Kim Woman's Contract

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin

Rate : M

Love and Hate

Kim Jongin mendudukkan dirinya dikursi tunggu tepat disamping pintu ruang inap Kyungsoo. Membenamkan wajahnya kedalam telapak tangan. Ia tidak bisa berfikir dengan benar saat ini. Segala hal terasa berputar-putar dikepalanya. Masa lalu dan masa kini seakan tumpang tindih memenuhi pikiran Jongin.

"Apa itu bayimu?" Jongin menegang dan menegakkan wajahnya seketika, mendapati sosok kakak iparnya. Berdiri dengan tatapan menuntut jawaban pada Jongin. Jongin menghela nafas pelan dan menyenderkan punggungnya pada kursi.

"Ya," jawab Jongin. Itu sudah bisa dipastikan bayinya tanpa perlu dilakukan test DNA. Dia adalah pria pertama yang menyentuh Kyungsoo. Selama pengawasan Minho tidak terdapat kejanggalan apapun tentang Kyungsoo. Lelaki yang menjadi teman Kyungsoo hanyalah Park Chanyeol. Kyungsoo tidak terlalu populer dikalangan lelaki karena ia tidak bergaul baik dengan teman-teman lelaki seangkatannya.

"Lalu apa rencanamu selanjutnya, kau tidak berfikir akan meninggalkan Kyungsoo bukan?" Jongin menggeleng. Kakak iparnya menarik nafas lega sesaat namun dibuat kaget oleh jawaban Jongin.

"Aku tidak tahu hyung."

"Mwo, apa maksudmu dengan tidak tahu Jongin-ah, Kyungsoo tengah mengandung anakmu saat ini," Jongin memandang kakak iparnya itu.

"Hyung, bisakah hyung merahasiakan hal ini untuk sementara waktu?" alis sang kakak ipar tertarik naik.

"Apa kau bermaksud lari dari tanggung jawab?" Jongin menggeleng.

"Bayi itu…anakku…aku tahu itu, kumohon hyung tolong rahasiakan hal ini," pintanya. "Aku akan memberitahukan pada ayah dan noona jika saatnya sudah tepat."

"Ketika perut Kyungsoo semakin membesar?" Jongin menghela nafas sekali lagi.

"Aku tidak bisa menjelaskan lebih detail hyung, aku mohon pengertian dari hyung," kakak iparnya memberikan pandangan meneliti pada Jongin.

"Kau tahu Jongin-ah, kau adalah anak lelaki yang selalu dibanggakan oleh ayahmu, jangan membuatnya kehilangan rasa bangga terhadap dirimu hanya karena kau tidak tahu bagaimana caranya menjadi lelaki sejati," tukas sang kakak ipar menohok hati Jongin.

"Aku tidak akan mengatakan apapun untuk saat ini, tapi pastikan Kyungsoo dan bayinya dalam keadaan sehat. Ia masih hamil muda dan rentan akan tekanan dan juga stress. Jangan buat dia banyak berfikir keras, apa kau mengerti?" Jongin mengangguk dengan senyuman tipis.

"Terima kasih hyung," ucap Jongin.

.

.

Hubungan Kyungsoo dan Jongin menjadi begitu dingin setelahnya, tidak ada perlakuan manis seperti biasanya. Sehari setelah kepulangan Kyungsoo kerumah keluarga Kim Jongin mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke Manhattan karena ada pekerjaan yang harus ia tangani. Seperti janjinya kakak ipar Jongin sama sekali tidak membahas apapun perihal kehamilan Kyungsoo dan Kyungsoo yang tidak mengetahui tentang permintaan Jongin untuk merahasiakannya bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya masalah ini tidak perlu diketahui oleh keluarga Jongin saat ini.

"Eounni akan sangat merindukanmu, sering-sering ajak Jongin berkunjung ke Korea ya Kyungsooie," Yaejin memeluk Kyungsoo hangat.

"Aku juga akan sangat merindukan eounni," Yaejin memegang kedua bahu Kyungsoo dan memandangi mata gadis mungil itu. Ia merasa Kyungsoo menyimpan sesuatu. Bukannya ia tidak menyadari kalau hubungan Kyungsoo dan Jongin agak kaku setelah kepulangan Kyungsoo dari rumah sakit.

"Gwechanha?" tanyanya lembut. Jongin dan kakak iparnya menatap Yaejin dan Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum dengan anggukan kecil.

"Gwechanha eounni,"

"Jangan pernah minum alcohol terlalu banyak lagi ya, nanti kau bisa masuk rumah sakit karena demam tinggi hanya karena terlalu mabuk," Kyungsoo tertawa kecil, tawa yanag dipaksakan. Itukah alasan yang dikatakan Jongin pada keluarganya.

"Ya eounni, aku akan mengingatnya dengan baik," Kyungsoo beralih pada kakak iparnya, lalu mencium gemas tangan mungil Jeno. Ayah Jongin sedang tidak berada dirumah karena berangkat ke Jepang untuk sebuah proyek film baru dan Jongin sudah menelpon untuk berpamitan.

"Jaga diri dan kesehatan kalian ya, sampai bertemu lagi," Yaejin melambai bersama Jeno ketika mobil yang dikendarai paman Ahn membawa mereka perlahan meninggalkan kediaman keluarga Kim.

.

.

Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun diantara Kyungsoo dan Jongin. Jongin yang menyibukkan dirinya dengan ipadnya mengecek beberapa email masuk dari Nickhun untuk menyibukkan diri meskipun sesekali ia melirik Kyungsoo yang duduk diam dengan telinga tersumpal headset. Jongin berdiri ketika sudah saatnya untuk boarding pass. Tanpa berkata apa-apa ia berjalan lebih dulu menuju antrian boarding pass namun ia sempat melirik saat sesosok dengan coat coklat mengikutinya dibelakangnya.

Everything I wanted might be pressure to you

We just had missed expectations for each other

I know your heart

Is just ain't here with me

Kyungsoo memandangi punggung tegap berbalut kemeja navy berlapis coat berwarna hitam yang tengah melangkah menuju boarding pass tanpa menoleh kebelakang itu. Dan perlahan punggung itu tertutupi oleh sosok wanita dengan coat berwarna coklat serupa dengan miliknya. Kyungsoo bangkit dari tempat duduknya. Memandang sekali lagi pada sosok Jongin yang masih berdiri dengan tegap diantara para antrian. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, pegangannya pada koper mengerat. Kyungsoo memalingkan wajahnya dan menggeret kopernya berlawanan arah dengan para pengantri boarding pass.

I might regret it

Things might get harder

Even as I say this

It's my decision so it's my responsibility

.

.

Jongin menggeret koper memasuki ruangan keberangkatan, ia memutuskan untuk mengecek keberadaan Kyungsoo. Dan saat itulah ia terkejut begitu melihat wanita dengan coat coklat dibelakangnya bukanlah Kyungsoo. Jongin mencari-cari keberadaan Kyungsoo diantara para antrian dan ia tidak bisa menemukan keberadaan gadis bertubuh mungil itu. Dengan panik Jongin merogoh saku coat dan mengeluarkan ponselnya. Ajaibnya ponsel tersebut berpendar saat itu pula dan memberi notifikasi ada sebuah pesan masuk. Jongin segera membukanya karena tertulis disana 'Baby Girl'.

From : Baby Girl

Terima kasih untuk segala hal yang telah kita bagi bersama

Sesuai dengan isi Woman's Contract, setelah kontrak berakhir maka kedua belah pihak tidak memiliki keterkaitan apapun kecuali rekan biasa

Aku tidak ingin menjadi rekan ataupun temanmu

Selamat tinggal

Jongin meremas ponselnya, ia merasa kepala dan hatinya sama mendidihnya saat ini. Ia mendengus kesal mengingat riwayat percintaannya. Apakah para gadis selalu memiliki hobby meninggalkan pesan untuk berpisah. Setelah Jung Krystal kini Do Kyungsoo. Jongin menyentak pegangan kopernya dan menariknya kasar, meneruskan langkahnya untuk kembali ke Manhattan. Baiklah Do Kyungsoo jika ini yang kau inginkan batinnya.

.

.

Sebuah pesawat dengan tujuan ke Manhattan baru saja lepas landas dan Kyungsoo seharusnya berada didalamnya. Namun ia tidak bisa kembali ke Manhattan saat ini. Jika ada tempat yang sangat ingin ia hindari adalah kembali ke Manhattan. Tempat dimana Jongin berada. Saat ini ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya dan membuat rencana untuk kehidupannya. Tidak, ini bukan hanya tentang kehidupannya tetapi juga kehidupan janin dikandungannya.

Jika Jongin tidak bisa menerima ia dan bayinya maka ia tidak akan memaksa lelaki itu untuk menerima mereka. Jongin telah memaparkan apa yang akan ia lakukan jika seorang wanita benar-benar mengandung anaknya. Tidak akan pernah ada pernikahan. Ketika Jongin menyebut tentang woman's contract dalam pembicaraan mereka dirumah sakit itu, disaat itu pulalah Kyungsoo mempertanyakan kembali tentang ucapan cinta Jongin padanya.

Benarkah seorang pria yang mencintai akan berkata demikian pada gadis yang dicintainya. Bukankah yang tengah mengandung anaknya adalah gadis yang ia ucapkan kata cinta setelah mereka bercinta. Apakah itu hanya bualannya karena percintaan panas mereka malam itu. Kyungsoo tidak tahu apakah ia masih bisa mencintai Jongin. Karena kini tersirat rasa kesal dan kecewa didalamnya. Merasa dipermainkan dan diberikan harapan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sama sekali.

I love you and I hate you

All at the same time

I hate you as much as I loved you

It was a lie when I said it was okay

Telling myself that I knew

We were together but it didn't feel like it

Pain is better than deepened loneliness

If only we were honest with each other

I hate you as much as I loved you

Kyungsoo masih memandang kosong pada langit lewat etalase kaca sebuah coffeshop dimana ia duduk saat ini. Matanya mengerjap saat melihat bayangan samar seorang lelaki dengan coat hitam terpantul disana. Kyungsoo mengalihkan pandangan pada lelaki yang tersenyum sambil memegang cup kopi ditangannya.

"Maaf, apa kau sendiri?" tanyanya sopan. Kyungsoo mengagguk pelan dan mengedarkan pandangan. Kyungsoo mengerti sekarang kenapa lelaki itu bertanya demikian. Coffeshop sangat ramai dan tidak ada tempat tersisa kecuali kursi ditempatnya.

"Ya, duduklah jika anda ingin duduk," ia menghela nafas lega.

"Aku sudah khawatir tidak bisa duduk, kakiku pegal sekali menunggu supirku menjemput," jawabnya sambil mengambil tempat didepan Kyungsoo. "Tapi, apa aku tidak mengganggumu?" Kyungsoo menggeleng pelan.

"Aniya, gwechanha," lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan. Mereka tidak berbicara untuk beberapa menit. Kyungsoo kembali memandang keluar etalase kaca tanpa titik fokus membuat lelaki itu penasaran dan akhirnya ia bersuara kembali.

"Apa kau baru tiba di Korea?" Kyungsoo menoleh. Masih belum menjawab dan lelaki itu tersenyum maklum. "Maaf, aku hanya ingin membuka obrolan agar tidak bosan tapi jika kau keberatan menjawab tidak apa-apa," Kyungsoo menggeleng pelan.

"Tidak, seharusnya aku kembali ke Manhattan tapi aku membatalkannya," lelaki itu kembali mengangguk mengerti.

"Jadi kau akan menetap di Korea?"

"Kemungkinan untuk beberapa waktu saja."

"Ahh begitu, jadi kau pasti memiliki tempat tinggal atau keluarga disini," Kyungsoo tertawa kecil, dengan sedikit paksaan didalamnya.

"Ya, tapi aku tidak berniat untuk kesana, mungkin aku akan mencari penginapan atau flat yang bisa disewa sementara waktu."

"Ahh aku memiliki usaha rumah peristirahatan di daerah Daegu jika kau berminat," Kyungsoo menaikkan alisnya. Lelaki itu tertawa kecil lalu menyodorkan tangannya untuk berkenalan. "Aku Jang Jaeyeol, kita sudah mengobrol tetapi belum saling mengetahui nama," Kyungsoopun menyambut uluran tangan itu.

"Do Kyungsoo."

"Senang berkenalan denganmu Kyungsoo-ssi, sebenarnya aku tidak memiliki maksud apapun," jawabnya tenang dan ramah. "Kebetulan aku memiliki usaha rumah peristirahatan yang sering menjadi tempat menginap turis-turis yang sedang berlibur ataupun untuk menetap sementara waktu. Yahh… anggap saja sebagai ajang promosi jika kau memang membutuhkan tempat, ahh chakkaman," ia merogoh saku coatnya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering.

"Yeoboseyo."

"…"

"Kau sudah disini, baiklah," ia memutus panggilan dan menatap Kyungsoo dengan senyuman ramahnya. Membuat Kyungsoo segan untuk tidak membalas. "Aku harus segera pergi, terima kasih karena berbaik hati berbagi meja dan kursi," lelaki tampan dengan senyum yang menawan itu bangki dan berbalik. Baru tiga langkah ia berhenti karena sebuah suara memanggil namanya.

"Jang Jaeyeol-ssi," ia berbalik dan memandang Kyungsoo. "Boleh aku tahu dimana alamat rumah peristirahatanmu itu?" Jang Jaeyeol tersenyum tampan dengan sebuah anggukan.

.

.

Lelaki bernama Jang Jaeyeol ini tampaknya bisa membaca keadaan kalau Kyungsoo sedang dalam keadaan yang tidak baik. Maka ia tidak bertanya selama perjalanan menuju Daegu. Ia menawarkan untuk mengantarkan Kyungsoo karena ia sedang tidak terburu-buru atau memiliki kesibukan lain.

Kyungsoo juga hanya menghabiskan waktunya dengan memandang keluar jendela sambil mendengarkan music lewat ponselnya. Ia tidak menerima pesan balasan apapun dari Jongin. Sudut hatinya ingin menangis karena merasa diabaikan namun ia menguatkan dirinya bahwa ini adalah keputusannya untuk mengakhiri rasa sakit sebelum semuanya semakin dalam dan menyakitinya lebih dari ini.

"Kau mau membeli sesuatu?" tanya Jang Jaeyeol. "Kita sedang di rest area."

"Entahlah, aku sedang tidak ingin makan apapun."

"Baiklah, kita terus saja," perintahnya pada supirnya. "Kyungsoo-ssi, kalau boleh kutahu berapa usiamu, kau terlihat masih muda."

"Usiaku 23 tahun."

"Ahh kau pasti seorang mahasiswa," tebaknya dan Kyungsoo mengangguk. Perjalanan berlanjut dengan Jang Jaeyeol yang sesekali akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan untuk mengajak Kyungsoo berbicara agar suasana tidak terlalu canggung dan sepi. Hingga akhirnya mobil yang membawa mereka berhenti didepan sebuah gedung tinggi penginapan. Ini lebih terlihat seperti apartemen.

"Ini tempatnya?"

"Iya, aku akan mengantarmu kedalam dan membantumu mereservasi."

"Jaeyeol-ssi, aku bisa melakukannya sendiri, aku sudah merepotkanmu terlalu banyak," ia menggeleng ringan.

"Bukan masalah besar, ayo masuk," Jang Jaeyeol disambut oleh beberapa pegawainya yang tidak menyangka akan mendapatkan kunjungan dari pemilik tempat mereka bekerja. Hal ini membuat Kyungsoo teringat dengan perjalanan liburannya ke Castelo di Tuscany di Italia. Jang Jaeyeol mengurus semuanya, reservasi hingga memilihkan kamar yang membuat Kyungsoo merasa nyaman dengan pemandangan yang sangat indah.

"Aku sangat berterima kasih padamu Jaeyeol-ssi,"

"Tidak perlu begitu, ini bukan perkara besar dan kuharap kau akan menikmati waktumu disini."

"Tentu, sekali lagi terima kasih, " Jang Jaeyeol mengangguk lalu meninggalkan kamar Kyungsoo. Menutup pintu kamar itu pelan dan berdiri disana dengan senyuman tipis penuh rahasia.

.

.

Kim Jongin sudah cukup pusing dengan permasalahannya dengan Kyungsoo dan pesan selamat tinggalnya sesaat sebelum ia terbang menuju Manhattan. Tidak perlu lagi ditambah dengan kecerewetan Heechul yang menanyakan keberadaan Kyungsoo. Apa yang terjadi pada Kyungsoo dan dimana Kyungsoo karena ia tidak bisa menghubungi Kyungsoo. Setiap ia menelpon akan dialihkan pada voice mailbox. Hal itu bisa terjadi karena dua alasan, ponsel Kyungsoo tidak aktif atau nomor sipenelpon di blokir.

"Aku tidak akan menjelaskan apapun saat ini hyung, jadi berhenti bertanya!" tukas Jongin.

"Tapi ada apa sebenarnya, kenapa kalian pulang secara terpisah dan dimana Kyungsoo?"

"Astaga hyung kau ini…" Jongin baru saja bermaksud balas mengomeli Heechul namun ia merasakan perutnya bergejolak seakan semua isinya meminta dikeluarkan. Dengan langkah cepat Jongin menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya kedalam kloset. Jongin bahkan belum makan apapun sejak kepulangannya kemarin, dan muntahannya hanyalah air bening dan itu membuat kepalanya terasa pusing.

"Ya Kim Jongin, gwechanha?" tanya Heechul di ambang pintu kamar mandi.

"Aku baik, don't …be afraid," Mrs Hans bergerak cepat begitu melihat Jongin muntah, ia menyiapkan teh hangat untuk Jongin yang menuju ruang makan dan duduk disana. "Terima kasih Brit."

"Kau yakin kau baik-baik saja, wajahmu pucat."

"Ya, tidak perlu khawatir dan berhentilah bertanya," ucap Jongin meski pelan. "Aku akan bercerita jika aku sudah siap bercerita dan waktunya sudah tepat," Heechul mau tidak mau hanya mengangguk meskipun ia penasaran bukan main.

.

.

Kembali ke Manhattan membuat Jongin akhirnya memiliki kesibukan untuk membuatnya melupakan kejadian dan masalah yang menimpanya. Meskipun jika ia boleh jujur dan menghilangkan rasa gengsinya ia sangat merasa kehilangan sosok Kyungsoo. Namun bukankah Kyungsoo yang ingin berpisah, namun sisi hatinya yang lain balas mengatakan 'memangnya dia begitu karena siapa'. Dan Jongin hanya bisa memijit pelan pelipisnya.

"Kau sakit?" tanya Nickhun.

"Tidak, aku baik-baik saja,"

"Dimana Kyungsoo, Heechul menelponku menanyakan tentang Kyungsoo, memangnya aku baby sitter baby girlmu itu,"

"Jangan bertanya karena aku tidak bisa menjawabnya sekarang," Nickhun memicingkan mata, ia yakin sesuatu telah terjadi. Namun jika Jongin berkata demikian maka ia tidak akan menanyakan apapun.

"Baiklah, dan kau punya janji dengan pihak design interior yang akan merenovasi resort di Selatan Manhattan," Jongin mengangguk mengerti. Teleponnya berbunyi dan Nickhun yang melihat Jongin sibuk dengan berkas-berkasnya mengambil inisiatif mengangkat panggilan. Ia memencet tombol dan terdengar suara sekretaris Jongin.

"Tuan Kim, Miss Jung dari JKT Design Interior sudah datang,"

"Ya, kau bisa menyuruhnya masuk," Nickhun melirik Jongin, Ia menerima berkas yang sudah ditanda tangani. "Semoga masalahmu cepat selesai Kim jadi tidak ada pekerjaan yang terbengkalai karenanya,"

"Ohh diamlah Buck, aku tidak pernah mengabaikan pekerjaanku," cetusnya kesal. Tak lama pintu terbuka, Nickhun tersenyum pada sosok yang tidak asing itu saat wanita itu masuk. Jongin mengangkat pandangannya saat mendengar suara ketukan sepatu dan mataya membola begitu mengetahui siapa yang muncul dihadapannya."Krystal!" Krystal tertawa kecil melihat reaksi lucu Jongin.

"Hai Jongin-ah, kita bertemu lagi," jawabnya dengan sebuah senyuman manis.

.

.

Kim Jongin sama sekali tidak pernah terpikirkan kalau akan ada masa dimana ia dan Krystal bertemu kembali dan menjadi partner seperti sekarang. Sebelumnya ia telah memeriksa dengan baik semua data perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Namun sepertinya ia melewatkan JKT Interior design karena ia percaya dengan pilihan dari tim kreatifnya. Dan siang itu, berada diruangannya dan berbicara banyak tentang pekerjaan yang akan dijalankan bersama membuat Jongin merasa lebih ringan. Ia seperti bertemu teman lama yang bisa mengerti apa saja keinginannya. Krystal mendengarkan dan mencatat pada ipadnya apa saja yang Jongin inginkan secara mendetail. Ia sengaja tidak meminta asistennya ikut serta karena ia harus bisa mengambil kesempatan ini untuk bisa menjalin hubungan baik dan lebih dekat dengan Jongin. Ini mungkin terkesan jahat namun bagi Krystal ia patut mencobanya selama jari manis Jongin belum terlingkar cincin.

"Apakah permintaanku terlalu banyak?" Krystal menggeleng.

"Kau selalu banyak maunya dari dulu jadi aku tidak heran," jawabnya dengan candaan. "Akan kupastikan semuanya dikerjakan sesuai dengan keinginanmu," Jongin mengangguk.

"Terima kasih Krystal-ah, aku mempercayakan semuanya ditanganmu."

"Ngomong-ngomong ini sudah jam makan siang, keberatan makan siang bersama?" Jongin melirik arlojinya. Tiba-tiba pikirannya justru melayang pada sosok mungil nan jauh disana. Dimana keberadaannya saat ini. Namun dengan cepat Jongin menghilangkan pemikiran tersebut. Ini keinginannya Kim Jongin.

"Tidak, kebetulan aku sangat ingin makan makanan Thailand," Krystal menaikkan alisnya tidak yakin dengan ucapan Jongin.

"Kau yakin, makanan Thailand?".

"Hmm.. Tom yam goong, salad papaya som tam, ya ampun kurasa air liurku bisa menetes kapan saja," kekehnya sendiri. Krystal masih bingung dengan pilihan Jongin.

"Jongin, bukankah kau tidak bisa makan makanan pedas dan terlalu asam?" Jongin mengerjapkan matanya pelan.

"Entahlah..aku hanya ingin," jawabnya tidak yakin. Ia juga tidak mengerti, ia hanya ingin memakannya saat ini.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan, kita bisa makan bersama di restoran Thailand," setuju Krystal. Keduanyapun keluar bersama dari ruangan Jongin sambil sesekali bercakap-cakap. Dan hal itu cukup mengundang rasa ingin tahu karena tidak biasanya direktur mereka mudah akrab dengan wanita kecuali jika itu rekan kerjanya yang sudah sering bekerja sama. Saat sudah berada dilantai satu Minho yang selalu bersiaga segera menghampiri Jongin dan Jongin terdiam ketika melihat Minho.

"Anda akan pergi makan siang tuan?" Jongin mengangguk namun pikirannya tidak membawanya ke pembicaraan tentang makan siang.

"Kami akan makan siang di restoran Thailand apa…"

"Minho, pergilah keruangan Nikchun dan katakana padanya aku meminta dia menyiapkan tiket ke Seoul dan segala akomodasi untukmu disana," Krystal dan Minho sama-sama memandang Jongin dengan tatapan bingung. "Katakan padanya untuk melakukan apa yang kuperintahkan dan aku akan menjelaskan setelahnya," Minho membungkuk sopan.

"Baiklah tuan Kim,"

"Dan aku akan pergi dengan mobil perusahaan saja, pastikan kau mendapatkan tiket untuk besok pagi, apa kau mengerti?"

"Ya tuan," Jongin mengangguk. Ia tahu ini menyalahi kontrak namun ia juga tahu kalau ia harus melakukannya. Bukankah sejak ia berniat membuka hatinya untuk Kyungsoo ia telah menegaskan telah meniadakan Woman's Contract. Jongin merutuki dirinya sendiri yang dengan sekenanya menyebut tentang Woman's Contract waktu itu. Ia tidak bisa berfikir dengan benar saat itu. Setelah dipikir lagi ia memang keterlaluan. Namun ia belum bisa menerima semua kenyataan itu saat ini. Iabenar-benar butuh waktu untuk memikirkannya kembali. Jongin menoleh kearah Krystal dan memberikan senyuman tampan yang agak dipaksakan. "Let's go, I'm so hungry."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

oke see you next chap

pay pay ;)