"Seunghoon, kenalkan, ini Namjoon, temanku" Yoongi memperkenalkan pada Seunghoon yang ikut berdiri dan membungkuk didepan Namjoon.
"Kim Namjoon imnida" Namjoon memperkenalkan diri.
"Lee Seunghoon imnida" Seunghoon memperkenalkan diri. "Silahkan duduk" Seunghoon mempersilahkan Namjoon dan Yoongi untuk duduk.
Mereka sedang berada disebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantor agensi, Namjoon memang sengaja Yoongi bawa untuk diperkenalkan pada Seunghoon dan juga Joohyun.
"Dimana Joohyun hyung?" Yoongi mendudukan diri didepan Seunghoon.
"Dijalan. Sebentar lagi sampai mungkin" jawab Seunghoon. "Jadi, Namjoon-ssi, kata Yoongi kau punya kemampuan memproduksi lagu, apa kau membawa rekaman atau apapun untuk diperdengarkan? Joohyun hyung itu sangat ketat dalam hal memilih produser baru yang akan masuk dalam tim nya" Seunghoon memulai.
"Aku membawanya. Ada diponselku" jawab Namjoon.
"Pesanan anda tuan" seorang wanita pramusaji menginterupsi, meletakan empat gelas kopi hitam diatas meja.
"Terimakasih" Seunghoon tersenyum ramah.
"Aku sudah dengar lagunya. Aku rasa Joohyun hyung akan suka" tambah Yoongi.
"Kau tahu sendiri lajang tua itu sangat ketat dalam urusan pekerjaan. Tapi apapun itu, aku harap dia bisa sedikit lunak padamu, Namjoon-ssi" Seunghoon menepuk bahu Namjoon yang duduk disampingnya.
"Sebenarnya, aku tidak ingin bekerja sebagai produser…" guman Namjoon, membuat Yoongi membulatkan matanya.
"Mwoya?" koor Yoongi dan Seunghoon bersamaan.
"Sebenarnya aku hanya suka membuat lagu, tapi untuk bekerja sebagai produser, aku tidak bisa." Namjoon melirik kearah Yoongi dan Yoongi mengangguk paham.
"Ku pikir ayahmu sudah berubah pikiran" Yoongi menaikan bahunya.
"Tidak akan pernah, hyung" Namjoon menghela napas.
"Maaf aku terlambat" Joohyun menepuk bahu Yoongi dan langsung duduk disamping Yoongi.
"Kami juga baru datang" Yoongi menjelaskan.
"Jadi, ini Kim Namjoon, sahabat Min tidak punya tata karma Yoongi?" Joohyun melirik pada Namjoon. "Aku Joohyun" Joohyun memperkenalkan diri.
"Kim Namjoon imnida. Senang berkenalan dengan anda, Joohyun-nim" Namjoon membungkuk hormat.
"Aigoo-ya… Min Yoongi, harusnya kau meniru sikap sopan santun sahabatmu ini" Joohyun menggeleng dramatis kearah Yoongi.
"Hmmm" Yoongi guman tak perduli dan mulai menyeruput kopinya.
"Kau lihat ini, Namjoon? Bagaimana bisa kau bersahabat dengan anak seperti ini?" Joohyun makin dramatis.
"Hentikan, pak tua. Kita bahas soal lagunya saja" Yoongi memutar bola matanya.
"Dasar tidak punya sopan santun." Maki Joohyun. "Jadi, kau akan memberikan lagumu pada kami?" Joohyun melirik tajam pada Namjoon.
"Ne, itupun kalau Joohyun-nim tertarik dengan laguku" Namjoon berucap sopan.
"Punya rekaman atau semacamnya? Aku akan mendengarkan lagumu distudio nanti" Joohyun menaikkan alisnya.
"Ada diponselku" Namjoon mengeluarkan ponselnya.
"Baiklah, kau bisa mengirim lagu itu nanti. Ngomong-ngomong, lagumu tentang apa?" Joohyung menatap penasaran.
"Tentang seorang laki-laki yang cintanya bertepuk sebelah tangan" Namjoon tersenyum pahit.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Psst… Yoongi Hyung… Jiminie merindukanmu" Jimin melongokan kepalanya dicelah pintu studio Yoongi.
Hari ini Jimin memang sengaja datang untuk mengantarkan undangan pentas tari pada Yoongi.
"Masuk, kenapa hanya mengintip?" Yoongi terkekeh.
"Yoongi hyung tidak sibuk?" Jimin masih bertahan dengan posisinya.
"Tidak, masuklah" Yoongi tersenyum lebar.
"Aku masuk" Guman Jimin pelan dan berjalan kearah Yoongi yang duduk dekat computer.
"Jadi, ada apa?" Yoongi menarik tangan Jimin mendekat padanya yang sedang duduk dikursi kerja.
"Hari ini aku dan Kai akan ada lomba tari. Harusnya Chanyeol hyung atau eomma dan appa yang datang, tapi mereka sibuk" adu Jimin.
"Lalu?" Yoongi mengelus tangan Jimin yang ada digenggamanya.
"Yoongi hyung datang ya. Kai datang bersama keluarganya, aku juga ingin ada yang melihat dan mengenaliku saat aku menari nanti" Jimin berucap iri. Dia ingin keluarganya datang mendukungnya, tapi pekerjaan sepertinya tidak punya belas kasihan.
"Aku akan datang. Mana undangannya?" Yoongi mengulurkan tangannya.
"Ini" Jimin menyerahkan undangan ditangan Yoongi dengan semangat.
"Acaranya jam lima?" Yoongi menaikan alisnya.
Jimin mengangguk semangat. "Ah, apa hyung sibuk?"
"Ani, aku akan melihat pacarku menari nanti" Yoongi berdiri dan menggusak rambut Jimin. "Sudah makan?"
"Sudah hyung. Aku tidak bisa lama disini, Kai menungguku diparkiran. Kami harus pergi ke gedung kesenian sekarang hyung" Jimin mencubit kecil kaos dibagian perut Yoongi.
"Ya sudah. Hati-hati." Yoongi menggusak rambut Jimin lagi dan memberi kecupan didahi Jimin.
Jimin memeluk erat Yoongi setelah dihadiahi kecupan di dahi. Menghitung dalam hati sampai sepuluh, kemudian melepas pelukannya di pinggang Yoongi.
"Jam lima. Jangan terlambat" Jimin memperingatkan.
"Iya sayang…" Yoongi tersenyum lucu.
"Baiklah. Sampai bertemu di gedung kesenian, Yoongi Hyung." Jimin mengecup bibir Yoongi sebelum berlari kencang keluar studio. Meninggalkan Yoongi yang terkekeh sendiri didalam studio.
Yoongi kembali memutar kursi menghadap computer. Ditangannya ada undangan dari Jimin, diam-diam Yooongi merasa sedikit sedih. Dia teringat ucapan Seokjin soal Jimin.
"Jimin sangat bergantung padamu. Itu wajar, selain karena kau kekasihnya, hanya kau yang bisa dia mintai perhatian" ucap Seokjin sambil menggusak rambut Yoongi.
"Kenapa Appa bilang begitu?" Yoongi mendongak menatap Seokjin yang sedang berdiri meletakan makanan diatas meja makan.
"Ingat saat Chanyeol memintamu menginap menjaga Jimin?" Seokjin melirik pada Yoongi yang masih duduk kebingungan di kursi makan.
"Ne?"
"Dia datang kesini untuk minta izin agar kau diizinkan menginap dirumahnya menjaga Jimin, padahal kalian baru saja membuat masalah. Appa sempat bertanya, kemana orangtua mereka sampai Jimin tidak ada teman dirumah, Chanyeol bilang, orangtua mereka untuk sementara tinggal di Jeju, ada urusan bisnis yang membuat mereka belum bisa kembali kerumah" cerita Seokjin.
"Lalu Chanyeol bilang, Jimin memang biasa ditinggal sendiri dirumah tanpa Chanyeol ataupun orangtuanya. Tapi, biasanya ada pembantu yang menginap, tapi sekarang pembantu mereka tidak menginap dirumah lagi." Seokjin memandang Yoongi yang juga sedang memandangnya dengan tatapan bingung.
"Kau tidak paham?" Seokjin tersenyum dan duduk dikursi.
"Aku tidak paham, Appa"
"Jimin-mu kesepian" ucap Seokjin. Membuat Yoongi tersentak.
.
.
.
Yoongi duduk dibarisan nomor tiga dari depan panggung. Yoongi datang setengah jam lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Diruangan itu banyak anak kecil dan ibu-ibu yang datang, Yoongi memperhatikan sekeliling dan dia hanya mengangkat bahunya tak perduli.
Yoongi sangat sibuk dengan ponselnya yang terus bergetar, nama Joohyun muncul disana dan Yoongi mengernyit hidung tidak suka.
"Perusuh" komentar Yoongi dan membiarkan ponselnya terus bergetar.
Terhitung sudah lima kali Joohyun menelepon dan Yoongi sudah mulai kesal. Acara sudah akan mulai tapi perusuh tua ini tidak juga berhenti mengganggunya.
"Apa hyung?" Yoongi akhirnya menyerah mengangkat telepon Joohyun.
"Kau dimana?" terdengar suara Joohyun diujung telepon.
"Gedung kesenian. Ada apa?" jawab Yoongi tanpa minat.
"Apa yang kau lakukan disana? Mencari mangsa baru?"
"Jangan sembarangan bicara, Pak tua. Ada apa?" Yoongi memutar bola matanya.
" Ini soal temanmu, Namjoon. Bisa kau suruh dia datang ke kantor sore ini? Atau besok pagi juga tak masalah" Joohyun berucap senang.
"Apa lagu Namjoon tembus ke bank lagu?" Yoongi bertanya penasaran.
"Kau sudah dengar lagunya kan? Lagunya keren. Aku berencana membelinya. Makanya aku ingin dia datang kesini"
"Baiklah. Aku akan menghubunginya sekarang. Terimakasih, hyung" Yoongi berucap ceria. Akhirnya cita-cita Namjoon bisa terkabul sedikit lagi.
"Tidak perlu. Kirim saja nomor ponsel Namjoon. Aku yang akan bicara langsung dengannya" ucap Joohyun.
"Benarkah? Baiklah"
"Kenapa kau terdengar senang sekali?" Joohyun mengerutkan alisnya bingung.
"Tentu saja senang. Mimpi sahabatku akan terkabul sedikit lagi. Terimakasih"
"Uhh.. kau manis sekali…" Joohyun membuat suara yang aneh ditelinga Yoongi. Membuat Yoongi merinding.
"Berhenti bertindak seperti om-om genit, pak tua" omel Yoongi.
"Ya! Aku masih 30 tahun! Enak saja!"
"Sudahlah, akan ku kirim nomor Namjoon sekarang" Yoongi memutus sambungan teleponnya.
.
.
.
"Jadi, Namjoon, lagu ini tentangmu?" Joohyun memasang lagu ciptaan Namjoon distudionya.
"Ne, hyung-nim" Namjoon mengangguk kaku.
Sudah lima hari berlalu dan Namjoon tidak mengira lagunya bisa diterima secepat ini. Meskipun belum tentu diproduksi, setidaknya Namjoon sedikit berbangga karena lagunya bisa dilirik agensi sebesar ini.
"Lagunya bagus. Kau membawa-bawa soal perbedaan dilirik lagumu. Ku tebak, kau jatuh cinta pada yang lebih tua?" Joohyun menaik turunkan alisnya, jahil.
Namjoon tersenyum kaku. Dia asing dengan orang yang ada didepannya ini. Tapi pertemuan lima hari yang lalu sepertinya membuat Namjoon sedikit menggerti, orang yang duduk didepannya ini sedikit ajaib. Dan Namjoon sepertinya mampu memahami sifat ramah Joohyun.
"Sudah ku tebak" Joohyun menepuk meja didepannya. "Kau tau Namjoon, caramu menuliskan lagu patah hati ini, keren. Patah hati lelaki jantan! Tidak berlebihan!" ucap Joohyun mendeskripsikan lagu ciptaan Namjoon.
"Terimakasih, hyung-nim"
"Aku jadi ingat kisahku sendiri. Saat aku berumur 25 tahun, aku jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya anak. Dia sudah bercerai waktu itu" cerita Joohyun. Diam-diam, Namjoon merasa tertarik dengan kisahnya. "Aku mengejarnya mati-matian, tapi dia menolakku" lanjut Joohyun.
"Ya, aku juga mengejar dan ditolak" batin Namjoon.
"Aku masih terlalu muda saat itu untuk menyadari kalau dia tidak bisa percaya dengan mudah pada orang lain. Ada trauma masa lalu yang sulit dihilangkan, dan aku melupakan fakta itu dan sibuk berkutat dengan patah hatiku setelah ditolak" kenang Joohyun. "Sekarang aku menyesal"
"Menyesal? Kenapa hyung?" Namjoon tersentak. Kisahnya, mirip dengan Joohyun.
"Aku berhenti mengejarnya. Saat aku bertemu dengannya lagi, dia sudah menikah dengan orang lain yang umurnya sama denganku" Joohyun menundukan pandangannya. "Asal kau tahu saja, perasaanku tidak main-main. Aku ingin serius dengannya, tapi aku bertindak konyol. Aku sibuk dengan patah hatiku, mengalihkan pandangku ke orang lain, sementara hatiku tertinggal untuknya, sampai sekarang"
"Dia… menikah?" Namjoon membolakan matanya.
"Ada orang lain yang lebih gigih mendekatinya, menata ulang kepercayaannya dan berjuang untuknya lebih dari apa yang kulakukan. Yang kudengar, suaminya sekarang sudah ditolak lebih dari tiga kali, tapi lihat hasilnya. Mereka menikah dan aku hanya seperti ini sampai sekarang. Pergi dari orang satu, ke orang yang lain. Selalu merasa mereka yang ku kencani tak cukup untukku. Aku membandingkan mereka dengan dia. Dan itu terus terjadi sampai sekarang" Joohyun menghela nafas lelah.
Namjoon merenung. Joohyun seolah menceritakan ulang sekaligus memprediksi keadaan Namjoon kedepannya. Namjoon sangat sadar, apa yang Joohyun lakukan dimasa lalunya, sedang Namjoon lakukan sekarang.
"Namjoon, kalau kau memang serius, perjuangkan. Jangan sepertiku yang sibuk dengan patah hatiku, tau-tau sudah ada pria brengsek yang menyalipku" Joohyun terkekeh.
Namjoon terdiam lama.
.
.
.
Seokjin sedang berada disebuah Mall dan berada di toko buku sedang sibuk mencari kotak pensil titipan Yoonji. Saat sedang sibuk mencari, mata Seokjin tak sengaja mengangkap siluet Namjoon yang berdiri di dekat rak novel terjemahan. Seokjin terdiam beberapa saat memandangi punggung Namja yang sibuk dengan novel ditangannya, setelah beberapa detik terdiam, Seokjin menggeleng dan berjalan menjauh.
Seokjin masih ingat betul bagimana Namjoon mengabaikannya dan berjalan melewatinya dengan seseorang yang Namjoon genggam tangannya. Seokjin tidak bisa berbohong kalau dia merasa sedih. Beberapa minggu tanpa Namjoon, Seokjin merasa sepi, tapi Seokjin tidak bisa menyesali apa yang sudah terjadi, kan?.
Seokjin berjalan kekasir setelah menemukan kotak pensil untuk Yoonji dan mengantri. Saat Seokjin meletakan barangnya dimeja kasir dan bersiap membayar, seseorang meletakan kartu berwarna hitam dimeja kasir.
"Aku yang bayar"
Seokjin tersentak dan membalikkan badannya. Dibelakangnya, Namjoon sudah berdiri dengan santai dan tidak melihat kearah Seokjin sama sekali.
"Tidak, ini uangnya" Seokjin memberikan uangnya pada kasir yang kebingungan memandang Seokjin dan Namjoon bergantian.
"Jadi, siapa yang bayar?" sang kasir melirik lagi pada Namjoon dan Seokjin.
"Aku" ucap Seokjin dan Namjoon bersamaa.
"Aku yang bayar. Hitung saja semuanya" ucap Namjoon sambil meletakkan novel miliknya juga.
"Tidak, aku.."
"Antrian sudah panjang, jangan memperlama" tegur Namjoon tanpa melihat kearah Seokjin.
"Ini barang anda, tuan" kasir menyerahkan bungkusan berisi novel milik Namjoon dan kotak pensil milik Seokjin pada Seokjin yang berdiri kikuk didepan meja kasir.
"Namjoon…" Seokjin menarik baju Namjoon pelan, membuat Namjoon terhenti. "Novelmu…" Seokjin mengeluarkan novel milik Namjoon dari bungkusan plastic.
"Ikut aku" Namjoon menarik tangan Seokjin, mengabaikan novel yang sudah Seokjin ulurkan padanya.
Mereka sampai didalam mobil Namjoon, meskipun Seokjin sudah berkeras menolak, akhirnya Seokjin mengalah karena beberapa pengunjung yang sedang arker, mulai memperhatikan mereka bedua.
"Namjoon, ada apa?" Seokjin bertanya pelan. Duduknya tak nyaman, dia ingin pergi, tapi takut Namjoon marah padanya.
"Dokter Seokjin, apa tidak ada kesempatan sama sekali untukku?" Namjoon berucap langsung.
"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya" Seokjin berucap pelan.
"Karena umur atau karena kau adalah Appa-nya Yoongi?" Namjoon menatap tajam pada Seokjin.
"Keduanya" jawab Seokjin.
"Kalau aku bukan sahabat Yoongi-hyung, apa kau akan memperlakukanku seperti ini juga?" Namjoon mendengus.
"Perlakuan seperti apa yang kau maksud?" Seokjin mengernyit pada Namjoon.
"Dokter Seokjin, aku tau kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Kenapa kau selalu mengelak?" Namjoon berucap frustasi.
"Berhenti berucap omong kosong, Kim Namjoon. Lebih baik, kau kembali pada pacarmu. Dia akan sangat sedih jika tahu kekasihnya seperti ini" Seokjin ingin membuka pintu mobil, tapi Namjoon menahan tangannya.
"Pacar apa yang kau maksud?" Namjoon menajamkan matanya pada Seokjin, tangannya masih setia memegang pergelangan tangan Seokjin.
"Lepaskan.."
"Kau cemburu" tembak Namjoon.
Seokjin membolakan matanya. Sudah beratus kali Seokjin menyangkal kalau dia cemburu setiap ingatan itu datang padanya, tapi saat orang lain yang menyatakan langsung padanya, Seokjin tidak mampu mengelak. Dia memang cemburu.
"Lepaskan tanganku, Namjoon" Seokjin mendengus putus asa.
"Apa tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan? Seokjin, apa kau senang melihatku dengan orang lain?" Namjoon makin frustasi.
Seokjin terdiam, berhenti memberontak.
"kenapa kau tidak bisa memberiku kesempatan?" Namjoon menunduk dan membawa tangan Seokjin keatas pahanya.
"Kau hanya penasaran. Hentikan semua ini" guman Seokjin.
"Kalau aku hanya penasaran, aku tidak akan sampai seperti ini Seokjin"
"Ingatlah kalau kau sudah punya kekasih, Namjoon" Seokjin melemah.
"Dia bukan kekasihku" Namjoon berucap lelah. "Aku mencintaimu…" aku Namjoon.
Seokjin terdiam, dadanya berdebar keras saat Namjoon menyatakan perasaannya.
"Aku tahu kau pasti takut dan tidak percaya. Tapi aku bersumpah, aku mencintaimu, Kim Seokjin. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana meyakinkanmu. Jihoon, dia, aku memang brengsek, aku menjadikannya pelarian dan berharap aku bisa melupakanmu, tapi aku tidak bisa" Namjoon menunduk makin dalam. "Sulit sekali, Dokter Seokjin" Namjoon berucap putus asa.
Namjoon tersentak saat Seokjin memeluknya dengan satu tangan , sementara tangan Seokjin yang satu masih berada digenggaman tangan Namjoon.
"Aku takut, Namjoon" Seokjin mengaku.
Namjoon melepas genggaman tangan Seokjin dan beralih memeluk Seokjin dengan erat. Mengelus punggung bergetar Seokjin dengan lembut dan mengecup kepala Seokjin, memberikan ketenangan yang dibutuhkan namja yang berada dipelukannya sekarang.
"Aku tau. Kau pasti takut pada Yoongi jika dia tau soal kita, tapi kita bisa menutupinya dulu kan? Beri aku kesempatan sekali saja dokter Seokjin" Namjoon mengelus rambut Seokjin yang masih memeluknya erat. "Aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu"
"Kau tidak masalah berkecan dengan yang lebih tua?" Seokjin mengurai pelukannya dan mengusap kasar air matanya yang tidak sopan turun.
"Aku tidak mempermasalahkan apapun tentangmu dari awal"
"Aku punya dua anak"
"Aku tau" Namjoon tersenyum.
"Aku sudah pernah bercerai"
"Aku sudah tau, Dokter Seokjin…" Namjoon tersenyum makin lebar.
"Kau tidak masalah?" Seokjin memandang Namjoon dengan sisa air mata dipipinya.
"Kalau aku merasa ada masalah, apa kau pikir aku akan mengejarmu seperti ini?" Namjoon memandang lembut pada Seokjin.
"Jadi?" Seokjin menunduk salah tingkah.
"Kalau kau mengatakan iya, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Dokter Seokjin" Namjoon tersenyum, mengelus kepala Seokjin. "Be mine?" pinta Namjoon.
Seokjin terdiam lama. Dia sadar wajahnya sudah memerah seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Ku anggap itu iya" Namjoon tersenyum melihat kepala Seokjin yang mengangguk samar.
Seokjin mengangkat kepalanya dan melihat Namjoon yang sedang tersenyum lembut kearahnya.
"Ke-kenapa melihatku begitu?" Seokjin mengernyit, tapi bibirnya tersenyum malu.
"Akhirnya aku punya pacar yang cantik" Namjoon terkekeh dan dihadiahi pukulan dibahunya oleh Seokjin.
"Namjoon, aku harus pulang sekarang. Yoonji sudah menungguku di rumah Jungkook. Kau ingat Jungkook kan?" Seokjin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ne. ingin ku antar?"
"Aku bawa mobil."
"Ya sudah, ku antar ke mobil" ucap Namjoon.
"Tidak perlu. Mobilku ada dibelakang mobil miliku" Seokjin menunjuk kebelakang.
"Oh, oke" Namjoon melirik kebelakang.
"Sampai bertemu" Seokjin sudah memegang handle pintu saat Namjoon kembali menariknya. "Kenapa?" Seokjin mengernyit.
Kernyitan dialis Seokjin berubah menjadi kegugupan dimatanya, Namjoon berjarak sangat dekat dan Seokjin paham yang akan terjadi selanjutnya. Namjoon mencium bibirnya.
"Sampai bertemu" Ucap Namjoon saat ciuman yang hanya sedetik itu terlepas.
"N-ne" ucap Seokjin gugup dan berjalan terburu kemobilnya.
.
.
.
Yoongi ternganga tak percaya. Diatas panggung, tepat didepannya, Jimin sedang menari dengan sangat indah. Sesuatu yang tidak pernah Yoongi tahu sebelumnya. Yoongi tidak tahu apa nama tarian yang sedang ditarikan Jimin, dia hanya focus menatap setiap gerak gerik Jimin. Ekspresinya, gerakan tangannya, kakinya, perutnya yang sesekali terlihat karena bajunya yang terangkat saat Jimin melompat dan mata Jimin. Mata Jimin selalu melihat kearah Yoongi setiap ada kesempatan.
"Hebat sekali" guman Yoongi memuji. Yoongi bahkan melupakan fakta jika Kai berada disana. Menari bersama Jimin.
Saat music berhenti dan penari membungkuk hormat, Yoongi berdiri dan menepuk tangan. Dia sangat bangga melihat Jimin yang berada diatas panggung.
Saat sedang sibuk menonton penampilan selanjutnya, seseorang menepuk bahu Yoongi dan duduk manis disebelahnya. Jiminnya kembali.
"Hyung, apa tarianku bagus?" Jimin bertanya antusias.
"Aku tidak tahu kau bisa menari sebagus itu" Yoongi tersenyum bangga.
"Benarkah? Aku sudah berlatih setiap hari bersama Kai, hyung. Aku tidak perduli apa kata juri, yang penting hyung suka tarianku" Jimin tersenyum berbangga diri.
"Mana bisa seperti itu. Ini kan kompetisi, kau harus peduli dengan penilaian juri" Yoongi menggusak rambut Jimin.
"Hyung, dimana gelangmu?" Jimin seketika sadar saat melihat gelang kembar milik mereka, tidak Yoongi kenakan.
"Huh?" Yoongi mengernyit.
"Hyung tidak pakai gelang kita?" Jimin mengernyit dan menjauhkan tubuhnya dari Yoongi. "Sejak kapan hyung tidak memakainya lagi?" Jimin bertanya lagi.
"Sayang…" Yoongi mencoba menjelaskan, menarik pergelangan tangan Jimin mendekat, tapi dengan pelan, Jimin menepis tangan Yoongi.
"Aku akan ganti baju. Hyung pulang sendiri saja, aku akan pergi dengan guru tari dan teman-temanku di sanggar" Jimin berdiri, meninggalkan Yoongi yang melongo sendiri melihat kepergian Jimin. Yoongi sadar, dia kembali membuat kesalahan.
.
.
.
TBC
