Naruto itu punyanya kangmas masashi kishimoto
Tapi kalau Monster's punya saya
Boleh di copy tapi ga boleh di paste
Monster's
Drama/Sci-fi
Sakura, Akatsuki, Gaara, Sasuke
Chapter 14
Sakura's Hurt
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Orochimaru menekan tombol pause pada remote di tangannya sambil menyeringai menatap layar TV yang menampilkan adegan berciuman Sasuke dan gadis yang diketahuinya bernama Sakura.
"Sasuke-kun..."
Tangannya kembali menekan tombol yang kali ini membuat layar menampilkan adegan lain dengan tokoh pria yang berbeda tetapi bersama gadis yang sama. Itu adegan Pein yang menggendong Sakura.
"Aku tak menyangka dia cerdik..."
"Anda benar, Tuan..."
Kabuto di sebelahnya menimpalinya kemudian menyerahkan sebuah map ke hadapan Orochimaru.
"Salinan ini saya temukan di meja Sasuke-kun..."
Sebelah alis Orochimaru naik. Ia menerima map tersebut dan membukanya. Ia membelalak begitu membaca deratan kata-kata yang tertulis dalam map tersebut.
"Ini?!"
"Benar, Tuan. Haruno adalah adik dari Akasuna Pein yang mati-matian ia sembunyikan dari publik. Dan kalau hipotesis saya benar, pasti ada sesuatu alasan kenapa Akasuna Pein menyembunyikan adiknya..."
Orochimaru menoleh menatap Kabuto.
"Kau tahu alasannya?"
Kabuto menaikkan kacamatanya.
"Sepertinya ada kaitannya antigen Deoxclon, Tuan. Tapi itu baru analisis sementara saya. Mungkin Nona Haruno adalah pihak yang tahu tentang antigen tersebut selain Akasuna Pein,"
Orochimaru kembali menyeringai.
"Alasan yang cukup kuat untuk bertindak, Kabuto,"
"Apa yang akan anda lakukan?"
"Hmmm..."
Orochimaru sedikit mengusap dagunya dan memasang wajah seolah ia sedang berpikir keras padahal tidak sama sekali. Ia kemudian menyeringai setelahnya.
"Mencuri barang berharga misalnya...?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah ku bilang aku tidak bisa! Jangan memaksaku, Ino!"
"Kita sudah tanda tangan kontrak, jidat! Jangan buat masalah!"
Sakura mendengus mendengar suara dari ponsel di tangannya. Perdebatannya dengan gadis pirang pemilik nama Yamanaka Ino itu membuatnya benar-benar kesal. Sungguh menyebalkan. Tidak cukupkah masalahnya tadi pagi? Masih terekam jelas di memorinya bagaimana ia harus menjelaskan dengan wajah gugup di depan Temari yang murka, apa yang terjadi di kamar berantakannya dengan dua pemuda yang saling mencakar. Sekarang apa lagi?
Ini tentang mini concert yang dibicarakan Ino beberapa waktu yang lalu, yang akan di adakan pihak sponsor untuk trio girl andalan NJE. Sakura, Ino dan Hinata. Tidak ada masalah sampai ia mendengar konsep dari mini concert tersebut. Sebuah mini concert bertema romantic night.
Sekali lagi...
Romantic night.
Sakura sudah mencium sesuatu yang tidak menyenangkan di sini. Dan benar saja. Lagu-lagu yang akan dibawakan adalah semua lagu dari album Hinata. Yang benar saja. Kalau memang ini adalah konser mini untuk Hinata saja, tidak masalah. Masalahnya ini menyangkut dirinya juga. Hey, dia penyanyi rock.
"Kenapa tidak Hinata saja?! Aku ini penyanyi rock! Bukan penyanyi ballad seperti Hinata! Aku tidak mau!"
"Mana kutahu?! Itu permintaan sponsor setelah melihat penampilan kita di festival kemarin! Aku hanya bertugas untuk mengatur acara sesuai konsep! Lagipula mana ada konsep Romantic Night, lagunya lagu Rock?! Jangan membuatku tertawa, jidat!"
Langkahnya yang membawanya untuk turun dari lantai dua rumah Kankuro agak dihentakkan saat mendengarkan kalimat Ino tadi. Kacamata bening frame perseginya agak melorot, kala emeraldnya menangkap sosok-sosok yang sedang duduk mengitari meja makan, sedang menyantap makanan di hadapan mereka.
Ia tidak melihat wujud Gaara dan Deidara di sana. Ia ingat mereka masih dalam masa pemulihan semenjak kejadian memalukan tadi pagi. Ukh mengingat kejadian itu membuat pipinya panas. Ia ingin menampar Gaara yang dengan setia menempelkan wajahnya di dadanya yang berbalut handuk saat itu. Tapi melihat wajah polos yang perlahan tak sadarkan diri membuatnya harus menahan kekesalannya.
Sakura mendengus membuang muka dan berniat kembali melanjutkan langkahnya saat lagi-lagi irisnya harus bertemu dengan orang kini melangkah di hadapannya sepertinya hendak bergabung dengan yang lainnya.
Pein.
Moodnya jadi tambah buruk saat melihat kakaknya itu. Ingat tentang pembicaraan terakhir mereka.
"Ck, siapa yang mengusulkan konsep itu? Merepotkan saja! Kenapa juga NJE setuju!"
Mengacuhkan Pein, Sakura kembali mengomel tentang konser mini yang melibatkannya itu. Ia tambah cemberut kala indra pendengarannya mendengar nada mengejek dari seberang sana.
"Berterima kasihlah pada dirimu sendiri, jidat. Ini semua karena skandalmu dengan Uchiha. Pihak sponsor juga menginginkan keuntungan. Makanya mereka memilihkan konsep romantis seperti ini untuk menjual gosipmu,"
Sial.
Sakura mengumpat habis-habisan dalam hati.
"Oh ya, satu lagi..."
Sebelum Sakura sempat membalas, Ino sudah menyelanya.
"Sponsor akan berupaya mengundang Uchiha Sasuke dalam konser sebagai tamu VVIP..."
Sakura benar-benar syok mendengarnya. Ia tidak salah dengarkan? Langkahnya terhenti persis di sebelah Pein. Ia bahkan tidak menyadari bagaimana sang pemuda yang juga kini menghentikan langkahnya karena ingin menegurnya, menatap ke arahnya. Suara kekehan di seberang sana membuatnya sadar dari keterkejutannya.
"Jadi siapkan dirimu untuk duet romantis, jidat! "
"Apa katamu?!"
"Itu saja yang mau kusampaikan. Pilihlah sendiri satu lagu dalam album Hinata yang akan kau nyanyikan bersama piano. Aku tahu kau tak pandai memainkan alat musik itu. Aku baikkan? Sudah ya? Bye.."
"Hey!"
Sakura menatap ponsel di tangannya berang. Berani sekali si pirang itu. Dia belum jelaskan apa maksud pernyataannya kalau pihak sponsor akan mengundang Sasuke. Kalau sampai terjadi, itu akan benar-benar membuat reputasinya jatuh. Oke, terlalu berlebihan. Tapi demi Tuhan! Duet bersama Sasuke? Dalam mimpi saja! Dia tidak akan sudi. Itu memalukan.
"Ada apa?"
Sakura terlonjak menatap muka datar Pein. Beberapa saat panik sebelum kekesalan kembali menguasainya.
"Bukan urusanmu!" ketusnya hendak kembali melangkah saat sebuah cengkeraman lembut di lengannya, menghentikannya.
"Hn, ayo makan,"
Sakura menepisnya.
"Aku tidak lapar," jawabnya kembali berbalik dan hendak angkat kaki.
"Kau mau kemana?"
Langkahnya kembali terhenti dan berbalik. Sebuah senyum sinis kembali terpatri di bibirnya.
"Tidak usah khawatir. Apa yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan organisasimu. Jadi tenang saja,"
Kata-kata sinis itu membuat Pein menghela nafas pelan. Adiknya ini benar-benar keras kepala. Ia melangkah mendekati Sakura dan menepuk singkat kepala gadis itu yang dibalas dengan dengusan oleh sang gadis.
"Aku sedang merenovasi ulang rumahku di Tokyo. Aku membuat sebuah studio khusus untukmu. Kau bisa memakainya bersama teman-temanmu jika kau mau..."
Sakura memasang wajah jual mahalnya. Awalnya ia mengira kalau itu hanya salah satu usaha kakaknya untuk berbaikan dengannya. Namun kalimat selanjutnya dari sang kakak membuatnya benar-benar marah.
"Mulai sekarang, aku tidak akan mengijinkanmu keluar rumah tanpa pengawalan. Untuk keperluan NJE, kau hanya kuperbolehkan untuk keluar jika ada pekerjaan saja. Untuk latihan, lakukanlah di rumah..."
"Apa?!"
"Dan kau hanya boleh keluar rumah sendirian jika aku mengijinkan. Apa kau paham?"
"Tidak!"
Sakura benar-benar marah. Dengan segenap emosinya ia berteriak pada Pein dan menatapnya nyalang yang dibalas dengan tatapan datar dari sang kakak.
"Aku tidak mengerti! Aku bukan budakmu! Jangan seenaknya mengaturku!"
Pein hanya diam menatapnya dalam. Keheningan menyelimuti mereka. Di meja makan, Itachi dan Kankuro hanya bisa mendesah pasrah. Sasori berdecak kesal melihat tingkah Sakura. Dan Temari tampak khawatir melihat Sakura yang hampir meledak.
"Aku tidak menerima bantahan, Sakura,"
Dan kalimat dingin tanpa intonasi itu yang membungkam mulut Sakura. Antara takut dan kesal. Badannya bergetar menyimpan sejuta emosi tak tersalurkan. Dan pelampiasan terakhirnya adalah berlari meninggalkan sang kakak. Berlari menuju sebuah ruangan dan membanting pintunya. Meninggalkan Pein yang kini menatapnya datar sebelum melangkah mendekati meja makan.
"Biar aku yang bicara padanya,"
Pein menatap Itachi untuk beberapa detik sebelum kembali menatap makanannya sambil menjawab Itachi dengan sebuah gumaman.
"Hn,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kularut dalam kebeningan bola matamu ~ "
"Dan luruh bersama derasnya tetes airmata ~ "
Dentingan piano yang tampak kaku dan penuh paksaan mengalun dari dalam ruang keluarga kediaman Sabaku.
Sakura.
Setelah pertengkarannya dengan Pein, ia akhirnya memutuskan untuk menuju ke ruangan itu dan berniat untuk melupakan kekesalannya dan fokus mencari lagu yang akan dia bawakan di konser nanti. Daripada marah-marah tidak jelas.
Ia memang kesal, tapi ia juga tidak akan menyerah dan tunduk pada Pein. Itu yang membuatnya yakin dapat mengendalikan diri untuk tidak membunuh pemuda berambut jingga itu.
Oke, terlalu berlebihan.
"Kau pancarkan sinar matamu yang berteduhkan luka ~ "
"Melantunkan kesedihan di dalam hatiku ~ "
Ia bahkan tidak menyadari kalau Itachi kini berdiri bersender di pintu penghubung dan melihatnya yang dengan setengah hati memainkan alat musik tersebut. Pemuda itu memperhatikan setiap detail tingkah laku Sakura. Bagaimana wajah cemberut kesal tidak ikhlasnya, bagaimana ia berusaha memainkan piano dengan kakunya dan bagaimana ia membaca tanpa minat buku not di hadapannya dengan kacamata frame persegi yang masih bertengger manis di wajahnya.
"Aku tak mengerti apa yang terjadi ~ "
"Ku telah hancurkan hatimu ~ "
Sebenarnya ia akan terlihat anggun kalau ia memasang wajah serius. Sakura cocok memainkan alat musik itu. Itulah yang ada di benak Itachi.
"Tak pernah terlintas di benakku 'tuk tinggalkan dirimu ~"
"Tak pernah terbayangkan kukan beranjak pergi ~ "
BANG!
Dan dengan segala emosinya, Sakura akhirnya memukul tuts piano dengan sangat keras sehingga menghasilkan nada sumbang yang memekakkan telinga.
"Sial!"
Sakura menumpu sikunya di atas tuts piano dan membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Mencoba meredakan amarahnya.
"Jika sedang dalam mood yang buruk, jangan menyanyikan lagu sedih. Itu akan membuat moodmu semakin buruk,"
Sakura terlonjak dan sontak menarik wajahnya. Emerald indahnya membidik onyx yang tak kalah memukau di hadapannya. Senyuman lembut itu membuatnya mendengus.
"Mau apa kemari?!"
Ketus kalimatnya tidak membuat Itachi gentar. Pemuda itu malah terkekeh dan sontak mendekati Sakura.
"Mau ku temani latihan?"
"Tidak perlu!"
Bentakan dari Sakura membuat Itachi hanya mampu menatapnya dalam diam dan tersenyum. Gadis itu tampak membolak-balikkan buku not yang berisikan semua lagu-lagu dalam album Hinata.
Otak jenius Itachi menyimpulkan kalau ia belum menemukan lagu yang cocok yang akan dibawakannya nanti sembari bermain piano. Yeah, mungkin karena ketidakfasihannya membawakan alat musik itu yang membuatnya dibebaskan memilih lagu sendiri.
"Membawakan lagu ballad harus dengan perasaan. Tidak boleh melibatkan adrenalin, seperti yang biasanya kau lakukan saat membawakan musik menghentak..."
Sakura mendengus. Tanpa diberitahupun ia sudah tahu. Itulah yang membuatnya setengah mati membawakan lagu bersama Hinata saat festival kemarin. Ia bukan tipe orang pengontrol emosi.
"Dan kalau kau bukan tipe pengontrol emosi, lebih baik kau memilih lagu yang sesuai dengan suasana hatimu..."
Sakura ingin tertawa. Oh lihat siapa sekarang guru disini. Pemuda ini bahkan tidak bisa memainkan alat musik. Sang pemuda duduk di sampingnya dan itu membuat Sakura mengerutkan alis tidak suka. Namun, apa yang dilakukan pemuda itu setelahnya membuat Sakura bungkam seketika. Ia terpaku tidak percaya.
Jari-jari lentik tapi kokoh itu menari di atas tuts-tuts piano. Merangkai nada membentuk melodi. Melodi indah yang memanjakan indera pendengarannya. Sakura terdiam. Terlalu terpukau. Hanyut dalam dentingan instrumen yang menggetarkan jiwa. Tubuhnya merinding.
"Saat kau marah, carilah lagu yang bisa membuatmu tenang..."
'You Created For Me'.
Itu salah satu lagu dalam album Hinata.
Itachi memainkannya dengan sepenuh jiwa. Segenap isi hatinya tercurah dalam lantunan nada yang terdengar. Entah bagaimana bisa, Sakura merasa kemarahannya larut terbawa arus melodi yang tercipta.
"Perasaan cinta akan membuat hatimu damai..."
Tanpa Sakura sadari, tangannya bergerak. Membiarkan jemarinya ikut menari bersama Itachi. Membiarkan perasaan menguasainya. Mengikuti setiap getaran rasa yang tercipta. Ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan nada di telinganya.
Tanpa menyadari Itachi yang kini telah menghentikan permainannya. Tersenyum menatap wajah serius sang gadis yang tampak sangat menikmati permainannya.
Ingin melihat dengan jelas ekspresi sang gadis, sang pemuda kemudian beranjak dan berdiri di samping Grand Piano. Saat mata emerald itu terbit dari kelopak indahnya, Itachi merasa hatinya menghangat. Kedua iris berbeda warna itu saling memaku.
"Menatap indahnya binar matamu ~ "
"Membuatku terdiam dan terpaku ~ "
Suaranya mewakili perasaannya. Seolah tersihir oleh pesona permata onyx itu, Sakura terpaku. Seperti tak bisa lepas dari jeratnya.Onyx itu begitu kelam. Dalam tak terselam. Menyimpan begitu banyak misteri. Banyak yang tak terungkapkan. Sakura tidak tahu, kenapa saat ini ia begitu ingin tahu, apa yang ada di balik onyx itu.
"Mengerti akan hadirnya cinta terindah ~"
"Saat kau kecup lembut bibirku ~"
Apa saja yang sudah di ewatinya. Apa saja yang sudah terekam olehnya. Ia terperangkap ke dalamnya. Menyelami setiap rasa yang terpendam di dalam mata itu. Terlalu terpukau. Terlalu larut.
"Banyak kata yang tak mampu kauungkapkan ~"
"Kurasakan dalam pelukanmu ~"
Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Senyum yang sangat jarang ia tampilkan. Sebuah senyum ketulusan. Ia tersenyum menatap Itachi. Membuat sang pemuda tercekat melihatnya. Membuat Itachi terbawa arus perasaannya.
"Aku ingin kau selalu disisiku ~"
"Menemaniku sampai akhir hidupmu ~"
Sakura menatapnya penuh perasaan. Memancarkan sejuta cinta. Menyampaikan semua rasa yang ada dalam lirik lagu yang ia nyanyikan. Melukiskannya seolah dirinya dan Itachilah yang diceritakan dalam melodi indah itu.
"Melangkah bersama dan meyakinkan aku ~
"Kau tercipta untukku ~"
Sakura memutuskan kontak matanya meninggalkan perasaan hampa pada Itachi. Memejamkan matanya untuk sesaat sekedar menikmati lagu yang ia bawakan, sebelum kembali membuka matanya menatap Itachi kembali.
"Meski ragaku kan terkikis sang waktu ~"
"Jiwaku meninggalkan tubuhku ~"
Ia tidak mengerti kenapa ia begitu tidak ingin mengalihkan pandangannya dari mata indah itu. Seakan perasaan terhanyut ini akan hilang saat ia kehilangan sorot kelam itu.
"Kuingin kau tahu, hatiku selalu milikmu ~"
"Dan mencintaimu ~"
"Sepanjang hidupku ~"
Ia baru benar-benar mememjamkan matanya dan terlarut dalam permainan pianonya, saat jemari lentiknya menekan tuts bernada tinggi dan menyanyikannya sepenuh jiwa. Ia mengulang lirik lagu dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya. Mengulangnya dengan sepenuh jiwa.
"Aku ingin kau selalu disisiku ~"
"Menemaniku sampai akhir hidupmu ~"
Saking menikmati permainannya, tak jarang kepalanya ikut berayun mengikuti setiap lantunan nada. Menunjukkan keseriusannya menghayati tiap syair.
"Melangkah bersama dan meyakinkan aku ~
"Kau tercipta untukku ~"
Sedikit mendayu dan melengkingkan suara seraknya, ia mengambil lirik bernada tinggi berikutnya dan itu sukses membuat Itachi tanpa sadar merinding mendengar suaranya.
"Meski ragaku kan terkikis sang waktu ~"
"Jiwaku meninggalkan tubuhku ~"
Mengambil bait terakhir lagu Hinata, ia kembali membuka matanya. Dan hal pertama yang ditangkap emeraldnya adalah onyx yang indah itu.
Onyx milik Itachi.
"Kuingin kau tahu, hatiku selalu milikmu ~"
"Dan mencintaimu ~"
"Sepanjang hidupku ~"
Tanpa sadar ia tersenyum. Mengakhiri lagunya dengan dentingan lembut dari tuts-tuts di hadapannya dengan penuh perasaan. Ini pertama kalinya ia menikmati sebuah lagu karena tersedot sepasang bola mata.
Tiba-tiba ia tercekat. Seperti menyadari keadaannya.
Menghentikan permainannya, ia termangu. Terlalu bingung dengan apa yang terjadi. Tepuk tangan dari Itachi membangunkannya dari kebingungannya. Irisnya membidik wajah laki-laki yang sedang tersenyum itu. Pemuda itu mendekat dan kembali duduk di sampingnya.
"Aku tahu, kau pasti bisa,"
Sakura mendengus. Terlalu gengsi untuk mengakui kalau lagu bertemakan jatuh cintalah yang cocok untuk suasana hatinya saat ini. Seolah menunjukkan kalau jatuh cintalah hal yang dibutuhkan saat ini. Lucu sekali.
"Kau pandai memainkan piano?"
Pertanyaan yang melenceng jauh dari topik. Sakura melakukannya untuk mengalihkan pembicaraan. Ia melihat dari sudut matanya kalau pemuda itu terkekeh. Bahkan tawa ringan itu begitu menyebalkan di telinganya. Ia masih tak mau menatap wajah Itachi. Tak mau membidik onyxnya. Onyx yang sempat menyeretnya masuk ke dalam kelam sinarnya. Tidak. Ia tidak mau mengulang hal yang sama. Terlalu memalukan.
"Keluargaku melatih keturunannya untuk terampil dalam segala hal,"
Oke, itu kedengarannya menyebalkan. Jangan bilang Itachi juga bisa memainkan gitar? Ini berarti saingannya bertambah.
"Hanya Piano,"
Seakan bisa membaca pikiran Sakura, Itachi melanjutkan ucapannya.
"Uchiha adalah klan terpandang. Kami diajarkan semua hal yang dipelajari kalangan atas. Piano adalah salah satunya,"
Oke, makin menyebalkan. Sakura merasa diremehkan. Ia berdecak tidak suka. Apa gitar bukan alat musik terpandang? Itachi terkekeh lagi melihat raut wajahnya. Sepertinya ia tahu apa yang ada di kepala gadis itu.
"Aku tak mengatakan gitar bukan alat musik kalangan atas. Kami juga sering mendengarkan instrumen dari gitar. Hanya saja, piano lebih identik dengan keanggunan. Karena itulah sering dipelajari para bangsawan,"
Yah, yah. Sakura tahu itu. Ia hanya masih terbawa emosi saja. Akhirnya ia hanya bisa terdiam. Mengambil buku not di hadapannya dan membolak-balik lembarannya. Mengabaikan eksistensi sang pemuda yang kini memandangi wajahnya penuh makna.
"Sakura..."
Setelah beberapa saat keheningan menyelimuti mereka, akhirnya Itachilah yang pertama angkat suara. Sang pemilik nama menoleh malas menatapnya. Bahkan iris seteduh daun itu tidak menyadari tatapan penuh arti dari sang pemuda.
"Aku akan sangat senang, jika lagu tadi benar-benar kau nyanyikan untuku..."
Awalnya Sakura tidak begitu paham dengan maksud Itachi. Hey, tentu saja ia menyanyikan lagu itu untuk Itachi. Namun, saat pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Sakura, sang gadis seperti mendapat maksud kata-katanya. Ia terpaku di tempatnya. Lututnya bergetar hebat saat bibir Itachi mendekati telinganya.
"Hatiku selalu untukmu, Sakura. Selalu..."
Lirih suara Itachi membuat bulu di seluruh tubuhnya meremang.
"Aku ingin kau juga mengatakan kau tercipta hanya untukku..."
Itachi kembali menggerakkan wajahnya menuju ke hadapan wajah Sakura persis. Menatap matanya penuh ketegasan. Mengungkapkan bahwa apa yang baru saja ia ucapkan bukanlah bualan semata.
"Hanya untukku, sepanjang hidupmu..."
Ia menggerakkan tangannya membelai lembut pipi seputih susu itu. Dan mendekatkan wajahnya. Mendekatkan bibirnya.
"Aku menyukaimu, Sakura..."
Dan mencium lembut bibir sang gadis. Menimbulkan ledakan di perutnya. Seperti ada sesuatu yang berterbangan. Sakura tak tahu rasa apa itu. Ia masih dikuasai keterkejutannya. Sampai iris kelam itu kembali terbit di hadapannya.
"Aku akan menjagamu, apapun yang terjadi. Seumur hidupku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ino mengerutkan alisnya menatap Sakura dari cermin di depannya. Ia menghentikan aktivitasnya merapihkan rambut. Ada yang aneh dengan gadis pink itu. Sedari awal persiapan sampai selesainya mini concert, gadis itu sering sekali menghela nafas. Sesekali ia tampak melamun sambil memegang bibirnya lalu menggigit jarinya. Ino menyeringai. Sepertinya ada yang terjadi dan itu berhubungan dengan bibir.
Tapi apa? Ciuman? Seringai Ino melebar. Sepertinya menggoda Sakura akan menyenangkan.
"Kau kenapa, Sakura?"
Gadis itu tercekat dan gelagapan memandang ke arah Ino.
"Tidak kenapa-kenapa!" jawabnya spontan.
Untung suaranya tidak gagap. Ia melihat Ino menyipit tidak percaya dengan seringai menyebalkan yang terpampang jelas di wajahnya. Sakura mendengus, mencoba mengendalikan diri. Big thanks to Uchiha Itachi yang sudah membuatnya jadi seperti orang gila seperti ini.
Dua minggu setelah kejadian ciuman dan ungkapan cinta sang pemuda, Sakura selalu menghindarinya. Ia selalu berusaha untuk tidak berbicara empat mata dengan pemuda Uchiha itu. Kecuali harus bertemu dalam pertemuan dengan Akatsuki tentunya. Selebihnya, ia akan langsung melarikan diri.
Entah apa yang akan dilakukan Pein kalau sampai ia tahu kejadian itu. Mungkin kakaknya itu akan langsung menembak kepalanya. Sakura bergidik ngeri membayangkannya. Ia menggelengkan kepalanya mencoba menepis bayangan mengerikan itu.
"Kau tidak kecewakan karena Uchiha tampan itu menolak berduet denganmu?"
Sakura melotot.
Kecewa? Yang benar saja.
Dia malah bersyukur Sasuke menolak tawaran sponsor. Gila saja kalau ia harus berduet dengan pemuda bermuka tembok itu. Bisa hancur konsernya.
"Jangan membuat pantatku tertawa, Ino,"
Ino terkekeh melihat wajah kesal Sakura. Ia mengabaikan sang gadis pink yang sedang mengomelinya dan kembali beralih ke aktivitasnya merapihkan rambut di depan cermin sembari masih terkekeh kecil saat seorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar ganti mereka dan menyelinap masuk tanpa menunggu jawaban. Ino mengalihkan atensinya dari cermin untuk dapat melihat sang pelaku.
Kurenai.
Wajahnya pucat. Seperti orang yang benar-benar terkejut dan tidak percaya. Ino mengernyitkan dahi melihat atasannya itu.
"Sakura!"
Sang gadis obyek panggilan, hanya menoleh ogah-ogahan.
"Ada apa, Kurenai-san?"
Ino yang menjawab.
"Sakura! Tuan Uchiha!"
Sakura menaikan satu alisnya mendengar kalimat tidak jelas Kurenai. Memang ada apa dengan Uchiha? Ia dan Ino saling memandang bingung. Kurenai tampak mengatur nafasnya.
"Pelan-pelan menjelaskannya, Kurenai-san,"
Ino mendekati sang wanita seksi.
"Sakura, Ibu Uchiha Sasuke bersikeras menemuimu. Ia di kerumuni wartawan dan pingsan,"
Sakura tercekat. Ino syok. Sakura bingung harus melakukan apa.
"Dia ada di ruang ganti utama,"
"Sakura apa yang kau lakukan! Ibu mertuamu pingsan! Ayo kita lihat!"
Dan teriakan Ino membuat Sakura melotot seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mikoto membuka matanya perlahan. Rasa pusing di kepalanya masih sangat terasa. Selang oksigen di wajahnya membuatnya mudah bernafas dan perlahan kemudian pusing di kepala mulai berkurang. Hal pertama yang ia lihat adalah helai pink yang tampak sibuk menyuntikkan sesuatu di selang infus yang menancap di lengannya.
"Sakura-chan..."
Lirihan lemah itu masih bisa ditangkap telinga Sakura. Sang gadis terkejut dan sontak mendongak menatapnya.
"Nyonya Mikoto? Anda sudah sadar?!"
Pekikan kecil darinya membuat seorang pemuda berambut raven mendekat dengan raut khawatir.
"Kaa-san? Kaa-san sudah sadar?"
Suara itu memang datar. Tapi nada khawatir tidak dapat ditutupi oleh sang pemuda. Sakura yang melihat Nyonya Mikoto sudah mulai sadar, langsung mengecek tekanan darah wanita itu. Normal. Ia menghela nafas lega. Kembali menatap Nyonya Mikoto untuk sesaat, ia kemudian mengalihkan atensinya untuk berbicara pada Sasuke.
"Aku sudah memberi pertolongan pertama. Sebentar lagi ambulans akan datang. Kaa-san akan mendapat penanganan lebih lanjut,"
Sasuke mengangguk datar.
"Hn,"
"Tidak..."
Lirihan itu mengalihkan atensi keduanya.
"Aku tidak mau ke Rumah Sakit. Aku mau pulang. Aku ingin bersama Sakura-chan,"
Sakura menggaruk-garuk kepalanya. Susah punya pasien rewel.
"Ano, Kaa-san. Aku akan bersamamu di Rumah Sakit. Jadi kau tenang saja, Oke?"
"Tidak aku tidak mau! Hiks.. Sasuke-kun. Aku tidak mau ke Rumah Sakit.."
Sakura mengerjab panik melihat Nyonya Mikoto yang mulai menangis.
"Ka... Kaa-san.."
"Sudahlah. Tidak apa-apa..."
Sakura menoleh menatap Sasuke. Pemuda itu menatapnya datar.
"Kaa-san tidak suka Rumah Sakit. Aku akan membawanya pulang,"
"Tapi..!"
Sakura terdiam menatap dinginnya mata Sasuke. Ia tidak mengerti dirinya sendiri. Harusnya ia tidak merasakan hal ini. Ia merasa terseret dalam kelam onyx itu. Mata dengan mengandung beribu pesona. Mata yang menyimpan sejuta misteri.
Tidak.
Perasaan ini.
Perasaan sama saat ia tersedot dalam pekat mata Itachi.
Ukh.. Itachi.
Mengingat pemuda itu membuat wajahnya sontak merona. Dan itu tak luput dari jangkauan mata Sasuke. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya. Dengan cepat Sakura memalingkan wajahnya.
"Ba...baiklah. Terserah kau saja!"
Sakura berbalik cepat dan bermaksud hendak pergi sebelum sebuah tangan yang mencekal lengannya menghentikan langkahnya.
Sasuke.
Ia kembali menatap pemuda itu dengan raut bingung. Sasuke menatapnya dalam. Dan itu membuatnya gugup.
"A..ada apa lagi?"
"Ikut denganku. Kaa-san ingin kau bersamamu,"
Perintah dingin dari sang pemuda itu, seharusnya membuat Sakura geram.
Seharusnya.
Ia bukan tipe gadis yang suka diperintah. Tapi sekali lagi. Sakura tidak mengerti dirinya. Ia semakin tidak mengerti saat mulutnya mengatakan hal yang berbeda yang dikatakan hatinya. Dan itu membuatnya melotot tidak percaya.
"Ba..baiklah.."
Oh, hell!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku senang sekali kau ada di sini, Sakura-chan!"
'Aku tidak!'
Sakura membatin frustasi. Ia hanya cengengesan tidak jelas, menatap Nyonya Mikoto dengan wajah tidak ikhlas yang berusaha di sembunyikan.
"Ya, aku juga senang, Kaa-san,"
Sakura membenarkan letak selimut Mikoto dan mengecek laju infus di lengannya, saat Sasuke memasuki kamar itu. Sakura menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kaa-san sudah tidur?"
Sakura mengangguk. Ia kembali menoleh menatap Mikoto yang tampak terkantuk-kantuk sebentar sebelum kembali menatap Sasuke.
"Obat yang aku beri mengandung CTM. Kaa-san pasti sangat mengantuk,"
"Hn,"
Dan setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sakura meringis. Oh, kemana jiwa berisiknya. Ia sangat tidak suka dengan situasi tidak jelas ini. Ini mengingatkannya dengan kejadian di konsernya tadi.
Ukh..semoga pipinya yang merona karena mengingat Itachi tidak terlihat oleh pemuda ini. Mau ditaruh mana mukanya. Masa seorang Rockstar sepertinya merona karena mengingat ciuman. Lucu sekali. Sayangnya itu adalah kenyataan.
"Kau sudah makan?"
Sakura mengerjab. Bingung harus menjawab apa. Jujur ia masih sangat gugup berhadapan dengan pemuda ini.
Berterima kasihlah pada dering ponselnya yang berbunyi menandakan adanya panggilan masuk, karena ia akhirnya terbebas untuk tidak menjawab pertanyaan dari sang Uchiha. Ia tersentak dari kebingungannya dan sontak tersenyum gugup ke arah sang pemuda.
"Ano.. maaf sebentar.."
"Hn,"
Sakura merogoh tasnya cepat dan mengernyit saat mendapati nama Pein di layar ponselnya. Ia menatap Sasuke sebentar kemudian beranjak keluar dari kamar itu.
"Moshi-moshi?"
Setelah merasa tidak akan ada yang mendengar percakapannya, ia akhirnya menjawab panggilan Pein. Bagaimanapun, ia tidak mau sang kakak tahu ia sedang berada di tempat Sasuke ataupun sebaliknya, ia tak mau Sasuke tahu Pein adalah kakaknya. Mengingat perintah kakaknya itu membuatnya jadi kesal sendiri.
"Kau dimana?"
Suara dingin itu serasa lebih seram dari biasanya.
"Ano...aku..."
"Kediaman Uchiha?"
Sakura melotot. Dadanya mencelos. Tubuhnya kaku. Kata-katanya menyangkut di kerongkongannya. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya. Apa ia tidak salah dengar? Kakaknya mengetahui keberadaannya?
Mati kau Sakura!
Pantas saja suara Pein seperti sedang marah. Sakura menelan ludahnya. Berusaha menenangkan dirinya. Mencoba menguatkan lututnya yang bergetar. Hey, untuk apa dia takut? Kakaknya itu bahkan tidak mengatakan alasan kenapa ia harus menjauhi Sasuke, jadi untuk apa ia takut? Ia tidak melakukan kejahatan kan?
"Nii..Nii-san..."
"Pulang. Aku ingin bicara denganmu."
Dan sambunganpun terputus. Sakura menatap syok pada ponselnya. Suara Pein barusan sangat dingin. Sangat dingin seperti berusaha menekan amarahnya. Sakura mengedarkan matanya panik.
Apa yang harus ia lakukan. Sakura paling tahu bagaimana jika Pein marah. Ia menggigit ujung kuku tangannya yang bergetar takut.
"Ada apa?"
"Astaga!"
Sakura terlonjak kaget dan sontak menoleh menatap Sasuke di belakangnya. Ia menatap sekilas pemuda itu dengan ekpresi terkejutnya dan kemudian mencoba meredakan kepanikan yang melandanya.
"Tidak.. aku tidak apa-apa..."
Di hadapannya, Sasuke, ia tahu apa yang terjadi. Ia tahu yang menelepon Sakura adalah kakak gadis itu. Sebenarnya ia mengikuti saat sang gadis melangkah keluar dan tak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia menatap sang gadis datar.
"Sepertinya aku tak bisa lama-lama di sini, Sasuke. Aku pulang dulu..."
Akan melesat pergi, Sakura kembali tertahan saat lengannya dicekal oleh lengan kokoh Sasuke. Sang gadis menoleh dan sontak menatap gelisah pada Sasuke.
"Aku antar.."
"Tidak perlu!"
Gila saja. Pein bisa membunuh mereka. Sakura menatap panik pada Sasuke yang tampak datar-datar saja walau perkataannya dipotong Sakura dengan tidak sopannya.
"Hn,"
Sakura menggigit bibir bawahnya bingung harus membalas apa. Pemuda di depannya belum melepas cekalan tangannya. Seolah minta penjelasannya. Tidak mungkinkan ia mengatakan kalau Pein akan membunuhnya jika melihatnya diantar oleh pemuda Uchiha itu.
"Kaa-san. Kau jaga saja Kaa-san. Aku bisa pulang sendiri. Aku akan baik-baik saja..."
Ia melepaskan cekalan Sasuke perlahan dan mencoba tersenyum.
"Aku bisa jaga diri. Aku akan menghajar siapa saja yang mencoba menjahatiku. Aku janji!"
Sasuke sedikit menarik bibirnya. Hatinya menghangat melihat senyuman gadis di hadapannya ini.
Sakura.
Gadis yang menarik hatinya.
Iapun melepaskan genggamannya. Perlahan tangannya bergerak naik dan membelai surai merah jambu indah itu. Sakura tercekat.
"Hn. Jaga dirimu,"
Sakura masih terpaku di tempat. Apa ia tidak salah dengar. Sasuke? Sasuke yang dingin itu bilang apa? Jaga dirimu? Tidak salahkan?
"Hn. Ada apa?"
Sakura kembali dari lamunannya. Ia mengerjab sadar kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Mungkin tadi hanya ilusi.
"Ti..tidak. Tidak apa-apa..." jawabnya gugup.
Ia kemudian melemparkan senyum kakunya.
"Aku pulang dulu!"
Tanpa menunggu lagi, Sakura kemudian berbalik dan beranjak mengabaikan jatungnya yang entah kenapa berdetak dua kali lebih cepat dari biasa.
Hey, ada apa dengan dirinya? Ini bukan dirinya. Gugup hanya karena menatap mata. Lucu sekali.
Dengan perasaan campur aduk, ia berjalan cepat keluar dari kediaman megah di belakangnya itu. Berterimakasihlah pada Sasuke yang kini membuatnya lebih kacau dua kali lipat daripada kejadiannya dengan Itachi. Bahkan ia hampir melupakan kegalauannya karena telepon Pein.
Hanya karena sentuhan rambut? Sakura berdecih frustasi. Langkahnya dipercepat saat emeraldnya menangkap Enzo, teman sehidup sematinya.
"Sepertinya kau sudah sering kemari, Nona?"
Ia tercekat dan sontak menoleh. Gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil seketika. Ia menyipit melihat dua orang di hadapannya kini. Seorang pria cantik yang tampaknya berumur separuh baya berambut hitam panjang dan seorang pemuda seumuran kakaknya yang memakai kacamata berambut perak.
"Maaf. Kau berbicara denganku?"
Pria berambut panjang itu menyeringai.
"Apa ada orang lain di sini yang bisa kutanyai selain kau, Nona?"
Sakura mengerjab bingung. Ia memiringkan kepalanya seolah sedang mempertimbangkan jawabannya.
"Tentu. Pemuda di belakangmu misalnya?"
Seringai pria itu hilang seketika mendengar jawaban Sakura. Ia berdecih sesaat sebelum kembali menyeringai mengejek.
"Ternyata kau cukup menyebalkan, bocah,"
Sakura merengut tidak suka mendengar kata-kata laki-laki cantik itu.
"Tapi, tak apa..."
Ia maju selangkah untuk mendekati Sakura dan itu membuat sang gadis memasang kuda-kuda untuk mengatasi kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Mau apa kau?!"
Orochimaru menghentikan langkahnya.
"Aku sangat berterimakasih pada Sasuke-kun, karena membuat ini jadi lebih mudah..."
Sakura mengerutkan alisnya. Sedikit terkejut mungkin. Pria ini mengenal Sasuke? Ia tidak tahu ini berita bagus atau tidak. Kalau ia mengenal Sasuke, berarti pria ini tidak akan membahayakannya. Tapi dari auranya, Sakura tidak yakin.
"Mungkin kita akan sedikit bersenang-senang, Sakura-chan,"
Dan belum sempat Sakura sadar dari pikirannya dan membalas ucapan pria ini, sesosok tubuh tegap tinggi membungkam mulutnya dari belakang. Sapu tangan beraroma menyengat menguar di indera penciuman. Sial. Ini obat bius. Ia sangat tahu itu.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba memberontak. Namun, semakin lama kesadarannya memudar dan membuatnya lemas. Dan dalam beberapa detik kemudian ia kehilangan kesadarannya. Dalam batas kesadaran akhirnya, indera pendengarannya masih sempat mendengar decihan sinis sang pria cantik.
"Dasar gadis merepotkan,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pein memandangi hamparan lampu kelap-kelip dari gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota Seoul ini dari balik jendela kediaman Kankuro. Mansion yang letaknya sedikit lebih tinggi ini memang membuatnya dapat memandang pemandangan ini setiap hari.
Matanya sesekali melirik jam di ruangan itu. Ini sudah lewat dari satu jam sejak ia menelepon Sakura, tapi gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia sudah berusaha untuk meneleponnya lagi, tapi ponsel gadis itu mati. Apa adiknya itu takut padanya karena tadi ia berbicara dengan nada kurang bersahabat?
Pein menghela nafas. Adiknya itu memang tak pernah bisa berpikir panjang.
"Aku akan menelpon Sai untuk menjemputnya di rumah Uchiha..."
Pein menoleh ke asal suara. Sasori.
"Anak itu benar-benar! Kapan dia berhenti membuatku repot?!
"Hn,"
"Akan kupukul kepalanya kalau dia pulang..!"
Pein hanya diam. Mengalihkan pandangannya ke depan. Sasori meliriknya dan menghela nafas.
"Aku akan mengurusnya, jadi kau tidak usah marah padanya,"
Pein meliriknya. Sepertinya Sasori berusaha membujuknya untuk tidak bersikap keras pada bocah keras kepala merah muda adiknya itu. Tapi sekali lagi. Bagi Pein, Sakura tidak akan menurut kalau tidak dikerasi. Karena itulah ia hanya kembali menatap lurus dan bergumam tidak jelas kepada Sasori.
"Hn,"
Sasori kembali menghela nafas mendengar tanggapan tak jelas Pein. Sudah pasti Pein tidak akan menurutinya. Akhirnya ia hanya bisa membiarkan apapun yang akan terjadi nanti dan hendak melangkah pergi saat kemudian suara Pein menghentikan langkahnya.
"Deidara dan Gaara, bagaimana keadaan mereka?"
Ia menoleh ke arah sang kakak. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil posisi yang enak untuk berbicara.
"Gaara tersadar sehari setelahnya kejadian di kamar Sakura. Deidara baru saja sadar kemarin. Anak pirang bodoh itu benar-benar membuat semuanya kacau. Aku tak mengerti kenapa akhir-akhir ini dia sering membangkang,"
Pein tak menjawab hanya menatap lawan bicaranya seolah minta penjelasan lebih. Sasori menghela nafas.
"Hipotesis Kakuzu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Dari cerita Deidara, ia merasakan sakit yang teramat sangat di tubuhnya seperti yang dikatakan Kakuzu. Ia juga melihat reaksi yang sama pada Gaara..."
Pein tampak mengerutkan alisnya. Namun ia tetap diam tak berkomentar.
"Namun sepertinya emosi dan perasaan terancam lebih mendominasi..."
Pembicaraan mereka terputus saat ponsel Pein berbunyi, pertanda ada seseorang yang menghubunginya. Sasori melihat Pein yang menatap ponsel di tangannya dan langsung mengangkatnya tanpa menunggu lebih lama.
"Hn, Sakura. Kau dimana?"
"Akasuna Pein?"
Pein mengerutkan alisnya. Ini bukan Sakura. Ini suara seorang pria. Kenapa bisa Sakura bersama seorang pria? Ia langsung mengerling ke arah Sasori seolah memberi tanda pada sang pemuda.
Sasori yang tanggap langsung mengambil ponselnya dan menerima ponsel Pein yang sudah dihubungkan dalam mode speaker dan menghubungkannya dengan ponsel miliknya. Tanpa menunggu lagi, ia langsung melacak GPS ponsel sang gadis.
"Kau sudah mengenal, Sakura-chan? Kau sedang mencarinya?"
Tubuh Sasori menegang. Tangannya yang sedang mengutak-atik ponsel berhenti seketika mendengar suara barusan. Ia melirik sedikit wajah Pein yang sama tegangnya dengan dirinya. Berusaha tenang, ia kembali fokus pada pekerjaannya. Mencari lokasi ponsel sang gadis.
Namun nihil. Sepertinya GPS sang gadis sengaja dimatikan.
"Sial!"
Sasori menggeram marah. Ia menoleh menatap Pein yang juga tengah meliriknya.
"Kalau kau coba melacak ponsel ini, itu akan sia-sia. Aku bukan seorang amatir, Akasuna..."
Pein diam dan kembali memandang ke depan.
"Hn,"
"Kau kenal suaraku?"
Pein tetap berusaha mengontrol ketenangannya. Mencoba membiarkan otaknya menampung dan menganalisis setiap suara dari seberang sana yang mungkin bisa menjadi petunjuk keberadaan Sakura.
"Khukhukhu... mungkin kau tidak mengenaliku. Kita berbeda generasi..."
"..."
"Baiklah. Aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah Orochimaru-sama..."
Sasori menegang mendengarnya. Ia melirik Pein yang tampak lebih tenang dari dirinya walau raut tegang tetap terpancar dari wajahnya.
"Kau sudah mengenalku?"
Tidak ada jawaban dari Pein.
"Ah, belum?"
"..."
"Mungkin kalau mendengar suara ini kau akan dengan cepat mengingatku..."
"Akh!"
Suara teriakan khas anak perempuan yang sudah sangat di kenal Pein, membuat tubuhnya menegang seketika. Ia masih bisa mendengar suara geraman dari sisi tubuhnya.
"Ayo katakan sesuatu, Sakura-chan,"
Tidak ada suara jawaban, hanya helaan nafas memburu yang terdengar.
"Cepat, Sakura-chan. Kakakmu merindukanmu..."
"..."
"Aku bilang cepat katakan sesuatu!"
Plak!
"Aaaargghhh!"
Sasori mencengkeram erat ponselnya tanpa sadar sampai terdengar bunyi remukan dari benda itu. Ia berusaha mati-matian menahan amarah di dadanya mendengar teriakan dari wanita yang sudah pasti adalah Sakura itu. Ia sudah sangat mengenal adiknya yang sangat pembangkang.
"Ughhhh! Hiks.."
Suara senggukan tertahan itu masih dapat di dengar telinga Pein. Wajahnya mengeras seketika.
"Katakan sesuatu, jalang!"
"Aku tidak kenal Sakura, brengsek! Lepaskan aku!"
"Jaga bicaramu pada Orochimaru-sama, jalang!"
Buag!
"Ugh..."
Itu benar-benar suara Sakura.
Sasori melebarkan pupilnya tidak percaya. Tubuhnya bergetar tanpa sadar. Suara tadi, suara pukulan. Dan setelah itu tak ada lagi terdengar suara Sakura.
Terdengar suara gemericik untuk beberapa sesaat sebelum akhirnya sebuah suara kembali menginterupsi keterkejutan dua pemuda berbeda surai yang mendengarnya.
"Jadi bagaimana, Akasuna? Kau sudah mengenalku?"
"Apa maumu?"
Suara itu benar-benar dingin. Tak ada intonasi kekhawatiran apapun di dalamnya. Sepertinya sang pemuda berusaha untuk tetap dalam kondisi terkendali.
Terdengar kekehan dari seberang sana.
"Kau Akasuna yang jenius. Sangat berbeda jauh dengan adikmu yang bodoh ini..."
Pein hanya diam tanpa ekspresi.
"Baiklah akan kukatakan dengan cepat..."
"..."
"Aku akan mengirim seseorang padamu setelah pukul lima sore besok di taman pusat kota Seoul.."
"..."
"Selama waktu itu, siapkanlah sample antigen Deoxclon milik ayahmu, dan serahkan pada orang tersebut tepat jam lima..."
"..."
"Jika kau berniat untuk bermain curang untuk hal ini, aku tidak akan segan-segan membunuh adik bodohmu ini, Akasuna?"
"..."
"Apa kau mengerti apa yang aku katakan?"
Hening. Tidak ada jawaban.
Terdengar suara decihan dari seberang sana. Nampaknya Orochimaru benar-benar kesal dengan responnya.
"Kuanggap kau mengerti, Akasuna. Waktumu tak banyak. Jadi aku peringatkan supaya kau tidak usah mencari cara untuk membebaskan gadis bodoh ini, dengan cara lain diluar dari kau menyerahkan antigen itu dengan sukarela, jika kau tidak ingin nyawa adik kesayanganmu ini melayang dengan sia-sia,"
Dan setelah itu sambunganpun terputus. Dengan segala emosi, Sasori membanting ponselnya hingga barang canggih itu tak berbentuk lagi. Mulutnya mengeluarkan sumpah serapah yang jarang ia tunjukan pada orang lain.
Nafasnya memburu. Ia melirik Pein yang tampak memandang kosong ke depan dengan wajah sedikit tegangnya. Sasori berdecih. Di saat seperti ini, sang pemuda masih bisa tenang seperti itu?
"Apa rencanamu?"
Setelah berhasil menguasai diri, akhirnya itulah yang keluar dari mulut pemuda bersurai merah itu. Pein melirik Sasori singkat sebelum kemudian kembali menatap ke depan.
"Hn,"
Sasori menahan keinginannya untuk tidak memukul wajah datar Pein. Laki-laki ini seperti tidak punya rasa khawatir pada adiknya itu. Giginya bergemeretuk marah.
"Antigen Deoxclon sudah ada di tangannya. Apalagi yang akan kita lakukan selain mengambilnya kembali?"
"Berhenti berkata seperti Sakura itu bukan adikmu, brengsek!"
Dan detik berikutnya, Pein harus dikejutkan dengan Sasori yang menarik kerah kemeja putihnya dan menatapnya murka. Ia mengerutkan alisnya. Sedikit tercekat. Baru kali ini ia melihat adiknya itu membentaknya sampai seperti itu. Beberapa kali pemuda itu memang pernah adu pendapat dengannya. Tapi ia benar-benar yakin kalau baru kali ini pemuda itu membentaknya seperti ini.
"Yang kau pikirkan hanyalah antigen sialanmu itu! Kau tidak pernah berpikir apapun tentang keinginan Sakura!"
Desisan tajam itu mengembalikan raut dingin pemuda Akasuna sulung itu. Ia menatap datar wajah sangar di hadapannya.
"Ini semua karenamu, bajingan! Kalau kau memberitahu Sakura dari awal, ia tidak akan pernah membangkangmu dan lebih berhati-hati!"
"Berhenti bersikap seperti pecundang dan berpikirlah dingin, Sasori.."
Sebuah jawaban yang membuat Sasori mengeratkan cengkeraman tangannya di kemeja Pein geram. Wajah datar Pein benar-benar membuatnya muak.
"Diam dan dengarkan aku baik-baik. Aku hanya mengatakannya satu kali..."
Sasori berdecih namun tetap diam. Menahan setiap gejolak di dalam dadanya untuk tidak menghajar Pein sampai babak belur. Yeah, dia sadar itu tidak akan ada gunanya. Cengkeraman di tangannya mengendur dan perlahan terlepas. Tapi tidak dengan sorot tajam yang masih ia hujamkan ke kakaknya itu.
"Perintahkan Sai untuk menghubungi Uchiha sialan itu dan katakan seorang bernama Orochimaru menculik Sakura..."
Sasori tercekat. Yeah, baru kali ini ia mendengar Pein mengumpat seseorang. Ini berarti ia sedang dalam suasana hati yang benar-benar buruk.
"Atur keadaan yang meyakinkan pemuda itu bahwa kita tidak soal ini..."
Sasori mulai dapat mengendalikan dirinya. Ia menatap tajam penuh perhatian pada iris ungu sang pemimpin klan yang juga sedang menatap tepat ke irisnya. Menandakan kalau ia sedang benar-benar memperhatikan setiap detail ucapannya.
"Pemuda itu akan membawa kita ke tempat Sakura berada.."
Sasori menyipit.
"Darimana kau yakin itu akan berhasil?"
"Karena aku yakin,"
Jawaban yang membuat Sasori spontan bungkam. Sasori sangat tahu bagaimana watak sang kakak. Walau tidak sekeras kepala Sakura, pemuda ini juga sangat tegas menentukan pilihan. Kalau Sakura cenderung keras kepala karena egonya, Pein lebih cenderung keras kepala karena perhitungannya yang ia pertimbangkan matang-matang untung ruginya. Karena itulah Sasori memilih untuk tunduk dan patuh.
"Baiklah..."
Pein masih dalam posisi bergeming dari posisinya membalas tatapan tajam dari Sasori dengan tatapan datar khasnya. Ia hanya diam menunggu sang adik menyelesaikan ucapannya.
"Aku percaya padamu..."
"..."
"Tapi jika terjadi sesuatu pada Sakura..."
"..."
"Aku tidak akan memandangmu sebagai kepala klan lagi, Pein..."
"..."
"Aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Hening untuk beberapa saat. Kedua pemuda dari klan Akasuna itu saling memaku dengan tatapan mereka masing-masing. Datar dan tajam. Peinlah yang pertama kali memutuskan kontak mata itu. Ia tatapannya ke luar jendela dan menggertakkan giginya pelan. Begitu samar sampai tak terdengar.
"Sakura ada di tangan mereka..."
Sasori memilih bungkam untuk kali ini.
"Kelemahan mereka adalah mereka tidak tahu bahwa antigen yang mereka cari adalah Sakura..."
"..."
"Dan akan menjadi kekuatan kita terus jika kita tidak mengatakan pada siapapun termasuk Sakura..."
Terdengar geraman dari Sasori dan Pein sadar itu.
"Jika Sakura tahu saat ini, ia tidak akan bersikap tidak tahu seperti tadi di depan Orochimaru..."
Sasori tercekat. Seperti mendapat suatu pencerahan. Pein benar. Jika Sakura tahu kalau dirinya adalah antigen, dia tidak akan bersikap tidak tahu di depan Orochimaru seperti ini. Sasori mengenal adiknya. Gadis itu tak pandai berbohong dan blak-blakan. Ia tidak mudah mengendalikan omongannya. Jadi adalah tindakan yang benar membiarkannya tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
"Lakukan saja apa yang diperintahkan Orochimaru. Kau dan Deidara pergilah menemui orang kirimannya. Aku dan Itachi akan mengikuti Uchiha..."
Sasori menyipitkan matanya. Apa tidak apa-apa membiarkan Itachi bertemu Sasuke? Namun, sebelum ia mengutarakan satu katapun untuk mempertanyaknya, suara dingin Pein membuatnya sontak bungkam.
"Jika aku dan Itachi tidak kembali, paksa orang kirimannya untuk buka mulut..."
Sasori agak tercekat mendengar kalimat Pein tadi. Namun ia tidak berkomentar dan menunggu. Menunggu sang kakak menyelesaikan ucapannya.
"Mau tidak mau ia harus membuka mulutnya, kalau tidak ingin kepalanya terpisah dari tubuhnya..."
"..."
"Karena apa yang mereka cari tidak ada pada kita..."
"..."
"Tapi aku berjanji akan pulang..."
"..."
"Aku akan pulang setelah mematahkan setiap tangan yang sudah menyentuh Sakura..."
Desisan dingin itulah yang mengakhiri pembicaraan mereka. Well, terkesan datar. Tapi Sasori tahu itu bermakna yang sangat dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura membuka matanya pelan. Kepalanya sangat pusing. Dan itu membuatnya mengerang tanpa sadar. Ia menyipit kala matanya terbuka, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk. Ia mendapati sebuah ruangan tak di kenal berbau obat-obatan tajam dengan beberapa tabung-tabung berisi cairan berasap di meja di ruangan ini. Tampak seperti sebuah laboratorium. Dimana ini?
"Tuan, dia sudah sadar!"
"Apa?!"
"Akasuna Sakura, dia sudah sadar!"
"Apa katamu? Bagaimana bisa?!"
Suara samar-samar dan derap langkah yang mendekat membuat sang gadis perlahan-lahan kembali dari kesadarannya secara utuh. Ia membuka matanya lemah dan menatap kedatangan beberapa orang di hadapannya dengan raut linglung. Hanya beberapa detik sebelum akhirnya ia tersadar dengan apa yang terjadi.
"Aku tak menyangkan kau sadar secepat ini, bocah. Obat bius yang kupakai berdosis tinggi..."
Itu Orochimaru. Sakura mendelikkan matanya reflek. Ia akan menjawab pria itu, sebelum sesuatu yang menahan tubuhnya menyadarkannya akan satu hal. Ia terikat. Sakura sontak menoleh pada tali yang mengikatnya dan mencoba memberontak.
"Berhenti melakukan hal yang sia-sia, bocah,"
Sakura menatap Orochimaru marah.
"Lepaskan aku, brengsek!"
Ucapannya yang sangat dingin itu menembus gendang telinga Orochimaru yang membuat sang pria sontak terkekeh di tempatnya. Sakura menyipit tidak suka. Memang apa yang lucu dari ucapannya?
"Kau pikir aku akan dengan sukarelanya menuruti keinginanmu?"
Sakura menggertakkan giginya.
"Jangan banyak bicara, tua bangka. Cepat katakan apa maumu dan lepaskan aku!"
Orochimaru berdecih sinis menatap gadis yang baru saja berteriak di hadapannya itu.
"Aku tidak paham, kenapa Sasuke-kun bisa berhubungan dengan gadis kasar dan sombong sepertimu. Kau sudah tidak berdaya tapi masih bisa berkata-kata dengan kata kasar pada orang yang menculikmu? Ck..ck..ck...Mengagumkan..."
Sekilas ingatan tentang pembicaraannya dengan laki-laki ini sebelum ia diculik yang membuatnya menyimpulkan hal yang sama, terlintas di benaknya. Pria ini mengenal Sasuke?
"Kau mengenal, Sasuke?"
Keluar juga apa yang ada di kepalanya. Orochimaru memasang wajah seperti orang terkejut yang sangat kentara kalau itu dibuat-buat.
"Sasuke?"
Sakura mengernyitkan dahinya. Orang ini sangat aneh.
"Kau bahkan memanggilnya dengan nama kecilnya!"
Sakura masih tidak berkomentar. Hanya tetap waspada menatap pria aneh di hadapannya. Ia melihat sang pria mengubah wajah terkejutnya menjadi senyum menyebalkan penuh ejekan.
"Tentu saja. Kau bahkan masuk keluar rumahnya seenakmu..."
"..."
"Jadi katakan padaku, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Sasuke-kun?"
"..."
"Apa kau sudah tidur dengannya?"
"Tutup mulutmu, tua bangka! Jangan bicara yang membuatku muntah!"
Sakura menatap Orochimaru berang. Pria ini bukan hanya aneh, tapi juga bermulut kotor yang sudah bosan hidup ternyata.
Orochimaru sedikit terpaku dengan bentakan kurang ajar Sakura. Namun hanya sesaat, sebelum kembali tersenyum menyebalkan pada sang gadis.
"Ah, tentu saja Sasuke-kun tidak akan macam-macam padamu..."
Sakura masih menatapnya tidak suka.
"Dia masih punya otak untuk tidak merusak barang berharga milik Akasuna Pein, kalau tidak ingin kepalanya terpisah dari tubuhnya.."
Untuk kesekian kalinya Sakura terlonjak. Pria ini mengenal kakaknya? Dan apa maksud kata-katanya itu? Apa ini tentang gosipnya dengan Pein beberapa waktu yang lalu?
"Apa yang kau bicarakan?"
"Semua orang tidak tahu hubunganmu dengan Akasuna itu. Tapi kira-kira bagaimana ya reaksi mereka kalau tahu yang sebenarnya?"
Sakura menyipit gugup. Keringat mengucur deras di dahinya.
"Tahu kalau kau adiknya? Hmm.. sepertinya banyak yang akan mengincarmu..."
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Sudah bisa dipastikan pria ini berbahaya. Kalau mengetahui tentang Sasuke mungkin ia masih bisa tidak peduli. Tapi ini, ia mengenal sang kakak. Terlebih lagi ia tahu hubungan mereka. Tangannya yang terikat terkepal tanpa sadar.
"Aku jadi penasaran, kenapa Pein menyembunyikanmu, tidak seperti saudaranya yang lain..."
Hell! Itu juga yang ia pertanyakan! Ia menjerit dalam hati.
"Apa kau tahu jawabannya, Sakura-chan?"
Bahkan pria ini tahu nama kecilnya.
"Aku yakin kau tahu.."
Tubuh Sakura agak bergetar mendengar kata-kata bernada rendah barusan. Mengandung nada ancaman. Ia menelan ludah menatap sorot mata yang tadinya manis berubah seperti iblis itu.
"Karena itulah aku menculikmu..."
Namun, hanya sesaat yang kemudian kembali menjadi seperti biasa. Ia tersenyum manis.
"Jadi katakan, apa yang kau ketahui tentang antigen Deoxclon, Sakura-chan?"
Lagi-lagi Sakura tercekat. Pria ini juga tahu tentang Deoxclon? Dia bukan orang sembarangan. Itu proyek rahasia ayahnya dan negaranya kala itu. Terlebih lagi, pria ini mengenal Sasuke. Jangan bilang Sasuke juga sudah mengetahui semuanya.
Tapi tunggu dulu. Tapi apa maksudnya dengan antigen? Ia juga masih berupaya menemukan antigen proyek mutasi itu.
"Darimana kau tahu tentang Deoxclon? Itu proyek rahasia?"
Sakura menekan suaranya sedatar mungkin. Ia harus bisa mempertahankan poker facenya. Bagaimanapun pria di hadapannya ini tidak bisa di remehkan. Salah berucap sedikit akan membahayakan dirinya juga organisasi kakaknya.
Oh bahkan sekarang ia masih mau membela organisasi itu, setelah apa yang Pein katakan padanya untuk tidak ikut campur. Hell, tapi bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Orochimaru membuat ekspresi yang seolah-olah ia terkejut mendengar pertanyaan Sakura.
"Bagaimana mungkin Orochimaru-sama, sang jenius yang mencetuskan pertama kali ide proyek itu bisa tidak mengetahuinya?"
Tubuh Sakura menegang. Wajahnya jelas-jelas menunjukan ia sangat terkejut untuk kesekian kalinya. Pria ini yang mencetus ide proyek itu? Pria gila ini? Tapi Pein tidak memberitahunya tentang hal itu. Kakaknya itu bilang ini adalah proyek ayahnya dan negara.
Pein.
Tiba-tiba perasaan aneh menggerogoti dadanya. Ia kecewa. Ia sangat kecewa dengan kakaknya itu. Begitu banyak hal yang pemuda itu sembunyikan. Begitu banyak yang ia tidak ketahui. Selanjutnya apalagi.
Ia melihat sang pria di depannya itu menyeringai.
"Dan aku juga tahu kalau ayahmu juga telah membuat sebuah antigen untuk melawanku..."
Dari sekian banyak fakta yang baru ia dengar dari mulut pria di depannya ini, ini adalah fakta yang paling membuatnya terkejut. Sakura melotot. Apa katanya tadi? Antigen? Ayahnya sudah membuat antigen? Tapi kata Pein...?!
Sakura menghela nafas menepis semua pertanyaan yang berkecamuk di otaknya. Masihkah ia percaya dengan semua kata-kata Pein sekarang?
"Jadi Sakura-chan, katakan di mana antigen yang sudah dibuat ayahmu itu disembunyikan?"
Sakura menundukkan kepalanya menelan segala kekecewaan yang terbentuk di hatinya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pria bernama Orochimaru ini. Yang ada di benaknya kini adalah sebegitu tidak pentingkah dirinya di mata Pein? Sampai hal sepenting inipun ia tidak tahu. Terbersit setitik pemikiran yang mengatakan kalau ia benar-benar bukan anggota keluarga Akasuna.
"Cepat katakan sebelum aku mencari tahu dengan kekerasan, Sakura-chan?"
"Terserah..."
Orochimaru tertegun mendengar suara Sakura barusan. Gadis itu tampak menundukkan kepalanya dalam.
"Terserah apa urusanmu dengan Pein, aku tidak peduli..."
Orochimaru hanya diam menunggu gadis itu menuntaskan perkataannya.
"Jangan pernah bawa aku ke dalam urusan kalian..." finalnya.
Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa detik sebelum sebuah dengusan terdengar dari Orochimaru.
"Aku tidak mengerti maksudmu, bocah. Dan aku tidak peduli apapun maksudnya itu. Yang aku pedulikan adalah cepat kau beritahu aku dimana antigen itu berada sebelum aku..."
"Aku sudah bilang jangan libatkan aku dengan urusan kalian, baka!"
Orochimaru terdiam mendengar bentakan yang memotong ancamannya.
"Aku bilang aku tidak mau tahu, brengsek! Tentangmu atau tentang Pein sekalipun! Aku tidak peduli!"
Sakura sudah tidak mempedulikan apa setelah ini dia akan dipukul atau dibunuh Orochimaru sekalipun. Siapa yang peduli? Bahkan kakaknyapun ia yakin tidak akan mempedulikannya. Memikirkan hal itu membuat hatinya sakit. Tanpa ia sadari airmata mengumpul di pelupuk matanya.
Ia melihat Orochimaru menyeringai lagi. Ia menelan ludah susah payah. Menyiapkan mental untuk menerima akibat dari pembangkangannya. Well, dia tidak sepenuhnya berbohong kan? Dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang antigen yang pria brengsek ini maksudkan.
"Kau yang memaksaku untuk melakukan ini..."
Plak!
"Akh!"
Dan detik berikutnya, tanpa ampun, seorang berambut perak berkacamata menampar pipinya. Membuatnya harus mengerang menahan sakit.
"Lebih baik kau membuat ini lebih mudah, Sakura. Aku tidak suka dan tidak pernah memukul wanita, jalang,"
Sakura yang menahan segala emosi di dadanya, melempar senyum sinis yang bergetar. Sebenarnya ia ingin menangis karena marah dan kesakitan mendapatkan perlakuan untuk sesuatu yang bahkan ia tidak tahu sama sekali. Tapi ia akan bertahan untuk segala sakit yang sudah mengumpul beku di hatinya. Ia melemparkan ludahnya yang bercampur darah ke wajah pemuda itu. Membuat sang pemuda melotot marah.
"Kalau begitu aku wanita pertama yang membuatmu menjadi pecundang pemukul wanita, brengsek,"
Pemuda itu menggeram rendah sebelum kemudian menarik rambut Sakura kasar.
"Kau– ?!Dasar sial!"
Tamparan dan tendangan bertubi-tubi Sakra terima sampai wajah dan tubuh gadis itu membengkak dan lebam. Sakura sudah tidak dapat menahan airmatanya. Ia menangis tanpa suara menahan segala sakit yang di terima tubuhnya.
Sekelebat bayangan terlintas di benaknya, apakah ia akan mati setelah ini? Apakah kakaknya akan sedih kalau ia mati? Apa mereka akan menangisinya? Atau tidak sama sekali? Apa mereka justru senang ia akhirnya tidak merepotkan mereka lagi?
Seketika pemikiran itu mencubit keras hatinya. Ia merasa sakit yang tak terkira melebihi sakit di tubuhnya. Ia sudah lelah menangis. Kini ia hanya pasrah membiarkan kepalanya yang dimasukkan Kabuto ke dalam sebuah tabung berisi air es.
"Cukup!"
Sakura terengah mengambil nafas. Ia menatap sayu tanpa pengharapan pada Orochimaru yang tersenyum aneh di depannya.
"Bagaimana Sakura-chan? Masih mau membangkang?"
Sakura hanya diam. Menatap kosong pria di depannya itu.
"Lebih baik kau beritahu aku dan semua neraka ini akan berakhir..."
"..."
Air muka Orochimaru berubah marah saat ia tidak melihat tanda-tanda respon dari tawarannya. Benar-benar gadis keras kepala. Ia tersenyum sinis.
"Baiklah..."
Ia menatap lekat gadis yang penampilannya sudah sangat berantakan itu.
"Kau membuatku terpaksa menggunakan rencana B, bocah..."
Orochimaru masih memperlihatkan senyum sinisnya.
"Tapi tak apa..."
Orochimaru membungkuk kemudian membelai lembut pipi Sakura yang terasa sangat dingin di tangannya.
"Kita lihat seberapa kuat Akasuna Pein dapat mempertahankan antigen itu demi adik tercintanya..."
Orochimaru tersenyum puas saat ia merasa tubuh Sakura menegang karenanya. Ia sangat yakin jika Pein akan memberinya dengan sukarela dengan melihat respon reflek tubuh Sakura. Ia tidak tahu. Tidak tahu kalau di sudut hati sang gadis, ia menjerit pilu. Tidak yakin kalau Pein akan rela menukarnya demi antigen berharga pemegang kendali lima monster yang telah ayahnya ciptakan. Sakura hanya bisa meneguhkan hati. Ia harus bertahan sampai akhir. Apapun keputusan Pein untuknya.
Orochimaru melepaskan belaian tangannya pada pipi Sakura. Ia menjentikkan jarinya yang langsung membuat seorang bertubuh gempal yang bersama mereka sejak tadi, mendekat ke arahnya dan memberikan sebuah ponsel ke tangannya. Sakura kenal ponsel itu. Ponsel miliknya.
Setelah mengutak-atik sesaat ponsel di tangannya, pria cantik berambut panjang itu langsung menempelkan benda itu ke telinganya. Tidak lama untuk menunggu ekspresi wajahnya berubah menjadi senang.
"Akasuna Pein?"
Ia mengubah ponsel ini dalam mode speaker, agar percakapannya dapat di dengar juga oleh Sakura.
"Kau sudah mengenal, Sakura-chan? Kau sedang mencarinya?"
Ia tidak mendengar jawaban dari seberang sana. Untuk beberapa saat sampai ia mengetahui apa yang sedang pemuda di sana lakukan.
"Sial!"
Ia berdecih remeh mendengar suara makian dari seberang sana. Mencoba melacaknya heh?
"Kalau kau coba melacak ponsel ini, itu akan sia-sia. Aku bukan seorang amatir, Akasuna..."
"Hn,"
Ia kembali dalam ekspresi menyeringainya saat akhirnya mendapat respon dari seberang sana.
"Kau kenal suaraku?"
Kali kembali tidak ada jawaban. Mungkin ia harus bersabar menghadapi pria di seberang sana.
"Khukhukhu... mungkin kau tidak mengenaliku. Kita berbeda generasi..."
"..."
"Baiklah. Aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah Orochimaru-sama..."
"..."
"Kau sudah mengenalku?"
Masih tidak ada jawaban dari Pein.
"Ah, belum?"
"..."
"Mungkin kalau mendengar suara ini kau akan dengan cepat mengingatku..."
Ia menarik kasar rambut Sakura agar gadis itu mendongak padanya.
"Akh!"
Suara teriakan khas anak perempuan terdengar memekakkan telinga. Sakura yakin kakaknya pasti mengenali suaranya.
"Ayo katakan sesuatu, Sakura-chan,"
Tapi kenapa kakaknya tidak mengatakan sesuatu?
"Cepat, Sakura-chan. Kakakmu merindukanmu..."
Kenapa ia tidak berteriak panik menanyakan keadaannya. Apa ia benar-benar tidak penting bagi Pein?
"Aku bilang cepat katakan sesuatu!"
Plak!
"Aaaargghhh!"
Dan untuk kesekian kalinya jeritan kesakitan yang bisa ia keluarkan untuk sedikit mengurangi rasa sakit di tubuhnya dan juga hatinya.
Kakaknya tidak peduli padanya.
"Ughhhh! Hiks.."
Dan untuk pertama kalinya ia tidak tahan untuk menyembunyikan suara kesakitannya. Senggukan tertahan lolos dari bibirnya.
"Katakan sesuatu, jalang!"
Kali ini Kabuto yang berteriak dan menamparnya.
"Aku tidak kenal Sakura, brengsek! Lepaskan aku!"
Bobol sudah pertahanan Sakura. Dengan segenap emosi yang membuncah, ia mengeluarkan makian kasar yang ditujukan pada orang-orang yang telah membuatnya kesakitan. Pada Pein. Pada Orochimaru.
"Jaga bicaramu pada Orochimaru-sama, jalang!"
Buag!
"Ugh..."
Dan pukulan terakir mungkin terlalu keterlaluan. Kabuto memukul Sakura dengan kepalan tangannya sekuat tenaga. Dan itu membuatnya pingsan seketika.
Kabuto melotot. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ia sontak menatap Orochimaru yang tengah menatap tajam mengancam padanya, seolah mengatakan nyawanya menjadi taruhan kalau terjadi sesuatu dengan Sakura. Bagaimanapun ia kunci dari Antigen Deoxclon.
Dengan pucat pasi ia segera melepaskan ikatan gadis itu dan membawanya untuk diobati. Tinggallah di ruangan ini Orochimaru dengan ponsel di tangannya.
"Jadi bagaimana, Akasuna? Kau sudah mengenalku?"
"Apa maumu?"
Orochimaru menyeringai senang dan terkekeh di seberang sana.
"Kau Akasuna yang jenius. Sangat berbeda jauh dengan adikmu yang bodoh ini..."
Tidak ada jawaban dari seberang sana. Tampaknya Pein bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Karenanya ia mendengus dan kemudian angkat bicara.
"Baiklah akan kukatakan dengan cepat..."
"..."
"Aku akan mengirim seseorang padamu setelah pukul lima sore besok di taman pusat kota Seoul..."
"..."
"Selama waktu itu, siapkanlah sample Antigen Deoxclon milik ayahmu, dan serahkan pada orang tersebut tepat jam lima..."
"..."
"Jika kau berniat untuk bermain curang untuk hal ini, aku tidak akan segan-segan membunuh adik bodohmu ini, Akasuna?"
"..."
"Apa kau mengerti apa yang aku katakan?"
Hening. Masih tidak ada jawaban.
Orochimaru mendecih tidak senang.
"Kuanggap kau mengerti, Akasuna. Waktumu tak banyak. Jadi aku peringatkan supaya kau tidak usah mencari cara untuk membebaskan gadis bodoh ini, dengan cara lain diluar dari kau menyerahkan antigen itu dengan sukarela, jika kau tidak ingin nyawa adik kesayanganmu ini melayang dengan sia-sia,"
Dan setelah itu, tanpa menunggu lama iapun memutuskan sambungan ponsel di tangannya dan menonaktifkannya. Terlalu lama berbicara dengan Pein, ia takut pemuda itu melacaknya dengan cara lain.
Kemudian sebuah seringai terpampang kembali di wajahnya.
"Hmm yeah... sebentar lagi aku akan menguasai dunia. Dan sensasi ini sungguh menyenangkan..."
Dan kekehan kesenangnlah yang menjadi penutupnya menyelesaikan rencananya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke mencengkeram erat ponsel di tangannya. Suara Sai barusan seperti petir di siang bolong baginya. Ia merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
Sakura dibawa paksa orang yang bernama Orochimaru? Dan pria itu menghubungi Sai dengan ponsel Sakura? Apa yang dipikirkan tua bangka itu? Bukankah ia sudah pernah mengatakan untuk tidak mengganggu apapun yang ia lakukan?
"Jadi Sasuke, apa kau kenal siapa itu Orochimaru?"
"Tidak,"
Dan tanpa menunggu lama lagi, ia memutuskan sambungan telepon dan melesat pergi meninggalkan sang ibu yang sudah terlelap, meninggalkan kediamannya dengan mobil mewah miliknya.
Tanpa ia sadari di sudut pagar tak jauh dari kediamannya, dua orang sedang mengawasinya dalam sebuah sedan.
"Kenapa kau yakin ia tidak akan menghubungi Orochimaru terlebih dahulu untuk memastikan?"
Salah seorang yang tampak menyalakan mesin mobilnya melirik pemuda di sebelahnya sambil melontarkan pertanyaan tadi.
Sang pemuda. Pein. Pemimpin klan Akasuna. Menatapnya dengan raut datar.
"Karena aku tahu, adikmu itu menyukai Sakura..."
"..."
"Dia akan lakukan apapun tanpa pikir panjang untuk melindungi orang yang dicintainya..."
"..."
"Sama sepertiku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Orochimaru terkejut dengan orang yang berdiri di hadapannya saat ini. Apa tidak salah? Baru empat jam ia menculik Sakura dan pemuda ini sudah mendengar kabarnya dan sampai di hadapannya?
"Bisa kau ulangi kata-katamu barusan?"
"Apa benar kau menculik paksa Sakura?"
"Darimana kau tahu itu?"
"Dimana dia?"
Orochimaru tertegun mendengar kata-kata dingin dan rendah dari Sasuke. Ia menatap serius dan tajam Sasuke.
"Aku tanya dimana dia?!"
Habis sudah kesabaran Sasuke melihat kediaman Orochimaru. Dengan kasarnya ia membentak sang pimpinan. Orochimaru masih dalam posisinya bergeming. Beberapa saat sebelum akhirnya ia menyeringai mengejek.
"Kau tidak menyukai bocah itu kan Sasuke-kun?"
Orochimaru tidak buta untuk mengetahui bagaimana tegangnya Sasuke saat ia mengucapkan kata-kata tadi. Iamenggertakkan giginya.
"Akasuna Pein yang mengatakannya padamu?"
Sasuke mengerutkan alisnya. Apa maksudnya.
"Yang mengetahui bocah itu diculik hanya Akasuna itu..."
Satu kalimat yang membuat Sasuke membulatkan mata mendengarnya. Otak jeniusnya berputar cepat dan mendapati satu fakta.
Sai membohonginya.
Tak!
Dan detik berikutnya, sebuah tembakan yang mengenai Orochimaru membuatnya reflek menundukkan diri dan berguling ke balik meja di di ruangan itu. Sasuke merasa lengannya perih dan mendapati darah merembes di kemejanya. Ia terkena goresan peluru.
Ia tercekat kala irisnya mendapati sang pimpinan terkulai lemas di balik mejanya sambil memegang pundaknya yang mengeluarkan darah dengan jumlah yang banyak. Orochimaru berdecih panik dengan wajah yang berkeringat menahan sakit. Tangannya tampak berusaha meraih dan menekan tombol alarm penyusup dan membuat keributan di detik berikutnya.
Sasuke menoleh ke depan. Orang yang menembaknya adalah penembak jitu. Ia bisa menembak dan mengenai dua orang sekaligus dengan satu peluru. Hanya orang-orang terlatih yang dapat melakukan hal tersebut.
Dan ia hanya membulatkan matanya saat melihat siapa yang berdiri di depannya kini.
Itu Pein.
Akasuna Pein.
Dan di belakang pemuda itu.
Tubuhnya bergetar. Tangannya terkepal. Rahangnya mengeras. Sebersit perasaan yang sempat terkubur karena kehadiran Sakura kini bangkit kembali.
Itachi.
Uchiha Itachi.
Kakaknya.
Kakaknya yang membunuh klannya.
Sedang memegang senapan laras panjang dan mengacungkan ke arah mereka.
Jadi jenius yang menembak mereka adalah Itachi? Ia menggeram tanpa sadar. Ia bahkan tak tahu perkembangan sang kakak yang begitu hebatnya.
Dan onyxnya melihat bagaimana sang kakak dan Akasuna sulung saling berpencar dan menghilang dari penglihatannya, begitu derap langkah mendekat dan menembaki mereka. Ia ingin beranjak mengejarnya sebelum sebuah suara menghentikan tindakannya.
"Sasuke..."
Sasuke menoleh ke sumber suara. Orochimaru.
"Gadis itu, mereka mengincarnya..."
Sasuke masih bergeming dari kebisuannya. Ia terlalu terkejut dengan semua ini dan tak bisa berpikir jernih. Di otaknya hanya ada satu perintah.
Mengejar Itachi.
"Dia ada bersama Kabuto di laboratorium..."
"..."
"Bawa dia. Dia bisa menjadi alatmu untuk membunuh Itachi..."
Tanpa menunggu lagi, sang Uchiha bungsu berlari. Berlari ke tempat yang dikatakan Orochimaru. Meninggalkan sang pemimpin yang menyeringai menatap kepergiannya.
"Kau terlalu jenius untuk dikendalikan, Uchiha..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke berlari. Terus berlari menembus keremangan cahaya markas besar Orochimaru di kota Seoul. Nafasnya memburu. Tatapan matanya sebuas singa. Sebuah handgun tergenggam kokoh di tangannya. Ia benar-benar tidak dapat mengendalikan diri. Satu kalimat yang dilantarkan Orochimaru yang selalu terngiang di kepalanya.
Sakura bisa menjadi alat membunuh Itachi.
Ia kehilangan akal. Ia sudah gelap mata. Kehadiran Itachi bena-benar menguras logikanya. Kini hanya satu tujuannya. Mencari Sakura.
Ia mendobrak masuk ke dalam laboratorium dan hampir terkena tembakan kalau saja ia tidak dengan cepat bergerak menghindar. Satu tatapan maut ia lemparkan pada Kabuto, pelaku penembakan yang kini menatapnya dengan dahi berkeringat penuh ketakutan.
"Apa kau tidak pernah diajarkan perhitungan waktu dalam menembak untuk memastikan musuhmu terlebih dahulu, brengsek?"
Ucapan dingin itu membuat Kabuto sontak menelan ludahnya gugup.
"Maaf Sasuke-kun..."
Tidak berlarut mempermasalahkan hal sepele itu, Sasuke langsung menggulirkan onyxnya pada sebuah tubuh yang tampak sedang merintih dalam tidurnya. Hampir saja Sasuke ditimpa rasa iba pada sang gadis yang kini seluruh tubuhnya dipenuhi lebam dan memar, kalau saja dua peluru dari arah berlawanan mengembalikan seluruh fokusnya.
Kabuto.
Siapa yang satu lagi?
Ia reflek menunduk dan berlari menuju Sakura dan meraih tubuh gadis itu. Ia memeluk Sakura di depan tubuhnya dan berbalik menatap orang yang baru saja menembaknya.
Pein.
Ia berdecih. Sepertinya Kabuto menyadari keberadaan pemuda itu dan mencoba menembaknya. Onyxnya meneliti ke sekeliling pemuda itu. Kemana Itachi?
Ia mengarahkan handgun yang sedari tadi digenggamnya di kepala Sakura yang kini terkulai lemas di pundak kokohnya. Sementara tangan kirinya memeluk erat pinggang sang gadis. Berjaga-jaga dengan ketat agar sang gadis tidak jatuh ke tangan musuhnya.
"Dimana Itachi?"
Dingin.
Pein tidak menjawabnya.
Hanya mengarahkan senjatanya kearah Sasuke sambil menatapnya datar.
"Aku tanya dimana dia?!"
Bentakan itu menggelegar dan masuk ke indera pendengaran Sakura. Sang gadis tersadar dan membuka matanya pelan. Seketika gelombang rasa sakit menyerang kepalanya. Ia mengerang. Dan itu terdengar oleh Sasuke dan Pein. Sasuke meliriknya sebentar sebelum kembali menatap Pein.
"Aku tahu kau datang mencarinya bukan?"
Sakura mendengar suara Sasuke dengan setengah kesadarannya.
"Aku memberikan pilihan padamu..."
Perlahan kesadaran Sakura kembali. Tetapi tidak dengan fisiknya. Ia merasa tubuhnya tak bertulang.
"Bunuh Itachi atau aku akan membunuh gadis ini..."
Dan apa yang baru saja keluar dari mulut Sasuke, seolah menghantam dunia Sakura. Ia terbawa arus keterkejutannya dan terhempas dalam kubangan ketidakpercayaan.
"Tentukan pilihanmu sekarang, Akasuna,"
Apa ini mimpi?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pein berjalan mengendap dengan handgun berperedam di tangannya. Pakaian serba hitam dengan rompi anti peluru yang juga berwarna hitam tersampir di badan tegapnya. Ia memakai sebuah kacamata bening anti peluru di wajahnya tanpa helm pengaman.
Di belakangnya Iatchi dengan penampilan tak jauh beda, tampak mengikutinya. AS60, senapan sniper jebolan Red Clouds tercengkeram kuat di genggaman kedua tangannya.
"Hey– ?!"
Tak!
Pein menoleh cepat ke arah samping saat suara teriakan, tak tersampaikan dengan tuntas karena sang pemilik suara harus meregang nyawa dengan sebutir peluru yang menembus kepalanya. Ia menggulirkan kepalanya menatap Itachi yang kini mulai bergerak untuk menyembunyikan tubuh mayat di sampingnya itu.
Pemuda Uchiha itu baru saja menyelamatkan nyawa Pein dari seorang penjaga yang hampir menembaknya. Itu faktanya.
Pein hanya mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih begitu sang pemuda telah menyelesaikan pekerjaannya.
Itachi seorang penembak jitu dan seorang yang dapat mengendalikan pikiran seseorang dengan kata-katanya. Itulah mengapa ia meilih pemuda itu bersamanya.
"Ada apa?"
Sebuah suara dari wirelessnya terdengar menggetarkan gendang telinganya. Itu suara Sasori.
"Hn, hanya masalah kecil."
Sebuah jawaban singkat yang menjadi gambaran atas keadaannya saat ini.
Mereka terus bergerak pelan menembus keheningan gedung besar yang diketahuinya adalah markas Orochimaru setelah mengikuti Sasuke sedari tadi. Pein menatap kamera CCTV yang tampak bergerak otomatis untuk memastikan keadaan di sekitarnya memang aman. Pein menoleh menatap Itachi dan mengangguk.
Ia melangkah pelan berlawanan dengan gerakan kamera yang membuat dirinya tidak terekam alat perekam itu. Di belakangnya Itachi mengikuti. Mereka harus melewati beberapa CCTV yang sama untuk sampai di sebuah belokan yang tampaknya menghubungkan ke sebuah ruangan. Setelah merasa aman dari intaian CCTV, Pein kemudian mengintip dari balik dinding yang menyembunyikan tubuhnya dari dua orang bertubuh kekar yang tampak berjaga di ruangan super ketat itu. Bahkan ada beberapa CCTV lagi di daerah sekitarnya.
Pein mengerutkan dahinya. Sedikit kesal mungkin. Seperti menurut perkiraan Itachi, ruangan sistem keamanan pasti dijaga ketat.
Ya, ruangan sistem keamanan.
Tujuan mereka saat ini.
Ia menoleh menatap datar pada Itachi seolah minta pendapat. Mengerti arti tatapannya, Itachi kemudian mengangguk.
Ia merendahkan tubuhnya. Merebahkannya hingga menyentuh lantai. Mengambil posisi ternyaman untuk benar-benar menganalisis target. Ia meletakkan senapan beserta dudukannya di atas lantai dan mulai berkonsentrasi. Otak jeniusnya bekerja keras.
Ia melihat kamera yang terus berputar dengan kecepatan yang konstan. Lebih lambat dari kamera CCTV sebelumnya. Ia memperkirakan seberapa cepat ia harus menembak dan berlari untuk menyingkirkan mayat penjaga itu di saat posisi kamera tidak sedang mengarah pada mereka.
Dan dapat.
Ia mengetahui jawabannya. Tinggal menunggu moment selanjutnya.
Ia menoleh pada Pein dan mengangguk. Seperti mempunyai kontak batin yang kuat, Pein mengerti semua cara berpikir pemuda Uchiha itu dari segala tidak tanduk yang ia lakukan sedari tadi. Dan sag pemudapun kembali berkonsentrasi.
Tak!
Tak!
Dua kali tembakan tepat sasaran di saat kamera menatap arah seratus delapan puluh derajat berlawanan dengan kedua mayat yang kini tergeletak tak berdaya itu. Sepuluh detik. Sepuluh detik waktu yang di butuhkan Itachi dan Pein untuk membereskan kedua mayat itu sebelum kamera itu mengarah ke arah mereka.
Dan secepat kilat mereka berlari ke arah kedua mayat itu dan meringkasnya di belakang pot-pot besar yang ada di depan ruangan itu. Mereka sendiri bersembunyi bersama mayat-mayat tersebut. Lima detik kemudian hingga akhirnya kamera itu berada dalam sudut sembilan puluh derajat dari posisi mereka.
Pein dan Itachi keluar dari persembunyiannya dan kembali menyelinap masuk ke dalam ruangan.
Tak!
Tak!
Tak!
Tak!
Tak!
Lima orang yang bertugas meregang nyawa sebelum sempat menyuarakan kekagetan mereka atas kehadiran mereka. Dengan wajah dingin dan datar Pein menatap kelima mayat yang terbujur kaku sebelum kemudian menekan tombol wireless di lehernya untuk berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Aku sudah di ruangan sistem kendali keamanan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucapnya dingin.
"Senpai keren sekali, sugoi!"
Tobi. Di seberang sana, pemuda itu berteriak-teriak tidak jelas. Pemuda dengan segala kecerdasannya di dunia programmer, adalah hacker andalan Red Clouds. Memanipulasi dan merampok data, membuat worm pelumpuh jaringan, mengambil kendali alat-alat elektronik pengguna jasa internet adalah keahliannya.
"Berisik kau Tobi. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tidak usah berlebihan!"
Kata-kata ketus yang sudah pasti berasal dari Deidara membuat pemuda kekanakan itu menggerutu kesal.
"Baik senpai. Sekarang masuklah ke dalam sistem keamanan mereka, dan masukan kode worm yang aku sebutkan..."
Setelah memberi intruksi yang langsung dilakukan oleh Pein, Tobi langsung menyebutkan kode worm. Untuk beberapa detik layar komputer menampilkan proses loading, yang berakhir dengan sukses akses. Pein tersenyum tipis melihatnya.
"Oke Senpai. Setelah ini kalian bisa bebas berjalan. Akulah pemegang kendali sistem keamanan. Dan..."
"Dimana Sakura?"
Kalimat Tobi terpotong oleh pertanyaan dingin dari Pein. Tidak ada bantahan atau jawaban dari seberang sana untuk beberapa saat, sebelum akhirnya suara Tobi kembali terdengar.
"Senpai, aku belum menemukan Sakura, di gedung ini terlalu banyak ruangan. Tapi aku menemukan Sasuke di ruangan dua koridor dari ruang sistem kendali keamanan..."
"Hn, terus cari Sakura. Aku akan ke tempat yang kau bicarakan,"
Dan tanpa menunggu Pein berlari keluar ruangan menuju ke tempat yang dikatakan Tobi. Dan benar saja, ia mendengar suara yang membuatnya menghentikan langkahnya mendadak.
"Aku tanya dimana dia?!"
Itu suara Sasuke. Pein melirik Itachi di sebelahnya yang tampak datar-datar saja mendengar suara adiknya.
"Kau tidak menyukai bocah itu kan Sasuke-kun?"
Terdengar suara sebagai jawaban atas bentakan sang Uchiha muda. Pein dapat melihat tubuh Sasuke yang menegang karena pertanyaan sang pria. Sudah tertebak apa jawabannya
"Akasuna Pein yang mengatakannya padamu?"
Pein merasa hampir saatnya ia bergerak. Orochimaru sudah menyebutkan namanya. Ini berarti kebohongannya melalui Sai akan terbongkar. Ia menoleh menatap Itachi memberi kode. Sang pemuda hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Yang mengetahui bocah itu diculik hanya Akasuna itu..."
Ini saatnya.
Pein maju menampakkan dirinya. Ia mengancungkan handgunnya untuk berjaga-jaga. Sementara di belakangnya Itachi sudah dalam posisi membidikkan senapannya.
Tak!
Ia masih dapat melihat raut terkejut di wajah Orochimaru dan Sasuke yang berguling untuk mencari perlindungan. Orochimaru yang tampak kesakitan juga tak mau ketinggalan bersembunyi di balik meja kerjanya. Hanya beberapa detik sebelum bunyi alarm bergema menyipitkan mata Pein.
Sepertinya alarm yang di bunyikan Orochimaru sebagai tanda bahaya.
"Berpencar!"
Ucapan lirih yang tegas itu dibalas dengan anggukan oleh Itachi. Mereka memisahkan diri. Meninggalkan Sasuke yang kini berlari meninggalkan ruangan setelah mendengar kata-kata Orochimaru.
Berusaha berkelit, menembak dan memukul. Pein menendang pemuda di hadapannya dan menembak kepalanya. Menangkis serangan pria berikutnya dan mematahkan kepalanya.
"Pein-senpai! Sakura berada di ruangan bertuliskan Laboratorium Pusat dan Sasuke tengah menuju ke sana!"
Teriakan yang mengganggu konsentrasi bertarung Pein dan membuatnya terhuyung akibat tendangan lawan. Pein membenarkan posisinya lagi dan maju menangkis dan menyerang lawan. Mengunci gerakan pria bertubuh tegap di depannya dan memelintir kepalanya. Ia kemudian langsung menembaki beberapa orang yang berlari ke arahnya dengan senjata di tangannya. Semua mati hanya dalam waktu beberapa detik.
"Aku akan kesana setelah mengurus di sini,"
Itu suara Itachi.
"Hn,"
Jawaban singkat dari Pein sebelum kemudian ia berlari penuh dengan raut kerasnya. Ini pertama kali ia terjun langsung setelah sekian lama berada di organisasinya. Semua demi Sakura. Demi adiknya. Hatinya sudah kebas dengan semua yang terjadi di masa lalunya. Dan jika satu-satunya orang yang membuatnya bertahan hidup pergi meninggalkannya, ia tidak tahu lagi dengan apa ia akan bertahan hidup. Karenanya hanya ada dua pilihannya untuk saat ini.
Mati bersama Sakura atau membawa adiknya pulang hidup-hidup.
Dan tentu saja pilihan pertama bukanlah tujuannya.
"Setelah senpai bertemu persimpangan, ambil koridor kiri. Ruangan di ujung koridor itu adalah laboratorium pusat yang dimaksud Orochimaru-senpai..."
Suara Tobi dari wireless kembali terdengar di telinganya.
Dan saat fokusnya kembali menguasainya, di sinilah ia berada.
Laboratorium pusat.
Seperti yang telah dikatakan Tobi.
Dengan was-was ia mempersiapkan posisi siaganya dan menyelinap masuk tanpa suara. Dan hal pertama yang ia lihat adalah punggung seorang pemuda. Punggung pemuda yang baru saja tadi di tembak Itachi.
Sasuke.
"Apa kau tidak pernah diajarkan perhitungan waktu dalam menembak untuk memastikan musuhmu terlebih dahulu, brengsek?"
Ucapan dingin itu tertuju pada pemuda berwajah pucat tegang di hadapannya. Sepertinya sang pemuda salah tembak.
"Maaf Sasuke-kun..."
Tidak mau terlalu lama menunggu, Pein kemudian keluar dari persembunyiannya dan mencoba menembak Sasuke. Namun usahanya gagal saat fokusnya beralih menatap pemuda berambut perak di depan Sasuke, yang menyadari eksistensinya. Dan targetpun berganti. Pein mengarahkan senjatanya ke arah pemuda berkacamata itu dan menembaknya.
Meleset.
Dari sudut matanya ia melihat Sasuke menunduk dan berlari menuju Sakura dan meraih tubuh adiknya itu. Ia memeluk Sakura di depan tubuhnya dan berbalik menatap ke arah dirinya.
Pein sedikit terganggu melihat pemandangan Sakura yang terkulai lemas di pelukan pemuda itu. Terlihat jelas lebam dan luka memar di beberapa bagian tubuhnya.
Mereka saling mengacungkan senjata.
"Dimana Itachi?"
Satu pertanyaan dingin terlontar dari mulut Sasuke.
Pein tidak menjawabnya.
Hanya mengarahkan senjatanya kearah Sasuke sambil menatapnya datar. Berusaha mencari celah untuk menyelamatkan Sakura.
"Aku tanya dimana dia?!"
Bentakan itu menggelegar sepertinya mengganggu pendengaran Sakura. Ia mendengar gadis pink itu mengerang tertahan. Seperti menahan rasa sakit. Sama seperti Sasuke, iapun melirik gadis itu untuk sesaat.
"Aku tahu kau datang mencarinya bukan?"
Pein tetap dalam kendali poker facenya saat ia melihat Sasuke mengarahkan handgun yang sedari tadi digenggamnya ke kepala Sakura.
Tanpa ia dan Sasuke ketahui. Gadis dalam pelukan sang Uchiha bungsu kini perlahan kesadarannya telah kembali.
"Aku memberikan pilihan padamu..."
Walau ia merasa tubuhnya tak bertulang, Sakura masih mampu mengerti setiap kata yang masuk ke indera pendengarannya. Ia masih mampu mengenali suara-suara yang ada bersamanya saat ini.
"Bunuh Itachi atau aku akan membunuh gadis ini..."
Dan apa yang baru saja keluar dari mulut Sasuke, seolah menghantam dunia Sakura. Ia terbawa arus keterkejutannya dan terhempas dalam kubangan ketidakpercayaan. Apa itu benar-benar keluar dari mulut seorang Uchiha Sasuke?
"Pein– !"
Di seberang sana Sasori yang mendengar percakapan mereka sontak memanggil Pein dengan nada rendah. Seolah mengancam kakaknya itu untuk tidak melakukan hal-hal aneh yang membahayakan nyawa Sakura.
Sementara di seberang yang lain, Itachi menghentikan langkahnya mendengar kalimat Sasuke barusan. Hanya berdiri. Menunggu jawaban dari Pein. Ia tersenyum tipis. Seperti menunggu dewa kematian memutuskan nyawanya saja.
"Tentukan pilihanmu sekarang, Akasuna,"
Pein menatapnya dalam diam dan menurunkan senjatanya perlahan. Otak jeniusnya berpikir keras. Dan ia menemukan satu fakta yang membuatnya menarik satu sudut sudut bibirnya sangat tipis.
"Kau ingin aku memilih?"
Sasuke hanya diam. Diam menunggu jawaban pemuda di hadapannya itu.
"Tujuanku sebenarnya ke sini adalah untuk membunuh saksi yang mengetahui keberadaan antigen Deoxclon..."
Sasuke menyipitkan matanya menatap Pein yang kini membalikkan tubuhnya, memunggunginya.
"Sakura adalah saksi itu. Jika kau ingin membunuhnya silahkan saja..."
Sakura melebarkan pupilnya syok mendengar ucapan Pein. Ia tidak mengerti maksud dari saksi, tapi ia tidak sebodoh itu sampai tak mengerti kalau Pein membiarkannya terbunuh. Tubuhnya bergetar tanpa sadar. Airmatanya sudah tak mampu lagi terbendung.
"Pein!"
Habis sudah kesabaran Sasori. Ia membentak Pein penuh kemarahan. Di seberang yang lain, Itachi tercekat dengan apa yang dikatakan Pein. Emosi seketika membuncah di hatinya. Apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda itu? Ia lebih baik memilih mati daripada melihat Sakura yang mati di hadapannya.
Dan hanya berlari yang akhirnya dapat ia lakukan. Berlari dan terus berlari. Menuju ke tempat yang diketahunya adalah tempat Pein berada. Mengabaikan segala rasa aneh yang menjalar di tubuhnya.
"Aku memilih Itachi..."
Sasuke menatap Pein penuh keterkejutan. Apa ia tidak salah dengar?
Dan kalimat selanjutnya dari sang kakak membuat dunia Sakura hancur seketika.
"Dia lebih berguna daripada gadis tidak berdaya yang hampir mati itu..."
.
.
.
TBC
.
.
.
Mampus! Endingnya gak ngenakin banget! Khakhakha...
Chapter kemaren aku sudah sempet ngejawab repiu tentang bertemunya itachi dan sasuke kan? nih mereka dah ketemu. Tapi belum interaksi. Sebenernya aku mau ngelanjuti sampe interaksi mereka, tapi apa daya mata udah lima watt khakha...
Oke bales repiu dulu...
Guest, Sakura maniak pink, mitsuki-chan, guest, omiie uchiharuno,rie haruchi, yuukaharu, guest, santidwimw, natalyredcherry,sakura lover, applesku, fuzi, hanazono yuri, hoshiema 19, blackhead394, pucherry, , , haruno cherry, sakura's lover, iwahashi hani, angodess, kilua akasuna : makasih udah mau baca, seneng, dan repiu...makasih juga yang ngasih semangat buat aku untuk sidang...sidang saya lancar hehe...ni udah lanjut loh...
Kei : selamat permintaan kamu terkabul...aku lagi kena sindrom itasaku...lagi baper nih hihihi...
Matteru : Tuhan, akhirnya ada juga yang mengatakan aku ini author yang suka gantungin pembacanya...hiks...kukira Cuma perasaanku aja...khakha #plak#
: oke fix koment kamu yang super banyak bikin aku jadi merasa bersalah dan ngebut semalam suntuk buat nyelesein capter ini. ini udah lanjut. Tapi maap...gaasakunya enggak nongol hehe...
Berry uchiha : makasih doanya...sidang saya berjalan lancar kok...dan makasih udah mau suka fic ini...
Bluepink cherrytomato : mampus gue baca repiu kamu...khakhakha...just kidd...ini udah lanjut... makasih udah mau baca, seneng, dan merepiu fic gaje ini...
: dia kykny gak bisa panik hihi... makasih dah mau repiu...
Hanya seseorang : tengs ya udah mau repiu...masukan km nnt aq pikir2 dulu yah hihi...
Guest : seneng klo km suka...aku gak berani buwat cerita 18+...takut digorok emak #plak#
Akai hasu : sebenernya sih mau buwat sampe itachi ngobrol-ngobrol sambil ngopi gitu sama sasu...apa daya mata tak kuat khakha... makasih doanya yah...met baca...
Ichi natsumi : seneng kalo kamu seneng...met baca lagi...
Guest : moga capter ni bisa memuskan permintaan kamu ya? #walau dikit doang sih#
Ichachan21 : kilaf saya buwat deisaku khakha...ini udah next yah? Met baca...
Luca marvel : moga capter ini menjawab pertanyaan kamu yah?
S4kur4 : moga dicapter ni kamu puas... met baca...tengs dah mau repiu...
Evjnrs, sakuraHimeExo : no no...saya paling anti dengan yang namanya inces, yaoi, dan yuri. So plis jangan minta saya buat fic yang aneh2 yah? Hiks...
Hana : no no, ini udah sesuai sekripnya sayang...yoyo gak pernah sekalipun merubah jalan cerita sesuai permintaan pembaca...oke? ni udah apdet...met baca yah?
Baekhyunsaranghaeheni : wadoooohhhh! Saya penulis khusus pecinta sakura sayang hahaha...belum mikir buat yang lain... gak papa...kamu nulis namanya tanpa spasi jadinya aku gagal paham hehe...
Eunike yuen : lama juga gak liat kamu wkwk#plak# kalo soal itu mungkin next-next yah penjelasannya...saya Cuma jelaskan singkat di chapter ni...
Azurashi, hanya nara : gaasaku next2 yah...chapter ni gaarany gk nongol...hehe
Azakayana yume : haha...makasih doany...sidangny lancar kok...maaf ya agak lama apdet, yoyo msh ngurus pemberkasan dan wisuda...met bc moga km seneng capter ni...
Intanm : seneng kalo kamu seneng... met baca...
Puput putri : moga capter ni kamu suka...
Aunara : mampus minta pin khakha...pin saya ada di profil tengok gih sono...klo minta di sini saya gak apal #plak#
Mysterious girl : sasusaku ada sih...moga kamu suka capter ni...
Crystal sheen : capter ini ada sasusakunya sih...moga kamu suka... pertanyaanmu bakal kejawab capter depan...
Nelvacs9b : mungkin pertanyaanmu akan kejawab di chapter depan...
Changeling aii : hmm, entahlah...khakhakha #gaje# moga kamu suka capter ni...
Okelah...maaf kalo adala yang gak dibales repiunya...saya balesnya acak sih...semrawut...
Dan mohon maaf kalo kesannya capter ini terlalu cepet jalan ceritanya dan yoyo ga terlalu negbahas tentang deidara ma gaara. Intinya rencana mereka buat mancing gaara lagi gatot lah gegara dei gitu...
Minggu depan adalah bagian itasasu time...mereka bakalan interaksi satu sama lain. So jangan kemana-mana terus pantengin layar ponsel kalian di canel ffn...khakha...
oh ya makasih ya atas doa dan dukungannya, yoyo udah jadi sarjana nih... udah maw wisuda besok desember...makasih ya #peluk satu satu#
Oke cukup sekian...kita lanjut capter depan...see u...
Kritik dan saran ditampung yah?
