Kepala Haechan terasa diterjang badai besar. Pening tidak terkira. Sudah bangun dengan muntah tak berkesudahan karena mabuk semalam. Kemudian menemukan semua barangnya sudah di pak oleh adik dan kakaknya, sampai ke pakaian dalamnya dengan ceramahan Renjun yang menyertainya sepanjang berkemas. Dan sekarang ia harus kejar-kejaran dengan waktu untuk berangkat ke Paris, tempat bulan madunya selama tiga hari ke depan. Dan tentu ditambah dengan amarah Mark yang tidak ada habis-habisnya menyalahkan dirinya dengan waktu yang begitu padat seperti ini, membuat semua orang kalang kabut membantu mereka untuk sampai ke bandara tepat pada waktunya. Untuk berpamitan saja mereka hanya bisa berpelukan sebentar dengan tangan melambai.
"Oke. Aku mengaku salah. Tapi kau bisa membangunkanku kan?" Haechan tentu tidak terima. Jadi ketika mereka sudah sampai di ruang tunggu keberangkatan, wanita itu baru berani mengajukan keberatannya pada Mark yang sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan kehadirannya.
"Dan juga—kita sampai tepat waktu disini. Kita bahkan masih bisa menunggu berita baiknya." Imbuh Haechan lagi.
Mark memang sepertinya sudah tidak peduli lagi. Nyatanya pria itu sedari tadi hanya sibuk dengan ponsel pintarnya tanpa mengalihkan fokusnya sama sekali ke wanita itu barang sekalipun.
Tapi Haechan tentu tidak akan menyerah menyuarakan kebeneran yang ia yakini. "Kenapa kau semarah itu? Jelas sekali bukan aku saja disini yang bersalah. Kau juga ambil bagian."
Oh lihat lirikan pria itu yang secepat kilat sudah seperti ingin mengulitinya hidup-hidup!
"Berhenti menyalahkan orang lain. Kau ingin hidup seperti itu sampai kau mati?" kekesalan Mark memang tidak pernah ada surutnya jika menyangkut dengan manusia bernama Haechan, yang berita besarnya adalah wanita yang baru satu hari resmi menjadi istrinya dan mereka telah berjanji hidup semati berdua berlandaskan pernikahan. Benar-benar sialan kan? Sekarang ia semakin merasa hidup dalam neraka dunia.
"Memang bukan salahku sepenuhnya."
Tentu ucapan Haechan itu dengan sekali tarikan sudah dapat membuat Mark ingin meledak dalam waktu yang singkat. Jadi dengan kekesalan memuncak, Mark mengetuk-ngetuk dahi Haechan keras-keras. "Otakmu ini—apa saja isinya huh?! Berhenti bertingkah kekanakan! Dewasalah!"
Haechan memegangi dahinya yang memerah, ia tadi belum siap untuk mengelak. Mana tau dia kalau ternyata Mark mau menganiaya dirinya?!
"Yaaaaakk!"
"—Perhatian. Para penumpang Korean Air dengan nomor penerbangan GA274 tujuan Paris dipersilahkan naik ke pesawat melalui pintu A11."
Belum sempat menyuarakan kekesalannya pada Mark. Mereka kini bergegas masuk ke pesawat. Menahan kekesalannya, sepanjang jalan Haechan merengut bersungut-sungut tak berkesudahan di balik punggung Mark. Untung saja karena mereka kelas pertama maka mereka punya ruang tunggu sendiri untuk masuk ke dalam pesawat. Jadi emosi Haechan tidak semakin bertambah karena antrian yang lama seperti yang ia lihat di luar sana.
Sebenarnya ini pertama kalinya Haechan naik pesawat. Jadi ketika kakinya menapakkan kaki ke dalam dan pramugari menyambut kedatangan mereka, ia tak bisa menghentikan raut wajah terkesimanya. Jadi begini isi pesawat para business class?
Kursi yang tidak berdesakan, begitu besar, empuk dan penuh fasilitas yang memadai, dengan pramugari yang siap sedia melayani mereka di depan dan belakang. Pantas saja para atasan suka bolak-balik ke luar negeri, batinnya.
Tidak ingin terlihat kampungan, tapi Haechan tidak bisa menahan keinginan dirinya untuk melihat-lihat segala yang ada di kursinya. Kalau yang lain sesudah tiba langsung duduk dengan tenang, maka Haechan terus membuat suara berisik saking sibuknya mencoba berbagai hal yang disediakan. Tapi ketika kapten pesawat mulai berbicara, ia langsung memberikan seluruh perhatiannya pada suara seseorang yang tengah membawa puluhan nyawa di pesawat itu. Mendengarkan dengan seksama dan mengimplementasikan semua perintahnya layaknya anak kecil yang tengah diberikan panduan oleh gurunya. Dan Mark hanya bisa mendengus pelan melihatnya.
Perjalanan mereka dari Seoul ke Paris akan memakan waktu sebelas jam setengah, namun belum sampai satu jam Haechan sudah mabuk udara. Membuat Mark mau tak mau mengurus wanita itu dengan terpaksa, mengesampingkan para pramugari yang dengan sigap juga membantunya.
Pertama. Haechan istrinya, jadi itu tanggungjawabnya.
Dan kedua. Ia tidak ingin terlihat seperti suami berengsek yang membiarkan istrinya muntah tak berkesudahan dan lebih memilih mangkir dari tugasnya hanya karena ada pramugari yang siap melayaninya.
Sudah tiga kantung yang terbuang. Dan Haechan terlihat masih ingin membuang isi perutnya lagi, membuat Mark mendesah tidak berkesudahan. Ini bahkan tidak ada setengah perjalanan, demi Tuhan!
Wanita itu sudah lemas sekali, bersandar ke kursinya dengan pandangan sayu. Memegangi perutnya yang mungkin masih bergejolak tapi sudah tidak ada lagi yang bisa dibuang. Jadi Mark rasa sekarang waktu yang tepat untuk mengisi perut Haechan dengan teh hangat yang sudah ia pesan.
"Berhenti menyulitkan orang lain."
Bukan Mark namanya, kalau memberikan bantuan pada orang lain tidak dengan sebilah pisau di lidahnya.
Haechan menerima segelas teh hangat yang diberikan Mark, tidak bisa menolak dan terlalu tidak bertenaga untuk membalasnya. "Akan kuingat, sialan."
.
.
.
Yang pertama kali Haechan lakukan setelah mendarat di Paris adalah mencari toilet. Setelah melihat toilet pesawat ia jadi berpikiran yang tidak-tidak kalau air kencing mereka dibuang begitu saja ketika berada di udara. Mark sudah bilang itu hanya bualan, pesawat punya sistem toilet dan penampungan, air seni mereka akan dibuang ketika mendarat. Tapi tetap saja ia tak percaya. Sulit sekali untuk mempercayainya apalagi dengan desas-desus rumor mengenainya.
Terhitung selama perjalanan, ia hanya buang air kecil di toilet pesawat cuma sekali. Ia tidak ingin mengambil resiko mengencingi orang-orang yang dilewatinya. Jadi ia menahan keinginan untuk kencing semampunya disana, oleh karena itu toilet menjadi destinasi pertama ketika mereka mendarat di negara yang katanya penuh dengan romantisme ini.
Mark dengan sabar menunggu di luar bersama dengan koper mereka sembari menahan rasa kantuk dan lelah. Baru kali ini dia melakukan perjalanan lintas benua dengan perasaan tidak tenang seperti ini. Untuk tidur saja tidak bisa senyaman biasanya walau semua fasilitas sudah tersedia. Kalian tentu tahu benar apa penyebabnya kan? Jadi jangan salahkan dia kalau sekarang kantuk tengah menguasainya, walau ini baru pukul 8 malam waktu setempat.
"Uh.. rasanya kandung kemihku akan meledak ketika mengeluarkannya."
Lihat? Orang tidak waras ini?
Itu pikiran Mark. Bagaimana dia tidak jengkel? Ia sudah bilang kalau sistem toilet di pesawat tidak seperti yang ada dalam pikirannya. Tapi wanita itu tetap saja tidak percaya padanya dan lebih memilih menahan keinginan untuk berkemih.
"Kita mau kemana setelah ini?"
Mark mendecih jengkel. "Tutup saja mulutmu sampai kita tiba disana." Ujar Mark sembari mendorong kopernya padanya dengan satu kakinya hingga kopernya terjatuh tepat di depannya.
"Yaaaaaak! Aku harap kau akan mati ditimpa semua arogansimu, berengsek!"
Haechan bersyukur, karena setelah mereka keluar sudah ada supir yang siap membawa mereka. Jadi ia tidak perlu terjebak lebih lama lagi dengan pria sinting ini.
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di sebuah hotel di pusat kota. Ia bahkan bisa melihat puncak menara Eiffel dari hotelnya. Keluarga Jung memang tidak pernah mengecewakan urusan keindahan dan estetika bagi kesehatan mata dan rohani mereka. Hingga ia tidak sadar kalau ia akan menghabiskan semua waktunya disini dengan makhluk berperingai iblis di belakangnya.
"Aku akan mandi duluan."
Pria itu sudah siap dengan kimono mandinya. Haechan mengedikkan bahu tidak tertarik. "Terserah." Balasnya dengan bibir yang mencibir. Memang perlu sekali ya dia sampai memberitahukannya padaku?
Tapi sepertinya pria itu tidak mendengarnya, Mark sudah berlalu dan tidak terlihat jejaknya sama sekali. Hanya saja pintu toilet sudah tertutup rapat tanpa sepengetahuannya. Pintunya pasti begitu mahal sampai-sampai suara pintu saja tidak terdengar.
Haechan kembali menatap puncak Eiffel yang terlihat begitu bersinar di matanya. Untung saja ponselnya tidak kehabisan daya, ia jadi bisa mengabadikan keindahannya dan dengan dirinya tentunya. Ia akan memasangnya di semua media sosialnya, tanpa terkecuali. Merayakan dirinya yang kini sudah naik kasta sebagai seorang istri dari salah satu cucu konglomerat di negaranya.
Motto hidupnya adalah—Apalah kehidupan tanpa sebuah kesombongan, kawan? Sombongkan apa yang bisa kau sombongkan.
Merasa sudah puas akan semua hasil jepretannya. Ia menghampiri kopernya yang tergeletak begitu saja di tengah ruangan. Ia tadi menjatuhkannya begitu saja ketika melihat balkon kamar hotelnya yang menampakkan menara impiannya. Kalau koper milik Mark sih sudah tergeletak rapi di dekat tempat tidur. Dan bahkan pria itu sudah menata isi kopernya, mana yang perlu diletakkan di luar dan mana yang tetap ada di dalam koper sudah terbagi dengan rapi di tempatnya.
"Dasar tuan pecinta kesempurnaan." Cibirnya, tidak mau terlihat buruk dengan kepribadian Mark yang begitu berbeda dengannya.
Menekan harga dirinya, ia ikut merapikan kopernya seperti milik Mark. Setidaknya ia tidak harus menanggung malu kalau seandainya Mark kembali dan mencemoohnya habis-habisan karena tidak merapikan kopernya.
Ketika dia tengah mengeluarkan barang-barang yang perlu dikeluarkan, ia menemukan kado dari Jaemin dan Johnny juga masuk ke dalam kopernya.
"Wah—aku bahkan tidak mengingatnya. Siapa yang memasukkannya kesini?"
Terus terang saja, Haechan tidak ingat dengan kado milik kedua sahabatnya itu walau sudah berjanji akan membawanya ketika bulan madunya. Suasana begitu ricuh ketika dia akan berangkat, jadi ia lupa kalau harus membawa kado itu bersamanya. Tapi sekarang kado itu sudah ada di dalam kopernya. Sebuah keberuntungan yang tak terduga. Ia berterima kasih kepada siapapun yang telah memasukkannya kesini.
Karena dia sudah ada di Paris. Itu artinya ia sudah boleh membukanya kan?
Matanya membesar. Keinginan untuk merapikan barang menguap begitu saja dan berganti pada keinginan untuk membuka kado yang lumayan besar ini. Ia penasaran dengan kado yang mereka belikan untuknya. Katanya kado ini begitu mahal sampai mampu menguras isi dompet mereka kan? Jadi pasti isinya bagus sekali. Mungkinkah gaun terkenal? Melihat dari bentuknya. Ataukah sebuah buku? Oh ia tidak bisa berpikir benar mengenai isinya!
Jadi tanpa pikir panjang, Haechan segera membuka kadonya sembari menahan desir bahagia di dalam tubuhnya.
Dan—
Haechan terdiam. Otaknya sukses berhenti bekerja ketika melihat isi kadonya. Entahlah, pikirannya benar-benar tertiup hebat.
What the hell of this black lingerie!?
Apa yang ada di pikiran teman-temannya saat membelinya?! Padahal ia sudah bilang kalau mereka itu dijodohkan dan terpaksa menyetujui pernikahan ini! Apa yang mereka harapkan?!
Mereka benar-benar menghabiskan uang mereka hanya untuk benda kekuarangan bahan ini?! Demi Tuhan! Ada banyak benda di dunia ini. Tapi kenapa mereka harus memilih ini?!
Di tengah badai pikiran yang melandanya, Haechan menenemukan sebuah pesan singkat di dalamnya.
[Hai sahabat kami, Haechan Jung.
Bagaimana pilihan kami? Begitu berani kan? Kami harap kau bersenang-senang disana. Dan tentunya yang kami maksud adalah ranjang. Tolong buatkan kami keponakan yang melimpah. Kami akan sangat menghargainya.
Tertanda, kedua sahabatmu yang paling peduli.]
Kepalanya terasa pening hebat. Ingin sekali berteriak nyaring sampai tenggorokannya sakit dan suaranya menghilang.
Ia bahkan rasanya tidak sanggup untuk menyentuhnya. Apalagi memakainya! Sialan memang teman-temannya! Dan bagaimana bisa mereka berpikiran tentang ranjang?! Ia bahkan tidak punya gambaran sama sekali untuk melakukannya dengan Mark!
Berkali-kali ia memasang raut wajah tak percaya dan berkali-kali juga ia merasa pikirannya dilempar begitu saja. Ia masih tidak tahu apa gunanya lingerie hitam ditangannya sekarang? Dan kontribusi apa yang akan ia dapat dari benda ini kelak untuk kehidupannya? Mereka benar-benar salah dalam memilih hadiah.
"Kau ingin melakukannya?"
Dan sekarang kepalanya terasa ditimpuk keras oleh batu yang besar. Terkejut bukan main dengan kehadiran Mark yang tidak terdeteksi dengan inderanya. Segera saja ia melempar asal lingerie yang ada di tangan dan menyembunyikannya di balik punggungnya.
"Jangan mengharapkannya ya!"
Wajah Mark tanpak biasa melihat reaksinya. Apa benar dia manusia?
"Kenapa tidak?"
Haechan sampai membekap mulutnya sendiri yang melebar saking terkejutnya dengan pertanyaan Mark yang begitu biasa menanggapinya seolah-olah itu bukanlah masalah besar yang perlu dipikirkan! Bedebah! Pria itu bahkan bisa-bisanya mengatakannya sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya. Terlihat begitu seksi di mata Haechan walau mati-matian ia elak.
"Y-ya karena kita tidak menginginkannya."
Mark menghentikan kegiatannya, satu alisnya naik tinggi ke atas hingga dahinya berkerut menggoda. "Kita?—Tapi aku menginginkannya."
Kepala Haechan semakin terasa pening. Ini salah! Bukan seperti ini seharusnya!
Ia meneguk ludahnya yang mengumpul di ujung tenggorokan, gugup tak terelakkan walau suaminya itu tidak mendekat. Masih disana, menatapnya layaknya ia adalah sebongkah daging besar bagi pemangsanya.
"Eung..a-aku juga harus menginginkannya k-kalau kita mau melakukannya. Tapi sekarang aku be-belum menginginkannya."
Menjelaskan ini lebih sulit ketimbang menjelaskan bagaimana statistik laba perusahaan, demi Tuhan!
"Aku bisa membantumu untuk menginginkannya."
Jadi tanpa menyia-nyiakan waktunya Haechan segera mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan ketika kalimat itu selesai. Memberikan perlindungan yang sebenarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali sih.
Dan Mark berjalan mendekat, menghampiri dirinya yang sudah dikuasai kegugupan dari kaki sampai kepala.
"T-tunggu!—Kau tidak bisa memaksaku untuk melakukannya."
Haechan panik tentunya. Apalagi langkah mundurnya sudah menubruk ranjang besar di belakangnya. Mau mengelak dengan berlari keluar tapi pintu kamar terletak di sebelah Mark. Ia pasti dengan mudah akan ditangkap.
"Siapa bilang aku akan memaksamu?"
Gerak-gerikmu itu Mark-sialan-Jung! Dasar sinting!
Keringat dingin sampai terasa mengumpul di telapak tangannya. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau meloncat dari balkon? Dia bisa mati mengenaskan kalau begini caranya. Lebih memilih mati di ranjang atau mati dari lantai 12?
Baiklah. Haechan sudah memutuskan. Dengan berbekal kenekatan. Ia mengambil ancang-ancang untuk berlari ke arah pintu walau sepertinya kemungkinan untuk berhasil begitu sedikit.
Dan akhirnya ia melakukannya. Memacu kakinya untuk berlari menghindari Mark yang akhirnya—tidak terealisasikan.
Mark entah dengan kecepatan apa sudah menjatuhkannya ke ranjang. Yang ia tahu ia sudah berada di ranjang dengan Mark yang menindihnya dan menguncinya dengan kedua tangan kekarnya.
Wah! Haechan tidak bisa berpikir jernih mengenai situasinya. Hanya saja alarm di kepalanya terus berbunyi bagai ada kebakaran besar di otaknya. Jadi ia hanya bisa diam sembari menatap mata kelam milik Mark dengan diiringi genderang talu dari jantungnya yang begitu keras dan cepat.
"Menurutmu—apa yang perlu dilakukan pertama kali?"
Dan Haechan masih belum paham benar kemana lebih tepatnya arah pembicaraan Mark. Otaknya masih menghidupkan alarm. Jadi kegiatan berpikir mungkin di tunda terlebih dahulu. Ia hanya bisa mengigit bibirnya pelan. Pening dengan terkaannya sendiri yang tidak mau keluar.
Pria itu mungkin tidak peduli lagi dengan pikiran istrinya. Ia tersenyum miring sebelum akhirnya menggerakkan tangan kanannya untuk menyelipkan rambut yang menutupi wajah istrinya ke belakang telinga. Membuat istrinya langsung membuang muka, takut sesuatu yang buruk menimpanya. Padahal posisi seperti itu yang suaminya inginkan.
Jadi dengan gerakan sensual, Mark mengikis habis jarak mereka dengan bibir yang bertengger di telinga istrinya.
"Tapi kupikir lagi—"
Dan Haechan berani bersumpah kalau tubuhnya sudah meremang hanya karena bisikan yang begitu dalam dari Mark. Ia tidak siap kalau lebih jauh dari ini!
"—aku tidak suka melakukan seks dengan wanita yang belum mandi."
"?!"
Sialan! Si berengsek itu ternyata mengerjainya! Pria itu bahkan langsung meninggalkannya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara mereka! Membuka ponselnya dan kemudian menelpon seseorang.
Tahu begini ia tadi menendang masa depannya saja agar dia tahu rasa!
Dengan perasaan kesal, Haechan masuk ke kamar mandi setelah membereskan pakaiannya yang masih berserakan di ranjang dan memasukkannya kembali ke koper dengan asal. Tidak lupa dengan lingerie hitamnya tentunya—sumber malapetaka tragedi ini.
Ia tutup keras-keras pintu kamar mandi. Menunjukkan kekesalannya terang-terangan tanpa ia tutup-tutupi.
Sialan kau Mark-sinting sampai ubun-ubun Jung! Aku akan membunuhmu! Kau tunggu saja waktumu!
.
.
.
Ngomong-ngomong, setelah kejadian tadi malam mereka belum bertegur sapa sama sekali walau berada dalam satu kamar. Haechan yang masih uring-uringan dan Mark yang tidak peduli. Kombinasi paling apik dalam sejarah percintaan.
Dan satu lagi! Haechan tidak berani tidur di ranjang sepanjang malam. Jadi ketika ia memastikan Mark sudah tertidur pulas, ia pindah ke sofa dengan membawa bantal dan selimut yang ia ambil diam-diam saat Mark terlelap. Masa bodoh jika pria itu akan menggigil kedinginan. Ia tidak peduli. Lagipula pria itu juga tidak mengatakan apapun ketika menemukan dirinya tidur di sofa bukan di sampingnya. Mungkin pria itu tahu diri, pikirnya.
"Kau ingin kemana hari—"
"—Terserah."
Jawaban singkat nan ketus Mark dapatkan walau pertanyaannya belum sepenuhnya selesai ia lontarkan. Wanita itu masih uring-uringan ternyata.
"Bagus. Kalau begitu kita di hotel saja. Aku memang sibuk akhir-akhir ini. Aku butuh istirahat."
Jawabannya itu sepenuhnya benar, tapi Mark mengatakannya bukan tanpa alasan. Tidur seharian juga terdengar menarik di telinganya. Tapi apa ia bisa yakin wanita yang kini jadi istrinya ini akan betah dan semakin tidak uringan-uringan?
Jadi ketika Mark mulai mendekati ranjang dan berbaring disana, berpura-pura untuk tidur. Haechan dengan menekan harga dirinya, menyuarakan pikirannya dengan pelan. "Bawa aku ke tempat yang mahal."
"Kau bilang apa?" Mark pura-pura tidak mendengar karena suara Haechan yang pelan, istrinya malu bukan kepalang tentunya.
Kepalang basah, Haechan dengan menekan kuat harga dirinya meninggikan suaranya. "Bawa aku ke tempat yang mahal! Yang paling bagus dan yang paling indah!"
.
.
.
Berbekal kalimat yang Haechan lontarkan tadi. Hari ini ia membawa Haechan ke Champ Elysee, kawasan elit yang penuh dengan etalase-etalase yang isinya parfum dan barang mewah lainnya yang tentu bermerek high level.
Ia membiarkan Haechan memilih sesukanya. Wanita itu tidak perlu pertimbangannya dan ia juga tidak peduli tentang apa yang wanita itu beli nantinya. Memangnya apa yang ingin dibelinya? Paling juga beberapa pakaian, parfum, tas dan sepatu.
Duduk manis di sofa yang disediakan lebih menyenangkan baginya sembari mencicil kerjaan yang menumpuk karena cutinya beberapa hari.
Ia rasa ini sudah satu jam lebih? Atau sebenarnya sudah dua jam berlalu? Tapi wanita itu tak kunjung kembali. Sebenarnya apa yang ia beli?
Saat ia berniat untuk mencarinya, wanita itu sudah kembali sembari menenteng banyak tas di tangan kanan dan kirinya dengan senyum melengkung tinggi dan wajah yang kelewat sumringah.
Mark mendengus. Haechan akan cocok sekali jika belanja bersama dengan kakak iparnya-kak Doyoung-pikirnya. Mungkin trukpun akan diturunkan untuk menjemput belanjaan mereka.
"Ini kartumu. Terima kasih banyak ya."
Baru kali ini wanita di hadapannya ini mengucapkan rasa terima kasih dengan senyum yang terus melengkung begini. Uang benar-benar membuat seseorang berubah perangai begini ya?
Setidaknya Haechan tahu diri dengan tidak meminta Mark untuk membawakan barang-barangnya. Dia bisa sendiri walau harus menenteng sana-sini. Dan lagipula ia benar-benar berterima kasih karena Mark sudah mau merelakan uangnya untuk dihamburkan begini. Sekarang ia baru bisa bersyukur menjadi istri seorang Mark Jung. Benar-benar bersyukur dan tidak menyesalinya.
Setelah memastikan semua barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil, Haechan baru naik ke mobil. Senyumnya bahkan tidak berhenti melengkung saking bahagianya. Baru kali ini dia bisa khilaf belanja seperti ini. Apalagi kartu yang Mark berikan padanya adalah black card. Kalian tahu betul kan bagaimana indahnya?
"Sekali lagi, terima kasih ya."
Haechan kembali melontarkan rasa terima kasihnya yang tak pernah habis. Mark sampai bosan mendengarnya. "Kau bilang sekali lagi, aku tidak akan segan melemparmu keluar dari sini."
Haechan merengut, namun sedetik kemudian tersenyum sumringah lagi. "Kita mau kemana setelah ini?"
"Berisik."
Haechan kembali merengut. Kenapa sih dengan mood suaminya ini? Selalu suram. Tidak ada cerah-cerahnya sama sekali, batinnya jengkel.
Tapi walau begitu, itu tetap tidak bisa melunturkan perasaan bahagianya. Sekarang ia di Paris. Tidur di hotel yang mewah, membeli barang-barang mewah yang ia inginkan tanpa takut akan jatuh miskin dan kini tengah berkeliling Paris bersama sang suami—yang mendadak jadi tercinta karena membawa black card di dompetnya dan membiarkan istrinya ini menggunakannya tanpa batas. Jadi nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Mengunci rapat mulutnya. Haechan memilih melihat pemandangan di luar jendela. Kalau Mark tidak ingin ia bicara. Terserah. Toh pemandangan kota Paris sedang berbicara dengannya sekarang. Penuh artistik, klasik, dan romantik.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai ke tujuan. Haechan sebenarnya tidak tahu tempat yang mereka singgahi sekarang. Tapi ia malas bertanya pada Mark. Pasti jawaban pria itu tidak jauh dari kata-kata "Berisik!", "Cari sendiri.", "Kau bisa membacanya kan?". Pria itu memang terlahir sebagai manusia super menyebalkan sepertinya.
"Ini namanya bukit Monmartre. Kawasan yang penuh sejarah, klasik dan di atas sana—" Mark menunjuk bangunan putih klasik di puncak bukit. "—ada gereja basilika Sacre Coeur."
Mendadak jadi baik? Pikirnya terkejut.
Apa mungkin pria ini tahu apa yang kupikirkan?—Jadi selama ini dia bisa membaca pikiran?!
"Kita bisa makan siang di sini. Aku punya langganan di sini."
Lihat?! Dia mendadak baik lagi?!—Jangan-jangan aku akan ditinggalkan disini?!
"Apa yang kau pikirkan? Ayo jalan, idiot!"
Haechan menghembuskan nafas lega. Setidaknya kata 'idiot' bisa mengurangi pikiran negatifnya. Mungkin karena negatif dikali negatif sama dengan positif—oh lupakan saja!
"Oh! Monsieur Marque!"
Baru menginjak cafe dan seorang pria gemuk dari balik konter penyajian sudah menyapanya dengan lengkungan senyum yang lebar dan bahkan sampai menghampiri mereka yang duduk di dekat jendela yang jaraknya dari konter penyajian cukup jauh. Mark pasti sudah berlangganan sejak lama. Mereka terlihat begitu dekat satu sama lain.
Haechan tidak tahu sama sekali mengenai apa yang mereka bincangkan. Sesekali mereka tertawa dan ia tidak punya ide sama sekali tentang apa mereka tertawakan. Yang ia tahu Mark memperkenalkannya pada pria gemuk itu dengan bahasa Perancis tentunya. Dan kemudian setelah memesan makanan yang direkomendasikan, pria gemuk itu kembali ke balik konter dan segera mempersiapkan pesanan mereka.
"Kau sudah berlangganan lama?"
Haechan memberanikan diri untuk bertanya. Kalau diacuhkan ya sudah. Ia juga tidak bisa memaksa.
Pria itu hanya menganggukan kepala menanggapinya, lebih memilih berkutat dengan ponsel pintarnya.
Haechan membuang mata ke luar jendela. Memangnya respon apa yang ia inginkan dari Mark?
"Sejak kuliah."
Matanya membesar. Pria ini benar-benar tidak sedang membaca pikirannya kan?!
"Kau kuliah di sini?"
Pria itu masih belum menatapnya barang sekalipun. Sibuk dengan ponselnya. "ENS. Aku kuliah di sana."
Oh! Haechan pernah mendengarnya!
"Maksudmu École Normale Supérieure?"
Dan suaminya itu kembali mengangguk tanpa mematahkan fokusnya sama sekali dari ponselnya.
"Whoah! Daebak!" gumamnya terkesima. Itu universitas terbaik di Paris dan masuk di dua puluh besar universitas terbaik di dunia! Dan yang lebih membuatnya terkesima adalah karena alumni universitas itu banyak yang menjadi peraih nobel!
Sebenarnya ia ingin mengorek lebih dalam lagi mengenai kehidupan pribadi suaminya ini. Karena ia pikir-pikir dia tidak tahu banyak tentang suaminya sendiri. Tapi hanya saja kalau dipikir-pikir lagi mungkin akan terkesan aneh dan mencurigakan. Mereka kan tidak pernah akur? Saling tidak menyukai satu sama lain, pasti terkesan aneh sekali kan? Lagipula pesanan mereka juga telah tiba. Ia harus mengurus perutnya terlebih dahulu ketimbang mengorek informasi mengenai suaminya sendiri.
Setelah makan, Mark mengajaknya ke gereja di atas bukit. Dia bilang bangunannya begitu mengagumkan. Begitu berbeda dengan gereja lainnya katanya. Dia juga menjelaskan bagaimana gereja itu bisa dibangun dan bagaimana sejarah kawasan ini. Haechan sih hanya mengiyakan saja. Tidak sepenuhnya mendengarkan penjelasan Mark, lebih tertarik dengan pemandangan disekitarnya. Lagipula ia merasa itu tidak begitu penting bagi kehidupannya.
Dan yah dia harus mengakui kalau pendapat Mark mengenai gereja ini memang bukanlah bualan belaka. Itu memang kenyataannya. Bangunan gereja ini begitu mengagumkan untuk dilewatkan. Ia bahkan berfoto banyak di sini. Tidak mengajak Mark tentunya. Untuk apa? Pikirnya lucu.
.
.
.
Awan sudah berubah warna ketika mereka keluar dari kawasan Montmartre. Terlalu banyak hal yang mereka sambangi di sana. Ia pikir Mark akan membawanya kembali ke hotel. Tapi lelaki itu ternyata malah menghentikan mobilnya di alun-alun kota Paris—Place de la Concorde.
Bukan seperti alun-alun biasanya. Bentuk alun-alun ini oktagonal—segi delapan, dengan delapan patung yang menandai setiap sudut dan terdapat parit sebagai pembatas. Dan—Oh! Di tengah alun-alun terdapat obelisk Mesir—monumen batu ramping yang memiliki empat sisi lancip mengarah ke atas berbentuk piramida.
Waktu berlalu begitu saja, padahal mereka tidak begitu dekat dalam arti kata harfiah. Haechan mulai bisa mengerti Mark sepertinya. Pria itu tidak sekaku yang ia tahu. Tapi kalau menyebalkan sepertinya memang sudah mendarah daging dan tidak bisa ditutup-tutupi. Ia mengumpulkan banyak informasi dengan percakapan remeh temeh mereka di sela-sela waktu jalan mereka. Seperti Mark yang tidak suka makanan laut dan rasa pedas. Padahal dia suka sekali dengan mereka. Atau seperti Mark yang ternyata lebih menyukai lagu bergenre hiphop ketimbang ballad. Dia tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Tapi sekarang terasa make sense baginya.
"Kau orang yang cukup asyik."
Haechan benar-benar mengatakannya. Tidak merekayasanya sama sekali. Tapi Mark malah menatapnya seolah-olah dia adalah kebohongan terbesar di dunia. Dia ini kenapa sih? Mungkin kalau ia membaca pikiran Mark sekarang adalah seperti itu.
"Aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Kenapa reaksimu sampai seperti itu?!"
"Berhenti membual. Ayo kembali. Aku sudah lelah."
Dan pria itu untuk kesekian kali meninggalkannya begitu saja. Ingin rasanya melempar batu ke kepala pria itu. Jengkel sekali dengan sikapnya yang arogan!
"Dan berpikirlah tempat apa saja yang akan kita kunjungi besok."
Seperti punya indera perasa yang begitu sensitif. Ketika dirinya sudah berada di balik punggung pria itu, setelah berlari kecil dari tempat duduk yang mereka duduki tadi. Pria itu langsung mengatakannya.
Haechan merengut. Tidak setuju dengan saran suaminya. Malas lebih tepatnya.
"Aku lebih suka tanpa tujuan."
Dahi Mark berkerut. Bagaimana seseorang bisa berjalan tanpa arah yang pasti?
"Kan ada kau." Haechan sudah menyikut dirinya tanpa sepengetahuannya. Wanita itu tertawa kecil sembari mengatakannya. Kemudian berjalan berdampingan.
"Aku percaya padamu—"
Mark tidak bisa untuk tidak terkejut akan ucapan Haechan. Jadi ia menoleh untuk melihat keseriusan wanita itu.
"—kau akan membawaku ke tempat yang menyenangkan, 'kan supirku!?"
Dan kini Mark merasa telah tenggelam akan tawa wanita itu yang seharusnya menyebalkan.
.
.
.
Maaf harus di skip dulu sampek disitu. Tapi aku berusaha sabtu update lagi kok. ^^
Oke special thanks buatlululala, sunbaeris, Bobbyindaeyooooo, zeroo082, Fawkaihoon, hi commc, Minge-ni, Pink, nona mesha, dan Guest.
Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak :"
Buat kalian yang nunggu konflik mark-hyuck-no. Mohon bersabar. Tolong tunggu mereka berdua pulang ke koriyah yak xD wkwkkw
Selamat beristirahat!
