Disclaimer: Death Note milik Tsugumi Ohba & Takeshi Obata.

Pairing: LightL

Warning: shounen-ai, OOC, AU (Alternate Universe), no Death Note, Author's Note panjang! Don't like don't read.

A/N: Sempat terjebak dalam WB berkepanjangan serta badai stress yang melelahkan fisik dan mental, akhirnya aku kembali untuk meng-update fic ini. Maaf aku belum meng-update fic-ku yang lain di fandom ini (Lovesick dan Wish). Semoga aku bisa segera menemukan ide dan mood serta waktu luang untuk melanjutkannya. ^^'

TERIMA KASIH BANYAK untuk kalian yang sudah bersedia membaca kisah aneh bin ajaib binti ga logis ini sampai chapter sekarang. Apalagi yang sudah memberikan REVIEW secara terus-menerus. Apa jadinya nasib fic ini kalau tidak ada dukungan dari kalian, readers serta reviewers setia? *ngusap air mata*

Chapter ini didedikasikan untuk PenWanderer, salah satu reviewers fic ini yang paling setia serta sahabat dumay-ku. Walau hanya di dunia maya, tapi aku sangat menikmati saat-saat yang kita lewati bersama, Pen-san! *mata berapi-api* *bah* Aku benar-benar berterimakasih atas tagihan update-nya yang selalu memecut semangat update-ku. Selain itu aku minta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam, karena sudah menelantarkan fic collab kita (Panda Complex Unlimited). Bagaimanapun, kapasitas otakku yang terbatas sepertinya masih belum mampu merangkai kata-kata sedahsyat bikinan Pen. :"( *nangis sambil kayang(?)*

Yosh, pokoknya selamat menikmati chapter ini. Anggap saja rumah sendiri. *ganyambung*

Maaf author's note-nya panjang sangat. m(_ _)m

The Love Note

by

Li Chylee

XoXoXoX

Suasana di dalam mobil Rolls Royce milik L terasa campur aduk.

Rangkulan Light pada bahu L yang duduk di sebelah kirinya (yang entah mengapa tidak ditepis oleh L seperti biasanya) membuat hati Light berbunga-bunga, tapi tatapan tajam Near dan boneka-voodoo-berbentuk-amat-sangat-mirip-Light-yang-munculnya-entah-dari-mana beserta jarum tajam yang dipegang oleh bocah albino itu membuat Light terpaksa melepaskan rangkulannya dan meletakkan kedua tangannya di pangkuan seperti layaknya anak baik-baik nan polos bin manis—Ryuk langsung mengeluarkan suara ingin muntah melihat sikap Light. Sementara itu, Misa yang memaksa ikut naik ke dalam mobil tidak henti-hentinya memeluk lengan kanan Light sambil memasang wajah cemberut pada L. Di lain pihak, Watari yang berperan sebagai pengemudi hanya memasang wajah ti'is alias datar, kepalanya sedikit bergoyang-goyang menikmati musik K-Pop yang menggema dari radio yang terpasang di mobil. (sekilas info: Watari menjadi k-popers setelah tidak sengaja melihat MV girlband yang unyu-unyu di youtube saat ia punya waktu senggang)

"Uhm, Ryuuzaki, kalau aku tidak salah, arah yang kita tuju ini… arah rumahku, kan?" tanya Light memulai pembicaraan.

"Ya," L menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.

"Untuk apa kita ke rumahku? Kusangka kita akan langsung ke markasmu?"

"Karena mulai sekarang kita akan terus bersama selama 24 jam sehari, saya perlu meminta izin pada orang tua Light-kun. Saya tidak mau mereka mengira Light-kun hilang karena diculik penjahat atau mengalami kecelakaan dan hilang ingatan seperti di sinetron," kata L.

Light hanya sweatdropped.

"Ngomong-ngomong, Ryuuzaki belum pernah diperkenalkan pada orang tua Light ya?" ujar Misa dengan nada mengejek, "Misa sih sudah~~~" diakhiri dengan remasan kuat pada lengan kanan Light yang hampir membuat tulangnya retak.

Light menyadari adanya sedikit rengutan di alis L yang tidak begitu nampak, dan buru-buru dia menambahkan, "Ryuuzaki, orang tuaku pasti akan sangat senang bertemu denganmu! Mereka akan sangat bangga kalau mengetahui pacarku adalah L!"

"Begitu ya…" L hanya menanggapi dengan tak acuh. Sebenarnya ia sedikit minder, khawatir menghadapi kenyataan kalau-kalau ayah dan ibu Light tidak menerimanya sebagai pacar Light karena masalah jenis kelamin.

"Yagami-san, dari mana Anda bisa begitu yakin kalau orangtua Anda akan menerima L-niisan apa adanya? Apakah mereka sudah tahu mengenai orientasi seksual Anda?" Near ikut nyeletuk, tanpa sadar menambah kegalauan hati L.

"Soal itu…" Light menelan ludah. Ia memang belum pernah memberitahu orangtuanya kalau ia lebih menyukai laki-laki dibanding perempuan, padahal Sachiko pasti akan bersorak bahagia kalau ia mendengar berita tersebut.

"Belum ya?" Near menyeringai puas melihat Light salah tingkah. Baik L maupun Light sama-sama ingin mencukur plontos rambut Near dan menjadikannya benang wol(?) saat itu juga.

"Memangnya kenapa kalau belum? Aku punya pacar laki-laki pun tidak masalah, asal orang itu adalah Ryuuzaki, aku pasti akan memperjuangkan cinta kami yang murni dan agung!" seru Light berapi-api, tidak sadar kalau ia telah seenaknya meng-copy-paste dialog Cinta Vikri.

"Light-kun…" L yang (sedikit) terharu langsung menautkan jari jemarinya dan menatap Light dengan tatapan you-are-my-hero, juga tanpa sadar meng-copas akting Higuchi dalam Cinta Vikri.

"Kalian, bisa tolong hentikan? Dunia bukan cuma milik kalian berdua, tahu! Dunia itu harusnya milik Light dan Misa!" Misa langsung menjerit tidak terima, memisahkan kedua insan yang tengah dimabuk asmara (dan mabuk sinteron) itu.

Watari hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar keributan di jok belakang.

'Dasar anak muda… untung kisah cintaku dengan Wedy tidak diwarnai cinta segi tiga alay macam begitu,' batinnya. Kepalanya kembali mengangguk-angguk ketika I'm The Best-nya 2ne1 diputar di radio. (Oh, Watari, kita satu fandom! #abaikan)

XXX

Setelah melewati jarak yang lumayan jauh, akhirnya Watari cs sampai juga di depan rumah Light. Beberapa tetangga Light tampak mengintip dan langsung bergosip ria melihat mobil mewah milik L terparkir di halaman rumah Light. Mungkin sudah kodrat ibu-ibu untuk menggosipkan berbagai hal, mulai yang agak penting seperti kenaikan harga sembako sampai yang sungguh-sangat-tidak-penting seperti affair yaoi antara tukang sayur dengan pemilik kedai ramen.

Watari sebagai asisten teladan segera membukakan pintu mobil untuk L. Setelah penumpang mobil itu satu persatu turun, mereka pun berdiri berjajar layaknya pelajar yang sedang mengikuti upacara bendera.

"Ryuuzaki, this is it! Rumah keluarga Yagami yang sederhana namun mempesona seperti aku yang meninggalinya," ujar Light penuh kebanggaan.

L hanya menggigiti kuku ibu jarinya. Dalam pikirannya terlintas kembali adegan-adegan yang pernah ia lihat di rumah ini melalui kamera tersembunyi, termasuk adegan Light bernarsis-ria dan melakukan adegan striptease berbahaya di depan cermin. Rona pink menyelimuti pipinya saat ia berdehem untuk menyingkirkan bayangan Light yang hanya memakai celana jeans tengah menyeringai seksi tepat di depan kamera tersembunyi yang tersambung pada monitor miliknya.

'Lihat, Ryuuzaki sampai blushing begitu. Dia pasti setuju dengan kata-kataku tadi kalau aku memang mempesona,' batin Light sambil senyum-senyum jumawa.

"Yagami-san, bangunan seperti ini Anda sebut rumah?" suara yang datangnya dari mulut seorang bocah berambut putih yang memeluk mainan Gundam itu membuat otot di dahi Light mencuat.

"Near-chi, kau tidak boleh berkata seperti itu pada Light-niisan!" kata Misa sambil membungkuk dan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan Near. Near menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Apa-apaan 'Light-niisan' itu? Disogok puzzle jenis terbaru pun ia tidak akan sudi memanggil Light seperti itu. Baginya, yang pantas disebut 'Niisan' hanyalah L seorang.

"Biarkan saja, Misa. Setidaknya aku tidak tinggal di rumah-rumah yang ada di acara 'Jika Aku Menjadi'," tukas Light tajam.

Near hanya mendengus meremehkan, membuat Light semakin sebal.

'Apa perlu bocah ini dibiarkan menyentuh Love Note agar dia bisa melihat penampakan Ryuk ya?' Light ngedumel dalam hati.

"Yagami-kun, apakah perlu saya yang membukakan pintu? Kelihatannya kau terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri," ujar Watari, membuyarkan lamunan Light mengenai tampang Near jika ia melihat Ryuk dengan dandanan alaynya.

"Ah, tidak perlu, biar aku saja yang membuka pintunya," jawab Light sambil tersenyum. Ia mencoba bersikap sopan layaknya anak teladan di hadapan 'calon ayah mertua'.

Light pun melangkah maju, diikuti L karena mereka terhubung oleh borgol. Pemuda berambut hitam itu sedikit dag-dig-dug ketika Light memutar kenop pintu rumahnya. Berbagai bayangan tentang penolakan orang tua Light terhadap hubungan mereka kembali bermunculan di otaknya. Haruskah hubungan mereka berakhir dengan kawin lari seperti yang terjadi dalam mega drama Cinta Vikri?

"Tadaima," Light berucap dengan kasual seperti ketika ia biasa pulang ke rumah, bedanya saat ini ia membawa sang pujaan hati untuk pertama kalinya dengan keadaan yang cukup ekstrim alias terborgol satu sama lain.

"Light, cepat sekali pulangnya?" Sachiko yang tengah bersih-bersih menyambut kepulangan anaknya dengan heran, tetapi kedua bola matanya segera melebar ketika melihat pemuda kurus berpostur agak bungkuk, mengenakan pakaian amat santai, dan berambut hitam berantakan berdiri di samping Light. Kamera segera men-zoom wajah Sachiko. Kedua alis wanita paruh baya itu bertemu di tengah dahi, mulutnya menganga tak percaya, kemoceng yang digunakan untuk bersih-bersih terjatuh dari pegangannya. Ia amat persis ibu-ibu di sinetron yaoi yang baru saja mengetahui anak laki-lakinya yang macho dihamili seorang banci(?).

Light yang melihat reaksi ibunya seperti terkena stroke mendadak itu dengan sedikit panik menghampiri Sachiko dan memeganginya agar ia tidak jatuh lemas.

"Kaasan, kau kenapa?" seru Light. 'Belum apa-apa saja Kaasan sudah se-shock ini. Apakah dia sudah punya feeling kalau Ryuuzaki itu pacarku?' pikirnya.

Sachiko, yang masih dilanda rasa tak percaya melihat calon menantu idamannya berdiri tepat di hadapannya kini menunjuk L dengan tangan gemetaran.

"L-Light… katakan padaku, siapa dia…" ujarnya. Pandangannya meneliti L dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia sungguh mirip dengan pemuda yang pernah dibayangkannya melakukan hal-hal rated M di sebuah gedung tua dengan Light. Kami-sama, apakah ini takdir? Apakah doa-doa yang ia panjatkan setiap malam itu akhirnya terkabul?

"Kaasan, mungkin apa yang akan kusampaikan ini akan membuatmu marah, tapi aku harus memberitahu Kaasan sekarang juga. Pemuda itu bernama Ryuuzaki, dan dia adalah… kekasihku."

JRENG JRENG! *musik ala sinetron berkumandang*

Sachiko tak tahu harus melakukan apa dulu. Apakah harus menciumi putranya karena telah mengabulkan mimpinya memiliki calon menantu idaman, atau menciumi sang calon menantu yang saat ini sedang menggigiti keempat kukunya sekaligus saking tegangnya menunggu reaksi Sachiko selanjutnya.

Setelah dilanda keheningan yang cukup lama, akhirnya Sachiko berhasil meredakan gemetarnya, lalu melengkungkan senyuman yang teramat manis pada anak laki-laki satu-satunya yang tampan, budiman, dermawan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan pandai memilih calon suami(?) itu.

"Light… kenapa baru sekarang kau memperkenalkan Nak Ryuuzaki pada Kaasan?" ujarnya dengan nada selembut sutra. "Mari, Ryuuzaki-san, jangan berdiri saja. Duduklah di ruang tamu. Aku akan membuatkan teh untuk kalian semua. Dan senang bertemu dengan Anda, …" Sachiko melirik Watari yang ekspresinya tidak berubah sejak ia turun dari mobil.

"Nama saya Quillish Wammy, tapi panggil saja saya Watari," ujar pria tua itu sambil membungkuk, yang dibalas oleh Sachiko.

"Senang berkenalan dengan Anda, Watari-san. Nama saya Sachiko Yagami. Maaf bila putraku kurang bisa menjadi kekasih yang baik untuk putra Anda."

"Sebenarnya Ryuuzaki itu bukan putra kandungku…"

"Ah, kalau kita mengobrol sekarang aku bisa lupa membuat tehnya," potong Sachiko. "Kita bisa mengobrol nanti. Silakan masuk dulu ke ruang tamu. Anggap saja rumah sendiri."

Sachiko melenggang santai, meninggalkan putra, kekasih asli, serta kekasih palsu putranya yang memasang tampang cengok melihat sikap Sachiko yang sungguh jauh di luar perkiraan mereka.

'Apa-apaan sikap Bibi tadi? Kenapa dia kelihatan begitu senang mengetahui kalau Ryuuzaki adalah kekasih Light?' pikir Misa tak percaya. 'Padahal selama ini tidak pernah dia bersikap seperti itu pada Misa! Ini benar-benar tidak masuk akal! Misa kan tidak mungkin dikalahkan sama panda kerempeng seperti Ryuuzaki! Misa lebih cantik dan lebih seksi! Apa mata Bibi tidak normal ya?' Gadis pirang itu sibuk menggerutu dalam hati, tidak sadar kalau Light, L, Watari dan Near sudah memasuki ruang tamu. Setelah sadar, ia pun mengikuti mereka berempat dan memaksa duduk di antara Light dan L walau kursi itu hanya muat untuk dua orang. Tentu saja tindakannya itu menghasilkan death glare dari L yang memaksa Misa untuk duduk bersebelahan dengan Near. Ia tidak mau terkena genjutsu tsukuyomi no panda(?) L lagi.

"Ryuuzaki, sepertinya ibuku sangat menyukaimu. Kaasan tidak jatuh pingsan dan terkena serangan jantung seperti dalam bayanganku. Ia bahkan memanggilmu 'Nak Ryuuzaki'!"

"…" L hanya diam. Ia memikirkan kembali apa maksud seringaian Sachiko yang tadi sempat dilemparkan ke arahnya sesaat sebelum ia pergi ke dapur untuk membuat teh. Rasanya ia mengenali seringaian semacam itu…

"Syukurlah ya, Ryuuzaki," timpal Watari sambil tersenyum simpul. Ia senang kisah cinta Light dan L tidak serupa dengan kisah salah satu artis seksi asal Indonesia yang hubungannya tak disetujui sang ibunda.

Sementara itu, Near hanya menyipitkan matanya, tidak tahu harus senang atau tidak L langsung mendapatkan restu semudah itu dari ibu Light. Sebenarnya ia dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari senyuman lebar Sachiko. Senyuman itu mengingatkannya pada senyuman Linda yang selalu berfangirling mengenai Matt dan Mello padanya, tidak peduli apakah Near mendengarkan atau tidak. Jangan-jangan Sachiko adalah…. Near tidak berani melanjutkan pemikirannya, karena jika firasatnya benar, L pasti akan mendapatkan teror tak berkesudahan. Akhirnya ia lebih memilih untuk bermain-main dengan robot Gundam kesayangannya.

"Khu khu khu… dilihat dari sikap ibumu yang tidak pernah absen menonton sinetron yaoi, sebenarnya hal ini sudah bisa kuprediksi, Light," Ryuk melayang-layang di udara. Dari tadi tak disorot, ternyata ia sibuk menata rambutnya menyerupai jambul khatulistiwa Syahrini. Model rambut eksotis dan fantastis itu diimbangi oleh terusan oranye bling-bling yang dikenakannya serta pulasan lipstik merah ngejreng yang memolesi bibir panjangnya. Kalau ia bisa terlihat oleh semua yang ada di situ, tentulah akan terjadi acara muntah berjamaah.

'Benar juga,' Light memikirkan ucapan Ryuk. 'Harusnya aku tahu Kaasan sudah sangat terpengaruh virus fujoshi gara-gara sinteron yaoi tidak jelas itu. Tapi syukurlah hal itu membuat hubunganku dan Ryuuzaki bisa diterima Kaasan dengan mudah tanpa adanya tumpahan air mata lebay dan acara kawin lari,' batin Light lega. Menyebut masalah kawin lari, Light kembali teringat dengan tujuan utamanya melakukan semua ini, yaitu rencana malam minggu hotnya (yang entah sudah berapa kali harus tertunda).

'Kali ini aku harus berhasil. Sudah sampai sejauh ini, aku tidak boleh gagal mendapatkan malam Minggu hotku. Aku pasti akan menemukan kelemahan bocah albino itu dan menyingkirkannya sejauh-jauhnya, setelah itu aku dan Ryuuzaki… hihihihi… baru membayangkannya saja aku sudah bersemangat…'

"Light-kun?" L memperhatikan seringaian mesum Light dengan kernyitan di wajahnya. Entah kenapa ia merasakan adanya bahaya yang siap menerkamnya bulat-bulat.

"Ah, Ryuuzaki, maaf aku melamun. Aku hanya terlalu senang hubungan kita diterima baik oleh Kaasan," Light memasang tampang cool dan menggenggam kedua tangan L. 'Ryuuzaki, tanganmu begitu mulus, aku tidak sabar untuk menyentuh bagian yang lain~'

"Ah, saya juga senang, Light-kun. Tapi kita belum melihat reaksi ayah dan adikmu…"

"Tenang saja, walau Tousan adalah kepala rumah tangga, tapi Kaasan adalah ratu di rumah ini. Kalau Kaasan sudah memutuskan sesuatu, Tousan tidak akan berani membantah. Habis kalau dibantah, 'jatah' Tousan akan dikurangi, padahal selama ini 'jatah'nya sudah dikurangi terus. Kalau dikurangi lagi, lama-lama 'jatah' itu bisa habis. Kasihan kan Tousan kalau setiap malam harus tidur di luar kamar ditemani nyamuk-nyamuk dan sebuah bantal guling?" Light menjelaskan panjang lebar, sementara L tidak mengerti apa maksud 'jatah' yang terus-terusan disebut Light. Ah… memang dasar kau itu masih polos mengenai hal-hal semacam itu, L… =.='

"Jadi maksudnya, Paman dan Sayu-chan juga akan setuju dengan hubungan kalian?" Misa menggeram tidak terima dari seberang meja. Gadis pirang itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat dengan gigi bergemeletuk menahan amarah. "Misa tidak akan membiarkan hal itu!"

"Maaf menunggu lama," Sachiko muncul dengan membawa nampan berisi teh dan kue-kue kecil. Otomatis Misa mengubah tampang garangnya menjadi semanis mungkin.

"Tidak lama kok, Bibi. Biar aku bantu ya~" Gadis pirang itu bangkit dari duduknya tetapi langsung dicegah oleh Sachiko.

"Tidak apa-apa, Amane-san. Kau kan tamu, duduk saja. Ini teh untukmu," Sachiko tersenyum keibuan seraya menyodorkan secangkir teh yang berwarna mencurigakan ke hadapan Misa. Gelembung-gelembung aneh bermunculan di permukaan teh itu. Misa mengernyitkan alisnya. Hanya tehnya saja yang berpenampilan ala ramuan nenek sihir begitu, teh untuk yang lain normal-normal saja. Bahkan teh yang disuguhkan untuk L berbau sangat wangi.

"Arigatou, Bibi," Ryuuzaki mengangguk canggung melihat seringaian Sachiko yang kembali tertuju ke arahnya.

"Kau benar-benar anak yang menarik. Lihatlah, pose dudukmu yang tidak biasa itu," Sachiko memikirkan beberapa adegan dewasa yang mungkin terjadi antara anaknya dengan L dalam posisi duduk L yang seperti itu. "Sungguh menarik ya. Hohoho…"

"Bibi, bukankah cara duduk seperti itu tidak sopan?" sergah Misa.

"Amane-san, saya duduk seperti ini karena jika duduk dalam posisi biasa, kemampuan penalaran saya akan berkurang sebanyak empat puluh persen…" balas Ryuuzaki datar.

"Ya, dan kalau sampai itu terjadi, akan banyak kasus kejahatan yang tidak bisa dipecahkan…" tambah Light.

"Kasus kejahatan?" Alis Sachiko naik, tertarik. "Memangnya apa pekerjaan Ryuuzaki-san?"

"Detektif," sahut keempat suara yang menjawab pertanyaan Sachiko secara bersamaan. Keempat suara itu adalah milik Light, L, Watari dan Near.

Sachiko menutup mulutnya yang menganga. "Detektif?"

"Tepatnya detektif nomor satu di dunia, Kaasan. Ryuuzaki adalah L," jelas Light sambil merangkul pinggang L.

"L?" Mulut Sachiko semakin menganga. "Ryuuzaki-san adalah L yang misterius, jenius dan terkenal itu? Kami-sama, anakku sungguh beruntung mendapatkan kekasih sepertimu!" Sachiko segera menggenggam kedua tangan L yang pucat. L yang tidak terbiasa mengadakan kontak fisik agak berjengit ketika tangannya digenggam seerat itu.

"Kalau begitu, apakah borgol yang menyatukan kalian ini ada hubungannya dengan pekerjaanmu?" Sachiko berkata dengan mata berbinar-binar sambil akhirnya melepas genggaman tangannya.

"Mengenai hal itu… sebenarnya tujuan saya datang kemari adalah untuk meminta izin pada orang tua Light-kun untuk membawa serta Light-kun ke markas saya. Ini hanya untuk sementara. Saya harus melakukan beberapa penyelidikan… dan saya membutuhkan bantuan Light-kun. Saya tahu Light-kun adalah anak yang cerdas dan saya bisa mengandalkannya. Borgol ini saya pasang untuk membuat ia tidak bisa terpisah dengan saya, sebab pekerjaan ini cukup berbahaya dan bisa gawat kalau sampai Light-kun lepas dari pengamatan saya," jelas L, terpaksa sedikit berbohong. Tidak mungkin kan dia bilang terus terang kalau borgol itu ia pasang untuk menyelidiki persentasi rasa cinta Light terhadapnya?

Dan tanpa ia duga, tampang Sachiko langsung sumringah mendengar berita itu.

'Jadi putraku dan kekasihnya yang manis ini akan terus bersama dan tak terpisahkan 24 jam sehari ya… terborgol satu sama lain pula… Aku bisa membayangkan hal-hal kinky yang mungkin terjadi di markas Ryuuzaki-san,' batin Sachiko. Ia pun memutar otaknya untuk bisa mengetahui perkembangan hubungan Light dan L tanpa harus terdengar mencurigakan ala fujoshi akut. Lalu muncullah sebuah ide yang begitu cemerlang namun licik di kepalanya.

"Ryuuzaki-san, kau pasti tahu kan kalau ayah Light adalah Kepala Kepolisian Jepang?"

L mengangguk pelan, menerka-nerka kemana arah pembicaraan ini.

"Bagaimana jika suamiku juga ikut ke markasmu? Aku yakin dia akan banyak membantu untuk memecahkan kasus yang kau tangani. Dia adalah pria yang menjunjung tinggi keadilan, pasti dengan senang hati ia akan membantumu," ujar Sachiko sambil kembali menampilkan senyum mautnya.

"Sebenarnya saya hanya membutuhkan bantuan Light-kun saja. Selain itu, bagaimana dengan pekerjaannya sebagai Kepala Kepolisian? Tidak mungkin Yagami-san meninggalkan kewajibannya begitu saja…" jawab L waspada. Ia bisa merasakan Light yang berkeringat dingin melirik ke arahnya.

"Soal itu bisa diatur kok. Suamiku bisa menjalankan tugas dan memberi perintah pada anak buahnya dari markasmu. Lagipula bukankah akan lebih mudah untuk menyelesaikan kasus kalau kau bekerja sama dengan kepolisian Jepang?" Sachiko mulai terdengar jenius seperti putranya sekarang. Kini kita tahu kejeniusan (dan kelicikan) Light sedikit-banyak menurun dari siapa…

"Kaasan, kau tidak bisa memutuskan seenaknya! Lagipula kita bahkan belum bertemu dengan Tousan untuk membicarakan masalah ini," Light ikut angkat bicara. Bukan apa-apa, tapi malam hotnya bisa semakin sulit dijangkau kalau orang yang berada di sekitarnya bertambah banyak begini.

Sachiko terdiam. Ia bangkit lalu berjalan ke arah telepon rumah yang terletak di luar ruang tamu. Semua orang hanya menatapnya tanpa berkata apapun dan memasang wajah bingung.

"Suamiku, kau pasti tidak ingin 'jatah'mu semakin kukurangi kan? Kalau begitu, cepat pulang ke rumah. Calon menantumu sudah menunggu. Dan ada yang harus kubicarakan denganmu."

Tanpa basa-basi lagi, Sachiko langsung menutup telepon. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu depan yang dibuka dengan membabi-buta.

"SACHIKO SAYANG, TOLONG JANGAN KURANGI JATAHKU LAGI! AKU SUDAH MULAI TUA, BIARKAN AKU MENIKMATI SAAT-SAAT TUAKU DENGAN MENUNJUKKAN BAHWA AKU MASIH SEPERKASA DULU!"

Teriakan sekeras toa itu menggelegar di kediaman keluarga Yagami, membuat semua orang yang ada di sana, termasuk Ryuk, menutup telinganya rapat-rapat.

Tampang histeris Soichiro menghilang begitu ia merasakan ratusan pasang mata reader dan karakter Death Note tertuju padanya. Sadar ia baru saja mengatakan hal yang sangat memalukan dengan suara sekeras gajah pengen kawin(?), Soichiro pun berdehem sekali kemudian memasang tampang berwibawa dan berjalan pelan menuju istrinya yang sedang berdiri di depan pesawat telepon serta tersenyum manis menyambut suaminya. Namun Soichiro tahu, di balik senyum semanis madu itu, terdapat maksud tersembunyi yang dapat membuat hidupnya terasa sepahit empedu.

"Suamiku, sebelum engkau berkenalan dengan calon menantu kita, ada baiknya kalau kita bicara terlebih dahulu."

Dengan itu, Sachiko menyeret Soichiro ke kamar mereka berdua dan mereka pun memulai pembicaraan rahasia yang masih bersangkutan dengan kehidupan percintaan putra mereka satu-satunya.

XXX

"…"

Keheningan menyelimuti ruang tamu sesaat setelah Sachiko dan Soichiro pergi untuk mengadakan pembicaraan rahasia. Mereka masih berusaha mencerna bagaimana bisa Soichiro sampai begitu cepat di rumah keluarga Yagami sedangkan yang bersangkutan masih berada di kantornya beberapa menit yang lalu. Apakah SSTI (Suami-Suami Takut Istri) semacam Soichiro bisa mendadak mempunyai kemampuan teleport kalau sudah diancam oleh istrinya?

"Jadi…" Light memulai pembicaraan setelah membasahi bibirnya sejenak, "…Kalau Tousan sudah sepanik itu, kurasa kita tidak punya pilihan lain selain membiarkan Tousan ikut ke markasmu, Ryuuzaki. Apa kau keberatan?"

"…Apa boleh buat kalau begitu. Lagipula sebenarnya pendapat ibumu ada benarnya. Saya membutuhkan bantuan langsung dari Kepala Kepolisian Jepang untuk menyelesaikan beberapa kasus tingkat A," gumam L.

Light menarik napas panjang. Ia harus pasrah menerima keadaan ini, sebab tidak ada satupun How to Use dari Love Note yang mengatakan bagaimana cara mengatasi situasi seperti ini. Mau mengandalkan Ryuk juga susah. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan Dewa Cinta itu di hadapan banyak orang begini. Menatapnya saja Light tidak bisa. Ia harus berpura-pura tidak melihat Ryuk yang sedang bercermin dengan cermin bermotif noraknya sambil mengelus-elus jambul khatulistiwanya yang 'sesuatu banget'.

Intinya, Light mati kutu.

Tapi ia masih belum mau menyerah. Tidak mungkin ayahnya ikut mengawasi ia dan Ryuuzaki kemana-mana, jadi pasti ada celah untuk melakukan rencananya sendiri terhadap tubuh L yang masih belum tersentuh siapa-siapa itu.

Sementara Misa juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan berbagai macam cara untuk mendekati Soichiro dan membuatnya menentang hubungan Light dengan Ryuuzaki.

Watari sendiri malah kepikiran dengan Wedy. Ia juga bisa sedikit susah bermesraan dengan kekasihnya itu kalau di markasnya terlalu banyak orang.

Near? Bocah itu malah asyik main ibu-ibuan dengan robot Gundam dan boneka Barbie-nya.

Di saat itulah Sayu memilih untuk muncul dari pintu depan dan berkata dengan ceria, "Tadaima~ Kaasan, di depan rumah kita ada mobil mewah lho!"

Near mengangkat kepalanya dan tepat ketika mata onyx-nya bersibobrok dengan mata Sayu, ia merasakan datangnya panah-panah asmara yang melesat tanpa ampun menuju hatinya. Tiga belas tahun menghirup napas di muka bumi ini, baru kali ini Near merasa terpesona dengan seorang gadis. Biasanya ia lebih terpesona pada Mello yang sedang makan coklatnya dengan nikmat, atau pada robot Gundamnya yang sungguh tampan dan memikat(?). Apa yang telah membuat jantungnya berdetak dengan cepat ketika melihat gadis manis itu tersenyum padanya? Apakah kecantikan Sayu atau ulah sesosok Dewa Cinta di pojokan sana yang sedang terkekeh tidak jelas?

Kelanjutannya bisa disaksikan di chapter selanjutnya… *dirajam readers*

A/N: oke, aku tahu TBC-nya sangat amat menggantung dan tidak jelas. Karakter utamanya LightL kenapa di akhir malah ada scene NearSayu? Fufufu, sedikit spoiler, itu masih ada hubungannya dengan kisah LightL kok :D

Spoiler lagi, ada 'sesuatu' dalam pembicaraan Sachiko dan Soichiro di kamar mereka itu. Selain itu, Soichiro kayaknya masih belum ngeh kalau calon menantu yang dimaksud Sachiko adalah L. XD

Maaf kalau karakternya kubuat OOC semua, habis diperlukan untuk kelanjutan ceritanya sih ._.v

Yosh, ditunggu deh review dari kalian. :) Semoga ga pada nimpukin aku gara-gara ceritanya makin gaje. *kabur*