Author Note: -sigh- update lagi... -lagi jenuh dan bete abis- thanks for reviewing...
Enjoy!
Your Other Life
Chapter 14 : Separated.
Tubuhku mengkaku, seseorang yang tidak kukenal –bahkan aku tidak dapat melihat wajahnya karena gelap—menyuruhku untuk tidak bergerak. Aku dapat merasakan tangannya menyentuhku –sekitar bahuku—dengan kuat. Tiba-tiba, muncul cahaya di dekatku dan membuat mataku silau...
"Fire Buster!" Teriak orang itu.
Kulihat sebuah api meluncur dan mengenai monster-monster yang berada di belakangku. Ledakan kuat terjadi ketika api itu mengenai monster, angin kuat berhembus dari ledakan itu dan mendorongku.
Orang asing itu lalu menahan tubuhku agar tidak terhempas angin. Setelah angin itu menghilang, muncul cahaya yang berasal dari magic fire yang muncul di tangan orang asing itu. Aku pun dapat melihat wajahnya dengan jelas, rasanya aku pernah menemui pemuda dengan bekas luka di antara kedua matanya...
"Kau...?" Tanyaku masih tidak bisa mengingat namanya setelah menatapinya cukup lama.
"Leon," katanya menyebut namanya sekali lagi. "Apakah kau terpisah dari temanmu?"
"Huh? Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku heran.
"Karena tadi kau berteriak memanggil temanmu," jawabnya dan mukaku langsung memerah, seharusnya aku tidak menanyakan hal bodoh seperti itu. "Field di sini sangat kacau..." Dia terlihat menatapi sekelilingnya.
"Maksudmu?" Tanyaku heran.
"Tidakkah kau sadar, bahwa setiap kali penerang padam..." Leon lalu memegang bahuku, lalu memadamkan api sejenak, lalu menyalakannya lagi. "...maka kau akan berpindah tempat secara mendadak meski kau tidak bergerak sedikit pun?"
Aku lalu menatapi sekelilingku, rasanya tempat ini sedikit berubah, meski tidak banyak. Mungkin itu sebabnya aku tidak menyadarinya...
"Oh...," kataku memberi reaksi lambat. "Apakah kau terpisah dengan temanmu juga?" Tanyaku sambil menatapnya.
Dia hanya mengangguk pelan.
"Oh...," kataku sambil menunduk. "Um," aku menatapnya dengan ragu-ragu, aku merasa canggung jika sendirian dengan orang yang baru kukenal. "Bo-bolehkan aku bersamamu hingga aku bertemu dengan temanku? Levelku rendah, sehingga aku kesulitan menghadapi monster yang menyerangku," jelasku dengan malu-malu, ini merupakan yang tertama kalinya aku meminta tolong pada orang yang baru kukenal. Biasanya aku lebih sering meminta tolong pada keluargaku, aku jarang sekali meminta tolong pada temanku jika tidak terpaksa. "Dan satu hal lagi, sebenarnya aku takut sendirian di dalam kegelapan," kataku dengan muka memerah, suaraku terus mengecil saat mengatakannya.
"Okay." Dia terlihat tidak keberatan untuk menolongku.
Maka kami berdua menyusuri gelapnya gua ini sambil mencari temannya dan juga Ni-san, Roxas, dan Axel. Keberadaan Leon sungguh menolongku, dia sungguh kuat! Mungkin hampir setara dengan Ni-san.
Ketika monster menyerang kami, maka aku menggantikannya menggunakan magic fire sebagai penerang agar kami tidak berpindah tempat secara mendadak. Setelah dia mengalahkan monster yang menyerang kami, dia lalu menggantikanku menggunakan magic fire -karena magic firenya lebih kuat, sehingga dapat menerangi tempat ini cukup luas- dan kami melanjutkan pencarian kami.
Aku menghela napas pelan, dimana ya Ni-san, Roxas, dan Axel berada saat ini? Apakah mereka sedang mencari Bug sekaligus mencariku? Di tengah lamunanku ketika menggunakan magic fire menggantikan Leon yang sedang menyerang monster, kulihat seekor monter type udara hendak menyerangnya dari belakang...
"Behind you!" Teriakku memperingatinya.
Aku langsung terkagum-kagum padanya. Leon bukannya menghindari serangan monster itu, dia justru menyerang monster itu sebelum serangan monster itu mengenainya. Padahal tinggal beberapa centi lagi sebelum monster itu melukainya...
Wow! Kapan ya aku bisa sekuat itu? Pastinya keren bisa menjadi sekuat itu...
"So, Leon..." Aku menatapnya, kami telah mengelilingi tempat ini dalam kesunyian selama beberapa menit dan aku ingin memecah kesunyian yang membuatku gelisah. "...sudah berapa lama kau memainkan game ini?" Tanyaku penasaran.
"...tiga tahun," jawabnya.
"Oh," kataku dengan wajah tercengang, tidak heran dia sangat kuat. "Lalu, mengapa kau memilih memakai Heavy Sword?"
"Karena kekuatan senjata ini hampir sama dengan Exe, meski senjata ini lebih berat, tapi jarak serangnya lebih baik dari Exe," jawabnya.
"Wow! Aku jadi ingin mencoba menggunakannya!" Kataku dengan semangat.
Kulihat dia tersenyum. "Sayangnya, charactermu tidak dapat menggunakan senjata jenis lain selain Keyblade," katanya memberitahu.
"Oh yeah, kau benar..." Aku baru ingat bahwa Sora adalah charater khusus. "...meski begitu, aku senang dengan character ini, karena character ini adalah pemberian dari Ni-san," jelasku dengan bangga.
"Kau mempunyai kakak yang baik," kata Leon dengan senyum.
"Yeah, kurasa saat ini Ni-san mencemaskanku karena terpisah darinya...," kataku dengan cemas.
"Apakah karena kau masih kecil?" Tanya Leon.
Di game ini, pemain dengan umur muda atau tua tidak akan ketahuan karena character mereka yang tidak akan pernah berubah meski waktu terus berjalan, atau bisa saja mereka ganti character jika bosan dengan character yang mereka pakai saat ini.
"Um, umurku delapanbelas tahun...," kataku memberitahu. "Kurasa dia cemas karena aku perempuan," jelasku sambil menghela napas.
"Kau perempuan?" Tanya Leon.
Di sini, gender juga tidak diketahui karena pemain bebas memilih apakah mereka ingin menggunakan character laki-laki atau perempuan.
"Oh, kau tidak menyadarinya karena Sora adalah laki-laki?" Aku pun bertanya balik.
"Sesungguhnya aku menyadarinya, tetapi aku kurang begitu yakin. Cara battle laki-laki dan perempuan terlihat sekali perbedaannya. Caramu menghindari serangan monster terlihat kaku," jelasnya.
"Oh..." Mukaku memerah ketika dikatakan kaku, tidak kusangka gerakanku sekaku itu hingga terlihat olehnya, padahal sudah beberapa minggu ini aku memainkan game ini, tapi gerakanku masih saja kaku.
"Oh!" Kataku terkejut melihat sebuah cahaya dari kejauhan. "Disana terdapat cahaya!" Kataku menunjuk dengan semangat.
Dari kejauhan, aku mendengar suara Ni-san dengan samar-samar...
"Ni-san!" Kataku hendak berlari kearah cahaya itu.
Tetapi, tiba-tiba Leon menahanku. "Wait," katanya dengan wajah waspada.
"Ada apa?" Tanyaku heran.
Leon hanya terdiam dengan wajah waspada, dari cahaya yang jauh itu, semakin lama aku merasa cahaya itu semakin mendekati kami, bersamaan dengan itu, aku dapat melihat monster yang berlari menuju arah kami...
"Don't let it escape!" Terdengar teriakkan Ni-san dari kejauhan.
Leon lalu melangkah kedepan, membelakangiku dan bersiap-siap menyerang monster yang menuju kearah kami.
Aku segera menggantikannya menggunakan magic fire agar dia berkonsentrasi menyerang monster itu...
Dua buah api... bukan! Itu dua buah cakram yang dibalut api! Cakram itu meluncur kearah monster yang menuju kearah kami. Salah satu cakram itu berhasil mengenai monster itu dari belakang, Leon segera menyerang monster itu ketika terkena serangan cakram tadi.
Kulihat Ni-san dan Axel berlari mengejar monster yang sedang dihadapi oleh Leon...
"Sonic trust!" Teriak Ni-san.
Ni-san langsung menusukkan senjatanya hingga menembus tubuh monster itu. Monster itu lalu terlihat terdiam sejenak hingga tubuh monster itu menghilang...
Tiba-tiba aku melihat bebatuan di sekitarku mulai bersinar dan menerangi tempat yang gelap ini. Aku baru menyadari bahwa ternyata tempat ini sangat indah –karena tadi pencahayaan kurang, sehingga aku tidak dapat melihat dengan jelas—dan aku dapat melihat monster-monster yang berada di sini dengan sangat jelas...
"Sora!" Teriak Ni-san dengan wajah terkejut.
"Huh?" Aku memiringkan kepalaku ke kiri, merasa heran mengapa Ni-san terlihat terkejut.
Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dari arah punggungku. Aku terjatuh ketanah dan tidak dapat bergerak, kurasa karena HPku habis?
To Be Continued...
Author Note: woah! Sora kehabisan HP! Bagaimana ini! Tunggu saja chapter selanjutnya! :P -tentu saja updatenya minggu depan, aku lagi so not in mood TT_TT-
Review?
