Where Is It?

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance

Main Pair : NaruHina

Warning : (miss) Typo, semi-canon, OOC, GaJe, Abal-abal, SKS (Sistem Kebut Sejam)

.

.

Chapter 13 : Ganbatte!

.

.

A/N : Yo, Minna~! Saya Kembali~! Maaf baru bisa update. Soalnya~ Akh, you-know-what.
Semoga para readers masih ingat dengan cerita abal satu ini. OK, Happy Reading, Minna~

.

.

.

"Kau tak akan ku ampuni, Madara." desis Sasuke yang saat ini tengah berada tepat di belakang tubuh Madara, bersiap menebaskan pedangnya kepada Madara.

"Terimakasih." jawab Madara yang tiba-tiba telah berpindah di samping Sasuke dan dengan keras langsung menghantam Sasuke hingga terpental beberapa puluh meter.

"Sialan." gumam Sasuke sembari menyapu dengan kasar darah yang merembes keluar dari ujung bibirnya. Kedua tangannya terkepal dengan erat menahan emosi yang sejak tadi terus meluap-luap dalam dirinya. Entahlah, rasanya sangat menyakitkan. Mengetahui satu-satunya orang yang berhasil menyadarkanmu dari kegelapan mati begitu saja di depan matamu, apa yang akan kau lakukan?

Sedetik kemudian, muncul sebuah tangan raksasa dari tubuh Sasuke yang langsung melemparkan api hitamnya kepada Madara. Bahkan hingga api hitam itu melahap tubuhnya, Madara tak bergeming sama sekali.

Sasuke bukanlah ninja bodoh yang akan mengira Madara akan mati hanya dengan terbakar 'api abadi' milik klan Uchiha itu. Dengan mata merahnya, ia terus mengawasi kobaran api hitam yang –sepertinya- tengah melahap tubuh Madara.

"Apa yang kau perhatikan, Sasuke?" bagai sebuah bisikan setan, saat Sasuke menolehkan kepalanya kesamping, ia tidak menemukan siapapun. Sejenak kemudian, matanya kembali tertuju pada kobaran api hitam di depannya. 'Tetap tak ada pergerakan.' batin Sasuke.

"Sasuke-kun! Awas! Diatasmu!" teriakan Sakura samar-samar terdengar di gendang telinga Sasuke, membuat Sasuke refleks menengadahkan kepalanya keatas.

"Sial." gumam Sasuke saat melihat sebuah Chibakku Tensei dengan api di sekitarnya tengah jatuh tepat di atasnya. Ia sungguh tidak punya pilihan lain. Ia bisa saja menghindar. Tapi bagaimana dengan mayat Naruto yang ada di dasar laut? Ia tidak yakin mayat itu akan tetap utuh setelah tertimpa Chibakku Tensei sialan ini. Paling tidak, ia ingin memakamkan mayat sahabat terbaiknya itu sebagai tanda penghormatan terakhir.

Beberapa meter lagi dan tubuh Sasuke akan hancur terkena 'meteor' buatan Madara itu. Dan di detik berikutnya, Sasuke kembali menunjukkan kelasnya sebagai Anbu terkuat dengan menghentikan laju 'meteor' itu dengan Susano'o miliknya. Dan walaupun untuk kelas Kage sekalipun, menahan Chibakku Tensei seorang diri pasti akan sangat menyusahkan, bahkan hampir tidak mungkin.

'Ini demi Naruto' batin Sasuke sembari mengumpulkan Chakra, bersiap menghancurkan 'meteor' itu dengan satu hentakan dari Susano'o miliknya.

"Kerja yang bagus, Sasuke."

Dan mata Sasuke pun sukses membulat saat menyadari Madara telah ada di belakangnya. Sasuke berniat membalikkan tubuhnya sebelum…

*BLLAAAARRRR*

Tiba-tiba saja, sebuah cahaya hitam pekat muncul dari dalam laut dan terus menjulang ke langit bersamaan dengan bunyi ledakkan yang memekakkan telinga.

Perlahan tapi pasti, sesosok manusia dengan jubah chakra hitam dan sebuah tanda berbentuk koma yang melingkar dari bahu kanan ke bahu kirinya, melayang dari dalam laut.

Matanya yang semula terpejam, perlahan mulai terbuka, menampakkan sepasang mata legendaris yang langsung membuat Sasuke membulatkan matanya. Tak hanya itu, rambut kuningnya yang berkibar semakin membuat Sasuke yakin bahwa sosok yang tengah melayang itu adalah sahabat terbaiknya, Uzumaki Naruto.

"Wow, masih belum mati rupanya. Rokudaime-sama memang hebat." ujar Madara dengan nada sedikit mengejek saat melihat sosok Naruto di depannya. Ia menurunkan kunai yang tadinya ia arahkan ke leher Sasuke, dan mulai berjalan ke arah Naruto yang terlihat 'berbeda'.

Tak seperti yang Sasuke kira, Naruto sama sekali tak menampakkan emosi apapun saat melihat sekelilingnya. Bahkan ia –Naruto- tak mempedulikan Madara yang terus berjalan mendekat ke arahnya. 'Tidak, ia bukan Naruto.' batin Sasuke yakin saat melihat tatapan kosong yang Naruto berikan kepada Hinata. Seorang Uzumaki Naruto tak akan pernah memberikan tatapan kosong kepada orang yang ia cintai, dalam kondisi apapun. Itu yang diketahui Sasuke.

"Kau harus memperhatikan orang yang sedang berbicara, Uzumaki-san." gumam Madara saat menyadari bahwa dirinya sama sekali tak dianggap keberadaannya oleh Naruto.

"Cih," setelah mendecih kesal, Madara pun langsung membentuk segel dengan kedua telapak tangannya dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia menyemburkan api dengan intensitas yang sangat banyak dan jangkauan yang luar biasa ke arah Naruto yang hanya memberinya tatapan kosong.

*BLAAAARRRR*

Belum selesai Madara menyemburkan apinya, tubuh Naruto kembali meledakkan Chakra hitam dengan sangat dahsyat hingga melemparkan segala yang ada di sekitarnya. Air, udara, awan, semuanya. Termasuk teman-temannya.

"Grrrooaaaarrrgghhh… !"

Dan sebelum tubuhnya terpental jauh, Sasuke berani bersumpah melihat bayang-bayang sosok raksasa bermata satu, bergigi runcing, dan… berekor sepuluh. Tersenyum sinis tepat di belakang tubuh Naruto.

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"Laporan cuaca hari ini. Diperkirakan malam ini akan ada badai besar yang menghantam kota Tokyo. Dilaporkan bahwa badai ini adalah badai kiriman dari laut sekitar Amerika yang dilaporkan sedang terjadi Tsunami besar. Untuk keamanan, dimohon untuk tidak keluar rumah malam ini dan kunci seluruh jendela dan pintu rumah anda."

*Ctek*

"Hah~ Membosankan~ Masa' malam minggu malah badai sih~ Gak jadi ke rumah Hinata-chan deh." gumam Namikaze Naruto sembari menguap lebar di sofa empuknya. Sesekali matanya menatap gelisah keluar rumah melalui jendela kaca yang belum ia tutup. Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak.

'Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Uzumaki itu.' Batinnya sembari memejamkan mata.

"Eeeehh? Uzumaki? Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran dia? Tidaaaakkk… ! Aku bukan Gay… !" jerit Namikaze Naruto histeris sembari berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Belum sampai di kamarnya, langkahnya tiba-tiba terhenti.

"Tunggu dulu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu dari Kaa-san." gumam Namikaze Naruto dengan pose berpikir a la detektif.

"APAAA! UZUMAKI NARUTOOO?"

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"U-Ukh…" sedikit merasa pusing, Naruto membuka matanya perlahan, mencoba mengatasi sedikit rasa pusingnya. Untungnya, kondisi sekitar yang memang lumayan gelap membantunya untuk cepat menyesuaikan retina matanya dengan cahaya yang diterima.

"Ah, tanganku?" gumam Naruto saat sadar bahwa tangannya tidak bisa ia gerakkan, seperti tertahan sesuatu.

"Rantai Chakra?" tanya Naruto lebih kepada dirinya sendiri saat melihat rantai Chakra berwarna hitam yang menahan pergerakan kaki dan tangannya. Dengan posisinya sekarang, -tangan dan kaki membentang ke samping- Naruto tak mungkin bisa melepaskan diri dengan membentuk beberapa segel jutsu miliknya.

Sejenak, ia memejamkan matanya, berusaha mengingat kembali rentetan kejadian yang dialaminya hingga sampai ke tempat aneh ini. Ah, ya, ia tadi bertarung dengan Madara dari masa depan dan…

Teman-teman!

"Kau sudah sadar, Naruto?" sebuah suara asing menginterupsi Naruto dari pemikirannya.

"Siapa di sana?" seru Naruto dengan nada tinggi. Mode Sage miliknya segera aktif, meningkatkan refleksnya akan bahaya. Mata Sage miliknya memandang dengan tajam ke sebuah sudut yang entah kenapa lebih gelap dari yang lain.

"Apa kau sudah melupakan kami?" balas suara asing itu.

Mata Naruto membulat seketika saat melihat sesosok makhluk hitam besar bermata satu dengan sepuluh ekor di belakangnya. Mata Sage itu kini berganti menjadi mata legendaries milik Rikudo-Sannin. Mata yang belum lama ini berhasil ia dapatkan dari pertarungannya dengan Madara.

"Khekhekhe, mata itu mengingatkanku pada kakek Rikudo."

"Siapa kau?" Naruto semakin berontak, berusaha merusak rantai chakra yang menahannya.

"Shukaku, Matatabi, Isonade, Son Goku, Kokou, Saiken, Choumei, Ushioni… Kurama."

"Ap-apa maksudmu?" ucap dengan sedikit tergagap. Apa maksud makhluk itu? Menyebutkan seluruh nama Bijuu?

"Ini kami, Naruto. Mungkin nama tadi terlalu panjang. Kau bisa memanggil kami Juubi."

"Jadi, ini wujud utuh Sembilan Bijuu?" tanya Naruto dengan nada kagum. Ia tidak menyangka wujud legendaries kesembilan Bijuu akan terlihat begitu mengerikan… dan keren.

"Ya, seperti yang kau lihat."

"Jadi, apa kalian bisa jelaskan kenapa aku dirantai?" sedikit heran, Naruto akhirnya bertanya dengan nada penasaran.

"Oh, itu hanya sedikit permainan, Naruto. Kau tahu, sudah lebih dari 3000 tahun kami tidak bermain-main dan hanya berdiam diri di dasar laut kelam ini."

"Baiklah, aku mengerti itu. Jadi, kapan kita hajar Uchiha tua itu?"

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"Ck," sedikit berdecak kesal, Madara kembali berdiri setelah terlempar beberapa ratus meter karena ledakan chakra barusan. "Sepertinya ini Saat yang tepat untuk mencoba kekuatan baru, eh?" gumam Madara sembari memejamkan matanya, bermeditasi. Memasuki alam bawah sadarnya dan memaksa Kyuubi untuk mengeluarkan Chakranya.

"Ah, ini dia." Madara menyeringai saat tubuhnya telah terbungkus oleh Chakra berwarna kemerahan dengan kuku dan rambutnya yang semakin memanjang.

'Pertumbuhan selku menjadi lebih cepat,eh?' batin Madara sembari memperhatikan kondisi tubuhnya. Luka lecetnya sembuh seketika, kuku dan rambutpun tumbuh memanjang.

*Zashh*

Dengan sekejap, Madara telah berada di hadapan sosok Naruto yang masih menampakkan tatapan kosong.

"Sekarang giliranku, Uzumaki-san."

Dengan sekuat tenaga, Madara memukul Naruto yang masih membisu ke dasar laut hingga menimbulkan ledakan di dasar sana.

"Aku tahu kau belum mati, Uzumaki-san."

Kembali, ledakan Chakra kembali muncul dari dasar laut hingga membelah langit kelabu di atas sana.

Perlahan tapi pasti, sosok Naruto kembali melayang ke permukaan. Tapi kali ini ada yang berbeda. Apa? Tunggu dulu, itu dia! Cengiran rubah yang entah sejak kapan telah bertengger di tempatnya biasa berada.

"Kau butuh lebih dari itu, kakek tua." ucap sosok Naruto dengan nada meremehkan. Mata hitamnya menatap Madara dengan pandangan sinis.

"Jadi, sekarang kau sudah tidak bisu lagi? Tapi itu tidak akan membantu apapun, kau tahu." desis Madara yang entah sejak kapan telah berada di belakang Naruto dengan telapak tangan mengarah tepat ke arah Naruto.

Bijuu Bomb berukuran jumbo keluar dari telapak tangan Madara dan melesat menuju Naruto.

"Wow, Bijuu Bomb. Lumayan." gumam sosok Naruto sembari membalikkan badan dengan santai ke arah Madara.

Setelah Bijuu Bomb itu hanya berjarak kurang dari 10 meter dari tempat Naruto berdiri, Naruto segera mengarahkan telapak tangannya kedepan, membentuk perisai Chakra tak kasat mata.

*Psssshhh*

Bijuu Bomb milik Madara menguap begitu saja bagaikan asap saat berbenturan dengan perisai Chakra milik Naruto.

"B-ba-bagaimana bisa?" ujar Madara dengan mata terbelalak kaget dan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya.

"B-bijuu b-bomb… Menjadi as-asap?" ujarnya kembali sembari melayang turun dan melangkah mundur.

"Baiklah, laut ini terlalu luas untuk kita berdua, bukan?" seru Naruto dengan cengiran khas miliknya.

"Kagebunshin no Jutsu!" dan muncullah empat Naruto lainnya dengan kondisi yang sama dengan yang aslinya ; diselimuti chakra hitam dan bermata hitam legam dengan seringai mengerikan.

Dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya, keempat bunshin itu segera mengepung Madara, disusul dengan Naruto yang melayang di atasnya.

Keringat dingin semakin mengucur deras dari tubuh Madara kala Chakra Kyuubi miliknya perlahan menghilang.

'Sial, aku belum menguasai sepenuhnya kekuatan Kyuubi.' batin Madara.

"Baiklah kakek tua, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah…" Naruto memberi jeda di kalimatnya sebelum menyeringai penuh dendam kepada Madara.

"… Kau ingin mati dengan tubuh utuh atau tidak?" lanjut para bunshin Naruto sembari memperlihatkan wujud siluman ekor sepuluh seutuhnya.

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"U-ugh…" Hinata mengerang kecil saat terbangun sesaat setelah terlempar karena ledakan Chakra tadi. Dapat dilihatnya Sakura dan Sasuke yang masih mengambang di sekitarnya.

DEG

'Uh, apa ini?' batin Hinata saat merasakan luapan Chakra tak terhingga. Mungkinkah ini berasal dari… 'Naruto-kun?'

Iris mata lavender itu menatap lurus ke depan, tepat ke arah luapan Chakra itu berasal. Mata Hinata membulat seketika saat melihat sosok hitam raksasa yang tengah mengerubungi sosok Susano'o milik Madara yang terlihat kecil. Mata Hinata kembali membulat saat ia menyadari sosok yang melayang di atas medan perang itu.

Naruto yang Hinata lihat saat itu, entah kenapa, walaupun terlihat menyeramkan dan tak berperasaan, tapi Hinata yakin itu adalah Narutonya. "Aku percaya padamu, Naruto-kun." lirih Hinata.

"Hey, Hinata." ucap seseorang mengagetkan Hinata dari lamunannya.

"Shion-chan?" seru Hinata tidak percaya saat melihat sosok Shion yang tengah tersenyum di hadapannya.

"Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Hinata dengan nada penasaran.

"Akh, itu bukan hal penting, Hinata-chan. Aku kesini hanya untuk… melihat." jawab Shion sembari mengalihkan pandangannya ke arah medan perang.

"Kau tahu? Ini sudah melenceng dari takdir. Seharusnya, sekarang Naruto-kun dan Madara-sialan itu sudah mati." lanjut Shion.

"Tapi kali ini sepertinya Naruto-kun berhasil membuktikan bahwa takdir bukanlah sebuah titik acuan. Ya, untuk kedua kalinya." pandangan Shion kembali melembut saat mengatakan kalimat itu.

Sedangkan Hinata, ia hanya memandang Shion dan medan tempur secara bergantian. Walau tidak dikatakan, Hinata tahu apa yang dimaksud Shion dengan mengubah takdir untuk kedua kalinya.

"Dan sekarang, aku ingin melihat bagaimana Naruto-kun akan membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya." lanjut Shion diiringi senyuman manisnya.

Hinata sedikit kaget mendengar pengakuan Shion barusan. Tapi toh nyatanya ia juga turut tersenyum manis.

"Ya, aku juga." balas Hinata.

"Setelah ini berakhir, aku mungkin akan menghilang dari dunia ini dan kembali ke tempat leluhurku untuk menanti tugas selanjutnya. Jadi, Hinata, apakah kau mengijinkanku untuk terus mencintai Naruto-kun?" tanya Shion dengan senyum getir.

"Tentu saja, Shion-chan. Perasaan cinta bukanlah sesuatu yang bisa dilarang." jawab Hinata sembari tersenyum lembut ke arah Shion, membuat Shion yakin akan wanita pilihan Naruto ini.

Menjelang matahari yang akan tenggelam, kedua gadis beriris lavender itu menyaksikan pertempuran akhir dari penentuan nasib dunia. Juga penentuan takdir yang telah diubah. Ya, mereka mungkin akan menjadi saksi kemenangan kedua seorang Uzumaki Naruto dari seorang Uchiha Madara. Dan memang itulah yang kita harapkan.

Berjuanglah, Naruto!

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

A/N : Yosh! Pendek, Gaje, dan penuh kekurangan. Gomen Updatenya 1 abad, soalnya jarang banget ada waktu. Dan untuk yang telah bersabar menanti, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya *hiks* saya terharu sekali, sampai ada yang PM saya, *hiks*

Oh, dan untuk kesalahan nama-nama jutsu, saya bener-bener minta maaf. Maklum, pengetahuan saya masih secuil kalo ngomong tentang anime Naruto. Tapi saya suka anime dan manganya kok.

OK, segitu aja, Keep Read and Review, Minna~

Natsu D. Luffy

.

.

.

Special Thanks For :

ilham s'eyeshield

ikki

Ranina-chan

suka snsd

anonimous

Rosanaru

Wulan-chan

Ilham S'EyeShield AKATSUKI

hmm

uyee uyee prikitiw haha

Fumiko Eri

Ficktor

Kuro Tenma

NaruHinaLovers

Kaisar Rikudo

sherry-chan akitagawa

Cat dog happy

Kudo Widya-chan Edogawa

Setshuko Mizuka

Nana the GreenSparkle

Michelle Aoki

syafria meily

daviedenco

DAN PARA SILENT READERS

Review anda adalah semangat saya, terimakasih ^^

Dan, jangan kira saran dari anda tidak saya dengarkan. Saya selalu berusaha menjadi lebih baik dengan segala masukan dari para reviewers tercinta. I LOVE YOU ALL :*

SEE YA!