Rina: Ahhh, senang na bisa bebas! Yak, maaf kalo udah lumayan lama aku ndak update!
Rin: Sebentar begitu dibilang lama? ==|| Aku ndak ngerti jalan pikiranmu author…
Len: Dari dulu orang ini kan aneh, jadi ndak usah dipikirkan Rinney~ *sambil peluk Rin*
Rin: *blush* A-ah, iya, benar juga ya…
Rina: ^^|| Jadi aku ndak dianggep nih… kalo gitu, Mel tolong baca Disclaimer!
Mel: Aku tidak pernah setuju kau masukkan dalam ceritamu dan kau menyuruh-nyuruhku!
Rina: Ayolah Mel, kau tahu bukan apa yg akan terjadi jika… *dipotong Mel*
Mel: Ok, fine! Sini kubaca! *nyaut kertas disclaimer*
Disclaimer: Vocaloid bukan punya author Rina. Yang dia punca hanyalah Mel dan Fic ini.
Mel: Udah, kan? Puas!
Rina: Jangan galak2 gitu dong Mel…
Len: Author, jangan lupa tulis cerita na yg bener... *Frenchkiss ma Rin*
Rin: L-len… *desah*
Rina: *pingsan*
Mel: W-woi, Author jangan pingsan dulu! *tamparin author Rina* Kalau begitu para readers selamat membaca!
Rin: *menjatuhkan sebuah kain yang ada di sakunya, karena bajunya sudah menghilang bersama dengannya dan Len* - Chapter 14 ~ Kenyataan dan The Spirit~ -
Normal POV
Mel melompat ke atas sebuah batang pohon, saat Gakupo menyerangnya dengan menggunakan sihir api. Dengan mudah dia menghindar, dan membalas serangan Gakupo dengan sihir angin yang berhasil ditahan Gakupo.
"Aku ingat saat kau kukerjai dengan sihir itu, kau langsung menangis keras-keras… Gakkun," ucap Mel sambil menghindari serangan Gakupo.
Gakupo memandang ke arah Mel dengan tatapan penuh kebencian, lalu dia berkata, "Kenapa kau bergabung dengan Demon Lord? Mengapa kau membuat Luka datang kemari bersamamu?" ucap Gakupo dengan masih melempar serangan kepada Mel.
Mel menghela nafas panjang, dan segera mengucapkan mantra dalam kecepatan yang tinggi dan mengeluarkan sihir yang lebih besar dari sihir Gakupo, dan membuat sihir Gakupo berbalik menyerangnya. Gakupo tidak mengantisipasi hal itu, dan terkena dalam efek sihir Mel dan miliknya dan terdorong hingga menabrak batang pohon di belakangnya.
Mel menerawang ke langit malam sekilas sebelum berkata, "Hmm… karena bekerja sama dengannya sepertinya lebih menarik dibandingkan tetap menjadi orang biasa. Kalau masalah Lu-chan, aku melakukannya karena itu menarik," jawab Mel dengan tenang.
Gumi sepertinya meneriakkan sesuatu dari dalam bola anginnya. Namun, karena kurungan itu dibuat sehingga tak ada suara yang keluar, yang didengar oleh Mel hanyalah suara angin.
Gakupo bangkit dari efek serangan Mel tadi, lalu menatap Mel dengan tatapan yang dingin bagaikan es. Mel hanya tertawa melihat tatapan itu, seakan-akan merasakan bahwa tatapan itu membuatnya terhibur.
"Kau… bermain-main dengan hidup manusia… begitu mudahnya…" ucap Gakupo dengan menahan tubuhnya dengan tongkat yang dia bawa. Mel sepertinya terlihat senang melihat Gakupo yang berdiri lagi.
"Manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan rapuh. Tapi, melihat mereka berteriak meminta pertolongan dan ketakutan, membuat darah didalam tubuhku mendidih karena senang. Kau bisa mengatakan hal kecil seperti itu, karena kau tak tahu perasaan dikhianati oleh seseorang dan kau belum setua diriku," tanggap Mel dengan wajah yang penuh tawa sindiran.
"Dan disini aku merupakan mantan muridmu…" ucap Gakupo sambil membuang ludah.
Mel kemudian memiringkan kepalanya dan menaikkan jari telunjuknya sebelum berkata, "Meski kau bilang begitu. Semua sihir yang tadi kau pakai dan pelajari, adalah sihirku. Bagaimana mungkin kau menang jika kau hanya menggunakan sihirku?" ucap Mel dengan tenang sekaligus menanatang.
"Kau hanya mengajariku selama 2 tahun. Itu tidak mungkin…" bantah Gakupo yang kemudian mengucapkan mantra sihir 3 elemen dan menyerang Mel.
Mel hanya menghela nafas saat melihat sihir itu mendekatinya, lalu dia bergumam, "Kau benar-benar lamban ya… Sudah kubilang jika menggunakan itu…" Mel tidak menyelesaikan perkataannya saat dia menaikkan tongkat sihirnya dan membelah sihir Gakupo dengan mudah.
Gakupo melihat ke arah Mel yang kemudian berjalan memutar, sebelum berkata, "Bagaimana kau…" ucap Gakupo tertahan.
Mel melihat ke arah Gakupo, sebelum berkata, "Jangan melawan seorang penyihir, dengan sihir milik penyihir itu sendiri. Kau tahu bahwa itu merupakan dasar dalam bertarung dengan seorang penyihir tingkat atas bukan?" tanggap Mel dengan tenang.
Saat itulah Gakupo mengikat Mel dengan sihir pengikatan, yang menyebabkan Mel menjatuhkan tongkat sihirnya. Lalu Gakupo berkata, "Setidaknya penyihir tanpa tongkatnya adalah penyihir yang sangat lemah," ucap Gakupo yang berjalan mendekati Mel dan menendang tongkat sihirnya jauh-jauh.
"Tongkatku…" ucap Mel dengan nada terkejut.
"Sudahlah hentikan ini dan lepaskan mereka semua, aku menang bukan?" ucap Gakupo dengan mengarahkan tongkat sihirnya kearah Mel.
Mel menundukkan wajahnya, namun masih bisa dilihat bahwa seulas senyum licik tampak dari wajahnya itu. Dia kemudian berkata, "Hanya bercanda…" ucap Mel saat sihir pengikat disekitarnya pecah.
Gakupo sepertinya tidak mengira akan kejadian itu, dan dia berakhir terdorong ke batang pohon lagi karena tendangan Mel.
"My staff come back," ucap Mel dengan tenang, dan dalam sekejap, tongkatnya yang ditendang jauh-jauh oleh Gakupo kembali ke tangannya.
Di tempat lain, Len dan Miki melihat pertarungan diantara Mel dengan Gakupo, saat Miki berkata, "Nyahaha, tak mungkin orang biasa seperti dia mengalahkan Mel-ojousama!" ucap Miki dengan menertawakan Gakupo.
"Kupikir dia bisa membuat Mel senang sedikit, ternyata itu merupakan batas kekuatannya. Mungkin ini akan selesai lebih cepat dengan aman," tanggap Len yang melihat keadaan di medan pertarungan.
Miki merentangkan kedua tangannya yang terkepal ke udara, lalu berkata dengan nada senang, "Mel-ojousama cepat kalahkan dia!" ucap Miki dengan senang.
Kembali lagi ke medan pertarungan. Sepertinya Gakupo masih tidak berniat untuk mengalah. Tapi, yang membuatnya sangat heran, bagaimana mungkin sihir yang dia pelajari dari sekolah sihir merupakan sihir milik Mel? Gakupo mengerti dengan jelas bahwa orang yang membuat sihir yang sekarang dipakainya adalah…
'Jangan-jangan… tidak, itu tidak mungkin…' pikir Gakupo berusaha menghapus dugaan yang muncul dikepalanya.
"Ada apa Gakkun? Kau menyerah? Kalau iya, mungkin lebih baik aku mengambil salah satu dari orang-orang disana dan menjadikannya koleksi di hutanku," ucap Mel dengan nada sinis.
"Masih belum…" ucap Gakupo yang segera melompat ke arah Mel. Jika melawannya dengan sihir adalah hal yang sia-sia, maka yang bisa dia lakukan adalah melawannya langsung, meskipun itu mustahil.
Mel dengan mudah menangkis serangan Gakupo, sebelum ia mengirim Gakupo kepada tanah dengan gerakan silat. (Rina: Sejak kapan kau bisa silat? Mel: Itu bukan urusanmu)
"Bagaimana kalau kau mati terlebih dulu? Pasti itu akan menjadi pelajaran yang bagus untukmu. Dan disini aku bahkan belum mengeluarkan sihir dengan serius," ucap Mel dengan nada yang terdengar berbeda. Sepertinya dia kecewa akan perlawanan Gakupo.
Gakupo yang terikat dengan tanah, berusaha memikirkan cara untuk membuat Mel teralih perhatiannya. Hingga dia mengingat sebuah sihir kecil, yang diajarkan olehnya saat mereka masih kecil. Sihir itu bukanlah sihir serangan.
"O earth hear my call and give me your blessing," gumam Gakupo dengan menahan rasa sakit.
Mel sepertinya mendengar perkataan Gakupo tadi, dan dia heran kenapa dia mengucapkan mantra yang bahkan bukan untuk menyerang.
Saat Mel sedang bingung akan maksud sihir Gakupo, ditangannya muncul sebuah apel yang berwarna kemerahan dan terlihat menggoda (bagi Mel). Karena kemunculan dari apel itu, Mel segera melupakan keberadaan Gakupo, dan berteriak…
"APEEELLL!" teriak Mel dengan senang sambil memeluk apel itu dengan erat, seakan-akan itu merupakan hadiah dari surga. Bisa dikatakan Mel cinta mati dengan buah apel. (Astaga… ==||)
Semua yang menonton hanya bisa sweatdrop melihat tingkah laku Mel yang kekanak-kanakan (termasuk Len dan Miki). Mel melompat-lompat dengan perasaan senang dan sudah melupakan pertarungannya dengan Gakupo.
"Kulitnya yang sangat halus seperti sutra…" gumam Mel yang mulai menyentuh semua bagian dari apel itu.
"Lalu, warna merah yang sangat sempurna…" lanjut Mel dengan memperhatikan apel itu dengan teliti. Gakupo memanfaatkan Mel yang sudah melupakan sekelilingnya dan berusaha berdiri.
"Bau apel yang sangat segar ini…" tambah Mel dengan mata yang terlihat sparkly.
Len yang melihat tidak mampu menahan keinginan untuk menghela nafas dalam-dalam. Dia kemudian bergumam, "Itu hanya buah apel biasa. Dan kenapa dia sudah lupa bahwa dia sedang bertarung dengan pria ungu itu?" gumam Len dengan menghela nafas dalam-dalam.
"Apa Mel-ojousama akan baik-baik saja…" gumam Miki dengan nada khawatir.
Gakupo mengingat reaksi Mel saat mereka masih kecil dengan sangat jelas, terutama jika dia melihat apel yang bagus. Dia akan mulai melupakan sekitarnya dan memakan apel itu dengan sangat pelan.
"O spirit of Light, Earth, Fire, Water, Wind, Lightning, Ice, Wood heed for my call and strike my enemy," ucap Gakupo dengan suara yang pelan agar Mel tidak mendengarnya.
Mel yang memang tidak mendengar perkataan Gakupo, masih sibuk memperhatikan apel ditangannya dan menggigit apel itu dengan perasaan senang.
"Rasa asam bercampur manis yang sangat pas! Ini benar-benar kiriman dari langit!" ucap Mel dengan menggigit apel itu lagi dan tersenyum seakan-akan dia sedang ada di surga.
Tapi, saat itulah dia menyadari tentang pertarungannya dengan Gakupo yang belum selesai, dan melihat ke arah Gakupo yang sudah siap dengan sihir besar di tongkatnya.
"Haaah, sudah kubilang juga percuma…" gumam Mel dengan menyiapkan perlindungannya, sepertinya dia memilih untuk menerima serangan Gakupo, saat sebuah pengikat mengikatnya.
"Jangan kau kira aku akan membiarkanmu menahan yang satu ini, Mel-chan…" ucap Gakupo.
Mel tersenyum sinis ke arah Gakupo sebelum berkata, "Baiklah, kuterima tantanganmu ini," jawab Mel dengan senyum sinis.
Setelah Mel berkata seperti itu. Gakupo melepaskan serangannya dan telak mengenai Mel dan membuat area disekitarnya rata dengan tanah. Rin dan yang lain tidak terkena efek dari serangan Gakupo karena mereka dilindungi kurungan mereka yang terbuat dari angin. Miki dan Len sendiri hanya melihat wilayah Tresen yang dihancurkan Gakupo tanpa bergerak apapun.
"Apa Mel-ojousama akan mengamuk jika melihat ini?" gumam Miki dengan nada ketakutan.
"Kalau dia memang mengamuk, maka itu akan jadi bahan blackmail yang canggih untuknya. Dengan Mel yang terlalu tenang seperti itu…" tanggap Len. Sepertinya mereka lebih khawatir tentang amukan Mel dibandingkan keselamatannya.
Gakupo kehabisan nafas setelah mengeluarkan sihir sebesar itu. Sementara Rin dan yang lain hanya terbelalak melihat sihir yang barusan. Siapa juga yang akan mengeluarkan sihir dengan 8 elemen sekaligus dengan akal sehat mereka! Bahkan tidak ada yang tahu bahwa sihir sebesar itu bisa dilakukan oleh manusia normal! Mungkin itu sebabnya kenapa Gakupo merupakan murid terbaik di Spirit Mage School.
Asap yang tebal menutupi pandangan semuanya dari tempat Mel seharusnya berdiri. Gakupo sendiri meyakinkan dirinya sendiri bahwa dialah yang menang.
"Jika dia… tidak terluka… maka…" gumam Gakupo sambil menahan tubuhnya dengan tongkat sihir yang dia miliki.
Tak lama kemudian asap yang menyelubungi Mel mulai menghilang, karena sebuah sihir angin yang muncul, dan menampakkan bayangan Mel yang masih berdiri ditempatnya dibalik asap. Dapat dilihat luka-luka yang terukir ditubuhnya meneteskan darah berwarna kehijauan. Tepat saat itu, Len menjentikkan jarinya dan membuka sebuah segel yang dipesan oleh Mel.
"Aduh… yang tadi itu memang sakit…" ucap Mel dengan menggaruk kepalanya, membuat topi yang selalu ia pakai terjatuh ke tanah.
Saat asap yang menyelubungi Mel benar-benar menghilang, tubuh Mel sudah berbeda dengan yang sebelumnya. Tubuhnya yang awalnya pendek, berubah menjadi lebih tinggi. Lalu rambutnya yang berwarna hijau emerald namun selalu tertutupi topi yang dia pakai, kini terurai bebas hingga punggung. Selain itu, mata Mel yang semula berwarna hijau di mata kanannya, dan biru di mata kirinya, kini berubah menjadi sepasang mata berwarna biru laut. Tongkatnya yang semula berwarna silver juga berubah menjadi emas yang berbentuk sepasang sayap bertahtakan batu Opal. Mata Gakupo terbelalak melihat wanita di depannya. Iya, wanita itu adalah orang yang paling dia hormati di Spirit Mage School, dia adalah…
"Cecile…-sama…" ucap Gakupo dengan nada suara bergetar.
Mel, atau kusebut Cecile, hanya tertawa geli sebelum berkata, "Benar. Sebelum aku bertemu kalian. Sebelum aku bertemu dengan Demon Lord. Namaku adalah Cecile Adilisia Lamferd Elvinia Slynx. Yah, aku tidak memberitahu publik tentang dua nama belakangku itu sih," ucap Mel dengan geli.
Rin yang mengetahui itu hanya bisa terduduk di tempatnya. Rasa curiganya kini terbukti lagi. Dia sudah mengira bahwa Mel memiliki hubungan dengan Cecile. Tapi, dia tidak pernah berpikir bahwa Cecile adalah Mel ataupun sebaliknya. Saat itu, terlintas di pikirannya tentang buku yang pernah dia baca sebelumnya tentang rahasia Spirit Mage School.
"Jangan bilang… isi buku itu…" gumam Rin dengan tertahan. Dia tidak mau mempercayai bahwa sekolah penyihir yang paling elite itu merupakan tempat yang kotor seperti itu.
"Kalau kau memang Cecile-sama. Lalu kenapa kau…" ucap Gakupo yang tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Mel membuka jari telunjuk dan jari tengahnya, sebelum berkata, "Aku memiliki 2 alasan untuk meninggalkan Spirit Mage School," ucap Mel atau Cecile dengan tenang.
"Lalu… apa dua alasan itu?" tanya Gakupo dengan berusaha untuk tetap berdiri.
Mel menutup matanya, sebelum membuka matanya sedikit lalu melihat ke arah Rin dengan ujung matanya, seakan-akan dia mengetahui tentang pengetahuan yang Rin miliki tentang sekolah miliknya itu. Mel kemudian menatap Gakupo kembali sebelum melihat ke arah dimana Len dan Miki berada. Sebelum dia membuka mulutnya.
"Pertama, karena sekolah itu sudah tidak memiliki dasar yang jelas maupun kepercayaan kepadaku lagi. Alasan yang kedua merupakan hal pribadi dan tidak perlu dipertanyakan lagi," ucap Mel dengan masih menutup-nutupi masa lalunya.
"Itu bukan sebuah jawaban!" teriak Meiko dari dalam kurungannya dan spontan semua orang yang dikurung kaget. Mereka yakin bahwa suara mereka tidak dapat menjangkau dunia luar.
"Aku sudah meminta Miki untuk membiarkan suara kalian terdengar dari luar, tak usah kaget," ucap Mel dengan tenang sambil menghapus bekas darah berwarna hijau yang mengalir dari goresan di wajahnya.
"Lalu… kau tahu bukan… Hikari Sunflower Rin-san…" ucap Mel dengan datar dan melihat ke arah Rin.
"Rin?" ucap Kaito dari dalam kurungannya. Rin menundukkan kepalanya dan mengangguk lemah.
"Kau tahu tentang itu Rin?" tambah Gumi. Rin mengepalkan kedua tangannya dan berusaha menahan emosinya.
"Lalu kenapa kau tak bilang pada kami Rin?" tambah Meiko. Rin bisa merasakan bahwa mulutnya tak bisa bersuara, dan yang keluar hanyalah kata-kata tak berbunyi.
"Maaf… maaf… aku sebenarnya… tak tahu apa-apa tentang… kenyataan bahwa Merlinne… adalah Cecile-sama…" ucap Rin dengan menahan suaranya yang terdengar bergetar.
"Rin?" gumam Gakupo yang sekarang sudah terduduk ditanah dan menunggu perkataan Rin.
Rin menggelengkan kepalanya sedikit, lalu berkata, "Aku… memang curiga dengan dua nama itu… tetapi, aku mengira… itu hanya kebetulan semata… dan juga tentang buku itu…" lanjut Rin dengan sedikit terputus-putus.
"Buku?" ucap Gumi dengan tidak mengerti.
"Buku itu memiliki cover berwarna hitam kelam dengan emblem Spirit di sampingnya. Jadi kukira itu merupakan buku sihir. Tapi… ternyata isinya berbeda. Itu merupakan buku yang menuliskan tentang sisi gelap dari sekolah itu. Karena itu, aku tidak mempercayai isinya," jawab Rin yang sudah mampu menahan emosinya kembali.
'Jadi buku itu ada ditempat itu rupanya. Benar-benar tempat yang aneh untuk buku itu,' pikir Mel yang melihat kearah Rin dengan tajam. Lagipula, buku yang Rin baca adalah buku miliknya.
"Kau… sudah tahu tentang kenyataan dibalik kematianku bukan?" tanya Mel dengan ekspresi wajah datar.
Rin mengangguk. Lalu dia berkata, "Buku itu mengatakan bahwa Cecile-sama… meninggal karena dibunuh… dengan sengaja oleh seseorang… pembunuhan berencana oleh salah satu bawahannya…" jawab Rin yang meringkas isi buku yang dimaksud.
"Itu tidak mungkin bukan? Semua orang berkata bahwa Cecile-sama meninggal karena penyakit!" bantah Gakupo yang berusaha untuk berdiri lagi.
"Tak usah terlalu bingung memikirkan kenyataan. Tapi, itu semua benar. Karena itu aku lari, lari dan terus lari," bantah Mel.
"Kalau memang begitu, mayat yang…" ucap Gumi tertahan.
Mel kemudian tertawa geli sekali lagi, sebelum berkata, "Aku membunuh pembunuhku sendiri, lalu mengubah wajahnya menjadi wajahku. Sebenarnya, aku bisa membuat mereka dipenjara kalau aku mau. Tapi, saat aku lari untuk menenangkan pikiran, aku bertemu dengan orang itu…" jawab Mel yang tidak menyelesaikan perkataannya.
"Lalu?" tanya Gakupo yang ingin mengetahui apa yang sebelumnya tidak ia ketahui.
"Jika aku memberitahukannya. Seseorang akan memarahiku, karena itu… untuk sementara, kau dan teman-temanmu kubiarkan lari dengan ini…" ucap Mel yang kemudian menghentakkan tongkatnya sekali ke tanah, saat butiran air yang ada disekitar mereka (sihir Gakupo juga ada Water, ingat?) segera menusuk tangan dan kaki Gakupo, menyebabkan Gakupo terjatuh ke tanah dengan darah yang mengalir dari lukanya.
"Gakupo!" ucap semuanya hampir bersamaan, minus Mel, Miki, dan Len.
Miki yang melihat hanya tertawa senang sebelum berkata, "Nyahaha, kenapa Mel-ojousama tidak melakukan itu dari tadi?" ucap Miki dengan tertawa.
"Hei, hei Miki. Kau dengar apa kata Mel tadi bukan? Cepat bebaskan mereka semua…" ucap Len.
Miki menghentikan tawanya dan menatap Len dengan tatapan yang serius. Kemudian dia berkata, "Bukankah ini saatnya Len-sama untuk turun kesana? Aku sangsi bahwa Mel-ojousama akan bertahan lama dengan tubuhnya yang sekarang, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk mengembalikan hutan kembali seperti semula," ucap Miki dengan tatapan serius sekaligus khawatir.
"Ternyata kau memang menyayangi Master-mu itu, ya, Miki…" gumam Len sambil menangkap Miki dengan tangan kanannya.
Miki mendengus kesal sebelum berkata, "Terserah, yang penting kita harus kesana sekarang!" bantah Miki.
'Apa Len-sama… masih menunggu saat yang tepat?' pikir Mel yang sekarang melawan Gakupo tanpa sihir. Sepertinya luka yang ada di tubuh Gakupo tidak membuatnya kehilangan kekuatan untuk melawan.
Sementara Mel sendiri mulai kehabisa kekuatannya, dikarenakan semua kekuatannya dia gunakan untuk mengembalikan hutan seperti semula. Hutan itu merupakan hartanya, dan dia tidak bisa membiarkan tenaganya habis karena itu saja.
Gakupo yang sedari tadi menyerang Mel secara membabi buta menjadi heran. Kenapa Mel tidak melawan meski dia terus menyerangnya?
Saat Gakupo masih bingung dengan pikirannya tiba-tiba seseorang menendang Gakupo hingga dia jatuh tersungkur ke tanah.
"Dasar, kenapa kau ini melakukan hal yang berbahaya seperti ini?" ucap orang yang menyerang Gakupo tadi.
Rin terbelalak melihat orang itu. Dia merupakan orang yang paling dikenalnya. Orang yang paling ingin dia temui selama berhari-hari sejak mereka terakhir kali bertemu, Len.
"Lama…" keluh Mel yang sudah terduduk di tanah dengan cahaya hijau yang menyelimutinya. Miki ang sedari tadi melihat segera terbang ke arah Mel dan memeluknya erat-erat.
"Hwaaa, Mel-sama! Jangan pergi dulu!" teriak Miki dengan menangis meraung-raung.
Mel menepuk kepala Miki dan membisikkan sesuatu ke telinga Miki. Setelah Miki mendengarnya, dia menghapus air matanya dan menjentikkan kedua jarinya, membuat kurungan disekitar Rin menghilang.
"A-…" belum sempat Rin berkata karena kaget dengan dirinya yang bebas, Mel segera menarik lengan Len sehingga membuatnya duduk disampingnya.
Mel melempar senyum licik ke arah Rin, dan menghadap ke arah Len dan… menciumnya. Menciumnya di bibir, sehingga mata Len membulat karena kaget.
Saat itu, Rin mengerti segalanya. Tentang sesuatu yang membuat pikirannya terbang beberapa hari ini. Perasaan khawatir yang dirasakannya beberapa hari ini. Len… Len dia…
Rina: Dan dengan itu, chapter 14 O-W-A-R-I! *semangat*
Len: *meludah* Bueh! Kenapa dia menciumku di depan Rin, dasar author bego!
Rin: *melongo*
Rina: Yah, untuk sementara waktu saya minta review dari reader sekalian okay! Dan setelah ini, chapter yang ditunggu-tunggu akan datang! Chapter 15 dengan… sebuah R-A-H-A-S-I-A yang kusimpan dari beberapa pembaca! Dan maafkan adegan terakhir itu... JANGAN BUNUH AKU!
Mel: Terserah kau mau ngomong apa author, yang penting, dia ingin beberapa review, sehingga dia semangat mengerjakan cerita ini.
Rina: Yup, karena itu, mohon di review yang banyak okay!
