The Diplomat's Wife

Passion Vs Money

Part I

.

.

.

SuLay

.

.

.

GS! for UKE

.

.

.

-000-

Kalau ditanya siapa orang yang paling menyebalkan di dunia ini, niscaya Yixing bakal menjawab, "Kim Joonmyeon". Kim Joonmyeon, ya. Suaminya. Kim Joonmyeon alias Si Pelit. P-E-L-I-T.

Joonmyeon benar-benar layak menyandang julukan tersebut menurut Yixing. Bagaimana tidak? Kecuali kereta dorong yang bakal diantar ke rumah dengan jasa kurir, suaminya itu memutuskan untuk tidak membeli yang lainnya lagi di Ønskebørn. Dengan entengnya laki-laki itu mengatakan pada Yixing, "Kurasa toko yang direkomendasikan Stine memiliki harga yang lebih rasional dan kualitasnya sama saja dengan yang ada di sini."

Duh, Gusti! Sadarkah Joonmyeon bahwa toko yang direkomendasikan Stine terletak di Munisipalitas Gentofte, sebuah munisipalitas yang masuk wilayah Distrik Hellerup? Barangkali Joonmyeon lupa, Ønskebørn yang tengah mereka kunjungi ini terletak di pusat perbelanjaan Fisketorvet yang masuk wilayah Distrik Vesterbro. Dari Vesterbro ke Hellerup makan waktu sekitar setengah jam. Oke, sebenarnya tak masalah mengingat Hellerup dan Munisipalitas Gentofte menaungi wilayah tempat rumah dinas mereka berlokasi. Ibaratnya sekalian mampir sekalian pulang. Namun demikian, Yixing tetap saja tak berkenan lantaran dia dan Joonmyeon sudah mengunjungi toko yang dimaksud sebelum Joonmyeon memutuskan pergi ke Fisketorvet demi mengejar harga yang menurutnya 'rasional'!

Kim 'Pelit' Joonmyeon, kiranya adakah julukan lain yang lebih tepat selain 'pelit' untuknya?

Yixing sudah terlalu jengkel, juga terlalu lelah. Pupus sudah mood-nya untuk berbelanja. Ditambah kaki yang terasa bukan main pegal dan Lykke yang bergerak-gerak gelisah di dalam rahim, Yixing memutuskan untuk menyerah. Masa bodoh dengan ambisi Joonmyeon mengunjungi toko yang direkomendasikan Stine. Yixing sudah tak tahan lagi!

"Aku mau pulang saja," Yixing akhirnya mengumumkan keputusannya, mengejutkan Joonmyeon yang baru saja menyetop taksi.

"Pulang?" kaget Joonmyeon. "Tapi kenapa, Yixing-ah?" tanyanya sedikit heran.

"Kakiku pegal sekali, Oppa," Yixing menjawab, tampak nyaris menangis. Sejatinya bukan perkara kaki pegal yang membuatnya ingin menangis, melainkan rasa jengkel terhadap Joonmyeon yang semakin lama semakin sulit dibendung.

"Aku tidak kuat kalau harus berjalan lagi."

Raut wajah Joonmyeon yang seolah mengatakan, "Ya ampun! Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya?", sukses menambah kadar kejengkelan Yixing. Jelas sekali suaminya itu sama sekali tak peka terhadap kondisinya yang tengah hamil tiga puluh minggu. Namanya perempuan hamil tua, tentu saja mudah merasa pegal. Seandainya Joonmyeon itu peka, pengertian, laki-laki itu tak bakal mengajaknya keluar masuk lima toko tanpa istirahat, hanya membuahkan satu kereta dorong sebagai satu-satunya barang yang mereka beli pula!

Kadung jengkel dan tak ingin menunggu Joonmyeon mengatakan 'ya', Yixing berinisiatif mendahului suaminya masuk ke taksi, cepat-cepat menyebutkan alamat rumah dinasnya kepada Sang Pengemudi. Tindakannya ini tentu saja tak dapat dicegah Joonmyeon hingga diplomat tampan itu tak punya pilihan lain selain menyetujui keputusan istrinya. Ditambah lagi tampangnya sudah tidak karuan, menahan tangis dan terang-terangan badmood. Alangkah keterlaluannya Joonmyeon jika dia berkeras membawa Yixing mengunjungi toko yang direkomendasikan Stine sekarang.

Kepulangannya dan Joonmyeon yang tidak membuahkan hasil tentu saja mengundang tanda tanya di wajah Stine selaku asisten rumah tangga di rumah dinas yang mereka tempati. Stine jelas-jelas tahu kalau dirinya dan Joonmyeon pergi untuk membeli keperluan Lykke. Beruntung Stine cukup pengertian untuk tidak menanyakan soal belanja. Alih-alih belanja, yang ditanyakan Stine adalah Yixing, pasalnya Yixing terlihat lesu, juga kentara benar tidak nyaman dibopong Joonmyeon ala bridal style.

Ngomong-ngomong soal bridal style, itu murni inisiatif Joonmyeon sendiri, pasalnya sepanjang perjalanan pulang tadi Joonmyeon melihat Yixing berkali-kali memijat betis. Agaknya Sang Diplomat Tampan bertekad untuk menebus rasa bersalah atas pegal yang dirasakan Yixing hingga memutuskan untuk membopongnya sampai ke rumah dinas. Kendati sempat menolak, Yixing tak bisa berbuat apa-apa lantaran Joonmyeon begitu cekatan membopongnya turun dari taksi sampai ke rumah dinas yang terletak di lantai 18 ini.

"Madam kenapa?" Stine yang langsung menghambur ke arah Joonmyeon dan Yixing tampak tak kuasa menutupi kekhawatiran baik dalam raut wajah maupun nada bicaranya.

"Kakinya pegal," Joonmyeon berinisiatif menjawab Stine.

"Oh, ya ampun." Tampang Stine langsung berubah prihatin. Tatapan milik sepasang manik hazel-nya segera tertuju pada betis Yixing. Sedetik kemudian, perempuan Denmark pemilik rambut pirang stroberi yang dikeriting kecil-kecil itu pun membelalakkan matanya sambil memekik pelan.

"Astaga, kaki Madam bengkak! Ini harus segera dipijat. Saya ambilkan minyak dulu, biar nanti saya pijat kaki Anda, Madam."

Yixing benar-benar berterima kasih pada Stine yang berinisiatif memijat kakinya, pasalnya dia tak ingin Joonmyeon yang melakukannya. Sayang seribu sayang, ternyata Joonmyeon ogah berpangku tangan. Si Tampan itu berkeras membantu Stine memijat kakinya. Jadilah Joonmyeon memijat kaki kanannya, sementara Stine kebagian jatah memijat kaki kirinya. Walhasil Yixing yang dibaringkan di ranjang tak kunjung pulih dari badmood.

"Apakah pijatanku terlalu keras?" Joonmyeon menanyai Yixing di sela-sela aktivitasnya memijat kaki kanan Yixing dengan minyak mawar yang dibawakan Stine.

Yixing hanya menggeleng singkat dengan acuh tak acuh, bahkan menatap Joonmyeon pun tidak. Alih-alih merespon suaminya lewat tuturan, Yixing yang sedari tadi terus mengelus-elus perut justru mengajak ngobrol Stine yang sibuk memijat kaki kirinya.

"Stine, toko yang Anda rekomendasikan benar-benar menarik. Sayang sekali tadi aku belum sempat membeli apa-apa, soalnya urusan memilih-milih ternyata tidak gampang. Sepertinya aku butuh bantuan orang yang berpengalaman soal bayi seperti Anda. Pasti seru kalau nanti Anda menemaniku memilih-milih baju bayi di sana," kata Yixing.

Stine kentara benar canggung mendapati Yixing mengajaknya mengobrol seperti ini. Asisten berambut pirang stroberi itu tentu saja bisa membaca situasi yang tidak mengenakkan antara Yixing dan Joonmyeon. Sejak dia mulai memijat kaki Yixing bersama Joonmyeon, nyonyanya itu hanya mau mengajaknya bicara. Yixing sama sekali tidak memberikan respon melalui tuturan pada Joonmyeon. Perlakuannya terhadap Joonmyeon jelas berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan perlakuan terhadapnya. Dengan mudah Stine bisa menebak bahwa Yixing tengah jengkel pada suaminya, terlebih lagi Yixing terang-terangan mengaku kalau dia 'belum sempat membeli apa-apa'. Jelas sekali kalau terjadi sesuatu yang tak beres sepanjang aktivitas belanja Yixing dan Joonmyeon tadi.

Stine yang apes. Di satu sisi dia kasihan pada Yixing, tapi di sisi lain dia tak enak hati pada Joonmyeon yang sesekali mengangkat satu alis dan mengerutkan kening setiap kali Yixing menolak bicara dengannya. Situasi semacam ini benar-benar tidak menyenangkan.

"Urusan memilih-milih itu murni selera, Madam. Tanpa bantuan orang yang berpengalaman pun sebenarnya tidak masalah," Stine menanggapi dengan canggung.

"Tapi kalau Madam dan Mr Kim memang menghendaki saran dari saya, tidak masalah," dia menambahkan, terdengar cukup bijaksana dengan menyebutkan nama Joonmyeon yang sedari tadi tersingkirkan, seakan-akan tak dianggap oleh Yixing.

"Ya, sepertinya saran dari Anda akan sangat membantu, Stine," Joonmyeon mengomentari kesanggupan Stine soal memberi saran, tetapi tatapan matanya tak beralih dari paras manis yang terkesan kecut milik Yixing.

Jika Joonmyeon memberikan komentarnya untuk Stine, maka Yixing kebalikannya. Dia diam saja, memilih meraih ponselnya yang memperdengarkan bunyi notifikasi dari KaTalk. Perhatian Yixing teralihkan sepenuhnya ke layar ponsel yang memperlihatkan sebuah pesan di grup bernama 주덴마크 대사관 식구*

Nyonya Kim Jaejoong

Rapat persiapan Pekan Kebudayaan Korea kita adakan hari Rabu nanti di rumah saya pukul 10.00 AM. Setuju?

Membaca pesan ini, raut wajah kecut Yixing seketika berubah. Lelah.

-000-

Yixing tahu tindakannya ini kurang elok, tapi dia merasa tak punya pilihan lain. Dia butuh teman bicara, teman berbagi untuk sedikit meringankan beban di dalam hatinya. Sejatinya dia ingin memilih bibinya tersayang di Korea sana—Kim Heechul—untuk menjadi teman bicara, tapi dia keburu sadar bahwa pilihannya terhadap Heechul hanya akan membuat bibinya itu khawatir. Ditambah lagi bibinya itu sangat menyukai Joonmyeon yang menurutnya sosok laki-laki sempurna. Berbagi cerita tentang Joonmyeon yang 'terlalu hemat hingga menjurus pelit', 'terlalu rewel dan perhitungan', dan 'sok berkuasa lantaran memegang peran sebagai tulang punggung' berisiko membuat bibinya syok atau malah tidak percaya, menganggapnya hanya mengarang cerita. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan itulah Yixing akhirnya memutuskan lari ke flat yang ditempati Annette Marcella Laurentien van Nistelrooy, sahabat Belanda-nya sekaligus teman sekelas di Copenhagen Language Center.

Annette dipilih Yixing dengan pertimbangan bahwa Sang Noni Belanda bukan dari kalangan korps diplomatik. Memilih Annette untuk berbagi cerita tentang Joonmyeon dirasa Yixing tidak terlalu memalukan ketimbang memilih sahabat-sahabatnya yang lain semacam Baekhyun atau Zitao yang sama-sama berstatus istri diplomat. Dengan memilih bercerita pada Annette, setidaknya aib Joonmyeon tidak perlu diketahui kalangan istri personel korps diplomatik, apalagi Yixing percaya Annette pribadi yang baik dan bisa menjaga rahasia. Annette dan dirinya sudah seperti saudara sendiri. Tak ada kandidat lain yang lebih cocok untuk berbagi cerita selain Annette menurut pendapat Yixing.

Flat Annette berada di kawasan Jægersborg Alle yang masih masuk wilayah Charlottenlund. Yixing memantapkan hati mengunjungi flat sahabatnya itu setelah mendapat kepastian bahwa Annette sedang free. Maklum, saat ini Annette sudah menjadi karyawan full-time di sebuah firma dagang asal Belanda, bukan lagi part-timer seperti waktu kursus kemarin. Yixing harus memastikan terlebih dahulu apakah sahabatnya itu punya waktu untuknya sepulang kerja atau sudah terlanjur membuat janji nongkrong di kafe bersama rekan-rekan kerjanya. Dasar mujur, Annette kebetulan sedang free sehingga dengan senang hati dia mengiyakan permintaan Yixing untuk bertemu di flatnya. Jadilah Yixing ada di sini sekarang, di ruang tamu flat no. 431 bersama sosok noni Belanda berambut pirang keriting yang tengah mendengarkannya bercerita—berkeluh kesah lebih tepat—dengan tatapan penuh tanda tanya tertuju padanya.

"Sepertinya aku perlu mencari uang sendiri, Anne," Yixing memberitahu Annette. "Sekarang aku mulai merasa tak nyaman bergantung sepenuhnya pada suamiku. Tidak lagi. Memang benar aku berhak atas nafkah yang diberikan suamiku, tapi…" Dia menggigit bibirnya yang penuh lagi ranum, mendadak tampak nelangsa.

Annette van Nistelrooy mengerutkan kening. Sorot matanya yang sarat tanda tanya kini berubah, terkesan curiga. Pastinya dia bisa melihat ada yang tidak beres dengan Yixing sejak tadi. Maklum, sejak muncul di balik pintunya tadi Yixing terlihat lesu dan sekarang sahabatnya itu tiba-tiba bilang ingin mencari uang sendiri. Annette tentu saja langsung yakin seratus persen bahwa masalah yang tengah melanda Yixing sama sekali tidak sepele.

"Tapi kenapa, Poppy?" Annette memancing Yixing untuk melanjutkan kalimatnya. Nadanya kedengaran hati-hati. Seperti biasa, dia memanggil Yixing dengan panggilan sayang, 'poppy' yang berasal dari kata 'pop' alias boneka.

"Suamiku, dia…" Sepasang mata Yixing mulai berkaca-kaca. Rupa-rupanya dia menggigit bibir untuk menahan tangis.

"Dia… Sangat perhitungan…"

Pelan-pelan, kisah memilukan itu pun terlontar dari bibir ranum Yixing. Sambil berlinangan air mata dan terisak lirih, Yixing menceritakan pengalaman 'pahit'-nya berbelanja perlengkapan bayi bersama Joonmyeon. Mulai dari bagaimana perhitungannya seorang Joonmyeon hingga kalimat yang terlontar dari laki-laki itu seputar pemasukan rumah tangga diceritakan Yixing apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih, tanpa bumbu apapun karena tujuan Yixing murni berbagi cerita, bukan untuk mengemis belas kasihan sahabatnya.

"Aku merasa… Memiliki uang sendiri adalah mutlak, apalagi setelah Lykke lahir nanti. Aku tak ingin… Hiks… Anakku nantinya harus bersusah payah dua kali lipat dari anak-anak lain…, hanya untuk membujuk ayahnya saat ingin membeli sesuatu, hiks…" Yixing bercerita dengan pilu.

"Joonmyeon Oppa… Dia… Mengutamakan prinsip berhemat di atas segalanya… Hiks… Dia bilang kami harus pintar-pintar memanajemen keuangan setelah Lykke lahir nanti, hiks, mengingat satu-satunya pemasukan kami hanya dari penghasilannya. Soal itu, hiks… Aku jelas tahu soal itu, tapi kenapa dia harus menyinggungnya hanya karena melihatku, hiks, ingin membeli mainan untuk anak kami?" Suara Yixing nyaris menyerupai ratapan.

Annette kentara benar kaget mendengar penuturan Yixing. Kaget, juga geram. Bahkan sepasang mata birunya tampak berkilat-kilat.

"Oh, astaga."

Noni Belanda yang memiliki tubuh relatif kekar untuk ukuran perempuan itu secara naluriah memeluk Yixing. "Sudah, sudah, Poppy, jangan menangis lagi. Kasihan Lykke," Annette mencoba menenangkan Yixing, menepuk-nepuk lembut punggung sahabatnya itu agar merasa sedikit lebih nyaman.

"Untuk apa menangis? Suamimu punya karakter seperti itu, kau harus tabah," dia menasihati. "Terus terang saja, aku marah sekali mendengar ceritamu barusan. Kalau aku jadi kau, mungkin aku bakal berteriak di depannya untuk protes."

Annette van Nistelrooy mendengus. Dia ini memang punya karakter yang ekspresif, blak-blakan. Jenis karakter yang selalu dikagumi Yixing dari sosoknya.

Yixing tak merespon, hanya bisa terisak-isak lirih di bahu bidang milik Annette.

"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Minum teh dulu, ya, supaya kau lebih tenang. Aku khusus membuatkanmu teh chamomile. Baik sekali untuk relaksasi."

Perlahan, Annette melepaskan pelukannya. Dengan cekatan Annette meraih cangkir berisi teh chamomile hangat yang menguarkan aroma harum nan lembut, kemudian mengangsurkannya pada Yixing.

"Minumlah, Poppy. Mumpung masih hangat."

Yixing menerima cangkir yang diangsurkan Annette. Menuruti sahabatnya, pelan-pelan dia menyeruput teh beraroma harum itu, merasakan manis yang ringan berpadu suhu hangat menyapa lidahnya dengan lembut. Dari satu seruput menjadi dua, dari dua menjadi tiga. Setelah dirasa cukup, Yixing mengembalikan cangkir ke meja dengan dibantu Annette lantaran tangannya agak gemetaran.

"Aku mendukung kalau kau berniat mencari uang sendiri, Poppy," Annette kembali angkat bicara setelah merasa bahwa Yixing sedikit lebih tenang kendati air matanya masih berlinangan.

"Soalnya aku menganut prinsip bahwa perempuan harus mandiri, salah satunya punya penghasilan sendiri. Tak peduli ada suami yang menanggung biaya hidup, punya penghasilan sendiri selalu memberikan keuntungan bagi kita. Nah, ngomong-ngomong soal mencari uang, bukankah ada The Diplomat's Wife? Kau bisa mengambil keuntungan dari majalahmu itu."

"The Diplomat's Wife baru sebulan dirilis. Statistik pengunjung kami belum mencapai angka yang ideal, jadi untuk sementara belum bisa dimonetisasi," Yixing memberitahu Annette. "Aku… Harus mencari mata pencaharian lain." Dia menunduk, menatap perutnya yang buncit dan tampak bergerak-gerak kecil, menciptakan efek semacam tonjolan yang berpindah-pindah tempat. Dengan penuh sayang diberikannya usapan lembut di sana, merangsang bayinya untuk bergerak semakin aktif di dalam rahimnya.

"Oh, astaga. Dia bergerak." Perhatian Annette van Nistelrooy terdistraksi, teralihkan dari wajah ke perut Yixing. Ekspresinya seketika berubah takjub begitu melihat perut Yixing bergerak-gerak. Dengan antusias Annette turut menyentuhkan telapak tangannya di perut Yixing, memberikan usapan yang tak kalah lembut.

"Hai, Lykke. Ini Tante Anne," Annette menyapa Si Kecil Lykke. Lagi-lagi dia merasa takjub, kali ini karena merasakan tendangan kecil dari dalam perut Yixing seolah menyambut pergerakan telapak tangannya.

"Anak pintar. Kau langsung mengenali Tante Anne, ya?" Annette tersenyum manis.

Yixing turut tersenyum menyaksikan ekspresi takjub sekaligus gembira dari Annette. Pemandangan semacam ini sedikit-sedikit menyejukkan hatinya. Untuk sesaat, Yixing merasa sedikit lebih baik.

"Kandunganmu semakin besar, Poppy. Kalau mau mencari uang sendiri, kau harus memikirkan masak-masak kondisimu juga." Annette sekonyong-konyong mendongak untuk menatapnya.

"Menurutku, sekarang ini kau jangan dulu ngotot mencari uang. Kehamilanmu jauh lebih penting. Lebih baik kau fokus menjaga kondisi fisikmu sambil mempromosikan The Diplomat's Wife lewat media sosial. Nanti aku coba bantu melobi perusahaanku, siapa tahu bagian marketing kami berminat untuk memasang iklan di tempatmu. Nah, selagi kau fokus dengan The Diplomat's Wife, cobalah kau bicara dari hati ke hati dengan suamimu. Menurutku tak ada salahnya menegur suamimu. Hemat dan pelit harus dibedakan, Poppy."

Mendengar saran dari sahabatnya, Yixing menggigit bibir. Dia tahu saran Annette sangat bagus, tapi bicara dengan Joonmyeon bukan perkara mudah. Terus terang saja, Yixing takut Joonmyeon akan marah jika dia mengkritik tentang karakternya yang 'terlalu hemat anggaran'.

"Cobalah bicara baik-baik dengannya. Baik-baik, pelan-pelan," Annette kembali memberi saran. Pastinya dia bisa melihat sorot ketakutan dalam tatapan Yixing. Annette cukup maklum, pasalnya dia tahu suami sahabatnya berusia enam belas tahun lebih tua dan Yixing bisa dibilang segan pada laki-laki itu.

Yixing tak merespon, bahkan perhatiannya pun beralih dari Annette. Bukan apa-apa, pasalnya ponsel miliknya yang ditaruh di atas meja mendadak berdering. Telepon dari Joonmyeon.

"Siapa?" Annette bertanya dengan kening berkerut lantaran Yixing hanya mematung menatap ponselnya.

"Suamiku," jawab Yixing singkat.

"Kenapa tak diangkat?" tanya Annette lagi.

"Aku sedang malas bicara dengannya." Yixing lagi-lagi menggigit bibir.

Jawaban Yixing membuat Annette menghela napas. Perempuan berdarah Belanda itu memilih tak berkomentar. Dia cukup tahu diri untuk tidak mengusik Yixing.

Yixing benar-benar serius tak mau menjawab panggilan dari Joonmyeon, bahkan hingga panggilan yang ketiga. Tak adanya respon dari Yixing membuahkan sebuah pesan KaTalk dari Joonmyeon yang lagi-lagi tak mendapat respon dari Yixing. Tanpa membacanya pun Yixing sudah tahu apa isinya. Suaminya itu pasti mencarinya. Maklum, dia memang pergi tanpa pamit dan sekarang jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh petang waktu Copenhagen.

"Suamimu mungkin mencarimu," Annette berkomentar setelah Yixing lagi-lagi mengabaikan ponselnya.

"Biarkan saja," kata Yixing. "Aku belum mau pulang, Anne. Aku masih ingin di sini."

"Baiklah, Poppy. Tak masalah kalau kau mau berlama-lama di sini. Menginap juga boleh. Aku malah senang." Annette mengulas senyum tulus kendati tatapannya agak khawatir, mungkin karena memikirkan kemungkinan Joonmyeon tengah cemas mencari Yixing.

Mendengar kata 'menginap', tiba-tiba saja Yixing merasa tertarik. Terus terang saja, dia sedang tidak ingin pulang dan bertatap muka dengan Joonmyeon. Semalam tidak bertemu Joonmyeon dirasakan Yixing sebagai upaya terbaik untuk menenangkan diri.

'Sepertinya menginap semalam di sini jauh lebih baik. Tidak apa-apa 'kan, Lykke? Kita menginap saja di sini, ya? Mama sedang tidak ingin bertemu ayahmu.'

Yixing berbicara dengan Lykke di dalam hati, berharap bayinya bersedia memberikan dukungan dalam aksi menghindari Joonmyeon malam ini.

-000-

Nama Joonmyeon terakhir disebutkan saat Annette memintanya untuk menghubungi laki-laki itu, memberitahunya tentang keputusan menginap semalam di flat ini. Setelah memastikan Yixing benar-benar mengirim pesan untuk Joonmyeon, nama Joonmyeon pun seolah terlupakan. Annette benar-benar pengertian untuk tidak lagi menyebut-nyebut nama Joonmyeon dan kemunculan sosok Mireille Chastain sukses mengeliminasi ruang untuk membicarakan Sang Diplomat Tampan.

Kemunculan Mireille ibarat bonus. Sebelumnya dara asal Bordeaux yang tak lain adalah sahabat Yixing dan tentunya Annette itu tak disangka-sangka menghubungi Annette guna meminta izin berkunjung. Berhubung mereka jarang bisa berkumpul bertiga setelah sama-sama menyelesaikan pendidikan bahasa Denmark di Copenhagen Language Center per awal bulan ini, Annette dengan diamini Yixing langsung memberi izin pada Mireille.

"Poupée! Ini benar-benar kejutan manis! Siapa sangka kau bakal menginap segala, eh? Sepertinya aku perlu mengirimkan buket bunga untuk suamimu karena mengizinkanmu menginap di sini!"

Mireille luar biasa antusias melihat Yixing yang menyambutnya di balik pintu bersama Annette. Seperti biasa, dia memanggil Yixing dengan panggilan sayang khusus untuknya: 'poupée' yang berarti boneka dalam bahasa Perancis. Tanpa sungkan, Mireille memeluk Yixing setelah dengan tak hormat menyodorkan tas belanja dari kain yang berukuran besar pada Annette.

Sama seperti Mireille, Yixing juga tampak antusias. Maklum, sudah dua minggu lebih dia tak bersua dengan sahabat Perancis-nya itu. Sejak menyelesaikan kursus di Copenhagen Language Center, Mireille langsung sibuk dengan pekerjaannya. Agak sulit mengatur jadwal pertemuan dengan Mireille lantaran dia bekerja sebagai koresponden untuk salah satu stasiun televisi asal Perancis. Jam kerja Mireille yang tak teratur benar-benar menjadi hambatan terbesar untuk mewujudkan quality time bertiga semacam ini.

Mireille yang tak bertanya-tanya seputar alasan Joonmyeon mengizinkannya menginap ibarat anugerah bagi Yixing, pasalnya Yixing benar-benar tak ingin lagi membahas tentang Joonmyeon. Boro-boro membahas Joonmyeon. Sekadar menyebut namanya dalam hati saja sukses menghadirkan perasaan kecut. Pokoknya malam ini Yixing ingin bersenang-senang, bercengkrama dengan kedua sahabatnya tanpa menaruh peduli pada Joonmyeon. Malam ini adalah Girls' Night, maka tiada tempat bagi Kim Joonmyeon, Kawan.

"Mir, aku kangen," kata Yixing tulus seraya balas memeluk tubuh ramping setinggi 174cm milik Mireille.

Suasana riang sekaligus hangat yang tengah melingkupi Yixing dan Mireille mendadak terusik oleh Annette yang tahu-tahu 'menyalak' begitu dia membuka tas belanja Mireille.

"Mir, ngapain kau beli bir sebanyak ini?!" Annette melotot kaget. Sepasang mata biru samuderanya berkilat-kilat mendapati dua botol Istout, bir produksi Mikeller yang memiliki cita rasa kopi dan cokelat, juga lima kaleng Imperial Doughnut Break dari produsen yang sama dan memiliki cita rasa vanila, almond, serta donat dalam tas belanja Mireille.

"Tentu saja aku beli untuk kita berdua, Anne. Kalau Poupée sih hanya kebagian jatah jus," Mireille menjawab dengan santai seraya melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Yixing. "Mumpung kita bertiga bisa kumpul, aku mau bikin pesta kecil-kecilan. Kebetulan aku baru gajian, jadi biar malam ini kutraktir kalian pizza."

Mendengar Mireille mengajak mereka berpesta kecil-kecilan, Yixing langsung merasa bersemangat. Berpesta kecil-kecilan dengan Annette dan Mireille tentu bakal sangat menyenangkan, apalagi Mireille bilang dia bakal mentraktir pizza. Terus terang, Yixing sudah lama tak makan pizza. Sejak hamil dia didiet ketat oleh Joonmyeon, dipaksa menghindari junk food semacam pizza. Jangankan pizza, dia bahkan pernah diomeli Joonmyeon hanya gara-gara ketahuan makan biskuit asin di awal kehamilannya. Ah, peduli setan soal Joonmyeon. Saat ini Yixing bahkan tak ingin menyebutkan namanya meski di dalam hati sekalipun!

'Kita bakal senang-senang dengan Tante Anne dan Tante Mir, Lykke,' Yixing berkomunikasi dengan bayi dalam kandungannya melalui suara hati. 'Kita juga bakal makan pizza. Tidak apa-apa, ya makan pizza sesekali.'

Satu tendangan kecil dirasakan Yixing dari dalam perutnya. Senyum manis pun seketika mengembang di bibirnya yang ranum. Yixing senang bukan main, pasalnya tendangan kecil yang barusan diberikan Lykke di dalam rahimnya merupakan tanda dari Si Kecil bahwa dia setuju untuk diajak berpesta dan makan pizza. Terpujilah Kim Lykke! Bayi 30 minggu itu benar-benar kooperatif malam ini.

Persetujuan dari Lykke adalah kesempurnaan bagi Yixing. Dia bisa bersenang-senang malam ini, sejenak menikmati waktunya sebagai 'lajang'. Hitung-hitung untuk sedikit menebus 'kegilaan' yang tak pernah dilakukannya semasa lajang dulu. Bisa dibilang Yixing itu kuper semasa lajang. Jangankan untuk pesta kecil-kecilan dengan teman, keluar malam selain untuk les saja sudah pasti mengundang kehebohan dari bibinya yang over protective. Tak heran Yixing tumbuh menjadi pribadi yang pemalu dan canggung kendati semua itu mulai bisa diatasi setelah dia ikut Joonmyeon pindah ke Denmark. Tinggal di negeri yang asing, terlebih menyandang status sebagai istri diplomat mau tak mau memaksa Yixing berusaha untuk survive, salah satunya dalam hal bersosialisasi. Beruntung dia dipertemukan dengan orang-orang yang baik hingga menjadi sahabat, beberapa di antaranya tentu saja Annette van Nistelrooy dan Mireille Chastain, duo Belanda-Perancis yang selalu mendapat tempat istimewa di dalam hatinya.

"Kalau pesta yang kaumaksud itu seperti yang biasanya, maka jawabannya adalah tidak." Annette mengalihkan tatapannya pada Mireille, melayangkan tatapan tajam.

"Aku tak mau Tante Margrethe di sebelah kembali menelepon polisi gara-gara kau terlalu berisik, Mir. Lagipula malam ini ada bayi dan ibunya yang butuh istirahat tenang." Dagu lancip milik Sang Noni Belanda sejenak terarah pada Yixing.

Mireille terkekeh mendengar tuturan Annette yang sarat peringatan. Sambil menggamit Yixing untuk menjauhi pintu, pemilik paras cantik yang sekilas mirip aktris Lea Seydoux itu pun menanggapi dengan santai, "Tenang saja. Malam ini kujamin bebas dari tema klub malam. Karaoke sudah cukup, kok. Kau setuju 'kan, Poupée? Sudah lama juga kita tidak karaoke bersama."

Mireille menoleh ke arah Yixing, disambut dengan anggukan yang sarat persetujuan dari Yixing. Sementara Yixing mengangguk-angguk setuju, Annette justru memasang tampang tak yakin.

"Aku tak yakin karaoke sudah cukup. Mademoiselle Chastain saat mabuk selalu menjelma dia yang barbar. Pokoknya aku tak mau tahu, Mir. Malam ini ada Poppy dan Lykke, aku juga tak mau mendapati polisi berdiri di depan pintuku gara-gara laporan Tante Margrethe. Kalau kau mulai rusuh, saat itu juga kau bakal kupulangkan," Annette lagi-lagi memperingatkan.

Alih-alih tersinggung, Mireille malah tertawa kecil. "Kalau begitu pastikan aku tidak minum lebih dari tiga kaleng, Anne," Mireille lagi-lagi menanggapi dengan santai.

"Ayo, Poupée. Waktunya pesta!" Lea Seydoux gadungan itu menggandeng Yixing dengan riang menuju ruang tengah, bahkan saking riangnya Mireille terkesan seolah-olah tengah menggandeng anak kecil. Wajar saja sih, pasalnya Yixing itu manis, imut-imut, menggemaskan bukan main seperti bocah.

Yixing sama sekali tak keberatan digandeng Mireille seperti anak kecil digandeng ibu atau bibinya, justru tampak sangat antusias. Tak berhenti sampai di situ, antusiasme Yixing berlanjut dan semakin menjadi seiring dengan dimulainya acara karaoke yang digagas Mireille. Beberapa kali mengabaikan peringatan Annette soal volume yang harus dikontrol untuk meminimalisasi risiko tetangga sebelah melapor ke polisi karena merasa terganggu oleh suara berisik, Yixing dan Mireille asyik berduet menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Karen Marie Aagard Ørsted alias MØ, solois Denmark favorit Yixing. Persetan dengan suara yang sama sekali tak padu antara suara alto bernuansa lembut milik Yixing dengan suara sopran Mireille yang powerful, yang penting happy!

"And it's all yours

Dance to the beat of your drum

To the beat of your drum

To the beat of your heart

To the beat of your drum…"

Annette van Nistelrooy mungkin satu-satunya yang masih 'waras' di sini, dalam artian dia satu-satunya yang kalem. Berbeda dengan Yixing yang mendadak OOC dengan menirukan gerak-gerik MØ dalam video musik dari lagu Drum sambil bernyanyi bersama Mireille atau Mireille yang mulai menggila lantaran sudah menghabiskan sekaleng Imperial Doughnut Break, Annette memilih duduk tenang bak pengawas sambil menyesap Imperial Doughnut seperti yang baru saja dihabiskan Mireille. Annette pastinya tak mau mengambil risiko untuk lengah. Terbukti tatapannya yang sarat kewaspadaan acapkali tertuju pada Mireille yang kini meraih kaleng bir ketiganya.

"Ingat, Mir. Tidak lebih dari tiga kaleng. Aku tak mau menemukan orang barbar telanjang dada sambil menari-nari seperti orang gila dan berisik bukan main, sementara malam ini aku ingin memastikan Poppy dan Lykke bisa tidur nyenyak," Annette langsung memperingatkan Mireille, tepat saat Sang Nona Perancis membuka kaleng birnya.

"Lagipula kita belum makan pizza. Jangan sampai perutmu kembung duluan gara-gara bir."

"Berisik, Anne," Mireille malah mencibir Sang Noni Belanda sebelum bergabung kembali dengan Yixing untuk menyanyikan chorus lagu Drum.

"Poppy, minum dulu jusmu. Kau sudah menyanyi tiga lagu. Apa tenggorokanmu tak kering?" Kali ini Annette beralih menegur Yixing yang masih menghayati lagu, seakan-akan dirinya adalah MØ. Raut geli bercampur prihatin terpeta jelas di wajah Annette. Noni Belanda itu tahu Yixing sedang berusaha menghibur diri dengan cara bernyanyi, tapi tak dapat dipungkiri kalau ekspresi maupun gerak-geriknya yang menirukan MØ benar-benar menggelikan dipandang mata.

"Aku belum haus," Yixing merespon tanpa mengalihkan pandang dari layar televisi, menunjukkan betapa dia tengah menikmati aktivitasnya berkaraoke.

Ya, Yixing memang sungguh-sungguh menikmati aktivitasnya berkaraoke bersama Mireille yang mulai menunjukkan gejala-gejala teler. Bagi Yixing, aktivitas semacam ini sangat menyenangkan lantaran semasa lajang dia tak pernah diizinkan ikut karaoke bersama teman-teman sekolahnya. Kim Heechul, bibinya yang terlalu protektif itu menganggap tempat karaoke tidak aman bagi Yixing, keponakan tersayang yang di matanya masih sepolos anak-anak. Untuk ukuran orang Korea, Heechul bisa dibilang sangat kolot. Dia memiliki ketakutan yang berlebihan tentang pergaulan anak muda masa kini, dalam hal ini tentu saja ketakutan akan seks bebas. Sebagai seorang Katolik yang sangat taat dan menjunjung tinggi nilai-nilai virginitas, bagi Heechul keperawanan milik keponakan manisnya adalah harta karun yang harus dijaga ketat, salah satunya dengan cara membatasi pergaulan Yixing. Tak heran hingga usianya genap dua puluh empat dan dirinya resmi dipersunting Kim Joonmyeon, Yixing benar-benar masih perawan, tak peduli harga yang harus dibayarnya sangat mahal, yakni kehilangan 'kesenangan di masa muda'.

Ah, lupakan saja. Yang lalu biarkan berlalu. Yixing sudah cukup senang bisa berkaraoke bersama Mireille sekarang, syukur-syukur kalau Annette mau bergabung nanti.

Yang disebutkan namanya terakhir masih betah bertindak sebagai pengawas, terlihat waspada sampai-sampai dialah orang pertama yang menyadari bahwa bel flatnya berbunyi.

"Sepertinya pizza pesanan kita sudah diantarkan. Aku ambil dulu," Annette van Nistelrooy memberitahu Yixing dan Mireille sekaligus seraya bangkit dari sofa.

Baik Yixing maupun Mireille sama-sama tidak merespon, pasalnya suara Annette kalah oleh volume televisi dan suara sopran Mireille. Keduanya sama-sama tak sadar bahwa Annette pergi ke ruang tamu, lalu kembali tak sampai dua menit kemudian. Tahu-tahu Yixing merasakan punggungnya ditepuk, membuatnya kaget.

"Annette, mengagetkanku saja," Yixing langsung protes begitu mendapati Annette-lah yang menepuk punggungnya. Dalam hati dia heran, pasalnya Annette memasang tampang serius.

"Poppy, suamimu datang." Alih-alih menanggapi protes Yixing, Annette justru memberitahukan sebuah informasi teramat mengejutkan. Saking mengejutkannya, Mireille bahkan sampai berhenti bernyanyi.

"A-apa? Suamiku?" Yixing membelalakkan matanya, kaget bukan kepalang.

"Eh? Suaminya Poupée datang ke sini? Untuk apa?" Mireille yang agak teler rupa-rupanya masih cukup 'connect' untuk menangkap konteks tuturan Annette.

"Dia bilang ingin menjemputmu, Poppy," Annette memberikan jawaban untuk Yixing dan Mireille sekaligus. "Dia menunggumu di ruang tamu."

Amarah tiba-tiba saja menguasai Yixing. Apa-apaan Kim Joonmyeon itu! Kenapa laki-laki itu malah menjemputnya kemari?

Kalau boleh, Yixing ingin sekali menyalahkan Annette yang memaksanya memberitahu Joonmyeon tentang keputusannya untuk menginap malam ini, tapi Yixing sadar bahwa maksud Annette baik. Sahabatnya itu hanya tak ingin Joonmyeon cemas memikirkan keberadaan istrinya. Kendati demikian, kalau pada akhirnya Joonmyeon justru datang kemari untuk menjemputnya, bukankah urusannya jadi runyam?

"Aku tidak mau pulang." Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mau di sini, Anne."

"Temui dia dulu, Poppy," saran Annette. "Coba bicara baik-baik dengannya untuk minta izin."

"Lho, jadi Poupée belum minta izin padanya?" Mireille menyela dengan tampang terkejut. "Pantas saja tadi aku merasa aneh. Tumben sekali dia mengizinkan Poupée menginap di tempat lain. Biasanya 'kan tidak boleh," dia berkomentar.

"Anne, aku sedang tak ingin bicara dengannya," Yixing mengeluh tanpa menggubris Mireille.

"Kalau kau tak mau bicara dengannya, urusannya jadi runyam, Poppy," Annette dengan tanggap mencoba memberikan pengertian pada Yixing. "Temui dia, coba bicara baik-baik."

"Tunggu, tunggu. Ini sebenarnya ada apa?" Mireille lagi-lagi menyela, agak tak sabaran. "Poupée, apa kau sedang bertengkar dengan suamimu makanya kau ingin menginap di sini?" tebaknya.

Yixing menggigit bibir. Dia tak ingin memberikan jawaban untuk Mireille sehingga memilih diam saja.

"Temui dia." Annette menepuk lengannya. "Ayo. Supaya urusannya cepat selesai."

Sadar bahwa dia tak punya pilihan lain, Yixing mau tak mau melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Langkahnya bukan main terasa berat. Seandainya bisa, Yixing ingin berlari keluar dari apartemen Annette sekarang juga, pergi ke tempat yang tak bisa dijangkau Joonmyeon. Demi Tuhan, dia sedang tak ingin bertemu dengan suaminya!

"Yixing-ah."

Sosok laki-laki tampan yang tampil necis dalam balutan blazer hitam menyebutkan namanya, persis saat Yixing mencapai ruang tamu flat Annette. Siapa lagi kalau bukan Kim Joonmyeon? Melihat Yixing, Joonmyeon bergegas bangkit dari sofa, berjalan menyongsong Yixing yang memilih untuk menunduk alih-alih menatapnya. Raut wajah Joonmyeon bisa dibilang stoic, tetapi sorot matanya sarat kekhawatiran dan semakin jelas terlihat begitu dia mencapai Yixing.

"Yixing-ah, kurasa sebaiknya kau tidak menginap di sini," kata Joonmyeon to the point. "Kita pulang saja. Lebih baik kau istirahat di rumah."

Yixing lagi-lagi menggigit bibir, merasakan amarahnya mulai menggelegak dan disambut tendangan-tendangan dari Lykke. Seperti biasa, bayinya bereaksi setiap kali emosinya menjurus ke arah negatif seperti saat ini. Protes, demikian yang dipahami Yixing dari tujuan Lykke menendang dinding rahimnya.

"Aku tidak mau," tolak Yixing dengan rahang terkatup. "Aku mau menginap di sini, melepas rindu dengan teman-temanku."

Mendengar ini, salah satu alis tebal Joonmyeon terangkat. Raut wajah milik diplomat tampan itu pun berubah, penuh keterkejutan.

"Kami sudah lama tidak bertemu," Yixing menyampaikan argumennya, seakan-akan mencoba mencegah Joonmyeon bereaksi lewat tuturan. "Kurasa tidak ada salahnya kami reuni kecil-kecilan dengan cara bermalam di sini," dia menambahkan tanpa sudi menatap suaminya.

"Bermalam di sini sambil karaoke gila-gilaan, maksudmu?"

Suara Joonmyeon mendadak tak simpatik, mengiringi perubahan ekspresi wajahnya yang drastis dari terkejut menjadi serius. Rupa-rupanya dia tak berkenan mendengar volume suara televisi yang sempat terdengar dari ruang tengah flat Annette saat baru datang tadi dan pastinya volume suara sopran yang powerful milik Mireille.

"Ingat, Yixing-ah, saat ini kau sedang mengandung. Kau butuh banyak istirahat dan itu di rumah, bukan di sini," kata Joonmyeon tegas.

Mendengar ini, Yixing benar-benar jengkel hingga ingin menghentakkan kaki saja rasanya. Perasaan jengkelnya itu sontak memandunya untuk mendongak menatap Joonmyeon. Sejenak Yixing kaget begitu menyadari suaminya tengah menatapnya tajam, menciutkan nyali.

"Apa kau tak memikirkan kondisi Lykke?" Joonmyeon dengan nada bicaranya yang tegas terkesan menyudutkan Yixing. "Mengajaknya karaoke gila-gilaan, lalu apa lagi? Begadang?" cecar Joonmyeon.

"Lykke baik-baik saja," Yixing susah payah mengendalikan emosinya. Perasaan jengkel dan takut bercampur menjadi satu, memicu tendangan Lykke yang terasa semakin kuat di dinding rahim. Yixing mencoba menahan rasa sakit, berharap Lykke tak menendangnya lebih keras.

"Dia sangat kooperatif dan—aduh!"

Yixing tiba-tiba mengaduh sambil memegangi perutnya. Harapannya seketika pupus. Satu tendangan yang bukan main keras dari Lykke menghantam dinding rahimnya. Perutnya langsung terasa kram hingga dia sedikit membungkuk untuk menahan sakit.

"Yixing-ah! Kau kenapa? Perutmu sakit?" Raut wajah Joonmyeon langsung berubah panik. Refleks kedua tangannya bergerak untuk memapah Yixing.

"Kenapa? Apakah Lykke menendang perutmu?"

Yixing benar-benar kesakitan hingga tak berontak. Perutnya yang kram terus-menerus mendapat tendangan keras dari Lykke. Agaknya Si Kecil marah lantaran merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya.

Gara-gara rasa sakit, Yixing hanya bisa mengangguk sambil meringis-ringis. Dia bahkan sama sekali tak berontak ketika telapak tangan Joonmyeon mengusap-usap perutnya.

"Inikah yang kaumaksud kooperatif?" Joonmyeon menatap istrinya yang kesakitan tanpa menjauhkan telapak tangannya dari perut buncit Yixing.

"Lykke menendang-nendang sekeras ini, kooperatif dari mana?"

Joonmyeon mungkin terlalu panik dan cemas sampai-sampai tak sempat memikirkan kalimat yang tepat untuk dilontarkan kepada Yixing. Diplomat tampan itu bahkan tak sadar kalau volume suaranya sedikit meninggi. Tampak keningnya berkerut dan raut wajahnya mulai menunjukkan ketegangan, mengiringi Yixing yang kembali mengaduh kesakitan.

"Poppy! Oh Tuhan, apa yang terjadi?"

"Poupée, kau baik-baik saja?"

Annette van Nistelrooy dan Mireille Chastain, sahabat-sahabat Yixing itu tiba-tiba saja menghambur ke ruang tamu. Pastinya mereka mendengar 'keributan kecil' di ruang tamu lantaran Annette sudah mematikan teve sejak meninggalkan Joonmyeon di ruang tamu. Melihat Yixing yang kesakitan, raut wajah duo Belanda-Perancis itu langsung berubah cemas.

"Poppy kenapa?" Annette mendahului Mireille untuk mencapai Yixing. "Poppy, perutmu sakit?" tanyanya panik. Tatapan milik mata birunya berpindah-pindah dari wajah ke perut buncit Yixing.

"Mon Dieu, Poupée, kenapa kau jadi begini?" Mireille tak kalah panik.

"Annette, Mir, aku—"

"Perutnya kram." Joonmyeon mendahului Yixing untuk menjawab Annette dan Mireille menggunakan bahasa Inggris.

"Lykke menendang-nendang perutnya dengan keras."

Mendengar ini, Annette dan Mireille langsung bertukar pandang. Raut wajah keduanya berubah, tampak tak enak hati. Agaknya Annette dan Mireille sama-sama menduga Yixing kram karena kelelahan berkaraoke.

"Saya akan membawanya pulang," Joonmyeon kembali memberitahu kedua sahabat istrinya. "Wilhelmina harus istirahat di rumah," dia mengumumkan keputusannya untuk membawa Yixing pulang seraya membopong tubuh mungil milik Yixing dengan tangkas.

"O-oh, begitu," Annette sedikit gugup merespon Joonmyeon. "Poppy, kurasa sebaiknya kau memang istirahat di rumah." Sang Noni Belanda beralih pada Yixing setelah sekilas melirik Joonmyeon yang setia memetakan raut tegang di wajah tampannya. Sesaat Annette terlihat segan menjurus takut. Maklum, sepasang alis tebal Joonmyeon tampak nyaris bertaut, sedikit banyak memberikan kesan ngeri.

"Ya, sebaiknya Poupée istirahat di rumah," Mireille menimpali. Dia cukup tanggap terhadap situasi. Sama seperti Annette, Mireille juga terkesan takut-takut pada Joonmyeon.

Menyaksikan kedua sahabatnya tak punya pilihan lain selain merelakannya pulang, Yixing yang tengah kesakitan hanya bisa meringis pasrah. Ingin rasanya berontak, tapi apa daya kram di perutnya terlanjur menyiksa. Situasi yang tak menguntungkan semacam ini benar-benar mengesalkan bagi Yixing, sampai-sampai air matanya merebak sebagai ungkapan emosi.

"Aku pulang dulu, Anne, Mir," Yixing berpamitan dengan suaranya yang lirih, diiringi air mata yang meleleh di pipi. Tatapannya kentara benar tak rela meninggalkan sosok-sosok jangkung milik kedua sahabatnya.

Sama seperti Yixing, Annette dan Mireille juga tampak tak rela melepas Yixing. Akan tetapi, keduanya tak berkutik menyaksikan Yixing dibawa Sang Suami menjauh. Keduanya hanya bisa melambai dengan prihatin pada Yixing yang berlinangan air mata.

Sementara sahabat-sahabatnya melemparkan tatapan yang sarat perasaan tidak rela hingga prihatin, Yixing yang dibopong Joonmyeon menjauh hanya bisa menggigit bibir, berusaha agar tidak menangis. Dalam hati dia tak bisa untuk tidak menyalahkan Lykke yang diluar dugaan bersikap tak kooperatif di hadapan ayahnya.

'Kim Lykke, kau benar-benar tega pada Mama.'

Yixing membatin sambil menatap perut buncitnya dengan masygul, sekali lagi merasakan tendangan keras dari bayinya. Calon ibu yang satu ini sama sekali tak menyadari bahwa suaminya diam-diam melirik ke arahnya. Tajam.

.

.

.

Bersumbang dulu gaes…

.

.

.

주덴마크 대사관 식구: Ju-Denmark Daesagwan Sikgu; Keluarga Kedutaan Besar Republik Korea untuk Kerajaan Denmark

.

.

.

Ydyakonenko