Terimakasih buat para reviewers yang sudah membantu saya melewati masa-masa sulit saya ketika saya mendengar kalau Tohoshinki vakum ^^ Domo arigatou gozaimasu…

If there's a true friendship in my life, I'll dedicated it for all authors and reviewers ^^

OC in this whole story

Uchiha Niero : My lovely aneesan, Severnesh

Uchiha Sokoawa : My lovely uke, Nadhiyong

/Chapter 14/

"Apa maumu?" tuntut Sasuke, memojokkan kakak laki-lakinya di halaman belakang sekolah saat jam istirahat.

Niero hanya berdiri bersandar pada tembok di belakangnya dan menghisap rokoknya. Sama sekali tidak memandang Sasuke. "Aku gurumu sekarang, Sasuke. Setidaknya hormatlah sedikit padaku."

Sasuke memandang kakaknya tajam-tajam. "Aku tanya, apa maumu, Niero?"

Niero menghembuskan asap rokoknya ke wajah adiknya, tapi Sasuke bergeming. Siapa yang tidak sopan sekarang, eh?

"Apa maksudmu?" Niero balik bertanya, dengan nada sindiran yang bisa ditangkap dengan jelas oleh telinga Uchiha Sasuke.

"Jangan pura-pura bodoh, Niero. Bukan cita-citamu untuk menjadi guru Bahasa Inggris di SMA, bahkan sama sekali bukan sifatmu untuk bersabar menghadapi sekumpulan anak-anak remaja yang menurutmu merepotkan. Pasti kau punya alasan di balik ini kan? Meniduri semua siswi di sini mungkin?" ucap Sasuke sarkastis.

Niero menjatuhkan rokoknya dan mematikan puntungnya dengan satu injakan kaki. Ia menatap Sasuke dari balik kacamatanya. "Itu bukan urusanmu, Sasuke," ujarnya, sembari menyentuhkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke Sasuke, persis seperti kebiaasaan Itachi, "Tidak bisakah kau berhenti berprasangka buruk pada kakakmu ini? Aku memang nggak punya tujuan terselubung kok jadi guru pengganti di sini," tambahnya, kemudian pergi meninggalkan Sasuke begitu saja, masih mematung di tempatnya semula.

Ia benar-benar tak paham apa yang diinginkan Niero, dan ia punya firasat buruk tentang ini.

-

"Teme, kemana saja sih kau?" tanya Naruto begitu Sasuke sudah kembali duduk di bangkunya, di sebelah Naruto.

"Halaman belakang," jawab Sasuke nyaris jujur. "Kupikir aku telat. Kemana Sarutobi-sensei?" tambah Sasuke, heran dengan keterlambatan guru Kimia mereka, Sarutobi Asuma. Ia biasanya selalu tepat waktu.

"Beliau izin," jawab Naruto cepat. "Jadi sekarang jam kosong dan kita diharuskan belajar sendiri. Tapi lupakan dulu guru sialan itu," tambah Naruto. "Aku ingin memintamu melakukan sesuatu untukku."

Sasuke yang tadinya menanggapi Naruto dengan acuh tak acuh langsung memusatkan seluruh perhatiannya ke gadis yang duduk di sebelahnya. Naruto bahkan sudah memutar kursinya agar menghadapnya, dan ia duduk di situ dengan tampang gugup sambil menggigiti bibirnya. Jantung Sasuke mencoba mendesak keluar dari rongga dadanya.

"Hn?" tanggap Sasuke, berusaha sedatar mungkin. Ia sadar ia sudah terlalu banyak berlaku out of character sejak jadian dengan Naruto.

"Aku…" Naruto memajukan kursinya, mendekat ke arah Sasuke.

Sasuke tetap diam di tempat, walaupun mungkin kalau keadaan kelas tidak ramai seperti sekarang ini, bisa dipastikan tokoh utama kita ini tidak akan tinggal diam.

"Aku ingin..." Naruto mencondongkan tubuhnya kali ini, mempersempit jarak di antara mereka berdua.

Sasuke hanya fokus ke satu hal yang ada di hadapannya sekarang : bibir Naruto.

"Aku ingin kau..."

Sasuke menahan napas mendengar bisikan Naruto. 'Apa dia sudah gila? Apa dia benar-benar mau menciumku di kelas?'

"Aku ingin kau mengajariku statistika untuk tes minggu depan," Naruto menyelesaikan kalimatnya, menatap Sasuke dengan mantap.

Oke, sudah dua kali dalam hidupnya, Sasuke dibuat cengok oleh manusia pirang ini. Pertama, waktu pertama kali Naruto menjadi teman sebangkunya. Dan kedua, hari ini. Benar-benar keterlaluan.

Sasuke mengangkat tangannya dan mendorong wajah Naruto menjauh darinya, sekaligus menyingkirkan pikiran-pikiran kotor dari otak Uchiha-nya.

"Teme sialan!" seru Naruto, merasa diperlakukan tidak pantas oleh Uchiha berpantat ayam itu. "Tahukah kau aku sudah menurunkan harga diriku sampai serendah-rendahnya untuk memintamu melakukan itu?"

Sasuke benar-benar mengabaikan Naruto kali ini. Bagaimana tidak? Tanpa disadarinya, Naruto telah membuatnya nyaris hilang kendali dan kena penyakit jantung. Tapi detik berikutnya, ia kembali menghempaskan Sasuke ke dunia nyata dengan sama kejamnya. Tidak adil.

"Kenapa nggak minta diajari Shikamaru?" sindir Sasuke. Dan asal kau tahu, untuk mengembalikan detak jantung Sasuke ke taraf normal membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Naruto cemberut. "Kau pelit. Pacar macam apa itu."

Sasuke menghela napas. Manusia pirang sialan itu memang benar-benar tahu bagaimana menggunakan kryptonite-nya (1).

"Memangnya apa yang terjadi dengan Shikamaru? Dia akhirnya tahu kalau otak bebalmu itu nggak bakal bisa diisi apa-apa lagi selain drama jadi dia menyerah?"

Ucapan Sasuke berbuah sebuah timpukan menggunakan Kamus Besar Bahasa Inggris tepat di ubun-ubunnya. Sasuke hanya mengernyit menahan sakit.

"Jaga omonganmu, Teme. Sepulang sekolah ini aku akan ke rumahmu, tapi aku pulang dulu. Aku nggak mau ke rumahmu seperti ini. Dan pokoknya kau harus mengajariku sampai bisa," Naruto memutuskan secara sepihak. "Sudah kuduga dari dulu kalau matematika akan menghalangiku jadi pemain drama terkenal. Matematika dan ayah dan semua pelajaran sekolah lainnya," gumamnya pada diri sendiri.

Sasuke memandang Naruto selama beberapa detik. "Aku yang ke apartemenmu saja," katanya mendadak, teringat Niero pasti akan ada di rumah, dan Sasuke tidak mau kakaknya itu bertemu Naruto, baik dalam sosok cowok maupun cewek. Tidak sampai dia tahu apa tujuan sebenarnya Niero menjadi guru pengganti di sini.

-

"Aku heran," kata Ino ketika ia dan Sakura sedang dalam perjalanan ke sekolah lama Naruto sepulang sekolah hari itu. "Kenapa kau belum menyebarkan ke seantero sekolah kalau Sasuke dan Naruto jadian? Aku nggak paham kenapa kau masih menyimpan rahasia itu sendiri?"

Sakura menoleh ke arah Ino dan tersenyum licik. "Karena tentu saja hubungan mereka nggak akan lama. Segera setelah Sasuke-kun tahu yang sebenarnya, dia pasti memutuskan hubungannya dengan Naruto."

"Bagaimana kalau Sasuke sudah tahu tentang dugaanmu yang nggak masuk akal itu?"

Sakura memutar bola matanya. "Oke, mungkin Naruto itu homo. Dia juga abnormal karena mau-maunya menyamar jadi cewek. Tapi masa Sasuke-kun ikut-ikutan? Rubah betina itu pasti punya segudang trik untuk menjebak Sasuke-kun. Aku yakin dia sudah mengincar Sasuke-kun sejak awal."

Ino menahan diri untuk tidak mendengus.

"Dan lagi, kalau dugaanku benar. Kau juga untung, Ino," tambah Sakura, senyumnya semakin mengembang.

"Gimana bisa?" tanya Ino tak paham.

"Begini," Sakura mulai menjelaskan, "Kalau kau tahu rahasia sebenarnya dari identitas asli Naruto, kau bisa memanfaatkannya untuk mendekati cowok itu kan? Itu kalau kau masih suka dia...."

Ino menatap Sakura penuh makna. Sahabatnya itu benar. Mungkin ada untungnya juga dia membantu Sakura melakukan penyelidikan ini. Kalau Sakura benar, sahabatnya itu akan mendapatkan Sasuke, dan dia akan mendapatkan Naruto. Ide bagus.

-

Tak lama, mereka tiba di depan sebuah gerbang SMA bertuliskan 'Aishiro Gakuen' (2). Sakura dan Ino tampak berdiri canggung di depan gerbang, mengamati murid-murid Aishiro Gakuen yang berlalu lalang.

"Kita mulai darimana?" tanya Ino gugup.

"Kita tanyai salah satu saja," kata Sakura. Dengan percaya diri, Sakura melangkah memasuki gerbang, mengabaikan tatapan-tatapan penuh tanya dari murid-murid Aishiro Gakuen. Ino mengikuti di belakangnya.

Sakura berhenti di hadapan seorang cewek berambut hitam panjang yang tampaknya berusia setahun lebih muda dari dirinya (3). "Permisi," sapa Sakura, tak lupa disertai senyum manis. Cewek itu menoleh ke arahnya, dan membalas senyum Sakura, walaupun kelihatan jelas dia sedikit kaget dengan rambut Sakura yang berwarna pink terang.

"Ya?" tanggap cewek itu.

"Maaf, aku ingin menanyakan sesuatu," kata Sakura. "Apa kau kenal dengan seseorang yang bernama Uzumaki Naruto? Dulu dia sekolah di sini."

Cewek itu tampak berpikir sejenak. "Uzumaki Naruto? Aku tahunya ada senpai yang bernama Namikaze Naruto. Kalau Uzumaki Naruto aku belum pernah dengar."

Sakura dan Ino bertukar pandang.

"Namikaze Naruto itu sepupunya Uzumaki Naruto," Ino buka mulut. "Kau kenal Namikaze?"

Cewek itu tersenyum dan mengangguk. "Tentu! Tak ada seorangpun di sekolah ini yang nggak kenal Namikaze-senpai! Dia tampan, baik, dan sangat populer!"

"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Ino lagi.

"Um..." cewek itu menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke dagunya. "Rambutnya pirang pendek, matanya biru terang, sangat indah, dan kulitnya kecoklatan. Ia juga sangat atletis."

Tak salah lagi. Itu adalah Namikaze Naruto yang ikut bersama mereka ke Hinamizawa.

"Apa Namikaze masih di sekolah sekarang? Atau sudah pulang?" tanya Sakura.

Cewek itu memandang Sakura dan Ino bergantian. "Senpai sudah pindah sekolah... kira-kira dua bulan yang lalu. Kami sangat kehilangan dia."

Mata Ino dan Sakura membulat.

"Pindah?" ulang Ino. "Kemana?"

"Aku dengar sih ke Konoha Gakuen... kalian kan sekolah di sana? Masa nggak tahu?"

/tbc/

Lagi-lagi chap pendek yang isinya cuma bikin penasaran readers~ *digibeng*

(1)kryptonite = semacam batu yang menjadi titik kelemahan Clark Kent di 'Superman'.

(2)Cewek itu adalah OC, tampilan dari seseorang yang pennem-nya di ffn = Aya Yutaka

(3)Aishiro Gakuen itu adalah semacam lembaga bimbingan milik Sensei saya XP

Mind to review? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH.