Previous chapter...

Chanyeol sampai di rumahnya cukup larut malam itu. Dia berjalan gontai, melintasi ruang tengah yang hampir seluruh penerangannya sudah dimatikan. Tetapi yang menyita perhatiannya adalah area dapur yang lampunya masih menyala. Dia mengurungkan diri untuk meniti tangga dan memilih untuk berjalan ke arah dapur.

"Bu?" panggilnya. Namun tidak ada jawaban.

Penasaran, Chanyeol semakin mendekat ke dapur. Masih memanggil nama ibunya berulang kali meskipun tidak mendapat jawaban apa-apa. Mungkinkah orang lain? Atau...mungkinkah pencuri? Tidak mungkin. Sistem keamanan rumahnya sudah sangat canggih. Tidak mungkin seorang pencuri masuk hanya untuk mengobrak-abrik isi dapurnya, kan?

Namun ketika sampai di sana, bukan sosok ibunya atau pencuri yang dia temukan. Melainkan sosok Baekhyun yang tergeletak lemah di lantai dapur yang dingin. Dengan panik Chanyeol menghampiri Baekhyun, membawa gadis itu ke dalam pangkuannya. "Baekhyun? Baekhyun!" panggilnya sambil menepuk pelan pipi gadis itu. Namun Baekhyun sama sekali tidak merespon.

Wajah Baekhyun pucat pasi, tubuhnya terkulai lemas. Dan hal itu membuat Chanyeol khawatir setengah mati. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Baekhyun, gadis yang dicintainya. Dia juga takut terjadi sesuatu pada bayi yang ada di dalam kandungan Baekhyun.

"Baekhyun...sadarlah..."

.

.

.


IF I COULD CHOOSE...

Chapter 14

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kyungsoo EXO (pairing CHANBAEK, SEBAEK, dan CHANSOO)

Genre :

Romance, Hurt, Sad

Rate :

T/ M / Gender Switch (GS)

FF ini terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah aku tonton dari tivi

Tetapi...

Cerita dan alurnya serta dialognya milikku.

.

.

Beware of typos

.

.

Happy reading!

.

.

.


Baekhyun tersaruk-saruk menyelinap keluar dari kamar Chanyeol. Dia ingat betul hari masih terlalu dini, bahkan matahari belum keluar dari peraduannya, tetapi dia tidak bisa menunggu hingga pagi menjelang. Dia harus segera kembali. Kembali ke pelukan Sehun—ke pelukan suaminya, tempat seharusnya dia berada sekarang.

Baekhyun tidak percaya, hal ini terjadi lagi. Kesalahan yang seharusnya tidak dilakukannya lagi, kesalahan yang seharusnya membuat dirinya jera, kini dia melakukannya lagi. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan memberikan celah lagi pada Chanyeol untuk masuk ke dalam kehidupannya, tetapi apa yang sudah dilakukannya? Ya Tuhan... Wanita macam apa dirinya. Ingin sekali dia mengutuk diri sendiri, tapi rasanya semua itu percuma saja. Dia memang wanita yang bodoh. Sangat bodoh.

Menghela napas, Baekhyun mendapati suaminya masih terlelap dengan tenang di tempat tidur mereka. Dengan perlahan, Baekhyun berjalan mendekat, menatap lekat-lekat wajah suaminya itu untuk beberapa saat lamanya, sebelum dia bergabung dengan Sehun dan kembali tenggelam dalam dunia mimpi.

Dan ketika dia membuka mata, kamarnya yang gelap sudah terang benderang. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela. Baekhyun mendapati dirinya sudah berada di dalam pelukan suaminya yang hangat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sehun. "Sehun...?" gumamnya dengan suara mengantuk.

"Hai..." sapanya dengan suara serak. Sepertinya Sehun juga baru saja terjaga sama seperti istrinya.

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Baekhyun sambil mengusap pipi Sehun.

Yang ditanya tersenyum lembut. "Tentu saja. Tetapi... entah kenapa aku merasa kau tidak ada di sampingku semalam..." katanya yang membuat Baekhyun membeku.

Apa mungkin... Sehun tahu? Astaga! Baekhyun membuka mulut untuk berbicara, namun semua kalimat itu seperti tercekat di tenggorokannya. "A-aku..."

.

"Eughh..."

Chanyeol buru-buru menutup sambungan teleponnya ketika mendengar suara lemah Baekhyun yang tengah terbaring di tempat tidur miliknya. Padahal dia sudah berniat menghubungi dokter klinik perusahaannya untuk datang memeriksa keadaan gadis itu. Dengan sigap dia menghampiri Baekhyun dan membantu gadis itu untuk duduk. "Kau sudah sadar?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

"Chanyeol?" tanya Baekhyun bingung ketika mendapati wajah Chanyeol-lah yang pertama memenuhi pandangannya saat dia membuka mata. Seingatnya, tadi dirinya sedang di dapur, mengobrak-abrik isi lemari es untuk mencari beberapa makanan untuk mengobati rasa lapar yang setiap saat datang mengusiknya. Dan sekarang dia ada di... "Di mana aku?" tanya Baekhyun, mengabaikan pertanyaan penuh kekhawatiran milik Chanyeol itu.

"Di kamarku. Aku menemukanmu tak sadarkan diri di dapur. Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menyingkirkan lengan Chanyeol yang bertengger di pundaknya dan menatap pria itu dengan terkejut. "Di kamarmu? Kau gila? Kenapa kau membawaku kemari?" ujarnya marah.

"Kau pingsan."

"Tapi bukan berarti kau punya hak membawaku ke kamarmu!" amuk Baekhyun. Sedetik yang lalu dia masih merasa lemas dan pusing, tapi sekarang, bahkan untuk membakar Chanyeol hidup-hidup saja rasanya dia sanggup. Kenapa pria ini begitu gegabah?

"Aku benar-benar panik. Oke?" jelas Chanyeol. "Dan bisakah kau pelankan suaramu? Seluruh penghuni rumah ini bisa mendengar teriakanmu." Baekhyun menghela napas gusar. Dia hendak turun dari tempat tidur namun Chanyeol menahannya. "Mau ke mana?"

"Kau pikir?" ujar Baekhyun sinis. "Aku harus kembali ke kamarku. Sehun bisa saja menyadari kalau aku tidak ada di sampingnya."

"Tidak, Baekhyun. Kau harus di sini. Aku akan menelepon dokter dan memastikan kondisimu dan bayi kita."

"Apa?" tanya Baekhyun tak percaya.

"Aku khawatir padamu. Aku ingin tahu kondisi kalian. Aku ingin tahu kenapa kau pingsan tadi."

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja!"

"Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Sekali ini saja kau dengarkan perintahku," kata Chanyeol tegas, kesal.

Baekhyun memutar bola matanya kesal. "Kau tidak punya hak untuk memerintahku, Tuan Park. Sekarang, biarkan aku pergi."

Kesal dengan penolakan bertubi-tubi dari gadis yang dicintainya itu, Chanyeol tidak punya pilihan lain selain menerjang Baekhyun hingga gadis itu kembali terlentang di atas tempat tidur, dengan Chanyeol berada tepat di atasnya dan memenjarakan kedua lengan Baekhyun di samping kepala.

"Apa yang kaulakukan?" Baekhyun terkesiap, matanya membulat sempurna. Dia berusaha meronta, namun sayang yang dilakukannya sia-sia belaka. Tenaga Chanyeol jelas berkali-kali lipat lebih besar darinya.

"Kalau saja aku tidak ingat ada anak kita di dalam rahimmu saat ini, mungkin aku sudah kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang buruk padamu..." geram Chanyeol.

"Kau ingin melukaiku?"

"Tidak. Aku hanya ingin memberimu pelajaran," sahut Chanyeol tajam.

Jujur, Baekhyun menggigil mendengar pernyataan Chanyeol. Dia belum pernah melihat Chanyeol semarah ini. Tentu saja Chanyeol memang pria yang selalu meledak-ledak, tetapi kali ini amarahnya bercampur baur bersama perasaan putus asa, sakit hati, dan kesedihan.

"L-lepaskan aku, C-chanyeol..."

"Kau pikir setelah semua yang telah terjadi di antara kita, setelah semua penderitaan dan rasa sakit hati yang kauberikan padaku, aku akan melepaskanmu begitu saja?" tanya Chanyeol dengan suara beratnya, mata tertuju lurus pada manik mata Baekhyun yang memancarkan ketakutan.

"K-kumohon..."

"Apa?"

"Lepaskan aku, Chanyeol... Jangan seperti ini..." Baekhyun masih meronta. Tetapi cengkraman tangan Chanyeol justru semakin kuat, seakan hendak meremukkan pergelangan tangan Baekhyun yang kurus.

Jauh di lubuk hatinya, Chanyeol ingin sekali menyakiti Baekhyun. Memberi pelajaran berharga pada gadis di bawahnya ini karena sudah membuatnya jatuh cinta dan menderita. Tetapi sampai kapan pun dia tidak bisa melakukannya. Dia memang sangat membenci Baekhyun, namun rasa cintanya sudah melampaui kebencian itu sendiri. Dia begitu memuja Baekhyun. Dan tidak pernah berhenti mengharapkan gadis itu. Tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa memikirkan Baekhyun—juga bayi mereka yang kini tengah dikandung Baekhyun.

"Aku mencintaimu, Baekhyun..." bisik Chanyeol lirih dan putus asa. Tatapan tajamnya melunak. "Dan sampai kapan pun perasaan ini akan tetap sama..." lanjutnya. Dia menatap Baekhyun cukup lama namun tidak mendapatkan jawaban apa pun dari gadis itu. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun dan terisak di sana. Persetan dengan harga dirinya! Toh, Baekhyun sudah menghancurkannya berkali-kali hingga tak berbentuk lagi. Dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini selain perasaan cintanya pada Baekhyun.

"Chanyeol..." Baekhyun berhenti meronta dan dengan sendirinya cengkraman tangan Chanyeol terlepas. Awalnya Baekhyun terdiam kaku, namun setelah sekian lama dan Chanyeol masih saja terisak di atasnya, akhirnya Baekhyun memberanikan diri untuk menaruh kedua tangannya di punggung Chanyeol dan mengusapnya lembut—menenangkan pria malang itu.

"Aku terlalu mencintaimu, Baekhyun...sampai-sampai aku tidak bisa berpikir jernih. Di kepalaku hanya ada dirimu dan bagaimana cara mendapatkanmu—bagaimana cara agar kau dan Sehun berpisah, sehingga kau bisa menjadi milikku seutuhnya. Aku mungkin sudah gila. Tetapi aku rela menjadi gila jika itu bisa membuatmu ada di sisiku. Aku mencintaimu, Baekhyun..."

Baekhyun hampir saja menitikan air mata. Ah, sebenarnya sejak tadi hatinya sudah menangis. Dia tidak bisa memungkiri bahwa memang pria inilah yang dicintainya. Akan tetapi, apa artinya cinta bila ada orang lain yang tersakiti oleh cinta mereka? Sehun sudah begitu baik dan sangat mencintainya. Dia tidak sampai hati untuk menyakiti Sehun. Dia memang tidak mencintai Sehun, tetapi dia menyayangi pria itu. Dan perasaan sayang itu tidak bisa begitu saja dihapuskan. Sehun sudah menjadi bagian dari kehidupannya, bagian dari dirinya. Suaminya.

"Chanyeol, jangan seperti ini..." kata Baekhyun sembari mendorong pelan dada pria itu hingga Chanyeol bangkit dan duduk. Baekhyun sendiri memposisikan diri untuk duduk di samping Chanyeol. Dia tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi perasaan sakit itu terpancar jelas di mata angkuh milik Chanyeol. Dan dirinya adalah penyebab dari semua kekacauan ini. Oh Tuhan. "Aku dan bayi ini baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," kata Baekhyun, tak ada lagi kilatan emosi.

Chanyeol menatap perut Baekhyun yang masih datar dan memberanikan diri untuk menyentuhnya. "Kau akan membiarkannya hidup sampai dia lahir nanti kan?"

Baekhyun menghela napas resah. Dia tidak menjawab. Tetapi dari raut wajahnya, Chanyeol bisa membaca bahwa Baekhyun juga tidak sampai hati membunuh bayi mereka yang tidak bersalah. Dia sudah menyelamatkan banyak nyawa dengan pekerjaannya sebagai perawat. Tidak mungkin dia justru menghilangkan nyawa anaknya sendiri, kan?

"Bagaimana pun aku adalah ayahnya," kata Chanyeol. "Aku ingin melihatnya lahir ke dunia dan tumbuh dewasa... Kau juga berpikiran sama denganku kan? Kau menyayangi anak kita kan?"

Baekhyun menundukkan wajahnya. Dia memang tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Tetapi tentu saja Chanyeol tidak tahu kalau Baekhyun sudah menyusun rencana matang di kepalanya untuk calon bayinya ini jika dia lahir kelak. Ketika bayi ini lahir, maka dia akan mengumumkan pada dunia bahwa bayi ini adalah milik Sehun, bukan Chanyeol. Dan sekali lagi, Baekhyun akan benar-benar menghancurkan perasaan Chanyeol jika dia melakukannya. Tetapi, apa dia punya pilihan lain yang lebih baik?

"Aku akan melakukan apa pun untuk kalian berdua. Jika kau mengalami morning sick atau mengidamkan sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. Aku akan selalu ada untukmu dan anak kita. Dan aku harap kau juga mau pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu. Aku ingin kau dan bayi kita sehat, Baekhyun."

Baekhyun menatap mata Chanyeol yang memancarkan ketulusan. Seandainya dirinya lebih dulu bertemu dengan Chanyeol daripada Sehun, mungkin saat ini dia sudah memilih Chanyeol. Bahagia dalam pelukan hangat pria angkuh yang dicintainya ini. Dia juga tidak perlu merisaukan apa pun. Dan mungkin, Baekhyun akan dengan senang hati menjalani kehamilan dan menantikan kelahiran bayi mereka. Oh, andai dia bisa merubah takdir...

"Kau mau kan memeriksakan diri ke dokter?" tanya Chanyeol, memastikan.

Baekhyun terdiam lagi. Dia tanpa sadar mengelus perutnya dengan hati-hati. Apa salahnya bayi malang ini merasakan kasih sayang dan perhatian ayah kandungnya walau hanya sekali...? Dan akhirnya, Baekhyun mengangguk setuju.

Chanyeol tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya dan segera menghambur untuk memeluk Baekhyun. Setelah puas memeluknya, Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya dan membawa gadis itu untuk sebuah ciuman yang dalam dan penuh cinta.

.

"A-aku ada di sini, di sampingmu. Memangnya aku ke mana?" kata Baekhyun sedikit tergagap diakhiri dengan kekehan dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya.

"Entahlah, mungkin aku hanya bermimpi," kata Sehun mengedikkan bahu, tampak tidak begitu peduli. Kemudian dia mendaratkan bibirnya di bibir tipis Baekhyun, mengecupnya untuk beberapa saat sebelum dia mengerang manja. "Jangan pergi bekerja hari ini... Tinggalah di sini bersamaku. Aku ingin memelukmu seharian penuh..."

Baekhyun menghela napas, kemudian tertawa. "Tidak bisa. Aku harus pergi."

"Satu hari saja kau mengambil cuti..." Sehun memelas.

"Sehun, kau tidak boleh seperti ini. Sudah kubilang kan, kalau aku hamil, aku janji aku akan berhenti bekerja dan lebih fokus pada keluarga kecil kita."

Sehun tidak merespon pada kalimat itu dan Baekhyun menganggapnya sebagai tanda bahwa Sehun sudah menyerah membujuknya. Dia melepaskan diri dari pelukan Sehun dan turun dari tempat tidur. Sementara Sehun masih berbaring di sana, tampak sedih dan kecewa.

"Aku janji akan pulang cepat hari ini. Bagaimana?" tawar Baekhyun sebelum dia memasuki kamar mandi.

"Kau tidak bohong kan?" tanya Sehun seperti bocah lima tahun yang dijanjikan orang tuanya akan dibelikan mainan.

Dan hal ini membuat Baekhyun mau tak mau merasa gemas, dia menghampiri Sehun dan memberikan kecupan hangat di bibir suaminya. Kemudian dia berbisik di bibir basah itu. "Aku janji."

.

.

.

Baekhyun harus berjalan agak jauh dari kediaman keluarga Park dan memberikan sejuta alasan pada Sehun kenapa hari ini dirinya tidak membawa serta mobilnya untuk bekerja dan memilih untuk naik kendaraan umum. Dia berjalan sedikit cepat dan sesekali menengok dengan was-was kebelakang, takut-takut seseorang mencurigai gerak-geriknya. Atau... Sehun membuntutinya.

Ah, dia pasti sudah gila...

Setelah beberapa saat lamanya berjalan kaki, akhirnya sosok yang ditujunya terlihat juga. Chanyeol sedang bersandar di mobilnya sambil membenarkan letak kacamata hitamnya. Dia tampak begitu tampan dan memesona dengan pakaian kerja dan postur tubuhnya yang tinggi dan gagah.

Melihat Baekhyun yang tengah berjalan ke arahnya, Chanyeol menyunggingkan seulas senyum. Dia membukakan pintu mobil untuk Baekhyun. "Maaf sudah membuatmu berjalan agak jauh dari rumah."

"Tidak masalah," gumam Baekhyun. Rasa bersalah masih menggelayut di dadanya mengingat bahwa dia sudah membohongi Sehun.

Chanyeol berjalan memutar ke sisi lain mobil dan segera duduk di kursi kemudi. Baekhyun yang ada di sampingnya hanya terdiam dengan perasaan berkecamuk. Dan tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan keberadaan Chanyeol yang begitu dekat, hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "A-apa yang kaulakukan?" tanya Baekhyun jengah.

"Sabuk pengamanmu," kata Chanyeol santai sambil memasangkan seatbelt dan memastikan Baekhyun sudah aman di tempat duduknya.

Baekhyun menundukkan wajahnya malu. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak barusan. Dia pikir, Chanyeol akan melakukan sesuatu yang kurang ajar padanya, tetapi rupanya dia hanya ingin memasangkan sabuk pengaman saja.

"Sudah siap?" tanya Chanyeol.

"T-tunggu..." Baekhyun menahan tangan Chanyeol. Pria itu menatapnya bingung. "Aku tidak mau pergi ke dokter kandungan di rumah sakit tempatku bekerja. Sebaiknya kita cari rumah sakit lain..."

Chanyeol tersenyum. "Baiklah kalau itu yang kaumau. Lagi pula, itu bukan masalah bagiku."

Baekhyun mengangguk. Pagi-pagi sekali, setelah mandi, Baekhyun diam-diam menghubungi rumah sakit dan mengatakan bahwa dirinya sedang dalam kondisi yang kurang baik untuk pergi bekerja. Dan beruntungnya, rumah sakit memberinya satu hari untuk beristirahat.

Baekhyun mendesah pelan. Hari ini dia sudah membohongi banyak orang... termasuk suaminya sendiri.

.

.

.

"Selamat, tuan Park, usia kandungan istri anda sudah menginjak 4 minggu. Masih muda dan sangat rentan sehingga anda dan istri anda harus lebih berhati-hati dan menjaga kandungan dengan baik. Sebaiknya untuk sementara waktu, nyonya Park dianjurkan untuk tidak melakukan pekerjaan berat dan lebih fokus untuk beristirahat, menjaga pola makan dan satu lagi..." kata dokter, menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "... di sini saya menemukan bahwa nyonya Park mengalami kekurangan nutrisi. Wanita hamil tentu saja tidak bisa disamakan dengan wanita lainnya. Asupan gizi yang cukup dan sesuai juga harus dipenuhi agar janin bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Nyonya Park, anda harus benar-benar memperhatikan pola makan dan jangan lupa untuk minum susu khusus ibu hamil..."

Baekhyun mendengarkan penjelasan dokter kandungan dengan perasaan tak menentu. Empat minggu. Usia kandungannya sudah menginjak usia empat minggu. Sudah sebesar apa janin berusia empat minggu? Itu baru sebesar kacang almond. Kecil, rapuh, dan tak berdaya. Dia bahkan belum memiliki bentuk tubuh dan organ sempurna. Hanya segumpal darah dan daging. Tetapi kenapa perasaannya begitu berkecamuk mendengar penjelasan sang dokter?

Di sisi lain, Chanyeol memastikan semua yang dikatakan dokter kandungan sudah dicatat dengan baik di kepalanya. Dan, oh Tuhan, kenapa Baekhyun bisa kekurangan nutrisi? Apa selama ini dia tidak menjaga pola makan? Selalu melewatkan jam makan? Tidak pernah mengonsumsi makanan bergizi? Tidak pernah minum susu ibu hamil? Oh, rasanya Chanyeol ingin sekali marah pada Baekhyun.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Baekhyun tidak berkata apa-apa. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan sedih.

"Dokter kandungan itu pikir kalau kau adalah istriku..." kata Chanyeol, tersenyum miris pada kalimatnya sendiri.

Tetapi Baekhyun tidak punya waktu untuk menanggapi kalimat Chanyeol barusan. Dia sedang sibuk memikirkan bagaimana bisa dia melewati hari-harinya dengan perut yang semakin hari akan semakin membesar. Sementara sampai saat ini dia belum mengatakan apa pun tentang kehamilannya pada Sehun maupun ibu mertuanya.

"Mau ke mana?" tanya Baekhyun yang melihat Chanyeol berbelok—menjauhi pintu keluar rumah sakit.

"Kau duduk dan tunggu di sini. Aku akan segera kembali."

Tanpa melayangkan protes apa pun, Baekhyun duduk di lobi. Sementara Chanyeol sudah menghilang ke bagian sayap timur rumah sakit. Dan setelah hampir lima belas menit menunggu dengan tidak sabar, akhirnya Chanyeol muncul dengan kantong besar di tangannya.

"Apa itu?" tanya Baekhyun.

"Susu untukmu. Mulai sekarang kau harus minum susu ini dengan teratur. Aku sudah membeli semua rasa. Jadi jika kau bosan dengan rasa vanila, kau bisa mencoba rasa yang lain. Dan jika stok susu ini sudah habis, kau hanya perlu mengatakannya padaku dan aku akan langsung membelikan susu yang baru untukmu."

"Kau tidak perlu melakukan ini," kata Baekhyun, menggeleng tidak setuju.

"Baekhyun..." gumam Chanyeol. "Kau sudah berjanji kan kali ini akan menurut padaku."

Baekhyun menggigit bibirnya resah. "Tapi jika aku pulang membawa sekantung besar susu ibu hamil, semua orang di rumahmu akan curiga padaku."

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. Jujur, dia tidak berpikir sampai ke sana. Yang menjadi prioritasnya hanya kesehatan Baekhyun dan anak mereka. Itu saja.

"Sehun tidak tahu kalau aku sedang mengandung, Chanyeol," kata Baekhyun membeberkan fakta.

"Tapi cepat atau lambat dia harus tahu. Dan dia juga harus tahu kalau anak dalam kandunganmu bukan anaknya."

Baekhyun tidak bisa melakukan ini. Sejak awal dia memang hanya ingin bermain aman. Mana mungkin dia mengatakan dengan gamblang pada Sehun bahwa dirinya sedang hamil, apa lagi bayi itu bukan bayi Sehun. Tidak.

"Sebaiknya kita bicarakan ini nanti," kata Baekhyun, benar-benar tidak ingin membahas masalah ini lebih jauh lagi.

.

.

.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Baekhyun karena saat ini dirinya sudah duduk dengan nyaman di sofa panjang di dalam ruang kerja Chanyeol. Pria itu membawanya ke perusahaan dan membiarkan Baekhyun melakukan apapun yang dia mau di ruangan itu, sementara Chanyeol sendiri sibuk dengan berkas dan meeting yang harus diikutinya hari itu. Sebesar apa pun dia ingin menghabiskan waktu bersama Baekhyun, Chanyeol tidak bisa meninggalkan begitu saja pekerjaannya.

Ruang kerja Chanyeol cukup luas, namun tata interiornya biasa-biasa saja. Baekhyun menyimpulkan bahwa mungkin Chanyeol tidak terlalu menaruh perhatian pada hal-hal detail seperti itu. Di sisi ruangan di sebelah kanan, terdapat rak besar yang berisi buku-buku tebal yang Baekhyun sama sekali tak paham isinya karena sebagian besar buku itu berbahasa inggris. Kalau diperhatikan dengan seksama, ruangan ini memang terkesan begitu membosankan. Ruangan ini seperti ditempati oleh pria paruh baya, meskipun kenyataannya Chanyeol adalah seorang eksekutif muda yang luar biasa tampan.

Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu. Dan kepala sang sekretaris muda yang menyapanya tadi di depan ruangan Chanyeol muncul dari balik pintu, tersenyum ramah padanya. "Apa saya mengganggu anda?"

"Oh, tidak. Masuklah. Ada apa?" tanya Baekhyun tak kalah ramah.

"Sajangnim memerintahkan saya untuk membuatkan anda jus jeruk. Saya juga membawa beberapa jenis kue dan potongan buah-buahan. Sajangnim berpesan supaya anda menghabiskan makanan ini sebelum dia kembali dari meeting," kata sang sekretaris.

"Boleh aku tahu kapan meeting-nya berakhir?"

"Mungkin sekitar pukul 12. Saat jam makan siang."

"Baiklah, terima kasih."

Sekretaris muda itu pun keluar dari ruangan. Baekhyun menatap makanan di depannya dengan mata berbinar. Tadi pagi dia hanya sarapan dengan selembar roti cokelat dan segelas jus apel. Masih ada sekitar satu jam sebelum meeting berakhir, jadi untuk menenangkan perutnya yang keroncongan, Baekhyun mulai mencicipi kue-kue lezat yang sudah tersaji di atas meja.

Ketika Chanyeol kembali dan masuk ke ruangannya, dia mendapati piring-piring kue dan potongan buah-buahan sudah hampir tandas. Baekhyun tengah mendengkur halus, berbaring di atas sofa dengan tangan memeluk perut datarnya. Melihat pemandangan itu membuat jantung Chanyeol berdegup kencang. Dia selalu mendambakan ini. Melihat wajah Baekhyun setelah melalui hari yang melelahkan adalah satu dari sekian banyak harapan dalam hidupnya.

Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun dan berjongkok di sisi sofa, menatap lekat-lekat wajah Baekhyun yang tertidur pulas. Tangannya terulur menyampirkan beberapa helai rambut Baekhyun yang jatuh dan menutupi sebagian wajahnya. Gadis ini tidak pernah berubah. Selalu cantik memerdaya meskipun kelihatannya dia tampak lebih kurus dari sebelumnya.

Chanyeol bertanya-tanya dalam hati bagaimana dirinya bisa begitu memuja dan mencintai Baekhyun. Sampai-sampai dia tidak bisa lagi melihat gadis lain selain gadis yang ada di depan matanya ini... Dan sampai saat ini dia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Ada banyak di luar sana gadis yang lebih cantik dan bertubuh lebih indah, tetapi kenapa dia harus mencintai istri adik kandungnya sendiri?

Mengusap pipi Baekhyun dengan ibu jarinya, Chanyeol mendekatkan wajahnya perlahan, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka dan memberikan kecupan hangat pada bibir tipis Baekhyun yang menggoda. Oh, dia merasa berdosa karena sudah mencuri sebuah ciuman dari gadis tak berdaya ini, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium Baekhyun saat itu juga.

.

.

.

"Kau sudah kembali?" tanya Baekhyun ketika dia terbangun. Dia melihat Chanyeol duduk di balik mejanya dan menenggelamkan diri dengan berkas-berkas yang perlu diperiksa dan ditandatangani.

"Hmmm," sahutnya.

"Jam berapa ini..." gumam Baekhyun dan melirik jam dinding besar dan antik yang tergantung di dinding di atas pintu ruangan. Pukul satu siang. "Kau sudah makan siang?"

"Belum."

"Kau menyuruhku untuk makan teratur tapi kau sendiri tidak melakukannya!" ujar Baekhyun kesal.

Chanyeol menaruh pekerjaannya dan menghela napas. "Aku menunggumu bangun. Kau juga pasti lapar kan? Kita makan bersama."

Baekhyun mengangguk.

"Kau mau makan apa? Akan kupesankan," kata Chanyeol meraih gagang telepon dan menekan satu tombol yang langsung terhubung ke telepon sekretarisnya.

"Aku..." Baekhyun berpikir sebentar. "Aku ingin tteokbeokki."

"Tidak, Baekhyun. Itu makanan pedas dan tidak baik untuk kandungan dan pencernaanmu. Kau bisa sakit perut."

"Kau bilang akan melakukan apa saja untukku!" rajuk Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

Melihat ekspresi wajah Baekhyun yang begitu menggemaskan, Chanyeol hanya bisa menatapnya dengan dada bergemuruh. Oh, mungkin seperti ini rasanya memiliki seorang istri yang sedang mengidam... Chanyeol harus menelan ludahnya gugup mendapati tatapan memelas Baekhyun yang tidak pernah dia tunjukkan pada Chanyeol sebelumnya. "B-baiklah ini semua demi kau..." Chanyeol mengalah. Kemudian dia berbicara pada sekretarisnya di telepon.

Tak sampai tiga puluh menit, semua makanan yang diinginkan Baekhyun sudah tersaji di atas meja. Baekhyun lupa sepenuhnya bahwa kurang dari dua jam yang lalu, dia sudah mengisi perutnya dengan kue-kue dan potongan buah-buahan. Tetapi sekarang dia sudah melahap makanan di atas meja seolah dia sudah tersesat di gurun selama tiga hari dan tidak menemukan sedikit pun makanan.

"Pelan-pelan. Nanti kau bisa tersedak," kata Chanyeol mengusap punggung Baekhyun pelan. Dia duduk di samping Baekhyun dan menikmati makanannya. Seandainya setiap hari bisa seperti ini, Chanyeol rela mengorbankan semua yang dimilikinya. Hanya agar bisa menghabiskan waktu berdua bersama Baekhyun tanpa harus berperang mulut dan saling menyakiti perasaan satu sama lain.

Baekhyun menoleh pada Chanyeol yang duduk tepat di sampingnya dan hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Dia menatap pria itu dengan mata sipitnya yang dibuat sepolos mungkin. "Bolehkah aku mendapatkan eskrim setelah ini, Chanyeol?"

"Tap—"

"Aku mohon..." rengeknya manja, tidak lupa mengguncang lengan Chanyeol pelan.

Sejak kapan Baekhyun berubah menjadi manja seperti ini...? batin Chanyeol.

"B-baiklah," gumam Chanyeol. Dia memang tidak bisa menolak.

"Terima kasih, Chanyeol," kata Baekhyun. Dan yang membuat Chanyeol terkejut adalah gadis itu menghabur untuk memeluknya, juga tidak lupa mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Chanyeol.

.

.

.

Baekhyun melupakan sepenuhnya janji yang sudah dia buat untuk Sehun. Dan ketika dia sampai di kediaman keluarga Park sekitar pukul sembilan malam—setelah seharian membolos kerja dan menghabiskan waktu bersama Chanyeol, dia disambut oleh wajah masam milik Sehun yang sedang duduk tanpa minat sambil mengganti-ganti channel tivi di ruang tengah.

"Oh Tuhan... maafkan aku, Sehun," kata Baekhyun buru-buru menghampiri suaminya dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sehun, merasa sangat bersalah. Tetapi dia tidak punya pilihan selain membuat alasan yang masuk akal yang tidak akan membuat Sehun marah padanya. "Ada operasi dadakan hari ini. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya."

"Kau sudah makan malam?" tanya Sehun, ada nada kesal di dalam kalimatnya.

Istri macam apa aku, rutuk Baekhyun dalam hati.

"Aku?" Baekhyun malah bertanya balik. "Aku...sudah makan malam di rumah sakit. Bagaimana denganmu?"

"Aku menunggumu supaya kita bisa makan malam bersama," kata Sehun yang membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.

"Ya Tuhan... Aku tidak tahu kau menungguku, Sehun. Seharusnya kau makan saja, tidak perlu menungguku pulang."

"Kau mematikan ponselmu seharian ini," gumam Sehun mengerucutkan bibirnya.

"Maafkan aku," kata Baekhyun lagi. Dia mati-matian menelan rasa bersalahnya pada Sehun karena sudah membohongi suaminya seharian ini.

.

.

.

Baekhyun menyelinap masuk ke dalam kamar mandi di mana Sehun berada. Pria itu sedikit terkejut ketika tangan Baekhyun menyelinap di pinggangnya dari belakang, sementara Sehun baru saja selesai menggosok gigi. Baekhyun memeluknya dari belakang dan menyandarkan wajahnya di punggung tegap suaminya.

"Kenapa lama sekali?"

"Aku baru saja selesai," kata Sehun. Dia memutar tubuhnya sehingga kini dirinya dan Baekhyun duduk saling berhadapan. "Kenapa menungguku?"

"Aku ingin menghabiskan malam denganmu."

"Setiap hari kita menghabiskan malam bersama," kata Sehun tak mengerti.

"Itu lain," bisik Baekhyun seduktif. Kemudian dia mengecup bibir suaminya singkat dan tersenyum mempesona. Baekhyun menarik Sehun keluar dari kamar mandi dan membawa prianya ke tempat tidur.

Sehun menuruti kemauan istrinya dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Baekhyun memang sedikit agresif dan selalu punya inisiatif untuk memulai segalanya lebih dulu, tetapi Sehun tidak pernah keberatan. Dia justru menyukainya. "Kau merindukanku ya?" bisik Sehun di telinga istrinya setelah sebelumnya mengecup bibir tipisnya yang manis.

Baekhyun hanya tertawa pelan. Dia tidur terlentang dan Sehun kini sudah berada di atasnya—menguasainya. Tubuh saling menghimpit dan wajah begitu dekat. "Kau masih marah padaku?"

"Marah? Kapan aku marah padamu?" tanya Sehun sambil menghujani wajah Baekhyun dengan ciuman.

"Kau marah padaku karena akhir-akhir ini aku selalu pulang terlambat hari ini."

"Ah ya, kau memang menyebalkan," kata Sehun acuh. Tangannya sudah bergerilya ke setiap lekuk tubuh Baekhyun yang masih tertutup pakaian tidur.

"Aku sudah berjanji akan berhenti bekerja, kau ingat?"

"Ya. Kapan kau akan memenuhi janjimu itu?"

"Maka dari itu..." Baekhyun menghela napas ketika Sehun mengecup payudaranya. "... hamili aku, Sehun."

Seketika Sehun berhenti dari kegiatannya. Gairahnya tiba-tiba saja padam seperti disiram air dingin. Sehun berguling ke sisi lain tempat tidur, menggumamkan kata "aku lelah" dan "sebaiknya kita tidur saja" , kemudian terlelap dengan posisi memunggungi istrinya.

Baekhyun masih mengerjap bingung—tak bergerak. Apa dia sudah melakukan kesalahan? Atau melakukan sesuatu yang membuat Sehun marah? Dia benar-benar tidak mengerti. Sedetik yang lalu mereka berdua sedang asyik dibakar gairah, tetapi tiba-tiba Sehun menghentikan semuanya, tampak tidak berminat. Apakah ada sesuatu yang salah dalam dirinya? Oh Tuhan... apakah mungkin Sehun menyadari sesuatu? Apa perutnya sudah kelihatan membuncit?

Jujur, setelah itu Baekhyun tidak bisa memejamkan matanya lagi. Dia bergerak gelisah di atas tempat tidur mereka. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, namun bukannya mengantuk, matanya malah semakin terbuka lebar. Mengerang putus asa, Baekhyun bangkit dari tempat tidurnya.

"Sehun..." bisik Baekhyun tepat di telinga suaminya. Namun Sehun tidak terusik sama sekali. Baekhyun berusaha mengguncang tubuh Sehun pelan, berharap suaminya akan terjaga. Tetapi tetap saja Sehun tidak bergeming.

Akhirnya Baekhyun hanya mampu menghela napas. Dia memutuskan untuk turun ke dapur dan mencari makanan di lemari es. Mungkin dengan mengisi perutnya hingga kenyang, dia bisa tidur dengan nyenyak setelahnya.

Menyelinap keluar dari kamarnya, Baekhyun segera menuruni tangga menuju dapur. Dan ketika dia sampai di sana, Baekhyun hampir saja memekik terkejut ketika melihat sosok tinggi tegap di kegelapan. Hampir saja dia berteriak namun segera bisa menguasai diri ketika menyadari bahwa sosok itu hanyalah Chanyeol. Ini adalah kali pertama Baekhyun bertegur sapa lagi dengan Chanyeol setelah mereka pergi memeriksakan kandungan Baekhyun seminggu yang lalu.

"Kau mengejutkanku!" ujar Baekhyun kesal.

"Justru kau yang membuatku terkejut," kata Chanyeol menghampiri Baekhyun. Dengan begitu, wajah tampannya bisa terlihat dengan jelas oleh Baekhyun. "Kenapa belum tidur?"

"Aku baru saja akan bertanya hal yang sama padamu."

"Aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Ini sudah malam, Chanyeol," kata Baekhyun, berusaha untuk tidak terlihat begitu perhatian pada pria di depannya, tapi sepertinya tidak berhasil. "Seharusnya kau punya waktu yang cukup untuk istirahat."

"Aku sudah terbiasa tidur larut sejak menjadi penerus tunggal perusahaan keluarga," kata Chanyeol terdengar pahit. Kini dirinya dan Baekhyun sudah duduk di koter dapur dengan masing-masing dari mereka memegang segelas air putih.

Oh, Baekhyun pernah mendengar tentang ini dari Sehun. Sehun bilang Chanyeol tidak benar-benar menginginkan menjadi penerus perusahaan. Dia ingin menjadi seorang musisi. Menciptakan lagu, bernyanyi. Bukan menjadi dirinya sekarang, yang harus bekerja dengan menekuni berkas, memimpin ribuan pegawai perusahaannya, dan menenggelamkan diri di balik meja kerjanya di ruangan yang membosankan.

Pasti berat bagi Chanyeol harus menjalani hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya...

"Kau sendiri, apa yang kau lakukan tengah malam begini?" tanya Chanyeol.

"Aku hanya mencari sesuatu untuk mengisi perut..." kata Baekhyun mengedikkan bahu.

"Kau mau makan sesuatu? Aku bisa pergi keluar untuk membelinya jika kau mau," tawar Chanyeol. Dan Baekhyun segera menggeleng.

"Tidak. Tidak. Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku punya beberapa stok makanan di lemari es."

Chanyeol mengangguk kemudian dia menatap Baekhyun. "Bagaimana kabarnya?"

Baekhyun mengerutkan dahinya bingung mendengar pertanyaan Chanyeol, namun kemudian dia mengerti siapa yang sedang ditanyakan pria itu. Secara refleks, Baekhyun mengulurkan tangannya dan mengelus perutnya pelan. "Aku belum merasakan apa pun."

"Mungkin sebentar lagi. Dua atau tiga bulan lagi kau akan bisa merasakan keberadaannya," kata Chanyeol.

Ya, sebentar lagi, batin Baekhyun. Sebentar lagi mimpi buruk yang paling buruk akan segera datang menghampirinya.

"Aku akan menjadi ayah," gumam Chanyeol, mengulum senyum. Dia membayangkan bagaimana hari-harinya akan diwarnai dengan tangisan bayi, terjaga tengah malam hanya untuk membuatkan susu atau mengganti popok anaknya. Akan tetapi bayangan itu hanya akan menjadi kenyataan kalau dulu Baekhyun memilihnya. Atau, Baekhyun menyerahkan hak asuh anak mereka pada Chanyeol. "Kau ingin anak kita berjenis kelamin laki-laki atau perempuan?"

Oh, demi Tuhan, Baekhyun bahkan tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. "Aku tidak tahu," aku Baekhyun sambil menundukkan wajahnya, menghindari tatapan mata Chanyeol.

Anak kita. Anak kita. Anak kita. Kepala Baekhyun sampai pusing mendengar Chanyeol berulang kali mengatakan itu.

Baekhyun beranjak menuju lemari es dan mencari makanannya di sana. Chanyeol hanya duduk memerhatikan gerak-gerik gadis itu. Kalau dilihat, Baekhyun memang sangat kurus untuk ukuran wanita hamil, dia harus makan lebih banyak lagi agar bayi di dalam kandungannya tumbuh dengan baik. Dan melihat Baekhyun yang bangun di malam hari hanya untuk mengisi perutnya, rasanya Chanyeol ingin membelikan apa pun, mengabulkan apa pun keinginan Baekhyun. Makanan apa pun, sesulit atau seaneh apa pun, akan dicarinya jika Baekhyun meminta.

"Aku sudah kenyang," kata Baekhyun mendesah lega. Berharap setelah perutnya benar-benar kenyang, rasa kantuk akan segera menghampiri.

"Aku juga akan kembali ke ruang kerjaku," kata Chanyeol sambil beranjak dari duduknya. Mereka berjalan beriringan meniti tangga. Sesampainya di ujung tangga, Chanyeol berbelok ke lorong sebelah kanan sementara Baekhyun ke kiri. "Selamat malam," kata Chanyeol yang terdengar seperti bisikan.

"Selamat malam," balas Baekhyun kemudian berpaling ke lorong yang gelap yang harus dilewatinya. Dia berjalan pelan dengan pikiran berkecamuk—entah apa penyebabnya. Ragu sekali untuk melangkah. Entah apa yang merasuki pikirannya, Baekhyun berbalik dan menerjang Chanyeol yang cukup terkejut dengan sikap tiba-tiba Baekhyun.

Dalam sekejap mata, Baekhyun sudah menghapus jarak di antara mereka berdua. Mendaratkan bibirnya ke bibir tebal Chanyeol—yang diam-diam sangat dirindukannya itu. Chanyeol awalnya tidak merespon namun tidak ada satu pria pun yang mampu menolak pesona gadis seperti Baekhyun, apalagi Baekhyun yang sedikit agresif seperti ini.

Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan mengangkat tubuhnya yang ringan hingga kedua kakinya melingkar di pinggang Chanyeol. Ciuman itu masih berlangsung, semakin dalam dan panas. Pikiran keduanya sudah berkabut nafsu ketika Chanyeol membawa Baekhyun tanpa suara, masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Kemudian Chanyeol membaringkan gadis itu di tempat tidurnya, menguasai Baekhyun yang sudah pasrah di bawahnya.

Deru nafas memburu saling bersahutan. Chanyeol merasukinya. Baekhyun setengah mati untuk tidak menghasilkan suara apa pun yang dapat membuat seluruh penghuni rumah terbangun, tersiksa dengan kenikmatan yang tidak bisa dia lampiaskan melalui sebuah lolosan desahan. Chanyeol tidak berhenti menghujamnya dengan kenikmatan. Mata keduanya terpejam didera kenikmatan yang diam-diam selama ini mereka rindukan. Dan entah dihujaman ke berapa, baik Chanyeol mau pun Baekhyun, akhirnya mereka mendapatkan puncak kenikmatan mereka.

"Aku mencintaimu, Baekhyun. Sangat. Sangat mencintaimu," bisik Chanyeol sebelum rasa kantuk menguasai keduanya.

.

.

.

"Apa kabar?"

Malam itu ketika Baekhyun membukakan pintu, Kyungsoo sudah berdiri di depan kediaman keluarga Park dengan senyum manis khasnya yang ramah. Baekhyun membalasnya dengan senyum kaku—masih merasa tidak suka dengan keberadaan Kyungsoo. Entah kenapa. Setiap kali melihat wajah Kyungsoo, ada perasaan tidak suka pada gadis itu. "Seperti yang kaulihat," sahut Baekhyun mengedikkan bahu.

"Kau tampak lain, tampak berbinar," puji Kyungsoo.

Tetapi Baekhyun sudah terlanjur salah mengartikan ucapan Kyungsoo. Dia juga merasa tersinggung. "Apa maksudmu?"

Kyungsoo menatap Baekhyun bingung. "Maafkan aku, Baekhyun. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja—"

"Kau datang, nak?" tiba-tiba nyonya Park muncul dan menyapa Kyungsoo.

"Apa kabar, bu," sapa Kyungsoo sementara Baekhyun masih menahan kesal pada gadis itu.

"Baik sekali. Bagaimana denganmu?" tanya nyonya Park.

Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Baekhyun mengikuti mereka dari belakang dengan langkah kecil, mencuri dengar percakapan antara Kyungsoo dan ibu mertuanya. Keakraban Kyungsoo pada mertuanya juga menjadi salah satu pemicu ketidaksukaan Baekhyun pada gadis bermata besar itu. Ah, segala sesuatu yang ada di dalam diri Kyungsoo memang tidak ada yang Baekhyun sukai. Kyungsoo terlalu sempurna bila dibandingkan dengannya.

Ketika semua sudah berkumpul dan makan malam sudah disajikan, Chanyeol yang sejak tadi diam seribu bahasa tiba-tiba mencuri perhatian semua orang yang ada di ruang makan. "Aku dan Kyungsoo... sudah mengatur tanggal pernikahan kami."

.

.

.


TBC


.

.

.

Hai, guys!

Masih adakah yang menunggu update-an FF abal ini? T.T

Maaf banget buat yang nungguin FF ini, karena aku nggak bisa update cepat... heuheuheu... Tapi aku selalu berusaha untuk tetap ngerjain cerita ini walau waktu luang yang aku punya Cuma sedikit. *curcol dikit*

Oh iya, aku tahu aku terlalu banyak menyiksa CY dan BH di sini. Kayaknya mereka gak pernah bahagia ya...? Susah banget buat bersatu... Aku tahu... Aku tahu... tapi bersabar-lah sedikit teman-teman... Kebahagiaan pasti akan datang pada mereka (cieeee). Hanya saja, waktunya belum sekarang. Hehehe...

Thanks berat buat yang udah support dan memberikan review yang bikin aku ngikik... atau review yang membangun... ada juga yang mengungkapkan rasa keselnya karena CY selalu dibuat menderita. Aku emang sengaja nyiksa CY karena sampe sekarang aku masih gak percaya ada cowo seganteng dia...wkwkwkw... dunia ini gak adil... (apasih!)

Thanks juga yang udah fav dan follow... buat silent readers... thanks juga... semoga di chapter ini kalian menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak...

Lastly, I love you guys!

Happy Satnite!

See ya next chapter... muachhhhhhhh