Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko x Rias
Rating: T
Start: Sabtu, 23 Juli 2016
.
.
.
CLOSER
By Hikasya
.
.
.
Chapter 14. Sakit
.
.
.
"Koneko-chan, oyasumi. Mimpi yang indah ya!" sahut Naruto dengan nada yang pelan. Bersamaan angin meniup rambut dan pakaiannya sehingga berkibar-kibar seperti bendera.
Gadis bertubuh mungil itu tertegun di tempat. Memasang wajah yang kusut. Mulai merasa khawatir terhadap Naruto yang akan berjaga di sana semalaman suntuk. Apalagi hujan akan turun sebentar lagi. Itu pasti akan membuat Naruto kehujanan saat berjaga semalaman.
Dia tidak tega membiarkan Naruto begitu. Dia ingin mencegahnya. Tapi, di hatinya yang lain, membisikkan untuk membiarkan Naruto seperti itu. Entahlah, ini benar-benar sangat membingungkannya.
'Dasar, Naruto no baka!' batin Koneko sambil menutup jendela itu dengan cepat.
KLAP!
Lantas dia berjalan lagi menuju tempat tidur. Sedikit merasa geram karena melihat Naruto yang benar-benar bertekad akan menjaganya semalaman suntuk di luar sana. Hatinya memutuskan untuk membiarkan Naruto begitu saja. Dia tidak peduli entah bagaimana jadinya keadaan Naruto nanti. Dia tahu bahwa Naruto adalah seorang ninja. Seorang ninja akan tahan banting dalam menghadapi kondisi apapun. Dia tidak akan sakit jika kehujanan di luar sana.
SREK!
Koneko membungkus tubuhnya dengan selimut saat sudah terbaring miring ke kanan. Mencoba menutup mata untuk terlelap ke alam mimpi. Dia ingin segera tidur untuk melupakan semua ini.
CTAAAAR!
Tiba-tiba, petir menyambar dengan suaranya yang sangat keras. Saat bersamaan, air pun turun untuk membasahi bumi.
CRRSSSH!
Hujan lebat disertai angin yang sangat kencang menerpa tempat itu. Sungguh ganas dan tidak bersahabat. Suasana mencekam dan semakin dingin.
Tepat sesuai yang diduga Koneko, Naruto kehujanan. Naruto tetap duduk bersila di bawah pohon rindang, sambil terus menatap ke arah jendela kamar Koneko. Dia memeluknya dirinya sendiri untuk mencari kehangatan sejati. Sudah sedikit menggigil karena kedinginan. Tapi, semua itu ditahannya demi melindungi Koneko. Tetap siap siaga walaupun apa yang terjadi.
Kepalanya yang ditutupi dengan tudung jaket jingga, tertunduk sebentar. Ia berusaha melek karena sudah berkali-kali diserang kantuk. Dia harus tetap terjaga dan mengawasi Koneko. Ingin membuktikan pengabdiannya sebagai pengawal pribadi Koneko atas misi yang tengah dijalaninya. Juga membuktikan rasa cintanya yang tulus terhadap gadis yang telah menjadi kliennya dalam misi ini.
Apapun yang terjadi, misi ini harus berhasil. Koneko harus selamat sampai liburan sekolah tiba. Karena rencananya, Koneko akan diajaknya ke desa Konoha untuk berlibur dan sekaligus untuk menghabiskan masa liburan bersama Koneko hanya berdua saja. Dia ingin berkencan dengan Koneko saat di Konoha nanti.
Dia tersenyum saat mengingat semua itu. Seiring saffir birunya memandang kembali ke arah jendela kamar Koneko. Terus tersenyum dalam keadaan tubuh yang sudah basah kuyup. Tidak peduli lagi bahwa tubuhnya sudah menggigil hebat karena sangat kedinginan meskipun sudah mengenakan jaket yang sangat tebal. Tapi, itu tidak menjadi masalah besar baginya.
"Aku harus berjuang untuk terus terjaga sampai pagi. Ini demi melindungi Koneko-chan," katanya yang terus tersenyum.
.
.
.
Paginya, saat sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Ternyata Naruto tidak masuk. Hal ini membuat Erza, Serafall dan Lucy heran. Mereka pun bertanya pada teman-teman sekamar Naruto.
"Menma di UKS," jawab Killua yang sedang memakan coklatnya.
"Iya. Dia tiba-tiba sakit semalam itu," sahut Natsu yang menambahkan."Kata dokter UKS, dia demam tinggi. Jadi, harus beristirahat total di UKS sekarang."
"Oh...," ketiga gadis itu manggut-manggut. Mereka yang dimaksud adalah Erza, Lucy dan Serafall.
"Hm... Tapi, kok Koneko nggak tanyain Menma seperti kalian? Dia cuek gitu pas tahu Menma nggak masuk. Dia pacar Menma, kan?" tanya Toushiro yang penasaran.
Mereka yang berkumpul mengelilingi meja si Natsu, sejenak memandang ke arah Koneko. Koneko sedang asyik melihat ke arah jendela. Wajahnya tampak datar.
"Entahlah," Serafall menggeleng-geleng.
"Dari kemarin, mereka terlihat nggak akur. Seperti biasa gitu saat masih berstatus teman," Lucy berwajah kusut.
"Apa mereka bertengkar?" Killua berwajah sewot.
"Mungkin. Kalian tahu sendirilah gimana sifat Koneko. Diakan suka memukul Menma kalau Menma menyinggung perasaannya. Diakan termasuk tipe tsundere," Natsu bersidekap dada dengan wajah yang sangat serius.
"Mungkin saja mereka bertengkar karena suatu hal yang nggak kita ketahui," ujar Erza yang berwajah tenang."Orang yang berpacaran memang sering bertengkar, kan? Nggak selamanya akan terus bersikap manis."
"Oh gitu. Aku cukup mengerti," Toushiro menutup kedua matanya sebentar.
Sementara yang lainnya, hanya memilih mendengarkan percakapan mereka. Seperti Gray dan Lisanna yang tidak ikut bergabung bersama mereka. Juga ada satu orang yang menyendiri yaitu seorang laki-laki berambut merah dan bermata hijau. Ada huruf kanji "ai" yang tertulis di dahi kirinya. Namanya Sabaku No Gaara.
Gaara adalah seorang ninja yang berasal dari desa Suna. Dia jinchuriki Ichibi dan mempunyai maksud tertentu selama bersekolah di Sora Academy. Entah maksud apa. Tiada yang tahu akan hal itu.
Namun, yang pasti, dia menyipitkan kedua matanya saat semua teman Naruto membicarakan Naruto yang sedang sakit. Dia hanya mampu terdiam mendengarkan sambil membatin di dalam hati.
'Oh, Menma sedang sakit. Apa yang membuatnya sakit mendadak seperti itu? Ini aneh sekali.'
Begitulah. Sampai pandangannya pun tertuju pada Koneko yang masih memandang ke arah jendela. Dia pun tersenyum simpul.
'Gadis pembawa batu permata cahaya. Toujou Koneko.'
Setelah itu, bel masuk pun berbunyi untuk memerintahkan semua murid segera masuk ke kelas masing-masing.
TANG! TONG! TANG! TONG!
.
.
.
Jam istirahat tiba, semua orang segera berhamburan keluar kelas ingin mengisi perut yang sudah bernyanyi. Beberapa di antaranya, masih tetap memilih tinggal di kelas. Contohnya di kelas 10-F.
Tampak Koneko yang sedang memasukkan semua buku ke dalam tasnya yang tergeletak di atas meja. Lalu ketiga teman sekamarnya segera datang untuk menghampirinya. Dia menyadarinya dan melihat mereka satu persatu.
"Koneko, ayo kita pergi!" ajak Lucy yang sangat antusias.
"Kemana?" tanya Koneko dengan wajahnya yang datar.
"Kita jenguk Menma ke UKS."
"Eh?!"
"Kok eh?"
"Ta-Tapi... Aku..."
"Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu harus ikut!"
Tanpa aba-aba lagi, tangan Koneko ditarik oleh Lucy sehingga Koneko bangkit berdiri dari duduknya. Sementara Erza dan Serafall tersenyum melihatnya.
"EH?! LUCY, JANGAN TARIK AKU KAYAK GINI!"
"BERISIK! POKOKNYA KAMU IKUT SAJA DAN JANGAN BANYAK PROTES!"
"Ah..."
Gadis nekomata itu kewalahan saat diseret paksa oleh Lucy. Sedangkan Erza dan Serafall mengikuti mereka dari belakang. Terus berjalan sampai keluar kelas.
Ketiga teman sekamar Naruto, barulah menyusul setelah Koneko dan teman-temannya pergi. Diikuti oleh beberapa orang yang lainnya. Hingga tidak ada lagi yang tertinggal di dalam kelas tersebut.
Di lorong lantai dua yang masih dipenuhi orang-orang yang lalu-lalang, Koneko dan teman-temannya berpapasan dengan Sakura dan Hinata. Mereka hanya melihat sekilas. Lalu berjalan ke arah yang berlawanan.
Terlihat Sakura dan Hinata terlibat masalah serius yang berhubungan dengan Naruto.
"Kira-kira Naruto ada di kelas 10 mana ya? Kita lupa menanyakannya sama dia," sahut Hinata yang melirik ke arah Sakura."A-Aku ingin bertemu dia sekali lagi."
"Iya ya... Benar juga. Kita lupa tanya dia ada di kelas 10 yang mana. Tapi, apa itu akan mengganggunya ya? Lagipula dia sedang menjalani misi rahasia. Kalau kita kedapatan ingin menemuinya secara terang-terangan di kelasnya, bukankah musuh bisa mengetahui jati dirinya yang sebenarnya? Bisa-bisa dia akan diserang dan kita juga akan diserang seperti kejadian penyerangan ras wizard waktu itu."
Gadis berambut indigo itu tersentak. Wajahnya kusut seketika.
"Haaa, benar juga. Sebaiknya kita nggak menemuinya sekarang, Sakura. Pasti Naruto sedang sibuk ya?"
"Iya. Itulah yang lebih baik."
"Aku mengerti."
"Kalau gitu, kita pergi ke kantin saja yuk. Aku rasa teman-teman sudah menunggu kita di sana."
"Hm."
Maka kedua gadis ninja itu menyudahi percakapan mereka. Kini titik fokus mereka tertuju ke kantin. Saatnya untuk mengisi perut yang sudah bernyanyi karena meminta jatah makan siangnya hari ini.
.
.
.
Setibanya di depan UKS, Koneko dan teman-temannya berhenti berjalan. Lalu Lucy mendorong Koneko agar segera masuk ke dalam UKS. Koneko panik karena tidak mau masuk untuk menemui Naruto.
"Apa-apaan kamu, Lucy? Jangan dorong aku kayak gini dong!" sembur Koneko yang mulai sedikit kesal.
"Ayo, masuk saja, Koneko! Nggak apa-apa kok. Cuma ada Menma sendirian di dalam," kata Lucy yang bersusah payah mendorong gadis bebal itu.
"Tapi, kalian juga masuk, kan? Kalian ingin menjenguk Menma, kan?"
"Iya. Kami masuk juga kok."
Datanglah Serafall yang membukakan pintu. Dia ikut membantu Lucy untuk mendorong Koneko masuk ke dalam UKS.
GRATAK!
"Pokoknya kamu masuk duluan, Koneko. Barulah kami menyusul nanti," tukas Serafall yang tersenyum.
Pada akhirnya, Lucy berhasil mendorong Koneko masuk ke dalam UKS sehingga membuat Koneko terjungkal jatuh.
BRUK!
Wajahnya menyentuh lantai. Terkapar dalam keadaan tengkurap. Saat bersamaan pintu pun ditutup dengan keras.
BLAM!
Koneko menyadarinya. Dia pun langsung bangkit berdiri dan menekan gagang pintu tersebut agar segera terbuka kembali.
"...!"
Ternyata tidak bisa terbuka. Pintu dikunci dari luar oleh Lucy. Hingga membuat Koneko tersentak dan menjerit keras. Emosinya meledak seperti gunung berapi yang meletus.
"HEI, KENAPA KALIAN MENGUNCI PINTU INI DARI LUAR, HAH!? APA MAKSUD KALIAN ITU!? BUKAKAN PINTU INI, KALAU NGGAK AKU AKAN MENDOBRAK PAKSA PINTU INI SAMPAI HANCUR! KALIAN DENGAR, KAN!?"
Sambil tertawa cekikikan, Lucy menambah segel pada pintu UKS tersebut dengan kekuatan sihirnya. Tidak akan ada yang bisa membuka pintu UKS tersebut, kecuali Lucy. Bahkan Koneko tidak akan bisa menghancurkan pintu itu dengan kekuatan tenaga luar biasanya. Pasti dia akan terlempar begitu saja karena tertolak oleh energi segel sihir yang begitu kuat.
"Dengan begini, Koneko bisa berduaan sama Menma di dalam. Kita akan mengurung mereka sampai semalaman," ungkap Lucy yang tersenyum."Supaya mereka berbaikan lagi dan semakin mesra dalam hubungan mereka ini. Bagaimana rencanaku ini?"
Pandangan gadis berambut pirang itu tertuju pada Erza dan Serafall. Kedua temannya hanya mengangguk serentak.
"Bagus juga," Erza tersenyum simpul.
"Tapi, pasti akan ketahuan sama dokter yang menjaga ruang UKS ini. Pasti akan menjadi masalah besar nantinya, Lucy," Serafall kelihatan sedikit khawatir.
Lucy tetap tersenyum.
"Tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya. Aku akan menjelaskan semua yang terjadi sama dokter UKS ini. Pasti dia akan menyetujuinya."
"Ah, terserah kamu saja, Lucy," Erza menghembuskan napasnya.
"Semoga dokter menyetujuinya," Serafall mengatupkan kedua tangannya.
Sang ketua kelas 10-F itu, mengangguk cepat. Lantas mengajak teman-temannya untuk pergi meninggalkan ruang UKS itu.
"Yuk, kita ke kantin sekarang."
"Iya."
Maka ketiga gadis itu segera pergi meninggalkan ruang UKS itu. Tanpa mengetahui kalau sudah terjadi keributan di dalam sana karena Koneko yang menjerit kesal sambil berusaha menghancurkan pintu itu. Tapi, naasnya, membuatnya terpelanting beberapa kali saat hendak mencoba meninju pintu tersebut.
BRUAAK!
Sekali lagi, Koneko terjatuh di lantai. Punggungnya menghantam lantai begitu keras sehingga membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Tapi, itu hanya berlangsung sebentar. Kemudian dia bangkit berdiri secara pelan-pelan.
"Ah, dasar teman-teman, mereka ngerjain aku. Pasti pintu itu dibentengi dengan kekuatan sihir. Huh, menyebalkan!" seru Koneko yang menggeram. Gigi-giginya menggeretak tajam. Kedua tangannya mengepal kuat. Bersiap ingin mencoba lagi.
Tiba-tiba...
"Si-Siapa itu? Ke-Kenapa berisik sekali sih?"
Terdengar suara keras yang menggema. Sehingga membuat Koneko melihat ke arah belakang. Karena tahu suara siapa ini.
Tentu saja, suara tadi berasal dari laki-laki berambut pirang jabrik yang terbaring di tempat tidur. Dia terbangun karena suara ribut yang ditimbulkan Koneko, padahal dia sudah tidur dengan nyenyaknya dari tadi pagi.
Wajahnya pucat sekali. Kedua mata biru yang meredup. Dia berpakaian kasual. Tubuhnya ditutupi dengan selimut yang sangat tebal. Di keningnya terdapat kain kompres dingin untuk bisa menghilangkan suhu panas di tubuhnya. Tubuhnya sangat lemah dan terasa sangat dingin. Dia melihat ke arah Koneko dengan lesunya. Seketika seulas senyum muncul di wajahnya karena senang Koneko datang untuk menjenguknya.
"Koneko-chan, rupanya kamu. Aku kira siapa."
SREK!
Dia menyibak selimutnya dan langsung bangkit dari tempat tidurnya untuk berjalan mendekati Koneko. Koneko terperanjat dan langsung berlari cepat ke arahnya.
"AH, NARUTO-KUN!" pekik Koneko panik.
HYUUUNG!
Tubuh Naruto kehilangan keseimbangan saat hendak berdiri. Tapi, Koneko cepat merangkul pinggangnya.
GREP!
Otomatis Naruto tidak jatuh karena Koneko menggunakan kekuatan tenaga luar biasanya. Naruto tersenyum karena Koneko memeluknya. Dia memandang wajah Koneko yang begitu kusut.
"Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak kok."
"Syukurlah."
Sekali lagi, Naruto tersenyum. Salah satu tangannya memegang pipi Koneko.
"Itu berarti kamu mencemaskan aku ya?"
Koneko terdiam. Kedua pipinya merona merah. Kemudian dia berwajah sewot.
"Nggak."
Saat itu juga, senyuman Naruto menghilang. Dia juga berwajah sewot.
"Kamu bohong."
Kedua pipi Koneko tetap memerah dan segera mendorong Naruto.
"Sebaiknya kamu tidur lagi di tempat tidurmu."
Naruto menurut dan segera naik ke tempat tidur lagi. Dia berbaring sambil dibantu oleh Koneko. Memperhatikan Koneko dengan lama. Lalu memegang dua bahu Koneko sehingga Koneko tertarik ke arahnya.
GYUT!
Wajah mereka cukup berdekatan. Kedua tangan Koneko berada di dada Naruto. Sehingga membuat jantung Koneko berdebar-debar kencang lagi. Wajahnya memerah.
"Na-Naruto-kun, apa yang kamu lakukan? Lepasin aku!"
Dia semakin mendekap pada tubuh Naruto saat tangan Naruto membelitnya dengan kuat. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Naruto. Beberapa cm lagi.
"Kamu nggak mencemaskan aku, Koneko-chan? Padahal aku sedang sakit sekarang karena kehujanan semalam. Aku sangat kedinginan sampai pagi. Kau tahu itu, kan?"
Kuning emas menatap lekat-lekat saffir biru yang meredup. Seketika kuning emas itu menajam.
"Siapa suruh kamu berjaga semalaman suntuk di hari hujan lebat itu!? Kamu membuat dirimu sendiri menjadi sakit seperti ini, kan?" bentak Koneko sekeras mungkin."Aku sama sekali nggak terkesan atapun peduli sama keadaanmu sekarang! Apalagi mencemaskanmu! Jadi, lepasin aku! Aku ingin keluar dari sini!"
"Kamu bohong."
"Aku nggak bohong!"
"Kalau gitu, buktikan kalau kamu nggak bohong!"
"Bukti apa lagi, hah!? Sudah cukup bukti itu! Aku nggak mau tahu lagi!"
Kedua mata biru Naruto semakin menyipit sayu. Cukup membuat hati Koneko tertegun.
"Jadi, pengabdianku ini nggak berarti untukmu? Padahal aku melakukan semua ini agar aku bisa melindungimu karena kamu adalah klienku. Selain itu, aku melakukan ini dengan tujuan untuk membuktikan perasaan cintaku sama kamu. Tapi, kamu tetap bersikeras untuk nggak mengakui semua ini. Aku mencintaimu, Koneko-chan. Kamulah teman hidupku sesungguhnya. Jadi, apalagi yang meragukanmu?"
Koneko terpana mendengarnya. Hatinya sangat bergetar. Wajahnya sedikit memerah. Jantungnya berdebar-debar semakin kencang seiring muncul telinga dan ekor kucing lagi pada dirinya.
"Memang ada yang membuatku ragu. Masalah kalung liontin ini."
Tangan Koneko mengeluarkan kalung liontin yang tersembunyi di balik baju seragam sekolahnya. Lalu ditunjukkannya pada Naruto.
Naruto memperhatikan kalung tersebut dengan seksama. Dia pun tersentak.
"Ah, aku ingat kalau aku juga punya kalung seperti ini. Lihat ini!"
Salah satu tangan Naruto mengeluarkan kalung liontin yang juga bersembunyi di balik baju kaos putihnya. Kalung liontin biru bentuk setengah hati yang sama dengan kalung liontin Koneko.
Sang pujaan hati pun tersentak saat Naruto menunjukkan kalung tersebut padanya. Dia pun sedikit ternganga.
"Iya. Sama."
"Benar, kan?" Naruto menatap kalung liontin miliknya."Kalung ini dari ayahku. Ayahku bilang kalau kalung ini adalah kalung cakra. Kalung yang bisa disatukan dengan kalung yang dipakai sama gadis pemegang batu permata cahaya. Ayah juga menyuruhku memberikan sebagian cakraku ke kalung ini dan disatukan ke kalung gadis pemegang batu permata cahaya jika aku berhasil menemukannya. Terus kalung ini digunakan untuk menyegel energi batu permata cahaya agar tetap stabil. Begitulah kira-kira."
Naruto tersenyum saat mengatakannya. Koneko memilih diam untuk memperdengarkannya.
"Aku sudah menemukanmu. Maka aku akan memberikan sebagian cakraku di kalung ini. Cakra Kyuubi yang tersegel di dalam tubuhku agar menjadi pelindungmu saat aku nggak berada di dekatmu. Musuh-musuh akan tewas sekali menyentuhmu karena cakra Kyuubi ini adalah wakilku untuk melawannya," tangan Naruto bercahaya kuning untuk menyalurkan sebagian cakranya ke dalam kalung yang dikenakannya."Dengan begitu, kamu nggak akan menjauhi aku lagi. Kamu akan selalu dekat denganku. Inilah bukti besarnya bahwa akulah teman hidupmu yang sebenarnya. Kalungku ini adalah pasangan dari kalungmu. Kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama seumur hidup."
Aliran cakra terhenti pada kalung liontin Naruto saat tangan Naruto tidak bercahaya kuning lagi. Kemudian kalung liontin itu disatukan dengan kalung liontin yang dikenakan Koneko. Kalung mereka saling terkait dan bersinar kekuningan.
Akhirnya Koneko merasakan kehangatan yang dirasakannya selama ini. Tubuhnya terasa hangat karena cakra Kyuubi itu. Jantungnya tetap berdebar-debar sangat kencang. Batu permata cahaya tetap bercahaya terang. Tapi, tidak membuatnya melemah karena dia berada dalam tahap perasaan yang sangat senang sekaligus terharu. Energi batu permata cahaya itu tidak menguar dari dalam tubuhnya.
Kedua mata kuning emas itu menitikkan air beningnya. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Naruto. Naruto menyadarinya.
"Eh, Koneko-chan. Kok nangis?"
"Maaf, Naruto-kun. Aku telah menyakitimu dari kemarin. Aku salah. Aku juga bohong. Aku memang sangat mencemaskanmu," tangis Koneko memecah."Kamu memang payah. Kenapa harus berjaga semalaman saat hujan turun? Aku nggak tega melihatmu seperti itu. Gara-gara mencemaskanmu, aku nggak bisa tidur semalam itu. Aku benar-benar khawatir kalau kamu pingsan ataupun sakit. Ternyata kamu memang sakit sekarang. Hiks... Hiks... Hiks..."
Salah satu tangan Naruto bergerak untuk mengelus rambut Koneko. Naruto hanya tersenyum mendengarnya.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak salah kok. Yang penting, aku senang karena kamu sangat mencemaskanmu. Itu berarti kamu mencintaiku, kan?"
"Iya. Aku mencintaimu."
Sekali lagi, Naruto tersenyum. Dia merangkul gadisnya dengan erat. Membiarkan gadisnya menangis sepuas mungkin di dalam pelukannya.
Tak lama kemudian, tangisan gadis nekomata itu mereda. Telinga dan ekor kucingnya sudah menghilang. Dia kembali menatap wajah di depan matanya ini dalam jarak yang cukup dekat.
"Kamu sudah tenang. Syukurlah," Naruto tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Lalu menghapus sisa-sisa air mata Koneko itu dengan tangannya.
Koneko juga tersenyum. Kedua tangannya masih bertumpu di dada Naruto.
"Sebaiknya kamu beristirahat sekarang, Naruto-kun."
"Iya."
Dia pun menjauhkan jaraknya dari Naruto. Tapi, terhalang oleh kalung liontinnya yang terkait dengan kalung liontin Naruto sehingga dia pun tertarik kembali ke arah Naruto. Kedua tangan Naruto merangkulnya lagi.
"Aku lupa kalau untuk melepaskan kalung liontinku ini," Naruto memandang wajah Koneko lekat-lekat."Tapi, aku ingin berdekatan denganmu lebih lama lagi. Aku merasa lebih baik saat memelukmu seperti ini."
Wajah Koneko memerah padam. Jantungnya berdebar-debar kencang lagi. Kedua tangannya bertumpu di dada Naruto lagi.
"Jadi, apa maumu sekarang?"
Laki-laki berambut pirang itu memandang kedua mata kuning itu. Sedetik kemudian, dia tersenyum.
"Bibirmu."
"Hah?!"
Koneko ternganga habis. Kedua matanya melotot tajam.
"Jangan melotot seperti itu."
"Ma-Maksudmu apa?"
"Tentu saja, kamulah yang menciumku dengan bibirmu. Ini bukan untuk penyegelan kekuatan batu permata cahaya. Tapi, untuk membuktikan cintamu."
"Ukh...," wajah Koneko memerah padam."Aku nggak mau!"
"Nggak mau? Ya sudah, aku nggak akan melepaskanmu. Kamu harus ikut tidur bersamaku di sini."
Wajah gadis imut itu semakin memerah saja. Naruto menyengir lebar.
"Ba-Baiklah, aku akan menciummu!"
"Bagus."
Setelah itu, Koneko mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto. Naruto terdiam di tempat sambil tetap merangkul tubuh Koneko. Dia terbaring di tempat tidurnya. Sedangkan Koneko berada di atasnya.
Tapi, Koneko malah mencium pipi Naruto. Hal ini membuat Naruto tercengang.
Selama satu menit, Koneko mencium pipi Naruto. Setelah itu, Koneko melepaskan ciumannya dari pipi Naruto. Menatap wajah Naruto yang masih kelihatan pucat.
"Kamu sudah senang?"
Naruto tersenyum manis.
"Senang sekali. Tapi, kamu belum mencium bibirku."
"Huh, jangan harap! Aku nggak mau lagi, tahu!"
"Hehehe, aku hanya bercanda kok. Jangan marah lagi ya?"
"Kalau gitu, lepaskan kalung liontinmu ini dan juga lepaskan pelukanmu ini."
"Iya."
Maka Naruto melepaskan kalungnya itu. Kalung itu dipisahkan dari talinya. Kini kalung liontin yang dikenakan Koneko berbentuk hati yang sempurna. Koneko memegang kalung itu dengan perasaan senang saat dia menjauh dari Naruto. Dia duduk sebentar di tepi tempat tidur tersebut.
"Kalung ini akan nggak akan pernah kuhilangkan. Selamanya kupakai karena kalung ini sudah menjadi benda berharga buatku."
Naruto senang mendengarnya. Melihat ke arah sang pujaan hati.
"Memang harus begitu, Koneko-chan. Itulah kalung cakra yang nggak boleh lepas darimu. Kalung itu akan membuat energi batu permata cahaya menjadi seimbang. Jadi, tubuhmu nggak lemah ketika mengalami sedih atau senang. Satu lagi, aku bisa leluasa untuk mendekatimu. Aku bisa memelukmu dan menciummu lagi. Kamu nggak akan bisa menolakku lagi."
Wajah Koneko semakin memerah dan melihat ke arah Naruto yang kini bangkit dari baringnya. Dia memilih duduk di tepi ranjang persis di samping Koneko. Kemudian meraih tangan Koneko.
"Aku akan selalu menjagamu dengan segenap kekuatanku. Dengan pertaruhkan nyawaku ini. Itulah janjiku."
Dia memasang wajah yang sangat serius. Cukup membuat Koneko terpaku. Lantas Koneko tersenyum simpul dengan kedua mata yang menyipit lembut.
"Aku tahu itu. Sudah beberapa kali kamu bilang gitu, kan? Jadi, jangan ingat itu lagi."
"Aku cuma mengingatmu saja agar kamu percaya sepenuhnya sama aku. Aku nggak ingin mengecewakanmu."
"Hm...," Koneko merangkul tangan Naruto dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Naruto."Yang penting, aku ingin selalu di dekatmu. Aku akan menepati janjiku itu."
Naruto tersenyum. Dia merasakan kebahagiaan yang begitu besar hari ini.
"Aku tagih janjimu itu."
"Iya. Aku nggak akan melanggarnya."
"Aku senang mendengarnya."
"Kalau gitu, kamu istirahat lagi. Tidur supaya cepat sembuh."
"Aku mau tidur sih, tapi entah kenapa aku merasa lapar sekarang."
"Oh iya, aku juga."
Kemudian mereka saling menatap dan tersenyum bersama. Kedua pipi mereka merona merah.
"Kita makan yuk. Tadi aku dapat banyak kiriman makanan dari teman-teman. Tuh, di atas meja."
Naruto menunjuk ke arah meja yang berada di samping tempat tidurnya. Koneko melihat ke arah yang ditunjuk Naruto.
"Oh...," Koneko bangkit dari duduknya dan melepaskan rangkulannya dari tangan Naruto."Banyak juga."
"Iya."
Gadis itu berjalan untuk menghampiri meja tersebut dan mengambil salah satu makanan dari atas meja tersebut. Lalu melirik ke arah Naruto dengan wajah yang berseri-seri.
"Karena kamu sakit, gimana kalau aku yang menyuapimu? Kamu mau, kan?"
Sang Namikaze terpaku. Sedetik kemudian, dia tertawa lebar.
"Boleh juga. Makan dari tanganmu, pasti akan lebih enak."
"Huh... Gombal."
"Gombal?"
Kepala Naruto dihinggapi sweatdrop. Saat bersamaan Koneko mendekatinya dan duduk di sampingnya lagi. Koneko tersenyum lagi meskipun sedikit marah barusan itu.
"Ayo, makan! Habisin ya supaya kamu cepat sembuh!"
"Iya."
Pada akhirnya, Naruto mau makan lagi setelah disuapi oleh Koneko. Koneko mulai menunjukkan perhatiannya pada kekasihnya untuk pertama kalinya. Hal ini dia lakukan untuk menyenangkan hati Naruto karena dia ingin menebus kesalahannya pada Naruto.
Semuanya sudah jelas bahwa Naruto adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi teman hidupnya. Seperti yang dikatakan oleh kakaknya. Sungguh membuatnya begitu bahagia bisa mempunyai pacar seperti Naruto. Naruto yang selalu melindunginya dari orang-orang yang mengincar batu permata cahaya itu. Inilah yang dinamakan kedekatan alami.
.
.
.
TIK! TOK! TIK! TOK!
Dua jam berlalu sejak saat itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 14.05 PM. Di mana jarum pendek menunjuk angka dua, sedangkan jarum panjang menunjukkan angka satu. Sudah waktunya memasuki jam pelajaran yang lain.
Tapi, Koneko terjebak di UKS bersama Naruto. Dia tidak bisa masuk kelas saat ini. Lebih memilih duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur yang ditempati Naruto. Sementara Naruto terbaring di tempat tidur tersebut. Selimut tebal membungkus tubuhnya yang masih terasa lemas. Dia tidak tidur dan memilih mengobrol dengan Koneko sedari tadi.
"Sudah jam dua lewat tuh. Apa kamu nggak masuk kelas?" tanya Naruto yang melihat ke arah Koneko.
"Aaah... Akukan dikurung di sini. Pintu UKS terkunci dari luar sama teman-teman sekamarku," jawab Koneko menghelakan napas beratnya."Sepertinya mereka sengaja mengurungku di sini. Huh, mereka benar-benar menyebalkan!"
Si pemilik saffir biru itu tertawa kecil. Wajahnya pucat tapi kelihatan berbinar-binar.
"Hahaha... Mereka memang jahil juga. Jadi, ini berarti kita bisa bermesraan di sini untuk waktu yang lama, kan? Aku nggak sendirian karena ada kamu di sini. Aku senang sekali kalau ka..."
"Ukh... Jangan macam-macam denganku! Kalau nggak, aku akan memukulmu!"
"Hahaha, jangan marah. Aku hanya bercanda kok."
"Huh, kamu ini!"
Wajah Koneko menjadi sewot. Merah padam begitu karena kesal. Lalu dia membuang mukanya dari hadapan Naruto.
Naruto masih tertawa dengan riangnya. Melihat Koneko yang mulai menguap.
"Hoaam," Koneko menutupi mulutnya dengan tangannya.
"Kamu ngantuk?" Naruto bertanya dengan wajah polosnya.
Tatapan mata kuning Koneko terarah pada Naruto. Dia masih berwajah sewot.
"Iya."
"Kalau gitu, tidur saja di sini. Di sampingku, gimana?"
"Jangan harap! Nanti kamu berbuat macam-macam padaku!"
"Nggak akan. Akukan sedang sakit sekarang."
"Huh, nggak mau."
Sekali lagi, Koneko menguap sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Itulah efek dari seorang nekomata.
Naruto terus memperhatikan Koneko. Dia tersenyum melihatnya.
"Sudah jelas, kamu ngantuk, kan? Makanya tidur siang untuk mengisi waktumu selama terkurung di sini. Tapi, kamu tetap bebal. Tenang saja, aku nggak berbuat macam-macam saat kamu tidur di sampingku."
Diliriknya Naruto. Gadis nekomata berwajah datar.
"Benar?"
"Iya. Benar," Naruto mengacungkan telunjuk dan jari tengah untuk membentuk huruf v."Kalau aku bohong, kamu boleh memukulku sekarang. Aku rela untuk itu."
Koneko terdiam dan berpikir sejenak. Dia melihat ke arah lain. Kemudian mengangguk cepat.
"Baiklah... Aku mau."
Senyuman terpatri di wajah tampan Naruto. Dia kembali senang.
Lantas Koneko membuka sepatunya. Dia bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Naruto. Naruto berbagi selimut dan bantal untuk Koneko. Memperhatikan wajah Koneko yang kini berdekatan dengannya.
"Terima kasih," sahut Koneko dengan nada yang sangat lembut. Dia terbaring dalam keadaan posisi miring ke kiri.
"Iya," Naruto tersenyum sambil membelai rambut Koneko."Sekarang tidurlah."
"Hm."
Kedua mata Koneko pelan-pelan menutup. Kedua matanya terasa berat karena naluri liarnya sebagai nekomata. Seekor kucing memang suka tidur di manapun dan kapanpun. Itulah kenyataannya.
Jadi, Koneko adalah nekomata. Sejenis youkai atau bisa dibilang makhluk gaib. Dia bisa menghilang ataupun menembus tembok. Tapi, dia tidak ingin melakukan semua itu karena dia tidak mau menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya di khalayak umum. Dia tetap berwujud seperti manusia biasa agar tetap bersekolah dengan amannya di Sora Academy. Tentu saja, hawanya sebagai nekomata dihilangkannya agar tidak terendus oleh para makhluk gaib lainnya. Dia tidak ingin terlibat masalah besar yang akan membahayakan semua orang.
Juga dia ingin bersama Naruto di ruang UKS ini untuk waktu yang lebih lama. Maka dia memutuskan untuk tidur siang di samping Naruto. Ingin berbagi kehangatan agar Naruto tidak kedinginan lagi. Dengan begitu, Naruto akan cepat sembuh dan sehat sediakala.
Kini dia sudah tertidur. Wajah tidurnya yang begitu manis sungguh membuat Naruto tidak berhenti untuk menatapnya. Semburat merah tipis hinggap di dua pipi Naruto.
"Koneko-chan, kamu memang gadis kucing yang sangat menarik perhatianku. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu."
SREK!
Tangan Naruto menggenggam tangan Koneko dengan erat. Dia tersenyum. Kemudian menutup matanya secara perlahan-lahan. Mencoba tidur karena masih merasakan sakit kepala dan tubuh yang lemas. Segera beristirahat untuk memulihkan kesehatannya agar sehat seperti dulu. Dengan begitu, dia bisa melindungi Koneko lagi jika orang-orang jahat tersebut mulai menyerang Koneko. Akan siap siaga meskipun dalam keadaan sakit seperti ini.
Tak lama kemudian, sepasang kekasih ini terlelap bersama. Mereka mulai menyatu dalam perasaan cinta yang terjalin dalam misi ini. Saling memperhatikan antara satu sama lainnya. Demi melindungi keberadaan batu permata cahaya yang kini diincar oleh orang-orang jahat.
Jarak mereka semakin dekat. Hubungan mereka juga semakin dekat. Sudah direstui oleh kedua orang tua masing-masing. Hubungan mereka baru saja terjalin dan tidak akan mulus begitu saja karena adanya hambatan yang akan berusaha menghancurkan hubungan mereka.
Setelah ini, pasti akan sulit. Konflik akan memuncak beberapa hari ke depannya.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
CHAPTER 14 UPDATE!
Sekian dan terima kasih.
Mau mereview?
Finish: Sabtu, 23 Juli 2016
