AN : Cyaaz bkn tipe org yg bs bikin 1Shoot, jd Cyaaz update Chap baru aja ya. (Untk mramaikn Valentine Day... :D

Hoshi Uzuki : T_T - Maaf, tp Cyaaz beneran g bs mmperpnjang Chapter. Soalnya semua Chap-nya udah jadi.

nelshafeena : Lol - G tw jg ya, kpn mreka Jadiannya. :D - No Twins, No Siblings. :P

AlyaZala : G tw jg ya, kpn... :P

Mizuka : - No Twins, No Siblings :P - Skit apa ya? Cyaaz jg g tau namanya. soalnya wktu Cyaaz priksa k Dokter, dokternya jg g ngasih tau nma penyakitnya, cm ngasih obat. (Itu penyakit Asli yg d derita Author... #Curhat). Thank You ya...

lezala : Wakaka, kalo CaKi Cyaaz jadikan Lovers, Cyaaz bs dhjar hbis2an ama Readers ntar... T_T

bi : Cerewet banget sih u? Harusnya u g protes, mengingat u dah bc ampe slesai. Thanks udah jd Org prtma yg udah mmbca Fic ini ampe Tamat. :D

Selamat membaca...

Disclaimer : GS dan GSD Bukan Milik Author…

This Is Impossible!

Chapter 14

Kira's POV

PLANT – 28/09/2012

Aku terus melangkah sambil menggendong Catha di punggungku, membuat pikiran ku melayang tak menentu. Gambaran peristiwa yang baru saja terjadi, melintas di kepala ku bagaikan kaset video yang diputar berulang kali.

'Seandainya saja aku datang lebih cepat…'

Aku lalu menarik nafasku dalam-dalam sambil terus melangkah.

"Kira…" Kudengar suara Catha, memanggilku.

Aku menoleh sedikit dan melihat wajahnya dari sudut mataku. "Hm?"

"Aku tidak apa-apa." Katanya dengan suara yang lemah.

Aku memalingkan lagi wajahku ke depan. "Kau mimisan banyak sekali dan suhu tubuhmu benar-benar panas. Itu bukannya "tidak apa-apa"." Jawabku sambil menutup mata.

Saat itu, kurasakan Catha membenamkan wajahnya di bahuku sambil membisikkan kata "Maaf".

- Flashback…

"Kira, ini es yang kau minta." Aku mendengar, suara Athrun dari belakang, lalu aku membalikkan tubuhku dan mengambil bungkusan plastic es batu di tangannya.

"Terima kasih." Gumamku.

Aku lalu segera meraih handuk kecil yang ada di meja wastafel, mengambil segenggam es dari bungkusan plastik yang diberikan oleh Athrun dan membungkusnya dengan handuk.

"Apa kau membawa obatmu?" Tanyaku sambil meletakkan handuk berisikan es tadi di kening Catha, yang sekarang terduduk lemas di lantai bersandarkan bahu Lacus.

"Ada di kamarku, di guest house." Jawabnya setelah beberapa saat terdiam.

"Baguslah." Kataku sambil memegangi handuk kompres di keningnya.

Setelah beberapa kali aku mengganti es dalam handuk untuk mengompres Catha dan merasa bahwa suhu tubuhnya sudah sedikit menurun, aku meletakkan handuk itu kembali ke meja wastafel, lalu berjongkok membelakangi Catha.

"Ayo kita kembali ke guest house sekarang." Ajakku.

Catha hanya tersenyum lemah, lalu ia melingkarkan kedua tangannya di leher ku dan aku berdiri menggendongnya. Kami berempat kemudian berjalan bersama-sama kembali ke guest house.

- End of Flashback…

"Dasar bodoh!" Kataku kesal.

"Aku tidak bodoh, Kito." Kudengar Catha membalasku pelan.

"Kau melanggar janjimu," ujarku masih dengan nada kesal. "Kau bilang akan segera mengatakannya padaku kalau kau merasa tidak enak badan 'kan?"

"…"

Aku menarik nafas panjang. "Sebagai hukuman, kau harus mentraktir ku makan ice cream selama seminggu."

Catha mengangkat sedikit kepalanya. "Aku tidak bermaksud begitu. Sampai tadi sore saat terakhir kita bertemu di pantai depan guest house, aku masih tidak merasakan apapun," Catha membenamkan lagi wajahnya di bahuku. "Aku baru merasakan pusing ketika aku di dermaga." Gumamnya pelan.

"Kalau begitu kenapa tidak segera pulang?" Tanyaku heran.

Beberapa saat berlalu, Catha tidak memberikan jawaban apapun padaku, membuatku mengambil kesimpulan ku sendiri. Mengenal Catha, alasannya pasti karena dia tidak ingin merepotkan dan membuat Athrun khawatir.

'Typical of her…'

Aku lagi-lagi menarik nafas panjang dan berkata, "Ya sudahlah, yang penting adalah, setelah ini kau harus segera makan dan minum obatmu, lalu istirahat!"

Catha yang mendengar perintah ku hanya bisa berbisik, "Cerewet."

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

Setelah aku mengantar Catha ke kamarnya dan Lacus ke guest house mereka, aku meminta Lacus untuk memastikan bahwa Catha harus makan, meminum obatnya dan beristirahat setelahnya. Lacus tersenyum padaku dan menganggukkan kepalanya. Melihat jawaban dari Lacus, aku lalu pamit untuk pulang, tak lupa bersama dengan teman sekamarku yang sedari tadi terus memperhatikan Catha, dengan tatapan penuh rasa kekhawatiran.

"Ayo, Ath, kita pulang sekarang. Cagalli akan baik-baik saja." Ujarku sambil menepuk bahu Athrun. Athrun hanya mengangguk dan kami akhirnya pulang ke guest house kami.

Begitu tiba di guest house, pemilik rumah memberi tahu kami bahwa Heine, Dearka dan Yzak sedang keluar untuk membeli makan malam. Aku dan Athrun mengangguk, lalu kami masuk ke kamar kami. Aku segera merebahkan tubuhku di kasur Heine, yang terdekat dari pintu kamar karena lelah menggendong Catha.

"Sebenarnya Cagalli kenapa?" Aku mendengar suara Athrun. Saat aku menoleh, kulihat ia sedang duduk di ujung kasurnya sambil menundukkan wajahnya.

Aku memalingkan wajahku, menatap langit-langit kamar. "Dia hanya demam."

"Demam?" Tanya Athrun dengan nada tidak percaya. "Kalau hanya demam, tidak akan sampai mimisan seperti itu 'kan?"

Aku menutupi kedua mataku dengan lengan kananku. "Ya, tapi tubuh Cagalli sedikit berbeda," aku memberi jeda sejenak. "Kalau tubuhnya sedang kelelahan ataupun suhu tubuh-nya terlalu tinggi, ia pasti akan mimisan seperti tadi."

Athrun akhirnya bertanya lagi setelah beberapa menit terdiam. "Apa… Dia mengidap suatu penyakit berbahaya?" Terdengar jelas dari nadanya bahwa ia ragu untuk menanyakan hal itu.

Aku tersenyum tipis dan menjawab, "Dokter bilang, mimisan Cagalli itu murni karena kelainan sistem pembuluh darahnya, tapi itu tidak berbahaya," aku mendengar Athrun menghembuskan nafas lega. "Hanya saja ia akan terkena anemia kalau darah yang dikeluarkannya banyak seperti tadi. Selain anemia dan demamnya, kurasa tidak akan ada masalah." Tambah ku sambil membuka mata ku dan memandang Athrun.

Athrun tersenyum tipis dan berkata, "Syukurlah kalau memang begitu."

Aku tersenyum balik padanya dan berkata, "Kalau kau serius ingin jadi pacarnya, kau harus siap ketika saat-saat seperti ini terjadi lagi." Dengan nada serius.

Athrun tersenyum semakin penuh keyakinan dan menjawab, "Ya, tentu, Kira." dengan suara yang mantap.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

Normal POV

PLANT – 29/09/2012

Keesokan paginya, seluruh anggota tour Archangel University berkumpul di dermaga untuk menunggu keberangkatan kapal mereka kembali ke ORB. Cagalli dan yang lainnya kini juga sedang duduk melingkar sambil membicarakan beberapa hal mengenai pengalaman mereka yang menyenangkan di PLANT.

"Cagalli, kau tidak apa-apa?" Tanya Athrun pada gadis yang duduk di hadapannya.

Cagalli yang saat ini duduk lemas bersandar pada bahu Lacus hanya tersenyum lemah dan menjawab, "Tidak apa-apa. Hanya saja, aku masih lelah."

Tatapan mata emerald Athrun yang tadinya dipenuhi rasa cemas, kini melembut. Athrun akan mengatakan sesuatu, tapi Heine sudah memotongnya dengan bertanya, "Wajahmu pucat Cagalli. Kau yakin tidak apa-apa?"

Cagalli hanya mengangguk kecil, sebagai respon.

"Mungkin sebaiknya kau duduk di kursi VIP, Cagalli." Sahut Kira di samping Lacus.

Cagalli mengangkat kepalanya dan menjawab, "Tidak usah, Kira, sudah kubilang aku baik-baik saja."

"Tapi Heine benar, wajah mu pucat, Cagalli." Kali ini Lacus yang angkan suara.

"Aku tidak apa-apa," jawab Cagalli keras kepala. "Lagipula, aku tidak ingin membayar lebih hanya untuk kursi VIP dan aku lebih suka duduk bersama kalian."

"Tapi Cagal-" Kata-kata Kira, terpotong oleh Athrun.

"Pak Mwu! Bisa saya minta bantuannya sebentar?" Teriak Athrun, memanggil Mwu, yang sedang mengabsen mahasiswa lainnya.

Mwu, yang mendengar panggilan Athrun datang menghampirinya dan bertanya, "Ada apa?"

"Apakah saya bisa membeli 7 tiket kursi penumpang di ruangan VIP?" Tanya Athrun, yang sontak membuat teman-teman-nya dan Mwu kaget.

"A-apa?" Tanya Dearka.

"Apa maksudmu, Ath?" Tanya Heine.

Athrun mengedarkan pandangannya ke teman-temannya. Lalu ia menjawab, "Aku akan membelikan tiket VIP untuk kita semua," lalu ia menghentikan pandangannya tepat ke arah Cagalli. "Jadi tidak ada masalah lagi 'kan?" Tambahnya.

Cagalli baru saja akan memprotes ketika Yzak terlebih dahulu berkata, "Hey, Zala, aku tidak mau."

Athrun menatap teman berambut silver-nya itu, kemudian ia mendengar Dearka menambahkan, "Aku juga. Pasti akan membosankan kalau duduk di ruangan VIP." Lalu Dearka dan Yzak beranjak dari tempat mereka menuju ke kerumunan mahasiswa lain.

Athrun hanya berkedip tidak percaya, menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah Mwu. "Kalau begitu, 5 tiket saja. Apakah bisa?" Tanya Athrun.

Mwu hanya menggaruk bagian belakang kepalanya dan menjawab, "Hmm. Aku tidak bisa janji, karena kapal pasti penuh. Tapi akan aku usahakan." Ujarnya sembari membalikkan badan dan melangkah pergi.

"Terima kasih, Pak." Teriak Athrun, lalu ia kembali menatap teman-temannya.

"Apa yang kau lakukan, Athrun?" Tanya Cagalli, ia menatap Athrun.

Athrun hanya tersenyum dan menjawab, "Kau tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk kursi VIP dan kau bilang kau lebih suka duduk bersama kami 'kan? Jadi aku membuat keputusan ini untuk bisa menyelesaikan masalah mu."

Cagalli menyipitkan matanya, lalu menjawab, "Tapi maksudku bukan begitu, lagipula kau tidak harus melakukan ini 'kan?"

Athrun masih tersenyum, ia akan menjawab tapi Heine lagi-lagi memotongnya, "Hey, sudahlah. Dengan begini, aku, Athrun dan Kira jadi tidak akan terlalu tersiksa oleh ombak lagi 'kan."

"Itu benar." Sahut Athrun.

"Tapi tetap saja, kau tidak harus membayar tiket untuk kami juga." Kata Lacus.

"Tidak apa-apa. Anggap ini sebagai permintaan maafku karena kejadian kemarin." Jawab Athrun, ia lalu menundukkan wajahnya. Hal itu tidak terlewatkan oleh Kira yang dari tadi terdiam sambil memperhatikan ekspresi wajah Athrun.

Cagalli menaikkan alis matanya dan memprotes, "Tapi tidak ada yang perlu dimaafk-"

"Cagalli…" Potong Kira memanggil Cagalli. Kira lalu memberikan Just-let-him-glare pada Cagalli, yang saat ini menatapnya kesal.

Cagalli, yang mengerti akan maksud tatapan Kira menjadi sedikit tenang, walaupun ia tidak mengerti kenapa Kira menyuruh-nya untuk membiarkan Athrun, tapi pada akhirnya ia berkata, "Baiklah, tapi hanya kali ini saja." Dengan suara pelan.

Athrun yang mendengar perkataan Cagalli mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar. Saat itulah Mwu tiba-tiba datang dan menepuk bahu Athrun.

"Maaf, Athrun, aku hanya berhasil mendapatkan 2 tiket VIP untukmu." Ujarnya sambil menyodorkan 2 lembar tiket kursi VIP ke Athrun.

Athrun menerima tiket itu dengan sedikit rasa kecewa dan berkata, "Um, apa boleh buat," Athrun, lalu mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan menyerahkannya pada Mwu. "Terima kasih, Pak."

"Ya, tidak masalah," Jawab Mwu sambil beranjak pergi.

"Bagaimana ini?" Tanya Athrun pelan.

Setelah hening sejenak, akhirnya Lacus tersenyum sambil berkata, "Kau saja yang menemani Cagalli, Athrun."

"Eh?" Terdengar suara Athrun dan Cagalli bersamaan dengan ekspresi wajah kebingungan mereka.

"Itu benar. Kau yang membeli tiket ini 'kan? Jadi kau yang berhak." Tambah Kira.

"Eh? Kalau kalian tidak duduk di kursi VIP, aku juga tidak mau." Protes Cagalli.

"Itu tidak boleh, Cagalli." Ujar Lacus.

"Kenapa? Heine saja yang duduk bersama Athrun. Dia yang mudah mabuk laut, bukan aku." Cagalli masih bersikeras.

"Tapi kali ini kau sakit, Cagalli!" Seru Kira, ia sudah mulai tidak tahan dengan sikap Cagalli yang keras kepala.

Cagalli masih belum menyerah, ia akan memprotes lagi, tapi Kira sudah menghentikan-nya dengan Don't-be-stubborn-or-I'll-tell-uncle-about-last-night-glare, sehingga Cagalli memilih untuk diam.

Melihat Cagalli yang tiba-tiba saja berhenti protes, Athrun menjadi semakin ragu dan berkata, "Em, tapi aku…"

Belum sempat Athrun selesai, tapi Heine memotongnya lagi untuk yang ke sekian kalinya, dengan berkata, "Kalau kau memang tidak mau, aku dengan senang hati akan menggantikan tempatmu."

Athrun sontak memandang ke arah sahabat berambut orange-nya itu, dengan tatapan tidak rela. Dan berkata, "Tidak, aku dan Cagalli yang akan duduk di kursi VIP," Dengan mantap.

Cagalli sontak terkejut mendengar jawaban dari Athrun. Ia hanya bisa memasang ekspresi wajah yang kebingungan, sementara Athrun tersenyum menatapnya. Teman-temannya, tentu saja sudah tertawa kecil setelah melihat tingkah laku mereka.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

Sekitar 5 menit lagi kapal akan berangkat ke ORB. Kira, Lacus, Heine, Dearka dan Yzak sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Athrun dan Cagalli saat ini juga sudah duduk di ruangan VIP.

"Kau mau minum sesuatu?" Tanya Athrun lembut sambil menatap Cagalli.

Cagalli yang sedang menatap keluar jendela kapal hanya menjawab, "Tidak usah." Dengan suara pelan.

Athrun kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan berkata, "Perjalanan pulang kita sangat panjang, lebih baik kau tidur saja jika masih lelah."

Cagalli hanya mengangguk pelan sebagai respon. Athrun kemudian mengeluarkan BB miliknya dari saku jaketnya dan memeriksa pesan-pesan yang masuk. Setelah beberapa menit ia mengotak-atik BB-nya, ia mulai merasa bosan. Ia lalu memasukkan kembali BB ke kantong-nya, lalu memandang gadis yang duduk di sebelahnya. Gadis itu masih saja mengarahkan wajahnya ke luar jendela. Dagunya bertumpu pada tangan kirinya, yang berpijak pada sandaran tangan, kening-nya juga menempel pada kaca jendela sehingga Athrun tidak bisa menatap wajahnya. Saat itulah, ia merasakan bahwa kapal, yang ia tumpangi mulai bergerak perlahan.

"Kapal-nya sudah mulai bergerak." Gumam Athrun.

Gadis di sebelah-nya tidak merespon, membuat Athrun ingin berbicara lagi. "Ternyata di ruangan VIP nyaman sekali ya. Gerakan kapal hampir tidak terasa," hening. "Kalau aku tahu sejak awal, aku akan beli tiket VIP sewaktu kita berangkat ke PLANT," masih hening. "Jadi aku tidak harus merasa mual-mual segala."

Sampai beberapa saat berlalu, Cagalli masih saja terdiam tak bersuara. Membuat Athrun jadi sedikit kesal, karena ia merasa di acuhkan.

"Cagalli?" Panggilnya sambil mengguncangkan bahu gadis itu, tapi alangkah terkejutnya Atrhun, ketika ia menyadari bahwa gadis bermata amber itu ternyata telah tertidur pulas.

Ia menyadari hal itu karena kepala gadis itu sontak terjatuh ketika Athrun mengguncangkan bahunya. Untung saja refleks Athrun sangat baik, Ia berhasil menahan tubuh Cagalli, agar tidak terjatuh membentur kursi di depannya dengan kedua tangan kekar-nya. Ia lalu menyandarkan kembali tubuh Cagalli di kursi-nya.

"Sudah tidur rupanya? Cepat sekali?" Gumam Athrun, di ikuti tawa kecil darinya. Ia lalu memandangi wajah Cagalli yang sekarang tertidur pulas. Wajahnya yang damai dan sangat cantik di mata Athrun. Ia tersenyum seraya mengagumi sosok yang tertidur di sebelahnya saat ini.

Beberapa saat kemudian, Athrun menyelipkan tangan kirinya melewati belakang leher Cagalli, untuk menggapai bahu kirinya dan menarik tubuh Cagalli mendekat padanya. Ia lalu memposisikan kepala Cagalli agar bersandar di bahunya, sedangkan tangannya yang lain, menggenggam tangan kanan Cagalli. Athrun sekarang bisa mencium aroma lemon dari shampoo yang digunakan oleh Cagalli. Lagi-lagi ia tersenyum sambil memandangi sosok Cagalli yang tertidur lelap di sampingnya.

"Sweet dream, Princess…" Athrun lalu,mengecup kening Cagalli dengan lembut, lalu mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Cagalli.

=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=

AN: Yah, dan begitulah akhir dari kisah cinta Cagalli dan Athrun di PLANT…

Semoga setelah ini hubungan mereka dapat berjalan lancar dan mencapai ke jenjang yang lebih tinggi… (-_-)

Please… Review…