.
.
Fight to Love
.
HaeHyuk Fanfiction
.
.
Happy Reading^^
.
.
Kyuhyun menghirup nafas dalam. Perasaan lega itu menghampirinya saat melihat sosok mungil yang baru saja diangkat dari perut Hyukjae. Hanya sekejap, sampai sebuah suara seolah menghentikan detak jantungnya.
Mesin pendeteksi jantung itu berbunyi keras, membuat Kyuhyun dan semua yang ada di sana memfokuskan pandangan ke arah layar. Garis bergelombang itu semakin melemah, bahkan nyaris membentuk garis lurus. Angka yang berada di layar bergerak (?) turun, dengan sangat cepat dan kini mencapai angka nol.
PIIIIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP...
Dan bunyi memekakkan itu berdengung keras, disertai layar monitor pendeteksi jantung yang kini sepenuhnya membentuk garis lurus.
.
.
::: HAEHYUK :::
.
Donghae masih setia pada posisinya. Berdiri mematung menatap kosong ke arah pintu ruang operasi di mana Hyukjae berada. Matanya merah berair, lantunan Do'a tak pernah berhenti mengalun dalam benaknya. Sudah tiga jam berlalu, namun tak ada tanda-tanda jika pintu berwarna putih itu akan terbuka.
Ting!
Bunyi yang cukup nyaring, menyadarkan Donghae dan semua orang yang berada di depan ruang operasi. Terlihat lampu di atas pintu yang tadinya berwarna merah kini sudah padam, menunjukkan jika kegiatan yang tengah berlangsung di dalamnya sudah selesai. Semua pandangan teralih ke pintu, menunggu seseorang yang sekiranya akan keluar dari ruangan itu.
Benar saja, tak begitu lama setelahnya tampak pintu di depan mereka terbuka. Terlihat sosok Kyuhyun yang keluar masih dengan baju operasinya. Entah bagaimana ekspresinya tak ada yang tahu karena Dokter muda itu hanya menundukkan kepalanya dalam. Melihatnya, jantung Donghae berdetak tak beraturan. Kenapa? Apa yang terjadi? Ada apa dengan Hyukjae? Bagaimana dengan anak mereka? Sekiranya itulah pertanyaan yang tengah berputar di otak Donghae.
Masih tak ada pergerakan dari Kyuhyun, namja tampan itu masih berdiri dengan kepala tertunduk tanpa melangkah sedikitpun. Memantapkan hatinya perlahan Donghae melangkah menghampiri Kyuhyun.
" K-Kyu..."
Suara itu terucap begitu lirih. Kyuhyun tak bergeming, masih setia dengan posisinya.
" S-semua baik-baik saja kan Kyu?" Entah bagaimana, tapi Donghae sendiri tak yakin dengan pertanyaan yang dilontarkannya.
" J-jawab aku Kyu. Kenapa kau diam saja huh? Hyuk...Hyukkie dan anak kami... baik-baik saja kan?"
Berusaha membuat suaranya senormal mungkin, tapi terasa sebagai hal yang mustahil bagi Donghae. Karena pada nyatanya suaranya begitu bergetar, menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan yang teramat sangat. Sedang yang lainnya, tak mampu hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata pun. Semua sekan tercekat dengan keadaan saat ini.
" Katakan. Katakan apa yang terjadi Dr Cho... KENAPA KAU DIAM SAJA CHO KYUHYUN!"
Donghae kalap. Melihat Kyuhyun yang hanya terdiam dengan kepala tertunduk sungguh membuat Donghae tak mampu untuk menahan diri. Dia mencengkeram erat kedua bahu Kyuhyun, mengguncangnya keras seakan memaksa Kyuhyun untuk mengatakan sesuatu.
Perlahan Kyuhyun mengangkat kepalanya. Matanya yang terlihat memerah dan sedikit bengkak cukup menunjukkan jika ia baru saja menumpahkan air matanya. Cengkeraman di bahunya terlepas, saat mata tajamnya bertemu dengan mata teduh Donghae.
Melihat keadaan Kyuhyun sekarang, Donghae justru mematung. Pandangan matanya menatap tepat ke mata Kyuhyun, namun jika dilihat lagi pandangan mata itu terlihat begitu kosong. Tidak, semoga apa yang difikirkan Donghae tak terjadi. Hyukjae-nya baik-baik saja bersama anak mereka. Itulah yang masih Donghae dengungkan di kepalanya.
Tubuh kekarnya sedikit terhuyung ke belakang saat tiba-tiba Kyuhyun merangkulnya. Tubuh Donghae menegang sempurna. Apa ini? Kenapa Kyuhyun bersikap seperti ini? Semua baik-baik saja kan? Mata teduh itu kini mulai tergenangi selaput bening. Bisa dirasakan tubuh Kyuhyun yang bergetar, dan Donghae tahu jika Dokter itu tengah menangis sekarang. Kyuhyun yang biasanya bersikap dingin, sekarang menangis? Donghae bahkan tak bisa merasakan apapun sekarang.
" Anak kalian... H-Hyukkie Hyung.. Hiks... Dia...Hiks..."
Ucapan terbata dari Kyuhyun seolah membuat jantung Donghae semakin berdetak tak karuan. Bahkan semua orang yang ada di sana sudah meneteskan air matanya.
" Mereka... Hiks."
Donghae masih diam, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang begitu kosong. Suara Kyuhyun yang begitu lirih justru terdengar seperti teriakan memekakkan untuknya.
" Mereka berdua selamat. Mereka selamat Hyung. Hyukkie Hyung, anak kalian, mereka berdua selamat. Mereka selamat Hyung... Hiks"
Air mata Donghae mengalir tepat ketika Kyuhyun mengucapkan kata terakhirnya. Benarkah? Benarkah apa yang ia dengar? Anaknya? Hyukjae nya? Mereka selamat? Benarkah? Donghae bahkan tak bisa berkata apapun. Bisa didengarnya suara tangis beberapa orang di belakangnya, namun seakan tubuhnya begitu kaku. Hanya air mata yang kini mengalir di kedua matanya. Menunjukkan kelegaan dan rasa syukur yang teramat sangat.
Mendapatkan kembali kesadarannya, Donghae mengangkat kedua tangannya. membalas rangkulan Kyuhyun dengan erat. Menggumamkan terima kasih berulang-ulang pada seseorang yang kini sudah ia anggap seperti adiknya. Keadaan masih dilingkupi suasana haru sampai Dr Park yang keluar dari ruang operasi mengalihkan semua perhatian mereka termasuk juga Donghae dan Kyuhyun.
Leeteuk dan Kangin segera menghampiri Dr Park diikuti semua yang ada di sana.
" Bagaimana Hyukkie? Bagaimana bayinya?" Leeteuk bertanya tak sabaran. Dr senior itu menghela nafas panjang sebelum melepas kaca matanya dan menatap ke arah mereka semua.
" Seperti yang dikatakan . Mereka berdua selamat. Bayinya laki-laki dan sangat sehat." Ucapan syukur itu mengalun bersamaan dari semua yang ada di sana.
"Tapi,-." Menggantungkan ucapannya, Dr Park sontak mendapatkan tatapan bingung bercampur khawatir dari semuanya.
" Operasi jantung yang dilakukan memang berhasil. Tapi kami belum bisa memastikan kondisinya."
" M-Maksudmu?" Suara bergetar itu lagi yang terdengar. Donghae mengucapkannya dengan perasaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Ia hanya ingin tahu sejelas-jelasnya tentang keadaan istri nya.
" Begini..."
.
.
Flash Back On
Bayi yang baru saja diangkat dari dalam perut Hyukjae segera mendapat penanganan dari beberapa Dokter dibantu Kyuhyun. Sedang beberapa Dokter yang lain segera menutup kembali luka sayatan di perut Hyukjae. Dr Park masih menyelesaikan operasi jantung yang dilakukan.
Raut lega itu begitu terpancar di wajah Kyuhyun saat mengetahui jika bayi itu selamat dengan kondisi yang begitu baik. Tapi tak berlangsung lama karena alat pendeteksi jantung yang terpasang di tubuh Hyukjae tiba-tiba saja berbunyi dengan kerasnya.
PIIIIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP...
Dan bunyi nyaring itu berdengung keras, disertai layar monitor pendeteksi jantung yang kini sepenuhnya membentuk garis lurus. Kyuhyun masih mematung, terlalu syok dengan kejadian yang begitu tiba-tiba sampai teriakan Dr Park menyadarkannya.
" DOKTER CHO APA YANG KAU LAKUKAN? CEPAT LAKUKAN TINDAKAN! JANTUNGNYA BERHENTI BERDETAK!"
Wajah namja paruh baya itu terlihat panik sekarang. Sadar akan kondisi yang terjadi saat ini dengan cepat Kyuhyun bergerak. Menghampiri Dr Park yang masih berusaha menyelamatkan Hyukjae.
Mengerahkan semua kemampuannya, Dr Park serta Kyuhyun melakukan apapun supaya jantung itu kembali berdetak. Kyuhyun begitu tegang, bahkan tangannya terlihat sedikit bergetar. Matanya memerah dengan kristal bening yang justru mengaburkan sedikit pandangannya. Menghapus air mata yang hampir saja menetes dengan kasar, Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Menahan segala isakan yang mungkin keluar dengan masih berusaha mengembalikan detak jantung itu.
' Ku mohon.. Ko mohon berdetaklah. Hyukkie Hyung... Ku mohon Tuhan...'
Tak juga membuahkan hasil, Kyuhyun menatap panik ke arah Dr Park yang saat ini juga tengah menatapnya dengan pandangan yang begitu serius.
" Gunakan itu, Dr Cho. Tak ada pilihan lain.." Kyuhyun menatap tak percaya ke arah Dr Park. Mata namja paruh baya itu menatapnya tajam.
"Itu adalah jalan terakhir satu-satunya yang bisa kita lakukan. Kita usahakan semuanya, selanjutnya hanya Tuhan yang menentukan. Jadi, lakukan. Lakukan sekarang, sebelum semuanya benar-benar terlambat."
Air mata Kyuhyun menetes. Dengan langkah cepat, Kyuhyun mengambil sebuah tabung kecil berisikan cairan bening. Cairan yang mungkin akan menentukan semuanya. Membuat organ paling vital di tubuh Hyukjae kembali berdetak, atau mungkin mati sepenuhnya. Memasukkan cairan itu ke dalam suntikan, dan dengan langkah tergesa kembali menghampiri meja operasi. Memandang Dokter senior di depannya, mendapatkan anggukan mantap dari sang Dokter.
Kyuhyun memfokuskan pandangannya, mencari celah di mana sekiranya ia akan menyuntikkan cairan itu ke dalam organ baru yang berada di tubuh Hyukjae. Menemukan titik yang tepat, perlahan Kyuhyun mendekatkan jarum itu.
Hanya tinggal beberapa centi, namun tangan Kyuhyun bergetar hebat. Terlalu ragu untuk melakukannya sampai ia merasakan tepukan lembut di bahunya. Menatap Dr Park yang seakan memberikan keyakinan kuat padanya. Kyuhyun memantapkan hatinya. Semua berada di tangannya sekarang, ia yang akan melakukannya.
Kembali mengangguk yakin, menancapkan jarum di salah satu bagian jantung Hyukjae, mendorong tuas suntikan perlahan sampai cairan bening itu habis sepenuhnya. Menarik kembali suntikannya, pandangannya kosong menatap ke bagian dada Hyukjae yang masih terbuka. Ia tak tahu lagi, ia pasrah sekarang. Walaupun begitu untaian do'a tak pernah berhenti merapal di dalam benaknya. Beberapa detik tak ada reaksi apapun, sampai-
" Jantungnya kembali berdetak..."
Seruan seorang perawat seolah menjadi penyejuk di tengah ketegangan yang ada di ruangan. Semua Dokter kembali mengambil tindakan, kecuali Kyuhyun yang justru mematung. Suntikan yang tadi dipegangnya terjatuh begitu saja. Air mata mengalir deras membasahi pipinya dan tak lama isakan itupun keluar.
Menundukkan tubuh, Kyuhyun menenggelamkan kepala di pundak Hyukjae, menangis di sana tak peduli dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Mengelus surai halus itu dengan tangannya, berbisik lirih di telinga Hyukjae.
" Syukurlah... Terima kasih..Hiks.. Terima kasih..Hiks..Hiks..."
Yah, akhirnya jantung Hyukjae kembali berdetak setelah disuntikkan cairan entah apa itu. Walaupun masih begitu lemah, tapi paling tidak harapan besar tercipta sekarang. Hyukjae masih belum sadar. Pemantauan intensif masih terus dilakukan guna memastikan jika operasi ini berhasil sepenuhnya.
Flash Back Off
.
::: HAEHYUK :::
.
Donghae membuka pintu putih itu, melangkah pelan ke arah seorang perawat yang beberapa saat lalu membungkuk hormat padanya. Donghae tersenyum saat perawat itu sedikit bergeser, membuatnya bisa melihat sebuah ranjang kecil yang kini di tempati sesosok bayi mungil. Donghae sejenak tertegun sebelum melangkah mendekatinya.
Entah bagaimana mengungkapkan perasaan Donghae saat ini. Tepat di depannya, terdapat sosok yang begitu mempesona. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tengah terlelap dengan damainya.
" B-bisakah aku menggendongnya?"
Bahkan suaranya bergetar kaku ketika mengatakannya. Perawat yang sedari tadi berada di sana tersenyum mendengar pertanyaan Donghae.
" Tentu saja tuan."
Kemudian perawat itu melangkah. Mengambil bayi tersebut dari ranjang lalu memberikannya perlahan kepada Donghae. Dengan gerakan kaku dan gugup Donghae menggendongnya, memposisikan bayi tersebut di lengan kirinya senyaman mungkin. Mengamati apa yang berada dalam pelukannya dengan intens, seakan Donghae begitu enggan mengalihkan pandangannya.
" Putra anda sangat tampan tuan Lee." Suster di depannya berucap sembari tersenyum.
Donghae mengangkat tangan kanannya, membawanya perlahan menyentuh lembut pipi chubby putih dengan rona kemerahan yang begitu kentara. Membuat kepala si bayi menggeliat dalam gendongannya. Bibir mungil itu mengerucut lucu disusul mata kecil yang terbuka perlahan, menampakkan lensa yang terlihat begitu bening.
" Ya..., kau benar. Dia tampan. Tampan sekali."
Donghae berucap penuh haru, terbukti dari matanya yang kini basah sepenuhnya. Sejujurnya ia masih tak menyangka jika sekarang ia bisa menggendong sosok mungil ini. Anaknya, darah dagingnya, buah cintanya dengan seseorang yang begitu dikasihinya.
Anaknya begitu tampan. Amat sangat tampan. Dengan mata dan bibir yang sepenuhnya mewarisi miliknya, rambut lebat yang begitu halus dengan warna hitam legam, serta hidung mancung kecil dan kulit seputih susu yang persis dengan ibunya. Jangan lupakan rona merah di pipinya yang membuat wajah bayi ini terlihat semakin menggemaskan.
" Selamat datang jagoan kecil Daddy... Terima kasih sayang... terima kasih telah lahir di dunia ini. Terima kasih..."
Donghae mengelus lembut rambut anaknya. Mendekapnya lebih erat namun tak sedikitpun menyakitinya. Mengecup perlahan kening sang anak Donghae memejamkan mata, bersamaan dengan setetes liquid bening menuruni pipinya. Mengungkapkan kebahagiaan dan rasa syukur yang tiada tara. Begitu tulus, begitu menyentuh. Bahkan perawat yang sedari tadi memandang interaksi ayah dan anak itu kini menyeka sedikit air matanya.
" Hae".
Panggilan itu membuat Donghae membalikkan tubuhnya. Bisa dilihat orang tuanya serta orang tua Hyukjae memasuki ruangan, disusul beberapa orang yang begitu di kenalnya. Secara otomatis semua mata tertuju pada satu objek yang sama membuat mereka menghentikan langkah, sosok mungil yang berada dalam gendongan Donghae.
" H-Hae... D-dia..."
Heechul menoleh ke arah Leeteuk yang berdiri di sampingnya. Donghae tersenyum lebar kemudian melangkah mendekati kedua Ummanya. Leeteuk meneteskan air matanya tanpa sadar, sedang Heechul kini menutup mulutnya dengan tangan berusaha untuk tak menjerit.
Tangan Leeteuk terulur, perlahan mengambil bayi itu dari gendongan Donghae. Pergerakan yang terjadi membuat bayi yang tadi terlelap dalam dekapan ayahnya kini menggeliat lucu. Membuahkan pekikan dari beberapa orang di sana.
" Cucuku..." Leeteuk bergumam lirih sebelum mencium lembut pipi kemerahan si bayi berulang-ulang.
" Dia... Begitu tampan Hae-ah..." Leeteuk berucap tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cucunya. Donghae sendiri masih setia dengan senyum lebarnya.
" Hyung, aku juga ingin menggendongnyaaaa..." Rengekan Heechul membuahkan kikikan geli dari yang lain. Dengan pelan Leeteuk menyerahkan bayi itu pada Heechul, yang tentu saja disambut dengan begitu antusias.
" Aigooo... dia sangat tampan."
Heechul memekik girang. Semakin heboh saat dilihatnya si bayi menguap dan menggeliat dalam pelukannya.
" Omo... Omo... Omo... Astaga... Dia menggemaskan sekaliiii... Iya kan Hyung?" Dan Leeteuk hanya tersenyum menanggapi perkataan Heechul. Menepuk pelan pundak Donghae untuk mendapatkan sedikit perhatiannya, karena sedari tadi Donghae masih terpaku pada sosok sang anak.
" Hyukkie sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kau bisa melihatnya sekarang."
Perkataan Leeteuk membuat ekspresi di wajah tampan itu sedikit berubah. Donghae begitu bahagia akan kehadiran bayinya, tapi tak dipungkiri jika kebahagiaan itu masih belum sempurna mengingat kondisi Hyukjae yang belum bisa dipastikan. Donghae tersenyum sendu dan mengangguk, mengecup sekilas pipi anaknya sebelum keluar dari ruangan itu.
::: :::
Tampak Hyukjae yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mata indahnya masih terpejam erat. Di lengan kirinya selang infus masih menempel, serta masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya. Tak ada suara apapun di sana, selain alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi teratur. Donghae yang sedari tadi berdiri di depan pintu kini melangkah menghampiri Hyukjae. Mendudukkan dirinya di sebuah kursi tepat di samping istrinya yang berbaring.
Mata sendunya menatap lekat wajah seseorang yang begitu dicintainya. Masih cantik seperti biasa walau tampak pucat serta tertutup masker oksigen. Meraih jemari lembut sang istri, Donghae menyusupkan jarinya di sela-sela jari Hyukjae. Menggenggamnya erat namun lembut kemudian membawanya ke depan wajah, mengecupnya begitu lama. Beberapa menit terlewat sampai Donghae sedikit menjuhkan tangan Hyukjae, mengalihkan kembali fokusnya pada wajah manis di depannya.
Bergerak lebih dekat ke arah istrinya Donghae mengecup kening Hyukjae, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupinya. Tangan kirinya terangkat, mengelus surai Hyukjae yang senantiasa terasa lembut di tangannya. Mata sendu itu tiba-tiba berembun, tak cukup lama sampai satu tetes air mata mengalir dari sana.
" Chagiya... Apa kau mendengarku?" Donghae berucap begitu lembut, sarat akan kasih sayang yang begitu besar.
" Kau tahu Hyuk...? Apa kau tahu jika dirimu begitu kuat sayang?"
Walaupun tahu ia tak akan mendapatkan jawaban apapun saat ini, namun Donghae tetap berbicara seakan Hyukjae benar-benar mendengar ucapannya.
"Kau begitu kuat hingga bisa membawanya melihat dunia ini Hyuk." Donghae tersenyum begitu lembut kala mengingat sosok kecil anggota baru di keluarganya.
" ..."
" Kau tahu baby, dia begitu tampan. Sangat tampan. Kau tak ingin melihatnya segera hm?"
" ..."
" Kau pasti ingin melihatnya kan, melihat sosok yang telah berhasil kau perjuangkan selama ini, sosok yang selalu kita nanti-nantikan." Donghae masih tersenyum walaupun wajah tampan itu sudah basah sepenuhnya sekarang.
" ..."
" Maka bangunlah sayang. Bangun dan buka matamu. Kali ini Hyuk, bolehkah aku yang memohon. Berjuanglah sekali lagi. Berjuanglah untuk tetap bersama kami. Aku membutuhkanmu Hyuk, Baby membutuhkanmu, Kami semua membutuhkanmu..."
Donghae mengeratkan genggamannya pada tangan Hyukjae. Mengirup nafas dalam seolah mengumpulkan kembali kekuatannya.
" Aku yakin kau mendengarnya sayang. Cepatlah bangun, kami menunggumu. Saranghae..."
Donghae mengecup punggung tangan Hyukjae begitu lama. Menelusuri lengan Hyukjae dengan ciuman yang begitu lembut. Donghae bangkit memeluk tubuh Hyukjae dengan erat, menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Hyukjae, menghirup dalam aroma yang begitu menenangkan. Masih sama. Bahkan aroma manis tubuh Hyukjae tak pernah berkurang sedikitpun.
::: :::
Tiga hari berlalu setelah operasi Hyukjae. Donghae membuka matanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Sepertinya ia kelelahan sehingga tanpa sadar tertidur saat menjaga Hyukjae. Dapat dilihatnya Kyuhyun yang masuk ke dalam ruang rawat Hyukjae seraya tersenyum ke arahnya.
" Pagi Hae Hyung." Sapaan itu terlontar saat Kyuhyun berada di samping ranjang Hyukjae, tepat di seberang Donghae.
" Pagi Kyu." Donghae tersenyum sembari mengusak rambutnya.
" Sepertinya kau kelelahan Hyung. Istirahatlah sebentar jangan sampai kau sakit."
Ucapan Kyuhyun hanya ditanggapi gumaman dari Donghae. Setelahnya ruangan itu menjadi sunyi. Kyuhyun tengah memeriksa kondisi Hyukjae dengan Donghae yang memperhatikannya lekat-lekat.
" Bagaimana Kyu?" Donghae bertanya tepat setelah Kyuhyun selesai memeriksa kondisi Hyukjae. Nada khawatir jelas sekali di sana dan Kyuhyun memberikan senyum menenangkan ke arah Donghae.
" Kondisinya cukup baik Hyung. Jantungnya juga sudah mulai stabil. Sebentar lagi perawat akan datang melepas beberapa alat medis yang tak lagi diperlukan. Kita hanya perlu menunggunya membuka mata. Melihat kondisinya, tak lama lagi Hyukkie Hyung pasti bangun."
Mendengar penjelasan Kyuhyun, perasaan lega tak terkira membuncah di hati Donghae. Sungguh ia bahagia sekarang. Hyukkie nya baik-baik saja, anak mereka selamat. Dan ucapan syukur itu tak pernah berhenti mengalun dalam benak Donghae.
" Oh iya Hyung. Karena Hyukkie hyung belum bangun maka untuk sementara ini bayi kalian masih harus berada di ruang bayi. Nanti jika Hyukkie hyung sudah bangun dan kondisinya sudah lebih kuat, baru bayi kalian akan dibawa ke sini."
Setelahnya terlihat beberapa suster yang masuk ke ruangan hendak melepaskan semua peralatan yang sekiranya tak dibutuhkan lagi di tubuh Hyukjae.
.
::: HAEHYUK :::
.
Sudah tiga hari berlalu semenjak kondisi Hyukjae dinyatakan stabil, tapi sampai saat ini namja manis istri Lee Donghae itu belum juga membuka matanya. Donghae sempat menanyakannya pada Dokter Park dan Kyuhyun, tapi jawabannya selalu saja sama.
'Dia masih membutuhkan waktu untuk istirahat. Sebentar lagi dia juga bangun.'
Sebenarnya Donghae sedikit kesal dengan jawaban mereka. Dari kemarin dan kemarinnya lagi mereka selalu mengatakan sebentar, tapi istrinya itu belum juga bangun sampai sekarang.
Seperti hari-hari sebelumnya, siang ini Donghae masih setia memandangi wajah tidur Hyukjae. Ia sendirian, semua keluarganya pergi ke ruang bayi tempat dimana anaknya berada.
" Baby, kenapa kau belum bangun juga hm? Tak tahukah kau jika kami begitu merindukanmu di sini?"
"..."
" Kau tahu Hyuk, padahal baru beberapa hari tapi Baby semakin hari semakin terlihat tampan dan menggemaskan. Kkkk" Donghae berucap sembari terkikik kecil mengingat sosok mungil buah hatinya. Memang benar, anaknya begitu tampan.
" ..."
" Bangunlah Hyuk, Bangun sayang..."
Hyukjae masih saja diam tak memberi respon membuat Donghae kembali menghela nafas. Bangkit dari duduknya Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah Hyukjae. Memandang wajah cantik alami itu dari jarak yang begitu dekat. Donghae tersenyum kemudian mencium kening Hyukjae dengan sayang. Masih dengan posisinya saat tiba-tiba Donghae tersentak.
Benarkah? Ia tak salah kan? Donghae baru saja merasakan jika tangan dalam genggamannya bergerak. Mengalihkan fokus pandangan ke tangan Hyukjae. Lagi. Jari lentik itu bergerak kecil. Rona bahagia tampak jelas di wajah tampan Donghae.
" Hyukkie..."
Donghae memanggil Hyukjae begitu lembut, berusaha membantu sang istri mengumpulkan kekuatan untuk membuka matanya. Entahlah tapi jantung Donghae berdegup begitu kencang. Bisa dilihatnya mata yang terpejam itu bergerak kecil sebelum kedua belah kelopak itu terbuka pelan, menampakkan lensa bening yang begitu Donghae rindukan.
Senyum lebar tampak di wajah Donghae saat melihat mata Hyukjae yang bergerak ke segala arah sebelum terpaku padanya.
" H-Hae..." Dan sura lirih Hyukjae berhasil membuat setetes air mata haru mengalir dari mata Donghae.
" Syukurlah... Syukurlah kau bangun sayang."
Tak membuang waktu Donghae segera menekan tombol yang ada di atas ranjang rawat Hyukjae. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa Dokter dan perawat yang segera memeriksa keadaan namja manis itu.
::: :::
Donghae masih memandang lekat ke arah mata yang kini juga tengah menatapnya sayu. Tangan kirinya sedari tadi ia gunakan mengelus lembut kepala Hyukjae. Jarak wajah mereka begitu dekat seolah Donghae tak mau kehilangan pemandangan yang begitu indah di depannya. Ck, ia bahkan tak peduli dengan Kyuhyun dan keluarganya yang juga berada di sana.
" Hae..."
" Hmm..." Menjawab panggilan Hyukjae dengan gumaman yang begitu lembut serta bibir yang tak berhenti melengkungkan senyum.
" A-anak kita-."
" Dia baik-baik saja sayang." Ucapan Hyukjae terhenti saat Donghae memotongnya. Suaminya itu tersenyum begitu lembutnya.
" Baby kita baik-baik saja sayang, Dia sehat sekali." Mendengarnya entah kenapa justru membuat mata Hyukjae berkaca-kaca.
" Kau tahu Hyuk, Baby kita begitu tampan. Tampan sekali." Donghae berkata dengan mata yang kini setengah basah, berbeda dengan Hyukjae yang kini sudah meneteskan air matanya walau bibir itu melengkungkan senyuman.
" Tapi Hyuk, jangan iri padaku. Karena baby kita benar-benar mirip denganku."
Baik Donghae maupun Hyukjae sama-sama terkekeh, walaupun dari kedua pasang mata itu sama-sama meneteskan cairan bening. Bukan. Bukan lagi kesakitan dan ketakutan yang mereka rasakan saat ini, melainkan sebuah perasaan haru serta bahagia yang begitu meluap.
Donghae menghapus lelehan air mata di pipi Hyukjae sebelum membawa istrinya ke dalam sebuah dekapan erat yang begitu hangat. Bahkan beberapa orang yang berada di ruangan itu turut menangis haru menyaksikan moment di depannya.
::: :::
" Suster, kapan aku bisa melihat bayi-ku?" Hyukjae bertanya kepada seorang perawat yang kini tengah melepas infus di tangannya.
Selama satu minggu setelah Hyukjae sadar, dia memang masih belum bisa melihat anak nya mengingat kondisinya yang masih begitu lemah serta luka jahitan bekas operasinya juga belum mengering. Sekarang ini bisa dibilang kondisinya sudah amat sangat baik, sehingga infusnya sudah di lepas. Perawat tersebut tersenyum ke arah Hyukjae, belum sempat menjawab suara lain menginterupsi keduanya.
" Sekarang juga kita bisa menjemputnya sayang." Donghae masuk dengan mendorong sebuah kursi roda.
" Hae?" Hyukjae menatap sedikit bingung ke arah suaminya.
" Iya chagi, aku sudah menemui Dr Park. Dan sekarang kita bisa membawanya. Tadinya Dr Park bilang baby akan diantarkan ke ruanganmu, tapi bukankah lebih baik jika kita yang menjemputnya?"
Donghae sedikit terkejut saat tiba-tiba Hyukjae memeluknya erat. Tak lama sampai ia membalas pelukan Hyukjae sambil sesekali memberikan kecupan di puncak kepala Hyukjae.
" Kau yang terbaik Hae. Aku mencintaimu."
" Tentu saja. Aku lebih mencintaimu. Kajja." Donghae segera mengangkat tubuh Hyukjae yang tadinya duduk di ranjang. Dengan sangat perlahan mendudukkannya di kursi roda yang tadi dibawanya.
" Kau tak apa sayang." Donghae bertanya khawatir saat dilihatnya Hyukjae yang sedikit meringis. Tersenyum menenangkan ke arah suaminya, Hyukjae mengangguk yakin.
" Aku tak apa Hae. Ayo cepat, aku tak sabar melihat Baby."
.
.
Jantung Hyukjae berdegup kencang saat perawat membuka pintu bercat putih di depannya. Semakin berdebar saat Donghae mendorong kursi roda yang kini didudukinya masuk ke dalam ruangan. Terdapat seorang perawat juga di sana, berdiri di samping ranjang kecil yang sepertinya tengah melakukan sesuatu dengan selimut kecil di tangannya. Si perawat menoleh kemudian tersenyum melihat Donghae dan Hyukjae. Menyelesaikan sedikit kegiatannya kemudian si perawat menggeser tubuhnya.
Hyukjae bisa melihatnya. Di ranjang kecil itu terdapat sosok mungil yang kini tengah tertidur lelap. Hyukjae memandangnya lekat, tak sedikitpun mengalihkan tatapannya bahkan saat Donghe kembali mendorong kursi rodanya mendekati ranjang.
Menghentikan dorongannya pada kursi roda yang diduduki Hyukjae tepat di samping ranjang kecil di ruangan itu, membuat dirinya maupun Hyukjae bisa melihat dengan jelas sosok yang tengah terlelap. Donghae menundukkan tubuhnya, menopang dagunya di bahu kanan Hyukjae yang masih terdiam dengan tangan yang melingkari tubuh ramping di depannya.
" Lihat dia chagi. Dia baby kita. Buah hati kita, darah daging kita. Dia yang kau perjuangkan."
Donghae berucap dengan pandangan tak lepas dari putranya. Tapi walaupun begitu ia tahu jika orang yang dipeluknya kini tengah menangis, ia bisa merasakan air mata yang menetes di lengannya.
Hyukjae yang masih terdiam membuat Donghae menolehkan sedikit wajahnya. Dilihatnya istrinya tersebut menangis namun dengan senyum lebar di bibirnya. Mengulurkan tangan kanannya Donghae menghapus air mata di pipi putih Hyukjae, membuat sang pemilik wajah juga menoleh padanya. Senyum yang begitu tulus ia berikan untuk Hyukjae-nya.
" Kau mau menggendoongnya?" Donghae bertanya lembut yang dengan segera mendapat anggukan mantap dari Hyukjae.
Donghae beranjak dari posisinya. Melangkah ke arah ranjang bayi untuk mengambil bayinya yang masih terlelap. Selama ini Donghae benar-benar banyak belajar. Bagaimana menggendong bayi, bagaimana memberikan susu, bahkan Donghae tahu bagaimana mengganti popok sekarang. Ah... Benar-benar sosok ayah dan suami yang begitu sempurna.
Hyukjae tak pernah lepas melihat gerakan Donghae. Dari saat Donghae mengangkat bayi itu dari ranjang, menimangnya sebentar kemudian mengecup pipi si bayi, sampai kini melangkah membawa bayi kecil itu ke hadapannya. Dengan perlahan Donghae memposisikan bayi mungil itu di pangkuan Hyukjae. Membuat Hyukjae maupun si bayi nyaman dengan posisi masing-masing.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi dan perasaan Hyukjae saat ini. Rasa haru serta kebahagiaan meluap di benaknya. Pergerakan yang terjadi membuat sosok mungil yang kini berada di pangkuan Hyukjae menggeliat pelan. Tubuhnya yang terlilit selimut membatasi gerakannya, sehingga hanya kepalanya saja yang bergerak ke kanan dan kiri. Bibir mungil itu mengerucut imut, menguap kecil sebelum mata si bayi perlahan terbuka. Hyukjae tak mampu menahannya, secara otomatis liquid bening menetes dari sudut matanya saat mata jernih itu seolah menatapnya.
Hyukjae menatap Donghae, sungguh ia tak bisa berkata-kata saat ini. Donghae balas menatapnya dengan senyum yang begitu lembut kemudian menghapus kembali air mata Hyukjae.
" Seperti yang ku bilang, dia tampan kan? Sangat tampan." Dan anggukan keras dari Hyukjae sebagai jawabannya.
.
::: HAEHYUK :::
.
Tak terasa lima bulan berlalu. Hyukjae dinyatakan sembuh sepenuhnya. Hampir satu bulan pemulihan di rumah sakit, akhirnya Hyukjae dan bayinya diijinkan untuk pulang. Kali ini mereka tak lagi tinggal di apartemen, karena Donghae sudah menyiapkan sebuah rumah yang tak bisa dibilang sederhana untuk anak dan istrinya.
Rumah megah di kawasan elit tak jauh dari rumah orang tuanya. Tentu saja karena Ummanya yang begitu keras kepala itu tak mau jauh dari cucunya. Semula Heechul memaksa untuk mereka tinggal di rumahnya yang tentu saja di tolak Donghae mentah-mentah dan berakhir dengan Donghae yang membeli rumah di kawasan ini. Tapi ada untungnya juga, karena mereka dengan mudah minta bantuan pada Ummanya yang lebih berpengalaman jika ada kesulitan dalam mengurus bayinya.
Keluarga bahagia, itulah yang saat ini dilihat dari keluarga kecil itu. Lee Donghae, Lee Hyukjae, dan Lee Donghyuk. Ya, Lee Donghyuk nama anak mereka. Nama itu Hyukjae yang memilih, gabungan dari namanya dan sang suami.
Donghyuk benar-benar memberi warna yang berbeda dalam kehidupan Donghae dan Hyukjae. Ia tumbuh dengan sangat baik. Mata dan bibir yang sepenuhnya duplikat Donghae, pipi bulat gembul dengan rona merah yang menghiasinya, membuat siapa saja yang memandangnya begitu gemas. Entah bagaimana, tapi bayi itu jarang sekali rewel. Selalu tertawa saat diajak berinteraksi seolah ia mengerti semuanya, siapa yang tak merasa gemas dengan sosok kecil ini.
Bahkan hampir setiap hari rumah mereka tak pernah sepi. Kalau tidak orang tua mereka, pasti orang lain datang ke rumah hanya untuk bermain dengan Donghyuk. Entah itu Minho-Taemin, Yesung-Ryeowook, Siwon-Kibum, atau Kyuhyun dengan Sungmin. Sungmin? Ya, dia kekasih Kyuhyun sejak satu bulan ini. Bahkan beberapa hari lalu mereka semua datang bersamaan, membuat rumah besar itu tampak begitu ramai.
Donghae masuk ke dalam rumah saat waktu menunjukkan pukul 20.00 KST. Begitu banyak pekerjaan di kantor, mengharuskannya lembur walau tak sampai larut malam. Langsung melangkahkan kakinya ke kamar utama di rumah itu, tak sabar ingin menemui dua orang yang begitu dicintainya. Ah, tiga hari ini kesibukan di kantor membuatnya kehilangan waktu untuk bersama anak dan istrinya.
Memasuki kamarnya Donghae melihat Hyukjae tengah menenangkan Donghyuk yang sedang menangis, tapi sepertinya tangisan Donghyuk belum mau berhenti. Meletakkan tas kerja di sofa yang ada di kamar, Donghae melangkah mendekati anak dan istrinya.
" Dia kenapa hm?" Donghae berbisik di telinga Hyukjae membuatnya berjengit kaget.
" Astaga Hae, kau mengagetkanku. Kau sudah pulang?"
" Hm, Donghyuk kenapa eoh."
" Aku tak tahu, tidak biasanya di seperti ini. Ah, Hae bisa tolong gendong sebentar. Aku akan membuatkan susu untuknya." Donghae mengangguk kemudian mengambil Donghyuk dari gendongan Hyukjae. Menimang Donghyuk berusaha menenangkan anaknya saat Hyukjae pergi membuat susu.
" Cup..Cup... Cup... Anak daddy kenapa Hm? Jangan menangis lagi sayang."
Perlahan tangisan Donghyuk mereda. Donghae tersenyum senang saat melihat anaknya berhenti menangis, dan tak lama pintu kamarnya terbuka menampilkan Hyukjae yang masuk membawa dot susu di tangannya.
" Oh... Donghyuk berhenti menangis. Ah mungkin dia memang merindukan Daddy nya." Hyukjae berkata sambil berjalan ke arah Donghae.
Tersenyum lebar mendengar perkataan Hyukjae, namun tak lama sampai senyum di wajah Donghae lenyap saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah di perutnya. Menatap shock ke arah Donghyuk yang kini menatapnya dengan mata bulat beningnya yang berkedip lucu serta kedua tangan mungil yang mengepal di dadanya. Hyukjae yang melihat ekspresi Donghae mengernyit bingung.
" Hae, kau kenapa." Tanpa mengalihkan tatapannya dari Donghyuk, Donghae berucap.
" Chagi, Donghyuk tak memakai popok?"
" Apa? Oh... Tadi memang ku lepas. Sejak tadi ia belum mau pipis, takutnya nanti ia tak nyaman aku melepasnya. Baru mau kupakaikan dia menangis tadi, jadi belum sempat. Memang kena-." Ucapan Hyukjae berhenti saat dengan gerakan pelan Donghae menoleh kepadanya. Matanya membulat saat menyadari sesuatu.
" Omo... Apa Donghyuk pipis Hae? Astaga... Hahahha...Hmmpp."
Hyukjae menutup mulunya menahan tawa saat melihat kemeja dan jas Donghae bagian depannya basah. Terlebih Donghyuk juga ikut tertawa saat mendengar suara tawa ibunya. Merasa jika ibunya mengajaknya bercanda. Hyukjae berusaha menahan tawanya saat Donghae menatapnya tajam.
" Sini... Sini... Biar ku ganti dulu. Aigo... Anak Mommy kenapa pipis di situ hm. Ah mungkin saat Donghyuk digendong olehmu dia merasa nyaman Hae, jadinya ia pipis. Kkkkk." Hyukjae masih terkikik saat membawa Donghyuk untuk diganti pakaiannya. Sedangkan Donghae masih pada posisinya.
" N-Nyaman untuk pipis? Apa dikiranya aku ini toilet?" Donghae menunduk, menatap miris pakaian depannya yang tampak basah.
" Aish... Baby. Padahal Daddy masih menggunakan jas lengkap. Setidaknya tunggu Daddy ganti baju dulu. Kau benar-benar merusak citra Daddy tampanmu ini Donghyuk-ah. Haah..." Dan dengan langkah beratnya Donghae segera menuju ke kamar mandi.
.
.
Donghae keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos serta celana pendek. Dihampirinya Hyukjae yang masih menimang Donghyuk yang sepertinya masih bergerak-gerak (?). Melirik jam yang terpasang di sudut ruangan, pukul 21.30.
" Donghyuk belum tidur sayang?" Pertanyaan Donghae membuat Hyukjae membalikkan tubuhnya.
" Belum Hae-ah. Dia masih belum terlelap. Entahlah, tak biasanya seperti ini."
" Biar aku yang menggendongnya." Donghae hendak mengambil Donghyuk saat Hyukjae menginterupsinya.
" Kau tak lelah Hae? Kau bekerja seharian, istirahatlah dulu." Hyukjae berucap perhatian. Dengan cepat Donghae mencuri satu kecupan di bibir Hyukjae.
" Aku tak lelah sayang. Harusnya kau yang istirahat karena seharian mengurus jagoan kecil kita. Jadi sekarang biarkan Daddy tampan-nya ini yang menggendongnya."
Tak menunggu jawaban Dari Hyukjae, Donghae segera mengambil Donghyuk. Menimang anaknya itu sambil sesekali berjalan memutari kamar. Hyukjae yang melihatnya tersenyum lembut melihat interaksi ayah dan anak itu.
Hanya beberapa menit, Donghyuk benar-benar tertidur dalam gendongan Donghae. memastikan jika Donghyuk sudah benar-benar tidur nyenyak, Donghae meletakkannya di box bayi yang memang berada di kamar mereka. Mencium sayang kening serta pipi chubby Donghyuk sebelum mengecul kilat bibirnya. Bibir mungil itu bergerak pelan membuat Donghae terkekeh kecil melihatnya.
Hyukjae mendekat, menyelimuti tubuh kecil Donghyuk dengan selimut supaya tak kedinginan kemudian melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Donghae.
" Tidur yang nyenyak Baby-ah. Selamat malam. Mommy dan Daddy menyayangimu" Hyukjae berbisik pelan ke arah Donghyuk. Dirasakannya sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya, juga beberapa kecupan yang mendarat di tengkuknya.
" Dia tampan ya Hae. Tampan sekali."
Donghae menghentikan kegiatannya saat mendengar ucapan Hyukjae. Tatapannya kali ini juga mengarah pada Donghyuk. Tersenyum Donghae mengecup pipi Hyukjae dari belakang.
" Tentu saja, Karena dia mewarisi ketampanan Daddynya." Mendengar ucapan suaminya, Hyukjae membalikkan tubuhnya sehingga posisi mereka berhadapan dengan tubuh yang menempel karena sedari tadi Donghae tak melepas rangkulannya di pinggang sang istri.
" Percaya diri sekali."
Donghae mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya dengan Hyukjae kemudian sedikit melumatnya.
" Tentu saja, karena itu kenyataan sayang." Donghae mengedipkan sebelah matanya membuahkan pukulan kecil di dadanya.
" Baiklah... Baiklah Daddy tampan. Karena ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Aku tak mau jika besok kau kelelahan. Akh..."
Hyukjae memekik kaget saat tiba-tiba Donghae mengangkat tubuhnya. Membawanya ke arah ranjang mereka kemudian menidurkannya pelan. Donghae mengambil selimut memakaikan ke tubuh mereka berdua. Menjadikan lengan kirinya sebagai bantal untuk Hyukjae kemudian tangannya memeluk erat pinggang ramping sang istri. Hyukjae sendiri menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami. Donghae mengecup lembut kening Hyukjae yang kini sudah memejamkan matanya.
" Selamat malam Daddy tampan." Donghae tersenyum mendengar panggilan Hyukjae untuknya. Mengeratkan pelukannya Donghae membalas ucapan Hyukjae, dan setelahnya keduanya mulai terlelap.
" Selamat malam Mommy cantik."
.
::: HAEHYUK :::
.
" Bagaimana sayang?"
" Tidak dijawab Umma. Mungkin Donghae masih sibuk."
Hyukjae malangkah ke arah Heechul yang tengah menggendong Donghyuk. Sejak pagi tadi Donghyuk rewel, ia demam. Beruntung Heechul datang berkunjung, jadi paling tidak ada yang membantu dan menemani Hyukjae. Hyukjae mengambil Donghyuk dari gendongan Heechul. Mengelus pelan kepala dan wajah Donghyuk. Wajah anaknya itu memerah, sepertinya karena demamnya yang justru bertambah. Hyukjae menatap penuh khawatir pada Donghyuk.
" Kau sudah mengirim pesan untuknya?" Hyukjae mengangguk menjawab pertanyaan Heechul. Matanya masih menatap lekat pada Donghyuk. Anaknya itu memang tertidur tapi terlihat jelas jika Donghyuk tak terlelap, deru nafasnya juga lebih cepat dari biasanya.
" Umma bisa tolong ambilkan ponselku." Heechul mengambil ponsel yang berada di tempat tidur dan menyerahkannya pada Hyukjae. Dengan segera Hyukjae mencari nomor kontak seseorang yang sekiranya tepat untuk dia hubungi.
" Yeoboseyo, Sungmin Hyung - ..."
.
.
" Bagaimana, Donghyuk baik-baik saja kan Hyung? Ia tak apa-apa kan?"
Sungmin tersenyum saat dengan tiba-tiba Hyukjae bertanya tergesa tepat setelah ia selesai memeriksa Donghyuk. Nada cemas kentara sekali dari ucapan Hyukjae.
" Tenanglah Hyukkie. Donghyuk tak apa-apa, memang demamnya agak tinggi tapi setelah aku berikan obat pasti ia akan lebih baik."
" Suntikan itu?" Hyukjae memandang kaget saat Sungmin menyiapkan sebuah suntikan dengan cairan di dalamnya.
" Tak ada jalan lain Hyuk. Tak mungkin juga kita berikan obat untuk diminum Donghyuk." Sungmin memberikan senyum menenangkan saat dilihat Hyukjae menatap horor ke arahnya. Hei, ibu mana yang tega melihat putra kecilnya ditusuk jarum walaupun untuk obatnya sekalipun.
" Donghyuk tak akan kenapa-napa. Ia pasti segera sembuh."
Setelah siap Sungmin lebih mendekat ke arah Donghyuk yang saat ini berada di pangkuan Hyukjae. Melihat jarum yang didekatkan ke tubuh Donghyuk, Hyukjae dengan cepat mengalihkan pandangannya. Tak tega melihat benda tajam itu menusuk kulit halus putranya. Sedetik kemudian tangisan keras Donghyuk bergema. Hyukjae masih memalingkan wajah, bisa dilihat jika matanya berkaca-kaca sekarang.
" Nah sudah selesai." Tepat setelah satu kalimat Sungmin ucapkan, Hyukjae kembali menatap Donghyuk.
Berusaha menenangkan anaknya yang masih menangis walau tak sekencang tadi. 'Pasti bekas suntikan itu masih terasa' begitulah fikir Hyukjae. Dengan amat perlahan Hyukjae bangkit, menimang Donghyuk dengan begitu lembut. Tangisan Donghyuk mereda, dan kali ini bayi tampan itu mulai tertidur dalam dekapan ibunya. Sungmin yang baru saja selesai membereskan peralatannya menoleh ke arah Hyukjae. Tersenyum saat melihat namja manis itu mengelus lembut kepala sang anak.
Sungmin adalah seorang Dokter anak. Bertugas di Seoul Hospital, terhitung sejak beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Hyukjae berada tiga minggu di rumah sakit dulu. Entah kebetulan atau bagaimana, Sungmin yang bertugas menangani Donghyuk adalah sahabat lama Donghae saat masih kuliah di Amerika. Sikap yang begitu ramah dan bersahabat membuat Sungmin mudah akrab dengan orang lain. Dan entah bagaimana ceritanya, satu bulan yang lalu Sungmin resmi menjadi kekasih Cho Kyuhyun.
Sungmin menghampiri Hyukjae, berdiri tepat di depannya.
" Kau bisa tenang sekarang, Donghyuk pasti akan segera sembuh."
" Gomawo Hyung. Untung Hyung segera kemari, aku sudah tak tahu harus bagaimana tadi. Donghae juga tak bisa dihubungi."
" Aish... Kenapa kau jadi sungkan seperti ini padaku." Sungmin sedikit merengut saat mengucapkannya, membuat Hyukjae terkikik kecil. Sungmin turut tersenyum sebelum melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Sepertinya aku harus segera kembali ke rumah sakit Hyukkie, ada jadwal pemeriksaan sebentar lagi. Lain kali kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Jangan pernah merasa sungkan padaku atau aku akan marah padamu. Mengerti..." Hyukjae tersenyum lebar sambil mengangguk menanggapi ucapan Sungmin.
" Baiklah tampan, Imo pergi dulu ne. Cepat sembuh sayang." Sungmin berbisik lembut kemudian mengecup pipi bulat Donghyuk.
" Mian tak bisa mengantarmu Hyung." Ucapan Hyukjae kembali mendapat dengusan sinis dari Sungmin.
" Aku masih belum pikun Nyonya Lee. Aku masih hafal benar letak pintu keluarnya."
:::
:::
BRAK!
Pintu besar itu terbuka dengan kasarnya saat namja tampan yang masih dengan setelan kantor lengkap itu tergesa memasuki rumah. Donghae melempar asal tas kerjanya ke atas sofa di ruang tamu. Kegiatan kantornya hari ini begitu padat, bahkan pesan Hyukjae yang memberi kabar jika Donghyuk sakit baru beberapa menit lalu dibacanya dan itu membuat Donghae benar-benar merasa bodoh.
" Hae." Panggilan Heechul menginterupsi langkah Donghae yang akan menuju ke kamarnya.
" Umma? Sejak kapan Umma di sini?" Heechul melangkah pelan mendekati Donghae.
AAWWW
Ringisan itu keluar dari bibir Donghae saat Heechul memukul kepalanya.
" Dasar bodoh, kemana saja kau. Ponselmu tak bisa dihubungi, dikirim pesan juga tak membalas. Kau tak tahu anakmu sakit eoh. Tega-teganya kau membiarkan Hyukkie di rumah sendirian. Kebetulan sekali Umma kemari tadi, bagaimana kalau tidak."
Donghae hanya diam saat Heechul memarahinya. Ia tahu ia salah. Bahkan ia juga merasa dirinya benar-benar bodoh saat ini. Bagaimana bisa ia membiarkan pekerjaan menyita fikirannya sepenuhnya, padahal prioritas utamanya adalah anak dan istrinya. Melihat Donghae yang justru melamun membuat Heechul menghela nafas.
" Donghyuk sudah tak apa-apa. Demamnya juga sudah turun." Nada suara Heechul melembut.
"Tadi Hyukkie sudah memanggil Sungmin kemari. Umma justru khawatir pada Hyukkie, sejak tadi pagi ia tak pernah beranjak sedikitpun dari sisi Donghyuk. Dia pasti lelah, masuklah." Tak menunggu lama Donghae segera melesat ke kamarnya. Membuka pintu di depannya dengan pelan, kemudian Donghae melangkah masuk.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Hyukjae yang duduk bersandar di samping box bayi dimana Donghyuk tengah tertidur lelap. Donghae mendekat perlahan, Tak ingin mengganggu kedua malaikatnya. Hyukjae tertidur rupanya, kepalanya bersandar di tepi box bayi tempat tidur Donghyuk dengan tangan yang menggenggam jemari kecil Donghyuk. Donghae tersenyum sendu. Tangannya terangkat mengelus lembut pipi Donghyuk. Bisa dirasakan suhu tubuh anaknya itu sudah normal sekarang, membuatnya sedikit tersenyum lega. Mengecup bibir Donghyuk sekilas, Donghae terkekeh saat bibir mungil itu sedikit mengerucut.
Mengalihkan fokusnya ke arah sang istri, sangat pelan Donghae melepas genggaman Hyukjae di tangan Donghyuk. Dengan perlahan mengangkat tubuh ramping Hyukjae berusaha membuatnya tak terbangun. Melangkah ke arah ranjang besar di kamarnya, Donghae membaringkan Hyukjae di sana. Menarik selimut tebal kemudian memakaikannya ke tubuh Hyukjae. Donghae mengecup sekilas kening Hyukjae sebelum melangkah ke kamar mandi guna sedikit membersihkan tubuhnya.
Tak sampai lima belas menit Donghae selesai dengan kegiatannya. Mendekati tempat Donghyuk tertidur, memastikan jika anaknya tidur dengan nyenyak, nyaman dan aman. Setelahnya, Donghae menghampiri sang istri. Menaiki ranjang di mana Hyukjae-nya sudah terlelap. Menarik pelan kepala Hyukjae untuk bersandar di lengannya kemudian memeluk posessive pinggang Hyukjae. Mengecup kening Hyukjae sekilas kemudian memejamkan mata, membiarkan dewi mimpi membawa pergi rasa lelahnya.
.
.
Sinar matahari menerobos masuk ke celah jendela di kamar besar itu, membuat tidur Hyukjae terusik. Menggeliat pelan sebelum membuka matanya, pertama kali yang Hyukjae lihat adalah wajah tampan Donghae yang tersenyum lebar dengan jarak yang begitu dekat dengannya.
" Selamat pagi sayang." Sapaan lembut Donghae membuat Hyukjae tersenyum. Mengucek matanya imut sekedar mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, dan setelahnya tubuhnya sedikit menegang seakan mengingat sesuatu.
" Donghyuk-."
Hyukjae bangkit dengan tergesa namun pelukan Donghae di pinggangnya menahan tubuhnya untuk tetap berbaring.
" Sstt... Tenanglah sayang. Kau bisa membangunkannya." Donghae berucap seraya melirik box bayi di samping ranjang mereka. Hyukjae juga turut melihat ke arah pandangan Donghae.
Bisa dilihatnya Donghyuk yang masih tertidur lelap dengan posisi yang sangat menggemaskan. Sosok kecil itu berbaring miring menghadap ke arah kedua orang tuanya, kedua tangan mungilnya mengepal erat dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya sampai dada. Ditambah dengan kupluk rajutan berwarna biru menutupi kepalanya, membuat tubuh kecil itu semakin nyaman dan merasa hangat.
Hyukjae kembali menyamankan tubuhnya dalam dekapan Donghae. Bersandar sepenuhnya pada dada bidang suaminya. Hyukjae menyukai posisi ini, karena ia akan merasa begitu nyaman dan tenang. Donghae juga semakin mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Hyukjae penuh sayang sesekali menghirup aroma manis surai sang istri. Sejenak keheningan menyelimuti mereka, sampai suara Donghae memecah kesunyian yang terjadi.
" Sayang-."
" Hm..." Hyukjae hanya bergumam pelan menanggapi panggilan Donghae.
"Mianhae." Hyukjae membuka matanya yang tadi terpejam saat mendengar ucapan Donghae.
" Maafkan aku sayang."
Sedikit menjauhkan tubuhnya kemudian Hyukjae mendongakkan kepala. Menatap bingung pada Donghae yang kini menatapnya sendu. Hyukjae mengangkat sebelah tangannya mengelus lembut wajah sang suami membuat Donghae memejamkan mata, menikmati halusnya jemari Hyukjae membelai wajahnya.
" Kenapa kau meminta maaf Hmm?"
Donghae menangkup tangan Hyukjae yang masih berada di wajahnya, menggenggamnya erat sebelum membawanya ke depan wajah kemudian menciumnya dalam. Mata sendunya menatap dalam iris kelam di depannya.
" Maaf karena kemarin aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Harusnya kalian berdua yang menjadi prioritas utama, bukan urusan tak penting itu. Maaf aku tak ada saat kau begitu membutuhkanku. Bahkan aku tak tahu saat Donghyuk sakit dan kau menelfon serta mengirim pesan padaku berkali-kali. Maafkan aku karena aku begitu bodohnya, maaf kalau aku tak berguna. Maaf aku tak bisa menjadi sosok ayah dan suami yang ba-."
CUP...
Kalimat panjang Donghae berhenti saat dengan tiba-tiba sesuatu yang lembut dan hangat mengunci bibirnya. Dapat dilihatnya wajah Hyukjae yang begitu dekat dengannya tengah memejamkan mata. Merasakan Hyukjae sedikit melumat bibirnya membuat Donghae juga turut memejamkan mata. Kali ini ia diam, membiarkan Hyukjae melakukan apapun semaunya.
Beberapa sat kemudian tautan itu terlepas. Donghae membuka mata dan yang dilihatnya adalah wajah Hyukjae yang kini memerah dengan mata yang masih terpejam. Perlahan kelopak dengan bulu mata lentik itu terbuka, memperlihatkan iris kelam dengan cairan tipis yang melapisinya menatap tepat ke dalam matanya.
" Apa yang kau katakan? Jangan pernah berkata seperti itu lagi Hae." Setetes kristal bening mengalir membasahi pipi Hyukjae.
" Kau yang paling sempurna untuk kami. Kau adalah ayah yang sempurna untuk Donghyuk, Kau adalah suami yang paling sempurna di dunia ini. Hanya kau Hae-ah. Hanya kau yang paling sempurna dan satu-satunya. Ku mohon jangan bicara seperti itu lagi."
Dengan segera Donghae menghapus jejak air mata di wajah istrinya. Mengecup kedua mata Hyukjae, berharap itu menghentikan air mata yang mengalir di sana. Membawa Hyukjae ke dalam pelukannya itu yang Donghae lakukan saat ini. Menggumamkan kata maaf berulang kali di telinga Hyukjae, menenangkan istriya. Setelah merasa jika Hyukjae benar-benar tenang, Donghae menjauhkan tubuhnya guna melihat lebih jelas wajah cantik di depannya.
Perlahan Donghae mendekatkan wajahnya. Mengerti apa yang akan dilakukan Donghae secara refleks Hyukjae memejamkan matanya. Keduanya dapat merasakan hembusan nafas lawan masing-masing sampai kedua bibir itu menyatu dalam tautan yang begitu lembut.
Donghae melumat lembut bibir Hyukjae. Untuk saat ini tak ada nafsu sama sekali di sana. Hanya ungkapan cinta yang tak terhingga yang mereka sampaikan dalam tautan keduanya. Donghae memisahkan tautan itu tanpa menjauhkan wajah keduanya. Mengucapkan satu kalimat bermakna yang begitu tulus.
"Aku mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Saranghae Lee Hyukjae. Nan cheongmal saranghae"
" Nado. Nado saranghae Lee Donghae."
Tak perlu waktu lama sampai bibir itu kembali menyatu. Kali ini ciuman Donghae terasa begitu menuntut. Melumat bibir atas dan bawah hyukjae bergantian, menyesapnya sedikit keras seolah berusaha menghisap semua rasa manis yang tak akan pernah hilang di sana. Donghae menjilat bibir Hyukjae. Mengerti kemauan sang suami dengan segera Hyukjae membuka mulutnya, membiarkan lidah Donghae masuk menerobos ke dalam mulutnya.
Tanpa sadar Donghae bergerak, membawa tubuhnya berada di atas tubuh Hyukjae. Donghae tak mungkin menindih tubuh ramping di bawahnya dengan sempurna karena ia masih menopang berat tubuh dengan lututnya. Posisi yang seperti ini semakin membuat Donghae lebih leluasa menjelajahi goa hangat nan manis milik istrinya. Menyesap rasa manis yang tersedia hanya untuknya. Donghae bersumpah ia tak akan melepas tautannya jika Hyukjae tak memukul dadanya sedikit keras karena paru-parunya yang meronta meminta pasokan udara.
PLOP
" Hah... Hah... Hah..."
Dengan wajah yang memerah sempurna, Hyukjae berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan Donghae yang justru memandang lapar ke arah leher jenjang Hyukjae yang terekspose sempurna. Dengan segera menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Hyukjae. Memberikan kecupan berulang-ulang di sana, membuat Hyukjae sedikit melenguh.
" Ngghhh... Haehhh..." Sedikit menyeringai saat mendengar desahan tertahan Hyukjae, Donghae melanjutkan aksinya kali ini bersiap membuat sebuah tanda yang mungkin tak akan hilang untuk beberapa hari ke depan. Mengecup perpotongan bahu dan leher Hyukjae, menjilatnya seduktif kemudian bersiap menghisapnya, sampai-
"OOOEEEEKKK!"
DUK...
BUG...
AWWW...
Donghae merasakan jika pantatnya mendarat di lantai dengan keras. Tepat saat tangisan Donghyuk menggelegar (?) di kamar luas itu, Hyukjae mendorong tubuh Donghae sekuat tenaga. Menyingkirkan tubuh Donghae yang berada di atasnya kemudian secepat mungkin menghampiri Donghyuk. Segera mengangkat Donghyuk ke dalam gendongannya, dan seketika itu pula tangisan Donghyuk berhenti.
" Ughhh, anak Mommy sudah bangun ne. Kau pasti haus kan sayang. Cha, kita buat susu untukmu."
Hyukjae berbicara pada Donghyuk yang menatapnya dengan mata yang mengerjab imut, membuatnya semakin gemas pada anaknya. Dengan segera Hyukjae melangkahkan kakinya keluar kamar. Ck, bahkan Hyukjae sama sekali tak menoleh ke arah Donghae yang masih terduduk di lantai.
Tepat sebelum jemari lentik itu memegang Knop pintu, Hyukjae menoleh ke arah Donghae.
"Hae cepat mandi. Kau harus segera ke kantor kan." Dan apa-apaan wajah polos tanpa dosa itu.
CKLEK...
Donghae belum beranjak, namja tampan itu masih menatap pintu yang baru saja ditutup Hyukjae dengan tatapan tak percaya. Apa-apaan itu?. Hyukjae meninggalkannya begitu saja? Setelah apa yang mereka lakukan?
Menundukkan kepalanya perlahan, Donghae menatap nanar sesuatu yang menggembung di balik celananya. Tak tahukah istrinya itu jika dirinya langsung 'bereaksi' saat tadi mendengar lenguhan Hyukjae.
" AAAARRRGGGG..."
Donghae mengacak rambutnya frustasi. Bangkit dari duduknya dengan kasar, bahkan ia menendang selimut yang berada di kakinya ke sembaranga. Dengan langkah yang dihentak-hentak karena kesal, Donghae menuju kamar mandi. Menutupnya kasar setelah berada di dalam. Dalam hati Donghae bergumam:
'Awas kau nyonya Lee. Tunggu sampai aku benar-benar 'menghajarmu' dan kau tak bisa bergerak.'
.
.
=== END ===
.
.
Dan akhirnya berakhirlah cerita ini... .
Saya tahu jika Chapter ini terlalu lama Update, dan mungkin endingnya tak begitu mengena bagi reader semua. T-T. Maaf jika endingnya tak sesuai harapan dan terkesan aneh, terlebih ini chapter terpanjang yang pernah saya buat. *BOW*
Tapi saya cukup puas bisa menyelesaikan ff perdana saya sesuai dengan janji yang pernah saya ucapkan. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca tulisan amatir ini, terlebih bagi para reader yang begitu menghargai tulisan saya dengan menyempatkan diri untuk mampir di kotak review yang tentunya tak bisa saya sebutkan satu per satu. Tanpa kalian mungkin cerita ini tak akan pernah sampai di sini. Terima kasih sebanyak-banyaknya. *DEEPBOW*
Baiklah, saya terlalu bertele-tele.
Sekali lagi terima kasih semua... Sampai jumpa di cerita selanjutnya yang mungkin saja muncul jika saya masih punya muka untuk kembali membuat cerita amatir nan gaje.
BYEEEE...#Lambai-lambai *TerbarCiumBarengHyukjae.
