Tidak seperti keinginan pertamanya yang akan mengantar Baekhyun pergi ke Daegu, Chanyeol justru membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat karena merasa sesuatu yang mengerikan terjadi pada rusuknya.

Baekhyun tidak terlihat protes alih-alih ia masih berusaha menghilangkan sisa tangisannya dengan sesugukan kecil di sudut kursi penumpang. Kalau saja Chanyeol tidak sedang kesakitan, atau seandainya berada di moment yang tepat, ia akan berpikir Baekhyun sangat lucu dengan keadaan seperti itu. Seperti anak anjing yang kehilangan induknya.

Apa dia begitu merasa terpukul mengetahui tentang ayahnya?

Chanyeol tidak berani bertanya apapun karena ia tahu kapan waktunya harus tutup mulut, sedangkan lelaki kecil itu sendiri tidak ada keinginan untuk memulai sebuah obrolan. Ia lebih tertarik memandangi Gangnam dari balik jendela mobil sambil sesugukan. Larut dalam kesunyian yang tidak menyenangkan, Chanyeol memutar stirnya ketika telah memasuki pelataran Wooridul Spine menuju basement.

Ia menatap Baekhyun untuk mencari perhatian anak itu. "Kau bisa menunggu disini saja jika tidak ingin masuk ke dalam." Katanya sebelum melepas set belt-nya.

"Aku ikut." Baekhyun dengan suaranya yang parau juga melepas set belt-nya, tidak mengindahkan Chanyeol yang serta merta menatapnya sembari menyunggingkan senyum tipis.

Tidak ada yang membuat Chanyeol lebih bahagia dari ini, ia jalan berdampingan dengan pujaan hatinya —walau wajahnya sendiri tengah meringis menahan sakit dan wajah sembab Baekhyun tidak enak dipandang mata— memasuki rumah sakit. Meskipun tempat ini terdengar lucu untuk dikatakan tempat kencan mereka, terlepas ini adalah rumah sakit yang notabene-nya tempat yang tidak ingin dikunjungi siapapun karena, hei, siapa yang ingin sakit? Tapi Chanyeol masih bersyukur. Secara tidak langsung ia menganggap bahwa ia sedang berkencan dengan Baekhyun. Orang waras pasti berpendapat itu tempat kencan teraneh yang pernah mereka dengar, namun Chanyeol tidak peduli.

Asalkan itu Baekhyun, ia tidak peduli dengan yang lain.

Setelah mengisi formulir dan ditanyai perihal riwayat penyakit oleh beberapa perawat di kursi Resepsionis, mereka diminta untuk menunggu Dokter di ruangan Radiologi untuk melakukan Medical Rontgen. "Dokter Hwang masih ada pasien, MCU selesai beberapa menit lagi." Sang perawat memberikan beberapa surat pemeriksaan kepada Chanyeol sebelum ia membungkuk formal dan kembali bertugas.

Di depan pintu masuk ruangan, Baekhyun melihat ke dalam ruangan lain yang ada disana, dimana terdapat Dokter yang akan menangani Chanyeol sedang melakukan perawatan intensif dengan seorang pasien penderita stroke yang kaki dan tangannya sulit digerakkan. Baekhyun tanpa sadar tersenyum, melihat betapa sabar sang Dokter wanita tersebut memberikan beberapa intruksi kepada si pasien untuk menggerakkan beberapa organ tubuhnya.

Melihat Dokter wanita itu, Baekhyun jadi teringat pada ibunya.

"Baek?" Yang dipanggil namanya segera menoleh kearah Chanyeol yang masih berdiri menunggunya di ambang pintu ruangan Radiologi.

"Ayo masuk." Baekhyun menuntun pria tinggi itu, bagaimanapun juga ia tetap merasa bersalah karena apa yang terjadi pada rusuk Chanyeol adalah hasil perbuatannya. Meskipun tidak menampik kenyataan bahwa Chanyeol pantas mendapatkan itu, tapi Baekhyun tidak ingin berlebihan dan kekanakkan.

Seperti yang dikatakan oleh perawat tadi, MCU tidak akan berjalan lama karena sang Dokter sudah memasuki ruangan mereka. Eyesmile-nya terlihat cantik seperti milik Baekhyun ketika Dokter itu tersenyum menyapa mereka. Sebelumnya Baekhyun sempat berekspektasi wujud Dokter yang akan memeriksa Chanyeol akan berpostur tinggi besar dengan wajah yang dapat membuat anak kecil terkencing di celana. Namun apa yang dilihatnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan ekspektasinya, Dokter itu cantik karena ia lebih banyak tersenyum, sepertinya ia sangat memanfaatkan eyesmile-nya yang bagus itu. Dan kalau dilihat-lihat, Dokter Hwang merupakan jenis Dokter yang akan memberikan lollipop atau ice cream jika bertemu dengan anak kecil alih-alih membuat mereka terkencing di celana. Ringkasnya, Dokter ini orang yang menyenangkan.

"Sudah lama menunggu ya?" Tanyanya memandangi Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian.

"Tidak juga. Kami baru sampai, noona."

Baekhyun terdiam mencoba mencerna adegan di depannya saat ini, bahkan keduanya tidak berbicara formal seperti yang seharusnya dilakukan oleh Dokter dan pasien. Mereka terlihat akrab.

Dokter itu mengamati surat pemeriksaan berupa hasil elektrokardiografi yang diberikan perawat tadi pada Chanyeol setelah memeriksa aktivitas jantung pria tinggi itu dan surat rujukan untuk ronsen. "Baiklah, sekarang lepas bajumu dan kenakan seragam ronsen lalu berbaring diatas brangkar."

Baekhyun seketika kelabakan mendengar Dokter wanita itu menyuruh Chanyeol melepas bajunya sementara sang Dokter mempersiapkan beberapa peralatan yang akan ia gunakan untuk ronsen. Aduh, bagaimana ini. Ia tidak sempat melakukan kesibukan apapun ketika Chanyeol mulai melepas jas kerjanya, Baekhyun berusaha terlihat wajar sebelum akhirnya ia hilang kewarasan saat Chanyeol melepas kemeja linennya. Baekhyun secara refleks berbalik dan demi Tuhan ia mendengar kekehan dari Dokter wanita itu.

"Chanyeol, apa dia kekasihmu?" Tanya Dokter itu menggodanya. "Dia cantik juga ya, tapi aku lebih cantik hahaha." Katanya kepedean.

Shit! Baekhyun mengumpat dalam hati karena kelihatan sangat kikuk.

"Aku Tiffany, Dokter pribadi keluarga Park. Jangan canggung begitu, santai saja."

Baekhyun tersenyum kecut masih tidak tahu harus berbuat apa. Ia berbalik untuk sekedar menjabat tangan wanita itu sembari bergumam tidak jelas menyebutkan namanya. "Byun..Baekhyun."

"Noona, aku sudah selesai."

Oh Tuhan, Akhirnya! Baekhyun bersorak. Ia tidak harus melihat Chanyeol bertelanjang dada lagi atau detak jantungnya yang keras akan ketahuan. Tapi secepat itu juga ia dibuat sweatdrop ketika melihat pria tinggi itu diatas brangkar.

"Selesai apanya? Kau belum memakai seragam ronsenmu, Chanyeol-ah."

Baekhyun bersumpah bahwa barusan ia melihat pria tinggi itu menatap intens padanya dalam keadaan tidak memakai atasan sama sekali. Shit! Shit! Shit! Baekhyun merutuki Chanyeol yang berani-beraninya mengumbar tubuhnya sembarangan, bahkan dihadapan seorang Dokter wanita.

Jangan bodoh, Baekhyun. Dokter bahkan sudah melihat puluhan tubuh yang bertelanjang.

"Tidak usah, biarkan seperti ini saja." Kata Chanyeol keras kepala. Baekhyun mengumpat macam-macam merasa Chanyeol sedang mengerjainya.

"Baiklah, baiklah. Kalau pipi kekasihmu terbakar kau yang harus bertanggung jawab. Aku tidak melihatnya sedang baik-baik saja berdiri disana." Dokter itu sengaja menyindir Baekhyun setelah melihat gelagatnya yang aneh. Baekhyun yang merasa tersindir serta merta segera berjalan menuju pintu keluar.

"Aku menunggu di luar saja." Baekhyun memutuskan untuk tidak memperpanjang kecanggungannya di dalam ruangan itu.

Menunggu yang dimaksud olehnya benar-benar menunggu dalam artian berada di luar ruangan hingga ia hampir mati bosan. Ia tidak mengenali beberapa wajah baru yang dilihatnya hari ini, tapi dengan memandangi setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya sedikit banyak membuat Baekhyun mulai rileks dan kantung matanya terasa semakin berat, hingga akhirnya ia jatuh tertidur di kursi tunggu.

Rasanya seperti ia sedang berada di Wonderland ketika seseorang mengangkat tubuhnya. Baekhyun terlalu mengantuk hingga ia tidak membuka matanya saat tubuhnya terasa didudukan pada sebuah kursi, kali ini kursinya lebih empuk. Tanpa harus membuka matanya Baekhyun sudah mengetahui siapa orang itu dari bau tubuhnya yang khas. Maskulin bercampur dengan aroma keringat, baunya sangat jantan.

Sesuatu menempel di bibirnya, sesuatu yang lembut dan penuh. Untuk beberapa detik Baekhyun menahan nafasnya. Tidak mengerti harus merespon bagaimana. Hatinya menginginkan hal itu dilanjutkan karena ia sangat merindukan pria ini. Namun otaknya berkata lain, otaknya menyuruhnya untuk segera membuka matanya agar pria itu tidak bertindak lebih jauh. Hingga benda lembut tersebut dapat ia rasakan bergerak ringan diatas bibirnya, Baekhyun tidak melakukan apapun selain merasakan darahnya mendidih pada pembuluh nadinya. Ia meledak mengetahui betapa ia ingin membalas perlakuan pria itu. Namun ia tetap diam, mengantisipasi apalagi yang akan dilakukan pria tersebut padanya.

Gerakan di bibirnya berubah menjadi sebuah lumatan kecil yang melelehkan kakinya hingga terasa seperti jelly, Baekhyun juga dapat merasakan pipinya memanas. Ia yakin pria itu melihat semburat merah di kedua pipinya, tidak ada orang yang sedang tidur sambil merona.

Mengetahui Baekhyun tidak sepenuhnya tertidur dan tidak menolak ciumannya membuat Chanyeol bertindak semakin berani. Ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan dari lelaki kecil itu, tapi ia terlalu merindukan Baekhyun hingga membuat hormonnya meledak saat melihat lelaki kecil itu tertidur di dalam mobilnya dan merasa tergoda untuk mendekatinya. Yang namanya lelaki dewasa telah dikuasai oleh apa yang orang sebut sebagai hasrat, tentu saja logikanya sulit untuk dikendalikan. Chanyeol berusaha sekuatnya untuk tidak berbuat macam-macam. Ia ingin mengenal batas untuk kali ini saja. Tapi sayangnya, itu hanya sebuah keinginan yang sepihak. Ia terlalu larut mencumbu lelaki kecil tersebut dan semakin memojokannya pada pintu mobil.

Chanyeol tidak menyadari kapan mata Baekhyun terbuka dan sejak kapan lelaki itu melingkarkan lengannya di sekitar bahu dan lehernya, entah Baekhyun juga tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya. Karena ketika gerakan Chanyeol semakin menuntut, ia membalasnya dengan tak kalah ekspresif hingga meremas rambut pria tinggi itu. Baekhyun membuka sedikit kakinya menyambut Chanyeol agar semakin menyatu dengannya.

Chanyeol secara naluriah menekan auto-lock pada kursi Baekhyun agar sedikit turun dan dapat membuat lelaki kecil itu terlentang di bawahnya. Ia menindih tubuh itu namun tidak mengerahkan semua berat badannya pada Baekhyun, ia mengurung Baekhyun diantara kedua lengan kokohnya dan menyerang bibir tipis itu sekali lagi.

Mereka terengah-engah dan kegerahan, namun rasanya menyenangkan. Chanyeol membenamkan wajahnya di leher Baekhyun membuat lelaki itu menggeliat. Mereka hanya saling menempel satu sama lain dalam keadaan masih berpakaian, namun sensasinya dapat melumpuhkan hampir seluruh saraf keduanya.

Chanyeol menghisap leher Baekhyun dengan kuat, ia dapat mendengar lenguhan putus asa mengalun indah dari bibir lelaki kecil tersebut dan merasakan bahunya diremas dengan kencang. Ketika ia akan mengelus bagian dalam dari paha Baekhyun, ponselnya berbunyi.

"Damn!" Chanyeol menggeram dan menggigit area selangka Baekhyun tanpa sadar, Dasar sial, makinya kesal pada siapapun yang menelponnya pada moment tidak tepat seperti ini.

"Chann..." Baekhyun mendorong dada pria tinggi tersebut yang masih betah menindihnya, entahlah, Baekhyun merasa kewarasannya sudah kembali. Meskipun tidak sepenuhnya.

Chanyeol yang merasa semuanya sudah kacau segera beranjak dari atas tubuh Baekhyun untuk meraih ponselnya di dalam saku dan melihat keparat mana yang sudah mengganggu moment indahnya.

"Berengsek kau Kris! Aku tidak akan membiarkanmu kali ini, sialan!"

Dan acara ke Daegu mereka juga gagal total, karena Baekhyun minta diantarkan pulang ke rumahnya saja.

.

.

.

Sejauh Chanyeol dapat mengingat apa yang belakangan sudah terjadi, disitu ia menemukan bahwa, jika ia ingin memiliki apa yang belum pernah dimilikinya maka ia harus melakukan apa yang belum pernah dilakukannya. Ketika ia mempunyai banyak keinginan maka ia akan melibatkan banyak tindakan.

Chanyeol selalu hidup dari prinsip-prinsipnya.

Ia percaya hidup itu seperti piano, hitam dan putih. Tapi ia juga percaya bahwa manusia itu abu-abu, tidak ada yang benar-benar putih dan tidak ada yang benar-benar hitam.

Dan ketika Chanyeol berada di penghujung harinya, ia akan mulai menyesali beberapa kesempatan yang tidak ia ambil. Termasuk memenangkan hati Baekhyun.

Mungkin Baekhyun sudah memberinya julukan 'berengsek' untuk apa yang dilakukannya pada lelaki kecil itu. Dan sejujurnya Chanyeol tidak keberatan. Ia memang berengsek. Menginginkan Baekhyun bukan berarti ia boleh bertindak sesukanya pada Baekhyun, Chanyeol seharusnya tahu batasan-batasan apa yang tidak boleh ia lewati. Meski ragu tapi harus Chanyeol akui bahwa penyesalan memang selalu datang belakangan.

Siang ini setelah mengantarkan Baekhyun pulang dalam keadaan kaku di mobil, Chanyeol tidak berani bertindak menghubungi anak itu lebih dulu karena rasa bersalah dalam dirinya. Ia hanya menatap ponsel pintarnya diatas nakas, sekali-kali mengintip apakah Baekhyun mengirim pesan untuknya. Namun Chanyeol harus menelan kecewa karena yang ditemukannya justru pesan-pesan tidak penting dari operator. Gila.

Setelah ia turun ke bawah untuk minum, ia segera berlari kembali ke kamarnya berharap Baekhyun sudah mengiriminya sesuatu, pesan singkat sekalipun.

"Aarrgh!" Tapi lagi-lagi Chanyeol hanya menemukan ponselnya mendapat pemberitahuan layanan jasa dari operator Line. Ia membanting ponselnya keatas ranjang, lalu mengecek apakah ponselnya mati. Tidak lucu kalau benda itu mati, bagaimana jika Baekhyun tiba-tiba menelponnya?

Chanyeol mengusap pelipisnya merasa yang barusan itu sangat idiot.

"Kau baik-baik saja?" Itu suara ibunya yang baru saja mengintip dari balik pintu kamarnya. "Kau berteriak keras sekali."

"Ah.. Benarkah? aku tidak sadar melakukannya." Chanyeol menggaruk lehernya. Pasti itu sangat memalukan pikirnya.

"Turunlah, kita makan malam di bawah."

"Sebentar lagi aku turun."

"Jangan lewatkan makan malammu lagi kali ini."

"Baiklah."

Lama bermenung setelah ibunya pergi ke lantai bawah, ia jadi ingat pada teori seorang Kris—keparat—Wu saat Chanyeol pertama kali kembali ke Korea beberapa bulan yang lalu, lelaki pirang itu mengatakan dengan wajah tidak tertarik seperti 'You can do anything, but not everything' ketika Chanyeol masih bersikap seolah-olah ia bekerja tapi tidak membutuhkan uang.

Dan sejak saat itu Chanyeol berpikir, terkadang seseorang menciptakan kesan dinamis dengan mengatakan sesuatu, dan terkadang seseorang menciptakan kesan yang signifikan dengan hanya tetap diam. Chanyeol menjadi bingung sendiri dengan jalan pikirannya. Ia terlalu suka menebak-nebak sesuatu yang bahkan tidak rasional. Seperti menebak siapa itu Baekhyun.

Semua yang berhubungan dengan Baekhyun membuatnya pusing sendiri. Dan letak tidak rasional pikirannya adalah ia sempat mengira Baekhyun memiliki semacam kepribadian ganda. Itu tidak masuk akal, oke?

Ponselnya bergetar, Chanyeol segera menariknya berpikir bahwa itu Baekhyun yang sedang meneleponnya. Namun Chanyeol harus menelan kecewa untuk yang kesekian kalinya, karena nama yang tertera disana justru 'Fucking Bastard Kris' sangat mustahil jika Baekhyun meneleponnya pertama kali, seharusnya Chanyeol tahu itu.

"Apalagi?" Dia menjawab malas-malasan masih merasa kesal mengingat kejadian di mobil siang tadi.

"Santai bung, aku benar-benar tidak tahu bahwa kalian sedang —yeah, kau terlalu cepat bertindak kau tahu? Tapi bagaimana dengan pesta di Club malam ini?"

"Aku tidak mengerti kenapa kau mendadak ingin pergi kesana."

"Sudahlah datang saja, jam sembilan. Kami tunggu."

Sambungan sudah terputus bahkan sebelum Chanyeol mendapat kesempatan untuk menjawab. Selalu saja memerintah. Ia memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum turun ke bawah dan makan malam bersama keluarganya hingga menunggu pukul sembilan.

"Hei!" Namun belum sempat melangkah masuk kedalam kamar mandi, Yoora sudah mencegahnya terlebih dahulu.

Chanyeol sedikit tersentak ke belakang mendapati kakak perempuannya —yang demi Tuhan sebenarnya menyebalkan— masuk ke dalam kamarnya mengendap-endap seperti maling. Apa lagi yang akan dilakukannya kali ini pikirnya. Chanyeol menunggu wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu menutup pintu terlebih dahulu. Ia tak habis pikir dengan kakaknya yang sudah menginjak usia dua puluh sembilan tahun tapi masih betah melajang, sedangkan ia sendiri sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikah.

Menikahi Baekhyun.

Seketika Chanyeol mempunyai niat ingin mencarikan jodoh untuk kakak perempuannya itu segera.

"Aku masih curiga, sebenarnya kau bertengkar dengan Baekhyun, benar kan?" Katanya tanpa tedeng aling-aling langsung menuduh dan berkacak pinggang, seperti sedang memarahi seorang kasir yang tertangkap basah menggelapkan uang melalui rekaman cctv.

Apa kubilang, dia memang sudah harus dinikahkan secepatnya agar berhenti mengurusi masalahku.

Chanyeol menghela nafasnya merasa perlu untuk sedikit bersabar dengan wanita di depannya ini. "Kalau noona kesini hanya ingin bertanya itu, maka jangan buang waktumu karena aku dan Baekhyun baik-baik saja."

"Katakan itu pada anak TK karena aku tidak percaya pada kebohonganmu."

"Wow, kau sudah seperti peramal sok tahu saja noona yang pengertian." Sialan kau!

"Lihat, bualanmu bahkan sangat payah. Apa-apaan dengan wajah merahmu itu?" Yoora berdecih, ia bisa gila hanya karena ingin mentertawakan kekonyolan adiknya ini.

"Kau hanya mengada-ngada, noona." Chanyeol masih keras kepala tidak ingin mengatakan apapun tentang Baekhyun. Namun secepat itu juga mata kakaknya yang sudah bulat besar itu semakin membesar seolah-olah 'Katakan sekarang atau kau tahu sendiri akibatnya jika berani mempermainkanku.' Chanyeol mundur selangkah merasa terganggu dengan keagresifan Yoora yang entah kenapa tiba-tiba menjadi menyeramkan.

Yang lebih memalukan, Chanyeol bahkan tidak sadar menjatuhkan bokongnya ke permukaan ranjang ketika Yoora masih mengintimidasinya. Sungguh, itu posisi paling memalukan.

"Katakan!"

Oh ibu, datang ke kamarku dan hentikan wanita ini. Chanyeol berusaha bertelepati dengan ibunya. "Tidak ada yang perlu kukatakan padamu." Ia balas dengan tak kalah menantang, tidak ingin harga dirinya sebagai lelaki direndahkan oleh seorang wanita freak seperti kakaknya.

"Begitu ya?" Yoora memasang wajah menyebalkan. "Kau bilang kalian baik-baik saja, tapi wajahmu bilang kau sedang sekarat, benar-benar pelawak profesional."

"Perumpamaan macam apa itu?" Chanyeol protes. Selain menyebalkan, terkadang kakaknya itu juga diluar dugaan.

"Memangnya apalagi?" Tanya wanita itu retoris. "Tidak ada gunanya membodohiku, Park!"

"Hahaha, kau juga seorang Park." Chanyeol tertawa sumbang, berusaha jauh-jauh dari topik tidak diinginkannya ini.

"Bodoh!" Yoora memakinya, "Jangan alihkan pembicaraanku dan jawab saja ada apa dengan hubungan kalian?!"

"Kenapa kau sangat ingin tahu? Aku tidak akan mengatakannya karena tidak ada hubungannya denganmu." Chanyeol segera berdiri, membuat tubuhnya lebih tinggi dari Yoora.

"Tentu saja ada, aku ini calon kakak iparnya."

Ah, dari semua omelan tidak penting Yoora sejak tadi, yang barusan adalah kalimat yang mampu membuat Chanyeol ingin berteriak histeris saking bahagianya memikirkan jika ia dan Baekhyun benar-benar akan menikah suatu saat. Chanyeol berdehem, membangun kembali kenormalannya dan menyelidiki wajah kakaknya itu. Ia menghela nafas sekali lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa Yoora mungkin akan bisa diharapkan.

"Oke, oke, aku hanya mengatakannya padamu. Jangan beritahu ayah dan ibu."

Yoora mengangguk. Tidak peduli sekalipun adiknya itu beberapa saat yang terlihat ingin mandi.

.

.

.

"HAI BAEK..."

"Oh, ada apa kalian kemari?"

Baekhyun mengerjab pelan didepan pintu mahoni rumahnya berwarna cokelat yang dipernis dengan ukiran mediteranian. Ia menatap dengan penuh tanda tanya di kepalanya pada keempat lelaki di depannya kini yang tersenyum lebar. Tumben.

"Kau tahu?" Luhan meraih lengan kiri Baekhyun dengan antusias untuk diapit diantara lengan kanannya. "Tadi pagi setelah kami keluar dari ruangan Chanyeol-ssi, Presdir mengundang kami untuk pergi ke Club malam ini, dia juga sudah mengirim alamatnya. Presdir bilang ini semacam pesta lajang, kami tentu saja menerimanya dengan cuma-cuma. Menurutku, itu karena kami bisa dekat denganmu, Baek. Kau bisa membayangkannya sendiri kan? seorang Presdir mengajak karyawan ke Club langganannya itu sangat jarang terjadi. Ahh.. Sepertinya Presdir orang yang sangat humble. Dan aku yakin—"

"Aduh telingaku. Heh, kau, Berhenti mengoceh panjang lebar seperti itu. Kami tidak mendapat kesempatan berbicara karena kau terlalu berisik." Jongin menggosok cuping telinganya dengan dramatis. "Jadi begini Baekhyun—"

"Ah, kau terlalu membosankan." Potong Luhan secepat radiasi dan menepis Jongin dari hadapannya, tidak memberikan ruang untuknya mengambil alih pembicaraan.

Dengan cekatan Kyungsoo segera mengelus dada lelaki tan itu untuk menyuruhnya bersabar, sementara Sehun menahan tawanya di sebelah mereka. "Ini hanya karena aku mencintai Kyungsoo, jadi aku mengalah." Kata Jongin sengaja suaranya dibesar-besarkan agar Luhan dapat mendengar.

Baekhyun yang sudah mengerti bagaimana kedua lelaki itu yang gemar bertengkar akhirnya menengahi mereka, meskipun ia sempat tertawa kecil melihat wajah Jongin yang ingin mengirim Luhan ke neraka. "Sebenarnya kedatangan kalian kemari ingin mengajakku, bukan?" Kyungsoo yang mengangguk pertama kali dengan mata bulatnya yang lucu. "Padahal Kris sudah mengajakku akan pergi ke Pub kapan-kapan."

"Oh man, Pub itu hanya tempat minum-minum biasa, bahkan lebih kecil dari bar, apa menariknya? Kita berpesta, kita butuh sesuatu yang besar seperti Club." Luhan mulai hiperbolis. Matanya yang tiba-tiba membesar itu malah kelihatan horor daripada terlihat antusias.

"Bagaimana? Kau ikut tidak?" Jongin yang bertanya.

"Aku tidak tahu." Jawabnya bergidik.

"Memangnya ada apa?" Luhan bertanya hati-hati takut dianggap terlalu mencampuri privasi, namun tetap saja ia ingin tahu.

"Kalau aku mabuk bagaimana? Ibu pasti kerepotan mengurusku." Ia memelototi Luhan seolah matanya mengatakan 'Kau tahu sendiri seberapa kacaunya aku saat aku mabuk! Aku tidak ingin kejadian di apartementmu itu terjadi lagi.'

Namun Luhan terlalu lamban menerima sinyal dari Baekhyun, ia justru semakin mendesak. "Kau tidak perlu khawatir, jika mabuk kau bisa menginap di apartementku." Baekhyun malah memelototinya lebih gencar lagi. "Eerr.. maksudku kita menginap di apartementku bersama Kyungsoo. Benarkan, Kyung?"

Yang ditanya hanya mengangguk-angguk saja karena ia juga sudah membuat kesepakatan dengan Luhan sebelum datang kemari.

"Ayolah, ini pesta di akhir pekan, tidakkah menurutmu itu terdengar menyenangkan?" Jongin juga tidak ingin kalah dalam menghasut.

Jangan lupakan fakta bahwa keempat lelaki itu berprofesi sebagai Marketing. Mereka sudah terbiasa menghasut client. Catat.

Sejujurnya Baekhyun bukan orang yang sulit diajak berkompromi, ia termasuk orang yang oke-oke saja jika diajak bepergian. Tapi ia menjadi paranoid —ini penyakitnya yang tidak pernah sembuh— jika harus bertemu dengan Chanyeol nantinya didalam Club yang penuh sesak. Ia belum merasa siap. Kris tidak mungkin tidak membawanya. Mereka itu partner in crime yang lengket dimanapun mereka memutuskan untuk berpesta.

Baekhyun menggigit bibirnya masih ragu-ragu ingin menjawab, ia memperhatikan keempat lelaki itu, dan wow apa-apaan Sehun bisa setampan itu? Lihat bagaimana kerennya lelaki tinggi tersebut dalam balutan jaket Pattern. Lihat juga bagaimana Jongin telah menyulap dirinya menjadi layaknya seorang remaja metropolitan Gangnam. Damn! Mereka benar-benar ingin berpesta.

"Kau akan menyesal jika melewatkan ini." Kalimat Luhan barusan sukses membuat keraguan dalam diri Baekhyun semakin mencuat ke permukaan. Ia goyah untuk menerima tawaran mereka.

"Club di Gangnam yang terbaik." Sialan kau Oh Sehun!

"Aku saja juga awalnya ragu-ragu, tapi kenapa tidak? Aku terlalu lelah dengan pekerjaan. Kebetulan ada kesempatan untuk refreshing jadi aku tidak ada alasan ingin menolaknya." Terima kasih pada Kyungsoo yang telah membuat Baekhyun semakin goyah.

Jongin yang merasa mendapat dorongan dari ketiga temannya ikut nimbrung, ia mengeluarkan seringainya pada Baekhyun. "Pikirkan apa yang bisa kau lakukan untuk bersenang-senang nantinya disana."

Baekhyun mendengus keras. "Aku akan ganti baju."

.

.

.

Manusia pada umumnya menyukai kesenangan dan hiburan.

Begitu juga dengan Baekhyun. Kebisingan musik yang hingar bingar berdentum disetiap sudut-sudut club tidak membuatnya terganggu, ia merasa terbang dan bebas. Ia ikut bersama keempat rekannya yang sudah menyeretnya menuju dance floor untuk berbaur dengan kalangan sosialita lain yang sedang menikmati event gig dari live DJ. Sehun dan Jongin sempat unjuk kebolehan mereka dalam menari di tengah-tengah neon budweiser yang menyorot aksi keduanya. Hingar bingar semakin menjadi-jadi ketika Jongin melakukan sexy dance yang membuat Kyungsoo, Luhan dan Baekhyun tercengang darimana ia belajar gerakan seperti itu.

Efek pencahayaan yang keren dalam club itu mampu membuat pria berumur senja sekalipun terlihat muda kembali. Suasananya benar-benar seperti rave party on the beach. Banyak perempuan berpakaian minim membentuk komunitas sendiri di seating area, nuansa yang jauh berbeda jika ia temukan di dalam bar. Hanya dengan melihat jenis brand yang dipakai dari ujung kuku hingga mode rambut perempuan-perempuan berpakaian minim itu, Baekhyun sudah dapat menarik kesimpulan bahwa pesta clubbing ini hanya diperuntukkan pada kalangan-kalangan borjouis saja. Jika di bar ia menemukan perempuan berpakaian minim sebagai pekerja-pekerja tangguhan, maka lain halnya dengan disini. Gadis-gadis metropolitan itu justru terlihat seperti komunitas arisan, atau seperti brand rouge edition yang berjalan.

Tentu saja tidak mengherankan, inilah keadaan Gangnam di malam hari. Gaya hidup kota metropolitan.

Tidak lama setelah Jongin menyelesaikan tariannya yang tidak dapat dipercaya itu, Kris datang menemui mereka bersama dengan —ehem— Chanyeol. Mungkin malapetaka bagi Baekhyun, namun berkah bagi Chanyeol. Tubuh-tubuh yang saling berdesakan dan berhimpitan satu sama lain, membuat Chanyeol tidak ingin hilang kesempatan berdiri di dekat Baekhyun. Ia bahagia bisa mencium bau shampo yang menguar dari rambut sehat lelaki kecil itu. Di depan mereka ada Luhan yang sudah berhimpitan dengan Sehun, melupakan dunia dan berciuman ditengah orang-orang yang berdesakkan.

Jongin dan Kyungsoo malah terlihat malu-malu padahal terlihat sekali bahwa mereka mau. Kyungsoo menggerakkan tubuhnya dengan kaku membuat Jongin tertawa dan membantunya untuk bergerak lebih rileks. Tidak menunggu lama, keduanya sudah berpelukan dan berciuman seperti Sehun dan Luhan yang terbawa suasana.

Chanyeol sendiri semakin menempel di belakang Baekhyun membuat lelaki kecil itu berhenti menggerak-gerakkan kepalanya yang menikmati setiap dentuman musik. Tubuh Baekhyun sedikit tersentak saat merasakan tangan besar Chanyeol merayap di pinggangnya, nafas lelaki itu yang menimpa kulit leher dan telinganya. "Kenapa berhenti bergerak, hm?!"

Seseorang berperawakan gemuk melintas di depan mereka dengan sembarangan, Baekhyun oleng semakin ke belakang dan otomatis tangan Chanyeol yang sudah berada di pinggangnya beralih memeluknya agar baik-baik saja. "FUCK YOU DUDE!" Maki Chanyeol pada orang gemuk itu.

Getaran dari suara Chanyeol merambat ikut menggetarkan hati Baekhyun yang berkecamuk. Ia juga tidak menampik betapa WOW-nya Chanyeol malam ini. Baekhyun menampar dirinya sendiri bahwa ini kenyataan. Seketika kejadian di mobil tadi siang kembali melintas di kepalanya bersamaan dengan lehernya yang sudah dielus oleh hidung pria tinggi itu. Baekhyun memejamkan matanya dan melenguh, tanpa sadar tubuhnya bergerak menikmati musik sambil menggeliat didepan tubuh tinggi Chanyeol.

Tapi mereka tidak bertahan lama dengan kenikmatan itu, karena Kris sudah membawa mereka menuju lounge area untuk spot duduk yang lebih privasi. Tolong ingatkan Chanyeol untuk memukul kepala Kris dengan dokumen setebal sepuluh inchi karena sudah menganggu kegiatannya untuk yang ketiga kalinya.

Disana mereka memesan bir dingin dan wisky, serta hidangan lain yang bervarietas.

Kyungsoo terlihat sekali tidak biasa minum karena sekali mencobanya, anak itu memutuskan untuk memesan cola dan mengomeli rasa aneh dari alkohol. Luhan lah satu-satunya orang yang mentertawainya.

Situasi lain dirasakan oleh Baekhyun, ia seperti merasa Chanyeol selalu memandanginya dan itu membuat Baekhyun menuang lebih banyak bir kedalam cocktailnya. Ia salah tingkah.

Kris tidak bercanda dengan pesta yang dimaksudnya, di lounge area yang ia booking terdapat beberapa orang —jumlahnya tidak sampai dua puluh orang— yang mereka yakini sebagai relasi dari Presdir mereka tersebut. Bahkan ada yang mengaku dirinya seorang eksekutif muda dari Busan yang mau jauh-jauh datang ke Gangnam demi memenuhi ajakan pria pirang itu. Menjalin hubungan baik itu memang terdengar menyenangkan.

Selagi berada diluar Perusahaan dan melepas gelar mereka masing-masing, seluruh relasi dan bawahan dalam ruangan itu bergumul menjadi satu dalam percakapan yang mengocok perut seperti mereka teman lama yang sedang melakukan reuni. Bahkan Kris tidak keberatan saat Sehun mengisi es ke dalam gelasnya menggunakan tangan telanjang.

Biarkan mereka lupa diri untuk malam ini atau tidak sama sekali. Kalangan sosialita diluar lounge area pun seperti tidak ingin kehilangan euforia yang menjanjikan segala bentuk kegembiraan sesaat. Mereka berjingkrak-jingkrak seolah ingin mengatakan pada dunia bahwa itulah jati diri mereka. Pesta narkoba dan cekikikan bersama alkohol, lalu pulang dalam keadaan teler.

Tiba-tiba DJ techno yang mendominan clubbing sejak tadi berubah menjadi event rock. Membuat beberapa orang yang sudah terbang bersama ekstasinya seakan melayang ke surga, padahal kenyataannya tubuh mereka sudah menggigil.

Ketika musik berganti, Baekhyun dan Luhan yang sudah mabuk berat seketika berdiri dari atas kursi mereka setelah mendengar suara penyanyi favorite mereka tersebut memenuhi ruangan, dan keduanya membuat gerakan random khas penyanyi rock wanita yang lagunya sedang diputar di Multi track player. Chanyeol yang belum terpengaruh dosis alkohol tercengang dengan gerakan Baekhyun yang menendang-nendang secara tidak menentu seolah-olah ia sedang memakai sepatu rocker.

"I DON'T CARE IF I'M A MISFIT! I LIKE IT BETTER THAN THE HIPSER OF ALL SHIT!" Teriak Baekhyun dan Luhan lebih seperti mengumpat daripada bernyanyi. Tingkah mereka otomatis segera mendapat perhatian dari orang-orang yang berada didalam lounge area tersebut.

"I'M THE MOTHERFUCKING PRINCESS!" Beberapa orang mulai bertepuk tangan ketika kedua lelaki kecil itu saling merangkul dan bernyanyi —berteriak— bersama. Jongin yang jahil segera mengeluarkan ponselnya untuk merekam kekonyolan Baekhyun dan Luhan. Sementara Chanyeol dan Sehun menganga bodoh melihat kedua pujaan hatinya berubah menjadi barbar gila.

Pengaruh alkohol memang sialan.

"WELL IT'S YOU AND I JUST PUT UP OUR MIDDLE FINGER TO THE SKY! LET THEM KNOW THAT WE STILL ROCK N ROLL!" Seolah masih belum selesai, Luhan menggunakan tangannya untuk meninju udara dan berjingkrak-jingkrak dengan Baekhyun diatas kursinya.

"DON'T GET A BAD ATTITUDE DUDE! I AM NEVER GONNA COVER UP THAT TATTO!" Keduanya membuat kerandoman lain dengan mengangkat gelas cocktail mereka tinggi-tinggi. "I MIGHT HAVE A COUPLE ISSUES! YOU SAY ME TOO!"

Chanyeol tiba-tiba tertawa melihat Baekhyun menggerakkan pinggulnya, Baekhyun pikir mungkin ia sudah terlihat seksi, padahal itu sangat konyol.

"Ya Tuhan, aku tidak tahu ini sisi lain dari mereka." Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil cekikikan.

"DON'T CARE ABOUT A REPUTATION!"

"Astaga, mereka masih belum selesai." Kata Kyungsoo yang mulai memegangi perutnya yang kebas karena sekarat tertawa sejak tadi.

"MUST BE LIVING IN THE WRONG GENERATION! THIS IS YOUR INVITATION! LET'S GET WASTED!" Terlalu menghayati lagu, keduanya mengambil botol sampanye seolah-olah ingin mabuk sampai pagi.

Saat di penghujung lagu, Baekhyun meletakkan tangan kirinya di pinggang Luhan dan tangan kanan Luhan berada di bahunya. Sementara tangan mereka yang bebas membentuk pose rock N roll.

"ROCK N ROLL! HEY HEY HEY!"

Tepuk tangan meledak saat pertunjukan aneh mereka selesai bersamaan dengan lagu yang berganti di Multi track player.

"Ya Tuhan!" Jongin menepuk-nepuk perutnya sambil tertawa hingga matanya hilang menyadari aksi konyol Baekhyun dan Luhan barusan sudah masuk ke dalam ponselnya. Itu bisa ia jadikan sebagai bahan olokan untuk mereka berdua suatu saat nanti. "Bahkan lagu itu tidak sinkron dengan wajah mereka." Katanya masih belum selesai tertawa.

Baekhyun dan Luhan akhirnya teler di meja mereka karena terlalu lelah usai berjingkrak-jingkrak random. Kris yang mempunyai ide clubbing bersosialisasi secara positif pada awalnya untuk berpesta dan menambah network sekaligus melobi client-nya, menjadi pening sendiri dengan kejutan yang diberikan Baekhyun dan Luhan.

Kris menyarankan pada Sehun untuk membawa pulang kekasihnya yang sudah mabuk berat dan terlihat mengoceh tidak jelas memarahi botol yang ada di tangannya. Sementara Chanyeol masih dilanda keraguan dalam dirinya ingin membawa Baekhyun pulang kemana. Tidak mungkin pulang ke rumahnya, bisa-bisa image Baekhyun yang selama ini sebagai 'menantu idaman' di mata keluarga bisa tercoreng hanya karena melihat betapa mengenaskannya dia sekarang.

Bodoh, kenapa kau harus banyak minum!

Chanyeol mengusap wajahnya, tidak tahu apa yang ia harus lakukan pada lelaki kecil itu jika sudah mabuk begitu.

Di sudut ruangan, Jongin yang merasa quality time seperti ini jarang-jarang terjadi, ia segera menarik lengan Kyungsoo keluar dari lounge area untuk membuat aktivitas sendiri di beberapa spot menarik yang tertimpa laser neon.

Ketika menenggak wisky dari gelasnya yang terakhir, tiba-tiba Chanyeol mendapat ide yang bagus akan membawa Baekhyun pergi kemana. Ia segera mengetik pesan pada Kris yang berada di depannya.

"Kris, berapa kode apartementmu yang berada Apgujong? Aku membutuhkannya."

Yang dikirimi pesan justru tersenyum misterius dan membalas dengan cepat.

"Nikmati waktumu. 603703"

.

.

.

To be continue!

.

.

.

A/n :

Telat sehari hehee /dibakar/ kuota ku habis buat streamingan mulai dari Chanyeol menangin award hari Jumat :'v /ciee yang udah jadi aktor pendatang baru terbaik ama jadi bintang hallyu juga ciee makin ganteng aja ciee makin iri sama Baekhyun :3

Kemaren malam udah niat pengen update, cuma kan berhubung ada EXO Love Concert jadi aku cancel update-nya hari ini aja. Lagian siapa sih yang bakal ngelirik ffn kemaren malam kalau Chanyeol aja udah nyuri perhatian sama All of me nya ╥_╥ yakin deh ngga bakal konsen baca ff. /alesan/

Terharu loh sama review kalian soal asap di Riau, kalian emang morfin-morfin terbaik deh pokoknya *bighug* kabut asapnya disini makin tebal, kamarku yang diatas sampe kemasukan asap ╥_╥ kemaren sempat sesak nafas juga trus masuk rumah sakit, Dokternya bilang aku kena gejala radang paru-paru, masih gejala sih jadi disuruh lebih banyak istirahat di rumah. Yang paling mirisnya pas beli oksigen cuma tahan 3 jam itu juga duitnya ngga sedikit, belum lagi tabung oksigennya yang hampir nyentuh angka jutaan, kalau udah kayak gini kasian sama orangtua, duit yang harusnya buat sekolah malah dialokasikan buat beli oksigen *tear*

Intinya aku mau bilang makasih banget sama kalian yang udah mau respect :') Bersyukurlah bagi kalian-kalian yang masih beruntung bisa menghirup udara segar, sementara disini udara bersih jadi cita-cita kami :''

Balik ke ff, konfliknya ngga berat kok, kan aku udah bilang konfliknya ringan, soalnya aku ambil dari kehidupan domestik. Cuma emang banyak konflik-konflik lain yang aku masukin biar cerita ini ngga terkesan flat atau terlalu datar. Aku ngeplaining konflik itu biar pembaca juga ngga shock pas disuguhin sama klimaksnya, jadi soal 'Chanbaek kapan bersatunya sih kok hubungan mereka makin banyak halangannya?' Itu perlu menurutku, biar Chanyeol juga ngerti kalau bikin komitmen itu ngga segampang beli baju diskonan di mall. Apalagi mereka homoseks, ngebangun komitmen lebih susah dan lebih penting daripada ngejalanin hubungan tanpa dasar apa-apa.

Semoga ngerti ya apa yang aku maksud? Ngerti lah pasti, pembaca disini kan pinter-pinter wkwkwk oh iya, lagu yang dinyanyiin sama Baekhyun Luhan itu lagunya Avril lavigne - Rock N Roll. Yang suka musik rock, itu enak banget didengarin sambil liatin photo bias/?

Big thanks to my morfins :

[Baeqtpie] , [exoblackpepper] , [rekmooi] , [neli amelia] , [Guest1] , [Ruina-san] , [Guest2] , [seogogirl] , [potatochanbaek] , [istiqomahpark01] , [anaals] , [exobaeolchabae] , [noer takingintluka] , [cybh] , [littlechanbaek] , [Mieetee thanks a lot, kamu kalau ngereview manis banget deh suwer *0*] , [xx6104cbs] , [byun contact aja aku di bbm 26CD4C41] , [Dypbaek] , [Blacktinkerbells] , [Lyan II559] , [Pikapikabyun] , [Minnitta] , [ParkJitta] , [Melissa] , [Exodok chanbaek] , [sunsehunee] , [clouds6104] , [JonginDO] , [BabyLuSsan] , [deva94bubletea] , [AlexanderaLexa] , [VampireDPS] , [fitry sukma 39] , [dewi min] , [deux22] , [Vanilla92] , [Lala Gypshopila] , [memomy] , [endahramadhani6] , [Kiyomi381 salam kenal juga, thanks ya udah nyepam review^^] , [Sherli898] , [fanyoung] , [chanye00l] , [jongdaelz] , [nerdgeek] , [Re Tao] , [utarig14] , [ieznha asmaulhaq] , [sh] , [Babies BYUN]

Keep review ya ^^)9 see you on next satnite~