gadis cantik bernama Yoona yang sudah menjadi peserta trainee selama dua tahun. Minseok bercerita pada kedua orang tuanya saat mereka menghubungi, meski di tempat yang berbeda namun Minseok rutin berkomunikasi dengan ayah dan ibunya, selepas latihan dan sebelum tidur.

"Apa dia anak yang baik?" tanya sang ayah tiba-tiba.

"Kau mulai lagi. Tentu saja dia anak yang baik buktinya tidak marah meski saat itu Minseok menabraknya." Dan pertengkaran itu sering terjadi saat berkomunikasi, menurut ibunya, ayahnya itu terlalu paranoid dan berlebihan. "Aku kan hanya bertanya karena-

"Apa? Perasaanmu mengatakan kalau ada sesuatu? Ayolah dia hanya gadis lima belas tahun."

"Baiklah okay aku percaya padamu."

"Appa, eonni memang baik kok, dia banyak mengajariku dan mengenalkanku pada teman-temannya. Mereka semua baik."

"Ya, sayang semua orang di dunia ini baik." balas Youngwoon sebenarnya adalah sindiran untuk sang isteri yang selalu menganggap semua orang baik, orang yang selalu tersenym adalah orang baik, orang yang bertanya adalah orang baik bahkan tokoh antagonis yang sedang menyeringaipun katanya sudah berubah menjadi tokoh protagonis, astaga.

"Ah appa, eomma sudah dulu ya, sebentar lagi istirahatnya habis. Nanti malam kita bicara lagi." Sambungan terputus, sedikit terburu Minseok menghabiskan makanannya. Teman-temannya sudah kembali lebih dulu karena mereka latihan di bagian yang berbeda, mungkin karena senior, teman Minseok kebanyakan senior karena ia berteman dengan Yoona.

Setelah selesai, ia berlari kecil menuju tempat latihannya dan buk. Lagi dia menabrak seseorang. Kali ini, wah. Minseok terpana, seorang lelaki tampan dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya dengan pas.

Apakah malaikat ada yang berjas? Tanya Minseok dalam hati, terbengong sejenak sebelum, dia berdeham. "Gwaenchana baozi?"

Eh. Minseok tersadar saat lelaki itu memanggilnya dengan sebutan baozi. Minseok tidak gendut hanya berisi, ngomong-ngomong baozi kan sama dengan bakpao makanan putih yang berbentuk bulat, hey dia tidak gendut, bibirnya mencabik dan si lelaki malah tertawa, mencubit pelan pipinya. "Kau tersinggung ya? Aigoo. Mian."

"Ahjussi aku tidak gendut, aku hanya berisi." Lagi dia tertawa, mungkin dalam pikiran lelaki itu-anak-ini-tidak-sadar-rupanya. "Baiklah kau tidak gendut, ngomong-nomong kau anak baru ya?"

"Ne Kim Minseok imnida." Wajah kesalnya berubah sumringah saat di tanya kalau dia anak baru, entahlah Minseok merasa kalau setiap ditanya demikian hatinya begitu berbunga dan senang. "Oh pantas, aku baru melihatmu."

"Memangnya ahjussi siapa?"

"Na? Hey, kau tidak tahu aku?"

Menggeleng, Minseok memang tidak tahu, apakah orang di hadapannya ini adalah orang yang terkenal? Atau salah satu artis? Bukan ah, Minseok sudah melihat semua foto artis di K. R dan tidak ada tuh orang ini.

"Aku ini teman bosmu, CEO Ahn"

"Ha? Jinja? Tapi kau tidak terlihat tua, kalau CEO kan biasanya memiliki rambut putih apa kau mengecet rambutmu?" Lagi si lelaki tertawa, polos sekali anak ini. Berapa sih usianya. 7? 8? 9? Atau berapa? Wajahnya seperti bayi dan sangat imut, lupakan tubuhnya yang berisi. "Tidak semuanya sayang." Semburat merah muncul di pipi gembul itu. "Kami adalah orang hebat yang sukses di usia muda, jangan jatuh cinta kalau kau melihat bosmu nanti ya."

"Appa ku mengenal CEO Ahn, dan aku disuruh memanggilnya ahjussi masa aku suka ahjussiku kan tidak lucu."

"Begitukah? Pernah bertemu dengannya?"

"Tidak, katanya CEO jarang terlihat karena sibuk di kantor, dan aku juga masih baru."

"Begitu ya, hmm. Sebaru apa sih?"

"Seminggu, geunde, ahjussi semuda apa sih?"

"Namaku Luhan, dan aku baru duapuluh enam tahun."

Mulut Minseok terbuka dengan jari mengacung enam, baru akan mengatakan sesuatu seseorang sudah memanggil. "Minseok" dilihat guru Lee sedang berdiri berkacak pinggang di depan dance room. "Ahjussi aku pergi dulu ne, aku sudah di panggil." Pamitnya, tanpa menunggu jawaban dari Luhan, ia sudah berlari.

Memandangi bocoh gembul ceria tersebut beberapa saat kemudian Luhan di kagetkan dengan tepukan ringan di pundaknya. "Melihat apa?" tanya suara tersebut. Ketika Menoleh mendapati Jaehyo. "Aku hanya bertemu dengan anak yang lucu." Katanya.

"Siapa?"

"Minseok."

Hari berikutnya, berikutnya dan seterusnya ketika berkunjung ke K. R Luhan pasti selalu bertemu dengan Minseok, bocah gembul yang di berinya julukan baozi, saat awal melihatnya Luhan tidaklah berfikiran kalau dia gendut atau semacamnya, itu karena pipinya, Luhan melihat pipi yang begitu bulat, putih dan bersih mengingatkannya pada makanan baozi yang sering neneknya buatkan untuknya ketika masih kecil dulu.

Anggaplah mereka berteman, pertemanan yang aneh memang, namun entah mengapa Luhan merasa nyaman berada di dekat Minseok, seakan bertemu teman lama yang bebas bercerita dan saling menggoda satu sama lain, seperti sekarang mereka sedang duduk di kafetaria perusahaan, sambil melahab makan siang.

"Kau ini suka atau kelaparan Minseok? Makanmu brantakan sekali." Ucap Luhan sambil membersihkan remahan makanan di sekitaran mulut Minseok, dan tentu saja langsung mendapatkan satu tepukan di punggung tangan. "Aku bisa sendiri ahjussi, jangan genit ya." Ucapnya seraya mengambil tisu yang tadi di tangan Luhan.

"Astaga bocah, ini bukan genit lagipula akukan sudah punya isteri." Kata Luhan, lalu melipat tangannya di dada, seakan sedang marah dituduh yang tidak-tidak namun bukannya takut Minseok malah tertawa, mengibaskan tangannya sedikit terkekah. Mengikuti apa yang Luhan lakukan kemudian sedikit memajukan tubuhnya "Yah, siapa tahu ahjussi mau menjadikanku isteri kedua, maaf aku tidak tertarik denganmu." Gayanya itu lho, seperti seorang aktris papan atas yang sedang bermain peran.

"Aduh, aku benar-benar patah hati. Padahal aku sudah sangat jatuh cinta padamu." Membalas akting Minseok, Luhan bergaya dengan tangan meremat dada sebelah kiri, seakan benar-benar terluka ditambah wajahnya di buat memelas.

"Wah maaf tuan, aku sudah punya tambatan hati sendiri." Jadi drama mereka masih berlanjut, sambil menodongkan sendok, Luhan berkata. "Siapa itu? Katakan padaku siapa yang telah mencuri hati tuan puteriku?"

"Dia pria tampan yang sangat tinggi."

"Nugu? Ah, Jaehyo? Jadi kau sudah bertemu dan jatuh cinta pada boss mu ya?" bingkai kaca dan suara imajinasi yang menegangnkan berubah menjadi bunyi pecahan kaca. Luhan kembali duduk dengan benar di posisinya.

"Ani, Kris oppa."

"Kris?" Apa Luhan kenal dengan seseorang bernama Kris? Sepertinya tidak, atau dia orang terkenal? Dari caranya Minseok menyebutkan nama itu sepertinya orang bernama Kris itu adalah orang terkenal yang semua orang harus tahu.

"Ahjussi tidak tahu? Payah." Wah bocah ini sepertinya mengejek sekali. "Ya, aku ini orang sibuk jadi mana kutahu hidup anak-anak sepertimu.

"Ani, dia seumuran dengan ahjussi kok, tapi lebih tampan, beberapa hari lalu dia datang kemari, dan saat melihatnya aku langsung jatuh cinta."

"Mwo? Dia seumuran denganku? Lalu kau memanggilnya oppa dan memanggilku ahjussi? Keterlaluan." Kata Luhan tersinggung, tapi sekali lagi bukannya takut Minseok malah tertawa, dan Luhan ikut tersenyum, sungguh tawa yang menular. "Kris oppa kan belum menikah dan ahjussi sudah, bagaimana nanti kalau punya anak masa mau di panggil oppa kan tidak lucu."

"Yah terserahmu sajalah." Luhan mengalah, rupanya berdebat dengan bocah lebih sulit daripada meributkan tender bisnis.

"Ahjussi aku sudah selesai, aku kembali dulu ya. Sebentar lagi waktu istirahatku selesai." Kata Minseok sambil beranjak meninggalkan Luhan. Dan tepat di saat itu pula ponselnya berbunyi, nama Baekhyun tertera di layar, Baekhyun adalah isteri Luhan yang dinikahinya satu tahun lalu.

"Yeoboseyo."

Saat hendak kembali ke ruang latihan, tidak sengaja mata kucing Minseok menemukan sosok Yoona sedang berbicara dengan seseorang di lorong, sosok itu terlihat seperti seorang staff karena pakaiannya, juga memiliki id card yang menggantung di leher. Ingin mendekat tapi sepertinya pembcaraan itu terlihat begitu serius, jadi Minseok lebih memilih untuk langsung masuk ke ruang latihan, karena terlihat beberapa trainee yang masih beru seperti dirinya sudah berkumpul, tinggal menunggu saemninnya saja.

Setelah duduk dan bergabung dengan teman-temannya Minseok sesekali menoleh kearah pintu, ia penasaran pada orang yang berbicara dengan Yoona tapi juga merasa kalau ia tidak perlu ikut campur dalam urusan orang lain, perhatiannya terpecah saat seorang teman menepuk pahanya, Minseok menoleh dan mendapati seorang gadis berambut coklat seperti dirinya sedang memandangnya.

"Kau Kim Minseok kan?" ia bertanya. "Ne" sahut Minseok di sertai senyuman. "Jadi aku benar."

"Ye? Apa maksunya?"

"Aku tidak sengaja melihatmu makan siang tadi, kau bersama tuan Lu?"

"Tuan Lu? ah, Luhan ahjussi."

"Dia ahjussi mu?"

"Bukan, anggap saja dia teman."

"Kau ini hebat sekali ya, baru beberapa hari masuk sudah menyedot perhatian kau tahu para trainee senior banyak yang membicarakanmu. Katanya kau sangat beruntung, selain bakatmu yang sudah mumpuni kau juga dekat dengan temannya CEO, dan kudengar juga ayahmu itu berteman dengan CEO ya?"

Sebenarnya Minseok cukup tersanjung dengan pujian yang mengatakan kalau dia memiliki bakat yang mumpuni namun kenapa dari nada yang terdengar seperti sedang memojokannya. Sudah ingin menjawab, guru Lee sudah masuk dan meminta mereka semua lebih merapat. Mau tidak mau Minseok mengurungkan diri untuk membalas perkataan yang entah kenapa menyakiti hatinya.

Yang mengatakan seakan kalau Minseok bisa masuk menjadi salah satu dari mereka bukan murni dari kemampuannya namun karena orang dalam, dalam hati ia menjerit memanggil sang ayah. Dulu kalau ada yang membuat Minseok bersedih pasti ayahnya akan marah tapi sekarang mereka jauh, dan Minseok tidak mungkin mengatakan kalau ada seseorang yang menyakit hatinya, nanti kalau disini tidak punya teman bagaimana. Ah Minseok sedih sekarang.

Pulang setelah latihan Minseok di sambut Yoona yang sudah pulang lebih dahulu, si gembul yang ceria kini terlihat murung dan rupanya pemandangan itu tak luput dari mata Yoona, di dekatinya Minseok yang yang kini duduk di tepi ranjang lalu di rangkul. "Minseokkie wae geure?" tanya Yoona, dibalas dengan gelengan, Minseok terlihat gundah, ingin bercerita dengan orang tuanya tapi tidak mau juga, ia sudah bertekad ingin mandiri, tapi kenapa perkataan anak itu terus mengiang di telinganya.

"Jangan bohong, kau ada masalah ya? Dengan teman trainee? Jja, ceritakan pada eonni apa ini berhubungan dengan tuan Lu?"

Mendengar pertanyaan Yoona, sontak Minseok menoleh, pertanyaan itu rasanya membenarkan perkataan temannya tadi. "Jadi benar?"

"Apa eonni menganggapku seperti itu juga?" Yoona menghela nafas lalu meraih tangan gendut berjari kecil itu. "Ani. Tapi kalau boleh eonni sarankan, abaikan saja. Kau tahu kan kalau kita semua sedang berjuang menggapai mimpi, kalau salah satu dari kita ada yang menarik perhatian pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Terlebih kau, selain kemampuanmu yang mumpuni kau juga sangat mudah bergaul, kau memiliki semua yang di butuhkan seorang bintang sementara yang lain membutuhkan pelatihan untuk itu."

"Jadi itu karena mereka iri?"

"Anggap saja begitu, sudah jangan di pikirkan. Nanti kau jadi kurus bagaimana."

"Tidak apa, supaya cantik seperti eonni."

"Jangan seperti aku, kau belum tahu bagaimana diriku, jadilah dirimu sendiri. Arraseo."

Luhan menemukan dirinya kembali ke perusahaan tempat Jaehyo bekerja. Aneh sekali rasanya sampai kedatangannya ini menimbulkan kernyitan dari sang sahabat, entah kenapa, ada sesuatu yang membuat Luhan begitu penasaran.

"Kau datang lagi? Astaga, orang kaya ini sepertinya sudah tidak butuh uang sehingga tidak bekerja. Bung, aku ini sibuk dan masih butuh uang." Kata Jaehyo seraya duduk setelah menggantung jas kerjanya di gantungan yang di sediakan. "Kerja saja, aku tidak akan mengganggumu." Balas Luhan enteng.

"Bagaimana bisa, kau ada di sini, sekarang apa lagi?" sepertinya Jaehyo sudah terlalu mengenal Luhan sehingga tahu kalau temannya ini pasti ingin menanyakan sesuatu, kemarin tentang Minseok, Luhan memujinya kalau si gembul itu sangat menyenangkan dan sangat cocok untuk acara variety.

Namun Jaehyo memiliki rencana lain untuk masa depan Minseok, dengan memasukannya menjadi member girl group. Meski sebenarnya anak itu cocok untuk semua bidang tapi tetap saja, niat Minseok dan keinginannya adalah bisa bernyanyi dan menari maka tentu saja girl group adalah yang paling tepat. Lalu sekarang apa lagi? Apa dia akan menginvestasikan uangnya untuk debut si gembul, rasanya aneh sekali jika iya.

"Kris."

"Hah?"

"Kau mengenal seseorang bernama Kris?" tanya Luhan.

"Kris Wu?"

"Mana ku tahu, kau kenal tidak?"

"Kalau Kris Wu, iya aku tahu. Dia aktor China sekaligus model dan penyanyi."

Luhan hanya menanggapinya dengan mulut membentuk huruf o. "Ada apa dia datang kemari? Kudengar dia datang kemari kemarin? Berniat bergabung dinganmu?"

"Tidak- ada jeda dalam perkataan Jaehyo yang membuat Luhan mengernyitkan keningnya. "Dia datang mengantarkan file Sooyeon." Wajah cerianya berubah murung dan Luhan tidak mengerti dengan perubahan wajah itu, ada apa? Tapi satu hal yang ia tahu, Sooyeon adalah trainee yang tahun depan akan memulai debutnya, gadis berbakat yang di gadang-gadang akan menggebrak blantika hiburan Korea, namun naas ia menemui ajalnya sebelum menuai kesuksesan dan dengan cara yang mengerikan sekaligus menjijikan. Pemerkosaan.

"Sooyeon? Kim Sooyeon?"

"Bukan, Jung Sooyeon. Di tempat dimana di temukannya Kim Sooyeon seseorang bernama sama juga di kabarkan menghilang. Dan Jung Sooyeon itu adalah kekasih Kris Wu."

"Kekasih? Lalu kenapa dia memberikan file itu padamu?"

"Karena aku masih mengusut kematian Kim Sooyeon meski kasus itu telah di tutup, aku merasa kasus itu terlalu janggal dan Kris, dia meminta tolong padaku untuk menemukan kekasihnya karena tepat di kejadian itu Kris di TKP bermaksud menjemput kekasihnya dan dia melihat- (menggantung kalimatnya lagi, Jaehyo melirik Luhan lalu berdeham sekali) "Melihat seseorang yang seharusnya tidak ada."

"Maksudmu?"

"Oknum lain, maksudku seperti kejadian ini sudah direncanakan, kurang lebih begitu. Ngomong-ngomong untuk apa kau bertanya tentang Kris?"

"Tidak ada yang sepesial. Dan kau tidak perlu tahu."

"Sebenarnya aku juga tidak ingin tahu."

Tidak terasa empat tahun telah berlalu, Minseok sudah empat belas tahun, Yeee. Tidak ada yang berubah tapi Minseok merasa tubuhnya semakin ringan dan teman-temannya juga mengatakan kalau ia sedikit kurus, sejujurnya ia sangat ingin melakukan program penurunan berat badan namun pelatihnya mengatakan tidak boleh, entah alasannya apa karena setiap kali di tanya jawabannya pasti. Pesonamu akan hilang jika berat badanmu berkurang, pesona apanya sih, dari semua trainee perempuan Minseok yang memiliki ukuran tubuh paling menonjol tapi anehnya, mereka malah mengatakan iri, ingin seperti dirinya tapi takut karena mereka di minta menjaga tubuh mereka tetap ideal, contohnya seperti Yoona, gadis yang sekarang berusia sembilan belas tahun itu sangat sedikit porsi makannya dan terkadang malah hanya makan apel.

Mengerikan sekali, kalau orang tuanya tahu pasti Minseok akan kembali di tarik pulang seperti saat Minseok ketahuan kalau dia melakukan diet tanpa persetujuan dari pelatih, Minseok jatuh sakit karena mengikuti diet Yoona, makan apel setiap lapar dan berlatih dengan keras, sehingga ia harus menginap selama satu minggu di rumah sakit dan ayahnya menggebu-gebu untuk membawanya kembali pulang. Tapi setelah mendapat penjelasan dan janji dari Minseok akhirnya sang ayah memberikan izin untuk melanjutkan, dan dari kejadian itu Minseok juga mendapat kalimat-kalimat manis dari teman-temannya.

"Dia kan anak orang kaya, pantas saja masuk dengan mudah, ayahnya mungkin salah satu pemegang saham. Aku lihat saat dia sakit ayahnya memasuki ruang CEO."

"Pantas saja dia menjadi anak emas dan tidak di minta diet seperti yang lain, Yoona eonni contohnya, tubuhnya sudah bagus tapi masih saja disuruh diet."

"Jangan-jangan dia di sini hanya untuk bermain, aku rasa kemampuannya sudah mumpuni tapi kenapa belum juga debut? Mau pamer? Kami sudah tahu."

"Manis sih, tapi kok bermuka dua."

Dan masih banyak lagi, empat tahun yang lalu mungkin Minseok merasa kalau kalimat itu begitu kejam, tapi sekarang, Minseok menganggapnya sebagai angin lalu. Toh pada kenyataannya ia masuk agency setelah seseorang staff menemukannya di festival dan disana dia memenangkan perlombaan menyanyi meski hanya juara dua. Memang terkadang karena orang tuanya yang katanya mengenal CEO itu memperkuat kalau Minseok terlalu di anak emaskan dan sewaktu-waktu Minseok bisa di tarik kembali oleh ayahnya. Tapi banyak dari kata-kata mereka yang tidak benar, jadilah Minseok tidak memikirkan. Dan sejak sakitnya dia, Minseok melarang ayahnya untuk seenaknya akan membawa pulang jika dia sakit lagi.

Sakit adalah hal biasa apalagi karena lelah, mereka memang di tuntut untuk berlatih setiap hari belum lagi sekolah, Minseok membagi waktunya juga karena dia sekolah jadi wajar kalau sakit, lagi pula ia sakit juga hanya beberapa kali karena Minseok memiliki kekebalan tubuh yang baik.

"Minseok." Di dengarnya seseorang memanggil, Zico dia seorang rapper yang handal, dalam pembentukan boy group yang telah direncanakan Zico di gadang-gadang akan menjadi main rappernya. Minseok akui kalau Zico sangat hebat dalam bidang itu, mereka mengenal karena pernah belajar bersama, dia sangat ramah, pandangan Minseok pada Woo Zico. "Ne, oppa." Sahutnya setelah Zico berada di hadapannya.

"Sudah dengar belum?"

"Mwo? Dengar apa?"

"Girl group yang akan debut tahun ini, kudengar satu group akan berisi sembilan orang. Tapi sudah di pilih 12 kandidat dan akan diadakan seleksi."

Minseok rasa baru mendengarnya dari Zico. "Aku baru mendengarnya darimu."

"Jadi kau belum dengar ya, kudengar juga sih namamu juga ada, aku yakin kau salah satu dari sembilan orang yang akan debut." Selain ramah, Zico juga tidak pernah berfikiran buruk pada Minseok, maksudnya ia selalu menganggap Minseok memang berbakat dan menganggapnya seperti adik, bukan seperti yang lain yang menganggapnya bisa karena bantuan orang dalam.

"Memangnya oppa dengar dari siapa?"

"Astaga gembul, kau ini kudet atau bagaimana, berita itu sudah menyebar di seantero perusahaan, banyak dari trainee laki-laki memprediksikan mu yang akan masuk. Mereka ribut kenapa girl group dulu yang akan debut padahal kami dari Boys K. R sudah lebih dulu tampil di laray kaca."

Memang sih Boys K. R adalah trainee laki-laki yang sudah beberapa kali tampil di acara tivi buatan perusahaan dan mereka cukup menarik perhatian, contohnya Zico yang beberapa kali bahkan mengisi rap untuk musik para sunbae. "Sepertinya sebentar lagi aku harus memanggilmu sunbae, Minseok sunbae haha, lucu tidak."

"Oppa tidak sakit hati?"

"Sakit sih, tapi aku kan sudah popular lebih dulu darimu. Haha." Pelan, Minseok memukul lengan Zico yang sedang tertawa. Zico ini sangat ceria dan selalu memandang sesuatu hal dari sisi positifnya. "Ngomong-ngomong oppa, apa Yoona eonni juga masuk daftar kandidat?" tanyannya tiba-tiba, dari semua trainee dan temannya di perusahaan Minseok sangat menyukai Yoona dan sangat ingin debut bersama. Selain karena Yoona yang sangat baik padanya, juga karena Yoona sudah berlatih cukup lama, ketika ia masuk saja Yoona sudah di trainee selama dua tahun, kalau di tambah sampai sekarang sudah enam tahun kan, itu lebih dari cukup.

Tapi, melihat dari Zico yang tiba-tiba diam, menghentikan tawanya, sepertinya ini sesuatu yang tidak ingin di dengar Minseok. "Itu. Eum, aku tidak tahu. Ah aku ada latihan, minggu depan kan perilisan album baru sunbae aku harus kesana karena mengisi part musik mereka." Itu terburu-buru sekali, pikir Minseok. Padahal tadi sedang mengobrol asik tapi kenapa mendadak ingin cepat pergi.

"Annyeong Minseok, semoga kau lolos seleksi dan debut ne" ujar Zico sebelum berbelok. Minseok hanya menanggapinya dengan anggukan, setelah itu pikirannya tertuju pada Yoona, dan juga seleksi itu, cepat ia ingin mencari tahu, tapi ketika akan memasuki ruangan yang biasanya memberikan segala informasi yang dibutuhkan tidak sengaja Minseok melihat seseorang yang tidak asing. Byun Baekhyun.

"Itu kan isterinya Lu ahjussi." Ucapnya, ingin menyapa tapi tidak saling mengenal, kan canggung juga, masa mau mengatakan aku adalah temannya Lu ahjussi, annyeongahjummakan tidak mungkin. Maka dari itu, Minseok hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.

Byun Baekhyun memasuki ruangan yang disediakan untuk tamu, beberapa saat setelah itu, orang yang sangat di kenali Minseok masuk, Im Yoon-ah. Matanya mengerut. Kenapa Yoona masuk kesana, mereka saling mengenal? Tidak tahu.

Rasa penasaran Minseok menghilnag ketika ingataknnya kembali pada perkataan Zico dan dengan segera ia masuk ke ruang informasi, mencari tahu kebenaran perkataan Zico.

Luhan mengusak rambutnya kasar. Memikirkan perkataan Baekhyun yang membuatnya hampir gila. Kemarin malam wanita yang merupakan isterinya mengatakan sebuah pengakuan yang begitu mengagetkan. Aku mandul Luhan. Itu sesaat setelah Luhan menerima panggilan dari orang tuanya.

Pengakuan yang di katakan setelah ratusan kali orang tuanya menuntut keturunan, dan gilanya lagi dia malah menyarankan, menikahlah lagi. Miliki keturunan dan buat orang tuamu bahagia. Solusi macam apa itu. Menikah bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan Luhan tidak mau menodai kesakralan pernikahannya meski pada awalnya dia tidak mencintai Baekhyun, namun sekarang perasaan itu mulai tumbuh.

Tidak mungkin Luhan melukai isterinya demi keturunan. Menikah lagi? Yang benar saja. Tapi ceraikan Baekhyun jika dia tidak bisa memberimu keturunan, ini sudah lima tahun Luhan. Jika ia tidak memiliki anak segera maka biduk rumah tangganya dengan Baekhyun terancam. Sejujurnya dalam hati Luhan ingin menentang orang tuanya.

Siapa yang menjodohkan kami, disaat kami sudah mulai menemukan cinta lalu harus berakhir? Hati ku ini punya rasa dan bisa terluka, aku bukan batu yang tidak bisa merasakan sakit. Tapi apalah daya, setiap kali ibu atau ayahnya berbicara semua kalimat yang sudah tersusun itu menguap, menghilang begitu saja.

Nama Yoona tidak ada, dari dua belas nama yang tertera di layar yang akan mengikuti seleksi nama Minseok tertera, menjadi urutan teratas. Minseok senang namun juga sedih. Ternyata benar, pembentukan group perepmuan itu bukan main-main. Bahkan profil beberapa calon anggota siap luncur sebagai teaser. Yoona pasti sangat sedih mengingat eonni roommate nya itu sangat ingin debut. Dulu ketika Minseok sedih mendapatkan kata-kata tidak sedap, Yoona yang menenangkannya maka dari itu, dia ingin melakukan hal yang sama, pulang ke asrama lebih dahulu, membuatkan sesuatu untuk Yoona.

Beberapa saat setelah apa yang dibuatnya selesai, ponselnya berbunyi, nama Luhan tertera. Sedikit mengernyit kenapa lelaki itu mengirimnya pesan.

Bisa kita bertemu? Mari minum kopi, aku traktir. Kudengar kau akan segera debut.

Bunyi pesan Luhan, sebenarnya ia sudah ingin menolak karena ingin menunggu Yoona, tapi entah kenapa jarinya malah mengetik beberapa kata.

Baiklah, di kedai persimpangan jalan karena aku sedang di asrama. Setelah membalas pesan Luhan, Minseok mengambil kertas warna-warni dan menulis sesuatu.

Eonni aku sayang eonni. Tapi bingung mengungkapkannya bagaimana. Jadi nikmatilah makanan buatanku. Mungkin tidak seenak buatan eonni tapi, selamat menikmati.

Setelah itu, Minseok keluar kamar dan segera pergi menuju tempat janjian dengan Luhan.

Beberapa menit dengan berjalan kaki Minseok sudah sampai di tempat tujuan. Ia masuk ke kedai yang cukup sepi hanya beberapa pelanggan. Dan tidak sengaja Minseok melihat seseorang yang dulu dilihatnya bersama Yoona sedang mengobrol, ia mengangguk sebagai sapaan dan di balas dengan senyuman. Mereka tidak saling kenal tapikan ia bekerja di K. R berarti juga keluarga Minseok.

Ia menemukan Luhan, duduk di pojok dekat jendela. Terlihat sedang melamun. Terlihat aneh dan seperti bukan Luhan yang biasanya. Bahkan ketika ia duduk di hadapannya, Luhan seperti tidak sadar dan terus memandang ke jendela yang tidak ada objek menarik untuk dilihat. "Ahjussi." Panggilnya pelan, tidak ada respon, maka Minseok melambaikan tangannya di depan wajah Luhan.

Lambaian tangan seseorang mengagetkan, membuat Luhan tersentak. Dengan cepat di tangkapnya tangan yang melambai, ternyata ketika ia menoleh adalah Minseok, orang yang sedang di tunggunya. "Astaga, kau membuatku kaget Min."

"Ish, ahjussi yang terus melamun. Lepaskan tanganku." Ujarnya sambil menarik tangannya dari tangan Luhan, yang entah mengapa membuat lelaki itu tesenyum, mungkin ekspresinya yang lucu dan imut.

"Galak sekali, jadi?"

"Mwo?"

"Kudengar kau akan debut? Jadi kau akan mentraktir aku kan?" tanya Luhan, memutar balikan fakta. Tadi dia mengajak Minseok bertemu dan menjanjikan akan mentraktir kopi, Minseok sangat suka kopi, tahu kan.

"Ish, ahjussi yang tadi janji akan mentraktirku, kenapa sekarang malah memintanya padaku." Gelak tawa Luhan terdengar nyaring. Mungkin benar keputusannya menemui Minseok, di saat sedang banyak pikiran dan sangat melelahkan, tawa Minseok serupa obat paling mujarap. "Baiklah aku yang traktir. Tapi kalau kau sudah debut gentian yah?"

"Aku tidak janji."

"Ah wae, kau ini pelit sekali."

"Bukan begitu, siapa tahu sesuatu terjadi dan aku tidak jadi debut nanti malah aku kecewa kan."

"Ya, kau ini bicara apa, CEO mu itu sudah cerita padaku kalau dia sangat menyukaimu karena kau sangat berbakat aku yakin kau debut." Kata Luhan, ia merasa tidak senang karena Minseok berkata yang menjurus pada pesimis.

"Akan ada seleksi lagi ahjussi. Dan kupikir dua sebelas lainnya juga memiliki bakat yang hebat, hanya akan di ambil sembilan, dan aku tidak mau terlalu berharap, tapi juga akan tetap berusaha."

"Begitu lebh baik. Jadi mari kita minum kopi."

Seakan lupa dengan masalahnya, Luhan membawa sepasang kakinya untuk memesan kopi, disaat ia baru saja berdiri, mata rusanya berpapasan dengan sepasang mata lain yang terlihat sedang mengamati. Dan sepertinya ia sadar kalau pengamatannya telah ketahuan oleh Luhan, terburu dia segera bangkit dari duduknya dan meniggalkan tempatnya.

Ingin mengejar dan bertanya kenapa mengamatinya tapi tangannya di cekal oleh Minseok, ia segera menoleh dan mendapati tatapan bingung dari Minseok. "Ahjussi mau kemana? Mau kabur ya?"

Eh.

"Meja pesanannya ada di sana kenapa mau ke arah pintu?"

"Ah benar." Katanya kikuk seraya mengusapi tengkuknya dan menuju arah yang di tunjuk Minseok meski kepalannya sesekali menuju pintu keluar. Luhan yakin sekali kalau orang yang baru saja keluar itu tadi memperhatikannya.

Sambil menunggu Luhan, Minseok mengambil alat komunikasinya, karena tadi ia sempat merasakan getaran dan benar saja, ada dua pesan yang di kirimkan oleh orang tuannya.

Minnie, sedang apa? Sudah makan?

Minnie kenapa tidak membalas pesan eomma?

Tersenyum, lalu menekan layar dan merangkai kata sebagai balasan.

Minnie sedang di kedai eomma, mian baru membalas Minnie baru memegang ponsel. Balasnya.

Minnie bisa tidak minggu besok pulang? Eomma sangat merindukanmu.

Mian eomma minggu besok Minnie tidak bisa. Eomma tahu? Minggu ini akan diadakan seleksi pemilihan calon anggota girl group Minnie harus ikut karena namaku menjadi salah satu kandidat yang akan di debutkan. Hore.

Jinja? Ah, padahal eomma sangat rindu Minnie, jadi benar-benar tidak bisa ya? Appa juga. Minnie eomma tiba-tiba khawatir padamu.

Baru akan membalas, Luhan tiba-tiba datang dengan nampan penuh. Dua mangkuk besar jajangmyeon dan dua kap kopi, ah sepertinya paman rusa itu bukan hanya akan mentraktir kopi tapi juga jajangmyeon. Yes.

"Wah, kupikir ahjussi hanya akan membelikan kopi. Tapi ternyata juga mentraktirku makan, asik gomawo ahjussi."

"Aku tahu kau kelaparan, kau tahu kau sekarang sudah tidak gembul lagi dan aku tidak suka, jadi jja makan, supaya pipimu kembali. Ngomong-ngomong kau sedang berkirim pesan dengan siapa?"

"Dengan eomma, ah sebentar aku membalas pesan eommaku dulu."

Eomma nanti lagi ya, Minnie ingin makan dulu. Saranghae, pyong.

"Sudah?" tanya Luhan saat Minseok mengantongi lagi ponselnya.

"Sudah."

Membaca balasan terakhir dari Minseok membuat Jungsoo hanya bisa menghela nafas, ingin sekali menelfonnya tapi biasanya di jam seperti ini Minseok sedang berlatih tadi begitu pesannya dibalas dan anaknya mengatakan sedang di kedai, rasanya senang dan legi, ketika akan menelfon lagi eh malah anaknya menghentikan pesan dengan mengatakan kalau ia harus makan.

Mengetahui anaknya baik-baik saja, Jungsoo memang lega, karena sudah beberapa hari ini ia memiliki perasaan yang entah apa. Dia selalu merasa khawatir untuk segalahal. Seperti kemarin ketika jari Youngwoon teriris pisau sampai berdarah saat membantunya memasak bahkan mampu membuat Jungsoo menangis padahal biasanya juga tidak.

Youngwoon sering membantunya memasak dan sering pula teriris pisau tapi kemarin rasanya hatinya begitu sakit, entah kenapa.

"Bagaimana? Apa dia bisa pulang?" karena isterinya yang menjadi mudah panik beberapa hari membuat Youngwoon tidak pergi bekerja untuk menemani sang isteri.

"Tidak, dia bilang akan ada seleksi anggota girl group minggu ini." mendengarnya seharusnya Jungsoo senang tapi kenapa wajahnya terlihat murung. "Wae? Kau tidak terlihat senang? Kau takut kalau Minseok akan gagal?"

Sebagai jawaban Jungsoo hanya menggeleng, entahlah dia senang Minseok akan menjalani proses yang sangat di tunggu oleh trainee tapi entah mengapa rasanya ia sangat ingin Minseok ada dirumah dan dalam jangkauannya tapi tidak bisa juga mengatakan mengingat dulu ia sangat mendukung bahkan sampai memusuhi suaminya beberapa hari. "Apapun yang kau khawatirkan itu, tenanglah itu tidak akan terjadi. Lebih baik kita berdoa supaya Minseok berhasil dan kita akan lebih sering melihatnya meski di tivi kan. Sudah, cantikmu jadi hilang kalau wajahmu kusut seperti itu."

Hiburnya pada sang isteri. Dulu Youngwoon memang sangat tidak mengizinkan anaknya memasuki dunia yang merenggut keponakannya dan juga merenggut kemampuan menari Jungsoo karena dia mengalami cidera kaki yang parah bahkan pernah divonis akan mengalami kelumpuhan, namun nyatanya Jungsoo bisa kembali berjalan tapi harus mengubur mimpinya, meski begitu anaknya malah lebih berjaya, selama ini Minseok berhasil dan menuai banyak pujian, mungkin mimpi Jungsoo akan terealisasikan oleh Minseok, meski kekhawatirannya kadang menghantui namun lama-lama berkurang dan apalagi sekarang mendengar si gembulnya yang mulai tidak gembul lagi akan seleksi debut rasanya dia begitu bahagia.

"Ahjussi tadi aku melihat Lu ahjumma datang ke perusahaan." Kata Minseok setelah menelan isi mulutnya dan itu membuat Luhan kaget. "Lu ahjumma?"

"Isterinya ahjussi."

"Memangnya kau tahu isteriku?"

"Ne aku melihat ditivi, waktu itu di sebuah acara dan seorang mc memuji kalian kalau tampan dan cantik sangat serasi. Lu ahjumma itu sangat cantik ya."

Bukannya merasa tersanjung oleh pujian Minseok, Luhan malah mengerutkan keningnya. Merasa bingung, kenapa Baekhyun pergi ke K. R, urusan pekerjaan? "Untuk apa dia kesana? Kau tahu?"

"Molla, tapi aku melihat dia menemui seorang trainee." Semakin dalam kerutan di dahi Luhan, menemui seorang trainee.

Aku yang akan mencarikan gadis untukmu. Akan kupastikan dia mendapat imbalan yang setimpal atas jasanya untuk kita. Ingatan perkataan Baekhyun mengiang di kepala Luhan, mungkinkah ini yang dimaksud Baekhyun?.

"Minseok-ah, sepertinya aku harus pergi. Tidak apa kan ku tinggal, kau tenang saja aku sudah membayarnya."

Belum sempat mendapat jawaban dari Minseok, Luhan sudah keburu lari keluar kedai. Meninggalkan Minseok yang masih sibuk dengan mie nya yang masih tersisa setengah. Rupanya anak itu lebih mementingkan makanannya ketimbang kehadiran Luhan. Poor Luhan.

Panggilan dari Luhan untuk Jaehyo tidak kunjung di angkat, lelaki Ahn itu mengatakan padanya kalau dia sedang di Busan, tempat lahirnya karena orang tuanya jatuh sakit dan merindukan putera keduanya. Putera sulung mereka Ahn Jaehyun sudah menikah dan memiliki rumah sendiri jadi ketika sakit tentu saja anak bungsunya yang masih single yang di cari.

Dan jika sudah dengan orang tuanya Jaehyo ini hampir tidak memperdulikan apapun termasuk ponselnya. Maksud Luhan menghubungi Jaehyo adalah, ingin meminta staff nya memberikan rekaman CCTV tempat yang di gunakan Baekhyun, Luhan takut wanita itu membuat rencana gila dengan menjanjikan debut pada calon artis dengan syarat mau meminjamkan rahimnya agar di isi benih Luhan.

Tetap tidak di angkat Luhan membanting ponselnya, menekan gas mobil dan melaju kencang, dia harus segera sampai di rumah, menanyakan untuk apa Baekhyun pergi ke K. R jika pada akhirnya prasangka Luhan tidaklah benar maka itu bukan masalah tapi jika benar ia harus menghentikan karena tidak mau merusak orang lain, ia yakin bisa memiliki keturunan dengan cara lain, bayi tabung misalnya.

Pulang setelah makan, Minseok mendapati Yoona, sedang duduk dengan kaki bergerak-gerak gelisah dan tangannya memegangi ponsel dan kegelisahan Yoona pasti sangat besar sampai tidak menyadari kalau Mnseok mendudukan dirinya di samping yang lebih tua.

"Eonnie?"

"Ya, kamchagia." Yoona terlonjak sambil memutar badan dengan cepat. "Minseok, kau mengagetkan aku." kata Yoona sambil memegangi dadanya.

"Mianhae eonnie. Tadinya aku ingin menyapa biasa tapi eonnie sepertinya sangat gelisah, wae geurae?"

"Gwaenchana, aku tidak apa." Katanya. Minseok sudah ingin menyanggah perkataan Yoona jika saja ponsel di tangan gadis itu tidak berdering, melihat sekilas lalu menatap Minseok. "Aku tidak apa, aku pergi dulu Minseok."

Untuk yang kesekian kalinya Minseok di tinggalkan. Huft. Nasibnya ini menyebalkan sekali sih. Sudahlah, merasa lelah Minseok menaiki kasurnya berniat untuk tidur. Sore ini katanya dua belas anak yang akan di seleksi harus berkumpul di aula besar gedung. Mungkin seleksinya di mulai sore ini atau bagaimana dan Minseok ingin segar saat datang.

Anak ini lupa kalau ia berniat menghibur Yoona yang sedih, Yoona sudah tahu belum sih tentang berita itu.

"Aku sudah menemukan gadis yang cocok, dalam hitungan Korea dia berusia dua puluh tahun dan siap menikah. Namanya Yoon-ah."

Baekhyun melengkapi kalimatnya yang tadi sempat di sela Luhan. "Kau benar, aku menjanjikan debut untuknya. Dia sudah menderita selama enam tahun tapi dia begitu berbaik hati meminjamkan rahimnya untuk kita. Minggu depan kau akan menemuinya. Aku sudah menentukan waktunya."

"Kau gila Baek, minggu depan? Bagaimana mereka akan debut? Seleksi calon baru dalam rencana."

"Tidak, member sudah di tentukan, dan sore ini akan di adakan pengumuman, tiga hari kemudian mereka akan showcase. Tiga hari mereka promosi bersembilan lalu Yoon-ah akan hiatus dengan alasan sakit."

"Dia baru debut dan akan langsung hiatus, kau ingin menghancurkan perusahaan orang? Baek dunia hiburan bukan dunia yang main-main apalagi forum penggemar Korea, mereka memiliki mata setajam elang bahkan jauh dari yang kita bayangkan. K. R sedang naik daun bahkan anggota laki-laki yang asih trainee saja sudah mencuri perhatian. Tidakah ini akan menimbulkan masalah, netizen akan menganggap kalau pengaturan waktu debutnya salah sehingga masih baru kemudian hiatus. Dan hiatusnya juga tidak untuk waktu sebentar. Satu tahun Baek."

"Tidak, aku tidak bilang dia akan hiatus kemudian menghilang, aku akan mengatur kalau dia tetap tampil. Di acara variety atau drama sehingga jika dia hamil itu tidak akan berbahaya untuk kandungannya. Baru setelah perutnya membuncit dia akan menghilang"

Luhan menggeleng tidak percaya, rencana yang sungguh hebat dan seakan sudah di pikirkan dengan matang. Sampai-sampai Luhan dibuat terdiam.

"Demi masa depan kita Luhan." Kalimat manis pertama yang keluar dari mulut Baekhyun setelah lima tahun menikah. "Atau kau memilih opsi kedua. Bercerai?" ada nada aneh ketika Baekhyun menyebutkan kata bercerai.

Perubahan. Itu yang Minseok tahu ketika ia masuk ke aula besar gedung perusahaan. Dari duabelas anak yang Minseok ketahui waktu itu ternyata menjadi tiga belas anak dan Minseok sangat senang karena tambahan orang tersebut adalah Yoona, senangnya bukan main sampai ketika Yoona memasuki gedung bersama seorang direktur, Minseok langsung memeluk Yoona, dan direktur itu Minseok kenali.

Seseorang yang dulu berbicara dengan Yoona di lorong dan yang di temui Minseok kemarin. Oh, rupanya dia adalah direktur, sepertinya Minseok bersyukur karena dia adalah direktur, karena dengan begitu kemungkinan besar ia tergabung dalam satu group bersama Yoona semakin besar.

"Annyeonghaseo yeorobun. Jeoneun Woo Taewoon imnida. Bangasemnida." Sapanya ramah.

"Annyeong." Balas para trainee semangat.

"Aku adalah direktur yang bertanggung jawab atas kalian, ada sedikit perubahan jadwal, mungkin dari kalian ada yang bingung kenapa tiba-tiba Yoona masuk menjadi salah satu kandidat, setelah di pertimbangkan Yoona sudah cukup matang mengingat pelatihannya yang lama, dan juga, aku disini akan memberikan beberapa pengumuman. Yang pertama, calon anggota sudah di tentukan atas perundingan para pelatih dan direksi, juga melalui voting."

Banyak dari trainee laki-laki memprediksikan mu yang akan masuk. Teringat perkataan Zico pagi tadi. Mungkin dari voting inilah Zico mengatakan kalau banyak yang memprediksikannya. "Yang kedua, bagi para calon member di izinkan pulang malam ini tapi besok malam harus sudah kembali lagi ke perusahaan. Katakana berita bahagia ini pada orang tua kalian. Dan juga katakan untuk datang di acara showcase kalian. Dan yang ketiga, showcase akan di adakan tiga hari setelah itu. Jadi persiapkanlah diri kalian arraseo?"

"Tidakah itu terlalu cepat direktur? Kami bisa saja jatuh sakit jika jadwalnya langsung sepadat itu, belum lagi kami bahkan belum latihan kekompakan bersama, membangun kemistri minsalnya." Kata seorang yang duduk di kursi paling depan dan berambut burgundy. Dapat Minseok lihat Taewoon tersenyum aneh, tapi Minseok mengabaikannya

"Memang kalian harus mengompakan dan mengenal satu sama lain tapi itu dilakukan jika kalian trainee hanya hitungan bulanan dari pihak menejemen sudah yakin kalau hal itu tidak di perlukan lagi karena kalian adalah pilihan." Penjelasan yang ambigu. Aneh dan tidak bisa dimengerti oleh otak bocah Minseok tapi ketika tangan Yoona menarik tangan Minseok dan di remasnya perlahan, Minseok merasa tenang, seperti ketenangan mengalir disana.

"Kalian paham kan, dan aku akan membacakan daftar namanya, dan untuk kalian yang namanya tidak aku sebutkan, jangan kecewa, jangan merasa terabaikan karena kalian juga tetap kami pikirkan."

Mengabaikan Taewoon yang sedang berbicara di depan, Minseok menoleh pada Yoona "Eonnie mengenalnya? Aku pernah melihat eonnie berbicara dengannya."

"Hmm, dia ke- ah. Teman kakakku."

"Oh, aku juga melihatnya kemarin di kedai. Eonnie aku sempat takut kalau aku akan debut sendiri tanpa eonnie, aku sangat ingin bersinar bersamamu." Mendengar itu, Yoona tersenyum lembut, menepuk pelan punggung tangan Minseok sambil berkata. "Hmm, mari kita bersinar bersama."

"Kim Minseok."

"Kita bersinar bersama Minseok itu namamu di sebutkan."

"Jinja."

Saat Minseok menoleh kedepan, sekali lagi ia mendapati kilatan aneh dari mata Taewoon, meski sejenak tapi membuat Minseok takut. Sungguh. Bahkan ketika tadi ia menyebut namanya lelaki itu seperti kaget namun berganti dengan sebuah seringaian. Minseok tidak tahu maksudnya apa. Mengingat dia adalah kakak teman eonnie nya mungkin Minseok harus membuang prasangkanya.

Semua bubar setelah direktur menyebut nama Minseok, namnya menjadi penutup yang di sebutkan sedangkan nama Yoona menjadi urutan pertama yang disebutkan, saat mereka keluar dari aula, sosok Taewoon datang menyapanya dan Yoona, lalu meminta izin pada Minseok untuk membawa Yoona sebentar karena ada yang ingin di bicarakan. Minseok hanya mengangguk sebagai jawaban lalu pergi begitu saja, jujur ia sedikit takut pada lelaki bernama Taewoon.

Ia harus membereskan beberapa pakaian untuk di bawa pulang, sepertinya ia akan memberikan kejutan pada ibunya, tadi ibunya mengatakan kalau dia sangat rindu Minseok dan sangat ingin bertemu, malam ini dia akan pulang ke Guri, mengabarkan berita bahagia sekaligus melepas rindu. Tidak disangka penantian empat tahun akan terbayarkan. Mimpinya akan segera tercapai.

Pasangan Kim di kejutkan oleh kedatangan anak semata wayangnya dimalam hari, sebuah van hitam berhenti didepan kediaman mereka dan ternyata dari perusahaan. Jungsoo menjadi orang yang paling girang karena kerinduannya bisa terobati, bahkan ia menuruti perrmintaan anaknya yang meminta di gendong, namun begitu sampai di tiga undak-undakan depan rumah, ia di gantikan oleh suaminya.

Selain di kagetkan oleh kedatangan anaknya mereka juga di kagetkan dengan berita menggembirakan, berita yang mengatakan kalau Minnie mereka akan segera debut dalam waktu dekat dan meminta kedua orang tuanya datang ke Seoul untuk menghadiri showcase.

"Jinja?"

"Ne appa."

"Kau bilang baru akan diadakan seleksi tapi kenapa sekarang tiba-tiba sudah akan debut." Rupanya kabar gembira tersebut belum mampu menenangkan hati Jungsoo yang tetap saja berguruh.

"Ne, kupikir juga begitu tapi tadi katanya kami akan debut minggu ini."

"Tidakkah ini terlalu cepat? Kau tidak mencurigai sesuatu?"

"Maksud eomma?"

"Ada apa yeobo? Kau tidak senang dengan berita ini? Ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa akhir-akhir ini kau begitu aneh."

"Bukan begitu. Aku senang hanya saja aku merasa aneh. Aku merasa ini terlalu cepat aku hanya takut."

"Wae? Dulu appa sekarang eomma, sebenarnya kalian ini mendukung atau tidak sih, dari kalimatnya, eomma seperti ingin melarangku tapi tidak berani mengatakan. Kalau mau melarang seharusnya dari dulu." Sungguh mengagetkan Minseok yang biasanya manis kini berani berkata seperti itu pada ibunya.

"Minnie bukan begitu maksud eomma." Ingin mengejar anaknya yang lari ke kamar, Jungsoo di hentikan oleh Youngwoon lalu lelaki itu membawa sang isteri duduk lagi. "Biarkan dulu. Dan katakan padaku apa yang kau takutkan. Apa ini semacam yang kurasakan empat tahun silam?"

"Aku tidak tahu, aku hanya merasa aku takut, tapi ketakutan itu entah pada apa."

Nyonya aku menerima tawaranmu, tapi bisakah itu dilakuakan besok? Aku sudah ke dokter untuk mengecek masa subur dan konsultasi perihal kehamilan. Dokter menyarankan jika ingin hamil lebih cepat lebih baik.

Luhan hanya bisa memandang Baekhyun ketika wanita itu mengangguk setelah ia membaca pesan di ponsel. Tidak ada lagi pilihan. Luhan menyerah dan mengikuti kemauan isterinya.

Paginya, suasana ruang makan keluarga Kim hening. Minseok rupanya sungguhan dengan acara marahnya dan Youngwoon juga tidak tahu harus mencairkan kemarahan malaikatnya bagaimana, begitupun dengan Jungsoo, sama sekali tidak membuka suara, membuat Youngwon pusing, jika saja Jungsoo bercerita perihal kehawatirannya, mungkin ia bisa sedikit membantu tapi Jungsoo tutup mulut dan selalu berkata kalau dia sendiripun tidak tahu.

Sebenarnya Minseok sudah tidak kesal, malah ia merasa bersalah karena kemarin membentak ibunya, dulu ia marah saat ayahnya membentak sang ibu dan kemarin malah ia sendiri yang melakukan. Hari ini kan seharusnya menjadi hari bahagianya tapi kenapa malah semua orang jadi membisu. Ibunya pula, ia tidak berharap ibunya meminta maaf karena dia juga salah tapi setidaknya bukalah mulutnya sehingga Minseok bisa menumpahkan isi hatinya dan meminta maaf. Huahh, apa yang harus sigembul yang sudah tidak terlalu gembul lagi lakukan.

"Eomma mianhae." Akhirnya seteah beberapa lama terdiam, Minseok memutuskan untuk buka suara, sambil menusuk-nusuk tangan ibunya dan bersuara lirih dibuat imut. "Kemarin Minnie sudah membentak eomma" Youngwoon dan Jungsoo berpandangan lalu memandang lagi Minnie yang menunduk, ia tidak ingin menunjukan wajahnya karena sangat ingin menangis. Mungkin sudah menangis jika tidak ingat kalau sekarang dia sudah empat belas tahun.

Tapi seberapapun di tahan namanya Minseok akhirnya menangis juga, isakan mulai lolos satu-satu mengundang helaan dari Jungsoo yang akhirnya mengangkat tubuh Minseok dan didudukan di pangkuan, mengusap punggung anaknya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher, Minseok sangat suka dipeluk dan dipangku kan.

"Sudah jangan menangis. Cup cup cup. Hey, ingat Minnie sudah empat belas tahun. Tidak boleh cengeng lagi." Menghela nafas sekali lagi lalu melanjutkan. "Bukankah anak eomma ini akan jadi idola, kenapa masih suka menangis hm." Rupanya tangis Minseok juga berasal dari ketakutan ibunya menarik lagi izin yang pernah sangat kuat di berikan, terbukti ketika ia menyebut idola, isakannya seperti tertarik kembali dan kepalanya terangkat. "Eomma."

"Eomma tidak akan menghalangimu jadi idola karena eomma yakin ketakutan itu tidak beralasan. Tapi kau tetap harus ingat, jaga dirimu baik-baik meski ada Hyo ahjussi tapi kau tetap bertanggung jawab atas dirimu. Arra?"

"NE AEGESEMNIDA. Jja moego aku lapar."

Dibawah sana, tangan Youngwoon meremas tangan sang isteri yang terasa dingin, untuk menenangkan kalau apa yang di katakannya adalah benar, seperti yang dilakukan Jungsoo dulu ketika meyakinkannya.

"Eomma appa nanti setelah ini kita foto yah. Aku ingin mengambil kenangan. Supaya kalian akan selalu menginatku terus dan tidak akan Lupa. Supaya kalian ingat kalau anak gembul ini begitu menggemaskan."

"Ne, kita foto setelah ini ya."

Luhan tidak mengerti apakah keputusannya benar atau tidak, ia mencintai Baekhyun tapi haruskah membohongi orang tuanya? Entah. Demi cinta, pilih mana bercerai atau- tidak, pilihan itu dua-duanya mencekik. Jikapun nanti ia akan mendapatkan anak dari isteri sementaranya maka ia tidak akan melihat Baekhyun selama satu tahun karena wanita itu juga akan menghilang.

Astaga Luhan benar-benar dirundung dilema. Niatnya ia ingin menemui Minseok, menanyakan bagaimana sosok Yoon-ah pada bocah itu tapi yang ia dapat malah katanya semua calon artis itu sedang diberikan waktu pulang untuk mengabarkan berita bahagia tersebut. Berarti Minseok juga salah satu dari mereka. Memang sudah diduga sih.

Lalu bagaimana sekarang. Ia tidak punya teman curhat lagi, Jaehyo masih belum kembali dari Busan dan Minseok sedang di kampung halamannya. Daehyun? Tidak, lelaki itu sepupu Baekhyun dan lagipula dia pasti lebih memilih bersama kekasih manisnya ketimbang mendengarkan curahan hati Luhan.

"Mau ku titipkan pesan untuk Minseok tuan?"

"Kalau pulang katakan padanya untuk menghubungiku. Aku butuh teman curhat" Pesannya pada resepsionis.

Dari kejauhan dua orang itu memperhatikan, yang satu dengan tangan dingin dan yang satunya menatap tajam.

"Yoona-ah, tentukan keputusanmu."

"Ne oppa, aku memilihmu."

Tik tok tik tok tik tok. Bunyi detik jam mengiringi langkah kaki gadis empat belas tahun tersebut menyusuri lorong. Tadi sewaktu ia pulang dari Guri resepsionis perusahaan mengatakan kalau ia diminta menghubungi Luhan karena lelaki itu ingin curhat, dasar lelaki aneh curhat kok sama anak kecil begitu pikirnya, ia sudah ingin mengiyakan sebenarnya namun salah seorang staff dari wardrobe memanggilnya, mengatakan kalau CEO memintanya untuk hadir dalam sebuah wawancara mengenai girl group yang akan debut. Jadilah Minseok mengirimkan pesan pada Luhan kalau dia tidak bisa menemui dan menemainya berbagi cerita karena dia punya pekerjaan penting.

Minseok benar-benar merasa sudah seperti selebriti, di antar oleh van besar, menggunakan pakaian perancang terkenal, didandani begitu cantik dan disambut baik ketika ia mengatakan akan menemui CEO. Benar-benar menakjubkan. Rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu tiga hari lagi.

Tapi, begitu ia melewati ballroom perasaan Minseok menjadi berbeda. Terlebih ketika ia dan tuan pengantar berhenti di depan kamar. Kama nomor 2026, keningnya berkerut, benarkah? Apakah ada wawancara di adakan di kamar?.

"Tuan CEO sudah menunggu, anda masuk saja."

"Tunggu, benarkah ini tempat CEO? Maksudku-

"Benar aghassi. Beliau meminta sendir pada kami untuk mengantar anda begitu sampai."

"Engh, enguh ah. Eomma appa eomhhma apphaah."

"Min, Minseok Minseok." Luhan menepuk-nepuk pelan pipi Minseok ketika ditengah malam tiba-tiba kakinya menghentak-hentak, dalam pelukan Luhan bahkan Minseok meronta-ronta. Ketika ia terbangun dan menyalakan lampu kamar, ternyata Minseok memang gelisah dalam tidurnya.

Sepertinya Minseok mimpi buruk.

"Minseok-ah, ireona, yeobo ireona."

"APPA EOMMA!"

TBC/END

Note*

Setelah chapter panjang ini rasanya aku bingung mau ngomong apa. Intinya terimakasih yang sangat banyak dan jangan bosen sama imajinasi yang gak masuk akal(Terutama tentang IT, kadang aku takut di kritik sama mereka yang IT nya hebat) tapi sekali lagi, jangan di pikirin karena seratus persen tentang IT adalah murni imajinasi aku yang terobsesi sama komputer.

See You Next Chapter or End.