Judul : Twins; the Queenka and the Geek
Genre : Sisterhood, Romance, Drama
Main Cast :
- Yoon Jeonghan (Svt) fem
- Choi Minki (Ren; Nuest) fem
- Kim Jonghyun (JR; Nuest)
- Hong Jisoo (Joshua; svt)
- Choi Seungcheol (Scoups; svt)
- Aron Kwak (Nuest)
Other Cast :
- Other SVT member, Fem for uke
- Other Nu'est Member
- Special Guest : Pledis Girlz
. . .
Cemilan sore kali ini tampak spesial. Bukan karena pakai telor dua atau semacamnya. Tetapi cemilan sore kali ini, Ibu mereka sendiri yang membuatnya. Sambil menunggu makanan manis yang di buat Nana siap, Jeonghan duduk di pantry sambil memperhatikan Nana. Jeonghan menopang dagu tampak serius memperhatikan ibunya. Di sampingnya, Somi asik bermain game di handphone Jeonghan.
Tak lama muncul Minki dengan kaus oblongnya duduk di samping Jeonghan. "kau sudah mandi?" tanya Jeonghan menoleh memperhatikan rambut basah Minki yang di balut handuk. Minki mengangguk. "rencananya aku ingin bersiap, tapi aku ingin menyantap cemilan buatan eomma dulu." Lanjut Minki.
Nana mendelik dua gadis kembarnya. "Minki, Jeonghan." panggil membuat perhatian dua gadis itu tertuju padanya. "bagaimana kabar kalian akhir-akhir ini hm? Aku sudah lama tidak menerima telepon dari bibi atau kalian." Ucapnya.
Minki dan Jeonghan saling bertukar pandangan. Keduanya tahu apa yang akan terjadi jika mereka menceritakan semuanya. Seperti, mungkin mansion ini akan terbalik jika Nana tau semuanya. Cukup lama sampai Jeonghan akhirnya berbicara. "tidak terjadi apa-apa.. hanya saja kemarin aku sempat drop karena sedikit kelelahan eomma, jadi aku izin sekolah satu hari." Ucap Jeonghan memberitahu berusaha tidak terdengar parah.
Mata Nana langsung mebelalak kaget. Ia langsung menaruh piring yang baru di ambilnya. "drop? Jeonghan ku sakit? Kenapa tidak ada yang memberiku kabar?" ucap Nana meninggikan suara. Para asisten rumah tangga yang berada di sekitar mereka langsung berhenti bergerak dan menunduk. Si kembar pun tampak takut.
"aku tidak mau membuat eomma khawatir, aku yang minta mereka untuk tidak menghubungi eomma.. lagi pula hanya flu biasa kok.." ucap Jeonghan mencoba menenangkan ibunya. "bagaimana kau bisa sakit, eoh?" tanya Nana lagi kali ini menatap khawatir putrinya.
"itu karena.." Minki baru membuka mulutnya. Jeonghan langsung menyenggol kakinya. Nana memperhatikan itu, Minki langsung diam saat Jeonghan menyenggol kakinya. "hari sebelumnya ada ujian, aku terlalu stress karena nilaiku tidak seperti yang aku harapkan eomma.." sela Jeonghan memberikan alasan yang benar-benar jauh dari yang terjadi sebenarnya.
Nana memicitkan mata curiga pada dua gadisnya. Jeonghan masih kukuh menatap matanya sementara Minki menunduk gelisah. Nana mencium sesuatu yang tidak beres. Ia mengenal sekali kedua putrinya ini. Yang satu memang pandai menyembunyikan sesuatu tetapi yang satu lagi tidak terlalu pandai berbohong.
Tetapi Nana tidak akan memaksa mereka sampai mereka mengatakan sendiri. Mereka sudah besar, mulai beranjak dewasa. Dan ini adalah tugas Nana untuk membimbing mereka. "hm.. baiklah, eomma mengerti." Nana menghela nafas.
Jeonghan pun lega akhirnya Nana menerima alasannya. Nana menyajikan kue-kue kecil manis buatannya. Kue itu langsung di serbu oleh anak-anaknya dengan suka cita.
Drrrrtt.
Handphone Minki bergetar. bukan bunyi telepon melainkan bunyi alarm. Minki langsung mematikan alarm handphonenya dan beranjak dari kursi. "aku harus bersiap." Ucapnya. Jeonghan mengikuti siluet Minki dari ujung matanya.
"bersiap? Kemana?" tanya Nana dan Jeonghan bersamaan. "kencan." Jawab Minki dengan lempeng. Tatapan Jeonghan dan Nana langsung berubah menjadi tatapan jahil.
"Jonghyun kah itu?" tanya Jeonghan. Minki mengulum senyumnya dan langsung beranjak ke arah tangga. "oh jadi pria beruntung itu namanya Jonghyun? ah eomma akan menyiapkan kue lagi untuk menyambutnya." Nana yang sudah melepas apron langsung memasang lagi apronnya dan menyiapkan bahan lagi.
Somi tampak bingung sendiri sambil mengunyah kuehnya. "eonni, kencan itu apa?" tanyanya menatap polos Jeonghan. "kencan itu.. kencan. Kkk, kau akan paham kalau kau sudah besar, ya." Ucap Jeonghan ikut beranjak dari kursinya. Tangannya terulur menepuk-nepuk kepala Somi.
"Minki, tunggu." Seru Jeonghan menyusul Minki ke kamarnya.
. . .
Jeonghan meneggok Minki di kamarnya. Tetapi ia tidak melihat Minki di dalam. Karena penasaran Jeonghan langsung masuk ke kamar Minki. Ia menengok Minki di ruang dandan juga lemari build innya. Minki rupanya sedang memoleskan make up ke wajahnya.
Terlihat ada yang berbeda dari pakaian Minki, Jeonghan memicitkan mata. Minki pun meliriknya dari ujung matanya sambil memoleskan perona pipi berwarna senada dengan dress pink itu. "jangan bilang ini baju baru?" tanya Jeonghan memperhatikan dress cantik yang sangat pas di tubuh kurus Minki.
Minki mengangguk. "benar, ini baju baru." Jawab Minki menyisir-nyisir rambut panjangnya. Kacamata besar sudah lepasnya. Melainkan softlens berwarna coklat muda sudah menghiasi mata besarnya dan semakin terlihat cantik dirinya. "setelah sekian lama akhirnya kau menggunakan lagi black cardmu itu." Komentar Jeonghan membuat Minki terkikik geli.
"daripada kau tidak pernah memakainya sama sekali." Balas Minki membuat Jeonghan meneggakkan punggung hendak protes. "yak, apa kau tau nominalku setiap pergi ke toko buku? Jangan meremehkan aku." Ucap Jeonghan mengerucutkan bibir. Minki gemas langsung memasankan lipstick yang ada di tangannya ke bibir Jeonghan. kemudian ia tertawa sendiri.
"apa kau benar akan pergi dengan Jonghyun?" tanya Jeonghan mengganti topik pembicaraan mereka. Minki langsung menaruh lipsticknya. Kemudian menghela nafas. "iya, aku pergi dengan Jonghyun, kenapa? Kau takut aku pergi dengan Aron sunbae hm?" tembak Minki langsung. Jeonghan sedikit gelagapan.
"tidak.. maksudku.. bukan begitu.. lagi pula aku sudah tidak tertarik…" Jeonghan memelankan kata terakhirnya. Minki langsung tertarik. "tidak tertarik?" ia menatap mata Jeonghan lurus. Masih ada keraguan di sana.
"sedikit.. aku lelah Minki, ia juga sama sekali tidak pernah melirikku." Tambah Jeonghan mendengus. Minki langsung diam. Tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya meraih tas selempang kecilnya yang berwarna senada dengan dress. Memasukan liptint juga cushionya dan menyemprotkan parfume ke tubuhnya.
Suara pintu terketuk mengalihkan perhatian mereka berdua. Salah satu asisten rumah tangga mereka membungkuk sopan. "Nona Minki, Kekasih nona sudah menunggu di bawah." Ucapnya memberi informasi jika Jonghyun sudah datang untuk menjemput Minki.
"dia sudah datang, ayo cepat turun." Jeonghan menarik tangan Minki dan membawanya turun ke ruang tamu.
Benar saja, dari tangga sudah terlihat punggung Jonghyun yang duduk di sofa bersebrangan dengan Nana yang juga duduk di sana. "ayo makanlah, aku buat sendiri, mumpung masih hangat." Ucap Nana bersemangat menyuguhkan kue buatannya.
Jonghyun salah tingkah di buatnya. Ragu-ragu ia mengambil kue itu dan memakannya. "enak kan?" tanya Nana masih bersemangat. Jonghyun mengangguk senang. "enak sekali." Jawab Jonghyun mengangguk. Nana bertepuk tangan kegirangan.
"makan yang banyak ya." Ucapnya menepuk-nepuk pundak Jonghyun. "ehem." Deheman Minki membuat keduanya teralihkan. Jonghyun langsung berhenti mengunyah. Seperti habis melihat bidadari turun dari khayangan, Jonghyun terpesona.
"uhuk uhuk." Dan juga tersedak.
"bibi! Ambilkan minum!" perintah Nana melihat Jonghyun tersedak. Buru-buru bibi mengambilkan minum untuk Jonghyun. sementara Minki malu-malu sambil menarik-narik ujung dressnya. Mendadak ia merasa malu menggunakan dress itu karena tatapan Jonghyun ini.
Setelah minum, barulah Jonghyun kembali ke alam sadarnya. "Sampai segitunya." Komentar Nana dengan nada jahilnya. Jonghyun langsung tersenyum malu mengusap tengkuknya.
Selesai menata hati masing-masing keduanya saling tatap. "jadi.. kita pergi sekarang?" tanya Minki. Jonghyun mengangguk cepat. "iya, nanti kita kemalaman."
"mau pergi sekarang?" tanya Nana. Minki mengangguk. "Oppa, jaga adikku dengan baik." Sela Jeonghan.
"tenang saja, aku akan menjaganya."
"lakukan yang terbaik, ya?" tambah Jeonghan. Jonghyun tersenyum lebar. "beres." Sahutnya.
"kalau begitu kami pergi dulu." Sela Minki. "baiklah, selamat bersenang-senang, jangan pulang terlalu malam, dan jangan menyentuh alcohol ya? Dan.." Nana mendekatkan mulutnya di antara Jonghyun dan Minki.
"jangan mampir kehotel." Bisik Nana. Membuat Jonghyun dan Minki membulatkan matanya. Nana langsung tertawa kencang. "aku bercanda, sudah pergi sana." Ucap Nana mendorong mereka berdua ke pintu depan.
Sesampainya di depan, Nana dan Jeonghan berdiri bersebelahan memperhatikan Minki dan Jonghyun sampai mereka masuk ke dalam mobil. Nana melambaikan tangannya. "Dadah~~~ hati-hati-ya~~ semoga kencannya lancar~~~" serunya agak norak.
"eomma norak sekali." Sahut Jeonghan. Nana menoleh ke arah Jeonghan. "kencan itu seru tau, kamu coba pergi kencan juga." Ucap Nana menyindir Jeonghan yang tidak pernah pergi kencan.
"eomma!" seru Jeonghan menghentak kakinya sebal. "ayo kita masuk." Ucap Nana menarik Jeonghan masuk ke dalam rumah.
. . .
Di mobil, Minki akhirnya bisa bernafas lega. Jonghyun memasan safety beltnya. Ia melirik Minki yang menghela nafas. "waeyo?" tanyanya.
Minki menggeleng. "maaf ya, ibuku memang suka norak begitu." Ucap Minki merasa malu dengan sikap Nana tadi. Jonghyun membelalakan matanya terkejut. Tangannya menutup mulut. Minki penasaran.
"ibumu? Wanita tadi ibumu?" tanya Jonghyun sedikit meninggikan suaranya.
"wae? Kau tidak percaya?"
"aku kira dia kakakmu…. Aku hampir memanggilnya noona."
"cih noona, usianya hampir 40 asal kau tau." ucap Minki menarik-narik safety beltnya. "tapi dia masih cantik." Minki langsung menajamkan telinga mendengar hal itu.
"lebih cantik aku atau ibuku?" pertanyaan Minki membuat Jonghyun membeku di tempat. Pertanyaan ini pertanyaan paling sulit dan sangat menjebak. Kalau di bandingkan dengan ujian matematika jelas pertanyaan ini paling sulit. "eum.. entah.. kalian berdua sama-sama cantik."
"huh bilang saja lebih cantik ibuku." Minki menghentak safety beltnya yang bermasalah. "aniyo… bukan begitu, sayang, jujur kau adalah wanita paling cantik yang pernah aku kenal. Bahkan kau lebih cantik dari ibuku atau wanita manapun.. apalagi dengan dress pink ini, musim gugur terasa musim semi." Ucap Jonghyun membuat Minki tidak berkutit. Jonghyun melemparkan senyuman mautnya. Minki hanya bekedip-kedip mencoba menyadarkan dirinya.
Jonghyun mendekat pada Minki. Minki memundurkan kepalanya. "k-kau mau apa?" tanya Minki menahan dada Jonghyun. tetapi Jonghyun tetap mendekat. Minki memejamkan matanya. Nafas Jonghyun terasa di semakin dekat. Setelah itu menjauh.
Minki hanya mendengar suara 'klik' dan safety beltnya terpasang. Jonghyun juga sudah kembali ke tempatnya. Minki langsung malu sendiri. Sebentar tadi ia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia melirik Jonghyun yang tersenyum-senyum sendiri seperti menahan tawa. Minki langsung melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka. Seolah-olah ia marah padahal dia cuman malu.
"Daehan Cinema." Perintah Jonghyun pada GPS di mobil canggihnya. Alat modern itu langsung menunjukkan arah yang di tuju. Ke tempat di mana mereka akan menghabiskan waktu malam ini.
. . .
Sekarang mobil mereka benar-benar terparkir di depan gedung bioskop utama di kota seoul Daehan Cinema. "kapan terakhir kali kita kebioskop?" tanya Jonghyun menyadarkan Minki yang melamun. Minki mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melepas safety beltnya. "molla.. sekitar tiga atau dua bulan yang lalu?" jawab Minki.
Jonghyun turun lebih dulu dan membuka kan pintu mobil untuk Minki. Ia mengulurkan tangannya bak seorang pangeran yang menjemput putri pujaan hatinya. Minki memandang sejenak tangan Jonghyun. ia menepuk tangan Jonghyun. "jangan lebay." Ucapnya membuat Jonghyun gemas langsung menggenggam tangan Minki.
"kau biasanya suka yang lebay. Kajja." Ucapnya menggandeng Minki masuk ke dalam. Minki menggerutu pelan. Jonghyun semakin gemas. Ia semakin menggenggam tangan Minki dan menarik Minki agar jarak mereka lebih dekat.
Minki mengedarkan pandangannya ke poster-poster dan jadwal film. Hampir semua film yang sedang now playing adalah film fiksi dan action. Genre film yang tidak Minki sukai. Jonghyun memabawa Minki untuk mengantri. "apakah kencan kita akan diisi oleh tonton yang penuh kekerasan juga hayalan amerika?" tanya Minki mengerenyit. Jonghyun menoleh ke poster-poster film.
"kau suka minion?" tanyanya.
"mereka menggemaskan." Sahut Minki. Jonghyun tersenyum. "kencan kita akan diisi oleh minion, jangan berkecil hati, ya?" ucap Jonghyun menunjuk poster film Despicable Me 3. Minki langsung tersenyum senang. Ia langsung bersemangat setelah melihat poster film itu.
Perlahan antrian mereka semakin maju. Sampai akhirnya giliran mereka yang memesan tiket. Jonghyun mempersilahkan Minki memilih tempat duduk juga jam tayang. Minki pun memilih tempat duduk yang berada di tengah. Selesai memesan tiket, Jonghyun mengecek jam di tangannya. "lima menit lagi filmnya tayang."
"ayo cepat kita masuk!" ucap Minki tidak sabar menarik tangan Jonghyun. mereka berlari-lari kecil menuju studio.
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam studio tepat waktu. Tapi karena terburu-buru mereka lupa membeli minuman juga popcorn. Minki baru menyadarinya setelah ia duduk. Ia pun mendengus kecewa. "biasanya ada penjual minuman dan popcorn yang masuk ke dalam." Ucap Jonghyun membujuk Minki.
"tapi mereka hanya menjual popcorn asin, aku ingin yang caramel." Ucap Minki dengan nada sedih. Jonghyun langsung berdiri. "aku keluar dulu untuk beli ya?"
"filmnya?" Minki menahan Jonghyun.
"tenang saja, tidak lama kok." Ucap Jonghyun meyakinkan Minki kalau ia akan kembali dalam sekejap. "baiklah." Ucap Minki akhirnya melepaskan Jonghyun.
Benar ternyata. Tidak sampai lima belas menit, Jonghyun sudah kembali membawa popcorn caramel kesukaan Minki juga dua gelas soda. Tampaknya Minki sangat serius menonton animasi dengan sekumpulan kerdil berwarna kuning itu. Sampai-sampai ia tidak sadar dengan kehadiran Jonghyun sampai Jonghyun menempelkan soda dingin di pipi Minki. Minki terperanjat. Ia hampir berteriak karena kaget. Untung saja tidak.
Jonghyun terkekeh pelan. "serius sekali." Komentar Jonghyun. "sstss." Minki menaruh telunjuk di bibirnya. Jonghyun pun diam. Tapi tidak benar-benar diam. Ia lebih banyak 'menonton' Minki daripada menonton film. Ia terus-terus memperhatikan Minki yang tampak serius lalu sesekali tertawa dan di akhir ia menangis –karena sebuah animasi.
Film pun selesai. tapi Minki masih setia di tempat duduknya. Padahal lampu sudah menyala dan deretan kredit sudah berjalan. "sudah?" tanya Jonghyun.
"biasanya ada scene tambahan, lagipula soundtracknya bagus." Ucap Minki masih duduk di tempatnya sampai di studio itu hanya sisa mereka berdua. Jonghyun mau tak mau menemaninya. Setelah kredit selesai barulah Minki berdiri dan mengajak Jonghyun untuk keluar.
"terima kasih." Ucap pegawai bioskop meyambut mereka saat keluar. "ahh filmnya benar-benar seru." Komentar Minki.
"kau suka?"
"sangat, aku sangat suka, rasanya ingin menontonnya lagi."
"lagi? kau ingin? Ayo kita beli tiket lagi." ajak Jonghyun menggandeng tangan Minki. "ani, ani, lain kali saja, sekarang aku lapar." Ucap Minki kemudian terdengar suara perutnya yang meronta minta diisi. Minki menunduk malu.
Jonghyun tersenyum untuk ke berapa kalinya. "ku dengar disini ada restaurant yang bagus, ayo kita kesana." Ajak Jonghyun. "baiklah kalau kau memaksa." Jonghyun tertawa mendengarnya.
. . .
Jonghyun membawa Minki ke lantai teratas Daehan Cinema. Tepatnya di lantai delapan, di sebuah restaurant cantik bernama Sky Rose Garden. Seperti namanya, restaurant itu seperti berada di atas langit karena berada di lantai teratas. Juga, restaurant itu seperti lading bunga mawar. Berbagai macam warna mawar menghiasi sekeliling restaurant itu.
Minki terpesona. Ia baru pertama kali datang ke sini. Teman-teman di grup cheerleaders pernah menceritakan soal kecantikan Sky Rose Garden ini. Tetapi Minki tidak pernah benar-benar menaruh perhatiannya pada cerita itu. Namun sekarang ia percaya, restaurant ini benar-benar cantik.
"selamat datang, meja untuk berapa orang?" seorang pelayan menyambut mereka. "untuk dua orang," sahut Jonghyun.
"silahkan, mari ikut saya." Ucap pelayan laki-laki berseragam rapi mengantarkan mereka ke sebuah meja dengan dua kursi berhadapan. Meja itu berada dekat dengan pagar pembatas. membuat tempat itu memiliki pemandangan kota seoul yang sangat cantik.
"apa kalian sepasang kekasih?" tanya pelayan itu lagi. Jonghyun langsung mengangguk. Sementara Minki masih mengedarkan pandangannya. "kami memiliki paket makan malam romantis dan specialnya hari ini kami sedang memberikan potongan untuk paket makan malam romantis. Apa kalian ingin mencobanya?" pelayan itu memberikan tawaran yang sangat menarik untuk Jonghyun.
"ya, kami ingin mencobanya." Ucap Jonghyun cepat. Pelayan itu langsung mencatatnya. "baiklah, mohon tunggu sebentar ya." Ucap pelayan itu kemudian pergi.
Tak lama, Minki di kejutkan dengan munculnya beberapa pelayan yang langsung menata meja mereka dengan lilin juga gelas minum yang terisi dengan jus. "kau memesan paket apa?" tanya Minki yang rupanya tidak mendengar tadi Jonghyun memesan paket makan malam romantis.
"makan malam romantis." Ucap Jonghyun dengan santai membuka-buka buku menu khusus paket ini. Minki mengerjap-ngerjapkan matanya terkesima. "waw." Komentarnya ikut membuka buku menu –atau menutupi wajahnya dengan buku menu. Ia terlalu malu untuk mengakui kalau ia sedang merasa sangat bahagia. padahal bukan pertama kalinya Jonghyun memperlakukannya seperti ini.
"ada chicken cordon bleu kesukaanmu, kau ingin memesan itu?" tawar Jonghyun menaruh buku menu. "b-boleh," sahut Minki mengintip Jonghyun dari buku menunya. Jonghyun pun langsung memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
Selang beberapa waktu, makanan yang mereka pesan sudah tersaji. Sayup-sayup terdengar musim jazz romantis yang berasal dari sekelompok penyanyi di atas panggung kecil di sudut restaurant itu. Suasanya romantis pun makin terasa. Tapi bukan ini yang Minki inginkan. Bukan ini tujuannya mengajak Jonghyun kencan.
Ada sesuatu yang harus di luruskannya. Sesuatu yang sudah sangat mengganjal dirinya. Sesuatu yang sudah tidak bisa di tahannya lagi. Minki harus segera menata hatinya.
"Jonghyun.." Jonghyun yang sedang asik memotong chicken cordon bleu miliknya langsung mengangkat kepala.
"iya?" jawabnya. Minki pun menarik nafas dalam-dalam. "aku ingin bicara." Jonghyun langsung diam. Ia menukar piring Minki dengan piringnya. Ia menukar chicken cordon blue yang sudah di potongnya dengan milik Minki yang belum tersentuh.
"tadi katanya kau lapar? Sudah bicaranya nanti saja, kita nikmati saja dulu makan malam romantis ini, oke?" ucap Jonghyun tersenyum. Seperti tahu apa yang akan keluar dari mulut Minki. Jonghyun mencegahnya. Minki semakin merasa tidak enak.
Minki pun memaksakan senyumnya. "baiklah." Jawabnya meraih garpu. Setelah ini Minki, bersabarlah. Ucapnya pada diri sendiri sambil sesekali melirik Jonghyun yang tampak sangat bahagia. huh.. dengus Minki dalam hati.
. . .
Jam hampir menunjukkan pukul Sembilan malam. Mobil Jonghyun sudah berhenti di pekarangan rumah Minki. Diliriknya Minki yang tampak cemas dari spion kaca. "kita sudah sampai." Ucap Jonghyun. namun Minki masih belum ada tanda-tanda hendak turun dari mobil.
"Jonghyun, menurut mu apa itu cinta?" ucap Minki bersuara. Jonghyun mengetuk-ngetuk setirnya dengan ujung jari. "cinta? Menurutku cinta adalah sebuah perasaan di mana setiap kali kau melihat seseorang kau akan merasa bedebar juga sangat bahagia. selain itu, kau juga memiliki perasaan di mana kau selalu ingin bersamanya, menjaganya, dan memilikinya, begitu." Jawab Jonghyun dengan pandangan lurus kedepan.
Minki menoleh pada Jonghyun. "aku masih tidak mengerti."
"simpelnya, cinta itu terasa nyaman." Tambah Jonghyun menoleh dan pandangan mereka bertemu.
"bagaimana kalau ku katakan aku tidak mencintaimu selama ini?" jawab Minki dengan hati-hati. Dengan susah payah Jonghyun mencoba menelan ludahnya.
Jonghyun menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap lurus kedepan. Jonghyun lalu menghela nafas. "suatu hari, ada seorang anak yang memiliki perangai buruk. Orang tuanya berpisah sejak ia berumur sepuluh. Selama kehidupan sekolahnya ia selalu mencari masalah." Jonghyun memulai cerita.
Minki tahu benar anak yang di maksud Jonghyun. dirinya sendiri. Jonghyun menceritakan dirinya sendiri. Dada Minki mendadak terasa sesak. "nilainya buruk, ayah yang tinggal bersamanya selalu memukul dan memarahinya. Sampai suatu ketika, di hari pertama masuk SMA, ia jatuh cinta dengan seorang gadis." Jonghyun menoleh pada Minki. "gadis tercantik di sekolah itu."
"hari itu dia tampak sangat bersinar, senyumannya, mata beningnya, hari itu untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan cinta. Cinta yang tidak pernah ia rasakan ia dapatkan dari gadis itu. Setiap hari ia mencoba memperbaiki diri demi gadis itu. Setiap hari juga ia menaruh harapan untuk gadis itu.." Jonghyun tidak menjauhkan matanya dari mata Minki yang mulai berkaca-kaca.
"aku tahu gadis itu mungkin menerimaku karena kasihan, tapi aku tidak pernah patah semangat untuk berusaha membuatnya jatuh cinta padaku." Minki membuang muka. Tangan Jonghyun terulur meraih tangan Minki. Ia mengusap pelan tangan Minki. "gadis itu adalah cinta pertamaku dan aku berharap gadis itu akan menjadi cinta terakhirku." Ucap Jonghyun.
Minki tertunduk menatap tangan Jonghyun. setetes air mata jatuh ke tangan Jonghyun. "kau yakin tidak mencintaiku?" ucap Jonghyun pelan mengangkat dagu Minki. Dengan mata berairan Minki menatap Jonghyun. ia diam. Ia sendiri tidak tau. ia sendiri tidak mengerti. Kenapa ia bisa menangis. Apa karena kasihan? Atau karena ia terlalu bingung. Sungguh, hanya karena sebuah rasa hidupnya menjadi rumit begini.
"kalau kau yakin tidak mencintaiku maka kau tidak akan menikmati kencan kita tadi juga.. kau tidak akan menangis seperti ini, Minki." Jonghyun mengusap airmata Minki dengan jempolnya. Ia membuka safety belt Minki. "turunlah, kau butuh istirahat." Perintah Jonghyun.
Minki pun mengusap pipinya pelan. Ia meraih tasnya dan turun dari mobil Jonghyun dengan segera. cukup lama ia berdiri di luar. Sampai mobil Jonghyun benar-benar sudah pergi dan ia merasa tangisannya reda, Minki pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Ruang tamu tampak redup. Para asisten rumah tangga sudah menyelesaikan tugasnya. Tidak tampak seorang pun di sana. Nana pun muncul menghidupkan lampu mengejutkan Minki. Di balut baju tidur sutra berwarna gelap membuatnya tidak terlihat disana.
"eomma!" seru Minki dengan suara sedikit serak. "sudah pulang rupanya kkk~~ ayo sini cerita." Ucap Nana menarik tangan anak gadisnya.
Minki melepas pelan cengkraman tangan ibunya. "besok saja ya eomma, aku sangat lelah juga mengantuk, aku.. ke atas dulu. Selamat malam, eomma." Ucap Minki menolak secara halus permintaan ibunya.
Nana pun mendesah kecewa. "Selamat malam." Sahutnya dengan nada sedih. Sorot matanya mengikuti Minki yang naik ke arah tangga. Sampai Minki hilang dari pandangannya. Nana menghela nafas. "dia tampak sedih.." gumamnya terduduk di sofa.
. . .
To Be Continue
. . .
_Lady Chulhee_
