BoBoiBoy (c) Monsta
I'm a Boy 2 (c) Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
Chapter 12 (END)
Senyuman tak berujung
Tawa lepas bagaikan kenangan
Tanganmu yang menggenggam erat
Dan ucapan yang sangat lembut
Apakah semua itu cukup
Untuk menyatakan
Betapa pedihnya perpisahan ini?
Tangisanku tak 'kan menghiburmu
Namun tawa lepasku pun hanya memuakkanmu
Apakah kau benar-benar mencintaiku?
Walau termakan usia
Kita tetap bersama
Meski hanya batinku yang akan menjerit
Menjerit karena aku tahu
Ini adalah perpisahan
BoBoiBoy terbangun dari tidurnya yang lelap. Matanya masih terasa cukup lengket, tapi dia ingin membuka kedua indranya itu hanya untuk melihat kamarnya. Tak ada yang berubah sama sekali, bahkan semuanya tampak masih seperti ketika terakhir dia melihatnya sebelum tertidur di malam hari.
Sekilas dia teringat percakapannya dengan Ochobot yang belum terbilang selesai. Batinnya mengatakan, Ochobot cukup dewasa untuk masalah emosi atau perasaan. Wajar, anak dengan IQ tertinggi sepertinya bisa dibilang 'terlalu' jenius. BoBoiBoy mengaku dia harus menggeleng-gelengkan kepalanya setiap mendengar ceramah dari sahabat jauhnya itu.
Mungkin karena pendidikan Ochobot yang tinggi, atau dari bawaan sejak kecil.
Hanya kata 'mungkin' yang dapat mewakilinya ...
Ah, lupakanlah masalah itu. Yang seharusnya dia pikirkan saat ini adalah mandi dan sarapan. Lihatlah penampilannya yang mirip gelandangan jalanan berparas imut itu! Memang imut, karena dia masih kelas 5 SD. Tapi bau keringatnya semasa tidur menyengat! Cuaca malam hari tidak ada yang benar, ya?
BoBoiBoy hendak turun dari kasurnya sebelum matanya menangkap sebuah kertas yang dilipat menjadi empat. Tangannya dengan sigap mengambil kertas tersebut dan membacanya. Rupa-rupanya, tulisan latin dari Ochobot.
.
"BoBoiBoy, kalo sudah bangun, kamu ke taman aja dulu, ya. Aku mau bicara hal penting denganmu."
.
Hah? Hanya itu? BoBoiBoy mengucek-ucek kedua matanya, tapi tulisan itu seakan-akan hanya akan membuatnya tetap membeku seperti boneka manekin. Ochobot si julukan 'tukang omel', memberikan sebuah pesan singkat-padat-jelas?! Tidak salah, nih?
Oke, oke. BoBoiBoy mulai pusing.
Ochobot tidak akan pernah memberikan surat seperti ini pada siapapun. Kemungkinan besar, dia hanya akan bicara panjang lebar dan pergi begitu saja hanya untuk menyuruh lawan bicaranya menemuinya. Ini kejadian langka, Bung! Langka untuk si 'juru bicara' seperti Ochobot!
Hanya suara tawa kecil yang membalas surat tersebut. Dengan hati-hati, dilipatnya kembali surat tersebut, lalu diletakkan di atas meja. Sesaat, dia tersenyum membayangkan apa yang akan Ochobot bahas hari ini. Mungkin lebih penting dari hubungannya dengan Fang. Kalau sudah begini, dia tidak begitu keberatan, kecuali jika Ochobot menyinggung hubungan mereka berdua sebagai homo.
Homo, ya?
Homo Homini Lupus maksudnya?
Ah, bukan. Itu mah prasejarah. Yang benar itu 'homosexual', hubungan antar laki-laki dengan laki-laki.
Mahmeeennnnn ...
Ingat aja film cowok pacaran dengan banci.
Jijay.
Tapi BoBoiBoy bukan banci, melainkan innocent boy yang terlalu polos, dan jenis bocah seperti itu dapat mengundang serigala mesum seperti Fang. Ujung-ujungnya, bisa saja Fang akan memakannya secara perlahan-lahan sampai lumat. Habislah kau.
Hei, hei. Kenapa malah membahas rate M?
Pembahasannya jadi meleset total begini. Salahkan author yang kebiasaan baca BL doujinshi. Perlukah otaknya disadarkan dengan di-ruqyah? Panggil Pak Kyai sekarang juga!
Oke, oke, oke. Fokus lagi ke cerita.
Memang, sih ... Apa yang akan dikatakan Ochobot nanti masih merupakan misteri bagi seorang BoBoiBoy. Mata tajam Ochobot yang menatapnya horor atau tatapan ceria yang berbinar-binar, entah mana yang akan dikeluarkan oleh Ochobot. Dasarnya, dia susah ditebak isi pikirannya.
Haaahh ... Anak bangsawan seperti Ochobot itu dilatih apa, sih? Sampai rela menyembunyikan ekspresinya dan berubah-ubah pikiran? Dulu dia tidak seperti ini, sifatnya yang sebenarnya ialah ceria seperti anak-anak pada umumnya. Salah didikan? Ujung-ujungnya dia bisa bersikap dewasa pada usia dini. Terlalu muda, bukan?
Entah karena terlalu banyak pikiran atau apa, BoBoiBoy tidak begitu mengurusinya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia hanya bisa menebak-nebak apa yang akan Ochobot bahas nanti ketika mereka bertemu di taman.
Di sisi lain, Fang yang telah siap dengan beberapa koper dan tas selempangnya menatap Kaizo yang berbicara dengan supir taxi. Taxi di depan rumahnya itulah yang akan mengantar mereka berdua menuju bandara. Rasanya tidak dapat dipercaya kalau dia akan meninggalkan Malaysia hari ini. Seperti dia baru saja datang ke negara ini kemarin.
Mata sipitnya menelusuri tiap sudut rumahnya. Dia ingat dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Sekarang rumah berbentuk mansion itu akan selalu menjadi rumah kosong selama Fang tak kembali lagi ke Malaysia. Entah siapa yang akan menempatinya esok hari. Begitu matanya menemukan titik sudut yang dia sukai–ruang tengah–teringat ketika dia hendak mencium mesra BoBoiBoy yang duduk di atas pangkuannya. Ah, pikirannya mulai merasuk ke mana-mana, baik di otak kiri maupun otak kanan.
Akankah dia kembali lagi ke Malaysia?
Dia yakin dia akan sangat merindukan segalanya di sini. Terlebih dia sudah lebih lama berada di sini. Apakah itu masih kurang cukup untuk menyatakan betapa dia setia pada negeri jiran ini? Di sinilah dia bertemu kembali dengan kekasih bayangannya.
Matahari tidak begitu menyengat karena hari masih pagi. Ketika Fang masih asyik memandangi sekeliling rumahnya, Kaizo menepuk pundaknya lumayan keras dan member tatapan 'Ayo pergi.' miliknya. Bocah bersurai indigo itu hanya mengangguk dan menatap lurus ke taxi di depannya.
Mulai saat ini, semuanya takkan sama lagi. Dia yakin, BoBoiBoy akan berubah begitu mendapatinya pergi dari Malaysia, atau bisa saja dia sendiri yang akan membuat BoBoiBoy kecewa. Kini hanya waktu yang akan menentukan nasib masing-masing dari mereka. Sisanya, biarlah mereka mengatur kehidupan mereka yang sesungguhnya. Hanya itulah cara yang lebih baik.
Tanpa terasa, air mata keluar dari pelupuk mata Fang. Dipandanginya rumah yang kembali kosong seperti sedia kala, mengingat masa-masanya bersama BoBoiBoy, berawal dari ketika mereka bertemu, berpacaran, bertengkar, hingga menyatakan isi hati masing-masing pada malam ketika Ochobot datang. Semua terasa sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada dipukuli oleh ribuan manusia.
Ini adalah hari terakhirnya di Malaysia. Fang hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kehidupannya dan BoBoiBoy kelak.
Maafkan aku, BoBoiBoy. Aku harus pergi. Selamat tinggal, BoBoiBoy.
Sebuah taxi melaju melewati BoBoiBoy yang tengah berjalan menuju taman di dekat kedai. Rasa penasaran muncul ketika matanya bertemu dengan warna taxi yang cukup familiar. Dia terheran-heran, bagaimana ada taxi di Pulau Rintis? Padahal kota kecil tersebut tidak memiliki bandara, hanya stasiun kereta antar kota yang menjadi sarana transportasi sehari-hari, itupun tidak begitu jauh untuk pergi ke sana.
Namun BoBoiBoy tidak begitu memedulikannya. Dia hanya bisa diam dan memandangi taxi tersebut melaju begitu kencang ke arah yang tak diketahuinya. Kakinya terus melangkah menuju taman. Keringat mulai muncul dari pori-pori kulit karena cuaca yang begitu panas dengan cepat.
Di dalam hatinya, terdapat perasaan yang tidak enak, lebih kuat dibandingkan kemarin. Rasanya ingin sekali menangis, tetapi dia tidak tahu kenapa dia menangis. Ditahannya air mata yang akan keluar dari matanya, lalu berlari sampai dia melihat sosok Ochobot yang tengah membawa sekuntum bunga mawar putih, jenis bunga yang langka di Pulau Rintis.
"Ochobot!" panggilnya demi mendapat perhatian dari sahabat berambut pirangnya itu.
Karena merasa dipanggil, Ochobot pun menengadahkan kepalanya. Wajahnya tidak ceria, namun juga tidak marah. Dia terlihat sedih–sangat sedih.
BoBoiBoy berhenti di depan Ochobot. Ekspresinya yang semula ceria pun berubah ketika melihat Ochobot mengeluarkan air matanya, membasahi mahkota mawar putih yang dibawanya. Tubuh kecil Ochobot bergetar-getar seperti tengah menahan sesuatu.
"O-Ocho? Kamu kenapa? Apakah Fang menyakitimu?" tanya BoBoiBoy. Tanpa diketahuinya, Ochobot menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat. "Kenapa kau menangis? Katakan padaku! Aku ini sahabatmu!"
Tidak ada jawaban yang keluar. Hanya suara isakan teratur yang menjadi jawaban atas pertanyaan si topi oranye. Mendengarnya, BoBoiBoy menjadi gelisah luar biasa. Sayang sekali kegelisahannya itu tidak dapat menyelesaikan segalanya.
Kepala Ochobot masih menunduk sampai dia menatap BoBoiBoy yang mulai benar-benar gelisah. "K-kamu ... Hiks ..."
BoBoiBoy menautkan kedua alisnya. "A-aku? Aku kenapa?!"
"B-bukan ... Dia tidak menyakitiku ... Hiks." Ochobot menatap BoBoiBoy yang mulai gelisah. "T-t-tapi ... Kamu ..."
"Hah? Maksudmu?" Mata BoBoiBoy terbelalak. Cairan bening yang tidak ingin dia keluarkan kini memaksa untuk pergi dari tempatnya berada. Dia tak paham akan situasi seperti ini.
Ochobot kembali menunduk. Genggamannya pada bunga mawar di tangannya semakin kuat, bagaikan seberapa kuatnya dia menerima kenyataan yang ada. BoBoiBoy menatapnya intens demi mendapatkan jawabannya.
"D-dia pergi ... Pulang ke Amerika ... Hiks ... Dia sempat berpesan padaku ... untuk terus menjagamu ... Dan dia menyuruhku ... untuk memberikan ini padamu."
Suara parau Ochobot kembali terdengar. Tangannya yang bergetar pun memberikan sepucuk surat beramplop putih kepada BoBoiBoy. Di atas amplop, terdapat tanda tangan Fang yang cukup berantakan, ditambah tetesan air mata yang membekas.
BoBoiBoy menerimanya. Dibukanya surat tersebut demi melihat isinya. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah surat perpisahan dengan bekas air mata yang masih terlihat di akhir paragraf surat tersebut.
.
Kepada : BoBoiBoy
Sekian lama tak ku sadari, hari ini telah tiba saatnya aku meninggalkanmu ...
Sebelumnya, maafkan aku yang telah menyakitimu selama ini. Aku tak bermaksud untuk membuatmu sedih selama ini. Maafkan aku yang selalu membuatmu kesal, membuatmu marah, membuatmu menangis tanpa suara, dengan alasan yang beragam, segalanya aku tuangkan dalam tulisan ini.
Setelah banyak menulis surat, aku mulai tahu manfaat kebiasaanku ini adalah untuk menulis surat perpisahan kita. Aku tahu aku telah berkhianat. Janji kita takkan selamanya abadi. Seberapa besarnya dosaku padamu? Pada Tuhan? Walaupun kita tak bersama kembali, aku hanya ingin kau mengenangku lagi untuk selamanya.
BoBoiBoy, selama ini akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Sekian lama ku mencarimu ke seluruh penjuru kota di Malaysia, mengembara dari satu kota ke kota yang lain, dan berakhir di Pulau Rintis, saat itulah aku berusaha menahan nafasku ketika melihatmu muncul di depanku, sebagai malaikatku yang jatuh dari langit. Fallen Angel.
Aku yakin, cinta kita berdua tetap abadi, namun janji kita untuk tetap bedua selamanya belum tentu abadi. Jarak dan waktu memisahkan kita berdua. Aku pergi darimu, dan kau akan menangis sejadi-jadinya. Tahanlah tangisanmu untuk beberapa tahun ke depan, karena jika kita bertemu, tuangkanlah tangisan itu di atas dadaku. Saat inilah, aku bersumpah akan menemuimu suatu saat.
Sekali lagi untuk kesekian kalinya, maafkan aku. Aku sangat menyayangimu, lebih dari kata 'sangat'. Tunggu aku kembali, wahai calon istri idamanku.
Dari : Fang
.
Kata-kata terakhir dari Fang yang cukup menyayat jiwa BoBoiBoy. Kini dia mengerti apa maksud dari perasaan tidak enaknya itu. Surat inilah yang menjadi jawaban atas kegundahannya. Air matanya menetes membasahi surat tersebut, membuat surat bertinta biru itu kembali basah setelah dikenai air mata dari Fang.
Diusapnya pipinya yang mulai basah. Mulutnya terus berkomat-kamit menyebut kata Fang berulang kali, tidak terima dengan apa yang dia baca. "F-Fang ... Hiks, Fang ... Gak, gak mungkin dia pergi. Dia tidak mungkin pulang ke Amerika. A-aku yakin itu ... Hiks ..."
Tanpa berpikir panjang, BoBoiBoy pun berlari menjauhi Ochobot yang diam tak bersuara. Kakinya menuntunnya menuju arah yang dia kenali. Jalanan penuh gang yang sepi dan gelap. Suara tangisannya tetap terdengar beriringan dengan nafas yang tersengal-sengal dan suara langkah kakinya. Matanya mulai memerah karena tangisannya itu. Di kepalanya, hanya terdapat nama Fang yang terus menghantui isi pikirannya.
Begitu tubuh mungilnya berhenti di depan sebuah rumah, dia pun masuk ke dalam dengan menerobos gerbang raksasa yang berat. Dibukanya pintu rumah tersebut dengan paksa. Matanya terbelalak tak percaya dengan semua yang ada di rumah tersebut.
Kosong ...?
Rumah berukuran mansion itu kosong tak berisi. Hanya barang-barang rongsokan yang menjadi properti dari rumah tersebut. Sisanya hanya terdapat kenangan yang melekat di kepalanya.
BoBoiBoy pun berlari menuju kamar Fang yang berada di lantai atas. Tubuhnya mulai bergetar-getar karena menangis. Dibukanya pintu kamar tersebut secara perlahan, menghasilkan bunyi berderit yang terdengar keras. Dia kembali tak dapat mempercayai matanya. Kamar itu ... kosong. Tak ada barang-barang Fang yang berserakan di mana-mana, hanya sebuah tempat tidur, lemari yang rusak, dan meja belajar tak berisi.
"Hiks ... F-Fang ..."
Kakinya terus melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Tatapannya mulai menjelajahi kamar berbau tubuh Fang yang khas. Kenangannya dengan Fang masih terikat erat di benaknya, menjadikannya mulai melemah dan kembali menangis tanpa suara.
Tanpa dia sadari, matanya menemukan sebuah foto yang dia kenali. Diambilnya foto tersebut sampai matanya menelusuri foto berbingkai kayu yang retak. Tangannya menyentuh permukaan kaca yang mulai retak.
Momen ini ... Ya Tuhan ... Mengapa ...?
Matanya kembali berkaca-kaca. Ada bayangan dirinya dan Fang di dalam foto tersebut, tertawa-tawa dan berpelukan bersama, seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Dia ingat betapa hangatnya pelukan Fang saat itu. Baunya yang menyengat di hidungnya kini kembali tercium, beriringan dengan isakan tangisnya yang semakin keras.
"F-Fang ... Hiks ... Kenapa kamu harus pergi ...? A-aku ... aku masih ingin bersamamu! Hiks ... Dasar pengkhianat! Hiks ... Huweeee ...!"
Isakannya berubah menjadi tangisan yang dalam, lebih dalam dan menancap jauh di lubuk hatinya. Janji mereka untuk tetap bersama kini telah pupus, entah kapan lagi mereka akan bertemu kembali.
.
.
.
Tapi ...
Seandainya masih ada waktu untuk pergi ke bandara di Kuala Lumpur, jarak takkan begitu memadai kecuali jika diikuti dengan waktu. Dilihatnya jam tangannya yang melingkar di tangan kanannya. Ya! Masih ada waktu. Fang pergi beberapa menit tidak lama sebelum dia datang ke rumah kosong ini. Berarti BoBoiBoy masih bisa menyusulnya ke bandara!
Dengan langkah bertatih-tatih, BoBoiboy berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah tersebut. Senyumannya mengembang sempurna mengingat dia masih bisa menyusul sang kekasih menuju ke bandara. Kakinya mulai tak sabar berlari kencang menuju stasiun kereta. Dalam hati, do'a dia kumandangkan sekeras mungkin, berharap semoga Fang masih mau menunggunya di bandara.
Fang! Aku menyusulmu! Tolong jangan pergi dulu! Ku mohon!
Detik demi detik berlalu. Taxi yang melewati jalan alternatif menuju Kuala Lumpur kini telah sampai di Kuala Lumpur International Airport. Fang dan Kaizo yang berada di dalam taxi tersebut pun keluar dan mengambil koper-koper mereka. Pandangan Fang mulai liar mengelilingi bandara yang lumayan ramai.
Ditatapnya pintu masuk menuju bandara. Matanya mulai sayu begitu dia ingat tentang surat perpisahannya. Apakah BoBoiBoy telah menerimanya?
Banyak pertanyaan melintas di kepalanya yang tertutupi surai indigo. Kaizo yang berdiri di sampingnya tahu adik kandungnya tengah memikirkan BoBoiBoy. Dielusnya rambut sang adik dan disandarkannya kepala mungil tersebut ke dadanya, berusaha menenangkan Fang tanpa menyakitinya. Fang yang tahu dengan perlakuan sang Abang pun memeluk Kaizo. Air matanya mengalir deras melewati pipi dari wajah orientalnya.
"Dia tidak datang, Bang ... Dia tidak datang ...," racaunya.
"Hmm. Aku tahu."
Tangan Kaizo pun melepaskan pelukan Fang. Ditariknya koper di belakangnya, lalu menyuruh Fang untuk masuk ke bandara. "Ayo, sebentar lagi berangkat. Ini kita masukkan dulu ke bagasi." Fang hanya menggangguk pelan.
Cepat ... Waktu terlalu cepat berlalu. Baru saja dia bersama BoBoiBoy kurang lebih 2 bulan di Kuala Lumpur, kini dia harus pergi meninggalkan bocah itu sendirian di sana. Walaupun masih ada Atok, Ochobot, Yaya, Ying, dan Gopal, semua itu takkan mencukupi hari-harinya tanpa Fang seorang. Fang tahu perpisahan itu menyakitkan. Maka dari itu, dia sangat membenci perpisahan. Efeknya akan jauh lebih kuat dibandingkan narkoba dan kenangan dari perpisahan tersebut akan jauh lebih terkenang daripada momen romantis lainnya.
Haaahhh ... Sudah banyak kisah perpisahan yang ditelusurinya dan kini dia pun menjadi korban? Hidup itu penuh cobaan, vroh.
Hei, sudah berapa kali author mengatakan lima kata tersebut?
Abaikan saja.
Begitu koper-koper telah dimasukkan ke bagasi, panggilan untuk segera masuk ke pesawat menuju Amerika pun terdengar. Fang menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ke depan dan belakang, ke atas dan ke bawah, sampai mumet kepalanya. Sayang sekali apa yang dia cari tidak ada di bandara. Kalian pasti tahu, bocah laki-laki bertopi oranye.
Kaizo berdecak melihat adik laki-lakinya menolehkan kepala ke sembarang arah tanpa tujuan. "Mau sampai kapan kau akan mencarinya? Sebentar lagi kita berangkat," tegurnya.
Fang hanya memasang wajah memelas. "Tapi ... Dia akan datang bukan?" tanyanya ragu.
Kali ini Kaizo sudah tidak bisa mengelak lagi. Sifat Fang yang keras kepala membuatnya mau tidak mau harus menuruti apa kata sang adik. "Baiklah, hanya 2 menit," katanya akhirnya, membuat Fang ingin melompat setinggi-tingginya.
Dengan kesepakatan yang ada, akhirnya Fang dan Kaizo menunggu BoBoiBoy selama 2 menit. Kerumunan orang mulai bertubi-tubi memasuki bandara, semakin membuat Fang gusar dengan keberadaan BoBoiBoy. Apakah nanti dia akan datang atau tidak, semua itu dia serahkan kepada Tuhan. Dia hanya perlu memandangi setiap inci tubuh beberapa anak seumurannya yang lewat.
.
.
.
Namun semuanya seakan-akan hanyalah harapan palsu.
BoBoiBoy tidak ada di sekitar bandara. Anak-anak kecil yang masuk ke bandara pun hanya anak-anak yang diajak berekreasi di Kuala Lumpur. Hancur sudah kepercayaannya untuk menunggu BoBoiBoy. Tapi tubuhnya tidak ingin beranjak dari kursi yang didudukinya kini.
Kaizo menatapnya pasrah, "Sudahlah, Pang. Dia tidak akan datang mengingat kau memberinya surat paling konyol yang pernah kau tulis itu." Tubuhnya yang jangkung mengambil posisi untuk berdiri. "Ayo masuk."
"Tunggu, Bang. Barang 20 detik saja bisa?" pinta Fang memelas.
"Haahh ... Tidak bisa. Beberapa menit lagi panggilan untuk kita akan dikumandangkan lewat speaker. Aku tidak ingin kita terlibat dalam banyak masalah hanya karena kau menunggu calon istrimu datang." Fang menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
"Hmm ..." Mata Fang mulai berkaca-kaca layaknya anak kecil yang ingin menangis. Tetapi karena harga dirinya yang tinggi, akhirnya dia hanya bisa mengangguk pelan demi menenangkan sang Abang yang mulai naik pitam.
"Bagus." Kaizo menarik pelan tangan Fang dan berjalan masuk ke dalam. "Sebentar lagi kita–"
"FANG!"
Sebuah teriakan bernada tinggi yang khas membuat Fang dan Kaizo memutar kepala mereka ke belakang. Seorang bocah dengan kaos oblong oranye bergambar dinosaurus dan bertopi reptil tampak ngos-ngosan tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Rambutnya basah terkena keringat sehingga menampilkan warna yang ganjil di beberapa helainya.
"B-BoBoiBoy?" Fang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "K-kamu ..."
Dengan langkah berat, BoBoiBoy berjalan ke arah Fang dengan nafas yang masih tersengal-sengal setelah berlari cukup jauh. Fang yang berdiri di depannya pun segera memeluk si oranye yang mulai lemas.
"Syukurlah kamu datang, BoBoiBoy ..." Yang disebut namanya hanya memasang wajah datar dan murung. Tentu saja Fang memasang wajah khawatir akan BoBoiBoy yang kelihatan sangat murung. "Hmm ... Sayang?"
PLAK!
Satu tamparan yang cukup keras berhasil membuat Kaizo menahan tawanya. Hebat ... Setelah bertemu beberapa detik yang lalu, BoBoiBoy malah menampar pipi Fang dengan keras. Si empunya pipi hanya mengaduh-aduh kesakitan karena bekas tamparan tadi sangat terlihat.
"K-kenapa kau tampar pipiku?!" tanyanya setengah tidak percaya.
BoBoiBoy menengadahkan kepalanya menghadap ke Fang yang bertubuh lebih tinggi darinya. "Kamu yang bagaimana?!" Otomatis Fang tercengang dengan bentakan si topi reptil.
"M-maksud kamu?"
"Mengirimiku surat, padahal aku masih bisa ke sini! Ditambah pula, kamu itu cuma mau modus aja atau bagaimana?! Surat yang kau tulis itu terlalu menyakitkan tahu! Lebih sakit daripada ketika kau memakai kacamata hitam ke sekolah dan berpakaian seperti preman!" Suara bentakan BoBoiBoy akhirnya menggelegar menohok dada Fang yang semakin sakit.
"Pfft ... Wahahahaha! Rasain, tuh! Dimarahi sama istrinya sendiri hanya gara-gara modus! Wakakakakak!" tawa Kaizo terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dan memukul-mukul punggung Fang berkali-kali. Yang dipukuli membatu sesaat seperti Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu.
Wajah BoBoiBoy merah padam antara marah dengan rasa malunya karena telah disebut-sebut sebagai istri. Dia tidak begitu memikirkannya. Yang penting adalah bagaimana Fang mau mengakui kesalahannya secara langsung.
"Tadi aku mencarimu ke rumah, namun kamu tidak ada di sana seakan-akan kamu seperti menghilang dari dunia ini! Tentu saja aku panik! Apalagi dengan surat bodohmu itu! Dasar idiot!"
Jleb!
Satu jarum lagi menusuk jantung Fang yang mulai melemah. Suara tawa Kaizo malah semakin keras mengingat adiknya memang adik teridiot yang pernah ada. Sementara Fang sudah mulai berubah menjadi pasir yang siap diterbangkan angin dari Samudera Pasifik.
Meskipun mulutnya telah mengatakan hal-hal yang menyakitkan, tangannya pun melingkari tubuh Fang, bermaksud untuk memeluknya dengan erat. Fang yang tersadar pun gelagapan melihat tingkah BoBoiBoy yang di luar dugaannya. Dia kira BoBoiboy akan melayangkan tinju saktinya ke mulutnya hingga berdarah. Benar-benar di luar kepala.
"Jangan membuatku khawatir seperti tadi," kata BoBoiBoy pelan. "Kau pengkhianat."
"Hehehe ... Maaf." Fang mengeluarkan senyuman terbaiknya pada BoBoiBoy. "Aku akan merindukanmu. Selalu!"
BoBoiBoy hanya tersenyum sinis. "Jangan lupakan aku atau kau harus ku lempar ke laut penuh hiu," balasnya.
Kedua sejoli itu tertawa-tawa sampai sebuah suara dehaman menyadarkan mereka. "Ahem!" Kaizo yang berdiri di dekat mereka menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya berpegangan pada kursi. "Abangnya sendiri dilupakan? Kapan-kapan kami bisa ke sini, 'kan?" tanyanya dingin.
"Hehe, bisa, kok. Tidak ada yang melarang untuk datang ke sini kapan saja, kecuali jika ini adalah negara yang ditinggalkan." BoBoiBoy tersenyum girang.
"Meh, aku bisa saja merubahmu menjadi zombie jika kau mau," tawar Kaizo.
"Tidak, terima kasih. Ini sudah lebih dari cukup."
Fang tertawa kecil melihat sang Abang mulai cukup akrab dengan BoBoiBoy. Kalau begini jadinya, mereka dengan mudah bisa akur dengan cepat. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Mungkin Kaizo mengenal BoBoiBoy (lagi) untuk yang kedua kalinya.
Tangan mungil BoBoiBoy mengambil topinya yang sempat terpasang di atas kepalanya. Diberikannya topi tersebut kepada Fang yang melongo kebingungan. BoBoiBoy sendiri hanya tersenyum penuh arti. "Ini untukmu."
Mulut Fang ternganga melihat topi yang kini berada di tangannya.
"Itu sebagai kenang-kenanganku untukmu di Amerika sana. Jaga baik-baik, ya?" ujar BoBoiBoy.
Fang tersenyum senang dengan apa yang telah diberikan oleh BoBoiBoy. "Kalau begitu, ini untukmu!" Tangannya sibuk mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Sepasang sarung tangan fingerless berwarna ungu tua dia keluarkan dari dalam tas dan diberikannya kepada BoBoiBoy. Si penerima nampak sangat senang dan terkejut.
"S-sarung tangan? Ini bukannya masih harus kamu pakai?" tanya BoBoiBoy kebingungan.
"Haha ... Kata siapa? Aku sengaja menyimpannya sebagai cadangan. Lumayan juga jika ku berikan padamu daripada tidak terpakai." Tangan Fang sibuk memakaikan kedua sarung tangan tersebut pada tangan BoBoiBoy. "Dengan begini, tidak akan ada yang dapat menyentuh tanganmu selain aku. Lihat. Tangan kita sama dan anggaplah sarung tangan kita ini adalah simbol kepemilikan. Aku milikmu dan kau milikku. Hanya aku yang boleh menyentuh tanganmu."
Semburat merah meluncur keluar memenuhi pipi BoBoiBoy. Kata-kata Fang terlalu puitis baginya, sayangnya di saat sedang gelagapan seperti ini dia susah untuk melawan kata-kata Fang barusan.
Senang dengan reaksi yang dikeluarkan BoBoiBoy, Fang pun mencium bibir BoBoiBoy dengan cepat. Hanya ciuman singkat, tetapi sungguh bermakna. Perpisahan yang mereka takutkan kini telah menghilang di balik suara tawa dan rasa penuh kasih sayang. Bahkan Kaizo yang hanya sebatas menjaga sang adik pun ikut terlibat dalam keseruan sang adik dengan kekasihnya.
3 menit berlalu. Kaizo menepuk pundak Fang pelan dan meliriknya. "Waktunya pulang," katanya. Fang hanya tersenyum pada Kaizo dan kembali menatap BoBoiBoy yang berkaca-kaca.
"Kapan kau akan kembali?" tanya BoBoiBoy gusar.
"Hmm? Beberapa tahun mendatang? Kita lihat saja nanti, oke?" jawab Fang, tetap dengan tanda tanya yang cukup membingungkan. Dicubitnya hidung pesek BoBoiBoy sampai bocah oranye itu merasa kegelian. Sudah cukup baginya untuk bersenang-senang. Kini dia harus segera memasuki pesawat sebelum dipanggil oleh pihak informasi. "Baik-baik di rumah, ya?"
BoBoiBoy tersenyum. "Kamu juga." Fang membalas senyuman BoBoiBoy.
"Oh, ya! BoBoiBoy, tolong bilang pada Ochobot, aku akan tetap menghubunginya walaupun aku sudah pulang ke Amerika. Dia cukup gusar ketika tahu aku akan meninggalkannya kembali. Hehehe," pinta Kaizo dengan wajah yang cukup aneh.
"Bang Kaizo naksir Ochobot, ya?" tanya BoBoiBoy polos, diikuti suara terkejut dari Fang.
Kaizo menarik sudut bibirnya. "Bukan begitu. Dia yang memintanya. Sudahlah, susah menjelaskannya. Kami pulang dulu! Bye~!"
Fang ikut melambaikan kedua tangannya kepada BoBoiBoy. "Sampai jumpa lagi!" Seruannya itu seakan-akan merupakan seruan seorang malaikat yang menghiasi kehidupan BoBoiBoy. Bocah berkacamata itu memamerkan gaya sok kerennya kepada BoBoiBoy sampai Kaizo harus menjewer telinganya dan menggeretnya masuk. BoBoiBoy tertawa-tawa melihat tingkah kedua adik-kakak tersebut. Baginya ini adalah hiburan yang cukup langka.
.
.
.
"Aaa~ Sudah pada pulang rupanya." Tiba-tiba seorang bocah berambut pirang menepuk punggungnya pelan. "Padahal belum kasih ucapan selamat tinggal dan teganya mereka meninggalkanku di sini bersama bocah keturunan kadal di sini."
"Hoi, hoi, Ochobot. Apa maksudnya keturuan kadal?" BoBoiBoy melirik tajam Ochobot.
"Hmph. Bukan apa-apa. Ayo pulang. Atok menunggumu dan pelanggan kedai hari ini lumayan ramai."
BoBoiboy mengangguk-angguk dan tersenyum. Dilihatnya wajah Ochobot yang memerah setiap mereka bergandengan tangan bersama, membuat BoBoiBoy gemas dan ingin mencubitinya.
"Kau dengar itu?" tanya BoBoiBoy.
"Dia akan menghubungiku. Like hell I care about him."
"Kamu ini. Sudahlah, mana taxi yang kau ambil waktu itu?"
"Di lubang hidungmu."
"Anjeeeerrrr ...! Gak muat!"
"Hahaha ...! Nanya melulu!"
Kedua sejoli bersahabat ini terus berjalan menuju sebuah lahan parkir yang cukup luas. Tampak sebuah taxi menunggu mereka di sana.
Tapi saat itu BoBoiBoy tak sadar akan satu hal.
Sarung tangan fingerless yang kini menjadi pelindung tangannya mendapat tatapan horor dari Ochobot.
THE END?
JAWABAN REVIEW CHAPTER 11
onchan00 - "Ochobot terlatih begitu, sih ... Dari dulu pinter akting. Wakakakak ...! /plak/ Ini kelanjutannya sudah ada! Maaf sudah menunggu terlalu lama. Haha ... Ingin tahu, nih! Pasti bakalan keren, dech! ^^"
Floral Lavender - "Papanya Fang sudah lama berusaha membujuk Fang untuk pulang, tetapi karena sifat keras kepalanya, akhirnya mereka bersepakat atas satu janji, yaitu Fang akan pulang jika dia telah bertemu dengan BoBoiBoy. Sayangnya Fang sudah lupa dengan perjanjiannya itu. Baperkah? Sama, saya juga! :D"
Febiola558 - "Jadi anime sekalian dramanya, masuk film terus terkenal! Wkwkwkwk ...! xD"
HikariFuruya - "Kasihan juga si Ochobot. Dia tidak bisa bebas berekspresi di depan BoBoiBoy. Wajar ... Namanya juga agen kemiliteran yang suka pasang wajah palsu. Kalau akting, dia pintar. Oh, ya. Ini sudah sesuai keinginan Hira juga. Sebenarnya mau bikin sad ending, tapi daripada nanti season 3-nya hancur hanya karena endingnya tidak pas, lebih baik begini saja. Yah ... Walau belum ending sepenuhnya. :v Papanya Fang cuma bisa bahasa Inggris, karena tinggal di Amerika. Kalau Fang di Malaysia. Akhirnya yang menjadi penerjemahnya hanya Kaizo yang bisa menguasai segala bahasa sejak masa latihannya dulu. :D"
Akhirnya chapter terakhir!
Tangan author pegel ... Siapa yang mau mijetin?
Haha, bercanda doang ... Jangan dianggap serius!
Siapa yang menunggu akhir dari cerita ini sambil guling-gulingan?! Oh, sebelumnya maaf karena update-nya lama. Author mengalami masa-masa ujian Internasional, jadi cukup sibuk akhir-akhir ini. Waktu luangnya tidak ada, dan menulis chapter ini harus dilakukan pada malam hari jam 11 hingga jam 12 malam (dan author pernah bela-belain tidur jam setengah 4 sampai jam 5 pagi hanya demi melanjutkan fic ini). Jangan beranggapan fic ini akan terbengkalai. Sumpah, bukankah author sudah berjanji agar tetap melanjutkan fic ini sampai tuntas?
Tidak disangka-sangka ternyata sudah mau masuk season 3. Bikin aja dramanya sekalian! Kalian para pembaca bisa carikan model atau aktor muda yang cocok untuk filmnya, sisanya kita shooting bareng-bareng! #woi
Gara-gara drama BL di yutub, author benar-benar menjadi fujoshi. Parah, nih!
Btw, untuk kalian yang belum tahu "IG" author, bisa PM author, yaaa ...! *ceritanya lagi promosi*
Ehem! Jadi kalian berharap ingin ada epilognya atau tidak? Karena author penuh dengan misteri, silahkan kalian tebak sendiri. Hehehehe ...
BoBoiBoy kasihan, ya? Baru saja bertemu Ochobot sudah disuguhi pemandangan sedih begini. Siapa yang tidak sedih? Untung saja dia sadar dengan siapa yang ada di dalam taxi yang lewat tadi. Kalau tidak, pasti dia akan berpikir untuk tetap pasrah apa adanya. Ckckck ... Kasihan ...
Tapi siapa yang tidak baper dengan adegan beginian? Dengerin saja lagunya- (woy, udah!)
Oke, segini cukup untuk tulisan author. Jangan lupa untukreview, fav, dan follow! Sampai jumpa di lain waktu! Ciao!
