Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Maaf atas segala kekurangan. Happy reading…..
Previous
Jongin memilih bungkam, pernyataan Chanyeol terlalu mengejutkan belum lagi tawaran Sehun, kenapa hidupnya tidak pernah berjalan dengan sederhana. Jongin menghembuskan napas dengan kasar. "Aku tidak ingin membahas perasaan siapapun."
"Apa Sehun juga menyatakan cinta padamu? Aku tau kau tak akan menjawab tapi dia kan terlihat sangat jelas menyukaimu."
"Aku benar-benar tidak ingin membahas perasaan siapapun sekarang."
"Kau ingin pergi ke Pulau Nami? Di musim gugur pemandangannya pasti menakjubkan di sana."
Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, mencoba mempertimbangkan tawaran Chanyeol, terdengar menarik daripada terkurung selama lima hari ke depan. "Tapi Kyungsoo hyung bagaimana?"
"Aku akan mencari jalan keluarnya, percayakan padaku saja."
"Baiklah."
Bab Tiga Belas
"Pulau Nami!" pekik Chanyeol bahagia, sembari memasukkan berbagai makanan ringan dan minuman kemasan ke dalam ransel, Jongin hanya bisa berdiri dan melempar tatapan tak percaya melihat tingkah ajaib Chanyeol. "Aku tidak sabar mengunjungi Pulau Nami!"
"Kau belum pernah ke sana sebelumnya?" Chanyeol menggeleng cepat. "Kenapa?"
"Ya, kau tahu sendiri penggemarku."
"Kau yakin sekarang keadaannya berbeda."
"Aku yakin, kan banyak penggemarku yang menghilang gara-gara lirik laguku tempo hari."
Jongin melangkah mendekati Chanyeol membantunya dengan mengoperkan berbagi bungkus makanan ringan dari atas konter dapur. "Kau masih memikirkan hal itu?"
"Tentu saja, terkadang aku masih memikirkannya."
"Aku yakin penggemarmu masih banyak, mereka yang membencimu hanya mereka yang aku pikir penggemar musiman, atau mereka yang terlalu berdelusi, memang ada manusia sempurna?"
"Kau semakin pintar Kai…," gemas Chanyeol, ia usap pelan puncak kepala Jongin.
"Singkirkan tanganmu!" bentak Jongin, ia lempar bungkus makanan ringan ke arah Chanyeol kemudian kedua tangannya mulai menata rambutnya yang berantakan karena ulah Chanyeol.
"Selesai kita berangkat sekarang!" pekik Chanyeol heboh.
"Kau tidak menyamar?"
"Tidak usah, sekarang belum musim liburan."
"Kalau kau dikejar fans aku akan langsung kabur, jangan harap aku akan membantumu." Ancam Jongin.
"Tentu saja Kai, jika ada fans yang mengejar selamatkan dirimu saja tak usah pikirkan aku."
Jongin menyipitkan kedua matanya. "Tapi kalau kau mati aku pasti repot, dan harus diinterogasi karena aku orang terakhir yang pergi denganmu."
"Aku tidak akan mati!" pekik Chanyeol histeris. "Kepalamu selalu memutar skenario terburuk." Chanyeol mengetuk pelan dahi Jongin yang tertutup rambut poninya.
"Rambutku berantakan lagi!" protes Jongin, Chanyeol hanya nyengir lebar. Selanjutnya Chanyeol bawa ransel yang telah penuh sesak dengan berbagai jenis makanan ringan dan minuman ringan tentu saja. "Butuh bantuan?"
"Tidak, kau kan baru sembuh jadi biarkan aku saja yang mengatasi semua ini sendiri."
"Itu kan hanya ransel berisi makanan dan minuman ringan kenapa sikapmu seperti pahlawan penyelamat dunia." Cibir Jongin.
Chanyeol menggembungkan kedua pipinya tanpa sadar. "Aku kan hanya ingin terlihat keren."
Jongin tersenyum lebar. "Wajahmu aneh kalau begitu."
"Kalau apa? Menggembungkan pipiku?" Chanyeol justru mengulangi tindakannya dan Jongin menghadiahi kepalanya dengan pukulan yang cukup keras. "Sakit." Keluh Chanyeol.
"Ayo berangkat sudah pukul sembilan. Bus hanya ada satu." Ajak Jongin, Chanyeol menahan lengan kanan Jongin.
"Pakai syalmu dengan benar nanti kau kedinginan." Dengan telaten Chanyeol membuka syal biru tua yang Jongin kenakan kemudian ia lingkarkan pada leher Jongin dengan hati-hati memastikan sang pemakai syal tidak akan kedinginan nanti. "Sudah." Ucap Chanyeol pelan.
"Terima kasih." Jongin langsung memalingkan wajahnya tak ingin wajahnya semakin memerah.
Dari Seoul setiap orang yang akan berkunjung ke Nami akan diantar menggunakan Bus Naminara Republic Shuttle Bus, hanya ada satu bus setiap hari dan berangkat pukul 09.30 pagi. Chanyeol dan Jongin duduk di bangku pemberhentian bus, mereka harus menunggu bus kurang lebih dua puluh menit lagi. "Aku suka ini."
"Apa?" Jongin menjulurkan lehernya melihat apa yang sedang Chanyeol tonton di ponselnya. "Winter Sonata?"
"Ya, aku suka bagian ini, saat di Nami."
"Itu kan saat musim dingin sekarang bahkan musim gugur belum mencapai pertengahan."
"Tidak apa, di sana pepohonan Gingko sudah berubah warna pemandangannya juga menakjubkan di musim gugur. Kau membawa kamera?"
"Hanya kamera pocket. Aku tidak ingin membawa kamera besar yang berat."
"Tidak masalah yang penting kita ambil gambar di sana sebanyak-banyaknya." Jongin hanya menatap Chanyeol bingung, untuk apa mengambil gambar banyak-banyak? Menghabiskan memori kamera saja Idola memang harus eksis, begitu pikir Jongin.
"Busnya tiba." Chanyeol berdiri dari posisi duduknya tak lupa ia genggam tangan Jongin. Bus berwarna putih dengan potret pulau Nami yang menampilkan keindangan di empat musimnya, berhenti tepat di depan pemberhentian bus.
Memanfaatkan tinggi badannya Chanyeol mencoba mengintip ke dalam bus. "Bagus, tidak terlalu ramai. Ayo masuk." Jongin mencoba melepas genggaman tangan Chanyeol, namun Chanyeol tak mengijinkan hal itu terjadi.
Keduanya melangkah memasuki bus, beruntung di dalam bus didominasi oleh orang-orang berusia lanjut, jadi tak ada yang mengenali Chanyeol dan Jongin. Miris sekaligus membahagiakan di saat bersamaan. Jongin duduk di dekat jendela dengan Chanyeol di sampingnya, tentu saja. Chanyeol memasukkan ranselnya ke tempat penyimpanan barang yang berada di atas kursi.
"Kita akan sampai satu setengah jam lagi."
"Sepertinya kau berbakat jadi pemandu wisata." Balas Jongin dengan nada menyebalkan.
"Hanya untukmu Kai, aku mencari tahu semua hal tentang pulau Nami." Chanyeol tersenyum lebar.
Jongin pura-pura tak peduli dengan memperhatikan keadaan di luar jendela bus. Pepohonan di sepanjang jalan dengan daun-daun mereka yang mulai berubah warna tampak menakjubkan. "Kau bisa tidur jika lelah."
"Hmm." Gumam Jongin. Chanyeol meraih tangan kanan Jongin menggenggamnya dia tersenyum saat Jongin membalas genggaman tangannya. Bahkan Jongin bersandar di bahunya.
"Kau mengantuk?"
"Hmm." Chanyeol hanya tersenyum mendengar jawaban singkat Jongin atau lebih tepatnya gumaman, tapi dia sangat bahagia sekarang dan mungkin kedua pipinya kini merona, persetan dengan image kerennya.
.
.
.
Pukul sebelas siang bus sampai di Dermaga Gapyeoung, Chanyeol menggenggam tangan Jongin keluar dari bus, keduanya berjalan menuju gerbang masuk untuk membeli tiket masuk atau yang biasa disebut 'visa'. Benar Visa, karena pulau Nami dianggap sebagai Negara tersendiri, ya, hanya republik main-main untuk menampilkan kesan unik demi kepentingan pariwisata. "Kita naik kapal feri." Jongin hanya mendesah pelan, sepertinya Chanyeol yang sangat ingi berkunjung ke pulau Nami.
"Berapa lama kita naik feri?" Jongin mengetes bakat Chanyeol sebagai pemandu wisata.
"5 sampai 10 menit, 10 menit jika ramai karena dihitung dengan waktu antre." Balas Chanyeol mantap. Jongin hanya tersenyum miring, Chanyeol tidak main-main melakukan penyelidikan rupanya.
Feri yang akan membawa semua pengunjung menyeberang dari dermaga menuju Nami dihiasi oleh bendera dari berbagai Negara sebagai simbol persahabatan. "Chanyeol bisa kau lepaskan tanganmu?" Jongin merasa sedikit risih dengan Chanyeol yang terus menggenggam tangannya.
"Tidak." Balas Chanyeol singkat.
"Terserahlah." Gumam Jongin, jengah tak ada pilihan lain kecuali diam dan membiarkan Chanyeol menggenggam tangannya hingga dia merasa bosan sendiri.
Tanpa antrean panjang feri tiba lima menit di pulau. Semua pengunjung turun dari feri dengan tertib. Dan Chanyeol tentu saja masih menggenggam tangan Jongin. Keduanya berhenti di depan gerbang masuk, terpesona dengan pulau Nami di musim gugur. Pepohonan yang tertata rapi dan air mancur buatan yang sangat indah.
"Kau pernah ke sini sebelumnya?"
"Ya, bersama Kyungsoo hyung."
"Kalian selalu bersama aku heran kenapa kalian tidak menikah saja."
"Oh ya kalian kan sama-sama uke aku lupa, kalau kau seme pasti langsung kau nikahi Kyungsoo hyung tercintamu itu."
"Kenapa kau terdengar cemburu sekarang?"
"Aku tidak cemburu!" balas Chanyeol cepat dengan nada yang justru sangat mencurigakan. "Oh ya kapan kau ke sini dan apa saja yang kau lakukan?"
"Aku kesini lima tahun yang lalu setahun sebelum aku kabur ke Afrika. Saat musim semi, aku memotret Sakura di jalan Sakura."
Pepohonan di pulau Nami ditata dengan sangat teratur dan jalanan diberi nama sesuai dengan mayoritas pohon yang ditanam itu. "Sekarang musim gugur kita ke jalan Ginko saja bagaimana?"
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Ayo!" pekik Chanyeol antusias. Keduanya melangkahkan kaki beriringan memasuki gerbang masuk memandangi pepohonan indah yang tertata rapi. "Aku ingin ke pulau ini setiap musim, dan melihat bagaimana pepohonan berubah di setiap musim."
"Itu keinginanmu?"
"Ya."
"Sederhana sekali."
Chanyeol tersenyum. "Terkadang saat kau terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar kau akan melupakan hal-hal kecil disekelilingmu."
"Ucapanmu terdengar bagus."
"Mau memuji atau menghina?"
"Terserah pemikiranmu." Balas Jongin ketus.
Jalan Ginko di musim gugur, dipenuhi dengan pepohonan Ginko dengan daun-daun berwarna kuning. Indah berpadu dengan sungai Han. "Berfoto bersama." Jongin hanya mengangguk pelan. "Kita duduk di bangku itu." Chanyeol menunjuk salah satu bangku taman yang di teduhi pepohonan Ginko yang indah. Sebenarnya Jongin duduk dengan berjarak, namun namun Chanyeol menarik tangan kanan Jongin, memeluk pinggang Jongin. Dan berfoto menggunakan ponsel serta kamera yang Jongin bawa. "Hasilnya bagus." Ucap Chanyeol dengan nada bahagia. Ia simpan ponselnya, perhatian Chanyeol kini teralih pada ransel berisi makanan dan minuman yang ia bawa dari rumah. "Mau yang mana?" Chanyeol membuka ransel dan menunjukkannya kepada Jongin.
"Aku mau cokelat." Chanyeol tersenyum tangan kanannya merogoh ransel dan mengeluarkan bungkus cokelat untuk Jongin.
"Butuh bantuan untuk membuka bungkusnya?"
"Tidak." Balas Jongin pelan. Sementara Chanyeol mengambil roti stroberi karena mereka kan tidak sempat sarapan tadi.
"Air mineral, susu, atau teh untuk minum?"
"Air mineral." Chanyeol mengangguk patuh ia buka tutup botol air mineral, dan Jongin hanya bisa menatap penuh keheranan.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh perhatian padamu?"
"Apa kau akan mengunggah foto kita ke media sosial?" Jongin mengalihkan topik dengan melempar pertanyaan lain.
"Tentu saja."
"Kenapa?"
"Supaya semua orang tahu kau milikku."
"Bodoh. Berhenti bersikap baik padaku Chanyeol, kau sendiri yang memintaku untuk tak menerima cintamu meski kau memohon. Jangan seenaknya memerintah orang lain."
"Aku mencintaimu."
"Mungkin itu hanya perasaan sesaat, aku tidak mau menjadi korbanmu, sebaiknya kita menjaga jarak. Aku berpikir kau akan kembali pada Baekhyun."
"Aku tidak akan kembali padanya."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu, ingat kesepakatan pernikahan ini Chanyeol. Jangan libatkan perasaan, semuanya akan menjadi sangat rumit."
"Aku mencintaimu sekarang Kai, hanya itu yang aku tahu, dan aku akan menunggu sampai kau membalas perasaanku."
"Jika aku tak membalasnya?"
"Aku yakin kau akan membalasku."
"Kau benar-benar besar kepala. Sudahlah, habiskan camilanmu dan melakukan hal lain kecuali duduk dan membahas masa depan yang tak pasti."
"Apa kau takut mengaku, kau sebenarnya sudah mencintaiku kan Kai?"
"Tidak. Aku menyukai Oh Sehun. Chanyeol!" pekik Jongin saat Chanyeol tiba-tiba mencengkeram lengannya.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Oh Sehun, aku tidak suka kau pergi dengannya, jauhi dia."
"Kau tak berhak melarangku!" pekik Jongin marah, ia berdiri dari bangku melempar tatapan tajam untuk Chanyeol. "Kita tidak memiliki hubungan apa-apa kecuali rekan kerja, kau dan aku, pernikahan ini hanya kontrak, jangan mengubah apapun Park Chanyeol." Jongin meninggalkan Chanyeol dengan tergesa-gesa dia bahkan hampir berlari. "Chanyeol!" pekik Jongin saat Chanyeol kembali menarik lengannya, ia heran bagaimana Chanyeol bisa menyusulnya secepat itu. Chanyeol memutar tubuh Jongin, dan kini Jongin telah mendapati dirinya berada di dalam pelukan Chanyeol.
"Aku mencintaimu, aku tidak akan memohon cintamu karena aku yang meminta kau untuk tidak melakukan hal itu. Aku akan membuatmu menerima cintaku, kau akan menerimanya Kai."
Kedua lutut Jongin terasa lemas, dari awal dia sudah berfirasat jika kesepakatan ini akan sangat merepotkan. Tapi dirinya tetap melanggar. "Jangan membohongi aku Chanyeol, jika kau melakukannya tak akan ada kesempatan kedua."
"Terima kasih Kai, terima kasih, aku tidak akan menyakitimu aku janji." Chanyeol menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jongin, menghirup aroma parfum Jongin yang khas, membuat perutnya terasa geli dengan cara yang menyenangkan.
.
.
.
Pukul empat sore bus yang membawa mereka ke Nami kembali ke Seoul. Chanyeol dan Jongin menempati kursi yang sama dari yang mereka duduki saat berangkat tadi. "Mau makan lagi?" Chanyeol menawarkan keripik kentang pada Jongin yang dibalas gelengan. "Setelah sampai di Seoul kita makan di restoran, bagaimana?" tawar Chanyeol.
"Terserahlah," balas Jongin malas karena kedua mata dan tangannya sibuk dengan kamera, Jongin memeriksa semua gambar yang ia ambil di pulau Nami.
Chanyeol mendengus, merasa diabaikan, ia ambil sisa roti cokelat dari dalam ransel. "Sekarang ganjal perutmu dengan ini, aku tidak mau kau sakit lagi." Chanyeol sodorkan roti cokelatnya namun tetap saja Jongin acuh. "Jongin…," keluh Chanyeol. "Buka mulutmu aku suapi."
Chanyeol pikir, Jongin akan menolak tapi anak itu rupanya membuka mulutnya, mungkin karena dia terlalu sibuk memperhatikan foto-foto hasil jepretannya. Hingga tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Chanyeol tentu saja, hanya bisa senyum-senyum bahagia.
"Kenapa gambar kita sedikit?" komentar Chanyeol setelah dirinya mencuri pandang ke layar kamera Jongin.
"Tidak ada yang menarik." Balas Jongin.
"Maksudmu?!" pekik Chanyeol, meminta penjelasan.
"Haah," desah Jongin, ia matikan kameranya dan ia masukkan ke dalam saku mantel musim gugurnya. "Foto kita berdua sama sekali tak menarik."
"Aku ini terkenal," gerutu Chanyeol. Jongin hanya mengendikkan bahu. "Seharusnya kau bahagia memiliki fotoku, apalagi foto bersama."
"Aku kan bukan penggemarmu. Selain itu fotomu berserakan di Google."
"Berserakan, seperti sampah saja, gunakan kalimat yang lebih bagus."
"Bertebaran."
"Hah, itu lebih baik aku pikir." Jongin tersenyum simpul Chanyeol tersenyum lebar, rasanya menyenangkan bisa berbicara santai seperti ini. Jongin menyandarkan kepalanya pada kaca jendela kemudian mulai memejamkan kedua matanya. "Jongin." Panggil Chanyeol.
"Satu setengah jam lagi kan kita sampi di Seoul? Bangunkan aku jika sudah sampai."
"Jongin."
"Hmm?"
"Jangan bersandar di jendela bus, bersandarlah di pundakku." Chanyeol terdiam menunggu reaksi Jongin, sayang Jongin tak bergeming. "Baiklah." Keluh Chanyeol perlahan ia rangkul pundak Jongin dan membuat kepala Jongin bersandar di kepalanya. Jongin membuka kedua matanya, melempar tatapan sebal. "Tidurlah, begini lebih nyaman kan, daripada bersandar pada jendela bus yang dingin." Jongin memilih bungkam namun ia juga tak memindahkan kepalanya dari bahu Chanyeol. "Tidurlah," gumam Chanyeol pelan.
.
.
.
"Jongin." Chanyeol memanggil nama Jongin dengan pelan sembari menyentuh pundak Jongin.
"Kita sampai?" Jongin bertanya dengan suara serak, kedua matanya terasa sangat berat dan bisa terpejam kapanpun.
"Ya, kita sampai, kita langsung pulang saja aku sudah meminta Xiumin hyung memesan makanan." Terang Chanyeol, Jongin hanya mengangguk patuh. Chanyeol menahan diri untuk tak tersenyum, Jongin yang baru bangun tidur dan belum sepenuhnya sadar akan situasi terlihat polos dan menggemaskan.
Chanyeol menuntun tangan Jongin keluar dari bus untuk menghindari hal yang tak diinginkan karena Jongin masih sangat mengantuk seperti…. "Aw!" pekik Jongin karena dahinya terantuk pintu bus. Chanyeol mencoba untuk tak tertawa meski nyatanya hal itu sangat sulit.
"Perhatikan jalanmu." Nasihat Chanyeol sembari merapikan poni Jongin.
"Aku ngantuk, kita jalan kaki sampai ke apartemenmu?"
"Ya."
"Tadi kau bilang Xiumin hyung membelikan makanan untuk kita…,"
Chanyeol menatap Jongin tak percaya, padahal dia masih setengah tidur tapi soal makanan Jongin bisa mengingatnya dengan sempurna. "Ya Xiumin hyung membeli makanan karena aku meminta tolong."
"Berarti Xiumin hyung ada di apartemen kan sekarang? Kenapa tidak menjemput kita." Gerutu Jongin.
"Hanya lima menit jalan kaki dan jika kita bergerak lebih cepat cukup tiga menit, anggap saja olahraga."
"Aku sudah cukup olahraga mengelilingi pulau Nami." Gerutu Jongin, dirinya sangat lelah dan mengantuk lalu sekarang dia harus berjalan kaki kembali menuju apartemen Chanyeol, yang benar saja?!
"Kau lelah?"
"Ya dan mengantuk." Jongin membalas dengan nada kasar, sebenarnya dia tak bermaksud seperti itu hanya saja saat lelah dan mengantuk siapa orang di dunia ini yang masih bisa ramah? Mungkin robot bisa, dia kan robot bukan manusia.
Chanyeol memindahkan ransel yang ia bawa dari punggung ke bagian depan tubuhnya, kemudian ia menatap Jongin dengan senyum mengembang lebar. "Mau aku gendong?"
"Tidak." Balas Jongin ketus.
Chanyeol menarik tangan kanan Jongin membawanya mendekat. "Jangan jual mahal." Goda Chanyeol. PLAK! "Aw! Kenapa memukul kepalaku? Aku kan ingin membantu."
"Memangnya aku anak beruang yang harus digendong."
"Memang mirip beruang sih, beruang cokelat."
"Mau aku pukul wajahmu!" ancam Jongin sembari mengepalkan tinjunya ke hadapan wajah Chanyeol.
"Tidak, tidak, nanti wajahku tidak keren lagi kalau lebam, mau digendong atau tidak?"
"Baiklah." Jawab Jongin dengan menampilkan wajah cuek tak tertariknya, Chanyeol tersenyum menggoda, Jongin memang tipe orang yang tak akan mengekspresikan apa yang dirasakan. Chanyeol merendahkan tubuhnya sedikit, Jongin melingkarkan kedua lengannya pada leher Chanyeol.
"Hap!" pekik Chanyeol saat dirinya mengangkat tubuh Jongin.
"Bodoh." Gerutu Jongin menanggapi tindakan konyol Chanyeol. "Ya! Park Chanyeol!" Jongin berteriak karena Chanyeol berlari cukup kencang.
Chanyeol berhenti kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kau suka kan?"
"Tidak." Balas Jongin ketus.
"Kau suka kan? Suka? Suka? Suka?" Chanyeol semakin menggoda Jongin. "Aw! Kenapa mencubitku?!"
"Karena kau bodoh, sudah diam dan jalan saja."
"Baiklah Tuan Kim Jongin yang terhormat." Jongin tersenyum lebar menghadapi kekonyolan Chanyeol namun senyum itu tentu tak bisa Chanyeol lihat karena sekarang Jongin berada di punggungnya. "Kau benar-benar lelah?" Chanyeol bertanya saat ia rasakan dagu Jongin berada di atas pundaknya dan napas hangat Jongin yang menerpa leher serta telinga bagian belakangnya.
"Ya, aku lelah sekali."
"Jangan tidur, kita harus makan dulu baru kau bisa meneruskan tidurmu."
"Hmm."
"Jongin, kau tidak sedang menutup matamu kan?"
"Tidak." Jongin memandangi pepohonan yang mereka lintasi dan mulai memikirkan sesuatu, jadi bukan rasa kantuk yang membuatnya berubah menjadi pendiam.
Chanyeol memperbaiki posisi Jongin di punggungnya mengabaikan semua tatapan para pejalan kaki yang berpapasan dengannya. Gedung apartemennya sudah terlihat, Chanyeol memilih jalan memutar, dia tidak ingin berhadapan dengan para fansnya sekarang, tidak saat Jongin bersamanya.
"Kau lelah?" tanya Jongin.
"Tidak, kau tenang saja ternyata tubuhmu lumayan ringan. Aku pikir Xiumin hyung lebih berat."
"Memang kau pernah menggendong Xiumin hyung?"
"Ya."
"Kenapa? Hyung yang hebat bela dirinya bisa berakhir dalam gendonganmu."
"Biasalah, kami kan sudah dewasa tentu saja mabuk."
"Oh." Balas Jongin pelan. "Kau sering minum?"
"Dulu, sekarang tidak lagi. Dulu saat aku sangat stress dan merasa tak mampu menghadapi situasi aku pasti minum."
"Kenapa sekarang bisa berhenti?"
"Kesadaran diri, itu saja."
"Hmm, ternyata kau bisa dewasa juga, tak kusangka otakmu berfungsi dengan baik."
"Ya, ya, silakan mencibirku sepuasmu."
"Kau kesal?"
"Tidak, justru jika kau memujiku itu terdengar aneh."
Jongin tertawa pelan tapi tawa itu pasti bisa terdengar dengan jelas oleh Chanyeol. "Aku ingin melihat lebih banyak senyum dan mendengar lebih banyak tawamu."
"Apa itu lirik lagu terbarumu?"
"Bukan Jongin, ya ampun, aku ingin bersikap romantis kau selalu menghancurkan momen. Apa Kris tidak pernah bersikap romantis padamu?"
"Kami jarang bertemu."
"Seharunya jika jarang bertemu kalian akan romantis dan bermesra-mesraan saat bertemu."
"Saat bertemu kami bertengkar dan berusaha keras untuk tidak saling mencekik. Kenapa kita membahas hubunganku dengan Kris?"
"Maaf aku hanya ingin tahu masa lalumu, itu saja."
"Aku—aku juga ingin tahu tentang masa lalu Chanyeol lebih banyak lagi."
"Kita lanjutkan di rumah."
"Baiklah."
.
.
.
Jongin turun dari punggung Chanyeol karena suaminya itu harus mengetik kode pengaman. Chanyeol mendorong pintu, menahannya agar Jongin bisa masuk lebih dulu. "Terima kasih," gumam Jongin pelan.
Jongin melepas sepatu, menempatkannya ke dalam rak dan memakai sandal rumah. Chanyeol mengikuti hal serupa kini ia berdiri di samping Jongin. "Setelah ini kita makan." Jongin hanya mengangguk pelan.
Kedua mata Jongin berbinar melihat ayam goreng dia atas meja makan ia langsung duduk dan bersiap menyambar potongan ayam pertamanya sebelum Chanyeol mencegah hal itu terjadi. "Cuci tanganmu."
"Kenapa kau terdengar semakin mirip Kyungsoo hyung." Gerutu Jongin sambil menyeret kedua kakinya dengan enggan untuk mencuci tangan, Chanyeol hanya tersenyum geli kemudian melangkah menyusul Jongin.
Jongin sibuk membersihkan tangannya dari busa sabun saat Chanyeol tiba-tiba datang dan mengotori tangannya dengan busa sabun. "Chanyeol!" pekik Jongin kesal.
Chanyeol cekikikan. "Aku suka menggodamu, kau lucu sih saat digoda."
"Diam." Gerutu Jongin sambil membersihkan ulang kedua tangannya.
"Pipimu merona."
"Benarkah?! Tidak aku tidak merona, ini karena dingin."
"Kenapa kau manis sekali Jongin!" jerit Chanyeol dengan suara menjijikkan, sambil mencubit kedua pipi Jongin.
"Chanyeol!" Jongin memekik kesal, ia lepas kedua tangan Chanyeol dari pipinya dengan langkah menghentak Jongin berjalan menuju ruang makan.
"Jongin, Kim Jongin, Kim Kai, Kamjong." Chanyeol memanggil Jongin dengan berbagai nama, sayang Jongin sama sekali tak peduli dia lebih memilih untuk memakan ayam gorengnya. "Jangan abaikan aku," gerutu Chanyeol.
"Sudah makan saja."
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, merajuk. "Tadi kau bilang ingin saling mengenal sekarang kau justru memilih ayam dibanding aku."
"Nanti, nanti." balas Jongin cepat.
"Kapan?"
"Setelah makan. Sekarang tutup mulutmu dan makan ayammu."
Chanyeol menghembuskan napas dengan kasar, kesal bercampur gemas melihat sikap Jongin yang seperti itu. "Baiklah," ucap Chanyeol pasrah.
TBC
