Chapter 14 Update minna ^_^v

Gomen nggak bisa update kilat, petir, guntur, geledek dan semacamnya itu, soalnya idenya sempet ilang gegara kerjaan yang numpuk beberapa hari ini hehehe...

Untung bisa balik lagi setelah dikorek-korek sampe ke dasar otak kecil saya (-.-)'a

Seperti biasa, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih buat yang udah baca sekaligus review chapter lalu

Zoroutecchi, Vaneela, Putri luna, El cierto, Sweety choco-berry, Deidei Rinnepero13, Anasasori29, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, Moe chan, Sukie 'Suu' Foxie

Arigato gozaimasu minna \^o^/

Semoga di chapter ini kalian tetap bersedia untuk membaca dan mereview fic gaje saya ini ^_^

Dan untuk para silent reader, saya ucapkan terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca 'Promise'

Saa, minna...

Enjoy this chap!

"Ino, katanya kau akan pergi ke Jepang ya?" tanya seorang anak laki-laki berumur sekitar 9 tahun pada seorang gadis kecil berbaju lolita di depannya.

"Iya, besok aku akan berangkat." gadis kecil itu menunduk sambil memeluk boneka teddy bear-nya.

"Kita masih bisa bertemu lagi kan?" anak laki-laki itu menelengkan kepalanya, menilik ekspresi gadis kecil itu.

Gadis itu pun mendongak, menampakkan mata aquamarine bulatnya pada anak laki-laki di depannya, senyum manis terkembang di bibir mungilnya, dia pun mengangguk mantab menjawab pertanyaan anak laki-laki di depannya.

"Um, tentu!"

Disclaimer: Berita terkini, diinformasikan kepada seluruh pembaca, bahwa Animanga Naruto, hingga saat ini tetap menjadi milik Masashi Kishimoto, sedangkan fic ini merupakan milik Yuzumi Haruka sejak awal hingga akhir nanti, sekian terima kasih.

Disclaimer gaje kah?

Abaikan jika iya!

Chapter 14

=Another Promise=

BLAR!

Bunyi ledakan menggema di seuruh bangunan tua di pinggir jurang itu, menghancurkan beberapa benda di sekitarnya menjadi serpihan kecil.

Dua orang yang awalnya berada dekat dengan posisi dinamit itu telah melompat menghindar sebelum ledakan terjadi, keduanya kini berdiri berhadapan di antara reruntuhan yang masih berjatuhan dari atas dan menyisakan debu-debu yang kembali menutupi pandangan mereka.

Ino berusaha mencari fokus penglihatannya, begitu juga Deidara yang kini mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah untuk mengurangi intensitas debu yang mengaburkan pandangannya.

Setelah pandangan mereka kembali fokus, keduanya tercenung cukup lama tanpa melakukan apapun, hanya desah nafas yang memburu, mengisi kekosongan diantara keduanya.

Srek!

Ino mulai melangkahkan kakinya ke depan.

"Dei...kau..."

"Deidara, apa yang kau lakukan?" suara seseorang memotong ucapan Ino.

Ino dan Deidara terkesiap dan menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah Sasori yang kini berjalan sedikit tertatih ke arah Deidara, namun pria itu menghentikan langkahnya saat melihat ada orang lain di ruangan itu.

"Kau?" Sasori menatap tajam ke arah Ino.

"Perempuan sial!" geramnya.

Ino diam tak melakukan apapun, dia menatap shock ke arah Deidara, kemudan beralih ke arah Sasori.

"Deidara itu...Akatsuki? Ti...tidak mungkin!" pikirnya.

"Bunuh dia Deidara! Dialah yang sudah melumpuhkan fungsi tangan kananku!" tuding Sasori dengan seringai yang mengembang di bibirnya.

Deidara menajamkan matanya menatap ke arah Ino, sedangkan Ino mulai memundurkan langkahnya, masih dengan ekspresi shock yang tergambar jelas di wajahnya.

"Tunggu apa lagi Deidara? Cepat bunuh dia dalam sekali ledakan!" perintah Sasori.

Deidara mulai mengeluarkan beberapa batang dinamit dari kantong jempernya, dan secara ajaib, ujung dinamit itu telah menyala dengan sendirinya.

Ino tercekat melihat ekspresi Deidara yang seolah ingin menghabisinya sekarang juga, gadis itu gemetar ketakutan, bahkan dia tak mampu menggerakkan kakinya untuk lari atau menghindar.

Deidara berlari mulai maju ke arah Ino, sedangkan Ino yang masih tercekat, tak mampu menghindar, hanya memejamkan matanya, menunggu ajalnya tiba, namun apa yang dia rasakan sungguh berbeda.

Ino merasa tubuhnya didekap dengan erat dan terangkat dari tanah, sedangkan ledakan yang dia bayangkan terjadi bukan di tempatnya berdiri, namun di tempat lain, tepatnya di bawah sana, di mana Sasori berada.

Ino membuka matanya dan mendongak, terlihatlah wajah Deidara yang mengeras menatap pemandangan di lantai bawah yang kini kembali tertutup dengan debu yang beterbangan akibat ledakan tadi.

"D...Dei...?"

"Hubungi teman-temanmu untuk segera pergi dari tempat ini, karena aku akan segera menghancurkannya." kata Deidara sambil menurunkan Ino dari gendongannya, meskipun tangan kirinya masih mengait di pinggang Ino, mencegah agar gdis itu tidak jatuh.

Ino pun langsung menggunakan earphonenya untuk menghubungi teman-temannya, meskipun dia sendiri masih sedikit bingung dengan keadaan yang dia alami saat ini.

Beberapa saat kemudian koneksi earphone Ino telah tersambung dengan milik teman-temannya yang berada dalam bangunan itu.

"Aku Ino, kalian semua segeralah keluar dari bangunan ini, karena sebentar lagi, bangunan ini akan dihancurkan!"

"I..Ino? APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?" seru Kakashi dari seberang earphone.

"JANGAN BANYAK TANYA! CEPAT KELUAR DARI SINI!" balas Ino yang mulai tak sabar.

"Ino, apa yang akan kau lakukan?" terdengar suara Sakura dari seberang earphone.

Ino melirik Deidara sekilas, pria itu mulai mengeluarkan sesuatu dari kantong jempernya.

"Ku mohon teman-teman, cepat keluar dari sini sekarang!" pinta Ino yang kemudian langsung mematikan earphonenya tanpa menunggu tanggapan lain dari teman-temannya, dia percaya kalau mereka akan mengerti.

Ino kembali menatap Deidara yang belum juga mengalihkan pandangannya, Ino pun mengikuti arah pandang pemuda blonde itu.

Di bawah sana masih ada sedikit debu yang mengepul, namun beberapa saat kemudian terlihat sosok Sasori yang menyalak marah menatap Ino dan Deidara di lantai atas yang sudah berlubang karena ledakan tadi.

"BRENGSEK KAU DEIDARAAAAA!" serunya dengan penuh emosi.

"Kheh, maaf saja ya 'Senpai', aku sudah dijemput, jadi..." Deidara menggantungkan kalimatnya untuk mempersiapkan bom di tangannya.

"Sayonara...senpai!" dan seringai lebarpun mengembang di bibir Deidara seiring dengan jatuhnya benda bulat berwarna hitam dari tangannya.

BLARRRRR!

Ledakan yang jauh lebih besar telah meluluh lantakkan bangunan besar tadi, membuat para kyuubi yang sudah berada di luar gedung itu tercengang menatap hancurnya gedung besar yang mirip kastil tadi.

"Apa-apaan itu?" gumam Shikamaru dengan nada suara bergetar.

"Apa yang Ino lakukan di dalam sana?" Neji menatap tak percaya akan hancurnya bangunan besar tempat pertempuran tadi.

"Lalu bagaimana dengan Ino sendiri?" tanya Sakura panik.

"Iya, bukankah Ino masih di dalam sana?" Tenten menatap teman-temannya.

"Sial! Apa yang sebanarnya dia lakukan?" decak Kakashi sambil berlalu menuju bangunan besar yang kini telah hancur, dan masih meninggalkan kobaran api.

"Sensei! Apa yang akan anda lakukan?" Shikamaru menghadang langkah Kakashi.

"Aku ingin mengecek keadaan Ino, apa aku salah?" Kakashi menyingkirkan Shikamaru dari hadapannya, dan kembali melangkah.

"Jangan bodoh Sensei! Api masih berkobar di sana, anda ke sana pun akan percuma, justru anda yang akan celaka nanti!" kini Sakura dan yang lainnya pun ikut menghadang Kakashi.

"Dinginkan kepalamu Kakashi! Kau hanya kan mengantarkan juka kau nyawa ke sana!" seru Guy yang menahan tubuh Kakashi dari belakang.

"Lepaskan aku!" Kakashi berusaha melepaskan diri dari rekan-rekannya.

"Akan sangat bodoh jika kami melepaskanmu senpai!" Yamato yang mencekal lengan Kakashi tetap berusaha mempertahankan pegangannya.

Sementara itu keadaan Ino dan Deidara

Keduanya kini tengah bergelantungan di bawah tebing sekitar 3 meter dari permukaan sungai, rupanya tadi Deidara membawa Ino melompat dari jendela kaca di belakang mereka sebelum ledakan terjadi, Deidara sempat mencabut pedang Ino yang terselip di pinggang gadis itu dan menacapkannya di sisi tebing, meskipun sempat meleset beberapa meter, tapi akhirnya pedang itu mampu menancap dengan tepat sebelum mereka benar-benar jatuh ke jurang.

"Er...Deidara, bagaimana kita naik ke daratan kalau begini jadinya?" tanya Ino memecah keheningan yang cukup lama menyergap mereka, gadis itu masih berada dalam dekapan pemuda blonde yang dengan seenaknya mengajaknya melompat ke jurang, kedua lengan Ino pun masih mengalung di leher Deidara yang entah kenapa tetap tenang-tenang saja, bahkan terkesan er...senang(?).

"Tenang saja my little barbie, biasanya di sungai ini ada batang-batang pohon yang hanyut, kita bisa pakai itu untuk menuju daratan, ngomong-ngomong aku sudah lama tidak memanggilmu little barbie ya? Khufufu..." Deidara berbicara dengan santainya, padahal mereka masih berada di ambang hidup dan mati.

"Jangan bercanda di saat seperti ini Dei! Pokoknya kau harus menjelaskan semuanya saat kita sampai di daratan nanti!" sungut Ino kesal.

"Hahaha baiklah baiklah, eh, jemputan kita sudah datang! Saatnya pergi..." Deidara memancatkan kakainya di tebing untuk mencabut pedang yang dia pakai sebagai pegangan tadi, kemudian terjun bebas ke sungai yang alirannya lumayan deras itu.

"Jatuh!...jatuh! JATUUUUUH!" jerit Ino ketakutan sambil berpegangan erat di leher Deidara.

"DEI BUODOOOOH AKU BELUM MAU MATIIIII!" seru Ino panik.

"Khufufu..." hanya itulah tanggapan Deidara.

Drap!

Deidara mendarat dengan ringannya di atas sebuah balok kayu, padahal dia masih menggendong Ino, sejak kecil dia memang memiliki keseimbangan yang bagus di medan seperti ini.

Ino membuka matanya perlahan saat hembusan angin yang cukup kencang menyibakkan poninya.

"Apa aku sudah mati?" Ino merancau tidak jelas, tapi cukup bisa ditangkap oleh Deidara.

"Belum mati kok." Deidara nyengir tanpa dosa.

"Awas saja kau kalau kita sudah sampai di darat nanti!" ancam Ino kesal, sedangkan Deidara hanya menyerigai jahil menatap Ino yang masih sedikit ketakutan.

Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di daratan, Ino berjalan terhuyung untuk menuju tempat yang lebih jauh dari sungai, terus terang saja dia sedikit mual saat melakukan perjalanan air yang tidak wajar barusan.

Setelah dirasa cukup jauh, Ino menududukkan diri di bawah pohon besar dan menyandarkan punggungnya di sana sambil mengatur nafasnya, sedangkan Deidara hanya mengikuti gerakannya saja dan duduk di samping Ino.

"Jelaskan semua ini!" Ino mulai membuka percakapan.

"Ng?" Deidara malah pura-pura tidak mengerti maksud Ino, dia menelengkan kepalanya untuk menatap wajah Ino yang sudah lama tidak dia lihat itu.

"Kubilang jelaskan..."

"Kau semakin cantik saja my little barbie." potong Deidara.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" sahut Ino sedikit membentak, meskipun wajahnya sudah semerah udang goreng, Deidara mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.

"Takbisakah kita pulang dulu untuk istirahat?" Deidara mulai merajuk.

"Kau pikir kita bisa pulang dengan tenang jika organisasiku tahu aku membawa seorang akatsuki bersamaku?" kata Ino kesal, namun ucapannya itu mengingatkannya pada sesuatu.

"Astaga, teman-temanku pasti sedang panik mencariku!" Ino meraba saku blazernya untuk mencari earphone alat komunikasinya, namun dia tidak menemukan benda mungil itu di semua kantongnya.

"Earphoneku mana?" tanya Ino sambil masih mencarinya di tempat lain.

"Mungkin jatuh saat kita terjun tadi." kata Deidara santai.

"Kau tahu ini bukan saatnya bersantai Dei!" Ino benar-benar dibuat kesal dengan sikap Deidara yang memang belum berubah sejak dulu, pemuda itu selalu cuek di setiap keadaan, bahkan saat dalam keadaan genting pun pemuda itu masih bisa cengegesan nggak jelas.

"Kheh, sudah lah, lebih baik kita cari cara agar teman-temanku bisa menemukanku di sini." Ino berkacak pinggang sambil berpikir bagaimana baiknya, tak lama kemudian sebuah ide melintas dalam pikirannya.

"Hei Dei, kau masih punya sisa bahan peledak tidak?" tanya Ino sambil berbalik menatap Deidara yang masih duduk santai di tempatnya semula, pemuda itu pun merogoh sakunya dam mengeluarkan isinya.

"Ada satu." Ino meraih dinamit yang disodorkan Deidara padanya.

"Bagus!" wajah Ino terlihat berbinar, namun kemudian kembali murung.

"Kenapa lagi?" tanya Deidara yang melihat perubahan ekspresi Ino yang begitu cepat.

"Aku kan tidak punya korek api, bagaimana cara menyalakan sumbunya?" gumam Ino bingung.

"Oh kalau itu sih gampang!" Deidara menjentikkan jarinya, dan secara ajaib sumbu dinamit itu pun menyala.

"Wow kau hebat Dei!" puji Ino dengan mata berbinar, namun kemudian berubah horor menatap dinamit yang dia pegang.

"GYAAAAAAA!" Ino langsung melemparkan dinamit itu entah kemana karena dia terlalu panik, dan...

BLARRRRRR!

Ledakan besar pun kembali terjadi, tak jauh dari tempat Ino dan Deidara, para Kyuubi yang tengah mencari Ino pun dikagetkan dengan bunyi ledakan barusan, mereka pun langsung beralih lokasi, ke tempat di mana mereka melihat kepulan asap yang mengepul tinggi di sekitar hutan.

"Kau mau membunuhku ya Dei?" tanya Ino gemas sambil mencengkram kerah baju Deidara dan mengguncangkannya kasar.

"Bukannya tadi kau yang minta sumbunya dinyalakan?" Deidara membela diri, matanya berputar-putar pusing saat Ino mengguncang tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

"Tapi aku kan masih memegang dinamitnya, setidaknya tunggu sampai aku melemparnya ke tempat yang pas!" protes Ino, kali ini dengan air mata yang mengucur bak air terjun dari kedua matanya yang terpejam erat.

"Ino...!"

"Ino-chan, kau di mana...?"

Samar-samar Ino mendengar suara teman-temannya memanggil dari kejauhan.

"Itu mereka." Ino pun melepas cengkramannya dari kerah Deidara, kemudian bergegas berlari ke sumber suara.

"Ooooi minna...!" Ino berseru memanggil teman-temannya yang mulai terlihat dari jauh, gadis itu melambai-lambaikan tangannya untuk mendapatkan perhatian orang-orang kyuubi.

"Itu Ino di sana!" Tenten menunjuk arah di mana Ino berada.

Para Kyuubi pun langsung berlarian menyongsong Ino, Kakashi yang tiba lebih dulu langsung menarik Ino dan mendekapnya.

"Syukurlah kau baik-baik saja." Lirih Kakashi, Ino hanya terdiam, matanya membulat sempurna, masih shock akan tindakan Kakashi yang tiba-tiba mendekapnya, namun dia kembali dibuat shock akan tindakan Kakashi berikutnya.

Pria itu tiba-tiba menyentakkannya dan menatap tajam ke mata aquamarinenya.

"Sudah kubilang jangan datang kemari! Kenapa kau malah datang? Kami panik setengah mati mencarimu tadi, apa yang baru saja kau lakukan hah?" seru Kakashi, Ino hanya terdiam tanpa bicara apapun.

"Ehm, Kakashi bukannya aku menyelamu, tapi...dari tadi kamulah yang over panic saat mencari nona Yamanaka." kata Guy dengan santainya tanpa memperdulikan suasana hati Kakashi saat ini.

"Iya Ino-chan, Kakashi sensei sangat khawatir padamu, dia hampir saja menerobos kobaran api untuk mencarimu." tambah Sakura.

"Untung ada kami, kalau tidak, mungkin dia sudah hangus terbakar dan mati sia-sia!" degus Shikamaru.

Kakashi hanya menunduk tak berani menatap Ino saat rekan-rekannya mengatakan apa yang terjadi padanya saat Ino hilang tadi.

"Ano...ada yang lebih penting dari itu, er..." Ino menggaruk belakang kepalanya, sedikit bingung menjelaskannya, tatapan para Kyuubi tentu saja langsung terarah pada Ino, manatap penasaran akan kelanjutan ucapan Ino.

Di saat itu Deidara muncul dari balik pohon, dan membuat para Kyuubi terbelalak kaget, dan memasang sikap waspada.

"Akatsuki?" Pekik Sakura, dan yang lainpun langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung.

"Tu...tu...tunggu! Sebenarnya...inilah yang ingin kujelaskan pada kalian," Ino beringsut dan berdiri di depan Deidara dengan merentangkan sebelah tangannya, sebagai tanda agar teman-temannya tidak menyerang pemuda itu.

"Apa maksudmu Ino? Kau membela Akatsuki?" Shikamaru sedikit menurunkan posisi pistolnya dan menatap Ino tak percaya.

"Makannya itu akan kujelanskan, dia ini Deidara..."

"Kami tahu itu, dan dia ini Akatsuki, musuh kita!" Potong Kakashi yang memandang tak suka pada pemuda blonde di belakang Ino.

"Jangan memotong ucapanku!" sentak Ino, dan membuat para Kyuubi terdiam, gadis itu kemudian menghela nafas sejenak untuk mengatur emosinya sebelum berbicara.

"Dia ini adalah...sepupuku."

Hening

"Se...sepupu?" ulang Kakashi, Ino mengangguk mantab.

Dan detik berikutnya terdengar ungkapan ketidak percayaan yang menggema di seluruh hutan (lebay) yang dilakukan oleh seluruh anggota Kyuubi yang berada di sana.

"UAPAAAAAAAAAAAH?"

=Promise=

"Apa maksudnya ini?" tanya Tsunade dengan nada mengintimidasi.

Saat ini para Kyuubi beserta Deidara tengah berhadapan dengan Tsunade, wanita berambut pirang itu menatap tajam pada Ino dan Deidara yang berdiri di depan, meminta penjelasan pada sepasang blonde itu, bagaimana bisa seorang Akatsuki macam Deidara bisa dibawa ke markas besar tanpa ada perlawanan sedikitpun.

"Aku bukan orang jahat." kata Deidara singkat, dan itu membuat Ino dengan semangatnya mencubit pinggang pemuda itu dengan sedikit memelintirnya, hingga Deidara memekik keakitan karena tindakan Ino.

"Apa sih?" protesnya.

"Jelaskan yang benar!" sentak Ino sambil menatap tajam ke arah sepupunya itu, yang kini tengah mengusap pinggangnya yang terasa berdenyut karena cubitan Ino tadi.

"Singkatnya, aku bukan lagi Akatsuki, aku memutuskan berdamai karena ada Ino di pihak kalian, jadi tenang saja, aku tak akan menyerang kalian selama Ino juga masih berada di sini." Deidara menatap lurus ke arah Tsunade, tak ada ketakutan yang terpancar di kedua mata birunya.

Tsunade menajamkan tatapannya mendengar ucapan mantan Akatsuki di depannya.

"Selama Ino masih di sini ya? Muncul lagi satu dukungan sekaligus ancaman bagi Kyuubi." pikirnya.

"Lalu kenapa kau bisa bergabung dengan Akatsuki sebelum ini?" tanya Tsunade yang masih meragukan keseriusan Deidara akan ucapannya untuk bergabung dengan Kyuubi.

"Kalau hal itu..." Deidara melirik Ino sekilas sebelum melanjutkan ucapannya.

"Tidak bisa kukatakan pada kalian, ini privasiku yang hanya akan kuberitahukan kepada Ino, kalau kalian memaksa, bisa saja aku membatalkan niatku untuk bergabung dengan kalian." kata Deidara mantab, dan tak bisa dibantah lagi.

Semua orang di dalam ruangan itu tercekat, minus Ino yang mungkin sudah tahu bangaimana sifat sepupunya itu.

"Baiklah, kuterima kau di sini." Tsunade pun menyerah menghadapi Deidara yang memang pintar bicara dan membalikkan kata-kata.

Yang lain pun hanya bisa pasrah menerima keputusan pimpinan mereka itu.

=oooooo=

Sebelum pulang, tentu Ino selalu mengunjungi gedung reguler untuk menjemput Sasuke, dan kali ini ditambah Gaara.

Deidara menatap heran pada Ino yang tengah menggandeng dua anak kecil bersamanya.

"M...my little barbie...apa saja yang kulewatkan selama kita terpisah?" tanya Deidara gamang, matanya tak lepas dari kedua sosok mungil di samping kanan dan kiri Ino, sedangkan Sasuke dan Gaara hanya menatap datar ke arah pemuda blonde itu.

"Ino-chan, tante ini siapa?" tanya Sasuke polos.

"Siapa yang kau panggil 'Tante' bocah sial? Aku ini laki-laki! LAKI-LAKI!" Deidara berteriak sambil menuding Sasuke, sedangkan Ino malah terkikik geli mendengar panggilan baru untuk sepupunya.

"Kenapa kau malah tertawa Ino? Setidaknya kau jelaskan padaku siapa kedua anak ini?" tuding Deidara kesal.

"Hihihi...nanti saja ku jelaskan, sekarang kita pung dulu." Ino pun menarik lengan mungil Sasuke dan Gaara melewati Deidara yang masih kesal.

Setelah samapai di tempat parkir, Deidara kambali dibuat kesal dengan keberadaan lelaki bermasker hitam yang berdiri di dekat mobil Ino.

"Mau apa kau di sini?" Deidara berdiri menantang di depan Kakashi.

"Menunggu Ino dan mau pulang!" Kakashi menantang balik.

"Apa maksudnya ini?" Deidara menatap Ino sambil menuding muka Kakashi.

"Tenanglah Dei, dia hanya menumpang karena apartemen kami bersebelahan." kata Ino santai sambil membukakan pintu untuk Sasuke dan Gaara.

"Aku mau di depan!" Deidara mau menerobos masuk ke jok depan, namun Ino malah menutup pintunya saat pemuda itu hampir memasukinya.

"Tidak bisa Dei, kau di belakang dengan Kakashi dan Gaara, karena di depan sudah ada Sasuke." kata Ino sambil memblokir jalan Deidara untuk membuka pintu depan, Deidara menilik ke dalam kaca pintu mobil di belakang Ino, dan dia dapat melihat dengan jelas bagaimana Sasuke menjulurkan lidahnya, mengejek dirinya.

"Bocah siaaaaal...!" geramnya dalam hati, dan mau tak mau Deidara pun terpaksa harus duduk di belakang, berdesakan dengan penghuni lainnya.

"Tch!" decaknya kesal.

Dan mobil merah itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen Ino.

=oooooo=

Ino keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk melilit di tubuhnya, sepertinya dia lupa kalau mulai hari ini di apartemennya ada seorang pria dewasa yang patut diwaspadai.

Gadis itu berhenti di depan pintu kamar mandi, memproses apa yang dilihatnya, begitu juga Deidara yang kini terpaku pada sosok Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah merah plus mupeng.

Detik berikutnya, sebuah jam weker melayang dan tepat menghantam dahi Deidara dengan telak.

"BOCAH SIAAAL!" seru Deidara yang menyadari siapa yang baru saja melemparnya dengan jam weker, meskipun tersangkanya langsung kabur ke adalam kamar.

"Er...sebaiknya kau mandi dulu Dei, biar kupinjamkan baju pada Kakashi." kata Ino sambil beringsut ke kamarnya dengan menggenggam erat-erat ujung atas handuk yang dia pakai, mencegahnya agar tidak melorot.

Makan malampun tiba.

Kali ini Ino perlu menambah bahan makanan karena penghuni apartemennya bertambah satu lagi, setelah matang, Ino memanggil Sasuke dan Gaara yang sedang belajar di kamar untuk makan malam, kemudian mengajak Deidara yang masih duduk di sofa sambil menonton TV untuk bergabung.

"Jadi...kenapa kau bisa tergabung dengan Akatsuki?" tanya Ino memecah kesunyian di sela makan malamnya, Deidara mendongak menatap Ino yang duduk di seberangnya, kemudian melirik kedua bocah yang hampir menghabiskan makan malam mereka.

"Kuharap kau menjelaskannya secara rinci setelah ini." kata Ino yang mengerti maksud tatapan Deidara pada Sasuke dan Gaara.

Setelah selesai makan, Ino menyuruh Sasuke dan Gaara masuk ke kamar melanjutkan belajar mereka, sedangkan Ino dan Deidara kini duduk bersebelahan di sofa panjang.

Setelah hening cukup lama, Deidara mulai membuka suara.

"Sepuluh tahun yang lalu...aku dengar klan Yamanaka dibantai oleh suatu kelompok,"

Deg!

Ino tersentak saat mendengar ucapan Deidara yang otomatis mengingatkannya akan kejadian di mana keluarganya habis dibantai.

"Aku sedikit lega saat tahu kau selamat, tapi aku sedih karena paman Inoichi tewas dalam pertempuran itu," Ino menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian itu, kejadian di mana dia mulai mengenal dunia hitam, dunia penuh darah dan pebunuhan.

"Dari informasi yang kudapat, katanya yang menyerang klan Yamanaka adalah Kurohebi, lalu ayahku mengirim pasukan untuk menyerang mereka, namun gerakan orang suruhan ayah sudah dapat diprediksi dengan baik oleh Kurohebi, sehingga kami mengalami kekalahan telak, saat itu ayahku menghubungi pemimpin Uchiha, Fugaku Uchiha, yang merupakan pimpinan tertinggi dari kelompok raksasa Amaterasu, dan mereka juga tengah mengawasi gerakan Kurohebi, tapi sejak penyerangan pada klan Yamanaka berakhir, Kurohebi tidak menampakkan diri lagi, sehingga kami para petinggi mengira mereka telah lenyap,"

"Tapi nyatanya mereka masih ada dan malah menyerang mansion utama Uchiha 10 tahun kemudian." Ino menyela ucapan Deidara.

"Mansion Uchiha diserang? A...aku tidak tahu akan hal itu!" Deidara menatap Ino tak percaya, begitu juga dengan Ino yang menatap Deidara dengan ekspresi sama.

"Bagaimana mungkin? Padahal kejadiannya persis setengah tahun yang lalu!" pekik Ino.

"Sungguh aku benar-benar tidak tahu!"

Heningpun menyergap keduanya cukup lama sebelum Deidara kembali bersuara.

"Sebenarnya aku sudah berada di Jepang 3 tahun yang lalu," Ino mengalihkan pandangannya ke arah Deidara.

"Aku mencari informasi tentang keberadaan Kurohebi, kemudian bergabung dengan mereka untuk mengorek informasi tentang pemimpin kelompok itu, aku berusaha agar aku bisa dipercaya oleh mereka dengan menunjukkan sisi kejamku hingga setahun kemudian aku masuk dalam kelompok Akatsuki, namun aku sama sekali belum pernah bertemu dengan pimpinan Kurohebi yang bernama Orochimaru itu," Deidara memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku tetap bertahan di Akatsuki, siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi lebih setelah cukup lama di sana, tapi hingga saat ini aku sama sekali tak mendapatkan apapun, mereka terlalu menjaga rahasia mereka, bahkan kepada para anggotanya, aku sendiri malah tidak tahu kalau ada penyerangan kembali di mansion utama Uchiha," Deidara menunduk dalam.

"Maafkan aku Ino, aku sama sekali tidak berguna, padahal aku berencana menyusup ke sana untuk menyerang mereka dari dalam, juga untuk membalaskan dendam paman Inoichi." Ino menyandarkan kepalanya di bahu Deidara, membuat pemuda itu tersentak pelan, namun kembali rileks setelah merasa nyaman dengan perlakuan Ino.

"Aku mengerti...kau tak perlu meyalahkan dirimu sendiri karena hal itu, terima kasih karena sudah bersusah payah untukku." Ino memejamkan matanya, sedangkan Deidara hanya diam membiarkan Ino bersandar padanya.

Hening kembali tercipta, membuat atmosfer di sana terasa begitu berat, Deidara yang benci kesunyian mulai angkat bicara lagi.

"Fyuh…sudahlah, lupakan pembicaraan tadi!" Ino menarik diri dari bahu Deidara dan menatap pemuda itu dengan tatapan bingung.

"Nah, sekarang giliran aku yang bertanya padamu, apa kau masih ingat janjimu padaku?" tanya Deidara sambil tersenyum misterius.

"Ja…janji...? Soal apa ya?" Ino menggaruk pelipisnya, dan bertanya dengan tampang bloon.

"Kau lupa?" Deidara mengernyitkan keningnya melirik Ino, sedangkan Ino hanya menunjukkan cengiran Innocent-nya, tapi entah kenapa perasaannya jadi tidak enak saat mendengar kata 'Janji'

Deidara menghela nafas berat sebelum berbicara.

"Kau pernah berjanji padaku kalau kita bertemu lagi, kita akan menikah!"

JEDUARRRRRR!

Ucapan Deidara barusan membuat dunia Ino terasa runtuh karena besarnya ledakan keterkejutan Ino, gadis itu seolah membatu karena shock berat.

"Me…me…me…MENIKAH?" Ino sontak berdiri dengan ekspresi shock yang semakin parah.

"K…k…kapan aku pernah berjanji seperti itu? Jangan mengada-ada!" protes Ino dengan wajah yang kini sewarna dengan pelangi.

"Kejam sekali kau lupa dengan janji suci itu…." Deidara berakting sok memelas, seperti seorang wanita yang dikhianati oleh pacarnya.

"A…aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu!" Ino bersikeras menolak.

"Baiklah biar kubantu kau mengingatnya!" Deidara bangkit dari keterpurukannya, kemudian mengiring Ino untuk kembali duduk di sebelahnya.

"Dulu sebelum kau berangkat ke Jepang, kau menerima permintaanku, jika kita bertemu lagi, kita berdua akan menikah,"

"Tidak tidak! Aku tak pernah ingat tentang hal itu!" Ino masih menolak penjelasan Deidara.

Dalam hati Deidara mengutuk author yang udah bikin summary kurang komplit di atas sana *mana ada summary yang komplit kan?*

Baiklah, biar Ruru yang ngeflash sekarang

"Ino, katanya kau akan pergi ke Jepang ya?" tanya seorang anak laki-laki berumur sekitar 9 tahun pada seorang gadis kecil berbaju lolita di depannya.

"Iya, besok aku akan berangkat." gadis kecil itu menunduk sambil memeluk boneka teddy bear-nya.

"Kita masih bisa bertemu lagi kan?" anak laki-laki itu menelengkan kepalanya, menilik ekspresi gadis kecil itu.

Gadis itu pun mendongak, menampakkan mata aquamarine bulatnya pada anak laki-laki di depannya, senyum manis terkembang di bibir mungilnya, dia pun mengangguk mantab menjawab pertanyaan anak laki-laki di depannya.

"Um, tentu!" kata gadis itu mantab.

"Ano…satu lagi, um…"

"Apa?" gadis itu menelengkan kepalanya menunggu kelanjutan ucapan anak laki-laki di depannya.

"Ka…kalau kita bertemu lagi nanti…maukah kau menikah denganku?" Tanya anak laki-laki itu dengan wajah yang sudah memerah penuh, sedangkan gadis kecil di depannya menatapnya dengan tatapan bingung.

"Menikah?" gadis itu tampak berpikir.

"Um…baiklah." kata gadis itu entah mengerti maksudnya atau tidak, tapi dari ekspresinya sih, sepertinya dia sama sekali tidak mengerti, mungkin dia pikir menikah itu adalah nama suatu permainan.

"TIDAK MUNGKIIIIIN!" Ino menjerit tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar tadi.

"Tapi itu kenyataan my little Barbie." Kata Deidara sambil merangkul pundak Ino.

"Waktu itu umurku baru 7 tahun bodoh! Mana kutahu arti dari kata 'Menikah', lagi pula kau juga baru berumur 9 tahun saat itu, bisa-bisanya kau melamar anak gadis di usia sekecil itu?" protes Ino dengan penekanan di beberapa kata.

"Tapi kau sudah menyetujuinya." Deidara mengerucutkan bibirnya, karena lagi-lagi Ino menolak pernyataannya.

"Ja…jangan bercanda! A...a…aku ini…SUDAH PUNYA TUNANGAN!" seru Ino yang mulai putus asa.

Deidara terdiam, memproses apa yang baru saja dia dengar.

Tunangan….tunangan…..tunangan….

Itulah yang terngiang di dalam kepalanya, dan detik berikutnya, atap apartemen Ino terlihat sedikit melompat saat terdengar suara teriakan yang cukup keras dari dalamnya.

"TIDAK MUNGKIIIIIIIN!"

"Ada apa sih Ino-chan, aku jadi susah belajar kalau kalian teriak-teriak terus!" degus Sasuke kesal.

"Um!" Gaara mengangguk mengiyakan ucapan Sasuke.

Ino dan Deidara otomatis menoleh kearah Sasuke dan Gaara yang berdiri di depan pintu kamar mereka.

"Ja…jangan-jangan….mereka anakmu dengan tunanganmu ya?"

"Jangan bercanda!" Ino reflek memukul belakang kepala Deidara setelah mendengar ucapan pemuda itu barusan.

"Dia ini calon adik iparku tahu!" ralat Ino dengan menatap garang pada sepupunya yang kini tengah mengelus belakang kepalanya yang sakit kerena pukulan Ino tadi.

"Dan yang itu…" Ino menujuk Gaara.

"Dia itu….adik temanku yang tewas dibunuh rekanmu yang berambut merah." Ino menunduk dan menurunkan tangannya yang menunjuk Gaara tadi.

"Sasuke, Gaara, kembalilah ke dalam kamar, kami nggak akan berisik lagi kok." Kata Ino dengan senyum yang terkesan dipaksakan.

Sasuke dan Gaara pun kembali masuk ke dalam kamar.

"Maaf soal yang satu itu." Lirih Deidara.

"Tak apa, bukan kau yang membunuh mereka." Jawab Ino tak kalah pelan.

"Kalau boleh tahu…pria beruntung mana yang bisa mengambil hatimu?" Tanya Deidara mencoba mengalihkan pembicaraan, Ino tersenyum tipis.

"Putra sulung Uchiha, Uchiha Itachi." Lirih Ino sambil mengenang wajah kekasihnya itu.

"U…Uchiha?" ulang Deidara tak yakin.

"Se…seleramu tinggi ya?" komentarnya dengan sedikit nada tak rela, dan sebagian merasa kalah telak.

"Aku sendiri tidak tahu, sejak kapan aku mulai mencintainya, tapi yang kutahu, perasaanku semakin besar, semakin menyesakkan, semakin ingin memilikinya saat dia menyematkan cincin ini di jariku." Kata Ino sambil menatap cincin yang melingkar di jarinya.

"Aku mengerti…kau benar-benar sudah dewasa little Barbie, dan Itachi benar-benar beruntung mendapatkanmu." Kata Deidara dengan menepuk pelan kepala Ino yang menunduk.

"Iya." lirih Ino dengna senyum tulus tersungging di bibirnya.

=Promise=

Ino melangkahkan kakinya di gedung reguler, hari ini dia harus mengembalikan blazer Sai yang dia pinjam kemarin, dia sungguh berhutang budi pada pemuda itu, jika tak ada Sai, mungkin dia takkan sanggup menatap teman-temannya lagi.

Gadis itu mempercepat langkahnya saat melihat sosok pemuda berambut hitam yang berjalan membelakanginya di depan sana.

"Sai!" panggil Ino, dan pemuda bernama Sai itu pun menoleh.

"Ini blazermu kemarin, aku sudah mencucinya jadi kau tenang saja, tak ada sisa air mata lagi di sini!" Ino menepuk lengan Sai.

"Te…terima kasih, ini memang blazerku, tapi….kau siapa?"

Ino terbelalak demi didengarnya pertanyaan tabu dari Sai barusan.

"S…Sai? Jangan bercanda! Aku Ino, masa kau lupa?" Ino tersenyum hambar, karena ucapan Sai barusan benar-benar membuatnya bingung.

"Maaf…aku benar-benar tidak mengenalmu." Ino terhenyak, sejauh yang dia lihat Sai tidak seperti sedang bercanda, dan dia tahu persis Sai tak bisa berbohong di depannya.

"Apa maksudnya ini?" batin Ino.

TBC

Yup! Bersambung lagi

Saya bingung sendiri mau menulis apa untuk kalimat penutup hehehe

Cuma mau bilag, gomen kalau masih ada typo dan semacamnya, atau ceritanya kurang panjang.

Oh ya, kalau boleh numpang iklan nih ya

Saya ada ide fic lain, kali ini pairnya SasuIno, genrenya Supranatural/fantasy

Ino akan berperan sebagai exorcist yang membasmi para goblin yang muncul dari Undergruound, sebagai exorcist dia memiliki hobi yang cukup abnormal, dia suka menangkap vampir ganteng untuk dijadikan pacar atau bahkan budaknya - sampai-sampai elf yang menjadi pengurus rumahnya tidak habis pikir dengan tindakan Ino setiap kali dia membawa pulang seorang vampir ke kastilnya.

Lalu Sasuke, dia menjadi salah satu vampir yang ditangkap Ino, dan sialnya dia lah yang sering mendapat nasib buruk karena ulah Ino, selalu mencoba kabur dari Ino, tapi selalu gagal karena segel yang dipasang Ino di lehernya akan mencekiknya jika Ino berkata 'Zeehond' (segel) yang membuatnya mau tak mau harus patuh pada Ino.

Nah bagaimana menurut kalian?

Apakah cerita itu layak untuk direalisasikan? Mohon pendapatnya, jika responnya positif, mungkin akan segera saya buat ^_^

Nah kembali ke Promise, silakan masukkan pendapat kalian lewat review ^_^

*Salam Cute*