This last chapter is dedicated to my special someone (you know who you are). For making me the happiest girl on the entire planet this past 1,8 years. I know im so damn cheesy... but I love us. Not only the laughters, kisses, smiles, hugs and love we share, but also the fights, the cries, the broken-heart and the insecurities (my insecurities to be precise. Huhu). Because I believe, it makes us stronger than ever. Thank you for being the best life-partner and the most beautiful girl inside and out! Dan terimakasih buat kesabarannya selama ini ngehadepin aku yang kek gini. Wahaahahahh :") Hiks. Though the relationship status is indeed over (being in Indonesia and how the circumstance's not really kind with us), but Im so proud at how we survive the mutual broken-heart and still going strong as best-friend or... i dunno what we are now, seriously, it's kinda complicated and nameless but im not going to complain! Cause we're so damn cool like this! Lulz. Good luck buat semua tugasmu, babe. Semuangattttt. Im sure I'll see you on top one day. Yeaaayyy!

Anyway, untuk reader, selamat membaca! Akhirnya, WtN kelar. Setelah setahun lebih hiatus. OMG why so looong. Wkwk. Cant thank you enough, gengs! You really are the best.

.

.

Worse than Nightmare

Chapter 14 : "Not a Nigtmare, Baby"

By kiriohisagi

.

.

"Lo udah pacaran sama si poni itu dan lo gak bilang-bilang sama gue. Gue pikir kita teman seperjuangan!" lolongan dari seseorang di seberang ponsel adalah hal yang pertama kali Kagami dengar ketika dirinya terbangun di Senin pagi.

Kagami menjauhkan ponselnya sambil mengumpat, lalu melihat ke layar untuk mengetahui jam berapa sekarang serta siapa yang meneleponnya pagi-pagi.

Sekarang masih pukul setengah 7 pagi. Dan Takaolah yang berteriak di seberang ponselnya.

Seharusnya Kagami sudah menduga. Tapi kemudian, Kagami sadar tentang suatu hal.

"Lo tahu darimana kalo gue... pacaran?" Kagami ragu-ragu menyebutkan kata terakhir itu. Tapi toh diucapkannya juga.

Di seberang telepon, Takao mengeluarkan suara-suara tidak jelas yang membuat Kagami berusaha untuk menajamkan telinganya.

"Lo ngomong apa ya, Takao?" Kagami mengorek telinganya sebelum Takao berbicara lagi.

"Kemarin gue ke bar, ketemu Himuro. Dia semacam mewawancarai gue. Dan, Kagami, lo hutang banyak sama gue, seriusan. Jangan tanya detailnya gimana karena gue malas cerita pagi-pagi. Gue harus bersiap-siap buat bunkasai!" Takao berbicara tanpa henti.

Kagami setengah mati ingin bertanya tentang wawancara apa yang dimaksud Takao, dan apa yang dia lakukan sampai membuat Kagami berhutang padanya. Tapi kemudian sadar bahwa Takao ada benarnya. Hari ini adalah hari itu! Hari saat Kagami—mau atau tidak—harus mempermalukan dirinya di atas panggung disaksikan oleh puluhan orang yang entah Kagami kenal atau tidak. Jadi Kagami harus segera bersiap-siap.

Kenapa Kagami bilang kenal atau tidak? Karena bunkasai ini terbuka untuk umum. Entah siapa saja yang akan menertawakannya nanti.

"Tapi lo harus janji, sebagai balasan karena gue menyelamatkan elo, lo harus ngajak Midorima ke gerai ramalan kelas gue!" Takao berucap kelewat ceria.

"Menyelamatkan apa sih ini?" Kagami makin senewen.

"Udah gue bilang, gue gak bisa cerita sekarang!" Takao malah marah-marah. Sepertinya dia lagi PMS.

"Lo PMS ya?" Kagami tergoda untuk bertanya.

"Ya pokoknya gitu. Nanti waktu drama lo main, jangan khawatir, gue pasti ada di barisan terdepan untuk memberi dukungan moral."

Setelah itu, sambungan telepon terputus. Menyisakan Kagami yang terdiam di tempat tidur, terheran-heran dengan Takao. Sambil menahan rasa malasnya, dia pada akhirnya bangkit dan bersiap untuk membawa tubuhnya menuju ke kamar mandi. Kagami lalu melepas kaus hitam polos dan boxernya untuk kemudian berdiri di bawah shower dan menyetel pengatur suhu ke tingkat yang lebih tinggi.

Kagami sukses mengguyur tubuhnya dengan air hangat dari shower. Entah kenapa Kagami merasa kedinginan pagi ini. Mungkin karena musim gugur akan datang sebentar lagi, menjelaskan kenapa angin dingin mulai sering bertiup.

Seperti kemarin malam ketika dia dan Aomine sedang berduaan di lapangan basket tempat mereka biasa one-on-one, angin dingin setia menemani. Berhembus mengelus permukaan kulit mereka, menimbulkan sensasi tajam, menggoda Kagami untuk duduk lebih rapat di dekat Aomine guna mencari kehangatan.

Kagami batuk-batuk begitu memikirkan pilihan katanya yang agak memalukan.

Berduaan. Mencari kehangatan.

Lalu Kagami sadar kalau otaknya semakin lama semakin gila. Dia mencoba bersikap biasa pada Aomine. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengenyahkannya. Dia bahkan sudah punya pacar untuk disayang-sayang. Tetapi... ketika dia ditinggalkan berdua dengan Aomine, ketika hanya ada dirinya dan si kunyuk itu, semua yang dia usahakan seperti tidak ada gunanya.

Seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya.

Sambil berpikir demikian, Kagami menekan-nekan botol shampoo hingga isinya jatuh belepotan di telapak tangannya. Seolah tidak peduli—saking kesalnya atas pikirannya sendiri, mungkin—Kagami mulai mencuci rambutnya dengan shampoo yang jumlahnya di atas batas wajar, membuat busa-busa banyak tercipta dan seperti menenggelamkan kepalanya.

"Makan nih shampoo!" Kagami berteriak pada kepalanya sendiri. Seolah kepalanya adalah bagian terpisah dari tubuhnya yang tidak bisa dia kendalikan. "Biar bersih! Gak aneh-aneh aja kalo mikir!" teriaknya lagi, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

.

Tetapi, malas dan kesal yang Kagami rasakan tadi pagi, hilang tak berbekas ketika dia sampai di depan gerbang sekolahnya tepat pukul 9 pagi. Gerbang yang biasanya terkesan menakutkan—karena setiap hari Kagami berpacu dengan waktu untuk masuk sekolah sebelum benda itu tertutup—kini tampak hangat. Semua itu berkat tulisan indah dengan hiasan berwarna-warni berbunyi "Selamat datang di Bunkasai Teikou Academy" di atasnya.

Kagami bergumam, menahan ketakjubannya melihat sekolah yang sudah ramai sepagi ini. Saat ini memang masih dihiasi oleh siswa-siswi sekolahnya, tapi Kagami yakin, siang nanti pengunjung dari luar pasti akan membanjir. Saat itulah Kagami baru menyadari betapa cerdas panitia bunkasai sekolahnya yang menempatkan hari Senin di akhir Agustus—yang adalah hari pertama libur sekolah nasional—sebagai hari bunkasai digelar dan bukannya hari Sabtu atau Minggu.

Dengan begitu mereka akan mendapatkan waktu istirahat di akhir pekan dan bersenang-senang di hari pertama libur sekolah. Sungguh tidak hanya meningkatkan animo siswa Teikou tetapi juga siswa dari sekolah luar.

Kagami memasuki gerbang sekolah dan segera disambut oleh gerai-gerai makanan yang beraneka ragam di halaman sekolahnya. Sambil berjalan dan menahan keinginannya untuk membeli ini itu, Kagami mengagumi beberapa teman-teman satu sekolahnya yang sudah siap dibalik gerai. Kalau Kagami yang baru bangun setengah 7 saja baru bisa sampai di sekolah jam segini, bagaimana dengan mereka? Jam berapa mereka sudah bersiap-siap coba?

Kagami terus berjalan menuju pintu masuk gedung sekolahnya. Melewati gerai demi gerai makanan sambil berjanji akan membelinya begitu dia ada kesempatan nanti, apalagi begitu matanya melihat salah satu gerai dengan banner besar bertuliskan "Yukimi Daifuku" dengan gambar ice cream mochi berwarna-warni yang terlihat lezat.

"Ya nggak heran sih gue menemukan elo lagi ngiler di depan stan makanan." Seseorang di sampingnya berceletuk. Kagami tidak melihat tampangnya, tapi lewat suara dan ledekan mengesalkannya, Kagami bisa menebak itu siapa.

Aomine.

Kagami ingin menangis karena teringat rasa kesalnya tadi pagi. Kalau kata remaja-remaja di novel teenlit—atau komik shojo, atau film komedi-romatis—peristiwa yang sedang melanda Kagami ini bernama gagal move-on, yaitu ketika dia mencoba melupakan perasaan sukanya pada seseorang, tapi selalu saja gagal.

Merasa bodoh karena berpikiran yang tidak-tidak untuk kesekian kalinya, akhirnya Kagami mencoba pasrah. Dia menghela nafas dan berbalik melihat Aomine yang—

"Oke, bisa tolong jelaskan kenapa bisa kaus dan jins milik gue ada di badan elo?!" kata Kagami, menekankan kata 'milik gue' dan 'badan elo' dengan lamat-lamat supaya Aomine mengerti. Tetapi, temannya itu hanya meringis sambil berdiri.

Aomine mengenakan polo shirt warna dark blue dengan jins abu terang yang sangat Kagami kenali. Dilihat dari lebarnya cengiran yang menghiasi wajah Aomine begitu Kagami bertanya padanya, jelas sekali kalau pakaian itu bukan miliknya.

"Gimana yah, waktu gue iseng pakai, kok gue kelihatan lebih gantengan." Kata Aomine, tidak membuat Kagami senang sama sekali.

"Itu karena selera fashion lo jelek. Makanya gak punya baju bagus." Kagami nyolot, walaupun dia sebenarnya tidak punya alasan untuk kesal. Toh, yang meninggalkan baju itu di kamar Aomine adalah dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu.

Kalau Kagami tidak salah ingat, saat itu akhir pekan dan mereka keasyikan bermain basket di lapangan kosong dekat sekolah. Sampai hujan turun dengan deraspun, mereka tetap melanjutkannya. Membuat Kagami pada akhirnya bermalam di rumah Aomine dan terpaksa meminjam baju kering Aomine untuk pulang keesokan harinya.

Sekali lagi, Kagami tidak punya alasan untuk merasa kesal karena baju Aomine juga belum dia kembalikan. Tetapi... kenyataan bahwa Aomine sepuluh kali lebih bersinar ketika dia mengenakan baju Kagami, itulah yang membuat Kagami kesal.

Bersinar dan berkilau, ironi yang bagus pada kulit Aomine yang gelap. Dan celakanya, Aomine tidak berbohong soal dirinya yang terlihat lebih tampan ketika mengenakan baju itu.

"Oke, Kagami. Fokuslah pada bunkasai. Fokuslah bersenang-senang. Persetan dengan Aomine yang ganteng". Itu yang terus Kagami lafalkan dalam hati.

"Mending selera fashion jelek daripada jadi cowok cemen." Kata Aomine, memasukkan kedua tangannya ke kantung celana jins lalu berjalan sok keren menuju pintu masuk sekolah.

Kagami gagal paham dengan maksudnya.

"Yang lo bilang cemen ini siapa?" Kagami berjalan tergesa menyusul Aomine, meminta penjelasan.

"Elo lah. Siapa cowok di dunia ini yang takut sama hantu kalo bukan cowok cemen?" Aomine mengejeknya sambil tertawa-tawa. Kagami paham kalau Aomine ingin membuatnya kesal, karena itulah yang dilakukan Aomine selama hampir tiga tahun terakhir—membuatnya kesal. Tetapi kali ini Kagami tidak akan terpancing dengan olok-olok Aomine. Kagami bersumpah.

"Gue sih yakin lo gak bakal berani masuk ke Rumah Hantu-nya anak kelas duabelas-satu. Denger-denger sih serem banget." Aomine terus melanjutkan ceracauannya bahkan setelah mereka memasuki gedung dan menyusuri lorong yang penuh dengan teman satu sekolahnya yang mempromosikan kelas masing-masing.

"Palingan lo bakal teriak-teriak kayak cewek." Lanjut Aomine lagi, membuat otot-otot di leher Kagami mencuat karena kesal.

"Kalo gue gak teriak-teriak, gue dapat apa?!" tantang Kagami.

"Gue traktir choco-banana." Aomine langsung menjawabnya. Terbayang di kepala Kagami pisang manis berbalut coklat beku yang dilapisi meses warna-warni yang dijual di halaman sekolahnya. Kemudian dia jadi teringat kue panekuk isi kacang merah yang dijual di gerai sebelahnya, membuat air liur Kagami hampir menetes.

"10 Choco-banana dan 10 Iwagayaki!" tawar Kagami. Yang langsung dibalas Aomine dengan tertawa dan ucapan persetujuannya.

"Kalo gue yang menang?" tanya Aomine balik.

Kagami berpikir, "Lo boleh ambil baju gue."

"Deal." Kata Aomine di sela tawanya, membuat Kagami heran kenapa Aomine begitu cepat menyetujui tawaran itu. Mungkin dia sedang banyak uang, mungkin juga karena—

"Kalau lo bertanya kenapa gue dengan cepatnya menyetujui, itu karena gue yakin kalau lo pasti kalah." Aomine menyeringai.

Kagami jadi tergoda untuk melepas sneakers-nya dan melempar kepala Aomine dengan itu. Dan omong-omong, baru saja Kagami sadar, sekuat apapun dia berusaha untuk tidak terpancing... pada akhirnya, dia selalu kalah.

.

Mereka punya waktu sampai pukul setengah satu sebelum bersiap-siap pentas drama di aula. Itu menjadi dasar mengapa Aomine sepagian ini bersikap mengesalkan. Dia ingin bersenang-senang sebelum waktunya pentas tiba. Dan yang Aomine maksud bersenang-senang adalah, menikmati bunkasai ini bersama Kagami sambil sedikit-sedikit membuatnya kesal.

Seperti ketika mereka sampai di Rumah Hantu yang ditata ciamik dengan ornamen-ornamen gelap yang Aomine akui agak menyeramkan ini, entah kenapa Aomine bisa melihat Kagami yang sok-sok-an berani.

Aomine ingin tertawa mengejek. Sudah bukan rahasia lagi kalau Kagami takut hantu. Tapi entah kenapa, dia selalu saja bersikap sok berani. Padahal, apa salahnya kalau memang takut? Toh Aomine tidak akan memandang Kagami berbeda karenanya. Paling Aomine cuma akan mengolok-oloknya seumur hidup.

"Menarik juga." Komentar Kagami pada chocin-obake, hantu berbentuk lentera dengan wajah hancur yang menyeramkan, yang digantung di sepanjang lorong tempat mengantri memasuki Rumah Hantu.

Aomine bisa mendeteksi getaran dari suara Kagami, tapi Aomine diam saja. Hanya tersenyum-senyum simpul sambil membayangkan kemenangannya nanti, saat Kagami berteriak dan memekik seperti perempuan.

Untungnya, antrian masih sepi dan hanya ada tiga orang yang berada di depan Aomine serta Kagami. Tiga orang dengan cepat menghilang di balik pintu kelas yang sukses disulap menjadi pintu yang terlihat usang dimakan waktu. Giliran mereka semakin dekat.

Diam-diam Aomine mengagumi usaha keras yang dicurahkan anak-anak duabelas-satu pada Rumah Hantu ini. Pasti sukses membuat Kagami terkencing-kencing.

"Kok gue gak suka ya lihat lo nyengir. Penuh tipu muslihat." Komentar Kagami, membuat Aomine melebarkan cengirannya, hanya untuk membuat Kagami menjadi semakin kesal.

Tapi Kagami cuma mendecih lalu diam sempurna ketika mereka berada tepat di depan pintu masuk Rumah Hantu. Seorang siswi kelas dua-belas satu yang menjadi penjaga pintu mencoba memberi Kagami sebuah senter, tapi karena Kagami tidak merespon, jadilah Aomine yang menerimanya.

"Selamat menikmati Rumah Hantu kami ya. Silahkan masuk. Ini senter siapa tahu kalian berdua tersesat di dalam." siswi itu mengedip genit kepada Aomine. Aomine mengangguk sambil mengedip balik, sekedar membuat siswi itu senang.

Suara-suara tangisan dan latar musik yang menyeramkan sayup terdengar di balik pintu. Aomine jadi tidak sabar untuk masuk. Sedangkan Kagami? Masih diam mematung dengan tatapan kosong.

"Heh, baka, lo nggak apa-apa kan?" tanya Aomine—bukan bermaksud khawatir—sambil menyikut rusuk Kagami.

"Hah?" Kagami seperti baru tersadar. "Nggak apa-apa sih." Jawabnya, lalu mencoba tertawa. Tawanya sumbang, membuat Aomine sedikit bersimpati.

"Lo beneran takut ya?" Aomine memutuskan bertanya.

Kagami menggeleng. Dan tepat ketika itu, siswi penjaga pintu membukakan Rumah Hantu untuk mereka. Aomine dan Kagami segera disambut oleh lorong gelap mencekam yang tidak bisa mereka lihat ujungnya. Angin dingin bertiup entah darimana, mengirimkan desau suara tangisan perempuan yang membuat hati ngilu. Ketika Aomine menoleh ke sampingnya, dia melihat tangan Kagami yang terkepal erat.

Gemetar.

Kagami gemetar dan Aomine jadi merasa tidak enak.

"Kita masuk?" tanya Aomine pelan. Kagami tidak menoleh ke arahnya sama sekali, tetapi dia mengangguk. Jadi mereka melangkahkan kaki mereka bersama ke lorong gelap itu. Lalu sedetik setelahnya, pintu masuk di belakang mereka tiba-tiba tertutup dengan keras.

Aomine merasakan Kagami berjingkat di sampingnya, tetapi dia tidak berteriak.

"G-gue udah menduga pintunya bakal ditutup." Suara Kagami yang bergetar terdengar di kegelapan, menyatu dengan deru suara serigala yang melolong di kejauhan.

Aomine menyalakan senternya, membuat suasana sekitar yang awalnya gelap gulita menjadi sedikit ada penerangan. Dia jadi bisa melihat wajah Kagami sekarang dan Aomine sudah membayangkan dirinya tertawa begitu melihat seperti apa wajah ketakutan Kagami. Tetapi setelah Aomine benar-benar menengok ke sampingnya, seleranya untuk tertawa benar-benar lenyap.

Karena Kagami terlihat begitu pucat. Kulit cerahnya semakin kehilangan warna. Bibirnya memutih, tidak menyisakan ruang untuk rona merah yang biasanya ada di sana.

"Lo yakin nggak papa?" tanya Aomine lagi, sempurna menghadap ke Kagami, tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir. Kagami hanya menjawabnya dengan satu anggukan lemah dan mulai berjalan ke depan.

Aomine mengikutinya, menerangi jalan mereka berdua dengan senter kecil yang ada di tangannya. Cahayanya kuning pucat, menambah kesan temaram seiring mereka berjalan menyusuri lorong gelap yang terkesan mistis. Aomine tahu Kagami tidak menoleh sedikitpun ke sekelilingnya. Kepalanya tetap terpancang ke depan, fokus mencari jalan keluar. Sementara Aomine, terbagi perhatiannya antara melihat Kagami dan melihat kanan kirinya.

Rumah Hantu ini memang tidak seseram Rumah Hantu yang ada di Fujikyu Highland—sebuah taman hiburan di Yamanashi yang Aomine sempat bersumpah akan mengajak Kagami kesana suatu saat nanti karena Rumah Hantunya yang terkenal—tetapi tetap saja, dengan latar suara yang menyeramkan ditambah hiasan tengkorak dan gambar-gambar seram, auranya cukup untuk membuat Kagami ketakutan.

Harusnya sih, wajar kalau Kagami ketakutan.

Tiba-tiba...

Hi hi hi hi

Suara tawa jelek terdengar di depan mereka. Langkah Kagami terhenti, begitu juga dengan Aomine. Ketika Aomine menyinari jalan depannya dengan senter, tampak lorong gelap yang berbelok ke kiri, menyembunyikan siapapun yang ada di belokan itu.

"Pasti ada hantu di belokannya. Gue yakin." Kata Kagami cepat tanpa jeda. Dia melihat Aomine dengan tatapan memohon. Meminta tolong pada Aomine agar mengeceknya duluan.

Bayangkan saja, kamu berdiri di sebuah Rumah Hantu, cuma berdua, lalu terdengar suara haha-hihi jelek dari seorang wanita dari arah depanmu. Padahal di depanmu cuma ada belokan tajam ke arah kiri yang kamu tidak bisa melihat ada apa di baliknya. Lantas, bagaimana kamu menjamin tidak ada sesuatu yang akan mengagetkanmu di belokan itu?

Tapi ini cuma Rumah Hantu mainan—yang dibuat oleh anak duabelas-satu—Aomine tidak punya alasan untuk takut. Dan seharusnya, Kagami juga tidak punya alasan. Tetapi, siapapun tahu Kagami tetap takut. Dia tetap gemetar. Wajahnya tetap sepucat tadi.

Duh. Aomine jadi merasa bersalah. Dia tahu Kagami takut hantu, tetapi Aomine tidak tahu takut akan membuat Kagami setersiksa ini.

Sesuatu melintas di otaknya. Sesuatu untuk membuat Kagami merasa tenang. Memeluk jelas tidak masuk hitungan karena nanti Aomine disangka mesum. Mungkin cukup memegang tangan Kagami saja. Dalam waktu yang singkat, Aomine menimbang-nimbangnya.

Iya nggak nih? Iya nggak nih? Aomine maju-mundur.

Kalau jadi awkward bagaimana? Kalau Kagami kaget lalu menepis tangannya bagaimana?

Ah kelamaan mikir lo. Aomine menyumpahi dirinya sendiri. Jadi tanpa pikir panjang, dia melakukannya.

Aomine menggenggam tangan Kagami yang—shit—sangat dingin. Dia menatap Kagami lekat-lekat di manik mata. Di tengah keremangan, Aomine bisa melihat pupil Kagami melebar.

"Kalaupun ada hantu, semua ini cuma bohongan. Oke?" kata Aomine lamat-lamat.

Satu detik, dua detik, tiga detik... Kagami cuma diam. Aomine panik. Apa cara memegangnya salah? Apa sebenarnya Kagami tidak suka dipegang tangannya? Apa sebenarnya kalimatnya yang menenangkan itu tidak perlu? Atau...

Oh.

Aomine tidak jadi panik. Karena sekarang... tangan Kagami berangsur rileks dalam genggamannya.

"Iya," kata Kagami kemudian. Pelan sekali. Pada akhirnya, Aomine yang berjalan duluan dengan Kagami mengikuti dari belakang.

Mereka berdua melewati belokan itu dan...

"BAAA!"

Seorang perempuan berambut panjang kusut melompat ke depan mereka.

"SYIT!"

"DAMN!"

"SETAN!"

"SIALAN!"

Aomine dan Kagami mengumpat bergantian. Aomine malah sudah melempar senternya ke wajah si perempuan, membuat perempuan itu mengaduh dengan suara yang—

"Aominecchi! Kok kamu tegaaaa!"

Pekikan mengudara. Dan barulah Aomine sadar, si perempuan dengan make-up seperti kuchisake-onna yang bibirnya robek itu adalah Kise—fucking-Ryota. Aomine menepuk jidat. Oh, ya ampun, Aomine lupa kalau Kise adalah anak duabelas-satu.

"Ya elo tiba-tiba lompat! Gimana gue nggak kaget!" Aomine marah-marah. Dia benci mengakui ini, walaupun tidak begitu seram, tapi kagetnya memang membuat jantung seakan mau copot.

Kise yang berdiri sambil memperbaiki wig kusutnya lalu bersungut-sungut mengembalikan senter kepada Aomine. Ketika Aomine ingin mengambilnya, baru dia sadar, tangannya dicengkeram erat oleh Kagami. Membuat kuku Kagami terhujam keras ke kulit Aomine.

Aomine meringis kesakitan.

Kagami mencoba tertawa begitu tahu Kise dibalik semua ini, tapi tawanya terasa hambar. Aomine lalu mengingat, Kagami tidak berteriak. Dia hanya mengumpat... lalu diam sempurna.

"Habis gini belok ke mana? Kanan apa kiri?" Aomine bertanya pada Kise yang masih cemberut.

"Hantu nggak boleh membocorkan jalan keluar!" Kise menjawab dengan tegas. Tetapi Aomine sudah tidak tega melihat Kagami makin memucat.

"Lo nggak lihat, Julio gue udah hampir pingsan gini?" Aomine bertanya, setengah bercanda, berharap mencairkan ketakutan Kagami dengan membuatnya kesal. Tetapi Kagami tidak memperhatikan detail itu. Malah Kise yang sibuk berciye-ciye dengan wig masih melekat sempurna.

"I-iya, jalan keluar kemana ya?" Kagami malah ikut-ikutan bertanya. Cengkeramannya masih sekuat tadi, jelas menunjukkan betapa kacau pikirannya sekarang.

Kise menatap Kagami simpati.

"Jangan bilang kalau aku yang membocorkan ya! Nanti kalian belok kiri, terus ikuti jalan."

"Makasih." Aomine menjawab tanpa basa-basi lagi dan segera menggeret Kagami. Tidak sampai dua menit, mereka sudah sampai di luar dengan selamat sentosa, walaupun sempat bertemu dengan beberapa hantu gadungan lain—yang membuat cengkeraman Kagami makin kuat.

"Terimakasih sudah mengunjungi Rumah Hantu kami! Silahkan menyumbang 200 yen!" suara cempreng siswi yang menjaga di pintu keluar tidak begitu digubris oleh Aomine. Dia cuma merogoh sakunya, melemparkan dua koin 100 yen kedalam kotak yang disediakan, lalu membawa Kagami menjauh dari situ secepatnya.

.

Astaga. Astaga. Astaga!

Kagami ingin enyah sebentar dari dunia. Dia malu luar biasa. Sekarang mereka tengah mengantri di gerai choco-banana karena menurut pengakuan Aomine, Kagami berhasil untuk tidak berteriak di sepanjang lorong Rumah Hantu.

Yang benar saja. Kagami tidak berteriak karena dia terlalu takut untuk mengeluarkan suara. Untung saja dia tidak sampai ngompol.

Kagami memang penakut. Seharusnya dia tidak usah sok berani di hadapan Aomine.

"Nih." Aomine menyodorkan satu stik choco-banana kehadapan Kagami. "Makan ini dulu, sisa sembilan buahnya ada di kantong plastik." Lalu Aomine mengangkat kantung plastik bening penuh choco-banana yang berada di dalam wadah mika besar.

Kagami mengucapkan terimakasih pelan lalu memakannya. Dia masih terbayang wajah hantu-hantu gadungan yang menyeramkan, sampai dia tidak sadar kalau Aomine membawanya ke bangku beton di bawah pohon untuk duduk di sana.

"Udah selesai takutnya?" tanya Aomine setelah mereka sempurna duduk.

Kagami cuma tertawa datar.

"Gue sebenernya pengen ketawa, tapi gue gak tega ngelihat elo." Katanya lagi, membuat Kagami sadar kalau dia begitu menyedihkan.

"Lo bisa ngelempar ular ke wajah gue, singa juga gue gak takut. Tapi gak tahu kenapa... kalo hantu..."

"Akhirnya! Pengakuan terbesar abad ini!" Aomine mengangkat dua tangannya ke udara, membuat Kagami yang melihatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.

"Geblek," Ujar Kagami. "Tahu gitu kenapa masih nraktir gue choco-banana?"

"Karena elo beneran gak teriak. Gue cukup takjub." Kata Aomine sambil menepuk pundak Kagami, seolah dia merasa bangga padanya. Kagami meringis.

"Omong-omong, kita masih ada waktu sampai jam dua belas nih. Setengah satu kita sudah harus stand-by di belakang panggung. Habis gini kita ngapain?" tanya Aomine, melihat jamnya lalu memakan choco-banana yang dia beli untuk dirinya sendiri.

Benar juga. Sekarang sudah pukul setengah sebelas. Apalagi yang bisa mereka lakukan?

"Oh iya, cowok lo gak datang ke sini apa?" tiba-tiba Aomine bertanya, membuat Kagami merasa seperti disiram air es.

Kagami memijat pelipisnya. Dia benar-benar melupakan Himuro. Kemudian, kata-kata Takao tadi pagi terngiang di kepala Kagami.

Kemarin gue ke bar dan Himuro semacam mewawancarai gue

Begitu kata Takao. Apa maksudnya?

"Gue gak bilang sih sama dia. Lo sendiri? Gimana kabar nyokap?" Kagami bertanya balik, berharap topik tentang Himuro segera terlupakan.

Kagami melihat Aomine mengedikkan bahunya, lalu menggigit potongan choco-banananya.

"Sudah lebih baik sih," jawab Aomine. "Dan lo tahu?"

"Apa?"

"Mama gue random banget, dia cerita ke gue kalo dulu dia hamil gue waktu masih SMA." Kata Aomine, dengan nada ringan seolah dia bercerita kemarin dia dihukum karena tidak mengerjakan PR.

"Terus dia cerita soal Ayah waktu jaman dahulu kala di saat semua masih baik-baik aja. Dan..."

"Apa?" Kagami hanya bisa bertanya apa. Menyikapi pertanyaan singkatnya, Aomine terkekeh.

"Gue inget aja waktu jaman gue kecil. Iya juga sih, Ayah gue kayak sayang sama keluarga. Gue jadi lumayan kangen sama jaman dulu."

Kagami bergumam, bingung mau menanggapinya dengan apa.

"Siapa yang nyangka sekarang dia jadi orang gak guna macam begitu."

Kagami diam. Suatu pertanyaan melintas di otaknya.

"Kalau ternyata Ayah lo menyesal, kira-kira lo mau maafin dia gak?" tanya Kagami pelan. Menatap Aomine yang tidak balas menatapnya dan malah menatap lurus ke depan. Seperti menerawang sesuatu.

"Kata nyokap gue sih, setiap orang punya kesempatan kedua. Tapi gue pribadi? Males rasanya buat ngasih kesempatan itu. Ujung-ujungnya dia pasti balik main pukul lagi."

Lalu hening.

Kagami jadi teringat lusa kemarin, saat dia tidak sengaja bertemu Ayah Aomine dan mengatakan kalau hari ini di sekolahnya akan ada bunkasai yang dibuka untuk umum.

Apakah perbuatan Kagami saat itu tepat?

Kagami jadi takut memikirkannya.

"Kok kita jadi malah bicarain ortu gue sih? Katanya mau senang-senang!" ujar Aomine sambil mendorong pipi sebelah kanan Kagami dengan telapak tangannya, membuat kepala Kagami tertoleh paksa ke arah kiri.

"Aduh! Apasih lo!" Kagami mengamuk.

"Yaudah, kita jalan-jalan lagi. Udah selesai gemeterannya kan?" tanya Aomine. Kagami mengangguk.

"Sekarang ayok kita ke maid cafe-nya anak kelas sebelas. Denger-denger maid nya montok-montok." Aomine sudah melesat berjalan ke gedung sekolah, meninggalkan Kagami yang melihatnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Dan mereka bersenang-senang setelahnya. Percaya atau tidak, walaupun Aomine adalah laki-laki yang super mengesalkan, entah kenapa bersamanya selalu membuat Kagami tertawa—meski kadang harus ngamuk-ngamuk terlebih dahulu. Seperti taruhan aneh mereka untuk menebak-nebak menu di maid-cafe.

Kelas yang disulap menjadi cafe itu memang tampak keren, Kagami mengakuinya. Maid nya pun cantik-cantik walau Kagami seratus persen tidak berselera pada mereka. Tapi satu yang masih gagal dipahami oleh Kagami—kenapa menunya harus pakai bahasa perancis? King ha farz, coq au vin, Kagami memang suka memasak, tetapi Kagami buta masakan perancis. Kagami jadi tidak tahu mau makan apa.

Mungkin gara-gara itu Aomine jadi punya ide aneh tentang—

"Lo pesen buat gue dan gue pesen buat elo. Seaneh apun makanan yang dateng, kita tetep harus makan sampai habis."

Kagami sampai harus memutar matanya mendengar ide konyol itu. Mereka sudah duduk di sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan sekarang.

"Perlu ya apa-apa dibikin taruhan." Komentar Kagami.

"Perlu dong. Hari ini kita kan wajib seneng-seneng," Ujar Aomine sambil membuka-buka kertas menu. Ekspresinya lalu terlihat bahagia. "Aligot kayaknya menjijikkan. Gue pesenin ini buat elo." Membuat Kagami setengah mati ingin menginjak kakinya.

"Definisi lo tentang seneng-seneng itu apa sih? Bikin gue menderita?" tanya Kagami, tapi dibalas Aomine hanya dengan cengiran karena dua detik kemudian dia sudah sibuk memanggil maid, dan memesan Aligot—entah apa itu, Kagami harap rasanya enak—dan secangkir cappucino.

"Lo pesan apa buat gue?"

Kagami menyebut satu nama makanan dari kertas menu secara asal-asalan sambil berdoa apa yang dia pilih untuk Aomine lebih menjijikkan.

Ketika makanan mereka berdua datang dengan maid yang berteriak lantang "Satu porsi Aligot dan satu porsi Andouilettes. Selamat menikmati!" Kagami tahu kalau mereka berdua sudah meremehkan cafe ini.

Karena dua makanan yang dihidangkan untuk mereka, benar-benar terlihat enak. Aligot, seaneh apapun namanya, ternyata adalah kentang tumbuk yang—setelah Kagami cicipi—dibumbui dengan banyak rempah dengan campuran keju yang melumer di lidah.

Sedangkan Aomine, damn, Aomine mendapat seporsi sosis berdiameter besar panjang kemerahan yang jika diiris berisi potongan daging asap yang membuat air liur siapapun menetes.

Aomine tampak sangat bahagia. Kagami melihatnya mengiris sosis dan memakannya dengan beringas.

"Ini sih gue banget." Kata Aomine disela-sela kecapannya. Kagami, yang menyesap cangkir cappucino-nya jadi tidak tahan untuk mengangkat alisnya.

"Elo banget? Maksudnya?"

"Punya gue kan segede gini." Ujar Aomine santai sambil menunjuk sosis yang tersaji di piring dengan garpu yang dipegangnya. Dan... astaga. Kagami langsung tersedak mendengarnya. Tapi kemudian berusaha stay cool saat Aomine nyengir-nyengir saja melihatnya. Oh, Aomine, dia menikmati keterkejutan Kagami.

"No pic, hoax," ujar Kagami, tetapi Aomine cuma mengerutkan keningnya. Kagami menepuk jidatnya, dia lupa kalau Aomine bodoh dan tidak bisa bahasa inggirs. "Kalau nggak ada bukti, berarti lo cuma nipu."

Aomine terkekeh. "Ayok aja sih. Mau gue tunjukin?" Aomine mengangkat alisnya lalu mengedip pada Kagami, sukses membuat Kagami tidak tahan untuk benar-benar menginjak kakinya dan membuat Aomine mengaduh.

"Sumpah. Lo ngeselin banget."

.

Aomine tertawa sepanjang perjalanan keluar dari maid cafe. Kagami di sebelahnya memasang wajah super kesal. Tetapi Aomine tidak menyesal. Empat puluh lima menit lagi sampai mereka diharuskan berkumpul di aula dan Aomine tidak mau menyia-nyiakan waktu setengah jamnya yang berharga. Jadi begitu Kagami mengajaknya untuk ke kelas Takao, Aomine ayo-ayo saja.

Kelas Takao yang berada di ujung membuat mereka berjalan bersisian menyusuri lorong. Sesekali mereka mengomentari kelas lain, sesekali mereka berhenti sebentar untuk mengobrol dengan teman. Tetapi tiga sosok yang jelas mereka kenal sebagai kakak kelas mereka membuat Aomine dan Kagami berhenti sempurna.

"Senpai!" teriak Kagami, membuat rombongan berisi Hyuuga, Kiyoshi dan Aida itu menoleh dan menyambut sapaan Kagami dengan wajah berseri-seri. Aomine tersenyum melihat ketiga senpainya. Mereka bertegur sapa sejenak sambil melepas kangen karena sudah lebih dari setengah tahun tidak bertemu.

Kagami yang lebih banyak berbicara, sebenarnya. Aomine hanya diam sambil mendengarkan kemana arah pembicaraan mereka. Mereka bertiga bilang kalau mereka sangat bangga atas kemenangan Teikou di Winter Cup maupun Interhigh tahun ini tanpa mereka. Kalau menurut Aomine sih, bukan hal yang sulit. Teikou memiliki banyak pemain basket handal dari seluruh Jepang. Dan mereka punya Akashi. Tentu saja mereka tak terkalahkan.

Entahlah bagaimana nasib adik kelasnya nanti. Semoga mereka bisa mempertahankan gelar "Tak Terkalahkan" milih Teikou walaupun tanpa Generation of Miracles.

Aomine jadi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia berpikir, akan jadi apa dirinya kalau sudah lulus nanti. Tetap bermain basket? Tentu saja! Dia akan mengajak Kagami untuk masuk di Universitas yang sama. Dia dan Kagami itu duo tak terpisahkan, bukan?

"Aku diberitahu Momoi, kalian akan main drama jam satu nanti, kan?" Aida berbicara kelewat antusias. Duh, mulut Satsuki benar-benar tidak bisa dijaga. Bahkan para senpainya saja sampai tahu.

Aomine sudah akan menanggapinya dengan senyuman miring ketika dia melihat sesuatu yang lumayan ganjil. Yaitu Midorima, yang membawa teddy bear di tangannya dan sedang memasuki kelas Takao.

Aomine menyikut Kagami.

"Apaan?" Kagami mendesis.

Aomine ingin bilang, tapi dipikir-pikir lagi, betapa tidak pentingnya dia mengatakan pada Kagami tentang Midorima yang mengunjungi kelas Takao. Kalau Aomine tebak sih, Midorima mengunjungi kelas Takao karena dia suka hal-hal aneh seperti horoskop dan ramalan bintang.

Jadi pada akhirnya Aomine hanya menggeleng dan membiarkan Kagami mengobrol seru bersama ketiga senpainya sampai mereka pamit untuk jalan-jalan ke tempat yang lain.

"Jadi?" tanya Kagami, melihat Aomine yang dari tadi diam sempurna. Kalau ada yang bertanya kenapa Aomine diam saja, dia cuma bingung. Bukannya dia tidak senang bertemu Hyuuga, Kiyoshi atau Aida. Hanya saja, dia dan Kagami kan hanya punya waktu sampai jam setengah satu untuk bersenang-senang berdua. Tapi Kagami malah mengobrol seru dengan mereka tanpa memperhatikan Aomine sama sekali. Wajar kan kalau Aomine... tidak suka?

Aomine ingin membenturkan kepalanya ke dinding terdekat. Astaga, betapa egoisnya dia.

"Masih ada waktu nih. Kita jadi ke kelas Takao nggak? Tadi pagi dia minta tolong gue buat bawa Midorima ke kelasnya sih," ujar Kagami sambil melihat jam tangannya.

"Terserah sih. Tapi kalo Midorima, gak usah dicari. Tadi gue lihat dia sudah masuk kelas Takao." Jawab Aomine sambil berjalan pelan menuju kelas Takao, meninggalkan Kagami yang segera menyusulnya.

"Hah? Seriusan?"

Aomine mengedikkan bahunya. Dari sudut mata Aomine, dia melihat Kagami menaikkan alisnya.

"Lo kenapa? Kok ogah-ogahan banget?" tanyanya.

"Gak apa-apa kok." Jawab Aomine singkat. Mereka sudah berada tepat di depan kelas Takao sekarang. Tapi Kagami benar-benar tidak memusingkan Aomine sama sekali karena sekarang, dia sudah masuk dan berdiri di depan bilik dengan tulisan "Takao : Pyromancy" di tirainya.

"Selamat datang di toko ramalan kelas dua belas-empat. Mau diramal dengan cara bagaimana?" seorang gadis pendek dengan topi bak penyihir menyambut mereka. Kagami tampak terkejut, Aomine hanya diam sambil memerhatikan ruang kelas yang kini disulap menjadi lorong dengan bilik-bilik yang diberi penyekat tirai di kanan-kirinya. Di depan biliknya, ada barisan kursi dengan beberapa orang yang tampak sedang mengantri.

Cukup mengesankan.

"Memangnya ada cara apa saja ya?" Tanya Kagami, membuat si gadis tersenyum makin lebar.

"Macam-macam dong. Ada dengan tarot—kalian pasti sudah tahu. Ada seni meramal garis tangan. Tapi yang paling populer sih Tasseography—" si gadis berhenti menjelaskan sebentar untuk menunjuk bilik dengan antrian yang paling ramai. "—seni meramal dengan daun teh. Kalian ingin yang mana?"

Aomine sama sekali tidak tertarik. Dia tidak percaya pada ramalan. Menurutnya, ramalan itu omong kosong. Satu-satunya yang bisa mengubah nasib setiap orang adalah orang itu sendiri.

"Kalau Pyromancy?" tanya Kagami, menunjuk bilik milik Takao yang sepi tanpa satu orangpun mengantri.

"Oh, itu seni meramal dengan menggunakan api. Kalau tertarik, silahkan mengantri. Hanya ada satu pelanggan yang sekarang sedang berada dalam bilik tersebut." Si gadis tersenyum kembali. Aomine melihat Kagami mengangguk sopan lalu pamit dan menarik Aomine untuk duduk di kursi depan bilik Pyromancy milik Takao.

"Antusias banget," komentar Aomine setelah mereka sempurna duduk. "Lo pengen ngeramal apa sih?"

"Ngeramal kita bakal selamat setelah kita tampil atau enggak." Jawab Kagami cepat.

"Serius nih." Ujar Aomine lagi, benar-benar penasaran.

Kagami tertawa. "Enggak sih. Cuma penasaran si Takao ngapain aja di dalam."

.

"...jadi kalau menurut api ini, Shin-chan bakal berhasil masuk kedokteran." Sayup suara Takao terdengar dari dalam. Kagami mengernyitkan alisnya. Dia tidak bermaksud menguping, tapi duduk sedekat ini dengan pintu masuk bilik yang hanya tersekat oleh tirai yang terbuat dari kain, mau tidak mau Kagami bisa mendengarnya.

Kagami bahkan bisa mendengar suara Midorima yang menggumam.

"Begitu ya. Aku kaget, tahu darimana aku ingin masuk kedokteran?" Kagami bisa membayangkan Midorima mengatakannya tanpa ekspresi dengan mengangkat bagian tengah kacamata.

Suara Takao terdengar lagi.

"Shin-chan beneran nggak ingat ya? Sebelum kita masuk SMA di sini, kita pernah bertemu kan?" nadanya terdengar normal, tapi ada sarat kesedihan di sana. Setelah itu, Kagami merasa rusuknya disikut.

Aomine berbisik. "Ini... nggak apa-apa kita nguping?"

Kagami hanya mengedikkan bahunya.

"Pokoknya kita nggak ember." Ujar Kagami santai.

"Ingat kok," jawab Midorima singkat.

"Oh ya?"

"Iya, di pertandingan basket SMP kan? Aku mengalahkanmu."

Lalu hening.

"O-oh," Jawab Takao. "Iya. Itu." Jawab Takao pelan. Entah kenapa terdengar kecewa.

"Ya sudah, apa lagi yang mau diramal? Mau diramal jodoh tidak?" suara Takao kembali ceria.

"Hmm. Boleh."

"Oke, sekarang ambil segenggam garam, lalu lemparkan di atas lilin."

Ada jeda beberapa detik sampai Takao balas menggumam dan akhirnya bersuara sebelum awalnya memekik singkat. "Woaaaaa." Pekiknya kelewat ceria. "Saat kuliah nanti, kamu akan bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu adalah cinta pertamamu." Katanya, tidak mendapat tanggapan dari orang yang sedang diramal.

"Selamat ya Shin-chan! Sekarang mau diramal apa—"

Belum sempat Takao meneruskan kata-katanya, Midorima memotongnya dengan dua kalimat singkat. "Ramalanmu salah." Katanya.

"E-eh?" Takao terdengar bingung. Kagami yang mendengarnya jadi ikut bingung. Dia merasa bersalah karena sudah menguping, tapi, hei, bukan salahnya kan? Siapa suruh mereka bicara keras-keras?

"Aku sudah punya cinta pertama. Bertemu dengannya waktu SD. Sekarang tidak tahu ada di mana."

"O-oh ya? Wah, aku tidak tahu. Berarti, nanti kamu akan bertemu dengan cinta pertamamu lagi saat kuliah." Jelas Takao, agak terbata. "Kalau boleh tahu, di mana Shin-chan bertemu dengannya?"

Ada jeda singkat sampai akhirnya Midorima menjawab.

"Di rumah sakit. Ayahku dokter, aku sering pergi ke rumah sakit waktu aku SD. Suatu hari ada gadis kecil yang selalu menemani Ibunya sakit di sana. Aku menemaninya. Tetapi Ibunya meninggal. Setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi." Jelas Midorima panjang lebar. Kagami berani bertaruh kalau itu adalah kalimat terpanjang yang dikatakan oleh Midorima siang ini.

"Oh ya? Memangnya Ibunya sakit apa?" tanya Takao. Dan Midorima menjawabnya tanpa berpikir, seolah sepanjang hidupnya, dia sengaja mengingat nama penyakitnya.

"Thalasemia Alfa Mayor. Kelainan sintesis rantai globulin darah, delesi pada empat rantai alfanya."

Hah?

Kagami seperti mendengar bahasa planet. Sama sekali tidak mengerti apa yang Midorima katakan. Penyakit apa pula itu. Kalau kanker atau TBC, Kagami masih paham. Tapi yang disebut Midorima tadi? Sama sekali tidak.

Tetapi Takao hanya menjawabnya dengan hening. Kagami bahkan sempat mengira Takao paham dengan apa yang Midorima bicarakan. Hening yang tercipta membuat Kagami menghitung berapa detik yang Takao habiskan dengan tidak berkata apapun. Dan entah kenapa, Kagami jadi merasa iba pada Takao. Dia pasti merasa sangat kecewa.

"Wow." Kata Takao pada akhirnya. "Shin-chan memang keren. Kalau menurut api ini, saat kuliah nanti, kamu akan menemukan cinta yang baru. Jadi tunggu saja, Shin-chan."

"Hmmm. Begitu ya." Midorima menjawabnya singkat. "Semoga kamu juga." Lanjutnya.

"Eh? Apanya?" tanya Takao.

"Dipertemukan dengan cinta yang baru. Karena kamu orang baik." Ujar Midorima. Entah kenapa suasananya terdengar berbeda sekarang.

"Orang baru? Baik?" Kagami lalu mendengar suara tawa sedih Takao. "Kalau saja kamu tahu, Shin-chan."

"Aku tahu, kok." Kata Midorima lagi. Terdengar tegas. Keterkejutan Takao bisa dirasakan oleh Kagami. "Aku tidak bodoh. Makanya... semoga nanti kamu bisa bertemu dengan orang baru yang kamu sukai." Kata Midorima. "Dan bisa menyukaimu." Tambahnya.

"Kamu pantas mendapatkannya." Ujar Midorima lagi setelah tidak mendapat tanggapan dari Takao.

Yang itu... membuat Takao tertawa sumbang. Kagami menelan ludahnya, merasakan kepahitan yang dirasakan Takao.

"Terimakasih, Shin-chan." Tapi Toh Kagami bisa mendengar Takao berterimakasih dengan tulus. Ada nada sedih yang terselip di sana. Nada sedih yang tidak diindahkan oleh siapapun.

"Untuk apa?" tanya Midorima.

"Untuk semuanya."

Dan ketika Midorima menjawab dengan kata "Sama-sama,"... saat itulah Kagami menelan ludahnya dan berpikir. Mungkin semua kisah cinta SMA memang tidak ditakdirkan untuk berakhir indah. Termasuk kisah milik Kagami.

Kagami ingin menjauh dari sana. Benar-benar merasa bersalah karena sudah mendengarkan hal yang bersifat sangat pribadi ini. Tetapi ketika Kagami ingin enyah dari sana, suara Midorima yang sudah akan berpamitan terdengar.

"Aku pamit dulu, sebentar lagi akan ada pentas drama."

"Oh iya!" suara Takao meninggi. Sudah kembali ceria seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Diam-diam, Kagami mengagumi kemampuan Takao menutupi perasaan yang sebenarnya.

"Nanti aku pasti lihat di barisan paling depan!"

Midorima hanya menggumam. Mengucap terimakasih pelan.

"Terimakasih kembali karena sudah mengunjungi toko ramalan kelas duabelas-empat. Sampai ketemu di lain kesempatan."

Lalu Kagami mendengar suara tirai disibak. Kagami terkejut dan refleks menegakkan duduknya ketika Midorima lewat dan berjalan keluar tanpa memerhatikan sekitarnya. Kagami lalu memandang Aomine, yang ternyata dari tadi sibuk membaca majalah yang disediakan untuk para pengantri.

Kagami bahkan baru ingat kalau dari tadi Aomine ada di sampingnya.

"Hei." Kagami memanggil Aomine. Aomine menoleh ke arah Kagami dengan muka bosan. "Midorima sudah keluar. Lo mau ikut diramal atau enggak?" tanya Kagami lagi.

Aomine memandang Kagami dengan wajah datarnya, lalu berdiri. "Lo aja deh, gue nggak tertarik." Ujarnya, lalu berjalan ke luar.

"Loh? Aho, lo mau ke mana?"

"Gue tunggu di luar. Cepet ya. Setengah jam lagi kita harus kumpul di aula." Kata Aomine sambil mengorek kupingnya dan menghilang di balik pintu keluar.

Kagami bingung. Tapi pada akhirnya dia mengedikkan bahunya dan menyibak tirai di depannya, memperlihatkan Takao yang bersila di lantai dengan memakai jubah panjang khas peramal sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ada meja kecil dengan lilin merah besar menyala dan semangkuk garam yang menggunung di atasnya.

"Lo... enggak apa-apa kan ya?" tanya Kagami iba, membuat Takao terlonjak dan refleks memperlihatkan wajahnya yang...

"Holy hell, muka lo merah banget." Kata Kagami kaget, sambil mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk bersila di depan Takao.

Takao tidak berkata apa-apa.

"Barusan gue kira lo nangis—"

Takao menggeleng.

"Enggak sih, gue cuma..." Takao diam lagi, lalu melanjutkan dengan terbata. "...itu gue." Katanya.

Mendengar Takao, Kagami mengangkat alisnya tinggi. Sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.

"Elo? Maksudnya?"

Tapi Takao malah menutup mukanya lagi, lalu dengan panik mengacak-acak rambutnya sendiri. Kalau Kagami tidak kenal Takao, mungkin dia sudah mengira kalau Takao ini punya penyakit jiwa atau semacamnya.

"Thalasemia mayor? Penyakit langka itu? Itu Ibu gue. Cinta pertama Shin-chan? Ya Tuhan, dia kira gue cewek!" Takao memekik. Lalu terlihat kaget sendiri dengan apa yang dia katakan. "Astaga, apa yang gue lakukan? Kalau dia tahu gue bukan cewek... kalau dia tahu..."

Takao menceracau. Sedang Kagami?

"Seriusan?" Kagami melongo. Mencoba tidak terkaget-kaget setelah berhasil mencerna isi dari ceracauan Takao. Karena kalau Takao serius dengan semua ucapannya, ini semua akan berakhir seperti film-film komedi romantis.

"Terus... lo mau gimana?" tanya Kagami. Takao hanya menggeleng dengan kalut.

"Ya nggak gimana-gimana. Hari ini gue ada rencana mau kasih tahu dia kalau gue suka dia. Gue udah siap buat ditolak. Dan lo tahu bagian mana yang lucu?" tanya Takao.

Kagami menebak-nebak.

"Dia nolak lo bahkan sebelum lo ngaku ke dia? Tapi ternyata elo itu cinta pertamanya yang gak pernah dia tahu?"

"Oh, man, cerita cinta gue bener-bener kayak sinetron!" Takao menepuk jidatnya sendiri.

"Terus gimana?" Kagami mau tidak mau jadi penasaran. "Lo bakal bilang sama dia kalo yang dia maksud cinta pertamanya itu elo?" bahkan ketika Kagami bertanya seperti itu, rasanya masih aneh.

Apa dunia benar-benar selucu dan sesempit itu?

Tetapi Takao malah memandang Kagami seolah Kagami punya dua kepala. Sama sekali tidak merasa kalau apa yang Kagami tawarkan adalah ide yang bagus.

"Lo gila? Kalau gue bilang ke dia... terus apa? Gue cuma bakal bikin dia sedih! Jangan sampai dia tahu, lah!"

"Tapi..."

"Nggak ada tapi, Kagami. Gue udah janji kalau hari ini adalah hari terakhir gue deket sama dia. Setelah ini kami sudah sama-sama harus fokus untuk ujian. Gue gak mau ganggu dia lebih dari ini." Kata Takao. Keteguhannya terdengar sangat jelas, tapi sayangnya masih tidak mampu untuk menutupi nada sedih yang terbersit sekilas di dalamnya.

Kagami kemudian paham, bahwa Takao tidak ingin bersedih atas apa yang sudah dia pilih. Bahwa Takao berusaha untuk tidak mendramatisir semuanya. Menyadari itu, yang bisa Kagami lakukan hanyalah tidak mengasihaninya. Karena Takao bukan orang lemah yang patut dikasihani.

"Jadi... ini akhirnya?" tanya Kagami.

Takao terdiam. Menghela nafas, lalu menghembuskannya.

"Ini akhirnya." Nadanya berat. Kagami jadi tergelitik untuk membuatnya merasa lebih baik. Bagaimanapun juga, Takao adalah teman seperjuangannya.

"Perjalanan hidup kita masih panjang, kan? Rasanya pasti gak enak, gue tahu. Tapi suatu hari, lo bakalan lihat ke belakang dan semuanya pasti bakalan baik-baik aja." Sok bijak. Tapi hanya itu yang bisa Kagami berikan untuk menghibur Takao.

Takao mendengus.

"Thanks. Tapi kayaknya lebih baik lo mikirin masalah lo sendiri daripada sok-sok-an ngehibur gue. Urusin tuh si poni!" kata Takao, membuat perut Kagami mulas tiba-tiba.

"Himuro ngewawancarain elo apa sih?" Kagami pada akhirnya bertanya, demi menuntaskan rasa penasarannya.

"Tentang elo sama Aomine? Seriusan Kagami, lo harus ketemu sama dia dan jelasin semuanya." Ujar Takao. Wajahnya benar-benar seperti tidak sedang bercanda.

"I'm so fucked," Umpat Kagami. "Gue nggak ada niatan buat nyakitin dia atau gimana, sumpah." Kata Kagami. "Gue cuma... tiba-tiba dia kira kita pacaran. Terus gue pikir... nggak ada salahnya buat mencoba. Siapa tahu dengan itu gue jadi menemukan suatu pencerahan. Entahlah, gue tahu gue goblok." Kagami menjelaskan panjang lebar, semakin membenci dirinya sendiri di setiap kata yang dia ucapkan.

Takao memandangnya simpati.

"Terus ternyata? Setelah dicoba?" tanyanya.

"Setelah dicoba, gue tahu itu salah. Nggak seharusnya gue kayak gitu." Kagami menyesal setengah mati.

"So?" tanya Takao lagi.

"So? Gue bakal ngomong ke dia. Mungkin nanti, mungkin besok." Kata Kagami, sadar kalau harusnya dia tidak menunggu hingga sekarang untuk meluruskannya pada Himuro.

Kagami jadi kesal pada dirinya sendiri. Sangat kesal. Apalagi ketika membayangkan bagaimana kecewanya Himuro kalau dia mengatakannya. Himuro itu orang baik, dia juga menyenangkan untuk diajak mengobrol. Harusnya Kagami tidak pernah coba-coba dengannya. Harusnya, dari awal Kagami sudah tegas.

"Kok gue jadi pengen nabok elo ya, Kagami?" ujar Takao, membuat Kagami tersenyum kecut. Jangankan Takao, Kagami saja ingin menabok dirinya sendiri

"Tapi untung aja lo baru awal-awal sama dia. Dianya juga belum terlanjur sayang sama elo." Tambah Takao.

"Dia bilang gitu ke elo?" tanya Kagami langsung.

"Ya enggak. Tapi dia itu anak kuliahan, udah gede. Lo cuma anak SMA. Dan lo deket sama dia memangnya udah berapa tahun? Lo serius nyangka dia bakalan sayang sama elo? Pede banget lo." Ujar Takao.

Kagami terdiam. Perkataan Takao memang pedas, tapi itu ada benarnya.

"Tapi tetep, gue harus ketemu dia dan minta maaf." Putus Kagami pada akhirnya, membuat Takao mengangguk.

"Itu urusan nanti kan? Sekarang lo harus fokus pada apa yang ada di depan lo yang—omong-omong—akan lo hadapi kurang dari dua jam lagi."

Perkataan Takao membuat Kagami refleks melihat jam tangannya dan menemukan kenyataan bahwa sekarang sudah jam duabelas kurang limabelas menit. Seperempat jam menuju waktu yang dijanjikan untuk berkumpul.

"Gue harus pergi sekarang." Kata Kagami, lalu berdiri, bersiap untuk keluar. Sebelum Kagami menyibak tirai, dia melihat Takao mengangguk maklum. Sedetik kemudian, dia berujar, lebih kepada dirinya sendiri.

"Gue baru sadar, jadi tadi lo nguping pembicaraan gue sama Shin-chan dong." Katanya.

Membuat Kagami mendengus, bertanya-tanya apa dari dulu Takao memang se-lemot ini.

"Suruh siapa ngomong hal pribadi kenceng-kenceng," kata Kagami, berdiri sambil memandang Takao. "Lagian, gue bukan orang yang kurang kerjaan kok. Rahasia lo aman sama gue." Kata Kagami terakhir kalinya sebelum dia keluar dari bilik sempit itu.

.

Aomine menatap nanar pemandangan di depannya.

Di sana, di ujung lorong yang berseberangan dengan tempatnya berdiri, Aomine melihat Akashi, dengan tampang seriusnya sedang mengobrol berdua dengan laki-laki setengah baya, berperawakan tinggi dengan pundak lebar, yang Aomine kenal selama tujuh belas tahun lebih.

Mata Aomine melebar. Melihat Ayahnya lagi setelah belasan hari tidak bertemu menimbulkan amarah yang menggelegak. Kilatan-kilatan memori tentang malam saat Ayahnya mengamuk berkelebat dalam kepala Aomine, membuat dia mengepalkan tangannya. Ingin memukul apapun yang bisa dipukul supaya rasa menyesakkan di dadanya hilang.

Mereka berdua kemudian menghilang di belokan lorong menuju pintu keluar gedung sekolahnya.

"Hei... gue udah selesai nih—" Aomine bisa mendengar suara Kagami dari samping. Suara yang terpotong entah karena apa. "Lo kenapa?" sebagai gantinya, Aomine mendengar Kagami yang bertanya dengan nada khawatir.

Aomine menoleh, mendapati Kagami sudah berada di sampingnya. Tetapi pikirannya tidak bisa teralih dari apa yang dilihatnya beberapa detik yang lalu.

Ayahnya berada di sini. Dan berbicara dengan Akashi.

Sejak kapan... mereka mengenal satu sama lain?

Aomine ingin mengatakan sesuatu pada Kagami, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Karena tanpa Aomine sadari, dia sudah berlari menuju pintu keluar, menyeret Kagami bersamanya dan mengendap mengikuti Ayahnya dan Akashi yang sekarang tengah berada di sebuah sudut sepi di halaman samping sekolahnya.

"Apa-apaan, Aho—?!"

.

Sedangkan Kagami? Dia sama sekali tidak mengerti. Sedetik lalu dia sedang bersama Aomine di depan kelas Takao. Tetapi sedetik kemudian dia sudah berada di sini, bersembunyi di belakang sebuah pohon di samping halaman sekolahnya bersama dengan Aomine yang kini sedang membekap mulutnya dari belakang.

"Ssssst." Desis Aomine. Menyuruh Kagami diam. Oke, Kagami dapat poinnya. Tetapi kenapa harus memeluknya dari belakang, itu yang tidak bisa Kagami pahami.

Tidak tahukah Aomine kalau gestur seperti ini berpengaruh terhadap detak jantungnya?

Kagami sudah ingin protes ketika matanya melihat pemandangan yang tidak biasa. Sepuluh meter di depannya, terlihat Akashi dan laki-laki setengah baya yang Kagami kenali sebagai Ayah Aomine. Mereka tengah berbincang serius.

Kagami melepaskan tangan Aomine pelan-pelan dari mulutnya, lalu menoleh ke kiri. Wajah Aomine tidak kurang dari lima senti di hadapannya. Tetapi tatapannya memancang lurus ke depan, terdiam, seperti mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi.

Ketika Kagami mengikuti arah pandang Aomine, dia kemudian melihat Akashi sedang memberi sebuah amplop putih tebal kepada Ayah Aomine. Ayah Aomine tampak menghela nafas, lalu memasukkan amplop itu ke tasnya dan berbalik meninggalkan Akashi.

Akashi sendiri lalu berjalan ke arah yang sebaliknya. Meninggalkan tempat sepi yang sekarang tidak berisi siapapun lagi.

Ketika Kagami menoleh ke Aomine, dia sedang menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Akashi tahu sesuatu," Kata Aomine, kalut. "Dia tahu sesuatu dan dia gak bilang apa-apa sama gue." Nadanya tercekat.

Kagami memandangnya, nanar.

Kagamilah yang mengundang Ayah Aomine ke sini. Tetapi Kagami sama sekali tidak tahu kalau ternyata Ayah Aomine mengenal Akashi. Dan benar kata Aomine, ada urusan apa Akashi dengan Ayah Aomine?

Kenapa semua ini terasa begitu... aneh?

Tetapi Kagami tidak bisa tenggelam dalam kekalutan yang sama. Aomine sedang kacau, Kagami tahu. Maka dari itu, satu-satunya yang bisa Kagami lakukan, hanyalah menenangkannya.

.

Aomine merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Dia tahu itu Kagami, jadi Aomine mendongak dan mendapati Kagami sedang menatapnya khawatir. Ketika itulah Aomine sadar bahwa dia sama sekali tidak berpikir. Pada akhirnya, dia menghela nafas, menenangkan dirinya sendiri, kemudian menatap Kagami lagi.

"Maaf." Kata Aomine kemudian. Membuat air muka Kagami menjadi terheran-heran.

"Untuk?" tanyanya.

"Bikin lo khawatir?" Aomine balik bertanya. Lalu merasa bodoh sendiri.

"Hei, it's okay. Kalau gue jadi elo, gue juga akan bingung harus gimana." Kata Kagami, melepaskan genggamannya. Aomine mengangguk. "Lo tahu?" sambung Kagami.

"Apa?"

"Kalau lo mau mengonfrontasi Akashi dan nanya ke dia soal hal ini, gue bakal ada di belakang lo. Siapa tahu terjadi pertumpahan darah dan lo butuh bantuan buat ngelawan dia." Kata Kagami.

Aomine langsung tertawa mendengarnya. Entah kenapa Kagami selalu berhasil membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Membuat Aomine detik itu juga memutuskan bahwa apapun yang dilakukan Ayahnya dengan Akashi, sama sekali bukan urusannya dan bukan suatu hal yang layak untuk dipikirkan oleh otaknya.

"Gak perlu," jawab Aomine akhirnya. "Setelah gue pikir-pikir lagi, masalah ini sama sekali gak penting. Terserah dia mau ngapain, bukan urusan gue." Lanjut Aomine tanpa ragu, lalu melihat jam tangannya sendiri.

Lima menit menuju pukul 12.00, waktu yang dijanjikan untuk berkumpul. Dan satu jam lebih menuju pentas drama yang sesungguhnya.

Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari ini. Dan Aomine yakin, masih ada banyak hal yang akan terjadi. Aomine hanya perlu menyiapkan dirinya.

Tetapi Aomine yakin, apapun yang terjadi, dia akan baik-baik saja.

Karena Aomine punya Kagami di sampingnya.

.

.

Pukul 12.40 PM

Dua puluh menit sebelum tirai dibuka.

"Properti siap? Soundman siap? Penanggung jawab tirai? Penanggung jawab tirai mana?!" Momoi berteriak-teriak dalam suasana belakang panggung yang ribut. Semua tampak panik kesana-kemari begitu melihat kursi penonton sudah banyak yang menduduki.

Yang paling tampak panik, tentu saja Momoi. Padahal sang sutradara sendiri, Akashi Seijuurou, sedang duduk manis mengamati semuanya, seolah percaya bahwa drama siang hari ini akan berjalan lancar tanpa kurang suatu apapun.

Aomine mendengus menatap sang sutradara. Lalu bertepatan ketika Aomine berniat memandang ke arah lain, tatapannya bersirobok dengan si rambut merah. Membuat Aomine terdiam kaku. Akashi menatapnya penuh selidik. Sampai Aomine jengah dan mengalihkan pandangannya.

Aomine, dengan kostum yang sudah melekat di tubuhnya, kemudian duduk di samping Kagami yang sedang membaca skenario leceknya untuk entah yang ke-berapa kalinya.

"Dan lo masih mengkhawatirkan soal dialog? Plis, Kagami. Lo sudah hafal di luar kepala." Aomine tidak tahan untuk mengomentari, sebagai upaya untuk pura-pura tidak menyadari tatapan Akashi. Aomine tidak ingin mengakui bahwa dia masih terpikir soal Akashi dan Ayahnya.

Tetapi ketika lewat ekor matanya dia melihat Akashi berjalan ke tempat dia dan Kagami duduk, Aomine gagal untuk berpura-pura.

"Halo, Daiki." Kata Akashi dengan nada tegasnya seperti biasa. Aomine mau tidak mau menatapnya. Kagami, yang tengah duduk di sebelahnya juga tampak terkejut.

"Hei." Jawab Aomine singkat. Tidak tahu harus bagaimana. Rasanya jengah ketika ditatap Akashi degan intens seperti itu.

Apa maksud Akashi menghampirinya? Apa Akashi menyadari kalau tadi mereka membuntutinya?

"Bagaimana kabar beberapa dialogmu yang sempat terlupa kemarin?" tanyanya. Membuat Aomine luar biasa lega. Ternyata ini semua hanya soal dialog.

"Sudah lebih baik. Gue nggak akan mengacaukan drama ini kok." Aomine mengatakannya dengan tegas, membuat Akashi mengangguk puas.

Kagami sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sungguh, walaupun dengan meyakinkan Aomine mengatakan kalau dia sama sekali tidak peduli dengan urusan Ayahnya dengan Akashi, Kagami tahu Aomine pasti memikirkannya.

Lalu tiba-tiba, Kagami teringat kemarin lusa saat dia bertemu Ayah Aomine di hotel tempat Himuro menginap. Desas-desus di sana mengatakan macam-macam soal Ayah Aomine. Dan bukan rahasia lagi kalau Akashi Seijuurou adalah pewaris tunggal dari Akashi group, perusahaan dengan bisnis menggurita dan terbesar se Jepang. Jadi, bukannya tidak mungkin kan, kalau sedikit-banyak masalah Ayah Aomine ada hubungannya dengan Akashi?

Dan Aomine berhak tahu, damn it! Maka dari itu, Kagami setengah mati ingin mengonfrontasi Akashi. Dia ingin bertanya, apa urusan yang dimiliki Akashi dengan Ayah Aomine? Apa isi amplop yang dia berikan pada Ayah Aomine? Dan apa yang Akashi tahu tentang semua ini?

Tetapi siapa Kagami? Kagami cuma orang luar yang tidak punya hak apapun untuk memutuskan apa yang terbaik untuk Aomine. Ketika Aomine memilih untuk tidak ingin tahu... Kagami bisa apa?

"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Taiga." Suara Akashi menyadarkan Kagami tiba-tiba.

Kagami melihat Aomine sedang mengernyitkan dahinya berkat kata-kata Akashi barusan. Kaagami sendiri refleks menegakkan tubuhnya.

"Oh ya? Memangnya apa?" tantang Kagami. Entah kenapa mendapat keberanian tiba-tiba.

Akashi menggeleng.

"Kalau ini tentang kalian yang penasaran kenapa Aomine-san bertemu denganku di halaman samping, percayalah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ujarnya.

Kagami dan Aomine melebarkan matanya.

Kagami makin melebarkan matanya ketika melihat wajah Akashi setelahnya. Kagami boleh saja dikatakan gila, tapi untuk sedetik, ekspresi wajah Akashi seperti merasa bersalah.

"Ada sesuatu kan?" Kagami memberanikan diri bertanya ketika Aomine tak kunjung berbicara. Akashi ganti memandang Kagami, kemudian dia mengangguk.

"Kalau memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kenapa tidak katakan saja sekarang? Aomine berhak tahu semuanya."

"Gue nggak peduli." Potong Aomine sebelum Kagami sempat menyelesaikan kata-katanya. Membuat Kagami kesal luar biasa.

"Lo pikir berapa tahun kita kenal?" nada Kagami meninggi. "Lo pikir gue nggak tahu kalau elo kepikiran?"

Kata-kata Kagami membuat Aomine berdecih sebal.

Akashi menghela nafas. Dia melirik jam tangannya sekilas, lalu menatap Aomine dan Kagami bergantian.

"Sebenarnya, ini bukan waktu yang tepat," ujar Akashi. "Tetapi Kagami benar, kamu berhak tahu, Daiki."

"Apa yang perlu gue tahu?" tanya Aomine, matanya memicing menatap Akashi.

Akashi menatap Aomine tanpa kata selama lima detik, kemudian dia menghela nafasnya dan mulai berbicara.

"Ada alasan kenapa aku menjadikanmu pemeran utama di drama ini dengan Kagami." Katanya.

"Yeah. Karena kami membolos rapat kelas beberapa waktu yang lalu." Komentar Aomine, berusaha semampunya agar tidak terdengar tertarik. Akashi seperti tidak menggubrisnya karena dia segera melanjutkan kata-katanya.

"Karena kupikir, dengan kalian berdua menjadi pemeran utama, kalian akan semakin sering bersama."

"Dan apa kaitannya dengan Ayahku?" Aomine mulai kesal sekarang. Poin dari apa yang Akashi bicarakan sama sekali tidak bisa masuk ke akal Aomine.

"Empat bulan lalu, apa kamu ingat apa yang sedang hangat diperbincangkan di media? Tentang Akashi Group? Perusahaan Ayahku?" tanya Akashi.

Mana Aomine tahu! Apa Aomine terlihat seperti orang yang senang mendengarkan berita? Apa Akashi sedang mempermainkan dirinya?

Tetapi ketika Aomine sudah akan berteriak, Kagami yang berada di sampingnya menjawab.

"Perluasan kekuasaan Akashi Group dengan membeli perusahaan-perusahaan kecil?" tanya Kagami ragu-ragu.

Akashi mengangguk. Tapi kemudian menambahkan.

"Itu versi lebih sopannya. Aku sendiri biasa menyebutnya dengan 'pencaplokan perusahaan kecil demi perluasan kekuasaan Ayahku'. Banyak pihak yang dirugikan dari situ. Tetapi berkatnya, Ayahku semakin berkuasa." Akashi menjelaskannya tanpa menunjukkan emosi sedikitpun.

"Terus?" tanya Aomine, kini mulai mendengarkan dengan seksama.

"Apa kamu tahu perusahaan tempat Ayahmu bekerja sebagai Akuntan adalah salah satu perusahaan yang dicaplok Ayahku?" tanya Akashi.

Aomine menggeleng.

"Apa kamu tahu karena itu Ayahmu dipecat dan bekerja serabutan?"

Aomine menggeleng lagi. Sebuah perasaan campur aduk menelusup di hatinya.

"Apa kamu tahu..." Akashi berhenti sebentar. "Kalau aku mencari segala cara untuk menghilangkan rasa bersalahku kepada semua korban dari apa yang Ayahku perbuat?" tanya Akashi.

Aomine terdiam.

"Sebagian besar sudah berhasil kutangani. Tetapi begitu aku tahu kalau kamu, teman sekelasku sekaligus anggota tim basket yang aku pimpin, adalah anak dari salah satu korban pencaplokan Ayahku... aku tidak bisa tinggal diam." Kata Akashi. "Amplop yang kuberikan pada Ayahmu adalah uang kompensasi dari pemecatan tidak beralasan yang dialaminya. Itu sepenuhnya hak ayahmu."

Aomine mencerna semua itu dengan keterkejutan yang semakin meningkat di setiap detiknya. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi semua informasi yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Kenapa lo ngerasa bersalah? Ini bukan salah elo." Kata Aomine.

"Terimakasih, tapi ini salah keluargaku. Aku berkewajiban untuk meluruskannya." Kata Akashi tanpa sedikitpun keraguan.

Ada hening yang tercipta selama beberapa detik. Yang dimanfaatkan oleh Aomine untuk bertanya tentang satu pertanyaan yang menggelitiknya sedari tadi.

"Jadi alasan lo memasangkan gue dengan Kagami di drama ini... karena?"

Menanggapi pertanyaan Aomine, Akashi tersenyum simpul sambil mengedikkan bahunya.

"Entahlah, anggap saja ini insting dari seseorang yang hobinya mengamati semua orang." Katanya, gagal dipahami oleh Aomine.

"Sejak Ayahmu makin sering mabuk, aku tahu kehidupan keluargamu makin tidak sehat. Jadi instingku mengatakan, tidak ada salahnya kalau aku memfasilitasimu dengan kebahagiaan yang lain." Sampai pada kalimat ini, Akashi melirik ke arah Kagami. Membuat dada Aomine berdegup lebih keras, tidak berani mengikuti arah pandang Akashi.

"Tetapi pada akhirnya... keberanian untuk memilih ada di tangan kalian kan?" kata Akashi lagi. Pertanyaan yang dijawab oleh hening dari kedua bela pihak. Baik Aomine dan Kagami.

Aomine tidak tahu harus berpikir soal yang mana dulu. Masalah dengan Ayahnya atau masalah dengan orang yang ada di sampingnya. Tetapi yang pasti, yang manapun itu, akan menunggu setelah drama selesai dipentaskan. Karena setelahnya, Akashi berbalik dan berteriak kepada semuanya kalau sepuluh menit lagi tirai akan di bukan. Disusul dengan pekikan panik Momoi di keriuhan belakang panggung.

"Romeo sama Julio kemana?! Romeo?! Julio?!" lolongnya.

Seseorang di keriuhan—entah siapa—menjawabnya.

"Mereka lagi mojok di pojokan!"

Jawaban yang membuat beberapa orang tertawa disusul dengan Momoi yang memanggil mereka berdua untuk segera bersiap.

Kagami dan Aomine sempat berpandangan sejenak. Tetapi Kagami yang duluan memutusnya untuk berbalik duluan menuju panggung. Di saat itu, ketika melihat punggung Kagami menjauh, Aomine teringat satu fakta yang sempat tenggelam karena gonjang-ganjing Ayahnya dan Akashi tadi.

Satu fakta bahwa Aomine mendengar semua pembicaraan Kagami dan Takao.

Satu fakta bahwa Kagami memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Himuro, cepat atau lambat.

Menyadari itu, ditambah perkataan Akashi tentang pilihan dan keberanian, serta melihat punggung Kagami yang terus menjauh, membuat Aomine refleks mengejar Kagami. Degup jantungnya tidak bisa diabaikan lagi. Jadi, ketika Kagami sempurna berhenti, Aomine meraih tangan Kagami. Membuat Kagami seketika berbalik.

Di tengah hiruk-pikuk itu, sentuhan tangannya memberi Aomine energi, membuat aliran darahnya mengalir semakin deras.

"Tiga..." gema suara orang menghitung mundur terdengar.

Kemudian, melihat Kagami yang balas menatapnya, adalah dorongan terakhir yang dibutuhkan Aomine untuk maju. Karena sedetik kemudian... Aomine mengatakannya.

Dua...

Kalimat yang tidak pernah Aomine pikirkan sebelumnya.

Satu...

"Gue sayang elo, Kagami." Ucap Aomine. Tetapi, begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Aomine yakin bahwa apa yang dirasakannya adalah benar.

Bertepatan dengan berakhirnya hitung mundur, tiraipun terbuka.

.

Kagami tidak bisa berkonsentrasi sepanjang penampilannya. Dan jangan salahkan Kagami karena itu. Ini semua salah Aomine! Karena Aomine fvcking Daiki bilang kalau dia sayang Kagami. Sialan!

Ajaibnya, Kagami masih bisa menghafal dialognya tanpa terlihat kalau pikirannya sedang terbang ke arah lain. Padahal sekarang dia tengah berada di atas panggung pada adegan dirinya sedang berbincang dengan Ayah dan Ibu Julio.

Kagami bersumpah, setelah drama ini selesai, dia akan menendang bokong Aomine karena berani-beraninya bicara tanpa memandang situasi dan kondisi.

Dia mengatakannya tepat ketika tirai pentas drama dibuka. Yang benar saja! Aomine tidak akan pernah tahu bagaimana kata-kata itu memengaruhi detak jantung Kagami.

"Mama dengar kamu berteman dengan anak dari keluarga Montague ya? Siapa namanya?" Suara Kuroko yang dicemprengkan menyadarkan Kagami dari lamunannya. Melihat tingkat Kuroko yang sengaja dilebih-lebihkan—Kuroko berlatih menjadi seperti itu berminggu-minggu, omong-omong—membuat riuh tawa penonton terdengar.

"Romeo maksud mama?" Kagami menyuarakan dialognya. Dan setelah itu... semuanya berlangsung dengan cepat.

Adegan demi adegan terlewati dengan lancar. Pertemuan diam-diam Romeo dan Julio, adegan-adegan kocak pertengakaran mereka, adegan ketahuan orang tua mereka kalau mereka berteman... dibalik semua dialog yang terkesan berat, cara mereka menyajikan drama ini dengan ringan membuat para penonton terhibur.

Karena, sesungguhnya, sampai babak inipun ceritanya dikemas seolah Romeo dan Julio hanya berteman. Dan keluarga mereka sangat tidak setuju kalau mereka berteman.

Sampai ketika adegan dimana hanya ada dirinya dengan Aomine di atas panggung. Adegan klimaks ketika Julio berpura-pura mati. Kagami benci mengakuinya, tetapi ini adalah adegan favoritnya. Karena yang harus dia lakukan hanyalah berbaring di tengah panggung tanpa satu dialogpun.

Aomine sebagai Romeo akan mendatanginya, menangis dan mencurahkan semua apa yang dia rasakan. Kemudian, seperti di cerita aslinya, Romeo akan mengakhiri hidupnya sendiri dengan minum racun, tanpa mengetahui kalau sebenarnya Julio hanya berpura-pura mati untuk membuat keluarganya sadar betapa pertikaian dengan mengorbankan kebahagia putra mereka adalah hal konyol yang patut mereka sesali. Lalu ketika Julio terbangun dan mendapati Romeo telah mati, dia akan menyusul Romeo. Dan kisah mereka berakhir dalam sedih yang indah. Mempertemukan mereka kembali di alam baka.

Jadi, sesuai skenario, Kagami berbaring di tempat yang disediakan. Dalam tidur pura-puranya itu, dia menyempatkan diri untuk berpikir bahwa dirinya tidak boleh terlalu berharap atas apa yang Aomine katakan padanya sebelum tirai dibuka.

Karena, kenyataan tidak akan seindah drama. Kagami tidak ingin berharap lalu terjatuh karenanya. Jadi yang bisa dia lakukan... hanyalah memproteksi hatinya, kan?

Ketika Aomine menyuarakan dialognya sebagai Romeo, Kagami tidak tertarik untuk mendengarkannya. Dia hanya perlu terbangun ketika dia sudah merasakan tubuh Aomine yang ambruk di atasnya.

Bruk.

Separuh tubuh Aomine ambruk di atas tubuh Kagami, isyarat bagi Kagami untuk bangun dan memerankan bagian terakhirnya. Tetapi tepat ketika Kagami bersiap untuk bangun, satu tangan Aomine menahannya.

"Tolong beri gue kesempatan."

Katanya.

Dan Kagami tidak tahu lagi harus bagaimana.

.

Yang Kagami sadari adalah, tiba-tiba semuanya sudah berakhir. Akashi sudah mengucapkan terimakasih dan staff serta pemain bergandengan tangan sambil berjajar ke hadapan penonton untuk memberi hormat. Dari atas panggung, Kagami bisa melihat Ayah Aomine duduk di salah satu kursi penonton. Menatap panggung dengan wajah sedih yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Kemudian, mata Kagami kembali menelusuri bangku penonton dan menemukan Takao di barisan paling belakang, sedang mengacungkan kedua jempolnya pada Kagami. Membuat Kagami tersenyum.

Senyum yang segera hilang begitu Kagami menyadari siapa yang tengah terduduk di sebelah Takao.

Himuro. Yang juga tengah tersenyum maklum kepadanya.

Kagami menatapnya nanar. Tetapi sesuatu menggenggamnya lebih kencang. Membuat Kagami menelan ludah, sambil menatap tangannya yang kini bertaut dengan tangan Aomine. Kagami kemudian kesal pada dirinya sendiri begitu menyadari, bahwa dia ternyata sangat bahagia.

Hati Kagami ingin menjawab iya.

Hati Kagami ingin bersama Aomine.

Tetapi otak dan mulutnya begitu sulit mengijinkan.

Seolah membaca pikirannya, begitu tirai tertutup, Aomine menatap Kagami tepat dimanik mata, kemudian berkata dengan perlahan.

"Lo selesaikan masalah lo sama Himuro. Gue akan selesaikan masalah dengan Ayah gue. Ketika kita udah sama-sama lega, tolong temui gue di atap sekolah." Katanya, seolah memohon pada Kagami.

Kagami ingin menggeleng, tetapi dia tidak punya kuasa atas apa yang hatinya inginkan. Jadi pada akhirnya dia hanya menatap Aomine dalam diamnya.

Tetapi Aomine mengerti apa arti diam Kagami. Karena sedetik kemudian, dia mengecup puncak kepala Kagami dan berbalik untuk menemui Ayahnya setelah sebelumnya mengatakan satu hal yang membuat Kagami sangat bahagia.

"Tunggu gue, ya." Katanya.

.

.

Semilir angin menemani Kagami yang menunggu dalam keheningan. Waktu menunjukkan pukul tiga sore dan dirinya sedang bersandar di atap sekolah yang selama dua setengah tahun menemaninya dalam suka dan duka.

Terlalu banyak kenangan yang sudah disaksikan oleh atap sekolah ini. Dan seolah tidak pernah bosan, atap ini, sekali lagi akan menyimpan sebuah kenangan penting untuk Kagami.

Beberapa saat lalu, Kagami bertemu dengan Himuro. Mereka membicarakan semuanya. Tetapi anehnya, kenyataannya tidaklah serumit yang Kagami pikirkan. Karena Himuro sama sekali tidak terlihat terluka karenanya.

"Aku yang harusnya minta maaf, karena waktu itu salah sangka." Kagami ingat itulah yang dikatakan oleh Himuro.

Kagami menggeleng. "Kamu nggak salah sangka. Aku memang ada tendensi mendekatimu... tapi..."

"Mendekatiku untuk melarikan diri dari perasaanmu." Kata Himuro. Kagami mengangguk, merasa dirinya sangat brengsek.

"Kamu orang baik, aku kira aku bisa tertarik padamu. Aku menyukaimu."

"Tapi hanya sebagai teman." Lanjut Himuro, seolah sudah bisa menebak apa isi pikiran Kagami. Lagi-lagi Kagami mengangguk.

"Aku yang harusnya minta maaf. Kamu berhak marah." Kata Kagami pada akhirnya. Tetapi ketika Kagami mengira Himuro akan marah padanya, Himuro malah tertawa kecil.

Dia bilang dia rindu masa SMA. Dia bilang tidak seharusnya Kagami merasa bersalah karena walaupun Himuro menyukainya, Himuro tahu Kagami tidak merasakan hal yang sama. Dia juga mengucapkan terimakasih karena telah menemaninya dengan menjadi teman kencan yang baik.

Pada akhirnya, mereka berpisah dengan janji akan bertemu kembali di Amerika nanti untuk bermain basket bersama.

Dan Kagami bersyukur karenanya.

"Ternyata si kunyuk lagi ngelamun." Suara Aomine menyadarkan bayangan Kagami. Kagami menoleh dan mendapati Aomine sedang terengah seperti habis berlari ke sini. Tetapi di wajahnya, terpasang cengiran yang membuat Kagami mengumpat dalam hati. Cengiran yang selalu membuat Kagami bahagia setiap melihatnya.

"Gimana Ayah lo?" tanya Kagami, mengatur kata-katanya agar tidak terdengar grogi. Aomine kemudian duduk tepat di hadapannya.

"Coba tebak?" Aomine melempar pertanyaan balik kepada Kagami. Membuat Kagami mengedikkan bahunya. Karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain tebak-tebakan.

Tetapi entah kenapa pada akhirnya Kagami menjawabnya.

"Dia minta maaf?" tanya Kagami. Aomine menggeleng, membuat Kagami kesal tiba-tiba. "Serius dia nggak minta maaf?!" suara Kagami meninggi.

Aomine tertawa.

"Lebih baik kayak gitu. Karena dengan keadaan yang sekarang, dia minta maafpun gak bakal gue maafin." Kata Aomine.

"Terus... dia ngomong apaan?" tanya Kagami, sebentar melupakan rasa grogi dan rikuhnya dengan Aomine.

"Dia pamitan sama gue. Mau ngejauhin gue dan Mama gue." Kata Aomine. Tetapi Kagami tidak mendapati raut wajah sedih karenanya.

"Serius? Dan lo... lega karena itu?" tanya Kagami hati-hati. Aomine mengangguk.

"Sejujurnya, gue bahagia. Karena dia bilang, dia mau memperbaiki diri. Dia ngerasa nggak pantes kalau minta maaf sekarang. Jadi dia mau menjauh dari kami, sampai dia ngerasa pantes dan bisa balik lagi ke kami untuk minta maaf. Sampai saat itu tiba, dia akan fokus memperbaiki diri."

Kagami tidak bisa mengatakan apapun.

"Siapa yang menyangka, kan?" tanya Aomine, sambil tersenyum. Kagami hanya mengangguk.

"Terus? Kabar si Himuro gimana? Udah lo putusin?" Ujar Aomine tiba-tiba, membuat dada Kagami kembali berdegup kencang.

"Lo hutang banyak sama gue!" kata Kagami kesal. "Ngomong kayak gitu tepat waktu tirai dibuka..."

"Tapi gue serius soal itu." Potong Aomine. Matanya terpancang lurus menatap Kagami, membuat Kagami sulit untuk bernafas.

"Itulah yang nggak gue ngerti... lo straight, kan?" tanya Kagami lemah.

"Apa hubungannya sih orientasi seksual gue sama sayang gue ke elo?" pertanyaan Aomine terdengar kesal. Membuat Kagami yang mendengarnya juga kesal.

"Apa hubungannya? Jelas ada hubungannya! Apa yang lo harapkan dengan ngomong kayak gitu, Aomine?" kejar Kagami.

Aomine tampak menimbang. "Ya... kita pacaran? Gue sayang elo. Gue nggak suka lo deket orang lain. Gue ngerasa pertemanan kita nggak lagi cukup."

Kagami mengangguk. Siap untuk membeberkan segala alasan kenapa Aomine harus memikirkan ulang semua ini.

"Lo ingat soal perkataan gue di lapangan basket tempo hari? Soal lo yang cuma bingung?" tanya Kagami.

"Inget." Kata Aomine tegas. "Tapi itu adalah anggapan lo, Kagami. Sedangkan yang merasakan itu gue. Dan gue tahu dengan jelas perasaan gue sendiri."

Kagami menggeleng. Membuat Aomine menghela nafasnya berat.

"Dengerin gue," ujar Aomine, mengarahkan wajah Kagami agar melihatnya tepat di manik mata. "Bilang ke gue, apa yang bikin lo takut jalanin ini semua sama gue."

Kata-kata Aomine begitu lembut, membuat Kagami ingin terisak karenanya.

"Gue nggak bisa kehilangan elo. Pertemanan itu batas aman hubungan kita, Aomine. Kalau kita jalanin ini, suatu saat lo akan sadar kalau lo nggak lagi menginginkan gue sebagai pacar dan ninggalin gue. Terus, apa yang tersisa dari kita?" tanya Kagami putus asa.

Aomine diam, kemudian, tanpa berkata apa-apa, dia merengkuh Kagami dalam pelukannya.

"Kita nggak akan kehilangan satu sama lain. Gue yakin." Ujar Aomine, kata-katanya begitu lembut di telinga Kagami. Kagami ingin mempercayainya. Kemudian, Aomine melanjutkan. "Kita nggak tahu gimana masa depan, Kagami. Gue nggak akan bilang kalau gue akan selalu sayang sama elo selamanya, karena gue sendiri juga nggak tahu. Siapa yang tahu? Bisa jadi ini berhasil. Bisa jadi enggak."

"Gimana kalo enggak?" Tanya Kagami, masih dalam rengkuhan Aomine yang terasa hangat.

"Percayakan sama pondasi pertemanan kita, Kagami. Gue yakin pertemanan kita nggak sedangkal itu. Yang akan hancur hanya karena masalah percintaan."

"Lagipula," lanjut Aomine lagi. "Kita udah sama-sama tahu kalo kita saling sayang. Kalau kita nggak nyoba, kita hanya akan nyakiti diri kita sendiri. Ibaratnya, kita ini udah basah. Jadi kenapa nggak sekalian nyelam? "

Kagami terkekeh.

"Lo yakin sama gue?" tanya Kagami akhirnya. "Gue nggak punya dada sih."

"Pantat lo sama empuknya kok, santai." Ujar Aomine sambil mengangkat satu jempolnya. Kagami ngakak mendengarnya. "Jadi?" tanya Aomine lagi.

"Apanya?" Kagami menahan dirinya untuk tidak tersenyum.

"Ini kita udah jadian apa belum ya? Tolong beri gue pencerahan."

"Menurut lo?" tanya Kagami, akhirnya tersenyum lebar. Membuat Aomine juga ikut tersenyum. Tanpa berkata apapun, Aomine mencondongkan wajahnya dan mengecup bibir Kagami singkat.

Kemudian Aomine makin melebarkan senyumnya.

"Pas gue cium sih nggak berontak. Jadi kayaknya sih kita udah jadian." Kata Aomine, membuat Kagami tertawa lebih keras.

"Iya dah, terserah elo." Jawab Kagami pasrah.

"Oh, freaking finally!" Aomine melempar tangannya ke udara. "Akhirnya Kagami punya cowok cakep, saudara-saudara!" teriakannya menggema di udara.

"Shut Up, Aho!" Kagami berteriak.

Dan mereka menghabiskan sisa sore itu dengan bertengkar seperti biasa.

Bahkan setelah berpacaran pun, Aomine tetaplah Aomine dan Kagami tetaplah Kagami. Tidak ada yang berubah di antara mereka.

.

SELESAI

.

Freaking finally! Astaga. /nanges. Akhirnya selesai. Jam setengah 11 malam Hari minggu, tanggal 20 Maret 2016. (setelah dua hari nonstop ngadep leptop. Plis.)

Belum diedit ya gengs. Betanya lagi tenggelam dalam lautan tugas yang tak kunjung reda :") huhu. Wish her luck! Dan authornya masih ada tugas buat praktikum esok hari /aku tak nanges wae yok opo. Huhu. Abaikan ceracauan saya.

Jadi maafkan kalau masih ada typo or kata-kata yang gak enak. Besok setelah pulang kuliah, aku usahain ngedit. Dan kasih salam perpisahan ke kalian.

PS. Akan ada bonus chapter. Mungkin di post seminggu atau dua minggu dari sekarang. Tergantung selonya kapan. Love ya gengs! Si kirio mau ngopi dulu biar bisa begadang nugas. Aaaaa. Mual banget ini perut. Bye! Muah!